Struktur Jalan Ruhani dalam Diri Manusia
Struktur Jalan ruhani dalam diri manusia dalam konteks Nalareka terdiri dari syariat, thariqat, hakikat, dan makrifat sebagai tahapan kebutuhan batin manusia.
Jalan ruhani bukan konsep abstrak.
Ia adalah struktur kebutuhan dalam diri:
- Syariat → tubuh butuh aturan
- Thariqat → hati butuh latihan
- Hakikat → jiwa butuh pemahaman
- Makrifat → ruh butuh keterhubungan
Masalah muncul ketika manusia melompati tahap-tahap. Atau tak pakai tahapan sama sekali.
Struktur Jalan Ruhani ibarat jenjang yang mesti ditapaki satu persatu.
Jenjang pertama adalah syariat; yakni tata aturan. Dalam kalimat lain disebut “syariat makanan tubuh”. Jika syariat terpenuhi, kenyanglah tubuh.
Jenjang kedua thariqat, merupakan “makanan hati” dalam kerangka pengendalian nafsu–terutama cinta dunia (hubbud dunya).
Tangga ketiga hakikat yang merupakan “makanan jiwa/nurani”. Ini berkenaan dengan kebutuhan nurani untuk pemahaman terhadap sesuatu yang telah terjadi dan tak ada masalah dengan apa yang akan terjadi.
Yang telah terjadi adalah sesuatu yang sudah berlalu–tak perlu disesali, namun penting untuk pembelajaran. Istilahnya; pengalaman jadi guru.
Sedangkan yang akan terjadi, kendati memang perlu dipersiapkan namun jangan dipersoalkan. Banyak orang yang pusing oleh hal-hal yang belum terjadi.
Pada level hakikat nurani sudah bisa memahami bahwa sesuatu itu memang seperti sesuatu itu. Titik.
Puncak struktur Jalan Ruhani adalah makrifat. Dimana ruh yang dipunyai seseorang yang selalu terhubung itu dapat dirasakan dan disadari keterhubungannya secara sadar.
Sederhananya, manakala kita merasakan keterhubungan (tali batin) dengan orang lain, maka saat itu sebenarnya terjadi keterhubungan.
Empat tingkatan dalam perjalanan spiritual Islam itu, tidak bisa loncat, harus urut. Ibarat kelapa:
Syariat = kulit, Thariqat = batok, Hakikat = daging, Makrifat = santan/minyaknya.
Syariat juga didefinisikan sebagau Jalan Lahiriah berupa aturan Allah yang wajib dipatuhi tubuh.
Isinya: Fikih, halal-haram, shalat 5 waktu, puasa, zakat, haji, muamalah.
Fungsi: Pondasi. Ngatur perbuatan lahir biar selamat dari dosa.
Kalau cuma syariat, ibadah sah, tapi bisa kering. Shalat tapi pikiran kemana-mana.
Maka, perlu tangga kedua–thariqat–yang didefinisikan sebagai jalan batin. Yakni metode untuk membersihkan hati menuju Allah.
Isinya: dzikir, wirid, mujahadah, riyadhah, zuhud, bimbingan mursyid, bai’at.
Fungsi: mencuci hati dari penyakit: riya, ujub, hasad, cinta dunia.
Syariat tanpa thariqat, ibarat orang punya mobil tapi nggak pernah servis mesin.
Adapun hakikat didefinisikan sebagai kebenaran/rasa terdalam dari ibadah. Buah dari syariat + thariqat = hakikat.
Isinya: mengalami sendiri makna di balik syariat. Shalat nggak cuma gerak, tapi beneran “rasa berdialog” sama Allah.
Fungsi: Bikin ibadah jadi hidup. Muncul rasa khusyuk, takut, cinta, rindu ke Allah.
Dan level makrifat didefinisikan sebagai “mengenal Allah dengan sebenar-benarnya kenal lewat hati.
Isinya: Musyahadah = hati menyaksikan Allah di setiap kejadian. Tidak ada lagi hijab antara hamba & Tuhan. Semua yang terjadi dilihat sebagai perbuatan-Nya.
Orang yang sudah sampai di level ini hidupnya tenang dalam takdir apa pun.
Bila tidak mengikuti empat tingkatan itu secara runtun, akibatnya:
- ibadah kosong
- hati tidak hidup
- hidup terasa hampa
Solusinya: kembali ke urutan.
Jelajahi Surau Nalareka
- Dasar Batin → https://nalareka.id/category/dasar-batin/
- Jalan Ruhani → https://nalareka.id/category/jalan-ruhani/
- Penyucian Diri → https://nalareka.id/category/penyucian-diri/
- Jalan Nalareka → https://nalareka.id/category/jalan-nalareka/
