Raso – Pareso
Raso Dibaok Naiek, Pareso Dibaok Turun

Pada salah satu pituah Minangkabau, ada ajaran:

“raso dibaok naiek, pareso dibaok turun.”

Kalimat ini sederhana.
Namun jika direnungkan lebih dalam, ia seperti sedang menjelaskan cara manusia menjaga keseimbangan batinnya sendiri.

Apa maksudnya?

“Raso dibaok naiek” dapat dimaknai bahwa rasa harus dibawa naik.
Ditinggikan.
Dimuliakan.

Manusia tidak boleh kehilangan rasa:

rasa malu,

rasa hormat,

rasa empati,

rasa kemanusiaan,

bahkan rasa terhadap Tuhan.

Karena ketika rasa hilang, manusia bisa menjadi sangat cerdas… namun dingin.

Ia mungkin hebat secara logika, tetapi gagal memahami manusia lain.

Sedangkan “pareso dibaok turun” mengandung makna bahwa setelah proses pemeriksaan akal dilakukan, hasilnya harus dibawa turun ke hati.

Sebab dari hatilah keputusan sejati keluar.

Bukan dari akal.
Bukan pula dari nafsu.

Akal memang membantu manusia memahami.
Namun akal bukan pusat keputusan batin.

Nafs memberi dorongan.
Namun nafs juga bukan penentu arah kebenaran.

Hati lah yang pada akhirnya:

menerima,

menolak,

meyakini,

sekaligus menentukan kecenderungan manusia.

Begitu idealnya.

Namun yang kerap terjadi justru sebaliknya.

Banyak manusia modern hidup sepenuhnya di kepala.

Semua diukur dengan logika.
Semua ditimbang dengan untung-rugi.
Semua diputuskan secara rasional.

Tetapi hatinya tertinggal.

Akibatnya, manusia bisa tampak cerdas namun kehilangan ketenangan.

Sebaliknya, ada pula manusia yang seluruh hidupnya dikendalikan nafs.

Ia tahu yang benar.
Ia paham risikonya.
Namun tetap melangkah karena dorongan sesaat lebih kuat daripada kejernihan hati.

Di situlah dialektika batin terus berlangsung.

Akal berbicara.
Nafs mendesak.
Hati menerima tekanan dari keduanya.

Dalam kerangka Nalareka, manusia dibekali:

akal,

hati,

dan nafs, sebagai fitur batin.

Sedangkan ruh menjadi sumber kesadaran dan dinamika batin manusia.

Ketika hubungan antarfitur batin ini tidak selaras, manusia mulai mengalami:

noise,

void,

draw,

hingga kegelisahan yang sulit dijelaskan.

Karena itu manusia tidak cukup hanya pintar berpikir.

Ia juga harus menjaga kejernihan hati.

Sebab hati yang keruh bisa membuat akal diperalat.
Dan hati yang mati bisa membuat manusia kehilangan arah meski terlihat berhasil di luar.

Mungkin itulah sebabnya banyak manusia modern terlihat ramai di luar… namun kosong di dalam.

Mereka terlalu sibuk mendengar dunia, tetapi terlalu jarang mendengar isi batinnya sendiri.

Padahal sebagian jawaban hidup mungkin memang tidak selalu ditemukan di luar sana.

Kadang manusia hanya perlu diam sejenak… lalu mulai bertanya pada dirinya sendiri: apakah akalnya masih selaras dengan hatinya?

Masuk ke Pintu Nalareka untuk membaca kondisi batin dan engine Nalareka:
Pintu Nalareka

Jelajahi novel dan semesta cerita Nalareka:
Novel Nalareka

Baca artikel dan refleksi teisme lainnya:
Teisme Nalareka

Lihat dapur dan belakang layar pengembangan Nalareka:
Dapur Nalareka

Ikuti Survei Nalareka:
Survei Nalareka

Atau masuk langsung ke rekaB — simulasi batin Nalareka:
rekaB – Simulasi Batin