Tentang Tiada Klakson

Mobil dan motor memang dilengkapi klakson. Fungsinya sederhana: penanda. Sebuah kode bahwa ada kendaraan lain yang ingin lewat, mendahului, atau mengingatkan keberadaan.

Di banyak tempat, suara klakson bahkan menjadi semacam bahasa jalanan. Sedikit macet, klakson. Lampu hijau terlambat bergerak, klakson. Ada motor memotong jalan, klakson. Kadang bukan lagi penanda, melainkan luapan emosi.

Namun ada hal menarik yang aku rasakan di jalanan .

Kendaraan padat. Motor berseliweran. Mobil saling mendahului. Jalan tidak selalu lebar. Tapi anehnya, sangat jarang terdengar klakson.

Orang mendahului tanpa gaduh. Pengendara lain memberi ruang tanpa marah. Semua bergerak cepat, tetapi tetap tenang.

Seolah ada kesepahaman tak tertulis.

Bahwa jalan bukan arena melampiaskan ego, melainkan ruang bersama untuk saling sampai tujuan.

Mungkin itulah yang hilang di banyak tempat hari ini: kesadaran bahwa hidup bukan hanya tentang “aku ingin cepat”, tetapi juga tentang “orang lain juga ingin selamat”.

Klakson sebenarnya bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika bunyinya lahir dari hati yang kehilangan tenang.

Karena suara gaduh sering kali bukan berasal dari jalanan, melainkan dari batin manusia sendiri.

Dalam nalareka, selaras adalah keadaan ketika akal, hati, dan nafsu bergerak pada proporsi yang tepat.

Akal membuat manusia memahami aturan. Hati menghadirkan empati. Nafsu memberi dorongan untuk bergerak dan mencapai tujuan.

Tetapi ketika nafsu melampaui akal dan hati, manusia menjadi mudah tergesa. Sedikit hambatan terasa ancaman. Sedikit keterlambatan terasa penghinaan.

Akhirnya hidup dipenuhi bunyi-bunyian yang sebenarnya lahir dari kegelisahan diri sendiri.

Mungkin karena itu jalanan tertentu terasa menenangkan, sementara jalanan lain terasa melelahkan walau bentuknya sama.

Bukan semata karena aspalnya.

Melainkan karena frekuensi batin orang-orang yang melintas di atasnya.

Dan bisa jadi, peradaban yang matang bukan ditandai oleh ramainya suara manusia, melainkan oleh kemampuan mereka menjaga ketenangan di tengah kepadatan.

Baca juga: