Selaras Jenjang Berjenjang

Selaras tidak berarti anti kemajuan.

Sebab kehidupan sendiri terus bergerak. Akal terus menemukan hal baru. Nafsu terus mendorong manusia untuk berkembang. Bahkan hati pun bertumbuh melalui pengalaman dan perenungan.

Karena itu, dalam nalareka, dialektika akal, hati, dan nafsu bukan sesuatu yang stagnan. Ia progresif. Bergerak. Bertingkat.

Namun gerak itu tidak liar.

Ia bertahap. Jenjang berjenjang.

Ketika pada satu tingkat telah tercapai keseimbangan, maka manusia mulai mampu mengakomodasi eksternalitas baru tanpa kehilangan pusat dirinya. Di situlah lahir kemajuan yang selaras.

Bukan kemajuan yang merobohkan nilai lama, melainkan kemajuan yang memperluas ruang hidup tanpa mencabut akar.

Ibarat rumah gadang yang direnovasi. Boleh diperkuat. Boleh diperindah. Bahkan boleh ditambah teknologi modern. Tetapi ruhnya tetap dipertahankan.

Sebab yang dijaga bukan sekadar bentuk fisik, melainkan harmoni nilai di dalamnya.

Hari ini banyak manusia mengira modern berarti memutus masa lalu. Padahal yang tercerabut dari akar justru mudah roboh ketika diterpa zaman.

Sedangkan yang bertumbuh secara berjenjang akan lebih kokoh.

Karena setiap lapisan kemajuan dibangun di atas keseimbangan sebelumnya.

Dalam nalareka, keseimbangan bukan titik diam. Ia adalah proses yang terus diperbarui.

Akal menguji realitas baru.

Nafsu mendorong adaptasi.

Hati memastikan semuanya tetap berada dalam koridor kemanusiaan dan keteduhan.

Jika salah satu melampaui yang lain, maka kemajuan berubah menjadi disorientasi.

Teknologi tumbuh, tetapi manusia kehilangan makna.

Ekonomi meningkat, tetapi batin mengering.

Informasi melimpah, tetapi kebijaksanaan menipis.

Karena itu, kemajuan sejati bukan sekadar percepatan.

Melainkan kemampuan bertumbuh tanpa kehilangan harmoni.

Dan harmoni itu sendiri tidak hadir sekaligus sempurna.

Ia bertingkat-tingkat.

Jenjang berjenjang.

Baca juga: