Berkah Es Dawet
Mengelilingi jejalanan kecil di seantero kawasan Tamansari—situs bekas taman istana dan pemandian Keraton Yogyakarta yang dibangun pada tahun 1758. Berjarak sekitar 500 meter di barat daya keraton, kompleks ini memadukan arsitektur Jawa dan Portugis. Dahulu berfungsi sebagai tempat rekreasi sultan dan keluarganya, kini menjadi destinasi wisata cagar budaya yang populer. Di siang yang terik, tak menyurutkan langkah wisatawan domestik dan mancanegara untuk menelusuri lorong-lorong sejarah itu.
Tentang antusiasme wisatawan, itu tak diragukan lagi. Tidak hanya pelancong domestik, bahkan pelancong mancanegara dengan celana pendek dan kaos sederhana tampak sumringah mengelilingi kawasan itu. Mereka melongok pemandian raja dan ratu yang masih terjaga, dengan air jernih keperak-perakan dipantulkan cahaya mentari.
Panas. Iya, memang panas.
Namun langkah kami tak hendak surut. Mungkin tertantang oleh keunikan wisata budaya itu.
Di penghujung rute, pada gang sempit menjelang gerbang keluar, aku berhenti di sebuah kios kecil—orang berjualan es dawet.
Tentu saja aku mendadak haus. Siapa yang tak tergoda es tradisional serupa cendol di tengah udara sepanas itu.
Kios tersebut kecil saja. Namun rapi. Ada seorang lelaki, mungkin sekitar empat puluh tiga tahun usianya. Bersahaja rupa lelaki itu.
Sambil menunggu, aku mengamati kesederhanaan di sana. Perabotan sederhana. Ember plastik biasa. Gelas-gelas bening yang mulai kusam dimakan waktu. Termasuk si mas itu yang dengan telaten menyiapkan pesanan kami: tujuh gelas es dawet, satu tanpa es batu.
Dan sepanjang kami duduk di situ—mungkin tiga puluh menit—tak ada lagi yang membeli. Orang lalu-lalang di depan kiosnya, tetapi nyaris tak menoleh. Namun si mas tampak tenang saja.
Sejuk dan sungguh nikmat es dawet itu. Tapi di wajah lelaki tersebut kutemukan kesejukan yang berbeda. Wajah tanpa letih. Tanpa keluh. Tanpa tergesa mengejar dunia. Wajah “no problem”.
Ahhh, ini sesuatu yang terasa langka di era materialistik. Bagaimana mungkin seorang penjual es dawet tampak tanpa beban, padahal pembeli nyaris tak ada?
Barangkali itulah berkah.
Sebab berkah tampaknya bukan sekadar soal banyak atau sedikit. Bukan melulu angka. Bukan semata omzet. Ada orang berpenghasilan besar tetapi hidupnya tegang. Ada yang hartanya berlimpah tetapi wajahnya kusut. Ada pula yang dikejar dunia, namun batinnya tak pernah tiba di mana-mana.
Sebaliknya, ada manusia sederhana yang hidupnya seperti mengalir saja. Tenang. Tidak berisik. Tidak merasa kurang. Tidak sibuk membandingkan.
Mungkin karena ada yang selaras di dalam dirinya.
Dalam kehidupan modern, manusia sering terlalu sibuk mengatur dunia luar, tetapi gagal menata ruang batinnya sendiri. Padahal kegaduhan terbesar sering bukan berasal dari luar rumah, melainkan dari dalam dada.
Ketika batin tidak selaras, sedikit saja masalah terasa seperti kiamat kecil. Ketika hati dipenuhi kecemasan, rezeki sebesar apa pun terasa sempit. Tetapi ketika batin mulai selaras, bahkan kesederhanaan bisa menghadirkan keteduhan.
Barangkali si penjual es dawet itu tidak memiliki banyak hal. Namun ia memiliki sesuatu yang lebih mahal dari itu: ketenteraman.
Dan ketenteraman sering lahir ketika manusia tidak lagi memosisikan hidup sebagai perlombaan tanpa ujung.
Dalam tradisi spiritual, keadaan seperti itu kerap disebut selaras batin—ketika hati tidak terlalu gaduh mengejar dunia, tetapi juga tidak membenci dunia. Ia bekerja, tetapi tidak diperbudak hasil. Ia berusaha, tetapi tidak kehilangan dirinya sendiri.
Mungkin itu sebabnya wajahnya teduh.
Dan mungkin pula, keteduhan seperti itu menular.
Bukankah kita pernah merasakan: ada orang yang baru duduk saja di dekat kita, tetapi suasana mendadak terasa ringan? Ada ibu yang mampu menenangkan seluruh isi rumah hanya dengan kelembutan hatinya. Ada guru yang kehadirannya membuat murid-murid lebih tertib tanpa bentakan. Ada sahabat yang diamnya saja terasa menenangkan.
Barangkali jiwa memang memiliki resonansi.
Sebagaimana dalam fisika, resonansi terjadi ketika dua getaran saling selaras lalu saling menguatkan. Mungkin dalam kehidupan batin pun demikian. Hati yang tenang dapat memengaruhi hati-hati lain di sekitarnya.
Karena manusia bukan hanya makhluk tubuh, tetapi juga makhluk rasa.
Dan boleh jadi, dunia hari ini bukan semata kekurangan orang pintar. Dunia sedang kekurangan orang-orang teduh.
Orang-orang yang batinnya tidak dipenuhi kebisingan.
Orang-orang yang kehadirannya membuat sesama merasa aman.
Mungkin si mas penjual es dawet itu tidak pernah membaca filsafat. Tidak memahami teori resonansi jiwa. Tidak bicara tentang spiritualitas. Namun dari wajahnya, aku seperti melihat satu pelajaran sederhana:
Bahwa hidup tak selalu harus besar untuk terasa cukup.
Dan berkah kadang hadir bukan ketika dunia menjadi lebih ramai, tetapi ketika batin mulai lebih sunyi.