Nyaman Itu Adalah Selaras

Nyaman adalah diksi yang sederhana, tetapi mengandung makna yang dalam.

Semua orang ingin nyaman.

Nyaman bekerja. Nyaman berbicara. Nyaman berada di rumah. Nyaman berteman. Bahkan nyaman hanya untuk duduk diam bersama seseorang.

Tetapi sesungguhnya, nyaman bukan pertama-tama urusan tempat.

Nyaman adalah kondisi batin.

Mudah mengucapkannya. Sulit mewujudkannya.

Sebab banyak orang mengira nyaman hanya soal:

uang,

fasilitas,

rumah besar,

jabatan,

atau suasana yang tenang.

Padahal tidak selalu begitu.

Ada orang tinggal sederhana tetapi nyaman.

Ada pula yang hidup serba cukup, tetapi batinnya terasa sempit.

Lalu bagaimana menghadirkan nyaman?

Mungkin jawabannya adalah: selaras.

Ketika akal, hati, dan nafsu bergerak pada ritme yang tidak saling bertabrakan, manusia mulai merasakan nyaman.

Akal menerima.

Hati tenang.

Nafsu tidak memberontak berlebihan.

Di situlah nyaman lahir.

Karena itu, nyaman sebenarnya bukan sekadar rasa senang.

Nyaman adalah keadaan ketika konflik di dalam diri mulai mereda.

Dan menariknya, hukum itu tidak hanya berlaku pada individu.

Ia juga berlaku secara kolektif.

Dalam kelompok. Dalam komunitas. Dalam rumah tangga.

Sebuah rumah mungkin megah, tetapi jika satu orang saja menyimpan bara batin yang tidak nyaman, suasana rumah bisa berubah panas.

Satu hati yang gelisah kadang cukup mengubah temperatur seluruh ruangan.

Satu orang yang merasa tersisih dapat mengubah harmoni keluarga.

Maka kenyamanan kolektif bukan berarti semua orang selalu setuju.

Tetapi mayoritas anggota merasa:

diterima,

didengar,

dihargai,

dan memiliki ruang batin yang aman.

Di situlah selaras bekerja.

Karena selaras bukan berarti sama.

Nada dalam musik tidak harus identik untuk menghasilkan harmoni.

Justru karena berbeda, harmoni menjadi indah.

Begitu pula manusia.

Tidak semua harus berpikir sama. Tidak semua harus memiliki keinginan yang sama.

Tetapi jika arah batin masih bisa dipertemukan, kenyamanan bersama tetap mungkin diwujudkan.

Mungkin itulah sebabnya beberapa komunitas terasa menenangkan, sementara sebagian lain terasa melelahkan.

Bukan karena gedungnya.

Bukan karena fasilitasnya.

Melainkan karena energi batin di dalamnya: selaras atau tidak.

Dan boleh jadi, tugas terbesar manusia bukan mencari tempat ternyaman.

Melainkan belajar menjadi pribadi yang menghadirkan kenyamanan bagi lingkungan sekitarnya.

Karena nyaman yang sejati bukan hanya dirasakan sendiri.

Tetapi juga dipantulkan kepada orang lain.

Eksplorasi ekosistem Nalareka:

NewsJ Nalareka

Nalareka Sport

Navisphere Sitinjau Lauik