Rupiah Melemah, Bagaimana Batinmu?
Soal rupiah melemah terhadap US Dollar itu sudah kelaziman dalam transaksi ekonomi global. Sederhana saja, jika permintaan banyak dan persediaan kurang, naiklah harga. Itu hukum pasar.
Lalu, pidato Presiden Prabowo Subianto yang menjawab pelemahan rupiah dengan sedikit guyon—“petani tidak pakai dolar”—cukup menenangkan sebagian rakyat. Meski pada saat yang sama, muncul pula pemberitaan lain: petani teriak rupiah melemah.
Bukan soal pelemahan rupiah itu sendiri yang ingin dibahas. Tetapi bagaimana dialektika batin kita dalam menyikapinya.
Sebab, ada banyak hal di luar diri kita yang variabelnya memang dikendalikan pihak lain. Nilai tukar, geopolitik, suku bunga The Fed, perang dagang, harga minyak dunia—semuanya bergerak dalam sistem besar yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali individu.
Masalahnya bukan selalu pada apa yang terjadi. Tetapi pada bagaimana batin kita merespons apa yang terjadi.
Ada orang yang baru membaca berita ekonomi langsung gelisah. Tidur terganggu. Pikiran penuh ketakutan. Seolah hidupnya runtuh hanya karena angka kurs bergerak beberapa ratus poin.
Sebaliknya, ada pula yang tetap tenang. Tetap bekerja. Tetap menanam. Tetap berdagang. Tetap membangun harapan. Bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena mereka memahami satu hal penting: tidak semua hal harus masuk ke ruang panik batin.
Di titik ini, keselarasan batin menjadi penting.
Psikologi positif mengajarkan bahwa manusia yang sehat bukan manusia tanpa masalah, melainkan manusia yang mampu mengelola respons mentalnya terhadap masalah. Ketika seseorang terus-menerus hidup dalam kecemasan kolektif, batinnya akan mudah dikendalikan oleh suasana luar.
Padahal, batin yang terlalu reaktif justru membuat akal kehilangan kejernihan.
Karena itu, menjaga ketenangan bukan berarti apatis. Tenang bukan berarti tidak kritis. Tetapi menghadirkan keseimbangan antara kesadaran realitas dan kestabilan jiwa.
Jika rupiah melemah, maka negara bekerja memperbaiki ekonomi. Pelaku usaha beradaptasi. Pemerintah mencari solusi. Itu wilayah kebijakan.
Namun di wilayah personal, kita juga punya tugas lain: menjaga agar batin tidak ikut runtuh.
Sebab manusia yang kehilangan ketenangan batin akan mudah kehilangan arah hidup. Sedikit berita menjadi kepanikan. Sedikit isu menjadi prasangka. Sedikit gejolak menjadi ketakutan massal.
Mungkin karena itu, dalam hidup modern hari ini, yang paling mahal bukan hanya nilai tukar mata uang. Tetapi nilai ketenangan dalam diri manusia.
Dan sering kali, krisis terbesar bukan terjadi di pasar uang—melainkan di dalam batin yang kehilangan keselarasan.
Baca juga:
Landasan Nalareka
Teisme dan Kesadaran Batin
Psikologi Positif dalam Kehidupan Modern