

Simpang Hati Luna Sangir
Thriller • Fiksi Ilmiah • Spiritual Islam
Judul: Simpang Hati Luna Sangir
Penulis: Taufik Effendi
Penerbit: Rumahkayu Pustaka
Cetakan: Pertama, November 2024
Jumlah Halaman: viii + 197 halaman
Ukuran: 13,5 x 20,5 cm
Editor: Hasbunallah Haris
Desain Sampul: Renaldi Yonra Febriansyah
Sinopsis
Luna Sangir, seorang ilmuwan fisika brilian, tiba-tiba terseret dalam pusaran peristiwa yang tak pernah ia bayangkan. Sebuah ledakan di pusat perbelanjaan, tuduhan sebagai dalang konspirasi politik, hingga penangkapan misterius yang menyeretnya ke sebuah pulau terpencil—semuanya terjadi begitu cepat, seolah ada skenario besar yang telah disiapkan untuknya.
Di balik tuduhan itu, tersembunyi sesuatu yang jauh lebih berbahaya: pengetahuan tentang energi, frekuensi, dan kemungkinan melintasi batas ruang dan waktu. Sebuah penemuan yang tidak hanya mengubah cara manusia memahami realitas, tetapi juga mengundang kepentingan kekuatan-kekuatan yang ingin menguasainya.
Dalam keterasingan dan tekanan, Luna justru dipertemukan dengan sisi lain dari realitas—dunia yang selama ini hanya dianggap sebagai kegaiban. Di sanalah ia mulai menyadari bahwa apa yang selama ini ia pelajari secara ilmiah, ternyata memiliki keterkaitan dengan dimensi yang lebih dalam: antara akal, hati, dan kekuatan Ilahi.
Simpang Hati Luna Sangir adalah kisah tentang persimpangan—antara sains dan spiritualitas, antara logika dan keyakinan, serta antara pilihan manusia dan takdir yang mungkin telah digariskan.
Prolog
Perempuan itu tidak terpengaruh oleh “regu tembak” yang sebentar lagi akan mengantarkan nyawanya ke akhirat.
Bukan. Bukan lantaran dia tidak takut mati.
Tetapi dalam keputusasaannya, di kejauhan ia melihat benda kecil melayang. Terbang menuju pelataran belakang penjara itu.
Entah mengapa, ia merasa ada secercah harapan. Hingga ia lupa, bahwa di depannya, tiga orang dengan bedil terhunus telah mengokang senjata.
Jilbabnya berkibar ditiup angin dari pantai.
Ia masih menatap ke arah benda terbang itu.
Lalu—
bommbbb…
Perempuan itu limbung.
Kemudian gelap.
Benda terbang itu masih meneruskan manuvernya. Beberapa saat berputar-putar di awang-awang, seakan ingin memastikan tiga penembak dan beberapa lelaki lainnya tergelimpang—masih bergerak, belum mati.
Perempuan itu menggeliat.
Lalu duduk.
Terkesima.
Ia merangkak, mensyukuri nasibnya yang mujur. Tidak ada luka. Hanya tubuhnya terasa pegal dan penat.
Perlahan, ia mencoba berdiri. Tubuhnya yang semampai sedikit goyah, namun ia kuatkan.
Sempoyongan.
Secara naluriah, ia melangkah ke arah pantai.
Di bibir pantai, ia terjerembab.
Pingsan.
Persis saat sebuah perahu karet tiba dari laut.
Lelaki itu tak percaya pada pesan singkat yang diterimanya:
Luna Sangir adalah mata-mata Amerika.
Bersama komplotannya, mereka ingin mengacaukan pilpres.
Bahkan, membuat chaos di negeri ini.
Satu:
Hari sudah beranjak sore. Perempuan itu mulai siuman. Didapati dirinya ada di dipan kayu.
Dia amati sekeliling. Rupanya dia berada di sebuah kamar. Tidak cukup besar. Bahkan sangat kecil dibandingkan kamar suite nya di sebuah apartemen mewah, di Jakarta.
Perempuan itu cukup ramping. Dia mengenakan jilbab warna gelap, berkemeja dan jeans. Umurnya di bawah 30 tahun. Mungkin antara 27 atau 28 tahun.
Dia masih tergolek di dipan. Dirasakan badannya penat-penat. Tapi rasanya tidak ada luka. Ditelitinya seluruh tubuh. Digerak-gerakkan anggota bada. Syukurlah, tidak ada yang perlu dikuatirkan.
Kamar itu cukup rapi. Bersih. Meskipun kecil, tetapi aspek rapi dan bersih membuat suasana enak dan nyaman.
Dinding kamar dilapisi wallpaper dengan warna dominan ungu. Ada beberapa warna kuning dan merah.
Wallpaper itu bermotif abstrak. Sekilas seperti lukisan bunga. Tetapi sisi abstraknya seolah ingin mengaburkan motif bunga.
Yang menarik, ada aroma khas yang mendominasi ruangan. Bukan aroma kemenyan! Melainkan lebih pada aroma yang sakral.
Bukan pula aroma minyak jenazah. Mungkin aroma bunga yang dilukis abstrak itu.
Ya, bunga cempaka. Bukankah bunga cempaka itu ada yang ungu, merah dan kuning? Juga putih.
Anehnya, aroma itu hilang-hilang timbul. Kadang keras aromanya. Kadang hilang. Lebih tepatnya aroma itu mendekat dan menjauh!
Tidak. Tidak ada terlihat sumber aroma. Tidak ada tergantung sesuatu pun pengharum ruangan. Tidak pula ada terletak di meja maupun dilantai.
Dari mana sumber aroma ini?
Perempuan itu seolah lupa akan keberadaannya. Dia asyik meneliti kamar yang kecil namun nyaman itu.
Tiba-tiba, aroma bunga cempak mendekat. Perempuan di atas dipan makin diliputi tanda tanya.
Tak lama dia mendengar suara orang mendekat. Perempuan itu memicing. Mengintip dari balik kelopak matanya.
Samar-samar dia melihat seorang wanita tua mendekati dipan tempat dia tergolek sejak menjelang siang tadi.
“Kamu berada di tempat yang aman, nak. Ini pulau kecil, jauh dari jangkauan pemerintah,” ujar wanita tua itu sambil duduk di kursi yang ada di sisi dipan.
Aroma bunga cempaka makin kentara. Apakah wanita tua ini yang beraroma bunga cempaka?
Demi mendengar suara, sambil tetap berbaring, perempuan itu mulai membuka mata. Menoleh ke arah wanita tua.
Perempuan itu berpikir. Menaksir. Siapakah wanita tua ini? Apakah beliau yang telah menyelamatkannya? Dan, yang tak kalah menimbulkan heran adalah bagaimana wanita tua itu tahu bahwa dirinya sudah siuman?
“Memang aku sudah agak tua. Tapi penglihatan dan pendengaranku masih normal,” ujar wanita tua itu.
Makin aneh dan luar biasa! Rupanya wanita tua ini bisa menerka pikiran pula? Benar-benar sebuah keajaiban. Selain bertubuh wangi, wanita tua ini bisa membaca pikiran!
Perempuan yang di dipan akan berkata. Tetapi nenek itu mendahuluinya,”Aku tahu, namamu Luna kan? Luna Sangir. Aku tahu semua yang terjadi padamu!”
Luna, perempuan yang masih berbaring miring itu, terkejut. Bagaimana mungkin wanita tua ini tahu apa yang terjadi padanya?
Jika memang wanita tua ini tahu semua yang terjadi, agaknya dia pula yang telah menyelamatkannya?
Dan benda terbang itu?
“Ya, memang aku yang mengirim drone. Tepatnya, ada orang yang aku suruh mengirim drone untuk menyelamatkanmu.”
Luna takjub. Segera dia duduk. Dirapikan baju dan jilbabnya. Bagaimana bisa percaya jika wanita tua ini lah yang menyelamatkannya!
Dalam ketidakyakinannya itu, Luna berkata,”Kenapa menyelamatkanku? Anda siapakah?
“Kamu tidak perlu terkejut. Aku sengaja menyelamatkanmu, karena itu adalah tugas kami.”
Tentu saja cerita itu makin aneh buat Luna? Kenapa pula dia harus diselamatkan? Siapa yang dimaksud “kami” oleh wanita tua ini?
Pertanyaan itu langsung terjawab,”Kami adalah kelompok spritual yang meyakini bahwa saat ini ada kelompok yang ingin membuat dunia kacau!”
Kelompok spritual? Perdukunan? Ah, bukan… Luna ingat, baru sejak kuliah di MIT, dirinya menyadari betapa hal-hal yang menyangkut kegaiban, sebenarnya adalah sesuatu yang fisikawi.
Di MIT lah Luna bisa menemukan bukti bahwa kegaiban, atau lebih universal boleh disebut alam metafisika, bukanlah sesuatu yang tidak bisa dinalar logika. Semuanya bisa dijelaskan secara fisika.
Luna paham tentang kegaiban dalam konteks fisika. Tetapi tetap saja dia bertanya,”Kelompok spritual? Itu gabungan para dukun?
Wanita tua tertawa lebar. Terlihat giginya masih utuh. Sambil menutup mulutnya menelan gelak, dia berujar,”Kamu sudah tahu nak. Ini spritualitas dalam konteks fisika. Bahkan lebih. Kami adalah hamba sahaya Allah Yang Maha Menguasai Energi!”
Luna terperanjat. Sejak tadi wanita tua ini berbicara dalam bahasa fisika! Dia sendiri adalah fisikawan lulusan terbaik dari MIT. Sungguh sebuah kebetulan yang mengejutkan!
Perihal dunia fisika, Luna memang boleh disebut pakar. Dia selain mendalami fisika teoritik, juga salah seorang ahli fisika terapan.
Sejumlah teori baru, dari hasil kajian matematika-fisika, sudah diciptakannya. Yakni teori-teori baru, yang antara lain menyangkut energi, ruang dan waktu.
Apalagi teori-teori baru itu merupakan terobosan pemikiran yang luar biasa atas sejumlah pertanyaan klasik perihal kekekalan energi dan aspek ruang-waktu terhadap perubahan-perubahan energi yang terjadi!
Brilian. Itu diksi yang tepat untuk menggambarkan kepakaran Luna dalam fisika.
Bahkan sejumlah pemikir fisika mutakhir sudah memprediksi bahwa kelak Luna akan menggemparkan dunia dengan pembuktian teori-teori briliannya berkenaan dengan energi, ruang dan waktu, dalam bentuk alat yang bisa digunakan secara umum.
Prediksi itu tidak berlebihan. Sebab sejak menyelesaikan sarjana hingga tingkat doktoral, Luna seperti jatuh cinta dengan kajian energi, ruang dan waktu. Sebab itu, skripsi, thesis dan disertasinya berkenaan dengan tiga hal itu pula.
Dan wanita tua ini juga bicara fisika. Meskipun dalam bahasa yang lebih hakiki, spritualitas!
“Siapa wanita tua ini,” batinnya.
“Aku adalah keturunan ke-75 dari Sutusii Kara, Dewa Alam Gaib Tana Niha. Keturunan Ratu Kayangan, Ibu Sirici!”
Kembali Luna terkejut. Makin takjub. Waktu kecil dia memang sering mendengar dongeng leluhur Tana Niha–Nias. Dari kakeknya, Zanaya Zalukhu. Dia memang ada darah Nias. Dari ibunya.
Selain cerita tentang Dewa Sirao, penguasa di Tateholi Anaa yang dianggap sebagai leluhur Tana Niha, Luna juga paling sering diceritakan tentang Dewa Alam Gaib Tana Niha, bernama Sutusii Kara.
Nah, perihal Dewa Alam Gaib inilah yang menarik minatnya sejak kecil. Karena itu, Luna ingat dirinya sering merengek minta diceritakan kembali kisah Dewa Alam Gaib Tana Niha.
Bagi sebagian besar anak kecil, kisah kegaiban adalah momok yang menakutkan. Karena para orang tua mengisahkannya dalam bentuk hantu. Hantu pocong, hantu rau-rau, atau siampa.
Dua yang terakhir–hantu rau-rau dan siampa adalah kisah seram yang menjadi momok bocah-bocah di Minangkabau. Ini pula yang menjadi “senjata” para orang tua buat menakut-nakuti anak-anak yang nakal.
Beda dengan Luna. Cerita-cerita itu justru membentuk fantasinya. Alih-alih takut, dia malah merengek minta diceritakan kembali!
Kisah Dewa Alam Gaib itu yang kerap mengantar lelap Luna waktu kanak-kanak.
Dia juga diceritakan bahwa leluhur mereka berasal dari kayangan. Anak Ibu Sirici. Lalu nenek ini?
“Ya, aku keturunan Sutusii Kara.” Luna mendengar suara merdu. Tapi dia tidak menampak wanita tua tadi! Bersamaan dengan itu, wangi bunga cempaka pelan-pelan menjauh.
Dia terkejut. Kemana wanita tua itu? Luna melihat sekeliling. Wanita tua tadi tetap tidak kelihatan. Yang tampak olehnya hanya kamar kecil yang sederhana.
Selain dipan tempat dia duduk berjuntai saat ini, hanya ada kursi yang tadi diduduki perempuan tua itu. Sekarang kursi itu kosong! Entah kemana raibnya si wanita tua? Apakah dia bisa menghilang?
Aneh! Apakah memang ada manusia yang “bisa menghilang”?
Dua:
Mengingat perihal manusia yang bisa menghilang itu, Luna tersenyum sendiri. Gadis itu ingat masa kecilnya di Talao–salah satu jorong di nagari (setingkat desa) Sungai Kunik di Kecamatan Sangir Balai Janggo, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat.
Dia sempat dinyatakan hilang selama sepekan! Hilang dilarikan orang kate ke Gunung Tujuh.
Cerita orang kate, atau orang cebol di Gunung Tujuh memang hingga kini masih jadi buah bibir di kalangan masyarakat setempat. Mereka menyebutnya Urang Pandak (orang pendek).
Beberapa masyarakat setempat yang pernah bertemu dengan Orang Pendek, menggambarkannya sebagai makhluk berwujud manusia dengan tubuh besar, tetapi pendek. Paling tinggi hanya satu meter.
Namun, sebagian mengisahkan bahwa makhluk cebol ini berjalan tegak, berbulu, dan tanpa ekor. Beberapa penduduk pernah melaporkan melihatnya, makhluk ini selalu menghilang dengan cepat.
Gunung Tujuh itu sendiri adalah salah satu dari jajaran Bukit Barisan, dengan ketinggian 2.735 mdpl (meter di atas permukaan laut). Membujur dari Sangir Balai Janggo di Solok Selatan ke Palompek di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi.
Di Palompek, terdapat danau kaldera dengan luas sekitar 9,6 kilometer persegi. Danau itu disebut Danau Gunung Tujuh.
Danau Gunung Tujuh, merupakan bagian dari kawasang Gunung Tujuh, dan disebut-sebut sebagai danau tertinggi di Asia Tenggara.
Jika dilihat dari Gunung Kerinci yang berada di dekatnya, danau yang besar dan dalam ini tampak seolah-olah tertahan agar tidak meluap ke lereng gunung. Tujuh puncak Gunung Tujuh seolah-olah memagari danau supaya airnya tidak tumpah!
Puncak-puncak gunung yang mengelilingi Danau Gunung Tujuh tersebut adalah Gunung Hulu Tebo (2.525 mdpl), Gunung Hulu Sangir (2.330 mdpl), Gunung Madura Besi (2.418 mdpl), Gunung Lumut (2.350 mdpl), Gunung Selasih (2.230 mdpl), Gunung Jar Panggang (2.469 mdpl), dan Gunung Tujuh (2.735 mdpl).
Kawasan Gunung Tujuh hingga Gunung Kerinci masuk dalam penguasaan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). TNKS seluas 13.750 kilometer persegi ini adalah salah satu “warisan dunia” dibawah salah satu badan PBB, UNESCO.
Ke Gunung Tujuh itulah Luna dibawa Orang Pandak. Dia seperti mengikuti tamasya alam yang luar biasa indahnya. Ke puncak gunung dengan hutan yang masih lebat. Aneka suara binatang dan kicau burung adalah “musik” yang disukai Luna.
Dari sekian tempat yang indah tersebut, Luna sangat senang diajak duduk berlama-lama di tepian danau kaldera itu.
Makanya gadis kecil itu tidak merasa dirinya hilang. Karena dia bertemu dengan teman-teman sebayanya yang lucu-lucu.
Selama sepekan itu, dirinya tak pernah merasa bosan. “Boneka-boneka beruang besar” itu–anak-anak Orang Pandak–dengan gembira selalu mengerubutinya. Mungkin mereka berpikiran Luna adalah “boneka beruang raksasa” yang lucu pula!
Salah satu anak Orang Pandak yang paling akrab dengannya adalah Malini. Dengan Malini, Luna berkeliling kawasan Gunung Tujuh. Jalan kaki!
Mengelilingi kawasan Gunung Tujuh dengan tujuh puncak itu dengan berjalan kaki? Tak mungkin!
Tapi memang itu yang dirasakan Luna. Dia bermain dan berlari tanpa merasa lelah. Walaupun jalan kaki!
Agaknya begitu pula yang dirasakan oleh seseorang yang dilarikan ke “kehidupan lain” oleh makhluk lain. Mereka tak merasa berada di kehidupan yang berbeda, walaupun sebenarnya sudah mengikuti cara hidup orang yang melarikan itu.
Cerita legenda sejenis yang berkembang di masyarakat, misalnya tentang orang yang dilarikan cindaku. Selama dilarikan–orang-orang di kampung menganggap yang bersangkutan sudah hilang–dia tidak sadar sudah tidur di atas pohon. Makan daun kayu, ataupun umbi-umbian mentah!
Dalam hal kasus dilarikan makhluk lain ini, sebagian ada yang kembali. Banyak di antaranya tak pernah diketahui lagi keberadaannya. Tidak pernah kembali sejak dilarikan!
Dugaan banyak orang, mereka yang kembali itu bisa jadi karena dianggap tidak menguntungkan untuk terus dibiarkan dalam komunitas “kehidupan lain” dimaksud. Atau karena belas kasihan?
Terlepas dari bagaimana seseorang bisa kembali dari “kehidupan lain” itu, justru keanehan yang bersangkutan terlihat menonjol oleh orang-orang di kehidupan semula.
Antara lain, saat “kembali ke kehidupan asal”, yang bersangkutan serupa lupa ingatan. Bingung dan bodoh.
Dan ketika Luna ditemukan tergolek pingsan di teras rumahnya, di perumahan karyawan PT KTA, di Sungai Talang, Talao, kakeknya lah yang pertama menduga bahwa Luna dilarikan oleh Orang Pandak ke Gunung Tujuh!
Tapi Luna beruntung. Karena menurut pandangan kakeknya, Luna tak terlihat aneh. Tidak serupa orang bingung. Bukan pula tampak bodoh.
Setelah siuman dari pingsan, Luna hanya merasa sangat lapar. Oleh ibunya, gadis kecil itu disuapi. Anak itu makan dengan lahap. Tiga piring tandas olehnya!
Tentu saja saat itu Luna tidak tahu perihal legenda orang kate di Gunung Tujuh itu. Yang dia ingat, adalah kegembiraan bermain bersama teman-teman kate tersebut.
Sekarang, demi melihat nenek wanita tua itu “bisa menghilang”, Luna ingat Malini yang pernah mengajarkannya cara menghilang.
Ooo… bukan, sebenarnya bukan Malini yang mengajarkannya “ilmu menghilang”, melainkan kakek Malini. Orang tua brewok, berambut panjang, tetapi cebol.
Agaknya, kakek cebol itu sayang pada Luna. Seperti halnya dia menyayangi cucu satu-satunya, Malini.
Luna ingat selama hilang itu dirinya dibawa berkeliling oleh kakek cebol. Bersama Malini, kakek cebol bahkan membawanya ke puncak Gunung Kerinci.
Di puncak Gunung Kerinci itulah kakek cebol mengajarinya ilmu menghilang.
Berdua dengan Malini, kakek itu memandikan kedua bocah perempuan itu di telaga yang ada di puncak. Saat itu senja, menjelang gelap. Pemandangan samar-samar.
Setelah dimandikan, kakek itu membarutkan sejenis minyak ke kening mereka.
“Kalian letakkan ujung telunjuk di tengah kening. Lalu buat tanda silang di depan mata,” katanya sambil memperagakan dengan jari telunjuknya.
Luna dan Malini pun menirunya. Mulanya bersama-sama. Mereka tidak melihat ada keanehan karena keduanya bisa melihat satu sama lain.
Kakek cebol tertawa. Sambil menepuk kepala, dia minta mereka memperagakan secara bergantian.
Luna yang mencoba pertama. Dan,”Wowww kamu bisa menghilang,” ujar Malini.
Lalu Malini pun mencoba. Seketika dia menampak Luna.
Kakek cebol mengangguk-angguk puas.
“Bagaimana caranya supaya kembali terlihat,” tanya Luna.
“Letakkan ujung jari telunjukmu kembali di kening. Kalian akan terlihat kembali, seperti biasa,” jawab kakek cebol.
Begitulah. Setelah lewat tiga hari dia ada di rumah, kepandaian menghilang itu secara spontan dan kebetulan dicobakannya pada Amir–anak laki-laki yang tiga tahun lebih tua darinya.
Waktu itu Amir hendak berenang di sungai. Tetapi di tepian, dia lihat seorang anak perempuan sedang berenang telanjang bulat. Anak perempuan itu, Luna, terkejut bukan main.
Melihat Amir mendekati tepi sungai, Luna memekik, malu. Dalam keadaan panik dan malu, gadis kecil itu teringat ilmu menghilang dari kakek Malini. Segera dia membuat garis silang di udara.
Dari jauh Amir hanya melihat anak perempuan kecil menunjuk-nunjuk udara. Setelah itu Amir tidak melihat apa-apa lagi!
Melihat Amir celingak-celinguk, Luna tertawa senang. Rupanya ilmu menghilangnya memang mangkus. Timbul ide nakalnya.
Masih bertelanjang bulat–tentu tidak kelihatan oleh Amir–Luna menarik telinga anak laki-laki itu.
Spontan Amir terkejut. Anak laki-laki itu lari terbirit-birit ke rumahnya.
Setelah Amir hilang di belokan jalan, baru Luna meletakkan ujung telunjuknya di kening. Lekas-lekas dia mengenakan pakaian. Dan berlarian pulang sambil tersenyum-senyum sendiri.
Tetapi cerita itu tidak pernah ada yang tahu. Luna tidak pernah menceritakan kepandaiannya menghilang pada siapapun. Tidak pula kepada ibu, ayah dan kakeknya!
Begitu pula Amir. Anak angkat menejer PT KTA itu enggan disebut penakut. Dia tidak mau diolok-olok sebagai anak penakut. Karena itu, peristiwa di tepi sungai tersebut disimpannya saja. Menjadi rahasianya sendiri.
Padahal peristiwa itu tak hilang dari ingatan Amir. Dia mengira ada hantu sungai yang menjewer telinganya! Amir juga ingat Luna yang mandi telanjang bulat. Jika teringat itu, Amir tersenyum simpul sendiri.
Dan Amir selalu tersenyum bila berpapasan dengan Luna. Mereka memang sering berpapasan, karena satu sekolah. Dan rumah mereka berdekatan di komplek itu. Mereka adalah tetangga.
Untuk membunuh senyumnya, Amir kerap mengganggu adik kelasnya itu. Ada-ada saja yang dia lakukan buat menakut-nakuti Luna.
Sekali waktu dia meletakkan cacing ke dalam tas Luna. Tentu saja Luna terperanjat saat merogoh tas. Dan dia kesal melihat Amir tertawa terpingkal-pingkal.
Tetapi Luna segera ikut tersenyum. Kesalnya hilang. Karena seketika itu juga, dia ingat pernah menjewer telinga Amir dalam bertelanjang bulat!
Akan halnya Luna, kemampuan menghilang itu tak pernah lagi dipraktekkan. Bahkan ilmu menghilang itu seakan sudah dilupakannya!
Sekarang, ada wanita tua yang juga bisa menghilang. Tapi wanita itu tidak cebol!
Luna menggaruk-garuk kepalanya dari balik jilbab. Kemudian menggeliat dan menggoyang-goyangkan kaki dan tangan.
Gadis ini merasa kondisi tubuhnya mulai membaik. Dia pun turun dari dipan.
Rencananya ingin melihat ke luar. Mana tahu ada wanita tua itu di luar.
Hampir mencapai gagang pintu, Luna ingat Malini dan kakek cebol. Kenapa dia tidak mencoba “menghilang” pula?
Dia ingat ajaran kakek cebol. Lalu dengan telunjuk dia buat garis silang di udara.
Terdengar suara tertawa. Luna melihat wanita tua itu masih duduk di kursi.
“Anda tidak beranjak dari sini sejak tadi,” tanya Luna.
“Ya, aku di sini saja sejak tadi!”
Luna ikut tertawa. Dia berjalan menghampiri. Lalu duduk berjuntai di dipan. Dekat dengan kursi yang diduduki wanita tua.
“Kamu juga bisa menghilang. Si kakek cebol itu yang mengajari. Tapi kenapa tidak pernah kamu coba lagi ilmu itu,” tanya wanita tua.
Luna hanya tersenyum.
Tiga:
Sambil memandang wanita tua itu lekat-lekat, Luna teringat kajian fisika yang ditekuninya. Secara teori fisika, memang mungkin saja seseorang bisa menghilang “dari pandangan” saat itu. Semuanya adalah berkenaan dengan getaran, gelombang dan frekuensi serta energi.
Apakah wanita tua itu bisa pindah frekuensi, sehingga seketika bisa “pindah” ke ruang dan waktu yang berbeda?
Dipandang lekat-lekat, si wanita tua balas memandang. Dari matanya berkilau cahaya. Luna seolah ditelan ke dalam mata wanita tua itu. Dia merasa berada di sebuah pulau. Ada kapal kayu tersekat di sebuah teluk kecil.
Sesaat setelahnya, Luna merasa dilemparkan kembali ke saat ini. Luna diam saja diperlakukan demikian.
Dia berpikir, wanita tua itu pasti tidak ada niat untuk mencelakainya. Luna pun tidak berprasangka buruk.
Memang sifat tanpa prasangka buruk itu lah yang dahulu membawanya ke Gunung Tujuh.
Saat tengah bermain sendiri di halaman, tiba-tiba dia melihat gadis kecil, sebesar boneka beruang–cebol, mendekati. Anak itu terlihat sedih.
Luna pun mendekati. Sambil berjongkok dia menanyai perihal si cebol. Saat itulah, tiba-tiba dia tidak ingat apa-apa. Lalu sudah berada saja di perkampungan orang kate di Gunung Tujuh.
Karena sifat tak berprasangka buruk lah, kakek cebol yang menjadi pemimpin suku kate menyukainya. Sebab tanpa prasangka buruk adalah ajaran utama kaum cebol.
Semua harus dihadapi apa adanya. Tidak boleh berprasangka buruk. Sebab prasangka jelek lah yang membuat sesuatu menjadi masalah!
Karena suka, kakek cebol pun mengantarkan Luna kembali ke orang tuanya di Sungai Talang. Banyak kejadian, orang-orang yang dilarikan kaum cebol, tak ada yang kembali!
Karena tak berprasangka jelek pula, Luna bereaksi sewajarnya saat sadar dari pingsan tadi.
Batinnya yang bersih, cenderung memandang apapun secara positif.
Buktinya, alih-alih mencurigai, Luna bahkan berusaha mencari saat wanita tua “menghilang” tadi.
Setelah bertemu karena diapun memakai “ilmu menghilang”, Luna juga bersikap apa adanya saja. Dia bahkan duduk dekat-dekat si wanita tua.
Dua wanita beda umur itu sama terdiam. Mungkin sedang larut dalam pikiran masing-masing. Kadang-kadang keduanya bertukar pandang, dalam diam.
Luna teringat pekerjaannya di laboratorium. Mereka sedang mengembangkan mesin yang bisa melacak sesuatu yang gaib. Itu juga didasari pada kajian tentang getaran, gelombang dan frekuensi, serta frekuensi.
Sambil tetap menatap wanita tua itu, gadis ini merangkai kembali keping-keping peristiwa.
Empat:
Sejak bertengkar dengan bosnya di kantor, Luna merasa dunianya seakan runtuh.
Mitchael Bonn, bosnya itu tak terima, Luna punya bisnis sampingan. Apalagi berjualan baju di mall!
Sebenarnya Mitchael Bonn punya maksud baik melarang Luna kerja sampingan. Namun Luna tak terima. Dia menganggap Mitchael Bonn terlalu memcampuri urusan pribadinya.
“Anda memang bos saya. Tapi tidak dengan memasuki hal-hal privasi saya!”
Mitchael Bonn terkejut dengan jawaban gadis itu. Dalam pikirannya, gadis ini adalah orang baik-baik yang sudah “masuk dalam skenario” yang sengaja disusun oleh Ina Team.
“Tapi anda punya target. Dalam proposalmu, jelas tertulis,” jawab Mitchael Bonn berusaha sabar.
“Saya tak ke luar dari proposal. Baca progres. Itu bahkan melebihi target. Anda saja yang ingin lebih, dengan mengatur-atur saya!”
Mitchael Bonn berusaha tetap tenang. Dia memilih diam, alih-alih menjawab Luna.
Apalagi saat mereka bertengkar, Oliver Weiss dan Ali Husayn memasuki ruang kerja Luna. Mereka berdua terkejut melihat pembicaraan yang agak keras itu.
“Ada apa,” ujar kedua lelaki itu hampir berbarengan.
Mitchael Bonn tersenyum lebar. Dia mendekati Luna, menepuk bahu gadis itu, dan berkata,”Tidak apa-apa. Kami tadi hanya membahas proyek kita yang luar biasa progresnya!”
Oliver dan Ali sama-sama memandang Luna. Yang dipandang segera tersenyum manis sambil merapikan jilbabnya. “Mitchael benar. Kami membahas proyek kita. Hey… Hana mana?”
Luna mengalihkan pembicaraan, sambil mendekati gadis itu, Ali menjawab,”Tadi dia masih di lab. Tapi sebentar lagi dia menyusul.”
Mitchael Bonn dan Oliver Weiss terlihat sama-sama memandang menyelidik ke arah Luna dan Ali yang kini duduk bersisian, di sofa.
Sesaat setelahnya, Mitchael Bonn melihat muka Oliver sedikit kesal melihat dua orang itu duduk bersisian!
Luna juga melihat hal yang sama. Tapi apa pedulinya? Bahkan, dengan bersikap manja, Luna memandang ke arah Ali,”Dear Ali. Kemana saja engkau seharian ini? Teganya membiarkan aku sendiri di ruang ini!”
Mitchael Bonn bukan orang bodoh. Dia melihat Luna sengaja over acting. Apakah Luna tengah membakar api cemburu Oliver?
Berhasil! Oliver salah tingkah. “Belum terlalu sore untuk ngopi bareng,” ujarnya mencari perhatian Luna.
Kena! Luna memang keranjingan ice vanilla latte! Terlihat gadis itu antusias merespon Oliver.
Tak beberapa lama, tiba Hana dengan muka riang. Gadis Tiongkok ini memang periang. Seolah-olah tak ada masalah dalam hidupnya.
“Ahaiii…apa yang aku lewatkan,” ujarnya tersenyum.
“No problem. Kita hanya menunggumu, untuk ke luar. Ngopi-ngopi,” jawab Luna tak kalah riangnya.
Begitu saja. Keempatnya meninggalkan Mitchael Bonn sendirian.
“Sorry bos. Kami berangkat ya,” jawab Luna dengan menekankan aksen pada diksi “kami” untuk menegaskan kesan bahwa dia tidak hendak mengajak lelaki setengah baya tersebut!
Terlihat jelas, Luna ingin memberi kesan bahwa dia tidak mau terlalu diatur. Apalagi untuk hal yang tidak disepakati sebelumnya.
Seperti biasa, Mitchael Bonn tersenyum ramah. “Siap paduka. Hamba akan menunggu kedatangan paduka berempat,” jawabnya dengan nada humor.
Tetapi dalam hati, Mitchael Bonn berkata,”Bukankah selama ini saya tidak pernah jalan bareng bersama kalian? Apa bedanya?”
Namun, begitu dua pasang lajang itu pergi, Mitchael Bonn menelpon seseorang. “Ya, mereka ke sana. Siapkan sesuai skenario!”
Itulah awal masalah Luna.
Berempat mereka ngopi di PI. Di outlet langganan mereka. Di level satu, Plaza Indonesia.
Selagi ngopi, Luna menerima pesan singkat: Buk, ada beberapa stock habis…
Luna membalas: Tunggu di sana. Lima menit lagi saya tiba
Dengan membuat alasan mau ke toilet, Luna meninggalkan tiga temannya itu.
Dengan bergegas, gadis itu menaiki lift ke level 4.
Beberapa menit di outlet fashion miliknya itu, tiba-tiba, terdengar suara ledakan. Cukup keras.
Luna terperanjat. Begitu pula yang lain. Orang-orang berlarian kalang kabut. Begitu pegawai outletnya.
“Kemana kalian mau pergi. Kita lihat dulu,” ujar Luna pada tiga pegawainya.
Namun para pegawai itu tetap saja berlarian ke arah lantai satu. Tapi Luna memilih tetap bertahan. Karena dia lihat, tak satupun dinding yang retak.
Tiba-tiba, ada lima laki-laki, mungkin agen intelijen, mendatanginya, sekitar tujuh menit setelah suara ledakan.
Dua orang berjaga di pintu, yang tiga menyeretnya pergi.
Suasana hiruk pikuk dan kacau balau serta kepanikan orang-orang di situ, sangat membantu para lelaki yang menciduk Luna.
Mana ada yang peduli? Tiap orang berlarian menyelamatkan diri masing-masing.
Luna mencoba tenang sambil setengah berlari, diseret mengikuti para lelaki yang meringkusnya.
Dia teringat tokonya yang ditinggal terbuka. Dia tidak cemas. Ada asuransi yang akan membayar.
Tetapi Luna kelihatan gelisah. Bagaimana dengan “proyek” nya di lantai bawah toko itu?
Luna yakin, tak seorang pun yang tahu bahwa di kiri-kanan dan atas bawah dari tokonya, itu sebenarnya adalah miliknya juga. Hanya sengaja dia buat atas nama teman-temanya. Bahkan teman-temannya itu pun tak tahu, nama mereka dicatut sebagai pemilik toko-toko itu!
Teringat “proyek” tersebut, Luna merogoh handphone dari saku jeans nya. Sambil terus berlari, tanpa mengeluarkannya dari saku, Luna menekan sebuah tombol. Lalu hp itu pun dinonaktifkannya.
Mereka sampai di pintu barat. Di tengah simpang siur mobil, dan orang-orang berlarian, mereka berhasil menaiki sebuah mobil yang sudah menunggu.
Luna tidak ingat lagi, kapan ledakan di lima toko itu terjadi. Sebab dia sudah pingsan sesaat setelah di mobil. Salah seorang lelaki itu mendekapnya dengan sapu tangan. Bius.
Yang Luna kemudian ingat adalah saat dia sudah berada di sebuah pulau. Ada bangunan tua di situ. Cukup besar dan berdiri membentuk leter L, menghadap ke pantai.
Memang seperti penjara. Mungkin dahulu adalah penjara. Siapa yang tahu?
Itu terjadi dua hari yang lalu. Luna dikurung dalam sebuah ruangan kecil. Untung ada dipan dan ada wc di situ. Ada pula alat mandi.
Dia diberi pakaian ganti.
Makan pun diantar.
Tiga kali sehari dia diinterogasi oleh lelaki yang sama. Dia tidak kenal orang ini.
Cukup tampan. Dilihat dari raut mukanya, mestinya lelaki itu bukanlah orang jahat.
Tetapi, mengurung seorang gadis dan menginterogasi seperti ini, tidak boleh disebut pekerjaan baik.
Meskipun terus dikejar pertanyaan, sejauh ini, Luna tidak perlu kuatir. Lelaki yang menanyainya tidak bermaksud kurang ajar. Dia tidak perlu kuatir akan diperkosa!
Namun, saat Luna dituduh berkomplot dengan intelijen Tiongkok untuk menggagalkan pencalonan salah seorang capres, Luna semakin bingung. Juga sakit hati.
Apa pula urusannya dengan politik? Kalera!
Upppsss…Luna menutup mulut dengan tangan. Dia sadar sudah terlanjur mengumpat dalam hati. Biarlah, pikirnya.
“Apa urusanku dengan pilpres itu?”
“Bukankah anda yang menjadi dalang peledakan? Anda ingin membunuh capres yang sedang berada di lantai satu itu!”
Luna melihat lelaki itu dengan sewot. “Aku kalian tangkap di level 4, kejadian di level 1. Betapa bodohnya kalian menuduhku!”
Tetapi lelaki itu tetap memaksakan tuduhan bahwa dia bersekongkol dengan intelijen Tiongkok untuk menggagalkan pencapresan salah seorang capres.
Luna ingat. Situasi politik di negara itu sejak awal 2023 memang mulai memanas. Partai yang sedang berkuasa seperti ingin mendominasi zaman. Tentu partai lain, atau kelompok lain tidak membiarkan begitu saja.
Intelijen Tiongkok?
Luna ingat Hana Wang, temannya. Juga anak buahnya. Memang wanita cantik itu berkewarganegaraan Tiongkok.
Tapi jelas dia bukan intelijen. Dia adalah ahli biologi molekuler.
Lagipula, Luna yang merekomendasikan Hana Wang untuk menjadi bagian dari timnya!
Maka, ketika terus dikejar dengan pertanyaan yang sama, dalam keadaan makin tertekan, Luna pun menjawab,”Apa urusanku dengan politik? Aku pengusaha!”
Seorang lelaki yang ikut meringkusnya berkata,”Bohong! Kamu sengaja meledakkan PI. Bahkan setelah kita pergi dari situ, kamu masih meledakkan lima toko lainnya!”
Luna tersenyum mengejek. “Kalian salah orang, aku hanya pengusaha fashion!”
Makin tidak sabar, akhirnya lelaki itu menyodorkan handphonenya. Memperlihatkan foto-foto.
“Kamu masih berbohong? Ini toko-toko mu! Semuanya terbakar. Kami punya bukti, toko ini punyamu Nama teman-temanmu adalah kedok semata!”
Luna mulai melunak. “Ya, jangan kalian tangkap mereka.”
Lelaki itu tersenyum lebar. Dia merasa menang, dan makin berupaya menekan Luna.
“Kamu dengar baik-baik nona. Kami tahu, kalian merencanakan untuk memanfaatkan momen pilpres di negara ini untuk menyampaikan pesan buat Ksatria Dunia, bahwa kalian ingin melawan kami!”
Hahhh…?
Luna tercengang. Selama hidup, baru sekarang dia mendengar “Ksatria Dunia”
“Apa itu? Baru sekarang saya dengar. Itu kelompok preman ya,” ujar Luna asal-asalan.
Lelaki itu geram. Untung bagi Luna, lelaki itu dilarang menyakiti. Boleh mengancam. Menghardik. Tapi tidak boleh menyakiti fisik. Apalagi melukai.
“Kamu beruntung, ketua kami hanya ingin mendengar pengakuanmu. Ayolah, kamu berterus terang saja…!”
Bersamaan dengan kalimat terakhirnya, lelaki itu mendengar nada panggilan di hp-nya.
Dia beranjak menjauh.
Luna tetap duduk, terikat di kursi. “Siapa yang dia maksud ketua itu,” pikir Luna?
Dia sekarang boleh menyimpulkan bahwa ada organisasi yang mengatur penangkapannya. Mungkin organisasi itu yang mereka sebut Ksatria Dunia itu. Apakah orang pemerintah?
Luna menjawab sendiri,”Tak mungkin mereka orang pemerintah. Dari potongan-potongan pembicaraan, jelas mereka bukan orang pemerintah setempat. Tapi melihat wajah, mereka adalah orang-orang lokal. Apakah mereka orang-orang suruhan? Atau semacam pengkhianat?”
Tak lama, laki-laki itu mendekat, “Kamu harus memberikan rumus-rumus itu pada kami!”
Ditanya perihal rumus-rumus, Luna terkesiap. Pasti kelihatan di mukanya raut cemas. Dia menyimpulkan lagi,”Jika bukan orang-orang yang mengetahui perihal rumus-rumus fisika yang ditemukannya, paling tidak orang-orang ini, atau organisasi Ksatria Dunia itu menciduknya karena penemuannya tersebut!”
Luna sadar, penemuannya adalah sesuatu yang spektakuler. Itu bisa membuka jalan untuk merevolusi pemahaman orang akan dunia gaib! Dan orang-orang yang menginginkannya, paling tidak berkaitan pula dengan alam metafisika itu!
Luna mencoba mengulur waktu dan menggali lebih dalam. “Rumus apa yang kalian maksud? Kalau rumus hitung dagang berdagang fashion, aku punya,” tutur Luna mencoba berkelakar.
“Tak perlu kamu berkelit lagi! Kami tahu bahwa kamu sedang membuat mesin MPAG. Tapi itu bukan yang kami cari. Bos kami tahu persis bahwa kamu telah menemukan rumus dan cara membuat mesin waktu,” kata laki-laki itu.
Luna ingat labnya di pinggir Jakarta. Itu adalah pabrik oksigen cair. Di sana juga sedang dikerjakan pembuatan MPAG. Tak ada yang tahu bahwa pabrik oksigen cair tersebut adalah kedok semata, kecuali Mitchael Bonn dan tiga tim ahli itu.
Sebagai ahli fisika terapan tamatan Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Amerika, sebenarnya saat ini Luna dan timnya sedang mengerjakan pengembangan alat supranatural sensing. Itu adalah pengembangan dari alat protitipe yang merupakan disertasi doktoralnya.
Progres pengembangan dan penyempurnaan prototipe itu cukup luar biasa. Mungkin karena Luna digaji cukup besar untuk membuat alat penginderaan alam gaib itu. Dan gaji tersebut di bayar di depan!
Tetapi tentang mesin waktu, Luna yakin hanya dirinya yang tahu. Sebab “proyek” itu dikerjakannya sendiri!
Tentu hanya Luna yang tahu. Dengan uang dari gaji yang dibayar di depan tersebut, diam-diam dia mengerjakan “proyek” pembuatan mesin waktu!
Dia sadar, jika mesin waktu itu bisa terwujud, pasti akan diincar semua negara. Karena itu, untuk mengantisipasi bilamana terjadi sesuatu yang membahayakan, “proyek” itu harus diledakkan. Tidak boleh jatuh ke tangan siapapun!
Sekarang, lelaki ini meminta rumus-rumus tersebut. Luna cemas. Sekaligus heran,”Siapa kira-kira yang mengetahui bahwa dia sedang membuat mesin waktu?”
Dicobanya merunut orang-orang terdekat. Dia memang dekat dengan Oliver, Ali, dan Hana. Tetapi, jangankan mengetahui pembuatan mesin waktu yang dikerjakan diam-diam itu, tak seorang pun yang tahu bahwa dirinya memiliki outlet fashion di PI.
Sadar bahwa pada akhirnya dirinya akan dipaksa membuka rahasia, Luna pun mulai mencari akal untuk lari dari situ. Bagaimana caranya?
Luna ingat handphonenya. “Boleh saya menelpon?”
“Kamu mau menelpon siapa?”
Luna tersenyum manis,”Kamu meminta rumus-rumus itu kan?”
Lelaki tersebut mengangguk, dan menyodorkan hp. Tapi Luna melirik ke arah tangannya yang terikat.
Dengan sedikit tersenyum, laki-laki itu membuka ikatan tangan Luna.
Luna memeriksa hp itu. Menghidupkannya. Memang sesaat waktu menuju mobil di lobi pintu barat PI, dia masih sempat mematikan hp itu. Jika tidak, pasti banyak yang menghubungi!
Setelah hp itu hidup, Luna melihat baterainya tinggal satu pagar. “Tapi masih cukup kuat. Mudah-mudahan hanya pingsan,” pikirnya.
Dia mengaktifkan sebuah tombol. Lalu dia pura-pura menelpon seseorang.
Saat itulah gelombang audio menyerang gendang telinga lelaki itu. Dia tersentak memegang telinga, lalu terjerembab. Terlihat darah menyembur, keluar dari telinga.
Mendengar suara jatuh, sejumlah penjaga masuk ke ruangan itu. Luna terkejut. Dia tak bermaksud membunuh.
Dalam keadaan terkejut dan takut serta masih tetap memegang tombol hp sambil tetap mendekatkan ke telinganya, Luna menunggu para penjaga yang lain datang.
Gelombang audio yang tak tampak itu adalah senjata yang cukup membantu. Dalam sekejap bisa melumpuhkan orang, karena terserang saraf keseimbangannya di telinga. Mirip dengan petinju yang kena bogem di telinga. Yang terkena langsung KO. Pingsan.
Sedangkan Luna tidak terpengaruh gelombang audio berfrekuensi tinggi itu. Sebab dengan mendekatkan hp ke telinga, Luna sudah terbebas dari pengaruh gelombang yang bisa membunuh itu. Ada alat peredam yang ditanam di casing hp. Sehingga saat gelombang menjalar, siapa saja yang berada di depan tentu akan terdampak. Bisa semaput!
Bahkan lebih. Gelombang audio itu bisa membunuh dengan ganas. Karena menyerang gendang telinga dan saraf-saraf di kepala!
Begitulah, begitu tiba dalam ruangan, para penjaga pun begelimpangan dengan darah menyembur dari telinga masing-masing.
Luna bergegas ke luar. Dia berlari sepanjang koridor.
Hampir sampai di ujung lorong, tiba-tiba di belakangnya terdengar suara tembakan. Luna terkejut sambil memekik. Dia tersandung sesuatu. Hilang keseimbangan.
Hp-nya lepas dari tangan. Jatuh ke arah batu di depan. Lalu meluncur ke samping. Tercebur ke genangan air.
Luna kesal. Pasti hp itu hangus, pikirnya.
Para penjaga yang marah, segera meringkus Luna. Mengikatnya. Lalu menggiringnya ke ujung lapangan. Mereka akan membalas kematian teman-temannya
Tiga orang penjaga itu ibarat regu tembak. Sekarang mereka menghunus bedil. Mengarahkan moncongnya ke Luna yang diikat pada tiang bendera. Tak jauh dari koridor tadi.
Luna melihat hamparan pantai. Dia juga melihat para penjaga yang siap menghabisinya.
Dalam keputusasaannya, Luna melihat benda kecil melayang…
Lima:
Ya, perempuan bernama Luna itu terkesima. Lebih dari terkejut. Bagaimana wanita ini tahu semua yang sudah dilaluinya? Bagaimana mungkin wanita tua ini bisa mengetahui namanya?
“Dahulu namamu Luna Zalukhu. Yang di belakang adalah nama margamu di Nias. Oleh kakekmu, diubah jadi Luna Dewi. Kakekmu malu menjadi orang Nias!”
Suara wanita tua itu terdengar tercekat. Pahit dan penuh kesumat.
“Saat masuk sekolah, ayahmu mengubah namamu menjadi Luna Sangir. Nama itu yang kamu pakai hingga sekarang. Secara nama, hilanglah jejak Nias mu. Berganti dengan Sangir, yang kamu yakini sebagai negeri asalmu!”
Perempuan yang kini berbaring miring, ikut tercekat. Dia seperti merasakan kesumat si wanita tua. Jelas itu adalah dendam, hingga ke tulang sum-sum. Mungkinkah ada hal yang ekstrim yang pernah dialami nenek ini dahulu?
“Itu tidak perlu kamu pikirkan. Biarlah jadi rahasia nenek!”
“Ini urusan cinta ya nek?”
Nenek Sirici terlihat tersipu. Tapi hanya sesaat. Setelah itu terlihat wajahnya mengeras!
Luna teringat pula akan dirinya. Ada kisah asmara yang mengantarnya hingga ke “regu tembak”!
Luna punya ruang kerja sendiri yang luas. Paling luas di bangunan itu.
Atas semua fasilitas tersebut, membuat motivasi bekerjanya luar biasa. Seringkali dia tidak pulang ke apartemen lantaran asyik menekuni penelitiannya.
Di ruang kerja itu ada kamar tidur. Juga dapur dan minibar. Seperti rumah saja layaknya.
Luna punya hampir seratus orang staf. Terdiri dari teknisi dan peneliti.
Ada tiga orang peneliti utama. Satu orang adalah teman kuliahnya di MIT, Ali Husayn. Pria tinggi kekar ini adalah keturunan arab, lahir di Perancis. Seorang lagi, gadis Tionghoa–Hana Wang–ahli Biologi Molekuler. Dan laki-laki paling tampan di pabrik itu, Oliver Weiss–keturunan Yahudi, kelahiran Jerman.
Hubungan Luna dengan tiga peneliti utama itu sangat dekat. Bahkan akrab. Mungkin karena umur mereka tidak terpaut jauh. Dan semuanya masih lajang.
Kerap sekali di penghujung hari, mereka berempat ngobrol ngalor ngidul di ruang kerja Luna.
Berempat pula, mereka sesekali hangout. Nonton bareng, nongkrong bareng. Juga libur bareng. Akrab sekali.
Dua lelaki tampan dengan dua gadis cantik jalan bersama. Semua yang melihat tentu akan berpikir bahwa mereka adalah dua pasangan kekasih.
Tidak banyak yang tahu bahwa Ali dan Oliver diam-diam bersaing merebut hati Luna.
Tentu saja Luna tahu. Tapi dia tidak menggubris. Kedua pria tampan itu diperlakukan sama. Luna memosisikan diri sebagai sahabat, tetapi juga pemimpin.
Memang Luna adalah pemimpin mereka.
Semua orang di pabrik itu faham, bahwa Luna adalah pemimpin semuanya. Walaupun acapkali bersenda gurau, para peneliti utama itu tetap menghormati Luna sebagai bos mereka.
Apalagi bos besar mereka, Mitchael Bonn memang mewanti-wanti semua karyawan agar menghormati Luna. Dan, sebenarnya karena kemandirian yang tampak dalam tiap tindak-tanduknya lah membuat Luna disegani. Luna adalah sosok yang dihormati. Dia adalah bos di situ.
Tetapi dia tidak ngebos. Dia perempuan yang supel. Mudah bergaul. Maka dia tidak peduli dengan tetek bengek penghormatan yang lebih sebagai basa-basi.
Selain supel, Luna adalah perempuan yang simpel pula. Dia menghindar dari hal remeh temeh.
Namun dia mau berjam-jam berdiskusi jika ada gagasan-gagasan besar. Kadang-kadang hilang kesupelannya manakala adu gagasan itu makin memuncak.
Dalam hal adu gagasan, Luna tak jarang jadi gadis yang egois. Di luar itu, Luna seluruhnya adalah prototipe gadis idaman.
Betapa tidak. Masih lajang, menjelang 28 tahun umurnya, punya penghasilan lumayan, cerdas dan cantik, Luna menjadi magnet yang membetot siapa saja!
Ibarat bunga, Luna mewangi di setiap ruang. Harumnya bertebaran. Memabukkan. Membahagiakan.
Luna artinya bulan sang dewi malam. Ibarat bulan, Luna bukankah matahari yang menyengat. Tetapi teduh. Meneduhkan semua hati yang gersang!
Maka, siapa yang tahu, apa yang ada di pikiran dua laki-laki peneliti utama yang menjadi bawahan, sekaligus temannya itu. Yang pasti, keduanya sumringah dengan mata berbinar-binar bila berada di dekat Luna.
Bahkan, siapa yang tahu pula apa yang dipendam dalam hati sang bos besar, Mitchael Bonn.
Oh ya, bos besar ini cukup tampan, dan terlihat lebih muda dari usianya. Tiada yang tahu persis usia lelaki itu. Hanya sedikit yang Luna tahu tentangnya. Dia hanya tahu nama, dan negara asal. Selebihnya dia tidak tahu.
Lelaki paroh baya asal Inggris itu memang tidak setiap hari hadir di pabrik.
Keberadaan Mitchael oleh Luna dan tiga temannya bahkan misterius. Karena bisa saja subuh-subuh dia sudah hadir di situ. Tetapi sering berminggu-minggu tidak tampak puncak hidungnya.
Saat sesekali muncul, Mitchael lebih banyak berdiskusi dengan Oliver. Sangat jarang dia berbincang-bincang dengan Luna.
Entah karena menjaga wibawa, atau mungkin lelaki itu sungkan berbicara dengan perempuan?
Luna menyadari itu. Tetapi sejauh ini dia tidak mempermasalahkan.
Baguslah.
Tiba-tiba lamunannya terhenti. “Bukan Mitchael yang harus kamu cemaskan! Tetapi pria yahudi itu.”
Luna celingak-celinguk. Wanita tua tadi masih tak terlihat. Namun suaranya dekat.
“Kenapa,” tanya Luna sambil membereskan jilbabnya yang kusut.
“Kamu cari tahu sendiri,” jawab wanita yang tiba-tiba sudah terlihat duduk di dekat dipan.
“Ehhh…” Luna makin bingung. Bagaimana bisa wanita tua itu menghilang, lalu muncul lagi sesukanya.
“Ini adalah praktek nyata ilmu yang kamu tekuni selama ini.”
Luna berpikir. Apakah yang diperagakan nenek ini adalah praktek nyata teori fisika yang tengah ditekuni untuk pembuktiannya di lab? Lalu Luna bertanya,”Maksudnya melintas ruang dan waktu?”
“Iya,” jawab wanita tua itu lekas.
“Secara teori memang bisa. Secara praktek? Itu yang sulit,” tukas Luna.
“Kan kamu sudah menelitinya?”
“Itu baru teori dan rumus-rumus fisika.”
Tanpa jeda, wanita tua itu balik bertanya,”Apakah kamu mau mengatakan bahwa teori yang kamu simpulkan itu salah?”
Luna gusar. Mukanya memerah. Kompetensi keilmuannya serasa diragukan wanita yang belum dikenalinya ini!
“Tentu tidak,” jawabnya ketus.
Terlihat wanita tua itu tertawa. Suaranya masih merdu.
Luna makin bingung. Biasanya tak pernah dia habis akal. Apalagi menyangkut kajian fisika yang ditekuninya.
Tapi sekarang? Wanita tua itu seperti menantangnya untuk membuktikan teorinya!
Membuktikan?
Luna sendiri juga bingung ketika dari analisa fisika-matematika yang dikerjakan hampir setahun itu diperoleh kesimpulan bahwa: Natural dan supranatural itu hanya berbeda karena frekuensi energinya berbeda. Bila seseorang atau benda bisa “menyesuaikan frekuensi” dengan yang lain, maka keduanya akan berada di alam yang sama (natural atau supranatural) pada ruang dan waktu yang sama. Gadis itu bingung lantaran teorinya bisa merombak secara ekstrim pemahaman-pemahaman konvensional. Karena “bila ada cara atau alat yang memungkinkan orang atau benda menyamai frekuensi dengan benda atau orang yang lain, niscaya keduanya akan berada pada ruang dan waktu yang sama”. Jika ditemukan cara atau teknologi untuk itu, bukankah bisa melintas ruang dan waktu?”
Tetapi secara kajian fisika teoritik, itu sudah dinilai sebagai temuan besar. Karena itu dia berhak menyandang gelar PhD di belakang namanya. Apalagi teori tersebut berkaitan pula dengan sejumlah teori lain yang sudah belasan tahun sebelumnya dipublikasikan.
Bahkan secara imajinasi ‘mesin pelintas waktu” itu sudah difilmkan sejak 40 tahun lalu. Itulah film The Time Tunnel yang digandrungi pemirsa televisi saat itu.
Sekarang Luna sudah menyusun teorinya. Bahkan dia sudah mengantongi hak paten untuk prototipe Mesin Penginderaan Alam Gaib (MPAG). Atas hak paten tersebut, saat ini Luna sedang menyempurnakannya. Dengan biaya tidak terbatas dari perusahaan Hidden World Inc, Luna dan timnya sudah tujuh bulan menyempurnakan MPAG.
Semuanya berjalan lancar. Bahkan progresnya satu setengah kali dari perkiraan.
Begitu pula “proyek” pribadinya, membuat mesin waktu, prospeknya juga menggembirakan.
Berbeda dengan mesin waktu yang dipertontonkan di film fiksi, Luna tidak membuat tabung untuk lorong “menyeberangi waktu”. Melainkan dia membuat piranti yang memungkinkan orang melanglangbuana secara pikiran.
Dalam teori yang sedang dikembangkannya, piranti berbentuk helm itu bisa menangkap sinyal dari otak si pengguna. Lalu secara otomatis frekuensi piranti akan menyesuaikan dengan frekuensi sinyal otak. Setelah keduanya se-frekuensi, si pengguna menyetel frekuensi yang menjadi tujuan. Lalu, otak pun akan se-frekuensi dengan tujuan.
Masalahnya, bagaimana mengetahui frekuensi objek yang dituju?
Misalnya, kita ingin menuju kejadian Perang Imam Bonjol. Maka, kita mesti tahu berapa frekuensi sinyal otak Imam Bonjol? Bagaimana caranya?
Itu yang beberapa kali sempat didiskusikannya dengan Oliver Weiss.
“Untuk apa memikirkan frekuensi objek-objek yang sudah tidak ada. Harusnya kamu mencari cara untuk mengetahui frekuensi aku,” ujar Oliver Weiss sambil tertawa lebar.
Luna ikut tertawa. Tentu saja dia tidak menjawab pertanyaan Oliver. “Ini pemikiranku saja kok. Bila semua benda punya energi. Baik benda hidup, ataupun benda mati, maka tentu benda itu memiliki getaran. Berarti punya frekuensi,” ulas Luna.
Oliver manggut-manggut serius. Luna tidak tahu kalau Oliver sebenarnya manggut-manggut menyaksikan gerak bibir, binar mata dan gestur gadis itu. “Semuanya adalah keindahan belaka,” pikir Oliver.
Dalam pandangan Luna, gaya Oliver yang manggut-manggut justru menerbitkan keceriaan. Pria asal Yahudi itu memang jenaka.
Luna ingat, saat Oliver Weiss mengirim email lamaran ke perusahaan, kebetulan dia sedang di depan laptop. Karena link lamaran online itu terhubung padanya, semua notifikasi langsung dia ketahui.
Saat itu masih pagi, Luna baru duduk di ruang kerjanya. Dan membuka laptop. Waktu itulah notifikasi terbaca. Di smartphonenya juga terbaca.
Ditelitinya berkas lamaran Oliver dengan seksama.
Tamatan Harvard, doktor di bidang Fisika Terapan. Kelahiran Jerman. Masih lajang. Saat ini masih tercatat sebagai peneliti utama di Wilson Synchrotron Laboratory, New York.
Dan Luna tersenyum senang melihat foto-foto Oliver pada berkas itu. Bukan karena ketampanannya, tetapi wajah jenakanya membuat semua orang pasti suka.
Luna semakin suka saat dia mewawancarai Oliver. Lelaki yang diketahui berumur 31 tahun itu benar-benar tampan. Tetapi yang membuat Luna senang adalah kejenakaannya. Tidak wajahnya saja, perkataannya pun seperti pewangi ruangan. Membuat fresh.
Sekarang, setelah tujuh bulan lebih bersama timnya yang luar biasa tersebut, terutama peran Oliver yang melebihi Ali Husayn dan Hana Wang, kenapa wanita tua ini justru mencurigai lelaki Jerman itu? Apakah karena dia keturunan yahudi? Banyak juga orang membenci karena opini yang terbentuk. Serupa sejumlah kalangan membenci Yahudi lantaran menduduki tanah Palestina.
Siapa wanita tua ini?
Luna mencoba mengingat-ingat perihal cerita Tana Niha. Cerita tentang leluhurnya. Apa ada kaitan dengan si wanita tua?
Tiba-tiba, terdengar suara,”Saya sama dengan kamu!”
Lagi-lagi dia terkejut. Kenapa wanita tua ini tahu saja jalan pikirannya?
“Karena kita sama. Ini adalah telepati. Secara telepati, nenek bisa tahu pikiranmu.”
“Hmmm…nenek?”
“Ya, secara garis darah, saya nenekmu.”
Luna terpikir Hana Wang. Ahli biologi molekuler yang membantunya mencari cara untuk mengaitkan genetika dengan “kemampuan spritual”.
“Iya. Hana temanmu itu menyebutnya genetika. Boleh kamu uji. DNA kita sama!”
Lagi-lagi Luna takjub atas respon sang nenek terhadap pikirannya!
“Nenek… Setelah mendengar apa yang kamu ucapkan dari tadi, aku makin bingung. Dan yang jelas, aku tidak tahu namamu. Asal usulmu, dan seterusnya. Tetapi nenek tahu semuanya tentang aku. Bahkan nenek pula yang menyelamatkan aku dari regu tembak itu!” ujar Luna menyerah.
Nenek itu mendekat. Dia duduk di tepian dipan. Mereka sekarang duduk berdampingan. Berjuntai.
Luna melihat. Mereka sama-sama saling melihat. Kemudian sama-sama tersenyum.
Jika ada orang lain yang melihat mereka saat itu, pasti tidak akan ragu mengatakan bahwa keduanya sedarah. Bedanya hanya umur saja. Tetapi wajahnya mirip belaka.
“Benar juga nek. Wajah kita mirip. Kok aku baru sadar?”
Nenek itu tertawa.
“Berdasarkan hoho, atau cerita lisan, leluhur kita adalah sowania, atau ono mbela. Ono mbela ini anak Dewi Sirici, seorang ratu di kayangan. Oleh ayahku, aku diberi nama Sirici pula. Entah kebetulan, atau sengaja, nama ayahku Sirao, sama dengan nama dewa yang turun ke Tana Niha. Dewa Sirao.”
Luna tercengang. Karena saat nenek itu bercerita, dia mencium bau wangi yang lembut. Tadi rasanya dia tidak ada mencium aroma itu. Aroma bunga cempaka putih. Dia bergidik.
“Itu adalah wangi kayangan. Hanya golongan perempuan bangsawan yang boleh menggunakan wewangian ini. Bahannya adalah sari pati bunga cempaka putih. Ramuan wewangian ini kita peroleh dari bangsa Arab.”
“Neneeek…” Luna gemas dan merasa habis akal lantaran apapun yang terlintas di pikirannya, langsung direspon sang nenek.
Nenek itu tertawa melihat tingkah Luna yang merajuk. Dia melihat Luna seperti disergap sederetan pertanyaan untuk menjawab keheranan dan ketakjubannya.
Nenek pun mendekap bahu Luna. Dibelainya kepala yang tertutup jilbab itu.
“Sayang… Kamu adalah aku, aku adalah kamu,” bisik nenek dengan suara lirih.
Luna melihat lekat-lekat tepat di bola mata sang nenek.
Mata itu gemerlap. Berpendar lembut. Luna melihat ketulusan di situ.
Mungkin karena itu, Luna merebahkan kepalanya di pangkuan nenek. Dia teringat ibunya yang sudah tiada. Tapi, di pangkuan nenek itu, dia merasakan kasih ibu. Sesuatu yang hanya sepuluh tahun pernah dikecapnya.
Enam:
Luna tertidur di pangkuan nenek Sirici. Aroma itu mengantarnya ke gerbang mimpi.
Dia merasa di sebuah pulau. Pulau kecil dengan teluk sempit yang menghadap ke barat. Di arah timur, ada tebing karang. Ada hutan bakau yang lebat, dan deretan pohon kelapa seolah menjadi pagar di belakang pulau kecil itu.
Kapal kayu itu sudah hampir sembilan jam terdampar di ceruk kecil penuh karang. Tersekat di sela-sela pohon bakau yang lebat di kaki tebing.
Air laut mengombang ambingkan kapal kayu, sehingga dari atas terlihat naik turun. Tapi tidak tampak ada orang di bawah sana.
Dari atas tebing, beberapa orang bergelayutan dalam diam di atas pepohonan.
Sudah sejak subuh pula orang-orang di atas pohon itu mengamati. Agaknya mereka adalah penghuni pulau itu.
Ada lima orang laki-laki bergelayutan di sejumlah pohon kelapa yang tumbuh rapat. Mereka terlihat waspada. Walaupun jarak ke kaki tebing yang penuh pohon bakau itu lebih 50 meter, namun mereka tetap diam menunggu. Jangan-jangan ada musuh yang hendak menyerbu desa mereka.
Kulit mereka kuning. Rambut hitam, dibiarkan tergerai. Panjang. Sebagian di antara berkumus tipis. Hidung bangir. Tulang pipi sedikit menonjol.
Setiap mereka membawa senjata. Ada yang membawa tombak yang mereka sebut toho. Mereka membawa tombak perang, toho bulusa. Ada pula yang memegang pedang, mereka sebut balatu. Semuanya membawa perisai, baluse.
Mereka adalah pasukan khusus suku asli yang mendiami pulau itu.
Seorang yang paling muda, klimis memberi isyarat pada empat temannya. Yang lain mengangguk, dan mulai memegang senjata masing-masing.
Mungkin yang paling muda itu adalah komandan.
Bersamaan dengan isyarat tersebut, di bawah terlihat ada dua, tiga… tujuh orang mencoba keluar dari kapal kayu yang tersekat batang bakau.
Semuanya laki-laki. Semuanya memakai tudung kepala dari kain bewarna putih.
Tampak dari atas, mereka sudah berhasil mencapai tanah di pusat ceruk sempit itu.
Beberapa di antaranya mondar-mandir membawa sejumlah barang. Ada juga beberapa peti yang dipanggul sambil berjalan dalam air berpegangan pada dahan-dahan bakau.
Di atas tebing, lima lelaki itu tetap diam. Mengamati dengan seksama pergerakan orang asing di bawah.
Lalu sang komandan yang bergayut di pohon kelapa paling tinggi, memberi isyarat. Empat yang lain bergerak berpencar. Pindah ke pohon lainnya. Rupanya mereka membentuk formasi sejajar. Seperti perisai, langsung menghadap ke kaki tebing tempat orang asing terdampar. Tiap mereka punya pandangan yang leluasa ke bawah. Mereka terlihat siap menyerang.
Para orang asing itu mulai merangkak naik. Didahului oleh laki-laki brewokan. Dia yang paling jangkung, dan lebih berdegap dari enam lainnya.
Yang di depan mulai memanjat. Dia tidak memanggul apa-apa. Tetapi di pinggangnya tergayut sebilah pedang. Tutup kepalanya menjuntai menutupi telinga dan leher. Ada pita hitam yang mengebat tutup kepala dari kain putih itu.
Tentu saja laki-laki paling jangkung yang tiba lebih dulu di puncak tebing. Dia berpegangan pada akar merambat. Menjulurkan tangan untuk menarik temannya. Setelah itu dia berdiri. Memandang sekeliling. Sementara temannya menarik tangan laki-laki lainnya yang di bawah.
Tak cukup sepuluh menit, tujuh lelaki berpenutup kepala itu sudah berdiri di puncak tebing.
Setelah memastikan semuanya aman, laki-laki paling jangkung memberi berbicara dengan bahasa mereka.
Setelah itu, seorang di antaranya menggelar tikar dari kain. Yang lainnya mendekati pohon-pohon yang ada. Mengusap pohon dengan tangan, lalu mengusapkan ke muka.
Yang di atas pohon masih tetap diam. Awalnya mereka menyangka orang asing itu akan memanjat. Rupanya tidak. Mereka memandang heran. Apa yang dikerjakan orang asing ini?
Mereka makin heran melihat salah seorang lelaki di bawah bersuara lantang, sambil memegang telinga dengan muka sedikit tengadah. Beberapa saat setelahnya, lelaki paling jangkung mengambil posisi di depan. Berdiri tegak di atas tikar kain. Yang lain berbearis di belakang. Lalu di bawah komando yang di depan, mereka membuat gerakan. Tegak, rukuk, tegak, duduk, sujud. Dan tegak lagi. Ada empat kali urutan gerakan itu dilakukan dalam rentang waktu masing-masing sekitar semenit. Diakhiri dengan duduk. Lalu mereka menoleh ke kanan dan kekiri.
Masih ada tiga menit setelahnya, kegiatan yang diamati secara seksama oleh orang di atas pohon itu, berakhir.
Tak lama setelahnya, laki-laki jangkung itu memandang ke atas pohon. Dia melambaikan tangan, lalu membungkuk.
Sang komandan yang berada di pohon kelapa merasa itu adalah isyarat memanggil. Yang pasti bukan mengajak perang. Karena pedang-pedang orang asing itu mereka diletakkan begitu saja di sisi tikar kain. Dan enam lelaki lainnya tetap duduk seperti tadi.
Sang komandan masih menunggu. Setelah tiga kali isyarat itu, dia pun memberi isyarat pada teman-temannya.
Lalu sang komandan turun. Berjalan mendekati lelaki jangkung. Pedang (balatu) nya terselip di pinggang, diikat seutas kulit.
Hanya seorang yang jangkung ini yang tetap berdiri. Sekarang berjalan perlahan menyambut sang komandan dengan senyum ramah. Sambil merentangkan tangan. Menyambut sang komandan yang berjalan gagah.
Mereka sekarang tegak berhadapan. Lelaki jangkung membungkuk. Kemudian memberi isyarat ke arah bawah sambil berbicara dengan bahasanya.
Sang komandan mengangguk-angguk. Lalu menyodorkan tangan sambil berbicara dengan bahasanya pula.
Jelas bahwa keduanya sama-sama tidak mengerti.
Tetapi pasti bahwa keduanya sama-sama ingin berkawan. Karena saat ini mereka berjabat tangan.
Sang komandan memberi isyarat dengan suara. Tak lama, empat lelaki dengan toha bulusa (tombak perang), dan perisai (baluse) di tangan, sudah berdiri pula di belakang komandan mereka.
Komandan itu memerintah, lalu empat anggotanya meletakkan toha bulusa di atas tanah.
Kemudian, atas isyarat lelaki jangkung, mereka duduk berhadap-hadapan di tikar kain.
Lelaki jangkung itu duduk berdua dengan sang komandan di satu sisi. Sedangkan di kiri arah ke tebing, enam lelaki berpenutup kepala duduk berjejer. Di kanan, empat lelaki berambut panjang juga duduk berjejer.
Seperti kedua pemimpin mereka yang sama-sama tersenyum, yang lain pun tersenyum.
Setelah beberapa saat duduk, para lelaki beda suku bangsa itu saling pandang. Jelas yang mereka pikirkan adalah bagaimana cara berkomunikasi?
Lelaki jangkung mengambil inisiatif. Dia mengajak sang komandan ke arah tanah di pangkal sebuah batang kelapa. Di situ tanahnya cukup kering. Bisa dipakai untuk menggambar sesuatu.
Untunglah lelaki jangkung itu bisa menggambar. Dengan telunjuk dibuatnya gambar orang menyuap makanan.
Sang komandan mengangguk, dan memegang perutnya.
Lalu lelaki jangkung memerintahkan anak buahnya memasak.
Tak lama, tujuh lelaki dengan penutup kepala dan lima lelaki berambut panjang itu sudah menikmati makan siang.
Begitulah, tujuh lelaki pelaut bangsa Arab yang selalu bersorban itu bisa akrab dengan kaum pribumi Tana Niha.
Sebagaimana dicatat sejarah, sebagian bangsa Arab adalah pelaut-pelaut handal. Misalnya Ibnu Batutah yang tercatat pernah berlabuh di nusantara.
Sejarah mencatat, bangsa Arab telah dikenal sebagai penjelajah lautan. Mereka berlayar melintasi Laut Arab, Samudra Hindia, hingga Laut Cina Selatan. Kapal-kapalnya berlabuh di India, Sailan, Nusantara, dan Tiongkok. Mereka membawa komoditas dari pelbagai negeri Asia itu untuk kemudian menjualnya kepada masyarakat Timur Tengah.
Pelaut Ibnu Batutah pernah singgah di nusantara, lebih tepatnya di Samudera Pasai–kerajaan Islam pertama di kepulauan Aceh yang berdiri pada abad ke-13 hingga abad ke-15 Masehi.
Menurut sejarah pula, Al Hajjaj bin Yusuf adalah pemimpin bangsa Arab yang mempelopori pembuatan kapal kayu dengam metode pasak dan ikat.
Setelah makan, para lelaki berbeda suku bangsa itu pun menuju perkampungan. Mereka berlarian dengan riang. Sebuah awal yang baik untuk perbauran.
Dan karena sang komandan, adalah anak ketua suku di pulau itu, perbauran pribumi dengan para lelaki arab itu berlangsung aman.
Tujuh lelaki bersorban itu diterima oleh kaum pribumi dengan baik. Pemimpin mereka, lelaki jangkung itu bernama Zaid Hasyim. Dia lah yang kemudian secara perlahan mengajarkan agama Islam kepada para pribumi.
Hubungannya yang sangat akrab dengan sang komandan suku pribumi–Sirio Zalukhu–sangat membantu dakwah Zaid Hasyim.
Kelompok suku pribumi itu ada sekitar tiga puluh keluarga. Ada sebelas orang anak gadis. Ada tujuh lelaki bujangan.
Dari tujuh bujangan itu, hanya Sirao Zalukhu, anak kepala suku yang paling muda. Yang enam lagi sudah di atas 40 tahun umurnya. Tetapi masih bujangan!
Yang enam orang itu sebenarnya sudah beristri, tetapi belum dianggap sah secara adat. Karena mereka tidak sanggup membayar mahar.
Mahar nikah di suku itu adalah membuat pesta besar, dengan memberi makan semua keluarga yang bersangkut saudara dengan mempelai perempuan. Dan setiap pesta mesti memotong babi!
Yang sulit itu adalah menyediakan babi. Karena di suku itu tidak ada peternakan babi. Terpaksa dibeli pada suku lain. Harganya mahal!
Dari sebelas anak gadis itu, ada tiga orang yang paling cantik. Ketiga-tiganya kakak beradik. Masing-masing berumur 15, 16 dan 17 tahun. Sedanf mekar-mekarnya.
Yang paling tua, dan itu yang paling cantik, Sirici namanya. Yang bungsu Liana dan seorang lagi Sumbi.
Sirao Zalukhu hingga saat ini masih ragu, mana yang akan dipilihnya? Menurutnya, yang paling mungkin adalah Liana, karena dia suka dengan gaya manja gadis itu.
Yang tua, Sirici, sebaya dengan Sirao. Sejak kecil mereka terbiasa bertengkar. Bahkan waktu kecil mereka pernah berkelahi seharian. Tak ada yang kalah, tak ada yang menang!
Sebenarnya, ayah Sirao ingin menjodohkan anak bungsunya itu dengan Sirici. Tapi istrinya tak mau.
“Dia itu seperti lelaki. Kerjaannya berkelahi saja!”
“Iya, tapi kan dia yang paling cantik. Dan bukakah kamu juga dahulu sering berkelahi,” jawab ayah Sirao suatu kali.
Istrinya mendelik, lalu berkata,”Aku berkelahi karena terpaksa. Karena diganggu. Tapi aku tidak pernah berkelahi denganmu,” jawab perempuan itu.
Ayah Sirao tertawa. “Ya, sudahlah… kita lihat saja, mana yang disuka Sirao. Yang jelas menurutku, Sirici yang paling cantik,” ujar ayah Sirao. Terlihat mata laki-laki yang sudah berumur lebih setengah abad itu berbinar mengomentari kecantikan Sirici.
Melihat itu, istrinya mendelik! Cepat-cepat lelaki itu berkata,”Terserah Sirao saja. Tapi kamu katakan pada anakmu itu, supaya segera melamar salah seorang gadis itu.”
Ibu Sirao mengangguk, sambil tetap menaruh curiga dalam hati. Nalurinya mengatakan, ada sesuatu dengan suaminya. Apakah dia diam-diam menaruh hati pada Sirici?
Namun, alih-alih mencurigai, perempuan itu mengalihkan pembicaraan,”Tapi, sejak kedatangan orang Arab itu, Sirao seperti lupa dengan rencana beristri. Dia lebih suka mengikuti ajaran orang Arab itu.”
Dengan tersenyum, mungkin lega sebab tidak dituduh macam-macam oleh istrinya perihal pujiannya pada gadis bernama Sirici itu, dia pun berkata,”Biarlah. Dahulu memang kita punya agama sendiri. Menyembah batu. Di pulau seberang, semuanya sekarang sudah memeluk agama Kristen. Biarlah Sirao menentukan pilihannya. Setidak-tidaknya dia menambah ilmu.”
Perempuan itu manggut-manggut saja. Tentu saja pikirannya amat sederhana. Bukan soal Sirao belajar agama Islam yang dikuatirinya. Tetapi kapan lagi Sirao akan beristri. Membuat pesta besar. Menyembelih banyak babi. Dan tentu akan mengangkat derajat mereka di mata suku lain, di pulau-pulau yang banyak itu!
Akan halnya Sirao dan Zayid, walau berbeda umur sekira lima tahun, tetapi mereka terlihat sebagai sahabat baik. Atau seperti kakak beradik yang rukun.
Sekira enam bulan di pulau itu, Zayid sudah bisa berbicara dengan bahasa setempat. Dia disukai semua orang karena keramahan dan kebaikannya.
Zayid tidak segan-segan membantu orang-orang di situ. Bahkan juga membagi pengetahuannya tentang membuat kapal kayu.
Kepada yang perempuan, Zayid mengajarkan cara membuat wewangian. Para gadis pun menyenanginya.
Yang paling sering bertanya pada Zayid adalah Sirici. Mungkin karena alasan ingin dekat-dekat, tetapi memang gadis ini antusias sekali menimba ilmu dari Zayid.
Dalam waktu singkat, Sirici berhasil membuat wewangian dari bahan-bahan yang ada di situ. Dia paling suka aroma bunga cempaka!
Tidak itu saja. Bersama Sirao, Sirici pun mulai mengikuti peribadatan yang diajarkan Zayid.
Memasuki bulan ketujuh Zayid di pulau itu, Sirici dan Sirao sudah melafazkan kalimah syahadat. Memang Zayid sengaja menyebarkan Islam secara sederhana. Pelan-pelan. Bahkan tentang larangan makan babi belum disampaikannya. Meskipun dia dan enam kawannya sama sekali tidak makan babi. Lagipula, selama ini, baru sekali diadakan pesta besar di situ.
Sementara Zayid, juga diajari bermacam keahlian orang Tana Niha. Salah satu keahlian suku pribumi ini adalah memanjat pohon. Mungkin mereka adalah keturunan manusia pohon (ono mbela) yang sudah hidup sejak ratusan abad sebelumnya.
Mereka lebih berbahaya bila sudah bergelayutan di atas pepohonan. Tetapi sekarang mereka sudah bermukim. Membentuk kelompok. Dan hidup damai di pulau itu.
Begitulah perbauran terjadi di pulau itu. Zayid dan kawan-kawan diajari cara bergelayutan di pohon. Dan Sirao dan kaum pribumi diajari membuat kapal kayu.
Tujuh:
Luna terjaga dari tidurnya. Bukan, bukan terjaga. Tapi dibangunkan oleh nenek Sirici.
Sebelum terjaga, Luna sempat melihat perkelahian antara Zayid dengan ayah Sirao. Ada Sirici yang melihat, sambil merapikan bajunya yang kusut dan robek di sana-sini.
“Kenapa aku terbangun. Padahal sedang asyik bermimpi,” ujar Luna, nyaris pada dirinya sendiri.
Diangkatnya kepalanya dari pangkuan nenek Sirici. Dia lihat nenek itu murung. Matanya muram. Ada genangan air mata hendak runtuh. Tapi segera disekanya.
“Nenek menangis?”
Nenek Sirici berusaha tersenyum.
“Tidak nak. Segala sesuatu di dunia ini adalah sandiwara belaka. Semuanya sudah diatur oleh Sang Maha Pengatur. Kita hanya menjalani,” tutur nenek Sirici dengan suara serak. Agaknya, nenek ini berbicara untuk menyemangati dirinya sendiri.
Dan Luna bisa menangkap itu. Dia merasakan kegetiran dalam suara itu. Mirip nada suara nenek itu saat mengomentari perihal kakeknya yang menghapus jejak Tana Niha pada nama belakangnya.
Ada apa dengan semua itu?
Luna menarik napas. Dia merasa terbawa oleh kegetiran. Dia membatin, “Rupanya banyak dilema yang terjadi dalam hidup mu ya nek?”
“Ahhh…sudahlah. Mengapa pula harus pakai rahasia segala! Toh semua itu sudah terjadi!”
Luna terkesiap. “Apa yang sudah terjadi nek? Ceritakan nek.”
Nenek Sirici memaksakan diri tersenyum. Dia membelai kepala Luna.
Sambil berdiri, nenek Sirici mengajak Luna bersamanya. Berdua mereka berdiri bersisian.
“Ikut nenek,” ujarnya sambil berjalan ke arah pintu.
Luna mengikut.
Nenek Sirici membuka pintu. Lalu berjalan ke luar. Luna mengikut.
Tiba di luar, Luna ternganga. Rupanya di balik kamar kecil sederhana yang didiaminya sejak ditolong nenek Sirici, ada beranda yang luas. Dan fantastis!
Betapa tidak. Dari serambi itu dia menampak ujung langit. Terlihat matahari yang menguning tembaga, sebentar lagi terjun ke laut. Sungguh indah. Ini adalah pemandangan sunset terindah yang pernah disaksikannya.
Imbangannya mungkin sunset di puncak Gunung Kerinci. Luna ingat saat kecil, di puncak gunung itu dimandikan kakek cebol. Persis waktunya dengan saat ini. Beberapa saat sebelum matahari tenggelam.
Bedanya, di puncak Gunung Kerinci itu dia melihat matahari hilang di balik awan di kejauhan. Di serambi ini, sebentar lagi matahari akan menukik ke laut.
Luna merasa takjub. Bukan lantaran sunset saja. Tapi serambi ini bagaimana bisa dibuat oleh nenek ini?
Dinding serambi yang luas berbentuk separoh lingkaran itu adalah kristal bening. Seolah tanpa dinding saja layaknya!
Dan… Saat Luna mendekat ke dekat dinding, lalu menoleh keluar, ternyata tempat mereka berdiri itu adalah gedung yang tinggi. Semacam menara. Cukup tinggi, karena jika berdiri di tengah-tengah ruangan, tak tampak tepian pulau sedikitpun.
Jejeran pohon kelapa dan ombak berkejaran di pantai yang landai, baru terlihat saat Luna sudah menekur dari balik dinding kaca.
Ketakjubannya itu bukan tanpa alasan. Bagaimana mungkin di sebuah pulau kecil, terpencil, ada bangunan yang cukup megah ini? Tidak mungkin tidak akan diketahui oleh mata radar orang lain!
“Kami punya teknologi anti radar. Jika ada yang memonitor, ini hanya terlihat seperti awan,” ujar nenek Sirici.
Kami? Sudah dua kali sejak tadi nenek Sirici bicara “kami”. Luna menoleh ke arah nenek yang kini sudah duduk bersila di atas karpet tebal, di ujung tengah serambi kaca itu.
“Di bawah ada banyak teknisi. Mereka adalah keturunan dari “Kerajaan Gaib Dunia”. Merekalah yang menolongmu. Setelah bom yang ditembakkan drone itu melumpuhkan semua orang di situ, ada perahu karet yang membawamu ke sini.”
“Kerajaan Gaib? Apa itu nek?”
“Itu adalah perkumpulan ahli spritual. Sebagian besar adalah kelompok “Hamba Sahaya Allah”. Yang lain ada yang beragama Kristen, Hindu, Budha, dan Konghucu. Kami pun datang dari beragam suku bangsa di dunia,” jawab nenek Sirici.
“Jadi pasukan Kerajaan Gaib yang menolongku? Atas suruhan nenek?”
Nenek Sirici mengangguk.
Luna terdiam takjub. Dia ingat, di saat “regu tembak” itu mau menghabisinya, ada benda terbang. Rupanya itu adalah drone yang dikirim nenek Sirici. Lalu dia pingsan. Dan saat sadar sudah berada di dalam bilik tadi.
Nenek Sirici menggamit gadis itu. Luna mendekat.
Nenek itu menggeser duduk agak menjauh dari dinding. Kemudian dia menyuruh Luna bersila pula di depannya.
Luna menurut.
Dari belakangnya terdengar nenek Sirici memberi perintah,”Kosentrasikan pikiranmu. Mulailah dengan menyebut nama Allah. Lalu terus baca nama Allah…”
Luna sesaat heran. Dia tak yakin bahwa nenek Sirici beragama Islam, sepertinya. Namun karena dia bukan orang yang berprasangka, dia ikuti saja perintah itu.
Tentu saja Luna mengerti cara dan adab berdzikir. Itulah yang diterapkannya. Bedanya, dahulu dia bersimpuh. Sekarang bersila!
Ya, di Talao, kampungnya yang masih kental adat Minangkabau itu, perempuan dilarang duduk bersila. Apalagi duduk mengangkang!
Ada “sumbang duo baleh” yang merupakan ajaran buat anak gadis di Minangkabau.
Salah satu adalah “sumbang duduak”. Perempuan hanya boleh duduk bersimpuh. Jika tidak bersimpuh, berarti melanggar aturan “sumbang duo baleh”. Bisa kena tegur dari mandeh (ibu).
Dicobanya bersila seperti yang dicontohkan nenek Sirici. Agak susah. Tapi akhirnya bisa. Untunglah Luna memakai jeans.
Lalu Luna mulai berkosentrasi, berdzikir.
Tiba-tiba, dia terlonjak. Dan secara refleks menggulingkan badan. Lalu menjulurkan kaki ke belakang! Itulah jurus “cuek ka lari” yang diajarkan eteknya di Talao dahulu.
Ya, Eteknya–adik perempuan ayahnya–adalah perempuan pandeka. Mariani nama eteknya itu, mengajari Luna silek Talao sedari kecil.
Sebenarnya Silek Talao dasarnya sama dengan Silek Minangkabau pada umumnya. Hanya bedanya, Silek Talao lebih simpel gerakan. Tidak banyak pencak dan bunga-bunga gerakannya.
Konon, Silek Talao adalah “silek rajo-rajo”. Diwariskan turun temurun di dalam keluarga kerajaan.
Dugaan ini masuk akal, sebab Talao adalah salah satu wilayah Kerajaan Koto Besar. Berkemungkinan kerajaan Koto Besar adalah sempalan Kerajaan Dharmasraya.
Kerajaan Dharmasraya mencapai masa kejaannya pada abad ke-12, dengan wilayah kekuasaan sampai ke Thailand.
Luasnya wilayah kekuasaan Kerajaan Dharmasraya, tentu diperoleh melalui peperangan. Sehingga dapat dipastikan Kerajaan Dharmasraya memiliki pasukan yang menguasai ilmu beladiri. Apalagi raja dan keluarganya, tentu adalah pandeka-pandeka sakti di zamannya.
Akan halnya “silek rajo-rajo”, ini adalah jurus-jurus pamungkas, dengan gerakan yang sederhana. Tanpa memerlukan banyak tenaga, dan tidak banyak gerak. Maklum, tidak elok jika para raja terlalu bergerak.
Karena tidak banyak gerak, “silek rajo-rajo” ini tepat juga diajarkan pada para puti dan dayang-dayang kerajaan.
Mariani, adalah salah satu keluarga kerajaan yang bermukim di Talao. Saat ini masih ada peninggalan dan sisa-sisa “keluarga raja” yang bersuku Malayu ini di Talao.
Dengan begitu, menurut garis ayahnya, Luna masih terhitung keluarga kerajaan. Namun, di Minangkabau, suku (marga) seseorang mengikut ibu. Garis keturunan menurut ibu ini dikenal dengan matrilineal.
Sedangkan menurut adat Tana Niha, garis keturunan justru mengikut ayah–patrilineal.
Alhasil, secara garis keturunan, Luna bukanlah orang Minangkabau. Juga bukan orang Tana Niha.
Namun secara genetika, jelas bahwa dalam darah Luna ada Minangkabau, sekaligus Tana Niha.
Agaknya genetika itu pula yang berpengaruh, sehingga dalam tempo setahun, Luna telah menguasai Silek Talao. Sebelum dia tamat kelas VI SD, Luna sudah “putuih kaji” dengan eteknya itu.
Seorang pandeka jika sudah “putuih kaji”, silek itu pun mendarah daging. Jurus-jurus silek sudah jadi gerakan refleks walaupun tidak selalu dilatih.
Apalagi bagi Luna, karena gerakan Silek Talao yang simpel itu, saat sekolah di Malaysia, hingga di MIT selama sembilan tahun, jurus-jurus itu kerap dilatihnya. Daripada menjaga kebugaran dengan gerakan senam, lebih baik memainkan jurus-jurus Silek Talao.
“Cuek ka lari” itu adalah jurus pamungkas. Jurus maut. Hanya dilakukan bilamana sudah sangat terdesak.
Entah karena refleks, atau sebab yang tidak disadarinya, tendangan ke belakang itu tepat mengenai dada Nenek Sirici!
Wanita tua itu terjungkal dua depa ke belakang!
Seketika itu pula Luna sadar dari keterlanjuran. Dia berdiri. Lalu dengan sekali lompat, dia sudah memeluk nenek Sirici.
Dalam pelukan Luna, nenek Sirici berkata,”Ahhh…aku ternyata sudah mulai lamban. Tetapi yang lambatlah yang menang!”
Luna tidak mengerti. Namun, tiba-tiba jari-jari nenek Sirici sudah menjepit urat besar di lehernya!
“Inilah jurus menjepit bunga dalam Silek Talao,” ujar nenek Sirici.
Lagi-lagi Luna takjub. Tapi lehernya seperti dijepit tang. Napasnya megap-megap.
Spontan, Luna menengadah dan melengkungkan badan ke belakang. Bersamaan dengan lepasnya jepitan dua jari itu, dia memutar badan. Kembali “cuek ka lari” memakan perut nenek Sirici.
Tubuh kurus itu melengkung dan jatuh di dekat ujung dinding.
Luna sendiri tidak habis pikir dengan tindakannya. Mengapa dia begitu tega menyakiti wanita tua itu?
“Sudahlah Angku Pincuran Gadang. Pergilah. Sudah cukup. Tidak perlu gadis ini engkau jadikan alat untuk menguji ilmu!”
Luna ternganga. Tapi sesaat tubuhnya tersentak. Dia merasa ada yang lepas dari rongga tubuhnya.
Luna merasakan letih yang tak terkira. Dia tak kuat berdiri. Lalu rebah ke arah nenek Sirici!
Sambil menangkap tubuh Luna, nenek Sirici masih sempat berujar,”Kelak kemudian hari, muridmu boleh mencoba membalas kekalahanmu sekarang pada muridku ini. Sekarang pergilah engkau!”
Nenek Sirici memutar telunjuknya tiga kali, lalu menunjuk ke depan. Seketika itu pula terdengar suara mengeluh kesakitan. “Aku pergi Sirici. Jurus pisau sirawik itu membuatku harus beristirahat memulihkan diri.”
Kemudian terdengar suara tertawa laki-laki. Makin lama, makin jauh.
Luna yang merasa mulai kembali kekuatannya ingin bertanya. Tetapi didahului oleh nenek Sirici,”Tak usah banyak tanya dulu. Ada yang salah dengan dzikirmu tadi. Kamu tutup sembilan pintu, tapi lupa menutup pusar!”
Lalu nenek Sirici kembali duduk bersila. Matanya terpejam. Kepalanya tegak. Badannya lurus. Tangan kiri menutup pusar, tangan kanan menghitung dzikir.
“Begini cara yang benar. Setelah kamu yakin sepuluh pintu tertutup, barulah bisa larut dalam semesta,” sebut nenek Sirici.
Gadis itu mengangguk-angguk. Dia heran dengan penjelasan itu. Namun tanpa prasangka, diikutinya juga.
Luna kembali bersila di depan nenek Sirici. Dia mulai berdzikir, melafazkan nama Allah sembari menutup pusar dengan tangan kiri, dan memejamkan mata.
Kembali dirasakan telunjuk nenek Sirici berada di belakang kepalanya. Ada sesuatu yang hangat menjalar. Merasuki kepalanya.
Lalu, Luna pun larut dalam lautan ilmu yang disalurkan nenek Sirici. Itulah transfer ilmu melalui perpindahan energi!
Nun di ujung laut. Matahari mulai menukik.
Delapan:
Luna kian larut dalam dzikir. Napasnys bergerak teratur. Wajahnya tidak menunjukkan emosi apapun. Tidak seperti kesakitan, tak pula kegirangan. Bukan pula datar saja. Lebih dalam dari itu, ekspresi Luna ibarat air jernih di lubuk yang dalam. Nyaris tak beriak, dan susah menebak dasar lubuk!
Perlahan-lahan, Luna merasakan ada rasa panas-dingin berubah-ubah. Seketika agak panas di rongga dadanya. Di lain ketika, sedikit dingin.
Dia mengikuti saja alur itu. Tidak ada upayanya untuk menolak. Tak pula dicobanya untuk menarik.
“Cari rasa yang paling kamu nikmati. Pada rasa yang paling pas itu, kamu pertahankan supaya tidak naik turun lagi,” begitu nenek Sirici memberi petunjuk dari belakang.
Luna mengikuti. Dalam rasa yang paling hakiki, dia menemukan kenyamanan. Senang. Damai. Bahagia.
Hanya sebentar. Setelahnya, kembali rasa panas dan dingin itu merasuk silih berganti.
Perlahan, seperti sayup sampai, kembali nenek Sirici berkata,”Ketika ada rasa nyaman itu, coba kamu kunci dengan upaya. Tekadkan rasa nyaman itu menetap. Lakukan tanpa niat apapun. Hanya ikhlas semata!”
Gadis itu mencobanya. Sekali, gagal. Dua kali, gagal. Setelahnya, rasa nyaman itu bertahan beberapa detik. Lalu lenyap lagi, bertukar dengan rasa panas dan dingin yang bergantian.
Jauh dalam sanubarinya, Luna tak menampik kegagalan itu sebagai sesuatu yang disesali. Apalagi menyalahkan diri sendiri.
Dia melaluinya dengan sabar. Apa adanya. Ikhlas.
Agaknya di puncak ikhlas yang paling hakiki, Luna berhasil mempertahankan rasa nyaman itu. Serasa tiada satupun masalah. Semuanya serba indah. Itulah kebahagiaan hakiki.
Saat itulah gadis itu menerima rangkaian pengetahuan. Ibarat data yang ditransfer melalui flashdisk, Luna adalah ruang kosong yang menunggu triliunan gigabite di-copy paste ke dalam “hard disk”nya.
Ilmu dan pengetahuan itu lekat di memorinya. Dan bersemayam di hatinya. Merasuk ke sanubari yang paling dalam.
Persis sama dengan transfer data secara copy paste, ilmu dan pengetahuan yang ada pada nenek Sirici tidak berkurang sama sekali. Malah bertambah dan makin hakiki.
Secara bertahap, Luna mendapat transfer ilmu pengetahuan sesuai kronologi waktu.
Ibarat membaca buku, atau layaknya menonton film, Luna melihat gadis belia ditindih paksa oleh lelaki seumuran bapaknya!
Gadis itu, Sirici, kalang kabut mempertahankan kehormatannya. Dia mencoba melawan dengan ilmu berkelahi yang dia bisa.
Namun, apalah dayanya melawan kepala suku itu?
Yang terjadi justru membuat sang kepala suku makin gelap mata. Dia merasa sedang memagut perahu kecil yang dilamun ombak besar.
Dipagut dan dipeluknya perahu itu erat-erat. Kendati ombak kian besar, kepala suku itu ibarat lintah, melekat ke perahu.
Saat ombak sedikit reda, lelaki yang masih gagah dalam usia setengah abad itu merenggangkan badan. Membiarkan celananya kedodoran hingga ke lutut.
Sang kepala suku yakin ombak segera tiba. Maka palunan kedua tangannya tetap mengungkung perahu kecil.
Dan, ombak besar itu pun tiba. Saat itulah badannya yang tadi merenggang serupa ditabrak dari bawah. Perahu kecil itu mungkin rengkah, karena ketika ombak datang tadi, dengan tergesa-gesa diapun menangkup dengan spontan.
Lelaki itu melenguh sambil terguncang-guncang melawan ombak yang tak mau reda. Bahkan saat ombak sirna, lelaki itu masih mengguncang-guncangkan diri sambil memagut perahu kecil yang nestapa!
Selesai. Lelaki itu berdiri. Merapikan pakaian. Dan melihat sejenak pada Sirici yang pingsan.
Ada rasa kasihannya. Tetapi lebih besar rasa takut. Sehingga dengan tergesa-gesa, dia beranjak dari situ.
Pepohonan kelapa yang berjejer, menyembunyikan kelaknatan yang terjadi. Sambil tetap celingak-celinguk kiri-kanan, dia terus melangkah. Untunglah kepala suku itu tak melihat ke atas, ke pepohonan kelapa yang rimbun.
Belum sampai sepuluh langkah, kepala suku itu terkejut bukan main. Di depannya berdiri Zaid Hasyim. Dengan senyum ramah, laki-laki bangsa Arab itu menghadang jalan. Matanya melihat Sirici yang tertatih-tatih berjalan mendekati. Pakaiannya kusut masai. Sebagian ada yang robek.
Dengan senyum ramah, Zaid hendak berkata. Tetapi kepala suku itu merasa sudah terlanjur basah. Dia pun langsung menggebrak, diawali sebuah lompatan tinggi.
Ada tologu (belati kecil) di tangan, kepala suku menyasar urat leher Zayid. Sambil tetap tersenyum, terlihat tenang dan sabar, Zayid tidak beranjak dari tempatnya berdiri.
Tologu di tangan kepala suku sudah hampir dekat ke leher lelaki Arab yang jangkung itu. Saat itulah, Zayid menarik kepalanya ke belakang.
Tologu itu luput. Tetapi keseimbangan kepala suku tergaduh. Dia sedikit limbung.
Dalam limbung yang sesaat itu, Zayid menangkap pergelangan tangan kepala suku. Serasa kena setrum, tangan kepala suku menggigil.
Tologunya lepas. Bersamaan dengan badannya yang terbanting. Jatuh di dekat tologunya.
Mukanya berlumuran pasir yang basah. Kepala suku hendak bangkit kembali buat melanjutkan perkelahian.
Tetapi kakinya tak dapat bergerak. Kaku. Hanya tangannya yang berhasil menghunus tologu kembali.
Dengan mata mendelik, dia melihat Zayid agak memeluk Sirici yang menangis. Tampak Zayid dengan sabar meredakan tangis gadis itu sambil merenggangkan pelukan.
“Aku sudah kotor, kakanda,” ujar Sirici memelas.
“Tak ada yang kotor di mata Tuhan. Kamu adalah hamba Allah yang baik. Teruslah mengejar ridho Allah,” jawab Zayid.
Entah malu karena ditanggapi dengan berwibawa sambil mendakwahinya, Sirici pun merenggangkan badan. Membuat jarak dengan lelaki Arab itu.
Mereka sekarang berdiri berhadapan. Tak berkata sepatahpun. Hanya sesaat mata mereka berpagut mesra. Sesaat saja.
Karena sejenak setelahnya, mereka mendengar suara lelaki mengeluh. Hampir bersamaan, keduanya melihat kepala suku meregang nyawa.
Tologu itu tertancap tepat di jantungnya. Darah menyembur-nyembur seperti air mancur.
Yang lebih mengejutkan lagi, tak jauh di situ, terdengar suara menjejak pasir. Sirao berjalan ke arah ayahnya yang masih menanti ajal!
Rupanya sejak tadi putra kepala suku itu mendekam diam di salah satu pohon kelapa. Dari atas, Sirao menyaksikan semuanya!
Zayid yang sedari tadi tahu bahwa Sirao sudah lebih dahulu ada di atas pohon, hanya diam. Dia mengangguk ke arah Sirao.
Sirao balas mengangguk dengan perasaan campur aduk. Dia tidak tahu harus bagaimana?
Maka secara naluriah, dia mendekati tubuh ayahnya yang basah kuyup oleh darah. Didekapnya kepala ayahnya.
Sesaat, mata ayahnya terbuka. Dia memaksakan diri tersenyum,”Maafkan ayah nak. Sekarang kau lah kepala suku. Kau pimpinlah suku kita dengan baik. Berguru terus pada beliau,” ujar ayah Sirao sambil menoleh ke arah Zayid.
Sirao mengangguk, dan mengikuti mata ayahnya yang menoleh ke arah Zayid Hasyim. Dan ketika dia melihat kembali ke arah ayahnya, mata itu sudah padam. Ayah Sirao mati dengan tologu yang masih tertancap di dada kirinya!
Sembilan:
Luna terperangah. Dia melihat perkelahian antara lelaki jangkung bangsa Arab dengan ayah Sirao.
Dia melihat Sirici, gadis belia yang ternoda! Dan panggilan kakanda yang mesra dari mulut mungil Sirici, mengganggu kosentrasi Luna.
Rasa panas dan dingin silih berganti kembali bergolak dalam dadanya. Dia berupaya menenangkan. Luna malu jika nenek Sirici mengingatkannya kembali seperti tadi.
Saat itulah dia kembali mendengar suara nenek Sirici,”Tak usah dipaksakan. Yang kamu lihat tadi, tentu cukup membuat guncang kosentrasi. Tak apa-apa. Sekarang kita istirahat.”
Lalu, Luna merasa kehangatan yang menjalar di belakang kepalanya sirna.
“Menghadaplah ke sini,” ujar nenek Sirici.
Luna patuh. Dia memutar duduk. Sekarang mereka bersila, berhadapan.
Dia melihat nenek Sirici tak tampak kelelahan. Padahal, dalam pikiran Luna, bukankah transfer energi itu adalah sesuatu yang memerlukan tenaga ekstra. Sebagaimana halnya orang menggunakan tenaga dalam.
Tetapi nenek Sirici tenang saja. Terlihat masih seperti tadi. Bagaimana semua itu terjadi?
Sebagai seorang fisikawan, tentu Luna sangat tahu, bahwa sudah jamak terjadi perpindahan energi. Bahkan juga berubah dari satu bentuk ke bentuk lain. Tetapi secara totalitas, sejak alam semesta tercipta, energi kekal adanya. Ini diteorikan oleh Albert Einstein. Dikenal dengan Hukum Kekekalan Energi.
Bagaimana halnya dengan perpindahan energi yang terjadi melalui telunjuk nenek Sirici ke belakang kepalanya tadi? Kenapa perpindahan itu tidak menguras energi nenek Sirici? Dan menambah energinya?
Gadis itu mencoba menyusun sejumlah teori di kepalanya untuk menjawab pertanyaan penting itu; apakah ada perpindahan energi tanpa diikuti perubahan jumlah energi dari yang terlibat?
Luna ingat; memang, secara total, energi itu kekal adanya. Artinya menurut Einstein, energi itu tidak bisa diciptakan. Juga tidak bisa dimusnahkan. Yang ada hanya perubahan bentuk.
Ya, perubahan bentuk! Luna membatin,”Bukankah sebenarnya getaran dan gelombang yang menjalar. Sedangkan energi adalah “sesuatu yang dibawa” oleh gelombang itu? Kalau begitu, karena perpindahan gelombang, ada “sesuatu yang dibawa gelombang” ikut pindah?”
Gadis itu melihat, di depannya nenek Sirici masih bersila dengan mata terpejam dan napas teratur. Tak terlihat letih sama sekali.
Kenapa bisa?
Pikiran Luna kembali melanglangbuana dalam teori-teori fisika di benaknya.
Dia membatin lagi,”Secara fisika kuantum, perpindahan energi dalam bentuk gelombang tidak bisa dipandang sebagai gelombang semata, tetapi juga sebagai materi dalam ukuran super mikro. Gelombang cahaya, misalnya, ada partikel-partikel yang juga berpendar dan bergerak. Itu disebut diskrit. Bila ada perpindahan gelombang, maka terjadi perpindahan energi. Total energi yang pindah adalah selisih awal dengan akhir. Oleh fisikawan teoritis Jerman, Max Planck, diasumsikan bahwa total energi yang pindah adalah hasil kali frekuensi radiasi dengan konstanta. Planck menyebutnya energi kuantum!”
Sampai di situ, Luna berpikir lagi,”Jika frekuensi radiasi sama dengan frekuensi awal dan akhir, maka secara matematika, resultan atau total energi adalah nol! Artinya tidak ada energi yang pindah!”
Luna memeras otak. Nenek Sirici masih tenggelam dalam dzikirnya.
Tiba-tiba Luna mendengar suara,”Bila rasa kita sudah sama. Maka batin kita bertaut. Rasa adalah nurani yang hakiki. Itulah ruh,” ujar nenek Sirici tanpa membuka mata.
Dilanjutkannya,”Guru aku, itulah Syekh Zayid Hasyim, mengajarkan bilamana kita larut dalam dzikir menyebut nama Tuhan, maka kita akan merasakan kebesaran-Nya melalui pertautan rasa dengan nur Illahi. Seperti itulah yang terjadi pada kita tadi. Karena rasa kita sudah sama, kita pun bisa berbagi ilmu, berbagi pikiran. Pikiranmu adalah pikiranku. Ilmuku adalah ilmumu. Begitu pula sebaliknya!”
Tak lama setelahnya, nenek Sirici mengakhiri dzikirnya. Diiringi senyum, dia membuka mata. Memandang Luna dengan seksama.
Tatapannya yang lembut, merasuk ke dalam batin Luna. Tanpa diperintah, gadis itu pun “mengikat rasa”. Begitu tersambung, diapun merasa “masuk” ke dalam nurani yang paling dalam dan seantero ruang pikiran nenek itu.
Luna bersorak,”Wahhh…begini rupanya,” ujarnya sambil berdiri dan melompat-lompat senang.
Nenek Sirici ikut gembira. Dan ikut tertawa melihat Luna senang tak kepalang. Gadis itu gembira karena sudah faham cara “mengikat rasa”.
“Memang hingga sekarang belum satu pun ahli yang bisa mengungkap fenomena kuantum apa yang sebenarnya terjadi saat dua orang atau sejumlah orang terhubung secara “pertautan rasa”. Mesin waktu yang sedang kamu ciptakan itu, sebenarnya adalah upaya pertautan rasa antar ruang dan waktu. Namun, tanpa alat pun, sekarang kamu sudah bisa melihat ke waktu yang lalu. Juga menengok waktu yang akan datang,” tukuk nenek Sirici.
Luna mengangguk-angguk gembira. “Benar nek? Bagaimana caranya?”
“Seperti tadi juga. Pertautkan rasa mu dengan yang kamu tuju,” jawab nenek Sirici.
Secara membatin, nenek Sirici melanjutkan,”Untunglah batinmu masih bersih. Belum ada dosa-dosa besar yang kamu buat. Ditambah pula ilmu agamamu cukup dalam. Dan terbiasa berdzikir setiap saat!”
Luna tertawa renyah. “Neneeek…memang nenek tahu?”
Nenek Sirici pun tersenyum lembut. “Sifatmu yang tak berprasangka, adalah anugerah Yang Maha Kuasa. Sehingga, setelah tujuh puluh ribu berdzikir tanpa henti seperti yang kamu lakukan saat sekolah di Malaysia, nuranimu pun terlatih otomatis. Sekarang, nuranimulah yang berdzikir setiap saat. Syekh Zayid menyebutnya dzikir ruh,” jawab nenek Sirici yang tanpa diminta menjelaskan fenomena dalam diri Luna.
“Itu adalah anugerah Tuhan. Syukuri dengan memperbanyak perbuatan baik,” tambahnya.
Luna manggut-manggut. Dia teringat masa-masanya di Talao. Enam bulan setelah ibunya meninggal dunia karena penyakit malaria, gadis kecil itu diangkat anak oleh Mr Lim.
Lelaki cina yang baik hati itu memang tidak punya anak. Maka, dia menurut saja diajak tinggal bersama istri Mr Lim.
Rumah Mr Lim adalah yang paling bagus. Rumah ayahnya dan ayah angkat Amir, serupa dan sama besar. Maklum keduanya adalah mandor utama.
Ayah Luna mandor kebun, ayah angkat Amir, mandor pabrik. Jabatan mereka selevel. Keduanya anak buah Mr Lim yang merupakan pejabat tertinggi di perusahaan itu.
Empat bulan setelah ibunya meninggal, Luna mendengar cerita orang bahwa ayahnya akan menikah lagi. Tetapi ayahnya tak pernah bercerita.
Hanya cerita-cerita orang saja. Maklum, jabatan mandor adalah posisi terpandang. Gajinya besar. Tentu banyak orang tua di komplek, bahkan di seantero nagari itu yang ingin menikahkan anak gadis mereka dengan ayah Luna.
Luna memang sedih mendengar cerita tersebut. Namun tanpa prasangka, dia bisa memaklumi bila memang demikian rencana ayahnya. Dia sedih melihat ayahnya tak terurus. Kerap bermenung.
Padahal ayahnya adalah pejabat tinggi di perusahaan. Bahkan ayahnya adalah “Pangulu Pucuak” di suku mereka, di Talao.
Dia adalah pemimpin secara adat di seantero Talao. Karena suku mereka adalah bagian dari keluarga kerajaan, maka secara tidak langsung, ayahnya, dianggap sebagai pemimpin di situ.
Menurut tambo (sejarah yang dituturkan secara lisan dan diwariskan turun temurun), Pangulu Suku Melayu Baye di Talao bergelar Dt. Rajo Mangkuto. Dia bersangkut paut dengan Dt. Bandaro Kayo, Suku Malayu Baye Sungai Kunik.
Dituturkan, bahwa Dt. Rang Kayo Basa (Pangulu Suku Malayu Sungai Baye Sungai Kunik) lah yang bertali temali dengan Kerajaan Koto Besar di Dharmasraya saat ini.
Secara bukti alam, Talao yang masuk dalam kenagarian Sungai Kunik memang berada di perbatasan Solok Selatan-Dharmasraya.
Akan halnya ayah Luna, karena istrinya sudah meninggal, maka menurut ketentuan, seorang pangulu harus beristri lagi. Tak elok seorang pemimpin menduda sepanjang hidupnya!
Lalu perihal rencana ayahnya ingin beristri lagi, pun didengarnya langsung. Adalah eteknya, Mariani, yang membahas itu dengan Luna. Gadis kecil itu senang saja membayangkan dirinya akan punya ibu baru! Tidak terbersit di wajahnya yang masih kanak-kanak itu ketakutan akan ber ibu tiri.
Begitupun saat ayahnya membicarakan itu. Luna mengiyakan saja. Ayahnya yang heran, dan berkata dalam hati, “Kenapa anaknya mengikut saja?”
Singkat cerita, ayahnya pun menikahi seorang anak gadis. Masih anak nagari setempat.
Dia anak seorang bawahannya. Bawahannya itulah yang menyodorkan. Ayah Luna tanpa berpikir panjang, setuju saja. Hatinya bersorak, karena “batambuah nasi angek”. Duda dapat gadis.
Setelah pesta usai. Ayah Luna memboyong istri baru itu ke rumah mereka.
Beda dengan adat Minangkabau, suami ikut ke rumah istri. Tetapi ayah Luna memilih memboyong istrinya ke rumah mereka. Maklum, rumah mertuanya di komplek tersebut, jauh lebih kecil.
Maka, tinggallah Luna dengan ibu tiri.
Ibu tiri Luna adalah seorang perempuan yang sedikit judes. Mungkin karena umurnya masih relatif muda, tentu dia belum pandai mendidik anak.
Kerap kali istri ayahnya itu menghardik Luna. Sesungguhnya bagi gadis kecil itu tiada masalah bila dihardik.
Sebab dia sudah terbiasa juga dikata-katai secara kasar di sekolah. Terutama oleh anak-anak laki-laki. Entah kenapa?
Anehnya, Luna tak menganggap semua itu jadi masalah. Karena itu, anak laki-laki di sekolah semakin senang menggodanya. Termasuk anak-anak kelas VI.
Yang paling sering menggoda adalah Amir. Anak angkat menejer perusahaan.
Beberapa kali ayah Luna menyaksikan istrinya menghardik anak satu-satunya itu. Tentu saja dia tidak tega.
Dengan baik-baik, dia mengajari istrinya itu. Sang istri malah menjawab ketus. “Kamu tahu, saya belum hendak menikah. Tetapi ibu dan Mak Adang saya memaksa. Padahal saya ingin sekolah.” ujar istrinya itu dengan wajah sewot.
Perempuan belia itu masih bersungut-sungut sambil menuduh ayah Luna telah merusak kebahagiaannya dengan pacarnya. “Kamu tahu aku sudah punya pacar. Tapi kenapa memaksa menikahi aku!”
Ayah Luna mencoba bersabar. Dalam hati dia menyalahkan diri sendiri,”Salah sendiri, kenapa menikahi gadis yang baru beranjak dewasa?”
Tapi bukan karena memarahi Luna dia terpaksa menyerahkan anak gadis kecilnya itu kepada sahabatnya, Mr Lim.
Saat itu hari menjelang senja. Luna sedang belajar mengaji di mesjid kompleks.
Rumah itu sepi. Ayah Luna yang biasanya pulang pas azan magrib, kali ini bergegas ke rumah. Dia ingin memberi tahu istrinya, bahwa nanti malam akan berangkat ke Padang dengan Mr Lim.
Pintu tertutup. Lelaki yang masih gagah itu mencoba membuka. Terkunci dari dalam.
Dia ingin memanggil. Namun telinganya yang masih awas mendengar suara cekikikan dari dalam rumah.
Lelaki itu terkesiap. Karena dia pun mendengar suara berbisik-bisik!
Lalu lelaki itu berjalan ke belakang. Pintu dapur rumah mereka memang ada kunci. Hanya pasak kayu yang bisa di putar-putar saja sebagai ganti kunci.
Dengan berjinjit, diraihnya pasak itu. Dilutarnya. Terbuka.
Dari arah dapur suara berbisik-bisik tadi tidak lagi terdengar. Tetapi sayup-sayup ada suara lenguhan tertahan.
Hati laki-laki itu menggelegak. Sambil menghunus keris yang tersuruk di cawat pinggangnya, lelaki itu mendobrak pintu.
Brakkk. Pintu kamar terbuka paksa. Dilihatnya pemandangan yang merobek-robek harga dirinya sebagai laki-laki. Sepasang anak manusia itu telanjang bulat di atas kero miliknya!
Bukan malah takut. Yang laki-laki tak berkain itu segera meraih sesuatu dari balik bantal. Rupanya dia membawa pistol!
Ayah Luna ingat, bukankah ini tentara yang tiba dua pekan lalu? Dia masih muda. Gagah. Dan baru saja diperbantukan untuk pengamanan di perusahaan.
Lelaki itu menghunus pistol. Lupa bahwa “pistol” nya yang masih separoh terkokang di bawah pusar, belum sempat ditutupi. Mungkin dia berencana meledakkan setelah menghabisi laki-laki yang menggganggu acara asyik-asyikan itu!
Sekilas dia melihat istrinya yang justru ikut memandang marah padanya. Mungkin karena kesal lantaran “pistol” selingkuhannya belum meledak?
“Kurang ajar. Padusi lonte!” Ayah Luna berteriak sambil melompat ke arah lelaki berpistol. Itulah jurus lompat harimau!
Lelaki berpistol sadar kalau “pistol” bawahnya kelihatan. Antara ingin mengenakan kolor dan menyambut terkaman, lelaki itu beberapa detik ditimpa ragu.
Tapi keraguannya yang beberapa detik itulah yang mengakhiri riwayatnya.
Sebuah keris kecil sudah bersarang di tenggorokannya. Tubuhnya gemetar. Keseimbangannya tergaduh. Pistolnya lepas. Pistol bawahnya mengerucut!
Hampir menjerit, ayah Luna pun menepuk kuduk istrinya yang jangak itu! Perempuan sundal itu pingsan.
Ayah Luna memastikan lelaki pole–selingkuhan–istrinya sudah mati. Tak berhenti di situ. Dengan amarah menggelegak, dia menepuk ubun-ubun si perempuan. Perempuan belia itu terkulai. Tamat riwayat keduanya.
Tanpa pikir panjang, ayah Luna merapikan pakaian dua orang yang telah mati itu. Membersihkan semua percikan darah. Juga membenahi pakaiannya sendiri.
Lalu, dia keluar kembali dari arah dapur. Bergegas dia ke rumah temannya Mr Lim.
Sebagai teman akrab, Mr Lim memahami kekalapan Dt Rajo Mangkuto. Mereka berdua mengatur siasat.
Berebut magrib, Luna menghampiri ayahnya yang menunggu di teras mesjid. Ayahnya sengaja menunggu dia selesai mengaji.
Luna heran ketika ayahnya memeluknya. Semakin heran manakala dia lihat mata ayahnya merah. Seperti menahan tangis.
“Nak, mulai malam ini, kamu tinggal dengan sahabat ayah, Mr Lim. Sekarang kamu tak usah pulang ke rumah kita. Langsung saja ke rumah Mr Lim ya,” ujar ayahnya bergegas.
Luna mengangguk,”Ayah mau kemana?”
“Ayah ada urusan ke luar negeri. Urusan perusahaan. Tetapi kamu tidak boleh cerita kepada siapapun ya,” imbuh ayahnya sambil mendekap kepala anak gadis kecil itu.
“Kamu baik-baik bersama Mr Lim dan istrinya ya. Sekarang ayah berangkat,” ujar lelaki itu agak terbata-bata sambil beranjak pergi.
Luna sedih melihat ayahnya pergi. Matanya berlinang. Tetapi tak berapa lama istri Mr Lim menjemput. Hari berebut magrib.
Sementara itu, ayah Luna sudah berada di dalam mobil perusahaan. Mereka menempuh jalan perkebunan. Melewati Log Batu Sandi, terus ke Sungai Rumbai. Terus ke Kiliran Jao. Mobil itu melewati Teluk Kuantan.
Butuh waktu sebelas jam tanpa henti, ayah Luna tiba di Dumai. Sesuai petunjuk Mr Lim, di pelabuhan Dumai, ayah Luna naik kapal tongkang. Entah kemana tujuan kapal itu. Ayah Luna pun tak bertanya!
Setelah itu ayah Luna tidak pernah terlihat lagi.
Besoknya, komplek itu gempar. Peristiwa pembunuhan itu tak pernah terungkap. Hanya ada cerita, istri baru ayah Luna tewas bunuh diri karena diperkosa lelaki berpistol!
Sejak saat itulah Luna tinggal dengan Mr Lim.
Hanya beberapa bulan setelahnya, Mr Lim pindah ke Malaysia, negara asalnya.
Mereka tinggal di kawasan elit di Kuala Lumpur. Damansara Heights, itu nama komplek elit yang bak Beverly Hills di dekat Hollywood sana.
Ada banyak bangunan kediaman mewah, termasuk kondominium, penthouse, bungalow–orang Malaysia menyebutnya banglo, dan juga rumah semi-D.
Keluarga Mr Lim tinggal di salah banglo.
Di negeri jiran itu lah Luna mendapat pendidikan agama yang lebih intensif. Oleh Mr Lim, Luna dimasukkan ke sekolah Islam berasrama, di Petaling. Di situlah Luna mendapatkan pelajaran agama Islam secara mendalam.
Dia paling suka belajar ilmu tasawuf. Sehingga saat di tingkat akhir dia diajarkan cara berdzikir oleh seorang ustazah yang paling senior, Luna tak butuh waktu lama untuk bisa berkosentrasi. Dia pun tercatat sebagai murid paling cepat memperoleh ijazah cara berdzikir. Dia berhasil berdzikir dengan kosentrasi penuh hingga hitungan 70 ribu!
Dan dengan rutin berdzikir, di samping peribadatan wajib dan sunat, Luna pun menjelma menjadi gadis yang lembut. Dia disenangi semua orang.
Tak sedikit pula yang mencoba mencuri perhatiannya. Tetapi Luna sama sekali tak berminat.
Bukan. Bukan lantaran trauma dengan kisah ayahnya di Talao. Atau takut dengan kisah-kisah sedih orang dimabuk asmara. Bukan karena itu!
Sedari masuk ke sekolah berasrama yang menerapkan tiga bahasa itu–melayu, inggris dan bahasa arab–Luna telah jatuh cinta pada ilmu fisika.
Dia bisa betah berjam-jam di perpustakaan membaca kisah Alfa Edison, Newton, Einstein, Max Planck, dan yang paling dikaguminya; Stephen Hawking–fisikawan lumpuh asal Inggris.
Luna paling suka membaca teori-teori relativitas, kosmologi, dan fisika kuantum. Kajian tentang energi, getaran dan gelombang pun dilahapnya dengan rakus.
Kegemarannya akan ilmu fisika itu pula yang mengantarkannya kuliah di MIT. Mulai dari tingkat sarjana, hingga doktoral, semuanya di jurusan yang sama–fisika–hingga Luna bekerja di Jakarta untuk membangun piranti dari teori yang diciptakannya sendiri.
Luna masih hendak melanglangbuana dalam pikirannya, ketika nenek Sirici bersuara,”Ada apa dengan Oliver, teman akrabmu itu?”
Suara itu menjeda Luna. Dia kembali menatap nenek Sirici.
Sang nenek tersenyum. Di luar hari mulai kelam. Matahari sudah tak tampak lagi.
Yang terlihat hanya kelap kelip lampu di kejauhan. Mungkin lampu nelayan.
Luna tercenung. Dia belum sempat menanyakan perihal pulau tempat mereka berada.
Banyak lagi yang mau ditanyakan. Tapi tiba-tiba Luna ingat kata-kata nenek Sirici tadi,”Ilmuku, ilmumu. Pikiranku, pikiranmu. Tautkan rasa!”
Luna berpikir, mungkinkah penautan rasa itu identik dengan penyamaan frekuensi dalam konteks getaran dan gelombang?
Nenek Sirici mengangguk-angguk saja memandangi gadis cantik di depannya. Dia ingin mendiskusikan perihal itu. Tetapi pikirannya menyuruh untuk makan!
“Duhhh…neneeek…perutku lapar,” ujar Luna.
Sang nenek mengetuk-ngetuk jarinya. Tak lama berselang, sebilah lantai terbuka otomatis. Dua orang berseragam koki menyajikan aneka makanan yang kelihatan masih baru siap dimasak!
Luna melihat nenek. Nenek menjawab,”Pulau ini milik kelompok kita; Kerajaan Gaib. Sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu. Di sini semua lengkap, dan petugas pun lengkap. Di sini, kita menjaga dunia!”
Gadis itu tak ingin bertanya lagi, karena perutnya mendadak minta jatah.
Sambil tersenyum riang, dua wanita berbeda umur itu pun makan dengan lahap.
Serambi itu terang benderang. Kontras dengan di luar yang gelap gulita.
Dalam makan, Luna masih belum kenyang untuk sederetan rasa ingin tahunya.
Yang paling pertama adalah pertanyaan tentang sebab musabab dirinya terlibat dalam operasi intelijen dan urusan politik di negara itu!
Padahal dirinya hanya fisikawan yang punya obsesi membuat mesin waktu. Tak ada urusan dengan dunia politik. Apalagi dunia spionase.
Namun pikirannya tersangkut pada Mitchael Bonn. Lelaki ini misterius. Lebih sesuai untuk dituduh sebagai bagian dari dunia spionase. Bukan Oliver Weiss jenaka itu yang patut diwaspadai!
Luna kembali teringat saat-saat terakhir bersua dengan empat temannya itu.
Sementara itu, usai makan tadi, nenek Sirici masuk ke dalam bilik.
Tinggal Luna yang bermenung. Matanya berusaha menyingkap kegelapan di luar.
Luna mencoba ilmu baru yang diajari nenek Sirici. Dipertautkan rasanya dengan tiga temannya.
Tetapi kosentrasinya buyar. Dia ingat, sejak siuman tadi, belum sempat membersihkan diri.
Dalam berpikir itu, sebuah suara muncul,”Jentikkan jari tiga kali, lantai akan membuka ke arah toilet!”
Luna melakukannya. Iseng saja, dan tak percaya. Padahal setelah itu memang ada lantai terbuka. Ada jenjang turun.
Dan Luna pun tiba di kamar mandi yang luas dan mewah. Dia merasa berada di kamar suite apartemennya, di Thamrin.
Di bathtub porselen mewah, dengan air hangat berbusa-busa wangi, Luna berendam tanpa sehelai benangpun. Tiba-tiba Luna ingat Amir!
Dia tersenyum malu, seraya menutup dadanya yang terbuka!
Dimanakah si Amir itu sekarang?
Sepuluh:
Luna masih berendam. Dengan mata terpejam.
Sementara itu, di PI, seorang laki-laki tengah mengamati puing-puing ledakan.
Ada lima toko yang meledak berbarengan. Kejadiannya beberapa saat setelah ledakan sebelumnya.
Tidak terlalu besar daya ledaknya. Hanya membuat isi kelima toko berserakan, tunggang langgang. Dinding toko-toko bahkan tak retak sedikitpun!
Jack, laki-laki itu, adalah salah seorang agen intelijen terbaik negara ini. Sederet prestasi telah dibuatnya. Tidak hanya di dalam negeri, tapi lebih banyak di luar negeri.
Jack terbiasa melanglangbuana keliling dunia. Tiga hari yang lalu dia dipanggil pulang dari Korea Utara. Ada urusan besar yang menyangkut keamanan negara.
Saat itu, pelaksanaan pilpres tinggal menghitung hari. Jack tahu, dia dipanggil karena ada urusan keamanan dalam negeri yang berkaitan dengan kepentingan negara-negara di dunia.
Kecurigaan atasannya itu ternyata terbukti. Tiga hari yang lalu, PI meledak. Justru saat salah seorang capres sedang berkumpul dengan tim suksesnya sambil makan siang di sebuah restoran, di lantai satu PI.
Beberapa saat sebelum ledakan, Jack menerima pesan singkat dari pengirim anonim.
Luna Sangir adalah mata-mata Amerika. Dengan komplotannya, mereka ingin mengacaukan pilpres. Bahkan membuat chaos negara ini.
Awalnya Jack tidak terlalu menggubris pesan tersebut. Mungkin hanya cara atasannya menyuruh pulang. Sebab dua hari sebelumnya, sang atasan sudah meminta dia kembali ke tanah air. Dan beberapa jam setelahnya, Jack sudah terbang dari Bandara Pyongyang-Sunan/FNJ menuju Soetta.
Sudah hampir dua bulan berada di Korut, maka tatkala diminta pulang, diapun bergegas. Serupa “menyuruh itik ke air”.
Saat di atas taksi yang meluncur di jalan tol Sedyatmo, pesan itu masuk.
Dia yakin, tidak banyak orang yang tahu nomor hp pribadinya. Tapi, kenapa pula harus mengirim dengan nomor anonim?
Jelas bukan Pak Mahmud, atasannya yang mengirim pesan. Karena berselang beberapa menit setelah membaca pesan anonim, atasannya menelpon.
“Sudah dimana?”
“Sekira 25 menit merapat,” jawab Jack sambil memutuskan sambungan, sembari berbicara sendiri,”Siapa lagi yang tahu nomor pribadinya?”
Sambil mengamati serpihan-serpihan dan barang yang berserakan, Jack masih memikirkan pesan singkat tersebut.
Sudah sejak sepuluh menit yang lalu lelaki ini berada di lokasi ber-police line. Sebelum dibolehkan masuk, dia memperlihatkan tanda pengenal khusus pada seorang petugas.
Petugas itu mengangguk, dan memberi sikap hormat. Jack masuk saat petugas meninggikan police line.
Dia melihat beberapa petugas forensik sudah ada di lokasi. Mereka memakai sarung tangan dan masker. Jack bertanya,”Apa bahan peledaknya?”
“Ini peledak biasa yang umum dibuat. Targetnya hanya meledakkan benda-benda di dalamnya,” balas petugas forensik.
Berarti tidak ada kaitannya dengan ledakan di lantai satu? “Memang ada benda apa saja,” tanya Jack.
Petugas itu menimbang-nimbang sebuah benda berbentuk helm. Tapi dia tidak yakin. Apa yang patut dicurigai dari benda serupa helm yang sudah pecah?
Jack mendekat. Dia mengenakan sarung tangan. Lalu mengambil benda tersebut dari tangan petugas. Ditelitinya dengan seksama.
Memang serupa helm. Terbuat dari bahan plastik campuran. Ada kain cover lembut di bagian dalam. Serupa yang ada di helm kebanyakan. Fungsinya untuk melindungi kepala supaya tidak pedih saat memakainya.
Itu saja? Jack masih meneliti lagi. Dia meminta sesuatu pada petugas forensik. Rupanya alat pendeteksi logam dan sinyal.
Dihidupkan alat deteksi. Didekatkan ke pecahan helm. Alat itu berbunyi!
Jack mengangguk, dan menyuruh petugas mengamankan benda itu dalam plastik besar. Dan diberi tanda.
Apalagi yang bisa ditelisik? Dengan telaten Jack kembali menelusuri kelima toko tersebut. Tak ada yang bisa dibawa.
Hingga dia tiba di toko fashion. Jack melihat pakaian berserakan. Beberapa manekin kupak-kupak. Masih tak ada apa-apa.
Lalu, di meja kasir, Jack berhenti. Ada sejumlah nota. Dicermatinya. Itu hanya nota pembelian. Biasa saja ada nota sejenis di outlet.
Dibukanya laci. Ada beberapa alat tulis. Dan…ada tanda pengenal. Masih bersarung tangan, Jack memungut cocarde itu. Dilihat ada nama, dan foto.
“Hmmm… Luna Sangir,” seru Jack di dalam hati, sembari mengamati foto.
Dia teringat pesan singkat kemaren. Luna Sangir. Itu adalah nama yang sangat akrab ditelinganya. Sejak dia kecil!
Dia mengangguk-angguk sambil tersenyum samar. Lalu menyerahkan tanda pengenal pada petugas forensik. “Tolong segera. Saya ingin identitas lengkapnya,” perintahnya sambil menulis secarik kertas yang dipungut di laci. Jack memberi no hp yang bisa dihubungi petugas itu nanti. Tak lupa dimintanya nomor hp petugas.
Sambil berlalu, Jack meminta hasil forensik cocarde itu dapat diterimanya dalam satu jam. Ya, teknologi saat ini sudah sangat maju, sehingga untuk menguji sidik jari dan DNA tidak butuh waktu lama. Apalagi bank data sidik jari dan DNA setiap saat diupdate.
Jack berjalan ke arah pintu barat. Dia bisa bergegas karena PI masih belum dibuka untuk umum.
Menjelang tiba di lobi, dia lihat seorang laki-laki asing berjalan tergesa-gesa. Dengan sudut mata, Jack memastikan bahwa orang ini bukanlah petugas. Dan dari ciri-cirinya, kecil kemungkinan kalau lelaki tersebut adalah karyawan PI. Apalagi pramuniaga outlet di supermall tersebut.
Siapa orang ini?
Jack bergegas ke luar, terlihat tegesa-gesa untuk pergi. Laki-laki asing tersebut juga sempat melirik.
Jack terkesiap. Dia hafal bagaimana cara orang intelijen bertindak. “Mungkinkah Amerika ikut bermain? Atau Inggris? Bisa jadi Mossad–lembaga intelijen Israel.
Dengan gesit, Jack berbalik ke arah dalam PI. Pria tadi terus berjalan. Tampak dia menaiki eskalator yang sedang off.
Dengan terus bersembunyi, Jack menguntit. Dan terus mengamati.
Rupanya laki-laki asing tersebut menuju toko fashion. Tempat yang didatangi Jack tadi.
Namun laki-laki itu berhenti. Para petugas forensik masih belum pergi dari situ.
Jack segera bersembunyi di balik lorong-lorong toko saat lelaki asing tersebut berbalik arah.
Aman. Jack menunggu hingga lelaki itu melewatinya. Tetapi yang ditunggu tidak pernah ada.
Jack kesal. Malu. Dan geram lantaran ditipu mentah-mentah. Ibarat pemburu, Jack sudah kehilangan mangsa!
“Anda mencari saya,” terdengar suara lelaki dari punggungnya. Bersamaan dengan suara, laki-laki itu melayangkan tinju. Sasarannya rahang kiri.
Jack tahu sedang diserang secara pengecut. Namun dia sudah memperkirakan tindakan.
Maka, begitu pukulan makin dekat, Jack merebahkan diri ke arah depan. Tinju luput. Tetapi tendangan belakang tepat di perut. Orang itu tersedak. Perutnya memiuh.
Jack berbalik, dan dengan sigap ingin meringkus. Namun lelaki itu lebih gesit lagi. Dia berguling di lantai, kemudian berdiri persis di mulut simpang empat lorong pertokoan. Setelah itu dia berlari.
Jack tak mengejar. Tapi dia menelpon,”Segera ke lantai satu. Bawa peralatan!”
Tak beberapa lama, dua petugas yang tadi ditemui di TKP, tiba dengan menenteng tas peralatan.
Jack menunjuk ke arah pena dan kartu nama yang tercecer di lantai. Barangkali pena dan kartu nama itu terjatuh saat lelaki tadi bergulingan.
“Mmmmhhh… Mitchael Bonn… siapa orang ini,” ujar Jack saat membaca kartu nama yang diperlihatkan petugas.
Sama halnya dengan cocarde bertulis Luna Sangir tadi, Jack ingin kartu nama bertulis Mitchael Bonn berikut pena pun diperiksa segera. Dan diinformasikan padanya. Sejam dari sekarang.
Di mobil, sambil menyetir, Jack berbicara sendiri. Rupanya dia memerintah sistem di mobil untuk menampilkan layar monitor.
Lalu dia mengeja nama Luna Sangir. Tak lama terlihat beberapa foto dan alamat serta pekerjaan.
Jack bicara lagi,”Luna Sangir, outlet fashion, PI. Suara!”
Berselang beberapa detik, di speaker terdengar suara operator,”Strategic 2BR Apartment. Thamrin Residence.”
Dibelokkannya arah mobil ke Thamrin Residence. Itu sangat dekat dengan PI. Masih satu kawasan.
Jack mencari parkir. Namun, sebelum ruang kosong untuk parkir didapati, dia melihat seorang laki-laki setengah berlari menuju pintu ke arah lobby apartemen.
Dipelankan laju mobil. Menjelang sampai di pintu lobby, Jack mematikan mesin. Lalu dia keluar.
Digamitnya seorang Satpam sambil memperlihatkan tanda pengenal. Satpam yang segera faham bahwa dia berurusan dengan aparat keamanan, segera mendekat. Sambil menyerahkan kunci mobil dan meminta untuk diparkirkan, Jack menanyakan letak ruang CCTV.
Satpam itu menunjuk ke arah pojok lobby. Jack mengangguk sambil tersenyum ramah.
Dia berlari menuju ruang CCTV. Tanpa susah payah, Jack sudah berhadapan dengan monitor CCTV di ruang sempit, tapi ber-AC itu.
Diamatinya tiap tampilan. Banyak sekali. Maklum, itu adalah apartemen mewah.
“Tolong yang suite,” ujarnya.
Petugas menekan panel. Kemudian terlihat sejumlah tampilan.
Dan… dia melihat seorang lelaki yang tergesa-gesa menuju salah satu kamar.
Jack memperhatikan dengan seksama. “Hmmm… memang laki-laki,” katanya dalam hati.
Laki-laki itu merogoh saku celana. Dikeluarkannya kartu kunci.
“Ehhh… itu bukan kartu apartemen ini,” sela petugas.
Jack mengangguk, dan meminta petugas itu tetap tenang.
Hanya beberapa menit saja lelaki itu di dalam kamar. Namun pasti, dia keluar dengan wajah yang lebih bersih. Mungkin dia sempat membasuh muka.
Jack memberi arahan pada petugas. Lalu mereka berdua menunggu sampai lelaki tadi keluar, dan hilang di belokan parkir.
Si petugas mengeluarkan flash disk dari colokan. Memberikan pada Jack. Lalu dia menemani Jack menuju kamar suite yang dimasuki laki-laki tadi.
“Pakai sarung tangan ini,” ujar Jack sambil menyerahkan sarung tangan plastik kepada petugas.
Kamar suite itu cukup wangi. Jack merekam video di sekeliling. Tapi dia tidak masuk ke kamar tidur!
Bukan karena takut. Hanya segan. Apalagi dia melihat westafel masih lembab. Dan di bawah westafel, ada tong sampah penuh tisu baru dipakai.
Sesuai arahan Jack, si petugas memungut tisu. Memasukkan ke kantong plastik yang diberikan Jack.
Lalu keduanya keluar.
Sebelum masuk lift, lelaki itu masih sempat mengirim video ke rumah makan!
Jack sudah di dalam mobil, ketika hp berdering. “Menuju rumah makan,” katanya. Tanpa menunggu orang di seberang telpon berkata, sambungan diputus.
Berselang 40 menit, Jack sudah memarkir mobil di depan sebuah Rumah Makan Padang, di Jalan Sriwijaya.
Hari menjelang sore, tetapi parkiran tersebut hampir penuh. Rumah makan yang menyajikan aneka masakan khas Minangkabau tersebut memang sangat laris. Selain rasanya yang spesifik, harganya pun terjangkau.
Begitu masuk, Jack langsung menuju lantai dua. Ruang ber-AC.
Di undakan paling atas jenjang, bersandar sebuah lemari pajangan. Pada dinding di sampingnya, ada kaca besar.
Jack berkaca di situ. Hanya sesaat. Manakala dari dalam kaca dia tak melihat seorangpun, Jack meraba belakang kaca. Secara otomatis, kaca bergeser ke belakang lemari.
Pintu geser rupanya. Begitu Jack masuk, kaca besar tadi kembali ke posisi semula!
Ada ruangan besar. Beberapa orang sedang memelototi layar monitor. Mereka asyik dengan pekerjaan masing-masing.
Bahkan kehadiran Jack, tak menggaduh kerja mereka.
Jack menuju satu-satunya ruangan berpintu di situ. “Assalamualaikum. Sepertinya, ini malam panjang buat kita,” ujar Jack tanpa menunggu jawaban laki-laki setengah baya yang sedang menekuni layar monitor kecil di depannya.
Jack meletakkan plastik berisi tisu bekas di hadapan lelaki setengah baya.
Tanpa menoleh, lelaki itu berkata,”Tidak perlu. Sebentar lagi selesai!”
Mereka berpandangan. Lalu saling tersenyum.
“Ini hasil analisa pusat data kita,” ujar laki-laki setengah baya sambil menyodorkan layar monitor.
“Kesimpulannya sudah ada di hp mu,” katanya pada Jack.
Sesaat Jack melihat. Ada daftar nama dan data lengkap masing-masing.
“Luna Sangir. Apakah kamu mengenalnya?”
Jack menggeleng.
“Tapi nama belakang kalian sama!”
“Haruskah karena kesamaan nama belakang orang-orang saling kenal? Ahhh… Bapak. Itu tanda kebuntuanmu saja menggali informasi kan?”
“Tidak juga. Justru sebaliknya. Karena diam-diam aku pun melakukan riset tentang masa lalumu, Jack.”
Lelaki setengah baya itu, Pak Mahmud namanya, memandang Jack sambil tersenyum riang.
“Lalu?”
“Ternyata kalian pernah satu sekolah. Bahkan bertetangga di komplek perkebunan, di Talao, Solok Selatan. Ini buktinya,” ujar Pak Mahmud sembari kembali menyodorkan monitor pada Jack.
Ada beberapa foto di situ. Foto bersama anak-anak SD dengan aneka pakaian pahlawan. Ada pula foto dua buah rumah bersebelahan.
Jack mengangguk, membenarkan.
“Untuk ini bapak menyuruhku cepat-cepat pulang?”
Pak Mahmud menggeleng. “Ini baru sebagian kecil. Urusanmu terkait dua kali ganti nama, itu rahasia kecil kita berdua. Biarlah yang lain hanya tahu denganmu sebagai Jack Sangir.”
Sambil menghela nafas, Pak Mahmud melanjutkan,”Hanya aku yang tahu bahwa dahulu namamu adalah Amir. Oleh ayah angkatmu diganti menjadi Jack Amarta Bangun. Itu yang tertulis di seluruh ijazahmu.”
Tentu saja Jack terkejut. Tapi dia sudah dilatih buat mengendalikan emosi. Maka, diapun hanya diam. Menunggu cerita Pak Mahmud.
“Lalu, setelah kedua orang tua angkatmu meninggal, kamu pun mengubah nama menjadi Jack Sangir. Dengan nama itulah kamu direkrut bekerja di “rumah makan”. Nama itu yang diketahui orang-orang sedunia,” tukuk Pak Mahmud.
Pak Mahmud meraih gelas di atas meja. Minum.
Sedang Jack meraih layar monitor. Dia hafalkan nama-nama dan data-data. Rupanya teknisi “rumah makan” sudah selesai menganalisa video yang dikirimnya tadi. Ada juga foto ukuran besar berpigura terekam video.
Tak lama berselang, di layar monitor itu masuk informasi dari petugas forensik.
Tertulis daftar, sebagai berikut:
1. Pena, cocok dengan DNA Mitchael Bonn
2. Kartu nama, cocok dengan DNA Mitchael Bonn (MB). Catatan: satu-satunya data MB hanya di M16. Terlampir foto terakhir.
3. Tisu, cocok dengan DNA Oliver Weiss
4. Helm, ada sidik jari Luna Sangir dan Ali Huseyn
5. Cocarde, ada sidik jari Luna Sangir dan Hana Wang
Jack menyentuh layar. Mencari info terkait foto berpigura. Ada empat orang di foto itu. Semuanya adalah orang-orang yang sama dengan daftar dari petugas forensik. Kecuali Mitchael Bonn.
Dia melakukan searching di jendela Google untuk mencari info tentang Mitchael Bonn. Foto-foto yang ada di Google tak satupun yang sesuai dengan foto yang dikirim petugas forensik!
Aneh? Tidak bagi Jack. Dia sudah beberapa kali berpapasan dengan MB saat bertugas di Timur Tengah, tiga tahun lalu.
Jack tahu, lelaki itu adalah legenda hidup M16. Namun Jack yakin, MB tidak mengenali dirinya, kecuali sebagai Andi Bangun.
Mengingat itu, Jack tersenyum sendiri. Dia sempat semeja dengan MB di The Bars, Royal Mansour Marrakech–Maroko. Lelaki itu setengah teler. Dan Jack, eh… Andi Bangun adalah mahasiswa Indonesia yang menjadi bartender part time.
MB menggamitnya untuk menemani minum. Mengingat etika, Andi tak menolak. Saat itulah dia mencuri lihat pada kartu pengenal yang tergeletak di meja.
“Jack, menurutmu, apakah pesan anonim yang kamu terima itu benar?”
“Sialan. Kalian diam-diam memata-matai aku,” rutuk Jack sambil tersenyum masam.
“Ooo…ayolah anak muda… bukankah itu standar kita di rumah makan.”
“Jika melihat data-data tadi, Luna ini bukan orang yang dimaksud,” ujar Jack.
“Kamu benar. Kita menemukan orang anonim yang mengirim pesan.”
“Oliver Weiss,” tukas Jack.
“Kenapa kamu berpikir begitu?”
“Oya, lihat isi flash disk ini,” kata Jack sambil menyodorkan flash disk yang diminta ke petugas CCTV di Thamrin Residence.
Pak Mahmud mengangguk, setuju.
“Oliver ini tadi sempat berkelahi denganku di PI. Dia pula yang menjatuhkan pena dan kartu nama.”
“Hmmm… makin aneh. Apakah Oliver sengaja menjatuhkan pena dan kartu nama tersebut?”
Jack mengangguk,”Bisa jadi. Itu sangat masuk akal. Oliver ingin mengalihkan perhatian. Dia ingin mengalihkan alibi!”
Lalu, diapun balik bertanya,”Apa yang ingin disembunyikan Oliver ini?”
Tiba-tiba Jack memukul jidatnya,”Pukimak lah… kaleraaa… Oliver ini sengaja memancing aku. Wahhh… kenapa dari tadi tak terpikirkan?”
“Sengaja memancing?”
“Yaaa…sialan…Orang ini memang sengaja memancingku untuk mengikutinya. Lalu menggunakan cara berkelahi untuk meninggalkan barang bukti!”
Pak Mahmud mengangguk. “Tapi bagaimana dengan ledakan saat capres berada di PI? Apa hubungannya?”
Jack menggeleng lekas. “Ada satu mata rantai yang hilang. Apa yang ingin disembunyikan, atau dialihkan Oliver ini?”
Pak Mahmud mencoba mencari informasi tentang Oliver Weiss di pusat data. Juga di sumber-sumber komunitas intelijen dunia. Sama sekali tak ada yang patut dicurigai!
“Bukankah dia orang Jerman, keturunan Yahudi,” katanya nyaris pada diri sendiri.
Pak Mahmud menelpon seseorang pada jalur aman.
Sebelas:
Sementara itu, Luna sudah selesai berpakaian. Dia juga sudah bersalin pakaian.
Tadi, hampir satu jam dia berendam. Secara lahiriah membersihkan badan. Di batinnya, Luna menggunakan kesempatan berendam buat merefleksi dan introspeksi diri.
Dia ingat saat menerima pekerjaan yang ditawarkan Mutchael Bonn. Saat itu dia baru sehari sesudah wisuda di MIT.
Sejak pagi dia sudah berkemas-kemas. Semua pakaian dan buku-buku telah di packing. Tiket untuk ke Kuala Lumpur sudah dipesan secara online. Luna bersiap-siap pulang kampung.
Hitung-hitung mengobat lelah, sore itu Luna nongkrong di Blue State Coffee. Menurut gadis itu, Blue State Coffee adalah kedai kopi yang punya idealisme, tidak melulu mengejar untung semata!
Bagi mereka di Blue State Coffee, kopi mengandung nilai-nilai budaya Amerika, seperti kesetaraan, optimisme, dan harga diri bagi setiap individunya.
Saat tengah menyendiri di salah satu pojok kedai kopi itu, tiba seorang lelaki setengah baya mendatangi mejanya.
Dengan sopan lelaki itu minta izin untuk bergabung di meja tersebut.
Luna meneliti sekeliling. Memang seluruh meja sudah terisi. Hanya di depannya masih ada satu kursi kosong.
Sambil menyeruput ice vanilla latte kesukaannya, Luna mengangguk mengizinkan lelaki itu duduk.
Laki-laki itu memesan hot americano. Itu adalah kopi yang strong!
Karena kebiasaan adat timur, Luna tidak tega untuk cuek saja pada laki-laki di depannya. Maka, dengan ramah dia berkata,”Tanpa gula ya mister?”
Lelaki itu mengangguk sembari tersenyum ramah. Lalu dia menyodorkan tangan untuk berkenalan.
Entah karena Luna memang butuh teman ngobrol, atau lelaki itu yang jago ngomong, yang pasti pembicaraan mereka menjadi menyenangkan.
Apalagi kemudian Luna tahu bahwa Mitchael adalah pengusaha yang spesialis membuat alat-alat kefisikaan.
“Ya, kami memang bukan pemain besar di bidang alat-alat kefisikaan. Karena kami fokus pada temuan-temuan baru yang belum diproduksi secara masal,” ujar Mitchael.
Tentu saja Luna terkejut. Ada beberapa alat yang bisa dibuat berdasarkan teori yang telah diciptakannya.
“Maksudnya, anda bersedia berinvestasi untuk sesuatu yang baru. Untuk sesuatu yang bisa saja gagal?”
Mitchael Bonn kembali tersenyum ramah. “Kenapa tidak? Saya yakin dengan prinsip, jika mau untung, kejarlah rugi.”
“Wahhh… itu filosofis sekali? Memang sudah berapa banyak alat kefisikaan yang sudah anda buat?”
Lelaki itu menyebut beberapa. Sebagian yang disebut, justru pernah dipakai oleh gadis itu.
Lekas-lekas Luna berkata,”Anda tertarik membuat alat pengindera dunia gaib?”
“Ooo…itu futuristik sekali. Saya dengar ada mahasiswa doktoral di MIT punya hak paten teori penginderaan dunia gaib itu,” ujar Mitchael merespon dengan antusias.
Luna tersenyum manis. Mitchael bergumam dalam hati,”Sesuai skenario!”
“Beberapa alat yang kami buat, justru penciptanya sendiri yang menjadi pemimpin proyek. Dan kami sangat menghargai prestasi dan dedikasi keilmuan. Karena itu, kami mau membayar di muka, untuk mengerjakan proyek dari temuan terbaru itu. Bukan ingin monopoli, itu hanya penghargaan kami atas kecerdasan para fisikawan.”
Luna makin kagum. Mitchael makin bersemangat. Tetapi dia menjaga ritme pembicaraan, supaya tidak timbul kecurigaan gadis ini.
Karena itu, dengan sengaja Mitchael mengalihkan pembicaraan. “Anda dari Indonesia?”
Luna menggeleng,”Saya tinggal di Kuala Lumpur.”
“Ooo…dekat Indonesia. Tentu anda ada bisnis di sini? Hal-hal yang berbau teknologikah? Saya dengar Malaysia saat ini sudah makin maju. Kalian sudah main di hight technology, right?”
Lagi-lagi Luna menggeleng,”Saya baru selesai di MIT.”
Mitchael menepuk jidatnya. “Upppsss…terima kasih Tuhan, telah mempertemukan saya dengan fisikawan jebolan perguruan tinggi terbaik di jagad ini,” tuturnya tulus. Atau dibuat seolah-olah tulus!
Luna tersipu. Tapi lekas dia berkata,”Saya punya prototipe penginderaan dunia gaib itu. Anda berminat?”
Lelaki itu terlihat sangat surprise, dan terperanjat, dan berkata,”Why not? Anda minta berapa. Dan mau dibikin dimana? Bagaimana jika kita bikin di Indonesia. Kebetulan kami punya pabrik oksigen cair di negara itu.”
Alhamdulillah… Indonesia…Luna pun tak menyembunyikan kegembiraannya. Dia mengangguk. Setuju untuk bekerjasama dengan pengusaha bernama Mitchael Bonn itu.
Lagi-lagi Mitchael menggantung. Sambil tetap tersenyum ramah, dia menyodorkan kartu nama. “Anda boleh mengirim proposal kerjasama secara lengkap pada saya. Mungkin butuh waktu buat menyusunnya. Termasuk detail hal-hal yang dibutuhkan secara teknis. Dan, jangan lupa, anda sebut saja berapa besar gaji hingga selesai. Kami bisa membayar di muka.”
Luar biasa, pikir Luna. Semudah itu kah?
Namun, dasar Luna adalah gadis yang tak berprasangka buruk, dia justru mensyukuri peluang yang datang tiba-tiba itu.
Semalaman dia menyelesaikan proposal. Termasuk kebutuhan teknis. Luna juga menambah persyaratan agar perusahaan menyediakan suite room di salah satu apartemen di pusat kota Jakarta.
Gadis itu masih bertelanjang bulat, berendam air hangat di bathtub, sambil memungut kembali peristiwa-peristiwa yang dilalui.
Dia berpikir Mitchael Bonn ini perlu dicurigai. Bukan tidak mungkin lelaki misterius itu sudah membuat skenario sejak dari Boston!
Sekarang, dengan peristiwa di PI, dan ledakan di outlet miliknya, hanya pabrik oksigen cair dan MPAG itu yang tinggal. Karena itu, Luna berpikir, dia harus kembali ke Jakarta.
Dia harus menyelesaikan MPAG. Juga, terutama, menyelesaikan “proyek” pribadinya membuat mesin waktu!
Luna meraih handuk dan beranjak ke luar bathtub. Badannya segar. Pikiranpun jadi terang.
Setelah mengeringkan badan, dan bersalin pakaian yang sudah tersedia di situ, Luna berwudhuk. Lalu dia naik ke serambi. Di kamar kecil itu, dia menemukan mukena dan sajadah sudah terbentang.
Tapi tak ada nenek Sirici. Namun Luna mencium bau cempaka. Gadis itu tersenyum.
Dia pun mulai shalat Isya. Lama sekali dia menyelesaikan empat rakaat. Diresapinya setiap lantunan ayat yang berbisik di telinga.
Luna tenggelam dalam khusyuk.
Usai shalat, dia berdzikir. Tidak seperti biasa, kali ini dia duduk bersila.
Dalam hening yang dalam, Luna merasa nuraninya semakin dipenuhi cahaya. Tubuhnya ringan.
Di penghujung dzikir, Luna berdoa. Meminta ampun semua kesalahan ibu dan ayahnya. Meminta hapuskan dosa dirinya, juga nenek Sirici.
Pikirannya makin tenang. Dia enggan beranjak dari sajadah.
Gadis itu kembali berdiri. Kali ini dia shalat sunat. Sunat Taubat.
Setelah itu dia kembali berdzikir. Semakin khusyuk dan dalam.
Dalam pikiran dan hatinya hanya Allah semata! Luna merasa dirinya luber. Sirna.
Luna merasa dirinya tak ingin apa-apa lagi. Hanya menghambakan diri pada kebesaran-Nya.
Dia ingin berlama-lama dalam khusyuk itu. Begitulah jalan sufi yang pernah diajarkan ustazah, di KL.
“Bukan begitu nak. Kita hidup di dunia ibarat menghadapi ujian. Jika bisa melaluinya, sama dengan lulus ujian. Naik kelas. Sebaliknya, jika lari dari ujian, tentu tidak akan pernah naik kelas,” ujar nenek Sirici yang tiba-tiba sudah duduk bersila di sampingnya.
Luna tersentak. Dia mengangguk maklum. “Benar juga nek. Tapi mengapa nenek betah di sini? Bukankah ujian sebenarnya itu justru di tempat ramai?”
Nenek Sirici tersenyum mendengar pertanyaan Luna.
“Masing-masing kita punya ujian yang tidak sama. Nenek sudah banyak melalui ujian. Tapi ujianmu justru baru mulai.”
Luna terdiam.
“Sekarang istirahat lah. Besok pagi mereka akan mengantarmu. Hadapilah ujian-ujianmu. Semua ilmu yang nenek punya, sudah ada dalam otakmu. Itulah yang tadi kita lakukan secara transfer energi.”
Luna menyimak dengan seksama. Nenek Sirici melanjutkan,”Tapi, harap diingat bahwa ilmu yang ada di otak hanyalah pengetahuan semata. Ilmu yang hakiki tersimpan di hati. Maka bertindaklah sesuatu ilmu yang ada di hatimu.”
“Tapi nek, bukankah logika itu di kepala? Otak kita lah yang membuat logika. Bukan hati.”
Nenek Sirici tertawa. “Di negeri asal ayahmu, Minangkabau, ada istilah raso dibaok naiek, pareso dibao turun. Itu maksudnya adalah bahwa tindakan yang murni adalah yang dituntun oleh hati yang bersih. Bukan oleh otak yang cerdas.”
“Kan tidak semua orang punya hati yang bersih, nek.”
“Tentu tidak. Kebanyakan manusia, hatinya kotor oleh hal-hal yang duniawi. Mereka kalah oleh nafsu. Karena di dalam hati, juga ada nafsu.”
Luna mengangguk. “Dan dengan menerapkan ajaran tasawuf, kita bisa membersihkan hati dari nafsu-nafsu yang kotor kan nek?”
“Benar. Tetapi yang paling sulit adalah mempraktekkannya,” ujar nenek Sirici.
Dilanjutkannya,”Banyak orang yang memiliki ilmu agama yang tinggi, tetapi kalah oleh nafsu serakah. Ada pula yang kalah oleh nafsu amarah.”
“Kalau begitu, kenapa kita tidak di sini saja nek? Aku dan nenek. Di pulau ini. Ada pula teman-teman dari Kerajaan Gaib yang membantu,” sela Luna.
Nenek Sirici tersenyum. Lalu dia membelai kepala Luna yang masih mengenakan mukena.
“Kan tadi sudah nenek katakan. Ujianmu ada di luar sana. Kamu tidak boleh lari dari ujian. Apalagi menyendiri di tempat sepi, seperti di pulau ini. Bukan seperti itu ajaran yang sebenarnya. Kita hidup di dunia untuk memghadapi ujian demi ujian. Kelak di akhirat, nilai kita dihitung. Seberapa banyak kita lulus. Berapa pula yang gagal. Kamu tahu, di akhirat kita tidak bisa minta ujian ulang. Sedangkan di dunia, kita masih ada peluang memperbaiki diri. Diawali dengan bertaubat, seperti shalat sunat Taubat yang tadi kamu lakukan.”
Luna terkesima dengan penjelasan sederhana itu. Sederhana, tapi itulah yang sebenarnya. Memang yang hakiki itu sederhana adanya. Manusia saja yang membuatnya ribet, rumit dan kompleks!
“Iya nek… Aku mengerti sekarang. Dunia itu harus dilalui, dihadapi. Dan tiap-tiap kita akan menghadapi ujian-ujian sepanjang hayat!”
Mereka berdua tertawa gembira. Saling berangkulan.
Malam itu, Luna pergi ke peraduan dengan perasaan ringan. Plong.
Dia sudah berketetapan hati untuk mengarungi dunia. Menghadapi ujian. Karena dia ingin selalu naik kelas. Tidak boleh gagal.
Ya, dia harus kuat. Bukankah hidup untuk dijalani? Bukan melarikan diri. Apalagi menjauh dan menyepi!
Dukung Simpang Hati Luna Sangir
Ini bukan sekadar cerita,
tetapi jejak perjalanan di persimpangan akal, hati, dan takdir.
Jika di dalamnya ada yang menyentuhmu—
sebuah makna, kegelisahan, atau kesadaran—
maka dukunglah agar kisah ini terus hidup dan berlanjut.
Scan barcode di bawah ini.

Terima kasih telah berjalan di simpang ini.
Duabelas:
Seusai shalat subuh, Luna berkemas. Tidak banyak barang pribadinya. Karena hanya pakaian yang lekat di badan saja, pagi ini sudah terlipat rapi di atas meja. Usai berendam kemaren, dia mengenakan pakaian ganti yang disediakan di situ.
Dikenakan pakaiannya sendiri. Lalu meraih sebotol kecil wewangian. Aroma bunga cempaka.
“Ini untukmu,” ujar nenek Sirici tadi malam, sesaat sebelum nenek itu meninggalkannya di kamar itu malam tadi.
Luna berterima kasih, dan kembali memeluk neneknya. Kedua wanita beda umur itu beraroma bunga cempaka.
“Besok pagi kamu boleh pergi. Nenek tidak ikut mengantar. Sudah ada orang yang akan mengantar,” imbuh nenek Sirici.
Gadis itu mengangguk. Dia sudah bertekad bulat buat kembali ke dunia. Bukan melarikan diri.
Dalam kesegaran pagi, Luna mengoleskan wewangian bunga cempaka di belakang telinga. Aromanya pun menebar ke seantero kamar.
Lalu, gadis itu berjalan ke serambi. Di situ sudah menunggu seorang petugas berpakaian seragam. Dia mempersilakan Luna turun ke lantai yang membuka otomatis.
Ada tangga di situ. Langsung menuju ruang bulat di bawahnya. Rupanya itu adalah drone besar. Serupa piring terbang yang besar.
Luna terkesima. “Kalian yang membuat piring terbang ini,” tanyanya.
Si petugas, sekaligus adalah pilot drone ini mengangguk. Lalu dia menjentik-jentikkan jari. Nyaris tak terdengar suara mesin.
Dinding bawah serambi itu membuka. Selekas kilat, drone itu meluncur.
Luna makin takjub. Rupanya si petugas itu hanya berdiri saja. Tidak duduk di depan panel kontrol sebagaimana pilot seharusnya.
“Kita tidak lagi menggunakan pilot. Semuanya secara direct control, melalui pikiran,” kata si petugas menjelaskan sambil memegang keningnya.
Ternyata, tidak terlalu terlihat, rupanya ada semacam sticker di kening si petugas. Dan Luna baru sadar ada sticker di kening si petugas. Warnanya serupa kulit. Sangat tipis. Dan jika tidak awas, tak akan terlihat.
“Direct control secara pikirankah,” ujar Luna ingin memastikan.
Si petugas mengangguk. Bersamaan dengan mendaratnya piring terbang itu di pelataran parkir apartemen Thamrin Residence yang masih lengang. Maklum masih subuh. Hari baru tarang-tarang kacang.
Luna tersenyum. Dia menyalami si petugas, sambil iseng menyentuh sticker itu.
Si petugas juga tersenyum dan membungkuk hormat. “Ini titipan bunda Ratu Sirici,” katanya sambil menyerahkan sebuah kotak kecil. Warnanya lembayung.
Luna menerima kotak itu. Lalu pintu piring terbang membuka otomatis. Dia keluar dari situ.
Tak seorang pun yang terlihat. Hanya di kejauhan ada lampu-lampu mobil.
Begitu menjejak tanah, Luna menoleh ke belakang untuk melambaikan tangan. Tapi dia tidak melihat apa-apa di situ!
Apakah piring terbang itu sudah meluncur pergi ke pangkalan?
Sementara si petugas tadi tersenyum simpul melihat Luna mencari-cari dengan matanya.
Luna tidak tahu bahwa piring terbang itu memiliki teknologi “tak kasat mata”! Itu teknologi terbaru yang diciptakan di markas Kerajaan Gaib, di pulau terpencil, di zona bebas internasional, arah ke Laut China Selatan.
Masih dengan keheranan, akhirnya Luna bergegas ke lobby. Dalam pikirannya, saat ini baru ada teknologi hologram yang bisa menyamarkan objek. Hanya membuat terlihat samar-samar. Bukan hilang menyeluruh.
Dia berpikir, jika teknologi hologram itu disempurnakan, bisa saja. “Ahhh… betapa luasnya ilmu yang diciptakan manusiam Aku seujung kuku pun belum. Apalagi ilmu Tuhan,” ujar Luna membatin.
Perkara ilmu Tuhan itu, dulu saat sekolah di Kuala Lumpur, pernah dibahas oleh ustadzah. Dia masih ingat substansinya.
Yakni, Tuhan dengan sifat Maha Alim, adalah penguasa dari seluruh ilmu! Semua ilmu bersumber dari-Nya.
Luna tersenyum simpul. Karena saat itu dia bertanya pada ustadzah,”Bagaimana cara cepat menimba ilmu Allah, ustadzah?”
“Selalu dekat dengan Allah,” jawab ustadzah.
“Bagaimana cara dekat dengan Allah?”
“Kerjakan suruhan, jauhi larangan-Nya.”
“Hanya itu?”
Ustadzah sejenak terdiam. Bukan dia tak mampu menjawab. Bukan. Bagaimana mungkin dia tak mampu menjawab, se Malaysia orang tahu bahwa sang ustadzah satu dari sedikit perempuan yang boleh dikategorikan sufi. Bahkan ada bisik-bisik, bahwa ustadzah itu adalah waliAllah!
Sang ustadzah menjawab,”Jika kamu bertanam padi, belum tentu semua yang tumbuh adalah padi. Bisa saja ada ilalang juga tumbuh. Maka, teruslah menanam padi. Jangan menanam ilalang!”
Luna nampaknya belum faham yang dimaksud. “Tapi kan semuanya sudah ada takdir, ustadzah? Untuk apa berikhtiar, misalnya menuntut ilmu?”
Ditanya demikian, ustadzah kembali tersenyum. “Kelak, sejalan dengan waktu, kamu akan faham nak. Kerjakan saja. Ikhtiar saja. Apapun hasilnya, itulah takdir. Kita terus berikhtiar karena kita tak tahu apa takdir kita,” ujar ustadzah.
Yang membuat Luna tersenyum simpul saat itu adalah bahwa tiba-tiba dia punya keyakinan sendiri bahwa apabila sudah dekat dengan Allah, misalnya seperti kedekatan habibullah (kekasih Allah)–Nabi Muhammad SAW–apa yang tidak akan diberikan-Nya?
Dan subuh ini, dia kembali ingat hal itu. Kali ini bahkan dengan muatan lebih baru,”Mungkinkah upaya kedekatan dengan Allah bisa dicoba melalui penerapan konsep energi. Seperti halnya konsep gelombang beresonansi yang menjadi prinsip dasar pembuatan MPAG?”
Luna memang kadang-kadang aneh. Sebagaimana jamaknya orang super cerdas, dia bisa menghasilkan sebuah gagasan, terinspirasi dengan kondisi yang ada. Bahkan kadang-kadang tak lagi sesuai konteks yang ada.
Seperti subuh ini. Konteksnya adalah tentang teknologi hologram yang menyebabkan piring terbang “hilang dari pandangan”. Namun buah pikirnya yang kadang-kadang melompat, menghasilkan gagasan baru; “mendekati Allah dalam konteks energi!”
Ilmu-ilmu yang diperoleh dari diskusi atau dialektika dalam diri sendiri memang jamak terjadi. Oleh kalangan syekh hal itu disebut “ilmu laduni”.
Umumnya ilmu laduni adalah hal yang personal. Sulit diajarkan pada orang lain, hanya dimengerti oleh yang bersangkutan sahaja.
Bukan, itu bukan karomah. Tetapi ma’unah. Anugerah dari Yang Maha Alim. Karomah adalah anugerah-Nya buat waliAllah. Ma’unah untuk manusia biasa.
Dengan langkah ringan, Luna menaiki lift pribadi, menuju kamar suite-nya.
Begitu menyentuhkan kuncinya di panel pintu, Luna terkejut. Ada semacam bunyi alarm yang hanya dia sendiri yang mengenalinya.
Alarm khusus itu sengaja dia tambahkan untuk berjaga-jaga bilamana ada orang tidak diundang memasuki kamar tanpa seizinnya!
Sebenarnya alarm itu terhubung pula ke hp-nya. Luna ingat, hp tersebut tercebur ke genangan air saat dia dikejar penjaga di penjara itu!
Dengan tenang, Luna memasuki kamarnya. Melihat sekeliling untuk memastikan semuanya aman.
Sesudah yakin tak ada yang mencurigakan, Luna segera ke kamar. Dia maaih sempat memastikan keberadaan CCTV yang dikamuflase di sebuah lukisan yang menghadap ke pintu masuk.
Lukisan itu juga masih terletak di posisinya. Berarti CCTV itu masih tetap pada tempatnya.
Di kamarnya yang cukup lebar, Luna melihat sekeliling. Dia ingat posisi benda-benda pribadi yang di tarok di meja kecil di samping tempat tidur. Seingatnya, semua tak tergaduh. Aman.
Dia pun membuka lemari. Ada lemari besi di dalamnya. Luna membuka lemari besi tersebut. Mengeluarkan tablet.
Dibukanya tablet itu dengan fingerprint. Segera dia mengakses CCTV pada hari-hari selama dia tidak pulang.
Hari pertama hingga hari kedua, tidak sesuatu yang patut dicurigai. Tetapi di hari ketiga, dia melihat seseorang memasuki kamarnya!
Luna terkejut. Jelas itu adalah Oliver Weiss!
Bagaimana cara lelaki itu bisa masuk? Apakah dia diam-diam menduplikaai kunci miliknya? Atau dia mengakalinya dengan teknologi?
Tidak itu saja. Luna pun tak menemukan alasan lain, kenapa Oliver ke apartemennya? Mungkin laki-laki itu cemas, sebab dirinya tak kembali lagi seusai ledakan itu? Hanya itu alasan Oliver memasuki kamarnya; mencari tahu keberadaannya.
Luna tersenyum simpul. Oliver memang pria yang menyenangkan.
Tetapi, tak lama setelah Oliver, Luna melihat dua orang lelaki memasuki kamarnya. Yang seorang jelas adalah sekuriti apartemen. Yang seorang lagi?
Luna tak kenal laki-laki ini. Dia mencoba mengamati kembali. Rasanya orang ini tidak asing buatnya. Tetapi dia tidak kenal! Dia tidak tahu dimana pernah bersua lelaki tersebut.
Diamatinya lagi dengan teliti. Luna merasa kenal, tapi tak kenal. Rasanya pernah bersua, namun entah dimana?
Yang Luna bisa amati berikutnya adalah, dua orang itu meneliti westafel. Dan memungut sesuatu di tempat sampah!
Tentu saja Luna yakin, dua orang itu bukanlah petugas kebersihan! Anehnya, mereka memungut sampah, lalu memasukkannya ke plastik yang mereka peroleh di situ.
Luna men-zoom rekaman CCTV. Dan sekarang dia tahu bahwa dua orang itu mengambil tisu bekas.
Luna pun memundurkan video rekaman. Dia lihat Oliver membasuh muka. Lalu melap sisa-sisa air dengan tisu.
Tisu yang dibuang Oliver ke tempat sampat itu lah yang diambil oleh dua sekuriti. Mungkin atas perintah lelaki yang seorang lagi.
Atas fakta-fakta yang ada, Luna berkesimpulan bahwa Oliver Weiss datang ke apartemennya untuk memastikan keberadaan dirinya pasca berpisah di kedai kopi, di PI. Karena itu, tak perlu dicurigai.
Tidak demikian dengan kedua lelaki yang datang belakangan. Jelas mereka patut dicurigai.
Namun, karena tidak satupun barang yang hilang, Luna bingung menyimpulkannya.
Dalam pikirannya, Luna hanya bisa mengatakan fakta bahwa; ada dua orang yang sengaja datang ke kamarnya untuk mengambil tisu bekas Oliver!
Untuk apa? Luna tak mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Hari semakin terang. Dari balik tirai jendela kamar, Luna melihat langit Jakarta masih dipenuhi polusi.
Alih-alih memikirkan lebih lanjut, Luna memilih merenggangkan badan di tempat tidur. Dia menggeliat. Menutup mata, mencoba memikirkan apa yang akan dilakukannya?
Teringat hp yang tercebur di genangan air itu, Luna segera berdiri. Mengambil hp cadangan yang ada di dalam lemari besi.
Tidak, itu bukan hp cadangan. Melainkan “hp duplikat”!
Memang dia sengaja membuat duplikat itu sebagai back up data, sekaligus untuk cadangan bilamana handphone itu hilang atau rusak.
Dihidupkan hp duplikat itu.
Begitu berfungsi, bertubi-tubi masuk notifikasi. Ada notifikasi tentang panggilan masuk, whats app dan massage masuk, dan sejumlah notifikasi email.
Ditiliknya satu persatu notifikasi tersebut. Ada tujuh belas semuanya. Sepuluh di antaranya dari Oliver. Tujuh panggilan tak terjawab. Dua massage dan satu pesan whats app.
Dibacanya sekilas. Itu hanya kecemasan dan pertanyaan atas keberadaan Luna.
Begitupun tiga massage Hana dan dua whats app Ali. Teman-temannya itu mencemaskan keberadaan Luna.
Ada dua dari nomor tak dikenal. Satu misscall, dan satu massage. Pesan singkat itu dibacanya; ini Amir!
Luna terkesiap!
Tigabelas:
Persis saat pesan singkat itu dibaca, Jack sedang di depan layar monitor, di ruang Pak Mahmud, di “rumah makan”.
Jika sedang di markas, Jack memang senang bekerja di ruang itu. Sesuatu yang bagi Pak Mahmud justru sangat diharapkannya; bisa berdiskusi dengan pelayan kesayangannya itu.
Pak Mahmud adalah “kepala pelayan” di “rumah makan” tersebut. Sedangkan Jack adalah “pelayan senior”.
“Rumah makan” adalah istilah yang mereka pakai untuk menyamarkan pekerjaan intelijen yang dikepalai Pak Mahmud.
Ini adalah lembaga intelijen khusus yang dibentuk oleh pemerintah. Tugasnya adalah kegiatan-kegiatan kontra intelijen skala internasional. Tentu saja “rumah makan” ini bekerja untuk kepentingan negara.
Ide untuk menjadikan Rumah Makan Padang di Jalan Sriwijaya sebagai markas, datang dari Jack. Karena sejak lima tahun yang lalu, Jack lah yang menjadi pemilik tunggal rumah makan tersebut.
Maka, ketika Jack direkrut Pak Mahmud masuk tim khusus, dia menawarkan rumah makan itu jadi markas.
“Kebetulan saya baru membeli bangunan di sampingnya. Setelah saya pertimbangkan, bangunan itu tidak layak untuk memperluas rumah makan. Karena terletak agak di belakang. Jadi itu bisa kita sulap jadi markas,” ujar Jack.
Setelah melihat lokasi, Pak Mahmud setuju. Apalagi setelah Jack memaparkan denah rencana.
“Brilian. Sulit orang menduga bahwa di rumah makan ini ada markas intelijen,” kata Pak Mahmud senang.
Maka, setelah enam bulan menyulap bagian dalam bangunan, serta melengkapi dengan peralatan super canggih dan mutakhir, rumah makan itu resmi menjadi markas.
Selain lima orang yang bekerja di situ–Pak Mahmud, Jack dan tiga staf–hanya kepala intelijen negara saja yang tahu bahwa rumah makan itu adalah markas!
Saat melihat layar monitor itu lah, secara iseng, Jack melihat hp nya. Ternyata pesan singkat itu ada centang dua kali. Terbaca!
Jack terkejut. Hatinya berdegup kencang.
Lalu, Jack meraih intercom. “Yung, ke sini,” ujarnya memanggil seseorang.
Buyung Rejo, itu nama staf yang dipanggil, tak berapa sudah mengetuk pintu ruangan itu.
“Coba kamu “ambil” rekaman CCTV di kamar suite apartemen. Segera.”
“Terkait tisu itu, pak?”
Jack mengangguk,”Ambil rekaman tiga jam terakhir. Langsung kamu pilah ya.”
Buyung mengangguk. Istilah “ambil”, artinya adalah retas. Masuk ke jalur tak resmi, alias ilegal. Sedangkan “langsung pilah” maksudnya adalah ambil sesuai yang diperlukan saja. Tak mungkin selama tiga jam menonton rekaman CCTV jika yang perlu dilihat hanya beberapa detik, atau beberapa menit saja.
Sebentar saja dia bekerja di depan komputer berlayar lebar, Buyung berhasil meretas sistem di apartemen. Video berdurasi tiga menit dikirimnya ke monitor yang ada di ruang chef. Memang tiga orang staf di situ menyebut satu-satunya ruangan di sana sebagai “ruang chef”, alias ruang kepala koki! Sedangkan ruangan tempat tiga staf bekerja, mereka sebut “dapur”.
Jack melihat video itu. “Tak salah lagi, dia memang Luna Sangir, anak kecil yang sering kuganggu di Talao” gumam Jack.
Gadis itu tidak menutup pintu kamar, sehingga CCTVnya yang bisa berputar 360 derajat itu bisa merekam aktivitas di dalam.
Dilihatnya Luna menggunakan tablet sambil bersandar dengan bantal yang ditumpuk di belakang punggung.
Sesaat Jack mengenang Luna mandi telanjang bulat. Namun hanya sesaat, karena setelah itu dia kembali mengangkat intercom.
“Yung, mungkin dia masih terhubung. Kamu masuk ke tablet itu ya,” perintah Jack.
Terdengar suara Buyung,”Sudah pak, ini lagi aku usai,” jawabnya dari sebelah ruangan sambil tertawa.
Buyung adalah staf yang paling jago urusan retas meretas. Sebenarnya dia spesialis jaringan. Namun, secara otodidak, dia merupakan peretas yang handal.
Tentu saja keahlian meretas bukan sesuatu yang perlu dibanggakan. Tapi untuk kepentingan yang lebih luas, apapun harus dilakukan. Persoalan keamanan dan pertahanan negara tidak boleh dibuat main-main.
Selain Buyung, ada dua staf lagi yang ahli di bidangnya masing-masing. Yakni Gatot yang pakar rancang bangun pernak-pernik pendukung tugas intelijen. Dan Vivien sang programer komputer dan ahli AI–kecerdasan buatan.
Ketiganya disebut “orang dapur”. Mereka bekerja tanpa kenal waktu. Dua puluh empat jam. Apalagi saat ada “order nasi bungkus” yang mesti cepat diselesaikan.
Order nasi bungkus adalah istilah untuk situasi di mana Jack sang wakil pelayan sedang bertugas melayani negara.
Maksudnya, bila Jack sedang penugasan, maka Pak Mahmud dan para “orang dapur” harus standby di rumah makan. Harus selalu di markas.
Untunglah Jack menyiapkan lima kamar di lantai dasar buat tempat istirahat mereka.
Saat ini rumah makan memang sedang mengerjakan “order nasi bungkus”.
Diawali pesan singkat ke handphone Jack, empat hari yang lalu, rumah makan itu pun sibuk.
Begitu Jack tiba di Soetta usai disuruh pulang cepat dari Pyongyang, Pak Mahmud menggelar rapat lengkap.
Mereka semua sedang melihat layar lebar di dinding ruang chef. Menatap pesan singkat:
Luna Sangir adalah mata-mata Amerika. Dengan komplotannya, mereka ingin mengacaukan pilpres. Bahkan membuat chaos negara ini.
Jack yang datang belakangan, tak terkejut dengan suasana rapat mendadak ini. Memang demikian irama kerja di rumah makan. Jika pesanan sedang sepi, orang dapur boleh tidur-tiduran di rumah masing-masing. Namun jika dibutuhkan, mereka harus tiba dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
“Ayo Jack, pusat belum saya beri tahu. Ini masih terbatas masalah kita di rumah makan. Menurutmu, ini iseng, atau serius?”
Pertanyaan Pak Mahmud tak dijawab. Jack sedang larut dalam pikirannya sendiri. Karena dia sangat kenal dengan nama itu; Luna Sangir.
Semua yang ada di ruang itu diam. Lalu Jack berkata,”Sebaiknya kalian kembali ke dapur. Amati semua lalulintas data dengan kata kunci Luna Sangir, pilpres dan AS.”
Pak Mahmud mengangguk memberi persetujuannya. Tiga orang dapur itu pun beranjak.
Belum sepuluh menit, telpon Pak Mahmud berdering,”Apa?…..PI di bom?….. Capresnya selamat kan?”
Mulai saat itulah, Jack masuk dalam teka-teki yang melibatkan Luna Sangir.
Sekarang, Jack sedang menunggu Buyung mengusai tablet Luna. Sambil menanti, Jack kembali membuka hp-nya.
Dia terkejut, ada pesan dari Luna.
“Kamu Amir, Talao?” Kamu dimana sekarang?
Rupanya pesan itu sudah sembilan menit yang lalu. Cepat-cepat dia menjawab;
Benar. Aku di Jkt, km dmn?
Tak segera dijawab. Tetapi pesan terkirim sudah dibaca. Mungkin Luna memikirkan jawaban yang tepat. Atau sedang bimbang, apakah akan terus membangun komunikasi, atau menghentikannya? Sebab ujung-ujung dari pesan singkat Jack adalah bertemu!
Jack menanti harap-harap cemas. “Hufff…kenapa pula hatiku dag-dig-dug ya,” gumam Jack.
Tiba-tiba hp ditangannya bergetar. Ada pesan masuk.
Aku di jkt jg…
“Sialan, mau main petak umpet anak ini,” gerutu Jack. Tapi dia mengalah. Tak ada untungnya mengulur-ulur waktu. Sebab ini urusan negara. Bukan urusan pribadi.
Jack sedang berpikir, apakah akan mengajak Luna bertemu, atau memilih tetap bermain di tempat gelap?
Tiba-tiba intercom berbunyi. “Ya… dia memesan nasi Padang?…online… tiga detik yang lalu… Bagus… Suruh Vivien dan Gatot ke sini…”
Rupanya Buyung yang menelpon dari dapur. Agaknya Buyung menangkap order online dari Luna. Kebetulan saja, karena saat Luna mengorder, Buyung tengah mengamati secara live aktivitas Luna di kamarnya. Dia pun mengikuti arah order. Dengan sedikit mendorong di aplikasi perbelanjaan online, Rumah Makan Padang di Jalan Sriwijaya itulah yang di klik Luna.
Tinggal satu masalah lagi. Transporternya. Buyung pun masuk ke aplikasi ojek. Sebab dia yakin, hanya ojek yang mau merespon tugas pengantaran itu. Soalnya, jarak dari Thamrin ke Jalan Sriwijaya adalah order menanggung buat mobil.
Dan Luna juga berpikiran serupa. Buyung sudah menanti di platform. Begitu order muncul, dengan sigap Buyung mengambil.
B 2104 TEF, itu sepeda motor yang “menang tender” orderan Luna. Pengemudinya Vivien Handayani
Begitu Vivien dan Gatot tiba, Jack langsung berkata,”Vien, kamu menyamar sebagai pengantar nasi bungkus ke target. Dan kamu Tot, bawa kacamata yang bisa menembakkan laser lemah itu. Bukankah sinyal laser yang tertanam di kulit bisa bertahan sebulan?”
“Bisa, jika dia tidak terpapar matahari. Sepekan, bila dia sering berpanas-panas,” jawab Gatot.
“Kamu ikuti Gatot, pakai kacamata itu. Sesegera mungkin ya,”
Vivien dan Gatot mengangguk. Lalu keluar ruangan chef.
Di pintu, mereka berpapasan dengan Pak Mahmud.
“Jack, kamu pernah dengar tentang Ksatria Dunia?”
Pak Mahmud duduk di kursinya. Jack masih asyik memegang hp, menunggu apakah masih akan tiba pesan Luna! Sekaligus sedang berpikir buat mengirim pesan lanjutan.
“Dulu, waktu dengan Mitchael Bonn itu, dia berciloteh dalam mabuk. Ada beberapa kali dia menyebut Kstaria Dunia,” jawab Jack, sambil tetap melihat hp.
“Hanya itu?”
Jack mengangguk. Sambil tetap menekur menimang-nimang hp.
Belum sempat menjawab Pak Mahmud, tiba yang ditunggu-tunggu:
Drmn dpt nmrku?
Dalam hati dia berkata,”Untung kemaren dia sempat meminta nomor hp gadis itu pada sekuriti. Tapi apakah dia harus jujur mengatakan bahwa nomor itu diperoleh dari sekuriti?”
Tak bnyk org brnama Luna Sangir
Setelah pesan itu terkirim, lekas-lekas Jack meraih intercom. Tanpa menghiraukan Pak Mahmud yang kesal!
“Yung. Coba cari nomor sekuriti apartemen. Telpon, dan sambungkan padaku.”
Tak berapa lama, intercom berdering. Jack mengangkatnya,”Ya… pak… masih ingat saya… ya…yang kemaren…oya pak…jika bu Luna yang di suite itu bertanya, katakan saya bernama Amir, supir taksi… bisa pak?… ingat pak, ini tugas negara, rahasia, bapak tidak boleh mengatakan pada siapapun tentang saya… ya… pada bu Luna, itu harus bapak katakan yang tadi… ya… Amir… sopir taksi yang bapak kenal… karena sering nongkrong menunggu order di parkir apartemen… yaa… oke… bisa ya pak? … baik… baik… terima kasih banyak pak…”
Dari kesal, Pak Mahmud sekarang heran. “Kenapa tidak bermain di ruang gelap saja?”
Jack tersenyum penuh arti. “Sekali-sekali di ruang terang, kenapa tidak,” jawab Jack.
Pak Mahmud lekas memahami. “Mudah-mudahan ini bidadarinya,” ucapnya dengan serius.
Jack pura-pura tak mendengar. Lalu dia mengirim pesan:
Apkh malu brtemu sopir taksi?
Segera dijawab:
Mau mngntip org mndi, atw mmsukkan cacing dlm tas?
Jack tertawa lepas. Pak Mahmud makin heran, sekaligus senang. Karena sangat jarang dia melihat laki-laki yang berusia hampir 35 tahun itu tertawa lepas.
Sopir taksi mna brani?
Dijawab lagi:
Bs nmpang taksimu? Kbetulan aku mw keluar
Jack melihat pada Pak Mahmud. “Kena pak. Dia mau menumpang taksiku,” seru Jack riang.
“Selamat, sekarang kamu sopir taksi, Mir,” gurau Pak Mahmud.
Sambil tertawa, lekas-lekas Amir, ehhh Jack menulis pesan:
Stengah jam lg aku sdh dparkiran
Dijawab:
Ok
Bersamaan dengan itu, bel di kamar Luna berdering. Vivien si tukang ojek menunggu dibukakan pintu.
Empatbelas:
Luna tersenyum melihat tukang ojek wanita yang juga berjilbab seperti dirinya. Dia membuka pintu lebih lebar.
Dilihatnya tukang ojek berkacamata itu sesaat memandangnya. Mereka bertatapan. Hanya sesaat. Setelahnya, si tukang ojek membungkuk seraya memberikan pesanan dalam kantong plastik.
“Sebentar, aku ambil duit ya mba,” ujar Luna.
Tukang ojek mengangguk, sambil tetap berdiri di depan kamar.
Begitu kembali ke arah pintu, Luna tak melihat tukang ojek tadi. Tetapi kantong plastik dan isinya, terletak utuh di atas meja.
Dia melongok ke luar. Gadis berjilbab berkacamata itu tak kelihatan batang hidungnya!
Justru tak lama berselang, yang muncul adalah Oliver Weiss!
Luna tercengang. Tukang ojek hilang, Oliver Weiss tiba.
Apa yang terjadi?
Tanpa setahu Luna, Oliver Weiss selalu memata-matai gadis itu.
Saat dia memasuki apartemen kemaren, Oliver sempat meletakkan alat penyadap di kamar Luna.
Alat penyadap itu cukup istimewa. Bisa pula menangkap video. Ukurannya kecil. Lebih kecil dari kelereng!
Maka tatkala Luna tiba di suite itu subuh tadi, Oliver sudah mengetahuinya.
Jika menuruti hati besar saja, Oliver ingin segera menelpon. Tapi dia menahan diri. Lebih baik meneliti dulu. Tidak boleh gegabah. Itu yang diajari mentornya!
“Hal yang menjadi prasyarat utama dalam pekerjaan ini adalah hati-hati. Tidak boleh gegabah,” ujar mentornya saat awal pelatihan di Inggris.
Teringat itu, Oliver memilih menunggu perkembangan lebih lanjut. Dia terus menyimak apa yang dilakukan gadis itu.
Asyik juga. Selama ini dia hanya bisa mencuri pandang. Entah kenapa, Oliver sudah terpikat saat pertama diwawancarai.
Walaupun sebenarnya lamaran yang diajukan via email adalah bagian dari skenario sang mentor, namun begitu bertemu Oliver tak bisa menampik dari daya tarik gadis itu!
Melihat gejala tersebut, sang mentor berkali-kali mengingatkan. Tapi Oliver tak peduli. Siapa pula yang bisa menolak kata hati?
“Jangan terlibat secara emosional,” ujar sang mentor.
Oliver menjawab,”Apa salahnya? Bukankah dengan kedekatan bisa membuat tugas lebih lancar?”
Sang mentor yang tak lain adalah ayahnya sendiri, hanya tersenyum kecut. “Awas kalau kamu gagal mendapatkan rumus itu,” tegas sang mentor.
“Tenang dad. Semuanya akan lancar. Percaya saja padaku,” jawab Oliver.
Dan tatkala ledakan bom yang memang bagian dari skenario itu terjadi, di mana sebelumnya Luna minta izin ke toilet, Oliver kehilangan jejak. Itu bisa terjadi karena ketidakwaspadaannya mengawal sang gadis!
“Untung ayah mengawasinya dari jauh. Sehingga ayah bisa tahu, kemana perginya. Ternyata dia punya outlet di PI. Dan engkau yang selama ini ditugaskan mengawal sambil mengorek informasi tentang rumus itu, telah luput. Gagal!”
“Aku tahu kok dad. Bahkan aku tahu dia mencatut nama aku, Hana dan Ali sebagai pemilik outlet di sekiling toko fashionnya. Nah, siapa yang kecolongan?”
Ayah Oliver melunak. “Kenapa tidak segera kamu lapor?”
“Dad…please… kita kan punya SOP. Aku melapor bukan padamu. Tapi ada saluran khusus dan anonim. Begitu kan cara main Ksatria Dunia,” ujar Oliver dengan mimik muka makin serius.
Sang ayah mengangkat bahu. Dia terlihat kalah oleh argumen Oliver. Tetapi di dalam hatinya, sang ayah bergumam,”Yang tidak engkau tahu, nak, akulah kasta tertinggi Ksatria Dunia saat ini!”
Sedangkan Oliver juga bergumam dalam hati,”Bagiku ini tidak hanya tentang Ksatria Dunia, tetapi tentang hati. Engkau tidak tahu dad, aku tinggal persis di depan kamarnya. Jadi, jangan takut, semuanya dalam kendali aku!”
Begitulah, teringat nasehat sang mentor, sekaligus ayah kandungnya, Oliver dengan seksama memperhatikan Luna secara penuh melalui alat sadap audio-video.
Dan lelaki keturunan Yahudi itu terkejut mendengar suara bel di kamar depan. Cepat-cepat dia menengok ke lubang kaca. Rupanya ada tukang ojek perempuan, berkacamata dengan kantong plastik di tangannya.
Oliver memperhatikan dengan seksama. Ada yang ganjil. Kenapa gadis ini terlihat gelisah? Ada apa dengan tukang ojek ini?
Oliver masih menunggu perkembangan.
Tak lama, terlihat Luna membuka pintu. Bahkan menguakkan lebar-lebar.
Dari belakang, Oliver melihat sesuatu yang ganjil. Gadis tukang ojek itu mengangkat tangan kiri, menyentuh kacamatanya.
Bukan tentang menyentuh kacamata itu yang menjadi fokus Oliver. Tetapi, mana mungkin ada tukang ojek mengenakan cincin mahal?
Kewaspadaan Oliver terpicu. Lambat-lambat dibuka pintu kamarnya. Dibiarkan pintu itu terbuka. Begitu Luna berjalan ke arah kamar, Oliver segera memukul tengkuk tukang ojek.
Itu adalah pukulan yang sangat terlatih. Tukang ojek terkulai. Oliver menahannya. Serta merta membopongnya. Dan meletakkan tubuh tukang ojek yang pingsan itu di kamarnya sendiri.
Tak cukup dua puluh detik kejadiannya. Dan, begitu Luna muncul di depan pintu, Oliver sudah tidak bisa lagi menghindar!
“Ada apa O. Kenapa tiba-tiba kamu ada di sini?”
Luna memang memanggil Oliver dengan sebutan O saja. Oliver senang dipanggil begitu. Mungkin menurutnya panggilan spesial itu adalah lampu hijau buat harapan yang terpendam!
Tanpa sedikitpun gelagapan, Oliver dengan tangkas menjawab,”Aku cemas. Sejak kemaren aku bolak-balik ke sini. Ingin mengetahui keberadaanmu,” katanya.
Luna mengamati lelaki itu. Dengan mengenakan jeans, sepatu kets dan kaos polo, Oliver terlihat makin macho di mata Luna!
Di saat yang sama, di rumah makan, Jack menerima tautan video di layar monitor. Saat itu Jack tengah bersiap-siap hendak menjadi sopir taksi.
Jack terkejut. Dia lihat Vivien terkulai dalam bopongan seorang lelaki!
Tiba-tiba pintu ruangan chef terbuka. Dengan tergesa-gesa, Buyung berkata,”Rupanya Oliver itu tinggal di kamar depan suite Luna!”
Jack memperhatikan dengan seksama. Benar. Dia lihat Oliver dengan sigap keluar kamar. Membiarkan pintu terbuka. Dan sekali pukul, Vivien terkulai! Itu adalah pukulan seorang ahli beladiri.
Pak Mahmud pun terkejut. Jack masih mengamati. Sedangkan Buyung tampak cemas. Siapa yang tak cemas bila rekan kerja dalam bahaya?
Alih-alih beranjak ke luar untuk menjadi sopir taksi, Jack justru membuka jaket lusuh yang sengaja dipakai buat menyamar.
“Yung, kamu telpon sekuriti, sambungkan ke saya. Sekalian panggil Gatot ke sini,” perintah Jack.
Buyung bergegas.
Tak berselang lama, Gatot sudah tiba. “Siap pak. Laser itu sudah tersambung!”
Jack mengangguk, dan meminta Gatot mengawasi pergerakan. “Jika ada yang mencurigakan, segera lapor!”
Gatot mengangguk. Lalu dia kembali ke dapur.
Pak Mahmud mengamati saja hal yang dilakukan Jack. “Syukurlah, kamu bisa tenang Jack. Bapak pikir tadi, kamu akan segera menyusul ke Thamrin.”
Jack tidak menggubris. Dia meraih intercom, menghubungi Gatot. “Tot, jangan lupa, matikan sumber laser di kacamata Vivien!”
Sesaat setelah intercom diletakkan, alat komunikasi dari dapur ke ruang chef itu berbunyi.
“Halooo… ya pak… ini saya…iya… yang kemaren… bisa bantu pak? … iya… tugas negara… bisa ya?… tolong segera ke kamar suite itu…bukan… bukan tentang sopir taksi itu… pokoknya bapak ke sana saja… bilang ada pemeriksaan panggilan darurat… atau apapun… yaaa… ya… bapak bisa kan?… baik… ooo…tidak usah… biar saya nanti yang menghubungi bapak… oke… baik… terima kasih ya pak…”
Setelah itu, Jack kembali meraih intetcom. “Yung, hati-hati. Matikan peretasan begitu mereka menyentuh tablet…!”
Kembali Pak Mahmud terkesima. Benar-benar sistematis cara bekerja anak buah kesayangannya ini. “Bagus Jack!”
Jack masih duduk di kursi, di depan meja Pak Mahmud. Dia sedang memikirkan langkah selanjutnya. Bagaimana menyelamatkan Vivien?
Sambil terus melihat link video yang mengekspos secara live ruang suite, Jack melihat hp-nya sekilas. Berharap ada pesan untuk sopir taksi! Tapi hp itu tak bergetar. Layarnya pun tak berpendar, tanda tidak satupun ada notifikasi.
Tak berapa lama, Jack melihat pintu suite terbuka. Masih di link video, Jack menampak seorang lelaki asing keluar dari suite. Diantar Luna dengan senyum manis, hingga ke pintu.
“Syukurlah, sekuriti itu menjalankan tugasnya dengan sempurna,” tutur Jack, lebih pada dirinya sendiri. Bukan pada Pak Mahmud yang ikut menyaksikan link video tersebut.
Rupanya, sesuai yang diminta Jack, si sekuriti menelpon suite. Untunglah si sekuriti cukup pintar. Setengah jam yang lalu dia mengizinkan tukang ojek perempuan naik ke suite. Tapi belum turun hingga sekarang.
Berdasarkan fakta itulah si sekuriti menelpon kamar Luna. “Apakah ada sesuatu yang mencurigakan? Apakah ibu baik-baik saja?”
Tentu saja Luna terkejut. “Saya baik-baik saja kok!”
Oliver menyimak dengan sabar. Dia memang tidak bisa mendengar pembicaraan. Namun dari mimik Luna, Oliver menduga ada masalah.
Setelah meletakkan gagang telpon, Luna melihat ke arah Oliver,”Sekuriti mendapat laporan ada kemungkinan telah terjadi sesuatu, mungkin penculikan atau perkosaan. Soalnya, ada tukang ojek perempuan yang diizinkan naik, namun tidak turun sejak setengah jam yang lalu,” kata Luna.
Oliver terkesiap. Tetapi tidak terlihat di wajah tampannya yang jenaka itu! “Hmmm… bukankah apartemen ini memiliki sistem keamanan yang baik?”
“Iya sih. Selama ini tak ada masalah kok,” jawab Luna.
Mereka masih berbicara beberapa saat. Setelah itu Oliver keluar dari kamar Luna.
Agaknya orang asing itu terpengaruh cerita si sekuriti. Karena dia takut berperkara yang tidak perlu, lagi pula Luna sudah aman, lebih baik diapun cari aman.
Oliver pun menuju lift.
Luna kembali ke kamar tidur, sambil memikirkan tukang ojek perempuan berkacamata itu! Juga keheranannya dengan kedatangan Oliver yang tiba-tiba tadi!
Sebenarnya baru sebulan yang lalu Oliver berhasil menyewa kamar di depan suite Luna. Selama sebulan, dia belum menemukan cara untuk masuk dan keluar kamar itu, tanpa kuatir terlihat Luna.
Karena itu, tukang ojek yang pingsan, dan dikurungnya tadi, untuk sementara aman. Sebab Oliver tidak berani masuk ke kamarnya sendiri. Dia takut jika diam-diam Luna mengintip di lobang kaca.
Jack segera membuat pesan:
Msh brmnat dg taksi?
Dijawab:
Stu jm lg
Jack mengirim pesan lagi:
Maaf, sejam lg, sdh ada yg order
Tidak ada jawaban lagi. Mungkin Luna kesal. Soalnya pesan terakhir si Amir itu terkesan menghindar!
Luna kesal. Emang gue pikirin!
Jack berusaha tenang. Salah dia sendiri, kenapa membatalkan? Mungkin Jack berpikir, sampai aman, sebaiknya main di ruang gelap!
Pak Mahmud yang mengerti jalan pikiran Jack saat itu segera menguatkan,”Bagus. Pekerjaan seperti kita, sangat rentan untuk membina hubungan. Besar resikonya!”
Lalu Jack meraih intercom yang berbunyi,”Ya… bagus bapak… terima kasih… iya… oya, ada satu bantuan lagi…apakah bapak masih bersedia membantu? … ooo…tentu saja…saya kenal dengan komandan polisi di Thamrin…tentu…tentu…pasti bapak saya rekomendasikan…bapak mau kan…baik, sekarang bapak ke atas kembali, di depan suite itu ada kamar… bapak bawa kunci cadangan…tolong masuk…lelaki tadi mengurung cewek! Mungkin dia berniat jahat…iya…segera ya pak… jangan…bapak tak perlu lapor polisi…”
Sekuriti itu terkejut. Tapi dia tidak menceritakan tukang ojek perempuan yang diizinkannya naik tadi. Sebab, secara aturan di apartemen itu, yang boleh masuk lift hanya penguni yang diberi dua kartu.
Yang tidak punya kartu tak bisa masuk. Karena satu-satunya akses ke lift dari lobi, adalah pintu kaca dengan kunci digital yang hanya bisa terbuka dengan menyentuhkan kartu.
Sekuriti berpikir cepat; bisa panjang urusannya kalau urusan tukang ojek tadi diceritakan. Dia bisa dipecat.
Maka dia memilih tidak menceritakannya.
Sebenarnya lelaki ini adalah sekuriti yang sudah senior. Berdedikasi. Dan tegas. Namun tukang ojek perempuan berjilbab dan berkacamata itu memohon sambil memelas. Dia meminta untuk menyerahkan pesanan itu secara langsung, karena pesanan itu COD. Dan tukang ojek tentu berharap uang tip.
Dari balik telpon, si sekuriti segera mengiyakan permintaan petugas negara itu.
Sesuai SOP, sekuriti dimanapun, sepanjang dilatih oleh polisi, sudah diberi tahu macam-macam identitas khusus yang dimiliki aparat keamanan. Termasuk intelijen. Dan jika berurusan dengan orang yang membawa kartu identitas khusus tersebut, tugas sekuriti adalah menjalankan perintah. Tak boleh ada tanya. Apalagi penolakan.
Maka, termasuk sebagai rasa tanggungjawab, selain kepatuhannya kepada petugas negara, si sekuriti segera menaiki lift. Untuk membukakan pintu buat tukang ojek yang dikurung.
Adapun Oliver, begitu tiba di lobi, baru sadar hp-nya tertinggal di kamar. Juga kartu aksesnya!
“Sial,” rutuknya sendiri, sambil berbalik arah menuju ruang sekuriti.
Namun, si sekuriti tidak ada di tempatnya.
Yang ada hanya resepsionis. Oliver menyapa resepsionis dengan ramah. Si resepsionis itu dengan sopan memberi tahu bahwa sekuriti itu ada keperluan ke lantai 26.
Naluri Oliver yang terlatih segera berdentang. Pikirnya, mungkinkah sekuriti itu tahu bahwa dirinya yang memukul tukang ojek itu hingga pingsan?
“Boleh saya duduk di sini menunggu sekuriti itu,” tanya Oliver pada perempuan resepsionis tersebut.
Karena si resepsionis tahu bahwa Oliver adalah salah seorang penguni, maka dia mengangguk sambil berkata,”Your card, sir?”
Oliver gelagapan. Dia menggaruk-garuk kepala sambil memasang mimik innocent. “Aku lupa. Bahkan hp aku pun tinggal di kamar,” ujarnya sedikit memelas.
“Ooo, silakan tunggu saja, sir. Nanti biar sekuriti yang membantu,” sambil mengerling nakal pada Oliver.
Oliver memang tampan. Mirip-mirip Jason Statham itulah. Bedanya, rambut Oliver pirang dan tebal. Kepala Statham itu sulah di bagian depan!
Dengan ketampanannya, ditambah wajah jenaka, hati wanita mana yang tidak terbetot.
Dilirik nakal begitu, Oliver makin tersenyum ramah. Dia duduk di ruang sekuriti sambil mengipas-ngipas muka. Dan memegang tenggorokan.
“Anda haus, sir?”
Segera Oliver menjawab,”Yes, nona manis. Adakah seteguk air untukku?”
Sambil tertawa lantaran mimik dan kelucuan Oliver, si resepsionis beranjak ke belakang meja. Mencari sebotol air mineral.
Waktu yang sedikit itu dimanfaatkan oleh Oliver buat mematikan sistem CCTV di lantai 26. Karena banyaknya CCTV di situ, maka di monitor tak terlalu kentara.
“Silakan puaskan dahagamu, sir,” ujar gadis itu dengan gesture memberi lampu hijau.
Oliver membungkuk sambil mengucapkan terima kasih. Dada gadis itu cukup penuh. Tidak terlalu besar. Dan tubuhnya mewangi harum!
Namun Oliver berusaha untuk tetap sopan. Dia sedang kuatir dengan sekuriti yang mungkin saja akan membuka kamarnya. Bisa barabe.
Benar saja. Sekuriti menemukan gadis tukang ojek masih tergeletak. Tapi sudah mulai bergerak. Mungkin karena suara bel tadi, tukang ojek tersebut siuman.
Melihat yang masuk adalah sekuriti baik hati itu, tukang ojek berkata,”Bapak harus hati-hati dengan orang asing penghuni kamar ini. Dia punya maksud buruk terhadap penguni kamar di depan,” ujar gadis tukang ojek.
“Iya neng. Tapi kenapa kamu tergeletak di sini?”
“Orang asing itu memukul saya. Lalu mengurung di kamarnya ini,” jawab Vivien yang sedang menyamar jadi tukang ojek.
Sekuriti mengangguk.
Vivien berdiri, dibantu sekuriti. Tiba-tiba ada telpon ke hp nya. “Vien, dengarkan saja. Oliver mematikan CCTV lantai 26. Kamu minta sekuriti menyembunyikanmu di kamar depan itu. Segera!”
Vivien menurut perintah Jack. Dia menoleh ke arah sekuriti,”Pak, aku takut… tolong pak… sembunyikan aku… orang asing itu bisa datang lagi.”
“Iya…iya neng. Tapi kemananya ya?”
“Bagaimana kalau di kamar depan saja pak? Nona itu tampaknya orang baik-baik.”
Sekuriti mengangguk. Dia berpikir, jika tukang ojek ini dibawa ke bawah, bisa tambah runyam urusannya. Pertama bisa saja orang asing tersebut menunggu di bawah. Dan yang kedua, dia pasti kena tegur supervisor karena mengizinkan orang yang bukan penghuni naik ke lantai 26 itu.
Maka sekuriti memilih setuju dengan ide tukang ojek. “Benar juga neng. Tapi kamu janji untuk meminta nona itu agar mengaku bahwa dia yang membawamu ke atas ya…!”
Tukang ojek mengangguk segera.
Sekuriti memencet bel. Luna melongok ke luar, membuka pintu.
Tiba-tiba sekuriti dan tukang ojek terjengkang ke dalam. Luna nyaris tertimpa tubuh sekuriti. Tukang ojek tersungkur. Tetapi dia bisa berguling. Sehingga terhindar dari cedera.
Malang bagi sekuriti. Secara refleks, Luna mengelak, dan menarik tangan sekuriti. Sehingga si sekuriti terjun ke arah meja.
Brukkk…si sekuriti mengaduh.
Luna berguling ke arah pintu. Itulah jurus tupai mudo dari Silek Talao. Sambil tetap rebah, Luna mengirim tendangan ke atas.
Tapi, yang diserang lebih gesit. Dengan sigap, dia menangkap kaki putih mulus dan mungil itu. Memegangnya dengan erat. Sambil badannya di rendahkan.
Akibatnya, Luna hilang keseimbangan. Dia pun terjerembab ke atas dada orang itu!
Mereka berdempetan di depan pintu yang sudah menutup.
“Ehhh…apa-apaan ini?”
Lelaki itu adalah Oliver. Masih dengan wajah jenaka, dia berkata, pada Luna,”Kita harus mengusir tukang ojek itu. Dia punya maksud tidak baik.”
Vivien yang sudah berdiri di dekat sekuriti yang masih duduk kesakitan segera menyela,”Nona, orang asing ini adalah kaki tangan orang-orang yang menangkapmu di PI. Percayalah, sebentar lagi agen negara akan datang untuk menyelamatkanmu.”
Tentu saja Luna heran dan ternganga, sambil menggeliat untuk berusaha lepas dari pelukan Oliver.
Siapa tukang ojek berjilbab dan berkacamata ini, pikirnya.
Mungkin terkesima karena empuk tubuh Luna. Apalagi harum wangi cempaka itu merasuk ke benaknya. Oliver hilang kewaspadaan.
Kesempatan sesaat itu dimanfaatkan tukang ojek. Dalam satu lompatan, Vivien sudah menerjang Oliver, sambil memegang kacamata.
Oliver sadar diri. Rupanya gadis tukang ojek ini tak bisa dibuat main-main.
Dengan menggeser tubuh Luna ke samping, Oliver menyambut tendangan tukang ojek. Sebenarnya dengan sekali pukul, bisa selesai riwayat si tukang ojek ini dibuatnya. Namun Oliver tidak mau mengambil resiko ketahuan. Sehingga gerakan menyambut itu diubahnya menjadi mengelak dan meneruskan tenaga terjangan itu.
Akibatnya, tubuh tukang ojek meluncur membentur pintu. Untuk kedua kali dalam satu setengah jam ini, gadis itu pingsan!
Memanfaatkan kepanikan Luna, Oliver berguling ke dekat sekuriti yang masih duduk bingung. Diam-diam dia membuat gerakan dengan ujung jari, mengarah ke dekat telinga si sekuriti. Itu adalah gerakan menotok dalam kungfu.
Sekuriti terlambat tahu. Tak sempat dia mencerna apa yang terjadi. Lantaran sudah keburu pingsan.
Dengan sigap, Oliver berdiri. Menuju ke arah Luna yang juga sudah berdiri. Gadis itu terlihat siaga dengan kuda-kuda mantap. Itu adalah kuda-kuda paling tangguh dalam Silek Talao. Namanya kudo-kudo urek bumi.
Luna waspada, memandang dengan mata tajam. Oliver berusaha bermuka ramah dan jenaka.
“Duhhh… nona… bukan kepadaku kamu harus marah. Tapi tukang ojek dan sekuriti ini lah yang berniat jahat!”
Luna tetap diam. Dia mengikuti gerak-gerik Oliver. Dia memperhatikan gerakan bahu lelaki yang disukainya itu.
Dalam silek, atau beladiri apapun, orang bisa melihat permulaan serangan dan arah serangan dengan memperhatikan gerak bahu. Itu yang dilakukan Luna. Dan Oliver tahu pula.
Oliver panik. Bagaimana mungkin dia harus berkelahi dengan Luna? Tapi dia harus mengerjakan perintah. Dia harus memperoleh rumus-rumus itu.
Lelaki tampan berwajah jenaka itu tak bisa menyimpan kegalauan dan keragu-raguannya. Diam-diam dia mengakui kebenaran kata-kata ayahnya yang melarang berhubungan, apalagi terlibat secara perasaan dengan target!
Keragu-raguan Oliver, terlihat oleh Luna. Gadis ini pun bingung, antara percaya ucapan tukang ojek dengan keyakinannya sendiri bahwa Oliver adalah bagian dari kelompok yang menangkapnya di PI. Berarti laki-laki ini adalah anggota Ksatria Dunia yang menghendaki rumus-rumus fisika temuannya!
Dalam kebingungan itu, tiba-tiba Luna tersenyum manis. Gadis ini punya rencana. Dia berjalan mendekati Oliver dengan ramah.
Oliver sekarang yang heran. Apakah Luna sedang menjalankan akal bulus? Pura-pura baik, tetapi kemudian menyerang!
Luna masih melihat keragu-raguan di mata Oliver. “Baiklah O, aku percaya padamu. Tetapi kamu harus menjelaskan semuanya. Terutama apa yang dituduhkan gadis ini,” kata Luna dengan suara datar.
Oliver melunak. Dia punya rencana sekarang. Maka, dibiarkan Luna makin mendekat.
Setelah cukup dekat, Oliver membuat gerakan cepat. Meski sudah punya rencana, Luna tetap terkesiap.
Lalu semuanya gelap.
Gadis itu pingsan!
Limabelas:
Mitchael Bonn mengamati dengan cermat semua yang terjadi di suite room Luna.
Dia bergumam sendiri, sambil menggerutu. “Dasar bengal. Tak mempan diajari!”
Semula Mutchael Bonn setuju dengan tindakan yang diambil Oliver. Itu upaya brilian; melumpuhkan tukang ojek dan sekuriti.
Namun, yang membuat Mitchael kesal lantaran Oliver meninggalkan dua tukang ojek dan sekuriti itu begitu saja. Dua orang itu terbujur pingsan. Tentu pada saatnya bisa siuman.
Jika dua orang itu sadar, pasti akan ada penyelidikan oleh pemerintah. Itu adalah hal yang harus dihindari.
Mitchael Bonn melihat dua orang itu mulai menggeliat. Tentu sebentar lagi siuman.
Merasa bahaya akan datang bila dua orang itu tetap hidup, Mitchael Bonn segera menggerakkan drone mikronya. Membidik sekuriti. Dengan sekali tekan saja, sekuriti yang hampir sadar itu tergelimpang. Mati.
Saat membidik si tukang ojek, drone mikro itu limbung. Tak terkendali. Rupanya hp tukang ojek yang berdering.
Antara hampir sadar dan tidak, tukang ojek mengangkat hp,”Dengarkan saja perintah. Kamu paksakan terus bergerak, jika bisa berlari. Dan selalu tekan kacamata itu!”
Rupanya di rumah makan, Jack dan Pak Mahmud sedang menonton link video CCTV di ruang Luna.
Tadi memang sempat mati. Ulah Oliver. Namun Buyung bisa mengatasinya dari jauh. Meskipun butuh waktu lima belas menit.
Tanpa setahu Oliver, CCTV itu sudah bekerja kembali.
Begitu on, Jack dan Pak Mahmud terkejut. Mereka melihat Vivien dan sekuriti sudah terkapar.
Jack dengan geram menyaksikan betapa sigapnya Oliver menaklukkan Luna. Hanya dengan satu pukulan saja.
Jika tidak ditahan Pak Mahmud, mungkin saat ini Jack sudah di apartemen pula. Namun mata Pak Mahmud yang awas melihat ada “seekor lalat”.
“Tunggu Jack. Kamu lihat lalat itu? Mana ada lalat di kamar ber-AC dingin?”
Jack meneliti. Memang ada lalat yang berputar-putar. Sepintas terlihat seperti lalat biasa saja. Tetapi Jack tidak melihat sayap lalat itu juga ikut bergerak.
“Ada sayapnya, tapi kenapa tidak bergerak?”
“Itulah. Oya, ketika kamu masuk, bukankah AC kamar itu masih aktif?”
Jack mengangguk. Dia masih sempat melihat lalat itu berputar di dekat sekuriti. Paling-paling berjarak semeter. Lalu sekuriti itu tergeletak.
Dengan sigap, Jack pun menelpon Vivien. “Terus tekan sisi kacamata itu sambil berlari,” ucap Jack dengan napas memburu.
Vivien yang tak tahu kenapa disuruh demikian, tanpa pikir panjang mulai berlari. Terus berlari mengitari ruangan yang tak terlalu luas itu.
Jack dan Pak Mahmud melihat lalat ikut berputar, mencoba mendekati Vivien. Tapi gerakan lalat terhambat saat memasuki jarak tembak.
Di kamar suite tower lainnya, di Thamrin Residence itu, Mitchael Bonn kebingungan. Dan sekarang terkejut karena drone mikronya tergeletak. Hangus.
Thamrin Residences, atau Thamres merupakan apartemen yang memiliki 5 tower, dan 1.791 unit apartemen, yang berdiri di atas tanah seluas 113.728,00 m2. Karena luas dan ribuan unit apartemen di situ, kawasannya menjadi serupa kota kecil.
Jack melihat lalat itu jatuh ke lantai. Pak Mahmud juga. Mereka saling menatap, dan tersenyum lega.
Lalu, Vivien yang masih mendengar di hp-nya, mengangguk saat Jack memberikan arahan lebih lanjut.
“Bawa lalat itu, masukkan ke dalam plastik. Bawa tablet Luna. Dan hapus jejak yang ada. Oya, itu ada kotak kecil bewarna lembayung, bawa juga,” ujarnya. Dan Vivien mengangguk sembari matanya mencari kotak bewarna lembayung tersebut.
Bertemu. Di tengah rak-rak buku, ada tempat untuk meletakkan pajangan. Di situ kotak warna lembayung terletak. Vivien memasukkan ke saku jaketnya.
Lalu, gadis berjilbab itu dengan tenang membopong mayat sekuriti. Dibukanya pintu ke arah balkon. Dibiarkan mayat sekuriti tersebut rebah, menghadap ke arah jeruji pagar.
Seperti halnya Buyung dan Gatot, Vivien tidak hanya mahir di bidang pemrograman komputer dan AI. Ketiga “orang dapur” itu dibekali ilmu lapangan intelijen. Bisa berkelahi. Jago menembak. Dan beberapa ketrampilan dasar intelijen.
Karena itu bukan hal yang mengerikan buatnya membopong mayat. Dia bahkan pernah mengalami hal yang lebih mengerikan dari itu!
Apalagi Vivien. Sebelum jadi orang dapur, dia adalah anggota satuan khusus Angkatan Darat. Tentu kemampuan mempertahankan dirinya jauh lebih baik.
Hanya tiga tahun dia menjalani tugas militer. Setelah itu dia direkrut menjadi intelijen. Hingga sekarang bekerja di rumah makan.
Bukan lantaran ketentaraannya Vivien direkrut Pak Mahmud. Melainkan kemampuannya dalam pemrograman komputer dan rancang bangun Artifisial Inteligence/AI–kecerdasan buatan.
Dalam merancang bangun kecerdasan buatan tersebut, Vivien sudah mencangkokkan fitur pengenal wajah yang lebih presisi dibandingkan produk sejenis.
Idenya sederhana saja. Hampir tak ada orang yang hidup sendiri. Pasti seseorang dikenali pula oleh satu atau beberapa orang di sekitarnya.
Maka, dengan menambahkan algoritma lokasi rumah, kantor dan sekolah untuk melacak lokasi, serta keluarga, pekerjaan dan hobi, dan beberapa variabel lainnya, dalam sekejap dia bisa menemukenali wajah berikut data-data lengkapnya.
“Ini penemuan luar biasa, harus dipatenkan,” ujar Gatot menyemangati Vivien.
Tapi Pak Mahmud yang melarang. “Pengurusan kekayaan intelektual yang berkaitan dengan dunia intelijen, sama dengan menelanjangi diri sendiri!”
Gatot membenarkan perkataan Pak Mahmud. Namun untuk mengabadikan karya Vivien, fitur pelacak wajah itu mereka beri nama V-face! Kependekan dari Vivien face.
Vivien senang dengan penamaan itu. Dan sejak saat itu, belasan AI sudah diciptakan Vivien. Semuanya ditanamkan dalam superkomputer di rumah makan. Markas mereka.
Usai membersihkan kamar Luna, sambil meraih kartu akses di saku sekuriti, Vivien meluncur turun ke lift. Di lobby dia disambut dengan pandangan heran resepsionis.
Namun Vivien cuek saja. Dia bergegas ke parkiran sepeda motor. Lalu meluncur kencang ke rumah makan.
Sementara itu, di kamarnya, di suite room tower lainnya, Mitchael Bonn kehabisan akal. Dia kembali menggerutu menyayangkan tindakan anaknya.
Apalagi dia ingat, Oliver dengan bergegas membopong Luna. Tentu anaknya itu ingin melakukan apa yang harus dilakukan oleh lelaki kasmaran!
“Anak sialan!” Mitchael mengumpat panjang pendek.
Lalu dia merogoh hp di saku. Ditelponnya Oliver. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Hp Oliver off. Hanya nada operator yang menyahut.
“Sialan!” Mitchael mengumpat lagi.
Sekarang ditekannya nomor seseorang. Mungkin anak buahnya.
“Segera lihat ke situ. Dan segera lapor,” seru Mitchael.
Akan halnya Oliver. Sebelum menerjang tukang ojek dan sekuriti tadi, masih sempat melemparkan jaketnya ke arah pintu. Untung di belum terlambat, sehingga jaket itu terjepit di celah pintu kamarnya.
Itu terjadi dalam hitungan detik. Setelahnya, Oliver menerjang tukang ojek dan sekuriti, hinggi tersungkur ke dalam pintu kamar Luna yang terbuka.
Berkat jaket itu pula, Oliver bisa memasuki kamar sambil membopong Luna.
Dia lihat hp dan kartu aksesnya masih tergeletak di atas meja. Ditelitinya sekeliling. Aman. Rupanya tukang ojek tadi tidak sempat melihat-lihat isi kamarnya.
Jikalau tukang ojek itu tidak keburu minta diantar ke kamar depan, pasti dia akan ternganga. Karena di seantero dinding kamar itu terpasang belasan foto Luna. Kelihatannya dijepret diam-diam.
Tubuh Luna yang pingsan itu, dengan hati-hati direbahkan di tempat tidur. Kasur itu cukup lebar, terlalu lebar untuk seorang bujangan seperti dirinya.
Sekarang dengan mata berkilat, Oliver menelusuri tubuh Luna. Panorama yang alangkah indahnya.
Lelaki itu tidak mau tergesa-gesa. Dia ingin berlama-lama. Menikmati setiap detik yang telah didambakannya sejak enam-tujuh bulan yang lalu.
Karena mau berlama-lama, Oliver mematikan hp nya. Biar tidak ditelpon ayahnya yang nyinyir itu!
Air liurnya terbit, manakala dalam pingsannya, Luna menggeliat. Saking kagumnya atas lekukan bukit itu, Oliver sampai mendekatkan matanya untuk melihat lebih dekat.
Sekarang, hidungnya hampir bersentuhan dengan puncak bukit yang ranum itu. Jika menggeliat lagi, pasti hidung Oliver akan terhenyak benda kenyal!
Bahkan dalam bungkus baju dan jilbab pun, pemandangan itu membuat nafas Oliver naik turun.
Dikuakkan jilbab yang menjulai panjang. Di baliknya ada kemeja casual dengan kancing-kancing yang seakan mau tanggal lantaran tak berdaya menahan sundulan bukit di bawahnya.
Oliver semakin liar. Mulai beringas. Tapi dia masih ingin berlama-lama. Ibarat sarikayo, Oliver ingin menikmati sampai jilatan terakhir. Jika perlu menjulurkan lidah untuk menjeput sisa terakhir sarikayo di atas talam.
Yang kian mengasyikkan adalah tatkala gundukan itu menggembung naik. Lalu turun. Itu laksana irama jazz yang didengar saat teler.
Apalagi celah kemeja yang ikut membuka saat gundukan naik. Nafsu Oliver sudah melebihi ubun-ubun!
Semakin dia tahan, semakin tak tahan. Maka hentakan syahwat pun merajalela. Meluluhlantakkan.
Di saat-saat paling genting. Tatkala kapal itu sudah masuk ke pelabuhan hampir separoh, Luna tersentak.
Gerak refleksnya bekerja. Telunjuknya mencelat, mencungkil mata Oliver. Itulah jurus pisau sirawik!
Lelaki itu meraung. Dan berdiri sempoyongan di atas tempat tidur. Busa yang empuk membuat keseimbangannya terganggu.
Lalu, dalam keadaan nyaris telanjang, Luna menendang kerampang. Lelaki itu terjengkang. Pekikannya makin bersipongang.
Namun berang Luna tak berkurang. Kalang kabut dia menerjang. Begitulah Oliver yang malang. Karena nafsu tak alang kepalang. Kini arwahnya pun berpulang!
Akan halnya Luna, dia meraung melulung-lulung. Tak guna hidup harus disambung.
Dalam kelemah-takberdayaan itulah sebenar-benarnya ujian. Sesiapapun yang pernah melalui ujian yang berat, akan dihadapkan pada pilihan meneruskan atau mengakhiri?
Betapa banyak kisah, hikayat, legenda, dan tetutama riwayat-riwayat yang diceritakan para kiyai, bahwa saat ujian datang, hanya keimananlah yang boleh dipegang. Alangkah banyak orang yang taat, namun manakala diuji oleh Yang Maha Penguji, bentengnya langsung runtuh.
Beruntunglah orang yang pernah mendalami cara dekat dengan-Nya. Mungkin pernah khusyuk berdzikir dan merasakan getaran-getaran halus. Bahkan lebih dalam dari itu, hingga larut dalam makrifatullah.
Maka, orang-orang yang pernah merasakan kelezatan mengingat-Nya, apalagi merasakan dekat dengan-Nya, ibarat sudah memiliki rumah. Meskipun besar, ataupun kecil. Bahkan rumah pondok sekalipun, tak apa-apa.
Sebab orang yang pernah memiliki rumah tersebut, tahu kemana dia akan kembali. Ada tempat untuk pulang.
Akan halnya orang yang tak punya rumah, walau gubuk kecil sekalipun, begitu mendapat ujian, dirinya langsung limbung. Tak punya arah. Karena tak punya rumah. Sehingga tak tahu kemana akan kembali?
Yang paling baik adalah mempunyai mahligai yang megah. Merawat mahligai itu terus menerus. Tanpa henti.
Namun, saat mendapat ujian yang luar biasa, apakah ada beda mahligai dengan gubuk?
Entahlah…
Tetapi, Luna sudah punya tempat untuk kembali.
Di ujung ratapnya yang paling pilu, Luna sadar dirinya sudah ternoda, meskipun sebagian.
Dan pada puncak kesadarannya, gadis itu mencium aroma bunga cempaka yang semerbak. Hatinya tegak.
Dengan membayangkan telunjuknya menyentuh kening, lalu membuat tanda silang di udara, sekarang Luna melihat nenek Sirici tersenyum sedih.
Keduanya berpegangan tangan.
Bersamaan dengan itu, terdengar pintu didobrak dari luar. Ada tiga orang berpakaian polisi berhamburan masuk.
Mereka mendapati seorang lelaki bule mati dalam keadaan telanjang bulat. Matanya yang kiri pecah dan berdarah. Begitu pula kerampangnya, remuk dan berdarah.
Darah masih mengalir. Juga di urat besar lehernya. Masih menetes-netes membanjiri seprai krem yang sudah acak-acakan.
Selain pemandangan yang mengerikan itu, polisi tak menemukan apa-apa lagi.
Semua jendela tertutup. Tak ada tanda-tanda orang melarikan diri.
Tapi di dinding kamar tersebut ada belasan foto seorang gadis berjilbab dengan berbagai pose yang artistik.
Dan sayup-sayup para polisi itu mencium aroma bunga cempaka.
Enambelas:
Mitchael Bonn terhenyak melihat tubuh Oliver yang mati mengerikan. Dan bertelanjang bulat. Dia mendekat untuk menyentuh pipi anaknya itu.
Lelaki setengah baya itu lunglai. Namun di hadapan para polisi, dia mengaku tak kenal dengan mayat tersebut.
Mitchael memang sengaja menyamar sebagai atase militer Inggris. Dia sengaja datang untuk menjemput mayat tersebut.
Setelah menandatangani sejumlah dokumen, mayat tersebut diusung ke lobby melalui lift khusus.
Tak seorangpun di kawasan ThamRes tersebut yang mengetahui peristiwa pembunuhan dimaksud. Jika bocor ke pers, tentu ribuan penghuni akan ribut minta penjelasan.
Dalam hal kasus ini, patutlah pihak manejemen berterima kasih pada Mitchael Bonn. Sebab lelaki setengah baya inilah yang mengkoordinasikan pengisolasian kasus tersebut.
Dia berhasil meyakinkan sejumlah orang berpengaruh. Itu semudah membalikkan telapak tangan saja baginya.
Memang Mitchael Bonn memiliki sumber daya yang tidak terbatas. Bahkan orang-orang di kedutaan Inggris pun tak tahu banyak tentang lelaki itu. Yang diketahui hanyalah nama dan kewarganegaraan. Selebihnya, lelaki itu tak berjejak. Dia memang misterius!
Mitchael Bonn mengantar langsung mayat anak satu-satunya itu ke Inggris. Tepatnya ke Birmingham.
Di Birmingham, Mitchael Bonn akan memakamkan anaknya di dekat makam istri dan kakak perempuanya, di pemakaman kaum bangsawan di kota tua itu–di Key Hill Cemetery.
Key Hill Cemetery semula disebut Birmingham General Cemetery, terletak di Hockley.
Hockley adalah kota kecil arah ke selatan dari pusat kota Birmingham. Bisa ditempuh sekira tiga setengah jam berkendara.
Pemakaman ini dibuka pada tahun 1836. Sehingga Key Hill Cemetery merupakan pemakaman tertua, yang tidak berada di halaman gereja.
Sebelum Key Hill Cemetery dibuka, pemakaman umum di Birmingham berada di halaman gereja yang tersebar di beberapa tempat di kota itu.
Bukan tanpa alasan Mitchael Bonn akan memakamkan anaknya di Key Hill Cemetery itu. Selain di situ saat ini bersemayam dengan tenang istri dan kakak perempuannya, alasan utamanya adalah ingin pulang kampung.
Mitchael memang pria yang lahir pada tahun 60-an di sudut kota Birmingham itu. Di sebuah rumah kumuh di kawasan kumuh kota itu.
Sebagaimana diketahui, Birmingham adalah kota di dekat pusat geografis Inggris, London. Dengan London, kota ini hanya berjatak 176 km.
Karena Birmingham berada di titik persimpangan sistem kereta api dan jalan raya nasional, maka kota ini menjelma menjadi kota terbesar di wilayah West Midlands—salah satu kawasan industri dan komersial utama Inggris—yang berperan sebagai pusat administratif, rekreasi, dan budaya.
Namun, masa muda Mitchael tidak sejaya kotanya. Di tengah peluang pekerjaan yang banyak, justru ayahnya hanya bisa diterima sebagai pekerja paroh waktu. Mereka menganggap cap sebagai keturunan Yahudi lah yang membuat terhalang semua peluang.
Di masa-masa kecilnya, tahun 70-an, masa kejayaan geng jalanan Peaky Blinders belum pupus. Terutama di daerah pinggiran kota.
Alih-alih bertahan hidup melarat dengan ayah, ibu dan kakak perempuannya, Mitchael kecil menemukan rumah baru di geng jalanan tersebut.
Berbadan sedang, dengan kulit liat dan lentur, serta keberaniannya yang tak terbatas, Mitchael cepat menuju puncak. Dalam usia 19 tahun ia sudah menjadi ketua Peaky Blinders di Edgbaston.
Tahun 70-an dan 80-an adalah masa peralihan penting di Birmingham. Dalam satu dekade itu, kota tua ini berubah menjadi kota jasa. Di samping sejumlah industri unggulan yang masih bertahan.
Sebagai kota jasa, geng Peaky Blinders di bawah Mitchael pun bertransformasi. Meski tetap sesekali memakai topi blinders, terutama untuk acara-acara bersejarah geng tersebut–antara lain peringatan ulang tahun Thomas Shelby, sang pendiri yang legendaris, setiap tanggal 1 Mei–selebihnya Mitchael membawa era baru untuk kebesarannya sendiri.
Bahkan nama gengnya pun lebih dipopulerkan sebagai PB–mungkin inisial dari Peaky Blinders.
Di tangan Mitchael Bonn, nama PB makin moncer. Apalagi kemudian mereka memasuki dunia bisnis resmi. Dengan keberanian yang luar biasa, termasuk berspekulasi, PB Corporation menjelma menjadi raksasa dengan core bisnis, antara lain perhotelan dan perbankan.
Di akhir tahun 2000, Mitchael bergabung dengan kelompok raksasa keuangan dunia. Inilah cikal bakal terbentuknya Ksatria Dunia!
Sekarang, Mitchael Bonn adalah orang nomor satu di kelompok itu, walau dialah yang paling miskin dari dua belas anggota lainnya!
Dilahirkan dari keluarga Yahudi, menjadi dendam tersendiri buatnya. Sehingga nama Weiss dipakai pada nama tengah anaknya, Oliver. Memang nama lengkap Oliver adalah Oliver Weiss-Bonn.
Prosesi penguburan Oliver berlangsung sebagaimana layaknya orang terpandang dikebumikan. Banyak orang-orang penting datang berpakaian hitam.
Setelah semua orang pergi, Mitchael terpekur sendiri. Dia duduk di antara kuburan istrinya dengan putranya. Memang Oliver dikebumikan di sisi kiri makam ibunya.
Bukan kematian Oliver yang diratapinya. Tetapi peluang untuk mendapatkan rumus lorong waktu itu benar-benar memukulnya!
Tadi pagi dia sudah menerima peringatan dari para ketua.
Jika tidak dapat, ganti dengan nyawamu! Kami beri waktu tiga bulan!
Demikian secarik kertas disusupkan di celah pintu kamar hotel. Peringatan dengan tinta emas itu, khas Ksatria Dunia!
Mitchael terkenang saat dia meyakinkan duabelas anggota lainnya untuk mendapatkan rumus-rumus lorong waktu tersebut.
“Gadis itu benar-benar brilian. Saya memastikan, dalam otaknya sudah tersusun rumus itu. Maka, saya minta sumberdaya yang tidak terbatas dari para ketua!”
Duabelas orang yang hadir rapat secara virtual itu tak ada yang bersuara. Lama rapat virtual itu hening.
Merasa akan ditolak, tiba-tiba Mitchael membuat terobosan. “Kita semua tahu, bahwa saat semua hening, berarti keputusan ada pada yang mengusul. Namun bila gagal, resiko kematian menanti si pengusul. Bukankah demikian, para ketua,” ujar Mitchael dengan suara parau di depan mikrofon.
Lalu terlihat ke-12 ketua yang terlihat samar di balik layar monitor menulis kata, yes! Artinya apa yang dikatakan Mitchael benar adanya.
Lalu Mitchael berkata lagi,”Saya ambil resiko itu!”
Kembali di 12 layar monitor tertulis oke. Rapatpun selesai.
Mungkin ke-12 ketua itu menganggap ide Mitchael terlalu ambisius. Itu terlihat pada proposal yang diajukan.
Memang ada aturan di kelompok Ksatria Dunia, bahwa seseorang dari 13 ketua, berhak mengajukan usul untuk didanai bersama melalui proposal yang dikirim via email.
Bila proposal itu dianggap layak buat dibahas, perlu dukungan minimal tujuh suara. Namun, setelah sepekan diajukan, bila tidak ada yang merespon, pengusul boleh menggunakan veto pribadi.
Veto pribadi itu adalah hak istimewa yang dipunyai oleh semua ketua. Namun hanya boleh digunakan sekali dalam 15 tahun!
Begitu veto pribadi dijatuhkan oleh seseorang, maka saat itu juga dia akan menjadi ketua sampai batas waktu setahun untuk melaksanakan proposal tersebut.
Jika berhasil, keuntungan 50 persen untuk pengusul, sisanya dibagi rata untuk 12 ketua lainnya.
Bila gagal, maka nyawa si pengusul taruhannya!
Benar-benar pertaruhan yang luar biasa. Karena itu, selama ini belum satupun veto pribadi itu dipakai. Dan Mitchael Bonn adalah yang pertama.
Memang Mitchael Bonn terkenal karena keberaniannya yang mencengangkan. Itu pula yang mengantarkan dia bertemu 12 orang yang menguasai bisnis perbankan dunia.
Waktu itu terjadi kehebohan di pasar bursa oleh ulah seorang mahasiswa yang memborong saham-saham sejumlah bank papan atas. Mahasiswa itu, Oliver Weiss-Bonn sejak setahun yang lalu baru lulus dari Harvard. Dia mengambil dua jurusan sekaligus; matematika dan fisika. Dan lantaran penasaran dengan keampuhan teori sistem dinamis (Dynamic Systems Theory, DST) yang bisa diterapkan untuk berbagai bidang–seperti matematika, fisika, biologi, kimia, teknik, ekonomi, sejarah, dan kedokteran–yang digadang-gadang sebagai “keajaiban matematika untuk memastikan satu masa depan”, maka diapun menguji kecerdasannya untuk memprediksi saham sejumlah bank kelas atas dunia!
Untuk diketahui, dalam matematika ada dikenal “fungsi dinamis”. Yakni fungsi yang menggambarkan status masa depan suatu sistem berdasarkan status saat ini. Fungsi ini seringkali bersifat deterministik, yaitu hanya ada satu status masa depan yang mengikuti status saat ini dalam interval waktu tertentu.
Setelah melakukan simulasi selama setahun, maka pada waktu yang berbeda, Oliver meminta ayahnya mempertaruhkan semua aset yang dia punya untuk membeli saham 12 bank terkemuka.
“Ini matematika, dad. Tak mungkin salah,” ujar Oliver meyakinkan ayahnya untuk membeli saham-saham tersebut.
Memang Mitchael Bonn bisa memahami penjelasan sederhana dari coretan-coretan perhitungan matematika yang dibuat Oliver. Namun, nyalinya rupanya ciut juga bila taruhannya adalah seluruh harta!
“Dad, bukankah PB terkenal dan jaya seperti saat ini lantaran keberanianmu yang mencengangkan orang? Semua orang boleh takut, tapi tidak denganmu, dad. Please… ini benar-benar keajaiban matematika,” rayu Oliver.
Dapat pancingan seperti itu, Mitchael Bonn merasa tertantang. Dia berpikir sejenak. Lalu berkata,”Oke, kamu boleh menggunakan semua tabungan kita. Itu sekitar dua setengah miliar poundsterling.”
Oliver tertawa senang, sambil merangkul ayahnya.
Dan, keajaiban itu benar-benar terjadi. Secara berturut-turut, dalam tempo sembilan bulan, sejak awal tahun 2000, 12 bank papan atas dunia, tiba-tiba dikuasai oleh seorang mahasiswa yang baru lulus kuliah!
Oliver membuat sejarah. Saham-saham yang dia borong itu mendadak harganya melambung naik. Sehingga secara nilai modal, Oliver menjadi pemilik saham mayoritas pada 3 bank. Dan punya saham yang signifikan pada 9 bank lainnya!
Tak pelak, 12 pemilik bank itu minta bertemu. Tentu saja Mitchael yang datang bersama anaknya Oliver.
Dan setelah negosiasi yang alot, Mitchael Bonn berhasil menyatukan para kapitalis tersebut untuk satu tujuan; menguasai dunia.
Dengan kekuatan kapital yang tiada banding, kekuasaan yang mereka punyai itu menjelma menjadi organisasi rahasia bernama Ksatria Dunia!
Mitchael tersentak dari lamunan. Dia berpikir, sebelum mati, pasti ada peluang. Kalaupun gagal, dia masih punya peluang untuk menegosiasikan hidupnya dengan piranti yang sedang dirancang di pabriknya, di pinggiran Jakarta.
Meskipun dia tahu Luna sudah raib tak tentu rimba, Mitchael masih punya Ali Husayn dan Hana Wang.
Berlikir positif seperti itu, ternyata membangkitkan keberaniannya yang tadi sempat pupus.
Mitchael mengepalkan tinjunya.
Dia pun menelpon pilot di bandara. Siang itu juga terbang ke Jakarta.
Tujuhbelas:
Jack pun turut sedih. Bahkan lebih. Informasi terkait kematian Oliver Weiss itu diperolehnya dari Buyung yang setiap hari selalu menyempatkan diri “mengintip” portal kepolisian.
“Oliver Weiss meninggal secara mengerikan di kamarnya. Tidak diketahui siapa pembunuhnya,” demikian info terbaru dari kepolisian yang dibacakan Buyung.
Jack terkejut.
Pak Mahmud menyela,”Bagaimana dengan Luna?”
“Tidak ada disebutkan. Pembunuhnya tidak diketahui!”
“Panggil Gatot dan Vivien,” kata Jack menyuruh Buyung.
Selang beberapa detik, ruang chef itu pun disesaki pasukan lengkap rumah makan.
“Sinyal kedua hilang. Sinyal pertama berkedip-kedip,” ujar Gatot tanpa diminta.
Dia sudah mendahului pertanyaan Jack perihal laser lemah yang telah ditembakkan Vivien itu.
Jack mengangguk. Dia selalu takjub dengan kerja Gatot yang antisipatif dan responsif itu.
“Yang pertama Luna, yang kedua Oliver,” lanjut Vivien.
“Artinya, Oliver mati, dan memang info dari kepolisian seperti itu. Sedangkan Luna, kemungkinan masih hidup,” sela Buyung tak mau kalah.
Memang tiga orang dapur itu adalah anak muda pilihan. Ketiganya hampir seumuran. Buyung yang paling tua, sudah masuk kepala tiga. Yang paling kecil Gatot yang bulan depan 27 tahun. Sedangkan Vivien tua sebulan dari Gatot.
Sejauh ini, ketiganya terlihat akur. Mungkin karena tiap-tiap mereka punya spesialis yang tidak sama.
Tapi, Gatot dengan Vivien lebih akrab. Buyung adalah penyendiri yang ramah. Dan Vivien adalah tipe cewek yang aktif, ramah dan hemat bicara. Namun kadang-kadang gadis itu bisa juga marah.
Sedangkan Gatot adalah lelaki paling ramah di situ. Dia menyediakan waktu untuk membantu siapapun. Tak peduli meskipun kerjaannya sedang banyak.
Buyung yang penyendiri, adalah lelaki hitam manis yang mukanya mirip petinju legendaris, Mohammad Ali. Saat ini mengaku belum punya pacar.
Gatot yang berkulit sawo matang adalah prototipe tampan orang Jawa. Bujangan ini memang asli Wonosari, Jogja.
Dan si bidadari, satu-satunya bidadari di situ, mempunyai kecantikan khas orang Sunda. Selain tubuh yang langsing dan sekal terawat, suara Vivien sangat khas. Renyah dan gurih!
Tetapi jarang sekali lima penghuni markas ini kumpul bersama. Sebab masing-masing punya kesibukan rutin yang menyita waktu.
Jack yang sejak tadi mengamati ketiganya, mengangguk-angguk. “Jika sinyalnya berkedip-kedip, apa maksudnya?”
“Tak hanya berkedip-kedip. Tapi juga hilang-hilang timbul,” imbuh Gatot.
“Apa bedanya,” tanya Jack.
“Jika sinyal hilang-hilang timbul, artinya dia bisa datang, dan bisa pergi. Atau menjauh, dan mendekat.”
Jack mengangguk-angguk lagi.
Gatot meneruskan,”Kalau berkedip-kedip, artinya energi sinyal itu terganggu secara periodik.”
Pak Mahmud menyela,”Bisakah energi seseorang yang ditembak laser lunak itu mempengaruhi sinyal?”
“Secara teori, tidak bisa. Kecuali bila kepadatan orang tersebut berubah-ubah,” tukuk Buyung sambil melihat Google untuk mencari referensi pendukung. Kesimpulan Artifisial Inteligence/AI Google lah yang dibacakannya.
“Ya…bila kepadatan sesuatu berubah, maka berubah pula kepadatan energinya. Semakin padat sesuatu, semakin rapat atau semakin padat energinya. Itulah yang membuat sensor di superkomputer Gatot berkedip-kedip,” tukuk Vivien menjelaskan.
“Coba dengan bahasa lebih sederhana,” perintah Pak Mahmud.
Vivien dan Gatot, juga Buyung terdiam. Mereka mencari bahasa yang mudah dimengerti.
Gatot mencoba menjelaskan,”Laser lunak yang sudah tertanam dalam tubuh Luna, akan merespon pancaran sinar dari sensor di superkomputer. Bila kepadatan Luna berubah-ubah, maka kepadatan energi dalam dirinya juga berubah-ubah. Saat tubuh makin padat, kepadatan energi meningkat, sehingga respon laser yang ditanam lebih kentara. Begitu sebaliknya!”
Jack mengangguk-angguk. Namun satu pertanyaan masih menggantung di benaknya,”Apa yang terjadi pada Luna, sehingga kepadatan berubah-ubah? Apakah Luna bisa merenggang ibarat awan yang bertebaran, sehingga makin lama makin samar, dan akhirnya tidak terlihat?”
Pak Mahmud tertawa,”Bisa jadi. Berarti Luna bisa msnghilang!”
Lima orang yang ada di ruang chef itu juga terkejut sekaligus takjub dengan kesimpulan yang dibuat Pak Mahmud. “Itu kan kesimpulan secara logika saja yang saya cerna dari semua penyampaian kalian tadi. Secara fisikanya, kalianlah yang lebih paham,” ujar Pak Mahmud.
“Nahhh, itulah jawabannya. Luna yang membunuh Oliver,” ucap Buyung sambil menjelaskan kembali informasi yang diintipnya dari portal kepolisian.
Jack sudah menyimpulkan hal yang sama sejak tadi. Namun, dia tidak tega menyimpulkannya. Dia membatin,”Apakah Oliver memperkosa Luna?”
Ngeri dengan dugaan itu, Jack mencoba memeriksa informasi kepolisian yang dikirim Buyung ke monitor utama di ruang chef. Dia membatin lagi,”Kerampangnya remuk!”
Tak terima jika mereka sampai ke kesimpulan bahwa Luna Sangir adalah pembunuh sadis, maka untuk mengalihkan pembicaraan, dia berkata,”Baiklah, kita kembali ke awal. Saya diminta pulang lantaran ada kasus menyangkut keamanan negara. Menyangkut Luna Sangir pula, yang kebetulan nama belakangnya sama dengan saya, Jack Sangir! Sekarang Luna menghilang. Dan sejauh ini, apa kondisi atau fakta, atau gejala yang membuat kita berkesimpulan ada masalah keamanan negara?”
Pak Mahmud tersenyum lebar. “Ayolah Jack, ini belum selesai. Bukankah ada beberapa bukti yang belum kita telusuri? Bagaimana menurut kalian?”
Yang ditanya hampir serempak mengiyakan.
Jack pun setuju. Dia ikut tersenyum. Malu. Lalu Jack menasehati dirinya sendiri,”Tak boleh pakai perasaan!”
“Vien, bagaimana dengan tablet dan barang-barang lainnya?”
“Kami sudah bahas bertiga terkait bukti-bukti yang ada. Boleh aku paparkan?”
Setelah diizinkan Vivien mulai menjelaskan kesimpulan mereka terhadap bukti-bukti. Vivien menjelaskan dengan memperagakan kesimpulan-kesimpula di layar monitor yang touch screen itu. Jarinya yang lentik menari-nari di layar sentuh:
Kesimpulan terdahulu, sebagai berikut:
1. Pena, cocok dengan DNA Mitchael Bonn
2. Kartu nama, cocok dengan DNA Mitchael Bonn (MB). Catatan: satu-satunya data MB hanya di M16. Terlampir foto terakhir.
3. Tisu, cocok dengan DNA Oliver Weiss
4. Helm, ada sidik jari Luna Sangir dan Ali Huseyn
5. Cocarde, ada sidik jari Luna Sangir dan Hana Wang
Dari tablet diperoleh bukti:
1. Video CCTV terhubung ke tablet milik Luna secara realtime >> Luna adalah gadis yang waspada
2. Ada rumus-rumus fisika di tablet >> terkait dengan getaran, gelombang, frekuensi dan energi
3. Ada foto pabrik oksigen cair >> ditelusuri, lokasinya di daerah Cileduk, Bekasi
4. Foto berempat >> orang yang sama dengan foto pigura (bukti terdahulu)
5. Foto lelaki setengah baya >> tidak diketahui, bahkan oleh V-face
6. narasi terkait MPAG >> mesin pengindera alam gaib >> relevan dengan rumus-rumus pada bukti nomor 1
7. Rumus-rumus fisika dalam huruf arab >> diterjemahkan, terkait masa lalu, masa datang >> Allah
8. Rumus-rumus tentang Medan energi >> ???
9. Gambar berbentuk helm >> bisa dikaitkan dengan bukti pertama
10. Lalat itu dipastikan adalah drone mikro >> prototipe drone mikro paling canggih >> jarak kendali paling jauh 200 meter >> pilot drone berada di kawasan ThamRes
“Dari crosscheck dengan bukti pertama, maka didapat kesimpulan; pertama, Luna sedang mengerjakan MPAG, diperkirakan di Cileduk itu. Kedua, Luna secara rahasia juga membuat alat semacam time tunnel. Demikian kesimpulan kami,” tutur Vivien bersemangat.
Pak Mahmud dan Jack mengangguk-angguk. Dua orang ini–selaku pelayan senior dan pelayan yunior di rumah makan–saling pandang.
Kemudian Jack lah yang memerintah,”Baik, buat sementara ini yang kita punya. Selanjutnya, kita harus mencari bukti bahwa semua ini ada kaitan dengan ancaman pada keamanan negara! Yung, kamu cari rekaman CCTV sebelum dan sesudah ledakan di PI. Lakukan penelusuran wajah dengan V-face.”
“Baik pak,” jawab Buyung, dan langsung ke dapur.
Jack meneruskan,”Gatot, kamu coba perbaiki helm yang rusak itu. Pertimbangkan bukti 6 dan 7 ini,” ujarnya sambil menunjuk layar.
Gatot mengangguk dan berlalu. Tentu saja dia ke dapur pula.
Lalu Jack melihat ke arah Vivien,”Oya, mana kotak lembayung itu?”
Vivien beranjak. Tak lama dia sudah meletakkan kotak kecil tersebut di atas meja.
Pak Mahmud tersandar di kursi kebesarannya sambil memegang keningnya yang mulai banyak kerutan. Kemudian dia memandang Vivien,”Lihat pabrik itu. Tapi sebelumnya, kamu cari info lebih dalam tentang Ali Husayn dan Hana Wang!”
Vivien mengangguk. Dia pun keluar.
Tinggal Pak Mahmud dan Jack di ruang chef. Keduanya sama-sama diam. Tetapi Jack tetap asyik membolak balik layar monitor.
Tiba-tiba Jack meraih intercom,”Yung, coba cari rekaman CCTV pasca polisi menemukan mayat Oliver.”
Tak lama setelahnya,”Itu linknya pak,”
Jack melihat layar monitor. Terlihat sekilas lelaki setengah baya melihat ke kamera CCTV, lalu setelahnya hanya punggungnya yang kelihatan. Tetapi jelas setelah itu mayat Oliver dibawa!
Pak Mahmud yang ikut nimbrung melihat link video itu kembali mengangguk ke arah Jack. Dan Jack segera menyentuh layar, mencari aplikasi V-face. Memasukkan video, dan klik! Aplikasi itu bekerja.
Berturut-turut lelaki itu terlihat di Soetta, di Bandara Internasional Birmingham, dan subuh tadi sudah di Soetta lagi!
V-face juga mengidentifikasi bahwa lelaki itu adalah Mitchael Bonn! Kendati tak diketahui alamatnya, namun V-face menyimpulkan sejumlah nama, lengkap dengan foto-foto. Itu adalah orang-orang yang tertangkap kamera–entah di CCTV, foto-foto di medsos, media pers dan sumber-sumber lain di seluruh dunia.
Tidak banyak. Hanya ada 15 foto.
Pak Hamid dan Jack memelototi layar monitor. Lalu keduanya saling pandang.
“Lihat, dia sudah mengamati Luna sejak tiga tahun lalu! Pertama ketika Luna ujian skripsi. Kedua saat ujian disertasi, dan terakhir foto di kedai kopi, di Boston!”
Jack selalu mengakui kecepatan berpikir Pak Mahmud. Juga ketajaman instingnya!
Pak Mahmud mengeluarkan hp,”Vien, kamu harus menyamar total. Sebagai lelaki sopir pengantar gas oksigen cair. Selain yang dua orang tadi, perhatikan jika ada orang ini, sudah kukirim ke hp mu. Mitchael Bonn namanya!”
Jack mengacungkan ibu jari pertanda salutnya. “Anda kian tajam saja pak.”
Pak Mahmud tertawa ramah. “Jack, kamu tahu kenapa aku suka bergaul dengan anak muda? Sedikit bergaul dengan yang seumuran, dan senang mendatangi orang tua?”
Jack menggeleng,”Mungkin bapak memang suka daun muda,” ujarnya bergurau dan tertawa.
Pak Mahmud ikut tertawa,”Bukan itu. Dengan anak muda, saya dapat suplemen energi, dengan yang lebih tua dapat suplemen pengalaman.”
“Kalau dengan seumuran?”
“Dapat lawan,” jawab Pak Mahmud sambil kembali tertawa.
Saat sedang tertawa, Jack teringat kotak kecil lembayung. Diraihnya kotak tersebut. Ada aroma bunga cempaka!
Pak Mahmud kembali ke kursinya. Jack menimang-nimang kotak. Ringan. Apa gerangan isinya?
Selang sesaat setelahnya, Pak Mahmud berdiri,”Saya ke sebelah. Lapar,” ujarnya.
“Ya… nanti saya menyusul,” tutur Jack sambil mulai meneliti kotak itu. Dia harus waspada. Jangan-jangan ada sesuatu yang membahayakan?
Sebab Luna bukanlah orang sembarangan! Gadis yang terlihat lembut itu ternyata cukup sadis juga. Mampu membunuh dengan ganas.
“Rasanya Luna yang dulu tak begitu. Dia malah cenderung mengalah, alih-alih melawan,” ujar Jack dalam hati sambil tersenyum, teringat Luna telanjang bulat dan tentang cacing-cacing yang dia masukkan diam-diam ke dalam tas anak perempuan itu. Dulu.
Sekarang, menurut Jack, Luna saat ini sudah jauh berbeda. Sadis. Dan sombong.
Sombong? Ya, Jack teringat pesan Luna tak lagi tiba di hp-nya. “Karena itu kau anggap Luna sombong,” gerutu Jack memarahi dirinya sendiri.
Mengira aman, Jack mulai membuka kotak kecil itu. Begitu terbuka, aroma bunga cempaka kian kentara. Entah mengapa, Jack suka wewangian itu.
Di dalamnya, ada secarik kertas bertulis tangan:
Ini adalah sticker ajaib, buatan teknisi di labor Kerajaan Gaib.
Bisa menghubungkan pikiran dua orang. Rekatkan di kening masing-masing. Maka akan terhubung pikirannya.
Jangan kuatir, begitu terpasang, sticker ini akan menyesuaikan dengan warna kulit.
Tapi keampuhannya segera hilang, bila yang memakainya punya niat buruk satu sama lain!
Sticker bisa bertahan berminggu-minggu. Paling lama tujuh bulan.
Gunakan dengan bijaksana.
Nenek Sirici
Ada tanda cap jempol di atas nama nenek Sirici.
Jack tertegun. Kerajaan Gaib? Rasanya dia pernah mendengar nama itu. Tapi di mana?
Mendadak Jack merinding. Bulu kuduknya berdiri. Lalu aroma bunga cempaka makin santer!
Tapi, bersamaan dengan itu, ada aroma yang sangat dikenalnya, aroma gaharu yang bercampur kemenyan!
Bersamaan dengan tibanya aroma gaharu itu, bau bunga cempaka pun lenyap perlahan!
“Assalamualaikum Angku,” ujar Jack antara terdengar dengan tidak.
Ada suara, hanya terdengar oleh Jack,”Waalaikum salam. Kotak itu sudah dibawanya. Biarkan saja. Dan gadis itu belum ternoda. Tapi dia merasa terhina! Tugas waang mengembalikan kehormatannya! Aku pergi. Assalamualaikum…”
“Waalaikum salam… Terima kasih, Angku,” jawab Jack pelan.
Tiba-tiba pintu terbuka. Pak Mahmud masuk sambil menggerutu,”Ditunggu-tunggu! Tapi masih di sini juga.”
Jack tersenyum. “Maaf pak,” jawabnya.
“Mana kotak tadi?”
“Ehhh…menurutku itu kotak yang isinya sangat pribadi. Jadi kusimpan saja. Biar bila bertemu, nanti saya kembalikan padanya,” tutur Jack sembari mengangkat hp nya yang bergetar.
Jack mendengar suara Vivien,”Pak… Orang itu baru saja datang di pabrik. Mitchael Bonn!”
“Tetap awasi dari mobil. Tunggu saya,” kata Jack seraya meraih jaket dan kunci mobil.
Pak Mahmud mengangguk saat Jack minta izin.
***
Memang saat itu Mitchael Bonn baru tiba di pabrik. Tapi dia berjalan kaki. Vivien tak tahu bahwa lelaki setengah baya itu meletakkan sesuatu di dinding mobil truk, persis di sisi sopir.
Vivien melihat sekilas. Lalu dia pura-pura memeriksa berkas yang terletak di bangku sisi kirinya.
Sedangkan lelaki itu berjalan gontai sambil memasang sesuatu di telinganya.
Vivien melihat lelaki bule setengah baya itu masih gagah. Jalannya tegap dan mantap. Bahunya masih kokok. Belum tanpa tanda ketuaan di gerak-geriknya. Lelaki itu masih tampak gesit.
Merasa aman, Vivien menelpon Jack. Gadis itu memastikan bahwa lelaki bule yang baru datang itu adalah Mitchael Bonn. Dan dia ingin segera melaporkannya pada Jack.
Vivien terpaksa bicara dengan suara agak keras untuk mengatasi suara bising. Dia lupa sedang menyamar sebagai laki-laki.
Akan halnya Mitchael Bonn, tadi dia sengaja menyuruh sopir parkir di tepi jalan. Dia sendiri berjalan kaki, memasuki gerbang pabrik.
Bukan tanpa sengaja. Saat akan berbelok, dia melihat sebuah truk pengangkut oksigen diparkir sedikit menyamping.
Naluri Mitchael Bonn yang cukup tajam itu merespon keadaan. Tambah lagi, secara logika, hanya orang asing atau sopir baru yang tidak tahu di mana harus parkir menunggu antrean.
Demi kewaspadaan, apalagi belakangan cukup banyak peristiwa tragis yang terjadi, lelaki yang memang adalah Mitchael Bonn itu pun rela berjalan kaki, berpanas-panas.
Begitu di earphone yang terhubung dengan alat sadap berbunyi, sesaat lelaki itu terkejut.
Dengan sigap dia berbalik dan bergegas ke balik gerbang. Dipanjatnya pagar. Lalu dengan mengendap-endap dia sudah sampao di sisi sopir truk.
Saat itu, Vivien baru selesai menelpon. Dia melihat ke depan. Tapi lelaki bule sudah tak kelihatan. Padahal kantor pabrik masih cukup jauh, dan tak mungkin dalam tempo kurang semenit dia sudah tiba di sana?
Vivien melongok ke luar jendela buat memastikan keberadaan lelaki bule.
Begitu kepala dan separoh bahunya muncul, Vivien merasa ada tusukan di pangkal telinga.
Dengan refleks, gadis itu mengayunkan tangan ke belakang. Namun ayunan tangan tak sempat terjadi. Karena pandangannya sudah gelap.
Micthael Bonn menaiki mobil. Didorongnya tubuh yang pingsan itu ke kiri. Lalu mobil dimajukan. Langsung ke gudang belakang. Bukan ke tempat antrean menunggu muatan.
Baru selupuluh menit berlalu, Jack teringat untuk menelpon Vivien. Tapi hp nya tidak aktif!
Dicobanya beberapa kali. Tetap tak aktif.
Lalu Jack menelpon rumah makan. “Tot, mungkin Vivien dalam bahaya. Kamu aktifkan pelacak GPS di hpnya. Lalu minta Buyung mencari denah pabrik. Kirim padaku. Lalu ajak Buyung, segera ke pabrik di Cileduk itu.”
Jack berkendara lebih kencang. Untung sekarang dia sudah di tol, sehingga bisa menekan gas dalam-dalam.
Sembari berkosentrasi dengan kemudi, Jack memerintahkan perangkat audio-video untuk aktif. “Tautan GPS,” ujarnya. Lalu,”Peta lokasi.”
Sedetik setelah itu muncul perangkat audio-video di dashboard. Ada bunyi alat traking dan jalanan yang ditandai menuju GPS yang dituju. Juga ada estimasi waktu.
“Rupanya mereka menahan Vivien di pabrik itu. Mungkin di gudang,” kata Jack bergumam sendiri.
Jack menoleh ke dashboard. Lalu dia meminggirkan mobil. Sekira seratus meter dari gerbang.
Sesaat diperhatikan denah pabrik. Dia mematut-matut.
Kemudian, setengah berlari, dia memutar ke arah rumah penduduk. Hingga dia berhenti di depan tembok berkawat-berduri.
Untunglah pagar itu tak terlalu tinggi.
Jack mengambil pisau lipat serbaguna di saku jaket. Itu adalah “alat dapur” ciptaan Gatot. Selain pisau, ada gunting dan obeng serta tang dalam satu rangkain. Terbuat dari baja pilihan.
Jack menggunting kawat berduri. Menyibakkan. Lalu dia memanjat ke sebelah.
Begitu menginjak tanah, dia melihat sekeliling. Tak ada orang. Karena dia berada di belakang bangunan yang memanjang. Itulah gudang yang diperkirakannya sebagai tempat untuk menahan Vivien.
Sebelum bergerak, Jack sempat memberi perintah via whats app pada Buyung.
Msuk dri dpan. Brtindk spt pngsaha truk yang mnta order. Sy mmriksa gudng, di blkg. Hati2
Kemudian Jack memeriksa tautan traking GPS. Tepat, alat itu berkedip-kedip cepat. Itu pertanda yang dituju sudah di depan.
Jack mulai bergerak. Dia mencari celah untuk mengintip. Namun tak satupun bersua.
Segera dia mengeluarkan hp kembali. Dengan berspekulasi bahwa Vivien memang ditahan di gudang itu, Jack mengubah rencana. Di menulis pesan whats app:
Skrg plan b. Bkin ribut di dpan!!!
Lalu Jack menunggu. Lagi-lagi dia melihat hp untuk memperhatikan pergerakan Gatot dan Buyung.
Ternyata di peta google, mereka berjarak dua menit lagi dari gerbang.
Jack menunggu.
Pada saat yang diperkirakannya, terdengar ledakan dari arah depan. Lalu terdengar langkah kaki orang berlarian. Termasuk dari dalam gudang.
Memanfaatkan kekacauan itu, Jack ikut berlari. Bukan ke depan. Tetapi dia berbelok ke pintu gudang.
Dengan hati-hati, Jack mengamati sambil bergerak perlahan dan waspada. Di tangan kanannya sepucuk pistol berperedam, siap menembak!
Sesaat hampir memasuki pintu gudang, Jack tertegun. “Kenapa terlalu mudah,” pikirnya.
Dia mengurungkan niat memasuki gudang itu. Kemudian meneliti ulang ke seantero ruang pandang.
Jack melihat CCTV di ujung pelataran gudang. “Bisa jadi di belakang juga ada. Berarti mereka tahu kedatanganku!”
Segera Jack menghambur lari menjauhi gudang.
Belum sepuluh meter, gudang itu meledak dengan suara yang memekakkan telinga.
Jack tersungkur. Tetapi dia masih sadar. Dia mencoba berdiri, persis saat sejumlah polisi mengepungnya!
“Angkat tangan. Buang senjata kau!”
Jack menurut. Lalu dia digiring memasuki ruangan pabrik.
Di ruang itu sudah menunggu Mitchael Bonn.
Buyung dan Gatot babak belur dengan tangan terikat.
Sedangkan Vivien lebih menyedihkan. Mukanya lebam. Darah berlepotan. Gadis itu sedang pingsan, tetapi diikat menengadah. Sehingga Jack dengan terpaksa mengalihkan pandangan dengan hati perih!
Jack digelandang menghadap Mitchael Bonn yang duduk tenang di kursi.
“Jangan kamu pikir aku bodoh! Sejak kalian mencari identitasku di M16, aku pun melakukan hal yang sama!”
Jack diam dan mencoba tenang.
Masih dengan bahasa ibunya, lelaki bule setengah baya itu melanjutkan kata-katanya,”Memang aku gagal, karena tidak memperhitungkan bahwa Luna justru menggunakan toko-toko di PI untuk eksperimen lorong waktu itu. Tetapi aku berhasil membaca keterkaitan. Dimulai dari aku mengenalimu saat di PI. Mulai saat engkau meneliti puing-puing itu!”
Kesal karena merasa waktu sengaja dibikin lambat oleh bule ini, Jack menyergah,”Apa maumu?”
Mitchael Bonn tertawa. Suara tawanya terdengar aneh dan seram. Entah suara hantu, atau bunyi burung gagak? Parau, dalam dan banyak sengaunya!
“Baiklah, rupanya engkau mau lekas-lekas. Aku pun ingin segera….”
Lelaki bule setengah baya itu diam sejenak. Mungkin dia ingin menata kalimat yang lebih pas.
“Pertama, perlu kamu ketahui, bahwa aku tahu bahwa engkau adalah Amir. Juga Jack Amarta Bangun, dan sekarang Jack Sangir. Yang kedua, aku juga tahu organisasi kalian!”
Tampaknya Mitchael Bonn ingin Jack tahu bahwa jaringan dan kekuasaannya tidak boleh dianggap enteng!
Kemudian lelaki bule setengah baya kembali berkata,”Begini. Engkau akan dapatkan tiga anak buahmu ini dalam keadaan selamat, sebagai gantinya bawakan aku Luna Sangir!”
Jack terlihat akan berkelit mencari dalih,”Kamu tak perlu menjawab dan beralasan. Paling lambat dua bulan dari sekarang!”
Mitchael Bonn berdiri dari kursinya. Dia memberi isyarat kepada polisi. Lalu Buyung, Gatot dan Vivien digiring menaiki mobil. Mobil polisi!
Jack tinggal sendiri. Dia tidak habis pikir, bagaimana mungkin orang asing ini bisa mengakses informasi rahasia tentang dirinya?
Bahkan orang itu juga tahu organisasinya. Berarti dia tahu pula tentang rumah makan?
Celaka! Bila markas paling rahasia itu pun diketahui oleh lelaki asing itu, sama saja dengan penghentian permanen operasi mereka.
Jack menarik nafas. Sungguh berat tugasnya. Mencari Luna itu tidaklah gampang!
Lalu, tiga orang temannya itu pun adalah tanggungjawab dirinya untuk menyelamatkan.
Dia terhenyak duduk di kursi yang ditinggalkan Mitchael Bonn.
Perlahan-lahan, dia merasa ada aroma bunga cempaka mendekat. Dan semakin dekat.
Sekarang laki-laki bernama kecil Amir itu merasa dikerubungi aroma bunga cempaka. Aroma itu serasa merasuk ke paru-paru. Juga merayap ke syaraf-syaraf.
Setelahnya, Jack serasa dibawa ke alam mimpi. Nun jauh di Gunung Kerinci…
Dukung Simpang Hati Luna Sangir
Jika di dalamnya ada yang menyentuhmu—
sebuah makna, kegelisahan, atau kesadaran—
maka dukunglah agar kisah ini terus hidup dan berlanjut.
Scan barcode di bawah ini.
Terima kasih telah berjalan di simpang ini.

(Pembaca yang budiman, kelanjutan cerita ini masih di dalam kepalaku. Sepekan sebelum hari ini, ada pikiran menyela; baiknya dibikin trilogi.
Aku pun patuh pada pikiran itu. Seringkali pikiran yang menginterupsi itu adalah laduni untukku.
Maka, tunggu ya; buku 2) RUANG HATI JACK SANGIR, dan pertautan buku (1) dan (2) dalam (3) HATI HATI LUNA & JACK SANGIR
Barakallahu fiikum.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…
[sela waktu, ruang pikir, rabu, 6/11/2024]
