Dialektika Batin
Cukup sering kita mendengar kalimat;
“tanya hatimu.”
Di Minangkabau bahkan ada istilah: “tapuak dado tanyo salero.”
Dalam Al-Qur’an pun Allah memastikan bahwa Dia begitu dekat dengan manusia. Bahkan lebih dekat daripada urat leher manusia itu sendiri.
Lalu, apa hubungannya dengan judul tulisan ini: Dialektika Batin?
Begini.
Sejak lahir ke dunia, manusia sudah dibekali “fitur batin” yang relatif sama:
akal,
nafs,
dan hati.
Nalareka menyebut ketiganya sebagai: fitur batin.
Akal membantu manusia memahami.
Nafs menggerakkan keinginan.
Sedangkan hati menjadi pusat keyakinan, rasa, dan kecenderungan batin.
Namun manusia tidak berhenti di sana.
Ada satu unsur lain yang jauh lebih mendasar: ruh.
Ruh adalah sesuatu yang “ditiupkan” Tuhan kepada manusia. Dalam banyak pemahaman keislaman, ruh mulai hadir ketika usia kandungan memasuki fase tertentu dalam perkembangan janin.
Dalam kerangka Nalareka, ruh bukan sekadar unsur yang menghidupkan.
Ruh adalah: sumber kesadaran dan dinamika batin manusia.
Dari ruh, manusia:
memiliki kesadaran diri,
mencari makna,
mengalami kegelisahan,
merasakan ketenangan,
hingga terdorong mencari Tuhan.
Ketika ruh mengekspresikan diri, ekspresi itu bisa tampil sebagai:
nafs,
dipahami oleh akal,
diyakini oleh hati,
bahkan dirasakan lebih dalam melalui sisi batin yang paling sunyi.
Karena itu manusia sering mengalami pergulatan batin.
Akal berkata: “ini logis.”
Nafs berkata: “ini menyenangkan.”
Hati berkata: “ini terasa benar.”
Namun ketiganya tidak selalu sejalan.
Di situlah dialektika batin terjadi.
Kadang manusia tahu sesuatu itu salah secara akal, namun tetap melakukannya karena nafs terlalu dominan.
Kadang hati terasa gelisah, tetapi akal sibuk mencari pembenaran.
Kadang pula seseorang tampak berhasil di luar, namun kosong di dalam.
Manusia modern sering mengalami kelelahan batin bukan karena kurang aktivitas, tetapi karena terlalu banyak pertentangan di dalam dirinya sendiri.
Dan ironisnya, banyak manusia lebih mengenal dunia luar dibanding dirinya sendiri.
Ia tahu berita dunia.
Namun asing terhadap isi batinnya.
Ia mampu membaca orang lain.
Namun gagal membaca dirinya sendiri.
Nalareka mencoba melihat manusia bukan hanya sebagai tubuh dan logika, tetapi sebagai makhluk batin yang terus berdialektika.
Karena itu muncul berbagai layer kondisi batin:
noise,
void,
draw,
dan berbagai keadaan lainnya.
Bukan untuk memberi label pada manusia.
Tetapi agar manusia mulai memahami: apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam dirinya.
Sebab sebagian jawaban hidup memang tidak selalu ditemukan di luar sana.
Kadang manusia hanya perlu diam sejenak… lalu mulai mendengar isi batinnya sendiri.
Masuk ke Pintu Nalareka untuk membaca kondisi batin dan engine Nalareka:
Pintu Nalareka
Jelajahi novel dan semesta cerita Nalareka:
Novel Nalareka
Baca artikel dan refleksi teisme lainnya:
Teisme Nalareka
Lihat dapur dan belakang layar pengembangan Nalareka:
Dapur Nalareka
Ikuti Survei Nalareka:
Survei Nalareka
Atau masuk langsung ke rekaB — simulasi batin Nalareka:
rekaB – Simulasi Batin
