Goro Kenapa Hilang?

Di banyak kampung Minangkabau dahulu, goro bukan sekadar kerja bersama. Ia adalah cara masyarakat menjaga keseimbangan batin sosial.

Orang datang tanpa undangan resmi.
Tanpa proposal.
Tanpa honor.
Tanpa publikasi.

Mereka membawa:

tenaga,

waktu,

makanan,

bahkan canda.

Semua bergerak karena satu kesadaran: kampung tidak akan hidup jika semua hanya ingin dilayani.

Namun perlahan, semangat itu mulai menipis.

Hari ini, banyak orang masih ingin menikmati hasil bersama, tetapi semakin sedikit yang rela memikul beban bersama.

Mengapa?

Mungkin karena batin manusia modern semakin sulit diselaraskan.

Kita hidup di zaman yang terus melatih manusia untuk:

menghitung untung,

mengejar pengakuan,

menonjolkan diri,

dan menanyakan: “Apa manfaatnya untuk saya?”

Akibatnya, memberi perlahan berubah menjadi transaksi.

Padahal goro lahir dari cara pandang berbeda: bahwa membantu orang lain sebenarnya juga sedang menjaga diri sendiri.

Sebab masyarakat bukan kumpulan individu yang berdiri sendiri. Kita saling mempengaruhi:

emosi,

keamanan,

kenyamanan,

bahkan arah kehidupan.

Ketika budaya memberi melemah, masyarakat perlahan berubah menjadi ruang kompetisi batin. Semua ingin menerima, sedikit yang rela menopang.

Di titik itulah:

hubungan sosial menjadi dingin,

kepercayaan menurun,

solidaritas melemah,

dan manusia mulai merasa sendirian di tengah keramaian.

Mungkin karena itu, hilangnya goro sebenarnya bukan sekadar hilangnya tradisi. Ia bisa menjadi tanda bahwa penyelarasan batin sosial ikut melemah.

Padahal ketenangan masyarakat sering lahir bukan dari kekayaan besar, melainkan dari rasa saling menjaga.

Goro mengajarkan satu hal sederhana: bahwa hidup bersama membutuhkan manusia yang lebih siap memberi daripada menuntut.

Dan mungkin, masyarakat akan kembali kuat bukan ketika semua menjadi kaya, tetapi ketika manusia kembali menemukan makna kebersamaan tanpa selalu menghitung balasan.

Baca juga:

Teisme Nalareka

Layer Noise Nalareka

Layer Chaos Nalareka

Update Wawasan Nalareka