Pola, Algoritma dan Batin
Aku berpikir, adakah sesuatu di muka bumi ini yang nirpola? Tidak berpola?
Mungkin perlu riset panjang untuk menjawabnya secara ilmiah. Tetapi setidaknya, ada satu hal yang terasa cukup jelas: sejauh apa pun sesuatu bergerak, selama apa pun sesuatu berlangsung, akhirnya akan muncul jejak-jejak yang membentuk pola.
Ada pola yang cepat terlihat. Ada pula pola yang baru tampak setelah perjalanan panjang.
Air membentuk alur. Angin membentuk arah. Musim membentuk siklus. Bahkan dedaunan, sarang lebah, migrasi burung, hingga cara akar mencari air—semuanya menunjukkan keteraturan tertentu.
Lalu manusia?
Manusia mungkin makhluk paling kompleks dalam urusan pola. Sebab ia bukan hanya bergerak secara biologis, tetapi juga psikologis, sosial, spiritual, bahkan digital.
Kebiasaan melahirkan pola. Pikiran membentuk pola. Lingkungan menciptakan pola. Interaksi membangun pola. Trauma memunculkan pola. Kesukaan membentuk pola. Bahkan hal-hal yang dianggap spontan pun, sering kali hanyalah pola yang belum disadari.
Karena itu, semakin lama seseorang hidup, sesungguhnya semakin terlihat “algoritma dirinya”.
Ia mulai mudah ditebak.
Bagaimana ia marah. Bagaimana ia mencintai. Bagaimana ia bereaksi. Bagaimana ia mengambil keputusan. Bagaimana ia menghadapi tekanan.
Semua mulai membentuk pola.
Di era digital hari ini, perusahaan teknologi membaca pola itu lewat data. Algoritma media sosial bekerja karena manusia ternyata cukup konsisten dalam perilaku batinnya. Apa yang sering dilihat, disukai, dikomentari, dicari, hingga ditonton berulang kali, perlahan membentuk peta psikologis manusia.
Tetapi sesungguhnya, jauh sebelum algoritma digital lahir, batin manusia telah lebih dulu memiliki algoritmanya sendiri.
Dalam diri manusia, ada banyak fitur yang terus berdialektika.
Ada akal yang berpikir. Ada hati yang meyakini. Ada nafs yang menginginkan. Ada sirr—ruang batin terdalam—yang kadang sulit dijelaskan kata-kata.
Semua fitur itu saling memengaruhi.
Ketika nafs terlalu dominan, pola hidup bisa bergerak ke arah impulsif. Ketika akal terlalu dominan tanpa kejernihan hati, manusia bisa menjadi dingin dan kehilangan empati. Ketika hati lemah, keyakinan mudah digoyang suasana. Dan ketika seluruh fitur batin tidak selaras, manusia hidup dalam kebisingan internal.
Di titik inilah pola batin terbentuk.
Seseorang yang terus memelihara kemarahan akan membentuk pola reaktif. Seseorang yang terus melatih syukur akan membentuk pola tenang. Seseorang yang terus memberi ruang bagi kebencian akan membentuk pola curiga terhadap dunia.
Maka, pola bukan sekadar kebiasaan luar. Tetapi hasil dialektika panjang dalam batin manusia.
Dan menariknya, pola yang terus diulang akhirnya berubah menjadi karakter.
Karakter lalu membentuk keputusan. Keputusan membentuk nasib perjalanan hidup.
Karena itu, mungkin pertanyaan terpenting bukan lagi: “Apakah manusia punya pola?”
Tetapi: “Pola seperti apa yang sedang dibangun batin kita setiap hari?”
Baca juga:
Landasan Nalareka
Teisme dan Kesadaran Batin
Algoritma, Manusia dan Kesadaran Modern