Puzzle; Selaras Pemahat Candi

Aku masih di Yogyakarta. Sambil menghadiri hajatan keluarga, aku menyempatkan diri kembali mengunjungi Candi Prambanan.

Belasan tahun lalu aku juga pernah berdiri di hadapan Candi Borobudur. Dan setiap kali datang ke tempat seperti itu, selalu ada satu rasa yang sulit dijelaskan: takjub.

Bukan sekadar karena candinya besar.

Tetapi karena jutaan batu bisa tersusun begitu presisi hingga menjadi mahakarya peradaban.

Di Prambanan, di Borobudur, bahkan di candi-candi kecil di sekitarnya, batu-batu itu tidak sekadar ditumpuk. Banyak yang memiliki relief, ukiran, pola, dan posisi tertentu. Satu batu salah tempat saja, mungkin seluruh struktur menjadi tidak selaras.

Lalu aku berpikir: bagaimana sang arsitek utama membagi pekerjaan kepada ratusan atau mungkin ribuan pemahat?

Bagaimana contoh relief dikirim?

Bagaimana mereka memastikan setiap ukiran akhirnya cocok ketika disusun?

Apalagi kala itu:

belum ada komputer,

belum ada CAD,

belum ada AI,

belum ada teknologi digital seperti hari ini.

Adikku lalu berkata pendek:

“Kan itu puzzle.”

Aku terdiam.

Ya. Puzzle.

Para pemahat sebenarnya sedang membuat potongan-potongan puzzle.

Lalu sang arsitek bersama para pekerja menyusun puzzle raksasa itu menjadi bangunan yang selaras.

Dan semakin dipikirkan, semakin terasa: itu bukan pekerjaan mudah.

Bahkan mungkin luar biasa sulit.

Sebab mereka bukan hanya menyusun batu. Mereka menyusun keteraturan.

Mereka menyusun keselarasan.

Dan tiba-tiba aku berpikir: jangan-jangan batin manusia juga seperti itu.

Akal, hati, dan nafsu mungkin adalah puzzle.

Kadang akal tahu mana yang benar, tetapi hati belum siap.

Kadang hati ingin tenang, tetapi nafsu menarik ke arah lain.

Kadang nafsu penuh tenaga, tetapi akal kehilangan arah.

Mungkin karena itulah manusia sering merasa: hidupnya tidak runtut.

Tidak sinkron.

Tidak selaras.

Padahal masalahnya bukan karena seluruh hidup rusak.

Bisa jadi hanya karena satu “potongan puzzle batin” belum berada di tempat yang tepat.

Dalam kerangka Nalareka, keselarasan bukan berarti mematikan nafsu atau menghapus akal. Tetapi menempatkan semuanya pada posisi yang tepat.

Akal membaca pola.

Hati membaca makna.

Nafsu menyediakan energi gerak.

Jika tiga unsur itu tersusun harmonis, manusia mungkin menemukan bentuk terbaik dirinya.

Persis seperti para pemahat candi dahulu: setiap batu memiliki tempat, setiap relief memiliki arah, dan setiap bagian baru bermakna ketika tersusun utuh.

Karena itu, memahami diri mungkin bukan soal mencari sesuatu yang baru.

Melainkan menyusun ulang puzzle yang sejak awal sudah ada di dalam diri kita.

Eksplorasi Nalareka:

Nalareka Sport

NewsJ Nalareka

Navisphere Sitinjau Lauik