Kerja Itu Ibadah, Rezeki Itu Berkah
“Kerja itu ibadah, rezeki itu berkah.”
Judul itu aku catat dari sebuah meja kecil di depan losmen sederhana, di sebuah gang sempit kawasan Malioboro, Yogyakarta.
Meja bercat hijau itu sangat kecil—hanya sebilah papan sepanjang satu meter. Ada dua kursi kayu bulat. Di situlah “lobi” Losmen Sastro Hadi berada; tempat tamu check in, bertanya kamar, atau sekadar berbincang.
Namun bukan tentang kesederhanaan losmen itu yang hendak aku ceritakan.
Melainkan tentang tulisan-tulisan kecil yang ditempel si empunya losmen di dinding-dinding kusam bangunan itu.
Salah satunya berbunyi:
“Jika kau ingin mencari satu orang untuk mengubah hidupmu, carilah cermin.”
Kalimat sederhana. Tetapi entah mengapa terasa menampar dengan tenang.
Karena tertarik dengan tulisan-tulisan itu, aku sempat bertanya pada Mas Bambang—lelaki bersahaja yang mengaku bekerja di losmen tersebut. Ia juga bercerita bahwa “Sastro Hadi” adalah nama kakeknya.
Raut wajahnya biasa saja. Tidak tampak seperti motivator. Tidak pula seperti orang yang sibuk bicara filsafat kehidupan. Namun justru pada kesederhanaan itulah terasa sesuatu yang dalam.
Dan yang paling membuat aku takzim adalah ketika kami diserahi kunci losmen.
Mas Bambang ternyata harus pergi ke Gunung Kidul.
Tak ada cemas. Tak ada waswas. Tak ada tatapan curiga. Ia pergi begitu saja mengendarai sepeda motor, meninggalkan kami—orang yang baru hitungan menit dikenalnya—untuk menjaga losmennya.
Aku sempat terpaku.
Bagaimana mungkin seseorang bisa setenang itu di zaman ketika manusia saling mencurigai bahkan kepada tetangga sendiri?
Bukankah kami bisa saja kabur? Atau membawa barang-barang losmen? Atau diam-diam menyewakan kamar kepada orang lain dan menerima uang tunai sendiri?
Namun tak tampak sedikit pun prasangka di wajah lelaki itu.
Dan di situlah aku seperti menemukan pelajaran kecil tentang keselarasan batin.
Barangkali Mas Bambang bukan orang kaya. Losmennya pun sederhana. Gangnya sempit. Lobinya kecil. Tetapi tampaknya ada sesuatu yang sudah selesai di dalam dirinya.
Ia tidak tampak diperbudak kecemasan.
Tidak tampak hidup dalam ketakutan kehilangan.
Tidak tampak memandang manusia lain sebagai ancaman.
Mungkin karena akalnya, hatinya, dan nafsunya mulai menemukan titik selaras.
Dalam kehidupan modern, manusia sering cerdas secara akal tetapi gelisah secara hati. Banyak pula yang rajin bekerja, namun jiwanya penuh ketakutan. Ada yang hidup berkecukupan tetapi terus merasa kurang. Ada yang kaya, namun sulit percaya pada siapa pun.
Karena kesibukan dunia kadang membuat batin kehilangan pusatnya.
Padahal ketika batin mulai selaras, hidup terasa lebih ringan.
Orang tidak lagi terlalu sibuk mengontrol segala hal.
Tidak terlalu takut rugi.
Tidak terlalu curiga pada semua orang.
Dan mungkin dari situlah keberkahan mulai tumbuh.
Sebab keberkahan tampaknya bukan sekadar soal bertambahnya angka, melainkan bertambahnya ketenteraman.
Rezeki yang berkah bukan hanya rezeki yang banyak, tetapi rezeki yang membuat hati lapang.
Kerja yang menjadi ibadah bukan hanya pekerjaan besar, tetapi pekerjaan yang dijalani tanpa merusak nurani.
Barangkali itu sebabnya wajah Mas Bambang tampak ringan.
Ia bekerja, tetapi tidak tampak dibebani pekerjaannya.
Ia menjaga losmen, tetapi tidak diperbudak ketakutan kehilangan.
Ia mempercayai hidup sebagaimana ia mempercayai manusia.
Dan mungkin benar, ia telah menemukan “cermin” itu.
Bahwa perubahan terbesar bukan dimulai dari dunia luar, melainkan dari keberanian menata isi diri sendiri.
Karena manusia yang selesai dengan dirinya sendiri biasanya tidak terlalu gaduh menghadapi dunia.
Dan boleh jadi, dunia hari ini bukan hanya kekurangan teknologi, kekurangan uang, atau kekurangan kecerdasan.
Dunia sedang kekurangan manusia-manusia yang batinnya selaras.
Manusia yang bekerja dengan tenang.
Manusia yang mencari rezeki tanpa kehilangan kemanusiaannya.
Manusia yang tidak kaya prasangka.
Manusia yang masih percaya bahwa kerja bisa menjadi ibadah, dan rezeki bisa menjadi berkah.
—
Baca juga:
Sport Nalareka
Navisphere Nalareka
NewsJ Nalareka