Jogokariyan dan Selaras Masyarakat

Kamu tahu ada masjid yang saldo kasnya diupayakan selalu nol?

Itulah Masjid Jogokariyan yang terletak di kawasan Mantrijeron, Yogyakarta.

Bangunannya biasa-biasa saja. Bahkan mungkin sangat biasa jika dibandingkan dengan kiprahnya yang luar biasa. Sebuah masjid dengan arsitektur sederhana, namun memiliki tata kelola yang menarik perhatian banyak orang.

Apanya yang luar biasa?

Masjid Jogokariyan dikenal bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pemberdayaan masyarakat. Aktivitas keagamaan berjalan berdampingan dengan kegiatan sosial, pendidikan, dan ekonomi umat.

Di sana, masjid tidak sekadar menjadi tempat orang datang untuk salat, lalu pulang. Masjid menjadi ruang bersama yang hidup. Tempat warga bertemu, berdiskusi, saling membantu, hingga menyelesaikan berbagai persoalan sosial di lingkungannya.

Lalu apa kaitannya dengan Nalareka?

Kaitannya sederhana.

Masjid Jogokariyan menunjukkan bahwa kepercayaan lahir dari keselarasan.

Pengurus yang amanah melahirkan kepercayaan masyarakat. Kepercayaan masyarakat melahirkan partisipasi. Partisipasi melahirkan keberkahan sosial yang terus berputar.

Karena itu, meskipun saldo kas sering diupayakan mendekati nol akibat cepat disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan, bantuan dan donasi justru terus berdatangan.

Para dermawan percaya bahwa uang mereka tidak berhenti di rekening, melainkan bergerak menjadi manfaat.

Namun sesungguhnya keberhasilan Jogokariyan bukan hanya karena pengurusnya.

Keberhasilan itu lahir dari keselarasan antara pengurus dan masyarakat.

Masjid tidak berdiri sendiri.

Masyarakat merasa memiliki masjid.

Dan masjid merasa bertanggung jawab terhadap masyarakat.

Dalam bahasa Nalareka, inilah yang disebut sebagai keselarasan komunal.

Keselarasan komunal tidak muncul tiba-tiba. Ia bermula dari keselarasan personal.

Ketika seseorang mampu menyelaraskan akalnya untuk memahami, hatinya untuk meyakini, dan nafsunya untuk bertindak secara proporsional, maka ia menjadi pribadi yang dapat dipercaya.

Ketika banyak pribadi seperti itu berkumpul dalam satu komunitas, lahirlah budaya saling percaya.

Dan ketika budaya saling percaya tumbuh, energi kolektif masyarakat akan bergerak jauh melampaui kemampuan individu-individunya.

Itulah sebabnya mengapa sebuah kampung kecil dapat dikenal hingga tingkat nasional.

Bukan karena bangunannya.

Bukan karena besarnya anggaran.

Melainkan karena adanya resonansi nilai yang hidup di tengah masyarakat.

Dalam perspektif teisme Nalareka, Tuhan menciptakan manusia bukan hanya sebagai individu, tetapi juga sebagai makhluk sosial yang saling memengaruhi.

Keselarasan yang tumbuh dalam satu jiwa dapat menjalar ke keluarga.

Keselarasan dalam keluarga dapat menjalar ke lingkungan.

Keselarasan dalam lingkungan dapat menjalar menjadi budaya masyarakat.

Karena itu, pembangunan masyarakat sejatinya bukan hanya soal infrastruktur fisik, tetapi juga pembangunan keselarasan batin antarwarga.

Masjid Jogokariyan memberikan pelajaran bahwa ketika amanah, kepercayaan, dan kepedulian bertemu dalam satu ruang sosial, maka masyarakat tidak lagi bergerak sendiri-sendiri.

Mereka bergerak bersama.

Dan ketika masyarakat bergerak bersama, sering kali muncul kekuatan yang jauh lebih besar daripada jumlah orang-orang yang ada di dalamnya.