Kurban dan Selaras Umat

Di mana ada peluang, di situ ada uang.

Kamu bayangkan jika peluang itu bernama hewan kurban.

Mulai dari membeli sapi, memilih pedagang, mengurus distribusi, menyembelih, membagi daging, mengelola jeroan, hingga memanfaatkan kulit hewan kurban yang tidak dibagikan—semuanya memiliki nilai ekonomi.

Semuanya adalah peluang.

Dan di balik peluang, selalu ada potensi keuntungan.

Karena itu, tak jarang kurban yang seharusnya menjadi ibadah justru menjadi ruang gesekan.

Siapa yang akan membeli hewan?

Siapa yang dipercaya menjadi panitia?

Siapa yang mengelola kulit sapi?

Ke mana uang hasil penjualan kulit?

Apakah pembagiannya adil?

Pertanyaan-pertanyaan itu sering muncul hampir setiap tahun.

Bahkan kadang-kadang, yang diperdebatkan bukan lagi soal ibadahnya, melainkan soal peluang ekonominya.

Padahal kurban sejatinya adalah latihan melawan nafsu.

Nabi Ibrahim diperintahkan mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya. Dan dalam konteks kehidupan modern, sering kali yang paling sulit dikorbankan bukan hanya harta, tetapi juga kepentingan diri sendiri.

Karena itu, kurban bukan sekadar menyembelih hewan.

Kurban adalah menyembelih keserakahan.

Menyembelih keinginan untuk selalu mendapat bagian lebih besar.

Menyembelih hasrat untuk menguasai peluang sendirian.

Menyembelih ego yang ingin selalu menjadi pusat keputusan.

Dalam perspektif Nalareka, konflik kurban sering kali bukan lahir karena kurangnya uang, tetapi karena tidak selarasnya akal, hati, dan nafsu.

Akal memahami bahwa kurban adalah ibadah.

Hati meyakini bahwa kurban adalah penghambaan.

Namun nafsu kadang berbisik tentang keuntungan, pengaruh, dan kepentingan.

Ketika nafsu mengambil kendali, maka ibadah bisa berubah menjadi arena perebutan.

Di sinilah pentingnya selaras umat.

Selaras umat bukan berarti semua orang harus sama pendapat.

Bukan pula berarti semua orang harus mendapatkan bagian yang sama.

Selaras umat adalah keadaan ketika kepentingan bersama ditempatkan di atas kepentingan pribadi.

Ketika pengurus lebih sibuk memikirkan keberkahan daripada keuntungan.

Ketika panitia lebih fokus pada amanah daripada peluang.

Ketika masyarakat lebih mengutamakan persaudaraan daripada kecurigaan.

Lihatlah bagaimana Masjid Jogokariyan membangun kepercayaan jamaah melalui transparansi dan pengelolaan yang amanah. Prinsip saldo nol yang mereka kenal lahir dari keyakinan bahwa dana umat harus segera kembali kepada umat dalam bentuk manfaat nyata.

Kepercayaan seperti itu tidak muncul dari laporan keuangan semata.

Ia lahir dari keselarasan.

Ketika pengurus, jamaah, dan masyarakat bergerak dalam frekuensi nilai yang sama.

Begitu pula dengan kurban.

Jika pengurus transparan, masyarakat akan percaya.

Jika masyarakat percaya, kecurigaan akan berkurang.

Jika kecurigaan berkurang, energi umat tidak habis untuk konflik internal.

Dan ketika energi umat tidak habis untuk konflik, ia bisa berubah menjadi kekuatan sosial yang besar.

Dalam teisme Nalareka, keselarasan umat bukan hanya persoalan organisasi.

Ia adalah persoalan ruhani.

Sebab masyarakat yang dipenuhi nafsu serakah akan mudah pecah meski memiliki sumber daya besar.

Sebaliknya, masyarakat yang mampu mengendalikan nafsunya akan tetap kuat meski memiliki sumber daya terbatas.

Mungkin karena itu, esensi kurban bukan terletak pada darah yang mengalir atau daging yang dibagikan.

Melainkan pada sejauh mana manusia berhasil mengalahkan dirinya sendiri.

Karena sesungguhnya, sapi terbesar yang harus disembelih setiap tahun sering kali bukan yang berada di kandang.

Melainkan yang berada di dalam diri.

Baca juga:

Selaras Jenjang Berjenjang

Resonansi Antar Jiwa

Jogokariyan dan Selaras Masyarakat

Dialektika Akal, Hati, dan Nafsu

Prediksi dan Psikologi Komunitas Sport Nalareka

Game, Strategi, dan Simulasi Kehidupan