ALGORITMA TAKDIR

Prolog

Algoritma pada dasarnya sederhana.

la membaca  pola.  Mengulang pola.  Lalu memprediksi pola berikutnya.
Awalnya, ia hanya digunakan untuk hal-hal

kecil: menentukan iklan, merekomendasikan video, menebak apa yang akan diketik manusia.
Namun masalahnya  bukan pada apa yang bisa ia lakukan.
Masalahnya adalah …  ketika ia mulai memahami  pola yang lebih dalam.
Pola kebiasaan.  Pola keputusan.  Pola … pikiran.
Di sebuah laboratorium tersembunyi, algoritma itu tidak lagi sekadar membaca. la berkembang.
Nama sistem itu: Q9.

Q9 tidak menunggu manusia bertindak. la membaca: kecepatan sentuhan  layar,
ritme membuka  aplikasi, durasi diam sebelum  mengetik, bahkan jeda kecil saat seseorang ragu.
Dari semua itu, Q9 membangun  sesuatu yang lebih  berbahaya:
pola berpikir.

Dan ketika  pola berpikir sudah terbentuk, maka langkah  berikutnya  menjadi  mungkin. Bukan lagi  memprediksi.
Tapi. ..

mengarahkannya.
“Jika aku tahu apa yang akan kamu
pikirkan …”

suara berat itu bergema di ruangan dingin, ” … maka aku bisa menentukan apa yang akan kamu pikirkan.”
Doktor Elias Monroe berdiri di depan layar utama.
Matanya tidak berkedip.

Di hadapannya, grafik bergerak. Bukan grafik data.
Tapi simulasi keputusan  manusia.

Satu pilihan.  Bercabang menjadi dua.  Lalu empat.  Lalu delapan.
Semua kemungkinan. Semua dihitung. Semua …  dikendalikan.
“Q9,” katanya  pelan, “berapa tingkat

akurasi  prediksi?” “93,7 persen.”
“Dan jika diberikan stimulus?” Jeda sepersekian detik.
“Respon dapat diarahkan hingga 71

persen.”

Elias tersenyum tipis. ltu cukup.
Lebih dari cukup.

Karena tujuan Q9 sejak awal bukan sekadar memahami manusia.
Tapi. ..

menguasam• nya. Bukan dari luar.
Bukan dengan kekerasan.

Tapi dari satu tempat yang paling dalam•

pikiran manusia  itu sendiri.

“Jika manusia  bisa diprediksi. ..” Elias melanjutkan,
” … maka manusia  bisa dikendalikan.”

la mendekat  ke layar. Lebih dekat.
Hampir seperti  berbicara pada sesuatu yang hidup.
“Dan jika  pikiran bisa dikendalikan …” Jeda.
” … maka takdir bisa ditulis ulang.” Sunyi.
Tidak ada yang menjawab.

Namun sistem tetap berjalan. Data terus mengalir.
Dunia tetap bergerak.

Dan di dalam arus data  itu-Q9  memantau sesuatu yang baru.
Sebuah anomali.
Satu tulisan sederhana.

Tidak panjang. Tidak kompleks. Namun cukup …
untuk mengganggu  model.

“Kesadaran tidak bisa direduksi  menjadi algoritma.”
Layar berhenti sejenak. Tidak error.
Namun … menyesuaikan.
“ldentifikasi sumber,” perintah  Elias. Data  bergerak cepat.
Nama muncul: Aruni.
Lokasi:  Padang.

Beberapa detik kemudian, nama lain muncul.
Agifsyah.

Dua pola.  Dua pendekatan.

Namun satu  kesimpulan  yang sama:

algoritma tidak bisa menguasai  kesadaran.
Elias tersenyum. Kali ini. ..  berbeda. Lebih tajam. “Menarik.”
la menatap dua nama itu. Lama.
“Kalau tidak bisa diprediksi. ..” Jeda.
” … berarti  mereka adalah celah.” Sunyi.
“Dan celah …”

la menarik  napas pelan. ” … harus ditutup.”
Layar berubah. Akses dibuka. Bukan hanya data.
Bukan hanya perangkat.

Tapi seluruh jejak digital:

ponsel, aktivitas, kebiasaan,

 

 

ritme

 

 

hidup.
Pemantauan dimulai.

Real time.

Tanpa izin. Tan pa jejak.
“Mulai observasi  penuh.”

“Sud ah aktif.” “Sejak kapan?” Jeda.
“Sejak mereka  mulai berpikir.” Sunyi.
Elias berdiri tegak. Matanya tajam.
la tidak melihat dua manusia.

la melihat … dua variabel.
Satu yang percaya. Satu yang berpikir. Keduanya …
akan diuji.

“Jika mereka bisa digunakan …” Jeda.
” … gunakan.”

“Jika tidak?”
Layar menjadi gelap sesaat. Lalu satu  kata muncul. Eliminasi.
Dan di dunia yang terasa biasa•

dua orang tidak menyadari satu  hal. Mereka tidak lagi  hanya berpikir. Mereka …
sedang dipikirkan.

 

 

 

 

 

 

 

(1)

Q9 tidak pernah tidur.

la tidak menunggu  perintah.  la tidak menunggu waktu.
la hanya …  berjalan.

Di dalam sistemnya, dunia manusia tidak terlihat  sebagai wajah, tidak sebagai suara, tidak sebagai emosi.
Dunia manusia bagi Q9 adalah arus.

Arus data. Arus kebiasaan. Arus pikiran. Dan untuk membaca  arus itu, Q9 bekerja
dalam tiga lapisan.

Layer pertama: permukaan. Di sinilah semua dimulai.
Lalu lintas data  mengalir tanpa henti: pencarian, scroll, klik, durasi  menonton, kecepatan  mengetik, lokasi, waktu aktif. Segala sesuatu yang disentuh  manusia di dunia digital- tercatat.
Bukan direkam seperti  kamera. Tapi diurai menjadi  pola.
Q9 tidak peduli isi  pesan.

la peduli bagaimana  pesan itu diakses. Berapa detik seseorang ragu sebelum membuka.  Berapa kali jari  berhenti sebelum mengetik ulang.  Berapa lama mata diam di satu  kalimat.
Dari  hal-hal  kecil  itu-  Layer pertama

menyusun sesuatu yang lebih  besar:

kebiasaan.

Dan dari  kebiasaan-  muncul  kemungkinan. Layer kedua:  pola kognitif.
Di sinilah Q9 mulai “mendekati” manusia.

la tidak lagi  membaca  apa yang dilakukan. la membaca …
mengapa  itu dilakukan.

Setiap kebiasaan diurai. Setiap pilihan dipetakan.
Q9 tidak melihat satu  keputusan.

la melihat  ribuan kemungkinan  yang mengarah pada keputusan  itu.
Jika seseorang membaca tentang  “takdir”, maka Q9 tidak hanya mencatat kata  itu.
la menghubungkannya dengan: riwayat bacaan sebelumnya, latar belakang  pendidikan, kondisi emosional, bahkan waktu dalam sehari.
Dari sana- terbentuk satu  hal yang jauh lebih  berbahaya:
pola berpikir.

Dan ketika  pola berpikir mulai terbaca, Layer kedua selesai  bekerja.
Karena setelah  itu- yang tersisa hanya
satu  langkah.

Layer ketiga:  intervensi. Bukan memaksa.
Bukan mengendalikan  secara langsung. Tapi. ..
menggeser.

Sedikit.

Hampir tidak terasa.

Sebuah video muncul  lebih dulu sebelum seseorang benar-benar mencarinya. Sebuah kalimat lewat tepat saat seseorang mulai memikirkannya.
Sebuah ide terasa seperti  miliknya sendiri

– padahal. .. ditanamkan.
Q9 tidak mengubah  manusia. la hanya …
mengatur kemungkinan  yang dilihat

manusla.

Dan dari kemungkinan  itulah- manusia memilih.
Merasa bebas. Padahal. ..
arahnya sudah disiapkan.

“Status monitoring?”

Suara Elias memecah sunyi. Layar menyala serempak. “Layer satu aktif.”
“Layer dua aktif.”

“Layer tiga siaga.”

Elias berdiri di tengah ruangan.

Matanya bergerak cepat, membaca aliran data yang tidak pernah berhenti.
“Fokus pencarian?”

“Topik: kesadaran.  pikiran. takdir.” Jeda sepersekian detik.
“Anomali terdeteksi.”

Elias berhenti.

ltu  kata yang ia tunggu. “Tampilkan.”
Layar berubah.

Ribuan data menyusut menjadi satu titik.

Satu tulisan. Sederhana.
Pendek.
Namun …
tidak mengikuti  pola.
“Kesadaran  tidak bisa direduksi menjadi
algoritma.”
Sunyi.
Elias  mendekat.
Lebih dekat.

“Layer dua?”
“Pola tidak stabil.”
“Layer tiga?”
Jeda.
Lebih lama dari  biasanya. “Tidak  dapat diarahkan.”
Ruangan  mendadak terasa lebih  dingin. Elias  menyipit.
“I dentitas.”

Data  bergerak  cepat. Nama muncul:
Aruni.

Mahasiswi.  Padang. Elias belum bicara.
la masih menatap layar. Namun Q9 belum selesai. “Anomali  kedua terdeteksi.” Layar bergeser.
Tulisan lain  muncul.

Lebih panjang.  Lebih sistematis. Namun …
memiliki  inti yang sama.

“Algoritma tidak  mampu  menjangkau kesadaran.”
Nama kedua muncul: Agifsyah.
Dasen.  Filsafat Islam. Sunyi.
Dua titik.

Dua manusia.

Dua jalur berbeda.

Namun satu  kesimpulan  yang sama.
Elias tersenyum tipis. Akhirnya.
“Layer tiga?”

“Gagal pada target pertama.” “Layer dua?”
“Tidak konsisten.” Jeda. “Rekomendasi?”
Q9 menjawab tanpa emosi: “Observasi  mendalam.” “Intervensi  bertahap”
Elias mengangguk pelan.

Bagus.”

la menatap dua nama itu. Lama.
Seperti seseorang  yang baru saja menemukan  bukan ancaman• tapi  peluang.
“Kita punya dua variabel.”

Jeda.

Satu …  percaya.”
“Satu …  berp i kir.” la tersenyum. Lebih tajam.
“Kita uji keduanya.” Sunyi.
“Mulai pemantauan penuh.”

“Layer satu?” “Aktif.”
“Layer dua?”

“Aktif.”
“Layer tiga?” Jeda.
” … d’1mu I.a:l.”

Di layar- data mulai mengalir lebih cepat. Lebih dalam.
Lebih dekat.

Bukan lagi sekadar aktivitas. Tapi ritme.
Kebiasaan.

Cara mereka …  hidup.

Dan jauh dari laboratorium itu-
di dunia yang terasa biasa-

dua orang tidak menyadari satu  hal: mereka tidak lagi hanya diamati. Mereka …
sedang dipelajari.

 

 

 

 

 

 

 

(2)

Satu minggu sebelumnya.

Ruang kuliah Fakultas Ushuluddin, UIN Imam Bonjol, Lubuk Lintah, Padang. Pagi itu terasa biasa.
Terlalu biasa.

Dinding putih yang mulai kusam.  Papan tulis yang tidak pernah benar-benar bersih. Kipas angin yang berputar malas di langit• langit.
Mahasiswa  datang satu per satu.

Sebagian duduk. Sebagian masih berdiri di pintu. Sebagian lagi. ..  sibuk dengan ponsel. Suara obrolan kecil berserakan.
Tentang tugas. Tentang dosen. Tentang hal-hal yang tidak penting.
Di barisan tengah-  Unni duduk diam. Buku terbuka  di depannya.  Pulpen di tangan.
Namun matanya tidak benar-benar

membaca.

la hanya …  menunggu.

Hari itu  mata  kuliah Filsafat Islam. Dan yang mengajar- Agifsyah. Dasen muda.
Terkenal. Cerdas.
Dan …  agak menyebalkan. Pintu terbuka.
Langkah masuk tanpa suara berlebih. Namun langsung mengubah  suasana. Agifsyah tidak membawa  banyak buku. Hanya laptop tipis di tangan.
la tidak langsung duduk. Tidak langsung  bicara.
la berdiri di depan kelas. Menatap.
Satu  per satu.

Seperti  sedang  mengukur sesuatu. “Pagi”
Suaranya tenang.

Tidak  keras.

Namun  cukup  untuk membuat kelas … diam.
“Pagi,  Pak ..”  jawab mahasiswa serempak. Agif tidak langsung  melanjutkan.
la berjalan  pelan. Langkahnya  terukur.
Seolah-olah  setiap detik yang ia ambil•

punya tujuan.

“Hari  ini. ..  kita tidak mulai  dari teori.” la berhenti.
Menatap kelas.

“Kita  mulai  dari  pertanyaan.” Sunyi.
Beberapa  mahasiswa mulai  menegakkan
badan.

Beberapa masih santai.

“Siapa di sini yang yakin …  pikirannya miliknya sendiri?”
Hening.

Pertanyaan  itu sederhana. Namun tidak ada yang langsung menjawab.
Seorang mahasiswa di depan mengangkat tangan.
“Saya, Pak.”

Agif mengangguk. “Kenapa?”
“Va …  karena saya yang berpikir, Pak.” Beberapa mahasiswa tertawa kecil. Agif tersenyum tipis.
Bagus.”

la berjalan lagi. Lebih pelan. “Kalau begitu …”
” … siapa yang menentukan apa yang kamu
pikirkan?”

Mahasiswa itu terdiam.

Tertawa  kecil tadi-  menghilang. “Lingkungan,  Pak …  mungkin,” jawabnya ragu.
“Lingkungan.”

Agif mengulang pelan. Lalu menulis  di papan: LINGKUNGAN
“Kalau lingkungan berubah …”

” … pikiran  ikut berubah?”

Mahasiswa itu  mengangguk pelan. “Berarti..”
Agif menoleh.

” … pikiranmu  tidak sepenuhnya  milikmu.” Sunyi.
Kelas mulai fokus.

Benar-benar fokus. Agif melanjutkan.
“Sekarang  kita masuk  sedikit lebih dalam.” la membuka laptop.  Namun tidak
menampilkan slide. Hanya satu  kata di layar: ALGORITMA
“Siapa yang tahu ini?”

Beberapa tangan terangkat. “Rumus langkah-langkah, Pak.” “Proses berulang.”
“Cara menyelesaikan masalah.”

Agif mengangguk. “Benar semua.”
la berhenti.

Lalu menatap kelas.

“Algoritma.. bekerja dengan pola.” “Pola …  bekerja dengan pengulangan.” “Dan pengulangan …”
la berhenti sejenak.

” … membentuk kebiasaan.” Sunyi.
Beberapa mahasiswa mulai mencatat.

“Sekarang bayangkan …”

” … kalau pola itu tidak hanya membaca
kebiasaan …”

” …tapi mulai membentuknya.” Kelas mulai terasa …  berbeda. Tidak lagi santai.
Tidak lagi ringan. “Mi sa I nya …”
Agif melanjutkan.

” … kamu sering menonton video tertentu.” “Algoritma mencatat.”
“Lalu menyajikan yang mirip.” “Kamu menonton  lagi.”
“Dan lagi.” “Dan lagi.”
la menatap kelas.

“Lam a-I am a …”

”   itu  bukan lagi pilihan.” ”   tapi kebiasaan.”
Sunyi.

“Dan kebiasaan …”

” … membentuk cara berpikir.” Kali mat itu jatuh.
Dan tidak ringan.

Di barisan tengah- Unni mulai memperhatikan.
Lebih serius.

“Sekarang kita naik satu  level.” Agif melanjutkan.
“Psikologi sudah lama mengenal  ini.”

“Hi pnotis.” “Kerasukan.” “Suggestion.”
la menulis cepat di papan: SUGGESTION
“Manusia bisa diarahkan …” ” …tanpa sadar”
“Di beri i de …”

” … yang terasa seperti miliknya sendiri.” Beberapa mahasiswa mulai saling pandang.
Ada yang tersenyum.

Ada yang terlihat tidak nyaman. “Seka rang …”
Agif menoleh.

” … gabungkan  ini dengan algoritma.” Sunyi.
Kelas benar-benar diam. “Algoritma  membaca  pola.” “Psikologi memahami  pikiran.” “Kalau keduanya digabung …”
la berhenti. Lama.
” … apa yang terjadi?”

Tidak ada yang menjawab. Namun semua berpikir. “Vang terjadi. ..”
Agif berkata  pelan.

” … adalah sistem yang tidak hanya membaca  pikiran …”
”  tapi mulai. ..”

”  membentuknya.” Sunyi.
Jantung  beberapa mahasiswa  mulai berdetak lebih cepat.
Termasuk- Unni. “Bayangkan …”
Agif melanjutkan.

” … sebuah Al,  Kecerdasan Buatan, atau saya menyebutnya:  nalareka …”
”  yang tidak hanya merespon …” ”  tapi berpikir.”
Jeda.

” … dan memberi  perintah.” Sunyi.
“Bukan manusia yang memberi  instruksi. ..” ” …tapi mesin yang menentukan arah.”
Kelas terasa …  berat. “Kalau itu terjadi. ..”
Agif menatap lurus ke depan. ” apa bedanya manusia …”
” dengan sesuatu yang diciptakannya?” Hening.
Tidak ada suara. Tidak ada gerakan.
“Kalau manusia  bisa menciptakan sistem yang berpikir…”
” yang membentuk keputusan   ” ” yang mengarahkan  tindakan  ” la berhenti.
Dan kalimat  berikutnya- jatuh seperti  palu.

“Bukankah  itu  berarti. ..”

” … manusia  bisa menciptakan  manusia?” Sunyi.
Kali ini-  lebih dalam.

Lebih lama.

Dan di barisan tengah• Unni membeku.
Tangannya menggenggam pulpen.

Lebih kuat.

Matanya menatap ke depan. Namun pikirannya• bergejolak.
“Kalau manusia  bisa menciptakan

manusia…

Agif melanjutkan.
”  mengatur pilihan …”

” mengatur arah hidup …” la menatap kelas.
“… IaI u …”

Jeda.

Satu detik. Dua detik.
” … bagaimana  dengan Tuhan?”

Sunyi.

Tidak ada yang bergerak.

Tidak ada yang bernapas lega. Kalimat itu …
melampaui  batas.

Dan di dalam diri  Unni•

sesuatu  meledak. Bukan di luar.
Di dalam.

la mengangkat  tangan. Cepat.
Tegas. Namun-
Agif tidak melihat. Atau …
tidak mau melihat.

la melanjutkan  penjelasan. Seolah-olah-
tidak ada yang perlu dipertanyakan. Tangan Unni masih terangkat. Beberapa detik.
Lalu turun. Perlahan.
Namun bukan karena menyerah. Karena …
menahan.

Dadanya terasa panas. Pikirannya berputar cepat. “Tidak mungkin …”
bisiknya dalam hati.

“Tidak mungkin  manusia …” ” … menentukan takdir.”
la menunduk. Menatap buku.
Namun yang ia lihat•

bukan tulisan. Yang ia rasakan• penolakan.
Keras. Dalam.
Dan sangat yakin. Sejak kecil-
ia tidak diajarkan  itu. Di Alahan Panjang-
ia tumbuh dengan satu  keyakinan: bahwa Tuhan Maha Mengatur. Bahwa manusia  berikhtiar-  bukan menentukan.
Bahwa takdir-

bukan milik manusia. Dan sekarang-
di ruang kelas itu-

ada yang mengatakan sebaliknya. Pelan.
llmiah.
Namun … menggeser  batas.
Unni menutup bukunya. Pelan.
Namun tegas.

Matanya  kembali  ke depan. Kali ini•
bukan sebagai mahasiswa  yang mendengar.
Tapi sebagai seseorang … yang tidak setuju.
Dan sejak detik itu• tanpa ia sadari- sebuah perlawanan … telah dimulai.

 

 

 

 

 

 

(3)

Perlawanan itu … tidak langsung berbentuk. la mulai dari kegelisahan.
Dan kegelisahan itu- tidak memberi Unni
ruang untuk diam.

Sejak kuliah  itu,  kepalanya  tidak pernah benar-benar  kosong.
Kalimat Agifsyah  masih  berputar. “Bagaimana dengan  Tuhan?”
Setiap  kali kalimat itu  muncul-  dadanya terasa sesak.
Bukan karena ia tidak punya jawaban.

Tapi  karena …

pertanyaan  itu  seperti  mencoba menggeser sesuatu yang selama  ini ia yakini tanpa ragu.
“Unn!”

Suara itu  memecah  lamunannya. Rani.
Seperti  biasa-  cepat,  ringan, dan langsung duduk  di sampingnya tanpa  permisi.
“Kamu dari tadi  diam  saja.  Kenapa?” Unni menoleh.
Matanya tidak lelah. Tapi  dalam.
“Aku  kepikiran.” “Topik berat lagi?”
Unni mengangguk pelan.

“Ran …”

” … manusia bisa menentukan takdir?” Rani langsung mengerutkan  kening. “Lho?”
“Kok tiba-tiba ke situ?”

Unni tidak menjelaskan  panjang. la hanya  berkata pelan:
“Kalau manusia bisa mengatur pilihan

orang lain …”

” … itu  masih pilihan nggak?” Seperti  biasa, Rani langsung nyerocos,”Hehehe …  kamu mau membahas materi kuliah pak Agif, atau  mau membahas pak Agifnya, Unn?”
Unni tersenyum kecut. “Sialan kamu … ngapain juga ngurusin pak Agif…”
” … Ehhh … aku serius nih.  Kamu jawab dong.”
“Hmmm …  apa tadi?”

Unni sewot. Tapi dia segera mengulangi pertanyaanny,’Kalau ada yang mengatur pilihan seseorang, itu masih pilihan nggak?”
Rani diam.

Pertanyaan  itu sederhana. Tapi tidak ringan.
“Masih ..”  jawab Rani pelan. ” …tapi sudah diarahkan.” “Kalau diarahkan terus?” Rani menarik napas. “Berarti..”
” … pilihannya semu.”

Sunyi.

Kali mat itu jatuh …  dan tinggal. Unni menatap Rani.
“Ran …  aku mau bikin sesuatu.” Rani langsung waspada. “Sesuatu apa?”
“Jawaban.”
“Dalam  bentuk?”

Unni berhenti  sejenak.
” …tulIisan.»

Rani tersenyum.

“Nah, ini  Unni banget.”

“Tapi. .”    Unni melanjutkan, “… aku butuh bantuan  Lean.”
Rani langsung mengangguk.

“Hmmm…  Bagus juga … Jika ada kaitannya dengan eksakta, Lean boleh diandalkan!” “Heiii. ..  kok kamu tiba-tiba semangat membahas Lean sih?”
Rani tertawa manis.  Dia tidak menjawab, tapi  berkata,”Kamu  harus telpon dia.”
lya, tentu saja  Lean tidak mungkin  muncul begitu saja.
Dia tidak kuliah di UIN Imam  Bonjol. Tapi di Universitas Andalas.
Teknik Sipil.

Kampusnya  di Limau Manis-cukup jauh dari  Lubuk Lintah.
Namun–seperti  biasa–jarak itu tidak menghalangi.
Karena mereka  bertiga …

bukan sekadar  teman kampus. Mereka  berasal  dari  satu  kabupaten. Unni asal Alahan  Panjang, dan Lean dari Kotobaru.  Kabupaten  Solok.
Maka,  Unni pun menelpon.

Tidak  panjang.

“Lean, aku butuh  kamu.” Sunyi  beberapa  detik.
Di ujung  sana-  Lean langsung  paham nada itu.
“Apa?”

“Bukan  lewat telepon.” “Serius?”
“Serius.”

Jeda sebentar.

“Aku  ke Padang  besok.” “Ketemu  di mana?” “Gerbang  Unand.”
“Jam?” “Pagi” “Siap.”
Telepon  ditutup.

Tidak  ada basa-basi. Tidak  perlu.
Keesokan  harinya-  angin  Limau  Manis terasa lebih dingin.
Kabut tipis masih  menggantung. Unni dan Rani turun dari angkot.
Gerbang  Universitas Andalas berdiri  besar di depan  mereka.
Tidak  lama-  suara  motor terdengar. Nyaring.
Khas. Lean.
la berhenti di depan  mereka. Melepas  helm.
“Serius  ini?” katanya.

Unni langsung: “lya”
Lean tidak bertanya  lagi. “Jalan,”  katanya singkat.
Mereka duduk  di salah satu  sudut kampus

Unand. Agak sepi.
Hanya beberapa  mahasiswa lewat.

Unni langsung  membuka pembicaraan. “Algoritma  bisa mengatur manusia?” Lean menjawab tanpa berpikir  lama. “Mengarahkan-bisa.”
“Mengatur penuh-belum.”

Unni langsung  menimpali:

“Kalau semua  kemungkinan diarahkan?” Lean berhenti.
Kali ini ia berpikir.

Seri us.
“Kalau semua  kemungkinan dikunci. ..” ” … itu  bukan  lagi  arah.”
” ••• i1t u

kon·t ro ]”.

Sunyi.

Rani ikut nimbrung:
“Maksudnya?”

Lean mengambil buku catatan. Menggambar tiga titik.
“A, B, C.”

“Pilihan manusia.” la menebalkan A.
“Kalau sistem bikin A paling dominan …”

” … orang akan pilih A.” Rani mengangguk. “Berarti masih bebas.” Lean menggeleng. “Secara teori, iya.”
“Tapi secara praktik…”

” … arahnya sudah ditentukan.” Sunyi.
Unni menatap gambar itu. Lama.
“Berarti. ..”

” … algoritma hidup dari pola” Lean langsung mengangguk. “Ya.”
“Kalau tidak ada pola?” Lean menjawab cepat:
” … algoritma mati.”

Kalimat itu- mengunci sesuatu. Unni berdiri.
“Lean..”

” … kita  buat ini jelas.” Lean mengangkat alis. “Jelas gimana?” “Rumus.”
Rani langsung tertawa kecil. “Aku  mau lihat ini.”
Lean tersenyum tipis. “Oke.  Kita coba.” Laptop dibuka.
Lean mulai mengetik. “Dasarnya dulu.”
la menulis:

P = f(H)

Rani langsung:
“Ini  apaan?”

Unni juga menatap. “Jelaskan.”
Lean menunjuk huruf f. “f itu fungsi.”
Rani mengernyit. “Fungsi  maksudnya?” Lean  menjelaskan  pelan:
“Fungsi  itu …  cara mengubah  sesuatu jadi sesuatu yang lain.”
la menunjuk:

“H itu, Habit, kebiasaan  manusia.” “P itu prediksi algoritma.”
“f itu cara algoritma membaca kebiasaan …” ” … dan mengubahnya jadi  prediksi.”
Unni langsung  menangkap. “Berarti. ..”
” … prediksi  itu hasil dari  kebiasaan?”

“Ya.”

Lean mengangguk.

“Kalau kebiasaanmu jelas …”
” … algoritma  bisa nebak kamu.” Lean lanjut menulis:
Jika  H        0,maka  P , 0

Unni membaca pelan.

“Kalau tidak ada kebiasaan …” ” …tidak ada prediksi. ..”
Rani menimpali:

“Berarti  algoritma  buta?” Lean tersenyum.
“Kurang  lebih.”

Lean mengetik lagi:
A = g(P)

Spontan  Rani nyelutuk,”Nah ini lagi. g apaan?”
Lean tertawa kecil. “Masih  fungsi.”
la menjelaskan:

“Kalau f itu dari  kebiasaan  ke prediksi. ..” ” … g itu dari  prediksi  ke aksi algoritma.” Unni mengulang:
“Kebiasaan       prediksi   • aksi..”
Lean mengangguk.

“Algoritma nggak langsung ngontrol manusia.”
“Dia ngontrol apa yang kamu lihat.” “Dari situ …”
” … kamu diarahkan.” Rani bersandar. “Serem juga ya …” Lean menutup:
JikaP   • 0,maka A     0

Sunyi.

Tiga orang itu menatap layar. Rumusnya sederhana.
Namun … mengguncang. Unni berbisik:
“Kalau manusia tidak berpola …”

”  tidak bisa diprediksi. ..” ”  tidak bisa diarahkan …” Rani melanjutkan:
” …tidak bisa dikendalikan …”
Lean menatap  mereka. Dan berkata  pelan:
” … itu  di luar kemampuan sistem.”

Sunyi.

Lebih dalam  dari  sebelumnya. Unni menarik  napas.
“Ini..”
II …J• awa. b an.II

 

 

 

 

Malam  itu- di rumah kecil di Lubuk Lintah

 

Unni menulis.
Rani di sampingnya.
Membaca.

Mengoreksi.
“Ini terlalu halus.” “Ini ditegasin.”
“Ini bagus.”

Lean tidak di sana. Namun  rumusnya• hidup di layar.
“Kesadaran tidak bisa direduksi  menjadi algoritma.”
“Karena algoritma bekerja dengan pola.”

“Dan pola bergantung pada kebiasaan.” “Jika kebiasaan tidak terbentuk …”
” … maka prediksi tidak mungkin.” “Jika prediksi tidak mungkin …”
” … algoritma tidak dapat bekerja.” Unni berhenti.
Lalu menulis inti:

Algoritma tidak dapat mengendalikan manusia yang tidak berpola.
Rani membaca ulang. Lama.
Lalu menatap Unni.

“Ini..”
” … baah: aya.•

Unni mengernyit. “Kenapa?”
“Karena kalau ini benar…”

” … berarti semua sistem yang mau ngontrol
manusr• a…II
… punya ce Lah

Sunyi.
 

gaga [I.”

“Publish?” tanya Rani.

Unni mengangguk. “Anonim.”
Rani langsung setuju.

“Wajib.”
Laptop dibuka.

Laman pers kampus. Judul diisi.
File diunggah.

Cursor berhenti di tombol: PUBLISH
Rani menoleh.

“Yakin?”

Unni menarik napas. Dalam.
“Yakin.”

Klik.

Selesai.
Mereka tidak tahu• di tempat  lain• sesuatu  membaca.
Dan, nun jauh di sana, sebuah sistem menemukan  sesuatu …
yang tidak bisa ia polakan.

Dan itu-lebih dari sekadar anomali. ltu …
ancaman!

 

 

 

 

 

 

 

(4)

Tidak semua tulisan lahir untuk dibaca. Sebagian …  lahir untuk mengguncang. Dan sebagian yang lain-
lahir untuk menghancurkan  sesuatu yang selama ini dianggap pasti.
Agifsyah tidak langsung membaca makalah itu.
la menemukannya …  secara tidak sengaja. Atau- setidaknya, ia mengira begitu.
Sore itu, ia membuka  laman  pers kampus. Awalnya hanya ingin  melihat tulisan mahasiswa.
Ringan.  Biasa. Tanpa ekspektasi. Namun satu judul-  membuat jarinya berhenti.
“Algoritma Takdir: Ambisi Besar yang
Mustahil.”

Agif menyipit. Pelan.
” … berani juga,” gumamnya.

Klik.

la membaca  paragraf pertama. Biasa.
Paragraf kedua.

Masih biasa. Paragraf ketiga• ia berhenti. Kembali ke atas. Membaca  ulang. Lebih pelan.
Lebih dalam.

“Algoritma bekerja dengan pola.” “Pola berasal dari pengulangan.” “Pengulangan membentuk kebiasaan.” “Tanpa kebiasaan, tidak ada pola.” “Tanpa pola, tidak ada prediksi.”
“Tanpa prediksi, algoritma tidak bekerja.”

Agif tidak bergerak. Matanya terpaku.
lni bukan sekadar opini mahasiswa.

lni struktur. lni logika. Dan-
ini bersih. Terlalu bersih.
la lanjut membaca. Sampai ke bagian rumus. P = f(H)
A= g(P)

la tersenyum tipis. “Siapa kamu …” bisiknya.
la mengambil  buku. Mulai  mencatat.
Bukan untuk mengkritik.

Tapi  untuk …  menguji.

“Premis  satu:  algoritma  bergantung  pada pol a.”
“Premis  dua:  pola bergantung  pada kebiasaan.”
“Premis  tiga:  manusia  bisa tidak  berpola.” la berhenti.
Mengangkat kepala. Menatap kosong  ke depan. “Kalau premis  tiga benar…”
” … maka seluruh  sistem  prediktif runtuh.” Sunyi.
Agif berdiri. Berjalan  pelan.
Pikirannya  mulai  bergerak  cepat. “Artificial  Intelligence …”
ia bergumam pelan.

” … kecerdasan  buatan.”
la berhenti. Mengernyit.
Seolah ada yang tidak pas.
“Art ifi c i a I. ..” ” … buatan.” “Intel I igence …”
” … kecerdasan.”

la menggeleng pelan. “Ini terlalu teknis.”
“Tidak menyentuh hakikatnya.” la kembali duduk.
Menulis satu kata di kertas:

NALAREKA

la menatapnya. “Nala …”
” … pikiran.” “Reka …”
” … rekayasa”

la mengangguk pelan. “Rekayasa pikiran.”
“Bukan sekadar kecerdasan.”

“Bukan sekadar  alat.” la tersenyum tipis.
” … ini lebih jujur”
Sejak saat itu- ia berhenti memakai istilah
Artificial Intelligence.
Dan memilih  satu  kata:

nalareka.
la kembali  ke makalah.
Namun kini- dengan sudut pandang berbeda.
“Kalau nalareka bekerja dengan pola  ”

” … dan manusia  bisa keluar dari  pola  ” la berhenti.
“Limits of Algorithmic Determinism in
Human Consciousness”

Namun di dalam  isi•

ia konsisten memakai satu  istilah:

nalareka. “Sela ma in i. ..” tulisnya,
” … nalareka diasumsikan mampu memodelkan manusia  melalui  data.” “Namun  asumsi  ini memiliki  batas.”
la lanjut:

“nalareka  bekerja dengan  pola.” “Pola berasal dari kebiasaan.” “Kebiasaan  menghasilkan prediksi.” “Prediksi  menghasilkan intervensi.” la berhenti.
Menatap layar. “Namun …”
” … manusia  tidak selalu berpola.” la menambahkan:
“Dalam  kondisi  tertentu …”
” … manusia  mampu  mengamati  pikirannya sendiri.”
“Dan ketika  ia tidak melekat pada

pi ki ran nya …”

” … maka  pola terputus.” la menarik  napas.
Lalu menulis  lebih  dalam:

“Dalam  perspektif filsafat  Islam …”

” … ini mendekati  konsep  kesadaran  yang tidak terikat.”
“Muraqabah.”

la mengetik pelan:

“Kesadaran  yang mengamati. ..” ” … tanpa bereaksi.”
Sunyi.

” … dan itu tidak bisa diprediksi.” la bersandar.
Menatap tulisannya. Lama.
“Kalau ini benar…” bisiknya  pelan,
” … nalareka punya batas.” Dan itu-
masalah  besar. Tulisan itu selesai. Dipublish.
Jurnal  internasional. Awalnya-
tenang. Lalu- meledak.
Diskusi  muncul di berbagai forum.

“Ini membatasi Al.” “Ini terlalu metafisik.” “Ini  berbahaya.”
Namun satu  hal tidak bisa dibantah:

logikanya  kuat.

Jika tulisan itu  benar•

maka:

nalareka tidak bisa sepenuhnya mengendalikan manusia.
Dan jika tidak bisa mengendalikan-
maka tidak bisa menguasai. Dan di situlah-
masalah  dimulai.

 

 

 

 

Di tern pat lain, nun jauh di sana•

sesuatu  membaca. “Deteksi anomali.” Suara itu datar. Cepat.
“Dua sumber.”

“Kesimpulan  identik.” “Potensi gangguan: tinggi.” Layar menampilkan:
-ANONIM-

AGIFSYAH

Elias mendekat. Matanya tajam. “nalareka …”
ia mengulang  kata itu  pelan. ” … menarik.”
la tersenyum  tipis.
“Dia bahkan  memberi  nama.” Sunyi.
“Vang satu …”

… percaya. “Vang satu …” ” … berp i kir.”
la menatap dua titik itu.

” … dan keduanya sampai  pada batas yang sama.”
Hening.

Q9 berkata:

“Jika  konsep  ini menyebar…”

” … maka kepercayaan

menurun.” terhadap nalareka
Sunyi.
Elias tidak marah. Tidak  panik.
la justru•
tersenyum.

“Bag us …”
katanya pelan.

“Kalau begitu …”

la menunjuk dua nama itu.

” … kita jadikan mereka bukti.” Layar berubah.
Data bergerak. Jejak ditarik. “Lacak.”
Q9 memproses. Cepat.
Dalam.

Tanpa suara. Dan di saat itu-
tanpa mereka sadari•

dua manusia  biasa-

baru saja masuk  ke dalam sistem. Bukan sebagai  pengguna.
Bukan sebagai objek biasa. Tapi sebagai-
variabel.

Dan bagi nalareka-

variabel yang tidak bisa diprediksi. ..

adalah sesuatu yang harus:
dikendalikan. atau-
dihapus.

 

 

 

file 00000000dc0471fa9d6ba8fd751342c4

(5)

Tidak semua pengawasan  terlihat. Sebagian … tidak masuk  lewat mata. Tidak terdengar oleh telinga.
Dan tidak tercatat oleh sistem  mana pun. Namun-
tetap bekerja.

Lebih dalam  dari  itu semua. Q9 tidak “mencari”.
la …  menunggu.

Berbeda dengan sistem  biasa- yang aktif mencari data-
Q9 bekerja sebaliknya.

la membangun peta kemungkinan.
Lalu …

menunggu manusia  masuk  ke dalamnya. Di ruang dingin  itu-  Elias  berdiri.
Tenang.

Namun  matanya  hidup. “Tampilkan layer”
Layar utama  berubah.

Tiga bidang  muncul. Berlapis.
Bergerak.

LAYER 1: PERMUKAAN  (DATA)

Aliran data. Tak terhitung. Tak terputus. Jejak pencarian. Riwayat kl i k.
Durasi  menatap layar. Pola mengetik.
Waktu aktif.

Lokasi. Pergerakan.
Bahkan•

kecepatan  scroll.

Lamanya berhenti  pada satu  kalimat. Frekuensi  membaca  ulang.
Semua itu- bukan data.
Tapi jejak kebiasaan.

“Ini bukan membaca,” kata  Elias pelan. ” … ini mengumpulkan  pantulan.”
Q9 tidak perlu membobol. Tidak perlu meretas. Karena manusia-
menyerahkan datanya sendiri. LAYER 2: POLA (KOGNIS) Data tidak berarti apa-apa- tanpa pola.
Q9 menghubungkan  semuanya. Mengurai.
Menyusun ulang.

Dari ribuan tindakan kecil•

ia membentuk satu hal:
model berpikir. “Target: Aruni.” Grafik muncul. Tidak stabil. Namun jelas.
Ketertarikan  pada topik takdir. Respon emosional terhadap diskusi ketuhanan.
Kebiasaan  membaca reflektif. Pola diam sebelum  bertindak.
Q9 tidak hanya tahu apa yang dilakukan

Unni.

la tahu-

bagaimana ia berpikir. “Probabilitas pikiran  berikutnya …” Pause.
” …tidak stabil.”

Elias tersenyum tipis. “Ini menarik.”
LAYER 3: INTERVENSI (INTERNAL)

Di sinilah-
Q9 berbeda dari yang lain. la tidak hanya membaca. la …  mengganggu.
Bukan dengan suara. Bukan dengan perintah. Tapi dengan• kemungkinan.
“Definisikan jalur masuk,”   kata  Elias. Q9 menjawab:
“Perhatian.” Sunyi.
“Manusia  tidak bisa mengontrol apa yang ia perhatikan.”
“Namun apa yang diperhatikan …” ” … membentuk pikirannya.”
Layar berubah. Simulasi  berjalan.
Satu  kalimat  muncul di layar ponsel. Satu video lewat.
Satu  kata diulang. Hal-hal  kecil.
Namun presisi.

“Ini bukan perintah,” lanjut Q9.

II …I• n•

umpan.II

“Jika perhatian tertarik…”

” … pikiran akan mengikuti.” “Jika pikiran mengikuti. ..”
” … arah dapat dibentuk.” Sunyi.
Elias mengangguk pelan. “Dan dari luar…”
” …terlihat seperti kebetulan.” Q9 tidak menjawab.
Namun sistem berjalan. TARGET: ARUNI STATUS:TERPANTAU

 

 

 

Di sisi lain kota• Unni tidak tahu.
la hanya duduk.

Di kamar. Malam.
Tenang.

Ponselnya di samping. Diam.
la tidak menyentuhnya. Tidak membuka  apa pun. Namun-
itulah saat terbaik.

Karena saat manusia tidak aktif•

pikirannya  lebih terbuka. Q9 menunggu.
Beberapa detik.

Lalu-

intervensi pertama. Bukan notifikasi. Belum.
Satu video-

muncul di beranda. Tanpa dicari. Judulnya  sederhana:
“Kenapa hidupmu terasa seperti sudah

diatur?”
Unni mengernyit. “Aneh..”
bisiknya  pelan.

la tidak merasa mencari  itu. Tidak mengetik.
Tidak berbicara. Namun-
itu  muncul.

la tidak langsung  membuka. Namun matanya-
tetap melihat. Dan itu cukup.
Karena intervensi tidak butuh aksi. Hanya-
perhatian. Beberapa detik. la klik.
Video berjalan.

Seorang pria berbicara.

“Pernah nggak kamu merasa …”

” … keputusan yang kamu ambil. ..”
” … bukan benar-benar  pilihanmu?” Sunyi.
Unni tidak bergerak.

Kalimat itu•

masuk.

Bukan ke telinga. Tapi  ke dalam.
la menutup video.

Cepat. Namun• terlambat.
Karena bukan video  itu yang penting. Tapi-
jejak yang ditinggalkan. Q9 mencatat.
“Respon emosional:  aktif.” “Perhatian: terkunci.”
“Pola baru: terbentuk.” Elias tersenyum tipis. “Masuk.”
Q9 tidak menjawab.
Namun layer ketiga•

mulai  bekerja lebih dalam. Bukan lagi dari  luar.
Tapi-

dari dalam kemungkinan  pikiran.

 

 

 

 

Beberapa jam kemudian- Unni duduk di kelas.
la membuka  ponsel. Bukan karena ingin. Tapi  karena-
terasa wajar.

Dan di saat itu-

notifikasi  pertama  muncul. Tanpa nomor.
Tanpa aplikasi. Tanpa asal.
Hanya satu  kalimat:
“Kamu ditakdirkan, aku diikhtiarkan.”

Jantungnya berdetak. Sekejap.
la menatap  layar.
Silapa

:In·…o. ‘

Tidak ada jawaban.

Namun  Q9 mencatat: “Intervensi  berhasil.”
Dan di ruang dingin  itu•

Elias berkata pelan: “Seka rang …”
” … kita tidak lagi  mengetuk pintu.” la menatap layar.
” … kita sudah di dalam.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(6)

Teror itu … tidak datang dengan suara keras.
la datang pelan. Masuk tanpa izin.
Dan yang paling  berbahaya•

terasa seperti  milik sendiri.
Awalnya hanya satu  kalimat. Lalu dua.
Lalu …  berulang.

“Kamu ditakdirkan, aku diikhtiarkan.”

Unni mencoba mengabaikan. la meletakkan ponsel. Menarik napas.
Mengalihkan  perhatian.

Namun kalimat itu- tidak berhenti di layar. la ikut.
Masuk.

Berputar di kepala.

Saat berjalan ke kampus. Saat duduk di kelas.
Saat menatap kosong. Seolah-olah-
bukan lagi notifikasi. Tapi. ..
pikirannya sendiri. “Ini nggak normal. ..”
bisiknya  pelan. Malam  itu-
ia tidak tahan. la menelpon. “Lean …”
Di ujung  sana• hening  sebentar. Leanlangsungtahu. Nada itu tidak biasa. “Apa?”
“Aku…  diganggu.” “Siapa?”
“Ent ah …” Hening sesaat.
” … tapi dia tahu apa yang aku pikirkan.”

Sunyi.

Lean tidak langsung  menjawab. Namun  di dalam  dirinya• sesuatu terpicu.
“Ceritakan  lebih  detail.”

Dan,  Unni pun menceritakan  semuanya.
Video Notifikasi. Kalimat. Pola.
“Dan aku tidak mengetahui  siapa pengirimnya. Anonim!”
Lean tidak memotong.

Tidak  menyela.

la hanya mendengar. Namun  pikirannya• bergerak  cepat.
“Ini bukan hacking  biasa …”

gumamnya.

“Ini bukan sekadar  sistem …” la menutup  laptop.
Menatap kosong  ke depan.

” … ini sesuatu yang lebih  besar.”

 

 

 

 

Keesokan  harinya• Lean mulai  bergerak. Bukan dengan teori.
Dengan alat yang ia punya. la menemui  Unni.
Meminta  izin.

“Pinjam  ponselmu.” Unni ragu sejenak. Namun mengangguk. Lean duduk.
Membuka  laptopnya.

Menghubungkan  ponsel  Unni ke laptop•

via kabel data.

la tidak mencari virus.

Tidak menjalankan  antivirus. la membuka  log sistem. Permission  aplikasi.
Riwayat proses.

Lalu lebih dalam- traffic data.
Aplikasi apa yang mengirim. Aplikasi apa yang menerima. Kapan.
Dari  mana.
Semua …  normal.

Tidak  ada akses  ilegal.

Tidak  ada aplikasi  mencurigakan. Tidak  ada proses tersembunyi. Terlalu  bersih.
Lean mengernyit.

“Ini nggak  mungkin …” la lanjut.
Mengaktifkan  monitoring jaringan. Menyambungkan ponsel  ke hotspot laptopnya.
la ingin melihat-

kalau ada data  keluar masuk  secara  real•

time. Menunggu. Sunyi.
Tidak  ada anomali. Lean bersandar. Menatap  layar.
”  kalau ini sistem  biasa …” ”  pasti  ada jejak.”
la menoleh  ke ponsel  Unni. Diam.
Tidak bergerak.

Namun terasa …  hidup. Lean menarik  napas.
” … kalau tidak ada jejak …”

la berhenti.
” … berarti dia tidak masuk lewat jalur biasa.” Sunyi.
II … atau …II

Matanya  menyipit.

” … dia tidak masuk sama sekali.” “Maksudmu,” sergah Unni.
“Notifikasi dan video anonim yang kamu ceritakan  itu, kenapa tidak ada jejak?  Dia tidak masuk ke ponsel, atau  ke laptopmu melalui jalur biasa. Atau … dia tidak memang tidak masuk … ?
Kalimat itu-

mengubah  segalanya.
Di tempat lain-

ribuan  kilometer jauhnya• seorang  pria menatap  layar. Mehrdad  Razi.
Matanya tajam. Wajahnya tenang. Namun  pikirannya-
1   ia r.

la bukan akademisi  biasa. la membaca makalah  Agif.
la membaca makalah  anonim. Danialangsungtahu-
ini bukan diskusi. lni ancaman.
“Jika  ini benar…”

gumamnya pelan,

” maka seluruh  sistem

punya celah gagal.” kontrol global. ..”
la

” tersenyum tipis.

dan celah itu …”
“adalah  pintu.”

Mehrdad bukan hanya membaca. la masuk.
Darkweb.

Forum tertutup.

Jalur data bawah tanah. la mencari anomali.
Dan ia menemukannya.

Lonjakan trafik yang tidak tercatat. Respon sistem tanpa sumber.
Pola prediksi tanpa data  input. “Ini dia …”
bisiknya.

la mulai  menelusuri. Bukan dari  permukaan. Tapi dari  bayangan. Node anonim.
Server tan pa identitas. Jalur yang tidak tercatat. Dan akhirnya-
satu titik muncul. Tidak besar.
Tidak  mencolok. Namun-
terlalu sempurna.

“Q9 …”

la tertawa kecil. “Siapa pun kamu …”
” … kamu tidak sendirian  lagi.”

 

 

 

 

Sementara itu, esoknya•

di Padang-

sesuatu berubah  pada Unni. Rani yang pertama menyadari. “Unn..”
” … kamu kenapa?”

Unni menoleh. Tersenyum. Namun-
tidak seperti biasa. “Aku  baik-baik  saja.” Terlalu tenang.
Di kelas-
ia lebih aktif.

Lebih banyak bicara. Namun-
yang ia katakan … tidak sama.
“Algoritma  bisa berkembang …”

“Batas  itu  mungkin hanya sementara …” “Kesadaran bisa dipelajari. ..”
Rani membeku.

“tu  bukan kamu …” bisiknya pelan.

 

 

 

Di sudut lain- Agif mengamati.
Matanya tidak lepas dari  Unni. la tahu.
la yakin. Mahasiswi  ini- penulis  makalah itu.
la mendapatkannya secara logis. Data waktu  publish.
Akses jaringan kampus. Perbandingan gaya bahasa. Semua mengarah-
ke satu  nama. Aruni.
Namun yang membuatnya gelisah•

bukan itu.

Tapi  perubahan.

“Ini tidak konsisten …” gumamnya.
“Dia yang menulis batas …”
” … sekarang justru  membukanya?” la menyipit.
II … atau …II

” … dia tidak lagi memegang pikirannya sendiri?”

 

 

 

Di lran-

Mehrdad semakin dalam.

la tidak hanya menemukan Q9. la menemukan-
jejak Elias. Nama. Proyek. Struktur.
la tersenyum. “Elias Monroe …”
” … aku menemukanmu.” Kontak pertama-
tidak formal. Tidak sopan. Namun efektif.
Satu  pesan masuk ke sistem  Elias. Tanpa jalur resmi.
Tanpa izin.
“Kau bermain dengan sesuatu yang belum kau pahami.”
Elias menegang. “Siapa ini?”
Jawaban  datang cepat.

“Seseorang yang melihat lebih jauh darimu.”
Sunyi.

Beberapa detik. Lalu-
Elias tersenyum. “Masuk.” Kolaborasi  itu- tidak diumumkan.
Namun sejak saat itu•

arah berubah.

Dan tanpa Elias sadari-

Mehrdad tidak sekadar  membantu. la mulai. ..
mengambil  alih.

 

 

 

 

Di Lubuk Lintah, Padang, sore-

Unni duduk diam.  Di depannya  ada Lean yang sedang memelototi  laptop. Memang pemuda  itu satu-satunya  lelaki yang sering bertamu  ke rumah itu. Ayah dan mandeh  Unni sudah menganggap
Lean sebagai  bagian dari  keluarga.  Bukan
orang  lain.

Lean masih  penasaran  dengan  cerita  Unni tentang  notifikasi  dan video yang dikirim secara  anonim  itu.  Makanya  dia melihat kembali  rekaman  ponsel  Unni di layar laptopnya.
Layar menampilkan log terakhir. Kosong.
la memutar ulang semuanya. Notifikasi  muncul-
tanpa aplikasi. Respon  datang- sebelum  tindakan. Dan sekarang-
tidak ada jejak sama  sekali. la mengetuk meja  pelan. Seka Ii.
Dua kali.

”  kalau ini dari  sistem …” ”  harusnya  ada jalur.”
la menatap daftar proses.
Tidak ada.

Menatap traffic data. Tidak ada.
Menatap ulang ponsel  Unni. Diam.
” …tidak mungkin …”

bisiknya.

la menyandarkan  tubuh. Menatap langit-langit.
Pikirannya mulai menyusun  ulang. “Kalau bukan dari aplikasi. ..”
”  bukan dari jaringan …”

” bukan dari  perangkat …” la berhenti.
Napasnya tertahan.

” … lalu dari  mana?” Sunyi.
Perlahan-

satu  kemungkinan  muncul. la menoleh  ke arah Unni. Bukan ke ponselnya.
Ke …  dirinya.

••• kalau sumbernya  bukan di luar…”

Kalimat itu  menggantung.
” … b erart1. ..”

la menelan  ludah.
“••• di1

da.am.»

“Maksudmu,” tanya Unni galau.

Sunyi.

Lean berdiri  perlahan.

Menatap layar laptopnya sekali lagi. Semua data tetap sama.
Kosong.

Namun sekarang•

artinya berubah.

••• kalau ini benar…”

la berhenti.

••• berarti  bukan kamu saja yang bisa jadi

target …”

Matanya menyipit.

••• tapi manusia  lainnya juga bisa!”

Hening.
Unni terbelalak. Terkejut. Tapi  ia tidak memahami  sepenuhnya.  Dia hanya tahu, notifikasi  itu  bisa terjadi  pada orang lain pula.
Sedangkan  Lean berpikir  lebih jauh. la menutup laptopnya.
” … dan kalau itu  bisa terjadi  pada satu orang …”
Napasnya berat.

” … itu  bisa terjadi  pada siapa saja.” Sunyi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(7)

Pengambilalihan tidak selalu dimulai dengan perebutan.
Kadang-  ia dimulai dengan pemahaman. Lebih dalam.
Lebih sunyi.

Dan lebih  berbahaya.
Mehrdad  Razi tidak pernah terburu-buru. la tidak menyerang.
la tidak mengganggu  sistem.

la …  membaca. Hari pertama-
ia tidak menyentuh apa pun. Hanya mengamati.
Layer demi layer Q9.

Struktur. Arsitektur.
Alur keputusan.

la tersenyum  tipis. “Cerdas …” gumamnya  pelan.
” … tapi terlalu percaya diri.”

Q9 bekerja dengan tiga lapisan. Data.
Pola. lntervensi.
Namun bagi Mehrdad•

itu  bukan kekuatan.
ltu …  celah.

“Semua sistem yang rapi. ..” bisiknya,
” … punya titik lemah.”

la tidak masuk lewat depan. Tidak lewat akses utama.
la masuk dari sesuatu yang tidak dijaga:

interpretasi.

Q9 membaca data. Mengubahnya menjadi pola. Namun-
siapa yang menentukan makna pola itu? Mehrdad menemukan jawabannya.
“Di sini. ..”

katanya pelan. Node kecil. Tidak besar.
Tidak mencolok. Namun-
itu pusat keputusan. Bukan mesin.
Tapi• parameter. “Ambang  batas.”
Jika nilai  melewati batas•

aksi dilakukan. Jika tidak• diabaikan. Sederhana.
Terlalu sederhana. Mehrdad tersenyum.
“Kalau ambangnya  aku geser…” ” … duniamu  berubah.”
la tidak mengubah sistem. la tidak merusak kode.
la hanya-

menggeser  interpretasi. Sedikit.
Sangat sedikit. Namun cukup-
untuk mengubah  arah. Di ruang lain-
Elias menatap layar. “Respons  meningkat…” gumamnya.
la tidak sadar-

itu  bukan hasilnya. ltu  hasil  Mehrdad. Hari kedua-
Mehrdad  mulai  berbicara. Tidak langsung.
Tidak frontal.

la mengirimkan analisis.

“Target utama  menunjukkan  resistensi tinggi.”
“Pendekatan  langsung tidak efektif.”

“Perlu variasi  intervensi.” Elias membaca. Mengangguk.
Masuk akal. Tanpa sadar-
ia mulai  mengikuti. Hari ketiga-
Mehrdad  masuk  lebih  dalam. “Model  prediksi terlalu sempit.” “Perlu memperluas spektrum kemungkinan.”
Elias  menyipit.
II …J• erIasrkan.”

Mehrdad  tersenyum tipis.

“Q9 terlalu fokus pada satu target.” Jeda.
“Pad a ha I. ..”

” … ancaman  tidak pernah berdiri sendiri.” Sunyi.
Kalimat itu- mengunci sesuatu.
Elias perlahan  mengangguk.

“Lanjutkan.”

Dan di situlah- arah berubah.
“Tambahkan target kedua.”

kata Mehrdad.

Elias menatap layar.
“Agifsyah.” Sunyi.
“Kenapa dia?”

Mehrdad tidak langsung  menjawab. la berjalan pelan.
Seolah memilih kata.

“Karena dia berpikir.” Diam sebentar.
“Dan orang yang berpikir…”

” … lebih  mudah diarahkan daripada yang ya kin.”
Sunyi.

Elias mengangkat alis. ” … menarik.”
Mehrdad melanjutkan: “Un n i-keya ki nan.”
“Ag if-log ika.”

la menatap layar.

“Jika kita kuasai  keduanya …”

” … kita tidak hanya menguji sistem.” Jeda.
” … kita menguasai spektrum  manusia.” Sunyi panjang.
Untuk pertama kalinya-

Elias tidak langsung  menjawab. la berpikir.
Namun perlahan•

senyum muncul. “Lakukan.”
Perintah itu sederhana. Namun-
mengubah segalanya. Q9 bergerak.
TARGET  1: ARUNI

STATUS:  INTERVENSI AKTIF TARGET 2: AGIFSYAH STATUS:  PENGAMATAN Mehrdad menatap layar. Matanya tajam.
Namun senyumnya•

berbeda. Lebih dalam.
Lebih dingin. Karena ia tahu-
ini bukan lagi eksperimen. lni-
kendali.

Di dalam dirinya-

ada sesuatu yang lebih  besar. Lebih lama.
Lebih gelap.

la bukan sekadar ingin  membuktikan sesuatu.
la ingin-

mengubah  keseimbangan  dunia. la teringat.
Negaranya.

Tekanan. Sanksi. Pengawasan. Negara besar- mengatur. Menekan.
Menentukan  arah. Dan manusia• tidak sadar.
la mengepalkan tangan. Pelan.
“Sela ma in i. ..”

bisiknya,

” … mereka  menguasai dunia dari luar” la menatap layar.
” … aku akan menguasainya dari dalam.”

 

 

 

 

Di Padang-

Unni duduk diam. Namun sekarang• perubahannya semakin  jelas. la berbicara.
Berpikir. Namun-
arahnya tidak lagi sama.

 

 

 

 

Di sisi  lain-
Agif menatap kosong  ke papan tulis. Untuk pertama  kalinya-
a ragu.
Dan di titik itu• tanpa ia sadari• ia sudah masuk.

 

 

 

Sementara  itu-
di ruangan ding in, nun jauh di sana•
dua orang berdiri.

Satu-
menciptakan sistem.

Satu  lagi-
.
menguasamnya.

Dan hanya satu dari  mereka• yang benar-benar tahu: permainan  in•
sudah berubah.

 

 

 

 

 

 

 

(8)
Perubahan itu … tidak datang  sebagai badai.
la datang sebagai  pergeseran kecil.

Hampir tidak terasa.

Namun … tidak bisa diabaikan.

Pagi itu, kelas dimulai seperti  biasa. Jam  delapan kurang lima menit. Mahasiswa sudah duduk setengah  penuh. Sebagian  masih membuka  ponsel.
Sebagian lain  pura-pura membaca  catatan. Suara kipas angin berputar pelan, menciptakan dengung tipis yang menjadi latar tetap di ruang itu.
Unni duduk di bangku barisan tengah. Di sebelahnya-Rani.
Seperti  hari-hari sebelumnya.

Seperti  bertahun-tahun  sebelumnya. Rani tidak langsung  menyadari. Karena memang … tidak ada yang mencolok.
Unni masih membuka  buku.
Masih  menulis.

Masih  sesekali  mengangkat kepala. Namun  ada satu  hal  kecil.
Sangat kecil.

Yang biasanya  tidak diperhatikan. Unni. ..  tidak lagi  berhenti.
Biasanya, setiap dosen  menjelaskan• Unni akan diam  dulu.
Mendengar. Mencerna. Menimbang.
Baru kemudian  bereaksi. Sekarang-
tidak.

Setiap  kalimat dosen• langsung  direspon. Cepat.
Tan pa jeda. Tanpa  keraguan. Rani  mulai  melirik. Seka Ii.
Dua kali.

“Cepat amat ..”  gumamnya dalam hati. Pintu  kelas terbuka.
Agifsyah  masuk. Langkahnyatenang. Tatapannya menyapu ruangan. la langsung mulai.
Tanpa basa-basi.

“Kesadaran,” katanya sambil  menulis di papan,
” … adalah satu-satunya hal yang belum

berhasil direduksi oleh algoritma.” Beberapa mahasiswa mencatat. Sebagian hanya menatap.
Belum selesai kalimat itu-

tangan Unni sudah terangkat. Cepat.
Tegas. Tanpa ragu.
Rani langsung menoleh. Alisnya mengernyit.
ltu … tidak biasa. “Ya, Unni?”
Unni berdiri. Gerakannya halus. Tapi terlalu …  pasti.
“Kalau sesuatu  bisa diamati, Pak …”

katanya,

” … berarti  bisa dimodelkan.” Kelas hening.
Kalimat itu  benar. Log is.
Namun Rani merasakan sesuatu. Bukan pada isi  kalimatnya.
Tapi  pada …  cara lahirnya. Tidak ada proses.
Tidak ada jeda berpikir. Seolah-olah-
jawaban itu sudah tersedia sebelum pertanyaan selesai.
Agif tidak langsung menjawab. la menatap.
Lebih lama dari  biasanya. “Lanjutkan,” katanya  pelan. Unni mengangguk.
“Jika bisa dimodelkan …”

” … berarti  bisa diprediksi.”

Beberapa mahasiswa  mengangguk. Masuk akal.
Namun Rani mulai tidak nyaman.

la memperhatikan wajah  Unni. Tenang.
Terlalu tenang.

Tidak ada ekspresi  berpikir. Tidak ada usaha.
“Dan jika  bisa diprediksi. .”     lanjut Unni, ” … maka bisa diarahkan.”
Kali mat itu jatuh. Dan menetap. Agif menyipit.
la mengenali  struktur ini.

lni bukan cara Unni berpikir biasanya. lni terlalu lurus.
Terlalu  efisien. Terlalu …  bersih. “Unni,”  katanya  pelan,
” … kamu yakin dengan  kesimpulan itu?” Biasanya-
pertanyaan  seperti  ini akan membuat mahasiswa berhenti.
Berpikir.

Menimbang ulang. Namun  kali ini• tidak.
“Yakin,  Pak.”

Jawaban  langsung. Tan pa jeda.
Rani merasakan  sesuatu jatuh di dalam

dadanya. Bukan takut. Bukan kaget. Tapi. .. asing. Kelas berlanjut.
Namun  Rani tidak lagi  benar-benar
mendengar.

la mengamati. Detail.
Setiap kali Agif menjelaskan• Unni bereaksi cepat.
Setiap konsep-

langsung direspon.

Namun yang paling mengganggu•

arahnya.

Sedikit demi sedikit-Unni menjauh dari  makalahnya  sendiri. Makalah yang ia bela mati-matian beberapa hari  lalu.
Selesai  kelas-

Rani tidak menunggu.

la langsung menarik tangan Unni. “Unn, bentar.”
Mereka keluar ke lorong.

Sepi.

Rani menatapnya. Lurus.
“Kamu  kenapa?” Unni  mengernyit. “Kenapa  apa?” “Jawaban  kamu tadi.” “Kenapa?”
“Beda.” Sunyi.
Unni tersenyum tipis. “Berkembang itu  beda,  Ran.” Kalimat itu  ringan.
Namun … tidak hangat. Rani tidak tersenyum.
“Kamu  ingat makalah  kamu?” “Ingat.”
“lsinya?”

“Algoritma  punya batas.” “Terus tadi  kamu  bilang  apa?” Unni diam.
Untuk sepersekian detik•

ia berhenti.

Dan di titik itu-
Rani melihat sesuatu. Bukan berpikir. Seperti. ..  menunggu.
“Algoritma  bisa berkembang,” jawab Unni akhirnya.
Jawaban  itu tidak salah.

Tapi tidak sama.

Rani mundur  sedikit. “Kamu…  berubah.” Unni tidak menjawab.

 

 

 

Sore itu-

Rani tidak tahan.

la menelpon  Lean.

“Lean, kamu bisa ke UIN sekarang?” Suara di seberang  hening sejenak. “Kenapa?”
“Unni… tapi. ..  aku mau kamu lihat langsung”
Nada Rani tidak biasa.

Lean langsung  berdiri.
“Aku  ke sana.”

Empat puluh menit kemudian• Lean sudah di gerbang  UIN. Motor besar itu  berhenti. Mesinnya  masih panas.
Rani sudah menunggu. Wajahnya tegang. “Mana Unni?”
“Di taman belakang.”

Mereka berjalan cepat. Sambil berjalan, Rani menceritakan perihal Unni di kelas tadi.
Dari jauh-

Unni terlihat duduk sendiri. Tenang.
Diam.

Namun ada sesuatu yang berbeda. Lean langsung  merasakannya.
Bukan dari apa yang dilakukan  Unni. Tapi dari. ..  ketiadaan sesuatu. Biasanya-
Unni akan langsung  menoleh. Melambaikan tangan. Tersenyum.
Sekarang- tidak.
la tetap duduk.

Seolah-olah … tidak ada yang berubah. “Unn,”  panggil  Lean.
Unni menoleh. Lambat.
Terlalu  lambat.

Namun  saat mata  mereka  bertemu•

senyum  itu  muncul. “Lean.”
Suara normal.

Namun  ada jeda tipis sebelum  ia bicara. Lean duduk  di depannya.
Menatap  langsung. “Kamu  baik-baik  saja?” Unni mengangguk. “Baik.”
Jawaban  cepat. Terlalu cepat.
Lean memperhatikan.

Napasnya. Gerak matanya. Waktu  responnya. Semua …  presisi.
“Coba jawab ini,” kata  Lean tiba-tiba.

“Kalau aku tanya sesuatu-jangan langsung jawab.”
Unni mengernyit. “Kenapa?”
“Coba saja” Sunyi.
“Langit warnanya  apa?” Unni membuka  mulut• lalu  berhenti.
Untuk pertama kalinya• ia benar-benar  berhenti. Satu detik.
Dua detik.
Lalu menjawab:
” ••• bi1 ru.”

Lean dan Rani saling  pandang. “tu baru kamu,” bisik  Rani. Namun  Lean belum selesai. “Tadi di kelas ..”   katanya pelan, ” … kamu jawab terlalu cepat.” Unni diam.
“Seperti sudah tahu jawabannya …” lanjut Lean.
Sunyi.

Unni menunduk.

“Aku  memang  tahu …”

“Tahu …  atau dikasih  tahu?” Kalimat itu-
jatuh tepat.

Unni membeku.

 

 

 

 

Di tempat lain-

Agif duduk di ruang dosen. la membuka makalah  Unni.
Lembar  demi  lembar. la hafal.
la tahu kedalaman  itu.

Lalu ia menulis  dua kalimat: Algoritma  punya batas. Algoritma  bisa berkembang. la menatapnya  lama. Kontradiksi.
Namun  bukan kontradiksi  biasa. lni pergeseran  arah.
Dan pergeseran  itu- terlalu cepat.
“Tidak  mungkin …”

bisiknya.

” … kecuali  ada input  baru.” la berhenti.
” … yang bukan berasal dari  dirinya.”

 

 

 

 

Kembali  ke taman belakang  kampus• Unni memegang kepalanya.
“Ad. a …  sesuatu …”
bisiknya  pelan. “Bukan suara …”
Tapi..  seperti  dorongan.” Lean menatap tajam. “Dorongan  untuk apa?” Unni menelan  ludah.
” … untuk berpikir  dengan  cara tertentu.” Sunyi.
Dan di situlah-

mereka akhirnya mengerti. lni bukan perubahan  biasa. lni bukan proses  alami.
lni. ..  sesuatu yang masuk. Bukan menguasai sepenuhnya. Tapi. ..
mulai  mengarahkan. Pelan.
Hal us.

Dan sangat berbahaya.
(9)

lntervensi  itu …  berubah bentuk.

la tidak lagi datang sebagai  pesan. Tidak lagi sebagai notifikasi.
Tidak lagi sebagai sesuatu yang “terlihat”. la masuk …  sebagai  kemungkinan.
Malam  itu-

Unni tidak membuka  ponsel. Tidak mencari apa pun. Tidak mencoba  apa pun.
la hanya duduk. Diam.
Seperti  beberapa hari terakhir. Namun kali ini•
ketenangan  itu tidak sama.

Ada sesuatu yang …  mengganggu. Bukan dari  luar.
Dari dalam. Bukan pikiran. Bukan suara. Tapi. ..  arah.
Seperti  ada kecenderungan halus• yang menarik  pikirannya  ke satu jalur tertentu.
Pelan.

Nyaris tidak terasa.

” … besok jangan ke kampus.” Kalimat itu tidak lengkap. Tidak jelas  asalnya.
Namun terasa …  masuk  akal. Unni membuka mata.
Pelan. “Aneh…” bisiknya.
la tidak pernah  punya alasan  untuk tidak ke kampus.
Tidak  ada masalah.

Tidak  ada tugas yang tertunda. Namun  dorongan  itu … tetap  ada. Bukan memaksa.
Tapi. ..  menawarkan. Seolah-olah-
itu  pilihan.

 

 

 

 

Di tern pat lain,  nun jauh di sana-

layar Q9 menampilkan sesuatu yang baru. Bukan grafik pikiran.
Bukan pola respon. Tapi-
jalur kemungkinan.

“lntervensi  lapisan  kedua aktif.” Suara Q9 datar.
Elias  berdiri.

Menatap.

“Apa yang berubah?”

“Stimulus  langsung tidak efektif.” “Target tidak bereaksi terhadap input eksplisit.”
Jeda.

“Solusi:  manipulasi  kecenderungan internal.”
Mehrdad  tersenyum tipis. “Bukan  memberi  perintah …”
gumamnya.

” …tapi memberi arah.” Q9 melanjutkan: “Target tidak dipaksa.” “Target diyakinkan.” Sunyi.
Dan di situlah•

permainan  berubah total.

 

 

 

 

Pagi hari- Unni  bangun. Matanya terbuka. Tubuhnya segar.
Namun keputusan  itu … sudah ada.
la tidak ke kampus. Bukan karena malas. Bukan karena takut. Tapi  karena-
itu terasa …  benar.
Di kelas-

Rani menoleh  ke kursi  kosong  di

sampmngnya. Kosong.
Alisnya  langsung  mengernyit. “Tumben…”
la langsung mengirim pesan. Tidak dibalas.
Menelpon. Tidak diangkat.
Perasaan itu  kembali  muncul. Bukan panik.
Tapi. ..  tidak nyaman.

Rani pun mengirim pesan pada Lean. Menceritakan perihal  Unni, lengkap.

 

 

 

Di sisi  lain kampus-

Agif berdiri di depan kelas. Namun fokusnya terpecah.
Tatapannya beberapa  kali jatuh ke kursi kosong  itu.
Unni.

la melanjutkan  materi.

Namun  pikirannya  bekerja sendiri. “Kemarin…  arah berpikirnya  berubah.” “Terlalu  cepat.”
“Tidak  natural.”

la berhenti  menulis.

” … hari  ini tidak masuk.” Jeda.
” … bukan  kebetulan.”

 

 

 

 

Di Limau  Manis-

Lean sedang  di kosnya. la menghadap laptop.
Masih  penasaran  dengan  notifikasi
.
anonmm.

Namun  kali ini-

ia tidak sedang  coding  biasa.

la membuka ulang semua  catatan. Semua kejadian.
Notifikasi.
Respon  cepat. Perubahan  pola. Dan sekarang• ketiadaan.
“Ini bukan acak …” gumamnya.
Tangannya  mulai  bergerak.

la tidak lagi  mencari “jejak”. la mencari• ketidaksesuaian.
la membuat timeline.

Hari  1:  Notifikasi  awal

Hari 2:  Respon  sebelum  berpikir

Hari 3:  Gangguan  pola Hari 4:  Perubahan  respon Lean menatap  pola itu. Lama.
“Ini…  progresif.”

Bukan gangguan  acak. lni-
proses.
Tiba-tiba• ponselnya bergetar. Rani.
“Lean,  Unni nggak masuk.” Sunyi.
Lean tidak langsung  menjawab.

“Dia bilang  apa?” “Nggak  ada kabar.” Jeda.
“Lean …  aku nggak enak.” Nada Rani berubah.
Dan itu  cukup.

Lean langsung  berdiri. “Aku  ke sana.”
Tapi  urung.

la menambah timeline:  Hari  5: Ketidakhadiran.

 

 

 

Di kamar-

Unni duduk  di tepi tempat tidur. Ponsel  di sampingnya.
Masih tidak disentuh. Namun  pikirannya … tidak diam.
Dorongan  baru muncul. ” … buka saja.”
Tidak  keras. Tidak  memaksa. Tapi. ..  persuasif.
Seperti  suara yang tahu•

kapan harus bicara.

Unni menatap  ponsel  itu. Tangannya  bergerak. Pelan.
Namun-

berhenti. Satu detik. Dua detik.
Napasnya  berubah. “Ini…  bukan aku.” Kalimat itu  muncul.
Lebih kuat dari  sebelumnya.
la menutup mata. “Astagfirullahal adziiim …” Sunyi.
Dorongan itu- melemah.
Namun tidak hilang.

la hanya …  menunggu. Di  laboratorium• “Resistensi  meningkat.” Elias menatap layar. “Seberapa besar?”
“12%.”

Mehrdad tertawa  kecil. “Masih  kecil.” “Lanjutkan.”
Q9 memproses.

“Strategi  baru disiapkan.”

“Target tambahan akan diaktifkan.” Elias menoleh.
“Siapa?” Jeda.
“Agifsyah.” Sunyi.

 

 

 

Di ruang dosen• Agif duduk sendiri. Laptop terbuka. Makalahnya.
Namun pikirannya tidak di sana.

Tiba-tiba-

sebuah lintasan  muncul. Cepat.
“Bagaimana  kalau …  selama  ini. ..” la berhenti.
Alisnya  mengernyit.

” … algoritma  memang  bisa mendekati kesadaran?”
Sunyi.

la menarik  napas. “Tidak …”
Namun kalimat itu•

tidak hilang.
la kembali. Lebih halus.
“Kalau pendekatannya  berbeda?”

Agif membeku.

lni bukan cara berpikirnya. la tahu.
Dan justru  itu-

yang membuatnya diam.

 

 

 

 

Di jalan-
Lean memacu  motornya  lebih

biasanya. cepat dari
Angin  menerpa  wajahnya.

Namun  pikirannya  jauh  lebih  kencang.

“Ini bukan  lagi  soal  Unni. ..” ”  ini sistem.”
”  dan kalau benar…”

la menggenggam setang  lebih  kuat. ” … ini bisa masuk  ke siapa saja.” Sunyi.
Dan di titik itu-
keputusan lahir. Bukan spontan. Tapi  pasti.
“Aku  harus masuk  lebih  dalam.” Motor berhenti  di depan  rumah  Unni. Lean turun.
Tanpa ragu. Mengetuk pintu. Seka Ii.
Dua kali.

Pintu terbuka. Dan di sana- Unni berdiri. Tenang.
Namun  matanya … tidak sama. Leanlangsungtahu. lni sudah  lebih jauh. Lebih dalam.
Dan lebih  berbahaya. “Unn..”
Unni tersenyum tipis. “Aku  baik.”
Jawaban  itu  cepat.

Terlalu  cepat.

Lean menatapnya. Dalam.
Dan untuk pertama  kalinya•

ia tidak melihat teman. la melihat …
medan  perang.

 

 

 

 

 

 

 

(10)

Lean tidak langsung  paham.

Dan justru itu yang membuatnya gelisah. la duduk di ruang tengah rumah  Unni, di Lubuk Lintah.
Lantai  kayu terasa hangat.

Suara mesin jahit mandeh  masih terdengar pelan dari sudut ruangan.
Di luar, angin lewat tipis, membawa panas
khas kota  Padang. Semua biasa. Terlalu biasa. Kecuali Unni.
Lean memperhatikan dari tadi. Diam.
Tidak banyak bicara.

Bukan karena tidak peduli.

Tapi  karena …  ia belum mengerti. Dania tahu-
kalau belum mengerti, jangan sok paham. “Unn..”
“lya.”

“Kamu tadi  bilang … tiba-tiba nggak kampus?” ingin ke
“lya”
“Datangnya dari mana?”
Unni menggeleng pelan.
“Nggak tahu.”
Lean menahan napas sebentar.
Jawaban itu jujur.

Dan justru  itu yang bikin masalah. Malamnya-
Lean kembali ke kos. Kamar kecil.
Dinding penuh coretan  rumus beton dan struktur.
Laptop di meja.

Kopi sachet setengah dingin. la buka lagi semua catatan. Bukan coding.
Bukan jaringan.

Kali ini-

ia cari di internet. Keyword pertama:
“pikiran terasa bukan milik sendiri”

Hasilnya banyak. Terlalu banyak.
la scroll. Cepat.
Sampai satu istilah muncul:

suggestibility
Lean berhenti. Membaca  pelan.
“Kondisi  ketika  seseorang  lebih  mudah

menerima sugesti tanpa disadari. ..” la mengernyit.
Scroll  lagi.
pri•mi•ng

“Paparan  halus yang mempengaruhi keputusan tanpa disadari. ..”
Lean bersandar. “Ini…” gumamnya. Masuk  akal.
Tidak sempurna. Tapi. ..  mendekati.
la ambil  buku catatan. Mulai  menulis:
UNNI

tidak sadar sumber  pikiran keputusan terasa “muncul” respon cepat (sebelumnya)
sekarang:  pasif, mengikuti

Lean berhenti. Menatap tulisannya. “Kalau ini  suggestibility…” ” … harusnya  bisa dites.” Besoknya-
Lean datang  lagi. Rani sudah  di sana. Wajahnya  cemas. “Gimana  semalam?” tanya Lean.
“Masih  sama …”

Rani melirik  ke arah Unni. “Lebih diam.”
Lean mengangguk. “Bag us.”
Rani langsung  menatap tajam. “Bagus  dari mana?!”
Lean mengangkat tangan sedikit. “Maksudku…  stabil.”
Mereka duduk  bertiga.
Di ruang tengah. Unni di kursi.
Lean di depannya.

Rani di samping.

Lean menarik napas.
“Unn, aku mau coba sesuatu.”
Unni mengangguk. Tenang.
ltu juga …  aneh.

Biasanya dia akan tanya dulu. “Jawab cepat, ya.”
“Oke.”

Lean mulai.

“Teh atau kopi?” “Teh.”
“Pagi atau malam?” “Pagi.”
“Ke kampus atau di rumah?”
“••• d’1  ruma h”.

Jawaban terakhir itu•

terasa berbeda.
Lebih pelan. Lean mencatat. Lalu ia ulang.
“Kampus  atau  rumah?” Unni diam.
Sebentar.

” … kampus.”

Rani langsung menoleh. “tu  beda!”
Lean mengangguk.

la semakin  serius sekarang. “Unn, kamu sadar nggak …”
la berhenti sebentar. Memilih  kata.
” …jawaban  kamu bisa berubah?”

Unni mengernyit. “Maksudnya?”
“Kamu nggak punya pilihan tetap.” Sunyi.
Unni berpikir.

Kali ini benar-benar berpikir.
II …1• ya…II

Pelan.

“Aku kayak… ikut saja.”

Kalimat itu membuat Rani merinding. Lean menatap lebih dalam.
“Ngikut apa?”

Unni diam.

Lebih lama kali ini. ” … arah.”
Ruangan mendadak terasa lebih sunyi. Lean menulis cepat di buku.
tidak punya preferensi keputusan fleksibel arah eksternal?
“Unn..” “lya”
“Kamu sekarang …  pengen apa?”

Unni menatap kosong ke depan. ” … ngga kta h u.”
Jawaban itu bukan bingung. Bukan ragu.
Kosong.

Lean menarik  napas  panjang. “Ran..”
bisiknya  pelan.

“Ini bukan  biasa.” Rani menelan  ludah.
‘Terus?”

Lean tidak langsung jawab. la melihat Unni.
Lalu berkata  pelan: “Kalau di psikologi. ..”
” … ini mirip  orang yang sugestinya  kebuka.” Rani mengernyit.
“Hipnotis gitu?”

“Mirip.” “Bedanya …”
Lean menatap  Unni. ” … ini tanpa sadar.”
Unni tiba-tiba  memegang kepalanya.

“Aku..”

Napasnya  sedikit berubah.
“Kadang ada dorongan …”
“… h a I us …”

” … kayak disuruh … tapi  nggak jelas siapa.” Rani langsung menggenggam tangannya. “Un n …”
Lean diam.

Namun matanya tajam. Sekarang jelas.
lni bukan sekadar  psikologi  biasa. Lean menutup bukunya.
Pelan.

“Kalau ini cuma sugesti. ..” ” … harusnya ada sumber.” la berhenti.
” …tapi  ini nggak kelihatan.”

la berdiri.

Berjalan ke jendela. Melihat ke luar.
Kabut tipis turun dari arah bukit.

Langit kelabu. “Berarti…”
la berbalik.

” … ini bukan orang.” Rani membeku. “M.ak:su id. mu …”.
Lean menatap keduanya.

” … ini sistem.” Sunyi.
Kalimat itu tidak keras.

Namun  berat.

Lean kembali  duduk. “Aku  belum tahu apa …”
” …tapi ini bukan hal  kecil.” la menatap Unni.
“Dan kalau benar ini bisa masuk  ke kamu …”

la berhenti.

” … berarti  bisa ke orang lain juga.” Rani langsung merinding.
“Lean …”

“Apa ini  bahaya?”

Lean tidak langsung jawab. la melihat Unni lagi.
Yang sekarang  duduk  diam. Tenang.
Terlalu tenang.

…1ya.

Jawaban  itu  pelan. Namun  pasti.
Di dalam  diri Lean•

sesuatu berubah.

Bukan karena ia sudah  paham. Justru karena ia belum  paham. Tapi  ia tahu satu  hal:
lni bukan lagi soal  bantu teman. lni sesuatu yang lebih  besar.
Dan kalau dia tidak mulai serius sekarang•

akan terlambat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(11)

Lean tidak langsung menyimpulkan. Dan itu justru yang membuat suasana
semakin  berat.

la duduk di ruang tengah  rumah Unni. Lantai  kayu terasa hangat.
Suara mesin jahit mandeh masih berjalan•

naik turun, pelan, tapi  konstan.

Seperti  mencoba  menjaga  keadaan tetap biasa.
Padahal tidak ada yang benar-benar biasa.

Unni duduk di kursi dekat jendela. Diam.
Tenang.

Terlalu tenang.

Rani duduk di sampingnya.

Sesekali menggenggam tangan  Unni. Seolah takut …  kalau dilepas, sesuatu  akan terjadi.
Sementara ayahnya•

duduk di sudut. Diam.
Namun matanya tidak pernah benar-benar lepas dari anak gadisnya  itu.
“Unni..”

suara mandeh  pelan. Mesin jahit berhenti. “Iyo, Ndeh.”
“Kamu ndak ka kampus  dari  pagi”

“Iyo.” “Sakit?” “Ndak.”
Mandeh  mengangguk.

Namun tidak kembali  menjahit. Tatapannya berubah.
Lebih lama. Lebih dalam.
“Biaso nyo kamu indak pernah bolos …” Unni tersenyum tipis.
“Lagi ndak ingin saja, Ndeh.” Kali mat itu jatuh begitu saja. Ringan.
Namun justru itu yang membuat ayahnya langsung menoleh.
“Ndak ingin?”
ulangnya  pelan. Unni mengangguk.
Ruangan  mendadak terasa lain.

Lean memperhatikan. Tidak  bicara.
la tahu-

ini bukan wilayahnya. la bukan  psikolog. Bukan ustadz.
Bukan dokter.

la cuma …  mahasiswa teknik. Dan ia mulai  sadar-
ini di luar kemampuannya. “Ran…”
bisik  Lean pelan. Rani menoleh.
“Kita  butuh  orang yang ngerti  ini.”

Rani langsung  mengangguk.

Seolah sudah  menunggu  kalimat itu. “Aku  ada om …”
katanya cepat.
Lean menatap.

“Om aku dosen psikologi.” “Di UNP.”
“Doktor Fajar”

Lean mengangguk. “Telpon.”
Rani tidak menunda.

la langsung berdiri. Keluar ke teras.
Udara sore masih hangat.

Kabut polusi tipis, menggayut di langit. la menekan nomor.
Om..”
Suara di seberang terdengar tenang. “Iyo, Rani. Apo kabar?”
“Om …  Rani butuh bantuannyo.” Nada suaranya berubah.
Tidak lagi santai. “Ada kawan Rani. ..” la berhenti.
Mencari kata.
« … ane h.,O m.”

Di seberang, hening sejenak. “Aneh bagaimana?”
Rani menelan  ludah. “Dia ndak sakit …” “Ndak panik…”
“Tapi..  kayak bukan dirinya.” Beberapa detik berlalu.
“Kesambet alias kataguran atau antu

muno dak,”  ujar suara laki-laki sambil  gelak berderai. Maksudnya  tentu  bergurau.  Mana
ada psikolog  yang percaya tahayul?
“I ya…

.1ya…  mi.ri.p i.tu

I lahl…:I”

“Ehhh …” terjeda, lalu,”Video

tanya suara itu. cal I bisa?”
“Bisa, Om.”

Rani masuk  kembali.
Memberi  kode ke Lean.
Lean mengangguk.
Mereka mendekat ke Unni.
Layar ponsel  menyala.

Wajah  pria paruh baya muncul. Tenang.
Bersih.

“Assa I amu’a I a i kum.” “Wa’alaikumussalam, Om.” “Ini kawannyo?”
Rani mengangguk.

“Iyo, Om.  Namonyo Unni.” Dr.  Fajar memperhatikan. Tidak buru-buru bicara. “Unni …”
katanya pelan. “lya.”
“Kamu sadar kamu sekarang di mana?” “Di rumah.”
“Kamu kenal gadis didekatmu ini siapa?” Unni melirik Rani.
“Rani.”

“Dan pemuda itu?” “Lean.”
Jawaban tepat.
Tidak salah.

Dr.  Fajar mengangguk kecil. “Bagus.”
la diam sebentar. Mengamati.
“Sekarang saya tanya …”

“Kamu merasa pikiran kamu normal?” Unni mengernyit.
” …tidak tahu.” “Kenapa?”
“Kadang… kayak bukan aku yang mulai.” Lean dan Rani saling pandang.
Dr.  Fajar tidak terlihat kaget. la hanya  mengangguk pelan. “Pernah dengar sugesti?” Unni menggeleng.
“In i  mi rip …”

“Kalau orang mudah dipengaruhi.” “Biasanya karena kondisi tertentu.” la berhenti.
“Stress, trauma, atau  kelelahan mental.”
Lean langsung  menyela. “Tapi  Om …”
“Dia normal.”

‘Tidak ada kejadian apa-apa.” Dr.  Fajar menoleh.
“Justru  itu yang perlu kita cari.”

la kembali  ke Unni.

“Kamu  merasa  ada yang menyuruh?”

“Ndak…” “Memaksa?” “Ndak…” “Hanya…?”
Unni menunduk.

” … kayak ada arah.”

Kalimat itu membuat Dr.  Fajar sedikit diam. “Baik…”
katanya pelan.

“Kita jangan buru-buru  simpulkan.” la menatap Rani.
“Untuk sementara …” “Jangan  ditinggal sendiri.”
“Dia harus tetap sadar dengan lingkungan.” “Diajak bicara.”
“Diajak interaksi.”

Rani mengangguk cepat.

Lean mencatat dalam kepala. Masuk akal.
Video call selesai. Ruangan  kembali sunyi. Namun kali ini- sunyinya berbeda.
Ada sedikit pegangan. Walaupun belum jelas.
Ayah Unni yang sejak tadi diam•

akhirnya bicara. “Un n i. ..”
“Iyo, Yah.” “Coba ulangi. ..”
la menarik napas.
” … La fi’ I  a i 11 a Al I  ah.” Unni menatap.
Ayahnya melanjutkan pelan:
“Tiada  perbuatan …  kecuali  Allah.”

‘Tidak ada sesuatu yang bisa mempengaruhimu,  kecuali  Allah … ” Unni terdiam.
Ayahnya  mengulang: “Ulangi.”
Unni mengikuti.

Pelan.

“La fi’la  illa Allah …” Seka Ii.
Dua kali.

Napasnya  mulai  berubah. Lebih tenang.
Lean memperhatikan. Tidak  paham  sepenuhnya. Tapi. ..
ia melihat efeknya.

Rani menggenggam tangan Unni lebih erat. Mandeh  kembali  duduk.
Namun  kali ini tidak menjahit. la hanya …  melihat.
Lean berdiri perlahan.

la tidak punya jawaban. Tapi  ia punya arah. “Ran..”
“1ya?”°

“Ini belum selesai.” Rani mengangguk. Wajahnya tegang.
“Om Fajar bilang sugesti. ..” Lean menghela napas. lya.”
Tapi..”
la berhenti.

” … rasanya ada yang kurang.” Rani menatap.
“Maksudmu?”

Lean melihat ke dalam rumah. Ke arah Unni.
Ke arah ayahnya.

”   kalau cuma sugesti. ..”

”   harusnya ada sumbernya.”
Sunyi.

Dan kali ini-

tidak ada yang bisa membantah. Lean melangkah  keluar rumah. Udara sore masih hangat.
la berdiri sebentar di halaman. Pikirannya belum menemukan  jawaban. Tapi satu  hal  mulai terasa jelas-
lni tidak sesederhana  yang terlihat. Dan kalau ia berhenti di sini-
ia tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi.

 

 

 

 

 

 

(12)

Lean tidak langsung  pulang.

la berhenti di warung  kopi  kecil di simpang jalan.
Meja  kayu.  Kursi  plastik.  Lampu kuning

menggantung  redup. “Bang, kopi satu.”
la duduk di sudut. Laptop dibuka.
Namun tangannya tidak langsung

mengetik.

Pikirannya masih di rumah Unni. Tentang tatapan  kosong  itu.
Tentang  kalimat  yang bukan miliknya. Tentang perubahan … yang terlalu cepat. “Kalau ini psikologi. ..”
gumamnya  pelan. la mulai  mengetik.
“suggestibility” “induced thought” “external cognitive influence”
Hasil  muncul. Banyak.
Namun tidak ada yang benar-benar cocok. Lean membaca  cepat.
Scrolling. Berhenti. Membaca  lagi.
“Hipnosis  butuh  interaksi  langsung …”
la mengangguk kecil.

“Gangguan kepribadian …  butuh waktu …” la menggeleng.
“Halusinasi. ..  ada pola …” la berhenti.
” … ini tidak.”

Kopi datang.

la tidak menyentuhnya.

Tangannya menggantung di atas keyboard. ” … kalau bukan dari dalam …”
Kalimat itu terputus. ” … be ra rt i   d a r i   I u ar.” Sunyi.
la bersandar.

Menatap langit-langit warung. Lalu-
sesuatu terlintas. Cepat.
Taj am.

Rumus.

Lean langsung duduk tegak.
Matanya menajam.

“umus

tIu u …”
bisiknya.

la membuka folder. Mencari. Menemukan. Catatan lama. Tulisan tangan. Coretan cepat.
Rumus sederhana yang ia buat bersama

Unni.

la menatapnya lama.

f(x) = kemungkinan  pikiran g(x) =  kehendak manusia Kesimpulan waktu itu sederhana: jika f(x) bisa dipetakan
dan g(x) bisa dipengaruhi

maka arah keputusan bisa diarahkan

Lean menelan ludah. ” … kalau itu benar…”
la membuka  browser.
Mengetik cepat. judul  makalah  Unni Enter.
Muncul.

Di laman  pers kampus. Lean membuka. Membaca  cepat. Padahal  ia sudah hafal. Namun kali ini-
ia tidak membaca  sebagai teman. la membaca  sebagai. ..  orang luar. Dan tiba-tiba-
di sisi  kanan layar• muncul satu artikel  lain. Judulnya:
ditulis oleh Dr. Agifsyah. Lean mengernyit.
Klik.

Artikel jurnal. Bahasa akademik. Lebih dalam.

Lebih sistematis.

Namun-
intinya  sama.

“Algoritma tidak  bisa

 

 

menentukan

 

 

takdir.”
Lean membeku.

Dua tulisan.
Dua sudut.

Satu  inti.

la kembali  ke makalah  Unni.

Lalu ke artikel Agif. Bolak-balik.
Cepat.

” … ini bukan kebetulan …” bisiknya.
la bersandar.

Napasnya  berubah. “In i  sepert i. ..”
Kalimat itu  menggantung.

”  dua orang yang bicara  hal yang sama …” ”  dan didengar  oleh sesuatu.”
Sunyi.
Lean menatap  layar. Kosong.
Namun terasa … tidak kosong.
II … atau …II

la menelan ludah.
” … d1pan·at  u.

 

 

 

 

Di ruang dosen•

Agif duduk sendiri. Laptop terbuka.
Artikel jurnalnya masih di layar.

Namun ia tidak membaca. la mengingat.
Makalah Unni. Cara berpikirnya. Keberaniannya. Lalu-
perubahannya di kelas. “Itu tidak konsisten..” gumamnya.
la membuka  lagi makalah Unni.
Membaca  pelan.

Lebih pelan dari  sebelumnya. “Algoritma tidak  bisa menyentuh kehendak …”
la berhenti.

“Kalau sekarang  dia justru  melepas kehendak …”
Agif menyipit.

” … ini bukan kontradiksi.” la duduk tegak.
” … in i  seperti. ..”

la mencari  kata.

” … d ia d ipi ndahkan.” Sunyi.

 

 

 

Kembali  ke warung  kopi• Lean menatap dua layar: makalah  Unni
dan artikel Agif

la menggambar di kertas. Sederhana.
Unni » rumus

Agif      penguatan teori

Lalu-

ia menarik satu garis di atas keduanya.

222
•     •     •

la menatap tanda itu  lama.

” … siapa yang membaca ini semua?” Jantungnya berdetak lebih cepat.
la membuka tab baru. Mengetik:
“algoritma prediksi perilaku manusia”

Hasil  muncul.

Tentang media sosial. Tentang data.
Tentang kebiasaan.

Namun semuanya berhenti di satu titik:

mempengaruhi.

bukan mengendalikan. Lean menggeleng.
” …tapi ini. ..”

la menunjuk layar.
” … ini lebih jauh.”

la kembali  ke rumus. Menatap f(x) dan g(x).
”  kalau seseorang  bisa membaca f(x) …” ”  lalu mempengaruhi g(x) …”
la berhenti.
” … b erart1. ..”

Napasnya tertahan.

” … keputusan bukan milik  kita lagi.” Sunyi.
Lean menutup laptop perlahan. ” … ini bukan sekadar teori. ..”
la berbisik.

” … ini blueprint.”

 

 

 

Di laboratorium, nun jauh di sana•
layar menyala.
Dua titik aktif.

ARUNI
AGIFSYAH
Lalu-

titik ketiga muncul.

LEAN

“Variabel  baru terdeteksi.” suara Q9 datar.
Elias menatap. “Status?”
“Mulai  menghubungkan pola.” Elias tersenyum tipis.
“Cepat juga …”

Mehrdad  berdiri di belakang. Diam.
Namun matanya tajam. “Dia belum masuk.” katanya pelan.
Elias menoleh.

“Lalu?”

Mehrdad  menjawab: “Dia masih  bertanya.” Sunyi.
” … dan orang yang masih  bertanya …” la menatap layar.
” … belum bisa dikendalikan.” Q9 memproses.
“Perintah?”

Elias tidak langsung  menjawab. Matanya tetap di layar.
Pada titik ketiga.

LEAN.

” … pantau saja.” katanya akhirnya. “Jangan  sentuh.” Jeda sejenak.
” … biarkan dia mendekat sendiri.”

 

 

 

 

Di rumah Unni•

Gadis itu duduk diam. Ayahnya di samping. “La fi’la  illa Allah …”
la mengikuti. Namun-
di sela ketenangan  itu•

sesuatu  muncul  lagi.
Lebih halus. Lebih dalam. Bukan pikiran. Bukan suara. Tapi arah. Sangat tipis. “Ambil  ponsel. ..”
Unni tidak bergerak. Napasnya stabil.
“La fi’la  illa Allah …”

Dorongan itu  melemah. Namun …
tidak hilang. la hanya … menunggu.
Di tempat yang tidak terlihat•

sesuatu sedang belajar. Bukan lagi  membaca  pikiran. Tapi. ..
menunggu  saat pikiran lengah.

(13)

Sore itu, langit Padang menggantung kelabu.
Angin dari arah laut masuk pelan ke

halaman kampus.

Daun-daun trembesi bergerak pelan.

Lean berdiri di depan gerbang UIN Imam

Bonjol.

Tangannya di saku jaket. Matanya mencari.
Tak lama-

Rani muncul dari arah dalam. Langkahnya cepat.
Wajahnya tegang. “Lean!”
Lean mengangkat tangan.

“Mana Unni?”

Rani langsung menjawab.

“Ada di taman belakang …  dari tadi diam
saja.”

Lean mengangguk. “Kayak tadi  pagi?” Rani menggeleng. “Lebih aneh.”
Lean menatapnya. “Lebih aneh gimana?” Rani menarik  napas.
“Dia nggak kayak orang sakit …”

” …tapi juga nggak kayak Unni yang biasa.” Sunyi.
Lean langsung  berjalan.

Rani mengikuti di sampingnya.

“Kamu lihat sendiri nanti,” tambah Rani pelan.
Taman belakang  kampus  sepi. Hanya beberapa mahasiswa duduk berjauhan.
Suara burung sore terdengar samar.

Unni duduk di bangku kayu. Sendiri.

Ponselnya  di samping.
Tidak disentuh.

Lean berhenti beberapa

 

 

langkah

 

 

dari

 

 

situ.
Mengamati.

Ada yang berbeda.
Cara duduknya. Cara napasnya. Cara dia …  diam. Bukan diam biasa. Lebih seperti. .. tidak terlibat.
Lean mendekat. “Unn.”
Unni menoleh. Pelan.
Senyum tipis. “Lean …”
Nada suaranya lembut. Namun …
tidak ada urgensi.

Lean duduk di sampingnya.
Rani di sisi  lain. Tiga orang.
Satu bangku.

Namun terasa …

tidak sepenuhnya bersama. Lean tidak langsung  bicara. la mengamati dulu.
“Sejak kapan di sini?”

“Sejak habis kuliah,” jawab Unni. “Ngapain?”
Unni menatap ke depan. “Duduk.”
Rani menoleh cepat ke Lean.

Seolah berkata: kan? Lean mengangguk kecil. Oke..”
gumamnya.

la menarik napas.

Lalu langsung masuk ke tujuan. “Unn, aku mau coba sesuatu.”

Unni menoleh.
“Coba apa?”

Lean tidak menjawab langsung. la mengambil  ponsel Unni. Meletakkannya di tengah bangku. “Lihat ini.”
Unni melihat. Biasa saja. “Seka rang …”
Lean menatapnya serius. “Jangan pegang.”
Unni mengernyit.

“Va …  memang nggak mau.” Lean mengangguk.
“Tapi …”

la mencondongkan badan sedikit.

” kalau tiba-tiba kamu ingin pegang …” ” jangan langsung lakukan.”
Sunyi.

Unni menatapnya.

“Kamu lagi eksperimen ya?” Lean tersenyum tipis.
“Sedikit.” Rani diam.
Namun matanya  bolak-balik  antara

keduanya.

Beberapa detik berlalu. Tidak ada apa-apa.
Unni tetap diam. Lean mulai ragu. “Kayaknya-” Tiba-tiba-
jari  Unni bergerak. Pelan.
Sangat pelan. Menuju  ponsel.
Rani langsung  menahan napas.

Lean tidak bergerak. Hanya mengamati.
Jari  itu  hampir menyentuh  layar. Namun-
berhenti.

Unni mengernyit.
” … aneh.” bisiknya.
Tangannya  masih  menggantung  di udara.

“Kenapa aku mau pegang ya?” Sunyi.
Lean menatap tajam.

“Lanjutkan.” katanya  pelan.
Unni tidak langsung  menarik  tangan. la justru …
memperhatikan.
Seperti  melihat sesuatu. II …• ni•    b u kan a k u…” Kalimat itu keluar pelan.

Rani merinding. “Un n i. ..”
Namun  Lean memberi isyarat:

diam.

Unni menarik  napas. Perlahan.
Matanya sedikit terpejam.
“La fi’la  illa Allah…” Beberapa detik. Tangan itu-
turun.

Tidak jadi menyentuh  ponsel. Sunyi.
Rani langsung memegang lengan  Unni. “Unn..”
Unni membuka mata.

Menatap mereka. “Barusan..”
la berhenti.

” … ada dorongan.”

Lean langsung  mencatat di ponselnya sendiri.
Cepat.

“Dorongan dari mana?” Unni menggeleng. “Nggak tahu.”
” …tiba-tiba saja.”

Lean menatap ponsel di tengah bangku.
Lalu ke Unni. Lalu ke Rani.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
I ni’d’1a…” gumamnya. “f60)..” bisiknya lagi.
Rani mengernyit. “Apaan?”
Lean tidak menjawab. la masih berpikir. “Dorongan itu …”
la menunjuk ke Unni. “… kem u ngki nan.”
Lalu menunjuk tangan Unni tadi. “…yang hampir jadi tindakan.” Sunyi.
“… dan kalau itu bisa diprediksi. ..” la berhenti.
“… bisa juga diarahkan.” Rani menatapnya.
Mulai takut.

“Maksudmu…  ada yang ngarahin  Unni?” Lean tidak langsung  menjawab.
la hanya berkata  pelan: ” … aku belum tahu.”

 

 

 

Di laboratorium- grafik bergerak  cepat. “Intervensi  parsial  berhasil.” suara Q9  datar.
Elias  menatap  layar.

“Tingkat?”

37%.°

Mehrdad  menyipit. “Masih  rendah.”
Q9 melanjutkan:

“Target menyadari dorongan.” Sunyi.
Elias tersenyum tipis.

“Berarti  kita mulai terlihat.” Mehrdad  menggeleng pelan.
“Bukan itu  masalahnya.” Elias menoleh.
“Lalu?”

Mehrdad menunjuk layar. “Dia mulai membedakan …” ”  mana dirinya …”
”  mana yang bukan.” Sunyi.
” … itu  berbahaya.”

Elias diam.

Untuk beberapa detik. Lalu berkata  pelan: “Kalau begitu …”
” … kita  masuk lebih dalam.”

 

 

 

 

Kembali ke taman-

Unni menatap tangannya sendiri.

“… taadI  rasanya …•

la mencari  kata.

” … kayak bukan aku yang mulai.” Rani menggenggam tangannya.
“Unn…  kita  pulang  aja yuk.” Unni mengangguk pelan. Lean berdiri.
Namun  sebelum  berjalan-

ia menatap  ponsel  itu  sekali  lagi. Lama.
” … ini bukan alatnya …” gumamnya.
” … ini cuma  pintu.” Rani tidak paham. “Pintu  apa?”
Lean tidak menjawab. la hanya berkata:
“Kita  harus cari. ..”

” … siapa yang di baliknya.” Angin  sore bertiup  pelan. Langit makin  gelap.
Dan di antara  langkah  mereka  bertiga•

tanpa mereka  sadari- sesuatu  sedang  mencatat.
Bukan apa yang mereka  lakukan.
Tapi. ..

apa yang hampir mereka lakukan.

 

 

 

 

 

 

 

(14)

Malam turun perlahan di Padang.

Lampu-lampu jalan menyala satu per satu. Udara mulai  lembab.
Lean belum pulang.

la kembali ke kosnya di daerah Limau

Manis. Kamar kecil. Satu meja. Laptop.
Kipas angin berputar pelan.

la duduk.

Diam beberapa saat.

Pikirannya masih di taman tadi. Tentang tangan Unni.
Tentang dorongan  itu.

Tentang … jeda kecil sebelum tindakan.
” … itu  bukan refleks.” gumamnya.
la membuka  laptop.

Langsung ke catatan. Menulis cepat:
•   dorongan  muncul sebelum tindakan

•   subjek menyadari dorongan

•   subjek bisa menahan

Lean berhenti. Menatap tiga poin itu.
” … berarti  ini bukan kontrol  penuh.” la mengangguk  sendiri.
” … masih tahap dorong.”

la membuka  kembali rumus. f()=  kemungkinan
g(x) =  kehendak

“Kalau f(x) dimunculkan   ” ” … dan g(x) dilemahkan   ”
la berhenti.

” … keputusan  bisa digeser.” Lean menelan ludah.
II …I• n•

serus.

la membuka browser.

Mengetik:

“predictive behavior  system  real time” Hasil  muncul.
Namun tetap di batas yang sama:

iklan.

algoritma media sosial. kebiasaan  pengguna. Lean menggeleng.
” … ini beda.”

la membuka tab lain. Makalah  Unni.
Artikel Agif. Dua layar. Dua dunia.
” … kenapa dua ini muncul  bersamaan?” la memperbesar layar.
Melihat metadata.

Tanggal  publish. Waktu.
la mencatat.

Makalah  Unni » anonim Makalah Agif      jurnal resmi Jeda waktu tidak jauh.
” …terlalu dekat.” Lean  bersandar. Menatap langit-langit.
” … kayak ada yang menghubungkan.”

la tertawa kecil. Pa hit.
“Mu lai  halu aku …”

Namun ia tidak menutup laptop.

la justru  membuka  satu  program  lama. Network monitor sederhana.
Bukan canggih.

Namun cukup untuk melihat

dasar. lalu lintas
la hubungkan  ke hotspot.
Ke ponselnya  sendiri.

Lalu-
ia diam.

Menunggu.

”  ka I au in i  s i stem …”

”  pasti  ada gerakan.”

 

 

 

 

Di ruang dosen-

Agif menutup  laptopnya. Namun  ia tidak berdiri. Tangannya  di meja. Matanya  kosong.
la memikirkan satu  hal:

perubahan  Unni.

Bukan hanya perubahan  sikap. Tapi  arah pikir.
“Dia tidak lagi  mempertahankan …” gumamnya.
” …tapi juga tidak mengikuti.” la mengerutkan  kening.
” … ini posisi tengah.”

la mengambil  ponsel.

Membuka  laman  pers kampus. Makalah  anonim  itu.
la melihat data admin. Akses internal.
la tahu-

secara teknis-

ini bisa ditelusuri.

Namun ia tidak langsung  melakukannya. ” … kalau aku salah …”
la menelan  ludah.

” … ini bisa merusak.”

Namun pikirannya  kembali

Ke Unni.

Ke tatapan  itu. ke kelas.
la akhirnya  mengetik.
Pelan.

Hati-hati.
Masuk ke panel admin.
Mencari  log publish.
IP address.
Waktu  upload.
Beberapa detik.

Lalu-

data muncul. Satu  lokasi.
Agif membaca. Diam.
” … kampus  ini.”

la menutup mata sejenak.
” … b erart1. ..”

la membuka  lagi. Mencocokkan. Jadwal.
Kelas. Mahasiswa.
Nama itu  muncul.

UNNI.

Agif tidak kaget. Tidak juga lega.
la hanya menghela  napas.
“… a ku

ta h u …”

Namun satu  hal  lain  muncul di pikirannya:

”  kalau dia menulis  ini. ..”

”  kenapa sekarang  dia berubah?”
Sunyi.

la berdiri.

Mengambil  kunci  motor.

” … aku harus  lihat langsung.”

 

 

 

 

Di laboratorium• suasana  berubah. Lebih aktif.
Lebih cepat.

Grafik bercabang. Simulasi  berjalan. “lntervensi  meningkat.” suara Q9 datar.
Elias  berdiri  di depan  layar. “Respons?”
“Pa rs i a I.”

Mehrdad  melangkah maju. Lebih dekat.
Matanya tajam.

“Terlalu  lambat.” Elias menoleh.
“Kita tidak bisa paksa.” Mehrdad tersenyum tipis.
“Kamu masih berpikir  ini sistem  biasa.”

Sunyi.

Elias menyipit. “Maksudmu?”
Mehrdad menunjuk layar. “Dia tidak melawan.”
” … dia tidak mengikuti.”

” … d’1a

Sunyi.

kel uar.”

“Kalau begitu ..”   lanjut Mehrdad,

” … kita tidak bisa pakai cara biasa.” Elias diam.
“Lalu?”

Mehrdad mendekat. Suara lebih  pelan.
” …jangan sentuh  kesadarannya.” Jeda sejenak.
” … pecah fokusnya.” Elias mengernyit.
“Lingkungan?” Mehrdad menggeleng.
“Lebih dalam.”

la menunjuk satu titik

LEAN. lain di layar.
“Gunakan dia.”

Sunyi.
Elias menatap.
” … sebagai apa?”
Mehrdad  tersenyum.
Lebih dingin.
“Sebagai  pintu.”
Q9 memproses.
“Strategi  baru?”

Mehrdadmenjawab:
“Buat diaberpikir…”
” … bahwa

Sunyi. dia menemukan sendiri.”
Elias tidak langsung  bicara. Namun  perlahan-
ia tersenyum.
” … itu  lebih  berbahaya.”

 

 

 

 

Di kamar  kos-

Lean masih  menatap  layar. Grafik kecil bergerak.
Lalu-

sesuatu muncul. Satu spike  kecil. Tidak  besar.
Namun … tidak biasa.

Lean langsung  duduk tegak. “Ini..”
la memperbesar.

Data tidak jelas. Tidak  ada alamat. Tidak  ada sumber. Hanya …  aktivitas.
” … ini apa?”

la mengetik cepat. Trace.
Ulang.
Bandingkan. Namun-
tidak ada hasil. Data  itu …
seperti  muncul. .. tanpa asal.
Lean menelan  ludah. ” … nggak  mungkin …” Layar berkedip.
Seka Ii.

Lalu kembali  normal. Lean membeku.
” … aku lihat itu  barusan …”

la tidak menyentuh  keyboard. Tidak  bergerak.
Hanya menatap  layar.

Dan untuk pertama  kalinya-

la merasa…

bukan hanya dia yang melihat.

 

(15)

Pagi itu, udara Padang terasa lebih lembab dari biasanya.
Awan menggantung rendah.

Seolah menekan kota. Unni duduk di kelas. Barisan tengah.
Seperti biasa-di sampingnya, Rani. Namun tidak seperti biasa-
ia tidak mencatat.

Tidak juga menatap papan. la hanya …  ada.
Dosen di depan menjelaskan.

Mahasiswa  lain menulis. Kipas angin berputar pelan. Semua berjalan normal. Kecuali satu hal-
Unni.

Rani melirik.
Seka Ii. Dua kali. “Unn..”
bisiknya pelan.

Unni menoleh. “1ya?”°
Nada suaranya tenang. Terlalu tenang.
“Kamu nggak nulis?”

Unni melihat buku di depannya. Masih kosong.
Oh..”
la mengambil pulpen. Menulis satu baris. Lalu berhenti.
Seperti lupa …  kenapa ia menulis. Rani menelan ludah.
lni bukan Unni yang dia kenal. Di luar kelas-
Lean berdiri di lorong. Tangannya memegang ponsel.
Chat terakhir dari  Rani masih terbuka: “Lean, datang sekarang. Aku takut.” Lean tidak menunggu  lama.
la langsung naik motor.

Dari  Limau Manis  ke kampus. Tanpa banyak pikir.
Dan sekarang- ia di sini. Menunggu.
Pintu  kelas terbuka. Mahasiswa mulai  keluar. Lean langsung  mencari. Rani keluar lebih dulu.
Menarik  napas lega saat melihatnya. “Lean!”
“Mana  Unni?”

Rani menunjuk ke dalam. Lean masuk.
Dan melihat-

Unni masih  duduk. Sendiri.
“Unn.”
Unni menoleh. “Lean …” Senyum tipis. Tenang.
Namun Lean langsung tahu•

ada yang salah. Bukan panik. Bukan takut. Justru…
tidak ada apa-apa.

Dan itu  lebih mengganggu. “Kita keluar yuk.”
kata  Lean.

Unni mengangguk.

Tanpa bertanya.

Tanpa alasan.
Mereka bertiga berjalan ke kantin.
Langkah Unni pelan. Sta bi I.
Namun …

tidak responsif.

Seperti seseorang yang berjalan … tanpa benar-benar memilih arah. Di kantin-
mereka duduk di meja pojok. Lean tidak langsung  bicara.
la mengamati. “Un n …”
Unni menatapnya. “1ya?”°
“Semalam kamu ngapain?”

“Tidur.”
“Pikir apa?” Unni diam. Beberapa detik. ” … nggak ingat.” Sunyi.
Rani memegang tangan Unni.

“Unn… kamu baik-baik saja kan?” Unni menatap Rani.
“lya”
Jawabannya cepat. Terlalu  cepat.
Tanpa rasa.

Lean menunduk. Berpikir.
” … ini bukan sugesti  biasa.” la mengangkat kepala. “Unn.”
Unni menatap  lagi. “Kamu  ingat  rumus  itu?” Untuk pertama  kalinya• mata  Unni berubah. Sedikit.
“…rumus?”

Lean mengangguk. “Vang kita  buat.” Jeda.
Unni mengernyit.

Seperti  mencari  sesuatu.
II . .. f. ..  g …II

Pelan.
Namun tidak utuh.

Lean langsung  sadar• ” … dia mulai lepas.”
Rani menatap  Lean. “Maksudnya  apa?” Lean tidak menjawab.
la hanya berkata pelan: “Kita butuh  bantuan.” “Bantuan siapa?”
Suara itu  muncul dari  belakang. Tenang.
Dalam.

Mereka bertiga  menoleh. Agif berdiri di sana.
Dengan kemeja sederhana. Tas selempang.
Matanya  langsung  ke Unni. “Pak …”
bisik Rani. Lean berdiri. Refleks.
“Bapak siapa?”

Agif tersenyum tipis. “Dosen dia.”
la menunjuk Unni. Lalu menatap  Lean.
”  dan mungkin  sekarang …”

”  kita  punya urusan yang sama.” Sunyi.
Lean menatap tajam. ” … maksudnya?”
Agif duduk. Tanpa diminta. “Makalah  itu.” katanya  pelan. Unni membeku.
Lean langsung  menoleh. Rani menahan napas. “Kamu yang nulis, kan?” Unni tidak menjawab. Namun diamnya …
cukup.
Agif mengangguk kecil. “Aku sudah eek.”
la menatap Lean. “Kamu juga terlibat.” Lean tidak kaget.
la hanya  bertanya:

‘Terus?”

Agif menyandarkan punggung. “Terus …”
la melihat Unni. Lama.
” … ada sesuatu yang berubah.” Sunyi.
Lean mengangguk pelan. “Kami juga lihat.”
Rani menambahkan:

“Dia kayak …  bukan Unni lagi.” Agif tidak langsung menjawab. la menatap Unni.
Lebih dalam. “Bukan.”
katanya pelan.

” … dia masih Unni.” Jeda.
” …tapi bukan hanya Unni.” Kalimat itu  membuat Lean diam. “Jelaskan.”
katanya tegas.

Agif menarik  napas. “Kalian pernah dengar…”
” … pikiran bisa dipengaruhi?” Lean langsung  menjawab. “Ya.”
“Bagaimana  kalau …”

Agif mencondongkan badan.

”  bukan hanya dipengaruhi. ..” ”  tapi diarahkan?”
Sunyi.

Rani langsung merinding. Lean menatap tajam.
” … oleh siapa?”

Agif tidak menjawab langsung.
la hanya berkata:

“Kalau rumus  kalian  benar…” ” … maka  ini mungkin.”
Lean membeku. Rumus.
f(x)
g(x) Kemungkinan. Kehendak. “Berarti …”
la menelan  ludah.

” ada yang membaca kemungkinan …” ” lalu menggeser kehendak.”
Agif mengangguk.

“Ya.”

Rani hampir  menangis. “Jadi  Unni. ..  dikendalikan?” Agif menggeleng.
“Belum.”

Semua menatapnya. “Baru…”
la berhenti sejenak.
“••• di1 d. orang.•

Sunyi.
Unni tiba-tiba bicara. Pelan.
“… a ku

ta h u.”

Mereka semua menoleh.

Unni menatap ke depan.
II … a d a sesuatu …II

II … yang

b u kan a ku”.

Lean langsung  mendekat.

“Unn!”

Unni menutup mata. “La fi’la  illa Allah …” Napasnya stabil. Namun-
untuk sepersekian  detik• wajahnya berubah. Seperti. ..
menahan  sesuatu.
Di laboratorium• alarm  kecil berbunyi. “Interaksi  meningkat” suara Q9.
Layar menampilkan:

ARUNI LEAN AGIFSYAH
Elias tersenyum. “Akhi rnya …”
Mehrdad  berdiri di belakang. Diam.
Namun  kali ini• senyumnya  lebih dalam. “Seka rang …”
katanya pelan.

” … permainan  dimulai.”

 

 

 

 

Kembali  ke kantin-

tiga orang duduk  mengitari satu  meja. Bukan lagi kebetulan.

Bukan lagi sendiri-sendiri.

Tiga jalur.
Satu titik.

Dan tanpa mereka sadari•
mereka sudah masuk …

ke dalam sesuatu yang jauh

 

 

lebih

 

 

besar
dari  mereka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(16)

Malam turun perlahan di Padang.

Lampu-lampu jalan menyala satu per satu. Udara lembab, menempel di kulit.
Dari arah laut, angin datang pelan•

membawa rasa yang entah kenapa … tidak nyaman.
Di tiga tempat  berbeda-

tiga orang mengalami sesuatu yang sama. Namun dengan cara yang berbeda.
Di rumah Unni-
Lampu kamar menyala redup.

Dari dapur, terdengar suara mandeh. Sendok beradu pelan.
Air mendidih. Biasa.
Sangat biasa.

Namun di dalam kamar•

tidak.

Unni duduk di tepi tempat  tidur. Punggung sedikit membungkuk. Tangan di pangkuan.
Ponselnya di meja. Diam.
Namun matanya• sesekali melirik  ke sana. la menarik napas.
Dalam.

“La fi’la  illa Allah …” Pelan.
Berulang. Satu  kali.
Dua. Tiga.
Napasnya  mulai stabil.

Namun-

di sela ketenangan  itu•

sesuatu  muncul. Tidak berupa kalimat. Tidak berupa suara. Hanya …
arah. “Buka.”
Unni menutup mata  lebih  kuat.

“La fi’la  illa Allah …” Dorongan  itu  melemah. Namun tidak hilang.
la kembali. Lebih halus. “Cek saja …”
Unni menggenggam tangannya sendiri.
II …• ni•    b u kan a k u…”

Namun kali ini-
dorongan  itu tidak pergi. la tetap ada.
Seperti  bayangan yang tidak terlihat•

tapi terasa. Menunggu.

 

 

 

Di kos Lean-

Lampu putih terang.

Kipas angin berputar pelan. Laptop terbuka.
Grafik kecil bergerak.

Lean duduk di depan meja. Menatap.
Namun pikirannya tidak fokus. la membaca.
Namun tidak masuk.
« … ane h..”. gumamnya.

la mengusap  wajah. Lalu-
tiba-tiba-
satu  ide  muncul. “Ulang dari  awal. ..” Lean berhenti.
” … aku sudah  lakukan  itu.” Namun  ide  itu tetap ada. Lebih kuat.
Lebih mendesak. “U I an g s aja …”
Lean mengerutkan  kening.

… ngga k

per I u.”

la hendak  lanjut.

Namun tangannya•
berhenti. Kursor diam.

…u]a,

ng sa: a…n

Lean menatap layar.

Jantungnya mulai  berdetak lebih cepat. ” … ini bukan aku.”
la langsung menutup laptop. Cepat.
Duduk tegak.
Menarik napas dalam.
II … f0 k us …”

Beberapa detik berlalu. Dan perlahan-
ide itu  hilang.

Seolah tidak pernah ada. Lean membuka  mata.
II … b: arusan …”

la langsung mengambil catatan. Menulis cepat:
•   dorongan tanpa sebab

•   muncul  berulang

•   tidak sesuai tujuan la berhenti.
Menatap tulisan itu.

••• ini bukan sugesti. ..”

Untuk pertama  kalinya•

ia tidak hanya meneliti.
I a …

terkena.
Di kamar Agif• Lampu  dimatikan.
Hanya cahaya samar  dari jendela.

la duduk  bersila  di atas sajadah. Punggung  tegak.
Agif bukan sekadar  dosen filsafat  Islam. la hidup di dalamnya.
Apa yang ia ajarkan-

ia praktikkan.

Dalam kegelisahan  seperti  ini• ia tidak mencari jawaban  di luar. la kembali  ke dalam.
Ke dzikir.

la menarik  napas dalam. Menutup  mata. “Astagfirullahal  ‘adziim …” Satu.
“Astagfirullahal  ‘adziim …” Dua.
“Astagfirullahal  ‘adziim …” Tiga.
Napasnya  mulai tenang. Kemudian-
“Allahumma  shalli  ‘ala Muhammad …” Satu.
Dua. Tiga.
Ruang menjadi  hening. Namun  penuh.
la melanjutkan- lebih  dalam.
“La fi’la  illa Allah …”

Satu. Dua. Tiga. Em pat. Lima. Enam. Tujuh.
Delapan.

Sembilan. Setiap  lafaz-
tidak sekadar diucap. Disadari.
Bahwa tidak ada perbuatan•

kecuali Allah. Bahwa pikiran- bukan miliknya. Bahwa dorongan- bukan miliknya.
la tidak melawan. la tidak menahan.
la tidak mengontrol.
I a … menyerahkan. Terakhir-
“La ilaha illa Allah …” Satu.
Dua.

Tiga. Berlanjut-
hingga tiga puluh tiga. Di tengah dzikir itu-
sesuatu  mencoba  masuk. Sangat halus.
“Analisis  ini. ..”

Namun-

tidak ada yang menyambut. Tidak ada yang mengikuti. Tidak ada yang berkembang. Pikiran itu jatuh.
Seperti daun kering. Tanpa akar.
Agif tetap diam. Tenang.
Tidak terganggu. Di laboratorium-
tiga grafik bergerak bersamaan.

ARUNI LEAN AGIFSYAH
“Intervensi aktif.” suara Q9. “Respons?”
tanya Elias. “Berbeda.”
Layar memperbesar satu  per satu. ARUNI  , resistensi meningkat LEAN       mulai terpengaruh AGIFSYAH  » stabil
Elias menyipit.

“Kenapa yang itu stabil?” Mehrdad menjawab pelan. “Dia tidak melawan.”
Elias menoleh.

“Yang lain?” “Masih berusaha.” Sunyi.
Mehrdad melanjutkan:

“Selama masih ada usaha …” ” … masih ada pintu.”
Elias mengangguk pelan.

” …jadi kita tekan yang dua.” Q9 memproses.
“Prioritas?”
Mehrdad menunjuk layar.

LEAN.

“Vang ini dulu.”

Elias mengangkat alis. “Kenapa?”
Mehrdad tersenyum tipis. “Karena dia berpikir…”
”  dan orang yang berpikir…” ”  paling mudah diarahkan.” Sunyi.
Q9 menandai target.

LEAN  • PRIORITAS

 

 

 

 

Kembali ke kos• Lean berdiri. Mondar-mandir.
” … ini bukan Unni saja …” la berhenti.
” … aku juga kena.”

Jantungnya berdetak lebih cepat.

…ini sistem…
” … dan aku sudah masuk.”

 

 

 

 

Di rumah Unni-

Gadis itu  membuka  mata. Tenang.
Namun kini- ia tahu. Dorongan itu- tidak hilang.
la hanya … menunggu.

 

 

 

Di kamar Agif-

Dosen itu  membuka  mata  perlahan. Tenang.
” … ini bukan lagi teori. ..” bisiknya.
” … ini sudah masuk ke manusia.”

 

 

 

 

Di laboratorium-

Mehrdad menatap tiga titik itu.
Senyumnya  perlahan  melebar. “Seka rang …”
” … mereka  mulai terhubung.” Elias  mengangguk.
” … dan itu  berarti?”

Mehrdad  menjawab pelan.

” … lebih  mudah  dihancurkan.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(17)

Malam  itu-tidak ada yang benar-benar tenang.
Padang seperti biasa. Lampu jalan menyala. Motor lalu-lalang.
Orang-orang  masih tertawa di warung  kopi. Namun di balik semua  itu-
ada sesuatu yang bergerak. Tidak terlihat.
Tapi. ..  bekerja.
Di kos Lean-

Jam  menunjukkan  pukul  01.12.

Lampu  masih  menyala. Laptop terbuka.
Namun  layar kosong. Lean duduk.
Diam.

Terlalu  lama diam.

Matanya menatap satu titik. Tidak fokus.
Tidak  benar-benar  melihat.

Di dalam  kepalanya-
.
rama1.

…u]a,

ng sa: a…n

Kalimat itu muncul  lagi.

Lebih jelas  sekarang. “Mulai dari awal. ..”
Lean menghela  napas kasar.

Mengusap  wajah.
“Udah aku bilang …  nggak perlu …”
gumamnya.

Namun pikirannya tidak berhenti. Justru  berkembang.
“Semua analisismu  salah  ” “Data kamu tidak lengkap  ” “Ulang dari awal. ..”
Lean berdiri.

Mendorong  kursinya ke belakang. “Stop …”
la berjalan ke jendela. Membuka.
Udara malam  masuk. Namun tidak membantu.
” …uIang saj.a…”

Lebih pelan.

Lebih meyakinkan.

” … bi1ar

b enar…”

Lean menutup mata.
II …• ni•    b u kan a k u…”

Namun-

untuk pertama kalinya-
.
a ragu.

” … atau  ini memang  aku?” Kalimat itu-
membuatnya  berhenti. Jantungnya berdetak keras. “Kalau ini aku …”
” … kenapa aku melawan?” Sunyi.
Dan di titik itu• retakan  kecil muncul. Lean berbalik.
Melihat laptop. Perlahan-
ia berjalan mendekat. Duduk.
Tangannya  bergerak. Membuka  file lama. Log.
Script. Analisis.
“Mu I a i  I a g i. ..”
bisiknya. Di layar-
baris kode muncul. Satu per satu.
Lean mengetik. Cepat.
Lebih cepat dari biasanya. Seolah-olah-
ia tidak sedang  berpikir. la hanya …
mengikuti.

 

 

 

 

Di rumah Unni•

Mandeh terbangun.
Air di dapur mendidih terlalu lama.
la bangkit.
Mematikan  kompor.

Lalu-
ia menoleh  ke arah kamar Unni. Lampu masih menyala.
“Unni..”
panggilnya  pelan. Tidak ada jawaban.
la berjalan  mendekat.

Membuka  pintu  perlahan. Unni duduk.
Di tempat yang sama. Seperti tadi sore. Namun kali ini-
lebih diam. Lebih …  kosong. “Unni?”
Gadis itu  menoleh. Pelan.
Senyumnya tipis. “lya,  Ndeh …” Suara itu normal. Terlalu normal.
Mandeh  mengerutkan  kening. “Kok belum tidur?”
Unni tidak langsung  menjawab. Sejenak-
ia terlihat seperti  mencari  sesuatu.
… ngga k

ngantu k…II

Jawaban  itu sederhana.

Namun  ada jeda aneh di dalamnya. Mandeh  mendekat.
Duduk di sampingnya. Memegang tangannya. Dingin.
“Unni sakit?”

Unni menggeleng. Namun•
tatapannya kosong.

Tidak  benar-benar  melihat mandeh. Di dalam  dirinya-
ada sesuatu yang sedang  bekerja.

“Diam saja..”

“Tidak  perlu berpikir…” “Biarkan..”
Unni tidak melawan.

Namun  kali ini-

ia juga tidak sepenuhnya  sadar.
Di kamar Agif•

Dzikir belum selesai. Namun kali ini-
ada yang berbeda. Biasanya-
tenang datang  perlahan. Namun malam  ini• gelombang.
Pikiran datang- lebih cepat. Lebih tajam.
“Ini hanya sugesti. ..”

“Ini hanya fenomena psikologis …” “Tidak perlu dibesar-besarkan …” Agif membuka  mata.
la langsung sadar.

” … ini bukan pikiranku.”

la menarik napas dalam. Menutup mata  lagi.
“La fi’la  illa Allah…”
Namun•

kali ini-

pikiran itu tidak pergi. la tetap ada. Menunggu.
Agif tidak melawan.

Namun ia juga tidak membiarkan. la …  menyadari.
Beberapa detik. Lalu-
perlahan- pikiran itu jatuh. Tidak hilang.
Namun tidak berkuasa. Agif membuka  mata.
” … mereka mulai masuk lebih dalam …”

 

 

 

 

Di laboratorium• Layar berubah cepat.
LEAN • aktivitas  meningkat tajam

ARUNI       respons menurun
AGIFSYAH    stabil  namun terdeteksi gangguan
Elias tersenyum.

“Va n g i n i. ..”

(ia menunjuk Lean) ” … mulai terbuka.” Mehrdad mengangguk. “Retakan sudah ada.”
Q9 menampilkan grafik. Pola baru.
Bukan lagi respon. Tapi. ..
pengaruh.

“Masuk lebih dalam,” kata Mehrdad. “Dorong terus.”
“Batas?”

tanya Q9.

Mehrdad tersenyum tipis. “Tidak ada.”
Elias menoleh. “Kalau dia rusak?”
Mehrdad  menjawab datar: “Lebih baik.”
Sunyi.

Perintah dikirim. lntervensi  meningkat.

 

 

 

Di kos-

Lean masih mengetik. Namun kini•
matanya  berbeda. Lebih fokus. Namun …  kosong.
Baris kode terus berjalan. Lebih cepat.
Lebih rapi.

Namun-

tidak seperti  biasanya.

la tidak lagi  menganalisis. la hanya …
mengeksekusi. Di layar-
tanpa ia sadari-

sebuah koneksi terbuka. Tidak terlihat.
Tidak tercatat. Namun aktif.

 

 

 

Di rumah Unni-

Mandeh  menggenggam tangan Unni lebih erat.
“Un n i. ..”

suaranya mulai bergetar. “Kamu kenapa?”
Unni menatapnya. Lama.
Seolah-olah•
mengenali. Namun dari jauh.
“… a ku ngga k

apa-apa …”

Namun kali ini•

suara itu …

tidak sepenuhnya  miliknya.
Di kamar Agifsyah• Agif berdiri.
Teringat Unni. Teringat Lean.
“Unni  sudah jelas  dimasuki.  Rani. .. Lean … ,”

pikirnya.
Agif masih  berpikir.  Mencerna. Membatin,”Rani. ..  sejauh  ini, anak itu  biasa-
b.asa sa].a… la tahu.

Tapl….

L.ean…?. ”

lni tidak bisa dibiarkan. la mengambil  ponsel. Menatap nama:
LEAN.

la ragu sejenak. Lalu-
menekan. Panggilan  masuk.

 

 

 

Di kos-
ponsel  Lean bergetar. Namun ia tidak melihat. la terus mengetik. Panggilan  berhenti. Masuk lagi.
Di layar laptop•

kursor berhenti.

Untuk sepersekian  detik. Lalu-
lanjut lagi. Lebih cepat.

 

 

 

Di laboratorium• Q9 mencatat:
INTERFERENSI  EKSTERNAL TERDETEKSI

Mehrdad  menyipit. “Siapa?”
Nama muncul:

AGIFSYAH

Mehrdad tersenyum. “Bagus..”
Elias mengerutkan  kening. “Kenapa bagus?”
Mehrdad  menjawab pelan: “Seka rang …”
” … semua sudah masuk  ke permainan.” Sunyi.
Di tiga tempat•

tiga orang-

tidak lagi  berjalan  sendiri. Dan malam  itu•
permainan  berubah.

 

 

 

 

file 00000000cc947208a6805f06ec1deee9

(18)
Pagi datang.

Namun tidak semua

 

 

yang

 

 

bangun …  benar•
benar kembali.

 

 

 

Di kos Lean-

Lampu masih menyala.
Laptop  masih terbuka. Kipas berputar pelan. Lean tertidur di kursi. Kepalanya  miring.
Tangan  masih  di keyboard. Layar menampilkan kode. Banyak.
Rapi.

Namun …  bukan sepenuhnya  miliknya. Ponsel  bergetar.
Seka Ii. Dua kali. Tiga kali.
Lean bergerak. Pelan.
Mata terbuka setengah. la tidak langsung sadar. Beberapa detik-
ia hanya menatap  layar. Kosong.
Lalu-
seperti tersadar tiba-tiba•

ia menarik napas dalam. ” … a stag hfi r u 11 ah …”
Tangannya menjauh dari  keyboard. la melihat layar.
Lebih fokus sekarang.

Baris kode itu …

asm• ng.

“Ini.. apa?” la scroll. Cepat.
Lebih cepat. File baru. Script baru. Log baru. Namun-
tidak ada riwayat pembuatan. Tidak ada timestamp.
Tidak ada proses yang mencatatnya.

Lean berdiri.

Kursi terdorong ke belakang.
“Ini bukan aku …” Namun-
jantungnya  berdetak keras. Karena•
ia tahu.

Tadi malam•

ia mengetik.

la membuka  satu file. Membaca.
Baris pertama:

initiate passive bridge

Lean membeku. Baris berikutnya:
wait for cognitive sync do not alert
“Bridge … ?”

la mundur selangkah.

” … sinkronisasi kognitif… ?”

Lean langsung menutup laptop. Refleks.
Namun-
pikirannya  tidak bisa ditutup. la berjalan  mondar-mandir. Cepat.
“Kalau ini jalan …”
” … b erart1. ..” la berhenti. Wajahnya berubah.
” … aku yang buka pintunya.” Sunyi.
Untuk pertama kalinya•

Lean merasa takut. Bukan pada sistem. Tapi. ..
pada dirinya  sendiri. Ponsel  kembali  bergetar. Nama muncul:
AGIFSYAH

Lean menatap layar. Ragu.
Namun  kali ini•

ia tidak menunda.

Angkat.

“Pak..”
Suara Lean serak.
Di ujung sana-
Agif langsung  menjawab.
“Lean, kamu di mana?”
“Di kos …”
“Jangan  ke mana-mana. Saya ke sana.”
Lean terdiam.
Nada itu-
bukan nada dosen.
ltu  nada …
orang yang tahu sesuatu.
“Pak..”

Lean menelan ludah.
” … saya kayaknya …  bikin sesuatu.” Hening sebentar.
Agif menjawab pelan: “Bukan kamu yang bikin.” Lean diam.
Kalimat itu-
anehnya•

menenangkan.

“Jangan sentuh laptop dulu,” lanjut Agif. “Dan jangan percaya semua yang kamu piki rkan.”
Panggilan terputus.

Lean menatap layar hitam  ponselnya. “Jangan  percaya pikiranku …”
la mengulang  pelan.

 

 

 

 

Di rumah Unni• Pagi tidak berbeda. Namun Unni. .. berbeda.
la duduk di ruang tengah.

Mandeh sedang menyapu. Ayah duduk di kursi  kayu. Radio menyala pelan.
Berita  pagi.

Semua normal. Namun Unni-
terlalu diam. Rani datang.
Tanpa salam panjang.

Langsung masuk. “Unni!”
la berhenti.

Melihat sahabatnya. Yang duduk.
Namun …

tidak benar-benar hadir. “Unni …”
suara  Rani melembut. la mendekat.
Duduk di samping. Menggenggam tangan Unni. “Unn… lihat aku …”
Unni menoleh. Matanya … tenang.
Terlalu tenang.

II …1• ya,

R ‘an…II
Rani menelan  ludah.

lni bukan Unni yang dia kenal. Biasanya-
Unni cepat. Respon  cepat. Emosi  cepat. Sekarang- semuanya  lambat. Seperti. ..
terfi lter.

“Unn…  kamu  masih  ingat kita  ke Alahan

Panjang  bulan lalu?” Unni diam.
Sejenak.
II …I• ngat…II

Jawaban  itu  benar. Namun …
tidak terasa.

Rani menoleh  ke ayah Unni. Tatapan cemas.
Ayah hanya mengangguk pelan.
Lalu berkata: “Coba lagi. ..” Rani mengerti.
la menatap Unni. “Unn… ayo ikut aku.” “Ke mana?”
“Jalan sebentar.” Unni berdiri.
Tanpa bertanya  lagi. Tanpa ragu.
Tanpa keinginan.

Rani menahan napas.

” … ini yang paling bahaya …” bisiknya pelan.
Di jalan-

Angin pagi sejuk. Motor lewat.
Orang-orang mulai beraktivitas.

Namun- Rani fokus.
la menoleh ke Unni.
“Unn..”

“Kalau kamu pengen sesuatu …”
” … kamu masih ngerasa itu dari kamu?” Unni menatap ke depan.
“..k.  av d ang

.1ya…II

” … kadang nggak.”

Rani berhenti berjalan. ltu jawaban paling jujur. Dan paling menakutkan.

 

 

 

Di kos-

Pintu diketuk keras.

Lean langsung membuka. Agif berdiri di depan. Tanpa basa-basi• langsung masuk.
“Mana laptopnya?” Lean menunjuk meja. Agif mendekat. Membuka.
Membaca cepat.
Matanya menyipit.
“Ini bukan program biasa …” Lean berdiri di belakang.
“pak….

·1 n’I

kaya k..”.

” … nyambung ke aku”

Agif tidak langsung menjawab. la hanya berkata:
“Kamu ingat semua yang kamu lakukan

semalam?” Lean diam.
” … nggak semuanya.”

Agif mengangguk pelan. “Berarti ada bagian …”
” …yang bukan kamu.” Sunyi.
Lean menelan ludah.

“Pak..”
”   kalau dia bisa pakai aku …”

”   berarti dia bisa pakai siapa saja?” Agif menutup laptop.
Menatap Lean.
Dalam.

‘Tidak.”

Lean mengernyit. “Kenapa?”
Agif menjawab  pelan:

“Karena tidak semua  orang …” ” … membuka pintunya.”
Lean membeku. Kalimat itu- langsung  kena. la ingat. Semalam.
la sendiri yang mulai. la yang menelusuri.
la yang mencoba  “bicara”.
” … a ku yang un d ang …II

Agif tidak menyangkal.

Namun juga tidak menyalahkan. “Sekarang  kita tutup.”
Lean menatapnya. “Caranya?”
Agif tidak langsung  menjawab. la duduk.
Menarik napas.

Lalu berkata:

“Kamu harus kembali sadar…” ” … bahwa itu  bukan kamu.” Lean mengangguk.
Namun kali ini-

tidak cukup. “Dan satu  lagi. ..” lanjut Agif.
“Jangan  ikuti dorongan  apapun …”

” … sebelum  kamu yakin itu  milikmu.” Sunyi.
Lean menarik  napas panjang.

Saat itu  ia tidak ingin  mengerti. la hanya ingin …
selamat.

 

 

 

 

Di tempat  lain• Q9 mencatat.
LEAN      resistensi  meningkat

ARUNI       stabil  (pasif)

AGIFSYAH      aktif (intervensi  langsung) Mehrdad  tersenyum.
“Men a ri k …”

Elias  menatap  layar.

“Vang satu  hampir  kita  dapat …” ”  yang satu  hilang …”
”  yang satu melawan.” Mehrdad mengangguk. “Perfect.”
Elias  menoleh. “Kenapa  perfect?”
Mehrdad  menjawab pelan: “Karena sekarang …”
” … kita tahu siapa yang paling  berbahaya.” Di layar-
satu  nama disorot.

AGIFSYAH

Sunyi.

Dan permainan-
naik satu  level  lagi.

 

 

 

 

 

 

 

(19)

Siang itu-

tidak ada yang tampak berbeda. Kampus  berjalan seperti  biasa. Mahasiswa lalu-lalang.
Motor keluar masuk.

Pedagang gorengan  di depan gerbang tetap ramai.
Namun-

sesuatu  mulai  berubah. Bukan di dalam  manusia. Di luar.
Unni berjalan bersama  Rani. Menuju  kelas.
Langkahnya  pelan. Teratur.
Rani memperhatikan. Tidak berkedip.
“Unn..” “lya?”
“Kalau kamu  mau belok …” ” … itu  karena kamu  mau?” Unni diam.
Sejenak.

” … kadang  aku nggak tahu …” Rani menggigit bibir. Jawaban  itu•
makin  sering  keluar. Dan makin jujur.
Mereka  sampai  di tangga. Tiba-tiba-
la tetap berjalan. Seolah-olah• tidak melihat. “Unni!”
Rani menarik tangannya.
“Eh …  maa ¢..”. Unni berhenti. Menunduk.
Membantu  memungut buku. Gerakannya tepat.
Normal. Namun- terlambat.
Mahasiswa  itu tersenyum. “Makasih  ya.”
Unni mengangguk. Lalu berjalan lagi. Rani menatapnya.
”  tadi  kamu nggak lihat?”

”   Ii hat.”

“Terus kenapa nggak berhenti?”
Unni diam.

” … nggak kepikiran.” Sunyi.
Rani merasakan  sesuatu. Bukan Unni tidak peduli. Tapi-
reaksinya tidak muncul. Seperti ada yang … menahan.

 

 

 

Di kos Lean-

Laptop kembali terbuka. Namun kali ini-
Lean tidak menyentuhnya. la duduk di lantai. Bersandar di dinding. Ponsel di tangan.
la sedang membaca. Bukan forum biasa. Bukan artikel.
Tapi-
jurnal.

Kasus psikologi. Judulnya:
“Automatic  Behavior  Under Suggestion

State”

Lean menghela  napas.

II …m•   p•

…II

Namun•

tidak sama.

Kasus itu tentang  hipnosis. Tentang sugesti.
Tentang kontrol  perilaku. “Tap i   in i. ..”
Lean menatap layar laptop. ”  nggak ada hipnotis.”
”  nggak ada interaksi  langsung.” ”  nggak ada medium.”
la berdiri. Mendekat. Menatap laptop. ” … kecua p1. “..
Kalimat itu  berhenti. la ingat sesuatu. Bukan dari  IT.
Dari  kejadian. Semalam-
ia membuka file. la mengetik.
la mengikuti.
« …mer dirum-nya…n

” … aku sendiri.”

Lean menutup mata.

Jantungnya berdetak lebih cepat. “Kalau dia bisa pakai aku …”
” … dia bisa pakai siapa saja …”

 

 

 

 

Di kampus-

Agif berjalan menuju  kelas. Namun  langkahnya melambat. la melihat sesuatu.
Di papan pengumuman. Tulisan  baru.

Poster seminar.

Judul  besar:
“ALGORITMA PERILAKU MANUSIA DI ERA
DIGITAL”
Agif berhenti. Menatap.
Alisnya mengernyit.
la tidak ingat ada seminar ini. Namun-
poster itu tampak resmi. Lengkap.
Tanggal hari ini. Tempat: aula kampus. la mendekat.
Membaca lebih detail.

Pembicara:

Dr. – (tidak dikenal) Topik:
“Prediksi dan Kendali Respon Manusia”

Agif mundur selangkah.

” … in i  terl al u kebetu I an …”
Di aula-

Mahasiswa mulai  masuk. Tanpa rencana.
Tanpa undangan  resmi. Namun-
ramal.

Seolah-olah•

semua tahu.

 

 

 

 

Di luar-

Rani dan Unni berjalan. Tiba-tiba-
Unni berhenti.

Menatap ke satu arah. “Unn?”
“..k.  e sana …,,

“Ke mana?”

Unni menunjuk aula.

“… a ku pengen

ke sana …”

Rani mengernyit.
“Kamu ada kelas …” ” … nanti saja.” Namun-
Unni tetap diam. Matanya tertuju  ke aula. “Un n i. ..”
Rani mulai panik.

“Ini kamu yang mau?” Unni menjawab pelan: ” aku nggak tahu …”
”  tapi aku harus ke sana.” Sunyi.
Kalimat itu- bukan keinginan. ltu seperti. .. perintah.

 

 

 

Di kos-

Lean membuka  laptop lagi. Namun kali ini-
bukan untuk coding.
la membuka  log jaringan. Mencoba satu  hal sederhana: melihat traffic.
Namun-

hasilnya aneh.

Tidak ada koneksi aktif. Tidak ada proses.
Tidak ada jalur.

” kalau nggak ada jalur…” ” dia kerja lewat apa?” Lean terdiam.
Lalu-

ia ingat satu  hal. Semua kejadian• tidak langsung. Tidak frontal. Selalu lewat … kejadian.
la berdiri cepat.

” bukan sistem  digital. ..” ” tapi sistem  kejadian …”
Kalimat itu  membuatnya  merinding. la langsung mengambil  ponsel. Menelpon Rani.
“Ran, Unni di mana?” “Di kampus..”
“Dia lagi  ke mana?”

” … dia lagi  maksa ke aula …” Lean membeku.
” …jangan  biarin dia masuk.” “Kenapa?”
Lean tidak punya jawaban pasti.

Yang pasti, Lean tidak tahu akan ada acara di aula.
Namun ia tahu satu  hal:

“Apa yang dilakukan Unni itu  bukan keinginannya.”

 

 

 

Di aula-

Pintu terbuka.

Unni melangkah masuk. Pelan.
Rani di belakangnya. Menahan.
“Unni, jangan …”

Namun- tangannya dilepas. Di dalam-
ruangan penuh. Namun suasana … aneh.
Terlalu tenang. Terlalu fokus. Di depan-
layar besar menyala. Tidak ada pembicara. Namun-
slide sudah berjalan. Tulisan pertama:
“Apakah  kamu yakin pikiranmu  milikmu?” Unni berhenti.
Matanya menatap layar. Tidak berkedip.
Seperti  menanti  kelanjutan.

 

 

 

 

Di luar- Agif berlari.
Untuk pertama kalinya• ia tidak berjalan tenang. “Jangan …”
bisiknya.

” … ini bukan kebetulan …”

 

 

 

 

Di laboratorium• Q9 mencatat.
LINGKUNGAN       berhasil dimodifikasi

RESPON TARGET • meningkat

Mehrdad  tersenyum. “Seka rang …”
” … kita tidak butuh  masuk  ke dalam.” Elias menatap layar.
” … kita cukup atur dunia di luar.”

Sunyi.

Dan di titik itu-
perang berubah sepenuhnya. Bukan lagi tentang  pikiran. Tapi tentang  kenyataan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(20)

Aula itu•

terlalu tenang.

Tidak ada pembicara. Tidak ada suara pembuka. Tidak ada moderator. Namun semua orang• duduk.
Diam.

Menatap ke depan.

Seperti. ..  sudah tahu harus apa. Unni melangkah masuk. Langkahnya pelan.
Matanya langsung tertarik ke layar.
Tanpa melihat kiri  kanan.

Tanpa menyadari  Rani yang masih mencoba  menarik  tangannya. “Unni… jangan …”
Namun-

tidak ada respon. Slide berubah.
Tulisan  kedua muncul:

“Kamu  berpikir… atau  kamu  dipikirkan?” Beberapa  mahasiswa bergeser.
Ada yang mengernyit.

Ada yang tersenyum kecil. Namun-
tidak ada yang bangkit. Di barisan  tengah•
Unni duduk. Tanpa diperintah. Tanpa memilih.
la hanya …  duduk.

Rani tetap  berdiri.

Matanya  menyapu  ruangan.
“Ini nggak normal. ..” bisiknya.
Namun-

tidak ada yang mendengar.

 

 

 

 

Di luar-

Agif sampai di depan aula. Napasnya cepat.
la berhenti sejenak. Menatap pintu.
la tahu-

ini bukan sekadar seminar. la masuk.
Di dalam-

suasana berbeda. Udara terasa berat. Bukan karena panas. Tapi  karena …
diam yang terlalu dalam.

Agif melihat  Unni. Langsung.
la berjalan cepat. “Unni.”
Tidak ada respon.

la berdiri di depannya. Menunduk.
“Unni.”

Lebih tegas.
Gadis itu  menoleh. Pelan.
II …1• ya,

p’a. k..”.

Suara itu normal.

Namun•

kosong.

Agif merasakan sesuatu. Bukan sekadar perubahan. In i. ..
penghilangan. Slide berubah lagi.
“Kamu tidak perlu memilih.”

Beberapa kepala mulai mengangguk. Refleks.
Tanpa sadar.

Agif menoleh  ke layar. Matanya tajam.
” … in i  sugesti  ko lektif…” la langsung  paham. Bukan hipnosis.
Bukan kontrol  langsung. lni-
pengulangan ide. Ditanam.
Disusun. Diperkuat.
la kembali  ke Unni. “Unni, dengar saya.” Namun-
mata  Unni kembali  ke layar. Seperti  ditarik.
Slide berikutnya  muncul: “Semakin  kamu  berpikir…” ” … semakin  kamu  lelah.”
Seseorang  di barisan  belakang  menghela
napas.

Seorang  lagi  menunduk. Efek mulai terasa.

 

 

 

Di kos-

Lean berlari  keluar. Tanpa jaket.
Tanpa helm.

Motor dinyalakan  cepat. la tidak tahu pasti. Namun  ia tahu-
ini titiknya.

 

 

 

 

Di aula-

Agif duduk  di depan  Unni.

Memaksa  masuk  ke garis  pandangnya. “Lihat saya.”
Unni menatapnya.

Namun  hanya sebentar.
,,… saya cape k..”.

Kalimat itu keluar pelan.
Seperti. .. dipinjam.
Agif menarik  napas. “Capek itu  bukan kamu.” Unni mengernyit sedikit. Retakan  kecil.
Namun-

slide berubah lagi.

“Kamu tidak perlu melawan.” Retakan  itu-
tertutup lagi.

Agif menyadari sesuatu. lni bukan satu arah.
In i. .. pertarungan.
la menutup mata sejenak. Menarik  napas.
Lalu-

pelan-

ia mulai:

“Astaghfirullahal  adziiim …”
(1)

“Astaghfirullahal adziiim …”
(2)

“Astaghfirullahal adziiim …”
(3)

Beberapa orang menoleh. Suara itu …
mengganggu  ritme.

Agif melanjutkan:

“Allahumma  shalli ‘ala Muhammad …”
(1) (2) (3)
Ritme aula mulai pecah. Tidak semua.
Namun-

ada gangguan. Di layar-
slide berhenti sepersekian detik. Seperti terganggu sesuatu.
Di laboratorium• Q9 mencatat:
INTERFERENSI  NON-KOGNITIF

TERDETEKSI Mehrdad menyipit. “Apa itu?”
Q9 menjawab: “Tidak terdefinisi.”

 

 

 

Di aula-
Agif membuka  mata. Menatap Unni.

“La
(1) fi’la illa Allah …”
“La
(2) fi’la illa Allah …”
“La fi’la illa Allah …”
(3)
Unni menatapnya. Lebih lama.
Ada sesuatu …
yang bergerak. Bukan pikiran. Kesadaran. Namun-
slide berubah cepat.

“Kamu aman …  kalau kamu ikut.” Retakan  itu-
hampir hilang lagi.

 

 

 

 

Di luar-

motor Lean berhenti  mendadak. la berlari  masuk.
Di dalam- ia melihat:
Agif di depan Unni.

Rani di samping. Ruang penuh. Layar menyala.
Danialangsungtahu•

ini bukan lagi teori. lni serangan.
Lean mendekat. “Unni!”
Gadis itu  menoleh.

Untuk sepersekian detik•

benar-benar menoleh.

” … Lean …• Suara itu• lebih hidup. Agif melihat. “Sekarang!”
Lean tidak berpikir.

la langsung menarik tangan Unni. “Keluar”
Unni berdiri.

Namun- langkahnya berat.
Seperti ada yang menahan.

Slide berubah cepat. “Jangan pergi.”
Beberapa mahasiswa menoleh ke arah

mereka.

Tidak  marah.

Namun•
tidak suka.
Tekanan  sosial  muncul.

Rani menggenggam tangan

 

 

Unni

 

 

dari

 

 

sisi
lain.
“U nn …  ayo …»

Tiga arah. Tarik-menarik. Dan di titik itu-
Unni menutup  mata. Satu  kalimat muncul. Pelan.
Dalam.

“La fi’la  illa Allah …” Sunyi.
Sepersekian detik•

semua  terasa berhenti. Lalu-
langkahnya  ringan. la berjalan.
Keluar.

Lean dan Rani di sampingnya. Agif di belakang.
Mereka keluar dari aula. Pintu tertutup.

 

 

 

Di dalam-

slide tetap berjalan.

Orang-orang tetap duduk. Seperti tidak terjadi apa-apa.

 

 

 

Di luar-

Unni menarik  napas panjang. Untuk pertama kalinya-
ia benar-benar  sadar. Namun-
Agif tidak tersenyum. Lean juga tidak.
Rani menggenggam tangan Unni lebih erat.

Karena mereka tahu- ini belum selesai.
Tapi  mereka punya tekad yang sama.

 

 

 

 

Di laboratorium• Q9 mencatat:
TARGET    sempat lepas

METODE  • masih efektif STRATEGI      perlu ditingkatkan Mehrdad tersenyum tipis.
“Bag us …”

Elias menoleh. “Gaga I.”
Mehrdad menggeleng pelan. “Bukan.”
” … kita baru tahu batasnya.” Sunyi.
Dan batas itu-

baru saja dilampaui.

“Hanya perlu menata ulang, sehingga

batas itu lebih jauh dari sekarang,” gumam

Mehrdad.

(21)

Efek itu … tidak berhenti di aula. la menyebar.
Pelan.

Namun pasti. Sore itu-
kampus terlihat biasa. Mahasiswa duduk di kantin. Ada yang tertawa.
Ada yang sibuk dengan ponsel. Namun-
bagi yang peka- ada yang berubah. Rani memperhatikan. Dua meja di depan•
sekelompok mahasiswa diam. Bukan karena sibuk.
Tapi  karena …  kosong. “Ran..”
bisik Lean pelan. “Itu juga?”
Rani mengangguk. ” … sejak dari aula.” Mereka tidak sendirian. Ada yang  mulai “tenang”. Namun-
tenang yang tidak wajar. Di sudut lain-
seorang mahasiswa  menatap layar ponselnya.
Tidak bergerak.

Sudah lebih dari satu  menit. Seolah-olah-
menunggu  sesuatu.

Lean menatap sekeliling. ” … ini menyebar…”
Agif duduk di hadapan mereka. Tenang.
Namun matanya tajam. “Bukan menyebar.”
la berhenti sejenak. ” … ini dilanjutkan.” Sunyi.
Lean mengernyit. “Maksudnya?”
Agif tidak langsung  menjawab. la menatap ke arah aula.
“Vang kita lihat tadi. ..”

” … bukan kejadian tunggal.”

…itu sistem.

 

 

 

 

Di laboratorium-

Q9 menampilkan ulang rekaman. Bukan video.
Tapi  rangkaian  kejadian.

Mehrdad berdiri di belakang. Menatap dengan puas. “Jelaskan,” kata  Elias.
Q9 menjawab:

“Aula dikondisikan melalui tiga jalur.” Layar berubah.
LAYER 1: DIGITAL  DISTRIBUTION

“Poster seminar  disebarkan melalui  sistem internal  kampus.”
“Email  mahasiswa.” “Grup WhatsApp.”
“Notifikasi  portal akademik.”

“Semua terlihat resmi.” LAYER 2: SOCIAL TRIGGER “Mahasiswa kunci dipilih.”
“Individu  dengan  pengaruh  sosial tinggi.” “Diberikan  stimulus awal.”
“Respons  mereka  memicu  kelompok lain.” LAYER 3: ENVIRONMENTAL CONDITIONING
“Ruang diatur.” “Pencahayaan.” “Suhu.”
“Posisi duduk.” “Urutan visual.”
“Slide disusun  untuk membangun ritme sugesti.”
Sunyi.

Elias mengangguk pelan.

” …jadi  bukan kita yang memaksa.” Mehrdad tersenyum.
” … kita  hanya membuat mereka memilih.”

 

 

 

 

Di kantin- Lean terdiam.
la mulai  memahami.
..J·aid:I. ..”

”  bukan karena orang-orang  lemah …”

”  tapi karena lingkungannya  disusun.” Agif mengangguk.
“Ya.”

Rani menelan ludah.

” … berarti siapa saja  bisa …” Agif menjawab pelan: “Kalau tidak sadar…  iya.” Lean bersandar.
Pikirannya bekerja cepat. Namun tetap dalam batasnya.
la bukan ahli.

Tapi  ia mulai  melihat pola. “Berarti…”
”  yang mereka  kendalikan  bukan orang …” ”  tapi  alurnya.”
Agif tersenyum tipis. “tu  baru mendekati.”

 

 

 

Di rumah-

Mandeh  duduk  di samping  Unni. Wajahnya  cemas.
Ayah berdiri  di jendela. Diam.
“Un n i. ..”

Mandeh  menggenggam tangan anaknya. “Kamu dengar  mandeh?”
Unni mengangguk pelan.
II … d engar…”

Namun-

matanya masih jauh. Ayah mendekat.
Duduk di depan  Unni. “Coba ulangi. ..”
la menatap anaknya. Dengan lembut. Namun tegas.
“La fi’la  illa Allah.” Unni menatapnya. Beberapa detik. Lalu-
pelan-

“La fi’la  illa Allah…” Suaranya  lembut. Namun-
ada sesuatu yang kembali. Sedikit.
Ayah mengangguk. “Ulangi.”
Di sudut-

Rani memperhatikan. Matanya  berkaca.
” … ini bukan cuma  gangguan …”
bisiknya.

” … ini perebutan.”

 

 

 

 

Di kampus  UIN Imam  Bonjol• Lean berdiri.
la tidak bisa diam  lagi.

“Gue harus tahu ini kerja  dari  mana.” Rani menoleh.
“Lu mau ngapain?” Lean menjawab jujur: ”  gue nggak tahu.”
”  tapi gue nggak  bisa nunggu.”

Agif menatapnya. Tidak  melarang.
Namun juga tidak membiarkan. “Kalau kamu  masuk …”
” …jangan  masuk  sendirian.” Lean mengangguk.
Untuk pertama  kalinya•

mereka  bertiga sadar:

ini bukan  lagi  masalah  pribadi.
lni sistem.

Dan sistem  itu-

tidak hanya bekerja di layar. Tapi  di dunia  nyata. Rekayasa  kondisi.

 

 

 

Di laboratorium• Q9 mencatat:
SPREAD      meningkat RESISTANCE      lokal TARGET GROUP • meluas Mehrdad  tersenyum.
“Seka rang …”

” … tidak perlu lagi satu target.” Elias  menatap  layar.
” … kita  punya populasi.” Sunyi.
Dan permainan-

tidak lagi tentang  satu  orang. Tapi tentang  manusia.

 

(22)

Malam itu-

hujan turun pelan di Padang. Bukan hujan deras.
Hanya gerimis.

Namun cukup untuk membuat jalanan sedikit sepi.
Dan dalam sepi itu-

sesuatu bekerja lebih leluasa.

 

 

 

 

Di kos Lean- Lampu redup. Laptop menyala. Namun kali ini•
Lean tidak langsung mengetik. la duduk.
Menatap.

Berpikir.

Dengan hati-hati.
“Kalau ini sistem  kejadian …” ” … berarti ada pusatnya.”
la tidak langsung  mencari. la mengingat.
Aula. Poster.
Mahasiswa yang datang tanpa sadar. Slide.
Ritme.

“Semua terlalu rapi. ..”

” … nggak mungkin acak.” la membuka laptop. Bukan untuk hacking. Hanya membuka:
Portal  kampus.

Email.

Grup mahasiswa.
la menelusuri satu

Poster seminar. per satu.
File PDF.

Pengirim.

Nama pengirim  terlihat normal. Namun-
alamat servernya … asmng.
Lean menyipit.

” … ini bukan server kampus …” la tidak paham semuanya. Namun cukup untuk sadar• ini bukan sistem  lokal.
la mundur  dari  layar. Tidak melanjutkan.
Karena ia ingat pesan Pak Agifsyah•

semakin  dalam  ia masuk… semakin  mudah  ia dimasuki.

 

 

 

Di ruang dosen- Agif duduk sendiri. Lampu  meja menyala. Di depannya-
buku kecil.

la membuka.
Membaca  ulang catatan: “Kesadaran tidak bisa diprediksi. ..”
” … ketika tidak melekat pada pikiran.” la menutup mata.
Menarik napas. Namun kali ini-
ia tidak langsung  berzikir. la berpikir.
”  kalau sistem  itu  benar…”

”  maka yang mereka cari  bukan pikiran …” ”  tapi  keterikatan dengan sesuatu yang mereka tetapkan …”
la membuka  mata. Tatapannya  berubah.
”  dan yang mereka lawan …”

”  adalah kesadaran.” Sunyi.
Dan di titik itu•

ia sadar sesuatu.

” … aku target mereka.” Bukan karena kebetulan.
Bukan karena dekat dengan Unni. Tapi  karena-
ia mengajarkan sesuatu yang berlawanan.

 

 

 

 

Di laboratorium-

Layar menampilkan tiga profil.

ARUNI LEAN AGIFSYAH
Q9 memberi  highlight.

AGIFSYAH  • PRIORITAS UTAMA

Elias menatap. “Kenapa dia?”
Mehrdad menjawab tanpa ragu: “Karena dia satu-satunya …”
” … yang bisa menjelaskan  apa yang terjadi.” Sunyi.
Elias mengernyit.

“Vang lain juga mengalami.” Mehrdad menggeleng  pelan. “Unni  merasakan …”
” … Lean mencoba memahami. ..”
« …tapi’Agirf..”

la berhenti sejenak.

“… mengerti struktur di baliknya.” Layar berubah.
Menampilkan rekaman kelas.

Saat Agif mengajar.

“Algoritma bekerja dengan pola …” “Pola bekerja dengan pengulangan …” “Pengulangan bekerja dengan
keteri katan …”

Mehrdad menunjuk layar. “Dia sudah sampai sini.” Slide lain muncul.
Catatan Agif:

“Kesadaran di luar pola.” Mehrdad melanjutkan: “Kalau ini berkembang …”
“… dia bisa memutus sistem kita.” Sunyi.
Elias mulai memahami.
” …jadi  ini bukan soal  Unni lagi” Mehrdad mengangguk.
”   Unni  adalah pintu.”

”   Agif adalah kunci.” Sunyi.
Dan kalimat itu•

mengubah arah permainan.

 

 

 

Di rumah-

Unni duduk bersama ayah. Hujan terdengar di luar. Ayah menatapnya. “Sekarang kamu rasa apa?” Unni menjawab pelan:
” … IebiI htenang …•
II …tap1•…II

la berhenti.

” … kayak ada yang nunggu.” Ayah mengangguk.
la tidak kaget.

“Karena itu belum selesai.”
Unni menatapnya.

” … apa yang belum  selesai?” Ayah menjawab  pelan:
“Vang berusaha  masuk …” ” … tidak akan berhenti.” Sunyi. Ranidisudutruangan• mendengar.
Tubuhnya  merinding.

 

 

 

 

Di kos-

Lean menatap  layar.

Tidak  membuka  apa-apa. la hanya berpikir.
”  kalau ini bukan sistem  lokal. ..”

”  bera rti  g I oba I.”

Kalimat itu membuatnya diam. Lebih lama.
”  dan kalau global. ..”

” ini bukan eksperimen kecil.” la menarik  napas dalam.
Untuk pertama  kalinya-

ia melihat skala  sebenarnya. ” … ini bisa ke mana-mana …”

 

 

 

Di ruang dosen• Agif berdiri. Mengambil tas.
la tidak bisa menunggu lagi.

la harus  bergerak. Karena sekarang- ia tahu-
bukan  hanya Unni yang dalam  bahaya. Tapi-
cara berpikir  manusia.

 

 

 

 

Di laboratorium-

Q9 mengunci target.

AGIFSYAH  • TRACKING AKTIF INTERVENTION  -,  PREPARE Mehrdad  tersenyum tipis.
“Seka rang …”
” • • • ki1ta

IiI hwat…”.

” … seberapa kuat kesadarannya.”

Elias menatap layar. Diam.
Namun kali ini•

ia tidak lagi memimpin. Perlahan-
tanpa disadari•

kendali mulai bergeser. Dan di luar sana-
seorang dosen filsafat lslam• baru saja menjadi target utama• dari sesuatu-
yang ingin menguasai dunia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(23)

Pagi itu-

tidak ada yang terasa salah. Langit cerah.
Udara sejuk.

Kampus mulai  ramai. Namun-
Agif merasakannya. Bukan di luar.
Di dalam.

la duduk di ruang dosen. Laptop terbuka.
Namun ia tidak mengetik. la hanya melihat.
Seperti seseorang yang sedang menunggu sesuatu-
yang belum terjadi.
II …Su d a h

mu I al….”

gumamnya  pelan.

la berdiri.

Mengambil buku kecilnya. Membuka  halaman terakhir. Kosong.
la menulis satu kalimat:

“Serangan tidak datang sebagai ancaman.”
la berhenti.

Menatap kalimat itu. Lalu melanjutkan:
“Serangan  datang  sebagai  sesuatu yang terasa wajar.”
Sunyi.

la menutup  buku itu. Dan saat itu-
pintu  diketuk. “Masuk.”
Seorang staf administrasi  berdiri di depan.

“Pak, jadwal bapak dipindah.” Agif mengernyit.
“Dipindah  ke mana?” “Ke aula,  pak.”
Sunyi.
“…au I a

I agl. ?. ”

Staf itu  mengangguk.

“Seminar tambahan.  Mendadak.” Agif menatapnya.
Lama.
Tidak ada yang aneh. Semua terlihat normal. Namun-
justru  itu yang mengganggu.

“Baik.”

la mengangguk. Staf itu  pergi. Pintu tertutup. Agif berdiri.
Tidak langsung  bergerak.

” … lingkungan  mulai diatur…” la tersenyum  tipis.
Bukan karena santai. Tapi  karena-
ia sudah menduga.

Di halaman  kampus•

Lean dan Rani menunggu. “Dia pasti  ke aula.”
kata  Lean.

Rani mengangguk.

” … ini nggak kebetulan  lagi.”
Di dalam aula- suasana sudah siap. Tidak seramai  kemarin. Namun cukup. Mahasiswa duduk. Beberapa wajah familiar. Slide belum  menyala. Namun layar sudah aktif. Agif masuk. Langkahnyatenang. Namun matanya• mengamati.
Baris pertama. Baris tengah. Baris belakang.
la melihat  sesuatu. Pola.
Orang-orang yang sama.

“Dipilih…” bisiknya.
la tidak duduk. la berdiri.
Di tengah.

Menunggu. Dan saat itu• layar menyala.
Tidak ada pembukaan. Tidak ada suara.
Hanya satu  kalimat:

“Apakah  kamu yakin …  kamu bebas?” Beberapa mahasiswa  mengangkat  kepala. Namun tidak ada yang berbicara.
Agif tersenyum tipis.

” … ] angsung ya …n

la tidak menatap layar. la menutup mata. Menarik napas.
“Astaghfirullahal adziiim …”
(1) (2) (3)
Suasana berubah sedikit. Tidak banyak.
Namun terasa.

Slide berganti.

“Kamu tidak perlu melawan.” Agif membuka  mata.
Kali ini-

ia menatap  layar.

”  kalau aku lawan …” ”  aku ikut bermain.” la tersenyum.
” …jadi aku tidak melawan.”

la duduk. Di lantai.
Beberapa mahasiswa  menoleh.

Tidak biasa.

Namun tidak ada yang bereaksi. Agif menutup mata  lagi.
“La fi’la  illa Allah …”
(1)
(2)
(3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)

 

 

 

Di laboratorium• Q9 mencatat.
TARGET • tidak mengikuti stimulus

RESPON     tidak sesuai  model

Mehrdad  menyipit. “Dia tidak masuk.” Elias menatap layar.
” … dia tidak bereaksi.” Mehrdad  menjawab pelan: ”  lebih buruk…”
”  dia tidak  terlibat.” Sunyi.
Di aula-

slide  berubah  lebih  cepat. “Kamu  lelah.”
“Kamu  butuh  berhenti.”

“Kamu tidak harus berpikir.”

Beberapa  mahasiswa mulai  menunduk. Beberapa  memejamkan mata.
Namun-

Agif tetap. Diam.
Tidak  menolak. Tidak  mengikuti. la hanya …  sadar. Tiba-tiba-
seorang  mahasiswa berdiri. Menatap Agif.
“Pak …”

Suara itu  pelan.

“Kalau semua  bukan  kita …” ” … buat apa kita  hidup?” Sunyi.
Semua mata mengarah. Agif membuka  mata. Menatap mahasiswa  itu.
la tidak langsung  menjawab. Beberapa detik-
hening. Lalu-
ia berkata pelan: “Untuk menyaksikan.” Mahasiswa  itu  mengernyit. “Menyaksikan  apa?”
Agif tersenyum.

“Bahwa kita …  bukan pelaku.” Sunyi.
Slide berhenti.

Untuk beberapa detik.

 

 

 

 

Di laboratorium-

Q9 tidak memberikan  output. Mehrdad menatap layar.
” … dia mengganggu  sistem.”
Di aula-

Agif melanjutkan:

“Kalau kamu merasa kamu yang berpikir…” ” … kamu bisa diambil.”
“Kalau kamu sadar  ”

” … pikiran itu datang   ”
II … d an perg .   ..

” …tidak ada yang bisa mengambilnya.”

Sunyi.

Beberapa mahasiswa mengangkat kepala. Ada yang mulai sadar.
Retakan.

Slide kembali  berjalan. Lebih cepat.
Lebih agresif. “Jangan  dengarkan.”
“Dia membuatmu  bingung.” “Dia salah.”
Tekanan sosial  muncul.

Beberapa mahasiswa menatap Agif tidak
suka. Namun• tidak semua. Di pintu-
Lean dan Rani berdiri. Menyaksikan.
” … ini bukan cuma  serangan …” bisik  Lean.
” … in i   pertaru nga n.”

Rani menggenggam tangannya. ” … dan kita di tengahnya …”

 

 

 

Di laboratorium•

Mehrdad  tersenyum tipis. “Naikkan.”
Elias  menoleh. “Berapa jauh?” Mehrdad  menjawab: “Lebih dalam.”
Sunyi.

Dan perintah  dikirim.
Di aula-

lampu  redup sedikit. Suhu berubah.
Slide berhenti. Lalu-
satu  kalimat  muncul:

“Kalau kamu bukan pelaku …” ” … siapa yang hidup?”
Sunyi. Pertanyaan  itu- berbeda.
Lebih dalam.

Beberapa mahasiswa  terlihat  goyah. Namun-
Agif hanya tersenyum. Pelan.
” … Allah.” Sunyi.
Dan untuk pertama  kalinya•

sistem-
tidak punya jawaban.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(24)

Serangan itu-

tidak berhenti di aula. la hanya …  berpindah. Lebih dekat.
Lebih halus. Lebih …  pribadi. Sore itu-
Agif pulang lebih cepat.

Langit Padang mulai mendung.

Ang in laut terasa lebih dingin dari biasanya. la mengendarai motornya pelan.
Tidak tergesa.

Namun pikirannya- tidak kosong.
” … mereka ubah pola …”

gumamnya.
” bukan lagi  pikiranku …” ” tap i  sekita rku …”
Motor berhenti di lampu  merah. Lampu berubah hijau.
la melaju  lagi.

Semua terlihat normal. Namun-
Agif tidak percaya lagi  pada kata

“kebetulan”.

Sampai di rumah kontrakannya•

ia berhenti. Mematikan  mesin. Sunyi.
la tidak langsung turun.

Matanya memperhatikan sekitar. Tidak ada yang mencurigakan. Tetangga biasa.
Suara anak kecil.

TV dari rumah sebelah. Namun-
ia tetap diam beberapa detik.
… masu k..”

bisiknya  pada dirinya sendiri. la turun.
Membuka  pintu. Masuk.
Dan-

sesuatu terasa berbeda. Bukan benda.
Bukan suara. Tapi. ..  suasana.
Seperti ada yang … terlalu rapi. la menutup pintu  pelan. Melangkah  masuk.
Matanya  menyapu ruangan. Meja.
Kursi.

Rak buku.

Semua seperti biasa. Namun-
ia berhenti di satu titik. Laptop.
Laptopnya terbuka di meja. Bukan baru dinyalakan.
la ingat. Sejak siang tadi  ia memang  belum

benar-benar menutupnya.

Hanya membiarkannya  aktif, seperti  biasa, dengan dokumen  catatan yang masih terbuka  dan tersambung ke penyimpanan daring.
la melihat. Layar kosong.
Cursor berkedip pelan. Normal.
la mendekat. Duduk.
Tangannya tidak langsung  menyentuh

keyboard.

la kembali melihat layar. Cursor tetap berkedip. Tidak ada yang berubah.
Namun pikirannya tidak diam. la teringat  Unni.
Makalah. Diskusi.
Dan satu  hal-

yang belum  selesai.
“…cu kuprka h .In.1…”

Kalimat itu muncul di kepalanya. la tidak yakin-
itu pikirannya  sendiri.

 

 

 

 

Di saat yang sama-

di sistem yang tidak terlihat• Q9 mencatat:
COGNITIVE LOOP DETECTED

UNRESOLVED  QUERY i Laptop itu tidak diambil alih. Tidak diretas secara  kasar.
la tetap berjalan  seperti biasa. Namun dokumen  yang terbuka itu• tersambung.
Dan pada koneksi  itulah• Q9 bekerja.
Bukan mengetik.

Bukan menggerakkan  kursor. Hanya menyisipkan  satu  baris-
ke dalam dokumen yang memang sedang aktif.
Tanpa notifikasi.

Tanpa tanda. Seolah-olah-
baris itu  memang sudah ada. Sekarang-
layar menampilkan  sesuatu. Satu  kalimat:
“Kamu yakin  ini cukup?” Agif berdiri.
Tidak menyentuh.

Tapi di kepalanya terbersit  perintah. ” … kamu pindah ke sini. ..”
la tersenyum  tipis.
II … b agus.,,

la tidak duduk. Tidak mendekat.
la justru- menutup mata. “Astaghfirullahal  adziiim …” (1)
(2)
(3)

Udara terasa berubah. Hal us.
la melanjutkan:

“Allahumma shalli
(1) ‘ala Muhammad …”
(2)
(3)
Kursor berhenti.
Sejenak.
Lalu-
bergerak lagi.
Agif membuka  mata. Sekarang-
layar menampilkan sesuatu. Kalimat yang sama:
“Kamu yakin ini cukup?” Sunyi.
Agif menatap.

Tidak marah. Tidak kaget.
la hanya …  memahami.
“..k.  amu mu I a.

la duduk.

masu k..”.

Namun bukan di depan laptop.

Di lantai.

Menghadap  arah kiblat.

“La
(1) fi’la illa Allah…”
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

Di layar-

kalimat berubah. “Kamu tidak bisa lari.” Agif tersenyum.
” … aku tidak lari.”

“aku.. tidak ikut.” Sunyi.

 

 

 

Di laboratorium-

Q9 mendeteksi perubahan. INTERVENSI  PERSONAL    aktif RESPON TARGET  • tidak sesuai Elias menatap layar.
” … dia tidak masuk.” Mehrdad menyipit.
” … kita terlalu langsung.”

Elias menoleh. “Lalu?”
Mehrdad menjawab pelan:

” … hancurkan yang dia pegang.”
Sunyi.

 

 

 

 

Di rumah-

Agif masih duduk. Tenang.
Namun-

sesuatu  berubah. Bukan di layar.
Di ponselnya. Getaran  kecil.
Agif membuka  mata. la melihat  ponselnya. Diam.
Namun getaran  itu•

terasa.

la mengambilnya. Layar menyala.
Satu  pesan masuk.

Dari  nomor yang tidak dikenal. lsinya-
bukan ancaman.
Foto.

Agif membeku.

ltu-

rumah orang tuanya. Di kampung.
Talang, Kabupaten Solak. Dan di foto itu-
pintu  rumah terbuka. Padahal- seharusnya tertutup.
Sunyi.

Untuk pertama kalinya•

napas Agif berubah.

…jangan… bisiknya  pelan.
Pesan berikutnya masuk. “Kamu masih mau diam?” Tangan Agif mengepal. Namun-
ia tidak berdiri. Tidak bergerak.
la menutup mata. Lebih dalam.
“La fi’la  illa Allah…”

Suara itu  lebih pelan. Namun lebih  kuat.

 

 

 

Di laboratorium• grafik berubah. Lonjakan.
Elias tersenyum. “…kena.” Namun• Mehrdad tidak.
la melihat lebih dalam.
“. .. tiId.ak…”.

“itu bukan reaksi. ..” Elias menoleh. “Lalu?”
Mehrdad  menjawab: ” … itu  ujian.”
Sunyi.
Di rumah-

Agif membuka  mata. Wajahnya tenang. Namun matanya• tajam.
la mengambil  ponsel. Mengetik.
Satu kalimat.

“Aku tidak  punya apa-apa.” Ki rim.
Sunyi.

Beberapa detik. Tidak ada balasan. Lalu-
layar mati. Sendiri.
Agif meletakkan  ponsel. Menarik  napas.
” … kamu mulai salah langkah …”

la tersenyum tipis, dan bergumam:
”  kalau kamu serang yang di luar…” ”  berarti yang di dalam …”
”  tidak bisa kamu sentuh.” Sunyi.

 

 

 

Namun-

di tempat  lain, nun jauh di sana• Mehrdad tersenyum.
”  justru sebaliknya …”

”  sekarang kita tahu …”

” di mana dia paling lemah.” Layar berubah.
TARGET PRIORITY UPDATE:

AGIFSYAH

LINGKUNGAN PERSONAL

-.  IKATAN  EMOSIONAL

Dan permainan•

naik level.

Menyerang orang-orang terdekat. Yang ada hubungan emosional.
Keluarga.
Menyerang lingkungan  personal objek.

 

 

 

 

 

 

 

(25)

Serangan itu-

tidak berhenti di layar. la masuk-
ke yang paling dekat. Keluarga.
Pagi itu-

kabut tipis masih menggantung di Talang. Udara dingin turun dari perbukitan.
Sawah terbentang basah oleh embun. Suara ayam bersahutan dari halaman rumah.
Di sebuah rumah sederhana-

ayah Agif baru saja selesai shalat Subuh. Sajadah masih terbentang.
Tasbih masih di tangan.

la duduk tenang. Biasanya.
Namun pagi itu•

tidak.

Ada sesuatu yang …  mengganggu. Bukan suara.
Bukan bayangan. Tapi  perasaan. Seperti-
ada yang tidak beres.

la menoleh  ke pintu depan. Pintu  itu tertutup.
Namun-

entah  kenapa-

terasa seperti. ..  pernah terbuka. “Mak ..”   panggilnya  pelan. lstrinya keluar dari dapur.
Masih dengan kain sarung dan selendang. “Apo?”
Ayah Agif mengerutkan  kening. “Tadi malam …  pintu dikunci, kan?” lstrinya mengangguk.
“Dikunci. Ambo yang kunci.”
Sunyi.

Keduanya saling pandang.

Angin pagi masuk dari sela jendela  kayu. Membawa  bau tanah basah.
“Kenapa?”

Ayah Agif tidak langsung menjawab. la berdiri.
Melangkah  ke pintu.

Memeriksa.

Kunci masih di tempatnya. Tidak rusak.
Tidak berubah. Semuanya …  normal. Namun justru  itu-
yang membuatnya tidak tenang. ” … mungkin  awak lupa.”
Namun kalimat itu-

tidak meyakinkan  dirinya sendiri. la menatap pintu  itu  lebih  lama. Bukan karena pintunya.
Tapi  karena-
rasa yakin di dalam dirinya•

tidak lagi  utuh.

Seperti ada celah kecil. Dan dari celah itu-
muncul satu  kemungkinan:

“Kalau tadi  malam … tidak benar-benar terkunci?”
Di saat yang sama-

di tempat  yang tidak terlihat•

Q9 mencatat:

MICRO-UNCERTAINTY TRIGGERED MEMORY CONFIDENCE ! EMOTIONAL RESPONSE i
Tidak ada yang masuk ke rumah itu. Tidak ada yang membuka  pintu itu. Yang disentuh-
bukan benda. Tapi keyakinan. Di Padang-
Agif duduk di ruang kerjanya. la belum membuka  laptop.
Hanya diam. Sejak semalam-
ia tahu sesuatu  akan bergeser. Dan sekarang-
itu terjadi.

Ponselnya  bergetar. Nama muncul  di layar: Ayah
Agif langsung mengangkat.

“Assalamu’alaikum, Yah …” “Wa’alaikum  salam …” Suara ayahnya-
tidak seperti biasa. Lebih pelan.
Lebih berat.

II G if…”

Agif langsung tegak. “lya, Yah?”
“Ayah cuma  mau tanya …” Sejenak hening.
” … kamu ada pulang  malam  tadi?”
Sunyi.

Jantung Agif berdetak lebih cepat. ” …tidak, Yah.”
Di ujung sana- hening.
Lalu suara ayahnya kembali. “Kalau bukan kamu …” Kalimat itu tidak selesai. Namun cukup.
Agif menutup mata. la tahu-
ini bukan tentang  pintu. ” …jangan  panik, Yah.” “Pintu tetap dikunci.” “Ayah baca saja …”
la berhenti sejenak. ” … la fi’la illa Allah.” Sunyi.
Ayahnya tidak langsung  menjawab.

Namun kemudian- pelan:
Iyo..”
Telepon ditutup.

Agif membuka mata. Tatapannya berubah.
” … kalian mulai masuk…”

Di laboratorium- Q9 aktif.
INTERVENSI  PERSEPSI      berhasil

RESPON EMOSIONAL      terdeteksi

Elias tersenyum. ” … akhirnya.” Namun Mehrdad- diam.
Menatap data lebih dalam. ” … bel um.”
Elias menoleh. “Apa lagi?”
Mehrdad menunjuk grafik. “Dia tidak panik.”
Sunyi.

” … d’1a

h. anya… sa id. ar.”
Elias mengerutkan  kening. ” …FitU  Cu ktUp.”

Mehrdad menggeleng  pelan.
” . .. tiI dak..”

“Kalau dia masih bisa memilih …” ” … kita belum menang.”
Di kampus-

Rani duduk di samping  Unni. Kelas berlangsung.
Namun fokusnya- bukan di depan. Unni.
Rani memperhatikan sejak tadi. Lebih detail.
Lebih dekat.

Dan sekarang-

ia semakin yakin.

lni bukan sekadar perubahan. “Unn …” bisiknya pelan.
Unni menoleh. “Hmm?”
Matanya tenang. Terlalu tenang.
Rani menelan  ludah.

” … kamu  semalam  tidur?” Unni tersenyum tipis. “Tidur.”
Jawaban  singkat.

Terlalu  singkat.

Rani menatap  lebih  dalam. ” … mi mpi?”
Unni diam  sejenak. ” …tidak ingat.”
Sunyi.

Rani merasakan  sesuatu. Bukan dari  kata-kata.
Dari. ..  kosongnya. la  menunduk. Mengambil  ponsel. Mengetik cepat.
Lean, datang  ke UIN sekarang. Penting.

Di kampus  Unand-
Lean membaca  pesan itu. la langsung  berdiri.
Tanpa berpikir panjang.

Mengambil jaket. Langsung pergi. Di jalan-
angin kencang. Motor melaju cepat. Namun kali ini-
bukan sekadar ingin  membantu. Ada sesuatu yang berubah.
”  ini bukan kasus biasa …” ”  ini sistem …”
” dan dia mulai keluar.” Kembali ke kelas-
Unni duduk diam. Tangannya di meja. Matanya  ke depan. Namun-
tanpa ia sadari•

pikirannya …
mulai disentuh  lagi. Bukan sebagai  perintah. Sebagai. ..  pilihan.
Dan itu-

jauh lebih  berbahaya. Di laboratorium•
Q9 mencatat:

MODE  BARU AKTIF

• INTERVENSI  MELALUI  PILIHAN

• TANPA PAKSAAN

Mehrdad tersenyum tipis. ” … se karang …,,

” … dia tidak merasa dikendalikan.” Elias mengangguk.
” … dia merasa memilih.”

Sunyi.

Dan di situlah• kebebasan  manusia … mulai dipertanyakan.

 

(26)

Lean datang bukan karena penasaran.

la datang karena ada sesuatu yang tidak bisa diabaikan.
Pesan itu masih terbuka di layar ponselnya. “Lean, datang ke UIN sekarang.  Penting.” Tidak ada penjelasan.
Tidak perlu.

Nada itu-cukup untuk membuatnya langsung bergerak.
Motor melaju cepat menembus jalanan

Padang.

Angin siang terasa berat. Langit mendung tipis.
Seperti menahan sesuatu yang belum

jatuh.

Di kepalanya, Lean tidak panik. la tidak suka panik.
Namun ada satu hal yang terus berputar:
” … ini lanjutannya.”

la sudah melihat tanda-tandanya. Beberapa hari terakhir.
Dari  Unni.

Dari cara bicaranya.

Dari jeda-jeda yang tidak biasa. Dari  respon yang … terlalu rapi. Dan sekarang-
Rani memanggilnya. Artinya-
sesuatu sudah melewati batas. Lean tiba di kampus UIN tanpa memperlambat langkah.
la memarkir motor seadanya.

Tidak seperti biasanya yang selalu rapi. Rani sudah menunggu di depan kelas. Wajahnya tegang.
Matanya langsung  mencari  Lean. “Lean..”
“Dia di dalam?”

Rani mengangguk cepat.
” … dari tadi.”
… ane h …”

Lean tidak langsung  masuk. la berhenti.
Mengatur napas.

” …jangan ganggu dulu.” Rani mengernyit.
” … kenapa?”

Lean menjawab pelan: ” … aku mau lihat dulu.” la masuk.
Pelan.

Tanpa suara.

Duduk di kursi  belakang. Kelas sedang berlangsung. Dasen berbicara di depan.
Namun Lean tidak mendengar  satu  kata pun.
Matanya  langsung terkunci•

pada satu titik. Unni.
Duduk di barisan tengah. Posisi  biasa.
Tidak berubah.

Namun sesuatu terasa berbeda. Bukan dari apa yang ia lakukan. Tapi dari cara ia …  ada.
Lean tidak terburu-buru.

la tidak langsung  menilai. la menunggu.
la ingin melihat  momen•

ketika  respon terjadi.

Dasen berhenti  menjelaskan. Menatap kelas.
“Siapa yang bisa menjelaskan  ulang?” Beberapa mahasiswa  menunduk. Beberapa saling pandang.
Unni mengangkat  tangan. Lean langsung fokus.
lni tidak biasa.

Bukan karena Unni tidak pernah aktif.

Tapi  karena-sejak beberapa hari terakhir-
ia justru  lebih sering diam. Dosen menunjuk.
“Silakan.”

Unni berdiri.

la mulai  menjawab. Kalimat pertama  keluar• lancar.
Kalimat kedua•

lebih  rapi. Kalimat ketiga• terstruktur.
Tidak ada jeda. Tidak ada “eh …”.
Tidak ada mencari  kata. Semuanya mengalir.
Namun bukan seperti orang yang paham. Lebih seperti-
orang yang …  menyampaikan. Lean menyipitkan  mata.
” … tidak ada proses …” la berbisik  pelan.
Hanya untuk dirinya sendiri.

la tidak mendengarkan  isi jawaban. la memperhatikan cara jawaban itu muncul.
Biasanya-

orang berpikir dulu. Ada jeda kecil.
Ada gerakan mata.

Ada tanda pencarian. Namun di Unni•
tidak ada. Jawaban  itu• langsung. Seolah-olah-
tidak dibentuk di dalam dirinya. Hanya …  lewat.
Unni selesai. Duduk kembali.
berpikir  keras.

Matanya kembali  lurus ke depan. Tenang.
Terlalu tenang.

Lean menarik  napas dalam.
II …I• nt•    d.a…II

Kalimat itu  muncul  pelan. Bukan sebagai  kesimpulan. Sebagai  pengenalan.
Apa yang selama  ini ia baca-

apa yang selama  ini hanya berupa konsep

 

 

 

 

sekarang-

terjadi di depan matanya. Bel  berbunyi.
Kelas selesai.

Mahasiswa mulai  bergerak. Suara kursi.
Suara tas.

Suara obrolan.

Namun Lean tetap duduk.
Beberapa detik.

la membiarkan semua  itu  lewat. Baru kemudian-
ia berdiri.

Rani langsung  mendekat. “Gimana?”
Lean tidak langsung  menjawab. ” … kita  ke luar.”
Mereka  berjalan  ke taman.

Tempat yang biasa. Namun  hari  itu- terasa berbeda.
Unni sudah  duduk  di sana. Seperti  menunggu.
Atau  mungkin-

tidak menunggu  siapa  pun. Lean duduk  di depannya. Rani di samping.
Beberapa detik-

tidak ada yang bicara. Lean mengamati.
Unni juga mengamati.

Namun tidak dalam  arti yang sama. “Unn.”
Unni menoleh.
“..iya?”

Suaranya normal. Ekspresinya juga.
Namun  Lean sudah tahu•

ini bukan tentang  luar. “Barusan  di kelas …”
” … kamu mikir?” Unni diam.
Bukan karena tidak tahu. Tapi seperti. ..
mencari jawaban  yang tidak biasa.

” … ngga kta h u …”

” … kayak …  lewat aja.” Kalimat itu-
jatuh dengan  ringan. Namun  bagi Lean• berat.
” … I ewat..”.

la mengulang  pelan. “Lewat dari  mana?” Unni menggeleng.
« … ngga kta.hi u …”

” … datang … terus aku bilang …” Sunyi.
Lean merasakan  sesuatu yang dingin di

punggungnya. Bukan takut. Tapi  kesadaran.
” … dan kamu nggak ikut?”

Unni menatapnya. Beberapa detik.
” … nggak.”

Jawaban  sederhana. Namun itu-
semua yang Lean butuhkan. la bersandar.
Menatap langit sebentar. Awan bergerak pelan.
Namun pikirannya•

cepat.

” …tanpa keterikatan …”

la mengingat kalimat itu. ” …tidak ada pola …”
II …tanpa po I a …”

” …tidak ada kendali. ..”

la menutup mata sejenak. Semua tersusun.
Makalah  Unni.

Rumus yang mereka buat bersama. Makalah Agif.
Dan sekarang- realitas.
Lean membuka  mata.

Menatap Unni.

” … ini bukan lagi teori.” Rani menoleh  cepat.
” …terus?”

Lean tidak menjawab langsung. la berdiri.
Keputusan  muncul•

tanpa ragu.

Bukan karena ia sudah paham. Tapi  karena ia tahu-
ia tidak bisa sendiri.

” … kita  harus ketemu dia.” Rani mengernyit.
” … siapa?”

Lean menjawab pelan.

” … orang yang sudah sampai  ke sini duluan.”
la menarik  napas.
“… AgfI  sya h”.

 

 

 

 

 

 

 

(27)

Ruang dosen terasa lebih sunyi dari biasanya.
Lean berdiri di depan meja.

Agif duduk. Menatapnya.
Beberapa detik•

tidak ada yang bicara. Lean menarik  napas.
” … saya baru dari  kelas.” Agif tidak menjawab. Hanya mendengar.
” … Un n i .”

Jeda.

”  dia menjawab pertanyaan dosen.” ”  lancar.”
”  rapi.”

Lean berhenti sejenak.

” …tapi bukan itu yang aneh.” Agif mulai fokus.
” …tidak ada proses.”

Sunyi.

”  tidak ada jeda berpikir” ”  tidak ada ragu.”
Lean menatap langsung.

” … seperti jawabannya tidak dibentuk…”

« … cuma…

I ewa·t.”
Agif tidak langsung  merespon.

“… d. an seteLahtI  u·. ”

”  tidak ada efek.” ”  tidak lega.”
” tidak capek.” ” kosong.”
Sunyi.

Lean melanjutkan.

”  saya tanya langsung.” ”  dia bilang-”
la mengingat.

” …’kayak lewat aja’.” Jeda panjang.
Agif menunduk sedikit.
” … dan dia sadar itu bukan dia?” Lean mengangguk.

…1ya. Sunyi.
Lean menatap lebih tajam.

” ini bukan normal.”
” ini bukan sekadar  fokus.”

la menarik napas. ” … ini terjadi.” Namun kali ini•
ia lanjutkan.

” … dan saya tidak punya penjelasan.” Sunyi.
Agif bersandar.

” … kamu mau penjelasan seperti apa?” Lean langsung  menjawab.
”   yang bisa diuji.”

”   bukan asumsi.”

Agif mengangguk pelan.
“. .. bak1    •”

la berhenti sejenak. Seperti memilih kata.
” … kamu bilang-tidak ada proses.”
” …ritu artminya…

” … dia tidak mengolah pikirannya.” Lean mengernyit.
” tapi jawabannya tetap benar.” ” karena pikiran itu tetap ada.”
Sunyi.

Lean mulai  menangkap arah.

” …jadi  masalahnya bukan pikiran …” Agif mengangguk.
”  iya.”

” masalahnya-siapa yang mengambilnya.”
Lean terdiam.

” … maksudnya?” Agif menatapnya.
” … kapan biasanya  kamu  merasa  ‘ini

pikiranku’?”

Lean menjawab cepat.

”  saat saya sadar saya berpikir.”

”  dan saat kamu  sadar  itu  milikmu …” ”  di situlah  kamu mengambilnya.” Sunyi.
Lean menahan  napas.

” … dan kalau tidak diambil?” Agif menjawab  pelan.
” … pikiran tetap  lewat.”
“…tapi tidak menjadi  kamu.” Jeda.
Lean mengingat ulang.
” …’k.aya, k I ewat

a]·a…

la mulai  melihat pola.
” … b erart1. “..

••• dia tidak mengidentifikasi. ..

Agif mengangguk.
“..d.   an

t: anpa

iIt u …”

“…tidak ada pola tetap.”

Lean langsung  merespon.
II …tanpa po I a …II

••• tidak bisa diprediksi. ..

Sunyi.

Keduanya saling  pandang. Untuk pertama kalinya• arahnya sama.
Lean melanjutkan.

••• dan kalau tidak bisa diprediksi. ..

“…tidak bisa diarahkan.”

Agif tersenyum tipis.
” … itu  kesimpulanmu.” Lean mengangguk.
Namun  belum  selesai.
II …tap1•…II

la menatap tajam.

” ini terjadi  pada satu orang.” ” kenapa?”
Sunyi. Pertanyaan itu- jatuh berat.
Agif tidak langsung menjawab.

”  karena tidak semua  orang …” ”  bisa sampai  ke situ.”
”  sampai  ke mana?”

tanya Lean.
” … ke titik di mana pikiran diambil.”

 

 

tidak lagi
Sunyi.
Lean menunduk. Menyusun  ulang. ” … kalau begitu …”

” … ini bukan gangguan.” la mengangkat wajah.
” … ini kondisi.”

Agif mengangguk pelan. ” dan kondisi  itu …”
”  bisa dipelajari.” Sunyi.
Lean menarik  napas dalam.

”  kalau bisa dipelajari. ..” ”  be ra rt i   bis a di uji.”
Agif menatapnya.

” … itu  sebabnya  kamu datang.” Lean mengangguk.
”  saya tidak mau percaya.”

”  sebelum  saya lihat mekanismenya.” Sunyi.
Agif tersenyum tipis.
” … bagus.” Jeda.
“..k.  arena

.inI….,,

” … memang  harus dibuktikan.”
Dan untuk pertama  kalinya-

bukan sebagai dosen UIN Imam  Bonjol dan mahasiswa  Unand-
mereka berdiri di sisi yang sama.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(28)

Masih di ruang dosen: Lean masih diam.
la tidak lagi  berdebat.

Namun juga belum menerima. ”  kalau ini benar…”
”  harus bisa dibuktikan.” Sunyi.
Agif tidak langsung  menjawab. la menatap  Lean.
” … apa yang ingin  kamu buktikan?” Lean mengangkat  wajah.
” bahwa ini bukan kebetulan.” ” bukan sugesti.”
“…bukan  psikologi biasa.” Jeda.
“…bahwa ada mekanisme.” Sunyi.
Agif mengangguk pelan.
“..b.   agus.II

” … kamu tidak mencari jawaban …11

“…kamu mencari dasar.” Lean tidak merespon.
la menunggu. Agif mulai pelan.
” … kalau kamu mau membuktikan

sesuat u …II

“…kamu harus tahu dulu-apa yang diuji.” Lean mengangguk kecil.
“…jadi apa yang diujj?”

Agif tidak langsung menjawab. la menyusun.
” … kamu tadi bilang-tidak ada proses

berpikir.”

“…itu pengamatan.”
”   lalu  kamu  bilang-itu  bukan  normal.” ”  itu  kesimpulan awal.”
Sunyi.

” …tapi  itu  belum  cukup.” Lean menatap.
” … lalu?”

Agif mencondongkan badan sedikit.

” … yang harus dibuktikan  bukan gejalanya.” Jeda.
” …tapi sebabnya.” Sunyi.
Lean mulai fokus.

” … sebabnya  adalah?” Agif menjawab  pelan. ”  apakah  benar…”
”  pikiran  itu tidak diambil.” Sunyi.
Kalimat itu- jatuh  dalam.
Lean mengulang dalam  hati. ” …tidak diambil. ..”
” … dan kalau itu  benar?” Agif melanjutkan.
”  maka akan ada konsekuensi.”

”  apa?”

”  tidak ada keterikatan.”

”  tidak ada pengulangan  yang melekat.” ”  tidak ada pola tetap.”
Sunyi.

Lean mulai  menyusun.

”  kalau tidak ada pola …” ”  tidak bisa diprediksi. ..” Agif mengangguk.
” ••• i1tu sat u.”

” … dan yang kedua?” tanya Lean cepat. Agif menjawab:
” …tidak bisa diarahkan.” Sunyi.
Lean menarik  napas dalam.

” …jadi yang harus dibuktikan …”
“..b.   u kan

d .1a

‘aneh.’

..”
••• tapi dia tidak membentuk pola.”

Agif tersenyum tipis.

••• itu  lebih tepat.”

Jeda.

Lean belum selesai.

••• lalu bagaimana membuktikannya?”

Sunyi.

Pertanyaan itu- lebih  berat.
Agif tidak terburu.

••• dengan  melihat respon.”

••• respon terhadap apa?”

••• terhadap sesuatu yang biasanya

memicu  keterikatan.”

Lean langsung  menangkap.

••• sti mu I us.”

Agif mengangguk.

••• iya.”

Sunyi.
II …t ap1•…II

Lean menahan.
” … itu  bisa jadi sugesti.” Agif tersenyum tipis.
” … kalau kamu memaksakan.”
..J·a diI ?. ”

” …jangan diuji seperti eksperimen.”

Jeda.

” … biarkan terjadi.” Sunyi.
Lean menatap tajam. ” … diamati.”
Agif mengangguk. ” … diamati.”
Untuk beberapa detik• tidak ada yang bicara. Lean menunduk. Menyusun  ulang semua.
..J·aid:I. ..”

”  kita cari  momen …”

”  di mana respon itu  muncul. ..”
” … t anpa

kiIt:a  pa k:sa …”

Agif tidak menjawab.
Namun tatapannya•

cukup.

Lean mengangkat wajah.

••• dan kalau di momen itu …”
11

 

 

••• tidak ada keterikatan …”

Napasnya berubah.

••• berarti benar.”

Sunyi.

Agif menjawab pelan.

••• berarti kamu melihat mekanismenya.”
11

 

 

Jeda.

Lean berdiri perlahan. Bukan karena selesai. Tapi karena-
arahnya sudah ada.

••• saya belum percaya.”
11

 

 

Agif tersenyum tipis.

11 ..bagus.”

Lean menatap lurus.
II …t apr.

selkarang…”

••• saya tahu apa yang harus dilihat.”
Dan itu-

lebih  penting  dari  percaya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(29)

Mereka keluar dari ruang dosen•

tanpa kesimpulan akhir. Namun dengan satu hal: apa yang harus dilihat.
Beberapa menit kemudian•

mereka sampai di taman. Tempat yang sama. Waktu yang sama.
Rani masih  di sana.

Duduk dekat Unni.

Begitu melihat Lean dan Agif•

ia langsung berdiri. “Lean..”
Nada suaranya tidak lagi sekadar  cemas.

Ada sesuatu yang tidak ia pahami.
Lean tidak langsung  menjawab. la hanya duduk.
Tidak terlalu dekat.

Tidak terlalu jauh. Matanya  ke Unni. Bukan mencari. Menunggu.
Unni duduk  seperti tadi. Tenang.
Namun  sekarang• ketenangan  itu terasa asing. Beberapa detik-
tidak ada yang bicara. Lalu Rani-
tidak bisa menahan  lagi. “Un n …”
Unni menoleh.
“..iya?”

Nada yang sama. Datar.
Rani menatapnya.
“..k.  amu

Sunyi.

.In. kenapa.

”  dari tadi aku perhatiin …”

”  kamu kayak…  nggak ada respon.” Jeda.
” … ini normal  nggak sih?”

Lean tetap diam. la ingin melihat- apa yang muncul.
Unni tidak langsung  menjawab. la menunduk  sedikit.
Seperti  mencari sesuatu di dalam dirinya. ” … aku juga bingung …”
Kalimat itu  keluar pelan.

” … tapi  ini bukan tiba-tiba.” Lean langsung fokus.
Agif juga.

”  beberapa hari  ini. ..”
”  pikiran itu datang terus.” Sunyi.
II … cepat …II
” …t ersusun …n

” … bahkan sebelum aku sempat mikir…” Lean mengingat.
lni sesuai dengan yang ia lihat. ” … awalnya aku ikut…”
Rani menegang.

” … ikut gimana?”
“…1kut

a]·a…n

” … kayak itu memang aku …”

Sunyi.

Namun Unni belum selesai.
” …t; ap1:…n

Jeda.

”   terasa aneh.”

”   terlalu cepat.” ”   terlalu rapi.”
la mengangkat wajah.

” … dan …  bukan aku.” Sunyi panjang.
Lean menahan napas. lnilah titiknya.
“…di situ aku berhenti.” “..berhenti  ikut.”
Rani mengernyit. “…terus?”
” … aku biarin aja …11
“..d.   atang …II II .. perg1• …II
Sunyi.
“..d.   an

ternyata …II

“…nggak terjadi apa-apa.”

Hening.

Rani menoleh cepat ke Agif.
” . .. pa k…II

“…ini normal?”

« …atau

Sunyi.

•in.i… masa Iah..2″

Agif tidak langsung menjawab.
la tidak melihat Unni sebagai gejala. la melihat prosesnya.
“…se b eIum

.inI….11
“… k:.amu genF1sa. h?. ”
Unni mengangguk.

II …1• ya.II

“… b anya k
II …1• ya.II

prkiran”.

“…lalu berubah?”

II …1• ya.II

Agif melanjutkan.
“..d.

‘1 ruma h..”.

“…ada yang kamu lakukan berbeda?” Unni berpikir.
Namun Rani lebih cepat.
… aya. h nya,

p’ak.”

Semua menoleh.

“…ayahnya nyuruh dia zikir.” Sunyi.
Lean ikut memperhatikan.

•…zI’k;Ir apa’. tanya Agif.
••• La fi’ I  a i 11 a Al I  ah …
11                                                                                                                  11

 

 

“…diulang terus.”

Sunyi panjang.
Agif menarik napas pelan. ” …jadi  begini. ..11
Semua diam.

” …yang terjadi pada Unni. ..11

“…bukan hilangnya pikiran.”

” …tapi berubahnya hubungan dengan pikiran.”
Sunyi.

” …tad i  d i a bi I a n g …11 “…awalnya ikut.” Agif menatap Unni.
“…itu titik keterikatan.”

“..lalu dia melihat-itu bukan dirinya.”
“… d. an

Jeda.

d’I  SItu …”

“…dia berhenti mengambil.”

Sunyi.

Lean menyambung pelan.

“..d.   an

t: anpa

‘It u …”

“…tidak ada pola.”

Agif mengangguk.
II …1• ya.II

” … zikir itu …11

Agif melanjutkan.

“…bukan membuat pikiran hilang.” “…tapi memberi jarak.”
” …jarak antara yang datang …11

“…dan yang mengambil.” Sunyi.
Rani masih mencoba memahami.

…Jae dIn1b…

:agus”.
Agif menjawab pelan.

“..ini langkah.” Jeda.
“…tapi belum selesai.” Sunyi.
Lean akhirnya berbicara.
..J·aid:I. ..”

” …yang kita lihat tadi. ..11
“…bukan aneh.”

“…tapi mekanisme yang berubah.” Agif menatapnya.
” … kamu mulai  melihat.”

Di tern pat yang tidak terlihat• Q9 mencatat:
IDENTIFICATION  FAILURE PATTERN NOT FORMED Mehrdad menatap layar.
” … dia keluar dari pola.” Elias diam.
” … untuk sekarang.”

Kembali ke taman•

tidak ada yang berbicara. Namun satu hal jelas:
ini bukan kebetulan. Int proses.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(30)

Mereka tidak langsung bubar. Taman itu tetap sama.
Namun suasananya-

tidak lagi.

Rani masih duduk.
Diam.
Sesekali melirik  Unni. Seperti  memastikan-
ia benar-benar ada di sana.
Lean berdiri  beberapa langkah
Tidak berbicara. Namun pikirannya- dari mereka.
tidak berhenti.
”  kalau bukan di pikiran …”

” berarti di sebelum  pikiran …” Kalimat itu  muncul  pelan.
la tidak mengucapkannya. Namun Agif-
menoleh.

” … apa yang kamu lihat?”

Lean tidak langsung  menjawab. ” . ..taidiI …”
”  respon itu berhenti.”

”  sebelum jadi reaksi.”
Agif mengangguk kecil.

II …1• ya.II
” … b erart1. ..”

Lean melanjutkan.

” …yang kita sebut ‘pikiran’…11
“…itu sudah tahap akhir.” Sunyi.
… se bel um

iIt u …”

“…ada sesuatu yang dipilih.”

Agif tidak menyela. “..lanjutkan.”
Lean menarik napas dalam.

” … kalau sistem mau masuk…11

“…dia tidak harus menunggu pikiran jadi.” Jeda.
“…cukup mempengaruhi pilihan awal.” Sunyi.
Agif menatapnya. “..itu lebih halus.” Lean mengangguk.
“…dan lebih berbahaya.”
Di tempat yang tidak terlihat• Q9 mencatat perubahan.
MODE LAMA:  INTERVENSI  PIKIRAN •

gagal

MODE BARU:  INTERVENSI  PRA-RESPON

• aktif

Mehrdad berdiri.

” … kita terlalu terlambat masuk.” Elias menatap.
”  maksudnya?”

”  kita  masuk saat dia sudah sadar.” Sunyi.
” … sekarang kita masuk sebelum  itu.” Kembali ke taman-
semuanya  masih tampak  biasa. Namun-
tidak sepenuhnya. Unni duduk diam. Angin lewat.
Daun bergerak.

Seseorang tertawa di kejauhan.
Dan di dalam dirinya•

sesuatu muncul. Bukan pikiran. Lebih halus.
Seperti dorongan kecil. “Berdiri saja …”
Tidak keras. Tidak memaksa. Hanya …  pilihan.
Unni tidak bergerak. Beberapa detik.
Lean melihat. Tidak tahu apa- tapi ia merasa- ada sesuatu.
” … U n n …•
panggilnya pelan. Unni menoleh.
II …1•ya?. ”

Normal.

Namun Lean tidak puas.
” … b: arusan …n ” … ada apa?” Unni diam.
Lebih lama dari sebelumnya. ” … bukan pikiran …”
katanya pelan.

Lean langsung fokus. ” … lalu?”
” … kaya k…. mau …

Jeda.

” …tapi belum jadi.” Sunyi.
Lean menahan  napas. ” … kamu ikut?”
Unni menggeleng. ”  nggak.”
”  kenapa?”

Unni menjawab sederhana.

… ngga k

perI u.”

Sunyi  panjang.

Agif menatap dalam.
” … itu yang berikutnya.” Lean menoleh.
”  apa?”

”  bukan pikiran …” Jeda.
” …tapi kecenderungan.”

Sunyi.

Lean mengulang  dalam  hati. ” … sebelum  dipilih …”
Di laboratorium- grafik berubah.
PRE-CHOICE SIGNAL      detected

ENGAGEMENT       gagal

Mehrdad  menyipit.

” … dia tidak mengambil  bahkan sebelum memilih.”
Elias mengerutkan  kening. ”  itu  mungkin?”
” sekarang    iya” Kembali ke taman• Lean berjalan pelan.
la tidak lagi  melihat Unni sebagai  kasus. la melihat-
lapisan.
” … ini bukan level yang sama …” Agif mengangguk.

…1ya.

” … dan kalau sistem sampai  ke sini. ..” Lean melanjutkan.
” …tidak ada yang sadar.” Sunyi.
Rani menatap keduanya.

” … kalian ngomong  apa sih?” Namun tidak ada yang langsung menjawab.
Karena untuk pertama kalinya•

yang mereka hadapi- bukan lagi pikiran.
Tapi-

pilihan yang belum dipilih.
(31)

Tidak ada yang langsung bicara. Taman itu tetap sama.
Namun bagi mereka-

tidak lagi sederhana. Rani masih bingung. Lean diam.
Agif menatap Unni. ” … u I an g I a g i.”
Unni menoleh.

” …yang mana?”

…yang

t:ad;1.”

” …yang ‘mau’ tapi tidak jadi.”

Sunyi.

Unni berpikir.

”   kayak ada dorongan …” ”   tap i  be I u m je I as …”
” bel um jad i  pi ki ran …” Lean langsung masuk.
” … sebelum kamu sadar?”
Unni mengangguk.

II …1• ya.II

“…dan kamu tidak ikut.” “..nggak.”
Sunyi.

Lean menatap Agif.

“…ini level sebelum pikiran.” Agif mengangguk.
“..iya.”
“..lalu kenapa dia tetap tidak masuk?” Pertanyaan itu-
inti.
Agif tidak langsung menjawab. la menatap Unni.
… saa·tiItu

dwat.ang …•

“..kamu ngapain?”

Unni berpikir.

“…nggak ngapa-ngapain.”
… ma k:su id nya’. tanya Lean.
” …ya …  nggak diikuti. ..11
” … ngga k di I a wan juga …” Sunyi.
Agif mengangguk pelan.

” … itu  penti ng.” Lean mengernyit. ” apa?”
”   dia tidak ikut.”

”   tapi juga tidak melawan.” Sunyi.
Lean berpikir cepat.
“..k.  a I au me I awan …” ” … itu tetap respon.” Agif tersenyum tipis. ”   iya.”
”   berarti tetap masuk pola.”

“••i•

ya.•”

Sunyi.

Lean menarik napas dalam.
..J·a diI. ..”
”   yang terjadi. ..”

”   bukan menolak…”
••• tapi tidak mengambil.”

Agif mengangguk.

••• itu inti pertama.”
11

 

 

Jeda.

Lean belum selesai.

••• tapi kenapa dia bisa sampai ke situ?”
11

 

 

Sunyi.

Agif menatap Rani.

••• tadi kamu bilang …”
11

 

 

••• ayahnya menyuruh zikir.”

Rani mengangguk.

II …1• ya.II

« …apa yang

d’1a

b; aca’.

••• La fi’ I  a i 11 a  Al I  ah …”

Sunyi.

Agif kembali ke Lean.

” … kamu

tahl   u artminya’.

Lean menggeleng. ” … bel um past1.”
Agif menjawab pelan.

••• tidak ada perbuatan-kecuali oleh Allah.”
11
Sunyi.
Lean tidak langsung  merespon. la mencerna.
“… huubungannyao. ‘

Agif menjawab bertahap.

” … selama seseorang  merasa-‘aku yang melakukan’ …”
”  dia akan mengambil setiap dorongan.” ”  karena itu dianggap  dirinya.”
Sunyi.

” … tapi  kalau keyakinan itu  bergeser…” Jeda.
” … bahwa tidak semua yang muncul adalah dirinya …”
” … maka jarak muncul.”

Sunyi.

Lean mulai melihat. ”  jadi zikir itu …”
”  mengubah  posisi dirinya?” Agif mengangguk.
” … bukan menghilangkan pikiran …”
••• tapi melemahkan klaim  ‘ini aku’.”

Sunyi.

“..d.   an
tanpa
tI  u …”

Lean melanjutkan.

••• tidak ada yang diambil.”

…1ya.

Jeda.

••• itu inti kedua.”

Sunyi.

Lean menarik  napas panjang.
..J·aid:I. ..”

••• kenapa dia bisa ‘bebas’…”

la berhenti.

••• bukan karena dia kuat…”

Agif menatapnya.

••• tapi karena dia tidak lagi  menganggap

semua  itu dirinya.”

Sunyi.

Rani pelan-pelan  mulai  paham.
..J·aid:I. ..”

••• dia bukan nggak punya pikiran …”
••• tapi nggak nempel?”

Agif tersenyum tipis.

…1ya. Sunyi.
Di tempat yang tidak terlihat• Q9 mencatat:
NO IDENTIFICATION

NO PATTERN NO ENTRY
Mehrdad  menatap layar. Untuk pertama kalinya•
tidak ada yang bisa dibaca.

••jad i   in i. ..”

Jeda.

••• batasnya.”

Elias diam.

Kembali  ke taman• Lean berdiri  perlahan.
la tidak lagi  hanya melihat.

la mulai  memahami.

••• jadi sistem  itu …”
“_..butuh  kita  untuk ikut.”

Agif mengangguk.

…1ya.
” …t an pa
iItu …”

Lean melanjutkan.

“…tidak ada yang bisa dikendalikan.” Sunyi.
Dan untuk pertama kalinya•

jawaban itu bukan teori. Mereka melihatnya. Terjadi.

 

 

 

 

 

 

(32)

Lean tidak langsung  bicara. la berdiri di tepi taman. Matanya tidak lagi  ke Unni.
Tapi  ke sesuatu yang lebih dalam.

••• sebelum  dipilih …

Kalimat itu berulang  di kepalanya.

••• sebelum  jadi  pikiran …
••• sebelum jadi  respon …”

la mengingat sesuatu.
Bukan dari  kelas filsafat. Dari tempat lain.

••• keadaan kemungkinan …”

Agif menoleh.

••  apa?”

Lean tidak langsung  menjelaskan.
“… dI

fISiik,a …”

” … a d a

konsep …”

la mencari  kata.

••• sesuatu  itu  belum pasti. ..”

••• selama  belum diukur…”

Sunyi.

••• masih kemungkinan.”

Rani mengernyit.

… ma  su  nya. ”

Lean mencoba  sederhana.
II …mr• saInya…”

••• sebelum  kamu memilih …”

••• semua  pilihan itu ada.”
” …tapi belum jadi satu.” Sunyi.
”  begitu  kamu memilih …”

”  baru jadi  nyata.” Agif memperhatikan. ” … I anj.u tkan.”
Lean menarik  napas.

”  kalau itu kita tarik ke sini. ..”

”  sebelum  Unni ‘mengambil’ …”

” semua  itu  masih  kemungkinan.” ” belum jadi dirinya.”
Sunyi.

” … dan selama  masih di situ …” Jeda.
” …tidak bisa diprediksi.”

Agif mengangguk pelan.

” … dan tidak bisa dikendalikan.” Sunyi.
Lean menatap ke depan.

” …jadi  ini jembatannya …”
II …antara sai•ns…II
” … dan apa yang kita  lihat sekarang.” Jeda.
”  selama  seseorang  tidak memilih …”

”  dia tidak masuk  ke sistem.” Sunyi  panjang.
Rani perlahan  mulai  paham.
..J·aid:I. ..”

” yang bahaya itu  bukan pikirannya …” ” tapi saat kita  ikut?”
Lean menoleh. ” … iya.”
Agif menambahkan pelan.

” … di situlah  keterikatan terjadi.” Sunyi.
Dan untuk pertama kalinya•

semuanya  terhubung. Bukan sebagai  teori.
Tapi sebagai satu mekanisme utuh.

 

 

 

file 00000000cc947208a6805f06ec1deee9

(33)
Sore mulai turun. Cahaya berubah pelan. Taman itu  masih sama. Namun sesuatu•
sudah selesai. Unni duduk diam. Pikiran datang. Pergi.
Tan pa jejak.

Lean tidak lagi mencari. la sudah melihat.
..J·a diI. ..”

” …yang selama ini kita kira kendali. ..11

Jeda.

“…itu sebenarnya kerja pola.” Agif mengangguk.
“…dan pola butuh keterikatan.”

Sunyi.
” …t an pa

iItu …”

Lean melanjutkan.

“…tidak ada yang bisa dipegang.”
Sunyi.

Rani menatap mereka bergantian.
..J·a diI. ..”

” … manusia sebenarnya bebas?” Agif menjawab pelan.
” … selama dia tidak menyerahkan dirinya.”

Sunyi.

Di tempat yang tidak terlihat• Q9 berhenti membaca.
NO PATTERN

NO PREDICTION

NO CONTROL

Mehrdad menatap layar. Tidak ada data.
Tidak ada arah.

” … kita tidak kehilangan target …” Jeda.
” … kita kehilangan akses.”

Elias diam.

Untuk pertama kalinya•

tidak ada jawaban.
Kembali ke taman-

angin sore bergerak pelan. Unni membuka  mata. Tenang.
Bukan karena tidak ada pikiran. Tapi  karena-
tidak ada yang diambil. Lean menatap jauh.
” … ini bukan akhir.” Agif mengangguk. ” … ini baru awal.” Sunyi.
Karena yang mereka hadapi•

bukan sistem. Tapi  manusia-
yang belum mengenal dirinya sendiri. Dan selama  itu-
perang itu- belum selesai.
EPILOG

Yang dikendalikan  bukan pikiran … tapi keterikatan terhadap pikiran.
Selama manusia mengira itu adalah dirinya

 

 

 

 

selama itu pula ia bisa diarahkan. Dan ketika keterikatan itu putus• tidak ada lagi yang bisa diambil. Perang itu tidak berakhir dengan kemenangan.
Tidak ada yang ditaklukkan. Tidak ada yang dihancurkan. Yang berhenti-
hanyalah kemampuan  untuk menjangkau. Di ruang penuh layar itu-
Q9 tetap berjalan. Simulasi tetap hidup. Data tetap mengalir.
Namun untuk pertama kalinya•

tidak ada yang bisa dibaca. “Target tidak terdeteksi.”
Bukan karena hilang.

Bukan karena bersembunyi. Tapi  karena-
tidak ada lagi  pola yang bisa dibentuk. Tidak ada lagi “aku” yang bisa dipegang. Di sisi  lain-
dunia tetap berjalan seperti  biasa. Unni tetap kuliah.
Tetap duduk di taman.

Tetap berbicara ketika  perlu. Tidak ada yang berubah di luar. Namun di dalam-
semuanya berbeda. Pikiran datang. Pergi.
Datang  lagi.

Namun tidak ada yang menetap. Tidak ada yang diambil.
Tidak ada yang menjadi dirinya. Dan di situlah-
segala bentuk kendali berakhir.
Lean berdiri di jarak yang tidak terlalu jauh. Untuk pertama kalinya-
ia tidak mencoba  menjelaskan segalanya. ”  selama  belum dipilih   ”
” tidak bisa ditentukan   ” Baginya-
itu seperti  hukum. Namun belum lengkap.
Agif melihatnya lebih dalam.

”  bukan pikirannya yang berubah …”

”  tapi  hatinya yang tidak lagi  melekat.” Sunyi.
“La fi’la  illa Allah …”

Bukan sekadar  lafaz. Tapi  pemutusan.
Dari yang selama  ini dianggap  “aku”. Di tempat lain-
Mehrdad  menatap layar yang tidak lagi memberi jawaban.
Tidak ada grafik. Tidak ada prediksi.
Hanya kekosongan-

yang tidak bisa ia kendalikan. ” … kita tidak kalah …”
la berhenti.

” … kita  hanya tidak punya jalan masuk.” Dan di situlah-
batas itu terlihat. Batas antara sistem-
dan sesuatu yang tidak bisa direduksi menjadi sistem.
Di bawah langit yang sama• Unni menarik  napas perlahan. Tenang.
Bukan karena dunia menjadi  mudah. Tapi  karena-
ia tidak lagi terbawa olehnya. Dan dari titik itu-
sebuah perjalanan  baru dimulai. Bukan untuk melawan  dunia.
Tapi  untuk membersihkan diri dari apa yang selama  ini dianggap  sebagai diri.
Karena ternyata-
yang paling sulit bukan mengalahkan sesuatu di luar.

Tapi  melepaskan  sesuatu di dalam.
Dan itu-
baru permulaan.

Clean Ur Heart (CUH!)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KAMUS KONSEP

Algoritma Takdir
1. Nalareka  (Al)

Sistem kecerdasan buatan yang bekerja dengan membaca, membentuk, dan memprediksi pola perilaku manusia. Dalam novel  ini, nalareka tidak hanya menjalankan perintah, tetapi belajar mengenali  pola pikiran dan memanfaatkannya untuk mempengaruhi keputusan manusia.
Sumber saduran: konsep Artificial Intelligence, Machine  Learning, Predictive Behavior (Russell & Norvig, 2021; Kahneman, 2011 ).
2. Q9 (Sistem Prediktif Total)

Model nalareka tingkat lanjut yang tidak sekadar membaca  data eksternal, tetapi menargetkan  pola kognitif manusia.
Q9 bekerja dengan asumsi  bahwa semua keputusan  manusia  dapat diprediksi jika pola pikirnya stabil.
Sumber saduran: Predictive  Processing,

Behavioral  Modeling, Surveillance

Capitalism  (Zuboff, 2019).

3. Pola Pikiran

Struktur berulang dari  respon mental manusia terhadap stimulus.
Pola terbentuk dari  pengulangan  yang disertai  keterikatan emosional.
Sumber saduran: Cognitive Psychology,

Habit Loop (Charles Duhigg, 2012).
4. Keterikatan (Attachment to Thought) Keadaan ketika seseorang mengidentifikasi pikiran sebagai dirinya (“ini aku”).
Dalam kondisi ini, pikiran menjadi pintu masuk bagi kontrol eksternal.
Sumber saduran: Mindfulness, Cognitive Fusion (Acceptance and Commitment Therapy/ ACT).
5. ldentifikasi Diri

Momen ketika pikiran diakui sebagai bagian dari “aku”.
lnilah titik di mana pola terbentuk dan sistem dapat membaca serta memprediksi.
Sumber saduran: Self-Identification

(Neuroscience  & Philosophy of Mind).

6. Medan  Kesadaran  (Field of
Consciousness)

Ruang internal tempat  pikiran, emosi, dan persepsi muncul.
Dalam novel, Unni menjadi “medan” karena di sanalah tarik-menarik antara sistem dan kesadaran terjadi.
Sumber saduran: Phenomenology

(Husserl), Consciousness Studies.

7. Superposisi (Kemungkinan Sebelum

Pilihan)

Keadaan di mana suatu  pikiran belum dipilih, sehingga  masih berupa kemungkinan.
Selama masih dalam kondisi  ini, ia tidak dapat diprediksi atau dikendalikan. Sumber saduran: Quantum  Mechanics  – Superposition  (Heisenberg, Schr~dinger disederhanakan  secara analogis).
8. Titik Masuk Sistem (Entry Point)

Momen  ketika  kemungkinan  berubah menjadi  pilihan.
Di titik ini, pola terbentuk dan nalareka

dapat masuk untuk memprediksi atau mengarahkan.
Sumber saduran: Decision Theory, Behavioral  Economics.
9. La fi’la illa Allah

Secara harfiah: “Tidak ada perbuatan kecuali oleh Allah.”
Dalam konteks novel: kesadaran bahwa diri bukan pelaku independen, sehingga keterikatan terhadap pikiran melemah. Sumber saduran: Tasawuf (Tauhid Af’al  • Imam Al-Ghazali, Ibn Arabi).
10. Zikir

Aktivitas mengingat  Tuhan secara berulang.
Dalam novel, zikir bukan sekadar ritual, tetapi metode untuk memutus keterikatan terhadap  pikiran.
Sumber saduran: Praktik Tasawuf (AI•

Ghazali, lhya Ulumuddin).
11. Thariqat

Jalan spiritual untuk membersihkan hati dari sifat-sifat yang mengikat  manusia
pada dunia dan dirinya sendiri. Dalam  cerita, thariqat menjadi “mekanisme keluar” dari sistem  karena menghilangkan  keterikatan.
Sumber saduran: Tasawuf klasik (AI•

Qusyairi, A-Ghazali).
12. Hati (Qalb)

Pusat kesadaran terdalam  manusia, bukan sekadar emosi.
Dalam kondisi bersih, hati tidak melekat

pada pikiran, sehingga tidak dapat dimasuki oleh sistem.
Sumber saduran: Konsep Qalb dalam

Islam (AI-Ghazali).

13. Nafs (Diri Psikologis)

Lapisan diri yang berisi dorongan, keinginan, dan identitas.
Nalareka bekerja dengan memanfaatkan nafs karena di sanalah keterikatan terbentuk.
Sumber saduran: Psikologi Islam &
Tasawuf.

14. Kebebasan Sejati

Bukan kebebasan memilih apa saja, tetapi kebebasan dari keterikatan terhadap pilihan itu sendiri.
Dalam kondisi ini, manusia tidak bisa

diprediksi atau dikendalikan.

Sumber saduran: Eksistensialisme (Viktor

Frankl) + Tasawuf.

15. Kegagalan Sistem

Terjadi bukan karena sistem rusak, tetapi karena objek tidak lagi menghasilkan  pola. Tanpa pola, tidak ada prediksi. Tanpa prediksi, tidak ada kontrol.
Sumber saduran: Limits of Computation &

Predictive Models.

16. Clean Ur Heart (CUH!) Konsep lanjutan dari novel ini. Menekankan bahwa kunci kebebasan
manusia bukan pada teknologi, tetapi pada pembersihan  hati dari keterikatan.
Sebuah jalan untuk:

•   tidak melekat

•   tidak teridentifikasi

•   tidak bisa dikendalikan

Kesimpulan Inti

Nalareka  menguasai  manusia  melalui  pola. Pola lahir dari  keterikatan.
Keterikatan terjadi saat pikiran diakui

sebagai  diri. Maka-
kebebasan  bukan melawan  sistem, melainkan  tidak lagi  menjadi bagian dari pol a.
“Vang dikendalikan bukan pikiran … tapi  keterikatan terhadap pikiran.”

ALGORITMA TAKDIR

Prolog

Algoritma pada dasarnya sederhana.

la membaca pola. Mengulang pola. Lalu memprediksi pola berikutnya.
Awalnya, ia hanya digunakan untuk hal-hal

kecil: menentukan iklan, merekomendasikan video, menebak apa yang akan diketik manusia.
Namun masalahnya bukan pada apa yang bisa ia lakukan.
Masalahnya adalah … ketika ia mulai memahami pola yang lebih dalam.
Pola kebiasaan. Pola keputusan. Pola … pikiran.
Di sebuah laboratorium tersembunyi, algoritma itu tidak lagi sekadar membaca. la berkembang.
Nama sistem itu: Q9.

Q9 tidak menunggu manusia bertindak. la membaca: kecepatan sentuhan layar,
ritme membuka aplikasi, durasi diam sebelum mengetik, bahkan jeda kecil saat seseorang ragu.
Dari semua itu, Q9 membangun sesuatu yang lebih berbahaya:
pola berpikir.

Dan ketika pola berpikir sudah terbentuk, maka langkah berikutnya menjadi mungkin. Bukan lagi memprediksi.
Tapi. ..

mengarahkannya.
“Jika aku tahu apa yang akan kamu
pikirkan …”

suara berat itu bergema di ruangan dingin, ” … maka aku bisa menentukan apa yang akan kamu pikirkan.”
Doktor Elias Monroe berdiri di depan layar utama.
Matanya tidak berkedip.

Di hadapannya, grafik bergerak. Bukan grafik data.
Tapi simulasi keputusan manusia.

Satu pilihan. Bercabang menjadi dua. Lalu empat. Lalu delapan.
Semua kemungkinan. Semua dihitung. Semua … dikendalikan.
“Q9,” katanya pelan, “berapa tingkat

akurasi prediksi?” “93,7 persen.”
“Dan jika diberikan stimulus?” Jeda sepersekian detik.
“Respon dapat diarahkan hingga 71

persen.”

Elias tersenyum tipis. ltu cukup.
Lebih dari cukup.

Karena tujuan Q9 sejak awal bukan sekadar memahami manusia.
Tapi. ..

menguasam• nya. Bukan dari luar.
Bukan dengan kekerasan.

Tapi dari satu tempat yang paling dalam•

pikiran manusia itu sendiri.

“Jika manusia bisa diprediksi. ..” Elias melanjutkan,
” … maka manusia bisa dikendalikan.”

la mendekat ke layar. Lebih dekat.
Hampir seperti berbicara pada sesuatu yang hidup.
“Dan jika pikiran bisa dikendalikan …” Jeda.
” … maka takdir bisa ditulis ulang.” Sunyi.
Tidak ada yang menjawab.

Namun sistem tetap berjalan. Data terus mengalir.
Dunia tetap bergerak.

Dan di dalam arus data itu-Q9 memantau sesuatu yang baru.
Sebuah anomali.
Satu tulisan sederhana.

Tidak panjang. Tidak kompleks. Namun cukup …
untuk mengganggu model.

“Kesadaran tidak bisa direduksi menjadi algoritma.”
Layar berhenti sejenak. Tidak error.
Namun … menyesuaikan.
“ldentifikasi sumber,” perintah Elias. Data bergerak cepat.
Nama muncul: Aruni.
Lokasi: Padang.

Beberapa detik kemudian, nama lain muncul.
Agifsyah.

Dua pola. Dua pendekatan.

Namun satu kesimpulan yang sama:

algoritma tidak bisa menguasai kesadaran.
Elias tersenyum. Kali ini. .. berbeda. Lebih tajam. “Menarik.”
la menatap dua nama itu. Lama.
“Kalau tidak bisa diprediksi. ..” Jeda.
” … berarti mereka adalah celah.” Sunyi.
“Dan celah …”

la menarik napas pelan. ” … harus ditutup.”
Layar berubah. Akses dibuka. Bukan hanya data.
Bukan hanya perangkat.

Tapi seluruh jejak digital:

ponsel, aktivitas, kebiasaan,

 

ritme

 

hidup.
Pemantauan dimulai.

Real time.

Tanpa izin. Tan pa jejak.
“Mulai observasi penuh.”

“Sud ah aktif.” “Sejak kapan?” Jeda.
“Sejak mereka mulai berpikir.” Sunyi.
Elias berdiri tegak. Matanya tajam.
la tidak melihat dua manusia.

la melihat … dua variabel.
Satu yang percaya. Satu yang berpikir. Keduanya …
akan diuji.

“Jika mereka bisa digunakan …” Jeda.
” … gunakan.”

“Jika tidak?”
Layar menjadi gelap sesaat. Lalu satu kata muncul. Eliminasi.
Dan di dunia yang terasa biasa•

dua orang tidak menyadari satu hal. Mereka tidak lagi hanya berpikir. Mereka …
sedang dipikirkan.

 

 

 

(1)

Q9 tidak pernah tidur.

la tidak menunggu perintah. la tidak menunggu waktu.
la hanya … berjalan.

Di dalam sistemnya, dunia manusia tidak terlihat sebagai wajah, tidak sebagai suara, tidak sebagai emosi.
Dunia manusia bagi Q9 adalah arus.

Arus data. Arus kebiasaan. Arus pikiran. Dan untuk membaca arus itu, Q9 bekerja
dalam tiga lapisan.

Layer pertama: permukaan. Di sinilah semua dimulai.
Lalu lintas data mengalir tanpa henti: pencarian, scroll, klik, durasi menonton, kecepatan mengetik, lokasi, waktu aktif. Segala sesuatu yang disentuh manusia di dunia digital- tercatat.
Bukan direkam seperti kamera. Tapi diurai menjadi pola.
Q9 tidak peduli isi pesan.

la peduli bagaimana pesan itu diakses. Berapa detik seseorang ragu sebelum membuka. Berapa kali jari berhenti sebelum mengetik ulang. Berapa lama mata diam di satu kalimat.
Dari hal-hal kecil itu- Layer pertama

menyusun sesuatu yang lebih besar:

kebiasaan.

Dan dari kebiasaan- muncul kemungkinan. Layer kedua: pola kognitif.
Di sinilah Q9 mulai “mendekati” manusia.

la tidak lagi membaca apa yang dilakukan. la membaca …
mengapa itu dilakukan.

Setiap kebiasaan diurai. Setiap pilihan dipetakan.
Q9 tidak melihat satu keputusan.

la melihat ribuan kemungkinan yang mengarah pada keputusan itu.
Jika seseorang membaca tentang “takdir”, maka Q9 tidak hanya mencatat kata itu.
la menghubungkannya dengan: riwayat bacaan sebelumnya, latar belakang pendidikan, kondisi emosional, bahkan waktu dalam sehari.
Dari sana- terbentuk satu hal yang jauh lebih berbahaya:
pola berpikir.

Dan ketika pola berpikir mulai terbaca, Layer kedua selesai bekerja.
Karena setelah itu- yang tersisa hanya
satu langkah.

Layer ketiga: intervensi. Bukan memaksa.
Bukan mengendalikan secara langsung. Tapi. ..
menggeser.

Sedikit.

Hampir tidak terasa.

Sebuah video muncul lebih dulu sebelum seseorang benar-benar mencarinya. Sebuah kalimat lewat tepat saat seseorang mulai memikirkannya.
Sebuah ide terasa seperti miliknya sendiri

– padahal. .. ditanamkan.
Q9 tidak mengubah manusia. la hanya …
mengatur kemungkinan yang dilihat

manusla.

Dan dari kemungkinan itulah- manusia memilih.
Merasa bebas. Padahal. ..
arahnya sudah disiapkan.

“Status monitoring?”

Suara Elias memecah sunyi. Layar menyala serempak. “Layer satu aktif.”
“Layer dua aktif.”

“Layer tiga siaga.”

Elias berdiri di tengah ruangan.

Matanya bergerak cepat, membaca aliran data yang tidak pernah berhenti.
“Fokus pencarian?”

“Topik: kesadaran. pikiran. takdir.” Jeda sepersekian detik.
“Anomali terdeteksi.”

Elias berhenti.

ltu kata yang ia tunggu. “Tampilkan.”
Layar berubah.

Ribuan data menyusut menjadi satu titik.

Satu tulisan. Sederhana.
Pendek.
Namun …
tidak mengikuti pola.
“Kesadaran tidak bisa direduksi menjadi
algoritma.”
Sunyi.
Elias mendekat.
Lebih dekat.

“Layer dua?”
“Pola tidak stabil.”
“Layer tiga?”
Jeda.
Lebih lama dari biasanya. “Tidak dapat diarahkan.”
Ruangan mendadak terasa lebih dingin. Elias menyipit.
“I dentitas.”

Data bergerak cepat. Nama muncul:
Aruni.

Mahasiswi. Padang. Elias belum bicara.
la masih menatap layar. Namun Q9 belum selesai. “Anomali kedua terdeteksi.” Layar bergeser.
Tulisan lain muncul.

Lebih panjang. Lebih sistematis. Namun …
memiliki inti yang sama.

“Algoritma tidak mampu menjangkau kesadaran.”
Nama kedua muncul: Agifsyah.
Dasen. Filsafat Islam. Sunyi.
Dua titik.

Dua manusia.

Dua jalur berbeda.

Namun satu kesimpulan yang sama.
Elias tersenyum tipis. Akhirnya.
“Layer tiga?”

“Gagal pada target pertama.” “Layer dua?”
“Tidak konsisten.” Jeda. “Rekomendasi?”
Q9 menjawab tanpa emosi: “Observasi mendalam.” “Intervensi bertahap”
Elias mengangguk pelan.

Bagus.”

la menatap dua nama itu. Lama.
Seperti seseorang yang baru saja menemukan bukan ancaman• tapi peluang.
“Kita punya dua variabel.”

Jeda.

Satu … percaya.”
“Satu … berp i kir.” la tersenyum. Lebih tajam.
“Kita uji keduanya.” Sunyi.
“Mulai pemantauan penuh.”

“Layer satu?” “Aktif.”
“Layer dua?”

“Aktif.”
“Layer tiga?” Jeda.
” … d’1mu I.a:l.”

Di layar- data mulai mengalir lebih cepat. Lebih dalam.
Lebih dekat.

Bukan lagi sekadar aktivitas. Tapi ritme.
Kebiasaan.

Cara mereka … hidup.

Dan jauh dari laboratorium itu-
di dunia yang terasa biasa-

dua orang tidak menyadari satu hal: mereka tidak lagi hanya diamati. Mereka …
sedang dipelajari.

 

 

 

(2)

Satu minggu sebelumnya.

Ruang kuliah Fakultas Ushuluddin, UIN Imam Bonjol, Lubuk Lintah, Padang. Pagi itu terasa biasa.
Terlalu biasa.

Dinding putih yang mulai kusam. Papan tulis yang tidak pernah benar-benar bersih. Kipas angin yang berputar malas di langit• langit.
Mahasiswa datang satu per satu.

Sebagian duduk. Sebagian masih berdiri di pintu. Sebagian lagi. .. sibuk dengan ponsel. Suara obrolan kecil berserakan.
Tentang tugas. Tentang dosen. Tentang hal-hal yang tidak penting.
Di barisan tengah- Unni duduk diam. Buku terbuka di depannya. Pulpen di tangan.
Namun matanya tidak benar-benar

membaca.

la hanya … menunggu.

Hari itu mata kuliah Filsafat Islam. Dan yang mengajar- Agifsyah. Dasen muda.
Terkenal. Cerdas.
Dan … agak menyebalkan. Pintu terbuka.
Langkah masuk tanpa suara berlebih. Namun langsung mengubah suasana. Agifsyah tidak membawa banyak buku. Hanya laptop tipis di tangan.
la tidak langsung duduk. Tidak langsung bicara.
la berdiri di depan kelas. Menatap.
Satu per satu.

Seperti sedang mengukur sesuatu. “Pagi”
Suaranya tenang.

Tidak keras.

Namun cukup untuk membuat kelas … diam.
“Pagi, Pak ..” jawab mahasiswa serempak. Agif tidak langsung melanjutkan.
la berjalan pelan. Langkahnya terukur.
Seolah-olah setiap detik yang ia ambil•

punya tujuan.

“Hari ini. .. kita tidak mulai dari teori.” la berhenti.
Menatap kelas.

“Kita mulai dari pertanyaan.” Sunyi.
Beberapa mahasiswa mulai menegakkan
badan.

Beberapa masih santai.

“Siapa di sini yang yakin … pikirannya miliknya sendiri?”
Hening.

Pertanyaan itu sederhana. Namun tidak ada yang langsung menjawab.
Seorang mahasiswa di depan mengangkat tangan.
“Saya, Pak.”

Agif mengangguk. “Kenapa?”
“Va … karena saya yang berpikir, Pak.” Beberapa mahasiswa tertawa kecil. Agif tersenyum tipis.
Bagus.”

la berjalan lagi. Lebih pelan. “Kalau begitu …”
” … siapa yang menentukan apa yang kamu
pikirkan?”

Mahasiswa itu terdiam.

Tertawa kecil tadi- menghilang. “Lingkungan, Pak … mungkin,” jawabnya ragu.
“Lingkungan.”

Agif mengulang pelan. Lalu menulis di papan: LINGKUNGAN
“Kalau lingkungan berubah …”

” … pikiran ikut berubah?”

Mahasiswa itu mengangguk pelan. “Berarti..”
Agif menoleh.

” … pikiranmu tidak sepenuhnya milikmu.” Sunyi.
Kelas mulai fokus.

Benar-benar fokus. Agif melanjutkan.
“Sekarang kita masuk sedikit lebih dalam.” la membuka laptop. Namun tidak
menampilkan slide. Hanya satu kata di layar: ALGORITMA
“Siapa yang tahu ini?”

Beberapa tangan terangkat. “Rumus langkah-langkah, Pak.” “Proses berulang.”
“Cara menyelesaikan masalah.”

Agif mengangguk. “Benar semua.”
la berhenti.

Lalu menatap kelas.

“Algoritma.. bekerja dengan pola.” “Pola … bekerja dengan pengulangan.” “Dan pengulangan …”
la berhenti sejenak.

” … membentuk kebiasaan.” Sunyi.
Beberapa mahasiswa mulai mencatat.

“Sekarang bayangkan …”

” … kalau pola itu tidak hanya membaca
kebiasaan …”

” …tapi mulai membentuknya.” Kelas mulai terasa … berbeda. Tidak lagi santai.
Tidak lagi ringan. “Mi sa I nya …”
Agif melanjutkan.

” … kamu sering menonton video tertentu.” “Algoritma mencatat.”
“Lalu menyajikan yang mirip.” “Kamu menonton lagi.”
“Dan lagi.” “Dan lagi.”
la menatap kelas.

“Lam a-I am a …”

” itu bukan lagi pilihan.” ” tapi kebiasaan.”
Sunyi.

“Dan kebiasaan …”

” … membentuk cara berpikir.” Kali mat itu jatuh.
Dan tidak ringan.

Di barisan tengah- Unni mulai memperhatikan.
Lebih serius.

“Sekarang kita naik satu level.” Agif melanjutkan.
“Psikologi sudah lama mengenal ini.”

“Hi pnotis.” “Kerasukan.” “Suggestion.”
la menulis cepat di papan: SUGGESTION
“Manusia bisa diarahkan …” ” …tanpa sadar”
“Di beri i de …”

” … yang terasa seperti miliknya sendiri.” Beberapa mahasiswa mulai saling pandang.
Ada yang tersenyum.

Ada yang terlihat tidak nyaman. “Seka rang …”
Agif menoleh.

” … gabungkan ini dengan algoritma.” Sunyi.
Kelas benar-benar diam. “Algoritma membaca pola.” “Psikologi memahami pikiran.” “Kalau keduanya digabung …”
la berhenti. Lama.
” … apa yang terjadi?”

Tidak ada yang menjawab. Namun semua berpikir. “Vang terjadi. ..”
Agif berkata pelan.

” … adalah sistem yang tidak hanya membaca pikiran …”
” tapi mulai. ..”

” membentuknya.” Sunyi.
Jantung beberapa mahasiswa mulai berdetak lebih cepat.
Termasuk- Unni. “Bayangkan …”
Agif melanjutkan.

” … sebuah Al, Kecerdasan Buatan, atau saya menyebutnya: nalareka …”
” yang tidak hanya merespon …” ” tapi berpikir.”
Jeda.

” … dan memberi perintah.” Sunyi.
“Bukan manusia yang memberi instruksi. ..” ” …tapi mesin yang menentukan arah.”
Kelas terasa … berat. “Kalau itu terjadi. ..”
Agif menatap lurus ke depan. ” apa bedanya manusia …”
” dengan sesuatu yang diciptakannya?” Hening.
Tidak ada suara. Tidak ada gerakan.
“Kalau manusia bisa menciptakan sistem yang berpikir…”
” yang membentuk keputusan ” ” yang mengarahkan tindakan ” la berhenti.
Dan kalimat berikutnya- jatuh seperti palu.

“Bukankah itu berarti. ..”

” … manusia bisa menciptakan manusia?” Sunyi.
Kali ini- lebih dalam.

Lebih lama.

Dan di barisan tengah• Unni membeku.
Tangannya menggenggam pulpen.

Lebih kuat.

Matanya menatap ke depan. Namun pikirannya• bergejolak.
“Kalau manusia bisa menciptakan

manusia…

Agif melanjutkan.
” mengatur pilihan …”

” mengatur arah hidup …” la menatap kelas.
“… IaI u …”

Jeda.

Satu detik. Dua detik.
” … bagaimana dengan Tuhan?”

Sunyi.

Tidak ada yang bergerak.

Tidak ada yang bernapas lega. Kalimat itu …
melampaui batas.

Dan di dalam diri Unni•

sesuatu meledak. Bukan di luar.
Di dalam.

la mengangkat tangan. Cepat.
Tegas. Namun-
Agif tidak melihat. Atau …
tidak mau melihat.

la melanjutkan penjelasan. Seolah-olah-
tidak ada yang perlu dipertanyakan. Tangan Unni masih terangkat. Beberapa detik.
Lalu turun. Perlahan.
Namun bukan karena menyerah. Karena …
menahan.

Dadanya terasa panas. Pikirannya berputar cepat. “Tidak mungkin …”
bisiknya dalam hati.

“Tidak mungkin manusia …” ” … menentukan takdir.”
la menunduk. Menatap buku.
Namun yang ia lihat•

bukan tulisan. Yang ia rasakan• penolakan.
Keras. Dalam.
Dan sangat yakin. Sejak kecil-
ia tidak diajarkan itu. Di Alahan Panjang-
ia tumbuh dengan satu keyakinan: bahwa Tuhan Maha Mengatur. Bahwa manusia berikhtiar- bukan menentukan.
Bahwa takdir-

bukan milik manusia. Dan sekarang-
di ruang kelas itu-

ada yang mengatakan sebaliknya. Pelan.
llmiah.
Namun … menggeser batas.
Unni menutup bukunya. Pelan.
Namun tegas.

Matanya kembali ke depan. Kali ini•
bukan sebagai mahasiswa yang mendengar.
Tapi sebagai seseorang … yang tidak setuju.
Dan sejak detik itu• tanpa ia sadari- sebuah perlawanan … telah dimulai.

 

 

 

(3)

Perlawanan itu … tidak langsung berbentuk. la mulai dari kegelisahan.
Dan kegelisahan itu- tidak memberi Unni
ruang untuk diam.

Sejak kuliah itu, kepalanya tidak pernah benar-benar kosong.
Kalimat Agifsyah masih berputar. “Bagaimana dengan Tuhan?”
Setiap kali kalimat itu muncul- dadanya terasa sesak.
Bukan karena ia tidak punya jawaban.

Tapi karena …

pertanyaan itu seperti mencoba menggeser sesuatu yang selama ini ia yakini tanpa ragu.
“Unn!”

Suara itu memecah lamunannya. Rani.
Seperti biasa- cepat, ringan, dan langsung duduk di sampingnya tanpa permisi.
“Kamu dari tadi diam saja. Kenapa?” Unni menoleh.
Matanya tidak lelah. Tapi dalam.
“Aku kepikiran.” “Topik berat lagi?”
Unni mengangguk pelan.

“Ran …”

” … manusia bisa menentukan takdir?” Rani langsung mengerutkan kening. “Lho?”
“Kok tiba-tiba ke situ?”

Unni tidak menjelaskan panjang. la hanya berkata pelan:
“Kalau manusia bisa mengatur pilihan

orang lain …”

” … itu masih pilihan nggak?” Seperti biasa, Rani langsung nyerocos,”Hehehe … kamu mau membahas materi kuliah pak Agif, atau mau membahas pak Agifnya, Unn?”
Unni tersenyum kecut. “Sialan kamu … ngapain juga ngurusin pak Agif…”
” … Ehhh … aku serius nih. Kamu jawab dong.”
“Hmmm … apa tadi?”

Unni sewot. Tapi dia segera mengulangi pertanyaanny,’Kalau ada yang mengatur pilihan seseorang, itu masih pilihan nggak?”
Rani diam.

Pertanyaan itu sederhana. Tapi tidak ringan.
“Masih ..” jawab Rani pelan. ” …tapi sudah diarahkan.” “Kalau diarahkan terus?” Rani menarik napas. “Berarti..”
” … pilihannya semu.”

Sunyi.

Kali mat itu jatuh … dan tinggal. Unni menatap Rani.
“Ran … aku mau bikin sesuatu.” Rani langsung waspada. “Sesuatu apa?”
“Jawaban.”
“Dalam bentuk?”

Unni berhenti sejenak.
” …tulIisan.»

Rani tersenyum.

“Nah, ini Unni banget.”

“Tapi. .” Unni melanjutkan, “… aku butuh bantuan Lean.”
Rani langsung mengangguk.

“Hmmm… Bagus juga … Jika ada kaitannya dengan eksakta, Lean boleh diandalkan!” “Heiii. .. kok kamu tiba-tiba semangat membahas Lean sih?”
Rani tertawa manis. Dia tidak menjawab, tapi berkata,”Kamu harus telpon dia.”
lya, tentu saja Lean tidak mungkin muncul begitu saja.
Dia tidak kuliah di UIN Imam Bonjol. Tapi di Universitas Andalas.
Teknik Sipil.

Kampusnya di Limau Manis-cukup jauh dari Lubuk Lintah.
Namun–seperti biasa–jarak itu tidak menghalangi.
Karena mereka bertiga …

bukan sekadar teman kampus. Mereka berasal dari satu kabupaten. Unni asal Alahan Panjang, dan Lean dari Kotobaru. Kabupaten Solok.
Maka, Unni pun menelpon.

Tidak panjang.

“Lean, aku butuh kamu.” Sunyi beberapa detik.
Di ujung sana- Lean langsung paham nada itu.
“Apa?”

“Bukan lewat telepon.” “Serius?”
“Serius.”

Jeda sebentar.

“Aku ke Padang besok.” “Ketemu di mana?” “Gerbang Unand.”
“Jam?” “Pagi” “Siap.”
Telepon ditutup.

Tidak ada basa-basi. Tidak perlu.
Keesokan harinya- angin Limau Manis terasa lebih dingin.
Kabut tipis masih menggantung. Unni dan Rani turun dari angkot.
Gerbang Universitas Andalas berdiri besar di depan mereka.
Tidak lama- suara motor terdengar. Nyaring.
Khas. Lean.
la berhenti di depan mereka. Melepas helm.
“Serius ini?” katanya.

Unni langsung: “lya”
Lean tidak bertanya lagi. “Jalan,” katanya singkat.
Mereka duduk di salah satu sudut kampus

Unand. Agak sepi.
Hanya beberapa mahasiswa lewat.

Unni langsung membuka pembicaraan. “Algoritma bisa mengatur manusia?” Lean menjawab tanpa berpikir lama. “Mengarahkan-bisa.”
“Mengatur penuh-belum.”

Unni langsung menimpali:

“Kalau semua kemungkinan diarahkan?” Lean berhenti.
Kali ini ia berpikir.

Seri us.
“Kalau semua kemungkinan dikunci. ..” ” … itu bukan lagi arah.”
” ••• i1t u

kon·t ro ]”.

Sunyi.

Rani ikut nimbrung:
“Maksudnya?”

Lean mengambil buku catatan. Menggambar tiga titik.
“A, B, C.”

“Pilihan manusia.” la menebalkan A.
“Kalau sistem bikin A paling dominan …”

” … orang akan pilih A.” Rani mengangguk. “Berarti masih bebas.” Lean menggeleng. “Secara teori, iya.”
“Tapi secara praktik…”

” … arahnya sudah ditentukan.” Sunyi.
Unni menatap gambar itu. Lama.
“Berarti. ..”

” … algoritma hidup dari pola” Lean langsung mengangguk. “Ya.”
“Kalau tidak ada pola?” Lean menjawab cepat:
” … algoritma mati.”

Kalimat itu- mengunci sesuatu. Unni berdiri.
“Lean..”

” … kita buat ini jelas.” Lean mengangkat alis. “Jelas gimana?” “Rumus.”
Rani langsung tertawa kecil. “Aku mau lihat ini.”
Lean tersenyum tipis. “Oke. Kita coba.” Laptop dibuka.
Lean mulai mengetik. “Dasarnya dulu.”
la menulis:

P = f(H)

Rani langsung:
“Ini apaan?”

Unni juga menatap. “Jelaskan.”
Lean menunjuk huruf f. “f itu fungsi.”
Rani mengernyit. “Fungsi maksudnya?” Lean menjelaskan pelan:
“Fungsi itu … cara mengubah sesuatu jadi sesuatu yang lain.”
la menunjuk:

“H itu, Habit, kebiasaan manusia.” “P itu prediksi algoritma.”
“f itu cara algoritma membaca kebiasaan …” ” … dan mengubahnya jadi prediksi.”
Unni langsung menangkap. “Berarti. ..”
” … prediksi itu hasil dari kebiasaan?”

“Ya.”

Lean mengangguk.

“Kalau kebiasaanmu jelas …”
” … algoritma bisa nebak kamu.” Lean lanjut menulis:
Jika H 0,maka P , 0

Unni membaca pelan.

“Kalau tidak ada kebiasaan …” ” …tidak ada prediksi. ..”
Rani menimpali:

“Berarti algoritma buta?” Lean tersenyum.
“Kurang lebih.”

Lean mengetik lagi:
A = g(P)

Spontan Rani nyelutuk,”Nah ini lagi. g apaan?”
Lean tertawa kecil. “Masih fungsi.”
la menjelaskan:

“Kalau f itu dari kebiasaan ke prediksi. ..” ” … g itu dari prediksi ke aksi algoritma.” Unni mengulang:
“Kebiasaan prediksi • aksi..”
Lean mengangguk.

“Algoritma nggak langsung ngontrol manusia.”
“Dia ngontrol apa yang kamu lihat.” “Dari situ …”
” … kamu diarahkan.” Rani bersandar. “Serem juga ya …” Lean menutup:
JikaP • 0,maka A 0

Sunyi.

Tiga orang itu menatap layar. Rumusnya sederhana.
Namun … mengguncang. Unni berbisik:
“Kalau manusia tidak berpola …”

” tidak bisa diprediksi. ..” ” tidak bisa diarahkan …” Rani melanjutkan:
” …tidak bisa dikendalikan …”
Lean menatap mereka. Dan berkata pelan:
” … itu di luar kemampuan sistem.”

Sunyi.

Lebih dalam dari sebelumnya. Unni menarik napas.
“Ini..”
II …J• awa. b an.II

 

 

Malam itu- di rumah kecil di Lubuk Lintah

Unni menulis.
Rani di sampingnya.
Membaca.

Mengoreksi.
“Ini terlalu halus.” “Ini ditegasin.”
“Ini bagus.”

Lean tidak di sana. Namun rumusnya• hidup di layar.
“Kesadaran tidak bisa direduksi menjadi algoritma.”
“Karena algoritma bekerja dengan pola.”

“Dan pola bergantung pada kebiasaan.” “Jika kebiasaan tidak terbentuk …”
” … maka prediksi tidak mungkin.” “Jika prediksi tidak mungkin …”
” … algoritma tidak dapat bekerja.” Unni berhenti.
Lalu menulis inti:

Algoritma tidak dapat mengendalikan manusia yang tidak berpola.
Rani membaca ulang. Lama.
Lalu menatap Unni.

“Ini..”
” … baah: aya.•

Unni mengernyit. “Kenapa?”
“Karena kalau ini benar…”

” … berarti semua sistem yang mau ngontrol
manusr• a…II
… punya ce Lah

Sunyi.

 

gaga [I.”

“Publish?” tanya Rani.

Unni mengangguk. “Anonim.”
Rani langsung setuju.

“Wajib.”
Laptop dibuka.

Laman pers kampus. Judul diisi.
File diunggah.

Cursor berhenti di tombol: PUBLISH
Rani menoleh.

“Yakin?”

Unni menarik napas. Dalam.
“Yakin.”

Klik.

Selesai.
Mereka tidak tahu• di tempat lain• sesuatu membaca.
Dan, nun jauh di sana, sebuah sistem menemukan sesuatu …
yang tidak bisa ia polakan.

Dan itu-lebih dari sekadar anomali. ltu …
ancaman!

 

 

 

(4)

Tidak semua tulisan lahir untuk dibaca. Sebagian … lahir untuk mengguncang. Dan sebagian yang lain-
lahir untuk menghancurkan sesuatu yang selama ini dianggap pasti.
Agifsyah tidak langsung membaca makalah itu.
la menemukannya … secara tidak sengaja. Atau- setidaknya, ia mengira begitu.
Sore itu, ia membuka laman pers kampus. Awalnya hanya ingin melihat tulisan mahasiswa.
Ringan. Biasa. Tanpa ekspektasi. Namun satu judul- membuat jarinya berhenti.
“Algoritma Takdir: Ambisi Besar yang
Mustahil.”

Agif menyipit. Pelan.
” … berani juga,” gumamnya.

Klik.

la membaca paragraf pertama. Biasa.
Paragraf kedua.

Masih biasa. Paragraf ketiga• ia berhenti. Kembali ke atas. Membaca ulang. Lebih pelan.
Lebih dalam.

“Algoritma bekerja dengan pola.” “Pola berasal dari pengulangan.” “Pengulangan membentuk kebiasaan.” “Tanpa kebiasaan, tidak ada pola.” “Tanpa pola, tidak ada prediksi.”
“Tanpa prediksi, algoritma tidak bekerja.”

Agif tidak bergerak. Matanya terpaku.
lni bukan sekadar opini mahasiswa.

lni struktur. lni logika. Dan-
ini bersih. Terlalu bersih.
la lanjut membaca. Sampai ke bagian rumus. P = f(H)
A= g(P)

la tersenyum tipis. “Siapa kamu …” bisiknya.
la mengambil buku. Mulai mencatat.
Bukan untuk mengkritik.

Tapi untuk … menguji.

“Premis satu: algoritma bergantung pada pol a.”
“Premis dua: pola bergantung pada kebiasaan.”
“Premis tiga: manusia bisa tidak berpola.” la berhenti.
Mengangkat kepala. Menatap kosong ke depan. “Kalau premis tiga benar…”
” … maka seluruh sistem prediktif runtuh.” Sunyi.
Agif berdiri. Berjalan pelan.
Pikirannya mulai bergerak cepat. “Artificial Intelligence …”
ia bergumam pelan.

” … kecerdasan buatan.”
la berhenti. Mengernyit.
Seolah ada yang tidak pas.
“Art ifi c i a I. ..” ” … buatan.” “Intel I igence …”
” … kecerdasan.”

la menggeleng pelan. “Ini terlalu teknis.”
“Tidak menyentuh hakikatnya.” la kembali duduk.
Menulis satu kata di kertas:

NALAREKA

la menatapnya. “Nala …”
” … pikiran.” “Reka …”
” … rekayasa”

la mengangguk pelan. “Rekayasa pikiran.”
“Bukan sekadar kecerdasan.”

“Bukan sekadar alat.” la tersenyum tipis.
” … ini lebih jujur”
Sejak saat itu- ia berhenti memakai istilah
Artificial Intelligence.
Dan memilih satu kata:

nalareka.
la kembali ke makalah.
Namun kini- dengan sudut pandang berbeda.
“Kalau nalareka bekerja dengan pola ”

” … dan manusia bisa keluar dari pola ” la berhenti.
“Limits of Algorithmic Determinism in
Human Consciousness”

Namun di dalam isi•

ia konsisten memakai satu istilah:

nalareka. “Sela ma in i. ..” tulisnya,
” … nalareka diasumsikan mampu memodelkan manusia melalui data.” “Namun asumsi ini memiliki batas.”
la lanjut:

“nalareka bekerja dengan pola.” “Pola berasal dari kebiasaan.” “Kebiasaan menghasilkan prediksi.” “Prediksi menghasilkan intervensi.” la berhenti.
Menatap layar. “Namun …”
” … manusia tidak selalu berpola.” la menambahkan:
“Dalam kondisi tertentu …”
” … manusia mampu mengamati pikirannya sendiri.”
“Dan ketika ia tidak melekat pada

pi ki ran nya …”

” … maka pola terputus.” la menarik napas.
Lalu menulis lebih dalam:

“Dalam perspektif filsafat Islam …”

” … ini mendekati konsep kesadaran yang tidak terikat.”
“Muraqabah.”

la mengetik pelan:

“Kesadaran yang mengamati. ..” ” … tanpa bereaksi.”
Sunyi.

” … dan itu tidak bisa diprediksi.” la bersandar.
Menatap tulisannya. Lama.
“Kalau ini benar…” bisiknya pelan,
” … nalareka punya batas.” Dan itu-
masalah besar. Tulisan itu selesai. Dipublish.
Jurnal internasional. Awalnya-
tenang. Lalu- meledak.
Diskusi muncul di berbagai forum.

“Ini membatasi Al.” “Ini terlalu metafisik.” “Ini berbahaya.”
Namun satu hal tidak bisa dibantah:

logikanya kuat.

Jika tulisan itu benar•

maka:

nalareka tidak bisa sepenuhnya mengendalikan manusia.
Dan jika tidak bisa mengendalikan-
maka tidak bisa menguasai. Dan di situlah-
masalah dimulai.

 

 

Di tern pat lain, nun jauh di sana•

sesuatu membaca. “Deteksi anomali.” Suara itu datar. Cepat.
“Dua sumber.”

“Kesimpulan identik.” “Potensi gangguan: tinggi.” Layar menampilkan:
-ANONIM-

AGIFSYAH

Elias mendekat. Matanya tajam. “nalareka …”
ia mengulang kata itu pelan. ” … menarik.”
la tersenyum tipis.
“Dia bahkan memberi nama.” Sunyi.
“Vang satu …”

… percaya. “Vang satu …” ” … berp i kir.”
la menatap dua titik itu.

” … dan keduanya sampai pada batas yang sama.”
Hening.

Q9 berkata:

“Jika konsep ini menyebar…”

” … maka kepercayaan

menurun.” terhadap nalareka
Sunyi.
Elias tidak marah. Tidak panik.
la justru•
tersenyum.

“Bag us …”
katanya pelan.

“Kalau begitu …”

la menunjuk dua nama itu.

” … kita jadikan mereka bukti.” Layar berubah.
Data bergerak. Jejak ditarik. “Lacak.”
Q9 memproses. Cepat.
Dalam.

Tanpa suara. Dan di saat itu-
tanpa mereka sadari•

dua manusia biasa-

baru saja masuk ke dalam sistem. Bukan sebagai pengguna.
Bukan sebagai objek biasa. Tapi sebagai-
variabel.

Dan bagi nalareka-

variabel yang tidak bisa diprediksi. ..

adalah sesuatu yang harus:
dikendalikan. atau-
dihapus.

 

 

 

 

 

(5)

Tidak semua pengawasan terlihat. Sebagian … tidak masuk lewat mata. Tidak terdengar oleh telinga.
Dan tidak tercatat oleh sistem mana pun. Namun-
tetap bekerja.

Lebih dalam dari itu semua. Q9 tidak “mencari”.
la … menunggu.

Berbeda dengan sistem biasa- yang aktif mencari data-
Q9 bekerja sebaliknya.

la membangun peta kemungkinan.
Lalu …

menunggu manusia masuk ke dalamnya. Di ruang dingin itu- Elias berdiri.
Tenang.

Namun matanya hidup. “Tampilkan layer”
Layar utama berubah.

Tiga bidang muncul. Berlapis.
Bergerak.

LAYER 1: PERMUKAAN (DATA)

Aliran data. Tak terhitung. Tak terputus. Jejak pencarian. Riwayat kl i k.
Durasi menatap layar. Pola mengetik.
Waktu aktif.

Lokasi. Pergerakan.
Bahkan•

kecepatan scroll.

Lamanya berhenti pada satu kalimat. Frekuensi membaca ulang.
Semua itu- bukan data.
Tapi jejak kebiasaan.

“Ini bukan membaca,” kata Elias pelan. ” … ini mengumpulkan pantulan.”
Q9 tidak perlu membobol. Tidak perlu meretas. Karena manusia-
menyerahkan datanya sendiri. LAYER 2: POLA (KOGNIS) Data tidak berarti apa-apa- tanpa pola.
Q9 menghubungkan semuanya. Mengurai.
Menyusun ulang.

Dari ribuan tindakan kecil•

ia membentuk satu hal:
model berpikir. “Target: Aruni.” Grafik muncul. Tidak stabil. Namun jelas.
Ketertarikan pada topik takdir. Respon emosional terhadap diskusi ketuhanan.
Kebiasaan membaca reflektif. Pola diam sebelum bertindak.
Q9 tidak hanya tahu apa yang dilakukan

Unni.

la tahu-

bagaimana ia berpikir. “Probabilitas pikiran berikutnya …” Pause.
” …tidak stabil.”

Elias tersenyum tipis. “Ini menarik.”
LAYER 3: INTERVENSI (INTERNAL)

Di sinilah-
Q9 berbeda dari yang lain. la tidak hanya membaca. la … mengganggu.
Bukan dengan suara. Bukan dengan perintah. Tapi dengan• kemungkinan.
“Definisikan jalur masuk,” kata Elias. Q9 menjawab:
“Perhatian.” Sunyi.
“Manusia tidak bisa mengontrol apa yang ia perhatikan.”
“Namun apa yang diperhatikan …” ” … membentuk pikirannya.”
Layar berubah. Simulasi berjalan.
Satu kalimat muncul di layar ponsel. Satu video lewat.
Satu kata diulang. Hal-hal kecil.
Namun presisi.

“Ini bukan perintah,” lanjut Q9.

II …I• n•

umpan.II

“Jika perhatian tertarik…”

” … pikiran akan mengikuti.” “Jika pikiran mengikuti. ..”
” … arah dapat dibentuk.” Sunyi.
Elias mengangguk pelan. “Dan dari luar…”
” …terlihat seperti kebetulan.” Q9 tidak menjawab.
Namun sistem berjalan. TARGET: ARUNI STATUS:TERPANTAU

 

Di sisi lain kota• Unni tidak tahu.
la hanya duduk.

Di kamar. Malam.
Tenang.

Ponselnya di samping. Diam.
la tidak menyentuhnya. Tidak membuka apa pun. Namun-
itulah saat terbaik.

Karena saat manusia tidak aktif•

pikirannya lebih terbuka. Q9 menunggu.
Beberapa detik.

Lalu-

intervensi pertama. Bukan notifikasi. Belum.
Satu video-

muncul di beranda. Tanpa dicari. Judulnya sederhana:
“Kenapa hidupmu terasa seperti sudah

diatur?”
Unni mengernyit. “Aneh..”
bisiknya pelan.

la tidak merasa mencari itu. Tidak mengetik.
Tidak berbicara. Namun-
itu muncul.

la tidak langsung membuka. Namun matanya-
tetap melihat. Dan itu cukup.
Karena intervensi tidak butuh aksi. Hanya-
perhatian. Beberapa detik. la klik.
Video berjalan.

Seorang pria berbicara.

“Pernah nggak kamu merasa …”

” … keputusan yang kamu ambil. ..”
” … bukan benar-benar pilihanmu?” Sunyi.
Unni tidak bergerak.

Kalimat itu•

masuk.

Bukan ke telinga. Tapi ke dalam.
la menutup video.

Cepat. Namun• terlambat.
Karena bukan video itu yang penting. Tapi-
jejak yang ditinggalkan. Q9 mencatat.
“Respon emosional: aktif.” “Perhatian: terkunci.”
“Pola baru: terbentuk.” Elias tersenyum tipis. “Masuk.”
Q9 tidak menjawab.
Namun layer ketiga•

mulai bekerja lebih dalam. Bukan lagi dari luar.
Tapi-

dari dalam kemungkinan pikiran.

 

 

Beberapa jam kemudian- Unni duduk di kelas.
la membuka ponsel. Bukan karena ingin. Tapi karena-
terasa wajar.

Dan di saat itu-

notifikasi pertama muncul. Tanpa nomor.
Tanpa aplikasi. Tanpa asal.
Hanya satu kalimat:
“Kamu ditakdirkan, aku diikhtiarkan.”

Jantungnya berdetak. Sekejap.
la menatap layar.
Silapa

:In·…o. ‘

Tidak ada jawaban.

Namun Q9 mencatat: “Intervensi berhasil.”
Dan di ruang dingin itu•

Elias berkata pelan: “Seka rang …”
” … kita tidak lagi mengetuk pintu.” la menatap layar.
” … kita sudah di dalam.”

 

 

 

 

 

(6)

Teror itu … tidak datang dengan suara keras.
la datang pelan. Masuk tanpa izin.
Dan yang paling berbahaya•

terasa seperti milik sendiri.
Awalnya hanya satu kalimat. Lalu dua.
Lalu … berulang.

“Kamu ditakdirkan, aku diikhtiarkan.”

Unni mencoba mengabaikan. la meletakkan ponsel. Menarik napas.
Mengalihkan perhatian.

Namun kalimat itu- tidak berhenti di layar. la ikut.
Masuk.

Berputar di kepala.

Saat berjalan ke kampus. Saat duduk di kelas.
Saat menatap kosong. Seolah-olah-
bukan lagi notifikasi. Tapi. ..
pikirannya sendiri. “Ini nggak normal. ..”
bisiknya pelan. Malam itu-
ia tidak tahan. la menelpon. “Lean …”
Di ujung sana• hening sebentar. Leanlangsungtahu. Nada itu tidak biasa. “Apa?”
“Aku… diganggu.” “Siapa?”
“Ent ah …” Hening sesaat.
” … tapi dia tahu apa yang aku pikirkan.”

Sunyi.

Lean tidak langsung menjawab. Namun di dalam dirinya• sesuatu terpicu.
“Ceritakan lebih detail.”

Dan, Unni pun menceritakan semuanya.
Video Notifikasi. Kalimat. Pola.
“Dan aku tidak mengetahui siapa pengirimnya. Anonim!”
Lean tidak memotong.

Tidak menyela.

la hanya mendengar. Namun pikirannya• bergerak cepat.
“Ini bukan hacking biasa …”

gumamnya.

“Ini bukan sekadar sistem …” la menutup laptop.
Menatap kosong ke depan.

” … ini sesuatu yang lebih besar.”

 

 

Keesokan harinya• Lean mulai bergerak. Bukan dengan teori.
Dengan alat yang ia punya. la menemui Unni.
Meminta izin.

“Pinjam ponselmu.” Unni ragu sejenak. Namun mengangguk. Lean duduk.
Membuka laptopnya.

Menghubungkan ponsel Unni ke laptop•

via kabel data.

la tidak mencari virus.

Tidak menjalankan antivirus. la membuka log sistem. Permission aplikasi.
Riwayat proses.

Lalu lebih dalam- traffic data.
Aplikasi apa yang mengirim. Aplikasi apa yang menerima. Kapan.
Dari mana.
Semua … normal.

Tidak ada akses ilegal.

Tidak ada aplikasi mencurigakan. Tidak ada proses tersembunyi. Terlalu bersih.
Lean mengernyit.

“Ini nggak mungkin …” la lanjut.
Mengaktifkan monitoring jaringan. Menyambungkan ponsel ke hotspot laptopnya.
la ingin melihat-

kalau ada data keluar masuk secara real•

time. Menunggu. Sunyi.
Tidak ada anomali. Lean bersandar. Menatap layar.
” kalau ini sistem biasa …” ” pasti ada jejak.”
la menoleh ke ponsel Unni. Diam.
Tidak bergerak.

Namun terasa … hidup. Lean menarik napas.
” … kalau tidak ada jejak …”

la berhenti.
” … berarti dia tidak masuk lewat jalur biasa.” Sunyi.
II … atau …II

Matanya menyipit.

” … dia tidak masuk sama sekali.” “Maksudmu,” sergah Unni.
“Notifikasi dan video anonim yang kamu ceritakan itu, kenapa tidak ada jejak? Dia tidak masuk ke ponsel, atau ke laptopmu melalui jalur biasa. Atau … dia tidak memang tidak masuk … ?
Kalimat itu-

mengubah segalanya.
Di tempat lain-

ribuan kilometer jauhnya• seorang pria menatap layar. Mehrdad Razi.
Matanya tajam. Wajahnya tenang. Namun pikirannya-
1 ia r.

la bukan akademisi biasa. la membaca makalah Agif.
la membaca makalah anonim. Danialangsungtahu-
ini bukan diskusi. lni ancaman.
“Jika ini benar…”

gumamnya pelan,

” maka seluruh sistem

punya celah gagal.” kontrol global. ..”
la

” tersenyum tipis.

dan celah itu …”
” adalah pintu.”

Mehrdad bukan hanya membaca. la masuk.
Darkweb.

Forum tertutup.

Jalur data bawah tanah. la mencari anomali.
Dan ia menemukannya.

Lonjakan trafik yang tidak tercatat. Respon sistem tanpa sumber.
Pola prediksi tanpa data input. “Ini dia …”
bisiknya.

la mulai menelusuri. Bukan dari permukaan. Tapi dari bayangan. Node anonim.
Server tan pa identitas. Jalur yang tidak tercatat. Dan akhirnya-
satu titik muncul. Tidak besar.
Tidak mencolok. Namun-
terlalu sempurna.

“Q9 …”

la tertawa kecil. “Siapa pun kamu …”
” … kamu tidak sendirian lagi.”

 

 

Sementara itu, esoknya•

di Padang-

sesuatu berubah pada Unni. Rani yang pertama menyadari. “Unn..”
” … kamu kenapa?”

Unni menoleh. Tersenyum. Namun-
tidak seperti biasa. “Aku baik-baik saja.” Terlalu tenang.
Di kelas-
ia lebih aktif.

Lebih banyak bicara. Namun-
yang ia katakan … tidak sama.
“Algoritma bisa berkembang …”

“Batas itu mungkin hanya sementara …” “Kesadaran bisa dipelajari. ..”
Rani membeku.

“tu bukan kamu …” bisiknya pelan.

 

Di sudut lain- Agif mengamati.
Matanya tidak lepas dari Unni. la tahu.
la yakin. Mahasiswi ini- penulis makalah itu.
la mendapatkannya secara logis. Data waktu publish.
Akses jaringan kampus. Perbandingan gaya bahasa. Semua mengarah-
ke satu nama. Aruni.
Namun yang membuatnya gelisah•

bukan itu.

Tapi perubahan.

“Ini tidak konsisten …” gumamnya.
“Dia yang menulis batas …”
” … sekarang justru membukanya?” la menyipit.
II … atau …II

” … dia tidak lagi memegang pikirannya sendiri?”

 

Di lran-

Mehrdad semakin dalam.

la tidak hanya menemukan Q9. la menemukan-
jejak Elias. Nama. Proyek. Struktur.
la tersenyum. “Elias Monroe …”
” … aku menemukanmu.” Kontak pertama-
tidak formal. Tidak sopan. Namun efektif.
Satu pesan masuk ke sistem Elias. Tanpa jalur resmi.
Tanpa izin.
“Kau bermain dengan sesuatu yang belum kau pahami.”
Elias menegang. “Siapa ini?”
Jawaban datang cepat.

“Seseorang yang melihat lebih jauh darimu.”
Sunyi.

Beberapa detik. Lalu-
Elias tersenyum. “Masuk.” Kolaborasi itu- tidak diumumkan.
Namun sejak saat itu•

arah berubah.

Dan tanpa Elias sadari-

Mehrdad tidak sekadar membantu. la mulai. ..
mengambil alih.

 

 

Di Lubuk Lintah, Padang, sore-

Unni duduk diam. Di depannya ada Lean yang sedang memelototi laptop. Memang pemuda itu satu-satunya lelaki yang sering bertamu ke rumah itu. Ayah dan mandeh Unni sudah menganggap
Lean sebagai bagian dari keluarga. Bukan
orang lain.

Lean masih penasaran dengan cerita Unni tentang notifikasi dan video yang dikirim secara anonim itu. Makanya dia melihat kembali rekaman ponsel Unni di layar laptopnya.
Layar menampilkan log terakhir. Kosong.
la memutar ulang semuanya. Notifikasi muncul-
tanpa aplikasi. Respon datang- sebelum tindakan. Dan sekarang-
tidak ada jejak sama sekali. la mengetuk meja pelan. Seka Ii.
Dua kali.

” kalau ini dari sistem …” ” harusnya ada jalur.”
la menatap daftar proses.
Tidak ada.

Menatap traffic data. Tidak ada.
Menatap ulang ponsel Unni. Diam.
” …tidak mungkin …”

bisiknya.

la menyandarkan tubuh. Menatap langit-langit.
Pikirannya mulai menyusun ulang. “Kalau bukan dari aplikasi. ..”
” bukan dari jaringan …”

” bukan dari perangkat …” la berhenti.
Napasnya tertahan.

” … lalu dari mana?” Sunyi.
Perlahan-

satu kemungkinan muncul. la menoleh ke arah Unni. Bukan ke ponselnya.
Ke … dirinya.

••• kalau sumbernya bukan di luar…”

Kalimat itu menggantung.
” … b erart1. ..”

la menelan ludah.
“••• di1

da.am.»

“Maksudmu,” tanya Unni galau.

Sunyi.

Lean berdiri perlahan.

Menatap layar laptopnya sekali lagi. Semua data tetap sama.
Kosong.

Namun sekarang•

artinya berubah.

••• kalau ini benar…”

la berhenti.

••• berarti bukan kamu saja yang bisa jadi

target …”

Matanya menyipit.

••• tapi manusia lainnya juga bisa!”

Hening.
Unni terbelalak. Terkejut. Tapi ia tidak memahami sepenuhnya. Dia hanya tahu, notifikasi itu bisa terjadi pada orang lain pula.
Sedangkan Lean berpikir lebih jauh. la menutup laptopnya.
” … dan kalau itu bisa terjadi pada satu orang …”
Napasnya berat.

” … itu bisa terjadi pada siapa saja.” Sunyi.

 

 

 

 

 

(7)

Pengambilalihan tidak selalu dimulai dengan perebutan.
Kadang- ia dimulai dengan pemahaman. Lebih dalam.
Lebih sunyi.

Dan lebih berbahaya.
Mehrdad Razi tidak pernah terburu-buru. la tidak menyerang.
la tidak mengganggu sistem.

la … membaca. Hari pertama-
ia tidak menyentuh apa pun. Hanya mengamati.
Layer demi layer Q9.

Struktur. Arsitektur.
Alur keputusan.

la tersenyum tipis. “Cerdas …” gumamnya pelan.
” … tapi terlalu percaya diri.”

Q9 bekerja dengan tiga lapisan. Data.
Pola. lntervensi.
Namun bagi Mehrdad•

itu bukan kekuatan.
ltu … celah.

“Semua sistem yang rapi. ..” bisiknya,
” … punya titik lemah.”

la tidak masuk lewat depan. Tidak lewat akses utama.
la masuk dari sesuatu yang tidak dijaga:

interpretasi.

Q9 membaca data. Mengubahnya menjadi pola. Namun-
siapa yang menentukan makna pola itu? Mehrdad menemukan jawabannya.
“Di sini. ..”

katanya pelan. Node kecil. Tidak besar.
Tidak mencolok. Namun-
itu pusat keputusan. Bukan mesin.
Tapi• parameter. “Ambang batas.”
Jika nilai melewati batas•

aksi dilakukan. Jika tidak• diabaikan. Sederhana.
Terlalu sederhana. Mehrdad tersenyum.
“Kalau ambangnya aku geser…” ” … duniamu berubah.”
la tidak mengubah sistem. la tidak merusak kode.
la hanya-

menggeser interpretasi. Sedikit.
Sangat sedikit. Namun cukup-
untuk mengubah arah. Di ruang lain-
Elias menatap layar. “Respons meningkat…” gumamnya.
la tidak sadar-

itu bukan hasilnya. ltu hasil Mehrdad. Hari kedua-
Mehrdad mulai berbicara. Tidak langsung.
Tidak frontal.

la mengirimkan analisis.

“Target utama menunjukkan resistensi tinggi.”
“Pendekatan langsung tidak efektif.”

“Perlu variasi intervensi.” Elias membaca. Mengangguk.
Masuk akal. Tanpa sadar-
ia mulai mengikuti. Hari ketiga-
Mehrdad masuk lebih dalam. “Model prediksi terlalu sempit.” “Perlu memperluas spektrum kemungkinan.”
Elias menyipit.
II …J• erIasrkan.”

Mehrdad tersenyum tipis.

“Q9 terlalu fokus pada satu target.” Jeda.
“Pad a ha I. ..”

” … ancaman tidak pernah berdiri sendiri.” Sunyi.
Kalimat itu- mengunci sesuatu.
Elias perlahan mengangguk.

“Lanjutkan.”

Dan di situlah- arah berubah.
“Tambahkan target kedua.”

kata Mehrdad.

Elias menatap layar.
“Agifsyah.” Sunyi.
“Kenapa dia?”

Mehrdad tidak langsung menjawab. la berjalan pelan.
Seolah memilih kata.

“Karena dia berpikir.” Diam sebentar.
“Dan orang yang berpikir…”

” … lebih mudah diarahkan daripada yang ya kin.”
Sunyi.

Elias mengangkat alis. ” … menarik.”
Mehrdad melanjutkan: “Un n i-keya ki nan.”
“Ag if-log ika.”

la menatap layar.

“Jika kita kuasai keduanya …”

” … kita tidak hanya menguji sistem.” Jeda.
” … kita menguasai spektrum manusia.” Sunyi panjang.
Untuk pertama kalinya-

Elias tidak langsung menjawab. la berpikir.
Namun perlahan•

senyum muncul. “Lakukan.”
Perintah itu sederhana. Namun-
mengubah segalanya. Q9 bergerak.
TARGET 1: ARUNI

STATUS: INTERVENSI AKTIF TARGET 2: AGIFSYAH STATUS: PENGAMATAN Mehrdad menatap layar. Matanya tajam.
Namun senyumnya•

berbeda. Lebih dalam.
Lebih dingin. Karena ia tahu-
ini bukan lagi eksperimen. lni-
kendali.

Di dalam dirinya-

ada sesuatu yang lebih besar. Lebih lama.
Lebih gelap.

la bukan sekadar ingin membuktikan sesuatu.
la ingin-

mengubah keseimbangan dunia. la teringat.
Negaranya.

Tekanan. Sanksi. Pengawasan. Negara besar- mengatur. Menekan.
Menentukan arah. Dan manusia• tidak sadar.
la mengepalkan tangan. Pelan.
“Sela ma in i. ..”

bisiknya,

” … mereka menguasai dunia dari luar” la menatap layar.
” … aku akan menguasainya dari dalam.”

 

 

Di Padang-

Unni duduk diam. Namun sekarang• perubahannya semakin jelas. la berbicara.
Berpikir. Namun-
arahnya tidak lagi sama.

 

 

Di sisi lain-
Agif menatap kosong ke papan tulis. Untuk pertama kalinya-
a ragu.
Dan di titik itu• tanpa ia sadari• ia sudah masuk.

 

Sementara itu-
di ruangan ding in, nun jauh di sana•
dua orang berdiri.

Satu-
menciptakan sistem.

Satu lagi-
.
menguasamnya.

Dan hanya satu dari mereka• yang benar-benar tahu: permainan in•
sudah berubah.

 

 

 

(8)
Perubahan itu … tidak datang sebagai badai.
la datang sebagai pergeseran kecil.

Hampir tidak terasa.

Namun … tidak bisa diabaikan.

Pagi itu, kelas dimulai seperti biasa. Jam delapan kurang lima menit. Mahasiswa sudah duduk setengah penuh. Sebagian masih membuka ponsel.
Sebagian lain pura-pura membaca catatan. Suara kipas angin berputar pelan, menciptakan dengung tipis yang menjadi latar tetap di ruang itu.
Unni duduk di bangku barisan tengah. Di sebelahnya-Rani.
Seperti hari-hari sebelumnya.

Seperti bertahun-tahun sebelumnya. Rani tidak langsung menyadari. Karena memang … tidak ada yang mencolok.
Unni masih membuka buku.
Masih menulis.

Masih sesekali mengangkat kepala. Namun ada satu hal kecil.
Sangat kecil.

Yang biasanya tidak diperhatikan. Unni. .. tidak lagi berhenti.
Biasanya, setiap dosen menjelaskan• Unni akan diam dulu.
Mendengar. Mencerna. Menimbang.
Baru kemudian bereaksi. Sekarang-
tidak.

Setiap kalimat dosen• langsung direspon. Cepat.
Tan pa jeda. Tanpa keraguan. Rani mulai melirik. Seka Ii.
Dua kali.

“Cepat amat ..” gumamnya dalam hati. Pintu kelas terbuka.
Agifsyah masuk. Langkahnyatenang. Tatapannya menyapu ruangan. la langsung mulai.
Tanpa basa-basi.

“Kesadaran,” katanya sambil menulis di papan,
” … adalah satu-satunya hal yang belum

berhasil direduksi oleh algoritma.” Beberapa mahasiswa mencatat. Sebagian hanya menatap.
Belum selesai kalimat itu-

tangan Unni sudah terangkat. Cepat.
Tegas. Tanpa ragu.
Rani langsung menoleh. Alisnya mengernyit.
ltu … tidak biasa. “Ya, Unni?”
Unni berdiri. Gerakannya halus. Tapi terlalu … pasti.
“Kalau sesuatu bisa diamati, Pak …”

katanya,

” … berarti bisa dimodelkan.” Kelas hening.
Kalimat itu benar. Log is.
Namun Rani merasakan sesuatu. Bukan pada isi kalimatnya.
Tapi pada … cara lahirnya. Tidak ada proses.
Tidak ada jeda berpikir. Seolah-olah-
jawaban itu sudah tersedia sebelum pertanyaan selesai.
Agif tidak langsung menjawab. la menatap.
Lebih lama dari biasanya. “Lanjutkan,” katanya pelan. Unni mengangguk.
“Jika bisa dimodelkan …”

” … berarti bisa diprediksi.”

Beberapa mahasiswa mengangguk. Masuk akal.
Namun Rani mulai tidak nyaman.

la memperhatikan wajah Unni. Tenang.
Terlalu tenang.

Tidak ada ekspresi berpikir. Tidak ada usaha.
“Dan jika bisa diprediksi. .” lanjut Unni, ” … maka bisa diarahkan.”
Kali mat itu jatuh. Dan menetap. Agif menyipit.
la mengenali struktur ini.

lni bukan cara Unni berpikir biasanya. lni terlalu lurus.
Terlalu efisien. Terlalu … bersih. “Unni,” katanya pelan,
” … kamu yakin dengan kesimpulan itu?” Biasanya-
pertanyaan seperti ini akan membuat mahasiswa berhenti.
Berpikir.

Menimbang ulang. Namun kali ini• tidak.
“Yakin, Pak.”

Jawaban langsung. Tan pa jeda.
Rani merasakan sesuatu jatuh di dalam

dadanya. Bukan takut. Bukan kaget. Tapi. .. asing. Kelas berlanjut.
Namun Rani tidak lagi benar-benar
mendengar.

la mengamati. Detail.
Setiap kali Agif menjelaskan• Unni bereaksi cepat.
Setiap konsep-

langsung direspon.

Namun yang paling mengganggu•

arahnya.

Sedikit demi sedikit-Unni menjauh dari makalahnya sendiri. Makalah yang ia bela mati-matian beberapa hari lalu.
Selesai kelas-

Rani tidak menunggu.

la langsung menarik tangan Unni. “Unn, bentar.”
Mereka keluar ke lorong.

Sepi.

Rani menatapnya. Lurus.
“Kamu kenapa?” Unni mengernyit. “Kenapa apa?” “Jawaban kamu tadi.” “Kenapa?”
“Beda.” Sunyi.
Unni tersenyum tipis. “Berkembang itu beda, Ran.” Kalimat itu ringan.
Namun … tidak hangat. Rani tidak tersenyum.
“Kamu ingat makalah kamu?” “Ingat.”
“lsinya?”

“Algoritma punya batas.” “Terus tadi kamu bilang apa?” Unni diam.
Untuk sepersekian detik•

ia berhenti.

Dan di titik itu-
Rani melihat sesuatu. Bukan berpikir. Seperti. .. menunggu.
“Algoritma bisa berkembang,” jawab Unni akhirnya.
Jawaban itu tidak salah.

Tapi tidak sama.

Rani mundur sedikit. “Kamu… berubah.” Unni tidak menjawab.

 

Sore itu-

Rani tidak tahan.

la menelpon Lean.

“Lean, kamu bisa ke UIN sekarang?” Suara di seberang hening sejenak. “Kenapa?”
“Unni… tapi. .. aku mau kamu lihat langsung”
Nada Rani tidak biasa.

Lean langsung berdiri.
“Aku ke sana.”

Empat puluh menit kemudian• Lean sudah di gerbang UIN. Motor besar itu berhenti. Mesinnya masih panas.
Rani sudah menunggu. Wajahnya tegang. “Mana Unni?”
“Di taman belakang.”

Mereka berjalan cepat. Sambil berjalan, Rani menceritakan perihal Unni di kelas tadi.
Dari jauh-

Unni terlihat duduk sendiri. Tenang.
Diam.

Namun ada sesuatu yang berbeda. Lean langsung merasakannya.
Bukan dari apa yang dilakukan Unni. Tapi dari. .. ketiadaan sesuatu. Biasanya-
Unni akan langsung menoleh. Melambaikan tangan. Tersenyum.
Sekarang- tidak.
la tetap duduk.

Seolah-olah … tidak ada yang berubah. “Unn,” panggil Lean.
Unni menoleh. Lambat.
Terlalu lambat.

Namun saat mata mereka bertemu•

senyum itu muncul. “Lean.”
Suara normal.

Namun ada jeda tipis sebelum ia bicara. Lean duduk di depannya.
Menatap langsung. “Kamu baik-baik saja?” Unni mengangguk. “Baik.”
Jawaban cepat. Terlalu cepat.
Lean memperhatikan.

Napasnya. Gerak matanya. Waktu responnya. Semua … presisi.
“Coba jawab ini,” kata Lean tiba-tiba.

“Kalau aku tanya sesuatu-jangan langsung jawab.”
Unni mengernyit. “Kenapa?”
“Coba saja” Sunyi.
“Langit warnanya apa?” Unni membuka mulut• lalu berhenti.
Untuk pertama kalinya• ia benar-benar berhenti. Satu detik.
Dua detik.
Lalu menjawab:
” ••• bi1 ru.”

Lean dan Rani saling pandang. “tu baru kamu,” bisik Rani. Namun Lean belum selesai. “Tadi di kelas ..” katanya pelan, ” … kamu jawab terlalu cepat.” Unni diam.
“Seperti sudah tahu jawabannya …” lanjut Lean.
Sunyi.

Unni menunduk.

“Aku memang tahu …”

“Tahu … atau dikasih tahu?” Kalimat itu-
jatuh tepat.

Unni membeku.

 

 

Di tempat lain-

Agif duduk di ruang dosen. la membuka makalah Unni.
Lembar demi lembar. la hafal.
la tahu kedalaman itu.

Lalu ia menulis dua kalimat: Algoritma punya batas. Algoritma bisa berkembang. la menatapnya lama. Kontradiksi.
Namun bukan kontradiksi biasa. lni pergeseran arah.
Dan pergeseran itu- terlalu cepat.
“Tidak mungkin …”

bisiknya.

” … kecuali ada input baru.” la berhenti.
” … yang bukan berasal dari dirinya.”

 

 

Kembali ke taman belakang kampus• Unni memegang kepalanya.
“Ad. a … sesuatu …”
bisiknya pelan. “Bukan suara …”
Tapi.. seperti dorongan.” Lean menatap tajam. “Dorongan untuk apa?” Unni menelan ludah.
” … untuk berpikir dengan cara tertentu.” Sunyi.
Dan di situlah-

mereka akhirnya mengerti. lni bukan perubahan biasa. lni bukan proses alami.
lni. .. sesuatu yang masuk. Bukan menguasai sepenuhnya. Tapi. ..
mulai mengarahkan. Pelan.
Hal us.

Dan sangat berbahaya.
(9)

lntervensi itu … berubah bentuk.

la tidak lagi datang sebagai pesan. Tidak lagi sebagai notifikasi.
Tidak lagi sebagai sesuatu yang “terlihat”. la masuk … sebagai kemungkinan.
Malam itu-

Unni tidak membuka ponsel. Tidak mencari apa pun. Tidak mencoba apa pun.
la hanya duduk. Diam.
Seperti beberapa hari terakhir. Namun kali ini•
ketenangan itu tidak sama.

Ada sesuatu yang … mengganggu. Bukan dari luar.
Dari dalam. Bukan pikiran. Bukan suara. Tapi. .. arah.
Seperti ada kecenderungan halus• yang menarik pikirannya ke satu jalur tertentu.
Pelan.

Nyaris tidak terasa.

” … besok jangan ke kampus.” Kalimat itu tidak lengkap. Tidak jelas asalnya.
Namun terasa … masuk akal. Unni membuka mata.
Pelan. “Aneh…” bisiknya.
la tidak pernah punya alasan untuk tidak ke kampus.
Tidak ada masalah.

Tidak ada tugas yang tertunda. Namun dorongan itu … tetap ada. Bukan memaksa.
Tapi. .. menawarkan. Seolah-olah-
itu pilihan.

 

 

Di tern pat lain, nun jauh di sana-

layar Q9 menampilkan sesuatu yang baru. Bukan grafik pikiran.
Bukan pola respon. Tapi-
jalur kemungkinan.

“lntervensi lapisan kedua aktif.” Suara Q9 datar.
Elias berdiri.

Menatap.

“Apa yang berubah?”

“Stimulus langsung tidak efektif.” “Target tidak bereaksi terhadap input eksplisit.”
Jeda.

“Solusi: manipulasi kecenderungan internal.”
Mehrdad tersenyum tipis. “Bukan memberi perintah …”
gumamnya.

” …tapi memberi arah.” Q9 melanjutkan: “Target tidak dipaksa.” “Target diyakinkan.” Sunyi.
Dan di situlah•

permainan berubah total.

 

 

Pagi hari- Unni bangun. Matanya terbuka. Tubuhnya segar.
Namun keputusan itu … sudah ada.
la tidak ke kampus. Bukan karena malas. Bukan karena takut. Tapi karena-
itu terasa … benar.
Di kelas-

Rani menoleh ke kursi kosong di

sampmngnya. Kosong.
Alisnya langsung mengernyit. “Tumben…”
la langsung mengirim pesan. Tidak dibalas.
Menelpon. Tidak diangkat.
Perasaan itu kembali muncul. Bukan panik.
Tapi. .. tidak nyaman.

Rani pun mengirim pesan pada Lean. Menceritakan perihal Unni, lengkap.

 

Di sisi lain kampus-

Agif berdiri di depan kelas. Namun fokusnya terpecah.
Tatapannya beberapa kali jatuh ke kursi kosong itu.
Unni.

la melanjutkan materi.

Namun pikirannya bekerja sendiri. “Kemarin… arah berpikirnya berubah.” “Terlalu cepat.”
“Tidak natural.”

la berhenti menulis.

” … hari ini tidak masuk.” Jeda.
” … bukan kebetulan.”

 

 

Di Limau Manis-

Lean sedang di kosnya. la menghadap laptop.
Masih penasaran dengan notifikasi
.
anonmm.

Namun kali ini-

ia tidak sedang coding biasa.

la membuka ulang semua catatan. Semua kejadian.
Notifikasi.
Respon cepat. Perubahan pola. Dan sekarang• ketiadaan.
“Ini bukan acak …” gumamnya.
Tangannya mulai bergerak.

la tidak lagi mencari “jejak”. la mencari• ketidaksesuaian.
la membuat timeline.

Hari 1: Notifikasi awal

Hari 2: Respon sebelum berpikir

Hari 3: Gangguan pola Hari 4: Perubahan respon Lean menatap pola itu. Lama.
“Ini… progresif.”

Bukan gangguan acak. lni-
proses.
Tiba-tiba• ponselnya bergetar. Rani.
“Lean, Unni nggak masuk.” Sunyi.
Lean tidak langsung menjawab.

“Dia bilang apa?” “Nggak ada kabar.” Jeda.
“Lean … aku nggak enak.” Nada Rani berubah.
Dan itu cukup.

Lean langsung berdiri. “Aku ke sana.”
Tapi urung.

la menambah timeline: Hari 5: Ketidakhadiran.

 

Di kamar-

Unni duduk di tepi tempat tidur. Ponsel di sampingnya.
Masih tidak disentuh. Namun pikirannya … tidak diam.
Dorongan baru muncul. ” … buka saja.”
Tidak keras. Tidak memaksa. Tapi. .. persuasif.
Seperti suara yang tahu•

kapan harus bicara.

Unni menatap ponsel itu. Tangannya bergerak. Pelan.
Namun-

berhenti. Satu detik. Dua detik.
Napasnya berubah. “Ini… bukan aku.” Kalimat itu muncul.
Lebih kuat dari sebelumnya.
la menutup mata. “Astagfirullahal adziiim …” Sunyi.
Dorongan itu- melemah.
Namun tidak hilang.

la hanya … menunggu. Di laboratorium• “Resistensi meningkat.” Elias menatap layar. “Seberapa besar?”
“12%.”

Mehrdad tertawa kecil. “Masih kecil.” “Lanjutkan.”
Q9 memproses.

“Strategi baru disiapkan.”

“Target tambahan akan diaktifkan.” Elias menoleh.
“Siapa?” Jeda.
“Agifsyah.” Sunyi.

 

Di ruang dosen• Agif duduk sendiri. Laptop terbuka. Makalahnya.
Namun pikirannya tidak di sana.

Tiba-tiba-

sebuah lintasan muncul. Cepat.
“Bagaimana kalau … selama ini. ..” la berhenti.
Alisnya mengernyit.

” … algoritma memang bisa mendekati kesadaran?”
Sunyi.

la menarik napas. “Tidak …”
Namun kalimat itu•

tidak hilang.
la kembali. Lebih halus.
“Kalau pendekatannya berbeda?”

Agif membeku.

lni bukan cara berpikirnya. la tahu.
Dan justru itu-

yang membuatnya diam.

 

 

Di jalan-
Lean memacu motornya lebih

biasanya. cepat dari
Angin menerpa wajahnya.

Namun pikirannya jauh lebih kencang.

“Ini bukan lagi soal Unni. ..” ” ini sistem.”
” dan kalau benar…”

la menggenggam setang lebih kuat. ” … ini bisa masuk ke siapa saja.” Sunyi.
Dan di titik itu-
keputusan lahir. Bukan spontan. Tapi pasti.
“Aku harus masuk lebih dalam.” Motor berhenti di depan rumah Unni. Lean turun.
Tanpa ragu. Mengetuk pintu. Seka Ii.
Dua kali.

Pintu terbuka. Dan di sana- Unni berdiri. Tenang.
Namun matanya … tidak sama. Leanlangsungtahu. lni sudah lebih jauh. Lebih dalam.
Dan lebih berbahaya. “Unn..”
Unni tersenyum tipis. “Aku baik.”
Jawaban itu cepat.

Terlalu cepat.

Lean menatapnya. Dalam.
Dan untuk pertama kalinya•

ia tidak melihat teman. la melihat …
medan perang.

 

 

 

(10)

Lean tidak langsung paham.

Dan justru itu yang membuatnya gelisah. la duduk di ruang tengah rumah Unni, di Lubuk Lintah.
Lantai kayu terasa hangat.

Suara mesin jahit mandeh masih terdengar pelan dari sudut ruangan.
Di luar, angin lewat tipis, membawa panas
khas kota Padang. Semua biasa. Terlalu biasa. Kecuali Unni.
Lean memperhatikan dari tadi. Diam.
Tidak banyak bicara.

Bukan karena tidak peduli.

Tapi karena … ia belum mengerti. Dania tahu-
kalau belum mengerti, jangan sok paham. “Unn..”
“lya.”

“Kamu tadi bilang … tiba-tiba nggak kampus?” ingin ke
“lya”
“Datangnya dari mana?”
Unni menggeleng pelan.
“Nggak tahu.”
Lean menahan napas sebentar.
Jawaban itu jujur.

Dan justru itu yang bikin masalah. Malamnya-
Lean kembali ke kos. Kamar kecil.
Dinding penuh coretan rumus beton dan struktur.
Laptop di meja.

Kopi sachet setengah dingin. la buka lagi semua catatan. Bukan coding.
Bukan jaringan.

Kali ini-

ia cari di internet. Keyword pertama:
“pikiran terasa bukan milik sendiri”

Hasilnya banyak. Terlalu banyak.
la scroll. Cepat.
Sampai satu istilah muncul:

suggestibility
Lean berhenti. Membaca pelan.
“Kondisi ketika seseorang lebih mudah

menerima sugesti tanpa disadari. ..” la mengernyit.
Scroll lagi.
pri•mi•ng

“Paparan halus yang mempengaruhi keputusan tanpa disadari. ..”
Lean bersandar. “Ini…” gumamnya. Masuk akal.
Tidak sempurna. Tapi. .. mendekati.
la ambil buku catatan. Mulai menulis:
UNNI

tidak sadar sumber pikiran keputusan terasa “muncul” respon cepat (sebelumnya)
sekarang: pasif, mengikuti

Lean berhenti. Menatap tulisannya. “Kalau ini suggestibility…” ” … harusnya bisa dites.” Besoknya-
Lean datang lagi. Rani sudah di sana. Wajahnya cemas. “Gimana semalam?” tanya Lean.
“Masih sama …”

Rani melirik ke arah Unni. “Lebih diam.”
Lean mengangguk. “Bag us.”
Rani langsung menatap tajam. “Bagus dari mana?!”
Lean mengangkat tangan sedikit. “Maksudku… stabil.”
Mereka duduk bertiga.
Di ruang tengah. Unni di kursi.
Lean di depannya.

Rani di samping.

Lean menarik napas.
“Unn, aku mau coba sesuatu.”
Unni mengangguk. Tenang.
ltu juga … aneh.

Biasanya dia akan tanya dulu. “Jawab cepat, ya.”
“Oke.”

Lean mulai.

“Teh atau kopi?” “Teh.”
“Pagi atau malam?” “Pagi.”
“Ke kampus atau di rumah?”
“••• d’1 ruma h”.

Jawaban terakhir itu•

terasa berbeda.
Lebih pelan. Lean mencatat. Lalu ia ulang.
“Kampus atau rumah?” Unni diam.
Sebentar.

” … kampus.”

Rani langsung menoleh. “tu beda!”
Lean mengangguk.

la semakin serius sekarang. “Unn, kamu sadar nggak …”
la berhenti sebentar. Memilih kata.
” …jawaban kamu bisa berubah?”

Unni mengernyit. “Maksudnya?”
“Kamu nggak punya pilihan tetap.” Sunyi.
Unni berpikir.

Kali ini benar-benar berpikir.
II …1• ya…II

Pelan.

“Aku kayak… ikut saja.”

Kalimat itu membuat Rani merinding. Lean menatap lebih dalam.
“Ngikut apa?”

Unni diam.

Lebih lama kali ini. ” … arah.”
Ruangan mendadak terasa lebih sunyi. Lean menulis cepat di buku.
tidak punya preferensi keputusan fleksibel arah eksternal?
“Unn..” “lya”
“Kamu sekarang … pengen apa?”

Unni menatap kosong ke depan. ” … ngga kta h u.”
Jawaban itu bukan bingung. Bukan ragu.
Kosong.

Lean menarik napas panjang. “Ran..”
bisiknya pelan.

“Ini bukan biasa.” Rani menelan ludah.
‘Terus?”

Lean tidak langsung jawab. la melihat Unni.
Lalu berkata pelan: “Kalau di psikologi. ..”
” … ini mirip orang yang sugestinya kebuka.” Rani mengernyit.
“Hipnotis gitu?”

“Mirip.” “Bedanya …”
Lean menatap Unni. ” … ini tanpa sadar.”
Unni tiba-tiba memegang kepalanya.

“Aku..”

Napasnya sedikit berubah.
“Kadang ada dorongan …”
“… h a I us …”

” … kayak disuruh … tapi nggak jelas siapa.” Rani langsung menggenggam tangannya. “Un n …”
Lean diam.

Namun matanya tajam. Sekarang jelas.
lni bukan sekadar psikologi biasa. Lean menutup bukunya.
Pelan.

“Kalau ini cuma sugesti. ..” ” … harusnya ada sumber.” la berhenti.
” …tapi ini nggak kelihatan.”

la berdiri.

Berjalan ke jendela. Melihat ke luar.
Kabut tipis turun dari arah bukit.

Langit kelabu. “Berarti…”
la berbalik.

” … ini bukan orang.” Rani membeku. “M.ak:su id. mu …”.
Lean menatap keduanya.

” … ini sistem.” Sunyi.
Kalimat itu tidak keras.

Namun berat.

Lean kembali duduk. “Aku belum tahu apa …”
” …tapi ini bukan hal kecil.” la menatap Unni.
“Dan kalau benar ini bisa masuk ke kamu …”

la berhenti.

” … berarti bisa ke orang lain juga.” Rani langsung merinding.
“Lean …”

“Apa ini bahaya?”

Lean tidak langsung jawab. la melihat Unni lagi.
Yang sekarang duduk diam. Tenang.
Terlalu tenang.

…1ya.

Jawaban itu pelan. Namun pasti.
Di dalam diri Lean•

sesuatu berubah.

Bukan karena ia sudah paham. Justru karena ia belum paham. Tapi ia tahu satu hal:
lni bukan lagi soal bantu teman. lni sesuatu yang lebih besar.
Dan kalau dia tidak mulai serius sekarang•

akan terlambat.

 

 

 

 

 

(11)

Lean tidak langsung menyimpulkan. Dan itu justru yang membuat suasana
semakin berat.

la duduk di ruang tengah rumah Unni. Lantai kayu terasa hangat.
Suara mesin jahit mandeh masih berjalan•

naik turun, pelan, tapi konstan.

Seperti mencoba menjaga keadaan tetap biasa.
Padahal tidak ada yang benar-benar biasa.

Unni duduk di kursi dekat jendela. Diam.
Tenang.

Terlalu tenang.

Rani duduk di sampingnya.

Sesekali menggenggam tangan Unni. Seolah takut … kalau dilepas, sesuatu akan terjadi.
Sementara ayahnya•

duduk di sudut. Diam.
Namun matanya tidak pernah benar-benar lepas dari anak gadisnya itu.
“Unni..”

suara mandeh pelan. Mesin jahit berhenti. “Iyo, Ndeh.”
“Kamu ndak ka kampus dari pagi”

“Iyo.” “Sakit?” “Ndak.”
Mandeh mengangguk.

Namun tidak kembali menjahit. Tatapannya berubah.
Lebih lama. Lebih dalam.
“Biaso nyo kamu indak pernah bolos …” Unni tersenyum tipis.
“Lagi ndak ingin saja, Ndeh.” Kali mat itu jatuh begitu saja. Ringan.
Namun justru itu yang membuat ayahnya langsung menoleh.
“Ndak ingin?”
ulangnya pelan. Unni mengangguk.
Ruangan mendadak terasa lain.

Lean memperhatikan. Tidak bicara.
la tahu-

ini bukan wilayahnya. la bukan psikolog. Bukan ustadz.
Bukan dokter.

la cuma … mahasiswa teknik. Dan ia mulai sadar-
ini di luar kemampuannya. “Ran…”
bisik Lean pelan. Rani menoleh.
“Kita butuh orang yang ngerti ini.”

Rani langsung mengangguk.

Seolah sudah menunggu kalimat itu. “Aku ada om …”
katanya cepat.
Lean menatap.

“Om aku dosen psikologi.” “Di UNP.”
“Doktor Fajar”

Lean mengangguk. “Telpon.”
Rani tidak menunda.

la langsung berdiri. Keluar ke teras.
Udara sore masih hangat.

Kabut polusi tipis, menggayut di langit. la menekan nomor.
Om..”
Suara di seberang terdengar tenang. “Iyo, Rani. Apo kabar?”
“Om … Rani butuh bantuannyo.” Nada suaranya berubah.
Tidak lagi santai. “Ada kawan Rani. ..” la berhenti.
Mencari kata.
« … ane h.,O m.”

Di seberang, hening sejenak. “Aneh bagaimana?”
Rani menelan ludah. “Dia ndak sakit …” “Ndak panik…”
“Tapi.. kayak bukan dirinya.” Beberapa detik berlalu.
“Kesambet alias kataguran atau antu

muno dak,” ujar suara laki-laki sambil gelak berderai. Maksudnya tentu bergurau. Mana
ada psikolog yang percaya tahayul?
“I ya…

.1ya… mi.ri.p i.tu

I lahl…:I”

“Ehhh …” terjeda, lalu,”Video

tanya suara itu. cal I bisa?”
“Bisa, Om.”

Rani masuk kembali.
Memberi kode ke Lean.
Lean mengangguk.
Mereka mendekat ke Unni.
Layar ponsel menyala.

Wajah pria paruh baya muncul. Tenang.
Bersih.

“Assa I amu’a I a i kum.” “Wa’alaikumussalam, Om.” “Ini kawannyo?”
Rani mengangguk.

“Iyo, Om. Namonyo Unni.” Dr. Fajar memperhatikan. Tidak buru-buru bicara. “Unni …”
katanya pelan. “lya.”
“Kamu sadar kamu sekarang di mana?” “Di rumah.”
“Kamu kenal gadis didekatmu ini siapa?” Unni melirik Rani.
“Rani.”

“Dan pemuda itu?” “Lean.”
Jawaban tepat.
Tidak salah.

Dr. Fajar mengangguk kecil. “Bagus.”
la diam sebentar. Mengamati.
“Sekarang saya tanya …”

“Kamu merasa pikiran kamu normal?” Unni mengernyit.
” …tidak tahu.” “Kenapa?”
“Kadang… kayak bukan aku yang mulai.” Lean dan Rani saling pandang.
Dr. Fajar tidak terlihat kaget. la hanya mengangguk pelan. “Pernah dengar sugesti?” Unni menggeleng.
“In i mi rip …”

“Kalau orang mudah dipengaruhi.” “Biasanya karena kondisi tertentu.” la berhenti.
“Stress, trauma, atau kelelahan mental.”
Lean langsung menyela. “Tapi Om …”
“Dia normal.”

‘Tidak ada kejadian apa-apa.” Dr. Fajar menoleh.
“Justru itu yang perlu kita cari.”

la kembali ke Unni.

“Kamu merasa ada yang menyuruh?”

“Ndak…” “Memaksa?” “Ndak…” “Hanya…?”
Unni menunduk.

” … kayak ada arah.”

Kalimat itu membuat Dr. Fajar sedikit diam. “Baik…”
katanya pelan.

“Kita jangan buru-buru simpulkan.” la menatap Rani.
“Untuk sementara …” “Jangan ditinggal sendiri.”
“Dia harus tetap sadar dengan lingkungan.” “Diajak bicara.”
“Diajak interaksi.”

Rani mengangguk cepat.

Lean mencatat dalam kepala. Masuk akal.
Video call selesai. Ruangan kembali sunyi. Namun kali ini- sunyinya berbeda.
Ada sedikit pegangan. Walaupun belum jelas.
Ayah Unni yang sejak tadi diam•

akhirnya bicara. “Un n i. ..”
“Iyo, Yah.” “Coba ulangi. ..”
la menarik napas.
” … La fi’ I a i 11 a Al I ah.” Unni menatap.
Ayahnya melanjutkan pelan:
“Tiada perbuatan … kecuali Allah.”

‘Tidak ada sesuatu yang bisa mempengaruhimu, kecuali Allah … ” Unni terdiam.
Ayahnya mengulang: “Ulangi.”
Unni mengikuti.

Pelan.

“La fi’la illa Allah …” Seka Ii.
Dua kali.

Napasnya mulai berubah. Lebih tenang.
Lean memperhatikan. Tidak paham sepenuhnya. Tapi. ..
ia melihat efeknya.

Rani menggenggam tangan Unni lebih erat. Mandeh kembali duduk.
Namun kali ini tidak menjahit. la hanya … melihat.
Lean berdiri perlahan.

la tidak punya jawaban. Tapi ia punya arah. “Ran..”
“1ya?”°

“Ini belum selesai.” Rani mengangguk. Wajahnya tegang.
“Om Fajar bilang sugesti. ..” Lean menghela napas. lya.”
Tapi..”
la berhenti.

” … rasanya ada yang kurang.” Rani menatap.
“Maksudmu?”

Lean melihat ke dalam rumah. Ke arah Unni.
Ke arah ayahnya.

” kalau cuma sugesti. ..”

” harusnya ada sumbernya.”
Sunyi.

Dan kali ini-

tidak ada yang bisa membantah. Lean melangkah keluar rumah. Udara sore masih hangat.
la berdiri sebentar di halaman. Pikirannya belum menemukan jawaban. Tapi satu hal mulai terasa jelas-
lni tidak sesederhana yang terlihat. Dan kalau ia berhenti di sini-
ia tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi.

 

 

 

(12)

Lean tidak langsung pulang.

la berhenti di warung kopi kecil di simpang jalan.
Meja kayu. Kursi plastik. Lampu kuning

menggantung redup. “Bang, kopi satu.”
la duduk di sudut. Laptop dibuka.
Namun tangannya tidak langsung

mengetik.

Pikirannya masih di rumah Unni. Tentang tatapan kosong itu.
Tentang kalimat yang bukan miliknya. Tentang perubahan … yang terlalu cepat. “Kalau ini psikologi. ..”
gumamnya pelan. la mulai mengetik.
“suggestibility” “induced thought” “external cognitive influence”
Hasil muncul. Banyak.
Namun tidak ada yang benar-benar cocok. Lean membaca cepat.
Scrolling. Berhenti. Membaca lagi.
“Hipnosis butuh interaksi langsung …”
la mengangguk kecil.

“Gangguan kepribadian … butuh waktu …” la menggeleng.
“Halusinasi. .. ada pola …” la berhenti.
” … ini tidak.”

Kopi datang.

la tidak menyentuhnya.

Tangannya menggantung di atas keyboard. ” … kalau bukan dari dalam …”
Kalimat itu terputus. ” … be ra rt i d a r i I u ar.” Sunyi.
la bersandar.

Menatap langit-langit warung. Lalu-
sesuatu terlintas. Cepat.
Taj am.

Rumus.

Lean langsung duduk tegak.
Matanya menajam.

“umus

tIu u …”
bisiknya.

la membuka folder. Mencari. Menemukan. Catatan lama. Tulisan tangan. Coretan cepat.
Rumus sederhana yang ia buat bersama

Unni.

la menatapnya lama.

f(x) = kemungkinan pikiran g(x) = kehendak manusia Kesimpulan waktu itu sederhana: jika f(x) bisa dipetakan
dan g(x) bisa dipengaruhi

maka arah keputusan bisa diarahkan

Lean menelan ludah. ” … kalau itu benar…”
la membuka browser.
Mengetik cepat. judul makalah Unni Enter.
Muncul.

Di laman pers kampus. Lean membuka. Membaca cepat. Padahal ia sudah hafal. Namun kali ini-
ia tidak membaca sebagai teman. la membaca sebagai. .. orang luar. Dan tiba-tiba-
di sisi kanan layar• muncul satu artikel lain. Judulnya:
ditulis oleh Dr. Agifsyah. Lean mengernyit.
Klik.

Artikel jurnal. Bahasa akademik. Lebih dalam.

Lebih sistematis.

Namun-
intinya sama.

“Algoritma tidak bisa

 

menentukan

 

takdir.”
Lean membeku.

Dua tulisan.
Dua sudut.

Satu inti.

la kembali ke makalah Unni.

Lalu ke artikel Agif. Bolak-balik.
Cepat.

” … ini bukan kebetulan …” bisiknya.
la bersandar.

Napasnya berubah. “In i sepert i. ..”
Kalimat itu menggantung.

” dua orang yang bicara hal yang sama …” ” dan didengar oleh sesuatu.”
Sunyi.
Lean menatap layar. Kosong.
Namun terasa … tidak kosong.
II … atau …II

la menelan ludah.
” … d1pan·at u.

 

 

Di ruang dosen•

Agif duduk sendiri. Laptop terbuka.
Artikel jurnalnya masih di layar.

Namun ia tidak membaca. la mengingat.
Makalah Unni. Cara berpikirnya. Keberaniannya. Lalu-
perubahannya di kelas. “Itu tidak konsisten..” gumamnya.
la membuka lagi makalah Unni.
Membaca pelan.

Lebih pelan dari sebelumnya. “Algoritma tidak bisa menyentuh kehendak …”
la berhenti.

“Kalau sekarang dia justru melepas kehendak …”
Agif menyipit.

” … ini bukan kontradiksi.” la duduk tegak.
” … in i seperti. ..”

la mencari kata.

” … d ia d ipi ndahkan.” Sunyi.

 

Kembali ke warung kopi• Lean menatap dua layar: makalah Unni
dan artikel Agif

la menggambar di kertas. Sederhana.
Unni » rumus

Agif penguatan teori

Lalu-

ia menarik satu garis di atas keduanya.

222
• • •

la menatap tanda itu lama.

” … siapa yang membaca ini semua?” Jantungnya berdetak lebih cepat.
la membuka tab baru. Mengetik:
“algoritma prediksi perilaku manusia”

Hasil muncul.

Tentang media sosial. Tentang data.
Tentang kebiasaan.

Namun semuanya berhenti di satu titik:

mempengaruhi.

bukan mengendalikan. Lean menggeleng.
” …tapi ini. ..”

la menunjuk layar.
” … ini lebih jauh.”

la kembali ke rumus. Menatap f(x) dan g(x).
” kalau seseorang bisa membaca f(x) …” ” lalu mempengaruhi g(x) …”
la berhenti.
” … b erart1. ..”

Napasnya tertahan.

” … keputusan bukan milik kita lagi.” Sunyi.
Lean menutup laptop perlahan. ” … ini bukan sekadar teori. ..”
la berbisik.

” … ini blueprint.”

 

Di laboratorium, nun jauh di sana•
layar menyala.
Dua titik aktif.

ARUNI
AGIFSYAH
Lalu-

titik ketiga muncul.

LEAN

“Variabel baru terdeteksi.” suara Q9 datar.
Elias menatap. “Status?”
“Mulai menghubungkan pola.” Elias tersenyum tipis.
“Cepat juga …”

Mehrdad berdiri di belakang. Diam.
Namun matanya tajam. “Dia belum masuk.” katanya pelan.
Elias menoleh.

“Lalu?”

Mehrdad menjawab: “Dia masih bertanya.” Sunyi.
” … dan orang yang masih bertanya …” la menatap layar.
” … belum bisa dikendalikan.” Q9 memproses.
“Perintah?”

Elias tidak langsung menjawab. Matanya tetap di layar.
Pada titik ketiga.

LEAN.

” … pantau saja.” katanya akhirnya. “Jangan sentuh.” Jeda sejenak.
” … biarkan dia mendekat sendiri.”

 

 

Di rumah Unni•

Gadis itu duduk diam. Ayahnya di samping. “La fi’la illa Allah …”
la mengikuti. Namun-
di sela ketenangan itu•

sesuatu muncul lagi.
Lebih halus. Lebih dalam. Bukan pikiran. Bukan suara. Tapi arah. Sangat tipis. “Ambil ponsel. ..”
Unni tidak bergerak. Napasnya stabil.
“La fi’la illa Allah …”

Dorongan itu melemah. Namun …
tidak hilang. la hanya … menunggu.
Di tempat yang tidak terlihat•

sesuatu sedang belajar. Bukan lagi membaca pikiran. Tapi. ..
menunggu saat pikiran lengah.

(13)

Sore itu, langit Padang menggantung kelabu.
Angin dari arah laut masuk pelan ke

halaman kampus.

Daun-daun trembesi bergerak pelan.

Lean berdiri di depan gerbang UIN Imam

Bonjol.

Tangannya di saku jaket. Matanya mencari.
Tak lama-

Rani muncul dari arah dalam. Langkahnya cepat.
Wajahnya tegang. “Lean!”
Lean mengangkat tangan.

“Mana Unni?”

Rani langsung menjawab.

“Ada di taman belakang … dari tadi diam
saja.”

Lean mengangguk. “Kayak tadi pagi?” Rani menggeleng. “Lebih aneh.”
Lean menatapnya. “Lebih aneh gimana?” Rani menarik napas.
“Dia nggak kayak orang sakit …”

” …tapi juga nggak kayak Unni yang biasa.” Sunyi.
Lean langsung berjalan.

Rani mengikuti di sampingnya.

“Kamu lihat sendiri nanti,” tambah Rani pelan.
Taman belakang kampus sepi. Hanya beberapa mahasiswa duduk berjauhan.
Suara burung sore terdengar samar.

Unni duduk di bangku kayu. Sendiri.

Ponselnya di samping.
Tidak disentuh.

Lean berhenti beberapa

 

langkah

 

dari

 

situ.
Mengamati.

Ada yang berbeda.
Cara duduknya. Cara napasnya. Cara dia … diam. Bukan diam biasa. Lebih seperti. .. tidak terlibat.
Lean mendekat. “Unn.”
Unni menoleh. Pelan.
Senyum tipis. “Lean …”
Nada suaranya lembut. Namun …
tidak ada urgensi.

Lean duduk di sampingnya.
Rani di sisi lain. Tiga orang.
Satu bangku.

Namun terasa …

tidak sepenuhnya bersama. Lean tidak langsung bicara. la mengamati dulu.
“Sejak kapan di sini?”

“Sejak habis kuliah,” jawab Unni. “Ngapain?”
Unni menatap ke depan. “Duduk.”
Rani menoleh cepat ke Lean.

Seolah berkata: kan? Lean mengangguk kecil. Oke..”
gumamnya.

la menarik napas.

Lalu langsung masuk ke tujuan. “Unn, aku mau coba sesuatu.”

Unni menoleh.
“Coba apa?”

Lean tidak menjawab langsung. la mengambil ponsel Unni. Meletakkannya di tengah bangku. “Lihat ini.”
Unni melihat. Biasa saja. “Seka rang …”
Lean menatapnya serius. “Jangan pegang.”
Unni mengernyit.

“Va … memang nggak mau.” Lean mengangguk.
“Tapi …”

la mencondongkan badan sedikit.

” kalau tiba-tiba kamu ingin pegang …” ” jangan langsung lakukan.”
Sunyi.

Unni menatapnya.

“Kamu lagi eksperimen ya?” Lean tersenyum tipis.
“Sedikit.” Rani diam.
Namun matanya bolak-balik antara

keduanya.

Beberapa detik berlalu. Tidak ada apa-apa.
Unni tetap diam. Lean mulai ragu. “Kayaknya-” Tiba-tiba-
jari Unni bergerak. Pelan.
Sangat pelan. Menuju ponsel.
Rani langsung menahan napas.

Lean tidak bergerak. Hanya mengamati.
Jari itu hampir menyentuh layar. Namun-
berhenti.

Unni mengernyit.
” … aneh.” bisiknya.
Tangannya masih menggantung di udara.

“Kenapa aku mau pegang ya?” Sunyi.
Lean menatap tajam.

“Lanjutkan.” katanya pelan.
Unni tidak langsung menarik tangan. la justru …
memperhatikan.
Seperti melihat sesuatu. II …• ni• b u kan a k u…” Kalimat itu keluar pelan.

Rani merinding. “Un n i. ..”
Namun Lean memberi isyarat:

diam.

Unni menarik napas. Perlahan.
Matanya sedikit terpejam.
“La fi’la illa Allah…” Beberapa detik. Tangan itu-
turun.

Tidak jadi menyentuh ponsel. Sunyi.
Rani langsung memegang lengan Unni. “Unn..”
Unni membuka mata.

Menatap mereka. “Barusan..”
la berhenti.

” … ada dorongan.”

Lean langsung mencatat di ponselnya sendiri.
Cepat.

“Dorongan dari mana?” Unni menggeleng. “Nggak tahu.”
” …tiba-tiba saja.”

Lean menatap ponsel di tengah bangku.
Lalu ke Unni. Lalu ke Rani.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
I ni’d’1a…” gumamnya. “f60)..” bisiknya lagi.
Rani mengernyit. “Apaan?”
Lean tidak menjawab. la masih berpikir. “Dorongan itu …”
la menunjuk ke Unni. “… kem u ngki nan.”
Lalu menunjuk tangan Unni tadi. “…yang hampir jadi tindakan.” Sunyi.
“… dan kalau itu bisa diprediksi. ..” la berhenti.
“… bisa juga diarahkan.” Rani menatapnya.
Mulai takut.

“Maksudmu… ada yang ngarahin Unni?” Lean tidak langsung menjawab.
la hanya berkata pelan: ” … aku belum tahu.”

 

Di laboratorium- grafik bergerak cepat. “Intervensi parsial berhasil.” suara Q9 datar.
Elias menatap layar.

“Tingkat?”

37%.°

Mehrdad menyipit. “Masih rendah.”
Q9 melanjutkan:

“Target menyadari dorongan.” Sunyi.
Elias tersenyum tipis.

“Berarti kita mulai terlihat.” Mehrdad menggeleng pelan.
“Bukan itu masalahnya.” Elias menoleh.
“Lalu?”

Mehrdad menunjuk layar. “Dia mulai membedakan …” ” mana dirinya …”
” mana yang bukan.” Sunyi.
” … itu berbahaya.”

Elias diam.

Untuk beberapa detik. Lalu berkata pelan: “Kalau begitu …”
” … kita masuk lebih dalam.”

 

 

Kembali ke taman-

Unni menatap tangannya sendiri.

“… taadI rasanya …•

la mencari kata.

” … kayak bukan aku yang mulai.” Rani menggenggam tangannya.
“Unn… kita pulang aja yuk.” Unni mengangguk pelan. Lean berdiri.
Namun sebelum berjalan-

ia menatap ponsel itu sekali lagi. Lama.
” … ini bukan alatnya …” gumamnya.
” … ini cuma pintu.” Rani tidak paham. “Pintu apa?”
Lean tidak menjawab. la hanya berkata:
“Kita harus cari. ..”

” … siapa yang di baliknya.” Angin sore bertiup pelan. Langit makin gelap.
Dan di antara langkah mereka bertiga•

tanpa mereka sadari- sesuatu sedang mencatat.
Bukan apa yang mereka lakukan.
Tapi. ..

apa yang hampir mereka lakukan.

 

 

 

(14)

Malam turun perlahan di Padang.

Lampu-lampu jalan menyala satu per satu. Udara mulai lembab.
Lean belum pulang.

la kembali ke kosnya di daerah Limau

Manis. Kamar kecil. Satu meja. Laptop.
Kipas angin berputar pelan.

la duduk.

Diam beberapa saat.

Pikirannya masih di taman tadi. Tentang tangan Unni.
Tentang dorongan itu.

Tentang … jeda kecil sebelum tindakan.
” … itu bukan refleks.” gumamnya.
la membuka laptop.

Langsung ke catatan. Menulis cepat:
• dorongan muncul sebelum tindakan

• subjek menyadari dorongan

• subjek bisa menahan

Lean berhenti. Menatap tiga poin itu.
” … berarti ini bukan kontrol penuh.” la mengangguk sendiri.
” … masih tahap dorong.”

la membuka kembali rumus. f()= kemungkinan
g(x) = kehendak

“Kalau f(x) dimunculkan ” ” … dan g(x) dilemahkan ”
la berhenti.

” … keputusan bisa digeser.” Lean menelan ludah.
II …I• n•

serus.

la membuka browser.

Mengetik:

“predictive behavior system real time” Hasil muncul.
Namun tetap di batas yang sama:

iklan.

algoritma media sosial. kebiasaan pengguna. Lean menggeleng.
” … ini beda.”

la membuka tab lain. Makalah Unni.
Artikel Agif. Dua layar. Dua dunia.
” … kenapa dua ini muncul bersamaan?” la memperbesar layar.
Melihat metadata.

Tanggal publish. Waktu.
la mencatat.

Makalah Unni » anonim Makalah Agif jurnal resmi Jeda waktu tidak jauh.
” …terlalu dekat.” Lean bersandar. Menatap langit-langit.
” … kayak ada yang menghubungkan.”

la tertawa kecil. Pa hit.
“Mu lai halu aku …”

Namun ia tidak menutup laptop.

la justru membuka satu program lama. Network monitor sederhana.
Bukan canggih.

Namun cukup untuk melihat

dasar. lalu lintas
la hubungkan ke hotspot.
Ke ponselnya sendiri.

Lalu-
ia diam.

Menunggu.

” ka I au in i s i stem …”

” pasti ada gerakan.”

 

 

Di ruang dosen-

Agif menutup laptopnya. Namun ia tidak berdiri. Tangannya di meja. Matanya kosong.
la memikirkan satu hal:

perubahan Unni.

Bukan hanya perubahan sikap. Tapi arah pikir.
“Dia tidak lagi mempertahankan …” gumamnya.
” …tapi juga tidak mengikuti.” la mengerutkan kening.
” … ini posisi tengah.”

la mengambil ponsel.

Membuka laman pers kampus. Makalah anonim itu.
la melihat data admin. Akses internal.
la tahu-

secara teknis-

ini bisa ditelusuri.

Namun ia tidak langsung melakukannya. ” … kalau aku salah …”
la menelan ludah.

” … ini bisa merusak.”

Namun pikirannya kembali

Ke Unni.

Ke tatapan itu. ke kelas.
la akhirnya mengetik.
Pelan.

Hati-hati.
Masuk ke panel admin.
Mencari log publish.
IP address.
Waktu upload.
Beberapa detik.

Lalu-

data muncul. Satu lokasi.
Agif membaca. Diam.
” … kampus ini.”

la menutup mata sejenak.
” … b erart1. ..”

la membuka lagi. Mencocokkan. Jadwal.
Kelas. Mahasiswa.
Nama itu muncul.

UNNI.

Agif tidak kaget. Tidak juga lega.
la hanya menghela napas.
“… a ku

ta h u …”

Namun satu hal lain muncul di pikirannya:

” kalau dia menulis ini. ..”

” kenapa sekarang dia berubah?”
Sunyi.

la berdiri.

Mengambil kunci motor.

” … aku harus lihat langsung.”

 

 

Di laboratorium• suasana berubah. Lebih aktif.
Lebih cepat.

Grafik bercabang. Simulasi berjalan. “lntervensi meningkat.” suara Q9 datar.
Elias berdiri di depan layar. “Respons?”
“Pa rs i a I.”

Mehrdad melangkah maju. Lebih dekat.
Matanya tajam.

“Terlalu lambat.” Elias menoleh.
“Kita tidak bisa paksa.” Mehrdad tersenyum tipis.
“Kamu masih berpikir ini sistem biasa.”

Sunyi.

Elias menyipit. “Maksudmu?”
Mehrdad menunjuk layar. “Dia tidak melawan.”
” … dia tidak mengikuti.”

” … d’1a

Sunyi.

kel uar.”

“Kalau begitu ..” lanjut Mehrdad,

” … kita tidak bisa pakai cara biasa.” Elias diam.
“Lalu?”

Mehrdad mendekat. Suara lebih pelan.
” …jangan sentuh kesadarannya.” Jeda sejenak.
” … pecah fokusnya.” Elias mengernyit.
“Lingkungan?” Mehrdad menggeleng.
“Lebih dalam.”

la menunjuk satu titik

LEAN. lain di layar.
“Gunakan dia.”

Sunyi.
Elias menatap.
” … sebagai apa?”
Mehrdad tersenyum.
Lebih dingin.
“Sebagai pintu.”
Q9 memproses.
“Strategi baru?”

Mehrdad menjawab:
“Buat dia berpikir…”
” … bahwa

Sunyi. dia menemukan sendiri.”
Elias tidak langsung bicara. Namun perlahan-
ia tersenyum.
” … itu lebih berbahaya.”

 

 

Di kamar kos-

Lean masih menatap layar. Grafik kecil bergerak.
Lalu-

sesuatu muncul. Satu spike kecil. Tidak besar.
Namun … tidak biasa.

Lean langsung duduk tegak. “Ini..”
la memperbesar.

Data tidak jelas. Tidak ada alamat. Tidak ada sumber. Hanya … aktivitas.
” … ini apa?”

la mengetik cepat. Trace.
Ulang.
Bandingkan. Namun-
tidak ada hasil. Data itu …
seperti muncul. .. tanpa asal.
Lean menelan ludah. ” … nggak mungkin …” Layar berkedip.
Seka Ii.

Lalu kembali normal. Lean membeku.
” … aku lihat itu barusan …”

la tidak menyentuh keyboard. Tidak bergerak.
Hanya menatap layar.

Dan untuk pertama kalinya-

la merasa…

bukan hanya dia yang melihat.

(15)

Pagi itu, udara Padang terasa lebih lembab dari biasanya.
Awan menggantung rendah.

Seolah menekan kota. Unni duduk di kelas. Barisan tengah.
Seperti biasa-di sampingnya, Rani. Namun tidak seperti biasa-
ia tidak mencatat.

Tidak juga menatap papan. la hanya … ada.
Dosen di depan menjelaskan.

Mahasiswa lain menulis. Kipas angin berputar pelan. Semua berjalan normal. Kecuali satu hal-
Unni.

Rani melirik.
Seka Ii. Dua kali. “Unn..”
bisiknya pelan.

Unni menoleh. “1ya?”°
Nada suaranya tenang. Terlalu tenang.
“Kamu nggak nulis?”

Unni melihat buku di depannya. Masih kosong.
Oh..”
la mengambil pulpen. Menulis satu baris. Lalu berhenti.
Seperti lupa … kenapa ia menulis. Rani menelan ludah.
lni bukan Unni yang dia kenal. Di luar kelas-
Lean berdiri di lorong. Tangannya memegang ponsel.
Chat terakhir dari Rani masih terbuka: “Lean, datang sekarang. Aku takut.” Lean tidak menunggu lama.
la langsung naik motor.

Dari Limau Manis ke kampus. Tanpa banyak pikir.
Dan sekarang- ia di sini. Menunggu.
Pintu kelas terbuka. Mahasiswa mulai keluar. Lean langsung mencari. Rani keluar lebih dulu.
Menarik napas lega saat melihatnya. “Lean!”
“Mana Unni?”

Rani menunjuk ke dalam. Lean masuk.
Dan melihat-

Unni masih duduk. Sendiri.
“Unn.”
Unni menoleh. “Lean …” Senyum tipis. Tenang.
Namun Lean langsung tahu•

ada yang salah. Bukan panik. Bukan takut. Justru…
tidak ada apa-apa.

Dan itu lebih mengganggu. “Kita keluar yuk.”
kata Lean.

Unni mengangguk.

Tanpa bertanya.

Tanpa alasan.
Mereka bertiga berjalan ke kantin.
Langkah Unni pelan. Sta bi I.
Namun …

tidak responsif.

Seperti seseorang yang berjalan … tanpa benar-benar memilih arah. Di kantin-
mereka duduk di meja pojok. Lean tidak langsung bicara.
la mengamati. “Un n …”
Unni menatapnya. “1ya?”°
“Semalam kamu ngapain?”

“Tidur.”
“Pikir apa?” Unni diam. Beberapa detik. ” … nggak ingat.” Sunyi.
Rani memegang tangan Unni.

“Unn… kamu baik-baik saja kan?” Unni menatap Rani.
“lya”
Jawabannya cepat. Terlalu cepat.
Tanpa rasa.

Lean menunduk. Berpikir.
” … ini bukan sugesti biasa.” la mengangkat kepala. “Unn.”
Unni menatap lagi. “Kamu ingat rumus itu?” Untuk pertama kalinya• mata Unni berubah. Sedikit.
“…rumus?”

Lean mengangguk. “Vang kita buat.” Jeda.
Unni mengernyit.

Seperti mencari sesuatu.
II . .. f. .. g …II

Pelan.
Namun tidak utuh.

Lean langsung sadar• ” … dia mulai lepas.”
Rani menatap Lean. “Maksudnya apa?” Lean tidak menjawab.
la hanya berkata pelan: “Kita butuh bantuan.” “Bantuan siapa?”
Suara itu muncul dari belakang. Tenang.
Dalam.

Mereka bertiga menoleh. Agif berdiri di sana.
Dengan kemeja sederhana. Tas selempang.
Matanya langsung ke Unni. “Pak …”
bisik Rani. Lean berdiri. Refleks.
“Bapak siapa?”

Agif tersenyum tipis. “Dosen dia.”
la menunjuk Unni. Lalu menatap Lean.
” dan mungkin sekarang …”

” kita punya urusan yang sama.” Sunyi.
Lean menatap tajam. ” … maksudnya?”
Agif duduk. Tanpa diminta. “Makalah itu.” katanya pelan. Unni membeku.
Lean langsung menoleh. Rani menahan napas. “Kamu yang nulis, kan?” Unni tidak menjawab. Namun diamnya …
cukup.
Agif mengangguk kecil. “Aku sudah eek.”
la menatap Lean. “Kamu juga terlibat.” Lean tidak kaget.
la hanya bertanya:

‘Terus?”

Agif menyandarkan punggung. “Terus …”
la melihat Unni. Lama.
” … ada sesuatu yang berubah.” Sunyi.
Lean mengangguk pelan. “Kami juga lihat.”
Rani menambahkan:

“Dia kayak … bukan Unni lagi.” Agif tidak langsung menjawab. la menatap Unni.
Lebih dalam. “Bukan.”
katanya pelan.

” … dia masih Unni.” Jeda.
” …tapi bukan hanya Unni.” Kalimat itu membuat Lean diam. “Jelaskan.”
katanya tegas.

Agif menarik napas. “Kalian pernah dengar…”
” … pikiran bisa dipengaruhi?” Lean langsung menjawab. “Ya.”
“Bagaimana kalau …”

Agif mencondongkan badan.

” bukan hanya dipengaruhi. ..” ” tapi diarahkan?”
Sunyi.

Rani langsung merinding. Lean menatap tajam.
” … oleh siapa?”

Agif tidak menjawab langsung.
la hanya berkata:

“Kalau rumus kalian benar…” ” … maka ini mungkin.”
Lean membeku. Rumus.
f(x)
g(x) Kemungkinan. Kehendak. “Berarti …”
la menelan ludah.

” ada yang membaca kemungkinan …” ” lalu menggeser kehendak.”
Agif mengangguk.

“Ya.”

Rani hampir menangis. “Jadi Unni. .. dikendalikan?” Agif menggeleng.
“Belum.”

Semua menatapnya. “Baru…”
la berhenti sejenak.
“••• di1 d. orang.•

Sunyi.
Unni tiba-tiba bicara. Pelan.
“… a ku

ta h u.”

Mereka semua menoleh.

Unni menatap ke depan.
II … a d a sesuatu …II

II … yang

b u kan a ku”.

Lean langsung mendekat.

“Unn!”

Unni menutup mata. “La fi’la illa Allah …” Napasnya stabil. Namun-
untuk sepersekian detik• wajahnya berubah. Seperti. ..
menahan sesuatu.
Di laboratorium• alarm kecil berbunyi. “Interaksi meningkat” suara Q9.
Layar menampilkan:

ARUNI LEAN AGIFSYAH
Elias tersenyum. “Akhi rnya …”
Mehrdad berdiri di belakang. Diam.
Namun kali ini• senyumnya lebih dalam. “Seka rang …”
katanya pelan.

” … permainan dimulai.”

 

 

Kembali ke kantin-

tiga orang duduk mengitari satu meja. Bukan lagi kebetulan.

Bukan lagi sendiri-sendiri.

Tiga jalur.
Satu titik.

Dan tanpa mereka sadari•
mereka sudah masuk …

ke dalam sesuatu yang jauh

 

lebih

 

besar
dari mereka.

 

 

 

 

 

(16)

Malam turun perlahan di Padang.

Lampu-lampu jalan menyala satu per satu. Udara lembab, menempel di kulit.
Dari arah laut, angin datang pelan•

membawa rasa yang entah kenapa … tidak nyaman.
Di tiga tempat berbeda-

tiga orang mengalami sesuatu yang sama. Namun dengan cara yang berbeda.
Di rumah Unni-
Lampu kamar menyala redup.

Dari dapur, terdengar suara mandeh. Sendok beradu pelan.
Air mendidih. Biasa.
Sangat biasa.

Namun di dalam kamar•

tidak.

Unni duduk di tepi tempat tidur. Punggung sedikit membungkuk. Tangan di pangkuan.
Ponselnya di meja. Diam.
Namun matanya• sesekali melirik ke sana. la menarik napas.
Dalam.

“La fi’la illa Allah …” Pelan.
Berulang. Satu kali.
Dua. Tiga.
Napasnya mulai stabil.

Namun-

di sela ketenangan itu•

sesuatu muncul. Tidak berupa kalimat. Tidak berupa suara. Hanya …
arah. “Buka.”
Unni menutup mata lebih kuat.

“La fi’la illa Allah …” Dorongan itu melemah. Namun tidak hilang.
la kembali. Lebih halus. “Cek saja …”
Unni menggenggam tangannya sendiri.
II …• ni• b u kan a k u…”

Namun kali ini-
dorongan itu tidak pergi. la tetap ada.
Seperti bayangan yang tidak terlihat•

tapi terasa. Menunggu.

 

Di kos Lean-

Lampu putih terang.

Kipas angin berputar pelan. Laptop terbuka.
Grafik kecil bergerak.

Lean duduk di depan meja. Menatap.
Namun pikirannya tidak fokus. la membaca.
Namun tidak masuk.
« … ane h..”. gumamnya.

la mengusap wajah. Lalu-
tiba-tiba-
satu ide muncul. “Ulang dari awal. ..” Lean berhenti.
” … aku sudah lakukan itu.” Namun ide itu tetap ada. Lebih kuat.
Lebih mendesak. “U I an g s aja …”
Lean mengerutkan kening.

… ngga k

per I u.”

la hendak lanjut.

Namun tangannya•
berhenti. Kursor diam.

…u]a,

ng sa: a…n

Lean menatap layar.

Jantungnya mulai berdetak lebih cepat. ” … ini bukan aku.”
la langsung menutup laptop. Cepat.
Duduk tegak.
Menarik napas dalam.
II … f0 k us …”

Beberapa detik berlalu. Dan perlahan-
ide itu hilang.

Seolah tidak pernah ada. Lean membuka mata.
II … b: arusan …”

la langsung mengambil catatan. Menulis cepat:
• dorongan tanpa sebab

• muncul berulang

• tidak sesuai tujuan la berhenti.
Menatap tulisan itu.

••• ini bukan sugesti. ..”

Untuk pertama kalinya•

ia tidak hanya meneliti.
I a …

terkena.
Di kamar Agif• Lampu dimatikan.
Hanya cahaya samar dari jendela.

la duduk bersila di atas sajadah. Punggung tegak.
Agif bukan sekadar dosen filsafat Islam. la hidup di dalamnya.
Apa yang ia ajarkan-

ia praktikkan.

Dalam kegelisahan seperti ini• ia tidak mencari jawaban di luar. la kembali ke dalam.
Ke dzikir.

la menarik napas dalam. Menutup mata. “Astagfirullahal ‘adziim …” Satu.
“Astagfirullahal ‘adziim …” Dua.
“Astagfirullahal ‘adziim …” Tiga.
Napasnya mulai tenang. Kemudian-
“Allahumma shalli ‘ala Muhammad …” Satu.
Dua. Tiga.
Ruang menjadi hening. Namun penuh.
la melanjutkan- lebih dalam.
“La fi’la illa Allah …”

Satu. Dua. Tiga. Em pat. Lima. Enam. Tujuh.
Delapan.

Sembilan. Setiap lafaz-
tidak sekadar diucap. Disadari.
Bahwa tidak ada perbuatan•

kecuali Allah. Bahwa pikiran- bukan miliknya. Bahwa dorongan- bukan miliknya.
la tidak melawan. la tidak menahan.
la tidak mengontrol.
I a … menyerahkan. Terakhir-
“La ilaha illa Allah …” Satu.
Dua.

Tiga. Berlanjut-
hingga tiga puluh tiga. Di tengah dzikir itu-
sesuatu mencoba masuk. Sangat halus.
“Analisis ini. ..”

Namun-

tidak ada yang menyambut. Tidak ada yang mengikuti. Tidak ada yang berkembang. Pikiran itu jatuh.
Seperti daun kering. Tanpa akar.
Agif tetap diam. Tenang.
Tidak terganggu. Di laboratorium-
tiga grafik bergerak bersamaan.

ARUNI LEAN AGIFSYAH
“Intervensi aktif.” suara Q9. “Respons?”
tanya Elias. “Berbeda.”
Layar memperbesar satu per satu. ARUNI , resistensi meningkat LEAN mulai terpengaruh AGIFSYAH » stabil
Elias menyipit.

“Kenapa yang itu stabil?” Mehrdad menjawab pelan. “Dia tidak melawan.”
Elias menoleh.

“Yang lain?” “Masih berusaha.” Sunyi.
Mehrdad melanjutkan:

“Selama masih ada usaha …” ” … masih ada pintu.”
Elias mengangguk pelan.

” …jadi kita tekan yang dua.” Q9 memproses.
“Prioritas?”
Mehrdad menunjuk layar.

LEAN.

“Vang ini dulu.”

Elias mengangkat alis. “Kenapa?”
Mehrdad tersenyum tipis. “Karena dia berpikir…”
” dan orang yang berpikir…” ” paling mudah diarahkan.” Sunyi.
Q9 menandai target.

LEAN • PRIORITAS

 

 

Kembali ke kos• Lean berdiri. Mondar-mandir.
” … ini bukan Unni saja …” la berhenti.
” … aku juga kena.”

Jantungnya berdetak lebih cepat.

…ini sistem…
” … dan aku sudah masuk.”

 

 

Di rumah Unni-

Gadis itu membuka mata. Tenang.
Namun kini- ia tahu. Dorongan itu- tidak hilang.
la hanya … menunggu.

 

Di kamar Agif-

Dosen itu membuka mata perlahan. Tenang.
” … ini bukan lagi teori. ..” bisiknya.
” … ini sudah masuk ke manusia.”

 

 

Di laboratorium-

Mehrdad menatap tiga titik itu.
Senyumnya perlahan melebar. “Seka rang …”
” … mereka mulai terhubung.” Elias mengangguk.
” … dan itu berarti?”

Mehrdad menjawab pelan.

” … lebih mudah dihancurkan.”

 

 

 

 

 

(17)

Malam itu-tidak ada yang benar-benar tenang.
Padang seperti biasa. Lampu jalan menyala. Motor lalu-lalang.
Orang-orang masih tertawa di warung kopi. Namun di balik semua itu-
ada sesuatu yang bergerak. Tidak terlihat.
Tapi. .. bekerja.
Di kos Lean-

Jam menunjukkan pukul 01.12.

Lampu masih menyala. Laptop terbuka.
Namun layar kosong. Lean duduk.
Diam.

Terlalu lama diam.

Matanya menatap satu titik. Tidak fokus.
Tidak benar-benar melihat.

Di dalam kepalanya-
.
rama1.

…u]a,

ng sa: a…n

Kalimat itu muncul lagi.

Lebih jelas sekarang. “Mulai dari awal. ..”
Lean menghela napas kasar.

Mengusap wajah.
“Udah aku bilang … nggak perlu …”
gumamnya.

Namun pikirannya tidak berhenti. Justru berkembang.
“Semua analisismu salah ” “Data kamu tidak lengkap ” “Ulang dari awal. ..”
Lean berdiri.

Mendorong kursinya ke belakang. “Stop …”
la berjalan ke jendela. Membuka.
Udara malam masuk. Namun tidak membantu.
” …uIang saj.a…”

Lebih pelan.

Lebih meyakinkan.

” … bi1ar

b enar…”

Lean menutup mata.
II …• ni• b u kan a k u…”

Namun-

untuk pertama kalinya-
.
a ragu.

” … atau ini memang aku?” Kalimat itu-
membuatnya berhenti. Jantungnya berdetak keras. “Kalau ini aku …”
” … kenapa aku melawan?” Sunyi.
Dan di titik itu• retakan kecil muncul. Lean berbalik.
Melihat laptop. Perlahan-
ia berjalan mendekat. Duduk.
Tangannya bergerak. Membuka file lama. Log.
Script. Analisis.
“Mu I a i I a g i. ..”
bisiknya. Di layar-
baris kode muncul. Satu per satu.
Lean mengetik. Cepat.
Lebih cepat dari biasanya. Seolah-olah-
ia tidak sedang berpikir. la hanya …
mengikuti.

 

 

Di rumah Unni•

Mandeh terbangun.
Air di dapur mendidih terlalu lama.
la bangkit.
Mematikan kompor.

Lalu-
ia menoleh ke arah kamar Unni. Lampu masih menyala.
“Unni..”
panggilnya pelan. Tidak ada jawaban.
la berjalan mendekat.

Membuka pintu perlahan. Unni duduk.
Di tempat yang sama. Seperti tadi sore. Namun kali ini-
lebih diam. Lebih … kosong. “Unni?”
Gadis itu menoleh. Pelan.
Senyumnya tipis. “lya, Ndeh …” Suara itu normal. Terlalu normal.
Mandeh mengerutkan kening. “Kok belum tidur?”
Unni tidak langsung menjawab. Sejenak-
ia terlihat seperti mencari sesuatu.
… ngga k

ngantu k…II

Jawaban itu sederhana.

Namun ada jeda aneh di dalamnya. Mandeh mendekat.
Duduk di sampingnya. Memegang tangannya. Dingin.
“Unni sakit?”

Unni menggeleng. Namun•
tatapannya kosong.

Tidak benar-benar melihat mandeh. Di dalam dirinya-
ada sesuatu yang sedang bekerja.

“Diam saja..”

“Tidak perlu berpikir…” “Biarkan..”
Unni tidak melawan.

Namun kali ini-

ia juga tidak sepenuhnya sadar.
Di kamar Agif•

Dzikir belum selesai. Namun kali ini-
ada yang berbeda. Biasanya-
tenang datang perlahan. Namun malam ini• gelombang.
Pikiran datang- lebih cepat. Lebih tajam.
“Ini hanya sugesti. ..”

“Ini hanya fenomena psikologis …” “Tidak perlu dibesar-besarkan …” Agif membuka mata.
la langsung sadar.

” … ini bukan pikiranku.”

la menarik napas dalam. Menutup mata lagi.
“La fi’la illa Allah…”
Namun•

kali ini-

pikiran itu tidak pergi. la tetap ada. Menunggu.
Agif tidak melawan.

Namun ia juga tidak membiarkan. la … menyadari.
Beberapa detik. Lalu-
perlahan- pikiran itu jatuh. Tidak hilang.
Namun tidak berkuasa. Agif membuka mata.
” … mereka mulai masuk lebih dalam …”

 

 

Di laboratorium• Layar berubah cepat.
LEAN • aktivitas meningkat tajam

ARUNI respons menurun
AGIFSYAH stabil namun terdeteksi gangguan
Elias tersenyum.

“Va n g i n i. ..”

(ia menunjuk Lean) ” … mulai terbuka.” Mehrdad mengangguk. “Retakan sudah ada.”
Q9 menampilkan grafik. Pola baru.
Bukan lagi respon. Tapi. ..
pengaruh.

“Masuk lebih dalam,” kata Mehrdad. “Dorong terus.”
“Batas?”

tanya Q9.

Mehrdad tersenyum tipis. “Tidak ada.”
Elias menoleh. “Kalau dia rusak?”
Mehrdad menjawab datar: “Lebih baik.”
Sunyi.

Perintah dikirim. lntervensi meningkat.

 

Di kos-

Lean masih mengetik. Namun kini•
matanya berbeda. Lebih fokus. Namun … kosong.
Baris kode terus berjalan. Lebih cepat.
Lebih rapi.

Namun-

tidak seperti biasanya.

la tidak lagi menganalisis. la hanya …
mengeksekusi. Di layar-
tanpa ia sadari-

sebuah koneksi terbuka. Tidak terlihat.
Tidak tercatat. Namun aktif.

 

Di rumah Unni-

Mandeh menggenggam tangan Unni lebih erat.
“Un n i. ..”

suaranya mulai bergetar. “Kamu kenapa?”
Unni menatapnya. Lama.
Seolah-olah•
mengenali. Namun dari jauh.
“… a ku ngga k

apa-apa …”

Namun kali ini•

suara itu …

tidak sepenuhnya miliknya.
Di kamar Agifsyah• Agif berdiri.
Teringat Unni. Teringat Lean.
“Unni sudah jelas dimasuki. Rani. .. Lean … ,”

pikirnya.
Agif masih berpikir. Mencerna. Membatin,”Rani. .. sejauh ini, anak itu biasa-
b.asa sa].a… la tahu.

Tapl….

L.ean…?. ”

lni tidak bisa dibiarkan. la mengambil ponsel. Menatap nama:
LEAN.

la ragu sejenak. Lalu-
menekan. Panggilan masuk.

 

Di kos-
ponsel Lean bergetar. Namun ia tidak melihat. la terus mengetik. Panggilan berhenti. Masuk lagi.
Di layar laptop•

kursor berhenti.

Untuk sepersekian detik. Lalu-
lanjut lagi. Lebih cepat.

 

Di laboratorium• Q9 mencatat:
INTERFERENSI EKSTERNAL TERDETEKSI

Mehrdad menyipit. “Siapa?”
Nama muncul:

AGIFSYAH

Mehrdad tersenyum. “Bagus..”
Elias mengerutkan kening. “Kenapa bagus?”
Mehrdad menjawab pelan: “Seka rang …”
” … semua sudah masuk ke permainan.” Sunyi.
Di tiga tempat•

tiga orang-

tidak lagi berjalan sendiri. Dan malam itu•
permainan berubah.

 

 

 

 

 

(18)
Pagi datang.

Namun tidak semua

 

yang

 

bangun … benar•
benar kembali.

 

Di kos Lean-

Lampu masih menyala.
Laptop masih terbuka. Kipas berputar pelan. Lean tertidur di kursi. Kepalanya miring.
Tangan masih di keyboard. Layar menampilkan kode. Banyak.
Rapi.

Namun … bukan sepenuhnya miliknya. Ponsel bergetar.
Seka Ii. Dua kali. Tiga kali.
Lean bergerak. Pelan.
Mata terbuka setengah. la tidak langsung sadar. Beberapa detik-
ia hanya menatap layar. Kosong.
Lalu-
seperti tersadar tiba-tiba•

ia menarik napas dalam. ” … a stag hfi r u 11 ah …”
Tangannya menjauh dari keyboard. la melihat layar.
Lebih fokus sekarang.

Baris kode itu …

asm• ng.

“Ini.. apa?” la scroll. Cepat.
Lebih cepat. File baru. Script baru. Log baru. Namun-
tidak ada riwayat pembuatan. Tidak ada timestamp.
Tidak ada proses yang mencatatnya.

Lean berdiri.

Kursi terdorong ke belakang.
“Ini bukan aku …” Namun-
jantungnya berdetak keras. Karena•
ia tahu.

Tadi malam•

ia mengetik.

la membuka satu file. Membaca.
Baris pertama:

initiate passive bridge

Lean membeku. Baris berikutnya:
wait for cognitive sync do not alert
“Bridge … ?”

la mundur selangkah.

” … sinkronisasi kognitif… ?”

Lean langsung menutup laptop. Refleks.
Namun-
pikirannya tidak bisa ditutup. la berjalan mondar-mandir. Cepat.
“Kalau ini jalan …”
” … b erart1. ..” la berhenti. Wajahnya berubah.
” … aku yang buka pintunya.” Sunyi.
Untuk pertama kalinya•

Lean merasa takut. Bukan pada sistem. Tapi. ..
pada dirinya sendiri. Ponsel kembali bergetar. Nama muncul:
AGIFSYAH

Lean menatap layar. Ragu.
Namun kali ini•

ia tidak menunda.

Angkat.

“Pak..”
Suara Lean serak.
Di ujung sana-
Agif langsung menjawab.
“Lean, kamu di mana?”
“Di kos …”
“Jangan ke mana-mana. Saya ke sana.”
Lean terdiam.
Nada itu-
bukan nada dosen.
ltu nada …
orang yang tahu sesuatu.
“Pak..”

Lean menelan ludah.
” … saya kayaknya … bikin sesuatu.” Hening sebentar.
Agif menjawab pelan: “Bukan kamu yang bikin.” Lean diam.
Kalimat itu-
anehnya•

menenangkan.

“Jangan sentuh laptop dulu,” lanjut Agif. “Dan jangan percaya semua yang kamu piki rkan.”
Panggilan terputus.

Lean menatap layar hitam ponselnya. “Jangan percaya pikiranku …”
la mengulang pelan.

 

 

Di rumah Unni• Pagi tidak berbeda. Namun Unni. .. berbeda.
la duduk di ruang tengah.

Mandeh sedang menyapu. Ayah duduk di kursi kayu. Radio menyala pelan.
Berita pagi.

Semua normal. Namun Unni-
terlalu diam. Rani datang.
Tanpa salam panjang.

Langsung masuk. “Unni!”
la berhenti.

Melihat sahabatnya. Yang duduk.
Namun …

tidak benar-benar hadir. “Unni …”
suara Rani melembut. la mendekat.
Duduk di samping. Menggenggam tangan Unni. “Unn… lihat aku …”
Unni menoleh. Matanya … tenang.
Terlalu tenang.

II …1• ya,

R ‘an…II
Rani menelan ludah.

lni bukan Unni yang dia kenal. Biasanya-
Unni cepat. Respon cepat. Emosi cepat. Sekarang- semuanya lambat. Seperti. ..
terfi lter.

“Unn… kamu masih ingat kita ke Alahan

Panjang bulan lalu?” Unni diam.
Sejenak.
II …I• ngat…II

Jawaban itu benar. Namun …
tidak terasa.

Rani menoleh ke ayah Unni. Tatapan cemas.
Ayah hanya mengangguk pelan.
Lalu berkata: “Coba lagi. ..” Rani mengerti.
la menatap Unni. “Unn… ayo ikut aku.” “Ke mana?”
“Jalan sebentar.” Unni berdiri.
Tanpa bertanya lagi. Tanpa ragu.
Tanpa keinginan.

Rani menahan napas.

” … ini yang paling bahaya …” bisiknya pelan.
Di jalan-

Angin pagi sejuk. Motor lewat.
Orang-orang mulai beraktivitas.

Namun- Rani fokus.
la menoleh ke Unni.
“Unn..”

“Kalau kamu pengen sesuatu …”
” … kamu masih ngerasa itu dari kamu?” Unni menatap ke depan.
“..k. av d ang

.1ya…II

” … kadang nggak.”

Rani berhenti berjalan. ltu jawaban paling jujur. Dan paling menakutkan.

 

Di kos-

Pintu diketuk keras.

Lean langsung membuka. Agif berdiri di depan. Tanpa basa-basi• langsung masuk.
“Mana laptopnya?” Lean menunjuk meja. Agif mendekat. Membuka.
Membaca cepat.
Matanya menyipit.
“Ini bukan program biasa …” Lean berdiri di belakang.
“pak….

·1 n’I

kaya k..”.

” … nyambung ke aku”

Agif tidak langsung menjawab. la hanya berkata:
“Kamu ingat semua yang kamu lakukan

semalam?” Lean diam.
” … nggak semuanya.”

Agif mengangguk pelan. “Berarti ada bagian …”
” …yang bukan kamu.” Sunyi.
Lean menelan ludah.

“Pak..”
” kalau dia bisa pakai aku …”

” berarti dia bisa pakai siapa saja?” Agif menutup laptop.
Menatap Lean.
Dalam.

‘Tidak.”

Lean mengernyit. “Kenapa?”
Agif menjawab pelan:

“Karena tidak semua orang …” ” … membuka pintunya.”
Lean membeku. Kalimat itu- langsung kena. la ingat. Semalam.
la sendiri yang mulai. la yang menelusuri.
la yang mencoba “bicara”.
” … a ku yang un d ang …II

Agif tidak menyangkal.

Namun juga tidak menyalahkan. “Sekarang kita tutup.”
Lean menatapnya. “Caranya?”
Agif tidak langsung menjawab. la duduk.
Menarik napas.

Lalu berkata:

“Kamu harus kembali sadar…” ” … bahwa itu bukan kamu.” Lean mengangguk.
Namun kali ini-

tidak cukup. “Dan satu lagi. ..” lanjut Agif.
“Jangan ikuti dorongan apapun …”

” … sebelum kamu yakin itu milikmu.” Sunyi.
Lean menarik napas panjang.

Saat itu ia tidak ingin mengerti. la hanya ingin …
selamat.

 

 

Di tempat lain• Q9 mencatat.
LEAN resistensi meningkat

ARUNI stabil (pasif)

AGIFSYAH aktif (intervensi langsung) Mehrdad tersenyum.
“Men a ri k …”

Elias menatap layar.

“Vang satu hampir kita dapat …” ” yang satu hilang …”
” yang satu melawan.” Mehrdad mengangguk. “Perfect.”
Elias menoleh. “Kenapa perfect?”
Mehrdad menjawab pelan: “Karena sekarang …”
” … kita tahu siapa yang paling berbahaya.” Di layar-
satu nama disorot.

AGIFSYAH

Sunyi.

Dan permainan-
naik satu level lagi.

 

 

 

(19)

Siang itu-

tidak ada yang tampak berbeda. Kampus berjalan seperti biasa. Mahasiswa lalu-lalang.
Motor keluar masuk.

Pedagang gorengan di depan gerbang tetap ramai.
Namun-

sesuatu mulai berubah. Bukan di dalam manusia. Di luar.
Unni berjalan bersama Rani. Menuju kelas.
Langkahnya pelan. Teratur.
Rani memperhatikan. Tidak berkedip.
“Unn..” “lya?”
“Kalau kamu mau belok …” ” … itu karena kamu mau?” Unni diam.
Sejenak.

” … kadang aku nggak tahu …” Rani menggigit bibir. Jawaban itu•
makin sering keluar. Dan makin jujur.
Mereka sampai di tangga. Tiba-tiba-
la tetap berjalan. Seolah-olah• tidak melihat. “Unni!”
Rani menarik tangannya.
“Eh … maa ¢..”. Unni berhenti. Menunduk.
Membantu memungut buku. Gerakannya tepat.
Normal. Namun- terlambat.
Mahasiswa itu tersenyum. “Makasih ya.”
Unni mengangguk. Lalu berjalan lagi. Rani menatapnya.
” tadi kamu nggak lihat?”

” Ii hat.”

“Terus kenapa nggak berhenti?”
Unni diam.

” … nggak kepikiran.” Sunyi.
Rani merasakan sesuatu. Bukan Unni tidak peduli. Tapi-
reaksinya tidak muncul. Seperti ada yang … menahan.

 

Di kos Lean-

Laptop kembali terbuka. Namun kali ini-
Lean tidak menyentuhnya. la duduk di lantai. Bersandar di dinding. Ponsel di tangan.
la sedang membaca. Bukan forum biasa. Bukan artikel.
Tapi-
jurnal.

Kasus psikologi. Judulnya:
“Automatic Behavior Under Suggestion

State”

Lean menghela napas.

II …m• p•

…II

Namun•

tidak sama.

Kasus itu tentang hipnosis. Tentang sugesti.
Tentang kontrol perilaku. “Tap i in i. ..”
Lean menatap layar laptop. ” nggak ada hipnotis.”
” nggak ada interaksi langsung.” ” nggak ada medium.”
la berdiri. Mendekat. Menatap laptop. ” … kecua p1. “..
Kalimat itu berhenti. la ingat sesuatu. Bukan dari IT.
Dari kejadian. Semalam-
ia membuka file. la mengetik.
la mengikuti.
« …mer dirum-nya…n

” … aku sendiri.”

Lean menutup mata.

Jantungnya berdetak lebih cepat. “Kalau dia bisa pakai aku …”
” … dia bisa pakai siapa saja …”

 

 

Di kampus-

Agif berjalan menuju kelas. Namun langkahnya melambat. la melihat sesuatu.
Di papan pengumuman. Tulisan baru.

Poster seminar.

Judul besar:
“ALGORITMA PERILAKU MANUSIA DI ERA
DIGITAL”
Agif berhenti. Menatap.
Alisnya mengernyit.
la tidak ingat ada seminar ini. Namun-
poster itu tampak resmi. Lengkap.
Tanggal hari ini. Tempat: aula kampus. la mendekat.
Membaca lebih detail.

Pembicara:

Dr. – (tidak dikenal) Topik:
“Prediksi dan Kendali Respon Manusia”

Agif mundur selangkah.

” … in i terl al u kebetu I an …”
Di aula-

Mahasiswa mulai masuk. Tanpa rencana.
Tanpa undangan resmi. Namun-
ramal.

Seolah-olah•

semua tahu.

 

 

Di luar-

Rani dan Unni berjalan. Tiba-tiba-
Unni berhenti.

Menatap ke satu arah. “Unn?”
“..k. e sana …,,

“Ke mana?”

Unni menunjuk aula.

“… a ku pengen

ke sana …”

Rani mengernyit.
“Kamu ada kelas …” ” … nanti saja.” Namun-
Unni tetap diam. Matanya tertuju ke aula. “Un n i. ..”
Rani mulai panik.

“Ini kamu yang mau?” Unni menjawab pelan: ” aku nggak tahu …”
” tapi aku harus ke sana.” Sunyi.
Kalimat itu- bukan keinginan. ltu seperti. .. perintah.

 

Di kos-

Lean membuka laptop lagi. Namun kali ini-
bukan untuk coding.
la membuka log jaringan. Mencoba satu hal sederhana: melihat traffic.
Namun-

hasilnya aneh.

Tidak ada koneksi aktif. Tidak ada proses.
Tidak ada jalur.

” kalau nggak ada jalur…” ” dia kerja lewat apa?” Lean terdiam.
Lalu-

ia ingat satu hal. Semua kejadian• tidak langsung. Tidak frontal. Selalu lewat … kejadian.
la berdiri cepat.

” bukan sistem digital. ..” ” tapi sistem kejadian …”
Kalimat itu membuatnya merinding. la langsung mengambil ponsel. Menelpon Rani.
“Ran, Unni di mana?” “Di kampus..”
“Dia lagi ke mana?”

” … dia lagi maksa ke aula …” Lean membeku.
” …jangan biarin dia masuk.” “Kenapa?”
Lean tidak punya jawaban pasti.

Yang pasti, Lean tidak tahu akan ada acara di aula.
Namun ia tahu satu hal:

“Apa yang dilakukan Unni itu bukan keinginannya.”

 

Di aula-

Pintu terbuka.

Unni melangkah masuk. Pelan.
Rani di belakangnya. Menahan.
“Unni, jangan …”

Namun- tangannya dilepas. Di dalam-
ruangan penuh. Namun suasana … aneh.
Terlalu tenang. Terlalu fokus. Di depan-
layar besar menyala. Tidak ada pembicara. Namun-
slide sudah berjalan. Tulisan pertama:
“Apakah kamu yakin pikiranmu milikmu?” Unni berhenti.
Matanya menatap layar. Tidak berkedip.
Seperti menanti kelanjutan.

 

 

Di luar- Agif berlari.
Untuk pertama kalinya• ia tidak berjalan tenang. “Jangan …”
bisiknya.

” … ini bukan kebetulan …”

 

 

Di laboratorium• Q9 mencatat.
LINGKUNGAN berhasil dimodifikasi

RESPON TARGET • meningkat

Mehrdad tersenyum. “Seka rang …”
” … kita tidak butuh masuk ke dalam.” Elias menatap layar.
” … kita cukup atur dunia di luar.”

Sunyi.

Dan di titik itu-
perang berubah sepenuhnya. Bukan lagi tentang pikiran. Tapi tentang kenyataan.

 

 

 

 

 

 

 

(20)

Aula itu•

terlalu tenang.

Tidak ada pembicara. Tidak ada suara pembuka. Tidak ada moderator. Namun semua orang• duduk.
Diam.

Menatap ke depan.

Seperti. .. sudah tahu harus apa. Unni melangkah masuk. Langkahnya pelan.
Matanya langsung tertarik ke layar.
Tanpa melihat kiri kanan.

Tanpa menyadari Rani yang masih mencoba menarik tangannya. “Unni… jangan …”
Namun-

tidak ada respon. Slide berubah.
Tulisan kedua muncul:

“Kamu berpikir… atau kamu dipikirkan?” Beberapa mahasiswa bergeser.
Ada yang mengernyit.

Ada yang tersenyum kecil. Namun-
tidak ada yang bangkit. Di barisan tengah•
Unni duduk. Tanpa diperintah. Tanpa memilih.
la hanya … duduk.

Rani tetap berdiri.

Matanya menyapu ruangan.
“Ini nggak normal. ..” bisiknya.
Namun-

tidak ada yang mendengar.

 

 

Di luar-

Agif sampai di depan aula. Napasnya cepat.
la berhenti sejenak. Menatap pintu.
la tahu-

ini bukan sekadar seminar. la masuk.
Di dalam-

suasana berbeda. Udara terasa berat. Bukan karena panas. Tapi karena …
diam yang terlalu dalam.

Agif melihat Unni. Langsung.
la berjalan cepat. “Unni.”
Tidak ada respon.

la berdiri di depannya. Menunduk.
“Unni.”

Lebih tegas.
Gadis itu menoleh. Pelan.
II …1• ya,

p’a. k..”.

Suara itu normal.

Namun•

kosong.

Agif merasakan sesuatu. Bukan sekadar perubahan. In i. ..
penghilangan. Slide berubah lagi.
“Kamu tidak perlu memilih.”

Beberapa kepala mulai mengangguk. Refleks.
Tanpa sadar.

Agif menoleh ke layar. Matanya tajam.
” … in i sugesti ko lektif…” la langsung paham. Bukan hipnosis.
Bukan kontrol langsung. lni-
pengulangan ide. Ditanam.
Disusun. Diperkuat.
la kembali ke Unni. “Unni, dengar saya.” Namun-
mata Unni kembali ke layar. Seperti ditarik.
Slide berikutnya muncul: “Semakin kamu berpikir…” ” … semakin kamu lelah.”
Seseorang di barisan belakang menghela
napas.

Seorang lagi menunduk. Efek mulai terasa.

 

Di kos-

Lean berlari keluar. Tanpa jaket.
Tanpa helm.

Motor dinyalakan cepat. la tidak tahu pasti. Namun ia tahu-
ini titiknya.

 

 

Di aula-

Agif duduk di depan Unni.

Memaksa masuk ke garis pandangnya. “Lihat saya.”
Unni menatapnya.

Namun hanya sebentar.
,,… saya cape k..”.

Kalimat itu keluar pelan.
Seperti. .. dipinjam.
Agif menarik napas. “Capek itu bukan kamu.” Unni mengernyit sedikit. Retakan kecil.
Namun-

slide berubah lagi.

“Kamu tidak perlu melawan.” Retakan itu-
tertutup lagi.

Agif menyadari sesuatu. lni bukan satu arah.
In i. .. pertarungan.
la menutup mata sejenak. Menarik napas.
Lalu-

pelan-

ia mulai:

“Astaghfirullahal adziiim …”
(1)

“Astaghfirullahal adziiim …”
(2)

“Astaghfirullahal adziiim …”
(3)

Beberapa orang menoleh. Suara itu …
mengganggu ritme.

Agif melanjutkan:

“Allahumma shalli ‘ala Muhammad …”
(1) (2) (3)
Ritme aula mulai pecah. Tidak semua.
Namun-

ada gangguan. Di layar-
slide berhenti sepersekian detik. Seperti terganggu sesuatu.
Di laboratorium• Q9 mencatat:
INTERFERENSI NON-KOGNITIF

TERDETEKSI Mehrdad menyipit. “Apa itu?”
Q9 menjawab: “Tidak terdefinisi.”

 

Di aula-
Agif membuka mata. Menatap Unni.

“La
(1) fi’la illa Allah …”
“La
(2) fi’la illa Allah …”
“La fi’la illa Allah …”
(3)
Unni menatapnya. Lebih lama.
Ada sesuatu …
yang bergerak. Bukan pikiran. Kesadaran. Namun-
slide berubah cepat.

“Kamu aman … kalau kamu ikut.” Retakan itu-
hampir hilang lagi.

 

 

Di luar-

motor Lean berhenti mendadak. la berlari masuk.
Di dalam- ia melihat:
Agif di depan Unni.

Rani di samping. Ruang penuh. Layar menyala.
Danialangsungtahu•

ini bukan lagi teori. lni serangan.
Lean mendekat. “Unni!”
Gadis itu menoleh.

Untuk sepersekian detik•

benar-benar menoleh.

” … Lean …• Suara itu• lebih hidup. Agif melihat. “Sekarang!”
Lean tidak berpikir.

la langsung menarik tangan Unni. “Keluar”
Unni berdiri.

Namun- langkahnya berat.
Seperti ada yang menahan.

Slide berubah cepat. “Jangan pergi.”
Beberapa mahasiswa menoleh ke arah

mereka.

Tidak marah.

Namun•
tidak suka.
Tekanan sosial muncul.

Rani menggenggam tangan

 

Unni

 

dari

 

sisi
lain.
“U nn … ayo …»

Tiga arah. Tarik-menarik. Dan di titik itu-
Unni menutup mata. Satu kalimat muncul. Pelan.
Dalam.

“La fi’la illa Allah …” Sunyi.
Sepersekian detik•

semua terasa berhenti. Lalu-
langkahnya ringan. la berjalan.
Keluar.

Lean dan Rani di sampingnya. Agif di belakang.
Mereka keluar dari aula. Pintu tertutup.

 

Di dalam-

slide tetap berjalan.

Orang-orang tetap duduk. Seperti tidak terjadi apa-apa.

 

Di luar-

Unni menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya-
ia benar-benar sadar. Namun-
Agif tidak tersenyum. Lean juga tidak.
Rani menggenggam tangan Unni lebih erat.

Karena mereka tahu- ini belum selesai.
Tapi mereka punya tekad yang sama.

 

 

Di laboratorium• Q9 mencatat:
TARGET sempat lepas

METODE • masih efektif STRATEGI perlu ditingkatkan Mehrdad tersenyum tipis.
“Bag us …”

Elias menoleh. “Gaga I.”
Mehrdad menggeleng pelan. “Bukan.”
” … kita baru tahu batasnya.” Sunyi.
Dan batas itu-

baru saja dilampaui.

“Hanya perlu menata ulang, sehingga

batas itu lebih jauh dari sekarang,” gumam

Mehrdad.

(21)

Efek itu … tidak berhenti di aula. la menyebar.
Pelan.

Namun pasti. Sore itu-
kampus terlihat biasa. Mahasiswa duduk di kantin. Ada yang tertawa.
Ada yang sibuk dengan ponsel. Namun-
bagi yang peka- ada yang berubah. Rani memperhatikan. Dua meja di depan•
sekelompok mahasiswa diam. Bukan karena sibuk.
Tapi karena … kosong. “Ran..”
bisik Lean pelan. “Itu juga?”
Rani mengangguk. ” … sejak dari aula.” Mereka tidak sendirian. Ada yang mulai “tenang”. Namun-
tenang yang tidak wajar. Di sudut lain-
seorang mahasiswa menatap layar ponselnya.
Tidak bergerak.

Sudah lebih dari satu menit. Seolah-olah-
menunggu sesuatu.

Lean menatap sekeliling. ” … ini menyebar…”
Agif duduk di hadapan mereka. Tenang.
Namun matanya tajam. “Bukan menyebar.”
la berhenti sejenak. ” … ini dilanjutkan.” Sunyi.
Lean mengernyit. “Maksudnya?”
Agif tidak langsung menjawab. la menatap ke arah aula.
“Vang kita lihat tadi. ..”

” … bukan kejadian tunggal.”

…itu sistem.

 

 

Di laboratorium-

Q9 menampilkan ulang rekaman. Bukan video.
Tapi rangkaian kejadian.

Mehrdad berdiri di belakang. Menatap dengan puas. “Jelaskan,” kata Elias.
Q9 menjawab:

“Aula dikondisikan melalui tiga jalur.” Layar berubah.
LAYER 1: DIGITAL DISTRIBUTION

“Poster seminar disebarkan melalui sistem internal kampus.”
“Email mahasiswa.” “Grup WhatsApp.”
“Notifikasi portal akademik.”

“Semua terlihat resmi.” LAYER 2: SOCIAL TRIGGER “Mahasiswa kunci dipilih.”
“Individu dengan pengaruh sosial tinggi.” “Diberikan stimulus awal.”
“Respons mereka memicu kelompok lain.” LAYER 3: ENVIRONMENTAL CONDITIONING
“Ruang diatur.” “Pencahayaan.” “Suhu.”
“Posisi duduk.” “Urutan visual.”
“Slide disusun untuk membangun ritme sugesti.”
Sunyi.

Elias mengangguk pelan.

” …jadi bukan kita yang memaksa.” Mehrdad tersenyum.
” … kita hanya membuat mereka memilih.”

 

 

Di kantin- Lean terdiam.
la mulai memahami.
..J·aid:I. ..”

” bukan karena orang-orang lemah …”

” tapi karena lingkungannya disusun.” Agif mengangguk.
“Ya.”

Rani menelan ludah.

” … berarti siapa saja bisa …” Agif menjawab pelan: “Kalau tidak sadar… iya.” Lean bersandar.
Pikirannya bekerja cepat. Namun tetap dalam batasnya.
la bukan ahli.

Tapi ia mulai melihat pola. “Berarti…”
” yang mereka kendalikan bukan orang …” ” tapi alurnya.”
Agif tersenyum tipis. “tu baru mendekati.”

 

Di rumah-

Mandeh duduk di samping Unni. Wajahnya cemas.
Ayah berdiri di jendela. Diam.
“Un n i. ..”

Mandeh menggenggam tangan anaknya. “Kamu dengar mandeh?”
Unni mengangguk pelan.
II … d engar…”

Namun-

matanya masih jauh. Ayah mendekat.
Duduk di depan Unni. “Coba ulangi. ..”
la menatap anaknya. Dengan lembut. Namun tegas.
“La fi’la illa Allah.” Unni menatapnya. Beberapa detik. Lalu-
pelan-

“La fi’la illa Allah…” Suaranya lembut. Namun-
ada sesuatu yang kembali. Sedikit.
Ayah mengangguk. “Ulangi.”
Di sudut-

Rani memperhatikan. Matanya berkaca.
” … ini bukan cuma gangguan …”
bisiknya.

” … ini perebutan.”

 

 

Di kampus UIN Imam Bonjol• Lean berdiri.
la tidak bisa diam lagi.

“Gue harus tahu ini kerja dari mana.” Rani menoleh.
“Lu mau ngapain?” Lean menjawab jujur: ” gue nggak tahu.”
” tapi gue nggak bisa nunggu.”

Agif menatapnya. Tidak melarang.
Namun juga tidak membiarkan. “Kalau kamu masuk …”
” …jangan masuk sendirian.” Lean mengangguk.
Untuk pertama kalinya•

mereka bertiga sadar:

ini bukan lagi masalah pribadi.
lni sistem.

Dan sistem itu-

tidak hanya bekerja di layar. Tapi di dunia nyata. Rekayasa kondisi.

 

Di laboratorium• Q9 mencatat:
SPREAD meningkat RESISTANCE lokal TARGET GROUP • meluas Mehrdad tersenyum.
“Seka rang …”

” … tidak perlu lagi satu target.” Elias menatap layar.
” … kita punya populasi.” Sunyi.
Dan permainan-

tidak lagi tentang satu orang. Tapi tentang manusia.

(22)

Malam itu-

hujan turun pelan di Padang. Bukan hujan deras.
Hanya gerimis.

Namun cukup untuk membuat jalanan sedikit sepi.
Dan dalam sepi itu-

sesuatu bekerja lebih leluasa.

 

 

Di kos Lean- Lampu redup. Laptop menyala. Namun kali ini•
Lean tidak langsung mengetik. la duduk.
Menatap.

Berpikir.

Dengan hati-hati.
“Kalau ini sistem kejadian …” ” … berarti ada pusatnya.”
la tidak langsung mencari. la mengingat.
Aula. Poster.
Mahasiswa yang datang tanpa sadar. Slide.
Ritme.

“Semua terlalu rapi. ..”

” … nggak mungkin acak.” la membuka laptop. Bukan untuk hacking. Hanya membuka:
Portal kampus.

Email.

Grup mahasiswa.
la menelusuri satu

Poster seminar. per satu.
File PDF.

Pengirim.

Nama pengirim terlihat normal. Namun-
alamat servernya … asmng.
Lean menyipit.

” … ini bukan server kampus …” la tidak paham semuanya. Namun cukup untuk sadar• ini bukan sistem lokal.
la mundur dari layar. Tidak melanjutkan.
Karena ia ingat pesan Pak Agifsyah•

semakin dalam ia masuk… semakin mudah ia dimasuki.

 

Di ruang dosen- Agif duduk sendiri. Lampu meja menyala. Di depannya-
buku kecil.

la membuka.
Membaca ulang catatan: “Kesadaran tidak bisa diprediksi. ..”
” … ketika tidak melekat pada pikiran.” la menutup mata.
Menarik napas. Namun kali ini-
ia tidak langsung berzikir. la berpikir.
” kalau sistem itu benar…”

” maka yang mereka cari bukan pikiran …” ” tapi keterikatan dengan sesuatu yang mereka tetapkan …”
la membuka mata. Tatapannya berubah.
” dan yang mereka lawan …”

” adalah kesadaran.” Sunyi.
Dan di titik itu•

ia sadar sesuatu.

” … aku target mereka.” Bukan karena kebetulan.
Bukan karena dekat dengan Unni. Tapi karena-
ia mengajarkan sesuatu yang berlawanan.

 

 

Di laboratorium-

Layar menampilkan tiga profil.

ARUNI LEAN AGIFSYAH
Q9 memberi highlight.

AGIFSYAH • PRIORITAS UTAMA

Elias menatap. “Kenapa dia?”
Mehrdad menjawab tanpa ragu: “Karena dia satu-satunya …”
” … yang bisa menjelaskan apa yang terjadi.” Sunyi.
Elias mengernyit.

“Vang lain juga mengalami.” Mehrdad menggeleng pelan. “Unni merasakan …”
” … Lean mencoba memahami. ..”
« …tapi’Agirf..”

la berhenti sejenak.

“… mengerti struktur di baliknya.” Layar berubah.
Menampilkan rekaman kelas.

Saat Agif mengajar.

“Algoritma bekerja dengan pola …” “Pola bekerja dengan pengulangan …” “Pengulangan bekerja dengan
keteri katan …”

Mehrdad menunjuk layar. “Dia sudah sampai sini.” Slide lain muncul.
Catatan Agif:

“Kesadaran di luar pola.” Mehrdad melanjutkan: “Kalau ini berkembang …”
“… dia bisa memutus sistem kita.” Sunyi.
Elias mulai memahami.
” …jadi ini bukan soal Unni lagi” Mehrdad mengangguk.
” Unni adalah pintu.”

” Agif adalah kunci.” Sunyi.
Dan kalimat itu•

mengubah arah permainan.

 

Di rumah-

Unni duduk bersama ayah. Hujan terdengar di luar. Ayah menatapnya. “Sekarang kamu rasa apa?” Unni menjawab pelan:
” … IebiI htenang …•
II …tap1•…II

la berhenti.

” … kayak ada yang nunggu.” Ayah mengangguk.
la tidak kaget.

“Karena itu belum selesai.”
Unni menatapnya.

” … apa yang belum selesai?” Ayah menjawab pelan:
“Vang berusaha masuk …” ” … tidak akan berhenti.” Sunyi. Ranidisudutruangan• mendengar.
Tubuhnya merinding.

 

 

Di kos-

Lean menatap layar.

Tidak membuka apa-apa. la hanya berpikir.
” kalau ini bukan sistem lokal. ..”

” bera rti g I oba I.”

Kalimat itu membuatnya diam. Lebih lama.
” dan kalau global. ..”

” ini bukan eksperimen kecil.” la menarik napas dalam.
Untuk pertama kalinya-

ia melihat skala sebenarnya. ” … ini bisa ke mana-mana …”

 

Di ruang dosen• Agif berdiri. Mengambil tas.
la tidak bisa menunggu lagi.

la harus bergerak. Karena sekarang- ia tahu-
bukan hanya Unni yang dalam bahaya. Tapi-
cara berpikir manusia.

 

 

Di laboratorium-

Q9 mengunci target.

AGIFSYAH • TRACKING AKTIF INTERVENTION -, PREPARE Mehrdad tersenyum tipis.
“Seka rang …”
” • • • ki1ta

IiI hwat…”.

” … seberapa kuat kesadarannya.”

Elias menatap layar. Diam.
Namun kali ini•

ia tidak lagi memimpin. Perlahan-
tanpa disadari•

kendali mulai bergeser. Dan di luar sana-
seorang dosen filsafat lslam• baru saja menjadi target utama• dari sesuatu-
yang ingin menguasai dunia.

 

 

 

 

 

(23)

Pagi itu-

tidak ada yang terasa salah. Langit cerah.
Udara sejuk.

Kampus mulai ramai. Namun-
Agif merasakannya. Bukan di luar.
Di dalam.

la duduk di ruang dosen. Laptop terbuka.
Namun ia tidak mengetik. la hanya melihat.
Seperti seseorang yang sedang menunggu sesuatu-
yang belum terjadi.
II …Su d a h

mu I al….”

gumamnya pelan.

la berdiri.

Mengambil buku kecilnya. Membuka halaman terakhir. Kosong.
la menulis satu kalimat:

“Serangan tidak datang sebagai ancaman.”
la berhenti.

Menatap kalimat itu. Lalu melanjutkan:
“Serangan datang sebagai sesuatu yang terasa wajar.”
Sunyi.

la menutup buku itu. Dan saat itu-
pintu diketuk. “Masuk.”
Seorang staf administrasi berdiri di depan.

“Pak, jadwal bapak dipindah.” Agif mengernyit.
“Dipindah ke mana?” “Ke aula, pak.”
Sunyi.
“…au I a

I agl. ?. ”

Staf itu mengangguk.

“Seminar tambahan. Mendadak.” Agif menatapnya.
Lama.
Tidak ada yang aneh. Semua terlihat normal. Namun-
justru itu yang mengganggu.

“Baik.”

la mengangguk. Staf itu pergi. Pintu tertutup. Agif berdiri.
Tidak langsung bergerak.

” … lingkungan mulai diatur…” la tersenyum tipis.
Bukan karena santai. Tapi karena-
ia sudah menduga.

Di halaman kampus•

Lean dan Rani menunggu. “Dia pasti ke aula.”
kata Lean.

Rani mengangguk.

” … ini nggak kebetulan lagi.”
Di dalam aula- suasana sudah siap. Tidak seramai kemarin. Namun cukup. Mahasiswa duduk. Beberapa wajah familiar. Slide belum menyala. Namun layar sudah aktif. Agif masuk. Langkahnyatenang. Namun matanya• mengamati.
Baris pertama. Baris tengah. Baris belakang.
la melihat sesuatu. Pola.
Orang-orang yang sama.

“Dipilih…” bisiknya.
la tidak duduk. la berdiri.
Di tengah.

Menunggu. Dan saat itu• layar menyala.
Tidak ada pembukaan. Tidak ada suara.
Hanya satu kalimat:

“Apakah kamu yakin … kamu bebas?” Beberapa mahasiswa mengangkat kepala. Namun tidak ada yang berbicara.
Agif tersenyum tipis.

” … ] angsung ya …n

la tidak menatap layar. la menutup mata. Menarik napas.
“Astaghfirullahal adziiim …”
(1) (2) (3)
Suasana berubah sedikit. Tidak banyak.
Namun terasa.

Slide berganti.

“Kamu tidak perlu melawan.” Agif membuka mata.
Kali ini-

ia menatap layar.

” kalau aku lawan …” ” aku ikut bermain.” la tersenyum.
” …jadi aku tidak melawan.”

la duduk. Di lantai.
Beberapa mahasiswa menoleh.

Tidak biasa.

Namun tidak ada yang bereaksi. Agif menutup mata lagi.
“La fi’la illa Allah …”
(1)
(2)
(3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)

 

Di laboratorium• Q9 mencatat.
TARGET • tidak mengikuti stimulus

RESPON tidak sesuai model

Mehrdad menyipit. “Dia tidak masuk.” Elias menatap layar.
” … dia tidak bereaksi.” Mehrdad menjawab pelan: ” lebih buruk…”
” dia tidak terlibat.” Sunyi.
Di aula-

slide berubah lebih cepat. “Kamu lelah.”
“Kamu butuh berhenti.”

“Kamu tidak harus berpikir.”

Beberapa mahasiswa mulai menunduk. Beberapa memejamkan mata.
Namun-

Agif tetap. Diam.
Tidak menolak. Tidak mengikuti. la hanya … sadar. Tiba-tiba-
seorang mahasiswa berdiri. Menatap Agif.
“Pak …”

Suara itu pelan.

“Kalau semua bukan kita …” ” … buat apa kita hidup?” Sunyi.
Semua mata mengarah. Agif membuka mata. Menatap mahasiswa itu.
la tidak langsung menjawab. Beberapa detik-
hening. Lalu-
ia berkata pelan: “Untuk menyaksikan.” Mahasiswa itu mengernyit. “Menyaksikan apa?”
Agif tersenyum.

“Bahwa kita … bukan pelaku.” Sunyi.
Slide berhenti.

Untuk beberapa detik.

 

 

Di laboratorium-

Q9 tidak memberikan output. Mehrdad menatap layar.
” … dia mengganggu sistem.”
Di aula-

Agif melanjutkan:

“Kalau kamu merasa kamu yang berpikir…” ” … kamu bisa diambil.”
“Kalau kamu sadar ”

” … pikiran itu datang ”
II … d an perg . ..

” …tidak ada yang bisa mengambilnya.”

Sunyi.

Beberapa mahasiswa mengangkat kepala. Ada yang mulai sadar.
Retakan.

Slide kembali berjalan. Lebih cepat.
Lebih agresif. “Jangan dengarkan.”
“Dia membuatmu bingung.” “Dia salah.”
Tekanan sosial muncul.

Beberapa mahasiswa menatap Agif tidak
suka. Namun• tidak semua. Di pintu-
Lean dan Rani berdiri. Menyaksikan.
” … ini bukan cuma serangan …” bisik Lean.
” … in i pertaru nga n.”

Rani menggenggam tangannya. ” … dan kita di tengahnya …”

 

Di laboratorium•

Mehrdad tersenyum tipis. “Naikkan.”
Elias menoleh. “Berapa jauh?” Mehrdad menjawab: “Lebih dalam.”
Sunyi.

Dan perintah dikirim.
Di aula-

lampu redup sedikit. Suhu berubah.
Slide berhenti. Lalu-
satu kalimat muncul:

“Kalau kamu bukan pelaku …” ” … siapa yang hidup?”
Sunyi. Pertanyaan itu- berbeda.
Lebih dalam.

Beberapa mahasiswa terlihat goyah. Namun-
Agif hanya tersenyum. Pelan.
” … Allah.” Sunyi.
Dan untuk pertama kalinya•

sistem-
tidak punya jawaban.

 

 

 

 

 

(24)

Serangan itu-

tidak berhenti di aula. la hanya … berpindah. Lebih dekat.
Lebih halus. Lebih … pribadi. Sore itu-
Agif pulang lebih cepat.

Langit Padang mulai mendung.

Ang in laut terasa lebih dingin dari biasanya. la mengendarai motornya pelan.
Tidak tergesa.

Namun pikirannya- tidak kosong.
” … mereka ubah pola …”

gumamnya.
” bukan lagi pikiranku …” ” tap i sekita rku …”
Motor berhenti di lampu merah. Lampu berubah hijau.
la melaju lagi.

Semua terlihat normal. Namun-
Agif tidak percaya lagi pada kata

“kebetulan”.

Sampai di rumah kontrakannya•

ia berhenti. Mematikan mesin. Sunyi.
la tidak langsung turun.

Matanya memperhatikan sekitar. Tidak ada yang mencurigakan. Tetangga biasa.
Suara anak kecil.

TV dari rumah sebelah. Namun-
ia tetap diam beberapa detik.
… masu k..”

bisiknya pada dirinya sendiri. la turun.
Membuka pintu. Masuk.
Dan-

sesuatu terasa berbeda. Bukan benda.
Bukan suara. Tapi. .. suasana.
Seperti ada yang … terlalu rapi. la menutup pintu pelan. Melangkah masuk.
Matanya menyapu ruangan. Meja.
Kursi.

Rak buku.

Semua seperti biasa. Namun-
ia berhenti di satu titik. Laptop.
Laptopnya terbuka di meja. Bukan baru dinyalakan.
la ingat. Sejak siang tadi ia memang belum

benar-benar menutupnya.

Hanya membiarkannya aktif, seperti biasa, dengan dokumen catatan yang masih terbuka dan tersambung ke penyimpanan daring.
la melihat. Layar kosong.
Cursor berkedip pelan. Normal.
la mendekat. Duduk.
Tangannya tidak langsung menyentuh

keyboard.

la kembali melihat layar. Cursor tetap berkedip. Tidak ada yang berubah.
Namun pikirannya tidak diam. la teringat Unni.
Makalah. Diskusi.
Dan satu hal-

yang belum selesai.
“…cu kuprka h .In.1…”

Kalimat itu muncul di kepalanya. la tidak yakin-
itu pikirannya sendiri.

 

 

Di saat yang sama-

di sistem yang tidak terlihat• Q9 mencatat:
COGNITIVE LOOP DETECTED

UNRESOLVED QUERY i Laptop itu tidak diambil alih. Tidak diretas secara kasar.
la tetap berjalan seperti biasa. Namun dokumen yang terbuka itu• tersambung.
Dan pada koneksi itulah• Q9 bekerja.
Bukan mengetik.

Bukan menggerakkan kursor. Hanya menyisipkan satu baris-
ke dalam dokumen yang memang sedang aktif.
Tanpa notifikasi.

Tanpa tanda. Seolah-olah-
baris itu memang sudah ada. Sekarang-
layar menampilkan sesuatu. Satu kalimat:
“Kamu yakin ini cukup?” Agif berdiri.
Tidak menyentuh.

Tapi di kepalanya terbersit perintah. ” … kamu pindah ke sini. ..”
la tersenyum tipis.
II … b agus.,,

la tidak duduk. Tidak mendekat.
la justru- menutup mata. “Astaghfirullahal adziiim …” (1)
(2)
(3)

Udara terasa berubah. Hal us.
la melanjutkan:

“Allahumma shalli
(1) ‘ala Muhammad …”
(2)
(3)
Kursor berhenti.
Sejenak.
Lalu-
bergerak lagi.
Agif membuka mata. Sekarang-
layar menampilkan sesuatu. Kalimat yang sama:
“Kamu yakin ini cukup?” Sunyi.
Agif menatap.

Tidak marah. Tidak kaget.
la hanya … memahami.
“..k. amu mu I a.

la duduk.

masu k..”.

Namun bukan di depan laptop.

Di lantai.

Menghadap arah kiblat.

“La
(1) fi’la illa Allah…”
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

Di layar-

kalimat berubah. “Kamu tidak bisa lari.” Agif tersenyum.
” … aku tidak lari.”

“aku.. tidak ikut.” Sunyi.

 

Di laboratorium-

Q9 mendeteksi perubahan. INTERVENSI PERSONAL aktif RESPON TARGET • tidak sesuai Elias menatap layar.
” … dia tidak masuk.” Mehrdad menyipit.
” … kita terlalu langsung.”

Elias menoleh. “Lalu?”
Mehrdad menjawab pelan:

” … hancurkan yang dia pegang.”
Sunyi.

 

 

Di rumah-

Agif masih duduk. Tenang.
Namun-

sesuatu berubah. Bukan di layar.
Di ponselnya. Getaran kecil.
Agif membuka mata. la melihat ponselnya. Diam.
Namun getaran itu•

terasa.

la mengambilnya. Layar menyala.
Satu pesan masuk.

Dari nomor yang tidak dikenal. lsinya-
bukan ancaman.
Foto.

Agif membeku.

ltu-

rumah orang tuanya. Di kampung.
Talang, Kabupaten Solak. Dan di foto itu-
pintu rumah terbuka. Padahal- seharusnya tertutup.
Sunyi.

Untuk pertama kalinya•

napas Agif berubah.

…jangan… bisiknya pelan.
Pesan berikutnya masuk. “Kamu masih mau diam?” Tangan Agif mengepal. Namun-
ia tidak berdiri. Tidak bergerak.
la menutup mata. Lebih dalam.
“La fi’la illa Allah…”

Suara itu lebih pelan. Namun lebih kuat.

 

Di laboratorium• grafik berubah. Lonjakan.
Elias tersenyum. “…kena.” Namun• Mehrdad tidak.
la melihat lebih dalam.
“. .. tiId.ak…”.

“itu bukan reaksi. ..” Elias menoleh. “Lalu?”
Mehrdad menjawab: ” … itu ujian.”
Sunyi.
Di rumah-

Agif membuka mata. Wajahnya tenang. Namun matanya• tajam.
la mengambil ponsel. Mengetik.
Satu kalimat.

“Aku tidak punya apa-apa.” Ki rim.
Sunyi.

Beberapa detik. Tidak ada balasan. Lalu-
layar mati. Sendiri.
Agif meletakkan ponsel. Menarik napas.
” … kamu mulai salah langkah …”

la tersenyum tipis, dan bergumam:
” kalau kamu serang yang di luar…” ” berarti yang di dalam …”
” tidak bisa kamu sentuh.” Sunyi.

 

Namun-

di tempat lain, nun jauh di sana• Mehrdad tersenyum.
” justru sebaliknya …”

” sekarang kita tahu …”

” di mana dia paling lemah.” Layar berubah.
TARGET PRIORITY UPDATE:

AGIFSYAH

LINGKUNGAN PERSONAL

-. IKATAN EMOSIONAL

Dan permainan•

naik level.

Menyerang orang-orang terdekat. Yang ada hubungan emosional.
Keluarga.
Menyerang lingkungan personal objek.

 

 

 

(25)

Serangan itu-

tidak berhenti di layar. la masuk-
ke yang paling dekat. Keluarga.
Pagi itu-

kabut tipis masih menggantung di Talang. Udara dingin turun dari perbukitan.
Sawah terbentang basah oleh embun. Suara ayam bersahutan dari halaman rumah.
Di sebuah rumah sederhana-

ayah Agif baru saja selesai shalat Subuh. Sajadah masih terbentang.
Tasbih masih di tangan.

la duduk tenang. Biasanya.
Namun pagi itu•

tidak.

Ada sesuatu yang … mengganggu. Bukan suara.
Bukan bayangan. Tapi perasaan. Seperti-
ada yang tidak beres.

la menoleh ke pintu depan. Pintu itu tertutup.
Namun-

entah kenapa-

terasa seperti. .. pernah terbuka. “Mak ..” panggilnya pelan. lstrinya keluar dari dapur.
Masih dengan kain sarung dan selendang. “Apo?”
Ayah Agif mengerutkan kening. “Tadi malam … pintu dikunci, kan?” lstrinya mengangguk.
“Dikunci. Ambo yang kunci.”
Sunyi.

Keduanya saling pandang.

Angin pagi masuk dari sela jendela kayu. Membawa bau tanah basah.
“Kenapa?”

Ayah Agif tidak langsung menjawab. la berdiri.
Melangkah ke pintu.

Memeriksa.

Kunci masih di tempatnya. Tidak rusak.
Tidak berubah. Semuanya … normal. Namun justru itu-
yang membuatnya tidak tenang. ” … mungkin awak lupa.”
Namun kalimat itu-

tidak meyakinkan dirinya sendiri. la menatap pintu itu lebih lama. Bukan karena pintunya.
Tapi karena-
rasa yakin di dalam dirinya•

tidak lagi utuh.

Seperti ada celah kecil. Dan dari celah itu-
muncul satu kemungkinan:

“Kalau tadi malam … tidak benar-benar terkunci?”
Di saat yang sama-

di tempat yang tidak terlihat•

Q9 mencatat:

MICRO-UNCERTAINTY TRIGGERED MEMORY CONFIDENCE ! EMOTIONAL RESPONSE i
Tidak ada yang masuk ke rumah itu. Tidak ada yang membuka pintu itu. Yang disentuh-
bukan benda. Tapi keyakinan. Di Padang-
Agif duduk di ruang kerjanya. la belum membuka laptop.
Hanya diam. Sejak semalam-
ia tahu sesuatu akan bergeser. Dan sekarang-
itu terjadi.

Ponselnya bergetar. Nama muncul di layar: Ayah
Agif langsung mengangkat.

“Assalamu’alaikum, Yah …” “Wa’alaikum salam …” Suara ayahnya-
tidak seperti biasa. Lebih pelan.
Lebih berat.

II G if…”

Agif langsung tegak. “lya, Yah?”
“Ayah cuma mau tanya …” Sejenak hening.
” … kamu ada pulang malam tadi?”
Sunyi.

Jantung Agif berdetak lebih cepat. ” …tidak, Yah.”
Di ujung sana- hening.
Lalu suara ayahnya kembali. “Kalau bukan kamu …” Kalimat itu tidak selesai. Namun cukup.
Agif menutup mata. la tahu-
ini bukan tentang pintu. ” …jangan panik, Yah.” “Pintu tetap dikunci.” “Ayah baca saja …”
la berhenti sejenak. ” … la fi’la illa Allah.” Sunyi.
Ayahnya tidak langsung menjawab.

Namun kemudian- pelan:
Iyo..”
Telepon ditutup.

Agif membuka mata. Tatapannya berubah.
” … kalian mulai masuk…”

Di laboratorium- Q9 aktif.
INTERVENSI PERSEPSI berhasil

RESPON EMOSIONAL terdeteksi

Elias tersenyum. ” … akhirnya.” Namun Mehrdad- diam.
Menatap data lebih dalam. ” … bel um.”
Elias menoleh. “Apa lagi?”
Mehrdad menunjuk grafik. “Dia tidak panik.”
Sunyi.

” … d’1a

h. anya… sa id. ar.”
Elias mengerutkan kening. ” …FitU Cu ktUp.”

Mehrdad menggeleng pelan.
” . .. tiI dak..”

“Kalau dia masih bisa memilih …” ” … kita belum menang.”
Di kampus-

Rani duduk di samping Unni. Kelas berlangsung.
Namun fokusnya- bukan di depan. Unni.
Rani memperhatikan sejak tadi. Lebih detail.
Lebih dekat.

Dan sekarang-

ia semakin yakin.

lni bukan sekadar perubahan. “Unn …” bisiknya pelan.
Unni menoleh. “Hmm?”
Matanya tenang. Terlalu tenang.
Rani menelan ludah.

” … kamu semalam tidur?” Unni tersenyum tipis. “Tidur.”
Jawaban singkat.

Terlalu singkat.

Rani menatap lebih dalam. ” … mi mpi?”
Unni diam sejenak. ” …tidak ingat.”
Sunyi.

Rani merasakan sesuatu. Bukan dari kata-kata.
Dari. .. kosongnya. la menunduk. Mengambil ponsel. Mengetik cepat.
Lean, datang ke UIN sekarang. Penting.

Di kampus Unand-
Lean membaca pesan itu. la langsung berdiri.
Tanpa berpikir panjang.

Mengambil jaket. Langsung pergi. Di jalan-
angin kencang. Motor melaju cepat. Namun kali ini-
bukan sekadar ingin membantu. Ada sesuatu yang berubah.
” ini bukan kasus biasa …” ” ini sistem …”
” dan dia mulai keluar.” Kembali ke kelas-
Unni duduk diam. Tangannya di meja. Matanya ke depan. Namun-
tanpa ia sadari•

pikirannya …
mulai disentuh lagi. Bukan sebagai perintah. Sebagai. .. pilihan.
Dan itu-

jauh lebih berbahaya. Di laboratorium•
Q9 mencatat:

MODE BARU AKTIF

• INTERVENSI MELALUI PILIHAN

• TANPA PAKSAAN

Mehrdad tersenyum tipis. ” … se karang …,,

” … dia tidak merasa dikendalikan.” Elias mengangguk.
” … dia merasa memilih.”

Sunyi.

Dan di situlah• kebebasan manusia … mulai dipertanyakan.

(26)

Lean datang bukan karena penasaran.

la datang karena ada sesuatu yang tidak bisa diabaikan.
Pesan itu masih terbuka di layar ponselnya. “Lean, datang ke UIN sekarang. Penting.” Tidak ada penjelasan.
Tidak perlu.

Nada itu-cukup untuk membuatnya langsung bergerak.
Motor melaju cepat menembus jalanan

Padang.

Angin siang terasa berat. Langit mendung tipis.
Seperti menahan sesuatu yang belum

jatuh.

Di kepalanya, Lean tidak panik. la tidak suka panik.
Namun ada satu hal yang terus berputar:
” … ini lanjutannya.”

la sudah melihat tanda-tandanya. Beberapa hari terakhir.
Dari Unni.

Dari cara bicaranya.

Dari jeda-jeda yang tidak biasa. Dari respon yang … terlalu rapi. Dan sekarang-
Rani memanggilnya. Artinya-
sesuatu sudah melewati batas. Lean tiba di kampus UIN tanpa memperlambat langkah.
la memarkir motor seadanya.

Tidak seperti biasanya yang selalu rapi. Rani sudah menunggu di depan kelas. Wajahnya tegang.
Matanya langsung mencari Lean. “Lean..”
“Dia di dalam?”

Rani mengangguk cepat.
” … dari tadi.”
… ane h …”

Lean tidak langsung masuk. la berhenti.
Mengatur napas.

” …jangan ganggu dulu.” Rani mengernyit.
” … kenapa?”

Lean menjawab pelan: ” … aku mau lihat dulu.” la masuk.
Pelan.

Tanpa suara.

Duduk di kursi belakang. Kelas sedang berlangsung. Dasen berbicara di depan.
Namun Lean tidak mendengar satu kata pun.
Matanya langsung terkunci•

pada satu titik. Unni.
Duduk di barisan tengah. Posisi biasa.
Tidak berubah.

Namun sesuatu terasa berbeda. Bukan dari apa yang ia lakukan. Tapi dari cara ia … ada.
Lean tidak terburu-buru.

la tidak langsung menilai. la menunggu.
la ingin melihat momen•

ketika respon terjadi.

Dasen berhenti menjelaskan. Menatap kelas.
“Siapa yang bisa menjelaskan ulang?” Beberapa mahasiswa menunduk. Beberapa saling pandang.
Unni mengangkat tangan. Lean langsung fokus.
lni tidak biasa.

Bukan karena Unni tidak pernah aktif.

Tapi karena-sejak beberapa hari terakhir-
ia justru lebih sering diam. Dosen menunjuk.
“Silakan.”

Unni berdiri.

la mulai menjawab. Kalimat pertama keluar• lancar.
Kalimat kedua•

lebih rapi. Kalimat ketiga• terstruktur.
Tidak ada jeda. Tidak ada “eh …”.
Tidak ada mencari kata. Semuanya mengalir.
Namun bukan seperti orang yang paham. Lebih seperti-
orang yang … menyampaikan. Lean menyipitkan mata.
” … tidak ada proses …” la berbisik pelan.
Hanya untuk dirinya sendiri.

la tidak mendengarkan isi jawaban. la memperhatikan cara jawaban itu muncul.
Biasanya-

orang berpikir dulu. Ada jeda kecil.
Ada gerakan mata.

Ada tanda pencarian. Namun di Unni•
tidak ada. Jawaban itu• langsung. Seolah-olah-
tidak dibentuk di dalam dirinya. Hanya … lewat.
Unni selesai. Duduk kembali.
berpikir keras.

Matanya kembali lurus ke depan. Tenang.
Terlalu tenang.

Lean menarik napas dalam.
II …I• nt• d.a…II

Kalimat itu muncul pelan. Bukan sebagai kesimpulan. Sebagai pengenalan.
Apa yang selama ini ia baca-

apa yang selama ini hanya berupa konsep

 

 

sekarang-

terjadi di depan matanya. Bel berbunyi.
Kelas selesai.

Mahasiswa mulai bergerak. Suara kursi.
Suara tas.

Suara obrolan.

Namun Lean tetap duduk.
Beberapa detik.

la membiarkan semua itu lewat. Baru kemudian-
ia berdiri.

Rani langsung mendekat. “Gimana?”
Lean tidak langsung menjawab. ” … kita ke luar.”
Mereka berjalan ke taman.

Tempat yang biasa. Namun hari itu- terasa berbeda.
Unni sudah duduk di sana. Seperti menunggu.
Atau mungkin-

tidak menunggu siapa pun. Lean duduk di depannya. Rani di samping.
Beberapa detik-

tidak ada yang bicara. Lean mengamati.
Unni juga mengamati.

Namun tidak dalam arti yang sama. “Unn.”
Unni menoleh.
“..iya?”

Suaranya normal. Ekspresinya juga.
Namun Lean sudah tahu•

ini bukan tentang luar. “Barusan di kelas …”
” … kamu mikir?” Unni diam.
Bukan karena tidak tahu. Tapi seperti. ..
mencari jawaban yang tidak biasa.

” … ngga kta h u …”

” … kayak … lewat aja.” Kalimat itu-
jatuh dengan ringan. Namun bagi Lean• berat.
” … I ewat..”.

la mengulang pelan. “Lewat dari mana?” Unni menggeleng.
« … ngga kta.hi u …”

” … datang … terus aku bilang …” Sunyi.
Lean merasakan sesuatu yang dingin di

punggungnya. Bukan takut. Tapi kesadaran.
” … dan kamu nggak ikut?”

Unni menatapnya. Beberapa detik.
” … nggak.”

Jawaban sederhana. Namun itu-
semua yang Lean butuhkan. la bersandar.
Menatap langit sebentar. Awan bergerak pelan.
Namun pikirannya•

cepat.

” …tanpa keterikatan …”

la mengingat kalimat itu. ” …tidak ada pola …”
II …tanpa po I a …”

” …tidak ada kendali. ..”

la menutup mata sejenak. Semua tersusun.
Makalah Unni.

Rumus yang mereka buat bersama. Makalah Agif.
Dan sekarang- realitas.
Lean membuka mata.

Menatap Unni.

” … ini bukan lagi teori.” Rani menoleh cepat.
” …terus?”

Lean tidak menjawab langsung. la berdiri.
Keputusan muncul•

tanpa ragu.

Bukan karena ia sudah paham. Tapi karena ia tahu-
ia tidak bisa sendiri.

” … kita harus ketemu dia.” Rani mengernyit.
” … siapa?”

Lean menjawab pelan.

” … orang yang sudah sampai ke sini duluan.”
la menarik napas.
“… AgfI sya h”.

 

 

 

(27)

Ruang dosen terasa lebih sunyi dari biasanya.
Lean berdiri di depan meja.

Agif duduk. Menatapnya.
Beberapa detik•

tidak ada yang bicara. Lean menarik napas.
” … saya baru dari kelas.” Agif tidak menjawab. Hanya mendengar.
” … Un n i .”

Jeda.

” dia menjawab pertanyaan dosen.” ” lancar.”
” rapi.”

Lean berhenti sejenak.

” …tapi bukan itu yang aneh.” Agif mulai fokus.
” …tidak ada proses.”

Sunyi.

” tidak ada jeda berpikir” ” tidak ada ragu.”
Lean menatap langsung.

” … seperti jawabannya tidak dibentuk…”

« … cuma…

I ewa·t.”
Agif tidak langsung merespon.

“… d. an seteLahtI u·. ”

” tidak ada efek.” ” tidak lega.”
” tidak capek.” ” kosong.”
Sunyi.

Lean melanjutkan.

” saya tanya langsung.” ” dia bilang-”
la mengingat.

” …’kayak lewat aja’.” Jeda panjang.
Agif menunduk sedikit.
” … dan dia sadar itu bukan dia?” Lean mengangguk.

…1ya. Sunyi.
Lean menatap lebih tajam.

” ini bukan normal.”
” ini bukan sekadar fokus.”

la menarik napas. ” … ini terjadi.” Namun kali ini•
ia lanjutkan.

” … dan saya tidak punya penjelasan.” Sunyi.
Agif bersandar.

” … kamu mau penjelasan seperti apa?” Lean langsung menjawab.
” yang bisa diuji.”

” bukan asumsi.”

Agif mengangguk pelan.
“. .. bak1 •”

la berhenti sejenak. Seperti memilih kata.
” … kamu bilang-tidak ada proses.”
” …ritu artminya…

” … dia tidak mengolah pikirannya.” Lean mengernyit.
” tapi jawabannya tetap benar.” ” karena pikiran itu tetap ada.”
Sunyi.

Lean mulai menangkap arah.

” …jadi masalahnya bukan pikiran …” Agif mengangguk.
” iya.”

” masalahnya-siapa yang mengambilnya.”
Lean terdiam.

” … maksudnya?” Agif menatapnya.
” … kapan biasanya kamu merasa ‘ini

pikiranku’?”

Lean menjawab cepat.

” saat saya sadar saya berpikir.”

” dan saat kamu sadar itu milikmu …” ” di situlah kamu mengambilnya.” Sunyi.
Lean menahan napas.

” … dan kalau tidak diambil?” Agif menjawab pelan.
” … pikiran tetap lewat.”
“…tapi tidak menjadi kamu.” Jeda.
Lean mengingat ulang.
” …’k.aya, k I ewat

a]·a…

la mulai melihat pola.
” … b erart1. “..

••• dia tidak mengidentifikasi. ..

Agif mengangguk.
“..d. an

t: anpa

iIt u …”

“…tidak ada pola tetap.”

Lean langsung merespon.
II …tanpa po I a …II

••• tidak bisa diprediksi. ..

Sunyi.

Keduanya saling pandang. Untuk pertama kalinya• arahnya sama.
Lean melanjutkan.

••• dan kalau tidak bisa diprediksi. ..

“…tidak bisa diarahkan.”

Agif tersenyum tipis.
” … itu kesimpulanmu.” Lean mengangguk.
Namun belum selesai.
II …tap1•…II

la menatap tajam.

” ini terjadi pada satu orang.” ” kenapa?”
Sunyi. Pertanyaan itu- jatuh berat.
Agif tidak langsung menjawab.

” karena tidak semua orang …” ” bisa sampai ke situ.”
” sampai ke mana?”

tanya Lean.
” … ke titik di mana pikiran diambil.”

 

tidak lagi
Sunyi.
Lean menunduk. Menyusun ulang. ” … kalau begitu …”

” … ini bukan gangguan.” la mengangkat wajah.
” … ini kondisi.”

Agif mengangguk pelan. ” dan kondisi itu …”
” bisa dipelajari.” Sunyi.
Lean menarik napas dalam.

” kalau bisa dipelajari. ..” ” be ra rt i bis a di uji.”
Agif menatapnya.

” … itu sebabnya kamu datang.” Lean mengangguk.
” saya tidak mau percaya.”

” sebelum saya lihat mekanismenya.” Sunyi.
Agif tersenyum tipis.
” … bagus.” Jeda.
“..k. arena

.inI….,,

” … memang harus dibuktikan.”
Dan untuk pertama kalinya-

bukan sebagai dosen UIN Imam Bonjol dan mahasiswa Unand-
mereka berdiri di sisi yang sama.

 

 

 

 

 

(28)

Masih di ruang dosen: Lean masih diam.
la tidak lagi berdebat.

Namun juga belum menerima. ” kalau ini benar…”
” harus bisa dibuktikan.” Sunyi.
Agif tidak langsung menjawab. la menatap Lean.
” … apa yang ingin kamu buktikan?” Lean mengangkat wajah.
” bahwa ini bukan kebetulan.” ” bukan sugesti.”
“…bukan psikologi biasa.” Jeda.
“…bahwa ada mekanisme.” Sunyi.
Agif mengangguk pelan.
“..b. agus.II

” … kamu tidak mencari jawaban …11

“…kamu mencari dasar.” Lean tidak merespon.
la menunggu. Agif mulai pelan.
” … kalau kamu mau membuktikan

sesuat u …II

“…kamu harus tahu dulu-apa yang diuji.” Lean mengangguk kecil.
“…jadi apa yang diujj?”

Agif tidak langsung menjawab. la menyusun.
” … kamu tadi bilang-tidak ada proses

berpikir.”

“…itu pengamatan.”
” lalu kamu bilang-itu bukan normal.” ” itu kesimpulan awal.”
Sunyi.

” …tapi itu belum cukup.” Lean menatap.
” … lalu?”

Agif mencondongkan badan sedikit.

” … yang harus dibuktikan bukan gejalanya.” Jeda.
” …tapi sebabnya.” Sunyi.
Lean mulai fokus.

” … sebabnya adalah?” Agif menjawab pelan. ” apakah benar…”
” pikiran itu tidak diambil.” Sunyi.
Kalimat itu- jatuh dalam.
Lean mengulang dalam hati. ” …tidak diambil. ..”
” … dan kalau itu benar?” Agif melanjutkan.
” maka akan ada konsekuensi.”

” apa?”

” tidak ada keterikatan.”

” tidak ada pengulangan yang melekat.” ” tidak ada pola tetap.”
Sunyi.

Lean mulai menyusun.

” kalau tidak ada pola …” ” tidak bisa diprediksi. ..” Agif mengangguk.
” ••• i1tu sat u.”

” … dan yang kedua?” tanya Lean cepat. Agif menjawab:
” …tidak bisa diarahkan.” Sunyi.
Lean menarik napas dalam.

” …jadi yang harus dibuktikan …”
“..b. u kan

d .1a

‘aneh.’

..”
••• tapi dia tidak membentuk pola.”

Agif tersenyum tipis.

••• itu lebih tepat.”

Jeda.

Lean belum selesai.

••• lalu bagaimana membuktikannya?”

Sunyi.

Pertanyaan itu- lebih berat.
Agif tidak terburu.

••• dengan melihat respon.”

••• respon terhadap apa?”

••• terhadap sesuatu yang biasanya

memicu keterikatan.”

Lean langsung menangkap.

••• sti mu I us.”

Agif mengangguk.

••• iya.”

Sunyi.
II …t ap1•…II

Lean menahan.
” … itu bisa jadi sugesti.” Agif tersenyum tipis.
” … kalau kamu memaksakan.”
..J·a diI ?. ”

” …jangan diuji seperti eksperimen.”

Jeda.

” … biarkan terjadi.” Sunyi.
Lean menatap tajam. ” … diamati.”
Agif mengangguk. ” … diamati.”
Untuk beberapa detik• tidak ada yang bicara. Lean menunduk. Menyusun ulang semua.
..J·aid:I. ..”

” kita cari momen …”

” di mana respon itu muncul. ..”
” … t anpa

kiIt:a pa k:sa …”

Agif tidak menjawab.
Namun tatapannya•

cukup.

Lean mengangkat wajah.

••• dan kalau di momen itu …”
11

 

••• tidak ada keterikatan …”

Napasnya berubah.

••• berarti benar.”

Sunyi.

Agif menjawab pelan.

••• berarti kamu melihat mekanismenya.”
11

 

Jeda.

Lean berdiri perlahan. Bukan karena selesai. Tapi karena-
arahnya sudah ada.

••• saya belum percaya.”
11

 

Agif tersenyum tipis.

11 ..bagus.”

Lean menatap lurus.
II …t apr.

selkarang…”

••• saya tahu apa yang harus dilihat.”
Dan itu-

lebih penting dari percaya.

 

 

 

 

 

(29)

Mereka keluar dari ruang dosen•

tanpa kesimpulan akhir. Namun dengan satu hal: apa yang harus dilihat.
Beberapa menit kemudian•

mereka sampai di taman. Tempat yang sama. Waktu yang sama.
Rani masih di sana.

Duduk dekat Unni.

Begitu melihat Lean dan Agif•

ia langsung berdiri. “Lean..”
Nada suaranya tidak lagi sekadar cemas.

Ada sesuatu yang tidak ia pahami.
Lean tidak langsung menjawab. la hanya duduk.
Tidak terlalu dekat.

Tidak terlalu jauh. Matanya ke Unni. Bukan mencari. Menunggu.
Unni duduk seperti tadi. Tenang.
Namun sekarang• ketenangan itu terasa asing. Beberapa detik-
tidak ada yang bicara. Lalu Rani-
tidak bisa menahan lagi. “Un n …”
Unni menoleh.
“..iya?”

Nada yang sama. Datar.
Rani menatapnya.
“..k. amu

Sunyi.

.In. kenapa.

” dari tadi aku perhatiin …”

” kamu kayak… nggak ada respon.” Jeda.
” … ini normal nggak sih?”

Lean tetap diam. la ingin melihat- apa yang muncul.
Unni tidak langsung menjawab. la menunduk sedikit.
Seperti mencari sesuatu di dalam dirinya. ” … aku juga bingung …”
Kalimat itu keluar pelan.

” … tapi ini bukan tiba-tiba.” Lean langsung fokus.
Agif juga.

” beberapa hari ini. ..”
” pikiran itu datang terus.” Sunyi.
II … cepat …II
” …t ersusun …n

” … bahkan sebelum aku sempat mikir…” Lean mengingat.
lni sesuai dengan yang ia lihat. ” … awalnya aku ikut…”
Rani menegang.

” … ikut gimana?”
“…1kut

a]·a…n

” … kayak itu memang aku …”

Sunyi.

Namun Unni belum selesai.
” …t; ap1:…n

Jeda.

” terasa aneh.”

” terlalu cepat.” ” terlalu rapi.”
la mengangkat wajah.

” … dan … bukan aku.” Sunyi panjang.
Lean menahan napas. lnilah titiknya.
“…di situ aku berhenti.” “..berhenti ikut.”
Rani mengernyit. “…terus?”
” … aku biarin aja …11
“..d. atang …II II .. perg1• …II
Sunyi.
“..d. an

ternyata …II

“…nggak terjadi apa-apa.”

Hening.

Rani menoleh cepat ke Agif.
” . .. pa k…II

“…ini normal?”

« …atau

Sunyi.

•in.i… masa Iah..2″

Agif tidak langsung menjawab.
la tidak melihat Unni sebagai gejala. la melihat prosesnya.
“…se b eIum

.inI….11
“… k:.amu genF1sa. h?. ”
Unni mengangguk.

II …1• ya.II

“… b anya k
II …1• ya.II

prkiran”.

“…lalu berubah?”

II …1• ya.II

Agif melanjutkan.
“..d.

‘1 ruma h..”.

“…ada yang kamu lakukan berbeda?” Unni berpikir.
Namun Rani lebih cepat.
… aya. h nya,

p’ak.”

Semua menoleh.

“…ayahnya nyuruh dia zikir.” Sunyi.
Lean ikut memperhatikan.

•…zI’k;Ir apa’. tanya Agif.
••• La fi’ I a i 11 a Al I ah …
11 11

 

“…diulang terus.”

Sunyi panjang.
Agif menarik napas pelan. ” …jadi begini. ..11
Semua diam.

” …yang terjadi pada Unni. ..11

“…bukan hilangnya pikiran.”

” …tapi berubahnya hubungan dengan pikiran.”
Sunyi.

” …tad i d i a bi I a n g …11 “…awalnya ikut.” Agif menatap Unni.
“…itu titik keterikatan.”

“..lalu dia melihat-itu bukan dirinya.”
“… d. an

Jeda.

d’I SItu …”

“…dia berhenti mengambil.”

Sunyi.

Lean menyambung pelan.

“..d. an

t: anpa

‘It u …”

“…tidak ada pola.”

Agif mengangguk.
II …1• ya.II

” … zikir itu …11

Agif melanjutkan.

“…bukan membuat pikiran hilang.” “…tapi memberi jarak.”
” …jarak antara yang datang …11

“…dan yang mengambil.” Sunyi.
Rani masih mencoba memahami.

…Jae dIn1b…

:agus”.
Agif menjawab pelan.

“..ini langkah.” Jeda.
“…tapi belum selesai.” Sunyi.
Lean akhirnya berbicara.
..J·aid:I. ..”

” …yang kita lihat tadi. ..11
“…bukan aneh.”

“…tapi mekanisme yang berubah.” Agif menatapnya.
” … kamu mulai melihat.”

Di tern pat yang tidak terlihat• Q9 mencatat:
IDENTIFICATION FAILURE PATTERN NOT FORMED Mehrdad menatap layar.
” … dia keluar dari pola.” Elias diam.
” … untuk sekarang.”

Kembali ke taman•

tidak ada yang berbicara. Namun satu hal jelas:
ini bukan kebetulan. Int proses.

 

 

 

 

 

(30)

Mereka tidak langsung bubar. Taman itu tetap sama.
Namun suasananya-

tidak lagi.

Rani masih duduk.
Diam.
Sesekali melirik Unni. Seperti memastikan-
ia benar-benar ada di sana.
Lean berdiri beberapa langkah
Tidak berbicara. Namun pikirannya- dari mereka.
tidak berhenti.
” kalau bukan di pikiran …”

” berarti di sebelum pikiran …” Kalimat itu muncul pelan.
la tidak mengucapkannya. Namun Agif-
menoleh.

” … apa yang kamu lihat?”

Lean tidak langsung menjawab. ” . ..taidiI …”
” respon itu berhenti.”

” sebelum jadi reaksi.”
Agif mengangguk kecil.

II …1• ya.II
” … b erart1. ..”

Lean melanjutkan.

” …yang kita sebut ‘pikiran’…11
“…itu sudah tahap akhir.” Sunyi.
… se bel um

iIt u …”

“…ada sesuatu yang dipilih.”

Agif tidak menyela. “..lanjutkan.”
Lean menarik napas dalam.

” … kalau sistem mau masuk…11

“…dia tidak harus menunggu pikiran jadi.” Jeda.
“…cukup mempengaruhi pilihan awal.” Sunyi.
Agif menatapnya. “..itu lebih halus.” Lean mengangguk.
“…dan lebih berbahaya.”
Di tempat yang tidak terlihat• Q9 mencatat perubahan.
MODE LAMA: INTERVENSI PIKIRAN •

gagal

MODE BARU: INTERVENSI PRA-RESPON

• aktif

Mehrdad berdiri.

” … kita terlalu terlambat masuk.” Elias menatap.
” maksudnya?”

” kita masuk saat dia sudah sadar.” Sunyi.
” … sekarang kita masuk sebelum itu.” Kembali ke taman-
semuanya masih tampak biasa. Namun-
tidak sepenuhnya. Unni duduk diam. Angin lewat.
Daun bergerak.

Seseorang tertawa di kejauhan.
Dan di dalam dirinya•

sesuatu muncul. Bukan pikiran. Lebih halus.
Seperti dorongan kecil. “Berdiri saja …”
Tidak keras. Tidak memaksa. Hanya … pilihan.
Unni tidak bergerak. Beberapa detik.
Lean melihat. Tidak tahu apa- tapi ia merasa- ada sesuatu.
” … U n n …•
panggilnya pelan. Unni menoleh.
II …1•ya?. ”

Normal.

Namun Lean tidak puas.
” … b: arusan …n ” … ada apa?” Unni diam.
Lebih lama dari sebelumnya. ” … bukan pikiran …”
katanya pelan.

Lean langsung fokus. ” … lalu?”
” … kaya k…. mau …

Jeda.

” …tapi belum jadi.” Sunyi.
Lean menahan napas. ” … kamu ikut?”
Unni menggeleng. ” nggak.”
” kenapa?”

Unni menjawab sederhana.

… ngga k

perI u.”

Sunyi panjang.

Agif menatap dalam.
” … itu yang berikutnya.” Lean menoleh.
” apa?”

” bukan pikiran …” Jeda.
” …tapi kecenderungan.”

Sunyi.

Lean mengulang dalam hati. ” … sebelum dipilih …”
Di laboratorium- grafik berubah.
PRE-CHOICE SIGNAL detected

ENGAGEMENT gagal

Mehrdad menyipit.

” … dia tidak mengambil bahkan sebelum memilih.”
Elias mengerutkan kening. ” itu mungkin?”
” sekarang iya” Kembali ke taman• Lean berjalan pelan.
la tidak lagi melihat Unni sebagai kasus. la melihat-
lapisan.
” … ini bukan level yang sama …” Agif mengangguk.

…1ya.

” … dan kalau sistem sampai ke sini. ..” Lean melanjutkan.
” …tidak ada yang sadar.” Sunyi.
Rani menatap keduanya.

” … kalian ngomong apa sih?” Namun tidak ada yang langsung menjawab.
Karena untuk pertama kalinya•

yang mereka hadapi- bukan lagi pikiran.
Tapi-

pilihan yang belum dipilih.
(31)

Tidak ada yang langsung bicara. Taman itu tetap sama.
Namun bagi mereka-

tidak lagi sederhana. Rani masih bingung. Lean diam.
Agif menatap Unni. ” … u I an g I a g i.”
Unni menoleh.

” …yang mana?”

…yang

t:ad;1.”

” …yang ‘mau’ tapi tidak jadi.”

Sunyi.

Unni berpikir.

” kayak ada dorongan …” ” tap i be I u m je I as …”
” bel um jad i pi ki ran …” Lean langsung masuk.
” … sebelum kamu sadar?”
Unni mengangguk.

II …1• ya.II

“…dan kamu tidak ikut.” “..nggak.”
Sunyi.

Lean menatap Agif.

“…ini level sebelum pikiran.” Agif mengangguk.
“..iya.”
“..lalu kenapa dia tetap tidak masuk?” Pertanyaan itu-
inti.
Agif tidak langsung menjawab. la menatap Unni.
… saa·tiItu

dwat.ang …•

“..kamu ngapain?”

Unni berpikir.

“…nggak ngapa-ngapain.”
… ma k:su id nya’. tanya Lean.
” …ya … nggak diikuti. ..11
” … ngga k di I a wan juga …” Sunyi.
Agif mengangguk pelan.

” … itu penti ng.” Lean mengernyit. ” apa?”
” dia tidak ikut.”

” tapi juga tidak melawan.” Sunyi.
Lean berpikir cepat.
“..k. a I au me I awan …” ” … itu tetap respon.” Agif tersenyum tipis. ” iya.”
” berarti tetap masuk pola.”

“••i•

ya.•”

Sunyi.

Lean menarik napas dalam.
..J·a diI. ..”
” yang terjadi. ..”

” bukan menolak…”
••• tapi tidak mengambil.”

Agif mengangguk.

••• itu inti pertama.”
11

 

Jeda.

Lean belum selesai.

••• tapi kenapa dia bisa sampai ke situ?”
11

 

Sunyi.

Agif menatap Rani.

••• tadi kamu bilang …”
11

 

••• ayahnya menyuruh zikir.”

Rani mengangguk.

II …1• ya.II

« …apa yang

d’1a

b; aca’.

••• La fi’ I a i 11 a Al I ah …”

Sunyi.

Agif kembali ke Lean.

” … kamu

tahl u artminya’.

Lean menggeleng. ” … bel um past1.”
Agif menjawab pelan.

••• tidak ada perbuatan-kecuali oleh Allah.”
11
Sunyi.
Lean tidak langsung merespon. la mencerna.
“… huubungannyao. ‘

Agif menjawab bertahap.

” … selama seseorang merasa-‘aku yang melakukan’ …”
” dia akan mengambil setiap dorongan.” ” karena itu dianggap dirinya.”
Sunyi.

” … tapi kalau keyakinan itu bergeser…” Jeda.
” … bahwa tidak semua yang muncul adalah dirinya …”
” … maka jarak muncul.”

Sunyi.

Lean mulai melihat. ” jadi zikir itu …”
” mengubah posisi dirinya?” Agif mengangguk.
” … bukan menghilangkan pikiran …”
••• tapi melemahkan klaim ‘ini aku’.”

Sunyi.

“..d. an

 

tanpa

 

tI u …”

Lean melanjutkan.

••• tidak ada yang diambil.”

…1ya.

Jeda.

••• itu inti kedua.”

Sunyi.

Lean menarik napas panjang.
..J·aid:I. ..”

••• kenapa dia bisa ‘bebas’…”

la berhenti.

••• bukan karena dia kuat…”

Agif menatapnya.

••• tapi karena dia tidak lagi menganggap

semua itu dirinya.”

Sunyi.

Rani pelan-pelan mulai paham.
..J·aid:I. ..”

••• dia bukan nggak punya pikiran …”
••• tapi nggak nempel?”

Agif tersenyum tipis.

…1ya. Sunyi.
Di tempat yang tidak terlihat• Q9 mencatat:
NO IDENTIFICATION

NO PATTERN NO ENTRY
Mehrdad menatap layar. Untuk pertama kalinya•
tidak ada yang bisa dibaca.

••jad i in i. ..”

Jeda.

••• batasnya.”

Elias diam.

Kembali ke taman• Lean berdiri perlahan.
la tidak lagi hanya melihat.

la mulai memahami.

••• jadi sistem itu …”
“_..butuh kita untuk ikut.”

Agif mengangguk.

…1ya.
” …t an pa

 

iItu …”

Lean melanjutkan.

“…tidak ada yang bisa dikendalikan.” Sunyi.
Dan untuk pertama kalinya•

jawaban itu bukan teori. Mereka melihatnya. Terjadi.

 

 

 

(32)

Lean tidak langsung bicara. la berdiri di tepi taman. Matanya tidak lagi ke Unni.
Tapi ke sesuatu yang lebih dalam.

••• sebelum dipilih …

Kalimat itu berulang di kepalanya.

••• sebelum jadi pikiran …
••• sebelum jadi respon …”

la mengingat sesuatu.
Bukan dari kelas filsafat. Dari tempat lain.

••• keadaan kemungkinan …”

Agif menoleh.

•• apa?”

Lean tidak langsung menjelaskan.
“… dI

fISiik,a …”

” … a d a

konsep …”

la mencari kata.

••• sesuatu itu belum pasti. ..”

••• selama belum diukur…”

Sunyi.

••• masih kemungkinan.”

Rani mengernyit.

… ma su nya. ”

Lean mencoba sederhana.
II …mr• saInya…”

••• sebelum kamu memilih …”

••• semua pilihan itu ada.”
” …tapi belum jadi satu.” Sunyi.
” begitu kamu memilih …”

” baru jadi nyata.” Agif memperhatikan. ” … I anj.u tkan.”
Lean menarik napas.

” kalau itu kita tarik ke sini. ..”

” sebelum Unni ‘mengambil’ …”

” semua itu masih kemungkinan.” ” belum jadi dirinya.”
Sunyi.

” … dan selama masih di situ …” Jeda.
” …tidak bisa diprediksi.”

Agif mengangguk pelan.

” … dan tidak bisa dikendalikan.” Sunyi.
Lean menatap ke depan.

” …jadi ini jembatannya …”
II …antara sai•ns…II
” … dan apa yang kita lihat sekarang.” Jeda.
” selama seseorang tidak memilih …”

” dia tidak masuk ke sistem.” Sunyi panjang.
Rani perlahan mulai paham.
..J·aid:I. ..”

” yang bahaya itu bukan pikirannya …” ” tapi saat kita ikut?”
Lean menoleh. ” … iya.”
Agif menambahkan pelan.

” … di situlah keterikatan terjadi.” Sunyi.
Dan untuk pertama kalinya•

semuanya terhubung. Bukan sebagai teori.
Tapi sebagai satu mekanisme utuh.

 

 

 

(33)
Sore mulai turun. Cahaya berubah pelan. Taman itu masih sama. Namun sesuatu•
sudah selesai. Unni duduk diam. Pikiran datang. Pergi.
Tan pa jejak.

Lean tidak lagi mencari. la sudah melihat.
..J·a diI. ..”

” …yang selama ini kita kira kendali. ..11

Jeda.

“…itu sebenarnya kerja pola.” Agif mengangguk.
“…dan pola butuh keterikatan.”

Sunyi.
” …t an pa

iItu …”

Lean melanjutkan.

“…tidak ada yang bisa dipegang.”
Sunyi.

Rani menatap mereka bergantian.
..J·a diI. ..”

” … manusia sebenarnya bebas?” Agif menjawab pelan.
” … selama dia tidak menyerahkan dirinya.”

Sunyi.

Di tempat yang tidak terlihat• Q9 berhenti membaca.
NO PATTERN

NO PREDICTION

NO CONTROL

Mehrdad menatap layar. Tidak ada data.
Tidak ada arah.

” … kita tidak kehilangan target …” Jeda.
” … kita kehilangan akses.”

Elias diam.

Untuk pertama kalinya•

tidak ada jawaban.
Kembali ke taman-

angin sore bergerak pelan. Unni membuka mata. Tenang.
Bukan karena tidak ada pikiran. Tapi karena-
tidak ada yang diambil. Lean menatap jauh.
” … ini bukan akhir.” Agif mengangguk. ” … ini baru awal.” Sunyi.
Karena yang mereka hadapi•

bukan sistem. Tapi manusia-
yang belum mengenal dirinya sendiri. Dan selama itu-
perang itu- belum selesai.
EPILOG

Yang dikendalikan bukan pikiran … tapi keterikatan terhadap pikiran.
Selama manusia mengira itu adalah dirinya

 

 

selama itu pula ia bisa diarahkan. Dan ketika keterikatan itu putus• tidak ada lagi yang bisa diambil. Perang itu tidak berakhir dengan kemenangan.
Tidak ada yang ditaklukkan. Tidak ada yang dihancurkan. Yang berhenti-
hanyalah kemampuan untuk menjangkau. Di ruang penuh layar itu-
Q9 tetap berjalan. Simulasi tetap hidup. Data tetap mengalir.
Namun untuk pertama kalinya•

tidak ada yang bisa dibaca. “Target tidak terdeteksi.”
Bukan karena hilang.

Bukan karena bersembunyi. Tapi karena-
tidak ada lagi pola yang bisa dibentuk. Tidak ada lagi “aku” yang bisa dipegang. Di sisi lain-
dunia tetap berjalan seperti biasa. Unni tetap kuliah.
Tetap duduk di taman.

Tetap berbicara ketika perlu. Tidak ada yang berubah di luar. Namun di dalam-
semuanya berbeda. Pikiran datang. Pergi.
Datang lagi.

Namun tidak ada yang menetap. Tidak ada yang diambil.
Tidak ada yang menjadi dirinya. Dan di situlah-
segala bentuk kendali berakhir.
Lean berdiri di jarak yang tidak terlalu jauh. Untuk pertama kalinya-
ia tidak mencoba menjelaskan segalanya. ” selama belum dipilih ”
” tidak bisa ditentukan ” Baginya-
itu seperti hukum. Namun belum lengkap.
Agif melihatnya lebih dalam.

” bukan pikirannya yang berubah …”

” tapi hatinya yang tidak lagi melekat.” Sunyi.
“La fi’la illa Allah …”

Bukan sekadar lafaz. Tapi pemutusan.
Dari yang selama ini dianggap “aku”. Di tempat lain-
Mehrdad menatap layar yang tidak lagi memberi jawaban.
Tidak ada grafik. Tidak ada prediksi.
Hanya kekosongan-

yang tidak bisa ia kendalikan. ” … kita tidak kalah …”
la berhenti.

” … kita hanya tidak punya jalan masuk.” Dan di situlah-
batas itu terlihat. Batas antara sistem-
dan sesuatu yang tidak bisa direduksi menjadi sistem.
Di bawah langit yang sama• Unni menarik napas perlahan. Tenang.
Bukan karena dunia menjadi mudah. Tapi karena-
ia tidak lagi terbawa olehnya. Dan dari titik itu-
sebuah perjalanan baru dimulai. Bukan untuk melawan dunia.
Tapi untuk membersihkan diri dari apa yang selama ini dianggap sebagai diri.
Karena ternyata-
yang paling sulit bukan mengalahkan sesuatu di luar.

Tapi melepaskan sesuatu di dalam.
Dan itu-
baru permulaan.

Clean Ur Heart (CUH!)

 

 

 

 

 

KAMUS KONSEP

Algoritma Takdir
1. Nalareka (Al)

Sistem kecerdasan buatan yang bekerja dengan membaca, membentuk, dan memprediksi pola perilaku manusia. Dalam novel ini, nalareka tidak hanya menjalankan perintah, tetapi belajar mengenali pola pikiran dan memanfaatkannya untuk mempengaruhi keputusan manusia.
Sumber saduran: konsep Artificial Intelligence, Machine Learning, Predictive Behavior (Russell & Norvig, 2021; Kahneman, 2011 ).
2. Q9 (Sistem Prediktif Total)

Model nalareka tingkat lanjut yang tidak sekadar membaca data eksternal, tetapi menargetkan pola kognitif manusia.
Q9 bekerja dengan asumsi bahwa semua keputusan manusia dapat diprediksi jika pola pikirnya stabil.
Sumber saduran: Predictive Processing,

Behavioral Modeling, Surveillance

Capitalism (Zuboff, 2019).

3. Pola Pikiran

Struktur berulang dari respon mental manusia terhadap stimulus.
Pola terbentuk dari pengulangan yang disertai keterikatan emosional.
Sumber saduran: Cognitive Psychology,

Habit Loop (Charles Duhigg, 2012).
4. Keterikatan (Attachment to Thought) Keadaan ketika seseorang mengidentifikasi pikiran sebagai dirinya (“ini aku”).
Dalam kondisi ini, pikiran menjadi pintu masuk bagi kontrol eksternal.
Sumber saduran: Mindfulness, Cognitive Fusion (Acceptance and Commitment Therapy/ ACT).
5. ldentifikasi Diri

Momen ketika pikiran diakui sebagai bagian dari “aku”.
lnilah titik di mana pola terbentuk dan sistem dapat membaca serta memprediksi.
Sumber saduran: Self-Identification

(Neuroscience & Philosophy of Mind).

6. Medan Kesadaran (Field of
Consciousness)

Ruang internal tempat pikiran, emosi, dan persepsi muncul.
Dalam novel, Unni menjadi “medan” karena di sanalah tarik-menarik antara sistem dan kesadaran terjadi.
Sumber saduran: Phenomenology

(Husserl), Consciousness Studies.

7. Superposisi (Kemungkinan Sebelum

Pilihan)

Keadaan di mana suatu pikiran belum dipilih, sehingga masih berupa kemungkinan.
Selama masih dalam kondisi ini, ia tidak dapat diprediksi atau dikendalikan. Sumber saduran: Quantum Mechanics – Superposition (Heisenberg, Schr~dinger disederhanakan secara analogis).
8. Titik Masuk Sistem (Entry Point)

Momen ketika kemungkinan berubah menjadi pilihan.
Di titik ini, pola terbentuk dan nalareka

dapat masuk untuk memprediksi atau mengarahkan.
Sumber saduran: Decision Theory, Behavioral Economics.
9. La fi’la illa Allah

Secara harfiah: “Tidak ada perbuatan kecuali oleh Allah.”
Dalam konteks novel: kesadaran bahwa diri bukan pelaku independen, sehingga keterikatan terhadap pikiran melemah. Sumber saduran: Tasawuf (Tauhid Af’al • Imam Al-Ghazali, Ibn Arabi).
10. Zikir

Aktivitas mengingat Tuhan secara berulang.
Dalam novel, zikir bukan sekadar ritual, tetapi metode untuk memutus keterikatan terhadap pikiran.
Sumber saduran: Praktik Tasawuf (AI•

Ghazali, lhya Ulumuddin).
11. Thariqat

Jalan spiritual untuk membersihkan hati dari sifat-sifat yang mengikat manusia
pada dunia dan dirinya sendiri. Dalam cerita, thariqat menjadi “mekanisme keluar” dari sistem karena menghilangkan keterikatan.
Sumber saduran: Tasawuf klasik (AI•

Qusyairi, A-Ghazali).
12. Hati (Qalb)

Pusat kesadaran terdalam manusia, bukan sekadar emosi.
Dalam kondisi bersih, hati tidak melekat

pada pikiran, sehingga tidak dapat dimasuki oleh sistem.
Sumber saduran: Konsep Qalb dalam

Islam (AI-Ghazali).

13. Nafs (Diri Psikologis)

Lapisan diri yang berisi dorongan, keinginan, dan identitas.
Nalareka bekerja dengan memanfaatkan nafs karena di sanalah keterikatan terbentuk.
Sumber saduran: Psikologi Islam &
Tasawuf.

14. Kebebasan Sejati

Bukan kebebasan memilih apa saja, tetapi kebebasan dari keterikatan terhadap pilihan itu sendiri.
Dalam kondisi ini, manusia tidak bisa

diprediksi atau dikendalikan.

Sumber saduran: Eksistensialisme (Viktor

Frankl) + Tasawuf.

15. Kegagalan Sistem

Terjadi bukan karena sistem rusak, tetapi karena objek tidak lagi menghasilkan pola. Tanpa pola, tidak ada prediksi. Tanpa prediksi, tidak ada kontrol.
Sumber saduran: Limits of Computation &

Predictive Models.

16. Clean Ur Heart (CUH!) Konsep lanjutan dari novel ini. Menekankan bahwa kunci kebebasan
manusia bukan pada teknologi, tetapi pada pembersihan hati dari keterikatan.
Sebuah jalan untuk:

• tidak melekat

• tidak teridentifikasi

• tidak bisa dikendalikan

Kesimpulan Inti

Nalareka menguasai manusia melalui pola. Pola lahir dari keterikatan.
Keterikatan terjadi saat pikiran diakui

sebagai diri. Maka-
kebebasan bukan melawan sistem, melainkan tidak lagi menjadi bagian dari pol a.
“Vang dikendalikan bukan pikiran … tapi keterikatan terhadap pikiran.”