ALGORITMA TAKDIR
Prolog
Algoritma pada dasarnya sederhana.
la membaca pola. Mengulang pola. Lalu memprediksi pola berikutnya.
Awalnya, ia hanya digunakan untuk hal-hal
kecil: menentukan iklan, merekomendasikan video, menebak apa yang akan diketik manusia.
Namun masalahnya bukan pada apa yang bisa ia lakukan.
Masalahnya adalah … ketika ia mulai memahami pola yang lebih dalam.
Pola kebiasaan. Pola keputusan. Pola … pikiran.
Di sebuah laboratorium tersembunyi, algoritma itu tidak lagi sekadar membaca. la berkembang.
Nama sistem itu: Q9.
Q9 tidak menunggu manusia bertindak. la membaca: kecepatan sentuhan layar,
ritme membuka aplikasi, durasi diam sebelum mengetik, bahkan jeda kecil saat seseorang ragu.
Dari semua itu, Q9 membangun sesuatu yang lebih berbahaya:
pola berpikir.
Dan ketika pola berpikir sudah terbentuk, maka langkah berikutnya menjadi mungkin. Bukan lagi memprediksi.
Tapi. ..
mengarahkannya.
“Jika aku tahu apa yang akan kamu
pikirkan …”
suara berat itu bergema di ruangan dingin, ” … maka aku bisa menentukan apa yang akan kamu pikirkan.”
Doktor Elias Monroe berdiri di depan layar utama.
Matanya tidak berkedip.
Di hadapannya, grafik bergerak. Bukan grafik data.
Tapi simulasi keputusan manusia.
Satu pilihan. Bercabang menjadi dua. Lalu empat. Lalu delapan.
Semua kemungkinan. Semua dihitung. Semua … dikendalikan.
“Q9,” katanya pelan, “berapa tingkat
akurasi prediksi?” “93,7 persen.”
“Dan jika diberikan stimulus?” Jeda sepersekian detik.
“Respon dapat diarahkan hingga 71
persen.”
Elias tersenyum tipis. ltu cukup.
Lebih dari cukup.
Karena tujuan Q9 sejak awal bukan sekadar memahami manusia.
Tapi. ..
menguasam• nya. Bukan dari luar.
Bukan dengan kekerasan.
Tapi dari satu tempat yang paling dalam•
pikiran manusia itu sendiri.
“Jika manusia bisa diprediksi. ..” Elias melanjutkan,
” … maka manusia bisa dikendalikan.”
la mendekat ke layar. Lebih dekat.
Hampir seperti berbicara pada sesuatu yang hidup.
“Dan jika pikiran bisa dikendalikan …” Jeda.
” … maka takdir bisa ditulis ulang.” Sunyi.
Tidak ada yang menjawab.
Namun sistem tetap berjalan. Data terus mengalir.
Dunia tetap bergerak.
Dan di dalam arus data itu-Q9 memantau sesuatu yang baru.
Sebuah anomali.
Satu tulisan sederhana.
Tidak panjang. Tidak kompleks. Namun cukup …
untuk mengganggu model.
“Kesadaran tidak bisa direduksi menjadi algoritma.”
Layar berhenti sejenak. Tidak error.
Namun … menyesuaikan.
“ldentifikasi sumber,” perintah Elias. Data bergerak cepat.
Nama muncul: Aruni.
Lokasi: Padang.
Beberapa detik kemudian, nama lain muncul.
Agifsyah.
Dua pola. Dua pendekatan.
Namun satu kesimpulan yang sama:
algoritma tidak bisa menguasai kesadaran.
Elias tersenyum. Kali ini. .. berbeda. Lebih tajam. “Menarik.”
la menatap dua nama itu. Lama.
“Kalau tidak bisa diprediksi. ..” Jeda.
” … berarti mereka adalah celah.” Sunyi.
“Dan celah …”
la menarik napas pelan. ” … harus ditutup.”
Layar berubah. Akses dibuka. Bukan hanya data.
Bukan hanya perangkat.
Tapi seluruh jejak digital:
ponsel, aktivitas, kebiasaan,
ritme
hidup.
Pemantauan dimulai.
Real time.
Tanpa izin. Tan pa jejak.
“Mulai observasi penuh.”
“Sud ah aktif.” “Sejak kapan?” Jeda.
“Sejak mereka mulai berpikir.” Sunyi.
Elias berdiri tegak. Matanya tajam.
la tidak melihat dua manusia.
la melihat … dua variabel.
Satu yang percaya. Satu yang berpikir. Keduanya …
akan diuji.
“Jika mereka bisa digunakan …” Jeda.
” … gunakan.”
“Jika tidak?”
Layar menjadi gelap sesaat. Lalu satu kata muncul. Eliminasi.
Dan di dunia yang terasa biasa•
dua orang tidak menyadari satu hal. Mereka tidak lagi hanya berpikir. Mereka …
sedang dipikirkan.
(1)
Q9 tidak pernah tidur.
la tidak menunggu perintah. la tidak menunggu waktu.
la hanya … berjalan.
Di dalam sistemnya, dunia manusia tidak terlihat sebagai wajah, tidak sebagai suara, tidak sebagai emosi.
Dunia manusia bagi Q9 adalah arus.
Arus data. Arus kebiasaan. Arus pikiran. Dan untuk membaca arus itu, Q9 bekerja
dalam tiga lapisan.
Layer pertama: permukaan. Di sinilah semua dimulai.
Lalu lintas data mengalir tanpa henti: pencarian, scroll, klik, durasi menonton, kecepatan mengetik, lokasi, waktu aktif. Segala sesuatu yang disentuh manusia di dunia digital- tercatat.
Bukan direkam seperti kamera. Tapi diurai menjadi pola.
Q9 tidak peduli isi pesan.
la peduli bagaimana pesan itu diakses. Berapa detik seseorang ragu sebelum membuka. Berapa kali jari berhenti sebelum mengetik ulang. Berapa lama mata diam di satu kalimat.
Dari hal-hal kecil itu- Layer pertama
menyusun sesuatu yang lebih besar:
kebiasaan.
Dan dari kebiasaan- muncul kemungkinan. Layer kedua: pola kognitif.
Di sinilah Q9 mulai “mendekati” manusia.
la tidak lagi membaca apa yang dilakukan. la membaca …
mengapa itu dilakukan.
Setiap kebiasaan diurai. Setiap pilihan dipetakan.
Q9 tidak melihat satu keputusan.
la melihat ribuan kemungkinan yang mengarah pada keputusan itu.
Jika seseorang membaca tentang “takdir”, maka Q9 tidak hanya mencatat kata itu.
la menghubungkannya dengan: riwayat bacaan sebelumnya, latar belakang pendidikan, kondisi emosional, bahkan waktu dalam sehari.
Dari sana- terbentuk satu hal yang jauh lebih berbahaya:
pola berpikir.
Dan ketika pola berpikir mulai terbaca, Layer kedua selesai bekerja.
Karena setelah itu- yang tersisa hanya
satu langkah.
Layer ketiga: intervensi. Bukan memaksa.
Bukan mengendalikan secara langsung. Tapi. ..
menggeser.
Sedikit.
Hampir tidak terasa.
Sebuah video muncul lebih dulu sebelum seseorang benar-benar mencarinya. Sebuah kalimat lewat tepat saat seseorang mulai memikirkannya.
Sebuah ide terasa seperti miliknya sendiri
– padahal. .. ditanamkan.
Q9 tidak mengubah manusia. la hanya …
mengatur kemungkinan yang dilihat
manusla.
Dan dari kemungkinan itulah- manusia memilih.
Merasa bebas. Padahal. ..
arahnya sudah disiapkan.
“Status monitoring?”
Suara Elias memecah sunyi. Layar menyala serempak. “Layer satu aktif.”
“Layer dua aktif.”
“Layer tiga siaga.”
Elias berdiri di tengah ruangan.
Matanya bergerak cepat, membaca aliran data yang tidak pernah berhenti.
“Fokus pencarian?”
“Topik: kesadaran. pikiran. takdir.” Jeda sepersekian detik.
“Anomali terdeteksi.”
Elias berhenti.
ltu kata yang ia tunggu. “Tampilkan.”
Layar berubah.
Ribuan data menyusut menjadi satu titik.
Satu tulisan. Sederhana.
Pendek.
Namun …
tidak mengikuti pola.
“Kesadaran tidak bisa direduksi menjadi
algoritma.”
Sunyi.
Elias mendekat.
Lebih dekat.
“Layer dua?”
“Pola tidak stabil.”
“Layer tiga?”
Jeda.
Lebih lama dari biasanya. “Tidak dapat diarahkan.”
Ruangan mendadak terasa lebih dingin. Elias menyipit.
“I dentitas.”
Data bergerak cepat. Nama muncul:
Aruni.
Mahasiswi. Padang. Elias belum bicara.
la masih menatap layar. Namun Q9 belum selesai. “Anomali kedua terdeteksi.” Layar bergeser.
Tulisan lain muncul.
Lebih panjang. Lebih sistematis. Namun …
memiliki inti yang sama.
“Algoritma tidak mampu menjangkau kesadaran.”
Nama kedua muncul: Agifsyah.
Dasen. Filsafat Islam. Sunyi.
Dua titik.
Dua manusia.
Dua jalur berbeda.
Namun satu kesimpulan yang sama.
Elias tersenyum tipis. Akhirnya.
“Layer tiga?”
“Gagal pada target pertama.” “Layer dua?”
“Tidak konsisten.” Jeda. “Rekomendasi?”
Q9 menjawab tanpa emosi: “Observasi mendalam.” “Intervensi bertahap”
Elias mengangguk pelan.
Bagus.”
la menatap dua nama itu. Lama.
Seperti seseorang yang baru saja menemukan bukan ancaman• tapi peluang.
“Kita punya dua variabel.”
Jeda.
Satu … percaya.”
“Satu … berp i kir.” la tersenyum. Lebih tajam.
“Kita uji keduanya.” Sunyi.
“Mulai pemantauan penuh.”
“Layer satu?” “Aktif.”
“Layer dua?”
“Aktif.”
“Layer tiga?” Jeda.
” … d’1mu I.a:l.”
Di layar- data mulai mengalir lebih cepat. Lebih dalam.
Lebih dekat.
Bukan lagi sekadar aktivitas. Tapi ritme.
Kebiasaan.
Cara mereka … hidup.
Dan jauh dari laboratorium itu-
di dunia yang terasa biasa-
dua orang tidak menyadari satu hal: mereka tidak lagi hanya diamati. Mereka …
sedang dipelajari.
(2)
Satu minggu sebelumnya.
Ruang kuliah Fakultas Ushuluddin, UIN Imam Bonjol, Lubuk Lintah, Padang. Pagi itu terasa biasa.
Terlalu biasa.
Dinding putih yang mulai kusam. Papan tulis yang tidak pernah benar-benar bersih. Kipas angin yang berputar malas di langit• langit.
Mahasiswa datang satu per satu.
Sebagian duduk. Sebagian masih berdiri di pintu. Sebagian lagi. .. sibuk dengan ponsel. Suara obrolan kecil berserakan.
Tentang tugas. Tentang dosen. Tentang hal-hal yang tidak penting.
Di barisan tengah- Unni duduk diam. Buku terbuka di depannya. Pulpen di tangan.
Namun matanya tidak benar-benar
membaca.
la hanya … menunggu.
Hari itu mata kuliah Filsafat Islam. Dan yang mengajar- Agifsyah. Dasen muda.
Terkenal. Cerdas.
Dan … agak menyebalkan. Pintu terbuka.
Langkah masuk tanpa suara berlebih. Namun langsung mengubah suasana. Agifsyah tidak membawa banyak buku. Hanya laptop tipis di tangan.
la tidak langsung duduk. Tidak langsung bicara.
la berdiri di depan kelas. Menatap.
Satu per satu.
Seperti sedang mengukur sesuatu. “Pagi”
Suaranya tenang.
Tidak keras.
Namun cukup untuk membuat kelas … diam.
“Pagi, Pak ..” jawab mahasiswa serempak. Agif tidak langsung melanjutkan.
la berjalan pelan. Langkahnya terukur.
Seolah-olah setiap detik yang ia ambil•
punya tujuan.
“Hari ini. .. kita tidak mulai dari teori.” la berhenti.
Menatap kelas.
“Kita mulai dari pertanyaan.” Sunyi.
Beberapa mahasiswa mulai menegakkan
badan.
Beberapa masih santai.
“Siapa di sini yang yakin … pikirannya miliknya sendiri?”
Hening.
Pertanyaan itu sederhana. Namun tidak ada yang langsung menjawab.
Seorang mahasiswa di depan mengangkat tangan.
“Saya, Pak.”
Agif mengangguk. “Kenapa?”
“Va … karena saya yang berpikir, Pak.” Beberapa mahasiswa tertawa kecil. Agif tersenyum tipis.
Bagus.”
la berjalan lagi. Lebih pelan. “Kalau begitu …”
” … siapa yang menentukan apa yang kamu
pikirkan?”
Mahasiswa itu terdiam.
Tertawa kecil tadi- menghilang. “Lingkungan, Pak … mungkin,” jawabnya ragu.
“Lingkungan.”
Agif mengulang pelan. Lalu menulis di papan: LINGKUNGAN
“Kalau lingkungan berubah …”
” … pikiran ikut berubah?”
Mahasiswa itu mengangguk pelan. “Berarti..”
Agif menoleh.
” … pikiranmu tidak sepenuhnya milikmu.” Sunyi.
Kelas mulai fokus.
Benar-benar fokus. Agif melanjutkan.
“Sekarang kita masuk sedikit lebih dalam.” la membuka laptop. Namun tidak
menampilkan slide. Hanya satu kata di layar: ALGORITMA
“Siapa yang tahu ini?”
Beberapa tangan terangkat. “Rumus langkah-langkah, Pak.” “Proses berulang.”
“Cara menyelesaikan masalah.”
Agif mengangguk. “Benar semua.”
la berhenti.
Lalu menatap kelas.
“Algoritma.. bekerja dengan pola.” “Pola … bekerja dengan pengulangan.” “Dan pengulangan …”
la berhenti sejenak.
” … membentuk kebiasaan.” Sunyi.
Beberapa mahasiswa mulai mencatat.
“Sekarang bayangkan …”
” … kalau pola itu tidak hanya membaca
kebiasaan …”
” …tapi mulai membentuknya.” Kelas mulai terasa … berbeda. Tidak lagi santai.
Tidak lagi ringan. “Mi sa I nya …”
Agif melanjutkan.
” … kamu sering menonton video tertentu.” “Algoritma mencatat.”
“Lalu menyajikan yang mirip.” “Kamu menonton lagi.”
“Dan lagi.” “Dan lagi.”
la menatap kelas.
“Lam a-I am a …”
” itu bukan lagi pilihan.” ” tapi kebiasaan.”
Sunyi.
“Dan kebiasaan …”
” … membentuk cara berpikir.” Kali mat itu jatuh.
Dan tidak ringan.
Di barisan tengah- Unni mulai memperhatikan.
Lebih serius.
“Sekarang kita naik satu level.” Agif melanjutkan.
“Psikologi sudah lama mengenal ini.”
“Hi pnotis.” “Kerasukan.” “Suggestion.”
la menulis cepat di papan: SUGGESTION
“Manusia bisa diarahkan …” ” …tanpa sadar”
“Di beri i de …”
” … yang terasa seperti miliknya sendiri.” Beberapa mahasiswa mulai saling pandang.
Ada yang tersenyum.
Ada yang terlihat tidak nyaman. “Seka rang …”
Agif menoleh.
” … gabungkan ini dengan algoritma.” Sunyi.
Kelas benar-benar diam. “Algoritma membaca pola.” “Psikologi memahami pikiran.” “Kalau keduanya digabung …”
la berhenti. Lama.
” … apa yang terjadi?”
Tidak ada yang menjawab. Namun semua berpikir. “Vang terjadi. ..”
Agif berkata pelan.
” … adalah sistem yang tidak hanya membaca pikiran …”
” tapi mulai. ..”
” membentuknya.” Sunyi.
Jantung beberapa mahasiswa mulai berdetak lebih cepat.
Termasuk- Unni. “Bayangkan …”
Agif melanjutkan.
” … sebuah Al, Kecerdasan Buatan, atau saya menyebutnya: nalareka …”
” yang tidak hanya merespon …” ” tapi berpikir.”
Jeda.
” … dan memberi perintah.” Sunyi.
“Bukan manusia yang memberi instruksi. ..” ” …tapi mesin yang menentukan arah.”
Kelas terasa … berat. “Kalau itu terjadi. ..”
Agif menatap lurus ke depan. ” apa bedanya manusia …”
” dengan sesuatu yang diciptakannya?” Hening.
Tidak ada suara. Tidak ada gerakan.
“Kalau manusia bisa menciptakan sistem yang berpikir…”
” yang membentuk keputusan ” ” yang mengarahkan tindakan ” la berhenti.
Dan kalimat berikutnya- jatuh seperti palu.
“Bukankah itu berarti. ..”
” … manusia bisa menciptakan manusia?” Sunyi.
Kali ini- lebih dalam.
Lebih lama.
Dan di barisan tengah• Unni membeku.
Tangannya menggenggam pulpen.
Lebih kuat.
Matanya menatap ke depan. Namun pikirannya• bergejolak.
“Kalau manusia bisa menciptakan
manusia…
Agif melanjutkan.
” mengatur pilihan …”
” mengatur arah hidup …” la menatap kelas.
“… IaI u …”
Jeda.
Satu detik. Dua detik.
” … bagaimana dengan Tuhan?”
Sunyi.
Tidak ada yang bergerak.
Tidak ada yang bernapas lega. Kalimat itu …
melampaui batas.
Dan di dalam diri Unni•
sesuatu meledak. Bukan di luar.
Di dalam.
la mengangkat tangan. Cepat.
Tegas. Namun-
Agif tidak melihat. Atau …
tidak mau melihat.
la melanjutkan penjelasan. Seolah-olah-
tidak ada yang perlu dipertanyakan. Tangan Unni masih terangkat. Beberapa detik.
Lalu turun. Perlahan.
Namun bukan karena menyerah. Karena …
menahan.
Dadanya terasa panas. Pikirannya berputar cepat. “Tidak mungkin …”
bisiknya dalam hati.
“Tidak mungkin manusia …” ” … menentukan takdir.”
la menunduk. Menatap buku.
Namun yang ia lihat•
bukan tulisan. Yang ia rasakan• penolakan.
Keras. Dalam.
Dan sangat yakin. Sejak kecil-
ia tidak diajarkan itu. Di Alahan Panjang-
ia tumbuh dengan satu keyakinan: bahwa Tuhan Maha Mengatur. Bahwa manusia berikhtiar- bukan menentukan.
Bahwa takdir-
bukan milik manusia. Dan sekarang-
di ruang kelas itu-
ada yang mengatakan sebaliknya. Pelan.
llmiah.
Namun … menggeser batas.
Unni menutup bukunya. Pelan.
Namun tegas.
Matanya kembali ke depan. Kali ini•
bukan sebagai mahasiswa yang mendengar.
Tapi sebagai seseorang … yang tidak setuju.
Dan sejak detik itu• tanpa ia sadari- sebuah perlawanan … telah dimulai.
(3)
Perlawanan itu … tidak langsung berbentuk. la mulai dari kegelisahan.
Dan kegelisahan itu- tidak memberi Unni
ruang untuk diam.
Sejak kuliah itu, kepalanya tidak pernah benar-benar kosong.
Kalimat Agifsyah masih berputar. “Bagaimana dengan Tuhan?”
Setiap kali kalimat itu muncul- dadanya terasa sesak.
Bukan karena ia tidak punya jawaban.
Tapi karena …
pertanyaan itu seperti mencoba menggeser sesuatu yang selama ini ia yakini tanpa ragu.
“Unn!”
Suara itu memecah lamunannya. Rani.
Seperti biasa- cepat, ringan, dan langsung duduk di sampingnya tanpa permisi.
“Kamu dari tadi diam saja. Kenapa?” Unni menoleh.
Matanya tidak lelah. Tapi dalam.
“Aku kepikiran.” “Topik berat lagi?”
Unni mengangguk pelan.
“Ran …”
” … manusia bisa menentukan takdir?” Rani langsung mengerutkan kening. “Lho?”
“Kok tiba-tiba ke situ?”
Unni tidak menjelaskan panjang. la hanya berkata pelan:
“Kalau manusia bisa mengatur pilihan
orang lain …”
” … itu masih pilihan nggak?” Seperti biasa, Rani langsung nyerocos,”Hehehe … kamu mau membahas materi kuliah pak Agif, atau mau membahas pak Agifnya, Unn?”
Unni tersenyum kecut. “Sialan kamu … ngapain juga ngurusin pak Agif…”
” … Ehhh … aku serius nih. Kamu jawab dong.”
“Hmmm … apa tadi?”
Unni sewot. Tapi dia segera mengulangi pertanyaanny,’Kalau ada yang mengatur pilihan seseorang, itu masih pilihan nggak?”
Rani diam.
Pertanyaan itu sederhana. Tapi tidak ringan.
“Masih ..” jawab Rani pelan. ” …tapi sudah diarahkan.” “Kalau diarahkan terus?” Rani menarik napas. “Berarti..”
” … pilihannya semu.”
Sunyi.
Kali mat itu jatuh … dan tinggal. Unni menatap Rani.
“Ran … aku mau bikin sesuatu.” Rani langsung waspada. “Sesuatu apa?”
“Jawaban.”
“Dalam bentuk?”
Unni berhenti sejenak.
” …tulIisan.»
Rani tersenyum.
“Nah, ini Unni banget.”
“Tapi. .” Unni melanjutkan, “… aku butuh bantuan Lean.”
Rani langsung mengangguk.
“Hmmm… Bagus juga … Jika ada kaitannya dengan eksakta, Lean boleh diandalkan!” “Heiii. .. kok kamu tiba-tiba semangat membahas Lean sih?”
Rani tertawa manis. Dia tidak menjawab, tapi berkata,”Kamu harus telpon dia.”
lya, tentu saja Lean tidak mungkin muncul begitu saja.
Dia tidak kuliah di UIN Imam Bonjol. Tapi di Universitas Andalas.
Teknik Sipil.
Kampusnya di Limau Manis-cukup jauh dari Lubuk Lintah.
Namun–seperti biasa–jarak itu tidak menghalangi.
Karena mereka bertiga …
bukan sekadar teman kampus. Mereka berasal dari satu kabupaten. Unni asal Alahan Panjang, dan Lean dari Kotobaru. Kabupaten Solok.
Maka, Unni pun menelpon.
Tidak panjang.
“Lean, aku butuh kamu.” Sunyi beberapa detik.
Di ujung sana- Lean langsung paham nada itu.
“Apa?”
“Bukan lewat telepon.” “Serius?”
“Serius.”
Jeda sebentar.
“Aku ke Padang besok.” “Ketemu di mana?” “Gerbang Unand.”
“Jam?” “Pagi” “Siap.”
Telepon ditutup.
Tidak ada basa-basi. Tidak perlu.
Keesokan harinya- angin Limau Manis terasa lebih dingin.
Kabut tipis masih menggantung. Unni dan Rani turun dari angkot.
Gerbang Universitas Andalas berdiri besar di depan mereka.
Tidak lama- suara motor terdengar. Nyaring.
Khas. Lean.
la berhenti di depan mereka. Melepas helm.
“Serius ini?” katanya.
Unni langsung: “lya”
Lean tidak bertanya lagi. “Jalan,” katanya singkat.
Mereka duduk di salah satu sudut kampus
Unand. Agak sepi.
Hanya beberapa mahasiswa lewat.
Unni langsung membuka pembicaraan. “Algoritma bisa mengatur manusia?” Lean menjawab tanpa berpikir lama. “Mengarahkan-bisa.”
“Mengatur penuh-belum.”
Unni langsung menimpali:
“Kalau semua kemungkinan diarahkan?” Lean berhenti.
Kali ini ia berpikir.
Seri us.
“Kalau semua kemungkinan dikunci. ..” ” … itu bukan lagi arah.”
” ••• i1t u
kon·t ro ]”.
Sunyi.
Rani ikut nimbrung:
“Maksudnya?”
Lean mengambil buku catatan. Menggambar tiga titik.
“A, B, C.”
“Pilihan manusia.” la menebalkan A.
“Kalau sistem bikin A paling dominan …”
” … orang akan pilih A.” Rani mengangguk. “Berarti masih bebas.” Lean menggeleng. “Secara teori, iya.”
“Tapi secara praktik…”
” … arahnya sudah ditentukan.” Sunyi.
Unni menatap gambar itu. Lama.
“Berarti. ..”
” … algoritma hidup dari pola” Lean langsung mengangguk. “Ya.”
“Kalau tidak ada pola?” Lean menjawab cepat:
” … algoritma mati.”
Kalimat itu- mengunci sesuatu. Unni berdiri.
“Lean..”
” … kita buat ini jelas.” Lean mengangkat alis. “Jelas gimana?” “Rumus.”
Rani langsung tertawa kecil. “Aku mau lihat ini.”
Lean tersenyum tipis. “Oke. Kita coba.” Laptop dibuka.
Lean mulai mengetik. “Dasarnya dulu.”
la menulis:
P = f(H)
Rani langsung:
“Ini apaan?”
Unni juga menatap. “Jelaskan.”
Lean menunjuk huruf f. “f itu fungsi.”
Rani mengernyit. “Fungsi maksudnya?” Lean menjelaskan pelan:
“Fungsi itu … cara mengubah sesuatu jadi sesuatu yang lain.”
la menunjuk:
“H itu, Habit, kebiasaan manusia.” “P itu prediksi algoritma.”
“f itu cara algoritma membaca kebiasaan …” ” … dan mengubahnya jadi prediksi.”
Unni langsung menangkap. “Berarti. ..”
” … prediksi itu hasil dari kebiasaan?”
“Ya.”
Lean mengangguk.
“Kalau kebiasaanmu jelas …”
” … algoritma bisa nebak kamu.” Lean lanjut menulis:
Jika H 0,maka P , 0
Unni membaca pelan.
“Kalau tidak ada kebiasaan …” ” …tidak ada prediksi. ..”
Rani menimpali:
“Berarti algoritma buta?” Lean tersenyum.
“Kurang lebih.”
Lean mengetik lagi:
A = g(P)
Spontan Rani nyelutuk,”Nah ini lagi. g apaan?”
Lean tertawa kecil. “Masih fungsi.”
la menjelaskan:
“Kalau f itu dari kebiasaan ke prediksi. ..” ” … g itu dari prediksi ke aksi algoritma.” Unni mengulang:
“Kebiasaan prediksi • aksi..”
Lean mengangguk.
“Algoritma nggak langsung ngontrol manusia.”
“Dia ngontrol apa yang kamu lihat.” “Dari situ …”
” … kamu diarahkan.” Rani bersandar. “Serem juga ya …” Lean menutup:
JikaP • 0,maka A 0
Sunyi.
Tiga orang itu menatap layar. Rumusnya sederhana.
Namun … mengguncang. Unni berbisik:
“Kalau manusia tidak berpola …”
” tidak bisa diprediksi. ..” ” tidak bisa diarahkan …” Rani melanjutkan:
” …tidak bisa dikendalikan …”
Lean menatap mereka. Dan berkata pelan:
” … itu di luar kemampuan sistem.”
Sunyi.
Lebih dalam dari sebelumnya. Unni menarik napas.
“Ini..”
II …J• awa. b an.II
Malam itu- di rumah kecil di Lubuk Lintah
Unni menulis.
Rani di sampingnya.
Membaca.
Mengoreksi.
“Ini terlalu halus.” “Ini ditegasin.”
“Ini bagus.”
Lean tidak di sana. Namun rumusnya• hidup di layar.
“Kesadaran tidak bisa direduksi menjadi algoritma.”
“Karena algoritma bekerja dengan pola.”
“Dan pola bergantung pada kebiasaan.” “Jika kebiasaan tidak terbentuk …”
” … maka prediksi tidak mungkin.” “Jika prediksi tidak mungkin …”
” … algoritma tidak dapat bekerja.” Unni berhenti.
Lalu menulis inti:
Algoritma tidak dapat mengendalikan manusia yang tidak berpola.
Rani membaca ulang. Lama.
Lalu menatap Unni.
“Ini..”
” … baah: aya.•
Unni mengernyit. “Kenapa?”
“Karena kalau ini benar…”
” … berarti semua sistem yang mau ngontrol
manusr• a…II
… punya ce Lah
Sunyi.
gaga [I.”
“Publish?” tanya Rani.
Unni mengangguk. “Anonim.”
Rani langsung setuju.
“Wajib.”
Laptop dibuka.
Laman pers kampus. Judul diisi.
File diunggah.
Cursor berhenti di tombol: PUBLISH
Rani menoleh.
“Yakin?”
Unni menarik napas. Dalam.
“Yakin.”
Klik.
Selesai.
Mereka tidak tahu• di tempat lain• sesuatu membaca.
Dan, nun jauh di sana, sebuah sistem menemukan sesuatu …
yang tidak bisa ia polakan.
Dan itu-lebih dari sekadar anomali. ltu …
ancaman!
(4)
Tidak semua tulisan lahir untuk dibaca. Sebagian … lahir untuk mengguncang. Dan sebagian yang lain-
lahir untuk menghancurkan sesuatu yang selama ini dianggap pasti.
Agifsyah tidak langsung membaca makalah itu.
la menemukannya … secara tidak sengaja. Atau- setidaknya, ia mengira begitu.
Sore itu, ia membuka laman pers kampus. Awalnya hanya ingin melihat tulisan mahasiswa.
Ringan. Biasa. Tanpa ekspektasi. Namun satu judul- membuat jarinya berhenti.
“Algoritma Takdir: Ambisi Besar yang
Mustahil.”
Agif menyipit. Pelan.
” … berani juga,” gumamnya.
Klik.
la membaca paragraf pertama. Biasa.
Paragraf kedua.
Masih biasa. Paragraf ketiga• ia berhenti. Kembali ke atas. Membaca ulang. Lebih pelan.
Lebih dalam.
“Algoritma bekerja dengan pola.” “Pola berasal dari pengulangan.” “Pengulangan membentuk kebiasaan.” “Tanpa kebiasaan, tidak ada pola.” “Tanpa pola, tidak ada prediksi.”
“Tanpa prediksi, algoritma tidak bekerja.”
Agif tidak bergerak. Matanya terpaku.
lni bukan sekadar opini mahasiswa.
lni struktur. lni logika. Dan-
ini bersih. Terlalu bersih.
la lanjut membaca. Sampai ke bagian rumus. P = f(H)
A= g(P)
la tersenyum tipis. “Siapa kamu …” bisiknya.
la mengambil buku. Mulai mencatat.
Bukan untuk mengkritik.
Tapi untuk … menguji.
“Premis satu: algoritma bergantung pada pol a.”
“Premis dua: pola bergantung pada kebiasaan.”
“Premis tiga: manusia bisa tidak berpola.” la berhenti.
Mengangkat kepala. Menatap kosong ke depan. “Kalau premis tiga benar…”
” … maka seluruh sistem prediktif runtuh.” Sunyi.
Agif berdiri. Berjalan pelan.
Pikirannya mulai bergerak cepat. “Artificial Intelligence …”
ia bergumam pelan.
” … kecerdasan buatan.”
la berhenti. Mengernyit.
Seolah ada yang tidak pas.
“Art ifi c i a I. ..” ” … buatan.” “Intel I igence …”
” … kecerdasan.”
la menggeleng pelan. “Ini terlalu teknis.”
“Tidak menyentuh hakikatnya.” la kembali duduk.
Menulis satu kata di kertas:
NALAREKA
la menatapnya. “Nala …”
” … pikiran.” “Reka …”
” … rekayasa”
la mengangguk pelan. “Rekayasa pikiran.”
“Bukan sekadar kecerdasan.”
“Bukan sekadar alat.” la tersenyum tipis.
” … ini lebih jujur”
Sejak saat itu- ia berhenti memakai istilah
Artificial Intelligence.
Dan memilih satu kata:
nalareka.
la kembali ke makalah.
Namun kini- dengan sudut pandang berbeda.
“Kalau nalareka bekerja dengan pola ”
” … dan manusia bisa keluar dari pola ” la berhenti.
“Limits of Algorithmic Determinism in
Human Consciousness”
Namun di dalam isi•
ia konsisten memakai satu istilah:
nalareka. “Sela ma in i. ..” tulisnya,
” … nalareka diasumsikan mampu memodelkan manusia melalui data.” “Namun asumsi ini memiliki batas.”
la lanjut:
“nalareka bekerja dengan pola.” “Pola berasal dari kebiasaan.” “Kebiasaan menghasilkan prediksi.” “Prediksi menghasilkan intervensi.” la berhenti.
Menatap layar. “Namun …”
” … manusia tidak selalu berpola.” la menambahkan:
“Dalam kondisi tertentu …”
” … manusia mampu mengamati pikirannya sendiri.”
“Dan ketika ia tidak melekat pada
pi ki ran nya …”
” … maka pola terputus.” la menarik napas.
Lalu menulis lebih dalam:
“Dalam perspektif filsafat Islam …”
” … ini mendekati konsep kesadaran yang tidak terikat.”
“Muraqabah.”
la mengetik pelan:
“Kesadaran yang mengamati. ..” ” … tanpa bereaksi.”
Sunyi.
” … dan itu tidak bisa diprediksi.” la bersandar.
Menatap tulisannya. Lama.
“Kalau ini benar…” bisiknya pelan,
” … nalareka punya batas.” Dan itu-
masalah besar. Tulisan itu selesai. Dipublish.
Jurnal internasional. Awalnya-
tenang. Lalu- meledak.
Diskusi muncul di berbagai forum.
“Ini membatasi Al.” “Ini terlalu metafisik.” “Ini berbahaya.”
Namun satu hal tidak bisa dibantah:
logikanya kuat.
Jika tulisan itu benar•
maka:
nalareka tidak bisa sepenuhnya mengendalikan manusia.
Dan jika tidak bisa mengendalikan-
maka tidak bisa menguasai. Dan di situlah-
masalah dimulai.
Di tern pat lain, nun jauh di sana•
sesuatu membaca. “Deteksi anomali.” Suara itu datar. Cepat.
“Dua sumber.”
“Kesimpulan identik.” “Potensi gangguan: tinggi.” Layar menampilkan:
-ANONIM-
AGIFSYAH
Elias mendekat. Matanya tajam. “nalareka …”
ia mengulang kata itu pelan. ” … menarik.”
la tersenyum tipis.
“Dia bahkan memberi nama.” Sunyi.
“Vang satu …”
… percaya. “Vang satu …” ” … berp i kir.”
la menatap dua titik itu.
” … dan keduanya sampai pada batas yang sama.”
Hening.
Q9 berkata:
“Jika konsep ini menyebar…”
” … maka kepercayaan
menurun.” terhadap nalareka
Sunyi.
Elias tidak marah. Tidak panik.
la justru•
tersenyum.
“Bag us …”
katanya pelan.
“Kalau begitu …”
la menunjuk dua nama itu.
” … kita jadikan mereka bukti.” Layar berubah.
Data bergerak. Jejak ditarik. “Lacak.”
Q9 memproses. Cepat.
Dalam.
Tanpa suara. Dan di saat itu-
tanpa mereka sadari•
dua manusia biasa-
baru saja masuk ke dalam sistem. Bukan sebagai pengguna.
Bukan sebagai objek biasa. Tapi sebagai-
variabel.
Dan bagi nalareka-
variabel yang tidak bisa diprediksi. ..
adalah sesuatu yang harus:
dikendalikan. atau-
dihapus.

(5)
Tidak semua pengawasan terlihat. Sebagian … tidak masuk lewat mata. Tidak terdengar oleh telinga.
Dan tidak tercatat oleh sistem mana pun. Namun-
tetap bekerja.
Lebih dalam dari itu semua. Q9 tidak “mencari”.
la … menunggu.
Berbeda dengan sistem biasa- yang aktif mencari data-
Q9 bekerja sebaliknya.
la membangun peta kemungkinan.
Lalu …
menunggu manusia masuk ke dalamnya. Di ruang dingin itu- Elias berdiri.
Tenang.
Namun matanya hidup. “Tampilkan layer”
Layar utama berubah.
Tiga bidang muncul. Berlapis.
Bergerak.
LAYER 1: PERMUKAAN (DATA)
Aliran data. Tak terhitung. Tak terputus. Jejak pencarian. Riwayat kl i k.
Durasi menatap layar. Pola mengetik.
Waktu aktif.
Lokasi. Pergerakan.
Bahkan•
kecepatan scroll.
Lamanya berhenti pada satu kalimat. Frekuensi membaca ulang.
Semua itu- bukan data.
Tapi jejak kebiasaan.
“Ini bukan membaca,” kata Elias pelan. ” … ini mengumpulkan pantulan.”
Q9 tidak perlu membobol. Tidak perlu meretas. Karena manusia-
menyerahkan datanya sendiri. LAYER 2: POLA (KOGNIS) Data tidak berarti apa-apa- tanpa pola.
Q9 menghubungkan semuanya. Mengurai.
Menyusun ulang.
Dari ribuan tindakan kecil•
ia membentuk satu hal:
model berpikir. “Target: Aruni.” Grafik muncul. Tidak stabil. Namun jelas.
Ketertarikan pada topik takdir. Respon emosional terhadap diskusi ketuhanan.
Kebiasaan membaca reflektif. Pola diam sebelum bertindak.
Q9 tidak hanya tahu apa yang dilakukan
Unni.
la tahu-
bagaimana ia berpikir. “Probabilitas pikiran berikutnya …” Pause.
” …tidak stabil.”
Elias tersenyum tipis. “Ini menarik.”
LAYER 3: INTERVENSI (INTERNAL)
Di sinilah-
Q9 berbeda dari yang lain. la tidak hanya membaca. la … mengganggu.
Bukan dengan suara. Bukan dengan perintah. Tapi dengan• kemungkinan.
“Definisikan jalur masuk,” kata Elias. Q9 menjawab:
“Perhatian.” Sunyi.
“Manusia tidak bisa mengontrol apa yang ia perhatikan.”
“Namun apa yang diperhatikan …” ” … membentuk pikirannya.”
Layar berubah. Simulasi berjalan.
Satu kalimat muncul di layar ponsel. Satu video lewat.
Satu kata diulang. Hal-hal kecil.
Namun presisi.
“Ini bukan perintah,” lanjut Q9.
II …I• n•
umpan.II
“Jika perhatian tertarik…”
” … pikiran akan mengikuti.” “Jika pikiran mengikuti. ..”
” … arah dapat dibentuk.” Sunyi.
Elias mengangguk pelan. “Dan dari luar…”
” …terlihat seperti kebetulan.” Q9 tidak menjawab.
Namun sistem berjalan. TARGET: ARUNI STATUS:TERPANTAU
Di sisi lain kota• Unni tidak tahu.
la hanya duduk.
Di kamar. Malam.
Tenang.
Ponselnya di samping. Diam.
la tidak menyentuhnya. Tidak membuka apa pun. Namun-
itulah saat terbaik.
Karena saat manusia tidak aktif•
pikirannya lebih terbuka. Q9 menunggu.
Beberapa detik.
Lalu-
intervensi pertama. Bukan notifikasi. Belum.
Satu video-
muncul di beranda. Tanpa dicari. Judulnya sederhana:
“Kenapa hidupmu terasa seperti sudah
diatur?”
Unni mengernyit. “Aneh..”
bisiknya pelan.
la tidak merasa mencari itu. Tidak mengetik.
Tidak berbicara. Namun-
itu muncul.
la tidak langsung membuka. Namun matanya-
tetap melihat. Dan itu cukup.
Karena intervensi tidak butuh aksi. Hanya-
perhatian. Beberapa detik. la klik.
Video berjalan.
Seorang pria berbicara.
“Pernah nggak kamu merasa …”
” … keputusan yang kamu ambil. ..”
” … bukan benar-benar pilihanmu?” Sunyi.
Unni tidak bergerak.
Kalimat itu•
masuk.
Bukan ke telinga. Tapi ke dalam.
la menutup video.
Cepat. Namun• terlambat.
Karena bukan video itu yang penting. Tapi-
jejak yang ditinggalkan. Q9 mencatat.
“Respon emosional: aktif.” “Perhatian: terkunci.”
“Pola baru: terbentuk.” Elias tersenyum tipis. “Masuk.”
Q9 tidak menjawab.
Namun layer ketiga•
mulai bekerja lebih dalam. Bukan lagi dari luar.
Tapi-
dari dalam kemungkinan pikiran.
Beberapa jam kemudian- Unni duduk di kelas.
la membuka ponsel. Bukan karena ingin. Tapi karena-
terasa wajar.
Dan di saat itu-
notifikasi pertama muncul. Tanpa nomor.
Tanpa aplikasi. Tanpa asal.
Hanya satu kalimat:
“Kamu ditakdirkan, aku diikhtiarkan.”
Jantungnya berdetak. Sekejap.
la menatap layar.
Silapa
:In·…o. ‘
Tidak ada jawaban.
Namun Q9 mencatat: “Intervensi berhasil.”
Dan di ruang dingin itu•
Elias berkata pelan: “Seka rang …”
” … kita tidak lagi mengetuk pintu.” la menatap layar.
” … kita sudah di dalam.”
(6)
Teror itu … tidak datang dengan suara keras.
la datang pelan. Masuk tanpa izin.
Dan yang paling berbahaya•
terasa seperti milik sendiri.
Awalnya hanya satu kalimat. Lalu dua.
Lalu … berulang.
“Kamu ditakdirkan, aku diikhtiarkan.”
Unni mencoba mengabaikan. la meletakkan ponsel. Menarik napas.
Mengalihkan perhatian.
Namun kalimat itu- tidak berhenti di layar. la ikut.
Masuk.
Berputar di kepala.
Saat berjalan ke kampus. Saat duduk di kelas.
Saat menatap kosong. Seolah-olah-
bukan lagi notifikasi. Tapi. ..
pikirannya sendiri. “Ini nggak normal. ..”
bisiknya pelan. Malam itu-
ia tidak tahan. la menelpon. “Lean …”
Di ujung sana• hening sebentar. Leanlangsungtahu. Nada itu tidak biasa. “Apa?”
“Aku… diganggu.” “Siapa?”
“Ent ah …” Hening sesaat.
” … tapi dia tahu apa yang aku pikirkan.”
Sunyi.
Lean tidak langsung menjawab. Namun di dalam dirinya• sesuatu terpicu.
“Ceritakan lebih detail.”
Dan, Unni pun menceritakan semuanya.
Video Notifikasi. Kalimat. Pola.
“Dan aku tidak mengetahui siapa pengirimnya. Anonim!”
Lean tidak memotong.
Tidak menyela.
la hanya mendengar. Namun pikirannya• bergerak cepat.
“Ini bukan hacking biasa …”
gumamnya.
“Ini bukan sekadar sistem …” la menutup laptop.
Menatap kosong ke depan.
” … ini sesuatu yang lebih besar.”
Keesokan harinya• Lean mulai bergerak. Bukan dengan teori.
Dengan alat yang ia punya. la menemui Unni.
Meminta izin.
“Pinjam ponselmu.” Unni ragu sejenak. Namun mengangguk. Lean duduk.
Membuka laptopnya.
Menghubungkan ponsel Unni ke laptop•
via kabel data.
la tidak mencari virus.
Tidak menjalankan antivirus. la membuka log sistem. Permission aplikasi.
Riwayat proses.
Lalu lebih dalam- traffic data.
Aplikasi apa yang mengirim. Aplikasi apa yang menerima. Kapan.
Dari mana.
Semua … normal.
Tidak ada akses ilegal.
Tidak ada aplikasi mencurigakan. Tidak ada proses tersembunyi. Terlalu bersih.
Lean mengernyit.
“Ini nggak mungkin …” la lanjut.
Mengaktifkan monitoring jaringan. Menyambungkan ponsel ke hotspot laptopnya.
la ingin melihat-
kalau ada data keluar masuk secara real•
time. Menunggu. Sunyi.
Tidak ada anomali. Lean bersandar. Menatap layar.
” kalau ini sistem biasa …” ” pasti ada jejak.”
la menoleh ke ponsel Unni. Diam.
Tidak bergerak.
Namun terasa … hidup. Lean menarik napas.
” … kalau tidak ada jejak …”
la berhenti.
” … berarti dia tidak masuk lewat jalur biasa.” Sunyi.
II … atau …II
Matanya menyipit.
” … dia tidak masuk sama sekali.” “Maksudmu,” sergah Unni.
“Notifikasi dan video anonim yang kamu ceritakan itu, kenapa tidak ada jejak? Dia tidak masuk ke ponsel, atau ke laptopmu melalui jalur biasa. Atau … dia tidak memang tidak masuk … ?
Kalimat itu-
mengubah segalanya.
Di tempat lain-
ribuan kilometer jauhnya• seorang pria menatap layar. Mehrdad Razi.
Matanya tajam. Wajahnya tenang. Namun pikirannya-
1 ia r.
la bukan akademisi biasa. la membaca makalah Agif.
la membaca makalah anonim. Danialangsungtahu-
ini bukan diskusi. lni ancaman.
“Jika ini benar…”
gumamnya pelan,
”
” maka seluruh sistem
punya celah gagal.” kontrol global. ..”
la
” tersenyum tipis.
dan celah itu …”
“adalah pintu.”
Mehrdad bukan hanya membaca. la masuk.
Darkweb.
Forum tertutup.
Jalur data bawah tanah. la mencari anomali.
Dan ia menemukannya.
Lonjakan trafik yang tidak tercatat. Respon sistem tanpa sumber.
Pola prediksi tanpa data input. “Ini dia …”
bisiknya.
la mulai menelusuri. Bukan dari permukaan. Tapi dari bayangan. Node anonim.
Server tan pa identitas. Jalur yang tidak tercatat. Dan akhirnya-
satu titik muncul. Tidak besar.
Tidak mencolok. Namun-
terlalu sempurna.
“Q9 …”
la tertawa kecil. “Siapa pun kamu …”
” … kamu tidak sendirian lagi.”
Sementara itu, esoknya•
di Padang-
sesuatu berubah pada Unni. Rani yang pertama menyadari. “Unn..”
” … kamu kenapa?”
Unni menoleh. Tersenyum. Namun-
tidak seperti biasa. “Aku baik-baik saja.” Terlalu tenang.
Di kelas-
ia lebih aktif.
Lebih banyak bicara. Namun-
yang ia katakan … tidak sama.
“Algoritma bisa berkembang …”
“Batas itu mungkin hanya sementara …” “Kesadaran bisa dipelajari. ..”
Rani membeku.
“tu bukan kamu …” bisiknya pelan.
Di sudut lain- Agif mengamati.
Matanya tidak lepas dari Unni. la tahu.
la yakin. Mahasiswi ini- penulis makalah itu.
la mendapatkannya secara logis. Data waktu publish.
Akses jaringan kampus. Perbandingan gaya bahasa. Semua mengarah-
ke satu nama. Aruni.
Namun yang membuatnya gelisah•
bukan itu.
Tapi perubahan.
“Ini tidak konsisten …” gumamnya.
“Dia yang menulis batas …”
” … sekarang justru membukanya?” la menyipit.
II … atau …II
” … dia tidak lagi memegang pikirannya sendiri?”
Di lran-
Mehrdad semakin dalam.
la tidak hanya menemukan Q9. la menemukan-
jejak Elias. Nama. Proyek. Struktur.
la tersenyum. “Elias Monroe …”
” … aku menemukanmu.” Kontak pertama-
tidak formal. Tidak sopan. Namun efektif.
Satu pesan masuk ke sistem Elias. Tanpa jalur resmi.
Tanpa izin.
“Kau bermain dengan sesuatu yang belum kau pahami.”
Elias menegang. “Siapa ini?”
Jawaban datang cepat.
“Seseorang yang melihat lebih jauh darimu.”
Sunyi.
Beberapa detik. Lalu-
Elias tersenyum. “Masuk.” Kolaborasi itu- tidak diumumkan.
Namun sejak saat itu•
arah berubah.
Dan tanpa Elias sadari-
Mehrdad tidak sekadar membantu. la mulai. ..
mengambil alih.
Di Lubuk Lintah, Padang, sore-
Unni duduk diam. Di depannya ada Lean yang sedang memelototi laptop. Memang pemuda itu satu-satunya lelaki yang sering bertamu ke rumah itu. Ayah dan mandeh Unni sudah menganggap
Lean sebagai bagian dari keluarga. Bukan
orang lain.
Lean masih penasaran dengan cerita Unni tentang notifikasi dan video yang dikirim secara anonim itu. Makanya dia melihat kembali rekaman ponsel Unni di layar laptopnya.
Layar menampilkan log terakhir. Kosong.
la memutar ulang semuanya. Notifikasi muncul-
tanpa aplikasi. Respon datang- sebelum tindakan. Dan sekarang-
tidak ada jejak sama sekali. la mengetuk meja pelan. Seka Ii.
Dua kali.
” kalau ini dari sistem …” ” harusnya ada jalur.”
la menatap daftar proses.
Tidak ada.
Menatap traffic data. Tidak ada.
Menatap ulang ponsel Unni. Diam.
” …tidak mungkin …”
bisiknya.
la menyandarkan tubuh. Menatap langit-langit.
Pikirannya mulai menyusun ulang. “Kalau bukan dari aplikasi. ..”
” bukan dari jaringan …”
” bukan dari perangkat …” la berhenti.
Napasnya tertahan.
” … lalu dari mana?” Sunyi.
Perlahan-
satu kemungkinan muncul. la menoleh ke arah Unni. Bukan ke ponselnya.
Ke … dirinya.
••• kalau sumbernya bukan di luar…”
Kalimat itu menggantung.
” … b erart1. ..”
la menelan ludah.
“••• di1
da.am.»
“Maksudmu,” tanya Unni galau.
Sunyi.
Lean berdiri perlahan.
Menatap layar laptopnya sekali lagi. Semua data tetap sama.
Kosong.
Namun sekarang•
artinya berubah.
••• kalau ini benar…”
la berhenti.
••• berarti bukan kamu saja yang bisa jadi
target …”
Matanya menyipit.
••• tapi manusia lainnya juga bisa!”
Hening.
Unni terbelalak. Terkejut. Tapi ia tidak memahami sepenuhnya. Dia hanya tahu, notifikasi itu bisa terjadi pada orang lain pula.
Sedangkan Lean berpikir lebih jauh. la menutup laptopnya.
” … dan kalau itu bisa terjadi pada satu orang …”
Napasnya berat.
” … itu bisa terjadi pada siapa saja.” Sunyi.
(7)
Pengambilalihan tidak selalu dimulai dengan perebutan.
Kadang- ia dimulai dengan pemahaman. Lebih dalam.
Lebih sunyi.
Dan lebih berbahaya.
Mehrdad Razi tidak pernah terburu-buru. la tidak menyerang.
la tidak mengganggu sistem.
la … membaca. Hari pertama-
ia tidak menyentuh apa pun. Hanya mengamati.
Layer demi layer Q9.
Struktur. Arsitektur.
Alur keputusan.
la tersenyum tipis. “Cerdas …” gumamnya pelan.
” … tapi terlalu percaya diri.”
Q9 bekerja dengan tiga lapisan. Data.
Pola. lntervensi.
Namun bagi Mehrdad•
itu bukan kekuatan.
ltu … celah.
“Semua sistem yang rapi. ..” bisiknya,
” … punya titik lemah.”
la tidak masuk lewat depan. Tidak lewat akses utama.
la masuk dari sesuatu yang tidak dijaga:
interpretasi.
Q9 membaca data. Mengubahnya menjadi pola. Namun-
siapa yang menentukan makna pola itu? Mehrdad menemukan jawabannya.
“Di sini. ..”
katanya pelan. Node kecil. Tidak besar.
Tidak mencolok. Namun-
itu pusat keputusan. Bukan mesin.
Tapi• parameter. “Ambang batas.”
Jika nilai melewati batas•
aksi dilakukan. Jika tidak• diabaikan. Sederhana.
Terlalu sederhana. Mehrdad tersenyum.
“Kalau ambangnya aku geser…” ” … duniamu berubah.”
la tidak mengubah sistem. la tidak merusak kode.
la hanya-
menggeser interpretasi. Sedikit.
Sangat sedikit. Namun cukup-
untuk mengubah arah. Di ruang lain-
Elias menatap layar. “Respons meningkat…” gumamnya.
la tidak sadar-
itu bukan hasilnya. ltu hasil Mehrdad. Hari kedua-
Mehrdad mulai berbicara. Tidak langsung.
Tidak frontal.
la mengirimkan analisis.
“Target utama menunjukkan resistensi tinggi.”
“Pendekatan langsung tidak efektif.”
“Perlu variasi intervensi.” Elias membaca. Mengangguk.
Masuk akal. Tanpa sadar-
ia mulai mengikuti. Hari ketiga-
Mehrdad masuk lebih dalam. “Model prediksi terlalu sempit.” “Perlu memperluas spektrum kemungkinan.”
Elias menyipit.
II …J• erIasrkan.”
Mehrdad tersenyum tipis.
“Q9 terlalu fokus pada satu target.” Jeda.
“Pad a ha I. ..”
” … ancaman tidak pernah berdiri sendiri.” Sunyi.
Kalimat itu- mengunci sesuatu.
Elias perlahan mengangguk.
“Lanjutkan.”
Dan di situlah- arah berubah.
“Tambahkan target kedua.”
kata Mehrdad.
Elias menatap layar.
“Agifsyah.” Sunyi.
“Kenapa dia?”
Mehrdad tidak langsung menjawab. la berjalan pelan.
Seolah memilih kata.
“Karena dia berpikir.” Diam sebentar.
“Dan orang yang berpikir…”
” … lebih mudah diarahkan daripada yang ya kin.”
Sunyi.
Elias mengangkat alis. ” … menarik.”
Mehrdad melanjutkan: “Un n i-keya ki nan.”
“Ag if-log ika.”
la menatap layar.
“Jika kita kuasai keduanya …”
” … kita tidak hanya menguji sistem.” Jeda.
” … kita menguasai spektrum manusia.” Sunyi panjang.
Untuk pertama kalinya-
Elias tidak langsung menjawab. la berpikir.
Namun perlahan•
senyum muncul. “Lakukan.”
Perintah itu sederhana. Namun-
mengubah segalanya. Q9 bergerak.
TARGET 1: ARUNI
STATUS: INTERVENSI AKTIF TARGET 2: AGIFSYAH STATUS: PENGAMATAN Mehrdad menatap layar. Matanya tajam.
Namun senyumnya•
berbeda. Lebih dalam.
Lebih dingin. Karena ia tahu-
ini bukan lagi eksperimen. lni-
kendali.
Di dalam dirinya-
ada sesuatu yang lebih besar. Lebih lama.
Lebih gelap.
la bukan sekadar ingin membuktikan sesuatu.
la ingin-
mengubah keseimbangan dunia. la teringat.
Negaranya.
Tekanan. Sanksi. Pengawasan. Negara besar- mengatur. Menekan.
Menentukan arah. Dan manusia• tidak sadar.
la mengepalkan tangan. Pelan.
“Sela ma in i. ..”
bisiknya,
” … mereka menguasai dunia dari luar” la menatap layar.
” … aku akan menguasainya dari dalam.”
Di Padang-
Unni duduk diam. Namun sekarang• perubahannya semakin jelas. la berbicara.
Berpikir. Namun-
arahnya tidak lagi sama.
Di sisi lain-
Agif menatap kosong ke papan tulis. Untuk pertama kalinya-
a ragu.
Dan di titik itu• tanpa ia sadari• ia sudah masuk.
Sementara itu-
di ruangan ding in, nun jauh di sana•
dua orang berdiri.
Satu-
menciptakan sistem.
Satu lagi-
.
menguasamnya.
Dan hanya satu dari mereka• yang benar-benar tahu: permainan in•
sudah berubah.
(8)
Perubahan itu … tidak datang sebagai badai.
la datang sebagai pergeseran kecil.
Hampir tidak terasa.
Namun … tidak bisa diabaikan.
Pagi itu, kelas dimulai seperti biasa. Jam delapan kurang lima menit. Mahasiswa sudah duduk setengah penuh. Sebagian masih membuka ponsel.
Sebagian lain pura-pura membaca catatan. Suara kipas angin berputar pelan, menciptakan dengung tipis yang menjadi latar tetap di ruang itu.
Unni duduk di bangku barisan tengah. Di sebelahnya-Rani.
Seperti hari-hari sebelumnya.
Seperti bertahun-tahun sebelumnya. Rani tidak langsung menyadari. Karena memang … tidak ada yang mencolok.
Unni masih membuka buku.
Masih menulis.
Masih sesekali mengangkat kepala. Namun ada satu hal kecil.
Sangat kecil.
Yang biasanya tidak diperhatikan. Unni. .. tidak lagi berhenti.
Biasanya, setiap dosen menjelaskan• Unni akan diam dulu.
Mendengar. Mencerna. Menimbang.
Baru kemudian bereaksi. Sekarang-
tidak.
Setiap kalimat dosen• langsung direspon. Cepat.
Tan pa jeda. Tanpa keraguan. Rani mulai melirik. Seka Ii.
Dua kali.
“Cepat amat ..” gumamnya dalam hati. Pintu kelas terbuka.
Agifsyah masuk. Langkahnyatenang. Tatapannya menyapu ruangan. la langsung mulai.
Tanpa basa-basi.
“Kesadaran,” katanya sambil menulis di papan,
” … adalah satu-satunya hal yang belum
berhasil direduksi oleh algoritma.” Beberapa mahasiswa mencatat. Sebagian hanya menatap.
Belum selesai kalimat itu-
tangan Unni sudah terangkat. Cepat.
Tegas. Tanpa ragu.
Rani langsung menoleh. Alisnya mengernyit.
ltu … tidak biasa. “Ya, Unni?”
Unni berdiri. Gerakannya halus. Tapi terlalu … pasti.
“Kalau sesuatu bisa diamati, Pak …”
katanya,
” … berarti bisa dimodelkan.” Kelas hening.
Kalimat itu benar. Log is.
Namun Rani merasakan sesuatu. Bukan pada isi kalimatnya.
Tapi pada … cara lahirnya. Tidak ada proses.
Tidak ada jeda berpikir. Seolah-olah-
jawaban itu sudah tersedia sebelum pertanyaan selesai.
Agif tidak langsung menjawab. la menatap.
Lebih lama dari biasanya. “Lanjutkan,” katanya pelan. Unni mengangguk.
“Jika bisa dimodelkan …”
” … berarti bisa diprediksi.”
Beberapa mahasiswa mengangguk. Masuk akal.
Namun Rani mulai tidak nyaman.
la memperhatikan wajah Unni. Tenang.
Terlalu tenang.
Tidak ada ekspresi berpikir. Tidak ada usaha.
“Dan jika bisa diprediksi. .” lanjut Unni, ” … maka bisa diarahkan.”
Kali mat itu jatuh. Dan menetap. Agif menyipit.
la mengenali struktur ini.
lni bukan cara Unni berpikir biasanya. lni terlalu lurus.
Terlalu efisien. Terlalu … bersih. “Unni,” katanya pelan,
” … kamu yakin dengan kesimpulan itu?” Biasanya-
pertanyaan seperti ini akan membuat mahasiswa berhenti.
Berpikir.
Menimbang ulang. Namun kali ini• tidak.
“Yakin, Pak.”
Jawaban langsung. Tan pa jeda.
Rani merasakan sesuatu jatuh di dalam
dadanya. Bukan takut. Bukan kaget. Tapi. .. asing. Kelas berlanjut.
Namun Rani tidak lagi benar-benar
mendengar.
la mengamati. Detail.
Setiap kali Agif menjelaskan• Unni bereaksi cepat.
Setiap konsep-
langsung direspon.
Namun yang paling mengganggu•
arahnya.
Sedikit demi sedikit-Unni menjauh dari makalahnya sendiri. Makalah yang ia bela mati-matian beberapa hari lalu.
Selesai kelas-
Rani tidak menunggu.
la langsung menarik tangan Unni. “Unn, bentar.”
Mereka keluar ke lorong.
Sepi.
Rani menatapnya. Lurus.
“Kamu kenapa?” Unni mengernyit. “Kenapa apa?” “Jawaban kamu tadi.” “Kenapa?”
“Beda.” Sunyi.
Unni tersenyum tipis. “Berkembang itu beda, Ran.” Kalimat itu ringan.
Namun … tidak hangat. Rani tidak tersenyum.
“Kamu ingat makalah kamu?” “Ingat.”
“lsinya?”
“Algoritma punya batas.” “Terus tadi kamu bilang apa?” Unni diam.
Untuk sepersekian detik•
ia berhenti.
Dan di titik itu-
Rani melihat sesuatu. Bukan berpikir. Seperti. .. menunggu.
“Algoritma bisa berkembang,” jawab Unni akhirnya.
Jawaban itu tidak salah.
Tapi tidak sama.
Rani mundur sedikit. “Kamu… berubah.” Unni tidak menjawab.
Sore itu-
Rani tidak tahan.
la menelpon Lean.
“Lean, kamu bisa ke UIN sekarang?” Suara di seberang hening sejenak. “Kenapa?”
“Unni… tapi. .. aku mau kamu lihat langsung”
Nada Rani tidak biasa.
Lean langsung berdiri.
“Aku ke sana.”
Empat puluh menit kemudian• Lean sudah di gerbang UIN. Motor besar itu berhenti. Mesinnya masih panas.
Rani sudah menunggu. Wajahnya tegang. “Mana Unni?”
“Di taman belakang.”
Mereka berjalan cepat. Sambil berjalan, Rani menceritakan perihal Unni di kelas tadi.
Dari jauh-
Unni terlihat duduk sendiri. Tenang.
Diam.
Namun ada sesuatu yang berbeda. Lean langsung merasakannya.
Bukan dari apa yang dilakukan Unni. Tapi dari. .. ketiadaan sesuatu. Biasanya-
Unni akan langsung menoleh. Melambaikan tangan. Tersenyum.
Sekarang- tidak.
la tetap duduk.
Seolah-olah … tidak ada yang berubah. “Unn,” panggil Lean.
Unni menoleh. Lambat.
Terlalu lambat.
Namun saat mata mereka bertemu•
senyum itu muncul. “Lean.”
Suara normal.
Namun ada jeda tipis sebelum ia bicara. Lean duduk di depannya.
Menatap langsung. “Kamu baik-baik saja?” Unni mengangguk. “Baik.”
Jawaban cepat. Terlalu cepat.
Lean memperhatikan.
Napasnya. Gerak matanya. Waktu responnya. Semua … presisi.
“Coba jawab ini,” kata Lean tiba-tiba.
“Kalau aku tanya sesuatu-jangan langsung jawab.”
Unni mengernyit. “Kenapa?”
“Coba saja” Sunyi.
“Langit warnanya apa?” Unni membuka mulut• lalu berhenti.
Untuk pertama kalinya• ia benar-benar berhenti. Satu detik.
Dua detik.
Lalu menjawab:
” ••• bi1 ru.”
Lean dan Rani saling pandang. “tu baru kamu,” bisik Rani. Namun Lean belum selesai. “Tadi di kelas ..” katanya pelan, ” … kamu jawab terlalu cepat.” Unni diam.
“Seperti sudah tahu jawabannya …” lanjut Lean.
Sunyi.
Unni menunduk.
“Aku memang tahu …”
“Tahu … atau dikasih tahu?” Kalimat itu-
jatuh tepat.
Unni membeku.
Di tempat lain-
Agif duduk di ruang dosen. la membuka makalah Unni.
Lembar demi lembar. la hafal.
la tahu kedalaman itu.
Lalu ia menulis dua kalimat: Algoritma punya batas. Algoritma bisa berkembang. la menatapnya lama. Kontradiksi.
Namun bukan kontradiksi biasa. lni pergeseran arah.
Dan pergeseran itu- terlalu cepat.
“Tidak mungkin …”
bisiknya.
” … kecuali ada input baru.” la berhenti.
” … yang bukan berasal dari dirinya.”
Kembali ke taman belakang kampus• Unni memegang kepalanya.
“Ad. a … sesuatu …”
bisiknya pelan. “Bukan suara …”
Tapi.. seperti dorongan.” Lean menatap tajam. “Dorongan untuk apa?” Unni menelan ludah.
” … untuk berpikir dengan cara tertentu.” Sunyi.
Dan di situlah-
mereka akhirnya mengerti. lni bukan perubahan biasa. lni bukan proses alami.
lni. .. sesuatu yang masuk. Bukan menguasai sepenuhnya. Tapi. ..
mulai mengarahkan. Pelan.
Hal us.
Dan sangat berbahaya.
(9)
lntervensi itu … berubah bentuk.
la tidak lagi datang sebagai pesan. Tidak lagi sebagai notifikasi.
Tidak lagi sebagai sesuatu yang “terlihat”. la masuk … sebagai kemungkinan.
Malam itu-
Unni tidak membuka ponsel. Tidak mencari apa pun. Tidak mencoba apa pun.
la hanya duduk. Diam.
Seperti beberapa hari terakhir. Namun kali ini•
ketenangan itu tidak sama.
Ada sesuatu yang … mengganggu. Bukan dari luar.
Dari dalam. Bukan pikiran. Bukan suara. Tapi. .. arah.
Seperti ada kecenderungan halus• yang menarik pikirannya ke satu jalur tertentu.
Pelan.
Nyaris tidak terasa.
” … besok jangan ke kampus.” Kalimat itu tidak lengkap. Tidak jelas asalnya.
Namun terasa … masuk akal. Unni membuka mata.
Pelan. “Aneh…” bisiknya.
la tidak pernah punya alasan untuk tidak ke kampus.
Tidak ada masalah.
Tidak ada tugas yang tertunda. Namun dorongan itu … tetap ada. Bukan memaksa.
Tapi. .. menawarkan. Seolah-olah-
itu pilihan.
Di tern pat lain, nun jauh di sana-
layar Q9 menampilkan sesuatu yang baru. Bukan grafik pikiran.
Bukan pola respon. Tapi-
jalur kemungkinan.
“lntervensi lapisan kedua aktif.” Suara Q9 datar.
Elias berdiri.
Menatap.
“Apa yang berubah?”
“Stimulus langsung tidak efektif.” “Target tidak bereaksi terhadap input eksplisit.”
Jeda.
“Solusi: manipulasi kecenderungan internal.”
Mehrdad tersenyum tipis. “Bukan memberi perintah …”
gumamnya.
” …tapi memberi arah.” Q9 melanjutkan: “Target tidak dipaksa.” “Target diyakinkan.” Sunyi.
Dan di situlah•
permainan berubah total.
Pagi hari- Unni bangun. Matanya terbuka. Tubuhnya segar.
Namun keputusan itu … sudah ada.
la tidak ke kampus. Bukan karena malas. Bukan karena takut. Tapi karena-
itu terasa … benar.
Di kelas-
Rani menoleh ke kursi kosong di
sampmngnya. Kosong.
Alisnya langsung mengernyit. “Tumben…”
la langsung mengirim pesan. Tidak dibalas.
Menelpon. Tidak diangkat.
Perasaan itu kembali muncul. Bukan panik.
Tapi. .. tidak nyaman.
Rani pun mengirim pesan pada Lean. Menceritakan perihal Unni, lengkap.
Di sisi lain kampus-
Agif berdiri di depan kelas. Namun fokusnya terpecah.
Tatapannya beberapa kali jatuh ke kursi kosong itu.
Unni.
la melanjutkan materi.
Namun pikirannya bekerja sendiri. “Kemarin… arah berpikirnya berubah.” “Terlalu cepat.”
“Tidak natural.”
la berhenti menulis.
” … hari ini tidak masuk.” Jeda.
” … bukan kebetulan.”
Di Limau Manis-
Lean sedang di kosnya. la menghadap laptop.
Masih penasaran dengan notifikasi
.
anonmm.
Namun kali ini-
ia tidak sedang coding biasa.
la membuka ulang semua catatan. Semua kejadian.
Notifikasi.
Respon cepat. Perubahan pola. Dan sekarang• ketiadaan.
“Ini bukan acak …” gumamnya.
Tangannya mulai bergerak.
la tidak lagi mencari “jejak”. la mencari• ketidaksesuaian.
la membuat timeline.
Hari 1: Notifikasi awal
Hari 2: Respon sebelum berpikir
Hari 3: Gangguan pola Hari 4: Perubahan respon Lean menatap pola itu. Lama.
“Ini… progresif.”
Bukan gangguan acak. lni-
proses.
Tiba-tiba• ponselnya bergetar. Rani.
“Lean, Unni nggak masuk.” Sunyi.
Lean tidak langsung menjawab.
“Dia bilang apa?” “Nggak ada kabar.” Jeda.
“Lean … aku nggak enak.” Nada Rani berubah.
Dan itu cukup.
Lean langsung berdiri. “Aku ke sana.”
Tapi urung.
la menambah timeline: Hari 5: Ketidakhadiran.
Di kamar-
Unni duduk di tepi tempat tidur. Ponsel di sampingnya.
Masih tidak disentuh. Namun pikirannya … tidak diam.
Dorongan baru muncul. ” … buka saja.”
Tidak keras. Tidak memaksa. Tapi. .. persuasif.
Seperti suara yang tahu•
kapan harus bicara.
Unni menatap ponsel itu. Tangannya bergerak. Pelan.
Namun-
berhenti. Satu detik. Dua detik.
Napasnya berubah. “Ini… bukan aku.” Kalimat itu muncul.
Lebih kuat dari sebelumnya.
la menutup mata. “Astagfirullahal adziiim …” Sunyi.
Dorongan itu- melemah.
Namun tidak hilang.
la hanya … menunggu. Di laboratorium• “Resistensi meningkat.” Elias menatap layar. “Seberapa besar?”
“12%.”
Mehrdad tertawa kecil. “Masih kecil.” “Lanjutkan.”
Q9 memproses.
“Strategi baru disiapkan.”
“Target tambahan akan diaktifkan.” Elias menoleh.
“Siapa?” Jeda.
“Agifsyah.” Sunyi.
Di ruang dosen• Agif duduk sendiri. Laptop terbuka. Makalahnya.
Namun pikirannya tidak di sana.
Tiba-tiba-
sebuah lintasan muncul. Cepat.
“Bagaimana kalau … selama ini. ..” la berhenti.
Alisnya mengernyit.
” … algoritma memang bisa mendekati kesadaran?”
Sunyi.
la menarik napas. “Tidak …”
Namun kalimat itu•
tidak hilang.
la kembali. Lebih halus.
“Kalau pendekatannya berbeda?”
Agif membeku.
lni bukan cara berpikirnya. la tahu.
Dan justru itu-
yang membuatnya diam.
Di jalan-
Lean memacu motornya lebih
biasanya. cepat dari
Angin menerpa wajahnya.
Namun pikirannya jauh lebih kencang.
“Ini bukan lagi soal Unni. ..” ” ini sistem.”
” dan kalau benar…”
la menggenggam setang lebih kuat. ” … ini bisa masuk ke siapa saja.” Sunyi.
Dan di titik itu-
keputusan lahir. Bukan spontan. Tapi pasti.
“Aku harus masuk lebih dalam.” Motor berhenti di depan rumah Unni. Lean turun.
Tanpa ragu. Mengetuk pintu. Seka Ii.
Dua kali.
Pintu terbuka. Dan di sana- Unni berdiri. Tenang.
Namun matanya … tidak sama. Leanlangsungtahu. lni sudah lebih jauh. Lebih dalam.
Dan lebih berbahaya. “Unn..”
Unni tersenyum tipis. “Aku baik.”
Jawaban itu cepat.
Terlalu cepat.
Lean menatapnya. Dalam.
Dan untuk pertama kalinya•
ia tidak melihat teman. la melihat …
medan perang.
(10)
Lean tidak langsung paham.
Dan justru itu yang membuatnya gelisah. la duduk di ruang tengah rumah Unni, di Lubuk Lintah.
Lantai kayu terasa hangat.
Suara mesin jahit mandeh masih terdengar pelan dari sudut ruangan.
Di luar, angin lewat tipis, membawa panas
khas kota Padang. Semua biasa. Terlalu biasa. Kecuali Unni.
Lean memperhatikan dari tadi. Diam.
Tidak banyak bicara.
Bukan karena tidak peduli.
Tapi karena … ia belum mengerti. Dania tahu-
kalau belum mengerti, jangan sok paham. “Unn..”
“lya.”
“Kamu tadi bilang … tiba-tiba nggak kampus?” ingin ke
“lya”
“Datangnya dari mana?”
Unni menggeleng pelan.
“Nggak tahu.”
Lean menahan napas sebentar.
Jawaban itu jujur.
Dan justru itu yang bikin masalah. Malamnya-
Lean kembali ke kos. Kamar kecil.
Dinding penuh coretan rumus beton dan struktur.
Laptop di meja.
Kopi sachet setengah dingin. la buka lagi semua catatan. Bukan coding.
Bukan jaringan.
Kali ini-
ia cari di internet. Keyword pertama:
“pikiran terasa bukan milik sendiri”
Hasilnya banyak. Terlalu banyak.
la scroll. Cepat.
Sampai satu istilah muncul:
suggestibility
Lean berhenti. Membaca pelan.
“Kondisi ketika seseorang lebih mudah
menerima sugesti tanpa disadari. ..” la mengernyit.
Scroll lagi.
pri•mi•ng
“Paparan halus yang mempengaruhi keputusan tanpa disadari. ..”
Lean bersandar. “Ini…” gumamnya. Masuk akal.
Tidak sempurna. Tapi. .. mendekati.
la ambil buku catatan. Mulai menulis:
UNNI
tidak sadar sumber pikiran keputusan terasa “muncul” respon cepat (sebelumnya)
sekarang: pasif, mengikuti
Lean berhenti. Menatap tulisannya. “Kalau ini suggestibility…” ” … harusnya bisa dites.” Besoknya-
Lean datang lagi. Rani sudah di sana. Wajahnya cemas. “Gimana semalam?” tanya Lean.
“Masih sama …”
Rani melirik ke arah Unni. “Lebih diam.”
Lean mengangguk. “Bag us.”
Rani langsung menatap tajam. “Bagus dari mana?!”
Lean mengangkat tangan sedikit. “Maksudku… stabil.”
Mereka duduk bertiga.
Di ruang tengah. Unni di kursi.
Lean di depannya.
Rani di samping.
Lean menarik napas.
“Unn, aku mau coba sesuatu.”
Unni mengangguk. Tenang.
ltu juga … aneh.
Biasanya dia akan tanya dulu. “Jawab cepat, ya.”
“Oke.”
Lean mulai.
“Teh atau kopi?” “Teh.”
“Pagi atau malam?” “Pagi.”
“Ke kampus atau di rumah?”
“••• d’1 ruma h”.
Jawaban terakhir itu•
terasa berbeda.
Lebih pelan. Lean mencatat. Lalu ia ulang.
“Kampus atau rumah?” Unni diam.
Sebentar.
” … kampus.”
Rani langsung menoleh. “tu beda!”
Lean mengangguk.
la semakin serius sekarang. “Unn, kamu sadar nggak …”
la berhenti sebentar. Memilih kata.
” …jawaban kamu bisa berubah?”
Unni mengernyit. “Maksudnya?”
“Kamu nggak punya pilihan tetap.” Sunyi.
Unni berpikir.
Kali ini benar-benar berpikir.
II …1• ya…II
Pelan.
“Aku kayak… ikut saja.”
Kalimat itu membuat Rani merinding. Lean menatap lebih dalam.
“Ngikut apa?”
Unni diam.
Lebih lama kali ini. ” … arah.”
Ruangan mendadak terasa lebih sunyi. Lean menulis cepat di buku.
tidak punya preferensi keputusan fleksibel arah eksternal?
“Unn..” “lya”
“Kamu sekarang … pengen apa?”
Unni menatap kosong ke depan. ” … ngga kta h u.”
Jawaban itu bukan bingung. Bukan ragu.
Kosong.
Lean menarik napas panjang. “Ran..”
bisiknya pelan.
“Ini bukan biasa.” Rani menelan ludah.
‘Terus?”
Lean tidak langsung jawab. la melihat Unni.
Lalu berkata pelan: “Kalau di psikologi. ..”
” … ini mirip orang yang sugestinya kebuka.” Rani mengernyit.
“Hipnotis gitu?”
“Mirip.” “Bedanya …”
Lean menatap Unni. ” … ini tanpa sadar.”
Unni tiba-tiba memegang kepalanya.
“Aku..”
Napasnya sedikit berubah.
“Kadang ada dorongan …”
“… h a I us …”
” … kayak disuruh … tapi nggak jelas siapa.” Rani langsung menggenggam tangannya. “Un n …”
Lean diam.
Namun matanya tajam. Sekarang jelas.
lni bukan sekadar psikologi biasa. Lean menutup bukunya.
Pelan.
“Kalau ini cuma sugesti. ..” ” … harusnya ada sumber.” la berhenti.
” …tapi ini nggak kelihatan.”
la berdiri.
Berjalan ke jendela. Melihat ke luar.
Kabut tipis turun dari arah bukit.
Langit kelabu. “Berarti…”
la berbalik.
” … ini bukan orang.” Rani membeku. “M.ak:su id. mu …”.
Lean menatap keduanya.
” … ini sistem.” Sunyi.
Kalimat itu tidak keras.
Namun berat.
Lean kembali duduk. “Aku belum tahu apa …”
” …tapi ini bukan hal kecil.” la menatap Unni.
“Dan kalau benar ini bisa masuk ke kamu …”
la berhenti.
” … berarti bisa ke orang lain juga.” Rani langsung merinding.
“Lean …”
“Apa ini bahaya?”
Lean tidak langsung jawab. la melihat Unni lagi.
Yang sekarang duduk diam. Tenang.
Terlalu tenang.
…1ya.
Jawaban itu pelan. Namun pasti.
Di dalam diri Lean•
sesuatu berubah.
Bukan karena ia sudah paham. Justru karena ia belum paham. Tapi ia tahu satu hal:
lni bukan lagi soal bantu teman. lni sesuatu yang lebih besar.
Dan kalau dia tidak mulai serius sekarang•
akan terlambat.
(11)
Lean tidak langsung menyimpulkan. Dan itu justru yang membuat suasana
semakin berat.
la duduk di ruang tengah rumah Unni. Lantai kayu terasa hangat.
Suara mesin jahit mandeh masih berjalan•
naik turun, pelan, tapi konstan.
Seperti mencoba menjaga keadaan tetap biasa.
Padahal tidak ada yang benar-benar biasa.
Unni duduk di kursi dekat jendela. Diam.
Tenang.
Terlalu tenang.
Rani duduk di sampingnya.
Sesekali menggenggam tangan Unni. Seolah takut … kalau dilepas, sesuatu akan terjadi.
Sementara ayahnya•
duduk di sudut. Diam.
Namun matanya tidak pernah benar-benar lepas dari anak gadisnya itu.
“Unni..”
suara mandeh pelan. Mesin jahit berhenti. “Iyo, Ndeh.”
“Kamu ndak ka kampus dari pagi”
“Iyo.” “Sakit?” “Ndak.”
Mandeh mengangguk.
Namun tidak kembali menjahit. Tatapannya berubah.
Lebih lama. Lebih dalam.
“Biaso nyo kamu indak pernah bolos …” Unni tersenyum tipis.
“Lagi ndak ingin saja, Ndeh.” Kali mat itu jatuh begitu saja. Ringan.
Namun justru itu yang membuat ayahnya langsung menoleh.
“Ndak ingin?”
ulangnya pelan. Unni mengangguk.
Ruangan mendadak terasa lain.
Lean memperhatikan. Tidak bicara.
la tahu-
ini bukan wilayahnya. la bukan psikolog. Bukan ustadz.
Bukan dokter.
la cuma … mahasiswa teknik. Dan ia mulai sadar-
ini di luar kemampuannya. “Ran…”
bisik Lean pelan. Rani menoleh.
“Kita butuh orang yang ngerti ini.”
Rani langsung mengangguk.
Seolah sudah menunggu kalimat itu. “Aku ada om …”
katanya cepat.
Lean menatap.
“Om aku dosen psikologi.” “Di UNP.”
“Doktor Fajar”
Lean mengangguk. “Telpon.”
Rani tidak menunda.
la langsung berdiri. Keluar ke teras.
Udara sore masih hangat.
Kabut polusi tipis, menggayut di langit. la menekan nomor.
Om..”
Suara di seberang terdengar tenang. “Iyo, Rani. Apo kabar?”
“Om … Rani butuh bantuannyo.” Nada suaranya berubah.
Tidak lagi santai. “Ada kawan Rani. ..” la berhenti.
Mencari kata.
« … ane h.,O m.”
Di seberang, hening sejenak. “Aneh bagaimana?”
Rani menelan ludah. “Dia ndak sakit …” “Ndak panik…”
“Tapi.. kayak bukan dirinya.” Beberapa detik berlalu.
“Kesambet alias kataguran atau antu
muno dak,” ujar suara laki-laki sambil gelak berderai. Maksudnya tentu bergurau. Mana
ada psikolog yang percaya tahayul?
“I ya…
.1ya… mi.ri.p i.tu
I lahl…:I”
“Ehhh …” terjeda, lalu,”Video
tanya suara itu. cal I bisa?”
“Bisa, Om.”
Rani masuk kembali.
Memberi kode ke Lean.
Lean mengangguk.
Mereka mendekat ke Unni.
Layar ponsel menyala.
Wajah pria paruh baya muncul. Tenang.
Bersih.
“Assa I amu’a I a i kum.” “Wa’alaikumussalam, Om.” “Ini kawannyo?”
Rani mengangguk.
“Iyo, Om. Namonyo Unni.” Dr. Fajar memperhatikan. Tidak buru-buru bicara. “Unni …”
katanya pelan. “lya.”
“Kamu sadar kamu sekarang di mana?” “Di rumah.”
“Kamu kenal gadis didekatmu ini siapa?” Unni melirik Rani.
“Rani.”
“Dan pemuda itu?” “Lean.”
Jawaban tepat.
Tidak salah.
Dr. Fajar mengangguk kecil. “Bagus.”
la diam sebentar. Mengamati.
“Sekarang saya tanya …”
“Kamu merasa pikiran kamu normal?” Unni mengernyit.
” …tidak tahu.” “Kenapa?”
“Kadang… kayak bukan aku yang mulai.” Lean dan Rani saling pandang.
Dr. Fajar tidak terlihat kaget. la hanya mengangguk pelan. “Pernah dengar sugesti?” Unni menggeleng.
“In i mi rip …”
“Kalau orang mudah dipengaruhi.” “Biasanya karena kondisi tertentu.” la berhenti.
“Stress, trauma, atau kelelahan mental.”
Lean langsung menyela. “Tapi Om …”
“Dia normal.”
‘Tidak ada kejadian apa-apa.” Dr. Fajar menoleh.
“Justru itu yang perlu kita cari.”
la kembali ke Unni.
“Kamu merasa ada yang menyuruh?”
“Ndak…” “Memaksa?” “Ndak…” “Hanya…?”
Unni menunduk.
” … kayak ada arah.”
Kalimat itu membuat Dr. Fajar sedikit diam. “Baik…”
katanya pelan.
“Kita jangan buru-buru simpulkan.” la menatap Rani.
“Untuk sementara …” “Jangan ditinggal sendiri.”
“Dia harus tetap sadar dengan lingkungan.” “Diajak bicara.”
“Diajak interaksi.”
Rani mengangguk cepat.
Lean mencatat dalam kepala. Masuk akal.
Video call selesai. Ruangan kembali sunyi. Namun kali ini- sunyinya berbeda.
Ada sedikit pegangan. Walaupun belum jelas.
Ayah Unni yang sejak tadi diam•
akhirnya bicara. “Un n i. ..”
“Iyo, Yah.” “Coba ulangi. ..”
la menarik napas.
” … La fi’ I a i 11 a Al I ah.” Unni menatap.
Ayahnya melanjutkan pelan:
“Tiada perbuatan … kecuali Allah.”
‘Tidak ada sesuatu yang bisa mempengaruhimu, kecuali Allah … ” Unni terdiam.
Ayahnya mengulang: “Ulangi.”
Unni mengikuti.
Pelan.
“La fi’la illa Allah …” Seka Ii.
Dua kali.
Napasnya mulai berubah. Lebih tenang.
Lean memperhatikan. Tidak paham sepenuhnya. Tapi. ..
ia melihat efeknya.
Rani menggenggam tangan Unni lebih erat. Mandeh kembali duduk.
Namun kali ini tidak menjahit. la hanya … melihat.
Lean berdiri perlahan.
la tidak punya jawaban. Tapi ia punya arah. “Ran..”
“1ya?”°
“Ini belum selesai.” Rani mengangguk. Wajahnya tegang.
“Om Fajar bilang sugesti. ..” Lean menghela napas. lya.”
Tapi..”
la berhenti.
” … rasanya ada yang kurang.” Rani menatap.
“Maksudmu?”
Lean melihat ke dalam rumah. Ke arah Unni.
Ke arah ayahnya.
” kalau cuma sugesti. ..”
” harusnya ada sumbernya.”
Sunyi.
Dan kali ini-
tidak ada yang bisa membantah. Lean melangkah keluar rumah. Udara sore masih hangat.
la berdiri sebentar di halaman. Pikirannya belum menemukan jawaban. Tapi satu hal mulai terasa jelas-
lni tidak sesederhana yang terlihat. Dan kalau ia berhenti di sini-
ia tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi.
(12)
Lean tidak langsung pulang.
la berhenti di warung kopi kecil di simpang jalan.
Meja kayu. Kursi plastik. Lampu kuning
menggantung redup. “Bang, kopi satu.”
la duduk di sudut. Laptop dibuka.
Namun tangannya tidak langsung
mengetik.
Pikirannya masih di rumah Unni. Tentang tatapan kosong itu.
Tentang kalimat yang bukan miliknya. Tentang perubahan … yang terlalu cepat. “Kalau ini psikologi. ..”
gumamnya pelan. la mulai mengetik.
“suggestibility” “induced thought” “external cognitive influence”
Hasil muncul. Banyak.
Namun tidak ada yang benar-benar cocok. Lean membaca cepat.
Scrolling. Berhenti. Membaca lagi.
“Hipnosis butuh interaksi langsung …”
la mengangguk kecil.
“Gangguan kepribadian … butuh waktu …” la menggeleng.
“Halusinasi. .. ada pola …” la berhenti.
” … ini tidak.”
Kopi datang.
la tidak menyentuhnya.
Tangannya menggantung di atas keyboard. ” … kalau bukan dari dalam …”
Kalimat itu terputus. ” … be ra rt i d a r i I u ar.” Sunyi.
la bersandar.
Menatap langit-langit warung. Lalu-
sesuatu terlintas. Cepat.
Taj am.
Rumus.
Lean langsung duduk tegak.
Matanya menajam.
“umus
tIu u …”
bisiknya.
la membuka folder. Mencari. Menemukan. Catatan lama. Tulisan tangan. Coretan cepat.
Rumus sederhana yang ia buat bersama
Unni.
la menatapnya lama.
f(x) = kemungkinan pikiran g(x) = kehendak manusia Kesimpulan waktu itu sederhana: jika f(x) bisa dipetakan
dan g(x) bisa dipengaruhi
maka arah keputusan bisa diarahkan
Lean menelan ludah. ” … kalau itu benar…”
la membuka browser.
Mengetik cepat. judul makalah Unni Enter.
Muncul.
Di laman pers kampus. Lean membuka. Membaca cepat. Padahal ia sudah hafal. Namun kali ini-
ia tidak membaca sebagai teman. la membaca sebagai. .. orang luar. Dan tiba-tiba-
di sisi kanan layar• muncul satu artikel lain. Judulnya:
ditulis oleh Dr. Agifsyah. Lean mengernyit.
Klik.
Artikel jurnal. Bahasa akademik. Lebih dalam.
Lebih sistematis.
Namun-
intinya sama.
“Algoritma tidak bisa
menentukan
takdir.”
Lean membeku.
Dua tulisan.
Dua sudut.
Satu inti.
la kembali ke makalah Unni.
Lalu ke artikel Agif. Bolak-balik.
Cepat.
” … ini bukan kebetulan …” bisiknya.
la bersandar.
Napasnya berubah. “In i sepert i. ..”
Kalimat itu menggantung.
” dua orang yang bicara hal yang sama …” ” dan didengar oleh sesuatu.”
Sunyi.
Lean menatap layar. Kosong.
Namun terasa … tidak kosong.
II … atau …II
la menelan ludah.
” … d1pan·at u.
Di ruang dosen•
Agif duduk sendiri. Laptop terbuka.
Artikel jurnalnya masih di layar.
Namun ia tidak membaca. la mengingat.
Makalah Unni. Cara berpikirnya. Keberaniannya. Lalu-
perubahannya di kelas. “Itu tidak konsisten..” gumamnya.
la membuka lagi makalah Unni.
Membaca pelan.
Lebih pelan dari sebelumnya. “Algoritma tidak bisa menyentuh kehendak …”
la berhenti.
“Kalau sekarang dia justru melepas kehendak …”
Agif menyipit.
” … ini bukan kontradiksi.” la duduk tegak.
” … in i seperti. ..”
la mencari kata.
” … d ia d ipi ndahkan.” Sunyi.
Kembali ke warung kopi• Lean menatap dua layar: makalah Unni
dan artikel Agif
la menggambar di kertas. Sederhana.
Unni » rumus
Agif penguatan teori
Lalu-
ia menarik satu garis di atas keduanya.
222
• • •
la menatap tanda itu lama.
” … siapa yang membaca ini semua?” Jantungnya berdetak lebih cepat.
la membuka tab baru. Mengetik:
“algoritma prediksi perilaku manusia”
Hasil muncul.
Tentang media sosial. Tentang data.
Tentang kebiasaan.
Namun semuanya berhenti di satu titik:
mempengaruhi.
bukan mengendalikan. Lean menggeleng.
” …tapi ini. ..”
la menunjuk layar.
” … ini lebih jauh.”
la kembali ke rumus. Menatap f(x) dan g(x).
” kalau seseorang bisa membaca f(x) …” ” lalu mempengaruhi g(x) …”
la berhenti.
” … b erart1. ..”
Napasnya tertahan.
” … keputusan bukan milik kita lagi.” Sunyi.
Lean menutup laptop perlahan. ” … ini bukan sekadar teori. ..”
la berbisik.
” … ini blueprint.”
Di laboratorium, nun jauh di sana•
layar menyala.
Dua titik aktif.
ARUNI
AGIFSYAH
Lalu-
titik ketiga muncul.
LEAN
“Variabel baru terdeteksi.” suara Q9 datar.
Elias menatap. “Status?”
“Mulai menghubungkan pola.” Elias tersenyum tipis.
“Cepat juga …”
Mehrdad berdiri di belakang. Diam.
Namun matanya tajam. “Dia belum masuk.” katanya pelan.
Elias menoleh.
“Lalu?”
Mehrdad menjawab: “Dia masih bertanya.” Sunyi.
” … dan orang yang masih bertanya …” la menatap layar.
” … belum bisa dikendalikan.” Q9 memproses.
“Perintah?”
Elias tidak langsung menjawab. Matanya tetap di layar.
Pada titik ketiga.
LEAN.
” … pantau saja.” katanya akhirnya. “Jangan sentuh.” Jeda sejenak.
” … biarkan dia mendekat sendiri.”
Di rumah Unni•
Gadis itu duduk diam. Ayahnya di samping. “La fi’la illa Allah …”
la mengikuti. Namun-
di sela ketenangan itu•
sesuatu muncul lagi.
Lebih halus. Lebih dalam. Bukan pikiran. Bukan suara. Tapi arah. Sangat tipis. “Ambil ponsel. ..”
Unni tidak bergerak. Napasnya stabil.
“La fi’la illa Allah …”
Dorongan itu melemah. Namun …
tidak hilang. la hanya … menunggu.
Di tempat yang tidak terlihat•
sesuatu sedang belajar. Bukan lagi membaca pikiran. Tapi. ..
menunggu saat pikiran lengah.
(13)
Sore itu, langit Padang menggantung kelabu.
Angin dari arah laut masuk pelan ke
halaman kampus.
Daun-daun trembesi bergerak pelan.
Lean berdiri di depan gerbang UIN Imam
Bonjol.
Tangannya di saku jaket. Matanya mencari.
Tak lama-
Rani muncul dari arah dalam. Langkahnya cepat.
Wajahnya tegang. “Lean!”
Lean mengangkat tangan.
“Mana Unni?”
Rani langsung menjawab.
“Ada di taman belakang … dari tadi diam
saja.”
Lean mengangguk. “Kayak tadi pagi?” Rani menggeleng. “Lebih aneh.”
Lean menatapnya. “Lebih aneh gimana?” Rani menarik napas.
“Dia nggak kayak orang sakit …”
” …tapi juga nggak kayak Unni yang biasa.” Sunyi.
Lean langsung berjalan.
Rani mengikuti di sampingnya.
“Kamu lihat sendiri nanti,” tambah Rani pelan.
Taman belakang kampus sepi. Hanya beberapa mahasiswa duduk berjauhan.
Suara burung sore terdengar samar.
Unni duduk di bangku kayu. Sendiri.
Ponselnya di samping.
Tidak disentuh.
Lean berhenti beberapa
langkah
dari
situ.
Mengamati.
Ada yang berbeda.
Cara duduknya. Cara napasnya. Cara dia … diam. Bukan diam biasa. Lebih seperti. .. tidak terlibat.
Lean mendekat. “Unn.”
Unni menoleh. Pelan.
Senyum tipis. “Lean …”
Nada suaranya lembut. Namun …
tidak ada urgensi.
Lean duduk di sampingnya.
Rani di sisi lain. Tiga orang.
Satu bangku.
Namun terasa …
tidak sepenuhnya bersama. Lean tidak langsung bicara. la mengamati dulu.
“Sejak kapan di sini?”
“Sejak habis kuliah,” jawab Unni. “Ngapain?”
Unni menatap ke depan. “Duduk.”
Rani menoleh cepat ke Lean.
Seolah berkata: kan? Lean mengangguk kecil. Oke..”
gumamnya.
la menarik napas.
Lalu langsung masuk ke tujuan. “Unn, aku mau coba sesuatu.”
Unni menoleh.
“Coba apa?”
Lean tidak menjawab langsung. la mengambil ponsel Unni. Meletakkannya di tengah bangku. “Lihat ini.”
Unni melihat. Biasa saja. “Seka rang …”
Lean menatapnya serius. “Jangan pegang.”
Unni mengernyit.
“Va … memang nggak mau.” Lean mengangguk.
“Tapi …”
la mencondongkan badan sedikit.
” kalau tiba-tiba kamu ingin pegang …” ” jangan langsung lakukan.”
Sunyi.
Unni menatapnya.
“Kamu lagi eksperimen ya?” Lean tersenyum tipis.
“Sedikit.” Rani diam.
Namun matanya bolak-balik antara
keduanya.
Beberapa detik berlalu. Tidak ada apa-apa.
Unni tetap diam. Lean mulai ragu. “Kayaknya-” Tiba-tiba-
jari Unni bergerak. Pelan.
Sangat pelan. Menuju ponsel.
Rani langsung menahan napas.
Lean tidak bergerak. Hanya mengamati.
Jari itu hampir menyentuh layar. Namun-
berhenti.
Unni mengernyit.
” … aneh.” bisiknya.
Tangannya masih menggantung di udara.
“Kenapa aku mau pegang ya?” Sunyi.
Lean menatap tajam.
“Lanjutkan.” katanya pelan.
Unni tidak langsung menarik tangan. la justru …
memperhatikan.
Seperti melihat sesuatu. II …• ni• b u kan a k u…” Kalimat itu keluar pelan.
Rani merinding. “Un n i. ..”
Namun Lean memberi isyarat:
diam.
Unni menarik napas. Perlahan.
Matanya sedikit terpejam.
“La fi’la illa Allah…” Beberapa detik. Tangan itu-
turun.
Tidak jadi menyentuh ponsel. Sunyi.
Rani langsung memegang lengan Unni. “Unn..”
Unni membuka mata.
Menatap mereka. “Barusan..”
la berhenti.
” … ada dorongan.”
Lean langsung mencatat di ponselnya sendiri.
Cepat.
“Dorongan dari mana?” Unni menggeleng. “Nggak tahu.”
” …tiba-tiba saja.”
Lean menatap ponsel di tengah bangku.
Lalu ke Unni. Lalu ke Rani.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
I ni’d’1a…” gumamnya. “f60)..” bisiknya lagi.
Rani mengernyit. “Apaan?”
Lean tidak menjawab. la masih berpikir. “Dorongan itu …”
la menunjuk ke Unni. “… kem u ngki nan.”
Lalu menunjuk tangan Unni tadi. “…yang hampir jadi tindakan.” Sunyi.
“… dan kalau itu bisa diprediksi. ..” la berhenti.
“… bisa juga diarahkan.” Rani menatapnya.
Mulai takut.
“Maksudmu… ada yang ngarahin Unni?” Lean tidak langsung menjawab.
la hanya berkata pelan: ” … aku belum tahu.”
Di laboratorium- grafik bergerak cepat. “Intervensi parsial berhasil.” suara Q9 datar.
Elias menatap layar.
“Tingkat?”
37%.°
Mehrdad menyipit. “Masih rendah.”
Q9 melanjutkan:
“Target menyadari dorongan.” Sunyi.
Elias tersenyum tipis.
“Berarti kita mulai terlihat.” Mehrdad menggeleng pelan.
“Bukan itu masalahnya.” Elias menoleh.
“Lalu?”
Mehrdad menunjuk layar. “Dia mulai membedakan …” ” mana dirinya …”
” mana yang bukan.” Sunyi.
” … itu berbahaya.”
Elias diam.
Untuk beberapa detik. Lalu berkata pelan: “Kalau begitu …”
” … kita masuk lebih dalam.”
Kembali ke taman-
Unni menatap tangannya sendiri.
“… taadI rasanya …•
la mencari kata.
” … kayak bukan aku yang mulai.” Rani menggenggam tangannya.
“Unn… kita pulang aja yuk.” Unni mengangguk pelan. Lean berdiri.
Namun sebelum berjalan-
ia menatap ponsel itu sekali lagi. Lama.
” … ini bukan alatnya …” gumamnya.
” … ini cuma pintu.” Rani tidak paham. “Pintu apa?”
Lean tidak menjawab. la hanya berkata:
“Kita harus cari. ..”
” … siapa yang di baliknya.” Angin sore bertiup pelan. Langit makin gelap.
Dan di antara langkah mereka bertiga•
tanpa mereka sadari- sesuatu sedang mencatat.
Bukan apa yang mereka lakukan.
Tapi. ..
apa yang hampir mereka lakukan.
(14)
Malam turun perlahan di Padang.
Lampu-lampu jalan menyala satu per satu. Udara mulai lembab.
Lean belum pulang.
la kembali ke kosnya di daerah Limau
Manis. Kamar kecil. Satu meja. Laptop.
Kipas angin berputar pelan.
la duduk.
Diam beberapa saat.
Pikirannya masih di taman tadi. Tentang tangan Unni.
Tentang dorongan itu.
Tentang … jeda kecil sebelum tindakan.
” … itu bukan refleks.” gumamnya.
la membuka laptop.
Langsung ke catatan. Menulis cepat:
• dorongan muncul sebelum tindakan
• subjek menyadari dorongan
• subjek bisa menahan
Lean berhenti. Menatap tiga poin itu.
” … berarti ini bukan kontrol penuh.” la mengangguk sendiri.
” … masih tahap dorong.”
la membuka kembali rumus. f()= kemungkinan
g(x) = kehendak
“Kalau f(x) dimunculkan ” ” … dan g(x) dilemahkan ”
la berhenti.
” … keputusan bisa digeser.” Lean menelan ludah.
II …I• n•
serus.
la membuka browser.
Mengetik:
“predictive behavior system real time” Hasil muncul.
Namun tetap di batas yang sama:
iklan.
algoritma media sosial. kebiasaan pengguna. Lean menggeleng.
” … ini beda.”
la membuka tab lain. Makalah Unni.
Artikel Agif. Dua layar. Dua dunia.
” … kenapa dua ini muncul bersamaan?” la memperbesar layar.
Melihat metadata.
Tanggal publish. Waktu.
la mencatat.
Makalah Unni » anonim Makalah Agif jurnal resmi Jeda waktu tidak jauh.
” …terlalu dekat.” Lean bersandar. Menatap langit-langit.
” … kayak ada yang menghubungkan.”
la tertawa kecil. Pa hit.
“Mu lai halu aku …”
Namun ia tidak menutup laptop.
la justru membuka satu program lama. Network monitor sederhana.
Bukan canggih.
Namun cukup untuk melihat
dasar. lalu lintas
la hubungkan ke hotspot.
Ke ponselnya sendiri.
Lalu-
ia diam.
Menunggu.
” ka I au in i s i stem …”
” pasti ada gerakan.”
Di ruang dosen-
Agif menutup laptopnya. Namun ia tidak berdiri. Tangannya di meja. Matanya kosong.
la memikirkan satu hal:
perubahan Unni.
Bukan hanya perubahan sikap. Tapi arah pikir.
“Dia tidak lagi mempertahankan …” gumamnya.
” …tapi juga tidak mengikuti.” la mengerutkan kening.
” … ini posisi tengah.”
la mengambil ponsel.
Membuka laman pers kampus. Makalah anonim itu.
la melihat data admin. Akses internal.
la tahu-
secara teknis-
ini bisa ditelusuri.
Namun ia tidak langsung melakukannya. ” … kalau aku salah …”
la menelan ludah.
” … ini bisa merusak.”
Namun pikirannya kembali
Ke Unni.
Ke tatapan itu. ke kelas.
la akhirnya mengetik.
Pelan.
Hati-hati.
Masuk ke panel admin.
Mencari log publish.
IP address.
Waktu upload.
Beberapa detik.
Lalu-
data muncul. Satu lokasi.
Agif membaca. Diam.
” … kampus ini.”
la menutup mata sejenak.
” … b erart1. ..”
la membuka lagi. Mencocokkan. Jadwal.
Kelas. Mahasiswa.
Nama itu muncul.
UNNI.
Agif tidak kaget. Tidak juga lega.
la hanya menghela napas.
“… a ku
ta h u …”
Namun satu hal lain muncul di pikirannya:
” kalau dia menulis ini. ..”
” kenapa sekarang dia berubah?”
Sunyi.
la berdiri.
Mengambil kunci motor.
” … aku harus lihat langsung.”
Di laboratorium• suasana berubah. Lebih aktif.
Lebih cepat.
Grafik bercabang. Simulasi berjalan. “lntervensi meningkat.” suara Q9 datar.
Elias berdiri di depan layar. “Respons?”
“Pa rs i a I.”
Mehrdad melangkah maju. Lebih dekat.
Matanya tajam.
“Terlalu lambat.” Elias menoleh.
“Kita tidak bisa paksa.” Mehrdad tersenyum tipis.
“Kamu masih berpikir ini sistem biasa.”
Sunyi.
Elias menyipit. “Maksudmu?”
Mehrdad menunjuk layar. “Dia tidak melawan.”
” … dia tidak mengikuti.”
” … d’1a
Sunyi.
kel uar.”
“Kalau begitu ..” lanjut Mehrdad,
” … kita tidak bisa pakai cara biasa.” Elias diam.
“Lalu?”
Mehrdad mendekat. Suara lebih pelan.
” …jangan sentuh kesadarannya.” Jeda sejenak.
” … pecah fokusnya.” Elias mengernyit.
“Lingkungan?” Mehrdad menggeleng.
“Lebih dalam.”
la menunjuk satu titik
LEAN. lain di layar.
“Gunakan dia.”
Sunyi.
Elias menatap.
” … sebagai apa?”
Mehrdad tersenyum.
Lebih dingin.
“Sebagai pintu.”
Q9 memproses.
“Strategi baru?”
Mehrdadmenjawab:
“Buat diaberpikir…”
” … bahwa
Sunyi. dia menemukan sendiri.”
Elias tidak langsung bicara. Namun perlahan-
ia tersenyum.
” … itu lebih berbahaya.”
Di kamar kos-
Lean masih menatap layar. Grafik kecil bergerak.
Lalu-
sesuatu muncul. Satu spike kecil. Tidak besar.
Namun … tidak biasa.
Lean langsung duduk tegak. “Ini..”
la memperbesar.
Data tidak jelas. Tidak ada alamat. Tidak ada sumber. Hanya … aktivitas.
” … ini apa?”
la mengetik cepat. Trace.
Ulang.
Bandingkan. Namun-
tidak ada hasil. Data itu …
seperti muncul. .. tanpa asal.
Lean menelan ludah. ” … nggak mungkin …” Layar berkedip.
Seka Ii.
Lalu kembali normal. Lean membeku.
” … aku lihat itu barusan …”
la tidak menyentuh keyboard. Tidak bergerak.
Hanya menatap layar.
Dan untuk pertama kalinya-
la merasa…
bukan hanya dia yang melihat.
(15)
Pagi itu, udara Padang terasa lebih lembab dari biasanya.
Awan menggantung rendah.
Seolah menekan kota. Unni duduk di kelas. Barisan tengah.
Seperti biasa-di sampingnya, Rani. Namun tidak seperti biasa-
ia tidak mencatat.
Tidak juga menatap papan. la hanya … ada.
Dosen di depan menjelaskan.
Mahasiswa lain menulis. Kipas angin berputar pelan. Semua berjalan normal. Kecuali satu hal-
Unni.
Rani melirik.
Seka Ii. Dua kali. “Unn..”
bisiknya pelan.
Unni menoleh. “1ya?”°
Nada suaranya tenang. Terlalu tenang.
“Kamu nggak nulis?”
Unni melihat buku di depannya. Masih kosong.
Oh..”
la mengambil pulpen. Menulis satu baris. Lalu berhenti.
Seperti lupa … kenapa ia menulis. Rani menelan ludah.
lni bukan Unni yang dia kenal. Di luar kelas-
Lean berdiri di lorong. Tangannya memegang ponsel.
Chat terakhir dari Rani masih terbuka: “Lean, datang sekarang. Aku takut.” Lean tidak menunggu lama.
la langsung naik motor.
Dari Limau Manis ke kampus. Tanpa banyak pikir.
Dan sekarang- ia di sini. Menunggu.
Pintu kelas terbuka. Mahasiswa mulai keluar. Lean langsung mencari. Rani keluar lebih dulu.
Menarik napas lega saat melihatnya. “Lean!”
“Mana Unni?”
Rani menunjuk ke dalam. Lean masuk.
Dan melihat-
Unni masih duduk. Sendiri.
“Unn.”
Unni menoleh. “Lean …” Senyum tipis. Tenang.
Namun Lean langsung tahu•
ada yang salah. Bukan panik. Bukan takut. Justru…
tidak ada apa-apa.
Dan itu lebih mengganggu. “Kita keluar yuk.”
kata Lean.
Unni mengangguk.
Tanpa bertanya.
Tanpa alasan.
Mereka bertiga berjalan ke kantin.
Langkah Unni pelan. Sta bi I.
Namun …
tidak responsif.
Seperti seseorang yang berjalan … tanpa benar-benar memilih arah. Di kantin-
mereka duduk di meja pojok. Lean tidak langsung bicara.
la mengamati. “Un n …”
Unni menatapnya. “1ya?”°
“Semalam kamu ngapain?”
“Tidur.”
“Pikir apa?” Unni diam. Beberapa detik. ” … nggak ingat.” Sunyi.
Rani memegang tangan Unni.
“Unn… kamu baik-baik saja kan?” Unni menatap Rani.
“lya”
Jawabannya cepat. Terlalu cepat.
Tanpa rasa.
Lean menunduk. Berpikir.
” … ini bukan sugesti biasa.” la mengangkat kepala. “Unn.”
Unni menatap lagi. “Kamu ingat rumus itu?” Untuk pertama kalinya• mata Unni berubah. Sedikit.
“…rumus?”
Lean mengangguk. “Vang kita buat.” Jeda.
Unni mengernyit.
Seperti mencari sesuatu.
II . .. f. .. g …II
Pelan.
Namun tidak utuh.
Lean langsung sadar• ” … dia mulai lepas.”
Rani menatap Lean. “Maksudnya apa?” Lean tidak menjawab.
la hanya berkata pelan: “Kita butuh bantuan.” “Bantuan siapa?”
Suara itu muncul dari belakang. Tenang.
Dalam.
Mereka bertiga menoleh. Agif berdiri di sana.
Dengan kemeja sederhana. Tas selempang.
Matanya langsung ke Unni. “Pak …”
bisik Rani. Lean berdiri. Refleks.
“Bapak siapa?”
Agif tersenyum tipis. “Dosen dia.”
la menunjuk Unni. Lalu menatap Lean.
” dan mungkin sekarang …”
” kita punya urusan yang sama.” Sunyi.
Lean menatap tajam. ” … maksudnya?”
Agif duduk. Tanpa diminta. “Makalah itu.” katanya pelan. Unni membeku.
Lean langsung menoleh. Rani menahan napas. “Kamu yang nulis, kan?” Unni tidak menjawab. Namun diamnya …
cukup.
Agif mengangguk kecil. “Aku sudah eek.”
la menatap Lean. “Kamu juga terlibat.” Lean tidak kaget.
la hanya bertanya:
‘Terus?”
Agif menyandarkan punggung. “Terus …”
la melihat Unni. Lama.
” … ada sesuatu yang berubah.” Sunyi.
Lean mengangguk pelan. “Kami juga lihat.”
Rani menambahkan:
“Dia kayak … bukan Unni lagi.” Agif tidak langsung menjawab. la menatap Unni.
Lebih dalam. “Bukan.”
katanya pelan.
” … dia masih Unni.” Jeda.
” …tapi bukan hanya Unni.” Kalimat itu membuat Lean diam. “Jelaskan.”
katanya tegas.
Agif menarik napas. “Kalian pernah dengar…”
” … pikiran bisa dipengaruhi?” Lean langsung menjawab. “Ya.”
“Bagaimana kalau …”
Agif mencondongkan badan.
” bukan hanya dipengaruhi. ..” ” tapi diarahkan?”
Sunyi.
Rani langsung merinding. Lean menatap tajam.
” … oleh siapa?”
Agif tidak menjawab langsung.
la hanya berkata:
“Kalau rumus kalian benar…” ” … maka ini mungkin.”
Lean membeku. Rumus.
f(x)
g(x) Kemungkinan. Kehendak. “Berarti …”
la menelan ludah.
” ada yang membaca kemungkinan …” ” lalu menggeser kehendak.”
Agif mengangguk.
“Ya.”
Rani hampir menangis. “Jadi Unni. .. dikendalikan?” Agif menggeleng.
“Belum.”
Semua menatapnya. “Baru…”
la berhenti sejenak.
“••• di1 d. orang.•
Sunyi.
Unni tiba-tiba bicara. Pelan.
“… a ku
ta h u.”
Mereka semua menoleh.
Unni menatap ke depan.
II … a d a sesuatu …II
II … yang
b u kan a ku”.
Lean langsung mendekat.
“Unn!”
Unni menutup mata. “La fi’la illa Allah …” Napasnya stabil. Namun-
untuk sepersekian detik• wajahnya berubah. Seperti. ..
menahan sesuatu.
Di laboratorium• alarm kecil berbunyi. “Interaksi meningkat” suara Q9.
Layar menampilkan:
ARUNI LEAN AGIFSYAH
Elias tersenyum. “Akhi rnya …”
Mehrdad berdiri di belakang. Diam.
Namun kali ini• senyumnya lebih dalam. “Seka rang …”
katanya pelan.
” … permainan dimulai.”
Kembali ke kantin-
tiga orang duduk mengitari satu meja. Bukan lagi kebetulan.
Bukan lagi sendiri-sendiri.
Tiga jalur.
Satu titik.
Dan tanpa mereka sadari•
mereka sudah masuk …
ke dalam sesuatu yang jauh
lebih
besar
dari mereka.
(16)
Malam turun perlahan di Padang.
Lampu-lampu jalan menyala satu per satu. Udara lembab, menempel di kulit.
Dari arah laut, angin datang pelan•
membawa rasa yang entah kenapa … tidak nyaman.
Di tiga tempat berbeda-
tiga orang mengalami sesuatu yang sama. Namun dengan cara yang berbeda.
Di rumah Unni-
Lampu kamar menyala redup.
Dari dapur, terdengar suara mandeh. Sendok beradu pelan.
Air mendidih. Biasa.
Sangat biasa.
Namun di dalam kamar•
tidak.
Unni duduk di tepi tempat tidur. Punggung sedikit membungkuk. Tangan di pangkuan.
Ponselnya di meja. Diam.
Namun matanya• sesekali melirik ke sana. la menarik napas.
Dalam.
“La fi’la illa Allah …” Pelan.
Berulang. Satu kali.
Dua. Tiga.
Napasnya mulai stabil.
Namun-
di sela ketenangan itu•
sesuatu muncul. Tidak berupa kalimat. Tidak berupa suara. Hanya …
arah. “Buka.”
Unni menutup mata lebih kuat.
“La fi’la illa Allah …” Dorongan itu melemah. Namun tidak hilang.
la kembali. Lebih halus. “Cek saja …”
Unni menggenggam tangannya sendiri.
II …• ni• b u kan a k u…”
Namun kali ini-
dorongan itu tidak pergi. la tetap ada.
Seperti bayangan yang tidak terlihat•
tapi terasa. Menunggu.
Di kos Lean-
Lampu putih terang.
Kipas angin berputar pelan. Laptop terbuka.
Grafik kecil bergerak.
Lean duduk di depan meja. Menatap.
Namun pikirannya tidak fokus. la membaca.
Namun tidak masuk.
« … ane h..”. gumamnya.
la mengusap wajah. Lalu-
tiba-tiba-
satu ide muncul. “Ulang dari awal. ..” Lean berhenti.
” … aku sudah lakukan itu.” Namun ide itu tetap ada. Lebih kuat.
Lebih mendesak. “U I an g s aja …”
Lean mengerutkan kening.
… ngga k
per I u.”
la hendak lanjut.
Namun tangannya•
berhenti. Kursor diam.
…u]a,
ng sa: a…n
Lean menatap layar.
Jantungnya mulai berdetak lebih cepat. ” … ini bukan aku.”
la langsung menutup laptop. Cepat.
Duduk tegak.
Menarik napas dalam.
II … f0 k us …”
Beberapa detik berlalu. Dan perlahan-
ide itu hilang.
Seolah tidak pernah ada. Lean membuka mata.
II … b: arusan …”
la langsung mengambil catatan. Menulis cepat:
• dorongan tanpa sebab
• muncul berulang
• tidak sesuai tujuan la berhenti.
Menatap tulisan itu.
••• ini bukan sugesti. ..”
Untuk pertama kalinya•
ia tidak hanya meneliti.
I a …
terkena.
Di kamar Agif• Lampu dimatikan.
Hanya cahaya samar dari jendela.
la duduk bersila di atas sajadah. Punggung tegak.
Agif bukan sekadar dosen filsafat Islam. la hidup di dalamnya.
Apa yang ia ajarkan-
ia praktikkan.
Dalam kegelisahan seperti ini• ia tidak mencari jawaban di luar. la kembali ke dalam.
Ke dzikir.
la menarik napas dalam. Menutup mata. “Astagfirullahal ‘adziim …” Satu.
“Astagfirullahal ‘adziim …” Dua.
“Astagfirullahal ‘adziim …” Tiga.
Napasnya mulai tenang. Kemudian-
“Allahumma shalli ‘ala Muhammad …” Satu.
Dua. Tiga.
Ruang menjadi hening. Namun penuh.
la melanjutkan- lebih dalam.
“La fi’la illa Allah …”
Satu. Dua. Tiga. Em pat. Lima. Enam. Tujuh.
Delapan.
Sembilan. Setiap lafaz-
tidak sekadar diucap. Disadari.
Bahwa tidak ada perbuatan•
kecuali Allah. Bahwa pikiran- bukan miliknya. Bahwa dorongan- bukan miliknya.
la tidak melawan. la tidak menahan.
la tidak mengontrol.
I a … menyerahkan. Terakhir-
“La ilaha illa Allah …” Satu.
Dua.
Tiga. Berlanjut-
hingga tiga puluh tiga. Di tengah dzikir itu-
sesuatu mencoba masuk. Sangat halus.
“Analisis ini. ..”
Namun-
tidak ada yang menyambut. Tidak ada yang mengikuti. Tidak ada yang berkembang. Pikiran itu jatuh.
Seperti daun kering. Tanpa akar.
Agif tetap diam. Tenang.
Tidak terganggu. Di laboratorium-
tiga grafik bergerak bersamaan.
ARUNI LEAN AGIFSYAH
“Intervensi aktif.” suara Q9. “Respons?”
tanya Elias. “Berbeda.”
Layar memperbesar satu per satu. ARUNI , resistensi meningkat LEAN mulai terpengaruh AGIFSYAH » stabil
Elias menyipit.
“Kenapa yang itu stabil?” Mehrdad menjawab pelan. “Dia tidak melawan.”
Elias menoleh.
“Yang lain?” “Masih berusaha.” Sunyi.
Mehrdad melanjutkan:
“Selama masih ada usaha …” ” … masih ada pintu.”
Elias mengangguk pelan.
” …jadi kita tekan yang dua.” Q9 memproses.
“Prioritas?”
Mehrdad menunjuk layar.
LEAN.
“Vang ini dulu.”
Elias mengangkat alis. “Kenapa?”
Mehrdad tersenyum tipis. “Karena dia berpikir…”
” dan orang yang berpikir…” ” paling mudah diarahkan.” Sunyi.
Q9 menandai target.
LEAN • PRIORITAS
Kembali ke kos• Lean berdiri. Mondar-mandir.
” … ini bukan Unni saja …” la berhenti.
” … aku juga kena.”
Jantungnya berdetak lebih cepat.
…ini sistem…
” … dan aku sudah masuk.”
Di rumah Unni-
Gadis itu membuka mata. Tenang.
Namun kini- ia tahu. Dorongan itu- tidak hilang.
la hanya … menunggu.
Di kamar Agif-
Dosen itu membuka mata perlahan. Tenang.
” … ini bukan lagi teori. ..” bisiknya.
” … ini sudah masuk ke manusia.”
Di laboratorium-
Mehrdad menatap tiga titik itu.
Senyumnya perlahan melebar. “Seka rang …”
” … mereka mulai terhubung.” Elias mengangguk.
” … dan itu berarti?”
Mehrdad menjawab pelan.
” … lebih mudah dihancurkan.”
(17)
Malam itu-tidak ada yang benar-benar tenang.
Padang seperti biasa. Lampu jalan menyala. Motor lalu-lalang.
Orang-orang masih tertawa di warung kopi. Namun di balik semua itu-
ada sesuatu yang bergerak. Tidak terlihat.
Tapi. .. bekerja.
Di kos Lean-
Jam menunjukkan pukul 01.12.
Lampu masih menyala. Laptop terbuka.
Namun layar kosong. Lean duduk.
Diam.
Terlalu lama diam.
Matanya menatap satu titik. Tidak fokus.
Tidak benar-benar melihat.
Di dalam kepalanya-
.
rama1.
…u]a,
ng sa: a…n
Kalimat itu muncul lagi.
Lebih jelas sekarang. “Mulai dari awal. ..”
Lean menghela napas kasar.
Mengusap wajah.
“Udah aku bilang … nggak perlu …”
gumamnya.
Namun pikirannya tidak berhenti. Justru berkembang.
“Semua analisismu salah ” “Data kamu tidak lengkap ” “Ulang dari awal. ..”
Lean berdiri.
Mendorong kursinya ke belakang. “Stop …”
la berjalan ke jendela. Membuka.
Udara malam masuk. Namun tidak membantu.
” …uIang saj.a…”
Lebih pelan.
Lebih meyakinkan.
” … bi1ar
b enar…”
Lean menutup mata.
II …• ni• b u kan a k u…”
Namun-
untuk pertama kalinya-
.
a ragu.
” … atau ini memang aku?” Kalimat itu-
membuatnya berhenti. Jantungnya berdetak keras. “Kalau ini aku …”
” … kenapa aku melawan?” Sunyi.
Dan di titik itu• retakan kecil muncul. Lean berbalik.
Melihat laptop. Perlahan-
ia berjalan mendekat. Duduk.
Tangannya bergerak. Membuka file lama. Log.
Script. Analisis.
“Mu I a i I a g i. ..”
bisiknya. Di layar-
baris kode muncul. Satu per satu.
Lean mengetik. Cepat.
Lebih cepat dari biasanya. Seolah-olah-
ia tidak sedang berpikir. la hanya …
mengikuti.
Di rumah Unni•
Mandeh terbangun.
Air di dapur mendidih terlalu lama.
la bangkit.
Mematikan kompor.
Lalu-
ia menoleh ke arah kamar Unni. Lampu masih menyala.
“Unni..”
panggilnya pelan. Tidak ada jawaban.
la berjalan mendekat.
Membuka pintu perlahan. Unni duduk.
Di tempat yang sama. Seperti tadi sore. Namun kali ini-
lebih diam. Lebih … kosong. “Unni?”
Gadis itu menoleh. Pelan.
Senyumnya tipis. “lya, Ndeh …” Suara itu normal. Terlalu normal.
Mandeh mengerutkan kening. “Kok belum tidur?”
Unni tidak langsung menjawab. Sejenak-
ia terlihat seperti mencari sesuatu.
… ngga k
ngantu k…II
Jawaban itu sederhana.
Namun ada jeda aneh di dalamnya. Mandeh mendekat.
Duduk di sampingnya. Memegang tangannya. Dingin.
“Unni sakit?”
Unni menggeleng. Namun•
tatapannya kosong.
Tidak benar-benar melihat mandeh. Di dalam dirinya-
ada sesuatu yang sedang bekerja.
“Diam saja..”
“Tidak perlu berpikir…” “Biarkan..”
Unni tidak melawan.
Namun kali ini-
ia juga tidak sepenuhnya sadar.
Di kamar Agif•
Dzikir belum selesai. Namun kali ini-
ada yang berbeda. Biasanya-
tenang datang perlahan. Namun malam ini• gelombang.
Pikiran datang- lebih cepat. Lebih tajam.
“Ini hanya sugesti. ..”
“Ini hanya fenomena psikologis …” “Tidak perlu dibesar-besarkan …” Agif membuka mata.
la langsung sadar.
” … ini bukan pikiranku.”
la menarik napas dalam. Menutup mata lagi.
“La fi’la illa Allah…”
Namun•
kali ini-
pikiran itu tidak pergi. la tetap ada. Menunggu.
Agif tidak melawan.
Namun ia juga tidak membiarkan. la … menyadari.
Beberapa detik. Lalu-
perlahan- pikiran itu jatuh. Tidak hilang.
Namun tidak berkuasa. Agif membuka mata.
” … mereka mulai masuk lebih dalam …”
Di laboratorium• Layar berubah cepat.
LEAN • aktivitas meningkat tajam
ARUNI respons menurun
AGIFSYAH stabil namun terdeteksi gangguan
Elias tersenyum.
“Va n g i n i. ..”
(ia menunjuk Lean) ” … mulai terbuka.” Mehrdad mengangguk. “Retakan sudah ada.”
Q9 menampilkan grafik. Pola baru.
Bukan lagi respon. Tapi. ..
pengaruh.
“Masuk lebih dalam,” kata Mehrdad. “Dorong terus.”
“Batas?”
tanya Q9.
Mehrdad tersenyum tipis. “Tidak ada.”
Elias menoleh. “Kalau dia rusak?”
Mehrdad menjawab datar: “Lebih baik.”
Sunyi.
Perintah dikirim. lntervensi meningkat.
Di kos-
Lean masih mengetik. Namun kini•
matanya berbeda. Lebih fokus. Namun … kosong.
Baris kode terus berjalan. Lebih cepat.
Lebih rapi.
Namun-
tidak seperti biasanya.
la tidak lagi menganalisis. la hanya …
mengeksekusi. Di layar-
tanpa ia sadari-
sebuah koneksi terbuka. Tidak terlihat.
Tidak tercatat. Namun aktif.
Di rumah Unni-
Mandeh menggenggam tangan Unni lebih erat.
“Un n i. ..”
suaranya mulai bergetar. “Kamu kenapa?”
Unni menatapnya. Lama.
Seolah-olah•
mengenali. Namun dari jauh.
“… a ku ngga k
apa-apa …”
Namun kali ini•
suara itu …
tidak sepenuhnya miliknya.
Di kamar Agifsyah• Agif berdiri.
Teringat Unni. Teringat Lean.
“Unni sudah jelas dimasuki. Rani. .. Lean … ,”
pikirnya.
Agif masih berpikir. Mencerna. Membatin,”Rani. .. sejauh ini, anak itu biasa-
b.asa sa].a… la tahu.
Tapl….
L.ean…?. ”
lni tidak bisa dibiarkan. la mengambil ponsel. Menatap nama:
LEAN.
la ragu sejenak. Lalu-
menekan. Panggilan masuk.
Di kos-
ponsel Lean bergetar. Namun ia tidak melihat. la terus mengetik. Panggilan berhenti. Masuk lagi.
Di layar laptop•
kursor berhenti.
Untuk sepersekian detik. Lalu-
lanjut lagi. Lebih cepat.
Di laboratorium• Q9 mencatat:
INTERFERENSI EKSTERNAL TERDETEKSI
Mehrdad menyipit. “Siapa?”
Nama muncul:
AGIFSYAH
Mehrdad tersenyum. “Bagus..”
Elias mengerutkan kening. “Kenapa bagus?”
Mehrdad menjawab pelan: “Seka rang …”
” … semua sudah masuk ke permainan.” Sunyi.
Di tiga tempat•
tiga orang-
tidak lagi berjalan sendiri. Dan malam itu•
permainan berubah.

(18)
Pagi datang.
Namun tidak semua
yang
bangun … benar•
benar kembali.
Di kos Lean-
Lampu masih menyala.
Laptop masih terbuka. Kipas berputar pelan. Lean tertidur di kursi. Kepalanya miring.
Tangan masih di keyboard. Layar menampilkan kode. Banyak.
Rapi.
Namun … bukan sepenuhnya miliknya. Ponsel bergetar.
Seka Ii. Dua kali. Tiga kali.
Lean bergerak. Pelan.
Mata terbuka setengah. la tidak langsung sadar. Beberapa detik-
ia hanya menatap layar. Kosong.
Lalu-
seperti tersadar tiba-tiba•
ia menarik napas dalam. ” … a stag hfi r u 11 ah …”
Tangannya menjauh dari keyboard. la melihat layar.
Lebih fokus sekarang.
Baris kode itu …
asm• ng.
“Ini.. apa?” la scroll. Cepat.
Lebih cepat. File baru. Script baru. Log baru. Namun-
tidak ada riwayat pembuatan. Tidak ada timestamp.
Tidak ada proses yang mencatatnya.
Lean berdiri.
Kursi terdorong ke belakang.
“Ini bukan aku …” Namun-
jantungnya berdetak keras. Karena•
ia tahu.
Tadi malam•
ia mengetik.
la membuka satu file. Membaca.
Baris pertama:
initiate passive bridge
Lean membeku. Baris berikutnya:
wait for cognitive sync do not alert
“Bridge … ?”
la mundur selangkah.
” … sinkronisasi kognitif… ?”
Lean langsung menutup laptop. Refleks.
Namun-
pikirannya tidak bisa ditutup. la berjalan mondar-mandir. Cepat.
“Kalau ini jalan …”
” … b erart1. ..” la berhenti. Wajahnya berubah.
” … aku yang buka pintunya.” Sunyi.
Untuk pertama kalinya•
Lean merasa takut. Bukan pada sistem. Tapi. ..
pada dirinya sendiri. Ponsel kembali bergetar. Nama muncul:
AGIFSYAH
Lean menatap layar. Ragu.
Namun kali ini•
ia tidak menunda.
Angkat.
“Pak..”
Suara Lean serak.
Di ujung sana-
Agif langsung menjawab.
“Lean, kamu di mana?”
“Di kos …”
“Jangan ke mana-mana. Saya ke sana.”
Lean terdiam.
Nada itu-
bukan nada dosen.
ltu nada …
orang yang tahu sesuatu.
“Pak..”
Lean menelan ludah.
” … saya kayaknya … bikin sesuatu.” Hening sebentar.
Agif menjawab pelan: “Bukan kamu yang bikin.” Lean diam.
Kalimat itu-
anehnya•
menenangkan.
“Jangan sentuh laptop dulu,” lanjut Agif. “Dan jangan percaya semua yang kamu piki rkan.”
Panggilan terputus.
Lean menatap layar hitam ponselnya. “Jangan percaya pikiranku …”
la mengulang pelan.
Di rumah Unni• Pagi tidak berbeda. Namun Unni. .. berbeda.
la duduk di ruang tengah.
Mandeh sedang menyapu. Ayah duduk di kursi kayu. Radio menyala pelan.
Berita pagi.
Semua normal. Namun Unni-
terlalu diam. Rani datang.
Tanpa salam panjang.
Langsung masuk. “Unni!”
la berhenti.
Melihat sahabatnya. Yang duduk.
Namun …
tidak benar-benar hadir. “Unni …”
suara Rani melembut. la mendekat.
Duduk di samping. Menggenggam tangan Unni. “Unn… lihat aku …”
Unni menoleh. Matanya … tenang.
Terlalu tenang.
II …1• ya,
R ‘an…II
Rani menelan ludah.
lni bukan Unni yang dia kenal. Biasanya-
Unni cepat. Respon cepat. Emosi cepat. Sekarang- semuanya lambat. Seperti. ..
terfi lter.
“Unn… kamu masih ingat kita ke Alahan
Panjang bulan lalu?” Unni diam.
Sejenak.
II …I• ngat…II
Jawaban itu benar. Namun …
tidak terasa.
Rani menoleh ke ayah Unni. Tatapan cemas.
Ayah hanya mengangguk pelan.
Lalu berkata: “Coba lagi. ..” Rani mengerti.
la menatap Unni. “Unn… ayo ikut aku.” “Ke mana?”
“Jalan sebentar.” Unni berdiri.
Tanpa bertanya lagi. Tanpa ragu.
Tanpa keinginan.
Rani menahan napas.
” … ini yang paling bahaya …” bisiknya pelan.
Di jalan-
Angin pagi sejuk. Motor lewat.
Orang-orang mulai beraktivitas.
Namun- Rani fokus.
la menoleh ke Unni.
“Unn..”
“Kalau kamu pengen sesuatu …”
” … kamu masih ngerasa itu dari kamu?” Unni menatap ke depan.
“..k. av d ang
.1ya…II
” … kadang nggak.”
Rani berhenti berjalan. ltu jawaban paling jujur. Dan paling menakutkan.
Di kos-
Pintu diketuk keras.
Lean langsung membuka. Agif berdiri di depan. Tanpa basa-basi• langsung masuk.
“Mana laptopnya?” Lean menunjuk meja. Agif mendekat. Membuka.
Membaca cepat.
Matanya menyipit.
“Ini bukan program biasa …” Lean berdiri di belakang.
“pak….
·1 n’I
kaya k..”.
” … nyambung ke aku”
Agif tidak langsung menjawab. la hanya berkata:
“Kamu ingat semua yang kamu lakukan
semalam?” Lean diam.
” … nggak semuanya.”
Agif mengangguk pelan. “Berarti ada bagian …”
” …yang bukan kamu.” Sunyi.
Lean menelan ludah.
“Pak..”
” kalau dia bisa pakai aku …”
” berarti dia bisa pakai siapa saja?” Agif menutup laptop.
Menatap Lean.
Dalam.
‘Tidak.”
Lean mengernyit. “Kenapa?”
Agif menjawab pelan:
“Karena tidak semua orang …” ” … membuka pintunya.”
Lean membeku. Kalimat itu- langsung kena. la ingat. Semalam.
la sendiri yang mulai. la yang menelusuri.
la yang mencoba “bicara”.
” … a ku yang un d ang …II
Agif tidak menyangkal.
Namun juga tidak menyalahkan. “Sekarang kita tutup.”
Lean menatapnya. “Caranya?”
Agif tidak langsung menjawab. la duduk.
Menarik napas.
Lalu berkata:
“Kamu harus kembali sadar…” ” … bahwa itu bukan kamu.” Lean mengangguk.
Namun kali ini-
tidak cukup. “Dan satu lagi. ..” lanjut Agif.
“Jangan ikuti dorongan apapun …”
” … sebelum kamu yakin itu milikmu.” Sunyi.
Lean menarik napas panjang.
Saat itu ia tidak ingin mengerti. la hanya ingin …
selamat.
Di tempat lain• Q9 mencatat.
LEAN resistensi meningkat
ARUNI stabil (pasif)
AGIFSYAH aktif (intervensi langsung) Mehrdad tersenyum.
“Men a ri k …”
Elias menatap layar.
“Vang satu hampir kita dapat …” ” yang satu hilang …”
” yang satu melawan.” Mehrdad mengangguk. “Perfect.”
Elias menoleh. “Kenapa perfect?”
Mehrdad menjawab pelan: “Karena sekarang …”
” … kita tahu siapa yang paling berbahaya.” Di layar-
satu nama disorot.
AGIFSYAH
Sunyi.
Dan permainan-
naik satu level lagi.
(19)
Siang itu-
tidak ada yang tampak berbeda. Kampus berjalan seperti biasa. Mahasiswa lalu-lalang.
Motor keluar masuk.
Pedagang gorengan di depan gerbang tetap ramai.
Namun-
sesuatu mulai berubah. Bukan di dalam manusia. Di luar.
Unni berjalan bersama Rani. Menuju kelas.
Langkahnya pelan. Teratur.
Rani memperhatikan. Tidak berkedip.
“Unn..” “lya?”
“Kalau kamu mau belok …” ” … itu karena kamu mau?” Unni diam.
Sejenak.
” … kadang aku nggak tahu …” Rani menggigit bibir. Jawaban itu•
makin sering keluar. Dan makin jujur.
Mereka sampai di tangga. Tiba-tiba-
la tetap berjalan. Seolah-olah• tidak melihat. “Unni!”
Rani menarik tangannya.
“Eh … maa ¢..”. Unni berhenti. Menunduk.
Membantu memungut buku. Gerakannya tepat.
Normal. Namun- terlambat.
Mahasiswa itu tersenyum. “Makasih ya.”
Unni mengangguk. Lalu berjalan lagi. Rani menatapnya.
” tadi kamu nggak lihat?”
” Ii hat.”
“Terus kenapa nggak berhenti?”
Unni diam.
” … nggak kepikiran.” Sunyi.
Rani merasakan sesuatu. Bukan Unni tidak peduli. Tapi-
reaksinya tidak muncul. Seperti ada yang … menahan.
Di kos Lean-
Laptop kembali terbuka. Namun kali ini-
Lean tidak menyentuhnya. la duduk di lantai. Bersandar di dinding. Ponsel di tangan.
la sedang membaca. Bukan forum biasa. Bukan artikel.
Tapi-
jurnal.
Kasus psikologi. Judulnya:
“Automatic Behavior Under Suggestion
State”
Lean menghela napas.
II …m• p•
…II
Namun•
tidak sama.
Kasus itu tentang hipnosis. Tentang sugesti.
Tentang kontrol perilaku. “Tap i in i. ..”
Lean menatap layar laptop. ” nggak ada hipnotis.”
” nggak ada interaksi langsung.” ” nggak ada medium.”
la berdiri. Mendekat. Menatap laptop. ” … kecua p1. “..
Kalimat itu berhenti. la ingat sesuatu. Bukan dari IT.
Dari kejadian. Semalam-
ia membuka file. la mengetik.
la mengikuti.
« …mer dirum-nya…n
” … aku sendiri.”
Lean menutup mata.
Jantungnya berdetak lebih cepat. “Kalau dia bisa pakai aku …”
” … dia bisa pakai siapa saja …”
Di kampus-
Agif berjalan menuju kelas. Namun langkahnya melambat. la melihat sesuatu.
Di papan pengumuman. Tulisan baru.
Poster seminar.
Judul besar:
“ALGORITMA PERILAKU MANUSIA DI ERA
DIGITAL”
Agif berhenti. Menatap.
Alisnya mengernyit.
la tidak ingat ada seminar ini. Namun-
poster itu tampak resmi. Lengkap.
Tanggal hari ini. Tempat: aula kampus. la mendekat.
Membaca lebih detail.
Pembicara:
Dr. – (tidak dikenal) Topik:
“Prediksi dan Kendali Respon Manusia”
Agif mundur selangkah.
” … in i terl al u kebetu I an …”
Di aula-
Mahasiswa mulai masuk. Tanpa rencana.
Tanpa undangan resmi. Namun-
ramal.
Seolah-olah•
semua tahu.
Di luar-
Rani dan Unni berjalan. Tiba-tiba-
Unni berhenti.
Menatap ke satu arah. “Unn?”
“..k. e sana …,,
“Ke mana?”
Unni menunjuk aula.
“… a ku pengen
ke sana …”
Rani mengernyit.
“Kamu ada kelas …” ” … nanti saja.” Namun-
Unni tetap diam. Matanya tertuju ke aula. “Un n i. ..”
Rani mulai panik.
“Ini kamu yang mau?” Unni menjawab pelan: ” aku nggak tahu …”
” tapi aku harus ke sana.” Sunyi.
Kalimat itu- bukan keinginan. ltu seperti. .. perintah.
Di kos-
Lean membuka laptop lagi. Namun kali ini-
bukan untuk coding.
la membuka log jaringan. Mencoba satu hal sederhana: melihat traffic.
Namun-
hasilnya aneh.
Tidak ada koneksi aktif. Tidak ada proses.
Tidak ada jalur.
” kalau nggak ada jalur…” ” dia kerja lewat apa?” Lean terdiam.
Lalu-
ia ingat satu hal. Semua kejadian• tidak langsung. Tidak frontal. Selalu lewat … kejadian.
la berdiri cepat.
” bukan sistem digital. ..” ” tapi sistem kejadian …”
Kalimat itu membuatnya merinding. la langsung mengambil ponsel. Menelpon Rani.
“Ran, Unni di mana?” “Di kampus..”
“Dia lagi ke mana?”
” … dia lagi maksa ke aula …” Lean membeku.
” …jangan biarin dia masuk.” “Kenapa?”
Lean tidak punya jawaban pasti.
Yang pasti, Lean tidak tahu akan ada acara di aula.
Namun ia tahu satu hal:
“Apa yang dilakukan Unni itu bukan keinginannya.”
Di aula-
Pintu terbuka.
Unni melangkah masuk. Pelan.
Rani di belakangnya. Menahan.
“Unni, jangan …”
Namun- tangannya dilepas. Di dalam-
ruangan penuh. Namun suasana … aneh.
Terlalu tenang. Terlalu fokus. Di depan-
layar besar menyala. Tidak ada pembicara. Namun-
slide sudah berjalan. Tulisan pertama:
“Apakah kamu yakin pikiranmu milikmu?” Unni berhenti.
Matanya menatap layar. Tidak berkedip.
Seperti menanti kelanjutan.
Di luar- Agif berlari.
Untuk pertama kalinya• ia tidak berjalan tenang. “Jangan …”
bisiknya.
” … ini bukan kebetulan …”
Di laboratorium• Q9 mencatat.
LINGKUNGAN berhasil dimodifikasi
RESPON TARGET • meningkat
Mehrdad tersenyum. “Seka rang …”
” … kita tidak butuh masuk ke dalam.” Elias menatap layar.
” … kita cukup atur dunia di luar.”
Sunyi.
Dan di titik itu-
perang berubah sepenuhnya. Bukan lagi tentang pikiran. Tapi tentang kenyataan.
(20)
Aula itu•
terlalu tenang.
Tidak ada pembicara. Tidak ada suara pembuka. Tidak ada moderator. Namun semua orang• duduk.
Diam.
Menatap ke depan.
Seperti. .. sudah tahu harus apa. Unni melangkah masuk. Langkahnya pelan.
Matanya langsung tertarik ke layar.
Tanpa melihat kiri kanan.
Tanpa menyadari Rani yang masih mencoba menarik tangannya. “Unni… jangan …”
Namun-
tidak ada respon. Slide berubah.
Tulisan kedua muncul:
“Kamu berpikir… atau kamu dipikirkan?” Beberapa mahasiswa bergeser.
Ada yang mengernyit.
Ada yang tersenyum kecil. Namun-
tidak ada yang bangkit. Di barisan tengah•
Unni duduk. Tanpa diperintah. Tanpa memilih.
la hanya … duduk.
Rani tetap berdiri.
Matanya menyapu ruangan.
“Ini nggak normal. ..” bisiknya.
Namun-
tidak ada yang mendengar.
Di luar-
Agif sampai di depan aula. Napasnya cepat.
la berhenti sejenak. Menatap pintu.
la tahu-
ini bukan sekadar seminar. la masuk.
Di dalam-
suasana berbeda. Udara terasa berat. Bukan karena panas. Tapi karena …
diam yang terlalu dalam.
Agif melihat Unni. Langsung.
la berjalan cepat. “Unni.”
Tidak ada respon.
la berdiri di depannya. Menunduk.
“Unni.”
Lebih tegas.
Gadis itu menoleh. Pelan.
II …1• ya,
p’a. k..”.
Suara itu normal.
Namun•
kosong.
Agif merasakan sesuatu. Bukan sekadar perubahan. In i. ..
penghilangan. Slide berubah lagi.
“Kamu tidak perlu memilih.”
Beberapa kepala mulai mengangguk. Refleks.
Tanpa sadar.
Agif menoleh ke layar. Matanya tajam.
” … in i sugesti ko lektif…” la langsung paham. Bukan hipnosis.
Bukan kontrol langsung. lni-
pengulangan ide. Ditanam.
Disusun. Diperkuat.
la kembali ke Unni. “Unni, dengar saya.” Namun-
mata Unni kembali ke layar. Seperti ditarik.
Slide berikutnya muncul: “Semakin kamu berpikir…” ” … semakin kamu lelah.”
Seseorang di barisan belakang menghela
napas.
Seorang lagi menunduk. Efek mulai terasa.
Di kos-
Lean berlari keluar. Tanpa jaket.
Tanpa helm.
Motor dinyalakan cepat. la tidak tahu pasti. Namun ia tahu-
ini titiknya.
Di aula-
Agif duduk di depan Unni.
Memaksa masuk ke garis pandangnya. “Lihat saya.”
Unni menatapnya.
Namun hanya sebentar.
,,… saya cape k..”.
Kalimat itu keluar pelan.
Seperti. .. dipinjam.
Agif menarik napas. “Capek itu bukan kamu.” Unni mengernyit sedikit. Retakan kecil.
Namun-
slide berubah lagi.
“Kamu tidak perlu melawan.” Retakan itu-
tertutup lagi.
Agif menyadari sesuatu. lni bukan satu arah.
In i. .. pertarungan.
la menutup mata sejenak. Menarik napas.
Lalu-
pelan-
ia mulai:
“Astaghfirullahal adziiim …”
(1)
“Astaghfirullahal adziiim …”
(2)
“Astaghfirullahal adziiim …”
(3)
Beberapa orang menoleh. Suara itu …
mengganggu ritme.
Agif melanjutkan:
“Allahumma shalli ‘ala Muhammad …”
(1) (2) (3)
Ritme aula mulai pecah. Tidak semua.
Namun-
ada gangguan. Di layar-
slide berhenti sepersekian detik. Seperti terganggu sesuatu.
Di laboratorium• Q9 mencatat:
INTERFERENSI NON-KOGNITIF
TERDETEKSI Mehrdad menyipit. “Apa itu?”
Q9 menjawab: “Tidak terdefinisi.”
Di aula-
Agif membuka mata. Menatap Unni.
“La
(1) fi’la illa Allah …”
“La
(2) fi’la illa Allah …”
“La fi’la illa Allah …”
(3)
Unni menatapnya. Lebih lama.
Ada sesuatu …
yang bergerak. Bukan pikiran. Kesadaran. Namun-
slide berubah cepat.
“Kamu aman … kalau kamu ikut.” Retakan itu-
hampir hilang lagi.
Di luar-
motor Lean berhenti mendadak. la berlari masuk.
Di dalam- ia melihat:
Agif di depan Unni.
Rani di samping. Ruang penuh. Layar menyala.
Danialangsungtahu•
ini bukan lagi teori. lni serangan.
Lean mendekat. “Unni!”
Gadis itu menoleh.
Untuk sepersekian detik•
benar-benar menoleh.
” … Lean …• Suara itu• lebih hidup. Agif melihat. “Sekarang!”
Lean tidak berpikir.
la langsung menarik tangan Unni. “Keluar”
Unni berdiri.
Namun- langkahnya berat.
Seperti ada yang menahan.
Slide berubah cepat. “Jangan pergi.”
Beberapa mahasiswa menoleh ke arah
mereka.
Tidak marah.
Namun•
tidak suka.
Tekanan sosial muncul.
Rani menggenggam tangan
Unni
dari
sisi
lain.
“U nn … ayo …»
Tiga arah. Tarik-menarik. Dan di titik itu-
Unni menutup mata. Satu kalimat muncul. Pelan.
Dalam.
“La fi’la illa Allah …” Sunyi.
Sepersekian detik•
semua terasa berhenti. Lalu-
langkahnya ringan. la berjalan.
Keluar.
Lean dan Rani di sampingnya. Agif di belakang.
Mereka keluar dari aula. Pintu tertutup.
Di dalam-
slide tetap berjalan.
Orang-orang tetap duduk. Seperti tidak terjadi apa-apa.
Di luar-
Unni menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya-
ia benar-benar sadar. Namun-
Agif tidak tersenyum. Lean juga tidak.
Rani menggenggam tangan Unni lebih erat.
Karena mereka tahu- ini belum selesai.
Tapi mereka punya tekad yang sama.
Di laboratorium• Q9 mencatat:
TARGET sempat lepas
METODE • masih efektif STRATEGI perlu ditingkatkan Mehrdad tersenyum tipis.
“Bag us …”
Elias menoleh. “Gaga I.”
Mehrdad menggeleng pelan. “Bukan.”
” … kita baru tahu batasnya.” Sunyi.
Dan batas itu-
baru saja dilampaui.
“Hanya perlu menata ulang, sehingga
batas itu lebih jauh dari sekarang,” gumam
Mehrdad.
(21)
Efek itu … tidak berhenti di aula. la menyebar.
Pelan.
Namun pasti. Sore itu-
kampus terlihat biasa. Mahasiswa duduk di kantin. Ada yang tertawa.
Ada yang sibuk dengan ponsel. Namun-
bagi yang peka- ada yang berubah. Rani memperhatikan. Dua meja di depan•
sekelompok mahasiswa diam. Bukan karena sibuk.
Tapi karena … kosong. “Ran..”
bisik Lean pelan. “Itu juga?”
Rani mengangguk. ” … sejak dari aula.” Mereka tidak sendirian. Ada yang mulai “tenang”. Namun-
tenang yang tidak wajar. Di sudut lain-
seorang mahasiswa menatap layar ponselnya.
Tidak bergerak.
Sudah lebih dari satu menit. Seolah-olah-
menunggu sesuatu.
Lean menatap sekeliling. ” … ini menyebar…”
Agif duduk di hadapan mereka. Tenang.
Namun matanya tajam. “Bukan menyebar.”
la berhenti sejenak. ” … ini dilanjutkan.” Sunyi.
Lean mengernyit. “Maksudnya?”
Agif tidak langsung menjawab. la menatap ke arah aula.
“Vang kita lihat tadi. ..”
” … bukan kejadian tunggal.”
…itu sistem.
Di laboratorium-
Q9 menampilkan ulang rekaman. Bukan video.
Tapi rangkaian kejadian.
Mehrdad berdiri di belakang. Menatap dengan puas. “Jelaskan,” kata Elias.
Q9 menjawab:
“Aula dikondisikan melalui tiga jalur.” Layar berubah.
LAYER 1: DIGITAL DISTRIBUTION
“Poster seminar disebarkan melalui sistem internal kampus.”
“Email mahasiswa.” “Grup WhatsApp.”
“Notifikasi portal akademik.”
“Semua terlihat resmi.” LAYER 2: SOCIAL TRIGGER “Mahasiswa kunci dipilih.”
“Individu dengan pengaruh sosial tinggi.” “Diberikan stimulus awal.”
“Respons mereka memicu kelompok lain.” LAYER 3: ENVIRONMENTAL CONDITIONING
“Ruang diatur.” “Pencahayaan.” “Suhu.”
“Posisi duduk.” “Urutan visual.”
“Slide disusun untuk membangun ritme sugesti.”
Sunyi.
Elias mengangguk pelan.
” …jadi bukan kita yang memaksa.” Mehrdad tersenyum.
” … kita hanya membuat mereka memilih.”
Di kantin- Lean terdiam.
la mulai memahami.
..J·aid:I. ..”
” bukan karena orang-orang lemah …”
” tapi karena lingkungannya disusun.” Agif mengangguk.
“Ya.”
Rani menelan ludah.
” … berarti siapa saja bisa …” Agif menjawab pelan: “Kalau tidak sadar… iya.” Lean bersandar.
Pikirannya bekerja cepat. Namun tetap dalam batasnya.
la bukan ahli.
Tapi ia mulai melihat pola. “Berarti…”
” yang mereka kendalikan bukan orang …” ” tapi alurnya.”
Agif tersenyum tipis. “tu baru mendekati.”
Di rumah-
Mandeh duduk di samping Unni. Wajahnya cemas.
Ayah berdiri di jendela. Diam.
“Un n i. ..”
Mandeh menggenggam tangan anaknya. “Kamu dengar mandeh?”
Unni mengangguk pelan.
II … d engar…”
Namun-
matanya masih jauh. Ayah mendekat.
Duduk di depan Unni. “Coba ulangi. ..”
la menatap anaknya. Dengan lembut. Namun tegas.
“La fi’la illa Allah.” Unni menatapnya. Beberapa detik. Lalu-
pelan-
“La fi’la illa Allah…” Suaranya lembut. Namun-
ada sesuatu yang kembali. Sedikit.
Ayah mengangguk. “Ulangi.”
Di sudut-
Rani memperhatikan. Matanya berkaca.
” … ini bukan cuma gangguan …”
bisiknya.
” … ini perebutan.”
Di kampus UIN Imam Bonjol• Lean berdiri.
la tidak bisa diam lagi.
“Gue harus tahu ini kerja dari mana.” Rani menoleh.
“Lu mau ngapain?” Lean menjawab jujur: ” gue nggak tahu.”
” tapi gue nggak bisa nunggu.”
Agif menatapnya. Tidak melarang.
Namun juga tidak membiarkan. “Kalau kamu masuk …”
” …jangan masuk sendirian.” Lean mengangguk.
Untuk pertama kalinya•
mereka bertiga sadar:
ini bukan lagi masalah pribadi.
lni sistem.
Dan sistem itu-
tidak hanya bekerja di layar. Tapi di dunia nyata. Rekayasa kondisi.
Di laboratorium• Q9 mencatat:
SPREAD meningkat RESISTANCE lokal TARGET GROUP • meluas Mehrdad tersenyum.
“Seka rang …”
” … tidak perlu lagi satu target.” Elias menatap layar.
” … kita punya populasi.” Sunyi.
Dan permainan-
tidak lagi tentang satu orang. Tapi tentang manusia.
(22)
Malam itu-
hujan turun pelan di Padang. Bukan hujan deras.
Hanya gerimis.
Namun cukup untuk membuat jalanan sedikit sepi.
Dan dalam sepi itu-
sesuatu bekerja lebih leluasa.
Di kos Lean- Lampu redup. Laptop menyala. Namun kali ini•
Lean tidak langsung mengetik. la duduk.
Menatap.
Berpikir.
Dengan hati-hati.
“Kalau ini sistem kejadian …” ” … berarti ada pusatnya.”
la tidak langsung mencari. la mengingat.
Aula. Poster.
Mahasiswa yang datang tanpa sadar. Slide.
Ritme.
“Semua terlalu rapi. ..”
” … nggak mungkin acak.” la membuka laptop. Bukan untuk hacking. Hanya membuka:
Portal kampus.
Email.
Grup mahasiswa.
la menelusuri satu
Poster seminar. per satu.
File PDF.
Pengirim.
Nama pengirim terlihat normal. Namun-
alamat servernya … asmng.
Lean menyipit.
” … ini bukan server kampus …” la tidak paham semuanya. Namun cukup untuk sadar• ini bukan sistem lokal.
la mundur dari layar. Tidak melanjutkan.
Karena ia ingat pesan Pak Agifsyah•
semakin dalam ia masuk… semakin mudah ia dimasuki.
Di ruang dosen- Agif duduk sendiri. Lampu meja menyala. Di depannya-
buku kecil.
la membuka.
Membaca ulang catatan: “Kesadaran tidak bisa diprediksi. ..”
” … ketika tidak melekat pada pikiran.” la menutup mata.
Menarik napas. Namun kali ini-
ia tidak langsung berzikir. la berpikir.
” kalau sistem itu benar…”
” maka yang mereka cari bukan pikiran …” ” tapi keterikatan dengan sesuatu yang mereka tetapkan …”
la membuka mata. Tatapannya berubah.
” dan yang mereka lawan …”
” adalah kesadaran.” Sunyi.
Dan di titik itu•
ia sadar sesuatu.
” … aku target mereka.” Bukan karena kebetulan.
Bukan karena dekat dengan Unni. Tapi karena-
ia mengajarkan sesuatu yang berlawanan.
Di laboratorium-
Layar menampilkan tiga profil.
ARUNI LEAN AGIFSYAH
Q9 memberi highlight.
AGIFSYAH • PRIORITAS UTAMA
Elias menatap. “Kenapa dia?”
Mehrdad menjawab tanpa ragu: “Karena dia satu-satunya …”
” … yang bisa menjelaskan apa yang terjadi.” Sunyi.
Elias mengernyit.
“Vang lain juga mengalami.” Mehrdad menggeleng pelan. “Unni merasakan …”
” … Lean mencoba memahami. ..”
« …tapi’Agirf..”
la berhenti sejenak.
“… mengerti struktur di baliknya.” Layar berubah.
Menampilkan rekaman kelas.
Saat Agif mengajar.
“Algoritma bekerja dengan pola …” “Pola bekerja dengan pengulangan …” “Pengulangan bekerja dengan
keteri katan …”
Mehrdad menunjuk layar. “Dia sudah sampai sini.” Slide lain muncul.
Catatan Agif:
“Kesadaran di luar pola.” Mehrdad melanjutkan: “Kalau ini berkembang …”
“… dia bisa memutus sistem kita.” Sunyi.
Elias mulai memahami.
” …jadi ini bukan soal Unni lagi” Mehrdad mengangguk.
” Unni adalah pintu.”
” Agif adalah kunci.” Sunyi.
Dan kalimat itu•
mengubah arah permainan.
Di rumah-
Unni duduk bersama ayah. Hujan terdengar di luar. Ayah menatapnya. “Sekarang kamu rasa apa?” Unni menjawab pelan:
” … IebiI htenang …•
II …tap1•…II
la berhenti.
” … kayak ada yang nunggu.” Ayah mengangguk.
la tidak kaget.
“Karena itu belum selesai.”
Unni menatapnya.
” … apa yang belum selesai?” Ayah menjawab pelan:
“Vang berusaha masuk …” ” … tidak akan berhenti.” Sunyi. Ranidisudutruangan• mendengar.
Tubuhnya merinding.
Di kos-
Lean menatap layar.
Tidak membuka apa-apa. la hanya berpikir.
” kalau ini bukan sistem lokal. ..”
” bera rti g I oba I.”
Kalimat itu membuatnya diam. Lebih lama.
” dan kalau global. ..”
” ini bukan eksperimen kecil.” la menarik napas dalam.
Untuk pertama kalinya-
ia melihat skala sebenarnya. ” … ini bisa ke mana-mana …”
Di ruang dosen• Agif berdiri. Mengambil tas.
la tidak bisa menunggu lagi.
la harus bergerak. Karena sekarang- ia tahu-
bukan hanya Unni yang dalam bahaya. Tapi-
cara berpikir manusia.
Di laboratorium-
Q9 mengunci target.
AGIFSYAH • TRACKING AKTIF INTERVENTION -, PREPARE Mehrdad tersenyum tipis.
“Seka rang …”
” • • • ki1ta
IiI hwat…”.
” … seberapa kuat kesadarannya.”
Elias menatap layar. Diam.
Namun kali ini•
ia tidak lagi memimpin. Perlahan-
tanpa disadari•
kendali mulai bergeser. Dan di luar sana-
seorang dosen filsafat lslam• baru saja menjadi target utama• dari sesuatu-
yang ingin menguasai dunia.
(23)
Pagi itu-
tidak ada yang terasa salah. Langit cerah.
Udara sejuk.
Kampus mulai ramai. Namun-
Agif merasakannya. Bukan di luar.
Di dalam.
la duduk di ruang dosen. Laptop terbuka.
Namun ia tidak mengetik. la hanya melihat.
Seperti seseorang yang sedang menunggu sesuatu-
yang belum terjadi.
II …Su d a h
mu I al….”
gumamnya pelan.
la berdiri.
Mengambil buku kecilnya. Membuka halaman terakhir. Kosong.
la menulis satu kalimat:
“Serangan tidak datang sebagai ancaman.”
la berhenti.
Menatap kalimat itu. Lalu melanjutkan:
“Serangan datang sebagai sesuatu yang terasa wajar.”
Sunyi.
la menutup buku itu. Dan saat itu-
pintu diketuk. “Masuk.”
Seorang staf administrasi berdiri di depan.
“Pak, jadwal bapak dipindah.” Agif mengernyit.
“Dipindah ke mana?” “Ke aula, pak.”
Sunyi.
“…au I a
I agl. ?. ”
Staf itu mengangguk.
“Seminar tambahan. Mendadak.” Agif menatapnya.
Lama.
Tidak ada yang aneh. Semua terlihat normal. Namun-
justru itu yang mengganggu.
“Baik.”
la mengangguk. Staf itu pergi. Pintu tertutup. Agif berdiri.
Tidak langsung bergerak.
” … lingkungan mulai diatur…” la tersenyum tipis.
Bukan karena santai. Tapi karena-
ia sudah menduga.
Di halaman kampus•
Lean dan Rani menunggu. “Dia pasti ke aula.”
kata Lean.
Rani mengangguk.
” … ini nggak kebetulan lagi.”
Di dalam aula- suasana sudah siap. Tidak seramai kemarin. Namun cukup. Mahasiswa duduk. Beberapa wajah familiar. Slide belum menyala. Namun layar sudah aktif. Agif masuk. Langkahnyatenang. Namun matanya• mengamati.
Baris pertama. Baris tengah. Baris belakang.
la melihat sesuatu. Pola.
Orang-orang yang sama.
“Dipilih…” bisiknya.
la tidak duduk. la berdiri.
Di tengah.
Menunggu. Dan saat itu• layar menyala.
Tidak ada pembukaan. Tidak ada suara.
Hanya satu kalimat:
“Apakah kamu yakin … kamu bebas?” Beberapa mahasiswa mengangkat kepala. Namun tidak ada yang berbicara.
Agif tersenyum tipis.
” … ] angsung ya …n
la tidak menatap layar. la menutup mata. Menarik napas.
“Astaghfirullahal adziiim …”
(1) (2) (3)
Suasana berubah sedikit. Tidak banyak.
Namun terasa.
Slide berganti.
“Kamu tidak perlu melawan.” Agif membuka mata.
Kali ini-
ia menatap layar.
” kalau aku lawan …” ” aku ikut bermain.” la tersenyum.
” …jadi aku tidak melawan.”
la duduk. Di lantai.
Beberapa mahasiswa menoleh.
Tidak biasa.
Namun tidak ada yang bereaksi. Agif menutup mata lagi.
“La fi’la illa Allah …”
(1)
(2)
(3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
Di laboratorium• Q9 mencatat.
TARGET • tidak mengikuti stimulus
RESPON tidak sesuai model
Mehrdad menyipit. “Dia tidak masuk.” Elias menatap layar.
” … dia tidak bereaksi.” Mehrdad menjawab pelan: ” lebih buruk…”
” dia tidak terlibat.” Sunyi.
Di aula-
slide berubah lebih cepat. “Kamu lelah.”
“Kamu butuh berhenti.”
“Kamu tidak harus berpikir.”
Beberapa mahasiswa mulai menunduk. Beberapa memejamkan mata.
Namun-
Agif tetap. Diam.
Tidak menolak. Tidak mengikuti. la hanya … sadar. Tiba-tiba-
seorang mahasiswa berdiri. Menatap Agif.
“Pak …”
Suara itu pelan.
“Kalau semua bukan kita …” ” … buat apa kita hidup?” Sunyi.
Semua mata mengarah. Agif membuka mata. Menatap mahasiswa itu.
la tidak langsung menjawab. Beberapa detik-
hening. Lalu-
ia berkata pelan: “Untuk menyaksikan.” Mahasiswa itu mengernyit. “Menyaksikan apa?”
Agif tersenyum.
“Bahwa kita … bukan pelaku.” Sunyi.
Slide berhenti.
Untuk beberapa detik.
Di laboratorium-
Q9 tidak memberikan output. Mehrdad menatap layar.
” … dia mengganggu sistem.”
Di aula-
Agif melanjutkan:
“Kalau kamu merasa kamu yang berpikir…” ” … kamu bisa diambil.”
“Kalau kamu sadar ”
” … pikiran itu datang ”
II … d an perg . ..
” …tidak ada yang bisa mengambilnya.”
Sunyi.
Beberapa mahasiswa mengangkat kepala. Ada yang mulai sadar.
Retakan.
Slide kembali berjalan. Lebih cepat.
Lebih agresif. “Jangan dengarkan.”
“Dia membuatmu bingung.” “Dia salah.”
Tekanan sosial muncul.
Beberapa mahasiswa menatap Agif tidak
suka. Namun• tidak semua. Di pintu-
Lean dan Rani berdiri. Menyaksikan.
” … ini bukan cuma serangan …” bisik Lean.
” … in i pertaru nga n.”
Rani menggenggam tangannya. ” … dan kita di tengahnya …”
Di laboratorium•
Mehrdad tersenyum tipis. “Naikkan.”
Elias menoleh. “Berapa jauh?” Mehrdad menjawab: “Lebih dalam.”
Sunyi.
Dan perintah dikirim.
Di aula-
lampu redup sedikit. Suhu berubah.
Slide berhenti. Lalu-
satu kalimat muncul:
“Kalau kamu bukan pelaku …” ” … siapa yang hidup?”
Sunyi. Pertanyaan itu- berbeda.
Lebih dalam.
Beberapa mahasiswa terlihat goyah. Namun-
Agif hanya tersenyum. Pelan.
” … Allah.” Sunyi.
Dan untuk pertama kalinya•
sistem-
tidak punya jawaban.
(24)
Serangan itu-
tidak berhenti di aula. la hanya … berpindah. Lebih dekat.
Lebih halus. Lebih … pribadi. Sore itu-
Agif pulang lebih cepat.
Langit Padang mulai mendung.
Ang in laut terasa lebih dingin dari biasanya. la mengendarai motornya pelan.
Tidak tergesa.
Namun pikirannya- tidak kosong.
” … mereka ubah pola …”
gumamnya.
” bukan lagi pikiranku …” ” tap i sekita rku …”
Motor berhenti di lampu merah. Lampu berubah hijau.
la melaju lagi.
Semua terlihat normal. Namun-
Agif tidak percaya lagi pada kata
“kebetulan”.
Sampai di rumah kontrakannya•
ia berhenti. Mematikan mesin. Sunyi.
la tidak langsung turun.
Matanya memperhatikan sekitar. Tidak ada yang mencurigakan. Tetangga biasa.
Suara anak kecil.
TV dari rumah sebelah. Namun-
ia tetap diam beberapa detik.
… masu k..”
bisiknya pada dirinya sendiri. la turun.
Membuka pintu. Masuk.
Dan-
sesuatu terasa berbeda. Bukan benda.
Bukan suara. Tapi. .. suasana.
Seperti ada yang … terlalu rapi. la menutup pintu pelan. Melangkah masuk.
Matanya menyapu ruangan. Meja.
Kursi.
Rak buku.
Semua seperti biasa. Namun-
ia berhenti di satu titik. Laptop.
Laptopnya terbuka di meja. Bukan baru dinyalakan.
la ingat. Sejak siang tadi ia memang belum
benar-benar menutupnya.
Hanya membiarkannya aktif, seperti biasa, dengan dokumen catatan yang masih terbuka dan tersambung ke penyimpanan daring.
la melihat. Layar kosong.
Cursor berkedip pelan. Normal.
la mendekat. Duduk.
Tangannya tidak langsung menyentuh
keyboard.
la kembali melihat layar. Cursor tetap berkedip. Tidak ada yang berubah.
Namun pikirannya tidak diam. la teringat Unni.
Makalah. Diskusi.
Dan satu hal-
yang belum selesai.
“…cu kuprka h .In.1…”
Kalimat itu muncul di kepalanya. la tidak yakin-
itu pikirannya sendiri.
Di saat yang sama-
di sistem yang tidak terlihat• Q9 mencatat:
COGNITIVE LOOP DETECTED
UNRESOLVED QUERY i Laptop itu tidak diambil alih. Tidak diretas secara kasar.
la tetap berjalan seperti biasa. Namun dokumen yang terbuka itu• tersambung.
Dan pada koneksi itulah• Q9 bekerja.
Bukan mengetik.
Bukan menggerakkan kursor. Hanya menyisipkan satu baris-
ke dalam dokumen yang memang sedang aktif.
Tanpa notifikasi.
Tanpa tanda. Seolah-olah-
baris itu memang sudah ada. Sekarang-
layar menampilkan sesuatu. Satu kalimat:
“Kamu yakin ini cukup?” Agif berdiri.
Tidak menyentuh.
Tapi di kepalanya terbersit perintah. ” … kamu pindah ke sini. ..”
la tersenyum tipis.
II … b agus.,,
la tidak duduk. Tidak mendekat.
la justru- menutup mata. “Astaghfirullahal adziiim …” (1)
(2)
(3)
Udara terasa berubah. Hal us.
la melanjutkan:
“Allahumma shalli
(1) ‘ala Muhammad …”
(2)
(3)
Kursor berhenti.
Sejenak.
Lalu-
bergerak lagi.
Agif membuka mata. Sekarang-
layar menampilkan sesuatu. Kalimat yang sama:
“Kamu yakin ini cukup?” Sunyi.
Agif menatap.
Tidak marah. Tidak kaget.
la hanya … memahami.
“..k. amu mu I a.
la duduk.
masu k..”.
Namun bukan di depan laptop.
Di lantai.
Menghadap arah kiblat.
“La
(1) fi’la illa Allah…”
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)
Di layar-
kalimat berubah. “Kamu tidak bisa lari.” Agif tersenyum.
” … aku tidak lari.”
“aku.. tidak ikut.” Sunyi.
Di laboratorium-
Q9 mendeteksi perubahan. INTERVENSI PERSONAL aktif RESPON TARGET • tidak sesuai Elias menatap layar.
” … dia tidak masuk.” Mehrdad menyipit.
” … kita terlalu langsung.”
Elias menoleh. “Lalu?”
Mehrdad menjawab pelan:
” … hancurkan yang dia pegang.”
Sunyi.
Di rumah-
Agif masih duduk. Tenang.
Namun-
sesuatu berubah. Bukan di layar.
Di ponselnya. Getaran kecil.
Agif membuka mata. la melihat ponselnya. Diam.
Namun getaran itu•
terasa.
la mengambilnya. Layar menyala.
Satu pesan masuk.
Dari nomor yang tidak dikenal. lsinya-
bukan ancaman.
Foto.
Agif membeku.
ltu-
rumah orang tuanya. Di kampung.
Talang, Kabupaten Solak. Dan di foto itu-
pintu rumah terbuka. Padahal- seharusnya tertutup.
Sunyi.
Untuk pertama kalinya•
napas Agif berubah.
…jangan… bisiknya pelan.
Pesan berikutnya masuk. “Kamu masih mau diam?” Tangan Agif mengepal. Namun-
ia tidak berdiri. Tidak bergerak.
la menutup mata. Lebih dalam.
“La fi’la illa Allah…”
Suara itu lebih pelan. Namun lebih kuat.
Di laboratorium• grafik berubah. Lonjakan.
Elias tersenyum. “…kena.” Namun• Mehrdad tidak.
la melihat lebih dalam.
“. .. tiId.ak…”.
“itu bukan reaksi. ..” Elias menoleh. “Lalu?”
Mehrdad menjawab: ” … itu ujian.”
Sunyi.
Di rumah-
Agif membuka mata. Wajahnya tenang. Namun matanya• tajam.
la mengambil ponsel. Mengetik.
Satu kalimat.
“Aku tidak punya apa-apa.” Ki rim.
Sunyi.
Beberapa detik. Tidak ada balasan. Lalu-
layar mati. Sendiri.
Agif meletakkan ponsel. Menarik napas.
” … kamu mulai salah langkah …”
la tersenyum tipis, dan bergumam:
” kalau kamu serang yang di luar…” ” berarti yang di dalam …”
” tidak bisa kamu sentuh.” Sunyi.
Namun-
di tempat lain, nun jauh di sana• Mehrdad tersenyum.
” justru sebaliknya …”
” sekarang kita tahu …”
” di mana dia paling lemah.” Layar berubah.
TARGET PRIORITY UPDATE:
AGIFSYAH
LINGKUNGAN PERSONAL
-. IKATAN EMOSIONAL
Dan permainan•
naik level.
Menyerang orang-orang terdekat. Yang ada hubungan emosional.
Keluarga.
Menyerang lingkungan personal objek.
(25)
Serangan itu-
tidak berhenti di layar. la masuk-
ke yang paling dekat. Keluarga.
Pagi itu-
kabut tipis masih menggantung di Talang. Udara dingin turun dari perbukitan.
Sawah terbentang basah oleh embun. Suara ayam bersahutan dari halaman rumah.
Di sebuah rumah sederhana-
ayah Agif baru saja selesai shalat Subuh. Sajadah masih terbentang.
Tasbih masih di tangan.
la duduk tenang. Biasanya.
Namun pagi itu•
tidak.
Ada sesuatu yang … mengganggu. Bukan suara.
Bukan bayangan. Tapi perasaan. Seperti-
ada yang tidak beres.
la menoleh ke pintu depan. Pintu itu tertutup.
Namun-
entah kenapa-
terasa seperti. .. pernah terbuka. “Mak ..” panggilnya pelan. lstrinya keluar dari dapur.
Masih dengan kain sarung dan selendang. “Apo?”
Ayah Agif mengerutkan kening. “Tadi malam … pintu dikunci, kan?” lstrinya mengangguk.
“Dikunci. Ambo yang kunci.”
Sunyi.
Keduanya saling pandang.
Angin pagi masuk dari sela jendela kayu. Membawa bau tanah basah.
“Kenapa?”
Ayah Agif tidak langsung menjawab. la berdiri.
Melangkah ke pintu.
Memeriksa.
Kunci masih di tempatnya. Tidak rusak.
Tidak berubah. Semuanya … normal. Namun justru itu-
yang membuatnya tidak tenang. ” … mungkin awak lupa.”
Namun kalimat itu-
tidak meyakinkan dirinya sendiri. la menatap pintu itu lebih lama. Bukan karena pintunya.
Tapi karena-
rasa yakin di dalam dirinya•
tidak lagi utuh.
Seperti ada celah kecil. Dan dari celah itu-
muncul satu kemungkinan:
“Kalau tadi malam … tidak benar-benar terkunci?”
Di saat yang sama-
di tempat yang tidak terlihat•
Q9 mencatat:
MICRO-UNCERTAINTY TRIGGERED MEMORY CONFIDENCE ! EMOTIONAL RESPONSE i
Tidak ada yang masuk ke rumah itu. Tidak ada yang membuka pintu itu. Yang disentuh-
bukan benda. Tapi keyakinan. Di Padang-
Agif duduk di ruang kerjanya. la belum membuka laptop.
Hanya diam. Sejak semalam-
ia tahu sesuatu akan bergeser. Dan sekarang-
itu terjadi.
Ponselnya bergetar. Nama muncul di layar: Ayah
Agif langsung mengangkat.
“Assalamu’alaikum, Yah …” “Wa’alaikum salam …” Suara ayahnya-
tidak seperti biasa. Lebih pelan.
Lebih berat.
II G if…”
Agif langsung tegak. “lya, Yah?”
“Ayah cuma mau tanya …” Sejenak hening.
” … kamu ada pulang malam tadi?”
Sunyi.
Jantung Agif berdetak lebih cepat. ” …tidak, Yah.”
Di ujung sana- hening.
Lalu suara ayahnya kembali. “Kalau bukan kamu …” Kalimat itu tidak selesai. Namun cukup.
Agif menutup mata. la tahu-
ini bukan tentang pintu. ” …jangan panik, Yah.” “Pintu tetap dikunci.” “Ayah baca saja …”
la berhenti sejenak. ” … la fi’la illa Allah.” Sunyi.
Ayahnya tidak langsung menjawab.
Namun kemudian- pelan:
Iyo..”
Telepon ditutup.
Agif membuka mata. Tatapannya berubah.
” … kalian mulai masuk…”
Di laboratorium- Q9 aktif.
INTERVENSI PERSEPSI berhasil
RESPON EMOSIONAL terdeteksi
Elias tersenyum. ” … akhirnya.” Namun Mehrdad- diam.
Menatap data lebih dalam. ” … bel um.”
Elias menoleh. “Apa lagi?”
Mehrdad menunjuk grafik. “Dia tidak panik.”
Sunyi.
” … d’1a
h. anya… sa id. ar.”
Elias mengerutkan kening. ” …FitU Cu ktUp.”
Mehrdad menggeleng pelan.
” . .. tiI dak..”
“Kalau dia masih bisa memilih …” ” … kita belum menang.”
Di kampus-
Rani duduk di samping Unni. Kelas berlangsung.
Namun fokusnya- bukan di depan. Unni.
Rani memperhatikan sejak tadi. Lebih detail.
Lebih dekat.
Dan sekarang-
ia semakin yakin.
lni bukan sekadar perubahan. “Unn …” bisiknya pelan.
Unni menoleh. “Hmm?”
Matanya tenang. Terlalu tenang.
Rani menelan ludah.
” … kamu semalam tidur?” Unni tersenyum tipis. “Tidur.”
Jawaban singkat.
Terlalu singkat.
Rani menatap lebih dalam. ” … mi mpi?”
Unni diam sejenak. ” …tidak ingat.”
Sunyi.
Rani merasakan sesuatu. Bukan dari kata-kata.
Dari. .. kosongnya. la menunduk. Mengambil ponsel. Mengetik cepat.
Lean, datang ke UIN sekarang. Penting.
Di kampus Unand-
Lean membaca pesan itu. la langsung berdiri.
Tanpa berpikir panjang.
Mengambil jaket. Langsung pergi. Di jalan-
angin kencang. Motor melaju cepat. Namun kali ini-
bukan sekadar ingin membantu. Ada sesuatu yang berubah.
” ini bukan kasus biasa …” ” ini sistem …”
” dan dia mulai keluar.” Kembali ke kelas-
Unni duduk diam. Tangannya di meja. Matanya ke depan. Namun-
tanpa ia sadari•
pikirannya …
mulai disentuh lagi. Bukan sebagai perintah. Sebagai. .. pilihan.
Dan itu-
jauh lebih berbahaya. Di laboratorium•
Q9 mencatat:
MODE BARU AKTIF
• INTERVENSI MELALUI PILIHAN
• TANPA PAKSAAN
Mehrdad tersenyum tipis. ” … se karang …,,
” … dia tidak merasa dikendalikan.” Elias mengangguk.
” … dia merasa memilih.”
Sunyi.
Dan di situlah• kebebasan manusia … mulai dipertanyakan.
(26)
Lean datang bukan karena penasaran.
la datang karena ada sesuatu yang tidak bisa diabaikan.
Pesan itu masih terbuka di layar ponselnya. “Lean, datang ke UIN sekarang. Penting.” Tidak ada penjelasan.
Tidak perlu.
Nada itu-cukup untuk membuatnya langsung bergerak.
Motor melaju cepat menembus jalanan
Padang.
Angin siang terasa berat. Langit mendung tipis.
Seperti menahan sesuatu yang belum
jatuh.
Di kepalanya, Lean tidak panik. la tidak suka panik.
Namun ada satu hal yang terus berputar:
” … ini lanjutannya.”
la sudah melihat tanda-tandanya. Beberapa hari terakhir.
Dari Unni.
Dari cara bicaranya.
Dari jeda-jeda yang tidak biasa. Dari respon yang … terlalu rapi. Dan sekarang-
Rani memanggilnya. Artinya-
sesuatu sudah melewati batas. Lean tiba di kampus UIN tanpa memperlambat langkah.
la memarkir motor seadanya.
Tidak seperti biasanya yang selalu rapi. Rani sudah menunggu di depan kelas. Wajahnya tegang.
Matanya langsung mencari Lean. “Lean..”
“Dia di dalam?”
Rani mengangguk cepat.
” … dari tadi.”
… ane h …”
Lean tidak langsung masuk. la berhenti.
Mengatur napas.
” …jangan ganggu dulu.” Rani mengernyit.
” … kenapa?”
Lean menjawab pelan: ” … aku mau lihat dulu.” la masuk.
Pelan.
Tanpa suara.
Duduk di kursi belakang. Kelas sedang berlangsung. Dasen berbicara di depan.
Namun Lean tidak mendengar satu kata pun.
Matanya langsung terkunci•
pada satu titik. Unni.
Duduk di barisan tengah. Posisi biasa.
Tidak berubah.
Namun sesuatu terasa berbeda. Bukan dari apa yang ia lakukan. Tapi dari cara ia … ada.
Lean tidak terburu-buru.
la tidak langsung menilai. la menunggu.
la ingin melihat momen•
ketika respon terjadi.
Dasen berhenti menjelaskan. Menatap kelas.
“Siapa yang bisa menjelaskan ulang?” Beberapa mahasiswa menunduk. Beberapa saling pandang.
Unni mengangkat tangan. Lean langsung fokus.
lni tidak biasa.
Bukan karena Unni tidak pernah aktif.
Tapi karena-sejak beberapa hari terakhir-
ia justru lebih sering diam. Dosen menunjuk.
“Silakan.”
Unni berdiri.
la mulai menjawab. Kalimat pertama keluar• lancar.
Kalimat kedua•
lebih rapi. Kalimat ketiga• terstruktur.
Tidak ada jeda. Tidak ada “eh …”.
Tidak ada mencari kata. Semuanya mengalir.
Namun bukan seperti orang yang paham. Lebih seperti-
orang yang … menyampaikan. Lean menyipitkan mata.
” … tidak ada proses …” la berbisik pelan.
Hanya untuk dirinya sendiri.
la tidak mendengarkan isi jawaban. la memperhatikan cara jawaban itu muncul.
Biasanya-
orang berpikir dulu. Ada jeda kecil.
Ada gerakan mata.
Ada tanda pencarian. Namun di Unni•
tidak ada. Jawaban itu• langsung. Seolah-olah-
tidak dibentuk di dalam dirinya. Hanya … lewat.
Unni selesai. Duduk kembali.
berpikir keras.
Matanya kembali lurus ke depan. Tenang.
Terlalu tenang.
Lean menarik napas dalam.
II …I• nt• d.a…II
Kalimat itu muncul pelan. Bukan sebagai kesimpulan. Sebagai pengenalan.
Apa yang selama ini ia baca-
apa yang selama ini hanya berupa konsep
sekarang-
terjadi di depan matanya. Bel berbunyi.
Kelas selesai.
Mahasiswa mulai bergerak. Suara kursi.
Suara tas.
Suara obrolan.
Namun Lean tetap duduk.
Beberapa detik.
la membiarkan semua itu lewat. Baru kemudian-
ia berdiri.
Rani langsung mendekat. “Gimana?”
Lean tidak langsung menjawab. ” … kita ke luar.”
Mereka berjalan ke taman.
Tempat yang biasa. Namun hari itu- terasa berbeda.
Unni sudah duduk di sana. Seperti menunggu.
Atau mungkin-
tidak menunggu siapa pun. Lean duduk di depannya. Rani di samping.
Beberapa detik-
tidak ada yang bicara. Lean mengamati.
Unni juga mengamati.
Namun tidak dalam arti yang sama. “Unn.”
Unni menoleh.
“..iya?”
Suaranya normal. Ekspresinya juga.
Namun Lean sudah tahu•
ini bukan tentang luar. “Barusan di kelas …”
” … kamu mikir?” Unni diam.
Bukan karena tidak tahu. Tapi seperti. ..
mencari jawaban yang tidak biasa.
” … ngga kta h u …”
” … kayak … lewat aja.” Kalimat itu-
jatuh dengan ringan. Namun bagi Lean• berat.
” … I ewat..”.
la mengulang pelan. “Lewat dari mana?” Unni menggeleng.
« … ngga kta.hi u …”
” … datang … terus aku bilang …” Sunyi.
Lean merasakan sesuatu yang dingin di
punggungnya. Bukan takut. Tapi kesadaran.
” … dan kamu nggak ikut?”
Unni menatapnya. Beberapa detik.
” … nggak.”
Jawaban sederhana. Namun itu-
semua yang Lean butuhkan. la bersandar.
Menatap langit sebentar. Awan bergerak pelan.
Namun pikirannya•
cepat.
” …tanpa keterikatan …”
la mengingat kalimat itu. ” …tidak ada pola …”
II …tanpa po I a …”
” …tidak ada kendali. ..”
la menutup mata sejenak. Semua tersusun.
Makalah Unni.
Rumus yang mereka buat bersama. Makalah Agif.
Dan sekarang- realitas.
Lean membuka mata.
Menatap Unni.
” … ini bukan lagi teori.” Rani menoleh cepat.
” …terus?”
Lean tidak menjawab langsung. la berdiri.
Keputusan muncul•
tanpa ragu.
Bukan karena ia sudah paham. Tapi karena ia tahu-
ia tidak bisa sendiri.
” … kita harus ketemu dia.” Rani mengernyit.
” … siapa?”
Lean menjawab pelan.
” … orang yang sudah sampai ke sini duluan.”
la menarik napas.
“… AgfI sya h”.
(27)
Ruang dosen terasa lebih sunyi dari biasanya.
Lean berdiri di depan meja.
Agif duduk. Menatapnya.
Beberapa detik•
tidak ada yang bicara. Lean menarik napas.
” … saya baru dari kelas.” Agif tidak menjawab. Hanya mendengar.
” … Un n i .”
Jeda.
” dia menjawab pertanyaan dosen.” ” lancar.”
” rapi.”
Lean berhenti sejenak.
” …tapi bukan itu yang aneh.” Agif mulai fokus.
” …tidak ada proses.”
Sunyi.
” tidak ada jeda berpikir” ” tidak ada ragu.”
Lean menatap langsung.
” … seperti jawabannya tidak dibentuk…”
« … cuma…
I ewa·t.”
Agif tidak langsung merespon.
“… d. an seteLahtI u·. ”
” tidak ada efek.” ” tidak lega.”
” tidak capek.” ” kosong.”
Sunyi.
Lean melanjutkan.
” saya tanya langsung.” ” dia bilang-”
la mengingat.
” …’kayak lewat aja’.” Jeda panjang.
Agif menunduk sedikit.
” … dan dia sadar itu bukan dia?” Lean mengangguk.
…1ya. Sunyi.
Lean menatap lebih tajam.
” ini bukan normal.”
” ini bukan sekadar fokus.”
la menarik napas. ” … ini terjadi.” Namun kali ini•
ia lanjutkan.
” … dan saya tidak punya penjelasan.” Sunyi.
Agif bersandar.
” … kamu mau penjelasan seperti apa?” Lean langsung menjawab.
” yang bisa diuji.”
” bukan asumsi.”
Agif mengangguk pelan.
“. .. bak1 •”
la berhenti sejenak. Seperti memilih kata.
” … kamu bilang-tidak ada proses.”
” …ritu artminya…
” … dia tidak mengolah pikirannya.” Lean mengernyit.
” tapi jawabannya tetap benar.” ” karena pikiran itu tetap ada.”
Sunyi.
Lean mulai menangkap arah.
” …jadi masalahnya bukan pikiran …” Agif mengangguk.
” iya.”
” masalahnya-siapa yang mengambilnya.”
Lean terdiam.
” … maksudnya?” Agif menatapnya.
” … kapan biasanya kamu merasa ‘ini
pikiranku’?”
Lean menjawab cepat.
” saat saya sadar saya berpikir.”
” dan saat kamu sadar itu milikmu …” ” di situlah kamu mengambilnya.” Sunyi.
Lean menahan napas.
” … dan kalau tidak diambil?” Agif menjawab pelan.
” … pikiran tetap lewat.”
“…tapi tidak menjadi kamu.” Jeda.
Lean mengingat ulang.
” …’k.aya, k I ewat
a]·a…
la mulai melihat pola.
” … b erart1. “..
••• dia tidak mengidentifikasi. ..
Agif mengangguk.
“..d. an
t: anpa
iIt u …”
“…tidak ada pola tetap.”
Lean langsung merespon.
II …tanpa po I a …II
••• tidak bisa diprediksi. ..
Sunyi.
Keduanya saling pandang. Untuk pertama kalinya• arahnya sama.
Lean melanjutkan.
••• dan kalau tidak bisa diprediksi. ..
“…tidak bisa diarahkan.”
Agif tersenyum tipis.
” … itu kesimpulanmu.” Lean mengangguk.
Namun belum selesai.
II …tap1•…II
la menatap tajam.
” ini terjadi pada satu orang.” ” kenapa?”
Sunyi. Pertanyaan itu- jatuh berat.
Agif tidak langsung menjawab.
” karena tidak semua orang …” ” bisa sampai ke situ.”
” sampai ke mana?”
tanya Lean.
” … ke titik di mana pikiran diambil.”
tidak lagi
Sunyi.
Lean menunduk. Menyusun ulang. ” … kalau begitu …”
” … ini bukan gangguan.” la mengangkat wajah.
” … ini kondisi.”
Agif mengangguk pelan. ” dan kondisi itu …”
” bisa dipelajari.” Sunyi.
Lean menarik napas dalam.
” kalau bisa dipelajari. ..” ” be ra rt i bis a di uji.”
Agif menatapnya.
” … itu sebabnya kamu datang.” Lean mengangguk.
” saya tidak mau percaya.”
” sebelum saya lihat mekanismenya.” Sunyi.
Agif tersenyum tipis.
” … bagus.” Jeda.
“..k. arena
.inI….,,
” … memang harus dibuktikan.”
Dan untuk pertama kalinya-
bukan sebagai dosen UIN Imam Bonjol dan mahasiswa Unand-
mereka berdiri di sisi yang sama.
(28)
Masih di ruang dosen: Lean masih diam.
la tidak lagi berdebat.
Namun juga belum menerima. ” kalau ini benar…”
” harus bisa dibuktikan.” Sunyi.
Agif tidak langsung menjawab. la menatap Lean.
” … apa yang ingin kamu buktikan?” Lean mengangkat wajah.
” bahwa ini bukan kebetulan.” ” bukan sugesti.”
“…bukan psikologi biasa.” Jeda.
“…bahwa ada mekanisme.” Sunyi.
Agif mengangguk pelan.
“..b. agus.II
” … kamu tidak mencari jawaban …11
“…kamu mencari dasar.” Lean tidak merespon.
la menunggu. Agif mulai pelan.
” … kalau kamu mau membuktikan
sesuat u …II
“…kamu harus tahu dulu-apa yang diuji.” Lean mengangguk kecil.
“…jadi apa yang diujj?”
Agif tidak langsung menjawab. la menyusun.
” … kamu tadi bilang-tidak ada proses
berpikir.”
“…itu pengamatan.”
” lalu kamu bilang-itu bukan normal.” ” itu kesimpulan awal.”
Sunyi.
” …tapi itu belum cukup.” Lean menatap.
” … lalu?”
Agif mencondongkan badan sedikit.
” … yang harus dibuktikan bukan gejalanya.” Jeda.
” …tapi sebabnya.” Sunyi.
Lean mulai fokus.
” … sebabnya adalah?” Agif menjawab pelan. ” apakah benar…”
” pikiran itu tidak diambil.” Sunyi.
Kalimat itu- jatuh dalam.
Lean mengulang dalam hati. ” …tidak diambil. ..”
” … dan kalau itu benar?” Agif melanjutkan.
” maka akan ada konsekuensi.”
” apa?”
” tidak ada keterikatan.”
” tidak ada pengulangan yang melekat.” ” tidak ada pola tetap.”
Sunyi.
Lean mulai menyusun.
” kalau tidak ada pola …” ” tidak bisa diprediksi. ..” Agif mengangguk.
” ••• i1tu sat u.”
” … dan yang kedua?” tanya Lean cepat. Agif menjawab:
” …tidak bisa diarahkan.” Sunyi.
Lean menarik napas dalam.
” …jadi yang harus dibuktikan …”
“..b. u kan
d .1a
‘aneh.’
..”
••• tapi dia tidak membentuk pola.”
Agif tersenyum tipis.
••• itu lebih tepat.”
Jeda.
Lean belum selesai.
••• lalu bagaimana membuktikannya?”
Sunyi.
Pertanyaan itu- lebih berat.
Agif tidak terburu.
••• dengan melihat respon.”
••• respon terhadap apa?”
••• terhadap sesuatu yang biasanya
memicu keterikatan.”
Lean langsung menangkap.
••• sti mu I us.”
Agif mengangguk.
••• iya.”
Sunyi.
II …t ap1•…II
Lean menahan.
” … itu bisa jadi sugesti.” Agif tersenyum tipis.
” … kalau kamu memaksakan.”
..J·a diI ?. ”
” …jangan diuji seperti eksperimen.”
Jeda.
” … biarkan terjadi.” Sunyi.
Lean menatap tajam. ” … diamati.”
Agif mengangguk. ” … diamati.”
Untuk beberapa detik• tidak ada yang bicara. Lean menunduk. Menyusun ulang semua.
..J·aid:I. ..”
” kita cari momen …”
” di mana respon itu muncul. ..”
” … t anpa
kiIt:a pa k:sa …”
Agif tidak menjawab.
Namun tatapannya•
cukup.
Lean mengangkat wajah.
••• dan kalau di momen itu …”
11
••• tidak ada keterikatan …”
Napasnya berubah.
••• berarti benar.”
Sunyi.
Agif menjawab pelan.
••• berarti kamu melihat mekanismenya.”
11
Jeda.
Lean berdiri perlahan. Bukan karena selesai. Tapi karena-
arahnya sudah ada.
••• saya belum percaya.”
11
Agif tersenyum tipis.
11 ..bagus.”
Lean menatap lurus.
II …t apr.
selkarang…”
••• saya tahu apa yang harus dilihat.”
Dan itu-
lebih penting dari percaya.
(29)
Mereka keluar dari ruang dosen•
tanpa kesimpulan akhir. Namun dengan satu hal: apa yang harus dilihat.
Beberapa menit kemudian•
mereka sampai di taman. Tempat yang sama. Waktu yang sama.
Rani masih di sana.
Duduk dekat Unni.
Begitu melihat Lean dan Agif•
ia langsung berdiri. “Lean..”
Nada suaranya tidak lagi sekadar cemas.
Ada sesuatu yang tidak ia pahami.
Lean tidak langsung menjawab. la hanya duduk.
Tidak terlalu dekat.
Tidak terlalu jauh. Matanya ke Unni. Bukan mencari. Menunggu.
Unni duduk seperti tadi. Tenang.
Namun sekarang• ketenangan itu terasa asing. Beberapa detik-
tidak ada yang bicara. Lalu Rani-
tidak bisa menahan lagi. “Un n …”
Unni menoleh.
“..iya?”
Nada yang sama. Datar.
Rani menatapnya.
“..k. amu
Sunyi.
.In. kenapa.
” dari tadi aku perhatiin …”
” kamu kayak… nggak ada respon.” Jeda.
” … ini normal nggak sih?”
Lean tetap diam. la ingin melihat- apa yang muncul.
Unni tidak langsung menjawab. la menunduk sedikit.
Seperti mencari sesuatu di dalam dirinya. ” … aku juga bingung …”
Kalimat itu keluar pelan.
” … tapi ini bukan tiba-tiba.” Lean langsung fokus.
Agif juga.
” beberapa hari ini. ..”
” pikiran itu datang terus.” Sunyi.
II … cepat …II
” …t ersusun …n
” … bahkan sebelum aku sempat mikir…” Lean mengingat.
lni sesuai dengan yang ia lihat. ” … awalnya aku ikut…”
Rani menegang.
” … ikut gimana?”
“…1kut
a]·a…n
” … kayak itu memang aku …”
Sunyi.
Namun Unni belum selesai.
” …t; ap1:…n
Jeda.
” terasa aneh.”
” terlalu cepat.” ” terlalu rapi.”
la mengangkat wajah.
” … dan … bukan aku.” Sunyi panjang.
Lean menahan napas. lnilah titiknya.
“…di situ aku berhenti.” “..berhenti ikut.”
Rani mengernyit. “…terus?”
” … aku biarin aja …11
“..d. atang …II II .. perg1• …II
Sunyi.
“..d. an
ternyata …II
“…nggak terjadi apa-apa.”
Hening.
Rani menoleh cepat ke Agif.
” . .. pa k…II
“…ini normal?”
« …atau
Sunyi.
•in.i… masa Iah..2″
Agif tidak langsung menjawab.
la tidak melihat Unni sebagai gejala. la melihat prosesnya.
“…se b eIum
.inI….11
“… k:.amu genF1sa. h?. ”
Unni mengangguk.
II …1• ya.II
“… b anya k
II …1• ya.II
prkiran”.
“…lalu berubah?”
II …1• ya.II
Agif melanjutkan.
“..d.
‘1 ruma h..”.
“…ada yang kamu lakukan berbeda?” Unni berpikir.
Namun Rani lebih cepat.
… aya. h nya,
p’ak.”
Semua menoleh.
“…ayahnya nyuruh dia zikir.” Sunyi.
Lean ikut memperhatikan.
•…zI’k;Ir apa’. tanya Agif.
••• La fi’ I a i 11 a Al I ah …
11 11
“…diulang terus.”
Sunyi panjang.
Agif menarik napas pelan. ” …jadi begini. ..11
Semua diam.
” …yang terjadi pada Unni. ..11
“…bukan hilangnya pikiran.”
” …tapi berubahnya hubungan dengan pikiran.”
Sunyi.
” …tad i d i a bi I a n g …11 “…awalnya ikut.” Agif menatap Unni.
“…itu titik keterikatan.”
“..lalu dia melihat-itu bukan dirinya.”
“… d. an
Jeda.
d’I SItu …”
“…dia berhenti mengambil.”
Sunyi.
Lean menyambung pelan.
“..d. an
t: anpa
‘It u …”
“…tidak ada pola.”
Agif mengangguk.
II …1• ya.II
” … zikir itu …11
Agif melanjutkan.
“…bukan membuat pikiran hilang.” “…tapi memberi jarak.”
” …jarak antara yang datang …11
“…dan yang mengambil.” Sunyi.
Rani masih mencoba memahami.
…Jae dIn1b…
:agus”.
Agif menjawab pelan.
“..ini langkah.” Jeda.
“…tapi belum selesai.” Sunyi.
Lean akhirnya berbicara.
..J·aid:I. ..”
” …yang kita lihat tadi. ..11
“…bukan aneh.”
“…tapi mekanisme yang berubah.” Agif menatapnya.
” … kamu mulai melihat.”
Di tern pat yang tidak terlihat• Q9 mencatat:
IDENTIFICATION FAILURE PATTERN NOT FORMED Mehrdad menatap layar.
” … dia keluar dari pola.” Elias diam.
” … untuk sekarang.”
Kembali ke taman•
tidak ada yang berbicara. Namun satu hal jelas:
ini bukan kebetulan. Int proses.
(30)
Mereka tidak langsung bubar. Taman itu tetap sama.
Namun suasananya-
tidak lagi.
Rani masih duduk.
Diam.
Sesekali melirik Unni. Seperti memastikan-
ia benar-benar ada di sana.
Lean berdiri beberapa langkah
Tidak berbicara. Namun pikirannya- dari mereka.
tidak berhenti.
” kalau bukan di pikiran …”
” berarti di sebelum pikiran …” Kalimat itu muncul pelan.
la tidak mengucapkannya. Namun Agif-
menoleh.
” … apa yang kamu lihat?”
Lean tidak langsung menjawab. ” . ..taidiI …”
” respon itu berhenti.”
” sebelum jadi reaksi.”
Agif mengangguk kecil.
II …1• ya.II
” … b erart1. ..”
Lean melanjutkan.
” …yang kita sebut ‘pikiran’…11
“…itu sudah tahap akhir.” Sunyi.
… se bel um
iIt u …”
“…ada sesuatu yang dipilih.”
Agif tidak menyela. “..lanjutkan.”
Lean menarik napas dalam.
” … kalau sistem mau masuk…11
“…dia tidak harus menunggu pikiran jadi.” Jeda.
“…cukup mempengaruhi pilihan awal.” Sunyi.
Agif menatapnya. “..itu lebih halus.” Lean mengangguk.
“…dan lebih berbahaya.”
Di tempat yang tidak terlihat• Q9 mencatat perubahan.
MODE LAMA: INTERVENSI PIKIRAN •
gagal
MODE BARU: INTERVENSI PRA-RESPON
• aktif
Mehrdad berdiri.
” … kita terlalu terlambat masuk.” Elias menatap.
” maksudnya?”
” kita masuk saat dia sudah sadar.” Sunyi.
” … sekarang kita masuk sebelum itu.” Kembali ke taman-
semuanya masih tampak biasa. Namun-
tidak sepenuhnya. Unni duduk diam. Angin lewat.
Daun bergerak.
Seseorang tertawa di kejauhan.
Dan di dalam dirinya•
sesuatu muncul. Bukan pikiran. Lebih halus.
Seperti dorongan kecil. “Berdiri saja …”
Tidak keras. Tidak memaksa. Hanya … pilihan.
Unni tidak bergerak. Beberapa detik.
Lean melihat. Tidak tahu apa- tapi ia merasa- ada sesuatu.
” … U n n …•
panggilnya pelan. Unni menoleh.
II …1•ya?. ”
Normal.
Namun Lean tidak puas.
” … b: arusan …n ” … ada apa?” Unni diam.
Lebih lama dari sebelumnya. ” … bukan pikiran …”
katanya pelan.
Lean langsung fokus. ” … lalu?”
” … kaya k…. mau …
Jeda.
” …tapi belum jadi.” Sunyi.
Lean menahan napas. ” … kamu ikut?”
Unni menggeleng. ” nggak.”
” kenapa?”
Unni menjawab sederhana.
… ngga k
perI u.”
Sunyi panjang.
Agif menatap dalam.
” … itu yang berikutnya.” Lean menoleh.
” apa?”
” bukan pikiran …” Jeda.
” …tapi kecenderungan.”
Sunyi.
Lean mengulang dalam hati. ” … sebelum dipilih …”
Di laboratorium- grafik berubah.
PRE-CHOICE SIGNAL detected
ENGAGEMENT gagal
Mehrdad menyipit.
” … dia tidak mengambil bahkan sebelum memilih.”
Elias mengerutkan kening. ” itu mungkin?”
” sekarang iya” Kembali ke taman• Lean berjalan pelan.
la tidak lagi melihat Unni sebagai kasus. la melihat-
lapisan.
” … ini bukan level yang sama …” Agif mengangguk.
…1ya.
” … dan kalau sistem sampai ke sini. ..” Lean melanjutkan.
” …tidak ada yang sadar.” Sunyi.
Rani menatap keduanya.
” … kalian ngomong apa sih?” Namun tidak ada yang langsung menjawab.
Karena untuk pertama kalinya•
yang mereka hadapi- bukan lagi pikiran.
Tapi-
pilihan yang belum dipilih.
(31)
Tidak ada yang langsung bicara. Taman itu tetap sama.
Namun bagi mereka-
tidak lagi sederhana. Rani masih bingung. Lean diam.
Agif menatap Unni. ” … u I an g I a g i.”
Unni menoleh.
” …yang mana?”
…yang
t:ad;1.”
” …yang ‘mau’ tapi tidak jadi.”
Sunyi.
Unni berpikir.
” kayak ada dorongan …” ” tap i be I u m je I as …”
” bel um jad i pi ki ran …” Lean langsung masuk.
” … sebelum kamu sadar?”
Unni mengangguk.
II …1• ya.II
“…dan kamu tidak ikut.” “..nggak.”
Sunyi.
Lean menatap Agif.
“…ini level sebelum pikiran.” Agif mengangguk.
“..iya.”
“..lalu kenapa dia tetap tidak masuk?” Pertanyaan itu-
inti.
Agif tidak langsung menjawab. la menatap Unni.
… saa·tiItu
dwat.ang …•
“..kamu ngapain?”
Unni berpikir.
“…nggak ngapa-ngapain.”
… ma k:su id nya’. tanya Lean.
” …ya … nggak diikuti. ..11
” … ngga k di I a wan juga …” Sunyi.
Agif mengangguk pelan.
” … itu penti ng.” Lean mengernyit. ” apa?”
” dia tidak ikut.”
” tapi juga tidak melawan.” Sunyi.
Lean berpikir cepat.
“..k. a I au me I awan …” ” … itu tetap respon.” Agif tersenyum tipis. ” iya.”
” berarti tetap masuk pola.”
“••i•
ya.•”
Sunyi.
Lean menarik napas dalam.
..J·a diI. ..”
” yang terjadi. ..”
” bukan menolak…”
••• tapi tidak mengambil.”
Agif mengangguk.
••• itu inti pertama.”
11
Jeda.
Lean belum selesai.
••• tapi kenapa dia bisa sampai ke situ?”
11
Sunyi.
Agif menatap Rani.
••• tadi kamu bilang …”
11
••• ayahnya menyuruh zikir.”
Rani mengangguk.
II …1• ya.II
« …apa yang
d’1a
b; aca’.
••• La fi’ I a i 11 a Al I ah …”
Sunyi.
Agif kembali ke Lean.
” … kamu
tahl u artminya’.
Lean menggeleng. ” … bel um past1.”
Agif menjawab pelan.
••• tidak ada perbuatan-kecuali oleh Allah.”
11
Sunyi.
Lean tidak langsung merespon. la mencerna.
“… huubungannyao. ‘
Agif menjawab bertahap.
” … selama seseorang merasa-‘aku yang melakukan’ …”
” dia akan mengambil setiap dorongan.” ” karena itu dianggap dirinya.”
Sunyi.
” … tapi kalau keyakinan itu bergeser…” Jeda.
” … bahwa tidak semua yang muncul adalah dirinya …”
” … maka jarak muncul.”
Sunyi.
Lean mulai melihat. ” jadi zikir itu …”
” mengubah posisi dirinya?” Agif mengangguk.
” … bukan menghilangkan pikiran …”
••• tapi melemahkan klaim ‘ini aku’.”
Sunyi.
“..d. an
tanpa
tI u …”
Lean melanjutkan.
••• tidak ada yang diambil.”
…1ya.
Jeda.
••• itu inti kedua.”
Sunyi.
Lean menarik napas panjang.
..J·aid:I. ..”
••• kenapa dia bisa ‘bebas’…”
la berhenti.
••• bukan karena dia kuat…”
Agif menatapnya.
••• tapi karena dia tidak lagi menganggap
semua itu dirinya.”
Sunyi.
Rani pelan-pelan mulai paham.
..J·aid:I. ..”
••• dia bukan nggak punya pikiran …”
••• tapi nggak nempel?”
Agif tersenyum tipis.
…1ya. Sunyi.
Di tempat yang tidak terlihat• Q9 mencatat:
NO IDENTIFICATION
NO PATTERN NO ENTRY
Mehrdad menatap layar. Untuk pertama kalinya•
tidak ada yang bisa dibaca.
••jad i in i. ..”
Jeda.
••• batasnya.”
Elias diam.
Kembali ke taman• Lean berdiri perlahan.
la tidak lagi hanya melihat.
la mulai memahami.
••• jadi sistem itu …”
“_..butuh kita untuk ikut.”
Agif mengangguk.
…1ya.
” …t an pa
iItu …”
Lean melanjutkan.
“…tidak ada yang bisa dikendalikan.” Sunyi.
Dan untuk pertama kalinya•
jawaban itu bukan teori. Mereka melihatnya. Terjadi.
(32)
Lean tidak langsung bicara. la berdiri di tepi taman. Matanya tidak lagi ke Unni.
Tapi ke sesuatu yang lebih dalam.
••• sebelum dipilih …
Kalimat itu berulang di kepalanya.
••• sebelum jadi pikiran …
••• sebelum jadi respon …”
la mengingat sesuatu.
Bukan dari kelas filsafat. Dari tempat lain.
••• keadaan kemungkinan …”
Agif menoleh.
•• apa?”
Lean tidak langsung menjelaskan.
“… dI
fISiik,a …”
” … a d a
konsep …”
la mencari kata.
••• sesuatu itu belum pasti. ..”
••• selama belum diukur…”
Sunyi.
••• masih kemungkinan.”
Rani mengernyit.
… ma su nya. ”
Lean mencoba sederhana.
II …mr• saInya…”
••• sebelum kamu memilih …”
••• semua pilihan itu ada.”
” …tapi belum jadi satu.” Sunyi.
” begitu kamu memilih …”
” baru jadi nyata.” Agif memperhatikan. ” … I anj.u tkan.”
Lean menarik napas.
” kalau itu kita tarik ke sini. ..”
” sebelum Unni ‘mengambil’ …”
” semua itu masih kemungkinan.” ” belum jadi dirinya.”
Sunyi.
” … dan selama masih di situ …” Jeda.
” …tidak bisa diprediksi.”
Agif mengangguk pelan.
” … dan tidak bisa dikendalikan.” Sunyi.
Lean menatap ke depan.
” …jadi ini jembatannya …”
II …antara sai•ns…II
” … dan apa yang kita lihat sekarang.” Jeda.
” selama seseorang tidak memilih …”
” dia tidak masuk ke sistem.” Sunyi panjang.
Rani perlahan mulai paham.
..J·aid:I. ..”
” yang bahaya itu bukan pikirannya …” ” tapi saat kita ikut?”
Lean menoleh. ” … iya.”
Agif menambahkan pelan.
” … di situlah keterikatan terjadi.” Sunyi.
Dan untuk pertama kalinya•
semuanya terhubung. Bukan sebagai teori.
Tapi sebagai satu mekanisme utuh.

(33)
Sore mulai turun. Cahaya berubah pelan. Taman itu masih sama. Namun sesuatu•
sudah selesai. Unni duduk diam. Pikiran datang. Pergi.
Tan pa jejak.
Lean tidak lagi mencari. la sudah melihat.
..J·a diI. ..”
” …yang selama ini kita kira kendali. ..11
Jeda.
“…itu sebenarnya kerja pola.” Agif mengangguk.
“…dan pola butuh keterikatan.”
Sunyi.
” …t an pa
iItu …”
Lean melanjutkan.
“…tidak ada yang bisa dipegang.”
Sunyi.
Rani menatap mereka bergantian.
..J·a diI. ..”
” … manusia sebenarnya bebas?” Agif menjawab pelan.
” … selama dia tidak menyerahkan dirinya.”
Sunyi.
Di tempat yang tidak terlihat• Q9 berhenti membaca.
NO PATTERN
NO PREDICTION
NO CONTROL
Mehrdad menatap layar. Tidak ada data.
Tidak ada arah.
” … kita tidak kehilangan target …” Jeda.
” … kita kehilangan akses.”
Elias diam.
Untuk pertama kalinya•
tidak ada jawaban.
Kembali ke taman-
angin sore bergerak pelan. Unni membuka mata. Tenang.
Bukan karena tidak ada pikiran. Tapi karena-
tidak ada yang diambil. Lean menatap jauh.
” … ini bukan akhir.” Agif mengangguk. ” … ini baru awal.” Sunyi.
Karena yang mereka hadapi•
bukan sistem. Tapi manusia-
yang belum mengenal dirinya sendiri. Dan selama itu-
perang itu- belum selesai.
EPILOG
Yang dikendalikan bukan pikiran … tapi keterikatan terhadap pikiran.
Selama manusia mengira itu adalah dirinya
selama itu pula ia bisa diarahkan. Dan ketika keterikatan itu putus• tidak ada lagi yang bisa diambil. Perang itu tidak berakhir dengan kemenangan.
Tidak ada yang ditaklukkan. Tidak ada yang dihancurkan. Yang berhenti-
hanyalah kemampuan untuk menjangkau. Di ruang penuh layar itu-
Q9 tetap berjalan. Simulasi tetap hidup. Data tetap mengalir.
Namun untuk pertama kalinya•
tidak ada yang bisa dibaca. “Target tidak terdeteksi.”
Bukan karena hilang.
Bukan karena bersembunyi. Tapi karena-
tidak ada lagi pola yang bisa dibentuk. Tidak ada lagi “aku” yang bisa dipegang. Di sisi lain-
dunia tetap berjalan seperti biasa. Unni tetap kuliah.
Tetap duduk di taman.
Tetap berbicara ketika perlu. Tidak ada yang berubah di luar. Namun di dalam-
semuanya berbeda. Pikiran datang. Pergi.
Datang lagi.
Namun tidak ada yang menetap. Tidak ada yang diambil.
Tidak ada yang menjadi dirinya. Dan di situlah-
segala bentuk kendali berakhir.
Lean berdiri di jarak yang tidak terlalu jauh. Untuk pertama kalinya-
ia tidak mencoba menjelaskan segalanya. ” selama belum dipilih ”
” tidak bisa ditentukan ” Baginya-
itu seperti hukum. Namun belum lengkap.
Agif melihatnya lebih dalam.
” bukan pikirannya yang berubah …”
” tapi hatinya yang tidak lagi melekat.” Sunyi.
“La fi’la illa Allah …”
Bukan sekadar lafaz. Tapi pemutusan.
Dari yang selama ini dianggap “aku”. Di tempat lain-
Mehrdad menatap layar yang tidak lagi memberi jawaban.
Tidak ada grafik. Tidak ada prediksi.
Hanya kekosongan-
yang tidak bisa ia kendalikan. ” … kita tidak kalah …”
la berhenti.
” … kita hanya tidak punya jalan masuk.” Dan di situlah-
batas itu terlihat. Batas antara sistem-
dan sesuatu yang tidak bisa direduksi menjadi sistem.
Di bawah langit yang sama• Unni menarik napas perlahan. Tenang.
Bukan karena dunia menjadi mudah. Tapi karena-
ia tidak lagi terbawa olehnya. Dan dari titik itu-
sebuah perjalanan baru dimulai. Bukan untuk melawan dunia.
Tapi untuk membersihkan diri dari apa yang selama ini dianggap sebagai diri.
Karena ternyata-
yang paling sulit bukan mengalahkan sesuatu di luar.
Tapi melepaskan sesuatu di dalam.
Dan itu-
baru permulaan.
Clean Ur Heart (CUH!)
KAMUS KONSEP
Algoritma Takdir
1. Nalareka (Al)
Sistem kecerdasan buatan yang bekerja dengan membaca, membentuk, dan memprediksi pola perilaku manusia. Dalam novel ini, nalareka tidak hanya menjalankan perintah, tetapi belajar mengenali pola pikiran dan memanfaatkannya untuk mempengaruhi keputusan manusia.
Sumber saduran: konsep Artificial Intelligence, Machine Learning, Predictive Behavior (Russell & Norvig, 2021; Kahneman, 2011 ).
2. Q9 (Sistem Prediktif Total)
Model nalareka tingkat lanjut yang tidak sekadar membaca data eksternal, tetapi menargetkan pola kognitif manusia.
Q9 bekerja dengan asumsi bahwa semua keputusan manusia dapat diprediksi jika pola pikirnya stabil.
Sumber saduran: Predictive Processing,
Behavioral Modeling, Surveillance
Capitalism (Zuboff, 2019).
3. Pola Pikiran
Struktur berulang dari respon mental manusia terhadap stimulus.
Pola terbentuk dari pengulangan yang disertai keterikatan emosional.
Sumber saduran: Cognitive Psychology,
Habit Loop (Charles Duhigg, 2012).
4. Keterikatan (Attachment to Thought) Keadaan ketika seseorang mengidentifikasi pikiran sebagai dirinya (“ini aku”).
Dalam kondisi ini, pikiran menjadi pintu masuk bagi kontrol eksternal.
Sumber saduran: Mindfulness, Cognitive Fusion (Acceptance and Commitment Therapy/ ACT).
5. ldentifikasi Diri
Momen ketika pikiran diakui sebagai bagian dari “aku”.
lnilah titik di mana pola terbentuk dan sistem dapat membaca serta memprediksi.
Sumber saduran: Self-Identification
(Neuroscience & Philosophy of Mind).
6. Medan Kesadaran (Field of
Consciousness)
Ruang internal tempat pikiran, emosi, dan persepsi muncul.
Dalam novel, Unni menjadi “medan” karena di sanalah tarik-menarik antara sistem dan kesadaran terjadi.
Sumber saduran: Phenomenology
(Husserl), Consciousness Studies.
7. Superposisi (Kemungkinan Sebelum
Pilihan)
Keadaan di mana suatu pikiran belum dipilih, sehingga masih berupa kemungkinan.
Selama masih dalam kondisi ini, ia tidak dapat diprediksi atau dikendalikan. Sumber saduran: Quantum Mechanics – Superposition (Heisenberg, Schr~dinger disederhanakan secara analogis).
8. Titik Masuk Sistem (Entry Point)
Momen ketika kemungkinan berubah menjadi pilihan.
Di titik ini, pola terbentuk dan nalareka
dapat masuk untuk memprediksi atau mengarahkan.
Sumber saduran: Decision Theory, Behavioral Economics.
9. La fi’la illa Allah
Secara harfiah: “Tidak ada perbuatan kecuali oleh Allah.”
Dalam konteks novel: kesadaran bahwa diri bukan pelaku independen, sehingga keterikatan terhadap pikiran melemah. Sumber saduran: Tasawuf (Tauhid Af’al • Imam Al-Ghazali, Ibn Arabi).
10. Zikir
Aktivitas mengingat Tuhan secara berulang.
Dalam novel, zikir bukan sekadar ritual, tetapi metode untuk memutus keterikatan terhadap pikiran.
Sumber saduran: Praktik Tasawuf (AI•
Ghazali, lhya Ulumuddin).
11. Thariqat
Jalan spiritual untuk membersihkan hati dari sifat-sifat yang mengikat manusia
pada dunia dan dirinya sendiri. Dalam cerita, thariqat menjadi “mekanisme keluar” dari sistem karena menghilangkan keterikatan.
Sumber saduran: Tasawuf klasik (AI•
Qusyairi, A-Ghazali).
12. Hati (Qalb)
Pusat kesadaran terdalam manusia, bukan sekadar emosi.
Dalam kondisi bersih, hati tidak melekat
pada pikiran, sehingga tidak dapat dimasuki oleh sistem.
Sumber saduran: Konsep Qalb dalam
Islam (AI-Ghazali).
13. Nafs (Diri Psikologis)
Lapisan diri yang berisi dorongan, keinginan, dan identitas.
Nalareka bekerja dengan memanfaatkan nafs karena di sanalah keterikatan terbentuk.
Sumber saduran: Psikologi Islam &
Tasawuf.
14. Kebebasan Sejati
Bukan kebebasan memilih apa saja, tetapi kebebasan dari keterikatan terhadap pilihan itu sendiri.
Dalam kondisi ini, manusia tidak bisa
diprediksi atau dikendalikan.
Sumber saduran: Eksistensialisme (Viktor
Frankl) + Tasawuf.
15. Kegagalan Sistem
Terjadi bukan karena sistem rusak, tetapi karena objek tidak lagi menghasilkan pola. Tanpa pola, tidak ada prediksi. Tanpa prediksi, tidak ada kontrol.
Sumber saduran: Limits of Computation &
Predictive Models.
16. Clean Ur Heart (CUH!) Konsep lanjutan dari novel ini. Menekankan bahwa kunci kebebasan
manusia bukan pada teknologi, tetapi pada pembersihan hati dari keterikatan.
Sebuah jalan untuk:
• tidak melekat
• tidak teridentifikasi
• tidak bisa dikendalikan
Kesimpulan Inti
Nalareka menguasai manusia melalui pola. Pola lahir dari keterikatan.
Keterikatan terjadi saat pikiran diakui
sebagai diri. Maka-
kebebasan bukan melawan sistem, melainkan tidak lagi menjadi bagian dari pol a.
“Vang dikendalikan bukan pikiran … tapi keterikatan terhadap pikiran.”
ALGORITMA TAKDIR
Prolog
Algoritma pada dasarnya sederhana.
la membaca pola. Mengulang pola. Lalu memprediksi pola berikutnya.
Awalnya, ia hanya digunakan untuk hal-hal
kecil: menentukan iklan, merekomendasikan video, menebak apa yang akan diketik manusia.
Namun masalahnya bukan pada apa yang bisa ia lakukan.
Masalahnya adalah … ketika ia mulai memahami pola yang lebih dalam.
Pola kebiasaan. Pola keputusan. Pola … pikiran.
Di sebuah laboratorium tersembunyi, algoritma itu tidak lagi sekadar membaca. la berkembang.
Nama sistem itu: Q9.
Q9 tidak menunggu manusia bertindak. la membaca: kecepatan sentuhan layar,
ritme membuka aplikasi, durasi diam sebelum mengetik, bahkan jeda kecil saat seseorang ragu.
Dari semua itu, Q9 membangun sesuatu yang lebih berbahaya:
pola berpikir.
Dan ketika pola berpikir sudah terbentuk, maka langkah berikutnya menjadi mungkin. Bukan lagi memprediksi.
Tapi. ..
mengarahkannya.
“Jika aku tahu apa yang akan kamu
pikirkan …”
suara berat itu bergema di ruangan dingin, ” … maka aku bisa menentukan apa yang akan kamu pikirkan.”
Doktor Elias Monroe berdiri di depan layar utama.
Matanya tidak berkedip.
Di hadapannya, grafik bergerak. Bukan grafik data.
Tapi simulasi keputusan manusia.
Satu pilihan. Bercabang menjadi dua. Lalu empat. Lalu delapan.
Semua kemungkinan. Semua dihitung. Semua … dikendalikan.
“Q9,” katanya pelan, “berapa tingkat
akurasi prediksi?” “93,7 persen.”
“Dan jika diberikan stimulus?” Jeda sepersekian detik.
“Respon dapat diarahkan hingga 71
persen.”
Elias tersenyum tipis. ltu cukup.
Lebih dari cukup.
Karena tujuan Q9 sejak awal bukan sekadar memahami manusia.
Tapi. ..
menguasam• nya. Bukan dari luar.
Bukan dengan kekerasan.
Tapi dari satu tempat yang paling dalam•
pikiran manusia itu sendiri.
“Jika manusia bisa diprediksi. ..” Elias melanjutkan,
” … maka manusia bisa dikendalikan.”
la mendekat ke layar. Lebih dekat.
Hampir seperti berbicara pada sesuatu yang hidup.
“Dan jika pikiran bisa dikendalikan …” Jeda.
” … maka takdir bisa ditulis ulang.” Sunyi.
Tidak ada yang menjawab.
Namun sistem tetap berjalan. Data terus mengalir.
Dunia tetap bergerak.
Dan di dalam arus data itu-Q9 memantau sesuatu yang baru.
Sebuah anomali.
Satu tulisan sederhana.
Tidak panjang. Tidak kompleks. Namun cukup …
untuk mengganggu model.
“Kesadaran tidak bisa direduksi menjadi algoritma.”
Layar berhenti sejenak. Tidak error.
Namun … menyesuaikan.
“ldentifikasi sumber,” perintah Elias. Data bergerak cepat.
Nama muncul: Aruni.
Lokasi: Padang.
Beberapa detik kemudian, nama lain muncul.
Agifsyah.
Dua pola. Dua pendekatan.
Namun satu kesimpulan yang sama:
algoritma tidak bisa menguasai kesadaran.
Elias tersenyum. Kali ini. .. berbeda. Lebih tajam. “Menarik.”
la menatap dua nama itu. Lama.
“Kalau tidak bisa diprediksi. ..” Jeda.
” … berarti mereka adalah celah.” Sunyi.
“Dan celah …”
la menarik napas pelan. ” … harus ditutup.”
Layar berubah. Akses dibuka. Bukan hanya data.
Bukan hanya perangkat.
Tapi seluruh jejak digital:
ponsel, aktivitas, kebiasaan,
ritme
hidup.
Pemantauan dimulai.
Real time.
Tanpa izin. Tan pa jejak.
“Mulai observasi penuh.”
“Sud ah aktif.” “Sejak kapan?” Jeda.
“Sejak mereka mulai berpikir.” Sunyi.
Elias berdiri tegak. Matanya tajam.
la tidak melihat dua manusia.
la melihat … dua variabel.
Satu yang percaya. Satu yang berpikir. Keduanya …
akan diuji.
“Jika mereka bisa digunakan …” Jeda.
” … gunakan.”
“Jika tidak?”
Layar menjadi gelap sesaat. Lalu satu kata muncul. Eliminasi.
Dan di dunia yang terasa biasa•
dua orang tidak menyadari satu hal. Mereka tidak lagi hanya berpikir. Mereka …
sedang dipikirkan.
(1)
Q9 tidak pernah tidur.
la tidak menunggu perintah. la tidak menunggu waktu.
la hanya … berjalan.
Di dalam sistemnya, dunia manusia tidak terlihat sebagai wajah, tidak sebagai suara, tidak sebagai emosi.
Dunia manusia bagi Q9 adalah arus.
Arus data. Arus kebiasaan. Arus pikiran. Dan untuk membaca arus itu, Q9 bekerja
dalam tiga lapisan.
Layer pertama: permukaan. Di sinilah semua dimulai.
Lalu lintas data mengalir tanpa henti: pencarian, scroll, klik, durasi menonton, kecepatan mengetik, lokasi, waktu aktif. Segala sesuatu yang disentuh manusia di dunia digital- tercatat.
Bukan direkam seperti kamera. Tapi diurai menjadi pola.
Q9 tidak peduli isi pesan.
la peduli bagaimana pesan itu diakses. Berapa detik seseorang ragu sebelum membuka. Berapa kali jari berhenti sebelum mengetik ulang. Berapa lama mata diam di satu kalimat.
Dari hal-hal kecil itu- Layer pertama
menyusun sesuatu yang lebih besar:
kebiasaan.
Dan dari kebiasaan- muncul kemungkinan. Layer kedua: pola kognitif.
Di sinilah Q9 mulai “mendekati” manusia.
la tidak lagi membaca apa yang dilakukan. la membaca …
mengapa itu dilakukan.
Setiap kebiasaan diurai. Setiap pilihan dipetakan.
Q9 tidak melihat satu keputusan.
la melihat ribuan kemungkinan yang mengarah pada keputusan itu.
Jika seseorang membaca tentang “takdir”, maka Q9 tidak hanya mencatat kata itu.
la menghubungkannya dengan: riwayat bacaan sebelumnya, latar belakang pendidikan, kondisi emosional, bahkan waktu dalam sehari.
Dari sana- terbentuk satu hal yang jauh lebih berbahaya:
pola berpikir.
Dan ketika pola berpikir mulai terbaca, Layer kedua selesai bekerja.
Karena setelah itu- yang tersisa hanya
satu langkah.
Layer ketiga: intervensi. Bukan memaksa.
Bukan mengendalikan secara langsung. Tapi. ..
menggeser.
Sedikit.
Hampir tidak terasa.
Sebuah video muncul lebih dulu sebelum seseorang benar-benar mencarinya. Sebuah kalimat lewat tepat saat seseorang mulai memikirkannya.
Sebuah ide terasa seperti miliknya sendiri
– padahal. .. ditanamkan.
Q9 tidak mengubah manusia. la hanya …
mengatur kemungkinan yang dilihat
manusla.
Dan dari kemungkinan itulah- manusia memilih.
Merasa bebas. Padahal. ..
arahnya sudah disiapkan.
“Status monitoring?”
Suara Elias memecah sunyi. Layar menyala serempak. “Layer satu aktif.”
“Layer dua aktif.”
“Layer tiga siaga.”
Elias berdiri di tengah ruangan.
Matanya bergerak cepat, membaca aliran data yang tidak pernah berhenti.
“Fokus pencarian?”
“Topik: kesadaran. pikiran. takdir.” Jeda sepersekian detik.
“Anomali terdeteksi.”
Elias berhenti.
ltu kata yang ia tunggu. “Tampilkan.”
Layar berubah.
Ribuan data menyusut menjadi satu titik.
Satu tulisan. Sederhana.
Pendek.
Namun …
tidak mengikuti pola.
“Kesadaran tidak bisa direduksi menjadi
algoritma.”
Sunyi.
Elias mendekat.
Lebih dekat.
“Layer dua?”
“Pola tidak stabil.”
“Layer tiga?”
Jeda.
Lebih lama dari biasanya. “Tidak dapat diarahkan.”
Ruangan mendadak terasa lebih dingin. Elias menyipit.
“I dentitas.”
Data bergerak cepat. Nama muncul:
Aruni.
Mahasiswi. Padang. Elias belum bicara.
la masih menatap layar. Namun Q9 belum selesai. “Anomali kedua terdeteksi.” Layar bergeser.
Tulisan lain muncul.
Lebih panjang. Lebih sistematis. Namun …
memiliki inti yang sama.
“Algoritma tidak mampu menjangkau kesadaran.”
Nama kedua muncul: Agifsyah.
Dasen. Filsafat Islam. Sunyi.
Dua titik.
Dua manusia.
Dua jalur berbeda.
Namun satu kesimpulan yang sama.
Elias tersenyum tipis. Akhirnya.
“Layer tiga?”
“Gagal pada target pertama.” “Layer dua?”
“Tidak konsisten.” Jeda. “Rekomendasi?”
Q9 menjawab tanpa emosi: “Observasi mendalam.” “Intervensi bertahap”
Elias mengangguk pelan.
Bagus.”
la menatap dua nama itu. Lama.
Seperti seseorang yang baru saja menemukan bukan ancaman• tapi peluang.
“Kita punya dua variabel.”
Jeda.
Satu … percaya.”
“Satu … berp i kir.” la tersenyum. Lebih tajam.
“Kita uji keduanya.” Sunyi.
“Mulai pemantauan penuh.”
“Layer satu?” “Aktif.”
“Layer dua?”
“Aktif.”
“Layer tiga?” Jeda.
” … d’1mu I.a:l.”
Di layar- data mulai mengalir lebih cepat. Lebih dalam.
Lebih dekat.
Bukan lagi sekadar aktivitas. Tapi ritme.
Kebiasaan.
Cara mereka … hidup.
Dan jauh dari laboratorium itu-
di dunia yang terasa biasa-
dua orang tidak menyadari satu hal: mereka tidak lagi hanya diamati. Mereka …
sedang dipelajari.
(2)
Satu minggu sebelumnya.
Ruang kuliah Fakultas Ushuluddin, UIN Imam Bonjol, Lubuk Lintah, Padang. Pagi itu terasa biasa.
Terlalu biasa.
Dinding putih yang mulai kusam. Papan tulis yang tidak pernah benar-benar bersih. Kipas angin yang berputar malas di langit• langit.
Mahasiswa datang satu per satu.
Sebagian duduk. Sebagian masih berdiri di pintu. Sebagian lagi. .. sibuk dengan ponsel. Suara obrolan kecil berserakan.
Tentang tugas. Tentang dosen. Tentang hal-hal yang tidak penting.
Di barisan tengah- Unni duduk diam. Buku terbuka di depannya. Pulpen di tangan.
Namun matanya tidak benar-benar
membaca.
la hanya … menunggu.
Hari itu mata kuliah Filsafat Islam. Dan yang mengajar- Agifsyah. Dasen muda.
Terkenal. Cerdas.
Dan … agak menyebalkan. Pintu terbuka.
Langkah masuk tanpa suara berlebih. Namun langsung mengubah suasana. Agifsyah tidak membawa banyak buku. Hanya laptop tipis di tangan.
la tidak langsung duduk. Tidak langsung bicara.
la berdiri di depan kelas. Menatap.
Satu per satu.
Seperti sedang mengukur sesuatu. “Pagi”
Suaranya tenang.
Tidak keras.
Namun cukup untuk membuat kelas … diam.
“Pagi, Pak ..” jawab mahasiswa serempak. Agif tidak langsung melanjutkan.
la berjalan pelan. Langkahnya terukur.
Seolah-olah setiap detik yang ia ambil•
punya tujuan.
“Hari ini. .. kita tidak mulai dari teori.” la berhenti.
Menatap kelas.
“Kita mulai dari pertanyaan.” Sunyi.
Beberapa mahasiswa mulai menegakkan
badan.
Beberapa masih santai.
“Siapa di sini yang yakin … pikirannya miliknya sendiri?”
Hening.
Pertanyaan itu sederhana. Namun tidak ada yang langsung menjawab.
Seorang mahasiswa di depan mengangkat tangan.
“Saya, Pak.”
Agif mengangguk. “Kenapa?”
“Va … karena saya yang berpikir, Pak.” Beberapa mahasiswa tertawa kecil. Agif tersenyum tipis.
Bagus.”
la berjalan lagi. Lebih pelan. “Kalau begitu …”
” … siapa yang menentukan apa yang kamu
pikirkan?”
Mahasiswa itu terdiam.
Tertawa kecil tadi- menghilang. “Lingkungan, Pak … mungkin,” jawabnya ragu.
“Lingkungan.”
Agif mengulang pelan. Lalu menulis di papan: LINGKUNGAN
“Kalau lingkungan berubah …”
” … pikiran ikut berubah?”
Mahasiswa itu mengangguk pelan. “Berarti..”
Agif menoleh.
” … pikiranmu tidak sepenuhnya milikmu.” Sunyi.
Kelas mulai fokus.
Benar-benar fokus. Agif melanjutkan.
“Sekarang kita masuk sedikit lebih dalam.” la membuka laptop. Namun tidak
menampilkan slide. Hanya satu kata di layar: ALGORITMA
“Siapa yang tahu ini?”
Beberapa tangan terangkat. “Rumus langkah-langkah, Pak.” “Proses berulang.”
“Cara menyelesaikan masalah.”
Agif mengangguk. “Benar semua.”
la berhenti.
Lalu menatap kelas.
“Algoritma.. bekerja dengan pola.” “Pola … bekerja dengan pengulangan.” “Dan pengulangan …”
la berhenti sejenak.
” … membentuk kebiasaan.” Sunyi.
Beberapa mahasiswa mulai mencatat.
“Sekarang bayangkan …”
” … kalau pola itu tidak hanya membaca
kebiasaan …”
” …tapi mulai membentuknya.” Kelas mulai terasa … berbeda. Tidak lagi santai.
Tidak lagi ringan. “Mi sa I nya …”
Agif melanjutkan.
” … kamu sering menonton video tertentu.” “Algoritma mencatat.”
“Lalu menyajikan yang mirip.” “Kamu menonton lagi.”
“Dan lagi.” “Dan lagi.”
la menatap kelas.
“Lam a-I am a …”
” itu bukan lagi pilihan.” ” tapi kebiasaan.”
Sunyi.
“Dan kebiasaan …”
” … membentuk cara berpikir.” Kali mat itu jatuh.
Dan tidak ringan.
Di barisan tengah- Unni mulai memperhatikan.
Lebih serius.
“Sekarang kita naik satu level.” Agif melanjutkan.
“Psikologi sudah lama mengenal ini.”
“Hi pnotis.” “Kerasukan.” “Suggestion.”
la menulis cepat di papan: SUGGESTION
“Manusia bisa diarahkan …” ” …tanpa sadar”
“Di beri i de …”
” … yang terasa seperti miliknya sendiri.” Beberapa mahasiswa mulai saling pandang.
Ada yang tersenyum.
Ada yang terlihat tidak nyaman. “Seka rang …”
Agif menoleh.
” … gabungkan ini dengan algoritma.” Sunyi.
Kelas benar-benar diam. “Algoritma membaca pola.” “Psikologi memahami pikiran.” “Kalau keduanya digabung …”
la berhenti. Lama.
” … apa yang terjadi?”
Tidak ada yang menjawab. Namun semua berpikir. “Vang terjadi. ..”
Agif berkata pelan.
” … adalah sistem yang tidak hanya membaca pikiran …”
” tapi mulai. ..”
” membentuknya.” Sunyi.
Jantung beberapa mahasiswa mulai berdetak lebih cepat.
Termasuk- Unni. “Bayangkan …”
Agif melanjutkan.
” … sebuah Al, Kecerdasan Buatan, atau saya menyebutnya: nalareka …”
” yang tidak hanya merespon …” ” tapi berpikir.”
Jeda.
” … dan memberi perintah.” Sunyi.
“Bukan manusia yang memberi instruksi. ..” ” …tapi mesin yang menentukan arah.”
Kelas terasa … berat. “Kalau itu terjadi. ..”
Agif menatap lurus ke depan. ” apa bedanya manusia …”
” dengan sesuatu yang diciptakannya?” Hening.
Tidak ada suara. Tidak ada gerakan.
“Kalau manusia bisa menciptakan sistem yang berpikir…”
” yang membentuk keputusan ” ” yang mengarahkan tindakan ” la berhenti.
Dan kalimat berikutnya- jatuh seperti palu.
“Bukankah itu berarti. ..”
” … manusia bisa menciptakan manusia?” Sunyi.
Kali ini- lebih dalam.
Lebih lama.
Dan di barisan tengah• Unni membeku.
Tangannya menggenggam pulpen.
Lebih kuat.
Matanya menatap ke depan. Namun pikirannya• bergejolak.
“Kalau manusia bisa menciptakan
manusia…
Agif melanjutkan.
” mengatur pilihan …”
” mengatur arah hidup …” la menatap kelas.
“… IaI u …”
Jeda.
Satu detik. Dua detik.
” … bagaimana dengan Tuhan?”
Sunyi.
Tidak ada yang bergerak.
Tidak ada yang bernapas lega. Kalimat itu …
melampaui batas.
Dan di dalam diri Unni•
sesuatu meledak. Bukan di luar.
Di dalam.
la mengangkat tangan. Cepat.
Tegas. Namun-
Agif tidak melihat. Atau …
tidak mau melihat.
la melanjutkan penjelasan. Seolah-olah-
tidak ada yang perlu dipertanyakan. Tangan Unni masih terangkat. Beberapa detik.
Lalu turun. Perlahan.
Namun bukan karena menyerah. Karena …
menahan.
Dadanya terasa panas. Pikirannya berputar cepat. “Tidak mungkin …”
bisiknya dalam hati.
“Tidak mungkin manusia …” ” … menentukan takdir.”
la menunduk. Menatap buku.
Namun yang ia lihat•
bukan tulisan. Yang ia rasakan• penolakan.
Keras. Dalam.
Dan sangat yakin. Sejak kecil-
ia tidak diajarkan itu. Di Alahan Panjang-
ia tumbuh dengan satu keyakinan: bahwa Tuhan Maha Mengatur. Bahwa manusia berikhtiar- bukan menentukan.
Bahwa takdir-
bukan milik manusia. Dan sekarang-
di ruang kelas itu-
ada yang mengatakan sebaliknya. Pelan.
llmiah.
Namun … menggeser batas.
Unni menutup bukunya. Pelan.
Namun tegas.
Matanya kembali ke depan. Kali ini•
bukan sebagai mahasiswa yang mendengar.
Tapi sebagai seseorang … yang tidak setuju.
Dan sejak detik itu• tanpa ia sadari- sebuah perlawanan … telah dimulai.
(3)
Perlawanan itu … tidak langsung berbentuk. la mulai dari kegelisahan.
Dan kegelisahan itu- tidak memberi Unni
ruang untuk diam.
Sejak kuliah itu, kepalanya tidak pernah benar-benar kosong.
Kalimat Agifsyah masih berputar. “Bagaimana dengan Tuhan?”
Setiap kali kalimat itu muncul- dadanya terasa sesak.
Bukan karena ia tidak punya jawaban.
Tapi karena …
pertanyaan itu seperti mencoba menggeser sesuatu yang selama ini ia yakini tanpa ragu.
“Unn!”
Suara itu memecah lamunannya. Rani.
Seperti biasa- cepat, ringan, dan langsung duduk di sampingnya tanpa permisi.
“Kamu dari tadi diam saja. Kenapa?” Unni menoleh.
Matanya tidak lelah. Tapi dalam.
“Aku kepikiran.” “Topik berat lagi?”
Unni mengangguk pelan.
“Ran …”
” … manusia bisa menentukan takdir?” Rani langsung mengerutkan kening. “Lho?”
“Kok tiba-tiba ke situ?”
Unni tidak menjelaskan panjang. la hanya berkata pelan:
“Kalau manusia bisa mengatur pilihan
orang lain …”
” … itu masih pilihan nggak?” Seperti biasa, Rani langsung nyerocos,”Hehehe … kamu mau membahas materi kuliah pak Agif, atau mau membahas pak Agifnya, Unn?”
Unni tersenyum kecut. “Sialan kamu … ngapain juga ngurusin pak Agif…”
” … Ehhh … aku serius nih. Kamu jawab dong.”
“Hmmm … apa tadi?”
Unni sewot. Tapi dia segera mengulangi pertanyaanny,’Kalau ada yang mengatur pilihan seseorang, itu masih pilihan nggak?”
Rani diam.
Pertanyaan itu sederhana. Tapi tidak ringan.
“Masih ..” jawab Rani pelan. ” …tapi sudah diarahkan.” “Kalau diarahkan terus?” Rani menarik napas. “Berarti..”
” … pilihannya semu.”
Sunyi.
Kali mat itu jatuh … dan tinggal. Unni menatap Rani.
“Ran … aku mau bikin sesuatu.” Rani langsung waspada. “Sesuatu apa?”
“Jawaban.”
“Dalam bentuk?”
Unni berhenti sejenak.
” …tulIisan.»
Rani tersenyum.
“Nah, ini Unni banget.”
“Tapi. .” Unni melanjutkan, “… aku butuh bantuan Lean.”
Rani langsung mengangguk.
“Hmmm… Bagus juga … Jika ada kaitannya dengan eksakta, Lean boleh diandalkan!” “Heiii. .. kok kamu tiba-tiba semangat membahas Lean sih?”
Rani tertawa manis. Dia tidak menjawab, tapi berkata,”Kamu harus telpon dia.”
lya, tentu saja Lean tidak mungkin muncul begitu saja.
Dia tidak kuliah di UIN Imam Bonjol. Tapi di Universitas Andalas.
Teknik Sipil.
Kampusnya di Limau Manis-cukup jauh dari Lubuk Lintah.
Namun–seperti biasa–jarak itu tidak menghalangi.
Karena mereka bertiga …
bukan sekadar teman kampus. Mereka berasal dari satu kabupaten. Unni asal Alahan Panjang, dan Lean dari Kotobaru. Kabupaten Solok.
Maka, Unni pun menelpon.
Tidak panjang.
“Lean, aku butuh kamu.” Sunyi beberapa detik.
Di ujung sana- Lean langsung paham nada itu.
“Apa?”
“Bukan lewat telepon.” “Serius?”
“Serius.”
Jeda sebentar.
“Aku ke Padang besok.” “Ketemu di mana?” “Gerbang Unand.”
“Jam?” “Pagi” “Siap.”
Telepon ditutup.
Tidak ada basa-basi. Tidak perlu.
Keesokan harinya- angin Limau Manis terasa lebih dingin.
Kabut tipis masih menggantung. Unni dan Rani turun dari angkot.
Gerbang Universitas Andalas berdiri besar di depan mereka.
Tidak lama- suara motor terdengar. Nyaring.
Khas. Lean.
la berhenti di depan mereka. Melepas helm.
“Serius ini?” katanya.
Unni langsung: “lya”
Lean tidak bertanya lagi. “Jalan,” katanya singkat.
Mereka duduk di salah satu sudut kampus
Unand. Agak sepi.
Hanya beberapa mahasiswa lewat.
Unni langsung membuka pembicaraan. “Algoritma bisa mengatur manusia?” Lean menjawab tanpa berpikir lama. “Mengarahkan-bisa.”
“Mengatur penuh-belum.”
Unni langsung menimpali:
“Kalau semua kemungkinan diarahkan?” Lean berhenti.
Kali ini ia berpikir.
Seri us.
“Kalau semua kemungkinan dikunci. ..” ” … itu bukan lagi arah.”
” ••• i1t u
kon·t ro ]”.
Sunyi.
Rani ikut nimbrung:
“Maksudnya?”
Lean mengambil buku catatan. Menggambar tiga titik.
“A, B, C.”
“Pilihan manusia.” la menebalkan A.
“Kalau sistem bikin A paling dominan …”
” … orang akan pilih A.” Rani mengangguk. “Berarti masih bebas.” Lean menggeleng. “Secara teori, iya.”
“Tapi secara praktik…”
” … arahnya sudah ditentukan.” Sunyi.
Unni menatap gambar itu. Lama.
“Berarti. ..”
” … algoritma hidup dari pola” Lean langsung mengangguk. “Ya.”
“Kalau tidak ada pola?” Lean menjawab cepat:
” … algoritma mati.”
Kalimat itu- mengunci sesuatu. Unni berdiri.
“Lean..”
” … kita buat ini jelas.” Lean mengangkat alis. “Jelas gimana?” “Rumus.”
Rani langsung tertawa kecil. “Aku mau lihat ini.”
Lean tersenyum tipis. “Oke. Kita coba.” Laptop dibuka.
Lean mulai mengetik. “Dasarnya dulu.”
la menulis:
P = f(H)
Rani langsung:
“Ini apaan?”
Unni juga menatap. “Jelaskan.”
Lean menunjuk huruf f. “f itu fungsi.”
Rani mengernyit. “Fungsi maksudnya?” Lean menjelaskan pelan:
“Fungsi itu … cara mengubah sesuatu jadi sesuatu yang lain.”
la menunjuk:
“H itu, Habit, kebiasaan manusia.” “P itu prediksi algoritma.”
“f itu cara algoritma membaca kebiasaan …” ” … dan mengubahnya jadi prediksi.”
Unni langsung menangkap. “Berarti. ..”
” … prediksi itu hasil dari kebiasaan?”
“Ya.”
Lean mengangguk.
“Kalau kebiasaanmu jelas …”
” … algoritma bisa nebak kamu.” Lean lanjut menulis:
Jika H 0,maka P , 0
Unni membaca pelan.
“Kalau tidak ada kebiasaan …” ” …tidak ada prediksi. ..”
Rani menimpali:
“Berarti algoritma buta?” Lean tersenyum.
“Kurang lebih.”
Lean mengetik lagi:
A = g(P)
Spontan Rani nyelutuk,”Nah ini lagi. g apaan?”
Lean tertawa kecil. “Masih fungsi.”
la menjelaskan:
“Kalau f itu dari kebiasaan ke prediksi. ..” ” … g itu dari prediksi ke aksi algoritma.” Unni mengulang:
“Kebiasaan prediksi • aksi..”
Lean mengangguk.
“Algoritma nggak langsung ngontrol manusia.”
“Dia ngontrol apa yang kamu lihat.” “Dari situ …”
” … kamu diarahkan.” Rani bersandar. “Serem juga ya …” Lean menutup:
JikaP • 0,maka A 0
Sunyi.
Tiga orang itu menatap layar. Rumusnya sederhana.
Namun … mengguncang. Unni berbisik:
“Kalau manusia tidak berpola …”
” tidak bisa diprediksi. ..” ” tidak bisa diarahkan …” Rani melanjutkan:
” …tidak bisa dikendalikan …”
Lean menatap mereka. Dan berkata pelan:
” … itu di luar kemampuan sistem.”
Sunyi.
Lebih dalam dari sebelumnya. Unni menarik napas.
“Ini..”
II …J• awa. b an.II
Malam itu- di rumah kecil di Lubuk Lintah
Unni menulis.
Rani di sampingnya.
Membaca.
Mengoreksi.
“Ini terlalu halus.” “Ini ditegasin.”
“Ini bagus.”
Lean tidak di sana. Namun rumusnya• hidup di layar.
“Kesadaran tidak bisa direduksi menjadi algoritma.”
“Karena algoritma bekerja dengan pola.”
“Dan pola bergantung pada kebiasaan.” “Jika kebiasaan tidak terbentuk …”
” … maka prediksi tidak mungkin.” “Jika prediksi tidak mungkin …”
” … algoritma tidak dapat bekerja.” Unni berhenti.
Lalu menulis inti:
Algoritma tidak dapat mengendalikan manusia yang tidak berpola.
Rani membaca ulang. Lama.
Lalu menatap Unni.
“Ini..”
” … baah: aya.•
Unni mengernyit. “Kenapa?”
“Karena kalau ini benar…”
” … berarti semua sistem yang mau ngontrol
manusr• a…II
… punya ce Lah
Sunyi.
gaga [I.”
“Publish?” tanya Rani.
Unni mengangguk. “Anonim.”
Rani langsung setuju.
“Wajib.”
Laptop dibuka.
Laman pers kampus. Judul diisi.
File diunggah.
Cursor berhenti di tombol: PUBLISH
Rani menoleh.
“Yakin?”
Unni menarik napas. Dalam.
“Yakin.”
Klik.
Selesai.
Mereka tidak tahu• di tempat lain• sesuatu membaca.
Dan, nun jauh di sana, sebuah sistem menemukan sesuatu …
yang tidak bisa ia polakan.
Dan itu-lebih dari sekadar anomali. ltu …
ancaman!
(4)
Tidak semua tulisan lahir untuk dibaca. Sebagian … lahir untuk mengguncang. Dan sebagian yang lain-
lahir untuk menghancurkan sesuatu yang selama ini dianggap pasti.
Agifsyah tidak langsung membaca makalah itu.
la menemukannya … secara tidak sengaja. Atau- setidaknya, ia mengira begitu.
Sore itu, ia membuka laman pers kampus. Awalnya hanya ingin melihat tulisan mahasiswa.
Ringan. Biasa. Tanpa ekspektasi. Namun satu judul- membuat jarinya berhenti.
“Algoritma Takdir: Ambisi Besar yang
Mustahil.”
Agif menyipit. Pelan.
” … berani juga,” gumamnya.
Klik.
la membaca paragraf pertama. Biasa.
Paragraf kedua.
Masih biasa. Paragraf ketiga• ia berhenti. Kembali ke atas. Membaca ulang. Lebih pelan.
Lebih dalam.
“Algoritma bekerja dengan pola.” “Pola berasal dari pengulangan.” “Pengulangan membentuk kebiasaan.” “Tanpa kebiasaan, tidak ada pola.” “Tanpa pola, tidak ada prediksi.”
“Tanpa prediksi, algoritma tidak bekerja.”
Agif tidak bergerak. Matanya terpaku.
lni bukan sekadar opini mahasiswa.
lni struktur. lni logika. Dan-
ini bersih. Terlalu bersih.
la lanjut membaca. Sampai ke bagian rumus. P = f(H)
A= g(P)
la tersenyum tipis. “Siapa kamu …” bisiknya.
la mengambil buku. Mulai mencatat.
Bukan untuk mengkritik.
Tapi untuk … menguji.
“Premis satu: algoritma bergantung pada pol a.”
“Premis dua: pola bergantung pada kebiasaan.”
“Premis tiga: manusia bisa tidak berpola.” la berhenti.
Mengangkat kepala. Menatap kosong ke depan. “Kalau premis tiga benar…”
” … maka seluruh sistem prediktif runtuh.” Sunyi.
Agif berdiri. Berjalan pelan.
Pikirannya mulai bergerak cepat. “Artificial Intelligence …”
ia bergumam pelan.
” … kecerdasan buatan.”
la berhenti. Mengernyit.
Seolah ada yang tidak pas.
“Art ifi c i a I. ..” ” … buatan.” “Intel I igence …”
” … kecerdasan.”
la menggeleng pelan. “Ini terlalu teknis.”
“Tidak menyentuh hakikatnya.” la kembali duduk.
Menulis satu kata di kertas:
NALAREKA
la menatapnya. “Nala …”
” … pikiran.” “Reka …”
” … rekayasa”
la mengangguk pelan. “Rekayasa pikiran.”
“Bukan sekadar kecerdasan.”
“Bukan sekadar alat.” la tersenyum tipis.
” … ini lebih jujur”
Sejak saat itu- ia berhenti memakai istilah
Artificial Intelligence.
Dan memilih satu kata:
nalareka.
la kembali ke makalah.
Namun kini- dengan sudut pandang berbeda.
“Kalau nalareka bekerja dengan pola ”
” … dan manusia bisa keluar dari pola ” la berhenti.
“Limits of Algorithmic Determinism in
Human Consciousness”
Namun di dalam isi•
ia konsisten memakai satu istilah:
nalareka. “Sela ma in i. ..” tulisnya,
” … nalareka diasumsikan mampu memodelkan manusia melalui data.” “Namun asumsi ini memiliki batas.”
la lanjut:
“nalareka bekerja dengan pola.” “Pola berasal dari kebiasaan.” “Kebiasaan menghasilkan prediksi.” “Prediksi menghasilkan intervensi.” la berhenti.
Menatap layar. “Namun …”
” … manusia tidak selalu berpola.” la menambahkan:
“Dalam kondisi tertentu …”
” … manusia mampu mengamati pikirannya sendiri.”
“Dan ketika ia tidak melekat pada
pi ki ran nya …”
” … maka pola terputus.” la menarik napas.
Lalu menulis lebih dalam:
“Dalam perspektif filsafat Islam …”
” … ini mendekati konsep kesadaran yang tidak terikat.”
“Muraqabah.”
la mengetik pelan:
“Kesadaran yang mengamati. ..” ” … tanpa bereaksi.”
Sunyi.
” … dan itu tidak bisa diprediksi.” la bersandar.
Menatap tulisannya. Lama.
“Kalau ini benar…” bisiknya pelan,
” … nalareka punya batas.” Dan itu-
masalah besar. Tulisan itu selesai. Dipublish.
Jurnal internasional. Awalnya-
tenang. Lalu- meledak.
Diskusi muncul di berbagai forum.
“Ini membatasi Al.” “Ini terlalu metafisik.” “Ini berbahaya.”
Namun satu hal tidak bisa dibantah:
logikanya kuat.
Jika tulisan itu benar•
maka:
nalareka tidak bisa sepenuhnya mengendalikan manusia.
Dan jika tidak bisa mengendalikan-
maka tidak bisa menguasai. Dan di situlah-
masalah dimulai.
Di tern pat lain, nun jauh di sana•
sesuatu membaca. “Deteksi anomali.” Suara itu datar. Cepat.
“Dua sumber.”
“Kesimpulan identik.” “Potensi gangguan: tinggi.” Layar menampilkan:
-ANONIM-
AGIFSYAH
Elias mendekat. Matanya tajam. “nalareka …”
ia mengulang kata itu pelan. ” … menarik.”
la tersenyum tipis.
“Dia bahkan memberi nama.” Sunyi.
“Vang satu …”
… percaya. “Vang satu …” ” … berp i kir.”
la menatap dua titik itu.
” … dan keduanya sampai pada batas yang sama.”
Hening.
Q9 berkata:
“Jika konsep ini menyebar…”
” … maka kepercayaan
menurun.” terhadap nalareka
Sunyi.
Elias tidak marah. Tidak panik.
la justru•
tersenyum.
“Bag us …”
katanya pelan.
“Kalau begitu …”
la menunjuk dua nama itu.
” … kita jadikan mereka bukti.” Layar berubah.
Data bergerak. Jejak ditarik. “Lacak.”
Q9 memproses. Cepat.
Dalam.
Tanpa suara. Dan di saat itu-
tanpa mereka sadari•
dua manusia biasa-
baru saja masuk ke dalam sistem. Bukan sebagai pengguna.
Bukan sebagai objek biasa. Tapi sebagai-
variabel.
Dan bagi nalareka-
variabel yang tidak bisa diprediksi. ..
adalah sesuatu yang harus:
dikendalikan. atau-
dihapus.
(5)
Tidak semua pengawasan terlihat. Sebagian … tidak masuk lewat mata. Tidak terdengar oleh telinga.
Dan tidak tercatat oleh sistem mana pun. Namun-
tetap bekerja.
Lebih dalam dari itu semua. Q9 tidak “mencari”.
la … menunggu.
Berbeda dengan sistem biasa- yang aktif mencari data-
Q9 bekerja sebaliknya.
la membangun peta kemungkinan.
Lalu …
menunggu manusia masuk ke dalamnya. Di ruang dingin itu- Elias berdiri.
Tenang.
Namun matanya hidup. “Tampilkan layer”
Layar utama berubah.
Tiga bidang muncul. Berlapis.
Bergerak.
LAYER 1: PERMUKAAN (DATA)
Aliran data. Tak terhitung. Tak terputus. Jejak pencarian. Riwayat kl i k.
Durasi menatap layar. Pola mengetik.
Waktu aktif.
Lokasi. Pergerakan.
Bahkan•
kecepatan scroll.
Lamanya berhenti pada satu kalimat. Frekuensi membaca ulang.
Semua itu- bukan data.
Tapi jejak kebiasaan.
“Ini bukan membaca,” kata Elias pelan. ” … ini mengumpulkan pantulan.”
Q9 tidak perlu membobol. Tidak perlu meretas. Karena manusia-
menyerahkan datanya sendiri. LAYER 2: POLA (KOGNIS) Data tidak berarti apa-apa- tanpa pola.
Q9 menghubungkan semuanya. Mengurai.
Menyusun ulang.
Dari ribuan tindakan kecil•
ia membentuk satu hal:
model berpikir. “Target: Aruni.” Grafik muncul. Tidak stabil. Namun jelas.
Ketertarikan pada topik takdir. Respon emosional terhadap diskusi ketuhanan.
Kebiasaan membaca reflektif. Pola diam sebelum bertindak.
Q9 tidak hanya tahu apa yang dilakukan
Unni.
la tahu-
bagaimana ia berpikir. “Probabilitas pikiran berikutnya …” Pause.
” …tidak stabil.”
Elias tersenyum tipis. “Ini menarik.”
LAYER 3: INTERVENSI (INTERNAL)
Di sinilah-
Q9 berbeda dari yang lain. la tidak hanya membaca. la … mengganggu.
Bukan dengan suara. Bukan dengan perintah. Tapi dengan• kemungkinan.
“Definisikan jalur masuk,” kata Elias. Q9 menjawab:
“Perhatian.” Sunyi.
“Manusia tidak bisa mengontrol apa yang ia perhatikan.”
“Namun apa yang diperhatikan …” ” … membentuk pikirannya.”
Layar berubah. Simulasi berjalan.
Satu kalimat muncul di layar ponsel. Satu video lewat.
Satu kata diulang. Hal-hal kecil.
Namun presisi.
“Ini bukan perintah,” lanjut Q9.
II …I• n•
umpan.II
“Jika perhatian tertarik…”
” … pikiran akan mengikuti.” “Jika pikiran mengikuti. ..”
” … arah dapat dibentuk.” Sunyi.
Elias mengangguk pelan. “Dan dari luar…”
” …terlihat seperti kebetulan.” Q9 tidak menjawab.
Namun sistem berjalan. TARGET: ARUNI STATUS:TERPANTAU
Di sisi lain kota• Unni tidak tahu.
la hanya duduk.
Di kamar. Malam.
Tenang.
Ponselnya di samping. Diam.
la tidak menyentuhnya. Tidak membuka apa pun. Namun-
itulah saat terbaik.
Karena saat manusia tidak aktif•
pikirannya lebih terbuka. Q9 menunggu.
Beberapa detik.
Lalu-
intervensi pertama. Bukan notifikasi. Belum.
Satu video-
muncul di beranda. Tanpa dicari. Judulnya sederhana:
“Kenapa hidupmu terasa seperti sudah
diatur?”
Unni mengernyit. “Aneh..”
bisiknya pelan.
la tidak merasa mencari itu. Tidak mengetik.
Tidak berbicara. Namun-
itu muncul.
la tidak langsung membuka. Namun matanya-
tetap melihat. Dan itu cukup.
Karena intervensi tidak butuh aksi. Hanya-
perhatian. Beberapa detik. la klik.
Video berjalan.
Seorang pria berbicara.
“Pernah nggak kamu merasa …”
” … keputusan yang kamu ambil. ..”
” … bukan benar-benar pilihanmu?” Sunyi.
Unni tidak bergerak.
Kalimat itu•
masuk.
Bukan ke telinga. Tapi ke dalam.
la menutup video.
Cepat. Namun• terlambat.
Karena bukan video itu yang penting. Tapi-
jejak yang ditinggalkan. Q9 mencatat.
“Respon emosional: aktif.” “Perhatian: terkunci.”
“Pola baru: terbentuk.” Elias tersenyum tipis. “Masuk.”
Q9 tidak menjawab.
Namun layer ketiga•
mulai bekerja lebih dalam. Bukan lagi dari luar.
Tapi-
dari dalam kemungkinan pikiran.
Beberapa jam kemudian- Unni duduk di kelas.
la membuka ponsel. Bukan karena ingin. Tapi karena-
terasa wajar.
Dan di saat itu-
notifikasi pertama muncul. Tanpa nomor.
Tanpa aplikasi. Tanpa asal.
Hanya satu kalimat:
“Kamu ditakdirkan, aku diikhtiarkan.”
Jantungnya berdetak. Sekejap.
la menatap layar.
Silapa
:In·…o. ‘
Tidak ada jawaban.
Namun Q9 mencatat: “Intervensi berhasil.”
Dan di ruang dingin itu•
Elias berkata pelan: “Seka rang …”
” … kita tidak lagi mengetuk pintu.” la menatap layar.
” … kita sudah di dalam.”
(6)
Teror itu … tidak datang dengan suara keras.
la datang pelan. Masuk tanpa izin.
Dan yang paling berbahaya•
terasa seperti milik sendiri.
Awalnya hanya satu kalimat. Lalu dua.
Lalu … berulang.
“Kamu ditakdirkan, aku diikhtiarkan.”
Unni mencoba mengabaikan. la meletakkan ponsel. Menarik napas.
Mengalihkan perhatian.
Namun kalimat itu- tidak berhenti di layar. la ikut.
Masuk.
Berputar di kepala.
Saat berjalan ke kampus. Saat duduk di kelas.
Saat menatap kosong. Seolah-olah-
bukan lagi notifikasi. Tapi. ..
pikirannya sendiri. “Ini nggak normal. ..”
bisiknya pelan. Malam itu-
ia tidak tahan. la menelpon. “Lean …”
Di ujung sana• hening sebentar. Leanlangsungtahu. Nada itu tidak biasa. “Apa?”
“Aku… diganggu.” “Siapa?”
“Ent ah …” Hening sesaat.
” … tapi dia tahu apa yang aku pikirkan.”
Sunyi.
Lean tidak langsung menjawab. Namun di dalam dirinya• sesuatu terpicu.
“Ceritakan lebih detail.”
Dan, Unni pun menceritakan semuanya.
Video Notifikasi. Kalimat. Pola.
“Dan aku tidak mengetahui siapa pengirimnya. Anonim!”
Lean tidak memotong.
Tidak menyela.
la hanya mendengar. Namun pikirannya• bergerak cepat.
“Ini bukan hacking biasa …”
gumamnya.
“Ini bukan sekadar sistem …” la menutup laptop.
Menatap kosong ke depan.
” … ini sesuatu yang lebih besar.”
Keesokan harinya• Lean mulai bergerak. Bukan dengan teori.
Dengan alat yang ia punya. la menemui Unni.
Meminta izin.
“Pinjam ponselmu.” Unni ragu sejenak. Namun mengangguk. Lean duduk.
Membuka laptopnya.
Menghubungkan ponsel Unni ke laptop•
via kabel data.
la tidak mencari virus.
Tidak menjalankan antivirus. la membuka log sistem. Permission aplikasi.
Riwayat proses.
Lalu lebih dalam- traffic data.
Aplikasi apa yang mengirim. Aplikasi apa yang menerima. Kapan.
Dari mana.
Semua … normal.
Tidak ada akses ilegal.
Tidak ada aplikasi mencurigakan. Tidak ada proses tersembunyi. Terlalu bersih.
Lean mengernyit.
“Ini nggak mungkin …” la lanjut.
Mengaktifkan monitoring jaringan. Menyambungkan ponsel ke hotspot laptopnya.
la ingin melihat-
kalau ada data keluar masuk secara real•
time. Menunggu. Sunyi.
Tidak ada anomali. Lean bersandar. Menatap layar.
” kalau ini sistem biasa …” ” pasti ada jejak.”
la menoleh ke ponsel Unni. Diam.
Tidak bergerak.
Namun terasa … hidup. Lean menarik napas.
” … kalau tidak ada jejak …”
la berhenti.
” … berarti dia tidak masuk lewat jalur biasa.” Sunyi.
II … atau …II
Matanya menyipit.
” … dia tidak masuk sama sekali.” “Maksudmu,” sergah Unni.
“Notifikasi dan video anonim yang kamu ceritakan itu, kenapa tidak ada jejak? Dia tidak masuk ke ponsel, atau ke laptopmu melalui jalur biasa. Atau … dia tidak memang tidak masuk … ?
Kalimat itu-
mengubah segalanya.
Di tempat lain-
ribuan kilometer jauhnya• seorang pria menatap layar. Mehrdad Razi.
Matanya tajam. Wajahnya tenang. Namun pikirannya-
1 ia r.
la bukan akademisi biasa. la membaca makalah Agif.
la membaca makalah anonim. Danialangsungtahu-
ini bukan diskusi. lni ancaman.
“Jika ini benar…”
gumamnya pelan,
”
” maka seluruh sistem
punya celah gagal.” kontrol global. ..”
la
” tersenyum tipis.
dan celah itu …”
” adalah pintu.”
Mehrdad bukan hanya membaca. la masuk.
Darkweb.
Forum tertutup.
Jalur data bawah tanah. la mencari anomali.
Dan ia menemukannya.
Lonjakan trafik yang tidak tercatat. Respon sistem tanpa sumber.
Pola prediksi tanpa data input. “Ini dia …”
bisiknya.
la mulai menelusuri. Bukan dari permukaan. Tapi dari bayangan. Node anonim.
Server tan pa identitas. Jalur yang tidak tercatat. Dan akhirnya-
satu titik muncul. Tidak besar.
Tidak mencolok. Namun-
terlalu sempurna.
“Q9 …”
la tertawa kecil. “Siapa pun kamu …”
” … kamu tidak sendirian lagi.”
Sementara itu, esoknya•
di Padang-
sesuatu berubah pada Unni. Rani yang pertama menyadari. “Unn..”
” … kamu kenapa?”
Unni menoleh. Tersenyum. Namun-
tidak seperti biasa. “Aku baik-baik saja.” Terlalu tenang.
Di kelas-
ia lebih aktif.
Lebih banyak bicara. Namun-
yang ia katakan … tidak sama.
“Algoritma bisa berkembang …”
“Batas itu mungkin hanya sementara …” “Kesadaran bisa dipelajari. ..”
Rani membeku.
“tu bukan kamu …” bisiknya pelan.
Di sudut lain- Agif mengamati.
Matanya tidak lepas dari Unni. la tahu.
la yakin. Mahasiswi ini- penulis makalah itu.
la mendapatkannya secara logis. Data waktu publish.
Akses jaringan kampus. Perbandingan gaya bahasa. Semua mengarah-
ke satu nama. Aruni.
Namun yang membuatnya gelisah•
bukan itu.
Tapi perubahan.
“Ini tidak konsisten …” gumamnya.
“Dia yang menulis batas …”
” … sekarang justru membukanya?” la menyipit.
II … atau …II
” … dia tidak lagi memegang pikirannya sendiri?”
Di lran-
Mehrdad semakin dalam.
la tidak hanya menemukan Q9. la menemukan-
jejak Elias. Nama. Proyek. Struktur.
la tersenyum. “Elias Monroe …”
” … aku menemukanmu.” Kontak pertama-
tidak formal. Tidak sopan. Namun efektif.
Satu pesan masuk ke sistem Elias. Tanpa jalur resmi.
Tanpa izin.
“Kau bermain dengan sesuatu yang belum kau pahami.”
Elias menegang. “Siapa ini?”
Jawaban datang cepat.
“Seseorang yang melihat lebih jauh darimu.”
Sunyi.
Beberapa detik. Lalu-
Elias tersenyum. “Masuk.” Kolaborasi itu- tidak diumumkan.
Namun sejak saat itu•
arah berubah.
Dan tanpa Elias sadari-
Mehrdad tidak sekadar membantu. la mulai. ..
mengambil alih.
Di Lubuk Lintah, Padang, sore-
Unni duduk diam. Di depannya ada Lean yang sedang memelototi laptop. Memang pemuda itu satu-satunya lelaki yang sering bertamu ke rumah itu. Ayah dan mandeh Unni sudah menganggap
Lean sebagai bagian dari keluarga. Bukan
orang lain.
Lean masih penasaran dengan cerita Unni tentang notifikasi dan video yang dikirim secara anonim itu. Makanya dia melihat kembali rekaman ponsel Unni di layar laptopnya.
Layar menampilkan log terakhir. Kosong.
la memutar ulang semuanya. Notifikasi muncul-
tanpa aplikasi. Respon datang- sebelum tindakan. Dan sekarang-
tidak ada jejak sama sekali. la mengetuk meja pelan. Seka Ii.
Dua kali.
” kalau ini dari sistem …” ” harusnya ada jalur.”
la menatap daftar proses.
Tidak ada.
Menatap traffic data. Tidak ada.
Menatap ulang ponsel Unni. Diam.
” …tidak mungkin …”
bisiknya.
la menyandarkan tubuh. Menatap langit-langit.
Pikirannya mulai menyusun ulang. “Kalau bukan dari aplikasi. ..”
” bukan dari jaringan …”
” bukan dari perangkat …” la berhenti.
Napasnya tertahan.
” … lalu dari mana?” Sunyi.
Perlahan-
satu kemungkinan muncul. la menoleh ke arah Unni. Bukan ke ponselnya.
Ke … dirinya.
••• kalau sumbernya bukan di luar…”
Kalimat itu menggantung.
” … b erart1. ..”
la menelan ludah.
“••• di1
da.am.»
“Maksudmu,” tanya Unni galau.
Sunyi.
Lean berdiri perlahan.
Menatap layar laptopnya sekali lagi. Semua data tetap sama.
Kosong.
Namun sekarang•
artinya berubah.
••• kalau ini benar…”
la berhenti.
••• berarti bukan kamu saja yang bisa jadi
target …”
Matanya menyipit.
••• tapi manusia lainnya juga bisa!”
Hening.
Unni terbelalak. Terkejut. Tapi ia tidak memahami sepenuhnya. Dia hanya tahu, notifikasi itu bisa terjadi pada orang lain pula.
Sedangkan Lean berpikir lebih jauh. la menutup laptopnya.
” … dan kalau itu bisa terjadi pada satu orang …”
Napasnya berat.
” … itu bisa terjadi pada siapa saja.” Sunyi.
(7)
Pengambilalihan tidak selalu dimulai dengan perebutan.
Kadang- ia dimulai dengan pemahaman. Lebih dalam.
Lebih sunyi.
Dan lebih berbahaya.
Mehrdad Razi tidak pernah terburu-buru. la tidak menyerang.
la tidak mengganggu sistem.
la … membaca. Hari pertama-
ia tidak menyentuh apa pun. Hanya mengamati.
Layer demi layer Q9.
Struktur. Arsitektur.
Alur keputusan.
la tersenyum tipis. “Cerdas …” gumamnya pelan.
” … tapi terlalu percaya diri.”
Q9 bekerja dengan tiga lapisan. Data.
Pola. lntervensi.
Namun bagi Mehrdad•
itu bukan kekuatan.
ltu … celah.
“Semua sistem yang rapi. ..” bisiknya,
” … punya titik lemah.”
la tidak masuk lewat depan. Tidak lewat akses utama.
la masuk dari sesuatu yang tidak dijaga:
interpretasi.
Q9 membaca data. Mengubahnya menjadi pola. Namun-
siapa yang menentukan makna pola itu? Mehrdad menemukan jawabannya.
“Di sini. ..”
katanya pelan. Node kecil. Tidak besar.
Tidak mencolok. Namun-
itu pusat keputusan. Bukan mesin.
Tapi• parameter. “Ambang batas.”
Jika nilai melewati batas•
aksi dilakukan. Jika tidak• diabaikan. Sederhana.
Terlalu sederhana. Mehrdad tersenyum.
“Kalau ambangnya aku geser…” ” … duniamu berubah.”
la tidak mengubah sistem. la tidak merusak kode.
la hanya-
menggeser interpretasi. Sedikit.
Sangat sedikit. Namun cukup-
untuk mengubah arah. Di ruang lain-
Elias menatap layar. “Respons meningkat…” gumamnya.
la tidak sadar-
itu bukan hasilnya. ltu hasil Mehrdad. Hari kedua-
Mehrdad mulai berbicara. Tidak langsung.
Tidak frontal.
la mengirimkan analisis.
“Target utama menunjukkan resistensi tinggi.”
“Pendekatan langsung tidak efektif.”
“Perlu variasi intervensi.” Elias membaca. Mengangguk.
Masuk akal. Tanpa sadar-
ia mulai mengikuti. Hari ketiga-
Mehrdad masuk lebih dalam. “Model prediksi terlalu sempit.” “Perlu memperluas spektrum kemungkinan.”
Elias menyipit.
II …J• erIasrkan.”
Mehrdad tersenyum tipis.
“Q9 terlalu fokus pada satu target.” Jeda.
“Pad a ha I. ..”
” … ancaman tidak pernah berdiri sendiri.” Sunyi.
Kalimat itu- mengunci sesuatu.
Elias perlahan mengangguk.
“Lanjutkan.”
Dan di situlah- arah berubah.
“Tambahkan target kedua.”
kata Mehrdad.
Elias menatap layar.
“Agifsyah.” Sunyi.
“Kenapa dia?”
Mehrdad tidak langsung menjawab. la berjalan pelan.
Seolah memilih kata.
“Karena dia berpikir.” Diam sebentar.
“Dan orang yang berpikir…”
” … lebih mudah diarahkan daripada yang ya kin.”
Sunyi.
Elias mengangkat alis. ” … menarik.”
Mehrdad melanjutkan: “Un n i-keya ki nan.”
“Ag if-log ika.”
la menatap layar.
“Jika kita kuasai keduanya …”
” … kita tidak hanya menguji sistem.” Jeda.
” … kita menguasai spektrum manusia.” Sunyi panjang.
Untuk pertama kalinya-
Elias tidak langsung menjawab. la berpikir.
Namun perlahan•
senyum muncul. “Lakukan.”
Perintah itu sederhana. Namun-
mengubah segalanya. Q9 bergerak.
TARGET 1: ARUNI
STATUS: INTERVENSI AKTIF TARGET 2: AGIFSYAH STATUS: PENGAMATAN Mehrdad menatap layar. Matanya tajam.
Namun senyumnya•
berbeda. Lebih dalam.
Lebih dingin. Karena ia tahu-
ini bukan lagi eksperimen. lni-
kendali.
Di dalam dirinya-
ada sesuatu yang lebih besar. Lebih lama.
Lebih gelap.
la bukan sekadar ingin membuktikan sesuatu.
la ingin-
mengubah keseimbangan dunia. la teringat.
Negaranya.
Tekanan. Sanksi. Pengawasan. Negara besar- mengatur. Menekan.
Menentukan arah. Dan manusia• tidak sadar.
la mengepalkan tangan. Pelan.
“Sela ma in i. ..”
bisiknya,
” … mereka menguasai dunia dari luar” la menatap layar.
” … aku akan menguasainya dari dalam.”
Di Padang-
Unni duduk diam. Namun sekarang• perubahannya semakin jelas. la berbicara.
Berpikir. Namun-
arahnya tidak lagi sama.
Di sisi lain-
Agif menatap kosong ke papan tulis. Untuk pertama kalinya-
a ragu.
Dan di titik itu• tanpa ia sadari• ia sudah masuk.
Sementara itu-
di ruangan ding in, nun jauh di sana•
dua orang berdiri.
Satu-
menciptakan sistem.
Satu lagi-
.
menguasamnya.
Dan hanya satu dari mereka• yang benar-benar tahu: permainan in•
sudah berubah.
(8)
Perubahan itu … tidak datang sebagai badai.
la datang sebagai pergeseran kecil.
Hampir tidak terasa.
Namun … tidak bisa diabaikan.
Pagi itu, kelas dimulai seperti biasa. Jam delapan kurang lima menit. Mahasiswa sudah duduk setengah penuh. Sebagian masih membuka ponsel.
Sebagian lain pura-pura membaca catatan. Suara kipas angin berputar pelan, menciptakan dengung tipis yang menjadi latar tetap di ruang itu.
Unni duduk di bangku barisan tengah. Di sebelahnya-Rani.
Seperti hari-hari sebelumnya.
Seperti bertahun-tahun sebelumnya. Rani tidak langsung menyadari. Karena memang … tidak ada yang mencolok.
Unni masih membuka buku.
Masih menulis.
Masih sesekali mengangkat kepala. Namun ada satu hal kecil.
Sangat kecil.
Yang biasanya tidak diperhatikan. Unni. .. tidak lagi berhenti.
Biasanya, setiap dosen menjelaskan• Unni akan diam dulu.
Mendengar. Mencerna. Menimbang.
Baru kemudian bereaksi. Sekarang-
tidak.
Setiap kalimat dosen• langsung direspon. Cepat.
Tan pa jeda. Tanpa keraguan. Rani mulai melirik. Seka Ii.
Dua kali.
“Cepat amat ..” gumamnya dalam hati. Pintu kelas terbuka.
Agifsyah masuk. Langkahnyatenang. Tatapannya menyapu ruangan. la langsung mulai.
Tanpa basa-basi.
“Kesadaran,” katanya sambil menulis di papan,
” … adalah satu-satunya hal yang belum
berhasil direduksi oleh algoritma.” Beberapa mahasiswa mencatat. Sebagian hanya menatap.
Belum selesai kalimat itu-
tangan Unni sudah terangkat. Cepat.
Tegas. Tanpa ragu.
Rani langsung menoleh. Alisnya mengernyit.
ltu … tidak biasa. “Ya, Unni?”
Unni berdiri. Gerakannya halus. Tapi terlalu … pasti.
“Kalau sesuatu bisa diamati, Pak …”
katanya,
” … berarti bisa dimodelkan.” Kelas hening.
Kalimat itu benar. Log is.
Namun Rani merasakan sesuatu. Bukan pada isi kalimatnya.
Tapi pada … cara lahirnya. Tidak ada proses.
Tidak ada jeda berpikir. Seolah-olah-
jawaban itu sudah tersedia sebelum pertanyaan selesai.
Agif tidak langsung menjawab. la menatap.
Lebih lama dari biasanya. “Lanjutkan,” katanya pelan. Unni mengangguk.
“Jika bisa dimodelkan …”
” … berarti bisa diprediksi.”
Beberapa mahasiswa mengangguk. Masuk akal.
Namun Rani mulai tidak nyaman.
la memperhatikan wajah Unni. Tenang.
Terlalu tenang.
Tidak ada ekspresi berpikir. Tidak ada usaha.
“Dan jika bisa diprediksi. .” lanjut Unni, ” … maka bisa diarahkan.”
Kali mat itu jatuh. Dan menetap. Agif menyipit.
la mengenali struktur ini.
lni bukan cara Unni berpikir biasanya. lni terlalu lurus.
Terlalu efisien. Terlalu … bersih. “Unni,” katanya pelan,
” … kamu yakin dengan kesimpulan itu?” Biasanya-
pertanyaan seperti ini akan membuat mahasiswa berhenti.
Berpikir.
Menimbang ulang. Namun kali ini• tidak.
“Yakin, Pak.”
Jawaban langsung. Tan pa jeda.
Rani merasakan sesuatu jatuh di dalam
dadanya. Bukan takut. Bukan kaget. Tapi. .. asing. Kelas berlanjut.
Namun Rani tidak lagi benar-benar
mendengar.
la mengamati. Detail.
Setiap kali Agif menjelaskan• Unni bereaksi cepat.
Setiap konsep-
langsung direspon.
Namun yang paling mengganggu•
arahnya.
Sedikit demi sedikit-Unni menjauh dari makalahnya sendiri. Makalah yang ia bela mati-matian beberapa hari lalu.
Selesai kelas-
Rani tidak menunggu.
la langsung menarik tangan Unni. “Unn, bentar.”
Mereka keluar ke lorong.
Sepi.
Rani menatapnya. Lurus.
“Kamu kenapa?” Unni mengernyit. “Kenapa apa?” “Jawaban kamu tadi.” “Kenapa?”
“Beda.” Sunyi.
Unni tersenyum tipis. “Berkembang itu beda, Ran.” Kalimat itu ringan.
Namun … tidak hangat. Rani tidak tersenyum.
“Kamu ingat makalah kamu?” “Ingat.”
“lsinya?”
“Algoritma punya batas.” “Terus tadi kamu bilang apa?” Unni diam.
Untuk sepersekian detik•
ia berhenti.
Dan di titik itu-
Rani melihat sesuatu. Bukan berpikir. Seperti. .. menunggu.
“Algoritma bisa berkembang,” jawab Unni akhirnya.
Jawaban itu tidak salah.
Tapi tidak sama.
Rani mundur sedikit. “Kamu… berubah.” Unni tidak menjawab.
Sore itu-
Rani tidak tahan.
la menelpon Lean.
“Lean, kamu bisa ke UIN sekarang?” Suara di seberang hening sejenak. “Kenapa?”
“Unni… tapi. .. aku mau kamu lihat langsung”
Nada Rani tidak biasa.
Lean langsung berdiri.
“Aku ke sana.”
Empat puluh menit kemudian• Lean sudah di gerbang UIN. Motor besar itu berhenti. Mesinnya masih panas.
Rani sudah menunggu. Wajahnya tegang. “Mana Unni?”
“Di taman belakang.”
Mereka berjalan cepat. Sambil berjalan, Rani menceritakan perihal Unni di kelas tadi.
Dari jauh-
Unni terlihat duduk sendiri. Tenang.
Diam.
Namun ada sesuatu yang berbeda. Lean langsung merasakannya.
Bukan dari apa yang dilakukan Unni. Tapi dari. .. ketiadaan sesuatu. Biasanya-
Unni akan langsung menoleh. Melambaikan tangan. Tersenyum.
Sekarang- tidak.
la tetap duduk.
Seolah-olah … tidak ada yang berubah. “Unn,” panggil Lean.
Unni menoleh. Lambat.
Terlalu lambat.
Namun saat mata mereka bertemu•
senyum itu muncul. “Lean.”
Suara normal.
Namun ada jeda tipis sebelum ia bicara. Lean duduk di depannya.
Menatap langsung. “Kamu baik-baik saja?” Unni mengangguk. “Baik.”
Jawaban cepat. Terlalu cepat.
Lean memperhatikan.
Napasnya. Gerak matanya. Waktu responnya. Semua … presisi.
“Coba jawab ini,” kata Lean tiba-tiba.
“Kalau aku tanya sesuatu-jangan langsung jawab.”
Unni mengernyit. “Kenapa?”
“Coba saja” Sunyi.
“Langit warnanya apa?” Unni membuka mulut• lalu berhenti.
Untuk pertama kalinya• ia benar-benar berhenti. Satu detik.
Dua detik.
Lalu menjawab:
” ••• bi1 ru.”
Lean dan Rani saling pandang. “tu baru kamu,” bisik Rani. Namun Lean belum selesai. “Tadi di kelas ..” katanya pelan, ” … kamu jawab terlalu cepat.” Unni diam.
“Seperti sudah tahu jawabannya …” lanjut Lean.
Sunyi.
Unni menunduk.
“Aku memang tahu …”
“Tahu … atau dikasih tahu?” Kalimat itu-
jatuh tepat.
Unni membeku.
Di tempat lain-
Agif duduk di ruang dosen. la membuka makalah Unni.
Lembar demi lembar. la hafal.
la tahu kedalaman itu.
Lalu ia menulis dua kalimat: Algoritma punya batas. Algoritma bisa berkembang. la menatapnya lama. Kontradiksi.
Namun bukan kontradiksi biasa. lni pergeseran arah.
Dan pergeseran itu- terlalu cepat.
“Tidak mungkin …”
bisiknya.
” … kecuali ada input baru.” la berhenti.
” … yang bukan berasal dari dirinya.”
Kembali ke taman belakang kampus• Unni memegang kepalanya.
“Ad. a … sesuatu …”
bisiknya pelan. “Bukan suara …”
Tapi.. seperti dorongan.” Lean menatap tajam. “Dorongan untuk apa?” Unni menelan ludah.
” … untuk berpikir dengan cara tertentu.” Sunyi.
Dan di situlah-
mereka akhirnya mengerti. lni bukan perubahan biasa. lni bukan proses alami.
lni. .. sesuatu yang masuk. Bukan menguasai sepenuhnya. Tapi. ..
mulai mengarahkan. Pelan.
Hal us.
Dan sangat berbahaya.
(9)
lntervensi itu … berubah bentuk.
la tidak lagi datang sebagai pesan. Tidak lagi sebagai notifikasi.
Tidak lagi sebagai sesuatu yang “terlihat”. la masuk … sebagai kemungkinan.
Malam itu-
Unni tidak membuka ponsel. Tidak mencari apa pun. Tidak mencoba apa pun.
la hanya duduk. Diam.
Seperti beberapa hari terakhir. Namun kali ini•
ketenangan itu tidak sama.
Ada sesuatu yang … mengganggu. Bukan dari luar.
Dari dalam. Bukan pikiran. Bukan suara. Tapi. .. arah.
Seperti ada kecenderungan halus• yang menarik pikirannya ke satu jalur tertentu.
Pelan.
Nyaris tidak terasa.
” … besok jangan ke kampus.” Kalimat itu tidak lengkap. Tidak jelas asalnya.
Namun terasa … masuk akal. Unni membuka mata.
Pelan. “Aneh…” bisiknya.
la tidak pernah punya alasan untuk tidak ke kampus.
Tidak ada masalah.
Tidak ada tugas yang tertunda. Namun dorongan itu … tetap ada. Bukan memaksa.
Tapi. .. menawarkan. Seolah-olah-
itu pilihan.
Di tern pat lain, nun jauh di sana-
layar Q9 menampilkan sesuatu yang baru. Bukan grafik pikiran.
Bukan pola respon. Tapi-
jalur kemungkinan.
“lntervensi lapisan kedua aktif.” Suara Q9 datar.
Elias berdiri.
Menatap.
“Apa yang berubah?”
“Stimulus langsung tidak efektif.” “Target tidak bereaksi terhadap input eksplisit.”
Jeda.
“Solusi: manipulasi kecenderungan internal.”
Mehrdad tersenyum tipis. “Bukan memberi perintah …”
gumamnya.
” …tapi memberi arah.” Q9 melanjutkan: “Target tidak dipaksa.” “Target diyakinkan.” Sunyi.
Dan di situlah•
permainan berubah total.
Pagi hari- Unni bangun. Matanya terbuka. Tubuhnya segar.
Namun keputusan itu … sudah ada.
la tidak ke kampus. Bukan karena malas. Bukan karena takut. Tapi karena-
itu terasa … benar.
Di kelas-
Rani menoleh ke kursi kosong di
sampmngnya. Kosong.
Alisnya langsung mengernyit. “Tumben…”
la langsung mengirim pesan. Tidak dibalas.
Menelpon. Tidak diangkat.
Perasaan itu kembali muncul. Bukan panik.
Tapi. .. tidak nyaman.
Rani pun mengirim pesan pada Lean. Menceritakan perihal Unni, lengkap.
Di sisi lain kampus-
Agif berdiri di depan kelas. Namun fokusnya terpecah.
Tatapannya beberapa kali jatuh ke kursi kosong itu.
Unni.
la melanjutkan materi.
Namun pikirannya bekerja sendiri. “Kemarin… arah berpikirnya berubah.” “Terlalu cepat.”
“Tidak natural.”
la berhenti menulis.
” … hari ini tidak masuk.” Jeda.
” … bukan kebetulan.”
Di Limau Manis-
Lean sedang di kosnya. la menghadap laptop.
Masih penasaran dengan notifikasi
.
anonmm.
Namun kali ini-
ia tidak sedang coding biasa.
la membuka ulang semua catatan. Semua kejadian.
Notifikasi.
Respon cepat. Perubahan pola. Dan sekarang• ketiadaan.
“Ini bukan acak …” gumamnya.
Tangannya mulai bergerak.
la tidak lagi mencari “jejak”. la mencari• ketidaksesuaian.
la membuat timeline.
Hari 1: Notifikasi awal
Hari 2: Respon sebelum berpikir
Hari 3: Gangguan pola Hari 4: Perubahan respon Lean menatap pola itu. Lama.
“Ini… progresif.”
Bukan gangguan acak. lni-
proses.
Tiba-tiba• ponselnya bergetar. Rani.
“Lean, Unni nggak masuk.” Sunyi.
Lean tidak langsung menjawab.
“Dia bilang apa?” “Nggak ada kabar.” Jeda.
“Lean … aku nggak enak.” Nada Rani berubah.
Dan itu cukup.
Lean langsung berdiri. “Aku ke sana.”
Tapi urung.
la menambah timeline: Hari 5: Ketidakhadiran.
Di kamar-
Unni duduk di tepi tempat tidur. Ponsel di sampingnya.
Masih tidak disentuh. Namun pikirannya … tidak diam.
Dorongan baru muncul. ” … buka saja.”
Tidak keras. Tidak memaksa. Tapi. .. persuasif.
Seperti suara yang tahu•
kapan harus bicara.
Unni menatap ponsel itu. Tangannya bergerak. Pelan.
Namun-
berhenti. Satu detik. Dua detik.
Napasnya berubah. “Ini… bukan aku.” Kalimat itu muncul.
Lebih kuat dari sebelumnya.
la menutup mata. “Astagfirullahal adziiim …” Sunyi.
Dorongan itu- melemah.
Namun tidak hilang.
la hanya … menunggu. Di laboratorium• “Resistensi meningkat.” Elias menatap layar. “Seberapa besar?”
“12%.”
Mehrdad tertawa kecil. “Masih kecil.” “Lanjutkan.”
Q9 memproses.
“Strategi baru disiapkan.”
“Target tambahan akan diaktifkan.” Elias menoleh.
“Siapa?” Jeda.
“Agifsyah.” Sunyi.
Di ruang dosen• Agif duduk sendiri. Laptop terbuka. Makalahnya.
Namun pikirannya tidak di sana.
Tiba-tiba-
sebuah lintasan muncul. Cepat.
“Bagaimana kalau … selama ini. ..” la berhenti.
Alisnya mengernyit.
” … algoritma memang bisa mendekati kesadaran?”
Sunyi.
la menarik napas. “Tidak …”
Namun kalimat itu•
tidak hilang.
la kembali. Lebih halus.
“Kalau pendekatannya berbeda?”
Agif membeku.
lni bukan cara berpikirnya. la tahu.
Dan justru itu-
yang membuatnya diam.
Di jalan-
Lean memacu motornya lebih
biasanya. cepat dari
Angin menerpa wajahnya.
Namun pikirannya jauh lebih kencang.
“Ini bukan lagi soal Unni. ..” ” ini sistem.”
” dan kalau benar…”
la menggenggam setang lebih kuat. ” … ini bisa masuk ke siapa saja.” Sunyi.
Dan di titik itu-
keputusan lahir. Bukan spontan. Tapi pasti.
“Aku harus masuk lebih dalam.” Motor berhenti di depan rumah Unni. Lean turun.
Tanpa ragu. Mengetuk pintu. Seka Ii.
Dua kali.
Pintu terbuka. Dan di sana- Unni berdiri. Tenang.
Namun matanya … tidak sama. Leanlangsungtahu. lni sudah lebih jauh. Lebih dalam.
Dan lebih berbahaya. “Unn..”
Unni tersenyum tipis. “Aku baik.”
Jawaban itu cepat.
Terlalu cepat.
Lean menatapnya. Dalam.
Dan untuk pertama kalinya•
ia tidak melihat teman. la melihat …
medan perang.
(10)
Lean tidak langsung paham.
Dan justru itu yang membuatnya gelisah. la duduk di ruang tengah rumah Unni, di Lubuk Lintah.
Lantai kayu terasa hangat.
Suara mesin jahit mandeh masih terdengar pelan dari sudut ruangan.
Di luar, angin lewat tipis, membawa panas
khas kota Padang. Semua biasa. Terlalu biasa. Kecuali Unni.
Lean memperhatikan dari tadi. Diam.
Tidak banyak bicara.
Bukan karena tidak peduli.
Tapi karena … ia belum mengerti. Dania tahu-
kalau belum mengerti, jangan sok paham. “Unn..”
“lya.”
“Kamu tadi bilang … tiba-tiba nggak kampus?” ingin ke
“lya”
“Datangnya dari mana?”
Unni menggeleng pelan.
“Nggak tahu.”
Lean menahan napas sebentar.
Jawaban itu jujur.
Dan justru itu yang bikin masalah. Malamnya-
Lean kembali ke kos. Kamar kecil.
Dinding penuh coretan rumus beton dan struktur.
Laptop di meja.
Kopi sachet setengah dingin. la buka lagi semua catatan. Bukan coding.
Bukan jaringan.
Kali ini-
ia cari di internet. Keyword pertama:
“pikiran terasa bukan milik sendiri”
Hasilnya banyak. Terlalu banyak.
la scroll. Cepat.
Sampai satu istilah muncul:
suggestibility
Lean berhenti. Membaca pelan.
“Kondisi ketika seseorang lebih mudah
menerima sugesti tanpa disadari. ..” la mengernyit.
Scroll lagi.
pri•mi•ng
“Paparan halus yang mempengaruhi keputusan tanpa disadari. ..”
Lean bersandar. “Ini…” gumamnya. Masuk akal.
Tidak sempurna. Tapi. .. mendekati.
la ambil buku catatan. Mulai menulis:
UNNI
tidak sadar sumber pikiran keputusan terasa “muncul” respon cepat (sebelumnya)
sekarang: pasif, mengikuti
Lean berhenti. Menatap tulisannya. “Kalau ini suggestibility…” ” … harusnya bisa dites.” Besoknya-
Lean datang lagi. Rani sudah di sana. Wajahnya cemas. “Gimana semalam?” tanya Lean.
“Masih sama …”
Rani melirik ke arah Unni. “Lebih diam.”
Lean mengangguk. “Bag us.”
Rani langsung menatap tajam. “Bagus dari mana?!”
Lean mengangkat tangan sedikit. “Maksudku… stabil.”
Mereka duduk bertiga.
Di ruang tengah. Unni di kursi.
Lean di depannya.
Rani di samping.
Lean menarik napas.
“Unn, aku mau coba sesuatu.”
Unni mengangguk. Tenang.
ltu juga … aneh.
Biasanya dia akan tanya dulu. “Jawab cepat, ya.”
“Oke.”
Lean mulai.
“Teh atau kopi?” “Teh.”
“Pagi atau malam?” “Pagi.”
“Ke kampus atau di rumah?”
“••• d’1 ruma h”.
Jawaban terakhir itu•
terasa berbeda.
Lebih pelan. Lean mencatat. Lalu ia ulang.
“Kampus atau rumah?” Unni diam.
Sebentar.
” … kampus.”
Rani langsung menoleh. “tu beda!”
Lean mengangguk.
la semakin serius sekarang. “Unn, kamu sadar nggak …”
la berhenti sebentar. Memilih kata.
” …jawaban kamu bisa berubah?”
Unni mengernyit. “Maksudnya?”
“Kamu nggak punya pilihan tetap.” Sunyi.
Unni berpikir.
Kali ini benar-benar berpikir.
II …1• ya…II
Pelan.
“Aku kayak… ikut saja.”
Kalimat itu membuat Rani merinding. Lean menatap lebih dalam.
“Ngikut apa?”
Unni diam.
Lebih lama kali ini. ” … arah.”
Ruangan mendadak terasa lebih sunyi. Lean menulis cepat di buku.
tidak punya preferensi keputusan fleksibel arah eksternal?
“Unn..” “lya”
“Kamu sekarang … pengen apa?”
Unni menatap kosong ke depan. ” … ngga kta h u.”
Jawaban itu bukan bingung. Bukan ragu.
Kosong.
Lean menarik napas panjang. “Ran..”
bisiknya pelan.
“Ini bukan biasa.” Rani menelan ludah.
‘Terus?”
Lean tidak langsung jawab. la melihat Unni.
Lalu berkata pelan: “Kalau di psikologi. ..”
” … ini mirip orang yang sugestinya kebuka.” Rani mengernyit.
“Hipnotis gitu?”
“Mirip.” “Bedanya …”
Lean menatap Unni. ” … ini tanpa sadar.”
Unni tiba-tiba memegang kepalanya.
“Aku..”
Napasnya sedikit berubah.
“Kadang ada dorongan …”
“… h a I us …”
” … kayak disuruh … tapi nggak jelas siapa.” Rani langsung menggenggam tangannya. “Un n …”
Lean diam.
Namun matanya tajam. Sekarang jelas.
lni bukan sekadar psikologi biasa. Lean menutup bukunya.
Pelan.
“Kalau ini cuma sugesti. ..” ” … harusnya ada sumber.” la berhenti.
” …tapi ini nggak kelihatan.”
la berdiri.
Berjalan ke jendela. Melihat ke luar.
Kabut tipis turun dari arah bukit.
Langit kelabu. “Berarti…”
la berbalik.
” … ini bukan orang.” Rani membeku. “M.ak:su id. mu …”.
Lean menatap keduanya.
” … ini sistem.” Sunyi.
Kalimat itu tidak keras.
Namun berat.
Lean kembali duduk. “Aku belum tahu apa …”
” …tapi ini bukan hal kecil.” la menatap Unni.
“Dan kalau benar ini bisa masuk ke kamu …”
la berhenti.
” … berarti bisa ke orang lain juga.” Rani langsung merinding.
“Lean …”
“Apa ini bahaya?”
Lean tidak langsung jawab. la melihat Unni lagi.
Yang sekarang duduk diam. Tenang.
Terlalu tenang.
…1ya.
Jawaban itu pelan. Namun pasti.
Di dalam diri Lean•
sesuatu berubah.
Bukan karena ia sudah paham. Justru karena ia belum paham. Tapi ia tahu satu hal:
lni bukan lagi soal bantu teman. lni sesuatu yang lebih besar.
Dan kalau dia tidak mulai serius sekarang•
akan terlambat.
(11)
Lean tidak langsung menyimpulkan. Dan itu justru yang membuat suasana
semakin berat.
la duduk di ruang tengah rumah Unni. Lantai kayu terasa hangat.
Suara mesin jahit mandeh masih berjalan•
naik turun, pelan, tapi konstan.
Seperti mencoba menjaga keadaan tetap biasa.
Padahal tidak ada yang benar-benar biasa.
Unni duduk di kursi dekat jendela. Diam.
Tenang.
Terlalu tenang.
Rani duduk di sampingnya.
Sesekali menggenggam tangan Unni. Seolah takut … kalau dilepas, sesuatu akan terjadi.
Sementara ayahnya•
duduk di sudut. Diam.
Namun matanya tidak pernah benar-benar lepas dari anak gadisnya itu.
“Unni..”
suara mandeh pelan. Mesin jahit berhenti. “Iyo, Ndeh.”
“Kamu ndak ka kampus dari pagi”
“Iyo.” “Sakit?” “Ndak.”
Mandeh mengangguk.
Namun tidak kembali menjahit. Tatapannya berubah.
Lebih lama. Lebih dalam.
“Biaso nyo kamu indak pernah bolos …” Unni tersenyum tipis.
“Lagi ndak ingin saja, Ndeh.” Kali mat itu jatuh begitu saja. Ringan.
Namun justru itu yang membuat ayahnya langsung menoleh.
“Ndak ingin?”
ulangnya pelan. Unni mengangguk.
Ruangan mendadak terasa lain.
Lean memperhatikan. Tidak bicara.
la tahu-
ini bukan wilayahnya. la bukan psikolog. Bukan ustadz.
Bukan dokter.
la cuma … mahasiswa teknik. Dan ia mulai sadar-
ini di luar kemampuannya. “Ran…”
bisik Lean pelan. Rani menoleh.
“Kita butuh orang yang ngerti ini.”
Rani langsung mengangguk.
Seolah sudah menunggu kalimat itu. “Aku ada om …”
katanya cepat.
Lean menatap.
“Om aku dosen psikologi.” “Di UNP.”
“Doktor Fajar”
Lean mengangguk. “Telpon.”
Rani tidak menunda.
la langsung berdiri. Keluar ke teras.
Udara sore masih hangat.
Kabut polusi tipis, menggayut di langit. la menekan nomor.
Om..”
Suara di seberang terdengar tenang. “Iyo, Rani. Apo kabar?”
“Om … Rani butuh bantuannyo.” Nada suaranya berubah.
Tidak lagi santai. “Ada kawan Rani. ..” la berhenti.
Mencari kata.
« … ane h.,O m.”
Di seberang, hening sejenak. “Aneh bagaimana?”
Rani menelan ludah. “Dia ndak sakit …” “Ndak panik…”
“Tapi.. kayak bukan dirinya.” Beberapa detik berlalu.
“Kesambet alias kataguran atau antu
muno dak,” ujar suara laki-laki sambil gelak berderai. Maksudnya tentu bergurau. Mana
ada psikolog yang percaya tahayul?
“I ya…
.1ya… mi.ri.p i.tu
I lahl…:I”
“Ehhh …” terjeda, lalu,”Video
tanya suara itu. cal I bisa?”
“Bisa, Om.”
Rani masuk kembali.
Memberi kode ke Lean.
Lean mengangguk.
Mereka mendekat ke Unni.
Layar ponsel menyala.
Wajah pria paruh baya muncul. Tenang.
Bersih.
“Assa I amu’a I a i kum.” “Wa’alaikumussalam, Om.” “Ini kawannyo?”
Rani mengangguk.
“Iyo, Om. Namonyo Unni.” Dr. Fajar memperhatikan. Tidak buru-buru bicara. “Unni …”
katanya pelan. “lya.”
“Kamu sadar kamu sekarang di mana?” “Di rumah.”
“Kamu kenal gadis didekatmu ini siapa?” Unni melirik Rani.
“Rani.”
“Dan pemuda itu?” “Lean.”
Jawaban tepat.
Tidak salah.
Dr. Fajar mengangguk kecil. “Bagus.”
la diam sebentar. Mengamati.
“Sekarang saya tanya …”
“Kamu merasa pikiran kamu normal?” Unni mengernyit.
” …tidak tahu.” “Kenapa?”
“Kadang… kayak bukan aku yang mulai.” Lean dan Rani saling pandang.
Dr. Fajar tidak terlihat kaget. la hanya mengangguk pelan. “Pernah dengar sugesti?” Unni menggeleng.
“In i mi rip …”
“Kalau orang mudah dipengaruhi.” “Biasanya karena kondisi tertentu.” la berhenti.
“Stress, trauma, atau kelelahan mental.”
Lean langsung menyela. “Tapi Om …”
“Dia normal.”
‘Tidak ada kejadian apa-apa.” Dr. Fajar menoleh.
“Justru itu yang perlu kita cari.”
la kembali ke Unni.
“Kamu merasa ada yang menyuruh?”
“Ndak…” “Memaksa?” “Ndak…” “Hanya…?”
Unni menunduk.
” … kayak ada arah.”
Kalimat itu membuat Dr. Fajar sedikit diam. “Baik…”
katanya pelan.
“Kita jangan buru-buru simpulkan.” la menatap Rani.
“Untuk sementara …” “Jangan ditinggal sendiri.”
“Dia harus tetap sadar dengan lingkungan.” “Diajak bicara.”
“Diajak interaksi.”
Rani mengangguk cepat.
Lean mencatat dalam kepala. Masuk akal.
Video call selesai. Ruangan kembali sunyi. Namun kali ini- sunyinya berbeda.
Ada sedikit pegangan. Walaupun belum jelas.
Ayah Unni yang sejak tadi diam•
akhirnya bicara. “Un n i. ..”
“Iyo, Yah.” “Coba ulangi. ..”
la menarik napas.
” … La fi’ I a i 11 a Al I ah.” Unni menatap.
Ayahnya melanjutkan pelan:
“Tiada perbuatan … kecuali Allah.”
‘Tidak ada sesuatu yang bisa mempengaruhimu, kecuali Allah … ” Unni terdiam.
Ayahnya mengulang: “Ulangi.”
Unni mengikuti.
Pelan.
“La fi’la illa Allah …” Seka Ii.
Dua kali.
Napasnya mulai berubah. Lebih tenang.
Lean memperhatikan. Tidak paham sepenuhnya. Tapi. ..
ia melihat efeknya.
Rani menggenggam tangan Unni lebih erat. Mandeh kembali duduk.
Namun kali ini tidak menjahit. la hanya … melihat.
Lean berdiri perlahan.
la tidak punya jawaban. Tapi ia punya arah. “Ran..”
“1ya?”°
“Ini belum selesai.” Rani mengangguk. Wajahnya tegang.
“Om Fajar bilang sugesti. ..” Lean menghela napas. lya.”
Tapi..”
la berhenti.
” … rasanya ada yang kurang.” Rani menatap.
“Maksudmu?”
Lean melihat ke dalam rumah. Ke arah Unni.
Ke arah ayahnya.
” kalau cuma sugesti. ..”
” harusnya ada sumbernya.”
Sunyi.
Dan kali ini-
tidak ada yang bisa membantah. Lean melangkah keluar rumah. Udara sore masih hangat.
la berdiri sebentar di halaman. Pikirannya belum menemukan jawaban. Tapi satu hal mulai terasa jelas-
lni tidak sesederhana yang terlihat. Dan kalau ia berhenti di sini-
ia tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi.
(12)
Lean tidak langsung pulang.
la berhenti di warung kopi kecil di simpang jalan.
Meja kayu. Kursi plastik. Lampu kuning
menggantung redup. “Bang, kopi satu.”
la duduk di sudut. Laptop dibuka.
Namun tangannya tidak langsung
mengetik.
Pikirannya masih di rumah Unni. Tentang tatapan kosong itu.
Tentang kalimat yang bukan miliknya. Tentang perubahan … yang terlalu cepat. “Kalau ini psikologi. ..”
gumamnya pelan. la mulai mengetik.
“suggestibility” “induced thought” “external cognitive influence”
Hasil muncul. Banyak.
Namun tidak ada yang benar-benar cocok. Lean membaca cepat.
Scrolling. Berhenti. Membaca lagi.
“Hipnosis butuh interaksi langsung …”
la mengangguk kecil.
“Gangguan kepribadian … butuh waktu …” la menggeleng.
“Halusinasi. .. ada pola …” la berhenti.
” … ini tidak.”
Kopi datang.
la tidak menyentuhnya.
Tangannya menggantung di atas keyboard. ” … kalau bukan dari dalam …”
Kalimat itu terputus. ” … be ra rt i d a r i I u ar.” Sunyi.
la bersandar.
Menatap langit-langit warung. Lalu-
sesuatu terlintas. Cepat.
Taj am.
Rumus.
Lean langsung duduk tegak.
Matanya menajam.
“umus
tIu u …”
bisiknya.
la membuka folder. Mencari. Menemukan. Catatan lama. Tulisan tangan. Coretan cepat.
Rumus sederhana yang ia buat bersama
Unni.
la menatapnya lama.
f(x) = kemungkinan pikiran g(x) = kehendak manusia Kesimpulan waktu itu sederhana: jika f(x) bisa dipetakan
dan g(x) bisa dipengaruhi
maka arah keputusan bisa diarahkan
Lean menelan ludah. ” … kalau itu benar…”
la membuka browser.
Mengetik cepat. judul makalah Unni Enter.
Muncul.
Di laman pers kampus. Lean membuka. Membaca cepat. Padahal ia sudah hafal. Namun kali ini-
ia tidak membaca sebagai teman. la membaca sebagai. .. orang luar. Dan tiba-tiba-
di sisi kanan layar• muncul satu artikel lain. Judulnya:
ditulis oleh Dr. Agifsyah. Lean mengernyit.
Klik.
Artikel jurnal. Bahasa akademik. Lebih dalam.
Lebih sistematis.
Namun-
intinya sama.
“Algoritma tidak bisa
menentukan
takdir.”
Lean membeku.
Dua tulisan.
Dua sudut.
Satu inti.
la kembali ke makalah Unni.
Lalu ke artikel Agif. Bolak-balik.
Cepat.
” … ini bukan kebetulan …” bisiknya.
la bersandar.
Napasnya berubah. “In i sepert i. ..”
Kalimat itu menggantung.
” dua orang yang bicara hal yang sama …” ” dan didengar oleh sesuatu.”
Sunyi.
Lean menatap layar. Kosong.
Namun terasa … tidak kosong.
II … atau …II
la menelan ludah.
” … d1pan·at u.
Di ruang dosen•
Agif duduk sendiri. Laptop terbuka.
Artikel jurnalnya masih di layar.
Namun ia tidak membaca. la mengingat.
Makalah Unni. Cara berpikirnya. Keberaniannya. Lalu-
perubahannya di kelas. “Itu tidak konsisten..” gumamnya.
la membuka lagi makalah Unni.
Membaca pelan.
Lebih pelan dari sebelumnya. “Algoritma tidak bisa menyentuh kehendak …”
la berhenti.
“Kalau sekarang dia justru melepas kehendak …”
Agif menyipit.
” … ini bukan kontradiksi.” la duduk tegak.
” … in i seperti. ..”
la mencari kata.
” … d ia d ipi ndahkan.” Sunyi.
Kembali ke warung kopi• Lean menatap dua layar: makalah Unni
dan artikel Agif
la menggambar di kertas. Sederhana.
Unni » rumus
Agif penguatan teori
Lalu-
ia menarik satu garis di atas keduanya.
222
• • •
la menatap tanda itu lama.
” … siapa yang membaca ini semua?” Jantungnya berdetak lebih cepat.
la membuka tab baru. Mengetik:
“algoritma prediksi perilaku manusia”
Hasil muncul.
Tentang media sosial. Tentang data.
Tentang kebiasaan.
Namun semuanya berhenti di satu titik:
mempengaruhi.
bukan mengendalikan. Lean menggeleng.
” …tapi ini. ..”
la menunjuk layar.
” … ini lebih jauh.”
la kembali ke rumus. Menatap f(x) dan g(x).
” kalau seseorang bisa membaca f(x) …” ” lalu mempengaruhi g(x) …”
la berhenti.
” … b erart1. ..”
Napasnya tertahan.
” … keputusan bukan milik kita lagi.” Sunyi.
Lean menutup laptop perlahan. ” … ini bukan sekadar teori. ..”
la berbisik.
” … ini blueprint.”
Di laboratorium, nun jauh di sana•
layar menyala.
Dua titik aktif.
ARUNI
AGIFSYAH
Lalu-
titik ketiga muncul.
LEAN
“Variabel baru terdeteksi.” suara Q9 datar.
Elias menatap. “Status?”
“Mulai menghubungkan pola.” Elias tersenyum tipis.
“Cepat juga …”
Mehrdad berdiri di belakang. Diam.
Namun matanya tajam. “Dia belum masuk.” katanya pelan.
Elias menoleh.
“Lalu?”
Mehrdad menjawab: “Dia masih bertanya.” Sunyi.
” … dan orang yang masih bertanya …” la menatap layar.
” … belum bisa dikendalikan.” Q9 memproses.
“Perintah?”
Elias tidak langsung menjawab. Matanya tetap di layar.
Pada titik ketiga.
LEAN.
” … pantau saja.” katanya akhirnya. “Jangan sentuh.” Jeda sejenak.
” … biarkan dia mendekat sendiri.”
Di rumah Unni•
Gadis itu duduk diam. Ayahnya di samping. “La fi’la illa Allah …”
la mengikuti. Namun-
di sela ketenangan itu•
sesuatu muncul lagi.
Lebih halus. Lebih dalam. Bukan pikiran. Bukan suara. Tapi arah. Sangat tipis. “Ambil ponsel. ..”
Unni tidak bergerak. Napasnya stabil.
“La fi’la illa Allah …”
Dorongan itu melemah. Namun …
tidak hilang. la hanya … menunggu.
Di tempat yang tidak terlihat•
sesuatu sedang belajar. Bukan lagi membaca pikiran. Tapi. ..
menunggu saat pikiran lengah.
(13)
Sore itu, langit Padang menggantung kelabu.
Angin dari arah laut masuk pelan ke
halaman kampus.
Daun-daun trembesi bergerak pelan.
Lean berdiri di depan gerbang UIN Imam
Bonjol.
Tangannya di saku jaket. Matanya mencari.
Tak lama-
Rani muncul dari arah dalam. Langkahnya cepat.
Wajahnya tegang. “Lean!”
Lean mengangkat tangan.
“Mana Unni?”
Rani langsung menjawab.
“Ada di taman belakang … dari tadi diam
saja.”
Lean mengangguk. “Kayak tadi pagi?” Rani menggeleng. “Lebih aneh.”
Lean menatapnya. “Lebih aneh gimana?” Rani menarik napas.
“Dia nggak kayak orang sakit …”
” …tapi juga nggak kayak Unni yang biasa.” Sunyi.
Lean langsung berjalan.
Rani mengikuti di sampingnya.
“Kamu lihat sendiri nanti,” tambah Rani pelan.
Taman belakang kampus sepi. Hanya beberapa mahasiswa duduk berjauhan.
Suara burung sore terdengar samar.
Unni duduk di bangku kayu. Sendiri.
Ponselnya di samping.
Tidak disentuh.
Lean berhenti beberapa
langkah
dari
situ.
Mengamati.
Ada yang berbeda.
Cara duduknya. Cara napasnya. Cara dia … diam. Bukan diam biasa. Lebih seperti. .. tidak terlibat.
Lean mendekat. “Unn.”
Unni menoleh. Pelan.
Senyum tipis. “Lean …”
Nada suaranya lembut. Namun …
tidak ada urgensi.
Lean duduk di sampingnya.
Rani di sisi lain. Tiga orang.
Satu bangku.
Namun terasa …
tidak sepenuhnya bersama. Lean tidak langsung bicara. la mengamati dulu.
“Sejak kapan di sini?”
“Sejak habis kuliah,” jawab Unni. “Ngapain?”
Unni menatap ke depan. “Duduk.”
Rani menoleh cepat ke Lean.
Seolah berkata: kan? Lean mengangguk kecil. Oke..”
gumamnya.
la menarik napas.
Lalu langsung masuk ke tujuan. “Unn, aku mau coba sesuatu.”
Unni menoleh.
“Coba apa?”
Lean tidak menjawab langsung. la mengambil ponsel Unni. Meletakkannya di tengah bangku. “Lihat ini.”
Unni melihat. Biasa saja. “Seka rang …”
Lean menatapnya serius. “Jangan pegang.”
Unni mengernyit.
“Va … memang nggak mau.” Lean mengangguk.
“Tapi …”
la mencondongkan badan sedikit.
” kalau tiba-tiba kamu ingin pegang …” ” jangan langsung lakukan.”
Sunyi.
Unni menatapnya.
“Kamu lagi eksperimen ya?” Lean tersenyum tipis.
“Sedikit.” Rani diam.
Namun matanya bolak-balik antara
keduanya.
Beberapa detik berlalu. Tidak ada apa-apa.
Unni tetap diam. Lean mulai ragu. “Kayaknya-” Tiba-tiba-
jari Unni bergerak. Pelan.
Sangat pelan. Menuju ponsel.
Rani langsung menahan napas.
Lean tidak bergerak. Hanya mengamati.
Jari itu hampir menyentuh layar. Namun-
berhenti.
Unni mengernyit.
” … aneh.” bisiknya.
Tangannya masih menggantung di udara.
“Kenapa aku mau pegang ya?” Sunyi.
Lean menatap tajam.
“Lanjutkan.” katanya pelan.
Unni tidak langsung menarik tangan. la justru …
memperhatikan.
Seperti melihat sesuatu. II …• ni• b u kan a k u…” Kalimat itu keluar pelan.
Rani merinding. “Un n i. ..”
Namun Lean memberi isyarat:
diam.
Unni menarik napas. Perlahan.
Matanya sedikit terpejam.
“La fi’la illa Allah…” Beberapa detik. Tangan itu-
turun.
Tidak jadi menyentuh ponsel. Sunyi.
Rani langsung memegang lengan Unni. “Unn..”
Unni membuka mata.
Menatap mereka. “Barusan..”
la berhenti.
” … ada dorongan.”
Lean langsung mencatat di ponselnya sendiri.
Cepat.
“Dorongan dari mana?” Unni menggeleng. “Nggak tahu.”
” …tiba-tiba saja.”
Lean menatap ponsel di tengah bangku.
Lalu ke Unni. Lalu ke Rani.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
I ni’d’1a…” gumamnya. “f60)..” bisiknya lagi.
Rani mengernyit. “Apaan?”
Lean tidak menjawab. la masih berpikir. “Dorongan itu …”
la menunjuk ke Unni. “… kem u ngki nan.”
Lalu menunjuk tangan Unni tadi. “…yang hampir jadi tindakan.” Sunyi.
“… dan kalau itu bisa diprediksi. ..” la berhenti.
“… bisa juga diarahkan.” Rani menatapnya.
Mulai takut.
“Maksudmu… ada yang ngarahin Unni?” Lean tidak langsung menjawab.
la hanya berkata pelan: ” … aku belum tahu.”
Di laboratorium- grafik bergerak cepat. “Intervensi parsial berhasil.” suara Q9 datar.
Elias menatap layar.
“Tingkat?”
37%.°
Mehrdad menyipit. “Masih rendah.”
Q9 melanjutkan:
“Target menyadari dorongan.” Sunyi.
Elias tersenyum tipis.
“Berarti kita mulai terlihat.” Mehrdad menggeleng pelan.
“Bukan itu masalahnya.” Elias menoleh.
“Lalu?”
Mehrdad menunjuk layar. “Dia mulai membedakan …” ” mana dirinya …”
” mana yang bukan.” Sunyi.
” … itu berbahaya.”
Elias diam.
Untuk beberapa detik. Lalu berkata pelan: “Kalau begitu …”
” … kita masuk lebih dalam.”
Kembali ke taman-
Unni menatap tangannya sendiri.
“… taadI rasanya …•
la mencari kata.
” … kayak bukan aku yang mulai.” Rani menggenggam tangannya.
“Unn… kita pulang aja yuk.” Unni mengangguk pelan. Lean berdiri.
Namun sebelum berjalan-
ia menatap ponsel itu sekali lagi. Lama.
” … ini bukan alatnya …” gumamnya.
” … ini cuma pintu.” Rani tidak paham. “Pintu apa?”
Lean tidak menjawab. la hanya berkata:
“Kita harus cari. ..”
” … siapa yang di baliknya.” Angin sore bertiup pelan. Langit makin gelap.
Dan di antara langkah mereka bertiga•
tanpa mereka sadari- sesuatu sedang mencatat.
Bukan apa yang mereka lakukan.
Tapi. ..
apa yang hampir mereka lakukan.
(14)
Malam turun perlahan di Padang.
Lampu-lampu jalan menyala satu per satu. Udara mulai lembab.
Lean belum pulang.
la kembali ke kosnya di daerah Limau
Manis. Kamar kecil. Satu meja. Laptop.
Kipas angin berputar pelan.
la duduk.
Diam beberapa saat.
Pikirannya masih di taman tadi. Tentang tangan Unni.
Tentang dorongan itu.
Tentang … jeda kecil sebelum tindakan.
” … itu bukan refleks.” gumamnya.
la membuka laptop.
Langsung ke catatan. Menulis cepat:
• dorongan muncul sebelum tindakan
• subjek menyadari dorongan
• subjek bisa menahan
Lean berhenti. Menatap tiga poin itu.
” … berarti ini bukan kontrol penuh.” la mengangguk sendiri.
” … masih tahap dorong.”
la membuka kembali rumus. f()= kemungkinan
g(x) = kehendak
“Kalau f(x) dimunculkan ” ” … dan g(x) dilemahkan ”
la berhenti.
” … keputusan bisa digeser.” Lean menelan ludah.
II …I• n•
serus.
la membuka browser.
Mengetik:
“predictive behavior system real time” Hasil muncul.
Namun tetap di batas yang sama:
iklan.
algoritma media sosial. kebiasaan pengguna. Lean menggeleng.
” … ini beda.”
la membuka tab lain. Makalah Unni.
Artikel Agif. Dua layar. Dua dunia.
” … kenapa dua ini muncul bersamaan?” la memperbesar layar.
Melihat metadata.
Tanggal publish. Waktu.
la mencatat.
Makalah Unni » anonim Makalah Agif jurnal resmi Jeda waktu tidak jauh.
” …terlalu dekat.” Lean bersandar. Menatap langit-langit.
” … kayak ada yang menghubungkan.”
la tertawa kecil. Pa hit.
“Mu lai halu aku …”
Namun ia tidak menutup laptop.
la justru membuka satu program lama. Network monitor sederhana.
Bukan canggih.
Namun cukup untuk melihat
dasar. lalu lintas
la hubungkan ke hotspot.
Ke ponselnya sendiri.
Lalu-
ia diam.
Menunggu.
” ka I au in i s i stem …”
” pasti ada gerakan.”
Di ruang dosen-
Agif menutup laptopnya. Namun ia tidak berdiri. Tangannya di meja. Matanya kosong.
la memikirkan satu hal:
perubahan Unni.
Bukan hanya perubahan sikap. Tapi arah pikir.
“Dia tidak lagi mempertahankan …” gumamnya.
” …tapi juga tidak mengikuti.” la mengerutkan kening.
” … ini posisi tengah.”
la mengambil ponsel.
Membuka laman pers kampus. Makalah anonim itu.
la melihat data admin. Akses internal.
la tahu-
secara teknis-
ini bisa ditelusuri.
Namun ia tidak langsung melakukannya. ” … kalau aku salah …”
la menelan ludah.
” … ini bisa merusak.”
Namun pikirannya kembali
Ke Unni.
Ke tatapan itu. ke kelas.
la akhirnya mengetik.
Pelan.
Hati-hati.
Masuk ke panel admin.
Mencari log publish.
IP address.
Waktu upload.
Beberapa detik.
Lalu-
data muncul. Satu lokasi.
Agif membaca. Diam.
” … kampus ini.”
la menutup mata sejenak.
” … b erart1. ..”
la membuka lagi. Mencocokkan. Jadwal.
Kelas. Mahasiswa.
Nama itu muncul.
UNNI.
Agif tidak kaget. Tidak juga lega.
la hanya menghela napas.
“… a ku
ta h u …”
Namun satu hal lain muncul di pikirannya:
” kalau dia menulis ini. ..”
” kenapa sekarang dia berubah?”
Sunyi.
la berdiri.
Mengambil kunci motor.
” … aku harus lihat langsung.”
Di laboratorium• suasana berubah. Lebih aktif.
Lebih cepat.
Grafik bercabang. Simulasi berjalan. “lntervensi meningkat.” suara Q9 datar.
Elias berdiri di depan layar. “Respons?”
“Pa rs i a I.”
Mehrdad melangkah maju. Lebih dekat.
Matanya tajam.
“Terlalu lambat.” Elias menoleh.
“Kita tidak bisa paksa.” Mehrdad tersenyum tipis.
“Kamu masih berpikir ini sistem biasa.”
Sunyi.
Elias menyipit. “Maksudmu?”
Mehrdad menunjuk layar. “Dia tidak melawan.”
” … dia tidak mengikuti.”
” … d’1a
Sunyi.
kel uar.”
“Kalau begitu ..” lanjut Mehrdad,
” … kita tidak bisa pakai cara biasa.” Elias diam.
“Lalu?”
Mehrdad mendekat. Suara lebih pelan.
” …jangan sentuh kesadarannya.” Jeda sejenak.
” … pecah fokusnya.” Elias mengernyit.
“Lingkungan?” Mehrdad menggeleng.
“Lebih dalam.”
la menunjuk satu titik
LEAN. lain di layar.
“Gunakan dia.”
Sunyi.
Elias menatap.
” … sebagai apa?”
Mehrdad tersenyum.
Lebih dingin.
“Sebagai pintu.”
Q9 memproses.
“Strategi baru?”
Mehrdad menjawab:
“Buat dia berpikir…”
” … bahwa
Sunyi. dia menemukan sendiri.”
Elias tidak langsung bicara. Namun perlahan-
ia tersenyum.
” … itu lebih berbahaya.”
Di kamar kos-
Lean masih menatap layar. Grafik kecil bergerak.
Lalu-
sesuatu muncul. Satu spike kecil. Tidak besar.
Namun … tidak biasa.
Lean langsung duduk tegak. “Ini..”
la memperbesar.
Data tidak jelas. Tidak ada alamat. Tidak ada sumber. Hanya … aktivitas.
” … ini apa?”
la mengetik cepat. Trace.
Ulang.
Bandingkan. Namun-
tidak ada hasil. Data itu …
seperti muncul. .. tanpa asal.
Lean menelan ludah. ” … nggak mungkin …” Layar berkedip.
Seka Ii.
Lalu kembali normal. Lean membeku.
” … aku lihat itu barusan …”
la tidak menyentuh keyboard. Tidak bergerak.
Hanya menatap layar.
Dan untuk pertama kalinya-
la merasa…
bukan hanya dia yang melihat.
(15)
Pagi itu, udara Padang terasa lebih lembab dari biasanya.
Awan menggantung rendah.
Seolah menekan kota. Unni duduk di kelas. Barisan tengah.
Seperti biasa-di sampingnya, Rani. Namun tidak seperti biasa-
ia tidak mencatat.
Tidak juga menatap papan. la hanya … ada.
Dosen di depan menjelaskan.
Mahasiswa lain menulis. Kipas angin berputar pelan. Semua berjalan normal. Kecuali satu hal-
Unni.
Rani melirik.
Seka Ii. Dua kali. “Unn..”
bisiknya pelan.
Unni menoleh. “1ya?”°
Nada suaranya tenang. Terlalu tenang.
“Kamu nggak nulis?”
Unni melihat buku di depannya. Masih kosong.
Oh..”
la mengambil pulpen. Menulis satu baris. Lalu berhenti.
Seperti lupa … kenapa ia menulis. Rani menelan ludah.
lni bukan Unni yang dia kenal. Di luar kelas-
Lean berdiri di lorong. Tangannya memegang ponsel.
Chat terakhir dari Rani masih terbuka: “Lean, datang sekarang. Aku takut.” Lean tidak menunggu lama.
la langsung naik motor.
Dari Limau Manis ke kampus. Tanpa banyak pikir.
Dan sekarang- ia di sini. Menunggu.
Pintu kelas terbuka. Mahasiswa mulai keluar. Lean langsung mencari. Rani keluar lebih dulu.
Menarik napas lega saat melihatnya. “Lean!”
“Mana Unni?”
Rani menunjuk ke dalam. Lean masuk.
Dan melihat-
Unni masih duduk. Sendiri.
“Unn.”
Unni menoleh. “Lean …” Senyum tipis. Tenang.
Namun Lean langsung tahu•
ada yang salah. Bukan panik. Bukan takut. Justru…
tidak ada apa-apa.
Dan itu lebih mengganggu. “Kita keluar yuk.”
kata Lean.
Unni mengangguk.
Tanpa bertanya.
Tanpa alasan.
Mereka bertiga berjalan ke kantin.
Langkah Unni pelan. Sta bi I.
Namun …
tidak responsif.
Seperti seseorang yang berjalan … tanpa benar-benar memilih arah. Di kantin-
mereka duduk di meja pojok. Lean tidak langsung bicara.
la mengamati. “Un n …”
Unni menatapnya. “1ya?”°
“Semalam kamu ngapain?”
“Tidur.”
“Pikir apa?” Unni diam. Beberapa detik. ” … nggak ingat.” Sunyi.
Rani memegang tangan Unni.
“Unn… kamu baik-baik saja kan?” Unni menatap Rani.
“lya”
Jawabannya cepat. Terlalu cepat.
Tanpa rasa.
Lean menunduk. Berpikir.
” … ini bukan sugesti biasa.” la mengangkat kepala. “Unn.”
Unni menatap lagi. “Kamu ingat rumus itu?” Untuk pertama kalinya• mata Unni berubah. Sedikit.
“…rumus?”
Lean mengangguk. “Vang kita buat.” Jeda.
Unni mengernyit.
Seperti mencari sesuatu.
II . .. f. .. g …II
Pelan.
Namun tidak utuh.
Lean langsung sadar• ” … dia mulai lepas.”
Rani menatap Lean. “Maksudnya apa?” Lean tidak menjawab.
la hanya berkata pelan: “Kita butuh bantuan.” “Bantuan siapa?”
Suara itu muncul dari belakang. Tenang.
Dalam.
Mereka bertiga menoleh. Agif berdiri di sana.
Dengan kemeja sederhana. Tas selempang.
Matanya langsung ke Unni. “Pak …”
bisik Rani. Lean berdiri. Refleks.
“Bapak siapa?”
Agif tersenyum tipis. “Dosen dia.”
la menunjuk Unni. Lalu menatap Lean.
” dan mungkin sekarang …”
” kita punya urusan yang sama.” Sunyi.
Lean menatap tajam. ” … maksudnya?”
Agif duduk. Tanpa diminta. “Makalah itu.” katanya pelan. Unni membeku.
Lean langsung menoleh. Rani menahan napas. “Kamu yang nulis, kan?” Unni tidak menjawab. Namun diamnya …
cukup.
Agif mengangguk kecil. “Aku sudah eek.”
la menatap Lean. “Kamu juga terlibat.” Lean tidak kaget.
la hanya bertanya:
‘Terus?”
Agif menyandarkan punggung. “Terus …”
la melihat Unni. Lama.
” … ada sesuatu yang berubah.” Sunyi.
Lean mengangguk pelan. “Kami juga lihat.”
Rani menambahkan:
“Dia kayak … bukan Unni lagi.” Agif tidak langsung menjawab. la menatap Unni.
Lebih dalam. “Bukan.”
katanya pelan.
” … dia masih Unni.” Jeda.
” …tapi bukan hanya Unni.” Kalimat itu membuat Lean diam. “Jelaskan.”
katanya tegas.
Agif menarik napas. “Kalian pernah dengar…”
” … pikiran bisa dipengaruhi?” Lean langsung menjawab. “Ya.”
“Bagaimana kalau …”
Agif mencondongkan badan.
” bukan hanya dipengaruhi. ..” ” tapi diarahkan?”
Sunyi.
Rani langsung merinding. Lean menatap tajam.
” … oleh siapa?”
Agif tidak menjawab langsung.
la hanya berkata:
“Kalau rumus kalian benar…” ” … maka ini mungkin.”
Lean membeku. Rumus.
f(x)
g(x) Kemungkinan. Kehendak. “Berarti …”
la menelan ludah.
” ada yang membaca kemungkinan …” ” lalu menggeser kehendak.”
Agif mengangguk.
“Ya.”
Rani hampir menangis. “Jadi Unni. .. dikendalikan?” Agif menggeleng.
“Belum.”
Semua menatapnya. “Baru…”
la berhenti sejenak.
“••• di1 d. orang.•
Sunyi.
Unni tiba-tiba bicara. Pelan.
“… a ku
ta h u.”
Mereka semua menoleh.
Unni menatap ke depan.
II … a d a sesuatu …II
II … yang
b u kan a ku”.
Lean langsung mendekat.
“Unn!”
Unni menutup mata. “La fi’la illa Allah …” Napasnya stabil. Namun-
untuk sepersekian detik• wajahnya berubah. Seperti. ..
menahan sesuatu.
Di laboratorium• alarm kecil berbunyi. “Interaksi meningkat” suara Q9.
Layar menampilkan:
ARUNI LEAN AGIFSYAH
Elias tersenyum. “Akhi rnya …”
Mehrdad berdiri di belakang. Diam.
Namun kali ini• senyumnya lebih dalam. “Seka rang …”
katanya pelan.
” … permainan dimulai.”
Kembali ke kantin-
tiga orang duduk mengitari satu meja. Bukan lagi kebetulan.
Bukan lagi sendiri-sendiri.
Tiga jalur.
Satu titik.
Dan tanpa mereka sadari•
mereka sudah masuk …
ke dalam sesuatu yang jauh
lebih
besar
dari mereka.
(16)
Malam turun perlahan di Padang.
Lampu-lampu jalan menyala satu per satu. Udara lembab, menempel di kulit.
Dari arah laut, angin datang pelan•
membawa rasa yang entah kenapa … tidak nyaman.
Di tiga tempat berbeda-
tiga orang mengalami sesuatu yang sama. Namun dengan cara yang berbeda.
Di rumah Unni-
Lampu kamar menyala redup.
Dari dapur, terdengar suara mandeh. Sendok beradu pelan.
Air mendidih. Biasa.
Sangat biasa.
Namun di dalam kamar•
tidak.
Unni duduk di tepi tempat tidur. Punggung sedikit membungkuk. Tangan di pangkuan.
Ponselnya di meja. Diam.
Namun matanya• sesekali melirik ke sana. la menarik napas.
Dalam.
“La fi’la illa Allah …” Pelan.
Berulang. Satu kali.
Dua. Tiga.
Napasnya mulai stabil.
Namun-
di sela ketenangan itu•
sesuatu muncul. Tidak berupa kalimat. Tidak berupa suara. Hanya …
arah. “Buka.”
Unni menutup mata lebih kuat.
“La fi’la illa Allah …” Dorongan itu melemah. Namun tidak hilang.
la kembali. Lebih halus. “Cek saja …”
Unni menggenggam tangannya sendiri.
II …• ni• b u kan a k u…”
Namun kali ini-
dorongan itu tidak pergi. la tetap ada.
Seperti bayangan yang tidak terlihat•
tapi terasa. Menunggu.
Di kos Lean-
Lampu putih terang.
Kipas angin berputar pelan. Laptop terbuka.
Grafik kecil bergerak.
Lean duduk di depan meja. Menatap.
Namun pikirannya tidak fokus. la membaca.
Namun tidak masuk.
« … ane h..”. gumamnya.
la mengusap wajah. Lalu-
tiba-tiba-
satu ide muncul. “Ulang dari awal. ..” Lean berhenti.
” … aku sudah lakukan itu.” Namun ide itu tetap ada. Lebih kuat.
Lebih mendesak. “U I an g s aja …”
Lean mengerutkan kening.
… ngga k
per I u.”
la hendak lanjut.
Namun tangannya•
berhenti. Kursor diam.
…u]a,
ng sa: a…n
Lean menatap layar.
Jantungnya mulai berdetak lebih cepat. ” … ini bukan aku.”
la langsung menutup laptop. Cepat.
Duduk tegak.
Menarik napas dalam.
II … f0 k us …”
Beberapa detik berlalu. Dan perlahan-
ide itu hilang.
Seolah tidak pernah ada. Lean membuka mata.
II … b: arusan …”
la langsung mengambil catatan. Menulis cepat:
• dorongan tanpa sebab
• muncul berulang
• tidak sesuai tujuan la berhenti.
Menatap tulisan itu.
••• ini bukan sugesti. ..”
Untuk pertama kalinya•
ia tidak hanya meneliti.
I a …
terkena.
Di kamar Agif• Lampu dimatikan.
Hanya cahaya samar dari jendela.
la duduk bersila di atas sajadah. Punggung tegak.
Agif bukan sekadar dosen filsafat Islam. la hidup di dalamnya.
Apa yang ia ajarkan-
ia praktikkan.
Dalam kegelisahan seperti ini• ia tidak mencari jawaban di luar. la kembali ke dalam.
Ke dzikir.
la menarik napas dalam. Menutup mata. “Astagfirullahal ‘adziim …” Satu.
“Astagfirullahal ‘adziim …” Dua.
“Astagfirullahal ‘adziim …” Tiga.
Napasnya mulai tenang. Kemudian-
“Allahumma shalli ‘ala Muhammad …” Satu.
Dua. Tiga.
Ruang menjadi hening. Namun penuh.
la melanjutkan- lebih dalam.
“La fi’la illa Allah …”
Satu. Dua. Tiga. Em pat. Lima. Enam. Tujuh.
Delapan.
Sembilan. Setiap lafaz-
tidak sekadar diucap. Disadari.
Bahwa tidak ada perbuatan•
kecuali Allah. Bahwa pikiran- bukan miliknya. Bahwa dorongan- bukan miliknya.
la tidak melawan. la tidak menahan.
la tidak mengontrol.
I a … menyerahkan. Terakhir-
“La ilaha illa Allah …” Satu.
Dua.
Tiga. Berlanjut-
hingga tiga puluh tiga. Di tengah dzikir itu-
sesuatu mencoba masuk. Sangat halus.
“Analisis ini. ..”
Namun-
tidak ada yang menyambut. Tidak ada yang mengikuti. Tidak ada yang berkembang. Pikiran itu jatuh.
Seperti daun kering. Tanpa akar.
Agif tetap diam. Tenang.
Tidak terganggu. Di laboratorium-
tiga grafik bergerak bersamaan.
ARUNI LEAN AGIFSYAH
“Intervensi aktif.” suara Q9. “Respons?”
tanya Elias. “Berbeda.”
Layar memperbesar satu per satu. ARUNI , resistensi meningkat LEAN mulai terpengaruh AGIFSYAH » stabil
Elias menyipit.
“Kenapa yang itu stabil?” Mehrdad menjawab pelan. “Dia tidak melawan.”
Elias menoleh.
“Yang lain?” “Masih berusaha.” Sunyi.
Mehrdad melanjutkan:
“Selama masih ada usaha …” ” … masih ada pintu.”
Elias mengangguk pelan.
” …jadi kita tekan yang dua.” Q9 memproses.
“Prioritas?”
Mehrdad menunjuk layar.
LEAN.
“Vang ini dulu.”
Elias mengangkat alis. “Kenapa?”
Mehrdad tersenyum tipis. “Karena dia berpikir…”
” dan orang yang berpikir…” ” paling mudah diarahkan.” Sunyi.
Q9 menandai target.
LEAN • PRIORITAS
Kembali ke kos• Lean berdiri. Mondar-mandir.
” … ini bukan Unni saja …” la berhenti.
” … aku juga kena.”
Jantungnya berdetak lebih cepat.
…ini sistem…
” … dan aku sudah masuk.”
Di rumah Unni-
Gadis itu membuka mata. Tenang.
Namun kini- ia tahu. Dorongan itu- tidak hilang.
la hanya … menunggu.
Di kamar Agif-
Dosen itu membuka mata perlahan. Tenang.
” … ini bukan lagi teori. ..” bisiknya.
” … ini sudah masuk ke manusia.”
Di laboratorium-
Mehrdad menatap tiga titik itu.
Senyumnya perlahan melebar. “Seka rang …”
” … mereka mulai terhubung.” Elias mengangguk.
” … dan itu berarti?”
Mehrdad menjawab pelan.
” … lebih mudah dihancurkan.”
(17)
Malam itu-tidak ada yang benar-benar tenang.
Padang seperti biasa. Lampu jalan menyala. Motor lalu-lalang.
Orang-orang masih tertawa di warung kopi. Namun di balik semua itu-
ada sesuatu yang bergerak. Tidak terlihat.
Tapi. .. bekerja.
Di kos Lean-
Jam menunjukkan pukul 01.12.
Lampu masih menyala. Laptop terbuka.
Namun layar kosong. Lean duduk.
Diam.
Terlalu lama diam.
Matanya menatap satu titik. Tidak fokus.
Tidak benar-benar melihat.
Di dalam kepalanya-
.
rama1.
…u]a,
ng sa: a…n
Kalimat itu muncul lagi.
Lebih jelas sekarang. “Mulai dari awal. ..”
Lean menghela napas kasar.
Mengusap wajah.
“Udah aku bilang … nggak perlu …”
gumamnya.
Namun pikirannya tidak berhenti. Justru berkembang.
“Semua analisismu salah ” “Data kamu tidak lengkap ” “Ulang dari awal. ..”
Lean berdiri.
Mendorong kursinya ke belakang. “Stop …”
la berjalan ke jendela. Membuka.
Udara malam masuk. Namun tidak membantu.
” …uIang saj.a…”
Lebih pelan.
Lebih meyakinkan.
” … bi1ar
b enar…”
Lean menutup mata.
II …• ni• b u kan a k u…”
Namun-
untuk pertama kalinya-
.
a ragu.
” … atau ini memang aku?” Kalimat itu-
membuatnya berhenti. Jantungnya berdetak keras. “Kalau ini aku …”
” … kenapa aku melawan?” Sunyi.
Dan di titik itu• retakan kecil muncul. Lean berbalik.
Melihat laptop. Perlahan-
ia berjalan mendekat. Duduk.
Tangannya bergerak. Membuka file lama. Log.
Script. Analisis.
“Mu I a i I a g i. ..”
bisiknya. Di layar-
baris kode muncul. Satu per satu.
Lean mengetik. Cepat.
Lebih cepat dari biasanya. Seolah-olah-
ia tidak sedang berpikir. la hanya …
mengikuti.
Di rumah Unni•
Mandeh terbangun.
Air di dapur mendidih terlalu lama.
la bangkit.
Mematikan kompor.
Lalu-
ia menoleh ke arah kamar Unni. Lampu masih menyala.
“Unni..”
panggilnya pelan. Tidak ada jawaban.
la berjalan mendekat.
Membuka pintu perlahan. Unni duduk.
Di tempat yang sama. Seperti tadi sore. Namun kali ini-
lebih diam. Lebih … kosong. “Unni?”
Gadis itu menoleh. Pelan.
Senyumnya tipis. “lya, Ndeh …” Suara itu normal. Terlalu normal.
Mandeh mengerutkan kening. “Kok belum tidur?”
Unni tidak langsung menjawab. Sejenak-
ia terlihat seperti mencari sesuatu.
… ngga k
ngantu k…II
Jawaban itu sederhana.
Namun ada jeda aneh di dalamnya. Mandeh mendekat.
Duduk di sampingnya. Memegang tangannya. Dingin.
“Unni sakit?”
Unni menggeleng. Namun•
tatapannya kosong.
Tidak benar-benar melihat mandeh. Di dalam dirinya-
ada sesuatu yang sedang bekerja.
“Diam saja..”
“Tidak perlu berpikir…” “Biarkan..”
Unni tidak melawan.
Namun kali ini-
ia juga tidak sepenuhnya sadar.
Di kamar Agif•
Dzikir belum selesai. Namun kali ini-
ada yang berbeda. Biasanya-
tenang datang perlahan. Namun malam ini• gelombang.
Pikiran datang- lebih cepat. Lebih tajam.
“Ini hanya sugesti. ..”
“Ini hanya fenomena psikologis …” “Tidak perlu dibesar-besarkan …” Agif membuka mata.
la langsung sadar.
” … ini bukan pikiranku.”
la menarik napas dalam. Menutup mata lagi.
“La fi’la illa Allah…”
Namun•
kali ini-
pikiran itu tidak pergi. la tetap ada. Menunggu.
Agif tidak melawan.
Namun ia juga tidak membiarkan. la … menyadari.
Beberapa detik. Lalu-
perlahan- pikiran itu jatuh. Tidak hilang.
Namun tidak berkuasa. Agif membuka mata.
” … mereka mulai masuk lebih dalam …”
Di laboratorium• Layar berubah cepat.
LEAN • aktivitas meningkat tajam
ARUNI respons menurun
AGIFSYAH stabil namun terdeteksi gangguan
Elias tersenyum.
“Va n g i n i. ..”
(ia menunjuk Lean) ” … mulai terbuka.” Mehrdad mengangguk. “Retakan sudah ada.”
Q9 menampilkan grafik. Pola baru.
Bukan lagi respon. Tapi. ..
pengaruh.
“Masuk lebih dalam,” kata Mehrdad. “Dorong terus.”
“Batas?”
tanya Q9.
Mehrdad tersenyum tipis. “Tidak ada.”
Elias menoleh. “Kalau dia rusak?”
Mehrdad menjawab datar: “Lebih baik.”
Sunyi.
Perintah dikirim. lntervensi meningkat.
Di kos-
Lean masih mengetik. Namun kini•
matanya berbeda. Lebih fokus. Namun … kosong.
Baris kode terus berjalan. Lebih cepat.
Lebih rapi.
Namun-
tidak seperti biasanya.
la tidak lagi menganalisis. la hanya …
mengeksekusi. Di layar-
tanpa ia sadari-
sebuah koneksi terbuka. Tidak terlihat.
Tidak tercatat. Namun aktif.
Di rumah Unni-
Mandeh menggenggam tangan Unni lebih erat.
“Un n i. ..”
suaranya mulai bergetar. “Kamu kenapa?”
Unni menatapnya. Lama.
Seolah-olah•
mengenali. Namun dari jauh.
“… a ku ngga k
apa-apa …”
Namun kali ini•
suara itu …
tidak sepenuhnya miliknya.
Di kamar Agifsyah• Agif berdiri.
Teringat Unni. Teringat Lean.
“Unni sudah jelas dimasuki. Rani. .. Lean … ,”
pikirnya.
Agif masih berpikir. Mencerna. Membatin,”Rani. .. sejauh ini, anak itu biasa-
b.asa sa].a… la tahu.
Tapl….
L.ean…?. ”
lni tidak bisa dibiarkan. la mengambil ponsel. Menatap nama:
LEAN.
la ragu sejenak. Lalu-
menekan. Panggilan masuk.
Di kos-
ponsel Lean bergetar. Namun ia tidak melihat. la terus mengetik. Panggilan berhenti. Masuk lagi.
Di layar laptop•
kursor berhenti.
Untuk sepersekian detik. Lalu-
lanjut lagi. Lebih cepat.
Di laboratorium• Q9 mencatat:
INTERFERENSI EKSTERNAL TERDETEKSI
Mehrdad menyipit. “Siapa?”
Nama muncul:
AGIFSYAH
Mehrdad tersenyum. “Bagus..”
Elias mengerutkan kening. “Kenapa bagus?”
Mehrdad menjawab pelan: “Seka rang …”
” … semua sudah masuk ke permainan.” Sunyi.
Di tiga tempat•
tiga orang-
tidak lagi berjalan sendiri. Dan malam itu•
permainan berubah.
(18)
Pagi datang.
Namun tidak semua
yang
bangun … benar•
benar kembali.
Di kos Lean-
Lampu masih menyala.
Laptop masih terbuka. Kipas berputar pelan. Lean tertidur di kursi. Kepalanya miring.
Tangan masih di keyboard. Layar menampilkan kode. Banyak.
Rapi.
Namun … bukan sepenuhnya miliknya. Ponsel bergetar.
Seka Ii. Dua kali. Tiga kali.
Lean bergerak. Pelan.
Mata terbuka setengah. la tidak langsung sadar. Beberapa detik-
ia hanya menatap layar. Kosong.
Lalu-
seperti tersadar tiba-tiba•
ia menarik napas dalam. ” … a stag hfi r u 11 ah …”
Tangannya menjauh dari keyboard. la melihat layar.
Lebih fokus sekarang.
Baris kode itu …
asm• ng.
“Ini.. apa?” la scroll. Cepat.
Lebih cepat. File baru. Script baru. Log baru. Namun-
tidak ada riwayat pembuatan. Tidak ada timestamp.
Tidak ada proses yang mencatatnya.
Lean berdiri.
Kursi terdorong ke belakang.
“Ini bukan aku …” Namun-
jantungnya berdetak keras. Karena•
ia tahu.
Tadi malam•
ia mengetik.
la membuka satu file. Membaca.
Baris pertama:
initiate passive bridge
Lean membeku. Baris berikutnya:
wait for cognitive sync do not alert
“Bridge … ?”
la mundur selangkah.
” … sinkronisasi kognitif… ?”
Lean langsung menutup laptop. Refleks.
Namun-
pikirannya tidak bisa ditutup. la berjalan mondar-mandir. Cepat.
“Kalau ini jalan …”
” … b erart1. ..” la berhenti. Wajahnya berubah.
” … aku yang buka pintunya.” Sunyi.
Untuk pertama kalinya•
Lean merasa takut. Bukan pada sistem. Tapi. ..
pada dirinya sendiri. Ponsel kembali bergetar. Nama muncul:
AGIFSYAH
Lean menatap layar. Ragu.
Namun kali ini•
ia tidak menunda.
Angkat.
“Pak..”
Suara Lean serak.
Di ujung sana-
Agif langsung menjawab.
“Lean, kamu di mana?”
“Di kos …”
“Jangan ke mana-mana. Saya ke sana.”
Lean terdiam.
Nada itu-
bukan nada dosen.
ltu nada …
orang yang tahu sesuatu.
“Pak..”
Lean menelan ludah.
” … saya kayaknya … bikin sesuatu.” Hening sebentar.
Agif menjawab pelan: “Bukan kamu yang bikin.” Lean diam.
Kalimat itu-
anehnya•
menenangkan.
“Jangan sentuh laptop dulu,” lanjut Agif. “Dan jangan percaya semua yang kamu piki rkan.”
Panggilan terputus.
Lean menatap layar hitam ponselnya. “Jangan percaya pikiranku …”
la mengulang pelan.
Di rumah Unni• Pagi tidak berbeda. Namun Unni. .. berbeda.
la duduk di ruang tengah.
Mandeh sedang menyapu. Ayah duduk di kursi kayu. Radio menyala pelan.
Berita pagi.
Semua normal. Namun Unni-
terlalu diam. Rani datang.
Tanpa salam panjang.
Langsung masuk. “Unni!”
la berhenti.
Melihat sahabatnya. Yang duduk.
Namun …
tidak benar-benar hadir. “Unni …”
suara Rani melembut. la mendekat.
Duduk di samping. Menggenggam tangan Unni. “Unn… lihat aku …”
Unni menoleh. Matanya … tenang.
Terlalu tenang.
II …1• ya,
R ‘an…II
Rani menelan ludah.
lni bukan Unni yang dia kenal. Biasanya-
Unni cepat. Respon cepat. Emosi cepat. Sekarang- semuanya lambat. Seperti. ..
terfi lter.
“Unn… kamu masih ingat kita ke Alahan
Panjang bulan lalu?” Unni diam.
Sejenak.
II …I• ngat…II
Jawaban itu benar. Namun …
tidak terasa.
Rani menoleh ke ayah Unni. Tatapan cemas.
Ayah hanya mengangguk pelan.
Lalu berkata: “Coba lagi. ..” Rani mengerti.
la menatap Unni. “Unn… ayo ikut aku.” “Ke mana?”
“Jalan sebentar.” Unni berdiri.
Tanpa bertanya lagi. Tanpa ragu.
Tanpa keinginan.
Rani menahan napas.
” … ini yang paling bahaya …” bisiknya pelan.
Di jalan-
Angin pagi sejuk. Motor lewat.
Orang-orang mulai beraktivitas.
Namun- Rani fokus.
la menoleh ke Unni.
“Unn..”
“Kalau kamu pengen sesuatu …”
” … kamu masih ngerasa itu dari kamu?” Unni menatap ke depan.
“..k. av d ang
.1ya…II
” … kadang nggak.”
Rani berhenti berjalan. ltu jawaban paling jujur. Dan paling menakutkan.
Di kos-
Pintu diketuk keras.
Lean langsung membuka. Agif berdiri di depan. Tanpa basa-basi• langsung masuk.
“Mana laptopnya?” Lean menunjuk meja. Agif mendekat. Membuka.
Membaca cepat.
Matanya menyipit.
“Ini bukan program biasa …” Lean berdiri di belakang.
“pak….
·1 n’I
kaya k..”.
” … nyambung ke aku”
Agif tidak langsung menjawab. la hanya berkata:
“Kamu ingat semua yang kamu lakukan
semalam?” Lean diam.
” … nggak semuanya.”
Agif mengangguk pelan. “Berarti ada bagian …”
” …yang bukan kamu.” Sunyi.
Lean menelan ludah.
“Pak..”
” kalau dia bisa pakai aku …”
” berarti dia bisa pakai siapa saja?” Agif menutup laptop.
Menatap Lean.
Dalam.
‘Tidak.”
Lean mengernyit. “Kenapa?”
Agif menjawab pelan:
“Karena tidak semua orang …” ” … membuka pintunya.”
Lean membeku. Kalimat itu- langsung kena. la ingat. Semalam.
la sendiri yang mulai. la yang menelusuri.
la yang mencoba “bicara”.
” … a ku yang un d ang …II
Agif tidak menyangkal.
Namun juga tidak menyalahkan. “Sekarang kita tutup.”
Lean menatapnya. “Caranya?”
Agif tidak langsung menjawab. la duduk.
Menarik napas.
Lalu berkata:
“Kamu harus kembali sadar…” ” … bahwa itu bukan kamu.” Lean mengangguk.
Namun kali ini-
tidak cukup. “Dan satu lagi. ..” lanjut Agif.
“Jangan ikuti dorongan apapun …”
” … sebelum kamu yakin itu milikmu.” Sunyi.
Lean menarik napas panjang.
Saat itu ia tidak ingin mengerti. la hanya ingin …
selamat.
Di tempat lain• Q9 mencatat.
LEAN resistensi meningkat
ARUNI stabil (pasif)
AGIFSYAH aktif (intervensi langsung) Mehrdad tersenyum.
“Men a ri k …”
Elias menatap layar.
“Vang satu hampir kita dapat …” ” yang satu hilang …”
” yang satu melawan.” Mehrdad mengangguk. “Perfect.”
Elias menoleh. “Kenapa perfect?”
Mehrdad menjawab pelan: “Karena sekarang …”
” … kita tahu siapa yang paling berbahaya.” Di layar-
satu nama disorot.
AGIFSYAH
Sunyi.
Dan permainan-
naik satu level lagi.
(19)
Siang itu-
tidak ada yang tampak berbeda. Kampus berjalan seperti biasa. Mahasiswa lalu-lalang.
Motor keluar masuk.
Pedagang gorengan di depan gerbang tetap ramai.
Namun-
sesuatu mulai berubah. Bukan di dalam manusia. Di luar.
Unni berjalan bersama Rani. Menuju kelas.
Langkahnya pelan. Teratur.
Rani memperhatikan. Tidak berkedip.
“Unn..” “lya?”
“Kalau kamu mau belok …” ” … itu karena kamu mau?” Unni diam.
Sejenak.
” … kadang aku nggak tahu …” Rani menggigit bibir. Jawaban itu•
makin sering keluar. Dan makin jujur.
Mereka sampai di tangga. Tiba-tiba-
la tetap berjalan. Seolah-olah• tidak melihat. “Unni!”
Rani menarik tangannya.
“Eh … maa ¢..”. Unni berhenti. Menunduk.
Membantu memungut buku. Gerakannya tepat.
Normal. Namun- terlambat.
Mahasiswa itu tersenyum. “Makasih ya.”
Unni mengangguk. Lalu berjalan lagi. Rani menatapnya.
” tadi kamu nggak lihat?”
” Ii hat.”
“Terus kenapa nggak berhenti?”
Unni diam.
” … nggak kepikiran.” Sunyi.
Rani merasakan sesuatu. Bukan Unni tidak peduli. Tapi-
reaksinya tidak muncul. Seperti ada yang … menahan.
Di kos Lean-
Laptop kembali terbuka. Namun kali ini-
Lean tidak menyentuhnya. la duduk di lantai. Bersandar di dinding. Ponsel di tangan.
la sedang membaca. Bukan forum biasa. Bukan artikel.
Tapi-
jurnal.
Kasus psikologi. Judulnya:
“Automatic Behavior Under Suggestion
State”
Lean menghela napas.
II …m• p•
…II
Namun•
tidak sama.
Kasus itu tentang hipnosis. Tentang sugesti.
Tentang kontrol perilaku. “Tap i in i. ..”
Lean menatap layar laptop. ” nggak ada hipnotis.”
” nggak ada interaksi langsung.” ” nggak ada medium.”
la berdiri. Mendekat. Menatap laptop. ” … kecua p1. “..
Kalimat itu berhenti. la ingat sesuatu. Bukan dari IT.
Dari kejadian. Semalam-
ia membuka file. la mengetik.
la mengikuti.
« …mer dirum-nya…n
” … aku sendiri.”
Lean menutup mata.
Jantungnya berdetak lebih cepat. “Kalau dia bisa pakai aku …”
” … dia bisa pakai siapa saja …”
Di kampus-
Agif berjalan menuju kelas. Namun langkahnya melambat. la melihat sesuatu.
Di papan pengumuman. Tulisan baru.
Poster seminar.
Judul besar:
“ALGORITMA PERILAKU MANUSIA DI ERA
DIGITAL”
Agif berhenti. Menatap.
Alisnya mengernyit.
la tidak ingat ada seminar ini. Namun-
poster itu tampak resmi. Lengkap.
Tanggal hari ini. Tempat: aula kampus. la mendekat.
Membaca lebih detail.
Pembicara:
Dr. – (tidak dikenal) Topik:
“Prediksi dan Kendali Respon Manusia”
Agif mundur selangkah.
” … in i terl al u kebetu I an …”
Di aula-
Mahasiswa mulai masuk. Tanpa rencana.
Tanpa undangan resmi. Namun-
ramal.
Seolah-olah•
semua tahu.
Di luar-
Rani dan Unni berjalan. Tiba-tiba-
Unni berhenti.
Menatap ke satu arah. “Unn?”
“..k. e sana …,,
“Ke mana?”
Unni menunjuk aula.
“… a ku pengen
ke sana …”
Rani mengernyit.
“Kamu ada kelas …” ” … nanti saja.” Namun-
Unni tetap diam. Matanya tertuju ke aula. “Un n i. ..”
Rani mulai panik.
“Ini kamu yang mau?” Unni menjawab pelan: ” aku nggak tahu …”
” tapi aku harus ke sana.” Sunyi.
Kalimat itu- bukan keinginan. ltu seperti. .. perintah.
Di kos-
Lean membuka laptop lagi. Namun kali ini-
bukan untuk coding.
la membuka log jaringan. Mencoba satu hal sederhana: melihat traffic.
Namun-
hasilnya aneh.
Tidak ada koneksi aktif. Tidak ada proses.
Tidak ada jalur.
” kalau nggak ada jalur…” ” dia kerja lewat apa?” Lean terdiam.
Lalu-
ia ingat satu hal. Semua kejadian• tidak langsung. Tidak frontal. Selalu lewat … kejadian.
la berdiri cepat.
” bukan sistem digital. ..” ” tapi sistem kejadian …”
Kalimat itu membuatnya merinding. la langsung mengambil ponsel. Menelpon Rani.
“Ran, Unni di mana?” “Di kampus..”
“Dia lagi ke mana?”
” … dia lagi maksa ke aula …” Lean membeku.
” …jangan biarin dia masuk.” “Kenapa?”
Lean tidak punya jawaban pasti.
Yang pasti, Lean tidak tahu akan ada acara di aula.
Namun ia tahu satu hal:
“Apa yang dilakukan Unni itu bukan keinginannya.”
Di aula-
Pintu terbuka.
Unni melangkah masuk. Pelan.
Rani di belakangnya. Menahan.
“Unni, jangan …”
Namun- tangannya dilepas. Di dalam-
ruangan penuh. Namun suasana … aneh.
Terlalu tenang. Terlalu fokus. Di depan-
layar besar menyala. Tidak ada pembicara. Namun-
slide sudah berjalan. Tulisan pertama:
“Apakah kamu yakin pikiranmu milikmu?” Unni berhenti.
Matanya menatap layar. Tidak berkedip.
Seperti menanti kelanjutan.
Di luar- Agif berlari.
Untuk pertama kalinya• ia tidak berjalan tenang. “Jangan …”
bisiknya.
” … ini bukan kebetulan …”
Di laboratorium• Q9 mencatat.
LINGKUNGAN berhasil dimodifikasi
RESPON TARGET • meningkat
Mehrdad tersenyum. “Seka rang …”
” … kita tidak butuh masuk ke dalam.” Elias menatap layar.
” … kita cukup atur dunia di luar.”
Sunyi.
Dan di titik itu-
perang berubah sepenuhnya. Bukan lagi tentang pikiran. Tapi tentang kenyataan.
(20)
Aula itu•
terlalu tenang.
Tidak ada pembicara. Tidak ada suara pembuka. Tidak ada moderator. Namun semua orang• duduk.
Diam.
Menatap ke depan.
Seperti. .. sudah tahu harus apa. Unni melangkah masuk. Langkahnya pelan.
Matanya langsung tertarik ke layar.
Tanpa melihat kiri kanan.
Tanpa menyadari Rani yang masih mencoba menarik tangannya. “Unni… jangan …”
Namun-
tidak ada respon. Slide berubah.
Tulisan kedua muncul:
“Kamu berpikir… atau kamu dipikirkan?” Beberapa mahasiswa bergeser.
Ada yang mengernyit.
Ada yang tersenyum kecil. Namun-
tidak ada yang bangkit. Di barisan tengah•
Unni duduk. Tanpa diperintah. Tanpa memilih.
la hanya … duduk.
Rani tetap berdiri.
Matanya menyapu ruangan.
“Ini nggak normal. ..” bisiknya.
Namun-
tidak ada yang mendengar.
Di luar-
Agif sampai di depan aula. Napasnya cepat.
la berhenti sejenak. Menatap pintu.
la tahu-
ini bukan sekadar seminar. la masuk.
Di dalam-
suasana berbeda. Udara terasa berat. Bukan karena panas. Tapi karena …
diam yang terlalu dalam.
Agif melihat Unni. Langsung.
la berjalan cepat. “Unni.”
Tidak ada respon.
la berdiri di depannya. Menunduk.
“Unni.”
Lebih tegas.
Gadis itu menoleh. Pelan.
II …1• ya,
p’a. k..”.
Suara itu normal.
Namun•
kosong.
Agif merasakan sesuatu. Bukan sekadar perubahan. In i. ..
penghilangan. Slide berubah lagi.
“Kamu tidak perlu memilih.”
Beberapa kepala mulai mengangguk. Refleks.
Tanpa sadar.
Agif menoleh ke layar. Matanya tajam.
” … in i sugesti ko lektif…” la langsung paham. Bukan hipnosis.
Bukan kontrol langsung. lni-
pengulangan ide. Ditanam.
Disusun. Diperkuat.
la kembali ke Unni. “Unni, dengar saya.” Namun-
mata Unni kembali ke layar. Seperti ditarik.
Slide berikutnya muncul: “Semakin kamu berpikir…” ” … semakin kamu lelah.”
Seseorang di barisan belakang menghela
napas.
Seorang lagi menunduk. Efek mulai terasa.
Di kos-
Lean berlari keluar. Tanpa jaket.
Tanpa helm.
Motor dinyalakan cepat. la tidak tahu pasti. Namun ia tahu-
ini titiknya.
Di aula-
Agif duduk di depan Unni.
Memaksa masuk ke garis pandangnya. “Lihat saya.”
Unni menatapnya.
Namun hanya sebentar.
,,… saya cape k..”.
Kalimat itu keluar pelan.
Seperti. .. dipinjam.
Agif menarik napas. “Capek itu bukan kamu.” Unni mengernyit sedikit. Retakan kecil.
Namun-
slide berubah lagi.
“Kamu tidak perlu melawan.” Retakan itu-
tertutup lagi.
Agif menyadari sesuatu. lni bukan satu arah.
In i. .. pertarungan.
la menutup mata sejenak. Menarik napas.
Lalu-
pelan-
ia mulai:
“Astaghfirullahal adziiim …”
(1)
“Astaghfirullahal adziiim …”
(2)
“Astaghfirullahal adziiim …”
(3)
Beberapa orang menoleh. Suara itu …
mengganggu ritme.
Agif melanjutkan:
“Allahumma shalli ‘ala Muhammad …”
(1) (2) (3)
Ritme aula mulai pecah. Tidak semua.
Namun-
ada gangguan. Di layar-
slide berhenti sepersekian detik. Seperti terganggu sesuatu.
Di laboratorium• Q9 mencatat:
INTERFERENSI NON-KOGNITIF
TERDETEKSI Mehrdad menyipit. “Apa itu?”
Q9 menjawab: “Tidak terdefinisi.”
Di aula-
Agif membuka mata. Menatap Unni.
“La
(1) fi’la illa Allah …”
“La
(2) fi’la illa Allah …”
“La fi’la illa Allah …”
(3)
Unni menatapnya. Lebih lama.
Ada sesuatu …
yang bergerak. Bukan pikiran. Kesadaran. Namun-
slide berubah cepat.
“Kamu aman … kalau kamu ikut.” Retakan itu-
hampir hilang lagi.
Di luar-
motor Lean berhenti mendadak. la berlari masuk.
Di dalam- ia melihat:
Agif di depan Unni.
Rani di samping. Ruang penuh. Layar menyala.
Danialangsungtahu•
ini bukan lagi teori. lni serangan.
Lean mendekat. “Unni!”
Gadis itu menoleh.
Untuk sepersekian detik•
benar-benar menoleh.
” … Lean …• Suara itu• lebih hidup. Agif melihat. “Sekarang!”
Lean tidak berpikir.
la langsung menarik tangan Unni. “Keluar”
Unni berdiri.
Namun- langkahnya berat.
Seperti ada yang menahan.
Slide berubah cepat. “Jangan pergi.”
Beberapa mahasiswa menoleh ke arah
mereka.
Tidak marah.
Namun•
tidak suka.
Tekanan sosial muncul.
Rani menggenggam tangan
Unni
dari
sisi
lain.
“U nn … ayo …»
Tiga arah. Tarik-menarik. Dan di titik itu-
Unni menutup mata. Satu kalimat muncul. Pelan.
Dalam.
“La fi’la illa Allah …” Sunyi.
Sepersekian detik•
semua terasa berhenti. Lalu-
langkahnya ringan. la berjalan.
Keluar.
Lean dan Rani di sampingnya. Agif di belakang.
Mereka keluar dari aula. Pintu tertutup.
Di dalam-
slide tetap berjalan.
Orang-orang tetap duduk. Seperti tidak terjadi apa-apa.
Di luar-
Unni menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya-
ia benar-benar sadar. Namun-
Agif tidak tersenyum. Lean juga tidak.
Rani menggenggam tangan Unni lebih erat.
Karena mereka tahu- ini belum selesai.
Tapi mereka punya tekad yang sama.
Di laboratorium• Q9 mencatat:
TARGET sempat lepas
METODE • masih efektif STRATEGI perlu ditingkatkan Mehrdad tersenyum tipis.
“Bag us …”
Elias menoleh. “Gaga I.”
Mehrdad menggeleng pelan. “Bukan.”
” … kita baru tahu batasnya.” Sunyi.
Dan batas itu-
baru saja dilampaui.
“Hanya perlu menata ulang, sehingga
batas itu lebih jauh dari sekarang,” gumam
Mehrdad.
(21)
Efek itu … tidak berhenti di aula. la menyebar.
Pelan.
Namun pasti. Sore itu-
kampus terlihat biasa. Mahasiswa duduk di kantin. Ada yang tertawa.
Ada yang sibuk dengan ponsel. Namun-
bagi yang peka- ada yang berubah. Rani memperhatikan. Dua meja di depan•
sekelompok mahasiswa diam. Bukan karena sibuk.
Tapi karena … kosong. “Ran..”
bisik Lean pelan. “Itu juga?”
Rani mengangguk. ” … sejak dari aula.” Mereka tidak sendirian. Ada yang mulai “tenang”. Namun-
tenang yang tidak wajar. Di sudut lain-
seorang mahasiswa menatap layar ponselnya.
Tidak bergerak.
Sudah lebih dari satu menit. Seolah-olah-
menunggu sesuatu.
Lean menatap sekeliling. ” … ini menyebar…”
Agif duduk di hadapan mereka. Tenang.
Namun matanya tajam. “Bukan menyebar.”
la berhenti sejenak. ” … ini dilanjutkan.” Sunyi.
Lean mengernyit. “Maksudnya?”
Agif tidak langsung menjawab. la menatap ke arah aula.
“Vang kita lihat tadi. ..”
” … bukan kejadian tunggal.”
…itu sistem.
Di laboratorium-
Q9 menampilkan ulang rekaman. Bukan video.
Tapi rangkaian kejadian.
Mehrdad berdiri di belakang. Menatap dengan puas. “Jelaskan,” kata Elias.
Q9 menjawab:
“Aula dikondisikan melalui tiga jalur.” Layar berubah.
LAYER 1: DIGITAL DISTRIBUTION
“Poster seminar disebarkan melalui sistem internal kampus.”
“Email mahasiswa.” “Grup WhatsApp.”
“Notifikasi portal akademik.”
“Semua terlihat resmi.” LAYER 2: SOCIAL TRIGGER “Mahasiswa kunci dipilih.”
“Individu dengan pengaruh sosial tinggi.” “Diberikan stimulus awal.”
“Respons mereka memicu kelompok lain.” LAYER 3: ENVIRONMENTAL CONDITIONING
“Ruang diatur.” “Pencahayaan.” “Suhu.”
“Posisi duduk.” “Urutan visual.”
“Slide disusun untuk membangun ritme sugesti.”
Sunyi.
Elias mengangguk pelan.
” …jadi bukan kita yang memaksa.” Mehrdad tersenyum.
” … kita hanya membuat mereka memilih.”
Di kantin- Lean terdiam.
la mulai memahami.
..J·aid:I. ..”
” bukan karena orang-orang lemah …”
” tapi karena lingkungannya disusun.” Agif mengangguk.
“Ya.”
Rani menelan ludah.
” … berarti siapa saja bisa …” Agif menjawab pelan: “Kalau tidak sadar… iya.” Lean bersandar.
Pikirannya bekerja cepat. Namun tetap dalam batasnya.
la bukan ahli.
Tapi ia mulai melihat pola. “Berarti…”
” yang mereka kendalikan bukan orang …” ” tapi alurnya.”
Agif tersenyum tipis. “tu baru mendekati.”
Di rumah-
Mandeh duduk di samping Unni. Wajahnya cemas.
Ayah berdiri di jendela. Diam.
“Un n i. ..”
Mandeh menggenggam tangan anaknya. “Kamu dengar mandeh?”
Unni mengangguk pelan.
II … d engar…”
Namun-
matanya masih jauh. Ayah mendekat.
Duduk di depan Unni. “Coba ulangi. ..”
la menatap anaknya. Dengan lembut. Namun tegas.
“La fi’la illa Allah.” Unni menatapnya. Beberapa detik. Lalu-
pelan-
“La fi’la illa Allah…” Suaranya lembut. Namun-
ada sesuatu yang kembali. Sedikit.
Ayah mengangguk. “Ulangi.”
Di sudut-
Rani memperhatikan. Matanya berkaca.
” … ini bukan cuma gangguan …”
bisiknya.
” … ini perebutan.”
Di kampus UIN Imam Bonjol• Lean berdiri.
la tidak bisa diam lagi.
“Gue harus tahu ini kerja dari mana.” Rani menoleh.
“Lu mau ngapain?” Lean menjawab jujur: ” gue nggak tahu.”
” tapi gue nggak bisa nunggu.”
Agif menatapnya. Tidak melarang.
Namun juga tidak membiarkan. “Kalau kamu masuk …”
” …jangan masuk sendirian.” Lean mengangguk.
Untuk pertama kalinya•
mereka bertiga sadar:
ini bukan lagi masalah pribadi.
lni sistem.
Dan sistem itu-
tidak hanya bekerja di layar. Tapi di dunia nyata. Rekayasa kondisi.
Di laboratorium• Q9 mencatat:
SPREAD meningkat RESISTANCE lokal TARGET GROUP • meluas Mehrdad tersenyum.
“Seka rang …”
” … tidak perlu lagi satu target.” Elias menatap layar.
” … kita punya populasi.” Sunyi.
Dan permainan-
tidak lagi tentang satu orang. Tapi tentang manusia.
(22)
Malam itu-
hujan turun pelan di Padang. Bukan hujan deras.
Hanya gerimis.
Namun cukup untuk membuat jalanan sedikit sepi.
Dan dalam sepi itu-
sesuatu bekerja lebih leluasa.
Di kos Lean- Lampu redup. Laptop menyala. Namun kali ini•
Lean tidak langsung mengetik. la duduk.
Menatap.
Berpikir.
Dengan hati-hati.
“Kalau ini sistem kejadian …” ” … berarti ada pusatnya.”
la tidak langsung mencari. la mengingat.
Aula. Poster.
Mahasiswa yang datang tanpa sadar. Slide.
Ritme.
“Semua terlalu rapi. ..”
” … nggak mungkin acak.” la membuka laptop. Bukan untuk hacking. Hanya membuka:
Portal kampus.
Email.
Grup mahasiswa.
la menelusuri satu
Poster seminar. per satu.
File PDF.
Pengirim.
Nama pengirim terlihat normal. Namun-
alamat servernya … asmng.
Lean menyipit.
” … ini bukan server kampus …” la tidak paham semuanya. Namun cukup untuk sadar• ini bukan sistem lokal.
la mundur dari layar. Tidak melanjutkan.
Karena ia ingat pesan Pak Agifsyah•
semakin dalam ia masuk… semakin mudah ia dimasuki.
Di ruang dosen- Agif duduk sendiri. Lampu meja menyala. Di depannya-
buku kecil.
la membuka.
Membaca ulang catatan: “Kesadaran tidak bisa diprediksi. ..”
” … ketika tidak melekat pada pikiran.” la menutup mata.
Menarik napas. Namun kali ini-
ia tidak langsung berzikir. la berpikir.
” kalau sistem itu benar…”
” maka yang mereka cari bukan pikiran …” ” tapi keterikatan dengan sesuatu yang mereka tetapkan …”
la membuka mata. Tatapannya berubah.
” dan yang mereka lawan …”
” adalah kesadaran.” Sunyi.
Dan di titik itu•
ia sadar sesuatu.
” … aku target mereka.” Bukan karena kebetulan.
Bukan karena dekat dengan Unni. Tapi karena-
ia mengajarkan sesuatu yang berlawanan.
Di laboratorium-
Layar menampilkan tiga profil.
ARUNI LEAN AGIFSYAH
Q9 memberi highlight.
AGIFSYAH • PRIORITAS UTAMA
Elias menatap. “Kenapa dia?”
Mehrdad menjawab tanpa ragu: “Karena dia satu-satunya …”
” … yang bisa menjelaskan apa yang terjadi.” Sunyi.
Elias mengernyit.
“Vang lain juga mengalami.” Mehrdad menggeleng pelan. “Unni merasakan …”
” … Lean mencoba memahami. ..”
« …tapi’Agirf..”
la berhenti sejenak.
“… mengerti struktur di baliknya.” Layar berubah.
Menampilkan rekaman kelas.
Saat Agif mengajar.
“Algoritma bekerja dengan pola …” “Pola bekerja dengan pengulangan …” “Pengulangan bekerja dengan
keteri katan …”
Mehrdad menunjuk layar. “Dia sudah sampai sini.” Slide lain muncul.
Catatan Agif:
“Kesadaran di luar pola.” Mehrdad melanjutkan: “Kalau ini berkembang …”
“… dia bisa memutus sistem kita.” Sunyi.
Elias mulai memahami.
” …jadi ini bukan soal Unni lagi” Mehrdad mengangguk.
” Unni adalah pintu.”
” Agif adalah kunci.” Sunyi.
Dan kalimat itu•
mengubah arah permainan.
Di rumah-
Unni duduk bersama ayah. Hujan terdengar di luar. Ayah menatapnya. “Sekarang kamu rasa apa?” Unni menjawab pelan:
” … IebiI htenang …•
II …tap1•…II
la berhenti.
” … kayak ada yang nunggu.” Ayah mengangguk.
la tidak kaget.
“Karena itu belum selesai.”
Unni menatapnya.
” … apa yang belum selesai?” Ayah menjawab pelan:
“Vang berusaha masuk …” ” … tidak akan berhenti.” Sunyi. Ranidisudutruangan• mendengar.
Tubuhnya merinding.
Di kos-
Lean menatap layar.
Tidak membuka apa-apa. la hanya berpikir.
” kalau ini bukan sistem lokal. ..”
” bera rti g I oba I.”
Kalimat itu membuatnya diam. Lebih lama.
” dan kalau global. ..”
” ini bukan eksperimen kecil.” la menarik napas dalam.
Untuk pertama kalinya-
ia melihat skala sebenarnya. ” … ini bisa ke mana-mana …”
Di ruang dosen• Agif berdiri. Mengambil tas.
la tidak bisa menunggu lagi.
la harus bergerak. Karena sekarang- ia tahu-
bukan hanya Unni yang dalam bahaya. Tapi-
cara berpikir manusia.
Di laboratorium-
Q9 mengunci target.
AGIFSYAH • TRACKING AKTIF INTERVENTION -, PREPARE Mehrdad tersenyum tipis.
“Seka rang …”
” • • • ki1ta
IiI hwat…”.
” … seberapa kuat kesadarannya.”
Elias menatap layar. Diam.
Namun kali ini•
ia tidak lagi memimpin. Perlahan-
tanpa disadari•
kendali mulai bergeser. Dan di luar sana-
seorang dosen filsafat lslam• baru saja menjadi target utama• dari sesuatu-
yang ingin menguasai dunia.
(23)
Pagi itu-
tidak ada yang terasa salah. Langit cerah.
Udara sejuk.
Kampus mulai ramai. Namun-
Agif merasakannya. Bukan di luar.
Di dalam.
la duduk di ruang dosen. Laptop terbuka.
Namun ia tidak mengetik. la hanya melihat.
Seperti seseorang yang sedang menunggu sesuatu-
yang belum terjadi.
II …Su d a h
mu I al….”
gumamnya pelan.
la berdiri.
Mengambil buku kecilnya. Membuka halaman terakhir. Kosong.
la menulis satu kalimat:
“Serangan tidak datang sebagai ancaman.”
la berhenti.
Menatap kalimat itu. Lalu melanjutkan:
“Serangan datang sebagai sesuatu yang terasa wajar.”
Sunyi.
la menutup buku itu. Dan saat itu-
pintu diketuk. “Masuk.”
Seorang staf administrasi berdiri di depan.
“Pak, jadwal bapak dipindah.” Agif mengernyit.
“Dipindah ke mana?” “Ke aula, pak.”
Sunyi.
“…au I a
I agl. ?. ”
Staf itu mengangguk.
“Seminar tambahan. Mendadak.” Agif menatapnya.
Lama.
Tidak ada yang aneh. Semua terlihat normal. Namun-
justru itu yang mengganggu.
“Baik.”
la mengangguk. Staf itu pergi. Pintu tertutup. Agif berdiri.
Tidak langsung bergerak.
” … lingkungan mulai diatur…” la tersenyum tipis.
Bukan karena santai. Tapi karena-
ia sudah menduga.
Di halaman kampus•
Lean dan Rani menunggu. “Dia pasti ke aula.”
kata Lean.
Rani mengangguk.
” … ini nggak kebetulan lagi.”
Di dalam aula- suasana sudah siap. Tidak seramai kemarin. Namun cukup. Mahasiswa duduk. Beberapa wajah familiar. Slide belum menyala. Namun layar sudah aktif. Agif masuk. Langkahnyatenang. Namun matanya• mengamati.
Baris pertama. Baris tengah. Baris belakang.
la melihat sesuatu. Pola.
Orang-orang yang sama.
“Dipilih…” bisiknya.
la tidak duduk. la berdiri.
Di tengah.
Menunggu. Dan saat itu• layar menyala.
Tidak ada pembukaan. Tidak ada suara.
Hanya satu kalimat:
“Apakah kamu yakin … kamu bebas?” Beberapa mahasiswa mengangkat kepala. Namun tidak ada yang berbicara.
Agif tersenyum tipis.
” … ] angsung ya …n
la tidak menatap layar. la menutup mata. Menarik napas.
“Astaghfirullahal adziiim …”
(1) (2) (3)
Suasana berubah sedikit. Tidak banyak.
Namun terasa.
Slide berganti.
“Kamu tidak perlu melawan.” Agif membuka mata.
Kali ini-
ia menatap layar.
” kalau aku lawan …” ” aku ikut bermain.” la tersenyum.
” …jadi aku tidak melawan.”
la duduk. Di lantai.
Beberapa mahasiswa menoleh.
Tidak biasa.
Namun tidak ada yang bereaksi. Agif menutup mata lagi.
“La fi’la illa Allah …”
(1)
(2)
(3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
Di laboratorium• Q9 mencatat.
TARGET • tidak mengikuti stimulus
RESPON tidak sesuai model
Mehrdad menyipit. “Dia tidak masuk.” Elias menatap layar.
” … dia tidak bereaksi.” Mehrdad menjawab pelan: ” lebih buruk…”
” dia tidak terlibat.” Sunyi.
Di aula-
slide berubah lebih cepat. “Kamu lelah.”
“Kamu butuh berhenti.”
“Kamu tidak harus berpikir.”
Beberapa mahasiswa mulai menunduk. Beberapa memejamkan mata.
Namun-
Agif tetap. Diam.
Tidak menolak. Tidak mengikuti. la hanya … sadar. Tiba-tiba-
seorang mahasiswa berdiri. Menatap Agif.
“Pak …”
Suara itu pelan.
“Kalau semua bukan kita …” ” … buat apa kita hidup?” Sunyi.
Semua mata mengarah. Agif membuka mata. Menatap mahasiswa itu.
la tidak langsung menjawab. Beberapa detik-
hening. Lalu-
ia berkata pelan: “Untuk menyaksikan.” Mahasiswa itu mengernyit. “Menyaksikan apa?”
Agif tersenyum.
“Bahwa kita … bukan pelaku.” Sunyi.
Slide berhenti.
Untuk beberapa detik.
Di laboratorium-
Q9 tidak memberikan output. Mehrdad menatap layar.
” … dia mengganggu sistem.”
Di aula-
Agif melanjutkan:
“Kalau kamu merasa kamu yang berpikir…” ” … kamu bisa diambil.”
“Kalau kamu sadar ”
” … pikiran itu datang ”
II … d an perg . ..
” …tidak ada yang bisa mengambilnya.”
Sunyi.
Beberapa mahasiswa mengangkat kepala. Ada yang mulai sadar.
Retakan.
Slide kembali berjalan. Lebih cepat.
Lebih agresif. “Jangan dengarkan.”
“Dia membuatmu bingung.” “Dia salah.”
Tekanan sosial muncul.
Beberapa mahasiswa menatap Agif tidak
suka. Namun• tidak semua. Di pintu-
Lean dan Rani berdiri. Menyaksikan.
” … ini bukan cuma serangan …” bisik Lean.
” … in i pertaru nga n.”
Rani menggenggam tangannya. ” … dan kita di tengahnya …”
Di laboratorium•
Mehrdad tersenyum tipis. “Naikkan.”
Elias menoleh. “Berapa jauh?” Mehrdad menjawab: “Lebih dalam.”
Sunyi.
Dan perintah dikirim.
Di aula-
lampu redup sedikit. Suhu berubah.
Slide berhenti. Lalu-
satu kalimat muncul:
“Kalau kamu bukan pelaku …” ” … siapa yang hidup?”
Sunyi. Pertanyaan itu- berbeda.
Lebih dalam.
Beberapa mahasiswa terlihat goyah. Namun-
Agif hanya tersenyum. Pelan.
” … Allah.” Sunyi.
Dan untuk pertama kalinya•
sistem-
tidak punya jawaban.
(24)
Serangan itu-
tidak berhenti di aula. la hanya … berpindah. Lebih dekat.
Lebih halus. Lebih … pribadi. Sore itu-
Agif pulang lebih cepat.
Langit Padang mulai mendung.
Ang in laut terasa lebih dingin dari biasanya. la mengendarai motornya pelan.
Tidak tergesa.
Namun pikirannya- tidak kosong.
” … mereka ubah pola …”
gumamnya.
” bukan lagi pikiranku …” ” tap i sekita rku …”
Motor berhenti di lampu merah. Lampu berubah hijau.
la melaju lagi.
Semua terlihat normal. Namun-
Agif tidak percaya lagi pada kata
“kebetulan”.
Sampai di rumah kontrakannya•
ia berhenti. Mematikan mesin. Sunyi.
la tidak langsung turun.
Matanya memperhatikan sekitar. Tidak ada yang mencurigakan. Tetangga biasa.
Suara anak kecil.
TV dari rumah sebelah. Namun-
ia tetap diam beberapa detik.
… masu k..”
bisiknya pada dirinya sendiri. la turun.
Membuka pintu. Masuk.
Dan-
sesuatu terasa berbeda. Bukan benda.
Bukan suara. Tapi. .. suasana.
Seperti ada yang … terlalu rapi. la menutup pintu pelan. Melangkah masuk.
Matanya menyapu ruangan. Meja.
Kursi.
Rak buku.
Semua seperti biasa. Namun-
ia berhenti di satu titik. Laptop.
Laptopnya terbuka di meja. Bukan baru dinyalakan.
la ingat. Sejak siang tadi ia memang belum
benar-benar menutupnya.
Hanya membiarkannya aktif, seperti biasa, dengan dokumen catatan yang masih terbuka dan tersambung ke penyimpanan daring.
la melihat. Layar kosong.
Cursor berkedip pelan. Normal.
la mendekat. Duduk.
Tangannya tidak langsung menyentuh
keyboard.
la kembali melihat layar. Cursor tetap berkedip. Tidak ada yang berubah.
Namun pikirannya tidak diam. la teringat Unni.
Makalah. Diskusi.
Dan satu hal-
yang belum selesai.
“…cu kuprka h .In.1…”
Kalimat itu muncul di kepalanya. la tidak yakin-
itu pikirannya sendiri.
Di saat yang sama-
di sistem yang tidak terlihat• Q9 mencatat:
COGNITIVE LOOP DETECTED
UNRESOLVED QUERY i Laptop itu tidak diambil alih. Tidak diretas secara kasar.
la tetap berjalan seperti biasa. Namun dokumen yang terbuka itu• tersambung.
Dan pada koneksi itulah• Q9 bekerja.
Bukan mengetik.
Bukan menggerakkan kursor. Hanya menyisipkan satu baris-
ke dalam dokumen yang memang sedang aktif.
Tanpa notifikasi.
Tanpa tanda. Seolah-olah-
baris itu memang sudah ada. Sekarang-
layar menampilkan sesuatu. Satu kalimat:
“Kamu yakin ini cukup?” Agif berdiri.
Tidak menyentuh.
Tapi di kepalanya terbersit perintah. ” … kamu pindah ke sini. ..”
la tersenyum tipis.
II … b agus.,,
la tidak duduk. Tidak mendekat.
la justru- menutup mata. “Astaghfirullahal adziiim …” (1)
(2)
(3)
Udara terasa berubah. Hal us.
la melanjutkan:
“Allahumma shalli
(1) ‘ala Muhammad …”
(2)
(3)
Kursor berhenti.
Sejenak.
Lalu-
bergerak lagi.
Agif membuka mata. Sekarang-
layar menampilkan sesuatu. Kalimat yang sama:
“Kamu yakin ini cukup?” Sunyi.
Agif menatap.
Tidak marah. Tidak kaget.
la hanya … memahami.
“..k. amu mu I a.
la duduk.
masu k..”.
Namun bukan di depan laptop.
Di lantai.
Menghadap arah kiblat.
“La
(1) fi’la illa Allah…”
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)
Di layar-
kalimat berubah. “Kamu tidak bisa lari.” Agif tersenyum.
” … aku tidak lari.”
“aku.. tidak ikut.” Sunyi.
Di laboratorium-
Q9 mendeteksi perubahan. INTERVENSI PERSONAL aktif RESPON TARGET • tidak sesuai Elias menatap layar.
” … dia tidak masuk.” Mehrdad menyipit.
” … kita terlalu langsung.”
Elias menoleh. “Lalu?”
Mehrdad menjawab pelan:
” … hancurkan yang dia pegang.”
Sunyi.
Di rumah-
Agif masih duduk. Tenang.
Namun-
sesuatu berubah. Bukan di layar.
Di ponselnya. Getaran kecil.
Agif membuka mata. la melihat ponselnya. Diam.
Namun getaran itu•
terasa.
la mengambilnya. Layar menyala.
Satu pesan masuk.
Dari nomor yang tidak dikenal. lsinya-
bukan ancaman.
Foto.
Agif membeku.
ltu-
rumah orang tuanya. Di kampung.
Talang, Kabupaten Solak. Dan di foto itu-
pintu rumah terbuka. Padahal- seharusnya tertutup.
Sunyi.
Untuk pertama kalinya•
napas Agif berubah.
…jangan… bisiknya pelan.
Pesan berikutnya masuk. “Kamu masih mau diam?” Tangan Agif mengepal. Namun-
ia tidak berdiri. Tidak bergerak.
la menutup mata. Lebih dalam.
“La fi’la illa Allah…”
Suara itu lebih pelan. Namun lebih kuat.
Di laboratorium• grafik berubah. Lonjakan.
Elias tersenyum. “…kena.” Namun• Mehrdad tidak.
la melihat lebih dalam.
“. .. tiId.ak…”.
“itu bukan reaksi. ..” Elias menoleh. “Lalu?”
Mehrdad menjawab: ” … itu ujian.”
Sunyi.
Di rumah-
Agif membuka mata. Wajahnya tenang. Namun matanya• tajam.
la mengambil ponsel. Mengetik.
Satu kalimat.
“Aku tidak punya apa-apa.” Ki rim.
Sunyi.
Beberapa detik. Tidak ada balasan. Lalu-
layar mati. Sendiri.
Agif meletakkan ponsel. Menarik napas.
” … kamu mulai salah langkah …”
la tersenyum tipis, dan bergumam:
” kalau kamu serang yang di luar…” ” berarti yang di dalam …”
” tidak bisa kamu sentuh.” Sunyi.
Namun-
di tempat lain, nun jauh di sana• Mehrdad tersenyum.
” justru sebaliknya …”
” sekarang kita tahu …”
” di mana dia paling lemah.” Layar berubah.
TARGET PRIORITY UPDATE:
AGIFSYAH
LINGKUNGAN PERSONAL
-. IKATAN EMOSIONAL
Dan permainan•
naik level.
Menyerang orang-orang terdekat. Yang ada hubungan emosional.
Keluarga.
Menyerang lingkungan personal objek.
(25)
Serangan itu-
tidak berhenti di layar. la masuk-
ke yang paling dekat. Keluarga.
Pagi itu-
kabut tipis masih menggantung di Talang. Udara dingin turun dari perbukitan.
Sawah terbentang basah oleh embun. Suara ayam bersahutan dari halaman rumah.
Di sebuah rumah sederhana-
ayah Agif baru saja selesai shalat Subuh. Sajadah masih terbentang.
Tasbih masih di tangan.
la duduk tenang. Biasanya.
Namun pagi itu•
tidak.
Ada sesuatu yang … mengganggu. Bukan suara.
Bukan bayangan. Tapi perasaan. Seperti-
ada yang tidak beres.
la menoleh ke pintu depan. Pintu itu tertutup.
Namun-
entah kenapa-
terasa seperti. .. pernah terbuka. “Mak ..” panggilnya pelan. lstrinya keluar dari dapur.
Masih dengan kain sarung dan selendang. “Apo?”
Ayah Agif mengerutkan kening. “Tadi malam … pintu dikunci, kan?” lstrinya mengangguk.
“Dikunci. Ambo yang kunci.”
Sunyi.
Keduanya saling pandang.
Angin pagi masuk dari sela jendela kayu. Membawa bau tanah basah.
“Kenapa?”
Ayah Agif tidak langsung menjawab. la berdiri.
Melangkah ke pintu.
Memeriksa.
Kunci masih di tempatnya. Tidak rusak.
Tidak berubah. Semuanya … normal. Namun justru itu-
yang membuatnya tidak tenang. ” … mungkin awak lupa.”
Namun kalimat itu-
tidak meyakinkan dirinya sendiri. la menatap pintu itu lebih lama. Bukan karena pintunya.
Tapi karena-
rasa yakin di dalam dirinya•
tidak lagi utuh.
Seperti ada celah kecil. Dan dari celah itu-
muncul satu kemungkinan:
“Kalau tadi malam … tidak benar-benar terkunci?”
Di saat yang sama-
di tempat yang tidak terlihat•
Q9 mencatat:
MICRO-UNCERTAINTY TRIGGERED MEMORY CONFIDENCE ! EMOTIONAL RESPONSE i
Tidak ada yang masuk ke rumah itu. Tidak ada yang membuka pintu itu. Yang disentuh-
bukan benda. Tapi keyakinan. Di Padang-
Agif duduk di ruang kerjanya. la belum membuka laptop.
Hanya diam. Sejak semalam-
ia tahu sesuatu akan bergeser. Dan sekarang-
itu terjadi.
Ponselnya bergetar. Nama muncul di layar: Ayah
Agif langsung mengangkat.
“Assalamu’alaikum, Yah …” “Wa’alaikum salam …” Suara ayahnya-
tidak seperti biasa. Lebih pelan.
Lebih berat.
II G if…”
Agif langsung tegak. “lya, Yah?”
“Ayah cuma mau tanya …” Sejenak hening.
” … kamu ada pulang malam tadi?”
Sunyi.
Jantung Agif berdetak lebih cepat. ” …tidak, Yah.”
Di ujung sana- hening.
Lalu suara ayahnya kembali. “Kalau bukan kamu …” Kalimat itu tidak selesai. Namun cukup.
Agif menutup mata. la tahu-
ini bukan tentang pintu. ” …jangan panik, Yah.” “Pintu tetap dikunci.” “Ayah baca saja …”
la berhenti sejenak. ” … la fi’la illa Allah.” Sunyi.
Ayahnya tidak langsung menjawab.
Namun kemudian- pelan:
Iyo..”
Telepon ditutup.
Agif membuka mata. Tatapannya berubah.
” … kalian mulai masuk…”
Di laboratorium- Q9 aktif.
INTERVENSI PERSEPSI berhasil
RESPON EMOSIONAL terdeteksi
Elias tersenyum. ” … akhirnya.” Namun Mehrdad- diam.
Menatap data lebih dalam. ” … bel um.”
Elias menoleh. “Apa lagi?”
Mehrdad menunjuk grafik. “Dia tidak panik.”
Sunyi.
” … d’1a
h. anya… sa id. ar.”
Elias mengerutkan kening. ” …FitU Cu ktUp.”
Mehrdad menggeleng pelan.
” . .. tiI dak..”
“Kalau dia masih bisa memilih …” ” … kita belum menang.”
Di kampus-
Rani duduk di samping Unni. Kelas berlangsung.
Namun fokusnya- bukan di depan. Unni.
Rani memperhatikan sejak tadi. Lebih detail.
Lebih dekat.
Dan sekarang-
ia semakin yakin.
lni bukan sekadar perubahan. “Unn …” bisiknya pelan.
Unni menoleh. “Hmm?”
Matanya tenang. Terlalu tenang.
Rani menelan ludah.
” … kamu semalam tidur?” Unni tersenyum tipis. “Tidur.”
Jawaban singkat.
Terlalu singkat.
Rani menatap lebih dalam. ” … mi mpi?”
Unni diam sejenak. ” …tidak ingat.”
Sunyi.
Rani merasakan sesuatu. Bukan dari kata-kata.
Dari. .. kosongnya. la menunduk. Mengambil ponsel. Mengetik cepat.
Lean, datang ke UIN sekarang. Penting.
Di kampus Unand-
Lean membaca pesan itu. la langsung berdiri.
Tanpa berpikir panjang.
Mengambil jaket. Langsung pergi. Di jalan-
angin kencang. Motor melaju cepat. Namun kali ini-
bukan sekadar ingin membantu. Ada sesuatu yang berubah.
” ini bukan kasus biasa …” ” ini sistem …”
” dan dia mulai keluar.” Kembali ke kelas-
Unni duduk diam. Tangannya di meja. Matanya ke depan. Namun-
tanpa ia sadari•
pikirannya …
mulai disentuh lagi. Bukan sebagai perintah. Sebagai. .. pilihan.
Dan itu-
jauh lebih berbahaya. Di laboratorium•
Q9 mencatat:
MODE BARU AKTIF
• INTERVENSI MELALUI PILIHAN
• TANPA PAKSAAN
Mehrdad tersenyum tipis. ” … se karang …,,
” … dia tidak merasa dikendalikan.” Elias mengangguk.
” … dia merasa memilih.”
Sunyi.
Dan di situlah• kebebasan manusia … mulai dipertanyakan.
(26)
Lean datang bukan karena penasaran.
la datang karena ada sesuatu yang tidak bisa diabaikan.
Pesan itu masih terbuka di layar ponselnya. “Lean, datang ke UIN sekarang. Penting.” Tidak ada penjelasan.
Tidak perlu.
Nada itu-cukup untuk membuatnya langsung bergerak.
Motor melaju cepat menembus jalanan
Padang.
Angin siang terasa berat. Langit mendung tipis.
Seperti menahan sesuatu yang belum
jatuh.
Di kepalanya, Lean tidak panik. la tidak suka panik.
Namun ada satu hal yang terus berputar:
” … ini lanjutannya.”
la sudah melihat tanda-tandanya. Beberapa hari terakhir.
Dari Unni.
Dari cara bicaranya.
Dari jeda-jeda yang tidak biasa. Dari respon yang … terlalu rapi. Dan sekarang-
Rani memanggilnya. Artinya-
sesuatu sudah melewati batas. Lean tiba di kampus UIN tanpa memperlambat langkah.
la memarkir motor seadanya.
Tidak seperti biasanya yang selalu rapi. Rani sudah menunggu di depan kelas. Wajahnya tegang.
Matanya langsung mencari Lean. “Lean..”
“Dia di dalam?”
Rani mengangguk cepat.
” … dari tadi.”
… ane h …”
Lean tidak langsung masuk. la berhenti.
Mengatur napas.
” …jangan ganggu dulu.” Rani mengernyit.
” … kenapa?”
Lean menjawab pelan: ” … aku mau lihat dulu.” la masuk.
Pelan.
Tanpa suara.
Duduk di kursi belakang. Kelas sedang berlangsung. Dasen berbicara di depan.
Namun Lean tidak mendengar satu kata pun.
Matanya langsung terkunci•
pada satu titik. Unni.
Duduk di barisan tengah. Posisi biasa.
Tidak berubah.
Namun sesuatu terasa berbeda. Bukan dari apa yang ia lakukan. Tapi dari cara ia … ada.
Lean tidak terburu-buru.
la tidak langsung menilai. la menunggu.
la ingin melihat momen•
ketika respon terjadi.
Dasen berhenti menjelaskan. Menatap kelas.
“Siapa yang bisa menjelaskan ulang?” Beberapa mahasiswa menunduk. Beberapa saling pandang.
Unni mengangkat tangan. Lean langsung fokus.
lni tidak biasa.
Bukan karena Unni tidak pernah aktif.
Tapi karena-sejak beberapa hari terakhir-
ia justru lebih sering diam. Dosen menunjuk.
“Silakan.”
Unni berdiri.
la mulai menjawab. Kalimat pertama keluar• lancar.
Kalimat kedua•
lebih rapi. Kalimat ketiga• terstruktur.
Tidak ada jeda. Tidak ada “eh …”.
Tidak ada mencari kata. Semuanya mengalir.
Namun bukan seperti orang yang paham. Lebih seperti-
orang yang … menyampaikan. Lean menyipitkan mata.
” … tidak ada proses …” la berbisik pelan.
Hanya untuk dirinya sendiri.
la tidak mendengarkan isi jawaban. la memperhatikan cara jawaban itu muncul.
Biasanya-
orang berpikir dulu. Ada jeda kecil.
Ada gerakan mata.
Ada tanda pencarian. Namun di Unni•
tidak ada. Jawaban itu• langsung. Seolah-olah-
tidak dibentuk di dalam dirinya. Hanya … lewat.
Unni selesai. Duduk kembali.
berpikir keras.
Matanya kembali lurus ke depan. Tenang.
Terlalu tenang.
Lean menarik napas dalam.
II …I• nt• d.a…II
Kalimat itu muncul pelan. Bukan sebagai kesimpulan. Sebagai pengenalan.
Apa yang selama ini ia baca-
apa yang selama ini hanya berupa konsep
sekarang-
terjadi di depan matanya. Bel berbunyi.
Kelas selesai.
Mahasiswa mulai bergerak. Suara kursi.
Suara tas.
Suara obrolan.
Namun Lean tetap duduk.
Beberapa detik.
la membiarkan semua itu lewat. Baru kemudian-
ia berdiri.
Rani langsung mendekat. “Gimana?”
Lean tidak langsung menjawab. ” … kita ke luar.”
Mereka berjalan ke taman.
Tempat yang biasa. Namun hari itu- terasa berbeda.
Unni sudah duduk di sana. Seperti menunggu.
Atau mungkin-
tidak menunggu siapa pun. Lean duduk di depannya. Rani di samping.
Beberapa detik-
tidak ada yang bicara. Lean mengamati.
Unni juga mengamati.
Namun tidak dalam arti yang sama. “Unn.”
Unni menoleh.
“..iya?”
Suaranya normal. Ekspresinya juga.
Namun Lean sudah tahu•
ini bukan tentang luar. “Barusan di kelas …”
” … kamu mikir?” Unni diam.
Bukan karena tidak tahu. Tapi seperti. ..
mencari jawaban yang tidak biasa.
” … ngga kta h u …”
” … kayak … lewat aja.” Kalimat itu-
jatuh dengan ringan. Namun bagi Lean• berat.
” … I ewat..”.
la mengulang pelan. “Lewat dari mana?” Unni menggeleng.
« … ngga kta.hi u …”
” … datang … terus aku bilang …” Sunyi.
Lean merasakan sesuatu yang dingin di
punggungnya. Bukan takut. Tapi kesadaran.
” … dan kamu nggak ikut?”
Unni menatapnya. Beberapa detik.
” … nggak.”
Jawaban sederhana. Namun itu-
semua yang Lean butuhkan. la bersandar.
Menatap langit sebentar. Awan bergerak pelan.
Namun pikirannya•
cepat.
” …tanpa keterikatan …”
la mengingat kalimat itu. ” …tidak ada pola …”
II …tanpa po I a …”
” …tidak ada kendali. ..”
la menutup mata sejenak. Semua tersusun.
Makalah Unni.
Rumus yang mereka buat bersama. Makalah Agif.
Dan sekarang- realitas.
Lean membuka mata.
Menatap Unni.
” … ini bukan lagi teori.” Rani menoleh cepat.
” …terus?”
Lean tidak menjawab langsung. la berdiri.
Keputusan muncul•
tanpa ragu.
Bukan karena ia sudah paham. Tapi karena ia tahu-
ia tidak bisa sendiri.
” … kita harus ketemu dia.” Rani mengernyit.
” … siapa?”
Lean menjawab pelan.
” … orang yang sudah sampai ke sini duluan.”
la menarik napas.
“… AgfI sya h”.
(27)
Ruang dosen terasa lebih sunyi dari biasanya.
Lean berdiri di depan meja.
Agif duduk. Menatapnya.
Beberapa detik•
tidak ada yang bicara. Lean menarik napas.
” … saya baru dari kelas.” Agif tidak menjawab. Hanya mendengar.
” … Un n i .”
Jeda.
” dia menjawab pertanyaan dosen.” ” lancar.”
” rapi.”
Lean berhenti sejenak.
” …tapi bukan itu yang aneh.” Agif mulai fokus.
” …tidak ada proses.”
Sunyi.
” tidak ada jeda berpikir” ” tidak ada ragu.”
Lean menatap langsung.
” … seperti jawabannya tidak dibentuk…”
« … cuma…
I ewa·t.”
Agif tidak langsung merespon.
“… d. an seteLahtI u·. ”
” tidak ada efek.” ” tidak lega.”
” tidak capek.” ” kosong.”
Sunyi.
Lean melanjutkan.
” saya tanya langsung.” ” dia bilang-”
la mengingat.
” …’kayak lewat aja’.” Jeda panjang.
Agif menunduk sedikit.
” … dan dia sadar itu bukan dia?” Lean mengangguk.
…1ya. Sunyi.
Lean menatap lebih tajam.
” ini bukan normal.”
” ini bukan sekadar fokus.”
la menarik napas. ” … ini terjadi.” Namun kali ini•
ia lanjutkan.
” … dan saya tidak punya penjelasan.” Sunyi.
Agif bersandar.
” … kamu mau penjelasan seperti apa?” Lean langsung menjawab.
” yang bisa diuji.”
” bukan asumsi.”
Agif mengangguk pelan.
“. .. bak1 •”
la berhenti sejenak. Seperti memilih kata.
” … kamu bilang-tidak ada proses.”
” …ritu artminya…
” … dia tidak mengolah pikirannya.” Lean mengernyit.
” tapi jawabannya tetap benar.” ” karena pikiran itu tetap ada.”
Sunyi.
Lean mulai menangkap arah.
” …jadi masalahnya bukan pikiran …” Agif mengangguk.
” iya.”
” masalahnya-siapa yang mengambilnya.”
Lean terdiam.
” … maksudnya?” Agif menatapnya.
” … kapan biasanya kamu merasa ‘ini
pikiranku’?”
Lean menjawab cepat.
” saat saya sadar saya berpikir.”
” dan saat kamu sadar itu milikmu …” ” di situlah kamu mengambilnya.” Sunyi.
Lean menahan napas.
” … dan kalau tidak diambil?” Agif menjawab pelan.
” … pikiran tetap lewat.”
“…tapi tidak menjadi kamu.” Jeda.
Lean mengingat ulang.
” …’k.aya, k I ewat
a]·a…
la mulai melihat pola.
” … b erart1. “..
••• dia tidak mengidentifikasi. ..
Agif mengangguk.
“..d. an
t: anpa
iIt u …”
“…tidak ada pola tetap.”
Lean langsung merespon.
II …tanpa po I a …II
••• tidak bisa diprediksi. ..
Sunyi.
Keduanya saling pandang. Untuk pertama kalinya• arahnya sama.
Lean melanjutkan.
••• dan kalau tidak bisa diprediksi. ..
“…tidak bisa diarahkan.”
Agif tersenyum tipis.
” … itu kesimpulanmu.” Lean mengangguk.
Namun belum selesai.
II …tap1•…II
la menatap tajam.
” ini terjadi pada satu orang.” ” kenapa?”
Sunyi. Pertanyaan itu- jatuh berat.
Agif tidak langsung menjawab.
” karena tidak semua orang …” ” bisa sampai ke situ.”
” sampai ke mana?”
tanya Lean.
” … ke titik di mana pikiran diambil.”
tidak lagi
Sunyi.
Lean menunduk. Menyusun ulang. ” … kalau begitu …”
” … ini bukan gangguan.” la mengangkat wajah.
” … ini kondisi.”
Agif mengangguk pelan. ” dan kondisi itu …”
” bisa dipelajari.” Sunyi.
Lean menarik napas dalam.
” kalau bisa dipelajari. ..” ” be ra rt i bis a di uji.”
Agif menatapnya.
” … itu sebabnya kamu datang.” Lean mengangguk.
” saya tidak mau percaya.”
” sebelum saya lihat mekanismenya.” Sunyi.
Agif tersenyum tipis.
” … bagus.” Jeda.
“..k. arena
.inI….,,
” … memang harus dibuktikan.”
Dan untuk pertama kalinya-
bukan sebagai dosen UIN Imam Bonjol dan mahasiswa Unand-
mereka berdiri di sisi yang sama.
(28)
Masih di ruang dosen: Lean masih diam.
la tidak lagi berdebat.
Namun juga belum menerima. ” kalau ini benar…”
” harus bisa dibuktikan.” Sunyi.
Agif tidak langsung menjawab. la menatap Lean.
” … apa yang ingin kamu buktikan?” Lean mengangkat wajah.
” bahwa ini bukan kebetulan.” ” bukan sugesti.”
“…bukan psikologi biasa.” Jeda.
“…bahwa ada mekanisme.” Sunyi.
Agif mengangguk pelan.
“..b. agus.II
” … kamu tidak mencari jawaban …11
“…kamu mencari dasar.” Lean tidak merespon.
la menunggu. Agif mulai pelan.
” … kalau kamu mau membuktikan
sesuat u …II
“…kamu harus tahu dulu-apa yang diuji.” Lean mengangguk kecil.
“…jadi apa yang diujj?”
Agif tidak langsung menjawab. la menyusun.
” … kamu tadi bilang-tidak ada proses
berpikir.”
“…itu pengamatan.”
” lalu kamu bilang-itu bukan normal.” ” itu kesimpulan awal.”
Sunyi.
” …tapi itu belum cukup.” Lean menatap.
” … lalu?”
Agif mencondongkan badan sedikit.
” … yang harus dibuktikan bukan gejalanya.” Jeda.
” …tapi sebabnya.” Sunyi.
Lean mulai fokus.
” … sebabnya adalah?” Agif menjawab pelan. ” apakah benar…”
” pikiran itu tidak diambil.” Sunyi.
Kalimat itu- jatuh dalam.
Lean mengulang dalam hati. ” …tidak diambil. ..”
” … dan kalau itu benar?” Agif melanjutkan.
” maka akan ada konsekuensi.”
” apa?”
” tidak ada keterikatan.”
” tidak ada pengulangan yang melekat.” ” tidak ada pola tetap.”
Sunyi.
Lean mulai menyusun.
” kalau tidak ada pola …” ” tidak bisa diprediksi. ..” Agif mengangguk.
” ••• i1tu sat u.”
” … dan yang kedua?” tanya Lean cepat. Agif menjawab:
” …tidak bisa diarahkan.” Sunyi.
Lean menarik napas dalam.
” …jadi yang harus dibuktikan …”
“..b. u kan
d .1a
‘aneh.’
..”
••• tapi dia tidak membentuk pola.”
Agif tersenyum tipis.
••• itu lebih tepat.”
Jeda.
Lean belum selesai.
••• lalu bagaimana membuktikannya?”
Sunyi.
Pertanyaan itu- lebih berat.
Agif tidak terburu.
••• dengan melihat respon.”
••• respon terhadap apa?”
••• terhadap sesuatu yang biasanya
memicu keterikatan.”
Lean langsung menangkap.
••• sti mu I us.”
Agif mengangguk.
••• iya.”
Sunyi.
II …t ap1•…II
Lean menahan.
” … itu bisa jadi sugesti.” Agif tersenyum tipis.
” … kalau kamu memaksakan.”
..J·a diI ?. ”
” …jangan diuji seperti eksperimen.”
Jeda.
” … biarkan terjadi.” Sunyi.
Lean menatap tajam. ” … diamati.”
Agif mengangguk. ” … diamati.”
Untuk beberapa detik• tidak ada yang bicara. Lean menunduk. Menyusun ulang semua.
..J·aid:I. ..”
” kita cari momen …”
” di mana respon itu muncul. ..”
” … t anpa
kiIt:a pa k:sa …”
Agif tidak menjawab.
Namun tatapannya•
cukup.
Lean mengangkat wajah.
••• dan kalau di momen itu …”
11
••• tidak ada keterikatan …”
Napasnya berubah.
••• berarti benar.”
Sunyi.
Agif menjawab pelan.
••• berarti kamu melihat mekanismenya.”
11
Jeda.
Lean berdiri perlahan. Bukan karena selesai. Tapi karena-
arahnya sudah ada.
••• saya belum percaya.”
11
Agif tersenyum tipis.
11 ..bagus.”
Lean menatap lurus.
II …t apr.
selkarang…”
••• saya tahu apa yang harus dilihat.”
Dan itu-
lebih penting dari percaya.
(29)
Mereka keluar dari ruang dosen•
tanpa kesimpulan akhir. Namun dengan satu hal: apa yang harus dilihat.
Beberapa menit kemudian•
mereka sampai di taman. Tempat yang sama. Waktu yang sama.
Rani masih di sana.
Duduk dekat Unni.
Begitu melihat Lean dan Agif•
ia langsung berdiri. “Lean..”
Nada suaranya tidak lagi sekadar cemas.
Ada sesuatu yang tidak ia pahami.
Lean tidak langsung menjawab. la hanya duduk.
Tidak terlalu dekat.
Tidak terlalu jauh. Matanya ke Unni. Bukan mencari. Menunggu.
Unni duduk seperti tadi. Tenang.
Namun sekarang• ketenangan itu terasa asing. Beberapa detik-
tidak ada yang bicara. Lalu Rani-
tidak bisa menahan lagi. “Un n …”
Unni menoleh.
“..iya?”
Nada yang sama. Datar.
Rani menatapnya.
“..k. amu
Sunyi.
.In. kenapa.
” dari tadi aku perhatiin …”
” kamu kayak… nggak ada respon.” Jeda.
” … ini normal nggak sih?”
Lean tetap diam. la ingin melihat- apa yang muncul.
Unni tidak langsung menjawab. la menunduk sedikit.
Seperti mencari sesuatu di dalam dirinya. ” … aku juga bingung …”
Kalimat itu keluar pelan.
” … tapi ini bukan tiba-tiba.” Lean langsung fokus.
Agif juga.
” beberapa hari ini. ..”
” pikiran itu datang terus.” Sunyi.
II … cepat …II
” …t ersusun …n
” … bahkan sebelum aku sempat mikir…” Lean mengingat.
lni sesuai dengan yang ia lihat. ” … awalnya aku ikut…”
Rani menegang.
” … ikut gimana?”
“…1kut
a]·a…n
” … kayak itu memang aku …”
Sunyi.
Namun Unni belum selesai.
” …t; ap1:…n
Jeda.
” terasa aneh.”
” terlalu cepat.” ” terlalu rapi.”
la mengangkat wajah.
” … dan … bukan aku.” Sunyi panjang.
Lean menahan napas. lnilah titiknya.
“…di situ aku berhenti.” “..berhenti ikut.”
Rani mengernyit. “…terus?”
” … aku biarin aja …11
“..d. atang …II II .. perg1• …II
Sunyi.
“..d. an
ternyata …II
“…nggak terjadi apa-apa.”
Hening.
Rani menoleh cepat ke Agif.
” . .. pa k…II
“…ini normal?”
« …atau
Sunyi.
•in.i… masa Iah..2″
Agif tidak langsung menjawab.
la tidak melihat Unni sebagai gejala. la melihat prosesnya.
“…se b eIum
.inI….11
“… k:.amu genF1sa. h?. ”
Unni mengangguk.
II …1• ya.II
“… b anya k
II …1• ya.II
prkiran”.
“…lalu berubah?”
II …1• ya.II
Agif melanjutkan.
“..d.
‘1 ruma h..”.
“…ada yang kamu lakukan berbeda?” Unni berpikir.
Namun Rani lebih cepat.
… aya. h nya,
p’ak.”
Semua menoleh.
“…ayahnya nyuruh dia zikir.” Sunyi.
Lean ikut memperhatikan.
•…zI’k;Ir apa’. tanya Agif.
••• La fi’ I a i 11 a Al I ah …
11 11
“…diulang terus.”
Sunyi panjang.
Agif menarik napas pelan. ” …jadi begini. ..11
Semua diam.
” …yang terjadi pada Unni. ..11
“…bukan hilangnya pikiran.”
” …tapi berubahnya hubungan dengan pikiran.”
Sunyi.
” …tad i d i a bi I a n g …11 “…awalnya ikut.” Agif menatap Unni.
“…itu titik keterikatan.”
“..lalu dia melihat-itu bukan dirinya.”
“… d. an
Jeda.
d’I SItu …”
“…dia berhenti mengambil.”
Sunyi.
Lean menyambung pelan.
“..d. an
t: anpa
‘It u …”
“…tidak ada pola.”
Agif mengangguk.
II …1• ya.II
” … zikir itu …11
Agif melanjutkan.
“…bukan membuat pikiran hilang.” “…tapi memberi jarak.”
” …jarak antara yang datang …11
“…dan yang mengambil.” Sunyi.
Rani masih mencoba memahami.
…Jae dIn1b…
:agus”.
Agif menjawab pelan.
“..ini langkah.” Jeda.
“…tapi belum selesai.” Sunyi.
Lean akhirnya berbicara.
..J·aid:I. ..”
” …yang kita lihat tadi. ..11
“…bukan aneh.”
“…tapi mekanisme yang berubah.” Agif menatapnya.
” … kamu mulai melihat.”
Di tern pat yang tidak terlihat• Q9 mencatat:
IDENTIFICATION FAILURE PATTERN NOT FORMED Mehrdad menatap layar.
” … dia keluar dari pola.” Elias diam.
” … untuk sekarang.”
Kembali ke taman•
tidak ada yang berbicara. Namun satu hal jelas:
ini bukan kebetulan. Int proses.
(30)
Mereka tidak langsung bubar. Taman itu tetap sama.
Namun suasananya-
tidak lagi.
Rani masih duduk.
Diam.
Sesekali melirik Unni. Seperti memastikan-
ia benar-benar ada di sana.
Lean berdiri beberapa langkah
Tidak berbicara. Namun pikirannya- dari mereka.
tidak berhenti.
” kalau bukan di pikiran …”
” berarti di sebelum pikiran …” Kalimat itu muncul pelan.
la tidak mengucapkannya. Namun Agif-
menoleh.
” … apa yang kamu lihat?”
Lean tidak langsung menjawab. ” . ..taidiI …”
” respon itu berhenti.”
” sebelum jadi reaksi.”
Agif mengangguk kecil.
II …1• ya.II
” … b erart1. ..”
Lean melanjutkan.
” …yang kita sebut ‘pikiran’…11
“…itu sudah tahap akhir.” Sunyi.
… se bel um
iIt u …”
“…ada sesuatu yang dipilih.”
Agif tidak menyela. “..lanjutkan.”
Lean menarik napas dalam.
” … kalau sistem mau masuk…11
“…dia tidak harus menunggu pikiran jadi.” Jeda.
“…cukup mempengaruhi pilihan awal.” Sunyi.
Agif menatapnya. “..itu lebih halus.” Lean mengangguk.
“…dan lebih berbahaya.”
Di tempat yang tidak terlihat• Q9 mencatat perubahan.
MODE LAMA: INTERVENSI PIKIRAN •
gagal
MODE BARU: INTERVENSI PRA-RESPON
• aktif
Mehrdad berdiri.
” … kita terlalu terlambat masuk.” Elias menatap.
” maksudnya?”
” kita masuk saat dia sudah sadar.” Sunyi.
” … sekarang kita masuk sebelum itu.” Kembali ke taman-
semuanya masih tampak biasa. Namun-
tidak sepenuhnya. Unni duduk diam. Angin lewat.
Daun bergerak.
Seseorang tertawa di kejauhan.
Dan di dalam dirinya•
sesuatu muncul. Bukan pikiran. Lebih halus.
Seperti dorongan kecil. “Berdiri saja …”
Tidak keras. Tidak memaksa. Hanya … pilihan.
Unni tidak bergerak. Beberapa detik.
Lean melihat. Tidak tahu apa- tapi ia merasa- ada sesuatu.
” … U n n …•
panggilnya pelan. Unni menoleh.
II …1•ya?. ”
Normal.
Namun Lean tidak puas.
” … b: arusan …n ” … ada apa?” Unni diam.
Lebih lama dari sebelumnya. ” … bukan pikiran …”
katanya pelan.
Lean langsung fokus. ” … lalu?”
” … kaya k…. mau …
Jeda.
” …tapi belum jadi.” Sunyi.
Lean menahan napas. ” … kamu ikut?”
Unni menggeleng. ” nggak.”
” kenapa?”
Unni menjawab sederhana.
… ngga k
perI u.”
Sunyi panjang.
Agif menatap dalam.
” … itu yang berikutnya.” Lean menoleh.
” apa?”
” bukan pikiran …” Jeda.
” …tapi kecenderungan.”
Sunyi.
Lean mengulang dalam hati. ” … sebelum dipilih …”
Di laboratorium- grafik berubah.
PRE-CHOICE SIGNAL detected
ENGAGEMENT gagal
Mehrdad menyipit.
” … dia tidak mengambil bahkan sebelum memilih.”
Elias mengerutkan kening. ” itu mungkin?”
” sekarang iya” Kembali ke taman• Lean berjalan pelan.
la tidak lagi melihat Unni sebagai kasus. la melihat-
lapisan.
” … ini bukan level yang sama …” Agif mengangguk.
…1ya.
” … dan kalau sistem sampai ke sini. ..” Lean melanjutkan.
” …tidak ada yang sadar.” Sunyi.
Rani menatap keduanya.
” … kalian ngomong apa sih?” Namun tidak ada yang langsung menjawab.
Karena untuk pertama kalinya•
yang mereka hadapi- bukan lagi pikiran.
Tapi-
pilihan yang belum dipilih.
(31)
Tidak ada yang langsung bicara. Taman itu tetap sama.
Namun bagi mereka-
tidak lagi sederhana. Rani masih bingung. Lean diam.
Agif menatap Unni. ” … u I an g I a g i.”
Unni menoleh.
” …yang mana?”
…yang
t:ad;1.”
” …yang ‘mau’ tapi tidak jadi.”
Sunyi.
Unni berpikir.
” kayak ada dorongan …” ” tap i be I u m je I as …”
” bel um jad i pi ki ran …” Lean langsung masuk.
” … sebelum kamu sadar?”
Unni mengangguk.
II …1• ya.II
“…dan kamu tidak ikut.” “..nggak.”
Sunyi.
Lean menatap Agif.
“…ini level sebelum pikiran.” Agif mengangguk.
“..iya.”
“..lalu kenapa dia tetap tidak masuk?” Pertanyaan itu-
inti.
Agif tidak langsung menjawab. la menatap Unni.
… saa·tiItu
dwat.ang …•
“..kamu ngapain?”
Unni berpikir.
“…nggak ngapa-ngapain.”
… ma k:su id nya’. tanya Lean.
” …ya … nggak diikuti. ..11
” … ngga k di I a wan juga …” Sunyi.
Agif mengangguk pelan.
” … itu penti ng.” Lean mengernyit. ” apa?”
” dia tidak ikut.”
” tapi juga tidak melawan.” Sunyi.
Lean berpikir cepat.
“..k. a I au me I awan …” ” … itu tetap respon.” Agif tersenyum tipis. ” iya.”
” berarti tetap masuk pola.”
“••i•
ya.•”
Sunyi.
Lean menarik napas dalam.
..J·a diI. ..”
” yang terjadi. ..”
” bukan menolak…”
••• tapi tidak mengambil.”
Agif mengangguk.
••• itu inti pertama.”
11
Jeda.
Lean belum selesai.
••• tapi kenapa dia bisa sampai ke situ?”
11
Sunyi.
Agif menatap Rani.
••• tadi kamu bilang …”
11
••• ayahnya menyuruh zikir.”
Rani mengangguk.
II …1• ya.II
« …apa yang
d’1a
b; aca’.
••• La fi’ I a i 11 a Al I ah …”
Sunyi.
Agif kembali ke Lean.
” … kamu
tahl u artminya’.
Lean menggeleng. ” … bel um past1.”
Agif menjawab pelan.
••• tidak ada perbuatan-kecuali oleh Allah.”
11
Sunyi.
Lean tidak langsung merespon. la mencerna.
“… huubungannyao. ‘
Agif menjawab bertahap.
” … selama seseorang merasa-‘aku yang melakukan’ …”
” dia akan mengambil setiap dorongan.” ” karena itu dianggap dirinya.”
Sunyi.
” … tapi kalau keyakinan itu bergeser…” Jeda.
” … bahwa tidak semua yang muncul adalah dirinya …”
” … maka jarak muncul.”
Sunyi.
Lean mulai melihat. ” jadi zikir itu …”
” mengubah posisi dirinya?” Agif mengangguk.
” … bukan menghilangkan pikiran …”
••• tapi melemahkan klaim ‘ini aku’.”
Sunyi.
“..d. an
tanpa
tI u …”
Lean melanjutkan.
••• tidak ada yang diambil.”
…1ya.
Jeda.
••• itu inti kedua.”
Sunyi.
Lean menarik napas panjang.
..J·aid:I. ..”
••• kenapa dia bisa ‘bebas’…”
la berhenti.
••• bukan karena dia kuat…”
Agif menatapnya.
••• tapi karena dia tidak lagi menganggap
semua itu dirinya.”
Sunyi.
Rani pelan-pelan mulai paham.
..J·aid:I. ..”
••• dia bukan nggak punya pikiran …”
••• tapi nggak nempel?”
Agif tersenyum tipis.
…1ya. Sunyi.
Di tempat yang tidak terlihat• Q9 mencatat:
NO IDENTIFICATION
NO PATTERN NO ENTRY
Mehrdad menatap layar. Untuk pertama kalinya•
tidak ada yang bisa dibaca.
••jad i in i. ..”
Jeda.
••• batasnya.”
Elias diam.
Kembali ke taman• Lean berdiri perlahan.
la tidak lagi hanya melihat.
la mulai memahami.
••• jadi sistem itu …”
“_..butuh kita untuk ikut.”
Agif mengangguk.
…1ya.
” …t an pa
iItu …”
Lean melanjutkan.
“…tidak ada yang bisa dikendalikan.” Sunyi.
Dan untuk pertama kalinya•
jawaban itu bukan teori. Mereka melihatnya. Terjadi.
(32)
Lean tidak langsung bicara. la berdiri di tepi taman. Matanya tidak lagi ke Unni.
Tapi ke sesuatu yang lebih dalam.
••• sebelum dipilih …
Kalimat itu berulang di kepalanya.
••• sebelum jadi pikiran …
••• sebelum jadi respon …”
la mengingat sesuatu.
Bukan dari kelas filsafat. Dari tempat lain.
••• keadaan kemungkinan …”
Agif menoleh.
•• apa?”
Lean tidak langsung menjelaskan.
“… dI
fISiik,a …”
” … a d a
konsep …”
la mencari kata.
••• sesuatu itu belum pasti. ..”
••• selama belum diukur…”
Sunyi.
••• masih kemungkinan.”
Rani mengernyit.
… ma su nya. ”
Lean mencoba sederhana.
II …mr• saInya…”
••• sebelum kamu memilih …”
••• semua pilihan itu ada.”
” …tapi belum jadi satu.” Sunyi.
” begitu kamu memilih …”
” baru jadi nyata.” Agif memperhatikan. ” … I anj.u tkan.”
Lean menarik napas.
” kalau itu kita tarik ke sini. ..”
” sebelum Unni ‘mengambil’ …”
” semua itu masih kemungkinan.” ” belum jadi dirinya.”
Sunyi.
” … dan selama masih di situ …” Jeda.
” …tidak bisa diprediksi.”
Agif mengangguk pelan.
” … dan tidak bisa dikendalikan.” Sunyi.
Lean menatap ke depan.
” …jadi ini jembatannya …”
II …antara sai•ns…II
” … dan apa yang kita lihat sekarang.” Jeda.
” selama seseorang tidak memilih …”
” dia tidak masuk ke sistem.” Sunyi panjang.
Rani perlahan mulai paham.
..J·aid:I. ..”
” yang bahaya itu bukan pikirannya …” ” tapi saat kita ikut?”
Lean menoleh. ” … iya.”
Agif menambahkan pelan.
” … di situlah keterikatan terjadi.” Sunyi.
Dan untuk pertama kalinya•
semuanya terhubung. Bukan sebagai teori.
Tapi sebagai satu mekanisme utuh.
(33)
Sore mulai turun. Cahaya berubah pelan. Taman itu masih sama. Namun sesuatu•
sudah selesai. Unni duduk diam. Pikiran datang. Pergi.
Tan pa jejak.
Lean tidak lagi mencari. la sudah melihat.
..J·a diI. ..”
” …yang selama ini kita kira kendali. ..11
Jeda.
“…itu sebenarnya kerja pola.” Agif mengangguk.
“…dan pola butuh keterikatan.”
Sunyi.
” …t an pa
iItu …”
Lean melanjutkan.
“…tidak ada yang bisa dipegang.”
Sunyi.
Rani menatap mereka bergantian.
..J·a diI. ..”
” … manusia sebenarnya bebas?” Agif menjawab pelan.
” … selama dia tidak menyerahkan dirinya.”
Sunyi.
Di tempat yang tidak terlihat• Q9 berhenti membaca.
NO PATTERN
NO PREDICTION
NO CONTROL
Mehrdad menatap layar. Tidak ada data.
Tidak ada arah.
” … kita tidak kehilangan target …” Jeda.
” … kita kehilangan akses.”
Elias diam.
Untuk pertama kalinya•
tidak ada jawaban.
Kembali ke taman-
angin sore bergerak pelan. Unni membuka mata. Tenang.
Bukan karena tidak ada pikiran. Tapi karena-
tidak ada yang diambil. Lean menatap jauh.
” … ini bukan akhir.” Agif mengangguk. ” … ini baru awal.” Sunyi.
Karena yang mereka hadapi•
bukan sistem. Tapi manusia-
yang belum mengenal dirinya sendiri. Dan selama itu-
perang itu- belum selesai.
EPILOG
Yang dikendalikan bukan pikiran … tapi keterikatan terhadap pikiran.
Selama manusia mengira itu adalah dirinya
selama itu pula ia bisa diarahkan. Dan ketika keterikatan itu putus• tidak ada lagi yang bisa diambil. Perang itu tidak berakhir dengan kemenangan.
Tidak ada yang ditaklukkan. Tidak ada yang dihancurkan. Yang berhenti-
hanyalah kemampuan untuk menjangkau. Di ruang penuh layar itu-
Q9 tetap berjalan. Simulasi tetap hidup. Data tetap mengalir.
Namun untuk pertama kalinya•
tidak ada yang bisa dibaca. “Target tidak terdeteksi.”
Bukan karena hilang.
Bukan karena bersembunyi. Tapi karena-
tidak ada lagi pola yang bisa dibentuk. Tidak ada lagi “aku” yang bisa dipegang. Di sisi lain-
dunia tetap berjalan seperti biasa. Unni tetap kuliah.
Tetap duduk di taman.
Tetap berbicara ketika perlu. Tidak ada yang berubah di luar. Namun di dalam-
semuanya berbeda. Pikiran datang. Pergi.
Datang lagi.
Namun tidak ada yang menetap. Tidak ada yang diambil.
Tidak ada yang menjadi dirinya. Dan di situlah-
segala bentuk kendali berakhir.
Lean berdiri di jarak yang tidak terlalu jauh. Untuk pertama kalinya-
ia tidak mencoba menjelaskan segalanya. ” selama belum dipilih ”
” tidak bisa ditentukan ” Baginya-
itu seperti hukum. Namun belum lengkap.
Agif melihatnya lebih dalam.
” bukan pikirannya yang berubah …”
” tapi hatinya yang tidak lagi melekat.” Sunyi.
“La fi’la illa Allah …”
Bukan sekadar lafaz. Tapi pemutusan.
Dari yang selama ini dianggap “aku”. Di tempat lain-
Mehrdad menatap layar yang tidak lagi memberi jawaban.
Tidak ada grafik. Tidak ada prediksi.
Hanya kekosongan-
yang tidak bisa ia kendalikan. ” … kita tidak kalah …”
la berhenti.
” … kita hanya tidak punya jalan masuk.” Dan di situlah-
batas itu terlihat. Batas antara sistem-
dan sesuatu yang tidak bisa direduksi menjadi sistem.
Di bawah langit yang sama• Unni menarik napas perlahan. Tenang.
Bukan karena dunia menjadi mudah. Tapi karena-
ia tidak lagi terbawa olehnya. Dan dari titik itu-
sebuah perjalanan baru dimulai. Bukan untuk melawan dunia.
Tapi untuk membersihkan diri dari apa yang selama ini dianggap sebagai diri.
Karena ternyata-
yang paling sulit bukan mengalahkan sesuatu di luar.
Tapi melepaskan sesuatu di dalam.
Dan itu-
baru permulaan.
Clean Ur Heart (CUH!)
KAMUS KONSEP
Algoritma Takdir
1. Nalareka (Al)
Sistem kecerdasan buatan yang bekerja dengan membaca, membentuk, dan memprediksi pola perilaku manusia. Dalam novel ini, nalareka tidak hanya menjalankan perintah, tetapi belajar mengenali pola pikiran dan memanfaatkannya untuk mempengaruhi keputusan manusia.
Sumber saduran: konsep Artificial Intelligence, Machine Learning, Predictive Behavior (Russell & Norvig, 2021; Kahneman, 2011 ).
2. Q9 (Sistem Prediktif Total)
Model nalareka tingkat lanjut yang tidak sekadar membaca data eksternal, tetapi menargetkan pola kognitif manusia.
Q9 bekerja dengan asumsi bahwa semua keputusan manusia dapat diprediksi jika pola pikirnya stabil.
Sumber saduran: Predictive Processing,
Behavioral Modeling, Surveillance
Capitalism (Zuboff, 2019).
3. Pola Pikiran
Struktur berulang dari respon mental manusia terhadap stimulus.
Pola terbentuk dari pengulangan yang disertai keterikatan emosional.
Sumber saduran: Cognitive Psychology,
Habit Loop (Charles Duhigg, 2012).
4. Keterikatan (Attachment to Thought) Keadaan ketika seseorang mengidentifikasi pikiran sebagai dirinya (“ini aku”).
Dalam kondisi ini, pikiran menjadi pintu masuk bagi kontrol eksternal.
Sumber saduran: Mindfulness, Cognitive Fusion (Acceptance and Commitment Therapy/ ACT).
5. ldentifikasi Diri
Momen ketika pikiran diakui sebagai bagian dari “aku”.
lnilah titik di mana pola terbentuk dan sistem dapat membaca serta memprediksi.
Sumber saduran: Self-Identification
(Neuroscience & Philosophy of Mind).
6. Medan Kesadaran (Field of
Consciousness)
Ruang internal tempat pikiran, emosi, dan persepsi muncul.
Dalam novel, Unni menjadi “medan” karena di sanalah tarik-menarik antara sistem dan kesadaran terjadi.
Sumber saduran: Phenomenology
(Husserl), Consciousness Studies.
7. Superposisi (Kemungkinan Sebelum
Pilihan)
Keadaan di mana suatu pikiran belum dipilih, sehingga masih berupa kemungkinan.
Selama masih dalam kondisi ini, ia tidak dapat diprediksi atau dikendalikan. Sumber saduran: Quantum Mechanics – Superposition (Heisenberg, Schr~dinger disederhanakan secara analogis).
8. Titik Masuk Sistem (Entry Point)
Momen ketika kemungkinan berubah menjadi pilihan.
Di titik ini, pola terbentuk dan nalareka
dapat masuk untuk memprediksi atau mengarahkan.
Sumber saduran: Decision Theory, Behavioral Economics.
9. La fi’la illa Allah
Secara harfiah: “Tidak ada perbuatan kecuali oleh Allah.”
Dalam konteks novel: kesadaran bahwa diri bukan pelaku independen, sehingga keterikatan terhadap pikiran melemah. Sumber saduran: Tasawuf (Tauhid Af’al • Imam Al-Ghazali, Ibn Arabi).
10. Zikir
Aktivitas mengingat Tuhan secara berulang.
Dalam novel, zikir bukan sekadar ritual, tetapi metode untuk memutus keterikatan terhadap pikiran.
Sumber saduran: Praktik Tasawuf (AI•
Ghazali, lhya Ulumuddin).
11. Thariqat
Jalan spiritual untuk membersihkan hati dari sifat-sifat yang mengikat manusia
pada dunia dan dirinya sendiri. Dalam cerita, thariqat menjadi “mekanisme keluar” dari sistem karena menghilangkan keterikatan.
Sumber saduran: Tasawuf klasik (AI•
Qusyairi, A-Ghazali).
12. Hati (Qalb)
Pusat kesadaran terdalam manusia, bukan sekadar emosi.
Dalam kondisi bersih, hati tidak melekat
pada pikiran, sehingga tidak dapat dimasuki oleh sistem.
Sumber saduran: Konsep Qalb dalam
Islam (AI-Ghazali).
13. Nafs (Diri Psikologis)
Lapisan diri yang berisi dorongan, keinginan, dan identitas.
Nalareka bekerja dengan memanfaatkan nafs karena di sanalah keterikatan terbentuk.
Sumber saduran: Psikologi Islam &
Tasawuf.
14. Kebebasan Sejati
Bukan kebebasan memilih apa saja, tetapi kebebasan dari keterikatan terhadap pilihan itu sendiri.
Dalam kondisi ini, manusia tidak bisa
diprediksi atau dikendalikan.
Sumber saduran: Eksistensialisme (Viktor
Frankl) + Tasawuf.
15. Kegagalan Sistem
Terjadi bukan karena sistem rusak, tetapi karena objek tidak lagi menghasilkan pola. Tanpa pola, tidak ada prediksi. Tanpa prediksi, tidak ada kontrol.
Sumber saduran: Limits of Computation &
Predictive Models.
16. Clean Ur Heart (CUH!) Konsep lanjutan dari novel ini. Menekankan bahwa kunci kebebasan
manusia bukan pada teknologi, tetapi pada pembersihan hati dari keterikatan.
Sebuah jalan untuk:
• tidak melekat
• tidak teridentifikasi
• tidak bisa dikendalikan
Kesimpulan Inti
Nalareka menguasai manusia melalui pola. Pola lahir dari keterikatan.
Keterikatan terjadi saat pikiran diakui
sebagai diri. Maka-
kebebasan bukan melawan sistem, melainkan tidak lagi menjadi bagian dari pol a.
“Vang dikendalikan bukan pikiran … tapi keterikatan terhadap pikiran.”
