Ruang Hati Jack Sangir
(Novel TE)
Prolog:
(Dari novel Simpang Hati Luna Sangir)
Celaka! Bila markas paling rahasia itu pun diketahui oleh lelaki asing itu, sama saja dengan penghentian permanen operasi mereka.
Jack menarik nafas. Sungguh berat tugasnya. Mencari Luna itu tidaklah gampang!
Lalu, tiga orang temannya itu pun adalah tanggungjawab dirinya untuk menyelamatkan.
Dia terhenyak duduk di kursi yang ditinggalkan Mitchael Bonn.
Perlahan-lahan, dia merasa ada aroma bunga cempaka mendekat. Dan semakin dekat.
Sekarang laki-laki bernama kecil Amir itu merasa dikerubungi aroma bunga cempaka. Aroma itu serasa merasuk ke paru-paru. Juga merayap ke syaraf-syaraf.
Setelahnya, Jack serasa dibawa ke alam mimpi. Nun jauh di Gunung Kerinci…
Kesatu:
Solok Selatan
Amir sebenarnya bukan anak yang nakal. Bahkan sebaliknya, dia anak yang suka menolong dan setia kawan.
Karena sifat setia kawan lah Amir sering berkelahi. Baik di sekolah, atau di surau, bahkan di pasar, Amir kerap berkelahi.
Sekali lagi, bukan karena dia nakal. Tetapi ada-ada saja yang membuat Amir adu jotos.
Sekali waktu dia berantam dengan Marto. Sebabnya lantaran Rudi, teman sebangkunya, dibully kakak kelas mereka–Marto. Waktu itu Amir kelas IV SD. Marto, anak kelas VI acapkali mengancam Rudi agar membagi uang jajan.
Dasar penakut, Rudi terpaksa membayar kepenakutannya dengan uang. Karena Rudi anak tunggal, dan bapaknya mandor lapangan di perkebunan itu, tentu saja dia selalu diberi uang jajan yang cukup. Bahkan lebih.
Ini diketahui Marto. Sehingga tiap hari Rudi menyetor uang pada Marto–anak dengan badan paling besar di sekolah mereka.
Selama ini Amir tidak tahu bahwa teman sebangkunya itu jadi ladang pemaksaan Marto.
Namun, siang itu, Rudi menangis di belakang sekolah. Amir yang kebetulan lewat di situ melihat Rudi meringkuk kesakitan, sambil menangis.
“Kamu kenapa?”
Rudi tak menjawab. Tapi dia mengangkat muka, menengadah melihat Amir.
“Haaa…hidung kamu berdarah. Pipi kamu bengkak. Ada apa? Siapa yang memukul?”
Rudi tetap diam. Teringat Marto yang besar dan hitam itu, Rudi makin ciut nyalinya. Tapi tangisnya tak berhenti.
Amir duduk di samping teman sebangkunya itu. Dia memang tak bisa membujuk orang. Tetapi dia tidak tega meninggalkan Rudi yang sedang menangis.
Tiba-tiba datang Marto dengan dua temannya. Bertiga mereka tergelak-gelak sambil menyedot es tontong dalam plastik panjang.
“Heiii…kamu masih punya uang? Kami mau beli bakwan,” ujar Dede, satu dari dua teman yang mengiringi Marto.
Rudi diam saja. Bahkan makin ketakutan!
Amir memandang mereka,”Kalian yang memukul Rudi?”
Dede yang menjawab,”Iya. Kamu mau apa?”
Amir melihat gelagat tidak baik. Namun berusaha tetap tenang. “Tak apa-apa. Aku hanya mau tahu, kenapa kalian memukulnya?”
Marto berjalan ke arah mereka. Diikuti dua pengiringnya.
Amir berdiri. Mereka saling berhadapan!
“Kamu Amir kan? Yang katanya paling jago di kelas IV,” ujar Marto dengan muka garang.
“Benar. Aku Amir. Dan aku mau tanya, apakah kalian yang memukul Rudi,” jawab Amir dengan tenang.
“Jika iya, kamu mau apa?”
Belum selesai bicara, Marto sudah melayangkan tendangan yang diikuti dengan tinju. Tendangan mengarah ke perut, tinju menyasar muka!
Amir menggeser tegak ke kiri, tendangan luput. Saat kaki kanan Marto belum sempat menginjak tanah, Amir menyapu kaki kiri anak hitam keling itu!
Brukkk… Marto jatuh. Hanya dalam satu gebrakan.
Dua temannya melongo. Bersiap untuk mengeroyok. Namun urung. Karena Amir sudah menyandera Marto dengan menduduki punggung dengan bertumpu pada lutut. Sedangkan kepala Marto terangkat gara-gara telinganya ditarik ke belakang!
Meskipun ketakutan, namun melihat Marto kesakitan dan hilang akal buat melepaskan diri, tak pelak Rudi tersenyum senang.
“Mulai hari ini, kamu tak boleh mengganggu Rudi. Awas kalau masih kamu ulangi,” gertak Amir sambil berdiri melepaskan tindihan lutut di kuduk Marto.
Begitu lepas, Marto bergegas tegak. Bercampur malu dan heran, secepat kilat dia menubruk Amir. Mungkin dia ingin menyudahi perkelahian itu dengan memanfaatkan tubuhnya yang besar dan kuat.
Dia menyangka Amir akan mudah diringkus. Ternyata keliru.
Dengan menggeser tegak ke kanan, tubrukan itu luput. Justru badan Marto yang meluncur.
Brukkk…
Marto tersungkur buruk. Dan lebih buruk lagi karena anak hitam legam itu tengkurap ke tumpukan sampah!
Kali ini Rudi tak mampu menahan tawa. Lupa akan hidungnya yang berdarah, dia melepaskan tawanya sambil menunjuk Marto dengan geli.
Dua teman Marto susah payah menahan geli.
Sedangkan Marto yang pening, berusaha untuk tegak. Lalu tanpa melihat Amir dan Rudi, dia berlalu tertatih-tatih.
Amir membiarkan saja. Lonceng berbunyi. Amir dan Rudi beriringan masuk kelas.
“Terima kasih Mir,” ujar Rudi.
“Memang ada apa tadi, sehingga dia memukulmu?”
“Pagi tadi aku sudah beri dia duit. Saat istirahat tadi, dia minta lagi. Tapi aku tak mau. Lalu dia langsung memukul.”
“Hmmm…dan kamu tidak membalas?”
Rudi melirik Amir. “Aku takut. Badannya besar.”
Amir tertawa. “Mudah-mudahan dia jera. Dan tak menganggumu lagi,” ujar Amir sambil duduk di bangkunya.
Rudi mengangguk. Dan duduk pula di bangkunya di sebelah Amir. Mereka memang sebangku.
Lain halnya dengan Marto. Anak itu tidak masuk kelas. Dia cabut. Dengan bergegas, dia menuju pos ronda di luar gerbang sekolah.
Pos ronda itu sebenarnya adalah tempat kumpul-kumpul remaja-remaja tanggung anak para pekerja perkebunan. Di situ mereka bebas untuk merokok, berjudi atau sekedar bercarut-carut dan mengumpat satu sama lain.
Karena pos ronda terletak di pusat keramaian–dekat sekolah, tidak jauh dari pasar dan lapangan bola–maka tempat itu menjadi markas berkumpulnya remaja tanggung dari seantero komplek perumahan karyawan.
Daerah itu adalah kawasan perkebunan sawit. Terbentang dari Sungai Kunik di Kabupaten Solok Selatan, hingga Sungai Rumbai Kabupaten Dharmasraya dan Rantau Ikil, Kecamatan Jujuhan, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi. Saat ini, mungkin sekira 200 ribu hektar lebih kawasan itu sudah dipenuhi pohon kelapa sawit yang mulai ditanam sejak tahun 1990-an yang lalu.
Kawasan yang sudah menjadi belantara sawit itu, memang tidak seluruhnya datar. Bahkan perbukitan juga. Tapi semua bukit itu sudah menjadi belantara sawit. Termasuk kawasan Bukik Batu.
Namun, arah ke timur laut, ada Bukit Sembilan–yang menjadi batas Dharmasraya, Solok Selatan dan Bungo–yang tidak ditanami sawit. Mungkin karena bukit itu penuh batu dan gersang tanahnya.
Di timur Bukit Sembilan, ada Gunung Tujuh yang berdiri di sisi kiri Gunung Kerinci yang terkenal itu.
Jika dilihat dari udara, tampak Bukit Sembilan ibarat “para dubalang pengawal Gunung Kerinci” dan Gunung Tujuh adalah “para menteri” sebagai jembatan sebelum sampai ke “sang raja”–Gunung Kerinci.
Berkenaan dengan perkebunan sawit, kawasan Sumatera Barat (Solok Selatan–bahkan sudah dimulai sebelum mekar, dan masih bergabung dengan Kabupaten Solok, Dharmasraya yang masih bagian dari Kabupaten Sijunjung) dan Bungo, Provinsi Jambi memang memiliki klimatologi dan tanah yang sesuai untuk budidaya kelapa sawit. Sehingga selain perkebunan milik pemerintah, ada belasan perkebunan swasta nasional, bahkan swasta asing ada di sini.
Tiap-tiap perkebunan menyediakan mess atau barak bagi karyawan yang bujangan. Dan puluhan komplek perumahan yang tersebar di sela-sela kebun sawit.
Namun, hanya ada satu pasar yang permanen. Maksudnya pasar yang didatangi para karyawan dari belasan perusahaan perkebunan. Dan juga ada SD dan SMP.
Baik pasar, maupun sekolah dan lapangan sepakbola, semuanya terletak di Sungai Talang dan sekitarnya. Sekitar 5 km dari Talao.
Talao sendiri adalah nagari, dengan nama Talao Sungai Kunik. Sebagian besar warga Talao adalah penduduk setempat.
Sementara Sungai Talang yang sebelumnya adalah kampung kecil, sekarang sudah menjadi “kota” di tengah belantara kebun sawit. Di sinilah pusat dari perusahaan perkebunan paling besar di kawasan itu.
Tapi Talao lebih dahulu ramai. Karena awalnya, di Talao ini pusat salah satu perusahaan perkebunan swasta terbesar saat itu. Sementara Sungai Talang ramai setelah perusahaan perkebunan swasta terbesar itu membangun Sentral–pusat perkantoran dan pemukiman karyawan di Sungai Talang.
Dan karena sebagian pekerja juga bermukim di Talao, termasuk para pendatang yang mengadu untung buat berdagang di kawasan itu, Talao pun semakin ramai.
Demikianlah, pos ronda yang satu ini, terletak di Talao. Karena posisinya di dekat keramaian, anak-anak putus sekolah menjadikannya sebagai markas.
Namanya juga remaja tanggung, tak pula bersekolah, maka mereka kerap membuat keributan. Dan sering mengganggu anak-anak SD dan SMP.
Oleh anak-anak sekolah, kelompok remaja putus sekolah itu disebut “preman pos ronda”. Dan para remaja bergajulan itu justru bangga dengan sebutan “preman pos ronda”!
Di situlah Marto menceritakan peristiwa tadi. Memang Marto adalah bagian dari “preman pos ronda”, lantaran dia lebih banyak nongkrong di situ daripada di dalam kelas.
“Dia berkelahi biasa saja. Aku saja yang terlalu menganggap remeh,” cerita Marto.
Dua temannya yang ikut mendengar, “tegak telinganya”. “Kamu takut jika perkelahian itu diulang lagi?”
Marto melihat temannya yang barusan bicara. Sekaligus ingat bagaimana Amir yang amat gesit telah mempermalukannya tadi.
“Siapa takut? Anak itu hanya sombongnya yang lebih. Dia malah menantang “preman pos ronda” untuk berantam!”
“Apa kau bilang? Anak itu menantang kita?”
Amir mengangguk. Dalam hati, dia tersenyum. “Rasakan nanti. Habis kau Mir,” rutuknya dengan hati kesal.
Begitulah. Tiga orang “preman pos ronda” membuat siasat. Mereka harus memberi pelajaran pada Amir!
Maka, sepulang sekolah, peristiwa itu pun terjadi.
Amir yang berjalan beriringan dengan Rudi tak menyangka, tiba-tiba saja “preman pos ronda” menghadang jalannya.
Dia melihat, ada Marto di situ. Dan dua temannya.
Rudi ketakutan. Nyalinya kembali ciut. Tapi Amir santai saja. Tenang.
Salah seorang yang paling berdegap badannya, berkata,”Heiii…kamu yang berani menantang “preman pos ronda”…?”
“Tidak. Kami tidak ada urusan dengan kalian,” jawab Amir dengan jumawa.
Justru karena jawaban yang dingin dan jumawa itulah yang memantik rasa berang para “preman pos ronda”.
Tanpa aba-aba, yang berdegap melayangkan bogem ke arah Amir. Tak terlalu kencang gerakannya. Bahkan lamban. Sehingga dengan mudah Amir menghindar.
Cara Amir menghindar yang sembarangan itu, semakin menyulut kemarahan. Tak pelak, tiga “preman pos ronda” itu pun melampiaskan marahnya secara beringas.
Yang berdegap dan seorang berbadan agak tinggi dan kurus melepaskan pukulan lurus ke arah muka Amir. Masing-masing dari kiri dan kanan. Menyusul Marto yang menendang ke arah perut Amir.
Diserang oleh tiga orang dalam waktu nyaris bersamaan, tentu saja Amir kesulitan. Butuh dua tangan untuk menangkis pukulan dari arah kiri dan kanan. Dan bagaimana dengan tendangan?
Dalam berpikir begitu, pukulan dari arah kiri mendarat di pipi. Yang dari arah kanan bisa ditangkis. Tendangan Marto dinantikannya dengan lutut.
Marto memekik, mungkin lututnya terkilir. Sedangkan yang berdegap merasa di atas angin, karena tinjunya masuk. Amir merasa pipinya perih. Tapi menurutnya tidak terlalu berbahaya.
Sedangkan yang pukulannya ditangkis, tampak meringis. Mungkin ada lecet di buku-buku jarinya.
Merasa mendapat angin, si berdegap kali ini menendang sekuat tenaga. Dengan kaki kanan, dia menyasar pinggang kiri Amir.
Sementara Marto yang terlihat pincang lantaran baru saja kakinya “menabrak” lutut, kini menubruk ke depan. Maksudnya untuk meringkus Amir. Yang seorang lagi memilih melihat situasi, sambil mengurut-urut tangannya yang nyeri.
Sambil mengurut-urut tangan, si kurus agak tinggi menoleh ke arah Rudi. Dia ingat, ini adalah anak salah seorang mandor perkebunan.
“Hei…kau anak mandor kebun…! Rasakan ini…!”
Tendangan itu kuat sekali. Tepat di dada Rudi. Malang benar anak ini, belum lama hidungnya berdarah karena tinju Marto, sekarang dadanya diterjang tendangan kencang!
Rudi tajilampang. Dia mengerang. Tampak kejang-kejang. Matanya berkunang-kunang.
Si kurus agak tinggi tertawa senang. Karena merasa sudah membalaskan sakit hati ayahnya yang katanya dipecat dari pekerja pabrik oleh pak Bangun yang sewenang-wenang.
Mendengar Rudi mengerang, Amir menjadi berang. Tanpa menghiraukan dua serangan, Amir menerjang ke arah si kurus agak tinggi yang sedang tertawa senang.
Rupanya lantaran Amir bukan menangkis atau mengelakkan dua serangan, melainkan menerjang si kurus agak tinggi yang masih berada di dekat Rudi yang kejang-kejang, itu yang membuatnya menang.
Dua serangan luput. Kini si kurus agak tinggi yang semaput. Karena tendangan Amir mengenai perut. Si kurus agak tinggi melenguh, badannya limbung tasangok, lalu jatuh, dan mukanya mencium rumput!
Amir mendekati Rudi yang masih kejang. Tetapi si berdegap dan Marto hitam legam memburu, dan melepaskan tinju.
Kuduk Amir perih dimakan tinju Marto. Pangkal telinga kiri berdenging terkena bogem si berdegap. Amir tersungkur menimpa Rudi.
Namun Amir tak gentar. Sekarang dia berdiri di depan Rudi yang masih meringkuk, agaknya pingsan.
Sedangkan si kurus agak tinggi terduduk sambil membersihkan mukanya yang penuh rumput dan tanah. Dia kembali melihat angin; apakah akan ikut terjun, atau menonton saja supaya lebih aman?
Amir menunggu. Matanya berapi-api dan waspada menanti. Dia bertekad, tak perlu kepalang tanggung.
Maka, begitu Marto merangsek, Amir mendahului dengan jurus dongkak tabang. Anak hitam legam itu melenguh lantaran napasnya tersendat. Sudu-sudu hatinya dimakan dongkak tabang.
Tak berhenti di situ, sekarang tinjunya mengarah ke muka si berdegap. Cukup cepat, tak tertangkis. Hidung si berdegap berdarah diiringi pekik kesakitan.
Amir memang membuktikan tekadnya. Diburunya Marto yang masih memegang perut dan maambiek angok.
Sama dengan tadi, sebuah tinju dilayangkan tepat ke hidung Marto yang pesek! Tentu saja berdarah.
Sudah selesai? Belum. Amir merangsek ke depan. Lalu dengan bertubi-tubi ditinjunya muka anak hitam legam ini. Berkali-kali hidung pesek itu dimakan bogem mentah Amir.
Melihat makan tangan Amir, si berdegap dan si kurus agak tinggi ciut nyalinya. Seperti bersepakat, mereka segera lari ke arah perkebunan.
Amir belum mau selesai. Dia menjadikan muka Marto sebagai sansak. Anak hitam legam ini menjerit keras. Rupanya dia benar-benar kesakitan. Dia melolong sambil minta ampun!
“Ampuuun…ampuuun…ampuuun…!”
Mendengar jeritan dan suara meminta ampun itu, beberapa lelaki dewasa mengerubuti tempat itu. Ada juga dua orang sekuriti perkebunan.
“Kamu minta maaf pada Rudi. Akui kesalahanmu!”
Sambil mengeluh dan membersihkan darah di hidungnya, Marto berkata sambil menahan sakit,”Ampuuun… ampuuun… saya salah… memukul Rudi… ampuuun… saya salah…,” ratapnya dengan suara makin lemah. Semakin lemah. Dan Marto pun tersungkur, pingsan.
Sejumlah lelaki dewasa dan dua orang sekuriti itu sempat mendengar ratapan Marto. Mereka melihat Marto tersungkur pingsan saat meratap meminta maaf.
Mereka juga melihat Rudi yang meringkuk. “Itu anak Pak Bangun. Heiii… dia pingsan… ayo bantu…kita bawa ke poliklinik….Naikkan ke mobil itu…”
Rudi dan Marto digendong, dan dinaikkan ke mobil pick up yang kebetulan lewat. Tiga lelaki dewasa ikut naik, mengiringi. Mungkin mereka ingin mengambil muka pada Pak Bangun. Maklum Pak Bangun adalah orang salah seorang petinggi di perkebunan kelapa sawit itu.
Sementara Amir di bawa oleh sekuriti perusahaan. Sambil berjalan, salah seorang sekuriti berkata,”Tenang saja, kami sudah mendengar pengakuan anak tadi. Rupanya dia yang memukul anak pak Bangun, dan tentu kamu yang membantunya kan?”
Amir hanya tersenyum kecut. Tapi dia tidak menolak dibawa ke pos sekuriti.
Ehhh…bukan. Bukan ke pos sekuriti Amir dibawa. Melainkan masuk ke komplek perumahan perkebunan.
Di Talao, PT KTA selain ada kantor, juga mempunyai komplek perumahan karyawan. Dan perumahan petinggi adalah yang paling bagus. Rumah-rumahnya lebih besar dengan tiga kamar dan dapur. Bukan kayu dindingnya, tapi bata dengan plesteran halus. Juga dicat rapi.
Ke komplek petinggi itulah Amir dibawa oleh sekuriti. Tepatnya ke rumah Pak Bangun, sang mandor kebun.
Sekira 15 menit menunggu. Tiba-tiba datang Rudi yang jalannya masih dipapah oleh lelaki tinggi dan tegap, berkumis.
“Pa, ini Amir, yang menolongku tadi,” ujar Rudi pada lelaki berkumis.
Amir mengangguk dan berdiri menyalami lelaki berkumis itu. “Rupanya ini yang pak Bangun,” ujar Amir dalam hati.
Pak Bangun menatap Amir dengan mata yang tajam, seolah sedang menilai setiap inci dari dirinya. Rudi yang tampak masih sedikit lemas setelah kejadian tadi, duduk di sebelah ayahnya, berusaha untuk tetap tegar meskipun dadanya masih terasa nyeri.
“Amir,” Pak Bangun akhirnya berbicara dengan suara dalam, “Aku dengar dari anak buahku, kamu yang menyelamatkan Rudi dari preman-preman itu. Terima kasih banyak.” Suaranya tenang, namun ada sesuatu yang membuat Amir penasaran.
Amir hanya mengangguk, tak tahu harus berkata apa. Peristiwa tadi memang bukan sesuatu yang baru baginya. Dia sudah sangat sering adu jotos. Dan sebagian ada yang berakhir dengan kemenangan baginya.
Namun kerapkali dia babak belur dihajar lawan-lawannya. Terutama bila dikeroyok. Tetapi Amir tak mau jera.
Semestinya bila dikeroyok, dia bisa saja lari dengan langkah seribu. Tetapi tidak demikian dengan anak ini. Dia tak pernah akan lari dari gelanggang!
Bukan. Bukan lantaran dirinya egois dan tak mau kalah. Melainkan tekad pantang mundur itu yang paling tepat buat menggambarkan betapa Amir yang oleh kebanyakan kawan-kawannya disebut “anak lelaki bernyali besar”!
Begitupun dengan perkelahian tadi. Alih-alih mengajak Rudi lari dan mencari bantuan, justru Amir menghadapi tiga orang “preman pos ronda” itu sekaligus.
Akibatnya, telinganya masih berdenging. Kuduknya penat-penat. Dan Rudi kejang-kejang dan pingsan!
Untung orang-orang segera berdatangan. Dan dua lawannya melarikan diri. Kalau tidak, tentu Rudi belum mendapat perawatan medis. Entah apa yang terjadi pada anak tunggal Pak Bangun ini.
Mengingat itu, Amir menoleh pada Rudi. Saat itu Pak Bangun pun memandang anaknya dengan penuh kasih.
Kemudian dialihkan pandangannya ke Amir lagi. “Rudi memang sering jadi sasaran empuk anak-anak nakal itu. Tapi bukan berarti itu alasan untuk selalu menghindar. Kau punya nyali, Amir. Nyalimu besar, lebih besar dari nyali kawan-kawan seusiamu. Tapi ingat, bukan berarti kekuatan fisik saja yang bisa menyelesaikan masalah di dunia ini.”
Amir merasa sedikit canggung dengan perkataan Pak Bangun, meskipun ia tak sepenuhnya setuju. Bagi Amir, kadang-kadang memang hanya kekuatan yang bisa membuat orang berhenti mengganggu. Namun, ia memilih diam. Membiarkan Pak Bangun membuat penilaian sendiri.
Kembali Amir terdiam. Teringat bagaimana caranya pulang ke Bukik Batu, ke rumah tempat dia hidup bersama neneknya.
Biasanya Amir menumpang truk yang menjemput sawit usai disosoh (ditebas tandan buah) oleh pekerja. Dia hafal, paling lama setengah jam setelah bel pulang berbunyi, truk-truk akan lewat di depan gerbang sekolah. Ada beberapa, dan dia tinggal menyetop, lalu memanjat ke bak terbuka.
Jarak dari Bukik Batu ke Talao sekira 30 km. Karena itu, pagi-pagi sekali Amir harus berjalan kaki–lebih tepatnya berlari kecil–sejauh 7 km untuk sampai ke pinggir jalan yang biasa dilalui mobil. Dari situ selalu ada mobil yang menumpangkannya ke Talao.
Sekarang tentu tidak ada lagi truk ke Bukik Batu. Apa akal? Amir memandang Rudi. Tapi dia segan minta tolong.
Sedangkan Rudi menatap Amir dengan rasa terima kasih yang mendalam. “Amir, aku benar-benar tidak tahu harus bilang apa. Kalau tak ada kamu tadi, entah yang bakal terjadi,” ujar Rudi pelan.
“Sudahlah, Rudi,” jawab Amir, mencoba meringankan suasana. “Kita berdua bisa tenang sekarang. Itu sudah lewat.”
Amir memandang Pak Bangun. Lelaki itu mengangguk pelan. “Kau benar, Amir. Memang sudah lewat. Tapi aku ingin memberitahumu sesuatu. Apa kau tahu siapa yang ada di balik semua ini? Para preman itu… mereka bukan hanya anak-anak putus sekolah. Mereka adalah tangan kanan beberapa orang di kebun ini. Mereka adalah pekerja-pekerja yang tidak puas. Pemalas, tapi ingin bergaji besar! Umumnya preman-preman kecil itu adalah anak-anak atau kerabat mereka. Dengan keributan-keributan, mereka berusaha mencari pengaruh. Tujuannya apalagi, selain ingin menguasai perusahaan!”
Amir terdiam. “Maksud Bapak?” tanyanya, mulai merasa cemas.
“Masih banyak yang belum kamu tahu tentang kebun ini, Amir,” Pak Bangun menjawab, suaranya semakin dalam. “Dan masih banyak yang belum kau pahami. Tetapi intinya, pekerja-pekerja pemalas itu punya maksud buruk terhadap perusahaan!”
Rudi yang mendengar perkataan ayahnya, ikut merasa heran. “Apa maksudnya, Pa?” tanyanya dengan suara bergetar.
Pak Bangun menarik napas panjang, seolah ingin mengumpulkan semua kata-kata yang tepat. “Kebun ini, seperti banyak kebun lainnya, bukan hanya soal kelapa sawit dan tanaman. Ada pemodal, ada manajemen, dan ada pekerja. Pemodal ingin untung besar. Manajemen ingin perkebunan berjalan lancar dan produksi melimpah. Sedangkan pekerja ingin upah tinggi, tetapi kerja ringan!”
Pak Bangun berhenti sejenak, mengambil napas, sekaligus mencari bahasa yang tepat untuk dua anak lelaki ini guna menggambarkan situasi perusahaan perkebunan saat itu.
“Aku bekerja di sini bukan hanya untuk mengelola perkebunan ini. Sebagai mandor aku juga menjaga agar pengaruh para pekerja pemalas itu tidak merusak.”
Amir mulai merasakan bahwa apa yang terjadi tadi, dan hubungan antara Marto dan “preman pos ronda” dengan Pak Bangun, bukan hanya sekedar masalah remaja yang nakal. Ada sesuatu yang lebih dalam, yang baru saja dia ketahui.
Dan, lebih penting lagi, dia merasa dirinya terjebak dalam pertikaian para pekerja dengan manajemen. “Jadi,” Amir bertanya dengan hati-hati, “Apa yang harus saya lakukan?”
Pak Bangun menatapnya intens. “Kau sudah memilih untuk melawan preman-preman itu. Sekarang, kau harus berhati-hati. Mereka bisa saja akan membalas.”
Amir menelan ludah. Semua yang baru saja didengarnya terasa berat. “Berarti aku tidak aman untuk bersekolah?”
Pak Bangun menggelengkan kepala pelan. “Tentu mereka tidak akan berani mengganggu di sekolah, atau di sekitar sini. Tadi bapak sudah bicara pada komandan sekuriti supaya memperbanyak patroli.”
“Tapi Amir tidak tinggal di sini Pa. Dia tinggal di Bukik Batu, bersama neneknya,” ujar Rudi.
Pak Bangun terkejut. “Itu lebih 30 kilometer. Bagaimana caranya kamu tiap hari, pergi ke sekolah, dan bagaimana pulang?”
Amir menjelaskan cara dia pergi dan pulang sekolah dengan nada datar. Tidak dengan nada minta dikasihani, apalagi memelas!
“Kalau begitu, hari ini bagaimana kau pulang? Ini sudah sore. Tak ada lagi truk ke Bukik Batu. Truk-truk itu sekarang sudah mengarah ke sini, ke pabrik,” kata Pak Bangun.
Suasana hening sejenak, hanya terdengar suara jam dinding yang berdetak pelan. Dan suara napas Pak Bangun yang berat.
Pak Bangun kemudian melanjutkan, “Aku tahu apa yang kau rasakan, nak. Tentu berat buatmu setiap hari untuk bersekolah.”
Tiba-tiba Pak Bangun berjalan ke luar. Memanggil seseorang di pos jaga. Lalu berselang beberapa saat kemudian dia masuk,”Mari kami antar kamu pulang,” kata Pak Bangun sambil mengajak Rudi ikut.
Mereka menaiki mobil double gardan dengan dua kabin. Itu adalah mobil yang banyak ditemui di wilayah perkebunan. Maklum jalanan perkebunan umumnya adalah tanah yang dipadatkan dengan kerikil. Bila hujan, jalanan berubah jadi medan yang berat; percampuran tanah bergetah dengan kerikil yang tajam. Hanya mobil double gardan yang gampang melanyaunya.
Mobil itu melaju kencang. Kebetulan sudah tiga hari tidak hujan, sehingga jalanan keras dan berdebu. Ban besar mobil itu pun membuat debu membubung. Sehingga sejarak 10 meter dari belakang, mobil itu tak lagi kelihatan, tertutup debu pekat.
Rupanya, belasan meter di depan, ada pula mobil lain yang juga melaju kencang. Buktinya, di depan bertaburan debu yang cukup mengganggu sopir Pak Bangun!
Baru dua puluh menit, melaju dari Talao, mobil itu tiba di simpang tiga, setelah melewati tanjakan. Tepat di simpang tiga, arah ke kanan jalan menurun. Itulah jalan ke Bukik Batu.
Masih di penurunan, ada belokan tanggung. Debu yang menguning seakan menjadi tabir, menghambat pemandangan.
Sopir Pak Bangun yang merasa sudah hafal jalan, tak mengurangi kecepatan. Bahkan menginjak pedal gas makin dalam.
Di situlah gawa tiba! Mobil yang sedang melaju kencang itu menginjak sepotong kayu balok yang tergeletak di jalan.
Sopir tak sempat lagi membanting stir. Mobil itu terbang, dan berhenti di selokan sempit dan berbatu, dalam kondisi terbalik!
Rudi terpekik. Pak Bangun membaca istigfar. Sedangkan Amir yang duduk di dekat dinding sebelah kiri, berpegangan kuat-kuat sambil merapatkan tubuhnya ke badan mobil.
Ban mobil masih berputar, dan suara mesin masih terdengar menderu. Tapi kalah oleh suara sopir yang memekik kesakitan.
Amir masih sadar. Dia memperhatikan sekeliling. Tampak sopir sudah terkulai dengan kepala berdarah. Sedangkan Pak Bangun terjepit kakinya oleh kepala mobil yang ringsek dan sebagian mesinnya jebol ke dalam kabin. Dia tak bergerak. Mungkin pingsan.
Memang Pak Bangun duduk di dekat sopir, Rudi duduk di tengah, di antara Amir dan ayahnya.
Amir meraba Rudi yang juga tergencet. Kawan sebangkunya itu tak bergerak. Amir tak berani membuat kesimpulan kalau Rudi sudah tewas. Dia berharap Rudi selamat.
Dengan gemetaran, Amir mencoba menggerakkan kakinya yang juga terjepit. Dia meringis kesakitan.
Tapi terus dicoba, sampai kedua kakinya bebas. Lalu dia merayap ke luar.
Aman? Belum!
Begitu tiba di luar, tiga orang terlihat mengejar dari atas jalan. Salah satu adalah si kurus agak tinggi, salah seorang yang ikut mengeroyoknya siang tadi.
“Ayo, kita ulang lagi. Tunggu jika kau berani,” ujar si kurus agak tinggi sambil berlari ke arahnya.
Tentu saja kali ini Amir tak berminat berkelahi. Apalagi dua orang lainnya adalah pria dewasa yang berdegap pula!
Mereka mengejar secara berpencar. Agaknya ingin mengepungnya!
Tak hilang akal, Amir berlari ke arah bukit. Badannya yang ringan, serta kebiasaannya berlari di perkebunan sawit sangat membantu.
Dengan ligat dia berlari mendaki bukit. Dia tahu, di balik bukit kecil itu sudah tampak rumah neneknya. Tempat dia tinggal.
Dia yakin, bila sudah tiba di rumah neneknya, tentu para lelaki yang mengejar tak akan mau berbuat kurang ajar. Karena neneknya sangat dihormati. Mungkin karena umurnya yang hampir 100 tahun, sehingga semua orang sangat segan padanya.
Apalagi nenek yang masih kuat berjalan itu adalah seorang yang baik hati. Dia tidak segan-segan memberi uang pada anak-anak yang sering bermain ke rumahnya.
Amir saja sering heran, kenapa nenek selalu punya duit, padahal beliau tidak bekerja. Namun, setiap ada anak-anak datang, pasti sang nenek memberi mereka uang!
Karena heran, Amir sering bertanya, darimana dapat uang? Padahal mereka hidup sangat sederhana. Sang nenek selalu menjawab,”Allah yang memberi rezeki. Jika meminta pada-Nya, tentu diberi!”
Selalu seperti itu jawab sang nenek, tiap kali Amir bertanya. Tentu saja Amir tetap saja heran. Akhirnya keheranan itu ditelannya sendiri.
Untuk apa heran? Walau nenek suka memberi uang pada anak-anak, hidup mereka berdua yang sederhana itu tak ada masalah lantaran tak ada duit. Dalam level hidup serba bersahaja, mereka memang tak kurang sesuatu apapun.
Apalagi dirinya pun tak kekurangan uang jajan. Setiap hari, sebelum berangkat ke sekolah, subuh-subuh, di atas meja di samping dipan tempat dia tidur, sudah terletak uang yang cukup untuk dia jajan di sekolah.
Ke rumah neneknya itulah Amir menuju. Dia yakin, bila sudah sampai di rumah nenek, lelaki tersebut tak akan berani lagi membekuknya. Sebab di situ ada beberapa rumah yang di huni penduduk setempat. Dan semua orang di perkampungan kecil itu tak akan membiarkan siapapun mengganggu cucu wanita tua yang mereka kagumi itu.
Tetapi tiga orang itu terus mengejar dengan bersemangat. Mereka semakin memperdekat jarak.
Amir terus berlari. Sesekali menoleh ke belakang. Dia semakin kuatir, karena sekarang jalanan yang dilalui mulai menurun. Dan orang-orang itu kian dekat.
Amir makin mempercepat larinya. Namun nahas nasibnya, tiba-tiba dia terpeleset, persis saat kembali menoleh ke arah orang yang mengejarnya itu.
Dia terjerambab. Saat akan bangkit untuk kembali berlari, seseorang sudah membekuknya. Memitingnya. Amir tak berkutik.
Ilmu silat yang diajarkan neneknya, Silek Talao, sebenarnya cukup ampuh. Hanya saja, bocah itu belum sepenuhnya menguasai jurus-jurus yang diajarkan nenek itu.
Bagaimana bisa sempurna? Selain sang guru–neneknya sendiri–memang sudah uzur, dirinya pun tak punya banyak waktu buat mendalami. Sebab, subuh-subuh sudah berangkat ke sekolah, pulang sore. Dan malam waktunya habis untuk belajar.
Walau belum masak, namun karena keberaniannya yang di atas rata-rata anak-anak kebanyakan, maka setiap berkelahi jarang dia kalah.
Namun, kali ini dia diringkus oleh tiga lelaki sekaligus. Dan salah satu dari lelaki itu, yang hitam pendek, berhasil memitingnya.
Sebelum dia bisa bangkit atau berteriak, sebuah pukulan menimpa pangkal telinganya. Amir ambruk, tak sadarkan diri.
Kedua:
Entah berapa lama anak laki-laki itu pingsan. Yang pasti, saat mulai sadar, Amir tak bisa melihat apa-apa. Rupanya ada kain yang ditutupkan ke wajahnya.
Amir merasa tangan dan kakinya terikat. Namun acapkali badannya terguncang. Dia menyimpulkan bahwa saat ini dirinya diikat tangan dan kaki, dengan wajah tertutup kain di atas mobil yang melaju kencang.
Selama perjalanan, Amir kesakitan lantaran tubuhnya makin terguncang-guncang. Siapa yang tidak sakit sehabis letih berlari dan baru selamat dari mobil yang ringsek sesudah terjun ke selokan penuh batu?
Amir mencoba mengumpulkan ingatannya atas peristiwa beruntun yang baru saja dilalui. “Ohhh Tuhan… Bagaimana nasib Rudi? Semoga dia dan ayahnya selamat. Juga sopir mereka,” gumam Amir di dalam hati.
Dia mencoba memikirkan keadaannya saat ini. Badannya masih sakit-sakit. Tetapi rasanya itu hanya memar dan penat-penat bekaka. Selebihnya baik-baik saja.
Amir bersyukur. Dan mulai memikirkan apa yang akan dilakukan orang-orang ini. Apakah mereka akan membunuhnya?
“Ahhh… pasti bukan. Jika mau membunuh, kenapa harus dibawa jauh-jauh. Tadi, saat di tersungkur, mereka bisa melakukannya,” pikir anak itu.
Sementara suara lelaki-lelaki itu terdengar jelas di luar kain penutup yang menghalangi penglihatannya. “Nanti kita lihat, apa yang akan dikakukan Pandeka Leman pada anak itu.”
Terdengar yang lain menyahut,”Harusnya anak ini dihabisi saja! Merusak rencana kita saja!”
Yang lain menimpali,”Husss… Apa kau tidak ingat yang dipesankan Pandeka Leman? Kita harus membawa bocah ini dalam keadaan hidup!”
Dari suara yang berbicara itu Amir menghitung ada tiga orang laki-laki yang menawannya untuk dibawa menghadap Pandeka Leman.
Siapa Pandeka Leman? Tentu Amir belum pernah mendengar nama itu. Sebab Pandeka Leman adalah gala lapau yang dilekatkan pada Suleman, salah seorang pekerja kebun yang enam bulan yang lalu dipecat oleh Pak Bangun.
“Untung kau cukup pintar dengan meletakkan kayu balok di bengkolan itu. Sehingga mobil mereka terbang ke bandar kering berbatu,” ujar salah seorang dari lelaki itu.
Lelaki lainnya mengomentari, “Iya, jika tidak, tentu kita harus kerja keras menghabisi mandor itu!”
“Benar. Tapi, saya lihat tadi, dia sudah tidak berdaya. Nafasnya sudah satu-satu. Sekarang tentu orang itu sudah mati!”
Amir terkesiap. Rupanya saat dia berlari ke atas bukit tadi, seorang di antara mereka tentu sempat melihat keadaan Pak Bangun dan Rudi. “Apakah Pak Bangun tidak selamat,” gumam Amir dalam hati.
Beberapa saat mereka terdiam. Rupanya jalanan yang menanjak dan banyak batu-batu besar. Tak berapa lama, mobil berjalan lebih tenang.
Kembali terdengar suara seorang lelaki. “Untung pula ada kayu balok di pinggir jalan. Dan kita bisa meringkus anak ini, serta menghabisi Pak Bangun, ibarat sekali tepuk, dua langau mati.”
“Oya, nanti jangan lupa lapor pada Pandeka Leman, bahwa Kodir yang sekuriti itu sudah memilih untuk bergabung dengan gerakan kita. Dialah yang tadi membocorkan keberangkatan Pak Bangun.”
“Benar. Dan kita beruntung, bisa berangkat lebih duluan,” sambung laki-laki lainnya.
Amir menyimak pembicaraan para lelaki itu. Bocah itu berpikir sendiri, “Gerakan apa gerangan? Apakah itu yang diceritakan Pak Bangun? Ada komplotan yang ingin menguasai kebun?”
Mobil itu melambat. Tapi bukan berhenti. Mungkin sekarang sedang melewati tanjakan yang mulai tinggi.
Tentu Amir tidak tahu bahwa mobil tersebut sedang menuju Bukit Sembilan. Sebuah perbukitan di sebelah barat Gunung Tujuh dan Gunung Kerinci.
Memang sebagian wilayah Solok Selatan merupakan perbukitan. Itulah jajaran Bukit Barisan. Ibarat komandan, Gunung Kerinci berdiri gagah. Di sisi kirinya, bila dilihat dari Padang Aro–ibukota Kabupaten Solok Selatan–ada Gunung Tujuh. Dan agak ke bawah, masih di sisi kiri, ada Bukit Sembilan.
Bagi para pelancong, terutama pencinta alam, Gunung Kerinci dan Gunung Tujuh lah yang mereka kenal. Apalagi ada pula Danau Gunung Tujuh yang menambah daya tarik kawasan itu untuk didatangi.
Berbeda dengan Gunung Kerinci dan Gunung Tujuh yang terlihat hijau dari kejauhan lantaran masih banyak pepohonan yang tumbuh subur, Bukit Sembilan hanyalah perbukitan yang kering. Gersang. Dan sama sekali tidak menarik untuk didatangi.
Ke Bukit Sembilan itulah Amir dibawa.
Setibanya di sana, para lelaki itu turun dari mobil dan menggiring Amir menuju jalanan berbatu dan tandus. Untunglah penutup mata bocah itu sudah mereka lepas. Begitu pula ikatan kaki. Tapi kedua tangannya masih terikat erat.
Mereka mulai mendaki. Meskipun bukit itu cukup landai, namun jalanan setapak itu yang membuat ngeri. Sebab di sebelah kanan menganga jurang yang hening!
Bayangkan, pada sisi kiri ada bukit tandus. Dan di sisi kanan adalah jurang yang hening. Tak ada suara, selain desau angin yang kering lantaran dipanggang matahari sore.
Mestinya, suasana sore di perbukitan, ataupun perdesaan, identik dengan aneka suara binatang yang sahut bersahut Tapi tidak di Bukik Sembilan. Desau angin seakan tertahan-tahan, seolah-olah ditindih oleh sesuatu yang menakutkan. Bahkan lebih.
Amir yang harus mendaki dengan terikat, berada di depan, para lelaki itu di belakang. Tiga lelaki itu seperti tukang dorong gerobak di pendakian. Amirlah gerobaknya! Tapi gerobak itu menanjak tertahan dan tertegun-tegun.
Lelaki yang di belakang Amir membentak,”Huhhh…lamban benar kau? Ayo lekas, Pandeka Leman pasti titik seleranya melihatmu!”
Amir bergidik! Pandeka Leman itu tukang makan anak-anak? Persis cerita dongeng yang kerap diceritakan neneknya; raksasa pemangsa bocah-bocah nakal.
Tadi pun karena suasana yang melelahkan dan mengerikan–panas mentari hinggap di punggung dan jurang hening seolah hantu yang mengintai–sekarang teringat cerita raksasa itu, Amir kian rusuh.
Memang rasa takut itu dipendamnya sendiri, tapi bagaimana menyembunyikannya ketika lelah berpadu dengan ngeri, dirinya seperti didorong dari belakang untuk terus mendaki!
Dan sekarang, mereka tiba di tanah yang datar. Di sisi kanan jurang terlihat makin jauh–dalam. Di kiri ada sebuah goa besar.
Dari mulut goa, terdengar suara orang menangis. Suara tangisan anak laki-laki. Amir makin ngeri, tetapi dipendamnya sendiri. Dia tak mau orang lain tahu bahwa dia takut.
Memang salah satu sifat Amir yang sering dipuji kawan-kawannya adalah keberaniannya. Padahal Amir pun punya rasa takut. Namun dipendamnya sendiri. Tidak boleh ada orang yang tahu.
Melihat Amir tak terlihat takut, tiga lelaki itu tertawa-tawa melihatnya. “Heiii… rupanya kau sangat berani. Bocah-bocah lain yang kami bawa, sudah terbit gaca nya. Mereka tidak ada yang tidak menangis begitu sampai di sini!”
Amir semakin memendam takutnya. Yang terbit malah keberanian. Itu terlihat di mukanya sewaktu melihat si kurus agak tinggi adalah salah satu dari tiga lelaki tersebut.
“Kau masih belum kapok. Mau kuhajar lagi,” tukas Amir sambil menatap marah pada lelaki kurus agak tinggi itu.
Lelaki kurus agak tinggi mau menjawab. Tetapi lelaki hitam pendek mendahului,”Hahaha… masih berlagak bagak juga kau. Aku mau lihat, apakah bagak mu masih ada kalau bertemu Pandeka Leman?”
Tiba-tiba terdengar suara berat dan parau diselingi suara orang menangis, dari dalam goa. “Kaleraaa…Lekaslah…bawa bocah itu masuk!
Lelaki hitam pendek terkesiap mendengar suara itu. Dia tampak ketakutan. Sambil menoleh pada dua orang temannya, seperti memberi isyarat, mereka segera meringkus Amir.
Tak menduga akan diserang, dengan mudah Amir berhasil diringkus. Apalagi tangannya masih terikat.
Lalu, bertiga mereka menggotong Amir ke dalam.
Amir berusaha tenang. Bocah ini sebenarnya mulai gaca. Tapi dengan sekuat tenaga ditekannya rasa takut itu! Dia mengatupkan bibir untuk mengusir takut.
Dan justru tak mau kelihatan takut itu yang membantunya. Soalnya Pandeka Leman suka dengan bocah lelaki yang menangis.
Maka, tatkala Amir dibaringkan di tikar buruk di dalam goa itu, anak ini segera duduk. Dan berdiri.
Dia menatap Pandeka Leman dengan tatapan dibagak-bagakkan. Sedangkan yang ditatapnya memandang Amir dengan mata berkilat.
Lelaki tinggi besar hitam keling itu hanya bercelana saja. Dia bertelanjang dada, memperlihatkan bulu-bulu hitam menakutkan dari pusar hingga ke atas. Sementara rambutnya tergerai, panjang. Dengan brewok tak terpelihara.
Tak pelak Pandeka Leman memang monster sesungguhnya, serupa cerita nenek Amir; raksasa berbulu yang doyan memakan anak-anak.
“Akan dimakannya kah aku,” pikir Amir. Tetapi dugaan itu terbantahkan sendiri. Soalnya ada tiga bocah tanpa baju tergeletak tak berdaya di atas dipan. Masih hidup.
Amir menunggu apa yang akan terjadi. Ketika Pandeka Leman mendekat, bocah itu menggeser tegak.
Pandeka Leman tertawa seram,”Marilah anak baik, ayo aku pangku,” ujarnya dengan suara parau.
Amir terkejut. Buat apa dirinya yang sudah sebegini besar digendong? Apakah “raksasa” ini gila?
Pandeka Leman kian dekat. Amir terus menggeser. Namun, bocah ini kurang perhitungan. Sebab kini dia sudah mentok di dinding.
Dengan sekali tubruk, Pandeka Leman berhasil memeluk Amir. Memitingnya.
Dalam kondisi tak berkutik, Amir nekad mengigit lengan berbulu Pandeka Leman. Seakan mau memuntahkan takut, marah dan ngeri, Amir menggigit tangan kiri “raksasa” itu sekuat tenaga.
Spontan si raksasa bergerak refleks. Dengan tangan kanan dia membanting badan bocah itu. Amir tersungkur di depan kaki si kurus agak tinggi.
Amir berpegangan pada kaki si kurus agak tinggi untuk menghentikan ketersungkurannya. Karena terkejut, dan memang si kurus agak tinggi ini tidak kokoh tegaknya, maka pegangan Amir membuat dia rebah ke depan.
Bertepatan dengan itu, Pandeka Leman hendak mengejar Amir. Tetapi “raksasa” ini justru diseruduk si kurus agak tinggi yang rebah ke arahnya.
Dengan mudah Pandeka Leman mengelak dan mengayunkan tangan ke bahu si kurus tinggi. Sehingga tubuh kurus itu terjun bebas ke arah si pendek hitam.
Diterjuni seperti itu, si pendek hitam mengangkat lutut. Tepat di lutut itulah kepala si kurus agak tinggi tiba. Sehingga membuat pening dengan mata berkunang-kunang. Kepala siapa yang kuat membentur lutut yang ditekuk?
Si kurus agak tinggi meraung kesakitan. Sehingga membuat Pandeka Leman menoleh, dan mendekat untuk melihat apa yang terjadi. Bagaimanapun, “raksasa” ini tak mau kehilangan anak buah.
Untung bagi Amir. Saat si raksasa membelakang, Amir segera melarikan diri ke luar goa. Karena tangannya masih terikat, larinya tak begitu kencang.
Mendengar mangsanya melarikan diri, Pandeka Leman segera berbalik mengejar bocah itu.
Tentu saja dalam lima langkah, si raksasa ini sudah hampir menjangkau Amir. Dia menjulurkan tangan buat menangkap badan bocah itu.
Amir berhasil lolos dari cengkraman karena diselamatkan cahaya dari mulut goa yang membuat si raksasa silau. Namun Amir pun terkena efek silau dari matahari sore yang tepat menghadap ke mulut goa.
Sekejap mata bocah itu memicing. Tapi itu pula yang menyebabkannya tersungkur ke depan goa. Dan menggelinding ke mulut jurang.
Untunglah badannya tertahan batu. Tapi membuat bahunya perih. Amir mengatupkan bibir, menahan raung!
Amir berusaha berdiri. Ketika bocah ini sudah tegak dengan susah payah, datang Pandeka Leman meraih kakinya.
Amir tersungkur kembali. Seperti tadi, Pandeka Leman kembali memeluknya. Kali ini raksasa itu memeluk dengan erat, disertai nafas yang memburu!
Muak karena dipeluk seperti itu, ditambah hembusan nafas raksasa yang dekat ke telinganya, membuat Amir nekad! Dengan sekuat tenaga yang dia punya, Amir mengangkat pinggulnya setinggi mungkin. Si raksasa justru terkekeh dan melonggarkan pelukannya. Seolah-olah memberi ruang gerak bagi bocah itu.
Agaknya si raksasa beranggapan Amir merespon kehendaknya. Padahal mana pula bocah kecil itu mengerti!
Begitu longgar, Amir menggeser badannya ke depan. Kepalanya yang diangkat, sekarang sudah melewati batu. Pandeka Leman terus mendempetkan badannya ke tubuh Amir.
Batu itu rupanya tidak kuat menahan beban dua orang ini. Dalam hitungan detik, batu sebesar kepala kerbau itu ambrol, lepas dari cengkraman tanah.
Pandeka Leman melolong panjang saat melayang ke jurang kering itu. Diikuti Amir.
Berbeda dengan si raksasa, Amir tetap bertahan untuk tidak meraung. Bibirnya berdarah lantaran giginya menahan bibir supaya mulut tidak membuka buat menangis.
Di atas jurang, si kurus agak tinggi dan dua kawannya ternganga. Mereka melihat dua tubuh manusia seperti berpacu menjemput maut ke jurang sana!
Ketiga:
Hari kian senja. Di dasar jurang itu, matahari sudah tidak terlihat. Karena jurang kering itu memang diapit dua bukit.
Pada gugusan perbukitan Bukit Sembilan memang banyak sekali bukit yang menjulang berdekatan. Bukit-bukit yang puluhan banyaknya itu, seolah berbaris menghadap Gunung Kerinci.
Di sela dua bukit itu, di dasar jurang kering, terlihat pemandangan yang cukup mengerikan. Seorang berbadan besar terbujur dengan kepala pecah. Dan di atas badannya yang besar, terlihat badan yang lebih kecil mulai bergerak.
Allah Maha Hidup. Allah lah Sang Pemberi Hidup. Jika belum tiba saatnya, takkan seseorang menemui kematian. Tak ajal, berpantang mati!
Atas kehendak-Nya, Pandeka Leman yang lebih dahulu membentur batu besar di dasar jurang. Batu itu tepat menyambut kepalanya. Beberapa detik setelahnya, tubuh Amir hinggap di badan besar Pandeka Leman.
Bocah mana yang tidak ngeri jika terjun bebas ke jurang yang dalam? Maka, sekuat-kuat Amir menahan tangis, tapi jiwanya tak kuat memikirkan nasib tragis yang terjadi di bawah sana!
Karena goncangan jiwa demikian, Amir pun pingsan. Dia tidak tahu bahwa justru badan raksasa Pandeka Leman yang menyelamatkannya.
Seusai dua tubuh yang menimbulkan suara berisik di dasar jurang itu, tidak ada bunyi-bunyian lain. Jurang itu seperti kuburan. Hening serupa mati.
Hari mulai kelam. Saat itulah Amir mulai siuman. Dia merasakan sekujur tubuhnya remuk. Bahunya sakit bukan main.
Setelah benar-benar sadar, bocah itu mendapati dirinya tergeletak di atas tubuh besar. Karena jijik, anak lelaki ini spontan menggelinding ke samping.
Tapi itu pula yang menambah deritanya. Rupanya dia menggelinding ke semak-semak liar. Tak pelak, tubuhnya merosot ke bawah lantaran semak-semak itu tak kuat menahan badan anak lelaki ini.
Kali ini dalam keadaan sadar, Amir merasakan dirinya kembali jatuh.
Byurrr… Rupanya tubuh Amir disambut telaga kecil yang berada di bawah semak belukar.
Air telaga itu sangat dingin. Entah itu mata air, atau air hujan yang tertampung ceruk kecil, yang pasti Amir merasa segar. Seperti musafir dapat air, Amir merasa semangatnya pulih.
Dengan susah payah karena tangannya masih terikat, Amir merenangi telaga. Karena sudah makin gelap, Amir tak punya pedoman arah. Secara naluriah saja, bocah ini berenang lurus.
Belum berapa kecimpung, Amir merasa tangannya menyentuh batu. Dia menduga, tentu batu itu adalah pinggir telaga.
Dugaannya tidak salah. Memang batu itu adalah tepian telaga. Di situlah Amir sekarang. Di atas batu layah (ceper) itulah kini Amir berada.
Sesaat dia menikmati dingin air yang merendam sekerat tubuhnya. Lalu Amir menggigit tali pengikat tangannya. Agak susah juga. Tapi akhirnya tali teyin (tali plastik) itu pun putus oleh giginya!
Lepas. Bebas. Amir pun menengadah. Nun, jauh di atas, di balik semak-semak liar, tampak bintang bekerlipan. Rupanya hari telah malam. Tetapi hening.
Tidak ada suara lain selain gemerisik semak yang dihembus angin.
Amir tahu bahwa dirinya sekarang berada di dasar jurang. Tetapi dia tidak tahu bahwa dirinya sekarang berada di Bukit Sembilan. Yang terpencil, jauh dari pemukiman manusia. Dan sepi dari jejak peradaban.
Bukit Sembilan oleh masyarakat di Bukik Batu dan sekitar, memang sesuatu yang tak digubris. Maklum bebukitan itu hanyalah tumpukan bebatuan dan tanah gersang. Serta semak-semak yang meranggas. Siapa pula yang mau berhabis hari ke tempat ini?
Karena itu, tak ada pula yang tahu, bahwa di dasar-dasar jurang, di celah bebukitan ada telaga-telaga kecil. Dan tentu saja ada tumbuhan hijau. Tapi tak tampak dari atas.
Amir mulai cemas. Bagaimana cara keluar dari jurang ini?
Tiba-tiba Amir mencium aroma khas. Dari tadi, rasanya dia tak ada mencium bau itu. Amir ingat, itulah aroma kemenyan!
Dia menoleh untuk mencari tahu. Sekarang dia pastikan, rupanya aroma itu datang dari arah kanannya.
Amir pun mengamati dengan seksama, ada apa gerangan?
Dalam berpikir, tiba-tiba Amir merasa ada angin datang dari arah kanan. Dia terkejut, merasa ada sesuatu yang tak wajar.
Lalu ada cahaya keemasan memancar. Amir makin terkejut dan takjub. Karena cahaya keemasan itu menerangi sekitar, sehingga dia sekarang melihat ada sebuah goa.
Seolah lupa akan ketakutannya, Amir berdiri. Lalu dia berjalan ke goa itu.
Di pintu goa, bau kemenyan itu makin kentara. Amir menahan takut, dia pun berjalan pelan memasuki goa yang diterangi cahaya keemasan itu.
Setelah berjalan sekira tujuh langkah, tiba-tiba Amir mendengar suara,”Yang Maha Agung telah menyelamatkanmu… dan mengirimmu ke tempat kami.” suara itu bergema di dalam goa, membuat Amir makin terkejut.
Dalam keterkejutannya, Amir terdiam dan berpikir dengan perasaan campur aduk. Suara siapa kah? Dan apakah dia datang untuk menyelamatkannya?
Amir mencoba mencari sumber suara di balik cahaya keemasan itu. Tapi dia tak menampak apa-apa, kecuali kecemerlangan cahaya kuning keemasan belaka!
Ditatapnya cahaya kuning keemasan itu dalam-dalam. Dan, tiba-tiba, dari dalam cahaya secara perlahan, mewujud sesosok tubuh. Makin lama, tambah jelas.
Sekarang, di depan Amir telah berdiri seorang lelaki bertubuh sedang dengan pakaian yang khas. Amir ingat, pakaian yang dipakai lelaki yang kini berdiri jumawa itu mirip dengan pakaian pangulu dan para datuak di Minangkabau.
Dia ingat sering dibawa neneknya ke Talao ketika ada orang baralek (pesta). Sebelum mulai acara makan-makan, maka para datuak itu akan saling berpidato. Di sekolah gurunya memberi tahu, itulah pidato pasambahan, sebagai cara komunikasi terkait hajatan yang digelar.
Nah, para datuak itu berpakaian seperti orang tua yang jumawa ini. Tapi pakaian orang tua ini jauh lebih gemerlap dan bagus.
Amir terpana, masih sangat bingung dengan apa yang dia lihat. Dia menatap lelaki itu dengan tatapan heran. “Siapa… siapakah angku?”
Pria itu tersenyum, matanya yang tajam memancarkan cahaya kebijaksanaan yang mendalam. “Aku adalah Angku Pincuran Gadang. Penjaga sisa-sisa warisan leluhur….”
Amir terkesima. Warisan leluhur? Di jurang ini ada warisan leluhur? Ada emas kah di sini?
Anak lelaki itu menduga bahwa ada emas di sini. Dia pun menatap sekeliling. Memang masih terlihat cahaya kuning keemasan!
Angku Pincuran Gadang membiarkan Amir dengan pikirannya. Dia maklum, Amir masih sangat kecil. Baru sepuluh tahun umurnya. Tentu tak akan sampai pikirannya pada hal-hal yang tidak tampak.
Lalu orang tua berpakaian kebesaran itu tersenyum sendiri. Sambil mengangguk-angguk, dia berkata,”Baiklah… kita masih punya banyak waktu. Oya… namamu Amir kan? Kamu boleh memanggilku angku, seperti tadi sudah kau sebut!”
Amir mengangguk. Tentu saja dia makin heran, darimana orang tua ini tahu namanya? Diapun bertanya, tapi bukan soal bagaimana kakek itu tahu namanya, melainkan,”Warisan itu, emas kan… Ada banyak emas di sini?”
Angku Pincuran Gadang mengangguk. “Itu memang bagian dari warisan leluhur. Namun itu baru sebagian kecil dari warisan. Kamu berminat untuk mewarisi?”
Amir ternganga, heran. Kenapa tiba-tiba orang tua ini menawarkan dirinya sebagai pewaris? Pewaris emas? “Ahhh…tidak… tidak… aku hanya minta diantarkan ke Bukik Batu, ke rumah nenek,” tukas anak lelaki itu.
Lelaki tua itu heran. Tadi dia berpikir dengan menawari anak itu sebagai pewaris emas, bocah itu akan setuju. “Aneh… kamu tidak mau menjadi orang kaya. Lihatlah… di sekeliling mu ini, emas semua….”
Amir memberanikan diri menatap lelaki tua yang jumawa itu. “Saat ini aku hanya ingin kembali ke rumah. Supaya nenek tak cemas.”
Angku Pincuran Gadang tersenyum sabar. Dia suka dengan keberanian anak lelaki ini. Sekarang dia bertambah suka lantaran dedikasi dan loyalitas Amir tak bisa dibeli. Amir lebih mementingkan dedikasi dan loyalitas dari pada emas. Anak ini lebih memilih pulang ke rumah neneknya di Bukik Batu daripada bergelimang emas di jurang itu!
“Hmmm… baiklah Amir. Angku bisa mengerti keinginanmu. Sekarang, bagaimana kalau kamu istirahat dulu, besok pagi-pagi, angku antarkan ke rumah nenekmu.”
Amir masih hendak membantah. Ditatapnya Angku Pincuran Gadang dengan penuh harap. Tapi, begitu matanya bertemu dengan mata orang tua itu, Amir seakan masuk ke lorong terang yang panjang.
Pada kenyataannya, begitu mata bertatap mata, Amir merasa kantuk yang berat melanda. Matanya semakin sayu. Lalu anak lelaki itu pun terkulai, dan segera dipeluk oleh Angku Pincuran Gadang. Amir tertidur.
Dalam tidurnya, memang Amir merasakan memasuki lorong terang dan panjang. Dia serupa dibawa ke dunia antah barantah.
Padahal Amir sedang tidur di pelukan Angku Pincuran Gadang. Dia memang dibawa ke dunia kuno melalui telapak tangan kanan angku yang menempel di ubun-ubunnya!
Dengan cara menempelkan telapak tangan kanan di ubun-ubun anak itu, ada aliran energi dari angku ke bocah ini. Terlihat cahaya putih berkejaran memasuki kepala Amir!
Ibarat menonton film, Amir mengikuti kisah demi kisah. Dan dia adalah pemeran dari kisah itu.
Bermula dari kerajaan gaib yang tersembunyi di Bukit Sembilan. ”Aku ada Angku Pincuran Gadang, raja kerajaan gaib di Bukit Sembilan,” ujar lelaki tua itu saat bertemu Amir pertama kali.
Amir takjub dengan pakaian kebesaran orang tua itu. Dan dia lebih terkejut dengan istilah kerajaan gaib Bukit Sembilan. “Kerajaan gaib?” Amir akhirnya bisa bersuara. “Apa maksud Anda? Apa yang saya lakukan di sini?”
Angku Pincuran Gadang menatap Amir dalam-dalam. “Kau tidak tahu, Amir. Ini adalah tempat yang menjaga keseimbangan dunia, sebuah dunia yang sangat berbeda dengan dunia yang kau kenal. Dan kau… kau dipilih. Terpilih untuk menjadi bagian dari kekuatan ini.”
Amir bingung, tapi di dalam hatinya, ada sebuah perasaan aneh yang mengusik. Ada sesuatu yang membuatnya merasa bahwa ini adalah bagian dari takdirnya yang belum dia pahami.
“Kenapa saya?” tanya Amir, suaranya masih terdengar bingung.
Angku Pincuran Gadang mengangguk bijak. “Karena keberanianmu, Amir. Kau menunjukkan kekuatan yang besar meskipun hanya dengan kekuatan fisik. Namun, ada lebih banyak dari itu. Di dalam dirimu, ada potensi yang belum terasah. Kau bisa menjadi lebih dari sekadar seorang anak lelaki biasa. Di kerajaan ini, kau akan belajar untuk mengendalikan kekuatan itu.”
Amir mengerutkan kening. “Tapi saya tidak tahu apa-apa tentang kekuatan seperti itu.”
Angku Pincuran Gadang tertawa rendah. “Semua orang yang datang ke sini tidak tahu apa-apa. Semua orang yang terpilih, pada awalnya merasa seperti itu. Namun, di sini, kami akan mengajarkanmu tentang kekuatan alam, kekuatan yang mengalir di seluruh dunia. Kau akan belajar untuk mengendalikannya, dan suatu hari, kau akan menjadi bagian dari penjaga kerajaan ini.”
Amir terdiam sejenak, mencerna kata-kata itu. Dunia yang sama sekali baru. Kekuatan yang tak terbayangkan. Ini lebih dari sekadar pelajaran sekolah, lebih dari sekadar perkelahian. Ini adalah kesempatan yang bahkan tak pernah dia impikan.
“Apakah saya bisa… belajar?” tanya Amir dengan suara pelan, penuh harapan.
“Ya, kau bisa. Dan itu akan menjadi jalanmu, Amir. Jalan yang hanya sedikit orang bisa lalui,” jawab Angku Pincuran Gadang dengan serius, matanya menyala penuh keyakinan.
Amir merasakan sesuatu yang kuat mengalir dalam dirinya. Sebuah ikatan yang kuat dengan kerajaan gaib ini, dan dengan Angku Pincuran Gadang, sang Raja yang menawarinya jalan baru dalam hidupnya. Tak lama, Amir mengangguk, dan berkata dengan tekad baru, “Saya siap, Angku.”
Dan dari hari itu, Amir mulai menjalani latihan berat di Bukit Sembilan, di bawah bimbingan Angku Pincuran Gadang. Di sana, dia tidak hanya belajar bertarung, tetapi juga mengasah kekuatan batinnya, belajar mengendalikan energi alam yang mengalir di sekitarnya. Dia tak hanya menjadi murid, tetapi juga mulai menemukan takdirnya yang lebih besar. Ke depan, dunia yang penuh misteri dan kekuatan menantinya.
Ruang dan waktu di Bukit Sembilan terasa sangat berbeda bagi Amir.
Pada hari yang ditentukan, Angku Pincuran Gadang memandang Amir dengan tatapan penuh kebijaksanaan, seolah mengetahui apa yang ada dalam pikiran anak lelaki yang beru berumur sepuluh tahun ini.
Amir merasakan perubahan besar dalam dirinya. Pada awalnya, ia hanya seorang anak kecil yang bisa mengandalkan kekuatan fisiknya dalam bertarung. Namun, kini dia sudah belajar untuk mengendalikan kekuatan yang jauh lebih besar dari itu—sebuah kekuatan yang berasal dari dalam dirinya, dan dari alam di sekitarnya. Setiap hari, Angku Pincuran Gadang membimbingnya melalui latihan-latihan yang menggabungkan kekuatan fisik dan spiritual. Mereka berlatih di tempat yang tenang, di tengah-tengah hutan lebat dan gua-gua alami yang dikelilingi oleh energi gaib yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
“Amir, untuk bisa menguasai energi ini, kau harus belajar untuk mengosongkan pikiranmu. Pikiran yang terisi dengan kemarahan, ketakutan, atau keinginan hanya akan menghalangi aliran energi ini. Kau harus menjadi seperti aliran sungai yang tenang, yang tidak terhalang oleh bebatuan dan rintangan,” kata Angku Pincuran Gadang pada suatu pagi yang dingin, saat matahari belum sepenuhnya terbit.
Amir mengangguk, walaupun pada awalnya dia merasa sangat sulit untuk bisa menenangkan pikirannya. Setiap kali ia mencoba, pikirannya selalu dipenuhi dengan gambar-gambar masa lalunya, terutama tentang neneknya, tentang perkelahian dengan para preman di kampungnya. Namun, dengan sabar dan tekun, Angku Pincuran Gadang membimbingnya untuk lebih mendalam memahami dirinya sendiri, dan bagaimana mengendalikan energi dalam dirinya.
Selain itu, Amir juga dilatih dalam teknik-teknik perkelahian yang berbeda dari yang dia lihat selama ini. Meskipun berbeda, tetapi sesungguhnya mirip. Mirip dengan Silek Talao.
Amir yang sudah menerima jurus-jurus dasar Silek Talao dari neneknya, walaupun belum masak dilatihnya, tetapi sudah mulai mendarah daging. Dan, anehnya, setiap dia melangkah mengelak atau menyerang, Angku Pincuran Gadang sudah mendahului dengan gerakan yang sama. Tetapi lebih simpel. Lebih efektif.
“Memang ini adalah dasar dari seluruh silek di Minangkabau. Silek tanpa kembang dan pancak (pencak/bunga-bunga silek).”
Amir mengangguk mengerti. Karena itu, dalam hal silek, Amir dengan cepat dapat menguasai jurus-jurus yang diajarkan angku. Karena silek yang diajarkan adalah gerakan-gerakan sederhana, tidak banyak melangkah, tetapi praktis. Efektif.
Selain silek, Angku Pincuran Gadang juga mengajarkannya untuk memanfaatkan kekuatan alam—seperti kekuatan angin, tanah, air, dan api—untuk membantu melatih fisik dan batinnya. Namun, yang paling menakjubkan adalah ketika Angku Pincuran Gadang mengajarkan Amir untuk memadukan kekuatan energi pikiran dengan energi alam.
“Kekuatan alam bukan hanya bisa dirasakan, Amir, tetapi juga bisa dimanfaatkan. Alam ini selalu hadir di sekitarmu. Udara, tanah, batu, bahkan cahaya—semuanya adalah bagian dari energi yang saling terhubung. Begitu pula dengan pikiranmu. Pikiran adalah energi yang kuat. Jika kamu bisa menyatukan keduanya, kamu bisa menggerakkan dunia hanya dengan pikiranmu,” ujar Angku Pincuran Gadang.
Latihan pertama yang diberikan adalah mengendalikan elemen alam. Amir dilatih untuk memusatkan pikirannya pada satu titik, kemudian memanipulasi kekuatan alam di sekitar mereka. Awalnya, hanya angin yang bisa ia gerakkan dengan sedikit keberhasilan, namun lama kelamaan, dia bisa merasakan aliran energi yang lebih kuat di sekelilingnya. Dengan konsentrasi yang tajam, Amir bisa merasakan bebatuan besar di sekitar bukit yang bergeser sedikit demi sedikit, seperti mengikuti perintah dari dalam pikirannya.
Tapi yang paling luar biasa adalah ketika Angku Pincuran Gadang mengajarkan Amir untuk menyatukan pikiran dan energi alam menjadi satu kekuatan yang lebih besar, sebuah teknik yang lebih dahsyat—”Membunuh dengan Pikiran.”
Amir merasa seperti baru saja membuka pintu ke dimensi lain. Dengan latihan yang sangat keras, ia belajar untuk mengalirkan energi pikirannya ke dalam bentuk yang lebih kuat, menyatukannya dengan energi alam. Ia bisa merasakan bagaimana pikirannya beresonansi dengan aliran energi di sekitarnya. Teknik ini melibatkan pengendalian gelombang energi mental untuk menciptakan kekuatan destruktif yang bisa menghancurkan tanpa perlu sentuhan fisik.
Suatu hari, setelah berbulan-bulan berlatih, Angku Pincuran Gadang membawanya ke sebuah gua besar yang dalam. Di dalamnya, ada patung-patung kuno yang menandakan keberadaan kerajaan gaib yang telah lama terlupakan. Angku Pincuran Gadang menatap Amir dengan serius.
“Amir, ini adalah ujianmu yang sesungguhnya. Jika kau bisa menguasai teknik ini, kau akan menjadi salah satu penjaga kekuatan alam yang paling hebat. Tapi ingat, kekuatan ini sangat berbahaya. Jangan pernah menggunakan kekuatan ini dengan sembarangan, karena ia bisa menghancurkan bukan hanya tubuh, tetapi juga jiwamu.”
Amir hanya mengangguk, meskipun hatinya berdebar kencang. Ini adalah saat yang sangat menentukan. Angku Pincuran Gadang memberi isyarat, dan Amir pun mulai berkonsentrasi. Ia duduk dengan tenang di depan patung-patung itu, memejamkan mata, dan merasakan aliran energi yang ada di dalam tubuhnya.
Lama kelamaan, Amir bisa merasakan energi alam mengalir ke tubuhnya. Energi itu datang dengan lembut, namun semakin lama semakin kuat. Dia bisa merasakan sesuatu yang luar biasa, sebuah kekuatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Seolah dunia ini menjadi satu dengan pikirannya, dan pikirannya menjadi satu dengan dunia.
Dengan konsentrasi yang semakin dalam, Amir mulai membentuk energi itu, mengarahkannya ke titik fokus di depan patung. Seiring dengan itu, pikirannya menjadi semakin jernih, dan energi alam semakin terhubung dengan pikirannya. Perlahan, dia mengalirkan kekuatan pikirannya ke dalam bentuk yang lebih padat, sebuah energi mental yang bisa menghancurkan apapun yang ada di depannya.
Tiba-tiba, patung di depannya mulai bergetar. Batu-batu yang ada di dalam gua tampak bergetar seiring dengan aliran energi yang keluar dari tubuh Amir. Dengan satu fokus pikiran, Amir memusatkan energi itu pada patung yang ada di depannya.
Dalam sekejap mata, patung itu hancur berkeping-keping, tidak terhancurkan oleh kekuatan fisik biasa, tetapi oleh kekuatan yang ada dalam pikiran Amir. Ia menatap hasil dari teknik itu, napasnya terengah-engah. Ini adalah kemampuan yang sangat kuat, yang mampu menghancurkan hanya dengan mengalirkan energi mental ke objek di depannya.
Amir membuka matanya dan menatap Angku Pincuran Gadang yang berdiri di belakangnya, tatapan penuh kebanggaan.
“Amir, kau telah melakukannya. Kekuatanmu sekarang sudah terbangun, dan kau telah menjadi seorang murid sejati di kerajaan ini. Ingatlah selalu bahwa kekuatan ini bukanlah untuk disalahgunakan. Kekuatan pikiran adalah pedang bermata dua. Kau harus bijak dalam menggunakannya,” kata Angku Pincuran Gadang dengan suara yang dalam.
Amir mengangguk, dan dalam hati, ia tahu bahwa perjalanan barunya baru saja dimulai. Dunia luar masih penuh dengan tantangan, dan dia harus siap menghadapi apapun yang datang. Namun, kini dia memiliki kemampuan yang jauh melampaui kemampuan fisiknya. Kekuatan pikiran yang disatukan dengan energi alam akan menjadi senjata utamanya. Tapi, ia sadar, dengan kekuatan besar itu, datang pula tanggung jawab besar. Ia harus bijak, hati-hati, dan selalu ingat akan ajaran dari Angku Pincuran Gadang.
Keempat:
Amir terbangun. Hari masih subuh. Didapati dirinya sedang terbaring di atas dipannya sendiri. Di rumah neneknya, di Bukik Batu!
Tentu saja anak lelaki ini terkejut. Dahinya berkerut.
Tiba-tiba dia mendengar suara lantai papan berderit. Amir hafal, itu adalah nenek yang datang hendak membangunkannya.
“Heiii… jam berapa kamu tiba? Sudah sampai tengah malam nenek menunggu. Tapi kamu belum juga pulang!”
Ditanya begitu, Amir gelagapan. Apa yang harus dijawabnya? Apakah perlu diceritakan peristiwa-peristiwa yang dialaminya sejak berkelahi dengan “preman pos ronda”, hingga jatuh ke jurang di Bukit Sembilan?
Lalu, kemana Angku Pincuran Gadang? Bukankah tadi dia ada di dalam goa, dekat telaga kecil di jurang itu?
“Mir… kenapa kamu diam saja? Ayo, cerita pada nenek,” ujar wanita tua itu sembari duduk di samping Amir yang masih terbaring.
“Mmm… itu nek… aku kemalaman. Untung diantar Pak Bangun…”
Usai berkata demikian, Amir mencium aroma kemenyan. Dia ingat, itulah aroma saat Angku Pincuran Gadang mewujud di depannya di goa itu. Amir mencari-cari dengan matanya. Tapi tak ada angku yang sudah jadi gurunya itu!
Amir memandang neneknya.
Neneknya melihat ke arah pintu. Memang dipan Amir berada di ruang tengah. Hanya ada satu kamar, yaitu kamar neneknya, di rumah itu.
Amir heran. Kenapa neneknya justru melihat ke arah pintu? Padahal baru saja dia menjawab pertanyaan sang nenek. “Apakah nenek tak mendengar,” pikirnya.
Amir duduk, mengucek-ucek mata, lalu dia berkata lagi,”Nek… maaf ya aku pulang telat.”
Sang nenek yang kini gelagapan karena suara Amir yang sengaja dikeraskannya. Lalu dia membelai kepala Amir. Wanita tua itu tersenyum penuh arti. Tapi dia tak berkata apa-apa. Hanya dengan senyum manis yang masih tersisa di ujung bibirnya yang keriput itu dia seolah-olah ingin memaklumi apa yang dialami Amir.
Bersamaan dengan lenyapnya bau kemenyan yang dilepas oleh senyuman nenek itu, Amir pula yang kini dihinggapi keheranan. Sebab sang nenek sudah lupa dengan pertanyaannya tadi.
Tapi Amir masih sempat mendengar bisikan dari Angku Pincuran Gadang, menjelang bau kemenyan itu hilang”Kau amalkan ilmu-ilmu itu hanya untuk kebaikan.”
Dua orang itu–nenek dan cucu–sama-sama diam. Sama-sama tersenyum simpul. Menyimpan rahasia masing-masing.
Sedangkan Amir, merasa dirinya sudah berbeda. Badannya enteng. Pikirannya terang.
Lekas-lekas dia mandi. Ada sumur kecil di belakang rumah kecil itu. Amir mandi sambil bernyanyi-nyanyi. Begitupun sang nenek juga bersenandung, sambil menyiapkan sarapan buat cucunya.
Seperti biasa, Amir setengah berlari menuju pinggir jalan, untuk menunggu mobil pertama yang lewat.
Di pinggir jalan, hari masih terang-terang kacang. Sebuah mobil ambulan lewat. Rupanya mobil ambulan milik PT KTA yang disetop anak lelaki itu.
Mobil berhenti. Amir naik. Di dalam mobil ada petugas poliklinik. Sambil mengangguk sebagai tanda terima kasih, Amir duduk. Dia duduk dekat pintu, di dekat perawat perempuan.
“Mudah-mudahan anak Pak Bangun selamat dari koma ya buk,” ujar sopir sambil menatap jalanan di depannya.
“Iya Jang. Kasihan Rudi. Tapi, masih syukur, Pak Bangun hanya pingsan, dan luka-luka lecet di kakinya,” jawab perawat itu.
Tentu saja Amir terkejut. Dia ingin bertanya. Tapi didahului oleh sopir yang berkata kepada perawat,”Iya buk. Namun sopir Pak Bangun tak dapat diselamatkan…”
Kelihatan sopir itu sedih. Mungkin solidaritas sesama sopir. “Ajal itu rahasia Tuhan, Jang,” tutur perawat itu seolah-olah menghibur Ujang, sopir ambulan itu.
Amir masih ternganga karena terkejut. Dia ingat kejadian kemaren itu. Anak lelaki itu ingin bertanya, tetapi tak jadi. Dia memilih lebih baik diam, sambil berharap ada cerita lanjutan.
Namun hingga dia turun di gerbang sekolah, tak ada cerita lanjutan. Karena perawat itu tertidur. Mungkin karena lelah setelah semalaman mengantarkan korban ke rumah sakit di Sungai Rumbai.
Amir turun tepat di depan pos ronda. Dia ingat, di situ kemaren dia dikeroyok. Mendadak ototnya mengeras, ingat kalau-kalau ada “preman pos ronda”.
Tapi pos ronda yang terletak di simpang tiga itu kosong. Amir melangkah mantap menuju sekolahnya yang masih 50 meter dari simpang tiga itu.
Pagi itu, Jumat, suasana di sekolah masih sepi. Baru beberapa murid yang tiba. Guru-guru pun belum semuanya datang.
Amir yang sudah di dalam kelas, segera menuju bangkunya di deret kedua dari belakang. Dia duduk di sisi kanan. Di sisi kiri Rudi.
Anak lelaki itu termenung. Dia berharap Rudi selamat dari koma. “Sembuhkan Rudi ya Allah,” ujarnya lirih.
Sebagaimana biasa, tiap hari Jumat pelajaran usai pukul 11.30 wib. Kini Amir siap-siap hendak ke mesjid.
Sungai Talang tampak tenang. Mesjid kecil yang berada di dekat komplek perkebunan, menunggu umat untuk menunaikan ibadah.
Amir berjalan menuju masjid itu dengan langkah gontai. Dia masih terombang-ambing oleh berbagai kekuatan yang baru saja ia temui. Di balik langkahnya yang tenang, ada sebuah ketegangan dalam dirinya—suatu ketegangan yang sulit untuk dijelaskan, namun jelas terasa.
Saat Amir berdiri di depan masjid, adzan berkumandang. Suara seruan itu mengalun indah, menggema di seluruh penjuru Talao. Ketika lafadz “Haiya ‘ala Sholaaah” (Marilah menuju sholat) terdengar, sesuatu yang tidak biasa terjadi. Tanpa peringatan, tubuh Amir mulai gemetar. Dalam sekejap, darah segar muncrat dari mulutnya. Tubuhnya runtuh lemas ke tanah, dan ia pingsan. Muntahan darah itu bukan tanda sakit biasa, melainkan sebuah gejala yang jauh lebih dalam—sebuah pertempuran gaib yang baru saja dimulai dalam dirinya.
Kejadian itu tidak diketahui oleh orang lain. Amir tergeletak dengan darah hitam yang memenuhi mulutnya.
Seusai sholat, baru orang-orang terkejut begitu mendapati ada anak laki-laki tergeletak pingsan. Mereka terkesiap melihat tubuh Amir yang tergeletak dengan darah mengalir dari mulutnya. Ada rasa khawatir, ketakutan, dan kebingungan yang menyelimuti mereka. Namun, di tengah kerumunan yang panik, seorang ustad yang bijaksana bernama Ustad Ismail segera mendekat, merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak biasa dalam diri Amir.
Ustad Ismail adalah seorang ulama yang dikenal oleh masyarakat setempat karena ilmu kebatinan dan kemampuan spiritualnya yang tinggi. Ketika ia melihat Amir, perasaan aneh langsung menghinggapinya. Bukan hanya kondisi fisiknya yang terpuruk, tetapi ada sesuatu yang sangat kuat, bahkan purba, yang mengalir dalam tubuh anak itu. Sebuah kekuatan gaib yang luar biasa, liar, dan tidak terkontrol.
Dengan hati yang penuh rasa kasihan, Ustad Ismail membawa tubuh Amir ke dalam masjid, jauh dari kerumunan orang, dan mulai mencoba menyembuhkannya. Ia duduk di samping tubuh Amir yang tergeletak, memulai dzikir dan doa-doa untuk memanggil kekuatan penyembuhan dari Allah SWT. Namun, meskipun ia telah mengerahkan seluruh energi batinnya, kekuatan gaib dalam tubuh Amir tetap tidak terpengaruh. Keadaan Amir bahkan semakin memburuk, darah yang keluar semakin banyak, dan nafasnya semakin tersengal.
Ustad Ismail merasa bahwa cara biasa tidak akan cukup untuk mengatasi masalah ini. Ternyata, dalam batin Amir, ada kekuatan yang jauh lebih besar—kekuatan yang bukan berasal dari dunia manusia. Dengan rasa khawatir yang mendalam, Ustad Ismail memutuskan untuk melakukan langkah terakhir. Ia mengangkat tangannya, berdoa dengan penuh khusyuk kepada Allah, dan memohon pertolongan melalui kesaktian gurunya, yaitu Angku Syekh, seorang ulama besar dari tanah Rantau Duobaleh Koto yang terkenal dengan ilmu kebatinan dan kesaktiannya.
“Tuhan yang Maha Kuasa, Engkau yang Maha Mengetahui. Dengan izin-Mu, aku memohon kepada-Mu agar mengutus kekuatan Angku Syekh untuk menolong hamba dalam mengatasi kekuatan gaib yang ada dalam tubuh anak ini. Ya Allah, tolonglah kami.”
Seiring dengan doa yang dilantunkan Ustad Ismail, angin tiba-tiba bertiup kencang, menandakan hadirnya sebuah kekuatan gaib yang sangat besar. Di dalam dimensi batin Amir, sebuah pertempuran gaib yang sangat dahsyat pun mulai terjadi.
Di dalam alam gaib yang hanya bisa dirasakan oleh hati, terjadi bentrokan antara dua kekuatan besar: antara Angku Syekh–sang ulama yang menekuni tarikat sammaniyah–melawan Angku Pincuran Gadang, yang ternyata merupakan keturunan dari raja-raja besar Minangkabau kuno yang berkuasa di wilayah Dharmasraya, Solok Selatan, hingga ke Kerinci.
Angku Pincuran Gadang, yang sejatinya adalah penjaga kekuatan purba Minangkabau, merasakan serangan dari Angku Syekh. Ia berteriak marah, merasa terancam oleh kekuatan yang datang dari ajaran Islam yang mengakar kuat di hati umat. Namun, Angku Syekh, dengan ketenangan yang luar biasa, menghadapi semua ini dengan keyakinan penuh. Dalam dunia batin, Angku Syekh mengeluarkan kekuatan spiritualnya yang luar biasa, menggema dengan kalimat-kalimat zikir yang menggetarkan alam.
Sementara itu, di dalam tubuh Amir yang sedang koma, kedua kekuatan itu saling bertarung. Angku Pincuran Gadang berusaha mempertahankan kekuasaannya, menggerakkan kekuatan gaib yang berasal dari leluhurnya, namun Angku Syekh menggunakan kekuatan tasawuf yang datang dari ketulusan iman kepada Allah. Perang batin itu berlangsung begitu hebat, namun seiring dengan waktu, Angku Syekh mulai mendesak Angku Pincuran Gadang, yang semakin lemah.
Akhirnya, dalam detik-detik terakhir peperangan itu, Angku Syekh memunculkan kekuatan terakhirnya, membaca kalimat yang paling agung dalam Islam:
“La ilaha illallah, Muhammadarrosulullah.”
Seketika itu, sebuah cahaya yang sangat terang benderang muncul di tengah pertarungan gaib tersebut, menyilaukan segala sesuatu yang ada di sekitar mereka. Cahaya itu begitu kuat, memancar dari kedalaman batin Angku Syekh, membanjiri seluruh alam batin Amir. Cahaya itu tidak hanya menyerang Angku Pincuran Gadang, tetapi juga menggetarkan seluruh alam semesta yang berada di dalam tubuh Amir.
Angku Pincuran Gadang, yang semula keras kepala dan penuh kekuatan, merasa takluk dengan cahaya yang mengandung kekuatan Allah yang Maha Agung. Dia merasakan suatu keharuan yang mendalam, seolah-olah seluruh kehidupannya yang penuh kebanggaan sebagai seorang keturunan raja-raja besar Minangkabau runtuh begitu saja. Dalam kedamaian yang hadir setelah peperangan gaib itu, Angku Pincuran Gadang merasakan sebuah keinsafan yang mendalam.
Dengan penuh rasa terharu, dia akhirnya mengucapkan dua kalimat syahadat:
“Ashhadu alla ilaha illallah, wa ashhadu anna Muhammadan Rasulullah.”
Beriringan dengan lafaz dua kalimah syahadat itu, Angku Pincuran Gadang muntah-muntah. Lendir-lendir kuning kehitam-hitaman meleleh di bibirnya. Ada tujuh kali dia muntah. Hingga akhirnya yang keluar hanya air liur. Tidak ada lagi lendir kuning kehitam-hitaman.
Memang di dalam praktik rukyah, bukti perukyahan berhasil adalah manakala yang dirukyah tidak lagi mengeluarkan lendir, kecuali air liur biasa. Jika masih ada lendir yang keluar, artinya setan yang bersembunyi di tubuh belum habis keluar. Bila sudah air liur biasa yang keluar, artinya semua setan sudah pergi dari dalam tubuh.
Agaknya demikian pula halnya dengan Angku Pincuran Gadang. Semua setan yang bersemayam di badannya sudah pergi. Yang tinggal hanya kekuatan spritual yang bersih. Suci.
Demikian pula halnya dengan Amir. Bersamaan dengan cahaya yang menyilaukan semakin membesar, dan dengan sekejap, seluruh kekuatan buruk yang ada dalam tubuh anak laki-laki ini lenyap. Yang tinggal adalah energi batin yang suci.
Akan halnya Angku Pincuran Gadang, yang semula memiliki kekuatan spritual purba, kini karena telah berserah diri di hadapan kebenaran Islam, kekuatannya menjadi sesuatu yang bersih pula. Suci dari anasir-anasir setan.
Setelah itu, Angku Pincuran Gadang menghilang, seperti embun yang tersapu angin, meninggalkan tubuh Amir yang kini terbebas dari segala pengaruh kekuatan purba.
Keinsafan Angku Pincuran Gadang membuat energi batin yang melingkupi tubuh Amir terbebas dari anasir jahat.
Amir yang terbaring pingsan, akhirnya terbangun perlahan. Matanya yang terpejam membuka, dan tubuhnya mulai merasa ringan. Ia melihat Ustad Ismail di sampingnya, yang tampak lega dan gembira. Ustad Ismail tersenyum, dan Amir mengerjap, masih bingung dengan apa yang baru saja terjadi.
“Alhamdulillah, Amir, kau selamat. Kekuatan itu telah pergi dari tubuhmu. Allah telah mendengar doa kita,” ujar Ustad Ismail dengan suara yang penuh rasa syukur.
Amir hanya mengangguk, menatap tangan dan tubuhnya yang kini terasa bebas dari beban yang luar biasa. Ia tahu bahwa perjalanan hidupnya baru saja dimulai—perjalanan yang penuh dengan misteri dan takdir yang akan ia hadapi.
Namun, satu hal yang pasti—Amir kini memiliki pemahaman baru tentang kekuatan yang ada dalam dirinya, dan lebih penting lagi, ia memahami betapa berharganya iman dan doa.

Kelima:
Sekarang Amir sudah kelas VI SD. Dia diambil sebagai anak angkat oleh Pak Bangun sejak kematian neneknya satu setengah tahun yang lalu.
Sebelumnya, setelah kematian neneknya, Amir memilih tinggal di mesjid, di Talao. Dia bekerja sebagai garin–membersihkan mesjid. Sekaligus belajar agama dengan ustad Ismail.
Meskipun tinggal sendiri di kamar garin di masjid itu, Amir tak mempermasalahkan. Walaupun harus memasak dan mencuci baju sendiri, Amir menjalaninya dengan tenang.
Memang secara kebatinan, anak ini sudah jauh lebih tenang dibanding anak seusianya. Agaknya pelajaran kebatinan dari Angku Pincuran Gadang yang diperolehnya dalam mimpi sangat berpengaruh pada kemapanan ruhaninya. Apalagi kekuatan batinnya telah disempurnakan–dibersihkan–oleh Angku Syekh melalui doa Ustad Ismail, membuat Amir menjelma menjadi bujang tanggung yang berisi.
Walau demikian, secara alamiah, sifat anak-anak masih ada dalam dirinya. Nakal dan usil.
Beberapa kali dia dihukum oleh guru lantaran berkelahi. Meskipun pangkal bala perkelahian adalah karena membela kawan-kawannya.
Baru enam bulan tinggal di mesjid, suatu hari Pak Bangun menemuinya usai shalat Jumat.
Waktu itu Ustad Ismail memanggilnya ke dekat mi’raj masjid. Di situ ada Pak Bangun. “Sejak kematian Rudi dua tahun lalu, kami benar-benar kesepian. Bapak berharap kamu mau tinggal bersama kami,” ujar Pak Bangun dengan nada berharap.
Amir terkejut. Dia menatap Ustad Ismail. “Kami sudah membahasnya tadi. Menurut saya, alangkah baiknya kamu tinggal dengan Pak Bangun,” ujar Ustad Ismail menguatkan.
Setelah terdiam sejenak, sambil menunggu jawaban Amir, Ustad Ismail menambahkan,”Lagipula kamu sudah kelas VI. Tak lama lagi ujian akhir. Tentu waktumu harus lebih banyak digunakan untuk belajar. Bila tinggal dengan Pak Bangun, kamu tidak perlu lagi memasak, mencuci dan membersihkan mesjid.”
Amir terdiam. Yang terpikir olehnya adalah pekerjaannya sebagai garin. Dan bagaimana kelanjutan pelajaran agama dengan ustad muda itu?
Seperti tahu jalan pikiran Amir, Ustad Ismail berkata,”Kamu boleh berhenti jadi garin. Sudah ada yang bisa menggantikan,” ujarnya.
“Mmm… tapi…tapi aku masih ingin belajar agama…,” ujar Amir ragu.
“Amir… aku tahu batinmu sudah kuat. Jauh lebih kuat dari anak-anak seusiamu. Bahkan dari orang dewasa sekalipun. Apalagi batinmu juga sudah bersih…,” ujar Ustad Ismail sambil tersenyum penuh arti pada anak lelaki yang sudah dianggap sebagai adiknya sendiri.
Sejak kejadian hari Jumat itu, Ustad Ismail memang sengaja membimbing Amir dalam pelajaran agama. Di sela-sela waktu yang ada, sang ustad muda itu mengajarkan ilmu fiqih. Terutama peribadatan pokok. Selain itu dia juga mengajarkan sejarah Islam. Termasuk sejarah pengembangan Islam di Sumatera Barat.
Karena batin Amir sudah kuat lagi bersih, Ustad Ismail pun mulai memberikan pondasi-pondasi tasawuf dan tariqat buat anak itu. Dan Amir, ternyata tak mengalami kesulitan untuk memahaminya. Walaupun demikian, Ustad Ismail tetap membatasi. Dia tidak mau Amir masak bakarbit (matang karena dikarbit).
Meskipun masih muda, Ustad Ismail telah faham bahwa fiqh adalah ilmu yang dibutuhkan supaya peribadatan umat sesuai dengan syariat yang diteladankan Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wassalam. Tetapi, Ustad Ismail juga mengerti, bahwa kedekatan seseorang dengan Tuhan tidak selesai dengan peribadatan semata. Ada upaya secara spritual yang harus dilakukan, supaya “merasa dekat dengan Allah”.
Ketika sudah ada “rasa dekat”, meningkat ke level “menjadi bagian”; yang dalam ilmu tariqat yang berkembang di Minangkabau, dikenal dengan kalimat; indak basisi, indak baantaro, indak basatu indak tapadu!
Untuk mencapai level itu, seseorang harus mempraktekkan tasawuf. Mensucikan hati. Menjauhi rasa “cinta dunia”. Karena rasa “cinta dunia” lah yang menyuburkan sifat iri, dengki, sombong, ria, dan ujub!
Praktek tasawuf sejatinya adalah mengendalikan ego dan nafsu. Apabila pengendalian ego dan nafsu itu dilakukan dalam rasa spritual illahiyah, maka puncaknya adalah fanabillah. Tiada diri, yang ada hanya Allah semata!
Sangat jarang orang yang bisa sampai di level fanabillah ini. Tetapi ada. Sebagian kecil orang yang mencapai puncak ber-Tuhan akan merasa dunia ini hanyalah fatamorgana, sandiwara dan hampa belaka. Hambar. Dan akhiratlah yang menjadi tujuan.
Untuk mencapai level puncak ber-Tuhan, alangkah sangat banyak ujian. Namun dengan pengendalian diri dan tetap berharap rahmat-Nya, tiada sesuatu yang terjadi tanpa izin-Nya, maka taraf fanabillah itu akan menjelma menjadi tajalli.
Tajalli artinya penghayatan rasa ke-Allah-an atau penampakan dan pengungkapan Tuhan sebagai kebenaran dalam Sufisme. Dalam istilah yang digunakan Buya Hamka, tajalli diartikan sebagai “Kelihatan Allah di dalam hati”.
Dalam Sufisme, tajalli diyakini sebagai proses di mana Tuhan memanifestasikan diri-Nya dalam bentuk konkret.
Secara keseluruhan kajian sufisme ini membentuk spritualitas Islam. Dan pembentukannya tergantung pada praktik tasawuf dan berupaya untuk selalu dekat dengan-Nya dengan ibadah dan zikir.
Di kampung-kampung kajian tariqat ini disebut juga kaji duduak. Dan hanya sedikit saja orang yang ikut pengajian ini. Karena ada juga yang tabaliek kaji alias sakit jiwa lantaran gagal faham.
Akan halnya Amir, kendati baru diberikan dasar-dasar spritualitas Islam, namun karena secara batin anak ini sudah punya modal dari ilmu yang diperolehnya dari Angku Pincuran Gadang, dan sudah pula dibersihkan oleh Angku Syekh, maka “rasa dekat’ dengan Illahi itu sudah mulai terbentuk di sanubarinya
Karena itu, saat disuruh berhenti belajar oleh Ustad Ismail, Amir merasa agak keberatan.
“Jadi bagaimana, Mir,” tanya Pak Bangun. Amir masih diam, dan menatap Ustad Ismail dengan penuh harap.
Ustad Ismail juga mengamati Amir yang seolah-olah menunggu petuah darinya. “Mir… aku tahu batinmu sudah kuat. Juga bersih. Akan tetapi, tak baik jika sesuatu itu terlalu diburu. Percayalah Mir, aku yang sudah belasan tahun belajar, rasanya belum juga duduk faham. Semuanya perlu proses. Dan butuh waktu. Kelak, jika kamu sudah dewasa, in Sya Allah kamu akan menemukan jalanmu sendiri.”
Mendengar uraian yang cukup panjang itu, Amir menjadi malu sendiri. Sebab seolah-olah dia memaksakan diri untuk lebih. Padahal keinginannya hanya ingin terus belajar agam.
Di luar alasan di atas, bagi Amir, itu adalah tawaran yang tidak bisa ditolak. Sebenarnya tidak masalah dia menjadi garin. Namun, untuk memasak dan mencuci sendiri, itu yang berat. Mungkin karena dia tidak pernah melakukan pekerjaan itu ketika tinggal dengan neneknya.
Karena itu Amir menerima tawaran Pak Bangun. Dia pun tinggal di rumah itu. Di kamar Rudi, almarhum anak Pak Bangun yang sebangku dengannya di kelas IV.
Aktifitas persekolahan di komplek perkebunan di Talao, berbeda dengan sekolah di tempat lain. Banyak sekali kegiatan ekstra kurikulernya.
Di samping memang ada dukungan finansial dari perusahaan, murid-muridnya memang punya banyak bakat. Maklum sebagian besar murid di situ adalah anak karyawan perkebunan.
Kegiatan ekstra kurikuler yang menonjol adalah sepakbola. Dan untuk anak perempuan ada kegiatan seni dan budaya. Selain itu, sekolah tersebut juga punya drum band yang sering tampil di ibukota kabupaten, di Padang Aro.
Bulan Agustus adalah bulan dimana seluruh program ekstra kurikuler ditampilkan. Tidak hanya di internal perkebunan, seringkali murid SD Talao mengisi acara di Padang Aro.
Seperti bulan Agustus tahun itu. Amir termasuk salah seorang dari anggota drum band sekolah yang akan tampil dalam upacara penurunan bendera. Dia adalah stick master, yakni pemegang tongkat bersama dua mayoret perempuan.
Tugas stick master, selain jadi panglima dari grup drum band, juga memperagakan keindahan permainan tongkat. Sedang mayoret yang juga terampil menggunakan tongkat, lebih banyak gerakan untuk pengaturan gerak dan aba-aba.
Stick master tampil saat peragaan saja, bersama empat orang pemegang bass drum–drum yang paling besar dengan satu pemukul.
Untuk mempersiapkan penampilan itu, hampir setiap hari murid-murid itu latihan yang diadakan saat jam istirahat, dan sepulang sekolah.
Anggota grup drum band paling banyak adalah siswa kelas V. Selebihnya adalah siswa kelas IV dan kelas VI. Dari kelas VI hanya Amir dan dua orang anak perempuan yang ditugasi menjadi mayoret.
Ada seorang anak perempuan, Luna Sangir namanya, cukup menarik perhatian Amir. Juga anak-anak lelaki lainnya.
Luna adalah anak yang periang. Belum pernah Amir melihat anak itu marah. Kendati sering diusili anak laki-laki, Luna tetap saja tersenyum manis.
Amir ingat, beberapa pekan sebelumnya, sewaktu dirinya sudah tiga hari tinggal di rumah Pak Bangun, Luna sempat membuah heboh warga. Selama tujuh hari, anak itu hilang entah kemana. Tiba-tiba, Luna sudah tergeletak saja di teras rumahnya.
Waktu itu Amir hendak pergi ke lapangan bola. Batinnya yang sudah terlatih merasa ada yang ganjil. Dia merasa ada sesuatu yang tidak tampak. Tapi kentara adanya!
Amir duduk di kursi yang ada di teras itu. Dicobanya melafazkan zikir yang diajari Ustad Ismail, sembari kosentrasi mengumpulkan energi alam di sekelilingnya. Mendadak Amir mencium bau busuk. Saat membuka mata, Amir melihat ada anak kecil yang penuh brewokan sedang memanggul seseorang.
Dengan ringan saja, “anak kecil brewokan” itu meletakkan tubuh yang dipanggulnya itu dengan hati-hati, di teras rumah sebelah. “Heiii…bukankah itu anak pak Datuak yang hilang tujuh hari yang lalu,” gumam Amir.
Hanya sebentar Amir sempat berpikir, karena sekejap mata “anak kecil brewokan” itu hilang. Sesaat sebelum raib, Amir sempat melihat “anak kecil brewokan” itu menunjuk-nunjuk udara. Lalu hilang dari pandangan!
(cerita tentang ini, dapat dibaca pada novel Simpang Hati Luna Sangir–buku 1 dari trilogi)
Amir tak jadi mendekati tubuh yang tergeletak di teras sebelah itu. Sebab tak lama, ada lelaki tua keluar. Lalu orang-orang pun berduyun-duyun datang lantaran mendengar kabar bahwa anak perempuan yang hilang tujuh hari lalu telah kembali dengan selamat!
Setelahnya, dari cerita-cerita orang Amir tahu bahwa Luna dilarikan oleh makhluk kate yang hidup di Gunung Tujuh. “Berarti anak kecil brewok yang aku lihat itu adalah orang kate,” gumam Amir sendiri.
Sejak saat itu, diam-diam Amir tertarik memperhatikan gerak-gerik anak perempuan tetangganya itu. Walau tertarik, Amir tidak pernah mencoba untuk menyapanya. Padahal dia sering berpapasan di depan rumah. Amir lebih banyak menyapa dengan anggukan. Kadang-kadang dia menyapa dengan senyuman.
Walau tak mencoba untuk berkomunikasi, namun Amir dengan intens selalu memperhatikan anak perempuan yang satu ini. Dia sendiri tidak tahu, kenapa suka sekali mencuri pandang secara sembunyi-sembunyi. Apakah karena anak itu cantik? Tidak juga. Banyak anak perempuan yang lebih cantik. Apakah karena dia pintar? Memang Luna adalah salah satu anak yang cerdas. Tapi bukan itu yang membuat Amir tertarik!
Lama baru Amir mengetahui. Rupanya karena Luna yang selalu riang dan tak pernah marah itulah yang membuatnya tertarik. Apakah memang demikian?
Amir masih mencoba menganalisa sendiri. Seperti sore ini, Amir kembali memperhatikan gerak-gerik Luna dari teras rumahnya.
Dia melihat gadis itu sendirian. Sedang berjalan membawa ember kecil. Akan kemana dia?
Amir mau mengikuti anak itu. Tetapi tiba-tiba Pak Bangun memanggilnya. “Mir, coba kamu bacakan ayat ini. Bapak tidak bisa. Hurufnya terlalu kecil.”
Amir melihat Pak Bangun sedang memperhatikan buku yang sangat kecil. Itulah stambul–Al Quran mini. Lalu Amir pun asyik membahas stambul dengan Pak Bangun.
“Menurut Ustad Ismail, stambul adalah koleksi Al Quran mini yang terkenal dengan desain klasik dan kualitas premium. Kitab stambul asli hadir dalam berbagai pilihan seperti mini Quran dengan tinta hitam atau emas, serta dilengkapi kotak antik.”
“Bapak beli dimana?”
“Husss… ini hadiah dari Ustad Ismail. Ini stambul yang sudah berusia ratusan tahun.”
Amir mengangguk-angguk. “Kata Ustad Ismail, ini dulunya milik Syekh Sampu. Ustad Ismail memberikan pada Bapak, sebagai kenang-kenangan, karena dia akan berangkat ke Mesir, untuk kuliah lagi,” ujar Pak Bangun.
Kembali Amir mengangguk-angguk. Dia teringat cerita Ustad Ismail bahwa kekuatan gaib Angku Syekh yang ikut menolongnya ketika muntah darah di depan mesjid, bisa jadi adalah Syek Sampu–ulama besar lagi keramat di ranah Rantau Duobaleh Koto, Solok Selatan yang hidup hingga tahun 1960. Syekh Sampu adalah ulama yang berumur panjang. Beliau hidup selama 184 tahun!
Sebagaimana diceritakan oleh keturunan ulama yang keramat ini, Syekh Sampu mempunyai nama lengkap Syekh Muhammad ‘Arif Sampu. Beliau adalah ulama yang mengembangkan tarikat Sammaniyah–sebutan lengkapnya: Thariqat Samman Al-Khalwatiyah–di Sumatera Barat, khususnya di Solok Selatan.
Syekh Sampu mendalami Thariqat Samman Al-Khalwatiyah dari ulama besar di Madinah–Syekh Sayyiid Muhammad Amiin Arridwan. Salah satu kekhasan tarikat ini adalah cara berzikirnya yang penuh gerakan energik.
Teringat cerita Ustad Ismail tentang ulama besar itu, spontan Amir bertanya pada Pak Bangun,”Oya Pak. Syekh Sampu itu orang mana?”
“Orang Solok Selatan. Itu ada surau beliau yang sekarang sudah jadi mesjid, di daerah Sampu. Kalau dari sini, sebelum Padang Aro,” tuturnya.
Amir mengangguk. “Kalau begitu, kita perlu ziarah ke kuburan beliau,” ujar Amir.
Pak Bangun mengangguk. “Bisa…bisa… sepekan lagi drum band kamu akan tampil di Padang Aro. Nanti kita bisa singgah di situ.”
Setelah membacakan tulisan arab yang halus itu, Amir teringat Luna yang bergegas berjalan sendiri ke arah sungai. Memang di belakang komplek perumahan itu ada sebuah sungai, Sungai Jujuan namanya.
Solok Selatan terkenal dengan negeri Seribu Sungai. Ada lima sungai besar di kabupaten pemekaran dari Kabupaten Solok ini. Yakni Sungai Batang Hari, Batang Suliti, Batang Bangko, Batang Liki dan Batang Sangir. Dan lebih seratus sungai-sungai kecil tersebar di seantero wilayah itu. Termasuk Sungai Pangian, Sungai Suir dan Sungai Jujuan yang mengalir di sepanjang perkebunan sawit itu.
Sungai Jujuan itu airnya jernih. Anak-anak senang mandi di situ. Ada beberapa lubuk yang cukup dalam. Menyenangkan untuk menyelam, atau melompat jumpalitan dari tebing sungai.
Ke situ Amir berjalan. Dan… hampir tiba di tepian, sekira sepuluh langkah lagi, Amir terpana. Ada anak perempuan sedang berkecimpung, mandi telanjang!
“Luna…mandi telanjang…,” gumam Amir sambil membaca istigfar.
Namun hanya sekejap dia menampak. Di ujung istigfar, Amir masih sempat melihat Luna menunjuk-nunjuk udara. Setelah itu anak perempuan yang kerapkali diamatinya tersebut hilang dari pandangan. Lenyap.
Amir malu. Dia tak mau dianggap tukang cibuak (tukang intip). Karena itu dia segera memutar badan, dan mulai berjalan ke arah komplek.
Baru dua langkah, tiba-tiba telinganya ditarik ke belakang. Amir kena jewer. Spontan dia menoleh ke belakang. Namun tak ada seorangpun yang tampak. Di sungai tempat Luna mandi tadi, juga tak ada orang!
Amir tertegun. Dia tidak penakut. Tetapi dijewer telinga oleh sesuatu yang tak terlihat, anak lelaki ini kecut juga. Anak kecil mana yang berani melawan hantu?
Dia pun lari terbirit-birit. Sedangkan Luna tertawa terpingkal-pingkal, sambil mengenakan pakaian.
Jika ada orang lain yang melihat, pasti akan terkejut dan heran. Kenapa ada baju dan celana yang bergerak-gerak sendiri.
Namun sesaat setelahnya, tampak Luna sudah berjalan ke arah komplek. Anak perempuan itu setengah berlari menuju rumahnya. Sambil tertawa sendiri. Dia geli melihat Amir lari ketakutan. Dalam hati dia bergumam,”Mungkin anak itu mengira ada hantu!”
Setibanya di rumah, dengan nafas yang tersengal-sengal, Amir segera masuk ke kamarnya. Dia malu jika ditanya Pak Bangun, kenapa lari terbirit-birit?
Jika saja ditanya begitu, Amir tak tega pula untuk berbohong. Tetapi betapa malunya dia bila memang ditanya. Mana mungkin dia akan berterus terang menceritakan betapa dirinya ketakutan karena telinganya dijewer hantu?!
Antara malu dan heran, Amir kembali memikirkan kejadian tadi. Sambil rebah di dipan, anak lelaki itu tersenyum sendiri teringat Luna yang mandi telanjang bulat!
“Ehhh…tapi kenapa anak itu hilang setelah menunjuk-nunjuk udara? Bukankah hal yang sama pernah aku lihat sebelumnya,” pikir Amir.
Tiba-tiba Amir tertawa sendiri. “Pasti itu ilmu yang diajarkan orang kate! Iya… hmmm… tidak salah lagi. Berarti Luna itu hilang selama tujuh hari sengaja dibawa orang kate. Dan diberi ilmu menghilang? Hmmm… begitu rupanya…”
Amir menyimpulkan sendiri. Sekaligus juga membantahnya sendiri. “Tidak mungkin! Tapi… bukankah aku juga mendapat ilmu secara aneh pula? Bahkan lebih aneh dari paja (anak) tu! Hanya dalam mimpi, aku dapat ilmu!”
Tiba-tiba Amir mencium bau kemenyan yang khas. Anak itu teringat pengalamannya di Bukit Sembilan. Lalu terdengar suara,”Cucuku… Orang Kate itu dahulu adalah bagian dari kita. Mereka masih saudara, sampai mereka berkhianat pada kerajaan lantaran asmara… kamu harus hati-hati dengan urusan asmara itu… Sebaiknya kamu terus saja mendalami ilmu agama, walaupun nanti tak ada lagi Ustad Ismail!”
Amir terkejut mendengar suara itu. Alih-alih merespon, Amir malah bertanya,”Angku, bagaimana caranya supaya aku bisa bertemu atau mendengar suaramu?”
“Hahaha… hahaha… anak pintar. Tentu angku akan selalu bersamamu. Angku ada dalam pikiranmu…!”
Amir tak paham. Lantas dia bertanya lagi,”Apa maksudnya…?”
“Bukankah energiku sudah merasuk ke dalam energi mu secara kebatinan? Dan Angku Syekh pun sudah membersihkannya?”
“Lalu. Apakah itu berarti angku ada di kepalaku?”
Terdengar suara tertawa yang berat dan parau. “Bukan di kepalamu! Tapi di dadamu. Di hatimu… Di ruang hatimu…!”
“Tapi kecek (kata) angku di pikiran… tentu di kepala… mana ada pikiran di hati?”
Lagi-lagi terdengar suara yang berat dan parau. Kali ini lebih lama. Tidak jelas apakah itu suara tertawa orang yang gembira, atau lagi marah? “Kelak, jika kamu dewasa, kamu akan tahu. Sekarang kamu yakini saja bahwa angku ada di pikiranmu, yakni di ruang hatimu…!”
Amir tetap saja ingin bertanya. Begitulah kebiasaan anak itu. Dia tidak mau menunda sesuatu, bila bisa dikerjakan sekarang. Dia selalu berpikir dan bertindak sistematis. Terpola dan terkontrol.
Sehingga jawaban Angku Pincuran Gadang yang tidak memuaskannya itu membuat Amir gusar. Dia masih ingin bertanya lagi. Namun angku itu memotong perkataan Amir yang masih di ujung lidah,”Semuanya perlu proses, Mir. Tak ada sesuatu pun yang tiba-tiba. Kecuali kehendak-Nya… Sekarang kamu cukup tahu sampai di situ. Dan, jika kamu perlu bertemu dengan angku, secara nyata, cukup kosentrasikan rasa dengan pikiran. Raso dibaok naiek, pareso dibaok turun. Namun jangan tiok cicah (sering) memanggilku. Yang jelas, angku selalu mengawasimu, untuk memastikan jangan sampai jalanmu melenceng!”
Lalu bau kemenyan pelan-pelan hilang. Amir masih terkesima tatkala Pak Bangun memanggilnya. “Mir, kamu sudah shalat?”
“Iyaa pak… Ini sedang siap-siap…”
Lalu Amir pergi ke belakang untuk berwudhu. Kemudian dia shalat sendiri di kamar. Lama dia sembahyang. Selanjutnya berzikir. Khusyuk.
Kekhusyukannya itu menjelma dalam bentuk keharuan yang dalam. Perasaannya menjadi tajam, halus dan sensitif. Dan Amir merasakan kelapangan dada. Perasaan yang plong. Kosong tanpa beban.
Entah besok, akankah ada beban yang tak mampu dipikulnya?
Wallahu a’lam…
Keenam:
Siang itu cukup terik. Namun guru tetap meminta anak-anak drum band latihan. Tak peduli panas terik memanggang.
Maka, dengan bermalas-malasan anak-anak itu membawa peralatan masing-masing ke tengah lapangan. Ada yang mengusung bass drum–drum yang berukuran paling besar. Beberapa membawa tenor drum. Yang lain membawa cymbal, pianika, terompet dan seruling.
Sedangkan Amir dengan santai masih duduk di teras. Berlindung dari terik matahari. Sebab alat yang menjadi bagiannya hanya sebuah stick alias tongkat.
Beberapa murid perempuan yang membawa tenor drum, tampak kesulitan. Kasihan. Amir pun ingin membantu.
Tetapi, dia melihat Luna juga santai-santai saja. Berteduh. Sama seperti dirinya.
Bedanya, Amir tak melihat ada niat paja (anak) itu buat membantu teman-temannya yang kebagian tenor drum.
Mangka (kesal) hati Amir melihatnya. Lebih tepatnya, gemas! “Keenakan saja dia… saat yang lain sibuk, dia malah enak-enak berteduh…!”
Memang saat itu Luna sedang duduk di emperan kelas. Membelakang ke lapangan. Tas dan peralatan diletakkan di belakangnya.
Tiba-tiba Amir ingat peristiwa di pinggir sungai. “Saatnya sekarang membuktikan, apakah dia memang punya ilmu,” gumamnya sendiri.
Amir bergegas ke tumpukan sampah di belakang sekolah. Dia mengorek-ngorek sampah yang lembab itu dengan kayu. Segera menyembul cacing-cacing kecil bewarna kemerah-merahan.
Dimasukkannya segenggam cacing ke dalam plastik. Lalu, dengan mengendap-endap, Amir mendekati Luna yang masih sibuk dengan es tontong. Hingga sudah berada tepat di belakangnya pun, anak itu masih asyik mengemut es.
Amir melihat tas Luna terbuka. Seketika dia menumpahkan isi plastik tadi. Cacing-cacing itupun merayap.
Dengan sigap, Amir kembali ke tempat semula. Lalu dia berpikir, bagaimana caranya agar anak itu merogoh tasnya?
Tiba-tiba dia memicingkan mata. Menyatukan pikiran untuk memerintah anak itu buat membuka tasnya!
Amir masih memicing, tatkala dia mendengar teriakan. “Adduuuuhhhh… ulaaaar… ehhh… bukan… ada ca…ca…cinggg… dalam tas aku…!”
Anak-anak lain yang masih sibuk mempersiapkan peralatan di tengah lapangan, terkejut mendengar teriakan Luna. Mereka berlarian mendekati. Begitu pula bu Aminah, guru mereka.
Karena begitu ramai yang mengerubungi, Luna pun tersipu-sipu malu. Lalu dia pun ikut tertawa tatkala teman-teman tertawa melihat cacing-cacing itu bermunculan dari buku-buku saat isi tas ditumpahkan.
Dari jauh, Amir ikut tertawa. Tetapi mendadak telinganya ada yang menjewer dari belakang. Rupanya bu Aminah yang melakukannya sambil berkacak pinggang.
“Bukannya siap-siap, kamu malah mengisengi orang!”
Amir terkejut. Dia malu sekali. Tetapi dia tak tahu bahwa saat yang sama, Buk Aminah itu sedang ikut tertawa bersama Luna dan yang lain.
Dan Amir tambah terkejut lagi sambil berlari bergabung dengan anak-anak itu. Dalam hati dia bergumam,”Apakah ada hantu mirip Buk Aminah di siang bolong ini?”
***
Selasa, 16 Agustus 2005, rombongan drum band SD itu dilepas secara resmi oleh General Manager (GM) perusahaan perkebunan yang berkantor di Talao.
Buat perusahaan, penunjukan drum band yang mereka bina itu adalah sebuah kehormatan. Karena itu, mereka pun tak tanggung-tanggung mempersiapkannya. Seluruh sumberdaya perusahaan dikerahkan, supaya penampilan anak-anak itu maksimal. Apalagi itu adalah peringatan kemerdekaan!
Lima truk dikerahkan untuk memobilisasi rombongan. Ada 75 orang rombongan. Terdiri dari 35 anggota drumband, 21 anggota kesenian kuda kepang, dan 19 guru dan karyawan pendamping.
Rombongan itu berangkat pagi. Sedangkan Amir memang sengaja berangkat sehari lebih cepat. Dia berangkat bersama Pak Bangun yang menyupiri. Mereka hendak singgah di Sampu.
Dari Talao, bakda dzuhur, dengan lancar sekira sejam sudah sampai di Mercu. Tak berapa lama tiba di Ngalau. “Di sini ada goa stalagtit yang menarik. Belum banyak orang yang tahu. Tetapi prospeknya bagus. Orang di sini menyebutnya Goa Batu Kapal,” ujar Pak Bangun menjelaskan.
Ibarat guide alias pemandu perjalanan, Pak Bangun menerangkan daerah-daerah yang dilalui. “Di sini Lubuak Batuang, tak lama lagi kita tiba di Lubuak Malako,” tuturnya.
Dijelaskannya,”Lubuak Malako punya ciri khas. Di sini pemangku adat paling tinggi adalah Inyiek Bandaro Putieh. Malayu sukunya.”
Amir mengangguk-angguk saja. Maklum anak ini belum pernah mengunjungi daerah-daerah yang dilalui tadi. Hari-harinya lebih banyak di Bukik Batu. Selain ke sekolah di Talao dan sekitarnya hingga ke Sungai Talang, paling jauh dia pernah ke Log Batu Sandi dan Sungai Rumbai.
Tak lama, mereka tiba di pendakian Bukik Guntang. “Jalan ini sempit. Di kiri tebing dengan cadas dan karang yang keras. Di kanan, lihatlah… itu jurang yang lumayan dalam. Ada air yang deras di bawahnya. Itulah Batang Sangir, salah satu dari lima sungai besar di Solok Selatan,” terang Pak Bangun.
Mereka melewati Bukik Guntang dengan selamat. Meskipun sudah berumur, namun Pak Bangun cukup terampil mengemudikan mobil.
Sekira 15 menit, mobil memasuki Koto Japang. Kemudian berturut-turut Padang Ayie Dingin, dan Manggiu.
Sepanjang perjalanan Amir asyik melihat daerah-daerah yang dilalui. Kadang-kadang dia berdecak kagum, betapa suburnya daerah-daerah itu. Sepanjang jalan bermacam-macam pepohonan terlihat rimbun.
Dia juga melihat pohon durian sangat banyak di tepi jalan. Terutama dari Lubuak Malako hingga Manggiu, bertebaran pohon durian. Kelihatannya adalah durian yang tumbuh alami. Bukan sengaja ditanami oleh penduduk.
Selain itu, yang tak kalah menarik adalah aliran Batang Sangir yang deras. Airnya yang jernih berkilat-kilat ditimpa mentari sore.
Lalu mobil itu berhenti di masjid Syekh Sampu yang terletak di sebelah kanan.
“Di sinilah Surau Syekh Sampu. Kita sholat Ashar di sini,” ujar Pak Bangun sambil meminggirkan mobil.
Usai shalat, Amir berdzikir. Sejak berguru dengan Ustad Ismail, Amir memang diajarkan beberapa lafaz dzikir. Termasuk cara dan tertib melakukannya. Sejak itu, anak lelaki kecil ini selalu melakukannya setiap selesai shalat.
Lama sekali dia berdzikir. Pak Bangun sampai agak kesal menunggunya. Karena terlalu lama, Pak Bangun tidak melihat ada orang yang duduk di depan Amir.
Jika Pak Bangun melihat, pasti dia heran. Bagaimana bisa tiba-tiba ada lelaki tua, berbadan kecil berkopiah, sudah duduk bersila di depan Amir!
Dan Amir sendiri pun tidak tahu. Karena dia berdzikir sambil mengatupkan mata. “Untuk melatih dan membiasakan kosentrasi boleh berdzikir dengan mata tertutup,” ujar Ustad Ismail pada suatu waktu, mengajari anak itu.
Akhirnya Amir selesai. Dia berdiri. Dan keluar masjid, mencari-cari Pak Bangun. Yang dicari ternyata ada di emperan sambil melihat ke jalan. “Bukankah kita akan pergi ke makam Syekh Sampu?”
Pak Bangun mengangguk. Tapi dia lihat di sekililing masjid, tidak ada satu pun kuburan. Di kiri dan kanan ada sawah masyarakat.
Pak Bangun menoleh pada seorang lelaki tua. Agaknya lelaki tua ini juga baru selesai shalat. Mungkin warga setempat. Dialah yang menjawab,”Beliau tidak dimakamkan di sini.”
“Dimana makam beliau?” Pak Bangun bertanya dengan antusias. “Beliau, Syekh Sampu dimakamkan di Sungai Lande, kira-kira 15 km dari sini,” jawab lelaki tua itu.
“Kenapa tidak dimakamkan di sini,” tanya Amir sambil melihat atap masjid yang terbuat dari seng, dengan puncak runcing yang dibentuk dengan seng plat.
“Mungkin anak-anak beliau yang meminta. Karena rumah istri beliau memang di Sungai Lande,” jawab lelaki tua itu.
Amir memandang Pak Bangun, dan berkata,”Bagaimana kalau kita ke makam beliau?”
“Kan memang itu rencana kita,” jawab Pak Bangun. “Tetapi apakah ke sana bisa dilalui mobil, pak,” tanya Pak Bangun pada lelaki itu.
Lelaki tua itu menggangguk,”Tapi jalannya agak jelek. Boleh saya menumpang, sekalian biar saya antar, saya juga mau pulang, ke Sungai Lande” tutur lelaki tua sambil memperbaiki letak kopiahnya.
Amir mengangguk sambil memandang Pak Bangun. Dan Pak Bangun juga mengangguk. “Tentu saja boleh. Silakan naik bapak. Bila tidak keberatan tolong antarkan kami ke sana,” katanya pada lelaki tua. Dan si lelaki tua menaiki mobil. Duduk di dekat Amir.
Bertiga mereka duduk di kabin depan mobil doble gardan itu.
“Bapak terus saja jalan ini. Nanti ada simpang ke kiri di depan, kita belok kiri,” ujar lelaki berkopiah itu.
Pak Bangun mengangguk. Di simpang itu, dia membelokkan mobil ke kiri. “Ini nama daerahnya Tanggue Aka,” ujar lelaki tua sambil kembali membenahi letak kopiahnya yang miring.
“Jalannya jelek pak. Banyak batu. Tapi biasanya bisa lewat,” tuturnya. “Nah ini nama daerahnya Banda Runtuah.”
“Memang ada bandar yang runtuh di sini,” celutuk Amir.
Lelaku tua itu tertawa ramah. “Mungkin dahulu ada banda (selokan) yang runtuh. Karena itu, orang-orang dahulu memberi nama daerah ini Banda Runtuah,” jawabnya. Riang benar lelaki ini. Badannya agak kecil. Suka senyum. Seperti tidak ada masalah saja dalam hidupnya.
“Setelah Banda Runtuah, ada Kampuang Dalam. Nanti ada simpang tiga. Ke kanan, sekira empat ratus meter, kita sudah tiba di Sungai Lande. Terus saja sekira tiga ratus meter, menjelang masuk daerah Sungai Padi, di sebelah kiri, itu ada pekuburan. Kuburan Syekh Sampu adalah yang ada atapnya!”
Pak Bangun mengangguk-angguk, sambil matanya fokus untuk memperhatikan jalan yang banyak batu. Dia menyetir dengan cekatan.
“Bapak sudah berapa umur,” tanya Pak Bangun. “Wahhh…saya lupa pak. Waktu Belanda menjajah, saya sudah sebesar anak ini,” jawabnya sambil memegang bahu Amir dengan lembut.
Meski disentuh lembut, tetapi Amir merasakan ada energi yang halus merasuk lewat bahunya! “Amir spontan berkosentrasi. Memusatkan pikiran untuk menyerap energi alam!”
Lelaki berkopiah itu agak gelagapan, mungkin karena merasakan respon Amir. Tetapi dia tetap tersenyum, seraya mengalihkan tangannya ke punggung Amir. Energi itu makin membanjiri, menyeruak ke tubuh Amir!
Sang lelaki tua berkopiah malah menekan punggung Amir makin kuat. Dia seperti ingin mentransfer seluruh energi yang dimilikinya!
Sekarang Amir yang gelagapan. Tetapi dia sudah kepalang tanggung. Wajah Amir mulai berkeringat, matanya merah. Mukanya pun lebih merah.
Pak Bangun yang mendengar suara nafas Amir yang berpacu, seketika menoleh. Dia terkejut lantaran badan anak itu mulai menggigil. Keringatnya bercucuran. Mukanya serupa udang direbus.
“Heiii… ada apa?”
Tetapi Amir tidak menjawab. Malah anak itu mengepalkan dua tangan di atas pahanya. Pandangan anak itu lurus ke depan.
Yang bikin Pak Bangun makin kaget, dia tidak melihat bapak tua berkopiah tadi. “Kemana orang tua itu? Kapan dia turun? Atau dia terjatuh? Wahhh gawat…”
Pak Bangun menghentikan mobil persis di simpang tiga. Sedangkan Amir makin menggigil dan berkelojotan. Dengan pandangan mata lurus ke depan.
Kuatir akan keselamatan anak itu, Pak Bangun menyentuh Amir. Dia tak tahu harus berbuat apa?
Begitu tangannya menyentuh Amir, Pak Bangun terdorong ke tepi. Bahkan terpelanting ke luar. Pintu itu rupanya tak mampu menahan badan Pak Bangun yang terdorong kuat oleh energi dari tubuh Amir.
Lelaki bertubuh tinggi dan tambun serta berkumis itu tajilapak di tepi bandar. Tetapi dia segera duduk dan berdiri. Dia menguatiri keselamatan Amir. Ada apa dengan anak itu? Dan kemana lelaki berkopiah tadi?
Sementara itu, Amir semakin menggigil dan berkelojotan. Bahkan matanya membesar, seperti akan tabudue (terlompat ke luar).
Pak Bangun mencoba kembali mendekati Amir. Niatnya tentu saja hendak menyelamatkan. Tetapi, tiba-tiba Pak Bangun merasa ada yang menepuk pundaknya dari belakang.
Dia menoleh. Dan terpana. “Ehhh… kemana saja bapak? Bukankah tadi duduk dekat Amir….”
Lelaki tua berbadan kecil berkopiah itu terkekeh. “Biarkan saja anak itu. Dia sedang mencoba menguasai tenaga yang diberikan.”
“Ehhh… tenaga yang diberikan… tenaga apa? … Maksud bapak tenaga dalam? Siapa yang memberikan?”
Kembali lelaki berkopiah itu terkekeh dan tersenyum ramah. “Bapak tidak perlu tahu.”
Pak Bangun masih mau bertanya lagi. Namun dia lihat Amir terkulai! “Mir… ehhh… bagaimana ini? Pak… ehhh… mana bapak tadi?”
Lelaki tambun berkumis itu kalangkabut. Dirabanya tangan Amir, lalu dadanya dan keningnya. Denyut nadi normal, hanya kening Amir yang agak panas. Amir hanya pingsan.
Sekali lagi Pak Bangun melihat sekeliling. Tetap saja orang tua berkopiah tidak tampak. Kemana bapak itu?
Pak Bangun ingat perkataan lelaki berkopiah tadi. Amir yang sedang terkulai pingsan itu dia bawa ke arah Sungai Lande.
Tepat seperti yang dikatakan lelaki berkopiah, memang ada pekuburan di sebelah kiri. Namun di sebelah kanan jalan ada surau (mushalla). Ke situlah Amir dibopong oleh lelaki tambun berkumis itu.
Sementara Amir sendiri, tidak merasa sedang pingsan. Dia merasa sedang berada di surau Syekh Sampu. Di dalam surau dengan penerangan lampu togok (lampu dinding berbahan bakar minyak tanah).
Ada beberapa orang di situ. Empat orang. Semuanya lelaki yang sudah berumur. Dan mereka sedang mangaji (menimba ilmu) tarikek (thariqat) dari Syekh Sampu. Ini oleh orang kampung disebut kaji duduak (istilah untuk kajian terbatas dan serius).
Tapi tak seorangpun yang memperhatikan Amir, kecuali lelaki kecil berkopiah itu. Namun, lelaki tua berkopiah itu pura-pura tidak tahu saja. Dia menganggap keberadaan Amir seperti angin lalu!
“Ini kaji tentang Empat Anasir. Dalam kaji terdahulu kita sudah membahas kaji “Empat Diri”, yaitu Diri NanTerdiri, Diri Nan Terpatri, Diri Nan Tersembunyi dan Diri Nan Sebenar Diri. Kalian masih ingat?”
Empat lelaki itu mengangguk serempak. Kemudian secara bergantian mereka mengulang kaji itu. Mereka melafazkannya berganti-ganti.
Diri Nan Terdiri adalah jasad atau fisik tubuh beserta ruh. Mulai dari ujung kaki sampai ke ujung rambut dan nyawa. Diri Nan Terdiri adalah tubuh kasar beserta ruhnya–lahir batin.
Diri Nan Terpatri, adalah tubuh kasar semata. Diri Nan Tersembunyi adalah nafs, atau jiwa. Diri Nan Sebenar Diri, adalah ruh–nurullah atau hembusan Allah, atau nur illahi.
“Maka, secara indera penglihatan, tubuh terbagi atas dua, yakni tubuh kasar dan tubuh halus. Tubuh sempurna adalah Diri Nan Terdiri. Tubuh kasar atau zahir saja adalah Diri Nan Terpatri, dan yang dua lainnya adalah tubuh halus,” ujar lelaki berkopiah itu menambahkan.
“Baiklah, sekarang kita lanjutkan; tubuh kasar terdiri dari empat anasir, yakni air, angin, api dan tanah. Bagian tubuh kasar yang berasal dari unsur atau anasir air adalah hati, jantung, dan buah punggung atau ginjal. Sedangkan daging, urat/otot adalah tanah. Darah adalah anasir api. Dan paru-paru, perut besar atau lambung adalah angin.”
Amir menyimak saja dengan penuh tanda tanya. Walaupun di sekolah dia sudah diajarkan tentang organ-organ tubuh, tapi penjelasan lelaki berkopiah ini sangat asing baginya!
“Adapun yang dikelompokkan pada tubuh halus atau batiniah, ada dua, yakni Diri Nan Tersembunyi dan Diri Nan Sebenar Diri. Artinya di dalam batin ada batin pula…!”
Empat lelaki itu tetap saja mengangguk-angguk mendengarkan. Amir kurang yakin, apakah empat orang itu mengerti. Yang jelas mereka mengangguk-angguk saja serupa balam (burung tekukur).
“Pada tubuh halus–dalam hal ini adalah Diri Nan Tersembunyi, ada pula empat anasir. Yakni air, berkenaan dengan akal dan daya pikir, angin berkaitan dengan perasaan, seperti marah, benci, sayang, cinta, dan lain-lain. Api berkenaan dengan hawa nafsu. Tanah berkenaan panca indera yang berkaitan dengan syaraf. Misalnya indera penciuman adalah karena ada syaraf penciuman.”
Amir masih melongo, sambil menggaruk-garuk rambutnya. Lelaki berkopiah tetap saja tidak peduli pada Amir.
“Kesimpulannya, pada Diri Nan Tersembunyi lah adanya akal pikiran, perasaan, hawa nafsu dan panca indera!”
Mendengar penjelasan itu, Amir menjadi gusar.”Wahhh… apa tidak salah tuch? Bukankah akal dan pikiran ada di otak?”
“Iya, tapi bila kita belah otak itu, apakah kamu akan menemukan akal dan pikiran,” tanya lelaki berkopiah itu pada Amir.
Amir yang tadi hanya bergumam di dalam hati, terperanjat lantaran lelaki tua berkopiah itu mengetahui jalan pilirannya! Bagaimana bisa?
Sekarang Amir berbicara langsung,”Kalau begitu dimana letak Diri Nan Tersembunyi itu?” Lelaki berkopiah menjawab,”Di seluruh tubuh kasar. Di seluruh Diri Nan Terpatri!”
“Ooo…aku kira di dalam hati,” ujarnya malu. Dan diikuti oleh penjelasan lanjutan dari lelaki berkopiah,”Diri Nan Tersembunyi itu umumnya berkaitan dengan syaraf-syaraf. Adanya di seluruh tubuh.”
Amir terpaksa mengangguk-angguk. Segan dia mendebat lelaki berkopiah itu.
“Sekarang Diri Nan Sebenar Diri. Itulah ruh. Itulah nurullah. Itulah nur illahi…!”
“Dimanakah letaknya ruh,” sergah Amir.
“Menurutmu di mana,” ujar lelaki berkopiah itu balik bertanya!
Amir diam saja. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri.
Lelaki tua itu tertawa terbahak-bahak. Empat lelaki lainnya hanya diam saja. Tidak ikut tertawa. Mungkin takut kalau-kalau guru mereka itu marah.
“Amir… Amir namamu bukan?… Kamu dengar baik-baik… ini kaji pokok dalam kebatinan!… Tadi kamu bertanya dimana letak ruh… mau tahu jawabnya…?”
Segera Amir mengangguk. “Ruh itu adalah hembusan Allah… Ruh ada di mana-mana! Ruh melingkupi alam semesta!”
Bersamaan dengan penyampaian kaji pokok kebatinan oleh lelaki tua berkopiah itu, Amir tersentak. Dia mulai sadar. “Ruh melingkupi alam semesta! Ruh melingkupi alam semesta…!”
“Alhamdulillah… alhamdulillah… alhamdulillah…” ujar Pak Bangun begitu Amir sadar. “Hei apa yang kamu baca itu. Ruh apa? Ruh siapa?”
“Nurullah… nur illahi,” jawab Amir sambil tersenyum sambil melihat kepada lelaki berkopiah yang juga ikut tersenyum.
Pak Bangun tambah bingung. Tapi di balik itu, hatinya senang. Karena Amir sudah sadar. Pak Bangun pun tidak memperhatikan bahwa saat Amir sadar, ada wewangian khas yang menebar lembut di surau itu. Tetapi Amir ingat persis baunya.
Lelaki berkumis ini pun tidak memikirkan lagi lelaki berkopiah tadi. Bahkan ketika Amir tersenyum-senyum dan melambaikan tangan ke arah belakang, saat dia sudah duduk di sisi kiri, di samping Pak Bangun yang sedang gembira menyetir, lelaki tambun tersebut pun tak menyangka bahwa Amir tersenyum dan melambaikan tangan pada lelaki tua berkopiah.
Pak Bangun bersiul-siul. Sungguh gembira benar hatinya. Mereka kini menuju Padang Aro.
Senja pun merangkak menuju gelap.
Ketujuh:
Tiba di Padang Aro sudah hampir isya. Pak Bangun mencari penginapan di sekitar simpang tiga Padang Aro itu. Ada beberapa penginapan. Mereka memilih salah satu, yang di sebelah kiri.
Selesai mandi, Pak Bangun mengajak Amir berkeliling. Saat itu, Padang Aro lebih ramai dari biasanya. Kedai-kedai penuh. Maklum besok adalah hari balai (hari pasar) di situ.
Pasar Padang Aro adalah yang paling ramai untuk wilayah Sangir dan sekitarnya. Banyak pedagang dari luar berdatangan untuk berjualan di pasar yang terletak di simpang tiga itu. Yang paling banyak adalah pedagang dari Sungai Penuh dan Kerinci yang membawa hasil bumi untuk dijual besok. Ada pula pedagang dari Muara Labuh dan Alahan Panjang. Serta pedagang emas dari Solok.
Sejumlah pedagang emas, ada yang dari Solok dan Padang, memang selalu datang tiap hari pekan ke Padang Aro. Umumnya mereka membeli emas urai (emas butiran) dari masyarakat. Yakni emas yang didapat dari mendulang atau mendompeng.
Dalam kurun waktu tahun 2000-an memang di Solok Selatan, terutama di daerah Sangir ke bawah, sampai ke Lubuak Ulang Aliang yang berada di tepi sungai Batang Hari, banyak masyarakat yang menggantungkan hidup dari baameh (istilah untuk pekerjaan mencari emas) ini. Sebagian besar menggunakan cara tradisional, yakni mendulang. Sebagian kecil mendompeng.
Pendulangan emas merupakan cara termudah dan termurah bagi masyarakat untuk menambang emas . Seorang pencari emas akan mempertaruhkan klaimnya di sepanjang aliran sungai dan mendulangkan tanah dan kerikil untuk mencari bongkahan dan butiran kecil dan serpihan logam mengilap–itulah emas urai, yang masuk kategori “emas lepas” (placer).
Emas placer mengacu pada emas yang terlepas dari urat utama akibat pelapukan dan erosi. Makanya emas placer banyak ditemukan di aliran sungai. Emas placer dapat ditemukan di dekat atau jauh dari urat emas asli, tergantung pada berbagai faktor.
Berdasarkan pengetahuan akan keberadaan emas urai (placer) inilah kemudian muncul teknologi penyedotan lumpur yang diperkirakan mengandung placer. Teknologimya sederhana saja, yakni dengan menyambungkan mesin penyedor lumpur ke lobang yang dibuat di pinggir sungai. Hasil sedotan berupa pasir dan lumpur disaring dengan karpet. Lalu hasil saringan itu yang dimasukkan ke dulang. Kegiatan pencarian emas dengan penyedotan pasir dan lumpur itu disebut mandompeng.
Rupanya istilah mandompeng itu berasal dari merk mesin yang banyak dipakai, yakni mesin bermerek Dongfeng. Mesin Dongfeng adalah mesin diesel–sejenis mesin “pembakaran dalam” atau sebuah mesin pemicu kompresi, dimana bahan bakar dinyalakan oleh suhu tinggi gas yang dikompresi dan bukan alat berenergi lain (seperti busi).
Nah, emas hasil mandulang dan mandompeng inilah yang dibeli oleh pedagang emas dari Padang dan Solok setiap hari Rabu–hari pekan di Padang Aro.
Transaksi emas ini membuat pasar Padang Aro bergairah. Sebab masyarakat punya uang tunai yang banyak. Sehingga transaksi di pasar Padang Aro cukup menggembirakan.
Hal itulah yang mengundang banyak pedagang dari luar berdatangan. Sehingga Selasa sore Padang Aro sudah mulai ramai oleh para pedagang yang menginap.
Sebagaimana biasa di setiap pasar, ada banyak kedai yang merangkap jadi penginapan. Begitu pula di Padang Aro. Ada banyak kedai merangkap penginapan. Di lantai dua kedai-kedai itulah para pedagang menginap.
Bahkan ada yang semata-mata untuk penginapan saja. Seperti penginapan yang ditempati Pak Bangun.
Akan halnya kehidupan malam, pada setiap Selasa Padang Aro tidak tidur cepat. Kedai-kedai penuh. Dan sebelum mengantuk, sebagian mereka mengisi waktu dengan bergurau. Baampok (berjudi).
Seperti malam ini. Saat Pak Bangun singgah di salah satu kedai. Dia melihat sejumlah lelaki tampak asyik bercengkrama dalam permainan domino. Ada pula yang main koa (ceki). Dan sudah jelas mereka baampok, karena ada kayu korek api yang dijadikan koin penanda pengganti uang! Pak Bangun tahu tentang koin pengganti ini. Sebab diapun sewaktu muda sering pula baampok di Talao.
Tetapi bukan main koa. Pak Bangun sebagaimana para karyawan perkebunan di Talao lebih suka main song–sejenis permainan dari kartu remi. Dan kayu kecil korek api itulah yang dijadikan koin, pengganti uang. Setelah permainan selesai, bandar–biasanya orang kedai–akan mengganti batangan korek api itu dengan uang.
Pak Bangun tersenyum mengingat masa mudanya yang boleh disebut “hantu judi” di Talao. Lelaki tambun ini baru tobat dan tidak berjudi lagi setelah istrinya hamil. Rupanya lelaki tambun berkumis ini frustasi lantaran telah tujuh tahun menikah, tetapi belum juga mendapat keturunan.
Sewaktu istrinya hamil, setelah hampir delapan tahun menikah, Pak Bangun menghentikan kebiasaannya baampok. Bahkan dia mulai mendalami ilmu agama dengan Ustad Ismail yang baru pulang belajar dari Al Azhar, Kairo dan direkrut perusahaan sebagai guru agama buat masyarakat di situ.
Sejak belajar agama dengan Ustad Ismail lah, Pak Bangun mulai tenang hidupnya. Maklum, secara keturunan, tidak banyak orang Batak bermarga Bangun yang memeluk Islam. Umumnya mereka penganut nasrani.
Sebagaimana diketahui Bangun, disebut juga sebagai Peranginangin Bangun, adalah salah satu marga Batak Karo yang termasuk ke dalam induk marga Peranginangin. Batak Karo merupakan salah satu marga yang cukup istimewa. Hal ini karena Batak Karo adalah marga yang sudah tersebar luas di Sumatera Utara. Wilayah marga Batak Karo meliputi daerah Tanah Karo dan sekitarnya.
Salah satu kelebihan masyarakat marga Batak Karo adalah keguyuban dan saling membantu satu sama lain. Mereka menjunjung tinggi nilai-nilai saling membantu satu sama lain itu hingga sekarang. Nilai adat yang sudah ada sejak dahulu juga masih terus dipatuhi hingga saat ini oleh mereka yang memiliki marga Batak Karo. Karena hal ini juga masyarakat Batak Karo begitu banyak dikenal oleh semua orang.
Rumah adat Batak Karo atau rumah adat Siwaluh Jabu merupakan sebuah rumah adat yang dihuni oleh 8 orang keluarga dengan peran masing-masing. Selain itu rumah adat Batak Karo juga masih dibagi menjadi beberapa bagian yaitu Jabu Jahe atau hilir dan Jabu Julu atau hulu.
Pada setiap jabu akan dibagi kembali menjadi dua dan dibagi kembali menjadi beberapa jabu. Hal menarik dari rumah Batak Karo adalah meskipun termasuk rumah dengan ukuran besar, namun dalam proses pembuatannya tidak membutuhkan adanya paku.
Akan halnya agama, mayarakat Batak Karo mayoritas adalah Kritsen. Selain itu ada juga yang meluk agama Khatolik dan Islam serta ada juga pemeluk kepercayaan Pamena.
Sebagai kelompok minoritas dalam marga Bangun yang beragama Islam, maka penguasaan Pak Bangun tentang Islam sangatlah sedikit lantaran tidak ada kawan untuk berdiskusi. Bahkan praktik peribadatan sesuai syariat Islam pun kerap tidak dilakukannya.
Dengan kedatangan Ustad Ismail, Pak Bangun seperti mendapat pencerahan. Dia tidak malu ikut belajar agama bersama dengan anak-anak lainnya. Tidak jarang Pak Bangun mengundang Ustad Ismail ke rumah untuk mengajarinya membaca Al Quran.
Pencerahan dari Ustad Ismail memang merupakan anugerah buat Pak Bangun. Semua kelakuan preman yang mengangkat namanya sebagai orang yang ditakuti di Talao, pupus sudah. Sekarang Pak Bangun menjelma menjadi lelaki baik hati dan suka menolong. Sudah barang tentu baampok dan mabuk-mabukan tidak pernah ladi dilakukannya.
Karena itu, melihat orang baampok dengan koin korek api itu, Pak Bangun tersenyum malu. Sebab itu yang dilakukannya belasan tahun yang lalu.
Masih dengan menebar senyum ramah, Pak Bangun memesan kopi dan nasi goreng. Amir juga memesan nasi goreng. Sambil memperhatikan orang-orang yang bercengkrama itu, Pak Bangun diajak berbicara oleh seorang lelaki. Hanya lelaki itu yang tak ikut main.
“Dari mana pak?”
Dengan senyum ramah Pak Bangun menjawab,”Kami dari Talao.” Lelaki itu mengamati dengan sudut matanya,”Ada urusan apa ke sini? Jarang orang-orang di bawah ke Padang Aro. Lebih banyak ke Sungai Rumbai yang lebih dekat. Urusan keluarga ya pak?”
Pak Bangun menggeleng. “Saya mengantar anak saya untuk ikut perayaan besok,” jawab lelaki tambun itu sambil melirik Amir yang baru selesai dengan nasi gorengnya.
Lelaki itu mengangguk pelan. Kemudian dia diam, dan memperhatikan orang-orang yang masih asyik dengan permainan itu. Berbeda dengan tadi, saat ini para pejudi itu tak ada lagi yang bagarah-garah (bercengkrama). Terutama yang sedang main koa. Mereka terlihat tekun sambil melirik kartu masing-masing.
Dalam permainan koa ada yang disebut batarotok–yakni bermain tanpa bamandan (berpasangan) sebagaimana main koa biasa yang bamandan-mandan.
Rupanya para pedagang yang sedang mengisi waktu ini sudah beralih, dari tadi main koa bamandan-mandan, menjadi batarotok. Pemainnya pun tidak lagi berempat, tetapi berlima dengan seseorang yang berbadan kecil, yang tadi ikut main domino. Otomatis permainan domino itu sendiri berhenti. Tiga orang sisanya, sekarang menonton para pedagang itu batarotok.
Mereka berlima tidak ada lagi yang bagarah-garah. Melainkan serius layaknya orang baampok. Penuh nafsu untuk meraup uang lawan sebanyak-banyaknya!
Pak Bangun sudah akan beranjak, ketika dia lihat gelagat di ajang judi mulai memanas. Tensinya mulai meninggi.
“Waang manyuruak-an karateh. Etonglah, tali merah tingga limo. Makonyo den dak bisa sampai,” ujar seorang yang berbadan besar dan tambun seperti Pak Bangun.
Rupanya satu dari lima pejudi itu ada yang main curang dengan menyurukkan kartu. Yang seorang itu, adalah yang ikut main belakangan. Lelaki berbadan kecil itu dituduh menyembunyikan salah satu kartu, yakni tali merah.
Si lelaki kecil mana mau dituduh begitu saja. Dengan lagak lugu, tanpa bicara, dia berdiri sambil memperlihatkan isi saku baju, celana dan jaketnya. Memang tidak ada dia menyurukkan tali merah.
Si lelaki tambun tetap tak terima. “Coba kalian hitung. Harusnya tali merah itu ada tujuh helai. Tetapi sekarang hanya ada lima lembar. Iko panggalie (pengicuh) mah! Den (saya) tak terima. Kembalikan uang saya,” katanya dengan nada beringas.
“Sudahlah toke. Ini kan hanya permainan kecil. Tak seberapa dibandingkan laba jualan emas mu,” kata salah seorang dari pejudi itu menenangkan sang toke.
Sang toke memandang orang yang berkomentar dengan sengit. “Ini bukan tentang besar kecilnya. Ini tentang kepercayaan! Ada yang pengicuh di sini! Harus kita cari,” ujarnya sambil melabrak meja.
Amir tersenyum-senyum saja melihat tingkah orang-orang itu. Pak Bangun heran,”Kenapa kamu tersenyum, Mir?”
Bukannya menjawab Pak Bangun, Amir justru berkata dengan suara keras sambil menunjuk lelaki berbadan kecil itu. “Dia memakan kartu itu!”
Tentu saja tuduhan Amir membuat toke dapat amunisi buat menyerang si lelaki berbadan kecil. “Kan iya waang tu! Ayo, ngangoan muncuang waang,” ujar sang toke sambil meraih badan si lelaki kurus dan bersiap hendak membuka (mangangoan) mulut lawannya yang penggalir (pengicuh) itu.
Mungkin karena menganggap remeh dan mengandalkan badan besarnya, sang toke merasa bisa mengatasi lelaki kurus dengan sekali gertak. Tetapi pada kenyataannya bukan itu yang terjadi. Entah bagaimana caranya, sang toke terbanting ke meja. Mukanya mencium kartu-kartu koa yang bertebaran. Sedangkan si lelaki kecil itu dengan jumawa hendak pergi ke luar kedai.
Sambil mengambil koinnya, dan sesaat melirik pada Amir, lelaki berbadan kecil itu berkata sendiri,”Payah main dengan toke rakus ini. Inginnya menang terus. Giliran kalah, malah menuduh orang curang!”
Tiba-tiba Amir menuding, dan menghardik,”Sudahlah pengicuh, pencopet pula!” Amir memandang lelaki bertubuh kecil itu dengan sengit. Pak Bangun segera berdiri di samping Amir, takut nanti bila tiba-tiba lelaki berbadan kecil itu memukul anak angkatnya ini..
Tindakan Pak Bangun ini memang cukup beralasan. Sebagai mantan preman yang dulu ditakuti lantaran kemampuannya berkelahi itu, Pak Bangun bisa melihat gerakan cepat lelaki bertubuh kecil itu membanting kepala sang toke.
Begitu lihai gerakannya. Sehingga orang yang banyak tidak tahu kenapa tiba-tiba sang toke mencium meja. Namun Pak Bangun dengan jelas melihat, betapa lelaki berbadan kecik itu merenggangkan badan untuk menjauh dari sang toke yang menjangkaunya, dan sedikit tekanan pada kuduk, sang toke pun mencium meja! Lihai dan cepat gerakan itu.
Dan sekarang, tiba-tiba Amir menuduh laki-laki ini pencopet. Bisa panjang masalahnya. Makanya Pak Bangun sekarang berdiri tenang di dekat Amir yang juga terlihat tenang.
Orang-orang sudah berkerumun di situ. Termasuk dari kedai-kedai di sebelahnya. Mereka ternganga melihat sang toke mencium meja, dan ada anak lelaki yang menuding dan menuduh!
Si lelaki berbadan kecil itu tersenyum. Lebih tepatnya “memaksakan tersenyum”. Mungkin melihat orang mulai ramai, dan semuanya adalah pedagang, pasti mereka akan berpihak pada sang toke. Sedangkan dirinya hanyalah memanfaatkan keramaian di kedai-kedai tiap Selasa malam untuk meraup duit dengan baampok.
Sebagaimana diketahui, Padang Aro adalah kota kecil. Bahkan sangat kecil. Di daerah yang merupakan ibukota Kabupaten Solok Selatan ini, terutama di seputar pasar yang berada di simpang tiga itu, umumnya dihuni oleh para pendatang. Tidak hanya pendatang dari daerah-daerah lain di Sumatera Barat, bahkan ada kaum pendatang itu berasal dari Batak, Jawa dan Madura.
Kaum pendatang yang dari Jawa adalah masyarakat Bangunrejo dan Wonorejo yang memilih migrasi beberapa kilometer untuk bermukim di Padang Aro. Ada yang sudah membangun rumah sendiri, ada pula yang mengontrak di sekitar pasar itu.
Komunitas Jawa sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu memang sudah ada di Solok Selatan, tepatnya di sebelah utara Timbulun Atas–di Bangunrejo dan Wonorejo arah timur dari Timbulun. Mereka sebagian besar adalah keturunan dari karyawan perkebunan Belanda yang berpusat di Timbulun, memanjang sampai ke Bukik Pasie dan Kubang Gajah di sisi barat, dan terus ke Sungai Lambai dan Liki arah ke timur dari Timbulun.
Komunitas Jawa ini sudah berasimilasi dengan suku lainnya, termasuk Minangkabau. Dan mereka sudah mulai merambah ke sektor perdagangan, dari sebelumnya lebih banyak sebagai petani dan tukang. Yang berdagang, tentu mereka memilih tinggal di dekat pasar.
Sedangkan komunitas Batak yang jumlahnya tidak terlalu banyak, sebagian tinggal di sekitar pasar Padang Aro.
Karena sangat majemuk sekali, maka di Padang Aro tidak ada masalah dengan adanya wajah-wajah baru yang tiba-tiba muncul di situ. Semua orang asyik dengan urusan masing-masing. Sepanjang orang yang datang silih berganti itu tidak menimbulkan masalah, mereka tidak ambil pusing!
Kondisi yang tak mau ambil pusing itulah yang dimanfaatkan si lelaki bertubuh kecil itu sejak belasan pekan yang lalu. Tak ada yang tahu darimana asalnya, tetapi semua orang suka padanya lantaran ramah dan pagarah (suka bercanda). Dan karena itu, orang-orang di pasar memberinya nama Jang Kanciu.
Sekarang Jang Kanciu itu dituding dan dituduh oleh seorang anak kecil! Tentu saja suasana malam di pasar Padang Aro itu menjadi ramai. Apakah memang Jang Kanciu yang ramah dan pagarah itu adalah tukang copet?
Jang Kanciu dengan tersenyum ramah mendekat ke arah Amir. Dia memandang anak itu. Juga memandang Pak Bangun. “Apa kamu punya bukti, sehingga berani mengatakan aku pengicuh dan pencopet?”
Amir merangsek ke depan. Melepaskan tangan Pak Bangun, dan kembali dia menuding,”Untuk pengicuh, itu sudah jelas. Buka mulutmu lebar-lebar kalau berani,” ujar Amir bersemangat.
Orang yang banyak setuju dengan bocah lelaki itu. “Ayo buka mulutmu Jang,” kata mereka berbarengan.
Tak punya pilihan lain, Jang Kanciu membuka mulut. Namun sesaat Pak Bangun melihat jakun Jang Kanciu bergerak, tanda dia menelan sesuatu. Secepat yang bisa, Pak Bangun meraih badan lelaki berbadan kecil itu, dan memukul tepat di kuduk.
Hoakkk… Jang Kanciu muntah. Orang-orang yang tadinya kasihan pada Jang Kanciu, terperangah. Muntahan Jang Kanciu bercampur kertas koa. Sebagian masih terlihat jelas. Sebagian lagi sudah lumer.
“Nah… itu buktinya,” ujar Pak Bangun sambil tersenyum simpul pada Amir.
Merasa tidak aman, Jang Kanciu mencoba mengambil ancang-ancang untuk jurus langkah seribu. Tapi sang toke sudah memagutnya dengan ketat. Jang Kanciu sampai tersengal lantaran ketatnya pelukan sang toke.
Jang Kanciu hilang akal. Di atas segala takut, timbul kenekatannya. Di rendahkan badannya, sehingga pelukan sang toke lepas. Namun di saat itu, sebuah sabetan sisi jari di pangkal telinga Jang Kanciu membuat lelaki berbadan kecil itu KO. Badannya melosoh (terperosok) ke bawah.
Rupanya Pak Bangun yang mengeksekusi dengan jurus karate yang masih dikusainya dengan baik. Amir tersenyum senang, juga bangga melihat tindakan Pak Bangun.
Lalu Amir kembali berkata,”Bapak toke, coba jawab, berapa jumlah uang yang ada di saku celanamu?”
Ditanya begitu, sang toke langsung merogoh saku celanya. “Haaa… uangku, sejuta, diikat dengan karet gelang, kemana hilangnya?”
Pak Bangun cepat mengambil tindakan. Beriringan dengan perkataan Amir,”Periksalah saku-saku orang itu. Dialah yang mencopet,” Pak Bangun merogoh saku-saku Jang Kanciu. “Tepat, ini diikat diikat dengan karet gelang. Coba kalian hitung,” ujar lelaki tambun berkumis itu sambil menyuruh seseorang yang berdiri di dekatnya.
“Tepat. Sejuta,” ujar orang itu.
Pak Bangun mengambil uang itu, dan menyerahkannya pada sang toke. Sementara Jack Kanciu yang masih pingsan digelandang ramai-ramai menuju pos hansip.
Amir tersenyum puas. Dia mengangguk kecil pada sang toke yang berterima kasih padanya, sambil berdiri mengikuti Pak Bangun menaiki mobil, menuju penginapan.
Bagitulah, malam itu di penginapan terasa cepat. Mungkin karena Pak Bangun dan Amir sudah kelelahan. Sehingga begitu masuk kamar, keduanya segera lelap. Tanpa mimpi.
Dan, Rabu–17 Agustus 2005–dengan sukses tim drumband SD Talao membuat orang yang menyaksikannya berdecak kagum.
Lapangan bolakaki Rimbo Tangah itu menjadi saksi betapa Amir dengan tangkas memainkan peragaan sebagai stick master. Begitu pula penampilan dua mayoret dan para pemegang alat musik, semuanya memikat hati para pejabat kabupaten yang baru mekar itu.
Ada lima lagu yang mereka mainkan dalam kolaborasi drumband, atraksi stick master dan duo mayoret, serta tarian kuda kepang yang memukau. Semua orang merasa kagum.
Apalagi Pak Bangun, sangat berbunga-bunga hatinya. Lantaran dirinya sudah berketetapan hati buat menjadikan Amir anak angkat secara resmi. Sebagai pengganti Rudi, almarhum.
Dan itu akan dia urus, segera, setelah mereka pindah ke Medan! Lelaki tambun berkumis itu masih tersenyum-senyum saja, begitu mobil double gardan yang dikemudikannya memasuki Talao, menjelang tengah malam.
Dia memandang Amir yang tampak lelap, dengan sepenuh kasih sayang. Sebagaimana dia menyayangi Rudi, dia ingin memperlakukan Amir layaknya anak kandung.
Apalagi Pak Bangun tidak lagi punya siapa-siapa, selain istri, dan Amir ini!
Kedelapan:
Medan
Medan, tahun 2005, adalah kota yang sedang tumbuh, bersamaan dengan pesatnya perdagangan dan jasa. Seantero penjuru kota semakin ramai oleh aktifitas ekonomi. Terbentuklah “rantai makanan” yang saling terkait. Mulai dari tukang becak, pedagang asongan hingga kios dan kedai-kedai kecipratan rezeki.
Medan memang sedang menuju kota metropolitan. Layaknya sebuah kota yang sedang tumbuh, persoalan sosial dan budaya adalah hal yang krusial. Apalagi sejumlah suku bangsa ada di kota ini. Beberapa suku bangsa yang mendominasi adalah Batak, Jawa, Minang, dan Cina.
Dominasi itu tampak pula, bahkan sampai ke dunia preman. Kawasan tertentu dikuasai oleh preman Batak, ada pula yang dikuasai preman asal Minang. Tetapi, memang preman Batak lah yang terkenal. Dan bahkan melegenda.
Begitupun agama, selain Islam, penganut Kristen dan Budha ada di Medan. Masing-masing mempunyai tempat peribadatan yang ikut menjadi ikon kota. Dan mempunyai sejarah yang panjang.
Salah satu ikon Medan adalah Kesultanan Deli, yang membuat kota Medan memiliki nilai historis yang sangat kuat. Inilah alasan mengapa kota Medan mendapatkan sebutan Kota Melayu
Secara kebudayaan Islam, Medan juga memiliki tempat-tempat wisata yang menarik, seperti Istana Maimun dan Masjid Raya Al-Mashun yang berdekatan dengan Istana Maimun.
Masjid Raya Al-Mashun atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Raya Medan dibangun pada tahun 1906 dan selesai pada tahun 1909. Pada awal pendiriannya, masjid ini merupakan bagian dari kompleks Istana Maimun. Gaya arsitekturnya memadukan unsur Timur Tengah, India, dan Spanyol. Masjid ini berbentuk segi delapan dan memiliki sayap di bagian selatan, timur, utara, dan barat.
Sultan Ma’mun Al Rashid Perkasa Alam, sebagai pemimpin Kesultanan Deli , memulai pembangunan Masjid Al Mashun pada tanggal 21 Agustus 1906 (1 Rajab 1324 H). Seluruh pembangunan selesai pada tanggal 10 September 1909 (25 Sya’ban 1329 H) dan ditandai dengan pelaksanaan salat Jumat pertama di masjid tersebut.
Anggaran pembangunan keseluruhan adalah satu juta gulden. Selain dibiayai oleh Kesultanan Deli, uang untuk pembangunan masjid ini juga dari donasi Deli Maatschappij , dan Tjong A Fie–pengusaha terkaya di Medan saat itu.
Di kota itulah kini Amir berada. Selepas lulus SD di Talao, Pak Bangun memboyongnya ke Medan. Tanah kelahiran lelaki tambun berkumis itu.
Bukan. Bukan karena pensiun Pak Bangun pulang kampung. Melainkan lantaran dia pindah tugas ke kantor pusat perusahaan perkebunan itu. Mungkin semacam penghargaan karena di akhir masa tugas. Karena Pak Bangun akan pensiun tiga tahun lagi.
Sesuai dengan rencananya dan persetujuan Amir, Pak Bangun menjadikan anak itu sebagai anak angkat yang disahkan oleh pengadilan. “Sejak saat ini kamu resmi jadi anakku, anak angkat. Dan namamu Jack Amarta Bangun,” tutur Pak Bangun kepada Amir usai sidang penetapannya di Pengadilan Negeri Medan.
Amir mengangguk, tapi tidak terlihat gembira. Tidak pula tampak susah. Datar saja mimik mukanya. Biasa saja.
“Heiii… apakah kamu tidak senang?” Amir tersenyum. Tapi jelas dipaksakan. “Saya ingat nenek, pak.”
Pak Bangun dengan penuh kasih sayang dan pengertian mendekati Amir,”Mir…Bapak mengerti bahwa kita tidak ada hubungan darah. Bapak hanya berharap kamu sebagai pengganti Rudi….”
“Bukan…bukan itu pak… saya tiba-tiba ingat nenek…” Terlihat mata Amir berkaca-kaca. Amir tak tahu, kenapa tiba-tiba dia ingat nenek, dan hatinya nelangsa terharu-biru. Padahal dia sudah setuju untuk dijadikan anak angkat secara resmi, melalui penetapan pengadilan. Dan persetujuannya itu pun sudah disampaikan sebulan sebelum mereka berangkat ke Medan. Atau sepekan setelah dia menerima Surat Tanda Tamat Belajar alias ijazah SD.
Kenelangsaan seperti itu pernah pula dirasakannya sebelumnya. Waktu itu Amir sedang memperhatikan Luna dari jauh. Bukan lantaran terkenang dengan keusilan yang dia lakukan pada gadis kecil itu. Bukan pula teringat kejadian di sungai.
Bukan. Bukan itu. Amir mendengar Luna akan dibawa pindah oleh Mr Lim ke Malaysia. Dia tidak sedih, tapi juga tidak gembira. Tapi tiba-tiba hatinya nelangsa, terharu-biru. Itu adalah sesuatu yang sulit membahasakannya.
Karena Amir masih tidak banyak bersuara, Pak Bangun memilih diam pula. Tetapi dia ingat sesuatu. Sambil tersenyum sendiri, Pak Bangun membelokkan mobil ke Jalan Pengadilan. Kemudian mobil itu mengitari Lapangan Benteng dan terus ke Jalan Imam Bonjol yang bersambung ke Jalan Juanda. Setelah itu mereka belok kiri ke Jalan Sisingamangaraja, belok kiri lagi memasuki Jalan Mahkamah.
“Kita berhenti di sini,” ujar Pak Bangun sambil mencari tempat parkir.
“Itu tadi istana ya Pak?” Pak Bangun mengangguk,”Dan ini masjid yang dibangun oleh Sultan Deli, yang tinggal di istana itu.”
Amir mengangguk-angguk mendengar penjelasan Pak Bangun. Dia ingat pernah membaca tentang Kesultanan Deli. Yakni kerajaan Islam yang pernah jaya di masa lalu. Jejak kejayaannya ternyata masih ada hingga kini; istana dan masjid.
“Masjid ini arsiteknya adalah Theodoor van Erp, orang Belanda kelahiran Ambon. Dan JA Tingdeman, orang Belanda,” ujar Pak Bangun.
“Kenapa Bapak tahu?”
Pak Bangun tertawa. Dia senang karena Amir sekarang sudah buka suara. “Karena bapak sering dibawa guru SMP ke sini. Waktu sekolah. Makanya bapak ingat cerita itu.”
Sambil melihat-lihat seputaran masjid, Pak Bangun pun menceritakan sejarah masjid yang menjadi ikon Kota Medan itu. Dia semakin bersemangat bercerita lantaran Amir sudah kembali seperti sedia kala.
Tak berapa lama, terdengar suara azan. Lalu bergegas mereka mencari tempat berwudhuk.
Seperti biasa, seusai shalat, Amir tak segera selesai. Dia pun berzikir. Di sampingnya, Pak Bangun juga duduk bersila, entah berzikir atau berdoa.
Begitu khusyuk Amir berzikir dan kemudian berdoa untuk neneknya. Begitu pula Pak Bangun. Mungkin tidak sadar jika di belakang mereka ada seorang lelaki bersorban memperhatikan sedari tadi. Orang bersorban itu mengangguk-angguk sambil memilin jenggotnya yang putih terjulai.
Amir memang tak melihat. Namun dalam hening zikirnya, dia merasa ada lelaki berbadan kecil berkopiah duduk di belakang mereka. Tapi Amir tetap melanjutkan zikirnya.
Secara spontan, tadi dia memang memulai berzikir dengan mematrikan di hati bahwa “ruh memenuhi sekalian alam”! Dan di ujung zikirnya, dia merasakan kehadiran lelaki tua berkopiah yang dahulu di alam mimpi–lebih tepatnya alam pingsan, karena saat itu dia memang pingsan dan dibawa oleh Pak Bangun ke surau Syekh Sampu di Sungai Lande, dekat ke Sungai Padi, di Solok Selatan!
Amir menyudahi zikirnya dengan hati lapang. Dan wewangian khas itu, membuat dia semakin tenang. Dia tak akan pernah lupa dengan kaji itu: “Ruh melingkupi sekalian alam…!” Dan orang yang memberi kaji itu pun, diingatnya. Termasuk bau yang khas itu!
“Ayo Mir… kita keluar,” ajak Pak Bangun yang sudah berdiri, diikuti Amir dari belakang.
Menjelang ke tempat parkir, Amir kembali mencium aroma khas tadi. Dia melihat ke sekeliling. Tidak ada orang, kecuali Pak Bangun yang berjalan di sisinya. “Itu, ada yang jual parfum dari Mekah,” kata Pak Bangun sambil menuju tempat orang berjejer berjualan. Banyak yang menjual parfum, dan beberapa menjual aneka topi muslim.
“Ini apa nama parfumnya, pak,” tanya Amir sambil memegang botol kecil yang isinya bening. “Ooo, ini Jafaron Putih. Ada juga yang merah…”
Amir memegang botol kecil bening itu, sambil melihat pada Pak Bangun. “Boleh. Berapa pak,” ujar Pak Bangun merespon kehendak Amir.
Amir melihat ke belakang, lalu dia tersenyum. Pak Bangun tidak menampak anak itu menoleh ke belakang dan tersenyum sebab lelaki tambun berkumis itu sedang membayar parfum pada pedagang yang senang lantaran pembeli ini tidak menawar, langsung membayar. Pak Bangun membeli parfum Jafaron Putih botol kecil itu Rp 150 ribu!
Dan Pak Bangun juga tak tahu, bahwa ada dua orang pemuda diam-diam memperhatikan saat dia mengeluarkan dompet saat membayar tadi. Pemuda itulah kini yang mengikuti mereka ke mobil.
Amir dan Pak Bangun berjalan beriringan. Tampaknya mereka tidak curiga. Mana ada orang mencopet saat sepi? Kalau ada yang berani, itu bukan copet. Tapi garong alias perampok.
Rupanya dua pemuda itu bukan perampok. Tapi lebih dari itu. Sebab, begitu Pak Bangun mengeluarkan kunci mobil dan memencet remote salah seorang yang tinggi berdegap dengan cepat menyambar kunci, dan sebelah tangannya mendorong Pak Bangun ke dalam mobil yang pintunya telah dibuka temannya.
Pak Bangun yang hilang keseimbangan, langsung disambut dengan pukulan kencang di dahi. Lelaki tambun berkumis itu pening. Matanya berkunang-kunang. Lalu tak sadarkan diri.
Si tinggi berdegap segera menelikung Amir, dan menyeretnya ke mobil. “Awas kalau kamu teriak, bapakmu kami bunuh!”
Mendengar itu, Amir tak mau gegabah. Dia menurut saja serupa kerbau dicucuk hidungnya. Amir melihat ke belakang, tampak Pak Bangun tak berkutik di bawah ancaman pisau.
Mobil pun berjalan dengan tenang. Hebat pula preman berdua itu. Tidak tergesa-gesa, malah tersenyum saat membayar uang parkir. Siapa pula yang akan curiga?
Mobil terus bergerak. Setelah memasuki Jalan Sisingamangaraja, baru mobil mulai kencang. Tentu saja Amir tidak tahu sedang berada di daerah mana, atau menuju ke mana. Sebab belum cukup sepekan dia berada di kota itu.
Tak lama, dan masih di Jalan Sisingamangaraja, mobil itu belok kiri. Memasuki sebuah komplek ruko. Dan langsung pula masuk ke dalam salah satu toko yang rolling door nya sudah terbuka!
“Bawa bapak itu ke hadapan Bang Lintar,” ujar si tinggi berdegap itu memerintah temannya. Sambil dia sendiri pun mengepit tubuh Amir dan menyusul temannya naik ke lantai dua ruko tersebut.
Amir tetap berusaha tenang dan tabah. Walaupun nyalinya menciut sejak tadi karena Pak Bangun tak juga sadar, namun dikeras-keraskan hatinya sambil berharap Pak Bangun lekas siuman.
“Ini bang. Kami tidak berani memeriksa dompet dan saku-sakunya. Tapi kami yakin, ini orang yang abang maksud.”
Orang yang dipanggil Abang itu diam, sambil memilin-milin kumisnya yang lebat. Dia mengenakan jelana jeans yang lusuh, dengan jaket yang juga berbahan jeans, tetapi dilepas lengannya. Tidak ada yang istimewa, kecuali sisungutnya (kumis) yang lebat itu. Selebihnya tak ada yang patut dia banggakan sebagai preman. Hanya tubuh kurus dan ceking dengan telinga bertindik.
Satu-satunya ciri khas si ceking ini adalah tahi lalat di keningnya. Tepat di tengah kening yang sempit, di situ bersemayam “seonggok kecil tahi” dari lalat sialan yang tega-teganya menaburkan cirit yang sekarang sudah bewarna pirang!
Jika bukan preman, mungkin paja ceking ini sudah jadi bulan-bulanan cemeeh dan olok-olok. Sebab, di Medan banyak juga orang India. Yang wanita-wanita punya tanda seperti Bang Lintar ceking ini!
Sambil meraba-raba tahi lalat, dia masih diam juga. Tetapi melihat dengan seksama pada lelaki tambun berkumis tebal itu. Entah menunggu sadar, atau sedang menimbang-nimbang apakah akan langsung dieksekusi, atau nanti saja.
Sama pula dengan Amir yang masih menimbang-nimbang apakah berusaha melawan semampu yang dia bisa, atau menunggu Pak Bangun siuman untuk melakukan perlawanan. Bedanya, Amir mulai memperhatikan lelaki kurus ceking yang dipanggil abang itu, sambil memperkirakan apakah yang dibanggakan orang ini sehingga menjadi komandan dua preman lainnya?
Lintar, atau Bang Lintar masih tegak dengan mimik datar. Tidak terlihat wajah bengis. Tapi tidak pula ada kesan ramah. Sedari tadi dia hanya menunggu Pak Bangun sadar, tanpa ada niat untuk menyadarkan. Sedangkan dua anak buahnya mulai saling lirik dan keheranan lantaran Bang Lintar masih diam tanpa aksi.
Untunglah Pak Bangun mulai bergerak. Bang Lintar juga bergerak. Mendekat. Bukan, bukan hendak memukul, atau menyakiti. Tetapi bersimpuh di hadapan Pak Bangun yang sudah tegak berdiri.
“Ampun bang, hanya dengan cara ini kami bisa bertemu abang. Maafkan anak-anak…!”
Pak Bangun tersenyum samar, seolah-olah menyembunyikan keramahannya. Dan berusaha menonjolkan kebengisan. “Kalian sudah saya ingatkan, jangan bawa-bawa saya kembali. Semuanya sudah saya atur, supaya kalian tidak bertengkar!”
“Iya bang… tapi… tapi… bang Pendi itu…”
“Ada apa dengan Pendi? Bukankah anak itu dahulu sudah menerima pembagian wilayah?”
“Iya bang. Tapi sekarang dia hampir menguasai semua… kecuali Sisingamangaraja ini…”
Amir mendengarkan saja dengan takzim. Dan berdecak kagum. Juga terkejut tak alang kepalang. Apakah Pak Bangun ini adalah bagian dari preman-preman ini? “Ya… ini dunia Bapak dahulu… Maafkan Bapak karena tidak cerita padamu, Jack…”
Amir tak menjawab. Entah suka atau tidak, tetapi buat Pak Bangun, panggilan Jack lebih memberi “kesan Medan” dibandingkan Amir. Maka dengan spontan dia memanggil anak angkatnya itu dengan sebutan Jack.
“Ooo… ini anak abang… Jack… wowww… abang punya anak laki-laki. Gagah dan tentu berani seperti abang…”
Dengan suara menggelegar, Pak Bangun menghardik Lintar. “Diam kau Lintar… Jack tidak begitu. Dia tidak boleh masuk ke dunia ini… apa kau paham?”
Lintar terperanjat. Tentu dia tak menyangka Pak Bangun akan menghardiknya demikian keras. Dahulu, hardikan Pak Bangun–waktu itu tentu panggilannya adalah Bang Bangun–yang menggelegar hanya berujung pada dua hal; mati atau masuk rumah sakit!
Lintar ingat, terakhir sebelum Bang Bangun keluar dari dunia preman, mereka sempat perang dengan geng Panggabean di samping Lapangan Benteng. Waktu itu mereka sudah terjepit dari kanan dan kiri, di belakang lapangan itu. Mereka tinggal bertiga, yang lain sudah lari lintang pungkang. Sedangkan lima orang preman kelompok Panggabean sudah merangsek dan mengurung mereka di pedestrian sisi luar lapangan yang dibatasi pagar besi.
Tiga orang merangsek dari kiri, dua dari kanan. Melihat tak ada peluang lagi untuk lari, Bang Bangun berbisik pada dua anggotanya. “Kalian hadapi yang berdua itu, satu lawan satu. Aku menahan yang tiga orang ini!”
Begitu selesai berbisik, Bang Bangun langsung mengeluarkan suara hardikannya yang menggelegar. “Kalian bertiga mau mati, atau masuk rumah sakit?” Baru selesai bicara, Bang Bangun langsung memburu tiga orang yang datang dari arah kiri itu. Sekali gebrak, dia sudah melayangkan bogem ke pangka turiek (pangkal telinga) seorang preman berbaju kaos gombrong. Mungkin tak mengira akan diserang, atau memang dia yang lengah, orang itu langsung KO. Terjungkal dan mencium tanah di tepi pedestrian.
Tapi yang dua lagi bukan preman kaleng-kaleng. Sekarang mereka mengurung Bang Bangun dari dua sisi. Lalu dengan serempak menyerang dengan tendangan. Itu adalah pilihan serangan yang tepat untuk menjatuhkan lawan berbadan kekar dan tinggi. Harus main dengan menjaga jarak. Jangan sampai tangan besar dan keras itu sempat memiting, atau menjepit lengan atau bahu.
Bang Bangun bukan pula preman biasa. Dia adalah ketua kelompok Sisingamangaraja, dan disegani kelompok lain di kota itu. Entah yang dua orang ini tidak tahu, atau memang nekad, atau mungkin ingin mencari nama. Maklum dalam dunia preman, kesempatan untuk “promosi” adalah manakala ada perang antar geng. Yang bisa mengalahkan ketua geng lain, sudah barang tentu akan “naik pangkat” di kelompoknya sendiri!
Anggaplah dua orang yang sedang mengurung Bang Bangun ini adalah mereka yang ingin “naik pangkat”. Tapi, begitu tendangan berbarengan itu di tangkis dengan tangan saja, dengan pekikan menggelegar Bang Bangun balas menendang secara berantai. Yang kiri mendapat bagian pertama. Disusul yang kanan. Dua orang yang ingin “naik pangkat” itu langsung keok lantaran belum stabil tegak mereka disertai perih di kaki yang ditangkis dengan lengan oleh Bang Bangun, sekarang tendangan mendarat di tulang belikat dan sudu-sudu hati (ulu hati). Siapa yang tak keok, apalagi tendangan kaki besar dan panjang yang diawali dengan hardikan itu adalah serangan dengan energi penuh.
Yang sebelah kiri terjungkal lantaran tulang belikatnya seperti kena runtuhan tembok. Mungkin ada yang patah. Yang di kanan tersengal ketika kaki besar itu mengenai ulu hati. Diikuti muntah darah. Dua-duanya tak bangkit lagi.
Sedangkan dua anak buahnya sejak tadi menonton pertempuran itu. Rupanya lawan mereka tidak cukup bernyali. Beberapa kali kena bogem, mereka langsung mati nyali. Lebih baik lari. Daripada mati. Jika ada waktu, kapan-kapan boleh diulang lagi. Tapi sekarang, belum saatnya mati. Pikir mereka dalam lari yang tak terperi. Lari yang tak terperi??? Ya… lari sebenar-benar lari, gitu…!
Dari peristiwa di samping Lapangan Benteng itulah hardikan Bang Bangun menjadi legenda. Meluas dari mulut ke mulut. Disiarkan terus menerus oleh “radio lutut”, alias ota-ota kadai (obrolan di warung-warung). Kini Lintar kembali mendengar hardikan itu. Jelas bahwa dia tak ingin masuk rumah sakit. Dan untuk mati pun dia belum mau, masih banyak yang ingin dikejarnya selaku preman kelompok Sisingamangaraja, atau mereka menyebut diri Geng SM Raja.
Lintar dengan terburu-buru dan terbata-bata menjawab,”Siap bang… kami… kami… mengerti…”
Sedangkan Amir tertawa senang melihat peristiwa itu. Tiba-tiba muncul nakalnya. Dengan tersenyum dan memandang langsung ke mata Pak Bangun, dia “Tidak Bapak. Jack ingin kenal dunia preman!”
Pak Bangun terkejut. Dia mau melarang. Tapi pandangan anak itu seperti menyedot dan hilanglah kuasanya untuk melarang!
Namun cuma sebentar. Begitu dia alihkan mata ke Lintar dan dua anak buahnya, Pak Bangun takana nan bana (ingat bagaimana seharusnya), maka,”Jack, bukankah kamu harus sekolah, mengaji dan banyak lagi tugas sebagai anak sekolahan yang baik.”
“Iya pak… Jack akan bersekolah. Mengaji. Tapi jangan bapak larang Jack berteman dengan mereka.”
Lintar dan dua temannya tersenyum. Mereka senang, anak Bang Bangun bergabung dengan Geng SM Raja. Apa kata geng-geng lain bila mendengat kabar ini nanti: Bang Bangun kembali. Bang Bangun comeback. Bang Bangun mulak tu (pulang ke) Medan.
Memang Pak Bangun sudah 20 tahun meminggalkan Medan. Waktu itu dia sedang di puncak karier sebagai preman. Dia menguasai kawasan Sisingamangaraja, dan disegani oleh kelompok yang menguasai Katamso, Pemuda, Pasar Titi Kuning maupun preman Amplas. Namun tawaran teman sesama SD nya untuk menjadi mandor di perkebunan sawit tak bisa ditampiknya. Soalnya temannya itu menyuruh adik perempuannya–Tiurly–untuk mengajaknya.
Bukan, bukan takut atau segan pada kawannya itu Bangun menerima kerja jadi mandor di sebuah perkebunan swasta nun jauh di Talao, Solok Selatan sana. Tetapi Tiurly itu adalah kekasihnya. Gadis itu sudah dipacarinya sejak tamat SMP. Dan saat itu dia minta kawin, dan tinggal di rumah sendiri di perkebunan nun jauh di Sumbar sana. Siapa pula yang menolak ajakan pujaan hati untuk menikah?
Maka, dalam puncak kariernya di dunia preman, Bang Bangun meletakkan jabatan. Dan mengatur anak buahnya dengan jabatan dan tugas masing-masing. “Sejak saat ini, kalian tidak boleh lagi mengingat aku. Kalian harus mandiri,” begitu pidato terakhir Bang Bangun.
Namun, sebagaimana disampaikan Lintar, sekarang semuanya sudah berubah. Bahkan wilayah utama mereka, Sisingamangaraja sudah mulai diganggu oleh kelompok Pendi.
Memang dunia preman itu kerap berubah. Bisa karena ada jagoan baru yang “naik pangkat” gegara menghabisi jagoan lama. Bisa pula karena ada jagoan yang “berteman” dengan aparat atau penguasa, sehingga pertemanan itu memberi sumberdaya yang menjadi amunisi buat mengangkat harkat kelompok–termasuk perluasan wilayah kekuasaan.
Saat itu, Geng SM Raja sudah sangat terjepit. Satu-satunya yang mereka kuasai hanyalah kawasan ruko yang nyaris tutup ini. Tak ada lagi pergerakan bisnis di deretan ruko itu, kecuali ada yang disewa sebagai gudang. Selebihnya adalah ruko kosong. Seperti tempat mereka berada saat ini.
Melihat Amir, ehhh… Jack yang kukuh untuk mengetahui dunia preman, Pak Bangun diam-diam membenarkan. Karena sepanjang pengalaman dalam usia lebih 60 tahun hidupnya menunjukkan “lebih baik menjadi mantan preman, daripada mantan ustad”. Betapa banyak orang yang semasa muda adalah orang baik-baik, di usia tua terperosok ke dunia maksiat. Dan tidak sedikit pula mantan preman menjadi mubaligh, misalnya Anton Medan yang melegenda itu.
Melihat ada lampu hijau dari Bang Bangun, Lintar memberanikan diri berkata,”Sebenarnya kami baru tahu kemaren, bahwa abang sudah di sini. Nah, mereka berdua ini langsung aku perintahkan untuk mencari dan bawa ke sini. Mereka mengenali abang dari foto saja. Dan kumis abang itu, tak banyak yang menyerupai. Untung mereka tidak tahu kemampuan abang. Kalau mereka tahu, tak mungkin mereka berani…”
“Hahaha…hahaha… memang aku sudah tua. Sudah tidak waspada lagi. Hahaha… usia tak bisa dibohongi…”
Pak Bangun sekarang duduk di kursi berdebu yang ada di situ. Lintar dan dua anggotanya bersimpuh di lantai. Sedangkan Jack berdiri di samping kursi yang diduduki Pak Bangun.
“Baiklah… sekarang kalian dengar baik-baik…” Pak Bangun berdehem beberapa kali. Lalu berkata,”Pertama, geng ini kita bubarkan! Tak perlu ada nama jika kalian tidak bisa mengangkat nama!”
Lintar dan dua temannya mengangguk-angguk setuju. “Kedua, kalian benahi markas ini. Cari info siapa yang punya ruko, mana tahu kita bisa bikin bisnis di sini. Nah untuk yang kedua ini, aku minta kau lakukan dalam sehari ini, Lintar…!”
Kembali Lintar mengangguk. Dan tersenyum. Dia suka gaya Bang Bangun ini dahulu. Persis seperti saat ini. Praktis. Sistematis. Dan lugas.
“Dan yang ketiga, mulai hari ini, kalian harus ikut Jack, setiap sore, belajar membaca Al Quran di Mesjid Raya!”
Lintar dan dua anak buahnya terperanjat. Bagaimana mungkin mereka belajar membaca Al Quran? Mereka memang Islam, tetapi jangankan membaca Kitabullah itu, huruf alif sebesar tonggak pun mereka tak kenal!
“Jangan kuatir. Biar aku yang mengajari kalian tiap hari,” ujar Jack menjawab keterkejutan Lintar dan anak buahnya.
Tentu saja Lintar suka. Dengan anak kecil ini, siapa yang akan belajar, siapa yang mengajar? “Kita lihat saja,” pikirnya sambil tetap mengangguk takzim.
“Aku yang mengajar, kalian yang belajar… untuk prinsip ini aku tak main-main,” sergah Jack sambil memandang mata Lintar yang terperanjat. Rupanya dia terperanjat lantaran Jack bisa membaca pikirannya. “Ahhh… kebetulan saja…,” gumam Lintar menghibur diri.
Tiba-tiba Lintar tersimpuh. Dia tidak tahu kalau kedua lututnya goyah. Sehingga secara terpaksa dia tersimpuh di hadapan Jack! Lalu dia mendengar bisikan,”Aku tidak main-main, jadi kau buang keragu-raguanmu itu dari sekarang.”
Lintar menengadah. Dia lihat Jack hanya menatapnya. Tanpa bicara. Lalu bisikan tadi? Apakah anak ini seorang bocah sakti? Bocah ajaib? Atau sintong seperti cerita-cerita silat orang Cina?
Dan Lintar makin terpukau demi mendengar bisikan di telinganya,”Jika kau sungguh-sungguh, jangankan Medan, dunia bisa kamu kuasai dengan ilmu!”
Tentu saja Lintar senang bukan kepalang. Selama ini dia sudah bosan menjadi orang yang dilecehkan. Selalu kalah. Selalu jadi pengikut. Dia ingin pula menguasai dunia. Siapa yang tak mau menguasai dunia?
Mendapat kesimpulan seperti itu, Lintar segera berkata,”Kami akan patuh padamu Jack. Mulai hari ini, kau lah pemimpin kami,” ujarnya seraya membungkuk mencium lantai, diikuti dua anak buahnya.
Pak Bangun terkejut melihat peristiwa itu. Luar biasa, anak kecil ini sudah langsung jadi pemimpin kelompok Sisingamangaraja yang legendaris. Tetapi segera dia sadar, apa yang dia ketahui tentang anak ini, lebih banyak keajaiban. Dan dia saksi dari keajaiban itu selama ini. Maka, Pak Bangun ikut tersenyum, melihat Jack tersenyum.
Senyum dua orang itulah yang kelak akan berbuah baik dalam dunia preman di Kota Medan!
Wallahu a’lam bissawab…

Kesembilan:
Lapangan Benteng itu jika malam tidak terlalu gelap. Karena di sekitar lapangan berderet lampu dengan cahaya yang terang benderang. Sehingga lapangan bersejarah itu menjadi pilihan utama buat warga Medan menikmati udara terbuka di tengah kota yang kian sempit.
Jika siang, pepohonan yang cukup rimbun memberikan kesejukan tersendiri. Dan ruang terbuka hijau itu pun diserbu warga. Apalagi pemerintah kota tidak mengutip retribusi untuk fasilitas ini.
Lapangan ini beralamat di Jl. Pengadilan, Petisah Tengah, Kecamatan Medan Petisah. Pada era penjajahan Belanda, sempat dibangun suatu benteng di area lapangan ini. Oleh karena itu, hingga kini namanya Lapangan Benteng.
Ada berbagai aktivitas yang bisa dilakukan di lapangan Benteng Medan. Banyak pengunjung yang lari pagi atau sore di lapangan ini sambil menikmati udara segar dari pepohonan rindang yang ada.
Usai olahraga, pengunjung bisa menyantap aneka hidangan khas Medan yang dijajakan di sekitar lapangan. Meskipun lapangan ini buka 24 jam, tetapi penjual makanan biasanya sudah berhenti berjualan pada malam atau bahkan sore hari.
Selain itu, lapangan ini juga sering dijadikan tempat piknik keluarga sambil bercengkerama santai, pentas seni, dan berbagai acara komunitas dari berbagai bidang.
Guna menunjang kenyamanan, pengunjung, lapangan ini dilengkapi sejumlah fasilitas yang memadai, seperti: jogging track, lapangan futsal, lapangan voli, beberapa peralatan gym gratis, area parkir, toilet, dan outdoor playground untuk anak-anak.
Lapangan ini sangat strategis terletak di pusat kota Medan, sehingga sangat mudah untuk dijangkau dari berbagai sisi kota tersebut.
Di sinilah, selama hampir lima tahun Jack sering menghabiskan waktu dengan gengnya. Setiap sore, selepas belajar agama di Masjid Raya, Jack membawa tiga “murid” nya ke lapangan ini. Selain mengulang kembali pelajaran dari para ustad yang mengajari mereka di masjid bersejarah yang dibangun Sultan Deli itu, Jack juga mengajari berbagai ilmu.
Sebenarnya bukan mengajar. Yang terjadi sebenarnya adalah, Jack mempraktikkan kembali ilmu-ilmu yang dia peroleh dari Angku Pincuran Gadang yang telah disempurnakan atau dibersihkan oleh lelaki tua berkopiah dengan cara mengajarkan kepada orang lain–Lintar dan kawan-kawan. Semakin sering Jack mengajarkan, semakin mantap pemahaman untuk dirinya sendiri.
Itulah sebabnya para guru takkan pernah kalah oleh murid. Sebab setiap kali guru mengajarkan, ilmunya makin bertambah dalam. Bukan berkurang.
Secara tidak disadarinya, itu yang terjadi pada Jack. Selama hampir lima tahun itu, Jack mendalami ilmu-ilmu tersebut dengan mengajarkan pada Lintar dan dua anggotanya.
Dari Angku Pincuran Gadang, Jack melatih ilmu membunuh dengan pikiran, yang dia perhalus menjadi “ilmu mempengaruhi pikiran”. Yakni bagaimana pikiran orang lain dipengaruhi, tanpa perlu berkata-kata. Cukup mempertautkan rasa! Mirip hipnotis, tetapi bukan. Lebih kepada bagaimana mempertautkan rasa, dengan meyakini bahwa nurullah atau energi illahiyah melingkupi seluruh alam.
Memang di SMP, Jack sudah keranjingan pelajaran Fisika. Dia bisa berlama-lama membaca teori-teori fisika dari buku di perpustakaan sekolah. Dia tertarik mendalami energi.
Begitupun di SMA, kesukaannya akan Fisika semakin menjadi-jadi. Tidak puas di perpustakaan sekolah, Jack bahkan mendatangi Perpustakaan USU di Padang Bulan, Medan Baru. Di situ dia bisa seharian membaca buku-buku fisika. Bahkan kumpulan karya ilmiah Albert Einstein dalam The Collected Papers of Albert Einstein–yang merupakan kumpulan makalah Einstein yang dipilih dari lebih dari 40.000 dokumen dalam koleksi pribadi fisikawan itu–juga dilahapnya.
Dari berbagai referensi, termasuk yang ditimba di SMA, lelaki remaja yang tampak dewasa ini menyimpulkan bahwa nurullah itu adalah energi illahiyah. Prinsip yang diyakininya hingga membawa pada kesimpulan itu sederhana saja, yakni bahwa salah satu penampakan energi adalah cahaya. Dan bukankah nur itu artinya cahaya?
Meskipun dalam konteks yang lebih mikro, kesimpulannya itu kelak terbantahkan secara fisikawi, namun keyakinannya yang kukuh menghasilkan hal yang luar biasa!
Demikian cara yang dilakukan Jack untuk mencari pertautan antara hal-hal kegaiban dengan kefisikaan. Begitu pula upaya-upaya pembuktian, seperti yang dilakukannya dengan Lintar.
“Bang, coba kau pikirkan sesuatu, apa saja yang kau suka,” katanya pada Lintar.
“Ahhh… kau ini Jack. Memang aku harus memikirkan apa? Selama ini kita belajar agama, dan kami sudah bisa baca Al Quran, walaupun belum terlalu lancar. Kami pun sudah bisa shalat. Itu sudah sangat bagus buat kami,” jawab Lintar.
“Lakukan saja. Ayo, pikirkan satu hal saja. Sekarang,” desak Jack.
Lintar menurut. Dia memikirkan satu hal. Dia kukuh berpikir tentang hal itu saja. Sementara Jack mulai berkosentrasi, menyatukan diri dengan alam. Dan lambat laun dia merasa sudah menjadi bagian dari alam. Dia terbang, dirinya hilang. Yang ada hanya penyatuan yang hakiki dengan alam dan lingkungan sekitar. Sementara Lintar terus berkutat pada satu hal yang dipikirkannya.
“Ahaaa…sudah… sudah… Rupanya kau memikirkan seorang gadis. Arinauli namanya!”
Lintar benar-benar terkejut. Bagaimana mungkin lelaki yang baru berangkat remaja ini bisa menebak pikirannya? “Ahhh… kau tukang sulap pula rupanya! Atau tukang tenung. Bagaimana bisa kau tahu pula namanya?”
Jack tertawa senang. Lintar tersenyum kecut. Dua lelaki yang menjadi anak buah Lintar terkagum-kagum. Mereka melihat Jack sebagai keajaiban dunia yang kedelapan!
Selepas tertawa dan saling mengolok-olok–memang empat orang itu sudah seperti berteman saja, walaupun beda-beda umur–lalu Jack mulai memberikan dasar-dasar untuk merasakan keberadaan energi kepada tiga orang yang boleh disebut muridnya itu.
Tentu saja sangatlah sulit bagi mereka. Walaupun Jack sudah mengajari sesuai praktik yang ditunjukkan Angku Pincuran Gadang padanya, namun tiga orang ini tak pernah sampai pada yang dituju. Ada-ada saja yang mereka rasakan dalam kosentrasi yang mereka praktikkan.
Lebih tiga bulan Jack memaksa mereka, sekaligus dia juga mempraktikkan sendiri, namun masih jauh panggang dari api! Jack makin sensitif akan pergerakan energi di sekitarnya, sedangkan para muridnya seperti terbentur tembok.
Jack kehabisan akal. Secara spontan dia ingat gurunya, lelaki tua berkopiah. Saat dia ingat, seketika menyeruak bau Jafaron Putih. Lalu Jack tersenyum mengangguk-angguk, karena lelaki tua berkopiah itu berbisik,”Bagaimana mungkin cahaya terang kalau bola lampu hitam?”
“Lalu apa akal, Angku Syekh?”
“Ajari tasawuf, praktekkan. Ajari zikir, praktekkan…!”
Saat Jack berbicara sendiri tadi, Lintar dan kawan-kawan ternganga saja dengan seribu satu macam dugaan dan prasangka. Apalagi Jack juga tersenyum dan mengangguk-angguk. Mereka melihat sekeliling, tak seorangpun ada di sana, selain mereka berempat!
Tetapi Jack tak peduli dengan keheranan itu. Dia segera memberi kuliah singkat tentang tasawuf dan tata cara zikir. Ketiga muridnya mengangguk-angguk tanda mengerti. Tetapi Jack sama sekali tidak puas. Ilmu tasawuf itu penting untuk dipelajari, tetapi lebih penting dipraktekkan.
Tapi bagaimana cara melatih membunuh dendam kesumat, kesombongan, kedengkian dan ketamakan?
Sampai di sini Jack bingung sendiri. Ada sepekan dia berpikir sendiri, sembari setiap hari di Mesjid Raya dia meminta mereka berempat diajari zikir oleh ustad-ustad yang ada di sana.
“Kami sudah bisa shalat. Tapi kami belum bisa berzikir. Tolonglah ajari kami,” ujar Jack suatu hari. Saat itu, dia baru saja dua pekan setelah kenaikan kelas. Kini dia sudah kelas III SMA. Setahun lagi, tamat.
Tentu saja para ustad dengan sukarela mengajari mereka. Mulai dari etika atau tata cara berzikir, sampai bermacam-macam kalimat zikir.
Dan, setiap selesai shalat, empat orang ini mulai terbiasa berzikir. Lama-lama kebiasaan itu mendarah daging menjadi budaya. Belum lengkap shalat, bila tidak berzikir. Ibarat selesai makan tapi tak minum!
Tinggal satu masalah lagi, bagaimana membersihkan hati yang hitam legam gegara nafsu? Tak lain jawabannya adalah praktik tasawuf. Tapi bagaimana cara sederhana untuk mengajarkan dan melatihnya?
Ini yang belum juga terjawab oleh Jack. Hingga suatu hari, tanpa direncanakan, dia bertemu guru Bimbingan Konselingnya di Olympia Plaza–merupakan salah satu mal tertua yang dibuka pada tahun 1984 di Kota Medan. Mereka sama-sama mau menaiki eskalator yang sempit. Di masa itu memang belum banyak eskalator dibuat lebar. Maksimal hanya muat untuk dua orang bersisian. Jika lebih, harus antri di undakan di bawahnya.
‘Selamat sore bu Guru,” sapa Jack yang saat itu tengah menemani Lintar membeli baju koko. “Selamat sore Jack,” balas bu Guru yang beragama nasrani itu.
Lintar yang ada di samping Jack ikut nimbrung,”Saya abangnya Jack, ehhh… oom nya…,” tutur preman ceking itu ikut mencari perhatian bu Guru dengan mengumbar guyon.
Ibu Guru yang cantik itu tersenyum penuh keibuan memandang Jack, dan memandang Lintar sesaat,”Ini abangmu atau oom mu Jack,” balas Bu Guru sambil tak melepaskan senyuman dari bibirnya yang ranum itu. Mereka bertiga tertawa.
Tepat di bibir eskakator, Bu Guru mempersilakan Jack dan Lintar duluan. Tapi Jack sungkan. Dia memberi isyarat pada Lintar untuk memberi tempat pada Bu Guru. Biar beliau yang naik duluan.
Dalam keadaan itu, tiba-tiba menyeruak dua orang pelajar berseragam SMA. Mereka langsung memotong, dan naik. Bu Guru tersenyum penuh pengertian, dan berkata pada Jack,”Itulah bahayanya jika tidak bisa mengendalikan ego. Banyak orang bermasalah hanya karena egonya yang diperturutkan!”
Jack tiba-tiba tersentak. Dia memegang tangan Bu Guru dengan spontan. “Benar-benar… ego itu masalah kita… oya Bu Guru… mmmm… bolehkah kami mengajak Bu Guru minum jus di sana,” ujar Jack yang masih memegang tangan guru yang cantik itu. Tapi Jack tidak melepaskan pegangannya, malah menatap Bu Guru itu, langsung ke matanya yang bundar itu!
Entah karena segan dilihat orang lantaran tangannya dipegang, atau akibat tatapan mata sang murid yang tak bisa ditampik, atau benar-benar ingin minum jus, Ibu Guru itupun tak tahu. Tapi dia mengangguk, dan mengikuti Jack yang sudah menggiringnya ke sebuah cafe yang ada di lantai dasar mal itu.
Bertiga mereka duduk semeja. Bu Guru memesan orange juice panas. Jack memesan jus alpokat, sedangkan Lintar minta capuccino.
Setelah beberapa saat, Jack mulai bertanya,”Bu Guru. Memang ego itu apa sih? Apakah itu sama dengan nafsu?” Sementara Lintar sibuk menyeruput capuccino yang masih hangat. Dia menikmati motif daun yang ada di permukaan cairan berwarna krem itu. Seolah-olah takut merusak daun, maka diseruputnya cappuccino itu dengan hati-hati!
Bu Guru cantik itu semakin memperlebar senyumnya. Lalu memperbaiki duduknya. Dan memandang Jack lama-lama. Walaupun Jack tahu makna pandangan itu sebenarnya adalah bahwa Bu Guru sedang mencari kalimat yang sederhana untuk memuaskan keingintahuan muridnya ini.
“Ego itu adalah “aku” secara kejiwaan, dan egoisme adalah sifat yang mementingkan diri sendiri,” tutur Bu Guru dengan pandangan mata yang masih mengambang. Menunjukkan bahwa dia pun masih belum puas dengan kalimat yang diucapkan buat menerangkan “ego” tersebut.
Dia pun melanjutkan,”Ke-ego-an, atau egoisme, itu adalah ke-aku-an. Dan tiap-tiap kita punya kadar ke-aku-an yang berbeda.”
Jack bisa memahami penjelasan itu, tetapi dia belum mendapatkan “sesuatu yang dia cari”, tetapi dia berpikir,”Bukankah aku itu adalah “diri”? Ada “diri nan terdiri”, ada “diri nan terpatri”, ada “diri nan tersembunyi” dan ada “diri nan sebenar diri”. Jika aku adalah diri, berarti…?”
Karena umurnya masih sangat muda, wajar saja Jack belum bisa menelaah lebih dalam dan komprehensif. Padahal yang ingin dia capai dalam daya pikirnya yang masih terbatas itu adalah; bahwa “aku” yang dimaksud “dalam diri nan terdiri” itu adalah zat/jasad dan sifat. Sedangkan “aku” dalam “diri nan terpatri” adalah zat/jasad semata. Dalam “diri nan tersembunyi” si “aku” itu adalah sifat dan dalam “diri nan sebenar diri” si “aku” itu adalah hal yang lebih esensial dari sifat, yakni nurullah!
Tetapi Jack, tiba-tiba melihat short cut berpikir,”Ya… “aku” yang sebenarnya adalah nurullah… “aku” yang sejati adalah ruh… Apakah memang begitu?” Jack masih bertanya-tanya dalam dirinya sendiri. Kali ini dia yang menatap Bu Guru dengan pandangan mengambang, jelas menunjukkan kegamangan dari hasil pikirnya yang tiba-tiba itu.
Tak mau panik sendiri, Jack mencoba mengalihkan pikirannya,”Bu Guru, apakah ego itu adalah nyawa atau ruh?”
Tentu saja Bu Guru itu yang panik dibuatnya. Bagaimana dia bisa menjawabnya? Bahkan untuk menjelaskan ego dan egoisme saja dirinya masih gamang mengucapkannya dengan bahasa yang sederhana. Selaku guru BK, tentu dia mempelajari psikologi. Namun untuk menjelaskan ego dan egoisme saja, dia seperti si bisu barasian (si bisu bermimpi), teringat ada, terkatakan tidak!
Akhirnya Bu Guru menemukan jawaban yang tepat,”Jack… Apapun itu, mau kita sebut ego, atau aku, secara psikologi itu adalah hal yang bersifat kejiwaan yang membentuk karakter… Tapi ego itu tidak sama dengan jiwa… mungkinkah itu penjelasan yang kamu cari?”
Jack mengangguk, tapi ragu. Kembali dia teringat ajaran lelaki tua berkopiah, bukankah jiwa itu adalah nafs? Dan nafs itu adalah “diri yang tersembunyi”. Sedangkan ruh itu ada di dalam jiwa–di dalam batin berbatin pula. Memang tak mungkin ego itu sama dengan jiwa.
Melihat Jack masih ragu, kembali Bu Guru menjelaskan, tapi kali ini lebih teoritik. Dikatakannya bahwa ego adalah bagian dari kepribadian sadar yang mementingkan diri sendiri, protektif, dan sering didorong oleh rasa takut. Ego merupakan keinginan seseorang untuk memenuhi suatu hal, tetapi masih menggunakan cara-cara yang dapat diterima secara sosial. Ego memiliki tujuan penting untuk melindungi dan menjaga kita tetap aman.
Sedangkan jiwa merupakan bagian dari kepribadian seseorang yang menentukan cara individu tersebut berpikir, merasa, dan bertindak. Jiwa melambangkan diri kita yang lebih tinggi, kebijaksanaan batin, dan hubungan dengan sesuatu yang lebih agung daripada diri kita sendiri. Jiwa memiliki keinginan untuk mengekspresikan bakat dan talenta uniknya, terhubung dengan orang lain, dan berkontribusi pada kesejahteraan umat manusia.
“Tapi dua-duanya ada pada kita. Kita punya ego, kita juga punya jiwa,” tutur Bu Guru sambil menyeruput minumannya. Haus pula Bu Guru ini lantaran dikejar pertanyaan Jack.
“Seandainya ego dan jiwa itu bertempat, di manakah letaknya Bu Guru?
“Wahhh… itu kan konsep psikologi Jack. Sesuatu yang abstrak, tapi ada…!”
Jack tak mau kalah. “Aku pernah dengar ada ruh, ada jiwa, ada hati. Bolehkah kita menyebut ego itu ada di hati? Bukankah di hati letak nafsu?”
Bu Guru mengangguk-angguk saja. Dia tidak yakin dengan kesimpulan yang dibuat muridnya itu. Bahkan dia mulai dibuat pusing. Tapi kenapa dia tak mau beranjak pergi? Padahal hampir satu jam waktunya tersita. Minumannya pun tinggal sedikit.
Jack tersenyum karena merasa sudah menemukan kesimpulan sendiri. Lalu dia mengalihkan pembicaraan,”Kalau begitu bukan ego yang harus kita perbaiki bu. Tapi sifat egois!” Bu Guru tersenyum senang. Di dalam hati dia menggumam bahwa diksi ego itulah yang sering disalahartikan sebagai egois.
“Iya, memang sifat egois yang mesti diperbaiki. Lebih tepatnya dikendalikan…” Jack mengangguk. Bu Guru meneruskan,”Sedangkan egoisme adalah sifat manusia yang merasa bahwa diri sendiri adalah yang paling penting dan utama, sehingga hanya memikirkan diri sendiri tanpa memedulikan orang lain!”
“Yaaa… sudah kutemukan bu… kita mesti mengendalikan ego supaya tidak egois…inilah tujuan tasawuf…” Bu Guru diam saja memperhatikan Jack membuat kesimpulan.
Sedangkan di dalam hatinya, Jack menambahkan sendiri,”Karena ego itu ada di hati, maka tasawuf lah untuk membersihkan hati.”
Apa yang dipikirkan Jack memang itu adanya. Dalam kontek spritual Islam, di hati ada jiwa, di dalamnya ada nurullah–nur illahi. Jiwa saja, itu baru “diri nan tersembunyi”. Dan nurullah, itulah “diri nan sebenar diri”. Dengan demikian, diri nan sebenar diri ada di dalam diri nan tersembunyi. Ini yang dikenal dengan istilah di dalam batin berbatin pula.
Hanya saja, karena jiwa dan ruh adalah sesuatu yang tidak tampak–tetapi bukan abstrak–kerapkali para ahli tarikat menyebut hati sebagai jantung secara medis. Sehingga hati secara spritual adalah jantung secara medis. Paham ini berseberangan dengan penjelasan Empat Anasir yang menyatakan bahwa diri nan tersembunyi (batin) melingkupi seantero diri nan terpatri (jasad yang zahir). Sehingga diri nan sebenar diri (ruh)–yang terletak di dalam diri nan tersembunyi–juga ada di seantero jasad. Bukan di dalam jantung!
Bahkan, ruh itu melingkupi alam semesta. Melampaui jasad secara personal. Melingkupi semuanya. Sehingga bila diasumsikan ruh itu adalah energi–energi illahi–maka dia satu kesatuan sejagad raya. Pengasumsian itu lah yang diyakini Jack. Sehingga dia percaya bahwa ruh adalah energi.
Tentu saja lelaki yang beranjak dewasa ini menggunakan asumsi tersebut untuk kepentingan dirinya sendiri. Terutama dalam upaya mendalami dan mempraktikkan ilmu dari Angku Pincuran Gadang dan lelaki tua berkopiah.
Sekarang, dari diskusi dengan Bu Guru BK itu, Jack pun memperoleh kesimpulan sendiri, di luar yang dibahas. Tetapi, belum tentu kesimpulan itu diperoleh bila tidak ada diskusi tentang ego dan egois serta egoisme. Karena itu, Jack pun berterima kasih.
“Terima kasih banyak Bu Guru. Aku sudah dapat pencerahan. Terima kasih ya Bu…,” ujar Jack sambil berdiri menyalami Bu Guru yang langsung berdiri saat dia mengucapkan terima kasih. Lintar pun ikut menyalami Bu Guru.
Sepeninggal Bu Guru, Jack mengatakan pada Lintar,”Bang, kau harus membersihkan hatimu. Mengendalikan ego mu. Caranya, dengan shalat dan zikir. In Sya Allah, kau akan bisa merasakan keberadaan energi di sekeliling kita. Dan nanti, kau pun bisa mengendalikan dan memanfaatkan energi alam tersebut. Hanya itu caranya. Bila kau tekun, mungkin setahun lagi kalian bertiga bisa mahir.”
Lintar mengangguk-angguk. “Tapi bagaimana dengan Bang Pendi yang semakin menekan kita?”
“Kau hubungi dia. Malam ini, aku tunggu dia di lapangan Benteng. Kau dan anggotamu boleh melihat dari jauh saja. Dan dia, jika memang jantan, tentu akan datang sendiri!”
“Lalu apa kubilang padanya, Jack?”
“Katakan, Jack Bangun ingin ketemu. Malam ini di lapangan Benteng!”
Lintar mengangguk. Lalu mereka berdua bergegas ke luar. “Aku langsung ke lapangan, abang segera temui Bang Pendi,” ujar Jack sambil menaiki mobilnya. Dia pun menyetir menuju lapangan Benteng.
Jack menuju Masjid Raya. Dia ikut jamaah magrib di sana. Setelah itu Jack langsung ke lapangan Benteng. Di sana banyak kuliner untuk santap malam.
Sekira pukul 23.45, Jack melihat ada beberapa mobil beriringan memasuki area parkir.
Jack sengaja mendahului ke arah tanah lapang. Dia sekarang sudah tegak di tengah-tengah. Lampu-lampu terang di pinggir. Tetapi ke tengah lapangan, remang-remang cahanya.
Tak sampai lima menit, Jack melihat seorang laki-laki bertubuh sedang datang mendekat. Sepintas tak terlihat bahwa orang inilah yang hampir menguasai semua wilayah preman di kota itu. Berbadan sedang, dan wajah klimis. Mungkin rambutnya yang tipis, dibiarkan panjang yang agak memberikan kesan bahwa dia adalah preman.
Selebihnya, malah mencerminkan seorang pengusaha. Dengan kening lebar yang mulai sulah (botak), stelan jas yang mewah dan sepatu mengkilap, sudah sangat pantas menyebut bahwa orang ini adalah pengusaha.
Lelaki yang diperkirakan hampir 50 tahun umurnya itu, semakin mendekat ke arah seorang pria yang sedang berangkat dewasa. Mereka sekarang berdiri saling berhadapan.
“Kamu Jack Bangun?”
“Ya, anda Pendi?”
Lelaki yang disebut Pendi itu tersenyum saja kendati remaja itu memanggil nama saja, tanpa “Bang” atau “Pak”.
Jack mendekat, menyalami Bang Pendi yang gelagapan. Karena dia tak mengira anak ini cukup bernyali dengan mendahului menyalami. Bahkan begitu bersalaman, Jack langsung menatap mata Bang Pendi, tanpa beranjak.
Mulanya Bang Pendi mencoba melepaskan tangan. Tapi, anehnya, dia justru merasa nyaman dipegang dengan lembut. Dicoba pula mengalihkan pandangan, tapi matanya menempel lekat. Dan dia makin nyaman.
Setelah melepaskan tangannya dari bersalaman, Jack berkata”Pendi… kelompok aku, Geng Sisingamangaraja tak pernah mangganggu kalian! Sekarang juga aku minta, seluruh wilayahmu menjadi bagian Sisingamangaraja!”
Bang Pendi manggut-manggut saja. Seperti orang linglung. Bahkan menggaruk-garuk kepala. Dan cengar-cengir. Lalu mendekat ke arah Jack, dan bersimpuh!
Tentu saja anak buahnya yang melihat dari jauh tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Pasti ada yang tak beres. Tak berapa lama, lima anak buah Pendi berlarian ke tengah lapangan. Mereka menghunus kalewang yang dikeluarkan dari balik jaket.
Lintar dan dua anggotanya tak tinggal diam. Mereka pun menghunus sangkur. Berlari memburu ke tengah lapangan.
Sekarang, Jack berada di tengah. Bang Pendi masih bersimpuh. Dikelilingi lima anak buahnya.
Begitu tiba di tengah, Lintar langsung mengayunkan sangkur ke arah anggota Bang Pendi yang terdekat. Nahas nasibnya, pinggangnya belah. Darah muncrat.
Dua anggota Lintar juga merangsek. Saat akan mulai mengayunkan sangkur masing-masing, mendadak empat orang anggota Bang Pendi turut bersimpuh di hadapan Jack yang saat itu merangkapkan tangan di dada.
Rupanya Jack menggunakan ilmu mempengaruhi pikiran dengan menguasai energi sekeliling. Memang tidak spontan pengaruhnya, namun ada. Saat mulai terpengaruh itulah, salah seorang yang nahas itu dimakan sangkur lantaran dia baru mulai terserang secara pikiran untuk bersimpuh.
Dan ketika dua anggota Lintar mengayunkan sangkur, empat lainnya keburu bersimpuh. Sangkur pun luput, hanya menebas angin!
Setelah luput, Lintar dan dua anggotanya tak melanjutkan serangan. Mereka heran dan takjub, karena Jack masih terus menyerang pikiran lawan-lawannya, kali ini dengan berbicara lantang. “Mulai hari ini, geng kalian saya ambil. Kalian mengerti?”
Bang Pendi dan empat anggotanya, minus satu orang yang pingsan tergolek mandi darah, serempak mengangguk. “Kami mengerti,” jawab mereka berbarengan.
“Dan kalian tidak boleh memeras. Boleh menerima uang dari orang-orang yang kalian lindungi, seperlunya. Dan tidak boleh memaksa. Apakah kalian mengerti?”
“Kami mengerti…” Kembali mereka menjawab serempak.
“Pendi tetap memimpin. Dan melapor pada Bang Lintar. Kau mengerti Pendi?”
“Ya… aku mengerti…”
“Sekarang kalian bubar. Pulang!”
Mereka pun manut. Berdua di antaranya mereka membopong temannya yang pingsan. Dan Bang Pendi berjalan gontai. Diikuti para anggotanya.
Di tengah lapangan Benteng itu masih temaram. Cahaya hanya samar-samar. Mendahului pertanyaan Lintar dan anggotanya, Jack berkata,”Jika rajin latihan, kalian bisa menaklukkan orang, hanya dengan pikiran!”
Lintar dan dua anggotanya ternganga, lalu mengangguk. Sedangkan Jack melepaskan tangannya yang dirangkap di depan dada. Begitu tangan itu lepas, Jack limbung. Lalu terjatuh. Darah berbuih-buih dari mulut dan hidungnya. Jack pun tak mengerti atas apa yang terjadi, karena dia terlanjur pingsan!
Kesepuluh:
Lintar panik. Dua anak buahnya apalagi. Mereka tak tahu harus berbuat apa. Hanya mencoba menelentangkan Jack. Dan menunggui “guru” mereka itu. Hingga subuh mulai menjelang.
Karena begitu panik, mereka tak sadar bahwa di sekitar lokasi itu sudah bercampur bau Jafaron Putih dan kemenyan. Ada pula bau yang cukup tajam meningkahi. Baunya pun khas. Tidak harum, tetapi juga tidak busuk.
Tatkala subuh makin dekat. Sebentar lagi tentu akan terdengar suara azan berkumandang. Tiba-tiba Jack bergerak. Menggelepar-gelepar. Bahkan sekarang berdiri, dan berjalan dengan mata merah!
Tentu saja gerakan spontan itu membuat Lintar dan dua anggotanya makin panik dan penuh tanda tanya. Apa yang terjadi pada Jack? Padahal tadi dia sudah lebih tenang, pasca pingsan dengan mulut dan hidung berdarah.
Jika lebih teliti lagi, ada tiga warna berbeda pada kabut yang seolah saling berpilin dan berpagut!
Sedangkan Jack sekarang berlari-lari, kadang-kadang ke arah kabut yang bewarna terang. Setelah itu dia melesat ke kabut pekat. Adakalanya Jack mengejar kabut yang bewarna kemerah-merahan!
Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa sekarang Jack berlari-lari kian kemari? Adakah sesuatu yang tak tampak, sesuatu yang gaib yang membuat Jack seperti orang gila? Atau seperti kapal di tengah lautan yang terombang-ambing di hoyak gelombang besar!
Agaknya Lintar dan dua anggotanya tidak tahu. Sekiranya latihan merasakan energi alam yang diajarkan Jack ada hasilnya, tentu Lintar dan dua anggotanya itu bisa merasakan betapa tiga kekuatan gaib sedang berperang!
Dan bila Lintar mau mengamati, dia bisa menyaksikan betapa awan yang terang itu kini kian melebar, melingkupi awan gelap dan awan yang kemerah-merahan. Tetapi dua awan yang tertindih itu tak kunjung hilang. Bahkan kadang-kadang mereka membesar. Lalu menciut lagi.
Azan pun berkumandang, mendayu-dayu memanggil kaum muslimin untuk bangun, dan menunaikan shalat subuh. Lebih baik shalat, daripada tidur. Asholatu khairum minan naum. Awan terang kian mengitari langit pagi. Membuat awan hitam dan kemerah-merahan hilang dilingkup terang.
Bertepatan dengan kumandang azan yang mengajak shalat subuh–Hayya ‘alashalaaah…–Jack pun sadar, dan melafazkan lahaulawalakuwwata ilallabillah… Jack merasa seolah-olah baru datang dari dunia lain. Kini tertegak di tengah-tengah lapangan Benteng. Sadar sepenuhnya. Lalu bergegas mengajak Lintar dan dua anggotanya menuju Masjid Raya Al Mashun.
Dengan mobil Jack Bangun, mereka tiba di lapangan parkir masjid yang bersegi delapan itu. Terus ke tempat berwudhuk. Dan menjadi makmum shalat subuh yang diikuti puluhan jamaah. Terlihat lengang dibandingkan dengan total kapasitas masjid yang bisa memuat duaribu jamaah!
Memang fenomena banyak masjid sedikit jamaah tidak hanya terjadi di Medan. Di tempat lain pun demikian. Yang selalu ramai tiap shalat lima waktu adalah di pesantren. Di luar itu, cenderung lengang.
Anehnya, nyaris di setiap daerah umat berlomba membangun masjid yang megah. Tetapi pada setiap shalat lima waktu, hanya dua atau tiga shaf saja berisi. Bahkan tak jarang, lebih banyak tiang masjid daripada jamaah!
Lewat pukul 06.00 pagi itu, Jack membawa Lintar dan dua anggotanya ke luar kota. Mobil itu melaju kencang ke luar kota, ke arah timur. Sekira 35 menit berkendara, mobil membelok ke kiri. Lalu lurus ke arah utara.
Tak lama mulai kelihatan laut. Rupanya Jack membawa “murid-murid” nya ke Pantai Muara Serdang. Pantai ini berada di Desa Bagan Serdang, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang. Dari pusat Kota Medan jaraknya sekitar 31 km. Karena di pagi hari lalulintas belum terlalu padat, maka kurang 1 jam berkendara, mereka sudah memasuki pantai itu.
Matahari mulai menghangatkan. Pantai yang dipenuhi pepohonan cemara dan mangrove itu sepagi ini masih cukup sejuk. Belum ada pelancong yang datang, sehingga pada jembatan kayu yang mengarah ke laut itu belum seorang pun terlihat berlalu lalang.
Ke jembatan kayu yang panjangnya sekira 50 meter itulah Jack membawa “murid-murid” nya. Dia berjalan di depan, dan terus ke ujung. Menuju bangunan kecil berkubah yang dijadikan tempat duduk bagi pelancong.
Jack menoleh ke kiri jembatan, ke arah matahari terbit. Tapi tampaknya dia tidak puas. Lelaki remaja beranjak dewasa ini pun menunjuk pantai berpasir putih di kiri jembatan. Mereka berempat sekarang menuju pantai berpasir putih itu.
Suasana pantai masih sepi. Jack melihat berkeliling. Lalu dia membukan baju. Tiga muridnya juga disuruh membukan baju. Berempat mereka telanjang dada.
Jack duduk di atas pasir. Tiga muridnya demikian pula. Lalu Jack menyampaikan maksudnya membawa mereka ke pantai itu. Karena akan memperoleh kekuatan yang luar biasa bila melaksanakan petunjuk yang diberikan, tiga orang itu mengangguk dengan bersemangat.
Dijelaskan oleh Jack, bahwa matahari pagi sangat bagus untuk melatih dan menghimpun tenaga. Dia pun memberi petunjuk lafaz zikir yang digunakan, serta tata caranya. Intinya adalah menghimpun energi alam dan mengumpulkannya di bawah pusar–tepatnya dua jari di bawah pusar.
“Menghadap ke matahari terbit. Bersila dan mulai berzikir. Ayo…,” ujar Jack sambil mulai bersila di atas pasir yang masih basah.
“Mulai seperti biasa… kosentrasi dengan seikhlas-ikhlasnya…”
Jika ada orang lain melihat, tentu mengira orang berempat itu sedang latihan tenaga dalam. Memang jamak dilakukan penghimpunan tenaga dalam di udara bebas. Kelebihannya bila dilakukan di pantai adalah adanya paparan matahari yang langsung, tanpa penghalang.
“Sekarang coba kalian ambil napas, terus ambil napas selama aku hitung sampai empat. Setelah itu tahan napas selama empat hitungan pula. Lalu kalian hembuskan lagi selama empat hitungan… Begitu seterusnya…berulang-ulang…Selama hitungan itu, kalian tetap berzikir… Ayo, mulai… satu… dua… Terus… ulangi dari awal. Tetapi kalian masing-masing yang menghitungnya, sambil tetap berzikir”
Tidak hanya mengajarkan, Jack juga melaksanakan zikir dengan pola tiga langkah itu. Ambil nafas, tahan nafas, hembuskan nafas. Empat orang yang duduk berjejer menghadap matahari terbit itu mulai berpeluh.
Ada sekira setengah jam mereka melakukannya. Peluh yang bercucuran membuat dada dan perut mereka terlihat mengkilap. Tapi mereka tak berhenti. Melainkan larut dalam kosentrasi yang tinggi. Walaupun cahaya matahari seolah-olah menjadi “lawan tanding” yang tangguh, keempat orang itu belum mau kalah.
Tiba-tiba Jack berkata,”Sekarang, dengarkan baik-baik… Saat menghirup nafas, kalian tarik semua energi yang ada… selama empat hitungan… Lalu tahan selama empat hitungan… Sekarang arahkan energi yang terkumpul itu ke tangan kanan masing-masing… Dan saat langkah ketiga, tumpahkan dengan tinju ke arah depan… begitu berulang-ulang sampai lima kali…!”
Mereka pun melakukan sesuai petunjuk. Tiba di langkah ketiga, hampir berbarengan mereka menumpahkan energi yang ada melalui pukulan tinju ke arah depan. Tepatnya mereka memukul udara yang ada di depan! Mereka melakukannya sampai lima kali.
Setelah itu, Jack meminta mereka istirahat. “Sekarang boleh istirahat. Aku tahu kalian kehausan. Tak apa-apa. Kita sama-sama haus. Kau Lintar, pergi ke pohon cemara yang di depan itu. Itu yang ada tiga pohon berderet. Coba kau lihat apa yang terjadi?”
Lintar bergegas. Dengan berlari dia sampai ke tiga pohon cemara yang berjarak sekira 100 meter dari mereka. Lelaki ceking itu terkejut. Pohon cemara itu seperti baru dijilat api. Dedaunannya menguning. Di lihat pohon cemara lainnya, semuanya normal dengan dedaunan yang kehijau-hijauan.
Dengan bersemangat, sambil tersenyum, Lintar berlari ke arah Jack. “Hebat Jack. Pohon cemara itu seperti habis terbakar!”
Jack tersenyum puas. Dua anggota Lintar malah tertawa kegirangan. Bersama dengan Lintar, tiga orang itu berlarian ke arah pohon cemara itu. Mereka melihat dengan seksama. Setelah itu mereka tertawa dan berjoget kegirangan. Mereka berjoget dengan telanjang dada, di bawah terik matahari yang sepenggalahan, sambil berlari ke arah Jack yang juga tampak tersenyum girang melihat “para murid” nya senang atas hasil praktik keilmuan yang dilakukan.
“Ayo, kalian berkumpul lagi di sini,” ujar Jack yang secara drastis telah berubah menjadi seorang remaja yang berwibawa. Mungkin karena “para murid” nya adalah para preman yang jauh lebih tua darinya, sehingga ikut membuat sisi kejiwaannya terangkat lebih tua dari usia. Atau lantaran pengalaman batin yang luar biasa, sehingga menjadikannya sosok yang matang, bahkan sebelum saatnya!
Memang jamak terjadi orang yang matang melebihi usia. Umumnya dialami oleh mereka yang dihimpit persoalan hidup. Itu yang setiap hari tampak di perkotaan, banyak bocah-bocah anak jalanan terpaksa dan harus menjadi lebih dewasa menghadapi dunia yang kejam!
Ada pula orang lebih dewasa dari usia lantaran ilmu yang dimiliki. Lihatlah betapa para ustad yang masih muda belia, terlihat lebih tua dari usianya tatkala berceramah di atas mimbar. Dan karena harus tetap mempertahankan keteladanan hidup sebagai penyiar agama, para mubaligh muda seperti melepaskan masa remajanya sirna. Berganti dengan kedewasaan dan kematangan, baik secara kurenah (prilaku) maupun secara berkomunikasi.
Yang manakah yang terjadi pada Jack? Apakah karena himpitan hidup sejak kecil dia matang sebelum waktunya? Atau lantaran pengalaman batin yang membuat penampilannya lebih “berat”? Atau keduanya?
Agaknya, dua sebab itu menjadikan Jack Bangun tampak jauh lebih dewasa daripada umurnya yang masih remaja belia.
“Nah… kalian lihat hasilnya? Itulah buah dari ketekunan, keikhlasan dan kesabaran. Tiap kalian bisa mencapai hal-hal yang lebih luar biasa lagi. Asal mau berkorban waktu.”
“Iya Jack… kami sudah lihat sendiri hasilnya. Padahal, tidak seperti itu pun hasilnya, kami sudah puas mengikuti petunjukmu. Sebab, selama lima tahun ini, kami merasa hidup lebih plong dan tenang,” jawab Lintar.
Dua anggota Jack juga mengangguk-angguk mengiyakan pengakuan Lintar, sambil melihat kagum pada “guru” mereka itu.
“Baiklah… sekarang kalian dengar baik-baik… Aku rasa, kalian tinggal mengasah dan melatih, supaya makin sempurna. Tapi ingatlah, tidak ada ilmu yang sempurna di atas dunia. Bila kalian mengejar kesempurnaan, maka kalian akan memperoleh ketidaksempurnaan. Tetapi bila kalian ikhlas dan melalui saja apa yang terjadi sebagaimana adanya, itulah kesempurnaan. Kesempurnaan adalah perasaan merasa cukup dengan apa yang sudah diperoleh!”
“Kalau begitu, untuk apa lagi kami berlatih,” tanya Lintar dengan lugu. “Tujuan berlatih bukanlah untuk kesempurnaan, sebab di atas sempurna ada yang lebih sempurna. Di atas itu ada lagi. Begitu seterusnya. Di atas langit, ada langit! Kita berlatih tujuannya hanya satu, yakni supaya ilmu yang ada lebih bermanfaat.”
“Apa bedanya,” sela Lintar. “Sempurna dan manfaat itu dua hal yang berbeda. Sempurna itu adalah ukuran untuk pemuas dahaga hati akan piala. Sedangkan manfaat adalah dampak positif untuk kita dan orang lain. Bisa paham?”
Lintar mengangguk-angguk. Dua anggotanya apalagi, lebih dalam angguk-angguknya serupa balam mau (burung tekukur yang pandai). Jack tersenyum arif. Dia sadar, apa yang baru disampaikannya itu mudah dicerna, tapi sulit diterapkan.
“Nah…aku rasa kalian sudah selesai belajar. Ilmu agama kalian sudah cukup untuk pedoman beribadat. Kalian juga sudah bisa berzikir. Dan tadi sudah lulus ilmu menunggangi energi. Kalian bisa menghimpun dan menggunakan. Mulai saat ini, kita tak perlu lagi tiap hari bertemu. Kau… Lintar, kuasai dan pimpin preman-preman Medan ini. Ajak mereka seperti cara kita. Aku akan mengawasi dari jauh,” tutur Jack.
Dan, tanpa menunggu mereka berbasa-basi, Jack meraih bajunya, dan berjalan menuju parkiran. Lintar dan dua anggotanya seolah terpaku di atas pasir yang mulai hangat. Dan mereka tercengang saat sayup-sayup terdengar suara Jack,”Air laut punya energi lebih. Jika ada yang mau mencoba, sekarang saatnya. Aku pergi. Kalian cari kendaraan lain…!”
Lintar mengangguk sambil menatap Jack yang berjalan ke tempat parkir. Dua anggotanya berebutan masuk ke laut. Mereka seakan berlomba ingin menjadi lebih baik. Lintar membiarkan saja.
Bukan. Bukan dia takut melarang. Tetapi dia teringat perkataan Jack,”Jangan mengejar kesempurnaan!”
Belum sepuluh menit, tiba-tiba seorang anak buah Lintar, yang agak pendek, mengapung di laut! Yang seorang lagi megap-megap berusaha berenang ke tepi. “Toloooong… toloooong…,” teriak yang tinggi berdegap sambil berenang. Rupanya si tinggi berdegap ini cukup pandai berenang, sehingga dia bisa tiba selamat dan berlari ke arah Lintar yang kehilangan akal.
Lintar lega, satu anggotanya selamat. Tapi yang seorang lagi bagaimana? Dia ingin menolong. Tetapi tak bisa berenang. Si kurus ceking dengan telinga bekas tindik itu berputar-putar saja di tepi pantai. Ingin menolong anak buahnya yang terapung, entah mati entah hidup, tapi tak ada daya upayanya!
Dalam panik itu, Lintar teringat petuah Jack,”Jangan mengejar kesempurnaan, karena akan mendapat ketidaksempurnaan. Tapi kejarlah manfaat!” Spontan Lintar duduk, berkosentrasi penuh, berzikir untuk merasakan energi alam! Secara asal-asalan, dicobanya mengumpulkan energi itu sepenuh-penuhnya. Terasa berputar-putar di bawah pusar–sekira dua jari di bawah pintu ke sepuluh di tubuhnya itu.
Lalu, saat zikir tiga langkah itu telah lima kali berulang, dikerahkan energi tersebut ke tangan dan mulutnya. Perlahan-lahan, Lintar merasakan ada rasa panas yang menjalar di kedua tangan dan kerongkongan. Kemudian, dibukanya mulut untuk menghirup apa yang ada di depan. Dan tangannya secara berganti-ganti menarik anggotanya yang terapung itu dari jauh!
Begitu kuat energi sedotan itu, sehingga air laut seperti dipanggil menghampiri pantai. Dan tubuh pendek anggotanya yang terapung itu seperti ikan tersangkut kail yang ditarik mendadak oleh tukang pancing. Tubuh itu terangkat, dan jatuh di depan Lintar. Lengkap sudah. Bertiga mereka sekarang terduduk di pantai itu.
Tetapi air laut seperti tak rela, dan mengejar mereka ke pantai. Padahal Lintar sudah ngos-ngosan dengan percobaan yang asal-asalan tadi. Kini dia kehilangan akal dan tidak berdaya menghadapi gelombang besar yang sebentar lagi tiba!
Di saat-saat yang kritis itu, tiba-tiba tubuh Lintar, dan dua anggotanya seolah ditarik tali ke awang-awang. Tergantung di langit tanpa tali. Hingga air kembali ke laut, barulah tiga tubuh itu jatuh ke atas pasir yang basah. Selamat. Walaupun mereka tunggang langgang jatuh tanpa persiapan, namun Lintar hanya rangkik-rangkik (pegal-pegal), si tinggi berdegap sakit pantatnya dan si kurus agak pendek justru sadar akibat jatuh dari ketinggian sekira dua meter itu!
Namun, tiba-tiba Lintar melihat ada seseorang yang ke luar dari laut. Berjalan ke arah mereka, menghampiri dari arah depan. Bersamaan dengan bau anyir yang luar biasa?
Si kurus terkejut,”Aaa aapaaa itu Bang? Jjjiiin… jin lauuut…”
Lintar berusaha melawan bau anyir itu dengan menghembuskan nafas sekuat yang ia bisa. Disertai pula dengan mendorong tangannya ke arah sesuatu yang sedang mendekat itu. Terlihat sesuatu yang berjalan di atas air itu tertahan langkahnya. Hanya sebentar. Setelah itu dia berjalan kembali ke arah mereka bertiga.
Melihat itu, si tinggi berdegap, segera duduk bersila, berkosentrasi dan berzikir. Diikuti petunjuk Jack tadi. Begitu merasa cukup terkumpul energi di bawah pusarnya, lalu dia kerahkan ke kedua tangan. Dan… blarrr… air laut berkuak. Sesuatu yang berjalan di atas air laut itu terpelanting. Hilang bersamaan dengan air laut yang kembali tenang.
Lintar bersyukur. Dia membaca hamdalah, diikuti si kurus dan si tinggi berdegap. Tiba-tiba mereka mendengar suara tepuk tangan.
“Alhamdulillah… kalian memang tiga orang yang beruntung,” tutur Jack yang berjalan ke arah mereka, dari balik deretan pepohonan.
Lintar, si kurus dan si tinggi berdegap terkejut, sekaligus lega. “Ehhh… dari mana kau Jack. Bukankah tadi kau sudah pergi?”
Jack tertawa lebar. “Kalian sudah melalui ujian yang kalian buat sendiri,” ujar Jack.
Tentu saja ketiga orang itu heran. “Aku sudah bilang, kesempurnaan bukan untuk dikejar. Yang perlu adalah kemanfaatan. Kau, kurus, tentu ingin mengejar kesempurnaan, sehingga segera masuk ke laut. Begitu pula kau,” ujar Jack sambil menunjuk dua anggota Lintar itu.
Yang ditunjuk hanya cengengesan dan malu. “Dan untunglah ada kau, Lintar. Kau hati-hati, tidak mau gegabah untuk ikut terjun ke laut. Dan secara tidak sengaja, karena setia kawan, kau mencoba ilmu. Kau tidak mengejar kesempurnaan, tapi ternyata ada kemanfaatannya buat dua anggotamu ini,” kata Jack.
Lintar yang merasa tersanjung, hanya garuk-garuk kepala saja. Dia tidak terlihat sombong. “Alhamdulillah… itu semua atas petunjuk kau, Jack,” ujar Lintar takzim menghormati remaja tanggung yang sudah menjadi guru mereka selama lima tahun ini.
“Oya, bagaimana mungkin kau tahu apa yang akan terjadi tadi, sehingga kau tak jadi pergi,” tanya Lintar.
“Aku sengaja menguji kalian. Makanya tadi aku bilang, kalau mau mencoba mengumpulkan energi laut, sekaranglah saatnya. Nah, dua anggotamu terpikat. Tetapi itulah ujian. Secara berkelompok, kalian sudah lulus. Kau, kurus, harus berlatih lebih tekun lagi. Apapun ilmu, yang penting bukan banyaknya. Tapi kualitasnya jauh lebih penting. Jika kalian melatih ilmu menguasai energi alam dengan baik, itu adalah senjata yang luar biasa. Karena kalian bisa mengatur orang, hanya lewat kata-kata yang diucapkan dengan pengerahan energi. Bahkan, bisa pula mengarahkan pikiran orang lain, dengan kekuatan pikiran kita.”
Lintar dan dua anggotanya manggut-manggut. “Dan jin atau sesuatu yang berjalan di atas air tadi, itu ulah kau juga,” tebak Lintar.
Jack tersenyum dan menggeleng. “Bukan. Itu memang jin yang merasa terganggu karena aksi kalian. Makhluk halus, seperti jin itu, juga terpengaruh oleh energi. Karena itu hati-hati saja. Para jin memang tak akan bisa membunuh kita secara langsung. Namun bila mereka marah, mereka bisa menggunakan tangan seorang manusia untuk mencelakai manusia lainnya.”
“Dan jin itu pergi karena kekuatan si tinggi berdegap ini,” sambung Lintar.
Jack mengangguk. Dan tersenyum. Tiba-tiba Jack dapat gagasan baru, lalu dia berkata,”Melihat hasil ujian tadi, maka sebaiknya kalian berlatih dengan spesialis masing-masing. Supaya kalian menjadi tim yang saling mengisi. Kau, kurus, fokus melatih tenaga lemas. Dan kau, fokus melatih tenaga kasar, dengan kekuatan otot-ototmu untuk menjadi penggempur. Dan kau, Lintar, berlatih menguasai pikiran!”
“Bagaimana melatih tenaga lemas,” tanya si kurus. “Kau kuasai angin,” jawab Jack.
“Bagaimana menguasai pikiran,” tanya Lintar. “Kau kenali orang itu, dan upayakan pula dia kenal denganmu. Lalu dengan zikir, kau usahakan masuk ke pikirannya. Bila sudah masuk ke dalam pikirannya, akan mudah buat kau mengendalikannya,” jawab Jack.
“Wahhh…hebat ini. Biar Bang Pendi sebagai objek uji coba aku yang pertama. Bila Bang Pendi kukuasai pikirannya, maka mudah bagi kita menguasai Medan. Begitu kan Jack?”
Jack mengangguk. “Bagus. Dan kau, latih otot-otot seluruh tubuhmu untuk bisa menjadi benteng dan bisa pula mengeluarkan energi secara spontan, tanpa harus dikumpulkan terlebih dahulu.”
“Lalu, kapan aku mengumpulkannya,” tanya si tinggi berdegap. “Dengan latihan rutin, selama seratus hari tanpa henti, aku rasa seluruh anggota tubuhmu akan menjadi tameng sekaligus senjata,” jawab Jack.
Kemudian Jack memberi petunjuk kepada masing-masing muridnya itu. Sekaligus dia menyuruh mereka mempraktikkannya. Matahari sudah hampir di atas kepala, namun tiga orang itu, masih bertelanjang dada dengan tekun melatih diri. Mereka berempat sebenarnya sudah sangat haus dan lapar. Namun tak mereka rasakan lantaran keinginan untuk melaksanakan petuah Jack.
Untunglah tak lama setelahnya terdengar suara azan. Itu yang membuat mereka berhenti. Dan segera mengenakan baju masing-masing. Lalu menuju sebuah mushalla yang ada di area pantai tersebut.
Kesebelas:
Selama kelas III SMA, Jack mulai mengurangi keterlibatannya dengan dunia preman. Dia sekarang fokus untuk menghadapi ujian akhir. Dan sekaligus bersiap untuk masuk ke perguruan tinggi.
Jack ingin kuliah di jurusan fisika. Mungkin di USU saja, atau di UNP–Padang. Pertimbangannya, jika di USU, dia ingin meringankan beban biaya yang akan ditanggung Pak Bangun. Meskipun ayah angkatnya itu berkali-kali meyakinkannya untuk tidak mengkuatirkan biaya kuliah!
“Bapak sudah siapkan semuanya. Kau tinggal sebut, mau kuliah dimana?”
“Aku biar di USU saja, Pak. Atau paling jauh, kuliah di Padang,” kata Jack. Padang menjadi pilihannya, mungkin lantaran ingin pulang kampung. Sudah lama juga dia merantau. Sudah hampir enam tahun!
Pak Bangun diam saja. Dia memang sangat sayang pada anak angkatnya ini, sehingga bila Jack sudah memilih, dia tak mau menghalanginya lagi. Sebab, selama ini, pilihan Jack belum ada yang keliru. Termasuk saat Jack memilih memasuki dunia preman, ternyata sekarang namanya ikut melambung, sebab Jack Bangun disebut-sebut sebagai pemimpin seluruh preman di Medan.
Padahal, hanya sedikit orang yang tahu perihal Jack. Hanya tiga muridnya itu. Mungkin para muridnya itulah yang bercerita bahwa mereka punya pemimpin bernama Jack Bangun.
Sementara Jack sendiri saat ini justru tak pernah lagi terlihat bersama mereka. Dia sedang fokus menghadapi ujian akhir. Tetapi, saat Pak Bangun terdiam akan jawabannya yang hendak kuliah di USU, atau di UNP, tiba-tiba terlintas di pikiran Jack akan kiprah murid-muridnya yang memang mulai mengukir nama besar di kota itu.
Rupanya, empat bulan setelah peristiwa di Pantai Muara Serdang itu, ketiga muridnya sudah menampakkan hasil yang memuaskan, sehingga tujuannya untuk membersihkan dunia preman dari aksi pemerasan dan pemaksaan mulai tercapai. Lintar sudah bisa menguasai Bang Pendi. Si tinggi berdegap, ibarat tukang pukul Lintar. Dan si kurus adalah mata-mata yang sering berjalan sendirian untuk memantau situasi.
Tak pelak, tiga serangkai itu membuat preman-preman lain tak berkutik. Bahkan preman-preman yang dipelihara pengusaha maupun penguasa pun bertekuk lutut pada Lintar, si ceking dengan telinga bekas ditindik!
Lintar pun mengukir nama besar. Dia digelari Lintar Koko, karena kemana-mana dia selalu mengenakan baju koko warna putih kesukaannya. Sedangkan si tinggi berdegap itu mendapat gelar Bogem Keling–memang dia makin keling saja karena tiga bulan melatih diri di sebuah pantai sepi, tak jauh dari Pelabuhan Belawan.
Yang tidak diketahui oleh banyak orang adalah si kurus. Kemampuannya mengendalikan angin berbuah manis lantaran dia bisa menunggangi angin, atau menjadikan angin untuk menyembunyikan tubuhnya sehingga tidak kasat mata. Hanya orang-orang yang berpandangan tajam yang bisa mengetahui keberadaan si kurus yang kerap menyuruk di balik halimun.
Dan Jack tidak perlu kemana-mana buat mengetahui kiprah para muridnya itu. Cukup “menautkan rasa” dengan Lintar, lalu merasuk ke pikirannya, maka seluruh perkembangan mereka ibarat buku terbuka buat Jack.
Sebenarnya Lintar sempat heran akan pengetahuan Jack atas perkembangan mereka. “Bagaimana kau bisa tahu semuanya, Jack? Padahal kau sibuk bersekolah saja,” tanyanya saat mereka bertemu di Masjid Raya Al Mashun.
“Aku kan guru kalian,” gurau Jack. Lintar tertawa lebar, dan mengangguk-angguk. Lalu dia berkata,”Bagaimana caranya supaya orang tidak bisa memasuki pikiran kita,” ujarnya sambil tersenyum simpul.
Jack tertawa terbahak-bahak. Dia tahu maksud Lintar. Dan dia melakukan itu bukan untuk maksud buruk. “Untuk apa? Jika pikiranmu baik, kenapa pula disembunyikan,” balasnya.
Kembali Lintar tersenyum simpul. “Kau ini, mentang-mentang guru,” gerutunya dalam hati. Tetapi seketika itu juga, di pikirannya sendiri bergema suara,”Sudahlah belajar gratis, kau masih juga ingin mengalahkan guru!”
Entah karena mendengar gerutu di dalam hati Lintar, sambil tersenyum Jack berkata,”Orang yang tak bisa dimasuki pikirannya adalah yang kosong. Orang tidur, orang gila dan orang mabuk tak akan bisa dimasuki. Nah, apakah kau puas?”
Lintar tertawa kecut. Mukanya yang ceking dan tirus tersipu-sipu. Lalu di dalam pikirannya kembali terdengar suara,”Pikiran kosong kan bisa dibikin?”
“Benar, kau bisa bikin pikiranmu jadi kosong. Cukup menekur, dan bayangkan saja sedang tidur,” jawab Jack juga di dalam hati.
Tetapi Lintar tersedak dan terkejut karena pertanyaan yang sensitif itu, walaupun di dalam pikiran, dijawab oleh Jack.
Sebenarnya dia tidak bermaksud sejauh itu. Namun, Jack tetap menjawab dengan merasuki pikirannya. Lintar makin malu. Dan dia mencium tangan Jack, meminta maaf.
Dicium tangan seperti itu, Jack segera bersimpuh, mencium kaki Lintar. Lalu dua orang yang terpaut umur cukup jauh itu saling berangkulan.
Agaknya demikian halnya dengan dunia preman. Bilamana dua preman sudah saling mengerti, saling percaya, maka hubungannya lebih daripada saudara. Begitulah yang dirasakan Lintar. Kendati jauh lebih muda, namun budi baik dan kehalusan budi Jack membuat Lintar bertekuk lutut!
Banyak kisah pertemanan para preman seperti itu. Para preman, bila sudah menjadi teman, dia akan menjadi pelindung yang melebihi keluarga kandung sekalipun.
Sejarah mencatat, bahwa dahulu, para preman itu ibarat Robin Hood, suka menolong orang-orang yang lemah. Sebenarnya istilah preman itu muncul saat zaman penjajahan Belanda di perkebunan Deli yang terkenal itu.
Pada masa kolonial, istilah preman hanya dikenal di kawasan perkebunan yang ada di sekitar Medan. Keberadaan vrijman (preman) pada saat itu, sangat ditakuti oleh para pengusaha yang umumnya berasal dari Belanda, lantaran mereka kerap melindungi para kuli yang diperlakukan semena-mena oleh majikan–para meneer itu!
Merasa dilindungi, para kuli tersebut tak segan-segan membagi rezekinya yang sedikit dengan para preman. Paling tidak mengundang makan dan minum-minum.
Sejarah mencatat, agaknya istilah vrijman itu sengaja dikembangkan oleh para pekerja perkebunan untuk melawan kesewenang-wenangan para pengusaha dengan cara tidak manusiawi. Lalu, lantaran sulit menyebut kata vrijman dengan lidah lokal, maka lama kelamaan istilah tersebut berubah menjadi preman. Seiring perkembangan zaman, pengertian preman mengalami pergeseran makna menjadi ke arah yang lebih negatif.
Kembali ke Jack. Karena mempersiapkan diri dengan tekun, dia bisa menghadapi Ujian Nasional (UN) dengan baik. Sebentar lagi dia akan menghadapi SNMPTN–Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Tetapi sebelumnya, pada bulan Maret, Jack sudah mendaftar SNMPTN melalui jalur undangan.
Memang sejak 2011 ada perubahan format seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri–PTN. Mulai 2011, SNMPTN dibagi menjadi dua yaitu SNMPTN jalur tertulis dan SNMPTN jalur undangan. Bagi calon mahasiswa yang tidak lolos SNMPTN undangan, bisa mendaftarkan diri untuk mengikuti SNMPTN jalur ujian tertulis.
SNMPTN jalur undangan merupakan mekanisme SNMPTN yang berbasis penjaringan prestasi akademik, tanpa ujian tertulis atau keterampilan. Dan pendaftarannya sudah dilakukan sejak bulan Maret. Sedangkan pengumumannya adalah pada tanggal 18 Mei 2011, hari Rabu.
Dan pada hari Rabu dimaksud, Jack sedang menemani Pak Bangun membeli sesuatu di Sun Plaza. Sebenarnya tak ada yang terlalu penting untuk dibeli, namun hari itu Pak Bangun sengaja mengajak Jack ke plaza yang tergolong elit tersebut–kebanyakan golongan kelas menengah ke atas yang berbelanja di situ–untuk menghibur Jack yang terlihat gelisah beberapa hari ke belakang. Mungkin dengan jalan-jalan di plaza mewah tersebut bisa meredakan kegelisahan.
Saat akan masuk di lobi utara, Pak Bangun mampir ke loper koran. Memang lelaki tambun berkumis itu suka membaca surat kabar, untuk mengisi hari dan membunuh pikun.
“Heiii… Jack, ini ada pengumuman SNMPTN jalur undangan. Kamu mendaftar untuk undangan juga kan?”
Jack mengangguk, dan membaca suplemen tambahan khusus pengumuman itu. “Alhamdulillah… aku diterima di UNP, Pak… alhamdulillah… alhamdulillah…”
Pak Bangun juga membaca hamdalah. Tapi dia jelas tak terlihat terlalu gembira. Dipaksakannya tersenyum,”Wahhh… selamat ya Jack, kamu akan pulang kampung,” ujar lelaki tambun berkumis itu dengan nada murung.
Jack mengerti. Dia merangkul dan memeluk laki-laki itu. Pak Bangun terkejut, maklum selama ini dia belum pernah dirangkul dan dipeluk seperti itu. “Bapak, percayalah… budi baik Bapak sudah sangat banyak untukku. Dan sampai mati pun, aku tak akan bisa membayarnya. Tapi… tapi… aku memang ingin kuliah di Padang, pak. Aku memohon izin Bapak…”
Masih di depan loper koran, di depan lobi plaza itu, mereka masih berangkulan. Pak Bangun terharu dan sedih. Jack merasa menyesal lantaran saat mengisi formulir undangan itu secara daring, dia tak sempat meminta izin Pak Bangun. Tentu penyesalannya tidak seperti sekarang bila sebelum mengisi formulir, terlebih dahulu meminta izin ayah angkatnya ini.
Maka luapan penyesalan itu ditumpahkan Jack dengan merangkul dan memeluk ayah angkatnya. Keduanya berangkulan cukup lama, seolah-olah sepakat untuk saling mengerti atas kealpaan yang terjadi.
Mungkin melihat dua orang itu sedang tidak waspada, tiba-tiba dua orang preman menyenggol mereka. Seolah-olah tidak sengaja, karena dua orang preman itu–bisa jadi pura-pura sedang bercanda sambil saling kejar–menabrak Pak Bangun yang sedang berangkulan dengan Jack.
Mendadak Pak Bangun sadar. Naluri premannya masih belum hilang. Ada sesuatu yang terasa di saku celananya. Segera dia raba, maka dia pun menuding dan menghardik,”Heii… copet. Aku pulak yang kau copet… siniii…” Jack juga kurang waspada, agaknya terpengaruh suasana haru biru saat memeluk bapak angkatnya. Akibatnya aksi dua orang yang pura-pura menabrak tadi luput dari pengamatannya.
Apa mau dikata, duo pencopet itu sudah ngacir, menyelusup di antara keramaian pusat perbelanjaan itu. Jack melihat Pak Bangun yang kasak-kusuk dan masih petantang-petenteng kalang-kabut. “Apa yang diambilnya, pak?”
“ATM aku. Juga duit. Ada sejuta lah… Sialan anak-anak itu. Belum tau dia!”
Tiba-tiba Jack ingat Lintar. Diapun berkosentrasi, lalu mengkoneksi. “Bapak kecopetan di Sun. Kau urus itu.”
Lalu Jack menghampiri Pak Bangun. Mengajak lelaki tambun berkumis itu ke sebuah cafe. “Kita ngopi dulu pak. Biar anak-anak yang ngurus,” ujar Jack sambil memesan americano kesukaan Pak Bangun.
Pak Bangun tak puas, dan bertanya,”Bagaimana…?”
Dengan tersenyum, Jack menjawab,”Tenang saja, pak. Sebentar lagi mereka datang membawa dua tukang copet tadi.”
Pak Bangun heran. Tetapi dia diam saja. Dan yakin, biasanya apa yang dikatakan Jack, benar adanya. Kalaupun dibantah, pasti Jack tak akan menggubris.
Lelaki tambun berkumis itu sangat paham akan sifat anak angkatnya ini. Bila sudah maju, tak ada gigi mundurnya! Walau demikian, sebelum maju, Jack selalu menahan diri untuk beraksi.
Sifat Jack yang satu ini kerap menolong. Terutama teman-temannya. Sejak kecil, Jack terkenal sebagai tukang berkelahi. Dan semua perkelahiannya itu terjadi lantaran menolong teman. Tak ada dia berkelahi karena urusan dirinya sendiri.
Sekarang, karena Jack sudah berkata bahwa kartu ATM dan duitnya yang digondol copet itu bakal ada yang akan mengantarkan, Pak Bangun yakin itu akan terwujud. Karena dia tahu bahwa anak angkatnya ini diam-diam sudah menjadi “guru” dari Lintar Koko dan Bogem Keling–duo preman yang mulai disebut-sebut di kalangan vrijman Medan saat ini. Maka Pak Bangun pun menyeruput kopi hitam yang masih panas itu di bibir cangkir.
Benar saja. Belum lima menit, tiba-tiba datang Lintar Koko dengan dua pencopet itu. Duo pencopet itu ditariknya menghadap Jack. Sehingga keduanya terjajar ke dekat meja. Untuk mereka cukup awas, dan berhasil menghindar dari bibir meja yang nyaris memecahkan mulut mereka sendiri.
Akan halnya si ceking, begitu melihat Jack dan Pak Bangun, Lintar Koko itu langsung berlutut. “Ini bang. Mereka sudah mengaku. Kartu ATM dan duit abang lengkap. Maafkan kami bang,” ujarnya dengan kepala menunduk menghadap keramik yang mengkilap. Dan ATM serta duit diletakkan di meja.
Bayangkan, sudahlah membantu menciduk pencopet, Lintar Koko masih sempat meminta maaf. Seolah-olah dia yang bersalah atas peristiwa yang menimpa Pak Bangun.
Lelaki tambun berkumis itu berdecak kagum. Dia benar-benar takjub. Dan melihat Jack yang sedang tersenyum senang itu, Pak Bangun kian heran. Kenapa Jack kelihatan senang? Apakah dia yang menyuruh Lintar Koko itu menciduk duo pencopet? Kalau memang benar, kapan itu dilakukannya? Bukankah sejak tadi Jack tak berpisah darinya?
Lebih heran lagi, saat Pak Bangun memperhatikan Lintar yang ceking itu berlutut di lantai. Dan baju koko putihnya itu, menambah daftar heran Pak Bangun. Dia tidak tahu bahwa Lintar Koko sekarang sudah ganti kostum, dari serba jeans, menjadi sosok pria berpakaian muslim.
Dalam herannya, Pak Bangun menjangkau ATM dan duit yang ditarok di meja. “Wahhh… sudah jauh tinggal aku,” ujarnya sambil meraih kartu ATM dan duit.
Saat sedang memasukkan duit ke saku celananya, tiba-tiba ada lima orang satpam mendekati Lintar Koko yang masih menunduk itu. Salah seorang dari satpam itu memukul tengkuk si ceking dengan sonta (pentungan). Rupanya saat-saat tertentu ada masanya seseorang selihai apapun, lupa akan diri–hilang kewaspadaan.
Lintar Koko tertelungkup pingsan di bawah kaki Pak Bangun. Para satpam semakin petantang-petenteng. Mereka menghardik pengunjung yang kasihan melihat orang berbaju koko mendadak kena pentung. Kenapa tidak ditanya dulu? Diproses dulu? Kenapa langsung main pentungan?
Adapun dua orang tukang copet, begitu para satpam yang menghunus sonta itu datang, mereka langsung ngacir. Dan lenyap tak tampak lagi. Mereka hilang dalam kerumunan.
Anehnya, para satpam yang datang tiba-tiba itu, justru tak menghiraukan dua tukang copet, melainkan meringkus Lintar Koko yang tadi membekuk pencopet. Harusnya satpam berterima kasih pada tukang copet, ehhh… berterima kasih pada Lintar Koko. Bukan malah membekuknya. Pakai dipukul pula!
“Kalian semuanya ikut kami,” hardik satpam yang masih menghunus sonta dengan bengis. Para pengunjung plaza mulai berkerubung melihat apa yang terjadi. Sebentar saja, di depan cafe itu sudah banyak orang yang melihat ada lelaki ceking berbaju koko putih tergeletak di lantai. Pingsan.
Dari lantai dua, seorang tinggi berdegap melihat semuanya dengan dahi berkerut. Dia juga terkejut dan sedang berpikir, apakah akan membantu, atau menunggu lebih baik daripada gegabah?
Sedangkan di sampingnya ada lelaki kurus, tak kalah berkerut. Jelas sekali kerutan itu di keningnya yang sempit.
Dan tak jauh dari mereka, seorang lelaki berpakaian parlente, mengangguk-angguk puas. Dia tersenyum-senyum sendiri sambil mengepalkan tangan melihat kejadian di lantai satu.
Tak lama berselang, lelaki parlente itu menelpon. Sambil menunjuk-nunjuk ke arah lantai satu. Entah siapa yang ditelponnya. Yang jelas, lelaki parlente itu mengangguk puas sambil mengantongi hp nya kembali.
Adalah si kurus yang pertama melihat lelaki parlente itu. Dengan hati-hati dia mendekat ke arah temannya,”Kau lihat di arah kiri itu. Agak tersembunyi di samping pajangan pakaian itu. Bukankah itu Bang Pendi?”
Si berdegap menoleh dengan hati-hati. Lalu dia pun mengangguk. “Ayo kita menjauh. Ada yang tak beres ini… Masih ada waktu untuk kita selidiki. Sejam lagi kita bertemu di markas,” ujar si tinggi berdegap, yang bukan lain adalah Bogem Keling–tangan kanan Lintar Koko.
Si kurus mengangguk. Diapun dengan lincah beranjak. Keduanya berjalan cepat ke arah yang berbeda. Si kurus memilih untuk membayang-bayangi Bang Pendi yang mulai beranjak pergi.
Dan di bawah, di lantai satu, Lintar Koko masih tergeletak. Pak Bangun terpukau, linglung. Sedangkan Jack seketika mempelajari situasi. Pengalamannya yang terbatas tidak cukup untuk memahami. Padahal saat itu tengah terjadi rekayasa situasi oleh pihak-pihak tertentu untuk membuat kekacauan–chaos. Mungkin saja untuk merusak reputasi plaza ini! Atau sengaja merusak reputasi Jack Amarta Bangun?
Sementara itu, yang bisa dilakukan Jack hanya merangkul Pak Bangun, lalu menepuk bahu Lintar Koko yang segera siuman. Tapi, orang-orang semakin ramai berkerumun. Tidak ada jalan untuk lari, keluar kerumunan itu.
Beberapa saat kemudian tiba sepasukan polisi anti huru-hara, bersenjata pentungan dan tameng. Mungkin ada pengunjung plaza yang menelpon. Para polisi tersebut langsung merangsek, memecah kerumunan. Lalu dengan sigap mereka menelikung dan meringkus Lintar Koko, Jack dan Pak Bangun. Ketiganya diborgol dan digelandang ke luar, menuju mobil patroli yang sudah menunggu.
Untunglah Bogem Keling masih sempat melihat nomor plat mobil polisi tersebut, sebelum dia menuju ke area parkir. Tetapi si kurus tak tampak lagi. Tentu dia menguntit Bang Pendi. Atau dia masih di sekitar lokasi? Tak tahulah, soalnya si kurus ceking ini selain ligat (lincah) gerakannya, juga bisa menyuruk di nan terang!
Sementara Jack yang tak terima diringkus, masih berpikir untuk lari. Tapi dia lihat Pak Bangun menatapnya, seakan ingin mengatakan supaya tak melawan. Apalagi mereka dalam keadaan diborgol.
Sedangkan Lintar Koko menekur saja, mungkin menyesali kealpaannya sehingga berdampak pada keterlibatan Jack dan Pak Bangun. Jelas dia menekur bukan untuk menaksir-naksir borgolnya itu.
Lintar Koko masih terus menekur, walaupun mereka sudah duduk berdekatan di atas mobil patroli polisi. Sedangkan Jack mulai berkosentrasi untuk mencerna hal yang terjadi. Dia mencoba memasuki pikiran Lintar Koko untuk menyelidik peristiwa-peristiwa sebelumnya.
Aneh, upayanya selalu kandas. Bahkan setelah Jack merangkapkan tangan di dada, hati Lintar Koko tak kunjung tembus. Jack heran. Sementara Lintar Koko tetap menekur. Entah takut menatap Jack, atau ada sesuatu yang belum diungkapkan, atau mungkin sesuatu yang disembunyikan? Semuanya tak pasti.
Dan yang pasti, sekarang mobil patroli yang membawa mereka hampir tiba di kantor polisi. “Kenapa pula dengan polisi ini? Kok malah kita yang ditangkapnya,” ujar Lintar Koko setelah beberapa saat menekur diam.
Pak Bangun segera menyela,”Iya… Tentu kau yang lebih tahu. Macam mana ceritanya tu?” Lintar tak sempat menjawab, karena mobil itu sudah berhenti.
Dan mereka bertiga digelandang, langsung ke dalam sel yang terletak di bagian belakang kantor polisi itu. Kemudian ditinggalkan begitu saja.
Jack ingin bertanya seribu kata. Sementara Lintar Koko tampak pasrah tanpa bicara. Sambil pasang muka dusta, atau muka dua? Dan Pak Bangun kelihatan bermuka gila–ngamuk dia!
Tapi sekarang apa hendak dikata. Mereka bertiga tidak berdaya. Jack termenung mencari upaya. Pak Bangun tetap bermuram durja. Dan Lintar Koko diam-diam saja!
Keduabelas:
Sudah hampir tengah malam, Jack, Pak Bangun dan Lintar Koko belum juga diperiksa oleh petugas. Padahal mereka sudah dikurung sejak pukul sebelas pagi tadi. Untunglah mereka diberi air mineral dan nasi bungkus. Tapi sekarang sudah lewat pukul sebelas malam!
Pak Bangun masih tidak puas. Dia menganggap sudah diperlakukan semena-mena. Namun kepada siapa luapan pertanyaan dan ketidaksenangannya itu akan dilampiaskan? Sedangkan Jack seperti buntu menghadapi situasi yang rumit itu.
Apalagi Lintar Koko. Dia seolah-olah menghindar. Dia duduk menjauh dari Jack dan Pak Bangun. Berbeda sekali dengan yang dia lakukan pagi tadi–berlutut di depan Pak Bangun dan Jack.
Jack bukan tidak melihat perubahan itu. Namun dia belum bisa mencari kaitan yang menjadi motif kalau-kalau si ceking ini memang berkhianat. Apalagi saat menyambung rasa, dia yakin betul sudah memasuki pikiran Lintar Koko. Buktinya Lintar Koko merespon telepatinya dengan menangkap duo pencopet dan membawa ke hadapan dia dan Pak Bangun. Tetapi setelahnya, kenapa Jack gagal merasuki pikiran muridnya itu?
Sambil terus memperhatikan Lintar Koko dengan sudut matanya, Jack terus berpikir sambil berkali-kali mencoba memasuki pikiran Lintar Koko. Tapi lagi-lagi usahanya kandas. Mana mungkin berkosentrasi saat pikiran pecah!
Karena selalu gagal, Jack makin gelisah. Dia mau membahas itu dengan Pak Bangun, tetapi segera diurungkan. Tak mungkin membahas kecurigaannya atas perubahan Lintar Koko di hadapan yang bersangkutan.
Menjelang lewat pukul 24.00, seorang petugas masuk. Tanpa bicara, dia membawa Lintar Koko dengan borgol. Pak Bangun dan Jack belum sempat bertanya, karena petugas itu lekas-lekas meninggalkan sel.
Tinggal mereka berdua. Pak Bangun tampak lelah. Sejak tadi dia menguap, pertanda oksigen di syaraf-syaraf otaknya mulai menipis. Itulah yang menyebabkan orang mengantuk.
Karena itu, Jack membiarkan saja ayah angkatnya itu mencari posisi untuk tidur di salah satu sudut ruangan berukuran 3m x 2,5m itu. Tak lama, Pak Bangun pun lelap. Mendengkur dengan suara bariton.
Tinggallah Jack sendiri dengan pikiran sibuk mempertanyakan kejadian yang menimpa mereka sejak pagi tadi. Dengan hati-hati dia mencoba meletakkan fakta-fakta di atas meja pikiran secara objektif. Hal mana adalah sebuah kesulitan tersendiri buat seorang remaja seumuran Jack Bangun. Namun dengan bersemangat, diupayakannya jua.
Mungkin terinspirasi film-film polisi, Jack pun mulai membangun puzzle-puzzle kasus tersebut dengan seksama. Dan dia memulai dari; 1) dirinya memeluk Pak Bangun, lalu ada dua pemuda menabrak, 2) Pak Bangun kecopetan. Menuduh dua pemuda itu pelakunya. Siapa lagi jika bukan dua orang itu? 3) dirinya melakukan konektivitas pikiran ke Lintar Koko, 4) Lintar Koko merespon, buktinya dia membawa dua pencopet, 5) Lintar Koko bergerak cepat. Kenapa bisa? Apakah lelaki ceking itu sedang berada di dekat lokasi mereka berdua (Pak Bangun dan Jack), 6) beberapa satpam datang ke lokasi, langsung memukul Lintar Koko, tanpa menghiraukan dua pencopet. 7) Kemana pencopet itu? 8) polisi tiba, langsung memborgol mereka bertiga. Menggiring ke mobil patroli yang sudah standby di luar, 9) tanpa memproses, mereka dimasukkan ke sel, 10) Lintar Koko di bawa keluar sel.
Begitulah, Jack merangkai sepuluh poin fakta dalam pikirannya. Setiap fakta perlu pendalaman lebih lanjut. Kemudian antar fakta dicari benang merah keterkaitan. Semua itu sedang berproses di dalam batok kepala Jack.
Beberapa menit setelah dia diam dengan mata terpejam, dan sesekali terganggu kosentrasinya oleh bunyi dengkur Pak Bangun yang parau, akhirnya diperolehnya seutas benang merah; dirinya dan Pak Bangun, atau Pak Bangun dan dirinya (dalam hal ini Jack tak peduli mana yang prioritas, sebab keduanya sama saja dengan dirinya sendiri. Masalah Pak Bangun, adalah masalahnya juga!), menjadi target seseorang/sekelompok orang untuk dibungkam. (Dibungkam dalam bentuk dipenjarakan atau dibunuh? Kedua kemungkinannya terbuka, siapa tahu nanti di dalam sel ini mereka berdua dibunuh!).
Tapi apa motifnya? Seingat Jack dia tidak pernah punya musuh, kecuali Pendi. Namun kecil kemungkinan Pendi berani melawan Jack Amarta Bangun sesudah kejadian di lapangan Benteng.
Kalau Pak Bangun? Entahlah. Bisa jadi ada. Soalnya Pak Bangun kan dulu preman–pemimpin kelompok Sisingamangaraja. Lalu, siapa kemungkinan musuh Pak Bangun?
Jack masih bingung. Namun dia memastikan puzzle-puzzle yang sepuluh poin itu sudah benar. Benang merahnya pun sudah tepat. Tinggal mencari motif. Atau, jika motif tersebut tak bertemu, bisakah dicari dalangnya?
Sang dalang, bisa orang suruhan. Atau mungkin pula dia bekerja untuk dirinya sendiri. Kalau begitu, cari dalang akan ketemu otak.
Jack mengangguk-angguk dan bergumam sendiri,”Hmmm…Baiklah… tapi, bagaimana mencari sang dalang?”
Hampir putus asa, dan nyaris menyerah, tiba-tiba Jack duduk. Dan bersila. Dia memejamkan mata, mengkoneksi ke Angku Pincuran Gadang. Tak lama berselang, ruangan itu ramai dengan aroma kemenyan yang khas.
Kemudian Jack, hanya Jack, mendengar suara di otaknya,”Lihat sekeliling. Jangan satu saja…” Begitu suara parau yang menggema itu lenyap, bau kemenyan pun pupus.
Namun itu belum jawaban yang kongkrit buat Jack. Dengan mengernyitkan kening, dan membuka mata, Jack kembali berpikir keras. Apa maksud kalimat “lihat sekeliling dan jangan satu saja”? Otaknya berputar-putar. Tapi selalu membentur tembok. Buntu.
Bila otak tak mangkus, apalagi? Saat otak tumpul, bukankah hati yang harus bicara? Raso dibaok naiek, pusako dibaok turun (rasa dibawa naik, pusaka dibawa turun). Rasa adalah “kata hati”. Pusaka adalah “kata logika”. Rasa lebih substansi. Pusaka lebih materi. Itu ajaran para leluhur Minangkabau.
Memang Jack belum paham dengan ajaran Minangkabau. Maklum, selain masih sangat muda, dia pun hidup di lingkungan yang berbeda–bukan lingkungan Minangkabau. Apalagi dirinya dibesarkan oleh sang nenek, dan kemudian diambil sebagai anak angkat oleh Pak Bangun. Sehingga ajaran dan petuah dari yang lebih tua, dalam rangka warih nan bajawek, pusako nan ditarimo (waris berupa ajaran dan sumberdaya lainnya) tak pernah diterimanya.
Tetapi genetika Minangkabau tentu menitis juga di tubuhnya. Apalagi dengan ilmu kebatinan yang diterima dari Angku Pincuran Gadang dan Angku Syekh–lelaki tua berkopiah–yang mementingkan “rasa” dalam konteks kebatinan (spritual), maka secara otomatis nalurinya sudah menjadi navigasi terhadap tindakan-tindakan yang akan diambil. Karena naluri adalah “rasa”.
Begitulah Jack, jika sudah melangkah tak ada persneling mundur–sekali maju, maju sekali. Namun, sebelum maju, dia timbang dengan hati-hati. Seperti hal yang dia hadapi saat ini.
Kembali Jack memicingkan mata, menyatukan rasa dengan alam semesta. Sambil bergumam sendiri,”Lihat sekeliling. Jangan satu saja… apa itu… siapa itu… Ada orang-orang di sekitarnya. Tak banyak. Ada Pak Bangun, Lintar, Si berdegap–Bogem Keling–dan si kurus. Yaaa… harus dilihat semuanya… tidak hanya Lintar saja!”
Jack membuka mata, dan tersenyum dengan bisikan hati yang didengarnya; periksa semuanya! Lihat semuanya!
Kemudian dia mulai berkosentrasi, memicingkan mata, mengkoneksi ke Bogem Keling. Dan begitu tersambung, Jack langsung bertanya,”Dimana kau. Mana si kurus?”
Bogem Keling menjawab,”Kami di markas.”
“Apa yang terjadi?”
“Sedang kami selidiki.”
“Siapa?”
“Bang Pendi.”
“Mana Lintar?”
“Ini baru datang!”
Selesai. Jack masih memejamkan mata, sekarang dia mengkoneksi ke si kurus. Jack memulai,“Dimana kau?”
“Di markas.”
“Sembunyi dari situ!”
Usai mengkoneksi, Jack kembali berpikir. Mungkinkah Bang Pendi yang berkhianat? Apakah Lintar terlibat?
Dia mencoba mengingat kembali rangkaian puzzle tadi. Lalu kembali mengkoneksi, kali ini ke Bang Pendi. “Bogem tahu.”
“Tidak.”
“Kau yang keluarkan Lintar?”
“Iya.”
Sambil mengangguk-angguk, Jack bergumam dalam hati,”Bagaimana membuktikan pengkhianatan Bang Pendi? Sedangkan kami di dalam sel. Bagaimana cara keluar dari sel ini?”
Dengan kening makin berkerut, Jack melihat Pak Bangun menggeliat. Lalu terdengar suara getar. Dan Pak Bangun terbangun. Mengucek-ucek matanya, dan merogoh saku. Dengan cepat Jack menyambar hp itu.
Dan sambil tersenyum dan mengangguk meminta maaf, Jack memberi isyarat pada ayah angkatnya itu agar diam. Dia melihat layar hp. Siapa yang menelpon? Tak ada nama, hanya nomor.
Dibiarkan saja hp itu bergetar beberapa saat. Kemudian diaktifkan speaker. Lalu disambungkan, dan terdengar suara,”Bang, Bang Pendi yang berkhianat. Dia bersekongkol dengan Bang Lintar,” terdengar suara si kurus.
Pak Bangun tersentak kaget. Dia mau mengambil alih hp, tapi kembali Jack memberi isyarat. “Tunggu sebentar, jangan kemana-mana, nanti aku telpon lagi,” ujar Jack cepat.
Setelah hp dimatikan, Jack menatap Pak Bangun. Lalu berkata,”Kemungkinan Bang Pendi berkhianat. Yang terjadi pada kita ini, kemungkinan besar ulah dia!”
“Tentu dia sakit hati karena wilayahnya kalian ambil,” kata Pak Bangun.
“Bapak punya teman pengacara kan? Itu, siapa namanya…? Yang semarga dengan kita.”
Pak Bangun mengangguk. “Andi namanya. Ada nomornya di situ.”
“Kemungkinan si kurus atau Bogem Keling punya informasi yang bisa meringankan kita. Bagaimana jika kita minta si kurus menemui pengacara itu?”
“Dinihari begini?”
“Tentu saja besok pagi. Boleh pak?”
Begitu Pak Bangun mengangguk setuju, Jack menelpon ke nomor tadi,”Besok pagi kau temui pengacara, teman Bapak. Kau terangkan semua yang kau tahu. Dan minta pengacara itu membebaskan kami, segera!”
Setelah itu, Jack pun bersandar di dinding sel, mencoba untuk tidur. Begitu pula Pak Bangun, tak berapa lama dia pun mendengkur dengan suara parau yang lebih keras dari sebelumnya. Tetapi Jack tak bisa tidur. Dia justru tersenyum sendiri. Dan berkata di dalam hati,”Coba kalau beberapa jam sebelumnya bapak menelpon temannya yang pengacara itu?”
Dan Jack pun semakin lebar senyumnya lantaran dia merasa sangat bloon. Dia tahu ayahnya punya hp, harusnya dirinya yang mengingatkan. “Ahhh…kok aku sebodoh ini,” rutuknya di dalam hati.
Walau demikian, Jack harus berbesar hati. Sebab dalam kondisi terdesak tadi, dirinya sudah berhasil mempraktikkan ilmu mempengaruhi pikiran. Ilmu merasuk sukma! Itu sebuah pencapaian yang luar biasa. Maka diantarkan senyumnya sendiri, Jack pun lelap sambil bersandar di dinding sel yang lembap dan pengap itu!
Dua orang itu pun pergi ke alam mimpi. Begitu nyenyak tidur mereka berdua, sehingga tak sadar, rupanya hari sudah setengah sembilan pagi!
Jack bangun dengan menyesal lantaran sholat subuh terlewat. Pak Bangun masih mengucek-ucek mata tatkala pintu sel dibuka.
“Kau bebas Bang. Sudah aku urus,” kata seorang lelaki parlente, berkepala plontos dengan stelan jas yang mencolok. Inilah Andi Bangun, salah seorang pengacara kondang di Medan.
Lalu mereka bertiga beriringan ke luar diiringi tatapan petugas piket yang lelah. “Tunggu sebentar, pak,” ujar Jack sambil berhenti di depan meja petugas. “Teman kami tadi malam, siapa yang mengeluarkannya,” tanya Jack sambil menatap petugas itu langsung ke bola matanya!
Hanya sebentar saja petugas itu gelagapan. Setelah itu dia dikuasai sepenuhnya oleh Jack. Itulah ilmu pukau lewat tatapan mata.
“Ya, tadi malam Bang Pendi dengan komandan datang.”
“Kau pasti itu Pendi,” kejar Pak Bangun. Petugas itu mengangguk,”Kami sering diberi uang bensin,” jawab petugas itu memastikan.
Jack mengangguk-angguk. “Yang meminta polisi datang ke plaza, dia juga?”
Lagi-lagi petugas itu mengangguk. Jack puas, dan berterima kasih.
Kemudian, dengan mobil pengacara Andi Bangun, mereka meluncur ke tempat sarapan di jalan Sungai Deli.
Dengan lahap, tiga orang itu menyantap sarapannya. Pak Bangun sampai minta tambah lontong sepiring lagi. Walaupun dia sudah sendahawa karena kekenyangan, namun lelaki tambun itu melampiaskan kekesalannya kepada sarapan pagi. Sambil menggerutu,”Baru pertama aku masuk sel. Akibat dikhianati pula!”
“Sebenarnya targetnya bukan Abang. Tapi si Jack ini,” ujar Andi Bangun.
“Haaa…kenapa pula Jack? Apa kau tak salah?”
“Tidak Bang, si kurus yang cerita. Kata si kurus, Bang Pendi kesal karena dipermalukan Jack di Lapangan Benteng.”
“Ehhh… Bagaimana pula ceritanya, Jack?”
Jack tersenyum datar, dan bertanya pada Andi Bangun,”Bapak bisa cari bukti persekongkolan Bang Pendi dengan oknum polisi?”
Andi Bangun menggeleng. “Bisa. Tapi itu sensitif. Lebih baik tidak, besar resikonya. Ehhh… tadi kan petugas di pos itu sudah mengaku.”
“Satu pengakuan saja, belum bisa jadi alat bukti. Harus ada dua alat bukti. Bukankah demikian, pak?”
Andi Bangun mengangguk. “Haa ada bakat juga kau Jack….Hebat anak kau ini bang,” kata sang pengacara sambil melihat Pak Bangun yang sedang lahap menyendok lontong gulai.
“Iya dong… Like father like son” kata Pak Bangun sambil melirik Jack dengan perasaan bangga.
“Dari bukti yang ada, Bang Pendi lah tersangkanya,” tutur Jack sambil berlagak seperti pengacara kondang yang ditontonnya di televisi.
Andi Bangun tergelak melihat gaya Jack yang dibuat meniru style para advokat. “Coba kau ceritakan lagi peristiwa itu,” kata Andi Bangun pada Jack. Lalu Jack menceritakan secara detail, juga puzzle-puzzle yang dia susun.
“Wahhh… kau berbakat jadi James Bond nih,” kata Andi Bangun serius. “Lalu apa yang ingin kau lakukan untuk membuktikannya,” lanjut Andi Bangun.
“Hmmm… kebetulan nih pak. Bisa bantu aku mengumpulkan rekaman CCTV di lobi, lantai satu, lantai dua dan lantai tiga. Juga tempat parkir,” pinta Jack pada Andi Bangun.
“Bisa…bisa…!” Lalu dia merogoh sesuatu di sakunya. Dia mau menelpon. Namun dilarang oleh Jack. “Bapak harus datang langsung ke sana. Jangan ditelpon. Bisa jadi menejer di sana ikut bersekongkol,” ucap Jack.
Lagi-lagi Andi Bangun tertawa senang. “Wahhh… benar tuch. Betul sekali. Kau memang berbakat, Jack,” kata Andi Bangun seraya memanggil pelayan untuk membayar.
“Baik. Sekarang aku pergi. Dan kalian bisa pulang pakai taksi yang banyak mangkal di depan,” ucap Andi Bangun pada Pak Bangun, lalu bergegas ke mobilnya.
Jack dan Pak Bangun masih belum beranjak dari tempat duduk mereka. “Pak, aku lagi bingung nih. Apakah Lintar yang diperalat oleh Bang Pendi. Atau sebaliknya? Kita bisa membuktikannya dengan melihat rekaman CCTV. Dugaan aku, Lintar lah yang menyuruh dua orang pencopet. Dia sudah membuntuti kita sejak berangkat dari rumah.”
“Bagaimana pula kau ini? Bukankah dia yang menangkap tukang copet?”
Jack mengangguk. “Sampai di situ, benar. Tapi kenapa Lintar langsung dipukul satpam? Kemudian datang polisi, tidak mungkin kerjaan Lintar.” Usai berkata demikian, Jack pun termenung memikirkan apa yang tadi diucapkan.
Memang ada terjadi, ucapan yang spontan tanpa dipikirkan adalah petunjuk yang nyata dan sebenarnya. Di Minangkabau ada istilah kato partamo kato sabananyo, kato kaduo kato dicari. Kata pertama (yang spontan itu) adalah kata sebenarnya. Kata setelah itu (yang dipikirkan) adalah kata yang dicari-cari!
Pak Bangun masih diam. Kemudian Jack melanjutkan,”Yang pasti, Bang Pendi yang mengatur polisi. Lalu dia pula yang membebaskan Lintar!”
Mereka beranjak, kemudian menaiki salah satu taksi yang banyak mangkal di depan rumah makan itu. “Oya Jack, jika ceritamu benar, berarti Pendi juga yang menyuruh satpam?”
Jack mengangguk, tapi ragu. “Yang bikin aku heran, kenapa Lintar diselamatkannya?”
“Tentu saja, kan mereka sekongkol,” jawab Pak Bangun. Tapi Jack belum puas dengan kesimpulan Pak Bangun. “Pasti ada sesuatu yang belum kita tahu,” lanjut Jack.
Di mulut gang, ada toko kelontong di sebelah kanan. Jack minta sopir taksi berhenti. “Bapak, aku turun di sini saja. Bapak terus saja ke rumah. Paling lama 15 menit, aku menyusul,” kata Jack yang langsung turun, tanpa menunggu jawaban ayah angkatnya itu.
Begitu taksi meluncur, Jack segera mampir ke toko kelontong yang cukup besar itu. “Kak… boleh aku melihat rekaman CCTV?” Wanita yang agak berumur tapi masih kelihatan muda itu memandang lelaki muda yang memandangnya langsung ke bola mata!
Gelagapan juga wanita itu ditatap oleh lelaki muda,”Ehhh… iya dik. Itu, di dekat meja ada komputer…,” jawabnya.
Jack tersenyum dan segera ke depan komputer. Rupanya salah satu kamera CCTV itu menghadap ke dalam gang. Sehingga seluruh lorong gang terpantau langsung oleh CCTV. “Hmmm… tepat dugaanku, memang Lintar sudah membuntuti sejak dari awal,” gumam Jack.
Namun, ada hal yang membuat Jack tersenyum simpul. Rupanya tanpa diketahui Lintar Koko, ada si kurus yang membayangi dari jauh. Bagaimana tidak tersenyum, pada rekaman CCTV itu terlihat si kurus bersembunyi hanya berjarak satu meter di belakang Lintar Koko yang juga bersembunyi di balik pagar.
Melihat itu, Jack bergumam,”Duhhh… justru yang aku percaya yang berkhianat. Dan yang kurang aku percaya, justru membantu! Aku harus mempelajari karakter seseorang lebih seksama… Aku tidak boleh lagi salah menilai orang… ”
Setelah mengucapkan terima kasih, Jack pun jalan kaki ke rumah, yang berjarak sekira 50 meter dari toko kelontong. Rumah itu di sebelah kiri gang.
“Ini Andi nelpon,” ujar Pak Bangun yang lagi berbicara di hp. Dia pun menyerahkan hp yang masih menyala itu pada Jack. “Halo, pak… iya… iya… yang di lantai satu bagaimana? … Hmmm… Bang Pendi… ada Bogem juga…? Ooo…. baik pak… Terima kasih…”
Setelah itu Jack menoleh pada Pak Bangun sambil menyerahkan hp yang sudah off,”Siapa dari dua tersangka yang menjadi dalang?”
“Tentu saja Pendi!”
Jack menggeleng. “Lintar yang berkhianat. Aku yang salah memberi ilmu,” ujar Jack dengan nada menyesal.
Tiba-tiba Pak Bangun mengangkat hpnya. “Apa??? Dibunuh???… Kau bicara saja dengan Jack!” Lelaki tambun itu menyerahkan hp nya pada Jack. “Pendi mati, Lintar mati… ini si kurus mau ngomong…!”
Tidak terlalu lama Jack menerima telpon si kurus. Setelah itu dia duduk di ruang tengah rumah itu. Dengan wajah duka, bermuram durja.
Pak Bangun pun tak mau mengusik. Dia biarkan saja Jack sendiri. Bahkan saat dia bawakan segelas air putih hangat untuk anak angkatnya itu, Pak Bangun melihat mata Jack berkaca-kaca.
Nun, jauh di lubuk hati Jack, segala penyesalan tumpah ruah. Dia menyalahkan dirinya sendiri yang salah menilai orang.
Sebenarnya itulah pelajaran paling berharga dalam hidup. Bahwa dunia hanyalah panggung sandiwara. Hanya Sang Sutradara yang tahu semua. Sedangkan manusia adalah para pemain belaka!
Ketigabelas:
Padang
Kampus Universitas Negeri Padang (UNP) terletak di Jalan Hamka, Air Tawar, Padang. Sejak tiga tahun terakhir, kampus yang dulu bernama Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Padang itu kini sedang berbenah. Hampir semua fakultas sudah mempunyai bangunan baru berlantai tiga atau dua.
Di situlah Jack kini kuliah. Di jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA). Dia mengambil jurusan fisika non kependidikan, karena dia tak berminat jadi guru. Jika mau jadi guru fisika, maka jurusannya fisika kependidikan.
Telah empat tahun dia kuliah di kampus biru–sebutan untuk kampus FMIPA. Dan sesuai niat sejak awal, dia ingin mendalami fisika, dalam upayanya mencari penjelasan fisikawi terkait spritualitas dan kegaiban!
Hingga tahun terakhir kuliah itu, Jack semakin sulit membuktikan bahwa spritualitas itu adalah fisika. Sehingga dalam keputus-asaannya, Jack hanya berani menyimpulkan bahwa spritualitas–masuk dalam kategori metafisika–adalah fisika yang belum terdefinisi, belum terjelaskan.
Dalam beberapa definisi, dijelaskan bahwa spiritualitas dan energi spiritual berkaitan dengan kekuatan yang lebih tinggi dari diri manusia.
Sedangkan spiritualitas adalah kesadaran atau kepercayaan pada kekuatan yang lebih tinggi, yang menginspirasi manusia dalam pencarian makna dan tujuan hidup. Spiritualitas dapat diartikan sebagai perasaan keterikatan kepada sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri. Spiritualitas dapat dijangkau oleh semua orang, baik yang religius maupun yang tidak.
Adapun “energi spiritual” adalah energi yang dihasilkan oleh “diri” batin, atau jiwa. Energi spiritual merupakan tenaga yang sangat kuat dalam diri seseorang, yang dapat mendorong dan menggerakkan jiwa individu. Energi spiritual dapat dipicu oleh nilai-nilai dan keyakinan seseorang.
Jack punya keyakinan bahwa “diri” batin yang dimaksud dalam definisi di atas adalah “diri nan sebenar diri”, atau identik dengan ruh yang lazim disebut nurullah–energi illahi. Karena itu, sesuai dengan ajaran Angku Syekh yang diterimanya lewat mimpi–lebih tepatnya adalah saat pingsan di surau Syekh Sampu, di Sungai Lande, Solok Selatan–berarti “diri nan sebenar diri” itu adalah bagian dari alam semesta itu sendiri, dan berada pada medan energi yang sama.
Dalam pada itu, ada pula yang membedakan ruh dengan nurullah atau energi illahi. Dikatakan bahwa ruh dan nurullah berbeda, tetapi keduanya saling berkaitan!
Ruh adalah unsur jiwa manusia yang ditiupkan oleh Allah pada usia 120 hari janin. Ruh manusia berasal dari pancaran Nur Muhammad, yang merupakan pancaran dari Allah SWT.
Sedangkan nurullah adalah cahaya Allah yang sudah ada sejak zaman azali tanpa permulaan. Alam–didefinisikan sebagai sesuatu yang di luar Tuhan–diciptakan dari nurullah.
Dalam ilmu tasawuf, Nur Muhammad disebut juga hakikat Muhammad. Nur Muhammad sering dihubungkan dengan istilah-istilah seperti al-qalam al-a’la (pena tertinggi), al-‘aql al-awwal (akal utama), amr Allah (urusan Allah), al-ruh, al-malak, al-ruh al-Ilahi, dan al-ruh al-Quddus.
Adanya definisi yang berbeda antara ruh dan nurullah, menurut Jack sebenarnya sudah terjawab dengan Teori Medan Energi Einstein. Yakni karena alam ini sejak semula (alam azali) hingga saat ini berada pada medan energi yang sama–berarti itu juga medan energinya alias medan energi yang tunggal–maka Jack berkeyakinan bahwa ruh adalah nurullah. Tak ada beda keduanya!
Karena itu ruh atau nurullah berada dalam medan energi yang tunggal, yang dipunyai, dikuasai oleh Sang Maha Energi, Allah Subhanawata’ala.
Dengan demikian, secara hakiki diri nan sebenar diri (ruh) sama dengan nurullah dalam kaji Angku Syekh dengan bahasa tersirat; tak bersisi tak berantara namun tak bersatu, tak berpadu!
Secara “tak bersisi tak berantara” berarti keduanya sama, sedangkan secara “tak bersatu tak berpadu” berarti keduanya berbeda. Bagaimana menjelaskan dua paradigma ini secara fisikawi?
Penjelasan fisikawi terhadap dua paradigma itulah yang sejak mulai belajar fisika hingga sekarang, terus diburu oleh Jack. Hal mana membuat dia seperti orang gila memburu plastik asoy yang terbang, dengan cara berlarian sepanjang jalan!
Pada batas-batas yang cuma dia yang tahu, Jack sementara berdamai dengan ketidakmampuannya dengan membuat kalimat; spritualitas adalah fisika yang belum terjelaskan. Diksi fisika bermakna segala sesuatu yang bisa dicitra sebagaimana halnya kebendaan. Dan diksi belum terjelaskan bermakna optimisme bahwa suatu hari kelak, penjelasan itu akan ditemukannya!
Akhirnya dia tiba pada kuliah Fisika Kuantum. Pak Asrul, itu nama dosen yang mengampu mata kuliah yang relatif baru saat itu.
“Hal-hal kebendaan yang kasat mata adalah fisika klasik, hal-hal kebendaan tak kasat mata adalah fisika kuantum,” ujar Pak Asrul menjawab pertanyaan Jack yang mendatangi rumahnya malam-malam.
“Bapak percaya ruh,” tanya Jack.
“Tentu saja. Itu yang membuat kita ada,” jawab Pak Asrul.
“Ruh tak kasat mata, tapi ada, bukan begitu, pak?”
Pak Asrul agak terdiam. Bukan, bukan karena dia tak cukup ilmu buat menjelaskannya. Namun dirinya takut bila salah menerangkan, bisa membuat sesat mahasiswa yang satu ini.
Tanpa menunggu jawaban, mungkin lantaran terjeda agak lama, Jack kembali berkata,”Dengan demikian, apakah bisa kita mengkaji ruh dengan fisika kuantum?”
Pak Asrul mengangguk. Dia sebenarnya ragu pula. Tetapi naluri sebagai dosen membuatnya harus menangkap obsesi mahasiswanya ini secara positif. “Boleh kita coba menganalisanya. Memang belum ada yang melakukan kajian ini, tapi tak ada salahnya mencoba menerapkan dalil-dalil fisika kuantum guna memahami ruh,” jawab Pak Asrul sambil tersenyum karena dia tiba-tiba punya jawaban yang tepat untuk tidak membunuh obsesi sang mahasiswa, sekaligus juga membangkitkan libido akademiknya untuk ikut mendalami.
Begitulah awal mula Jack dan Pak Asrul seperti tim peneliti untuk proyek rahasia mereka berdua. Hal mana menyebabkan dua orang ini bisa berdiskusi sampai larut malam.
Seperti suatu kali, mereka terlibat dalam diskusi berkenaan dengan kategori makroskopis dan mikroskopis, apakah ditinjau dari ukurannya, ketampakan/ketidaktampakan atau ada pengkategorian yang lebih masuk akal? Kemudian berkembang menjadi perbedaan fisika klasik dan fisika kuantum. Apa beda keduanya?
Secara skala, didefinisikan bahwa fisika klasik membahas objek makroskopis, seperti objek dan fenomena sehari-hari, sementara fisika kuantum berfokus pada perilaku partikel pada skala mikroskopis, seperti atom, molekul, dan partikel subatom.
“Dan masih banyak beda keduanya. Coba kamu baca referensi ini, Jack,” ujar Pak Asrul memotong diskusi. Karena dia takut jika Jack ngotot ingin mendefinisikan ruh sebagai sesuatu yang mikroskopis!
Ini cuplikan referensi itu: (dikutip dari link: https://translate.google.com/translate?u=https://thesciencespace.quora.com/What-are-the-fundamental-differences-between-classical-physics-and-quantum-physics-and-how-do-these-differences-impact&hl=id&sl=en&tl=id&client=rq&prev=search#:~:text=Berikut%20adalah%20perbedaan%20utama%20antara,%2C%20molekul%2C%20dan%20partikel%20subatom.)
Apa perbedaan mendasar antara fisika klasik dan fisika kuantum, dan bagaimana perbedaan ini memengaruhi pemahaman kita tentang perilaku partikel dan alam semesta pada skala makroskopis dan mikroskopis?
Semua fisika sebelum awal abad ke-20 disebut sebagai fisika klasik. Apa itu fisika klasik dan mengapa disebut demikian?
Fondasi hukum-hukum dasar fisika diletakkan oleh ilmuwan-ilmuwan terkenal seperti Sir Isaac Newton, Galileo, Micheal Faraday, Lord Kelvin, James Maxwell, dan tentu saja banyak lagi yang lainnya. Mereka mampu membuktikan kepada dunia, bahwa semua fenomena alam yang kita lihat sehari-hari dapat dijelaskan tanpa harus tunduk pada sihir, tetapi dengan pemikiran rasional. Mereka mampu menghasilkan beberapa rumus utama untuk menjelaskan berbagai macam fenomena.
Misalnya, hukum gravitasi universal, dapat menjelaskan segalanya mulai dari mengapa benda-benda jatuh di bumi, mengapa benda-benda jatuh dengan kecepatan yang sama, mengapa planet-planet berputar mengelilingi matahari, mengapa hukum-hukum Kepler benar, dan masih banyak lagi.
Maxwell, mampu menyatukan konsep listrik dan magnet dan membuktikan bahwa cahaya itu sendiri (yang merupakan misteri besar saat itu) adalah fenomena elektromagnetik. Tampaknya banyak hal yang kita anggap ajaib sekarang dapat dijelaskan melalui beberapa aturan yang sangat sederhana dan elegan yang mengatur alam semesta kita, dan aturan-aturan ini dapat ditulis dengan cara yang sangat efisien dengan kekuatan matematika (Yaitu menggunakan Kalkulus). Selama akhir abad ke-19, kita mengira kita telah melakukannya. Segala sesuatu yang harus ditemukan, telah ditemukan. Satu-satunya hal yang harus dilakukan umat manusia sekarang, adalah menciptakan instrumen yang lebih baik dan lebih baik untuk membuat pengukuran kita lebih tepat. Pada dasarnya hanya beberapa tambalan di sana-sini. Mengejar penelitian dalam fisika akan menjadi mubazir, karena kita telah melakukannya. Apa lagi yang kita butuhkan? Yang harus kita lakukan sekarang adalah fokus pada teknik. Menggunakan semua pengetahuan yang kita miliki, untuk mulai menerapkan, dan menciptakan untuk membuat hidup kita lebih baik.
Karena teori elektromagnetik, orang ingin membuat bola lampu, dan banyak yang diminta untuk mencari tahu suhu yang efisien untuk memanaskan filamen, sehingga dapat memberikan cahaya maksimum di daerah tampak.
Pada masa inilah, seorang fisikawan Jerman bernama Max Planck menemukan sesuatu yang salah dengan semua hukum. Ia melihat bahwa hasil eksperimen tidak sesuai dengan data teoritis yang diharapkan. Banyak yang mencoba menemukan solusi menggunakan persamaan yang diketahui, tetapi semuanya sia-sia. Pada masa inilah Planck mengambil langkah yang berani dan nekat, ia berpikir ada sesuatu yang salah dengan semua persamaan, maksud saya SEMUA FISIKA. Dan apa yang kemudian ia katakan sebagai “dalam tindakan putus asa” ia benar-benar membuang persamaan yang diketahui saat ini ke luar jendela, dan kembali ke belakang dan muncul dengan teori radikal baru. Teori Kuantum lahir.
Apa teori Kuantum ini? Apa yang istimewa tentangnya? Dan apa yang salah dengan semua hukum fisika yang kita pikir berhasil selama bertahun-tahun? Bagaimana tidak seorang pun dapat melihat cacatnya?
Misalkan Anda melihat tumpukan pasir dari jauh. Bagi Anda, tumpukan itu tampak seperti satu objek integral. Terus-menerus, halus. Sepertinya Anda dapat mengambil satu bongkahan besar ini dan memotongnya menjadi potongan-potongan sebanyak mungkin. Hanya ketika Anda mendekat dan memeriksanya dengan saksama, Anda akan menemukan bahwa pasir ini terbuat dari butiran-butiran pasir yang sangat kecil. Butiran-butiran pasir ini dapat disebut sebagai “kuanta” dari “tumpukan pasir”. Anda tidak dapat membagi “kuanta” ini lebih jauh lagi. Jika Anda mencoba membaginya ke bagian terkecil dari tumpukan itu, Anda akan mengambil 1 butir. Jika Anda ingin mengambil sedikit lebih tinggi, Anda dapat mengambil 2 butir. Namun, jangan di antaranya. Anda tidak memiliki pilihan untuk mengambil, misalnya, 1,5 butir. Itu tidak diperbolehkan. Inilah keseluruhan ide di balik Kuantisasi. Ide di mana segala sesuatu, termasuk energi terbuat dari ‘kuanta’ yang sangat halus dan tak terpisahkan adalah inti dari teori kuantum.
Jadi begini. Sebelum abad ke-20, kita hanya berurusan dengan tumpukan pasir secara keseluruhan. Maka teori klasik berfungsi dengan sempurna. Akan tetapi, jika Anda mencoba menerapkan hal yang sama pada setiap butir pasir, fisika akan hancur. Hancur total. Gagal total. Jadi, hukum-hukum baru diperlukan pada level ini, dan hukum-hukum ini dikembangkan dan dipelajari dalam mekanika kuantum.
Penafian: Gagasan tentang tumpukan pasir dan butiran pasir hanyalah sebuah analogi. Pada kenyataannya, kita menerapkan mekanika kuantum pada partikel yang berukuran sekitar 100 miliar miliar kali lebih kecil dari butiran pasir. Anda dapat menggunakan fisika klasik untuk butiran pasir yang sebenarnya.
Fisika klasik bersifat kausal; pengetahuan lengkap tentang masa lalu memungkinkan perhitungan masa depan. Demikian pula, pengetahuan lengkap tentang masa depan memungkinkan perhitungan masa lalu yang tepat. (Teori kekacauan tidak relevan dengan pernyataan ini; teori ini membahas tentang seberapa baik Anda dapat melakukannya dengan pengetahuan yang tidak lengkap.)
Tidak demikian halnya dalam fisika kuantum. Objek dalam fisika kuantum bukanlah partikel atau gelombang; mereka adalah kombinasi aneh dari keduanya. Dengan pengetahuan lengkap tentang masa lalu, kita hanya dapat membuat prediksi probabilistik tentang masa depan.
Dalam fisika klasik, dua bom dengan sumbu yang identik akan meledak pada saat yang sama. Dalam fisika kuantum, dua atom radioaktif yang benar-benar identik dapat dan umumnya akan meledak pada waktu yang sangat berbeda. Dua atom uranium-238 yang identik, secara rata-rata, akan mengalami peluruhan radioaktif yang dipisahkan oleh miliaran tahun, meskipun faktanya keduanya identik.
Ada aturan yang sering digunakan fisikawan untuk memisahkan fisika klasik dari fisika kuantum. Jika konstanta Planck muncul dalam persamaan, maka itu adalah fisika kuantum. Jika tidak, maka itu adalah fisika klasik.
Kebanyakan fisikawan percaya bahwa fisika kuantum adalah teori yang tepat, meskipun masih banyak detail yang belum ditemukan. Fisika klasik dapat diturunkan dari fisika kuantum dalam batasan di mana sifat-sifat kuantum disembunyikan. Fakta itu disebut “prinsip korespondensi.”
Fisika klasik dan fisika kuantum adalah dua teori yang berbeda dan pada dasarnya berbeda yang menggambarkan perilaku partikel dan alam semesta pada skala yang berbeda. Berikut adalah perbedaan utama antara keduanya dan dampaknya terhadap pemahaman kita:
Skala : Fisika klasik membahas objek makroskopis, seperti objek dan fenomena sehari-hari, sementara fisika kuantum berfokus pada perilaku partikel pada skala mikroskopis, seperti atom, molekul, dan partikel subatom.
Determinisme vs. Probabilitas : Fisika klasik bersifat deterministik, artinya ia berasumsi bahwa perilaku masa depan suatu sistem dapat diprediksi secara tepat jika kondisi awal diketahui secara akurat. Sebaliknya, fisika kuantum memperkenalkan sifat probabilistik ke dalam deskripsi partikel, yang menunjukkan bahwa kita hanya dapat memprediksi probabilitas hasil tertentu.
Sifat Partikel vs. Gelombang : Fisika klasik umumnya memperlakukan partikel sebagai entitas yang berbeda dan terpisah, sedangkan dalam fisika kuantum, partikel dapat menunjukkan sifat partikel dan gelombang. Dualitas gelombang-partikel merupakan aspek penting dari mekanika kuantum dan menjelaskan fenomena seperti interferensi dan difraksi.
Prinsip Ketidakpastian : Fisika kuantum menganut prinsip ketidakpastian Heisenberg, yang menyatakan bahwa mustahil untuk mengukur pasangan properti tertentu secara bersamaan, seperti posisi dan momentum, dengan presisi absolut. Ketidakpastian ini muncul karena sifat gelombang yang melekat pada partikel.
Superposisi dan Keterikatan : Fisika kuantum memperkenalkan konsep superposisi, di mana partikel dapat berada dalam beberapa keadaan atau posisi secara bersamaan hingga terukur. Selain itu, keterikatan kuantum menggambarkan fenomena di mana dua partikel terhubung sedemikian rupa sehingga keadaan mereka saling bergantung, bahkan jika mereka dipisahkan oleh jarak yang sangat jauh.
Jack terperangah membacanya. Dia pun berdoa,”Ya Allah Yang Maha Alim, berikan kekuatan bagi hamba untuk memengerti nurullah, nur-Mu…”
Setelah membaca referensi itu dengan seksama, lalu Jack mencoba kembali menyusun teorinya sendiri, sebagai berikut: “Secara skala, ruh adalah mikroskopis, maka kepadanya berlaku fisika kuantum. Oleh karena itu terhadap ruh berlaku; 1) kemungkinan (probabilitas) akan fenomena-fenomena kefisikaan, 2) dualitas sifat partikel dan gelombang, 3) ketidakpastian fenomena-fenomena kefisikaan, 4) satu keberadaan jamak posisi, dan 5) keterikatan atau keterhubungan meski berjauhan.
Setelah sepekan dia menekuni teori itu, Jack memberikannya kepada Pak Asrul via email. Mungkin Jack malu bila teorinya itu terlalu gila!
Tak lama, Pak Asrul membalas email dengan kalimat; seorang fisikawan tidak boleh mengatakan “tidak” untuk sesuatu yang belum diyakininya secara ilmiah memang “tidak”. Sebaiknya teori ini kamu sandingkan dengan wahyu Allah yang ada dalam Al Qur’an!
Tentu saja Jack tidak terlalu puas dengan tanggapan tersebut. Namun sifat pantang mundurnya kemudian membawanya ke kampus IAIN Imam Bonjol (sejak 2017 menjadi UIN Imam Bonjol). Dia mendaftar jadi anggota pustaka di situ.
Tiap hari dia nongkrong di perpustakaan tersebut. Dia membaca puluhan artikel tentang ruh. Juga beberapa buku. Dari semua literatur tersebut, Jack mencatat sejumlah dalil terkait ruh ada pada beberapa surat dalam Al Qu’ran. Yakni; 1) bahwa ruh menunjuk makna energi (terdapat dalam QS Al Sajadah/32:9, dan QS As Syura/42:52), 2) ruh menunjuk kepada Malaikat Jibril (QS Al Hijr/15:29), dan 3) pengetahuan tentang ruh sangat terbatas (QS Al Isra/17:85). Bahkan di dalam QS Al Isra/17:85 tersebut Allah berfirman; “Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.”
Demi membaca terjemahan QS Al Isra ayat 85 tersebut, Jack pun gamang! Betapa tidak, karena ruh termasuk urusan-Nya–tidak boleh diurus selain Dia dan tidak boleh dicerna dan dianalisakah? Tetapi ada “sedikit” pengetahuan yang diberi-Nya. “Duhhh… bagaimana ini,” gumam Jack gamang.
Tak juga puas, Jack mencari di Google. Dia temukan link https://quran.nu.or.id/al-isra/85, lalu dicopy-paste di laptop.
Ini hasilnya:
Beberapa ulama ada yang telah mencoba mendalami hakikat roh itu. Di antaranya ialah: 1) Roh itu ialah semacam materi cahaya (jisim, nurani) yang turun ke dunia dari alam tinggi, sifatnya berbeda dengan materi yang dapat dilihat dan diraba. 2) Roh itu mengalir dalam tubuh manusia, sebagaimana mengalirnya air dalam bunga, atau sebagaimana api dalam bara. Roh memberi kehidupan ke dalam tubuh seseorang selama tubuh itu sanggup dan mampu menerimanya, dan tidak ada yang menghalangi alirannya. Bila tubuh tidak sanggup dan mampu lagi menerima roh itu, sehingga alirannya terhambat dalam tubuh, maka tubuh itu menjadi mati. Pendapat ini dikemukakan oleh ar-Razi dan Ibnul Qayyim.
Sedangkan Imam al-Gazali dan Abu Qasim ar-Ragib al-Asfahani berpendapat bahwa roh itu bukanlah materi dan sesuatu yang berbentuk, tetapi ia hanyalah sesuatu yang bergantung pada tubuh untuk mengurus dan menyelesaikan kepentingan-kepentingan tubuh.
Sikap kaum Muslimin yang paling baik tentang roh ialah mengikuti firman Allah ini, bahwa hakikat roh itu tidak dapat dijangkau oleh pikiran manusia, karena hanya Allah yang mengetahuinya dengan pasti. Yang perlu dipercayai adalah bahwa roh itu ada. Allah hanya memberikan gejala-gejalanya kepada manusia agar menghayati gejala-gejala tersebut.
“Oooh…begitu rupanya…,” gumam Jack sendiri, dan bertekad untuk “menghayati” keberadaan ruh sebagaimana yang diajarkan Angku Syekh. Sekaligus berdamai dengan hatinya sendiri atas kemandegan upaya.
Selagi hidup di atas dunia, tak semua yang dimaui dapat diperoleh. Saat gagal, itulah ujung ikhtiar saat itu, maka “berdamailah dengan hati sendiri. Dan di situlah level tertinggi dari tiga tingkatan perjalanan spritual menuju Allah, yakni haqqul bashirah–cahaya Illahi–akan tercapai. Dimana seseorang hanya melihat kepada Allah dan tidak melihat apapun selain Dia. Level pertama dan kedua adalah cahaya akal (syu’aa ‘ul-bashirah) dan cahaya ilmu (ainul-bashirah).
Demikianlah, dengan pemahamannya yang awam tentang hakikat, Jack telah menemukan jalan tengah yang paling mungkin, yakni menghayati keberadaan nurullah, tanpa perlu mengupayakan pengetahuan yang sedikit tentangnya. Dan memang itu yang sudah dipraktikkan selama ini; menggunakan energi spritual tanpa berupaya mengkaji asalnya. Hanya perlu menghayatinya. Merasakannya. Dengan cara itu mengupayakan manfaatnya untuk kemaslahatan.
“Ya, merasakan sesuai cara yang diajarkan Angku Pincuran Gadang. Dan meyakini dengan sepenuh rasa, supaya terpaut rasa dengan-Nya…,” gumam Jack sendiri, sambil membayangkan kembali perjalanan spritual yang telah dialaminya.
Dengan kesimpulan seperti itu, Jack mulai memikirkan langkah hidup selanjutnya. Hanya hitungan bulan, kuliahnya di UNP akan selesai. Setelah ini, kemana lagi?
Iseng-iseng, dia mencoba googling pada laptop yang sedang terkembang di atas meja. Tak ada yang menarik. Orang-orang tamatan fisika bisa bekerja sebagai konsultan, peneliti, guru atau dosen.
“Aku, mana cocok jadi guru, atau dosen. Jadi peneliti juga tidak… Kalau menjadi konsultan… lumayan juga…” ujar Jack kepada dirinya sendiri, sambil terus melihat portal-portal lowongan kerja.
Tiba-tiba Jack melihat ada lowongan kerja di sebuah perusahaan survei. Perusahaan itu menerima lulusan Ilmu Fisika untuk formasi konsultan survei. Di kliknya informasi lebih lanjut,”Wowww… perusahaan itu ada kantor cabang di Padang,” teriak Jack kegirangan, seraya mencatat alamat perusahaan tersebut.
Siang itu juga, Jack pergi ke perusahaan survei yang kantor cabangnya ada di Jalan Khatib Sulaiman. Dia ingin melihat-lihat saja. Belum akan melamar pekerjaan. Soalnya dia baru akan diwisuda sebulan lagi. Belum ada ijazah.
Kantor perusahaan survei itu ternyata hanya sebuah bangunan sederhana, walaupun terletak di tepi salah satu jalan protokol di Padang. Bangunannya kecil, lebih terlihat sebagai rumah kediaman, dan tidak mencolok. Tetapi halamannya luas, dibatasi pagar besi yang sudah berkarat dan tak tampak lagi warna catnya.
Jack melihat kembali catatannya, untuk memastikan bahwa itulah alamatnya. Tapi dia agak ragu, soalnya itu rumah, bukan kantor. Walau begitu, dibukanya juga gerbang itu, dan meluncurkan sepeda motornya ke depan kantor tersebut!
Ada bel. Dipencetnya. Lalu dia menunggu, sambil melihat sekeliling. Halaman itu cukup luas, dan bersih. Rumput dipotong rapi, sehingga menolong penampilan rumah yang bersahaja ini.
Tak berapa lama, keluarlah seorang wanita yang sudah agak berumur. Melihat mukanya, kemungkinan wanita dengan rambut pendek ini adalah orang Tionghoa. Kulitnya putih dan matanya sipit.
“Ada yang bisa dibantu,” tanyanya ramah. Jack mengangguk, dan menyampaikan maksudnya buat melamar pekerjaan, tetapi dia baru sebulan lagi akan diwisuda. Karena itu, belum ada ijazah.
Wanita itu tersenyum manis, sambil menyimak perkataan Jack tanpa menjedanya. Hanya mendengar dengan seksama. Dan senyum manisnya selalu terhampar di bibirnya yang tanpa poles.
Hilang juga akal Jack dibuatnya. Sehingga dia menghentikan bicara. Menunggu respon wanita itu. Tapi respon dimaksud tak kunjung ada. Yang ada hanya senyum manisnya saja.
Wanita yang sapangkek (seumuran) dengan etek (tante) nya itu masih diam. Jack ikut diam, sambil menatap wanita itu tepat di bola matanya. Tatapan yang menusuk lembut itu, langsung meresap, dan sesaat wanita itu gelagapan. Tapi segera dia menguasai diri,”Saya terkesan dengan orang yang di belakangmu….”
Jack melihat ke belakangnya. Tak ada siapa-siapa. “Maksud anda?”
Wanita itu kembali tertawa lembut. “Ayo masuk anak muda,” ajaknya, seraya membukan pintu lebar-lebar, dan berjalan duluan ke ruang tamu. Dengan sopan dan lembut, wanita itu mempersilakan Jack duduk untuk menunggu, lalu dia berlalu ke ruang tengah.
Setelah duduk di kursi rotan tua, tapi masih bagus dan kuat itu, Jack teringat ucapan wanita tadi. Kembali dia melihat ke belakang, bahkan ke sekelilingnya. Tapi tak ada siapa-siapa.
“Tenang saja anak muda, dia sudah ikut denganmu sejak lama,” ujar seorang lelaki yang tiba-tiba saja sudah muncul di ruang tamu, dan membuat Jack terkejut.
“Maaf, apa maksud bapak?”
“Saya Lung, yang akan mempekerjakanmu untuk sebuah survei di Solok dan Solok Selatan,” ujar lelaki paroh baya yang juga bermata sipit itu. Sama dengan wanita tadi, lelaki ini pun suka tersenyum. Jelas sekali bahwa mereka berdua adalah orang baik. Setidaknya mereka orang yang ramah.
Sudah barang tentu Jack terkejut, tetapi juga senang. Namun lebih banyak heran,”Maaf, perkenalkan saya Jack. Saya ke sini untuk mencari informasi. Saya melihat iklan bapak,” ujar Jack tak kalah ramah, dan menatap lelaki Tionghoa itu langsung ke bola matanya.
Sama dengan wanita tadi, saat ditatap, hanya sebentar lelaki itu gelagapan. Setelah itu dia menguasai keadaan,”Dalam ilmu kebatinan kami, merasuk sukma itu adalah ilmu tingkat tinggi. Tapi engkau, semuda ini sudah bisa,” tanyanya dengan senyum ramah dan tatapan lembut.
Jack diam saja. Lalu dia hening. Dan berupaya mengkoneksi ke lelaki itu. Yang dituju malah membuka pintu, lalu keduanya pun berbincang dalam pikiran! Jika ada yang melihat dari jauh, dua lelaki beda usia ini seperti sedang tidur. Tetapi bukan, karena mata mereka terbuka, dan mulut komat-kamit, jelas mereka bukan tidur. Mungkin sedang mengkhayal!
“Dalam ilmu kebatinan kami, dewa langit dan dewa bumi yang memberi restu, dan menyaksikan. Pak kung pak po co cin min–dewa langit dan dewi bumi turut menyaksikan! Dengan bantuan beliau, kami melihatmu tidak sendiri. Tapi banyak. Yang seorang itu yang selalu ada!”
Jack mengangguk,”Dalam ilmu kebatinan Minangkabau, ada kaji Empat Anasir dan Kaji Diri, semua kaji ada di dalam diri, diri nan sebenar diri. Dari situ semua dimulai, di situ pula berakhir!”
Lelaki Tionghoa itu mengangguk-angguk,”Cukuplah perkenalan ini. Harapan kami, engkau mau bergabung.”
“Heiii… kenapa malah diam,” ujar wanita pemilik senyum manis itu!
Jack terperangah, lelaki Tionghoa itu agak memburu nafasnya. Namun keduanya terlihat sudah sepakat untuk berkawan. Dan mereka pun bersalaman.
“Baiklah Lung, kamu urus segala sesuatunya. Begitu anak muda ini siap, kita segera berangkat,” ujar wanita itu.
Lalu dia menoleh ke arah Jack, sambil tersenyum dia mengulurkan tangan,”Saya Ling, kami berdua kembar. Aku lebih tua beberapa jam dari Lung,” tuturnya sambil mengulum bibir.
Tentu saja Jack terkejut. Tetapi gembira yang paling dominan. Tak dipikirnya kenapa tiba-tiba dia diterima bekerja di perusahaan survei tersebut. Sehingga dia tak menampik diminta mulai bekerja besok!
Keempatbelas:
Dalam pikiran Jack, dia akan ke lapangan untuk survei itu dengan staf Lung & Ling itu. Tapi dia keliru. Justru dua orang kembar ini yang mendampinginya. Lung menyopir, dan Ling duduk di tengah. Dia di dekat pintu.
Entah maklum dengan yang dipikirkannya, Ling berkata,”Kami tidak punya staf. Kami yang punya perusahaan, kami pula pekerjanya,” ujar wanita itu dengan senyum merekah.
Jack mengangguk-angguk,”Lalu kita akan mensurvei apa?” Lung yang menjawab,”Kami akan mencari emas. Kami tahu, Solok dan terutama Solok Selatan adalah lumbung emas Pulau Andalas,” katanya.
“Darimana kalian tahu?”
“Aku dan Ling sudah melihat dokumen Belanda di Leiden. Bahkan kami boleh mengcopy petanya.”
“Kalian orang Cina? Maksud saya, kewarganegaraan kalian.”
“Kami punya paspor pekerja. Kami kewarganegaraan Korea Utara sejak tiga tahun lalu!”
Jack mengangguk-angguk saja. Jarang-jarang ada orang Cina jadi warganegara Korea Utara (Korut)! Pastilah dua orang ini punya koneksi yang luas. Bukankah Korut terkenal dengan “negara tirai besi”! Bayangkan ada orang dari Cina–“negara tirai bambu” bisa memiliki kewarganegaraan “negara tirai besi”! Hebat benar pasangan kembar ini.
“Tak perlu kamu pikirkan. Organisasi kami pengaruhnya se-dunia,” jawab Ling menebak pikiran Jack.
“Mati aku! Dua orang ini punya ilmu kebatinan yang hebat. Semoga baik niatnya!”
Lagi-lagi Jack terkejut, karena Ling secara tepat membaca pikirannya, dan kembali berkata,”Tujuan kami untuk dunia. Bukan per negara,” ucapnya.
“Ya, karena engkau sudah kami ajak bergabung, maka informasi tadi perlu kamu tahu. Tapi bukan untuk diumbar dan diceritakan pada orang lain. Kamu berjanji ya,” tegas Lung.
“Baiklah. Tapi aku perlu tahu secara garis besarnya tentang organisasi itu,” jawab Jack bernegosiasi.
Setelah Lung dan Ling saling menatap, lalu Ling bercerita. Sedangkan Lung sedang fokus menyetir, karena saat itu mereka sedang mendaki Sitinjau Lawik. Wanita yang ditaksir berumur hampir kepala 4 itu secara garis besar menceritakan bahwa organisasi mereka erat kaitannya dengan stabilitas keamanan dunia. “Sederhananya, kami adalah penyeimbang dari kekuatan-kekuatan dunia.”
“Hebat… lalu demi keseimbangan dunia, kalian mencari emas?”
Ling dan Lung tertawa serentak. “Itu pertanyaan yang naif. Tapi nanti kau akan mengerti,” kata Lung.
Mobil itu masih melaju. Walau agak lambat lantaran pendakian tinggi Sitinjau Lawik memang rawan dan lalulintasnya pun padat. Maklum itu adalah pintu masuk ke Padang dari arah timur.
Namun Lung cukup cekatan, sehingga mobil itu kini sudah mendekati simpang tiga Lubuak Salasieh. “Ke kiri, Kota Solok. Dan ke kanan, Alahan Panjang, Muaro Labuah dan Padang Aro, bukankah begitu, Jack,” ucap Ling dengan senyum abadinya itu.
Jack mengangguk-angguk dan memuji kecepatan Ling menguasai informasi kewilayahan. “Hebat kalian…,” ujarnya sambil melihat Lung dan Ling. Dan Jack pun tersenyum.
Rupanya ke kanan mobil itu berkelok. Mau ke Solok Selatan kah? Jack tak tahu. Sebab matanya sedang terpicing-picing karena ngantuk.
Jikapun melek, Jack tidak tahu daerah itu. Memang sewaktu kecil dia di Solok Selatan, tetapi tak banyak bepergian. Paling jauh dari Talao ke Padang Aro. Karena itu dia tidak hafal daerah-daerah di sepanjang perjalanan.
Padahal sekarang mobil itu baru saja melewati Kayu Jao, sebentar lagi Ayie Batumbuak. Sepanjang perjalanan dari Lubuak Salasieh ke Ayie Batumbuak sampai Rawang Gadang, di kiri kanan terhampar kebun teh. Serupa hamparan permadani layaknya. Indah sekali, dan sejuk. Kalah Puncak oleh kawasan perkebunan milik pemerintah ini.
Apalagi tak jauh dari Rawang Gadang itu ada tiga danau–terkenal dengan sebutan Danau Kembar. Tiga danau terkenal tersebut, masing-masing Danau Talang–yang paling kecil, seukuran telaga–berada di Simpang Tanjuang Nan Ampek. Lalu Danau Dibaruah terletak di Ayie Tawa dan Danau Diateh–yang paling luas dari dua lainnya–berada sepanjang Simpang Tanjuang Nan Ampek dan Alahan Panjang.
Hari hampir sore, ketika Lung menghentikan mobil di Muaro Danau Diateh, dekat sebuah sekolah. Mereka bertiga mampir di sebuah kedai di tepi jalan. Kedai tersebut menghadap ke danau.
“Heiii… ada kereta kuda di dasar danau,” seru Ling kegirangan. Sedangkan Lung tersenyum saja melihat kurenah (kelakuan) kakak kembarnya itu. Lung sendiri heran, kenapa sejak kemaren, kakaknya yang masih gadis itu riang saja bawaannya.
“Ahhh… tak mungkin. Anak ini masih kecil,” bantahnya sendiri. Akan halnya Jack yang sedari kemaren sudah memasang koneksi ke pikiran dua orang kembar ini, begitu membaca pikiran Lung dia tersipu malu!
Bukan, bukan lantaran dia merasa tidak pantas untuk Ling yang masih terlihat seperti gadis duapuluhan tahun itu, tetapi entah kenapa sejauh ini dia belum punya waktu untuk hubungan dengan perempuan. Sebagai lelaki normal, apalagi masih belia, tentu dia punya nafsu dan ketertarikan dengan lawan jenis. Hanya saja, kenapa selama ini seolah-olah tidak ada waktu untuk itu? Padahal cukup banyak gadis-gadis kampus yang mencoba menarik hatinya, namun Jack justru sibuk dengan Pak Asrul di kampus. Apalagi jika bukan berdiskusi perihal fisika dan fenomena-fenomena yang menyertai.
Tapi Lung ataupun Ling tak tahu kalau pikirannya sudah dipantau oleh Jack. Sehingga Jack dengan leluasa bisa mengamati. Namun dia membatasi diri hanya mengamati, itupun tak realtime (berketerusan). Hanya saat-saat dia membutuhkan saja.
Setelah menumpang shalat ashar di sebuah kedai, Jack pun mengajak pasangan kembar itu melanjutkan perjalanan. “Kita mau ke Solok Selatan, atau kemana?”
“Solok Selatan, sampai ke ujungnya, di Lubuak Ulang Aliang. Tapi nanti kita masuk lewat Pinti Kayu,” jawab Ling.
Jack mengangguk. Dia tak tahan mau segera ke Solok Selatan. Sudah enam tahun ditinggalkannya. Dia mau ziarah ke kuburan Syekh Sampu. Juga mau bertandang ke Bukik Sembilan. Tetapi dia tak tahu tentang Lubuak Ulang Aliang. Dia hanya tahu bahwa di situ ada sungai yang lebar, airnya selalu keruh. Itulah Sungai Batang Hari.
Melewati Air Dingin, jalan mulai buruk. Selain sempit, di beberapa tempat ada yang berlobang, sehingga seperti kubangan kerbau. Tapi itu jalan nasional yang menghubungkan Padang dengan Sungai Penuh, Kerinci, Provinsi Jambi.
“Jangan kuatir Jack, kami sudah terbiasa,” ujar Lung sambil terus fokus ke jalan yang banyak lobang itu.
Sesudah Jack minta berhenti untuk shalat magrib di sebuah mesjid di Ulu Suliti, sekarang mobil sudah memasuki gerbang Solok Selatan. Sebelumnya mobil melewati kecamatan terakhir di Kabupaten Solok–Pantai Cermin.
Sekira sepuluh menit, mobil itu belok kanan, melewati jembatan. Lalu terus menanjak. Sehabis-habis pendakian, tiba di dataran yang agak menurun. Di situ ada perkampungan. Pinti Kayu namanya.
Lung memarkir mobil. Lalu mengeluarkan dua ransel besar. “Selamat malam Tan Kayo,” sapa Lung sambil menyalami seorang lelaki yang sudah menunggunya.
Tan Kayo menyambut salam lelaki Tionghoa itu. Dia memperkenalkan dua lelaki lain yang ikut menanti. Yang agak pendek, tapi masih muda, Kudun namanya. Dan yang paling muda, kekar dan gagah, bernama Hendri.
“Ayo kita berangkat,” ujar Lung sambil mengikuti Tan Kayo yang mulai berjalan menelusuri pematang sawah. Mereka terus mendaki bukit di sawah paling ujung. Itu adalah jalan setapak masyarakat yang hendak baameh (mencari emas).
Jack berjalan di belakang Ling yang memanggul ransel besar. Sedangkan Jack juga membawa ransel yang disandangnya. Di belakang Jack ada Kudun dan Hendri. Baik Tan Kayo maupun Kudun dan Hendri hanya membawa parang yang dikebatkan di pinggang. Selain itu mereka juga membawa nasi bungkus dan botol minuman. Mungkin isinya kopi.
Setelah melewati medan yang berat–semak belukar dan hutan serta sejumlah sungai kecil–selama hampir lima jam, menjelang subuh, tibalah mereka di sebuah bukit yang tidak jauh dari sebuah sungai. Itulah Bukik Kandih. Dari bukit itu sudah dekat ke Tambang Sapek–tambang emas yang terkenal sejak zaman Belanda.
Dan, di tengah belantara tersebut, menjelang dinihari, Jack dan rombongan serasa tiba di kamp pengungsian. Serupa perkampungan kecil di situ–ada sejumlah rumah-rumah darurat, kedai-kedai darurat dengan lampu yang terang dengan genset besar yang raungannya seakan mau membelah gendang telinga.
Dengan arahan Tan Kayo, rombongan itu dibawa ke rumah darurat yang paling besar di situ. Lung dan Ling memindahkan ransel besar dari punggung. Lalu meluruskan kaki sambil bersandar di dinding.
Tak lama datang seorang lelaki yang berselimut kain sarung. Dia menyalami semua rombongan yang baru tiba.
Subuh pun datang. Jack mencari tempat untuk berwudhuk, dan sholat ke arah kiblat yang ditunjukkan lelaki berkain sarung. “Maaf, tempatnya agak kotor,” ujar lelaki berkain sarung dengan bahasa Indonesia logat Solok Selatan.
Saat hari sudah terang-terang kacang, perkampungan pun mulai hidup. Suara genset berganti suara para penambang yang memulai kehidupan hari itu dengan kopi panas dan goreng pisang yang dihidangkan petugas dapur umum.
Lung yang tadi sempat ketiduran, membuka ransel, mengeluarkan tabung air. Rupanya termos mini yang bisa menyimpan air panas untuk lima cangkir kopi. Dia meminjam cangkir, dan menyeduh kopi.
Ling menguap dan menggeliat disaksikan para penambang yang serupa itik dapat air. Maklum, ada di antara mereka yang dua bulan tak bersua induak bareh (istri). Tapi Ling cuek saja. Mungkin dia sudah terbiasa ditatap puluhan mata lelaki yang lapar.
Bertiga mereka minum kopi, ditemani roti yang dikeluarkan Ling dari ransel. “Sebentar lagi kita langsung ke lokasi,” ujar Tan Kayo.
“Masih jauh dari sini,” tanya Jack.
Lung dan Ling tertawa. “Ini pengalaman pertama kamu masuk hutan ya,” celutuk Ling dengan senyum abadinya itu.
Jack tersipu. “Lalu apa kerja aku nanti,” tanyanya mengalihkan pembicaraan. “Kerjamu mendampingi aku saja. Membantu apa yang aku suruh,” jawab Ling sambil tertawa renyah.
“Kamu membantu memegang peralatan, atau mengukur sesuatu dengan peralatan yang kami bawa. Pekerjaan ringan kok,” ujar Lung menambahkan, sekaligus mengatasi gurauan Ling yang membuat Jack tersudut.
Tentu saja Jack tersudut. Dia dijanjikan gaji yang lumayan besar, tetapi pekerjaannya kok cuma menemani wanita Tionghoa ini? Tetapi dengan penjelasan Lung, dia terhindar dari malu,”Aku bisa mengukur. Semua alat ukur pernah aku gunakan di kampus,” jawab Jack untuk mengangkat marwahnya di mata Ling.
Tetapi, jawaban tersebut justru membuat Ling kembali tertawa,”Kau pikir ini eksperimen di laboratorium? Sudah kubilang tadi, tugas kau hanya membantu apa yang aku suruh,” jawabnya dengan gaya ngebos dibuat-buat sambil mengedikkan dadanya ke depan!
Untung Ling pakai jaket tebal dan gombrong, sehingga saat dia mengedikkan dada, tidak menambah gelisah para penambang yang mencuri pandang! Jack tertawa saja mendengar penjelasan Ling, karena baru saja dia mengkoneksi ke pikiran wanita itu, ternyata tugasnya hanya membantu apa yang disuruh saja. Mengetahui itu, Jack jadi sadar diri, karena untuk bekerja di tengah rimba ini, memang dia bisa apa?
Begitulah, sejak mulai berangkat sekira pukul setengah tujuh tadi, hingga sekarang, menjelang tengah hari, Jack memang selalu di dekat Ling. Mereka sekarang berada di salah satu lobang yang seperti goa karena dipenuhi semak, dan tak ada tanda-tanda pernah dimasuki. “Memang ini lokasinya,” tanya Ling pada Lung yang sedang melihat alat kecil di tangan kanannya. Rupanya Lung sedang membaca GPS. “Benar, koordinatnya tepat sekali,” jawab Lung.
Tan Kayo, Kudun dan Hendri disuruh membersihkan lobang. Sedangkan Lung dan Ling sibuk dengan sejumlah peralatan yang mereka keluarkan dari ransel. Ada beberapa alat yang mereka sambung-sambungkan dengan kabel. Jack tak mengenali alat itu, apalagi kegunaannya. Diam-diam Jack harus mengakui perkataan Ling tadi. Dia memang tak tahu apa-apa.
Setengah jam setelahnya, rombongan itu mulai memasuki lobang. Jack tetap di belakang Ling. Tan Kayo di depan sekali, lalu Lung, Ling, Jack. Dan di belakang sekali Kudun.
Cukup dalam lobang itu. Awalnya datar, lalu mulai menceruk turun. Karena itu Tan Kayo dan Lung mulai menghidupkan senter. Kudun dan Hendri di belakang juga sudah menerangi lobang itu dengan senter masing-masing.
Tiba-tiba Jack merasa ada yang aneh. Dengan isyarat dia menyuruh Hendri dan Kudun jalan duluan. “Tunggu sebentar,” kata Jack pada Ling. Wanita itu pun menunggu Jack yang berdiri sambil menekur. Kudun dan Hendri menyusul Tan Kayo dan Lung.
Jack memejamkan mata, berkosentrasi. Tapi tak ada yang aneh dalam pikiran Lung dan Ling. Namun perasaan aneh–ati bakato (ada rasa yang mengatakan)–itu makin menggedor-gedor. “Coba perlahan dulu,” teriak Jack pada Tan Kayo dan Lung yang sudah berjarak sekira tujuh meter di depan mereka.
Entah mereka mendengar, ataukah mereka melihat sesuatu di depan, keduanya justru mempercepat langkah. Kudun dan Hendri malah berlari ke arah depan. Melihat itu, Ling pun mau bergegas. Tetapi Jack meraih pinggang wanita itu. Ling tertahan oleh tangan Jack yang melingkar di pinggangnya yang genting.
Kemudian terdengar ledakan di depan. Jack dan Ling terhambur ke luar. Tapi Jack tak melepaskan tangannya di pinggang Ling.
Dalam keadaan masih memeluk Ling itulah, Jack ditemukan oleh orang-orang perkampungan di tengah rimba itu pingsan di Bukik Sapek! Karena panik, mereka tak mengganggu dua orang yang seolah-olah tidur berpelukan dengan pakaian penuh tanah dan lumpur.
Bukan, bukan orang yang pingsan itu yang kemudian mereka urus. Justru para pekerja tersebut menghambur ke arah depan, karena sayup-sayup mereka melihat kilauan emas!
Baru setengah jam setelahnya, Jack sadar, hampir bersamaan dengan Ling. Mereka sama-sama terkejut karena di depan mereka terlihat belasan orang sedang berebut mengumpulkan tanah kuning. “Memang benar peta itu. Ehhh… mana Lung?”
Jack berdiri. Lalu menarik Ling untuk berdiri. Keduanya sudah berlepotan lumpur dan tanah. Sambil membersihkan tanah dan lumpur dari jaket dan jeansnya, Ling berteriak dengan bahasa ibunya. Tentu maksudnya memanggil Lung.
Dan Ling pun menangis sesunggukan tatkala dia lihat lobang itu sudah tertutup tanah dan lumpur. Ling menubruk Jack, dan menangis pilu, di bahu lelaki muda yang hanya bisa menduga-duga bahwa Lung dan yang lain sudah terkubur hidup-hidup di sebuah lobang tua, di Bukik Sapek.
Memang begitulah kenyataannya. Rupanya lobang tua yang mereka masuki tadi adalah tambang emas yang ditinggalkan Belanda ratusan tahun yang lalu. Itu diketahui Jack setelah kini mereka berdua berada di Jakarta, dua hari pasca peristiwa nahas tersebut.
“Jack, maafkan saya, karena tidak memberitahu sejak awal. Kami berdua ditugaskan organisasi untuk memastikan peta tambang itu memang ada. Dan ternyata benar ada,” ujar Ling tanpa senyum.
Jack hanya manggut-manggut saja. Dia tak tahu harus berkata apa? Karena tiga hari ke belakang, buatnya serupa mimpi saja. Dan sekarang dia sudah berada di Jakarta, di sebuah gedung bertingkat tujuh belas. Di lantai paling atas gedung pencakar langit itulah dia kini berada. Di ruang tunggu sebuah perusahaan, atau mungkin organisasi, atau apapun itu.
“Jadi, sekarang apa?”
“Kau kubawa menghadap ketua di sini, setelah itu, terserah dia,” jawab Ling datar, tanpa ekspresi dan tanpa senyum abadi yang dulu selalu menyertai ucapannya yang riang.
Kurang lima menit setelahnya, Jack diajak Ling memasuki ruangan itu. Cukup besar dan mewah. Tak banyak orang di dalamnya, jauh lebih banyak daripada peralatan yang berjejer dengan monitor yang menyala. Ruang apakah ini?
Seketika Jack ingat untuk mengkoneksi. Tanpa memejam mata, Jack menelusuri pikiran Ling, sambil duduk di ruang tamu sebuah ruang kecil di sudut ruangan besar itu. Dan Jack bergumam sendiri di dalam hati,”Wahhh… ini urusan intelijen. Urusan spionase tingkat dunia!”
“Kenalkan, saya Mahmud,” ujar lelaki setengah baya yang baru datang. Mungkin tadi dia sedang di kursi di salah satu monitor itu. Jack menyambut tangan lelaki itu dengan hangat, dan menatap langsung ke bola matanya.
Tapi lelaki setengah baya itu tidak gelagapan saat Jack mengkoneksi! Dia hanya tertawa ramah dan mempererat jabatan tangan, seolah-olah ingin berbagi kehangatan di dalam ruang ber AC yang sangat dingin itu. Namun Jack dengan leluasa bisa masuk ke ruang pikiran lelaki setengah baya itu, tanpa kesulitan. Hanya saja, dia tidak menemukan sesuatu yang patut dicurigai, kecuali ada niat besar, atau niat baik yang besar di dalam hati Pak Mahmud itu. “Saya Jack,” jawab Jack ramah.
“Ini Jack, yang kemaren sudah saya informasikan. Dan saya mohon diri untuk kembali ke Pyongyang,” ujar Ling dengan nada formal.
Jack tertegun dengan cara komunikasi wanita Tionghoa itu sekarang. Kok tiba-tiba datar, formal dan tanpa keceriaan dan keriangan sedikitpun.
“Silakan nona. Tugas anda sudah selesai. Salam untuk Pyongyang. Untuk urusan itu, biar Jakarta yang meneruskan. Tadi Pyongyang pun sudah memberi tahu. Nona ditunggu di sana” jawab Pak Mahmud dengan suara yang berwibawa. Jelas dari suara itu, Pak Mahmud mempunyai posisi penting, dan di atas Ling levelnya.
Ling mengangguk. “Kita berpisah, Jack. Jika Jakarta berkehendak, suatu saat mungkin kau ke Pyongyang. Terima kasih untuk semua bantuanmu.” Jack terpaksa menerima jabat tangan Ling yang kemudian meninggalkan ruangan tersebut, meninggalkan dirinya di tempat yang baru sebentar ini dia masuki.
Beberapa saat setelah Ling pergi, Pak Mahmud masih sibuk dengan monitor kecil di depannya. Agaknya monitor seukuran tablet itu adalah alat kerja utama lelaki itu. Dan dia asyik saja memelototi layar, tanpa menggubris Jack yang duduk tepat di depannya.
Penasaran karena didiamkan saja, Jack pun mengkoneksi. Dengan mulus dia bebas berselancar di alam pikiran Pak Mahmud. Dia mendapati hal yang sama; intelijen tingkat dunia, untuk kepentingan dunia, lintas negara!
Sementara di depannya, Pak Mahmud justru mengangguk-angguk gembira. Karena di layar monitornya terpampang foto Jack, riwayat hidup lengkap dan detail. Termasuk aktivitas-aktivitasnya selama ini. Ada pula data-data medis atas nama Jack Amarta Bangun!
“Hmmm… anda cocok dengan profil yang kami cari, Jack Amarta Bangun,” ujar Pak Mahmud ramah. Itu adalah nada suara yang berbeda dibandingkan saat dia bicara dengan Ling tadi.
“Saya tertarik dengan dunia analitis, tapi belum yakin apakah pas di dunia intelijen. Tetapi saya memang sedang mencari kerja,” ujar Jack.
Pak Mahmud ternganga dengan jawaban lelaki mudo matah (belia) ini. “Kamu diberi tahu si kembar?”
Jack menggeleng. “Tapi saya percaya organisasi tak bernama ini punya tujuan baik untuk dunia,” ucap Jack sambil kembali menatap langsung ke bola mata Pak Mahmud.
Lelaki itu mengangguk-angguk, tetapi Jack tahu Pak Mahmud sedang merencanakan pelatihan singkat untuknya. Dan karena itu dia langsung menjawab,”Saya bisa dilatih di Maroko, karena saya juga ingin kuliah di situ, mendalami ilmu fisika,” katanya tanpa menunggu tawaran Pak Mahmud.
Lagi-lagi lelaki setengah baya itu terkejut. Tetapi kemudian dia tersenyum. “Jack… mungkin ini yang disebut jodoh. Apapun itu. Kami memang perlu orang di Maroko untuk mengamati seseorang bernama Mitchael Bonn. Dan agen penting asal Inggris itu tentu tak akan curiga bila ada seorang mahasiswa asal Indonesia yang bekerja paroh waktu sebagai bartender. Selamat bergabung di organisasi Jack. Orang-orang di sebelah akan mengurus segala sesuatunya,” ujar Pak Mahmud.
Begitulah, Jack pun menjadi agen sebuah organisasi tak bernama yang bertugas menjaga keseimbangan dunia. Dan untuk kerahasiaan, Jack pun mengganti namanya menjadi Jack Sangir.
Karena proses yang demikian cepat, Jack hanya memberitahu Pak Bangun, ayah angkatnya bahwa dirinya diterima kuliah master di Maroko. Dan pemberitahuannya mendadak. Oleh sebab itu dia tak bisa pulang ke Medan. “Nanti setibanya di sana aku telpon. Mohon restu ya pak…”
Di Maroko, Jack disambut oleh petugas organisasi. “Anda sudah terdaftar bekerja di The Bars, Royal Mansour Marrakech–Maroko. Tetapi itu bisa menyusul. Anda harus mengikuti pelatihan,” ujar petugas tersebut.
Dengan girang Jack mengikuti pelatihan khusus itu selama tujuhbelas bulan. Selain ilmu beladiri, dia juga diajarkan menggunakan berbagai senjata. Mulai dari senjata tajam, senjata api serta barang-barang apapun yang banyak dijumpai, bisa dijadikan senjata. Pena, sendok, bahkan buku pun bisa jadi alat pembunuh yang efektif. Jack juga diberi kursus singkat bahasa Arab dan bahasa Inggeris. Juga ketrampilan sebagai bartender dan barista dipelajarinya!
Selama tujuhbelas bulan itu, hanya sekali Pak Mahmud menelpon. Dan dia setiap bulan selalu menelpom ayah angkatnya di Medan.
Usai pelatihan, Jack pun mendaftar di Cadi Ayyad University, Maroko. Dia mengambil Astrofisika. Jack memilih jurusan Astrofisika untuk melanjutkan studi fisika di UNP. Sengaja dia tidak mengambil jurusan agama, karena selama tujuhbelas bulan di negara itu, Jack memilih belajar agama kepada sejumlah ulama yang ada di negara itu.
Karena rupanya Maroko adalah negara yang dikenal sebagai Negeri Maghribi (Al-Mamlakah Al-Maghribiyah)–yang artinya kerajaan dari Barat karena lokasinya paling barat Afrika–negara ini juga dijuluki Bumi Para Wali.
Keunikan lain dari Maroko adalah negara Islam yang melahirkan enam tarekat (thariqah) besar di dunia. Dari negeri ini pula lahir banyak Ulama besar ahli tasawuf. Antara lain Imam Al-Jazuli (807-870 H), seorang wali besar pengarang kitab sholawat Dalail Khairat. Kemudian Imam Ahmad At-Tijani (pendiri tarekat Tijaniyah) dan masih banyak ulama lainnya.
Selama kuliah, Jack mulai mendapat penugasan temporer. Kadang-kadang dia ditugaskan ke Arab Saudi, Mesir, Libya. Umumnya dia mendapat penugasan temporer di kawasan timur tengah. Mungkin Pak Mahmud menimbang supaya perkuliahan Jack tidak terganggu. Juga kerja paroh waktunya berjalan lancar–mengamati Mitchael Bonn.
Kuliahnya diselesaikan selama tujuh tahun. Bila tak segera diseriusinya, mungkin Jack bisa di-DO. Maklum, dia lebih banyak keliling sebagai agen daripada kuliah. Malu jika kena DO, Jack pun mengambil cuti selama setahun untuk menuntaskan kuliah.
Setelah wisuda, Jack ditarik pulang. Selama setahun dia di Jakarta. Saat itulah Jack membangun “markas” di Jalan Sriwijaya!
Hingga pada Nopember 2022, dia meninggalkan Jakarta untuk pergi ke Pyongyang dalam rangka menghadiri pernikahan Ling. “Jack, aku menikah, datang ya…,” demikian pesan singkat Ling yang tentu saja takkan bisa ditampiknya untuk hadir pada acara sakral agen wanita itu.
Di “negara tirai besi” itulah Jack selama tiga bulan. Tentu saja tidak hanya menghadiri pernikahan Ling, tetapi Pak Mahmud memintanya untuk mengamati negara yang semakin berani memperagakan kemampuan teknologi persenjataannya pada dunia.
Jika bukan karena urusan Luna Sangir itu, mungkin Jack belum dipanggil pulang!
Kelimabelas:
Di Pabrik Oksigen Cair di Cileduk, Jakarta, Jack masih duduk di kursi yang ditinggalkan Mitchael Bonn tadi. Dia tersandar sambil mencerna apa yang sudah terjadi. (Baca novel Simpang Hati Luna Sangir).
Setelah menelpon Pak Mahmud untuk memberitahu yang terjadi, serta meminta agar gedung itu ditutup dan diperiksa khusus, Jack pun kembali bersandar di kursi. Dia berpikir, bagaimana caranya membebaskan tiga temannya–Buyung, Gatot dan Vivien. Apalagi mencari Luna yang entah kemana? Dan membawa Luna kepada Mitchael Bonn untuk diganti dengan kebebasan tiga temannya itu!
Sungguh pekerjaan yang tidak ringan. Dan Jack tak tahu harus memulai dari mana? Sejenak dia kosong! Ruang hatinya seolah menyempit dan tenggelam dalam hati yang nelangsa. Saat itulah dirinya dirasuki aroma, yang memasuki ruang hati tanpa hambatan!
Mulanya ada bebauan kemenyan yang khas. Tak lama ada aroma bunga cempaka. Dua bebauan tersebut saling belit saling beradu nominasi. Seolah-olah sedang berperang. Aroma bunga cempaka semakin kuat. Jack menguap. Matanya berat. Semakin dia berusaha melawan kantuk, semakin kencang bebauan itu merasuk syaraf-syarafnya. Tak bisa ditampik, lelaki ini pun terkulai. Tidur. Atau serasa tidur?
Yang pasti, Jack kini sedang mendaki. Badannya terasa ringan. Seolah terbang, sebentar saja baginya mendaki Gunung Kerinci itu. Padahal dia memilih jalur yang tak lazim, yakni naik dari gerbang Bangun Rejo di Solok Selatan. Sedangkan jalur yang lazim adalah melalui desa Kersik Tuo di Kerinci.
Jalur Bangun Rejo–BRJ–konon ceritanya adalah jalan yang pertama kali dilalui oleh pendaki asal Belanda pada abad ke-19. Jejak-jejak pendakian di zaman Belanda itu dimungkinkan lantaran kemiringannya yang landai. Dan vegetasi atau tutupan hutan lebih rapat dibanding jalur Kersik Tuo.
Hingga batas vegetasi di ketinggian sekitar 3.000 meter di atas permukaan laut (mdpl) para pendaki juga bakal menemui hutan lumut. Pohon-pohon besar seperti pohon beringin menjadi payung buat pendaki berjalan di bawahnya. Banyak sumber air, ada air terjun, dan masih bisa ditemui jejak-jejak satwa liar seperti harimau sumatera, rusa, beruang, dan kijang. Bahkan pendaki juga bisa menemukan tumbuhan-tumbuhan yang dilindungi, seperti kantong semar dan anggrek.
Di jalur BRJ itulah rasanya Jack memulai pendakian. Dengan enteng kakinya serasa tak menginjak tanah. Sehingga dengan leluasa dia melihat aneka flora yang alangkah indahnya. Beberapa kali dia bahkan juga melihat beberapa ekor harimau sedang menyuruk di balik semak.
Sebentar lagi dia akan memasuki jalur tanpa vegetasi. Itu sudah di atas 3000 mdpl. Yang ada hanya bebatuan dan pasir di atas tanah yang merah tembaga. Asap belerang menjadi tirai alam, seolah menutupi kawah gunung ini. Ke kawah itu Jack menuju.
Dia menuruni kawah itu tanpa kesulitan. Semakin dekat ke kawah, bau belerang kian samar, berganti bebauan bunga cempaka!
Dalam kondisi normal, oksigen yang tipis didominasi gas belerang, itu adalah racun yang mematikan bila memenuhi paru-paru. Tapi dalam kondisi luar biasa, Jack seolah tak terpengaruh. Dia terus menuruni kawah yang sudah mulai terlihat dasarnya.
Gunung Kerinci memiliki kawah yang curam dan sangat dalam, dengan bibir kawah yang tidak terlalu lebar. Oleh karena itu sangat beresiko bagi para pendaki terjatuh dan masuk ke dalam kawah jika tidak hati-hati berdiri di situ. Belum lagi angin yang susah ditebak, kadang kencang, kadang tidak.
Menjelang pendakian terakhir menuju puncak bibir kawah, ada sebuah area berbatu cadas yang cukup luas, serupa tanah lapang. Di situlah bersemayam seorang pendaki yang hilang di Gunung Kerinci, Yudha Sentika. Dia adalah pelajar kelas 3 SMA 68 Jakarta yang hilang saat mendaki Gunung Kerinci pada tahun 1990. Kini di tempat tersebut, pendaki belia ini diabadikan dengan sebuah tuga peringatan–Tugu Yudha. Di kawasan lapang itu pulalah diselenggarakan upacara peringatan 17 agustusan bagi para pendaki.
Dari tempat lapang yang berbatu itu, kita perlu mendaki lagi untuk menuju puncak. Medan bebatuan dan berpasir menyulitkan para pendaki untuk meraih puncak Kerinci ini.
Di dasar kawah itu banyak batu. Sebagian ada yang pipih. Dan ada sebuah batu besar yang layah (pipih), tepat di depan kepulan asap belerang. Batu itu bewarna merah tembaga. Agak senada dengan asap pekat yang bergumpal-gumpal ke atas, ada seseorang berbaju ungu duduk bersila seperti arca. Melihat bentuk tubuhnya agaknya orang berbaju warna lembayung ini adalah perempuan.
Jack ternganga melihatnya. Walau perempuan itu nyaris tak bergerak, bahkan pada bola matanya pun tak terlihat tanda kehidupan, pandangannya kosong, dengan rambut hitam yang dikerumuni asap, sehingga dari jauh seperti uban, namun Jack yakin itu adalah Luna Sangir!
Dicobanya mengkoneksi, tapi dia seperti memasuki labirin yang berliku tapi kosong. Jack terkejut karena kemungkinannya hanya dua saja; dia sudah mati, atau gila. Karena tubuhnya masih tegak dalam duduk bersila, tak mungkin mati. Orang mati tentu tak bisa menahan badan tetap tegak.
Apakah Luna sudah gila? Karena derita yang ditorehkan Oliver Weiss itu? “Oh Tuhan… Bagaimana cara hamba bisa membantunya,” gumam Jack sambil berdiri nanar di depan arca cantik yang seperti terpaku di atas batu.
Bau belerang bercampur aroma bunga cempaka membuat suasana di dasar kawah tersebut semakin magis.
Jack duduk bersila di atas batu pipih yang agak rendah dari batu yang lebih besar. Kemudian dia memicingkan mata, mengkoneksi ke Angku Syekh dan Angku Pincuran Gadang.
Tak lama berselang ada bebauan kemenyan yang khas. Juga aroma jafaron putih seolah-olah bertanding paling dominan. Percampuran bebauan tersebut rupanya mengganggu arca cantik. Walau tubuhnya masih diam, tetapi bolamatanya nanar melihat ke depan. Dia menatap lelaki yang masih memejamkan mata itu dengan seksama.
“Amir,” gumamnya.
Begitu dia selesai mengeja nama, terdengar seruan di dalam pikirannya,”Ya, aku Amir. Yang dahulu pernah melihatmu telanjang!”
Belum selesai ucapan itu, arca cantik itu mengepalkan tangan, dan dengan kuat dia mendorong kepalan tangan ke depan. Batu layah yang diduduki Jack keping. Sedangkan Jack masih sempat berkelit ke samping, hal mana membuat dia terjerembab mencium pasir belerang yang panas.
Belum sempat tegak, arca cantik itu melayang ke arah Jack, didahului dengan tendangan mengarah ke kuduk. Tak sempat lagi berbalik dan menangkis, Jack menggulingkan badan ke kiri, dan separoh badannya terperosok masuk ke lobang berasap!
Namun arca cantik itu belum mau selesai. Sebuah tendangan susulan, kali ini dengan dua kaki di arahkan ke punggung Jack. Tak tanggung-tanggung, bila tendangan itu tidak luput, tentu Jack akan berada sepenuhnya di dalam lobang dengan kepala di bawah.
Rupanya Jack belum mau mati. Dengan tangan bertumpu pada pinggir lobang yang keras, secepat kilat dia membuat dua gerakan salto. Gerakan pertama, kakinya mendarat di pinggir batu layah yang tadi diduduki arca cantik. Gerakan kedua, dia dengan santai sudah bersila sebagaimana arca cantik tadi. Posisi berubah. Sekarang Jack yang menjadi patung, dan arca cantik itu memandang dengan sengit!
“Apa maumu,” katanya dalam pikiran.
“Aku datang menjemputmu,” jawab Jack, juga dalam pikiran.
“Buat apa? Biarkan aku di sini!”
“Ooo… tidak bisa nona. Kamu masih berhutang padaku!”
“Hutang apa? Kamu yang harus dipukul untuk membalas cacing-cacing itu!”
Jack tersenyum. Luna Sangir heran. Dia ternganga. Kenapa pula lelaki ini tersenyum?
“Aku tersenyum karena kamu masih ingat cacing-cacing itu… dan…”
“Cukup… kau memang kurang ajar!”
Begitu selesai mengumpat dalam pikiran, Luna–si arca cantik itu–kembali melayangkan pukulan dengan mendorong tangannya yang mungil itu ke depan. Cukup kuat dorongan itu, tetapi Jack tak beranjak dari tempat duduknya. Bahkan dia memejamkan mata, menunggu energi pukulan itu tiba, sambil berkata ke dalam pikiran gadis itu,”Jika kamu mau membunuhku, silakan saja. Aku rela mati, asal kamu bisa menangkap Micthael Bonn, dan mengalahkan Ksatria Dunia!”
Diingatkan tentang Mitchael Bonn, di saat-saat terakhir, Luna masih sempat membelokkan pukulan. Namun tak urung, energi yang cukup besar itu masih sempat mengenai bahu kiri Jack.
Karena memang Jack sengaja tidak melawan, tidak mengelak dan tanpa perlindungan diri sama sekali, tubuhnya terpental ke kiri. Jatuh tepat di atas batu yang agak runcing. Terdengar bunyi serupa kelapa yang dipukul kapak.
Jack tak bergerak. Dia rebah miring, sisi kiri kepalanya membentur batu yang agak runcing itu. Luna terpekik, dan menghambur mendekati tubuh yang diam itu. Di telinganya keluar darah.
Sambil menangis, Luna memeluk kepala itu. Dia bersimpuh, sehingga kepala Jack aman dalam pangkuan yang hangat.
Entah lantaran kehangatan dipelukan Luna, Jack menggeliat. Disinilah celakanya, kepala itu menyeruduk bukit di atasnya. Namun Luna tak sadar, dia malah makin meraih kepala itu, sehingga terhenyak ke bukit yang kenyal lagi hangat.
Jack sudah sadar sepenuhnya. Namun sekarang dia benar-benar hilang akal. Tak tahu harus bagaimana? Jika dia bersuara, tentu Luna akan malu. Bila diam, dia yang tak kuasa berlama-lama dengan kepala yang lengket di bawah bukit empuk itu. Bisa lain ceritanya nanti!
Tiba-tiba dia punya akal. Lalu dia mengkoneksi Angku Pincuran Gadang yang diyakininya sudah ada di situ. “Tolonglah Ngku. Atau Angku takut pula pada neneknya?”
Seketika bebauan kemenyan menggebubu. Tanpa disadari Luna, Angku Pincuran Gadang bermaksud meraih tangan gadis itu supaya terlepas dari pelukan. Namun belum sampai niat terwujud, Angku Pincuran gadang mengeluh lantaran kena sepak seseorang. “Hei… kau main curang Sirici,” katanya.
“Salah sendiri. Kau memang tua bangka yang mulai pikun! Tidak becus menjaga murid. Sehingga tanpa kesulitan, aku sudah membawanya ke sini!”
Angku Pincuran Gadang tersenyum datar. “Jangan senang dulu nenek cantik. Aku sengaja membiarkan kau membawa muridku. Karena aku tak mau dia penasaran dan buntu. Hitung-hitung bertamasya, maka kubiarkan saja aroma bunga cempakamu menguasai ruang hatinya… Hehehe… hehehe….”
“Husss… kau tua bangka, bicara seenaknya saja. Kalau sudah kalah, mengaku saja!”
Angku Pincuran Gadang geram karena perkataan Nenek Sirici yang pedas itu. Maka dengan suara keras dia berkata,”Sesukamulah Sirici…!”
Mendengar nama Sirici, Luna melepaskan kepala yang sudah pasrah itu. Dia berdiri, lalu menoleh ke belakang. Di situ sudah berdiri Nenek Sirici dan Angku Pincuran Gadang. Keduanya sedang bersiap-siap untuk saling serang.
Jack yang sudah terbebas kepalanya dari penyanderaan yang hangat, kini ikut berdiri. “Rupanya nenek yang mengambil kotak ungu itu,” kata Jack.
Nenek Sirici tertawa. Cukup renyah dan riang suaranya. “Kalau iya, kau mau apa?”
“Tak apa-apa, aku mau memastikan saja. Supaya aku terbebas dari hutang. Sebab aku yang menyuruh orang membawa kotak dari kamar Luna,” tukuk Jack.
“Apa? Ada orang yang kau suruh ke kamarku?”
Jack kaget. Dia lupa bahwa dirinya seorang agen yang mesti melindungi kerahasiaan. Sekarang apa hitungan mau disebut, gadis ini sudah bertanya, dan menyelidik. Terpaksa Jack mengangguk saja.
“Amir, bukankah kamu hanya sopir taksi?”
Jack juga mengangguk. Sedangkan Nenek Sirici dan Angku Pincuran Gadang saling pandang. Keduanya sama-sama tersenyum. “Kau masih ingin mengadu ilmu lewat murid-murid kita,” ujar Nenek Sirici.
“Itu bisa belakangan saja. Toh muridku juga yang akan menang,” jawab Angku Pincuran Gadang.
Mereka masih terus bertengkar, sementara Jack dan Luna sekarang kembali saling berhadapan, hendak berkelahi kembali!
“Rupanya kau antek-antek Oliver Weiss. Hayo, sekarang kau bersiap-siap untuk mati, seperti Oliver Weiss yang sudah kukirim ke neraka,” ujar Luna sambil kembali menyerang dengan jurus-jurus andalan Silek Talao.
“Tunggu dulu nona. Ini harus dijelaskan dengan seksama, supaya kamu tidak lagi salah paham!”
Tapi mana pula Luna mau mendengar. Dirinya sudah dipenuhi dendam terhadap Oliver Weiss. Sekarang ada orang yang mengaku mengambil kotak kecil warna ungu itu, pasti orang tersebut bersekongkol dengan Oliver. Karena hanya Oliver lah yang pernah masuk ke kamarnya!
Betapapun Jack menjelaskan, Luna tak mau terima. Dia terus melancarkan serangan bertubi-tubi. Dalam bayangannya adalah menghajar dan menghabisi Oliver. Karena itu gadis ini mengeluarkan semua kepandaiannya.
Diawali dengan menyentuh dahi dengan telunjuk, lalu membuat tanda silang di awang-awang, setelah itu Luna langsung merangsek dengan sepenuh kekuatan. Sebuah pukulan dengan sabetan tangan kiri hanyalah untuk mengalihkan perhatian, karena sesudah itu tendangan yang tajam dengan kaki kanan mengarah ke pinggang Jack.
Jangankan mengelak atau menangkis, Jack justru tak dapat lagi melihat gadis yang sudah menghilang itu. Tak pelak, pinggangnya pun seperti ditabrak mobil truk yang melaju kencang.
Jack meringis. Pinggangnya berderak. Tetapi deritanya belum jua berakhir. Dengan gerakan bergulingan Luna memburu, dan pada jarak tertentu dia melentikkan badan dengan dua kaki menghantam dada Jack!
Dukkk…
Jack terguling. Dari mulutnya keluar darah. Kalau pada gebrakan pertama dia hanya luka di daun telinga yang terantuk batu, maka sekarang isi dadanya bergemuruh, guncang, diikuti darah kental yang mambosek (terpancar) dari mulutnya! Dia terkapar tak berdaya. Tertelentang dengan nafas satu-satu. Tetapi orang yang menendangnya tetap tak terlihat sama sekali.
Dalam keadaan telentang dan sudah sangat terjepit itu, Luna dengan cekatan sudah mendaratkan kakinya di leher Jack, sekaligus menampakkan diri. Mungkin dirinya ingin dilihat oleh lelaki yang akan dibunuhnya ini!
Wajah Luna yang jelita, tak berkurang cantiknya oleh nafsu membunuh yang menggebubu. Malah makin manis tampak oleh Jack.
Belum. Luna belum menekan kakinya yang mungil itu. Sehingga sementara lelaki itu selamat. Jack tengadah, menatap Luna langsung ke bola matanya. Mengkoneksi!
Seketika itu juga Jack berbisik ke dalam pikiran Luna,”Akankah kamu membunuh Amir hanya karena cacing-cacing itu. Dan, demi Tuhan, waktu di tepi sungai itu, aku tak sengaja melihat bokongmu!”
Dibisiki seperti itu Luna tergelak. Gadis itu tertawa renyah. Dia ingat kembali masa kecil di Talao. Yang paling diingatnya adalah menjewer telinga Amir dari belakang, dalam bertelanjang bulat!
Lama juga gadis itu tertawa, seolah-olah membebaskan semua tekanan dalam dadanya. Alhasil, batinnya mulai ringan dan plong. Bersamaan dengan itu, keriangan dan sifat tanpa purbasangkanya pun tumbuh kembali. Maka, dia pun duduk di samping kepala Jack. Memeriksa mulut yang berdarah itu. Bahkan membersihkan darah yang berlepotan dengan gaunnya!
Memang demikianlah hal yang menyangkut kejiwaan itu, ada kalanya tak bisa ditebak. Seseorang yang mengalami peristiwa dramatis dan ekstrim sehingga berpengaruh signifikan pada hidup dan masa depannya tentu akan mengalami goncangan jiwa. Itulah depresi. Bila goncangan tersebut permanen, gila sebutannya. Namun apabila goncangan dimaksud ditimpa dengan pengingatan pada sesuatu yang dramatis, atau sesuatu yang berkesan, maka jiwa yang tergoncang pun goncang kembali. Hasilnya, serupa yang dialami Luna, dia kembali ke titik normal.
Tidak semua kasus psikologi bisa seperti itu. Yang lebih banyak terjadi adalah apabila jiwa tergoncang lalu tergoncang lagi, maka yang bersangkutan akan gila sebenar-benar gila. Gila yang tak tanggung-tanggung.
Akan halnya Luna, gadis itu termasuk pada kasus yang sedikit. Jiwanya terguncang hebat karena peristiwa percobaan perkosaan oleh Oliver. Terbukti saat itu dia membunuh Oliver serupa orang kemasukan setan. Brutal dan sadis. Mata lelaki tampan keturunan Yahudi itu pecah ditusuk jari, kerampangnya pun hancur kena tendang.
Luna melakukan itu dengan bengis. Sesudah Oliver tergeletak mati dan penuh darah, gadis itu meraung-raung. Untunglah Nenek Sirici tiba di saat yang tepat. Sehingga dengan ilmu menghilang, Luna dan Nenek Sirici tak terlihat oleh petugas polisi yang mendobrak pintu kamar apartemen Oliver tersebut.
Seusai peristiwa itu, Luna menjadi gadis penyendiri dan pemurung. Tak mau berkomunikasi dengan siapapun, sehingga Nenek Sirici yang selalu memantaunya, terpaksa membawa Luna ke Gunung Kerinci.
Kenapa ke Gunung Kerinci? Karena Nenek Sirici tahu bahwa di masa kanak-kanaknya, Luna pernah akrab dengan alam di sekitar Gunung Kerinci. Biasanya bila seseorang di bawa ke alam yang pernah berkesan di masa lalu, akan ada dampak psikologi yang positif.
Tetapi tidak demikian dengan Luna. Kendati Nenek Sirici telah mempertemukannya dengan Melani–salah seorang orang kate, Urang Pandak, yang hidup di Gunung Tujuh–dan kakek cebol, namun tak berdampak pada kepulihan jiwanya. Sehingga ketika Luna memilih bertapa di dasar kawah, di atas batu ceper itu, Nenek Sirici terpaksa membiarkan saja. Sebab dengan begitu, Luna bisa tenang. Tidak lagi berteriak-teriak dan mengamuk.
Saat Luna sudah “jinak” Nenek Sirici pun meninggalkannya sesaat, untuk mencari Jack. Dia beruntung, Jack masih hidup–diizinkan tetap hidup oleh Mitchael Bonn–dan sedang termenung di kantor pabrik oksigen cair, di Cileduk, Jakarta. Tak membuang waktu, apalagi melihat Jack yang lengah, Nenek Sirici pun memukau (menghipnotis) lelaki itu, dan membawanya ke Gunung Kerinci.
Lalu, semua yang terjadi pun terjadilah. Seperti adegan yang dilihat saat ini, membuat nenek Sirici tersipu-sipu. Sebab dia melihat benar betapa dengan telaten dan hati-hati, Luna membersihkan mulut Jack yang berdarah. Sedangkan Jack memandangi gadis itu dengan takjub!
Dengan leluasa Jack memeriksa pikiran Luna. Tanpa diketahui oleh yang bersangkutan, Jack sekarang mengerti bahwa pikiran Luna masih terlalu polos. Jack pun malu sendiri, karena sempat mengira perbuatan Luna didorong oleh rasa suka. Ternyata bukan, itu lebih karena kepolosan dan tanpa syakwasangka belaka.
Nenek Sirici mendekat, bersamaan dengan Angku Pincuran Gadang. Mereka duduk di atas batu layah, sambil saling memperhatikan. Tetapi tetap diam, seolah-olah takut salah bila mengambil inisiatif buat bicara.
Mungkin hingga tujuh atau delapan menit, batu layah itu jadi saksi betapa empat orang itu hanya saling lirik dalam diam. Yang ada hanya suara desau gas belerang yang baunya bertanding dengan bau kemenyan dan aroma bunga cempaka.
“Bagaimana kalau kita ke atas,” ujar Jack sambil menatap tiga orang itu satu persatu, tepat di bola matanya.
“Iya, biar lebih segar,” ucap Luna yang ditatap pertama oleh Jack. Disusul anggukan Nenek Sirici dan Angku Pincuran Gadang.
Di atas, di depan tugu Yudha, mereka kembali duduk bersila, saling berhadapan. Luna menoleh pada Jack sambil tersenyum,”Aku memanggilmu Amir, atau siapa?”
“Ehhh… aku Amir… dan sekarang aku Jack,” jawab Jack gelagapan karena tak menyangka akan ditanya secara tiba-tiba. Sehingga tanpa sadar dia telah membuka rahasia dirinya. Padahal itu adalah hal yang sangat disembunyikan oleh para agen. Sebab bilamana identitas pribadi terkuak, dapat menjadi jalan buat orang lain mengambil keuntungan.
Karena itu, para agen mempunyai banyak paspor dan banyak KTP, dengan identitas yang berlainan. Bilamana seorang agen tertangkap lawan, dipastikan tak akan membahayakan organisasi lantaran identitas adalah samaran.
Tapi, kepada Luna, apakah perlu menyembunyikan identitas? Jack sedang memikirkan keterlanjurannya itu, ketika Luna berkata,”Baiklah, Jack… sekarang apa maumu? Buat apa kau ke sini?”
Tentu saja Jack tak dapat jawab. Soalnya dia “dibawa”, bukan datang atas inisiatif sendiri. Tetapi mengakui bahwa dirinya “dibawa” pun tidak mau. Mungkin dia malu lantaran karena tidak waspada, dengan gampang dipukau hanya dengam bebauan.
“Kenapa diam? Aku tanya, kenapa kamu ke sini?”
“Yang jelas bukan untuk memasukkan cacing ke dalam tasmu,” ujar Jack tergelak.
Luna ikut tertawa. “Ehhh… waktu di sungai itu, kenapa…?”
“Kan tadi sudah kubilang… hanya tampak bo…”
“Stop…stop… kamu sengaja mau mengintip aku kan?”
“Huuu…buat apa? Aku hanya kuatir kau akan hilang lagi, dibawa orang kate…”
“Haaa…kamu tahu?”
Jack mengangguk. “Persis saat kamu diantarkan kakek cebol itu, aku ada di sana. Dan aku melihat!”
“Kok bisa? Tadi kenapa kamu tak bisa melihatku?”
Jack menggeleng. “Mungkin kosentrasiku terganggu karena terkejut melihatmu yang menyerangku membabi buta.”
Luna tersenyum manis. Memang benar-benar gadis ini sudah kembali seperti sediakala. Polos. Apa adanya. Tanpa purbasangka.
“Maafkan aku yaaa… tetapi, aku heran saja, seolah-olah kamu dikirim Tuhan ke sini.”
Jack mengangguk tanda memaafkan. Tapi mulutnya melongo. Mungkin lantaran keriangan yang tiba-tiba menulari puncak Gunung Kerinci itu dari suara dan kurenah Luna, membuat Jack takjub.
“Sudahlah Luna. Tak perlu dipertanyakan lagi. Aku yang membawa dia kesini,” tutur Nenek Sirici.
“Bagaimana nenek tahu tentang dia?”
Muka Nenek Sirici memerah sambil melirik Angku Pincuran Gadang. “Nenek kebetulan bertemu dengan gaek itu. Rupanya dia muridnya!”
“Terus apa hubungannya dengan aku? Maksudku, aku murid nenek, dia murid Angku itu. Dalam hal kedatangannya ke sini, karena nenek bawa, apa hubungannya?”
Memang Luna jika sudah menyangkut hal yang ingin diketahui, muncul sifat egoisnya. Sebelum dia mengerti, tentu dia kejar terus dengan pertanyaan-pertanyaan. Dan pertanyaannya tadi, membuat Nenek Sirici tersudut!
“Kami adalah teman lama, sekaligus musuh lama,” ujar Angku Pincuran Gadang mencoba menerangkan. Tetapi setelah itu dia diam, tak tahu apa yang akan disebut lagi.
Tiba-tiba Jack menyela,”Biarkan cerita para orang tua itu. Kita tak perlu tahu. Sekarang yang paling penting adalah menangkap Mitchael Bonn hidup-hidup.”
Luna mengangguk. “Kau benar. Tetapi, Mitchael Bonn, untuk apa dia ditangkap?”
Lalu dengan ringkas Jack menjelaskan pertalian-pertalian yang ada. “Kami menduga, Mitchael Bonn adalah bagian dari Ksatria Dunia. Sebuah organisasi yang telah memanfaatkan temuan-temuanmu untuk kepentingan mereka!”
“Dan kamu dari organisasi apa, Jack?”
“Ehhh… aku… aku hanya orang yang kebetulan saja mengetahui peristiwa itu,” jawab Jack berbohong. Tentu saja dia tak mau mengakui dirinya sebagai bagian dari organisasi spionase internasional yang bertugas menjaga keseimbangan dunia!
Luna diam sambil meneliti pengakuan Jack dalam kepalanya. Seketika Jack langsung mengkoneksi. “Pikirkan kenapa kamu terlibat dalam peristiwa-peristiwa itu. Bagaimana awalnya dengan Mitchael Bonn, lalu Oliver Weiss, Hana Wang dan Ali Husayn.”
Koneksi Jack membuahkan hasil. “Untung mereka tidak tahu rumus-rumus itu,” ujar gadis itu lebih kepada diri sendiri.
“Dan pabrik itu. Yaa pabrik itu. Aku harus kesana!”
“Untuk apa? Apakah kamu tidak takut bertemu dengan Mitchael Bonn?”
“Untuk apa takut. Kan dia bos aku. Dia yang membiayai.”
“Aku salah Luna. Aku betul menebak Oliver Weiss, tetapi salah menilai Mitcahel Bonn itu,” celutuk Nenek Sirici.
“Maksud nenek?”
“Ternyata dia biang semua ini. Terakhir dia menangkap tiga anak buah Jack,” jawabnya.
“Anak buah Jack? Apa maksudnya,” ujar Luna, sambil melihat lekat-lekat ke arah Jack.
Kepalang basah, lebih baik mandi sekalian. “Baiklah… Untuk kamu ketahui, aku sekarang bekerja sebagai intelijen. Kebetulan kasusmu yang dituduh sebagai dalang pengeboman di PI, aku yang menangani,” kata Jack dengan hati-hati supaya tidak membuat Luna tersinggung.
“Berarti, saat kamu mengirim pesan padaku, sebagai Amir itu, kamu sudah mengenaliku juga kan?”
Jack mengangguk, dan mencoba tersenyum. Tapi pencong (miring) senyumnya. Luna terkejut. Tetapi sesaat, karena setelah itu dengan riang dia berkata,”Tukang ojek itu, sekuriti itu, bukan kebetulan kan?”
Kembali Jack mengangguk, dan tersenyum. Lalu dia cepat-cepat memotong kendali pembicaraan,”Melihat situasi sekarang, tak ada jalan lain untuk menangkap Mitchael Bonn selain membawamu menemuinya.”
Luna mengangguk setuju. Sambil mengukir senyum paling manis, dia berkata,”Aku mau, asal aku dimasukkan ke dalam organisasimu!”
Tentu saja persyaratan ini membuat Jack terkejut. Bagaimana caranya? Dia sendiri bisa direkrut karena direkomendasikan Ling. Apakah dia bisa merekomendasikan Luna?
Teringat Pak Mahmud, Jack tersenyum dan menatap Luna,”Bila kamu masuk, selamanya tak boleh keluar. Kecuali mati. Apa kau sanggup?”
“Kan ada kamu juga. Tak apa-apa selamanyapun di situ,” jawab Luna dengan enteng.
Jack hampir meletus jantungnya mendengar itu. Nenek Sirici tertawa masam, karena dia tahu Luna bukan bermaksud seperti yang dimaksud Jack. Angku Pincuran Gadang menggeleng-gelengkan kepala melihat kenaifan Jack menilai perempuan!
“Ruang hatimu masih rawan, Jack,” gumam Angku Pincuran Gadang sambil memperhatikan Jack dan Luna tertawa-tawa lantaran sudah bersepakat untuk segera ke Jakarta.
Beberapa saat setelah itu, puncak Gunung Kerinci itu pun sepi. Hanya bau belerang dan desau angin yang seolah-olah menghantarkan lenyapnya aroma kemenyan dan wangi bunga cempaka.

Keenambelas:
Biasanya lima orang yang rapat di ruangan yang kecil itu. Sekarang bertiga. Itupun salah satu darinya adalah orang baru!
“Ini Luna pak. Fisikawan yang sedang dicari itu,” kata Jack memperkenalkan gadis berjilbab itu.
Luna menyalami Pak Mahmud dengan hangat. Sambil tersenyum manis. Sehingga tak urung Pak Mahmud jadi salah fokus. Betapa tidak, Luna adalah gadis semampai bertubuh sintal. Kulitnya kuning langsat, khas Nias. Dan matanya riang, yang menyenangkan buat dipandang. Siapa yang tak suka memandang gadis cantik bermata riang?
Belum cukup? Luna adalah fisikawan yang menggemparkan dunia dengan teori-teorinya yang spektakuler. Sehingga kepintarannya itu tergambar pada wajah ceria, optimis dan penuh percaya diri.
“Rumus-rumus itu, kenapa mereka memerlukannya,” tanya Pak Mahmud. Luna melihat pada lelaki separoh baya itu. Dia memaklumi bahwa lelaki ini adalah komandan di situ. Oleh sebab itu gadis ini perlu membuat kesan. Supaya dirinya diterima, minimal hingga urusan dengan Mitchael Bonn selesai.
“Itu adalah rumus tentang kefisikaan alam gaib,” jawabnya ramah. “Dan kami tengah membuat alat untuk mencitra alam gaib tersebut. MPAG namanya. Mesin Pencitra Alam Gaib,” tukuk Luna.
Meskipun sudah tahu, dan dari informasi Pak Mahmud saat mereka berdua bicara–sebelum Luna dibolehkan masuk tadi–Jack pun diberitahu bahwa seluruh lokasi pabrik beserta semu aset yang ada telah diperiksa secara menyeluruh, prototipe MPAG pun sudah diamankan, tetapi lelaki ini ingin tahu lebih banyak, langsung dari penemu teorinya.
Sebenarnya Jack merasa lucu juga dengan obsesi gadis ini buat mencitra alam gaib. Sesuatu yang sudah dipikirkannya sejak SMA hingga kuliah di UNP dengan diselingi diskusi dengan Pak Asrul. Tetapi akhirnya Jack sampai ke jalan buntu di perpustakaan IAIN Imam Bonjol, di Lubuak Lintah, Padang. Kebuntuannya itu disebabkan peringatan Tuhan dalam Al Quran, bahwa perkara ruh adalah urusan-Nya. Hanya sedikit pengetahuan tentang ruh yang diberikan, selebihnya adalah gaib!
“Maksudmu, dengan MPAG bisa mencitra keberadaan ruh,” celutuk Jack. “Bukankah ruh adalah hal yang tidak terkuantitasi secara partikel,” jawab Luna. “Sehingga pada ruh berlaku Fisika Kuantum. Dan segala hal menyangkut Fisika Kuantum tidak gampang merumuskan fenomenanya, apalagi mengukur. Dan sudah pasti akan sulit membuat alatnya,” tukuk Luna bersemangat.
Rupanya jika sudah membahas fisika, gadis ini ibarat itik di suruh ke air. Berlipat-lipat semangatnya. Apalagi bila ada perdebatan lantaran pendapat yang berbeda, keegoisan gadis cantik ini akan muncul.
“Memang. Tetapi kan boleh diasumsikan ruh sebagai gelombang,” ujar Jack tak kalah bersemangat lantaran dia teringat kebuntuannya yang dahulu seolah mendapat jalan baru.
Luna memandang Jack lekat-lekat. Jack membiarkan saja, tanpa mau mengkoneksi. Jack berpikir, biarlah diskusi ini berjalan apa adanya, tanpa perlu mencuri informasi dari dalam pikiran Luna.
“Ehhh… kamu mengerti Fisika?”
“Dia lulusan Astro Fisika di Maroko,” jawab Pak Mahmud.
Luna mengangguk-angguk. “Tentu kamu mengerti juga tentang tauhid dan kegaiban. Atau bolehlah kita beri istilah spritualitas Islam,” tanya Luna.
Jack mengangguk,”Sedikit-sedikit. Hanya dari diskusi dengan beberapa ulama di Maroko itu,” jawab Jack.
Luna tersenyum. “Kalau begitu, pilihanmu untuk berhenti sudah tepat. Karena spritualitas Islam itu untuk dirasakan, bukan dicari!”
Sekarang Jack yang mengangguk-angguk dan tercengang. Soalnya ada kontradiksi antara yang sedang dibuatnya dengan apa yang barusaja diucapkan. Bahwa Luna sudah sampai pada kesimpulan yang mencengangkan; ruh bukan untuk dicari, tetapi untuk dirasakan!
Boleh pula dikaji fenomena psikologinya, untuk mendalami hal-hal yang menyangkut kejiwaan. Sebab sebagian besar ulama berpendapat bahwa ruh ada di dalam jiwa. Dalam batin berbatin pula. Walaupun Jack punya pemahaman sendiri dan meyakini ruh adalah energi dan berada dalam medan energi yang maha luas, yang disebut alam semesta. Karena itu, menurut Jack, dan seperti yang disurahkan Angku Syekh, ruh itu melingkupi seluruh alam!
Terkenang akan pengalaman spritualnya dengan Angku Syekh, lelaki ini pun merespon pendapat Luna,”Ya, kesimpulan tersebut sudah ada di kampung-kampung ratusan tahun yang lalu,” tutur Jack. Luna tersenyum mendengarnya. Mungkin dia ingat bahwa dirinya sekampung dengan Jack.
“Kamu benar Mir. Itu pernah diajarkan ustad Ismail kan?” Jack tergagap lantaran dipanggil namanya saat kecil. Namun hanya sesaat, sebab Pak Mahmud sudah menginterupsi sambil mengalihkan pandangannya dari layar monitor ke arah mereka berdua. “Hei… kalian mau membahas fisika, mendiskusikan ilmu Tauhid, atau sedang bernostalgia tentang Talao?”
Jack dan Luna serentak tertawa. Pak Mahmud juga tertawa. Luna tertawa lantaran teringat pernah menjewer telinga Jack. Sedangkan Jack tertawa lantaran ingat pernah melihat Luna telanjang saat bocah dahulu. Adapun Pak Mahmud tertawa karena senang, dirinya sudah masuk ke dalam komunikasi mereka.
Tetapi Jack segera mengalihkan pembicaraan ke topik semula. “Bagaimana info terkini, pak?”
Pak Mahmud masih menatap layar monitor,”Semua buntu. Tak satupun sumber kita yang tahu keberadaan MB.”
Luna melihat pada Jack. “MB itu, Mitchael Bonn, Luna. Oya, apakah di pintu-pintu juga tak terlihat, pak?”
Pak Mahmud menggeleng,”Tak ada tanda-tanda dia keluar.” Jack kembali bertanya,”Bagaimana dengan sumber di luar? Tidak mungkin pusat tak tahu.”
Yang ditanya tetap diam. Lalu sambil bersandar di kursi, lelaki itu merogoh hp di saku celananya. “Pusat, ini J. Kami perlu posisi MB,” katanya.
Memang alat mirip hp itu adalah piranti komunikasi searah tetapi bisa terpantau di seluruh dunia, karena menggunakan satelit sebagai penghubung. Itu bukan hp, tapi dibuat bentuknya seperti hp. Bilamana apa yang diperlukan sudah ada jawabannya, maka pusat segera mengirim via email yang terenkripsi secara berlapis. Sehingga hanya pemegang otorisasi saja yang bisa mengakses melalui monitor yang ada.
Luna diam saja mengamati ruangan kecil itu. Tadi di luar, dia juga sudah melihat berbagai piranti canggih, sebagian besar dia kenali sebagai superkomputer yang menggunakan teknologi kuantum.
Sekarang, melihat dua lelaki berbeda umur itu blank dan buntu, Luna teringat bahwa dirinya pernah berkirim email dengan MB. “Boleh saya coba via email, pak,” tanya Luna pada Pak Mahmud.
Pak Mahmud tak merespon, dia hanya melihat pada Jack. “Tunggu dulu. Untuk kamu ketahui, MB menyandera tiga anggota. Dan itu mesti diselamatkan,” katanya.
Luna mengangguk. Dia faham situasinya, tetapi gadis itu hanya melihat satu jalan untuk mengetahui keberadaan Mitchael Bonn alias MB. Yakni via email. Tapi bagaimana caranya supaya saat email dibuka atau terjawab, sekaligus bisa diketahui posisi yang bersangkutan? Lalu apa isi email supaya MB masuk perangkap?
Pelik memang. Karena selain menemukan MB, harus pula bisa menyelamatkan tiga orang “koki”, serta mengantarkan Luna sebagai umpan, sekaligus perangkap. Andaikan Luna mau, maka harus diatur strategi supaya tak ada korban, dan MB bisa dibekuk!
Tiba-tiba Luna berkata,”Aku bisa. Dulu secara iseng, aku pernah mengembangkan program mata-mata by email dengan menggunakan prinsip fisika sederhana.”
Luna sengaja menggantung kalimatnya untuk melihat respon dua lelaki ini. “Terus, kamu ingin lakukan eksperimen, butuh waktu berbulan-bulan,” kata Pak Mahmud agak skeptis.
Memang sebenarnya lelaki itu masih kurang sreg dengan bergabungnya Luna. Pertama karena dirinya tak yakin akan kemampuan Luna di lapangan, dan yang kedua sejauh mana dedikasi gadis itu bisa diharapkan? Apakah dia mau mengorbankan selembar nyawanya untuk menjaga kerahasiaan organisasi?
Karena keraguan itulah, maka Pak Mahmud hanya mau menerima untuk sementara saja. Sampai MB ditangkap dan Luna adalah satu-satunya orang yang diminta oleh MB untuk ditukar dengan sandera. Hanya karena dasar itu Pak Mahmud mau menerima Luna.
Dan untuk menjadikan Luna permanen, dipastikan Pak Mahmud akan menolak mentah-mentah. Karena dimanapun dalam organisasi apapun, konflik kepentingan harus ditiadakan. Apa jadinya bila dua orang–secara gejala yang tampak–saling menyukai dipekerjakan dalam unit organisasi yang dinamikanya sangat tinggi dan nyawa taruhannya? Bisakah mereka akan menomorsatukan organisasi?
Jack maklum dengan prinsip Pak Mahmud. Karena itu dia tidak hendak membawa Luna ke dalam dunia itu. Dia tak hendak menjadikan gadis itu sebagai agen. Tetapi, saat Luna ditanggapi skeptis, Jack tak enak pula. “Coba kita dengarkan dulu pak,” ujarnya sambil memandang Pak Mahmud langsung ke bola matanya. Dipandang demikian, Pak Mahmud agak gelagapan, tetapi dia mengangguk menyatakan persetujuan.
Luna tak ambil pusing, dia punya agenda sendiri, ingin bertemu dengan MB dalam keadaan hidup. “Ke dalam email kusisipkan virus. Begitu email diakses, virus menyebar dan mengintip IP adress penerima. Dan informasi itu langsung terbaca saat email dibuka yang bersangkutan,” ujar Luna menjelaskan.
“Jika email itu tak diterima, bagaimana?”
“Aku dengannya punya notifikasi khusus, pasti dia angkat, Jack,” jawab Luna. Mendengar itu hati Jack berdesir. Ada apa Luna dengan MB?
“Kami sudah lama berhubungan. Dan aku yakin, MB tidak tahu bahwa aku sudah tahu permainannya. Aku sudah tahu bahwa dia bekerja untuk Ksatria Dunia,” lanjut Luna tanpa mempedulikan Jack yang curiga. Jack mencurigai hubungan Luna dengan MB, apakah hanya hubungan profesional saja? Atau itu adalah hubungan personal?
“Iya pak. Aku sudah menceritakan padanya,” kata Jack meyakinkan Pak Mahmud, sekaligus mengakui bahwa dia telah membocorkan perihal MB dan komplotannya.
Beberapa saat kemudian, Luna sudah duduk di depan layar monitor, di ruang sebelah. Pak Mahmud memperhatikan dengan seksama cara Luna bekerja. Cekatan pula gadis ini. Beda-beda tipis dengan Vivien. Tetapi yang ini jauh lebih cantik, dan lembut. Kalau Vivien cantiknya agak maskulin–dia terlihat jenggo (kelaki-lakian).
“Nah, ini kalimat yang ingin kukirim,” ujar Luna memperlihatkan konsep isi email yang akan dikirimnya.
Aku ditangkap seorang bernama Jack.
Jack mengangguk setuju dan memahami jalan pikiran Luna. Tetapi tidak demikian dengan Pak Mahmud. “Seharusnya kamu tulis; Rumus-rumus itu banyak yang mengincar. Bisa bertemu….”
“Nahhh… ini lebih sempurna, pak. Aku setuju,” ucap Luna segera. Tentu saja persetujuan Luna membuat Pak Mahmud bangga. Siapa yang tak bangga dipuji gadis cantik. Setua apapun lelaki, dapat pujian gadis belia, bisa bikin hidung mengembang!
Dan lagi-lagi Jack setuju. “Kamu ini bagaimana Jack. Yang tadi setuju, yang ini juga setuju,” kejar Luna dengan senyum riang seolah-olah itu adalah canda. Padahal gadis ini mungkin saja sedang memanfaatkan keperempuanannya buat memikat dua lelaki itu sekaligus.
Mendengar itu, cepat-cepat Jack mengkoneksi. “Ahhh… sebaik-baiknya wanita, jika sudah keluar keegoannya buat menguasai, beginilah jadinya,” gerutu Jack dalam hati.
Tetapi, memang ide Pak Mahmud lebih berdampak, dan jika MB terpancing, bisa sekaligus dapat dua. Dapat IP adress, dan dapat pula alamat untuk bertemu. “Maksud aku, ide ini lebih baik, karena ganda dampaknya. Pertama IP adress, kedua alamat untuk bertemu. Tentu saja jika dia mau menemuimu,” tutur Jack sambil tersenyum datar.
“Pasti dia mau bertemu, sebab yang dia cari adalah rumus-rumus itu!”
“Benar pak. Dia memang antusias sekali dengan teori-teori fisika,” tutur Luna yang makin terang-terangan berpihak pada Pak Mahmud. Sedangkan Jack melihatnya sepintas saja, sebab baginya yang penting adalah bagaimana Buyung, Gatot dan Vivien dibawa kembali ke rumah makan dengan selamat.
Setelah ada persetujuan, Luna pun bersiap-siap mengirimnya. Tetapi, tiba-tiba Jack meraih tangan Luna yang akan memencet tuts sending (tombol mengirim). “Tunggu dulu, bukankah jika dikirim di sini, IP adress tempat kita akan diketahui MB?”
“Iya… kau benar Jack. Bagaimana baiknya, Luna,” tanya Pak Mahmud yang mulai menyebut nama gadis itu.
Luna tersenyum manis. “Itu sudah diproteksi kok. Mungkin teknisi di sini, lupa memberi tahumu, Jack,” ucap Luna yang diamini Pak Mahmud,”Iya Jack, Buyung pernah cerita!” Tetapi Jack tetap saja kuatir. Namun dia memilih diam.
Begitulah, pesan itu pun terkirim. Dan, sudah 30 menit, email itu belum juga direspon. Hingga 70 menit, belum juga. Sudah lewat dua jam, belum ada tanda-tanda, dan tak ada notifikasi yang masuk.
“Ada yang salah,” tanya Pak Mahmud. Luna menggeleng sambil mengangkat bahu, dan menyibakkan jilbabnya yang tergerai. Sedangkan Jack diam, dengan keheranan yang bertumpuk!
“Jangan-jangan dia sedang mempersiapkan sesuatu sebelum menjawab. Supaya kita dengan mudah diperangkapnya,” ucap Jack. Pak Mahmud dan Luna diam pula.
Sudah buntu dengan sumberdaya yang ada, Jack pun menekur, pura-pura menguap, dan diapun mengkoneksi alam. Ditelusurinya sinyal-sinyal yang aneh di jagad raya. Tak satupun yang perlu dicurigai. “Apa yang salah,” rungutnya dalam hati.
Tiba-tiba Jack teringat Buyung, Gatot dan Vivien. “Bodohnya aku, kenapa tidak mengkoneksi ke mereka…!” Maka itulah yang dilakukan Jack. Mula-mula Buyung, rupanya “koki rumah makan” ini lagi dikurung di sebuah ruangan bawah. Juga ada Gatot di situ. Keduanya dengan tangan terikat. Jack bisa mengikuti pembicaraan mereka. “Dimana kita Tot?” “Jika dirasakan ada gerakan-gerakan, tentu kita di atas kendaraan. Atau sesuatu yang sedang bergerak.” “Mobil, pesawat terbang, atau kapal?” “Mobil jelas tidak Yung. Tinggal dua kemungkinan.”
Lalu dua orang itu diam. Jack pun terus mengkoneksi. Dicari-carinya Vivien. Tetapi tak bersua. Kemana dia? Sebagaimana diyakini Jack, pengkoneksian akan gagal hanya pada orang yang tidur atau orang yang tak sadar. Mungkinkah Vivien tak sadar, atau tidur?
Kembali Jack memeriksa pikiran Buyung. Dia membisikkan nama Vivien. Dan, Buyung pun bicara,”Tadi Vivien di bawa kemana, Tot?” “Kata petugas tadi menghadap komandan di atas!”
Jack bersiul girang. Tentu MB bersembunyi di sebuah kapal. Tak salah lagi. Tak ada istilah atas untuk pesawat terbang. Istilah atas, bisa jadi ada pada kapal. Karena para komandan biasanya ada di atas. Ruang kemudi, geladak, atau ruang lainnya ada di atas. Yang di bawah hanya ruang mesin. Termasuk ruang tempat Buyung dan Gatot ditahan.
Jack makin menekur mengkoneksi alam. Dia tidak tahu bahwa Pak Mahmud dan Luna sedang sibuk melihat layar monitor yang sudah memberi tanda notifikasi. “Nahhh… ini alamat IP nya,” tutur Luna dengan riang.
Jack tersentak. Dia pun mendongak. Dan melihat Pak Mahmud dan Luna sedang memelototi layar monitor besar itu. Tetapi, kok Pak Mahmud berada dekat-dekat ya? Jack membunuh curiga, dan berseru,”Coba cari IP address kapal-kapal yang sedang di tengah laut!”
Luna dan Pak Mahmud terkejut. Dan mereka saling menjauh. “Ehhh… bangun-bangun, kamu langsung main perintah. Kamu tidak mimpi kan,” ujar Luna dengan senyum yang gurih dan tertawa renyah.
“Coba saja,” tutur Jack serius dan memandang gadis itu langsung ke bola matanya. Luna gelagapan, dan mengangguk patuh. “Ini, ada… ooo 32 bit…!
“Tentu lebih mudah. Karena saat ini IP versi 4 sudah jarang dipakai,” tutur Jack. Memang dalam dunia komputer, IP address ibarat nomor handphone, ada yang 10 digit, 11 dan 12 digit. Yang 10 digit, itu adalah nomor lama. Dalam penomoran komputer-komputer yang terhubung ke internet pun ada penomoran, itulah IP address. Yang 32 bit itu yang jadul–jaman dahulu. Jika IP versi 4 itu memiliki panjang angka 32 bit, sedangkan IP versi 6 panjang angkanya 128 bit.
“Sekarang kamu lacak di data lalulintas laut. Pilih kapal-kapal jadul. Itulah kemungkinan yang kita tuju,” teriak Jack tak sabar.
Luna mengangguk. Dan segera melakukan searching. Tak lama, dia sudah punya tiga kapal yang sedang berlayar di sekitar Pulau Seribu! Gadis itu menampilkan foto satelit tiga kapal tersebut. Untungnya, ketiga kapal dimaksud berlayar berdekatan, di pantai utara Jakarta. Di perairan dekat Pulau Seribu.
Jack mengamati tiga kapal itu. Satu kapal nelayan, satu kapal pesiar dan satu lagi kapal phinisi. Pilihannya hanya dua, antara kapal phinisi dan kapal layar. Bagaimana memastikannya?
Kembali Jack mencoba mengkoneksi Vivien. Ternyata bisa. Dia mulai masuk ke pikiran gadis itu. “Apa itu kapal layar?” Jack mengangguk-angguk, karena Vivien mengiyakan dalam pikirannya.
“Kita coba kapal phinisi itu,” ujar Jack seraya menelpon seseorang. Ada tiga orang yang ditelponnya. “Amankan,” ujar Jack.
Orang kedua,”Awasi dalam jarak!” Dan kepada orang ketiga dia menyewa speed boat.”Uangnya segera dikirim,” ujarnya sambil melangkah ke ruang sebelah. Tak lama dia masuk dengan membawa kemeja taktikal. Ungu warnanya. Itu milik Vivien yang belum dipakai. Masih dalam plastik saat Jack membukanya, dan memasukkan sebutir plastik seukuran pasir ke dalam salah satu saku kecil di bagian ketiak.
Sekarang baju itu diserahkannya pada gadis itu,”Ada ruang ganti di sebelah. Silakan,” ujarnya sambil melihat gaun Luna yang berbahan halus, tak cocok dipakai untuk pakaian lapangan!
Tak lama, Luna masuk dengan stelan yang gagah. Baju taktikal warna ungu, celana jeans hitam, dan jilbab bewarna senada. “Siap komandan,” ujar Luna mencoba bercanda.
Sambil tersenyum, Jack melihat ke arah Pak Mahmud,”Kami pergi pak,” ujarnya seraya mengajak Luna ke parkiran rumah makan. Di situ sudah menunggu mobil yang biasa dipakai Jack. Berdua mereka menuju utara Jakarta.
“Jack, apa rencanamu?”
“Belum pasti. Yang jelas, kedatangan kita tidak akan mereka duga. Bukankah banyak wisatawan yang mengelilingi Pulau Seribu dengan speed boat,” kata Jack.
“Lho, agen macam apa kamu. Harusnya kan ada rencana!”
Melihat Luna memprotes begitu, Jack tertawa saja. Dia berpikir lebih baik Luna tidak tahu rencananya, supaya operasi itu berjalan lancar.
Karena hanya dijawab dengan tertawa, Luna mana mau berhenti. “Aku tidak takut. Kamu tak perlu cemas,” katanya ketus.
“Tuan putri, percuma juga kita membuat rencana, karena kita belum akan mendekati kapal phinisi itu.”
“Lho. Terus kita kemana dong?”
“Pesiar. Sambil menikmati keindahan Pulau Seribu. Ada wisata bawah laut, jika kamu mau,” jawab Jack sekenanya.
Luna diam. Mungkin panas hatinya. Mobil melaju kencang di jalan tol Pluit-Tanjung Priuk. Di perjalanan Jack menelpon seseorang. Dia memastikan speed boat. Dan sejam setelahnya, Jack dan Luna sudah membelah laut pantai utara Jakarta.
Tujuhbelas:
Memang ke gugusan pulau yang banyak itu Jack mengarahkan speed boat. Hari belum petang ketika mereka merapat di dermaga kecil sebuah pulau dengan pantai berpasir putih.
Jack menambatkan speed boat. Lalu melihat sekeliling. Ada kilatan cahaya nun di tengah laut. Itu adalah isyarat bahwa tugas mengamankan kapal phinisi sudah selesai. Makanya Jack tersenyum puas, karena dia yakin Buyung, Gatot dan Vivien tentu selamat pula.
Lalu dia merogoh saku, dan mengangguk puas begitu melihat dua titik sinya berkedip-kedip di layar smartphone nya. Yang satu adalah titik keberadaan tukang pantau yang dia tugaskan untuk mengawasi dalam jarak tertentu. Yang satu lagi titik keberadaan Luna yang kini sudah mulai bergerak. Jack sengaja memasukkan “butiran plastik” ke dalam saku baju taktikal gadis itu.
Luna melompat duluan. Gesit sekali gadis ini. Di dalam balutan kemeja taktikal dan celana jeans serta jilbab, jelas menunjukkan bahwa dia gadis muslim. Jack menambatkan speed boat sambil melongo menyaksikan gadis itu bergerak.
Untunglah kemejanya tidak slimfit (pas badan), dan celana jeansnya gombrong. Bila semuanya slimfit, dipastikan gadis ini akan “dikeroyok” jutaan mata lantaran demikian menariknya. Maklum, jarang-jarang ada yang punya tubuh proporsional seperti gadis ini.
Bila bahu dan pinggul seorang perempuan hampir sama lebarnya, dengan pinggang lebih menceruk paling jauh tujuh cm, kaki ramping dan tubuh sedang agak panjang, itulah standar tubuh proporsional wanita. Dan Luna punya semua itu.
Bahkan jika diukur secara kesehatan pun, tubuh gadis ini memang proporsional adanya. Tubuh proporsional wanita dapat dilihat dari berat badan yang sesuai dengan tinggi badan dan usia, lazim diukur dengan Indeks Massa Tubuh (IMT). Dan IMT dapat dihitung dengan rumus berat badan (dalam kg) dibagi dengan tinggi badan (dalam meter) dikalikan tinggi badan (dalam meter). Untuk ukuran normal (proporsional) IMT nya berkisar antara 18,5–22,9.
Dalam kemelongoannya, Jack benar-benar menyadari betapa Luna adalah permata yang mesti dijaga. Bukan lantaran sesuatu yang sifatnya pribadi, melainkan karena gadis yang sedang matang-matangnya ini justru seringkali naif dan polos. Itu sesuatu yang berbahaya buat seorang gadis serupa Luna ini.
Berpikir seperti itu, Jack lekas-lekas menyusul Luna yang sudah berlarian di pasir putih. Tak lama, mereka sekarang berlari menelusuri jembatan yang menghubungkan dua pulau. Jembatan Cinta namanya, yang menghubungkan Pulau Tidung Besar dan Tidung kecil–salah satu dari 110 lebih pulau di Kepulauan Seribu, dan destinasi wisata paling menarik di kepulauan ini.
Meskipun ada 110 lebih pulau, namun hanya sebelas yang berpenghuni. Sebelas pulau berpenghuni itu, antara lain Pulau Untung Jawa, Pulau Pari, Pulau Lancang Besar, Pulau Tidung Besar, Pulau Tidung Kecil, Pulau Pramuka, Pulau Panggang, Pulau Harapan, Pulau Kelapa, Pulau Kelapa Dua, dan Pulau Sebira.
Di samping pulau-pulau berpenghuni, terdapat pula beberapa pulau yang dijadikan sebagai pulau wisata, seperti Pulau Bidadari, Pulau Onrust, Pulau Kotok Besar, Pulau Puteri, Pulau Matahari, Pulau Sepa, dan sebagainya.
Daya tarik wisata bahari di Kepulauan Seribu adalah terumbu karang. Sehingga untuk pelestariannya pemerintah menetapkan zona konservasi berupa taman nasional laut bernama Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKS).
Jack terus bersisian mengiringi Luna yang berlari di undakan-undakan jembatan yang melengkung di tengah-tengah itu. Dan di tengah-tengah lengkungan, Luna berhenti. Gadis itu mengembangkan dua tangan, seolah-olah mau terbang. Dia menghadap ke arah barat, menatap matahari yang segera beranjak pergi.
Hanya mereka berdua saja di atas jembatan itu. Mungkin karena hujan rinai (rintik-rintik), dan bukan hari libur sehingga tak banyak wisatawan. Kalaupun ada, para pelancong lebih memilih diam di homestay sambil rebahan dan menjadi saksi matahari memasuki laut. Dan Jack melihat takjub, betapa keindahan sunset berpadu dengan pesona Luna yang merentang tangan dengan jilbab tergerai ditiup angin senja.
Gadis itu berdiri di pinggir pagar, dan apabila ada tukang foto yang piawai, tentu bisa diakali mengambil sudut jepretan, sehingga tak kelihatan pagar jembatan. Pasti fotonya seperti orang yang mengambang di udara, karena lantai jembatan yang bewarna kelabu kayu akan kelihatan sama gelap dengan suasana sekitar yang mulai kelam.
Bila ada kamera, pasti itu momen foto yang sempurna. Dan Jack mengeluarkan smartphone, lalu jepret. Persis sesaat sebelum matahari hilang, Jack beruntung mengabadikan Luna yang aduhai; jilbab bewarna ungu pucat yang tergerai-gerai ditiup angin, dengan baju taktikal warna ungu, dilatarbelakangi sunset nun jauh di tepi langit, sungguh menonjolkan kecantikan gadis ini. Lampu blitz otomatis pada smartphone membantu pencahayaan objek, sehingga rona merah tembaga berpadu dengan kulitnya yang kuning langsat membuat wajah Luna bercahaya. Hasilnya, dalam foto terlihat Luna seperti tokoh hero animasi yang sedang terbang. Laksana bidadari yang nyasar keluar istananya menjelang malam!
Dalam ketertakjubannya melihat foto di smartphone sambil sesekali melihat Luna yang malah memicingkan mata menikmati suasana yang alam di tepi pagar–seolah-olah mematut-matut mana yang paling sempurna antara yang real dengan foto–tiba-tiba terdengar gadis itu terpekik. Dan jatuh ke laut! Byurrr…
Kenapa bisa? Apakah tanpa sepengetahuan Jack, ada orang yang diam-diam mengamati mereka, sejak datang di pulau itu. Entah bagaimana caranya, mereka membuat Luna terpekik, dan jatuh ke laut. Atau memang lantaran Luna yang tergelincir saat memuaskan diri melepas kepergian mentari ke peraduannya? Entahlah.
Yang jelas, begitu mendengar pekikan itu, sesaat Jack terpana. Lalu, tanpa pikir panjang, diapun terjun ke laut. Jack berusaha mengapung untuk melihat situasi. Tetapi tak ada tanda-tanda ada orang, atau sesuatu apapun. Kecuali sebuah kayu sebesar paha yang mengangguk-angguk digoyang kecipak air. Laut itu diam dan kelam, sesekali beriak bergelombang. Namun Luna, lenyap entah kemana?
Sementara di bawah jembatan itu, Luna dipeluk erat-erat oleh Mitchael Bonn. Gadis itu mungkin dibius. Buktinya dia tidak meronta dan tanpa suara. Lelaki asing itu dengan sigap mengepit rangka jembatan dengan dua kaki, dan beringsut beberapa meter dari puncak lengkungan jembatan, hingga sampai ke bagian yang tak melengkung. Kebetulan di situ ada pijakan berpengaman yang sengaja dibangun untuk para pekerja saat memeriksa atau melakukan perawatan jembatan.
Memang Jembatan Cinta adalah ikon Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil. Untuk sekaligus memudahkan para pelancong menyaksikan kecantikan terumbu karang di dalam laut biru nan jernih itu, direnovasi lah jembatan tersebut sejak tahun 2022 lalu. Hasilnya adalah jembatan berangka besi yang kokoh, melengkung di tengah, dan dicat dominan dengan warna pink, sehingga menjadi tempat yang wajib didatangi para pelancong yang berwisata ke pulau ini.
Kini di bawah jembatan itu, Mitchael Bonn telah mendapatkan apa yang dia cari. Tenggat waktu tiga bulan yang diberi para ketua Ksatria Dunia tak boleh dianggap main-main. Dan kini MB telah memperolehnya.
Sekilas memang aneh, kenapa MB bisa mengakali Jack dan markas, sehingga dapat menangkap Luna dengan mudah. Hanya berbekal saputangan yang diolesi bius serta kemampuan bergelantungan di balok rangka jembatan, MB telah mengalahkan Jack dengan telak begitu sebuah kayu sebesar paha dilemparkannya ke laut. Terdengar bunyi byurrr, dan tak lama setelahnya, terdengar lagi bunyi byurrr…
Bagaimana MB bisa tahu keberadaan Jack dan Luna? Itulah yang beberapa jam yang lalu dikuatiri dan dipertanyakan Jack, dan dibantah oleh Luna dengan alasan IP address markas sudah diproteksi. Hal ini pun dikuatkan oleh Pak Mahmud.
Dan semua itu benar adanya. Bukan melalui IP address MB melacak Luna. Melainkan melalui hp gadis itu. Diam-diam MB telah menyadap semua hp milik para ahli, bahkan karyawan di pabrik oksigen cair tersebut. Sehingga MB sudah mengetahui “tanda pengenal” dan akun email yang didaftarkan untuk hp dimaksud.
Sebagaimana diketahui, HP bisa dilacak karena memiliki tanda pengenal berupa International Mobile Equipment Identity (IMEI) yang tidak bisa diubah atau hilang. IMEI berbeda-beda untuk setiap perangkat HP. Kemudian dengan menggunakan fitur “Find My Device” dari Google dengan akun email Gmail yang terdaftar pada perangkat tersebut. Fitur ini bisa digunakan untuk melacak HP yang mati atau nyala.
Itulah sebabnya lebih dua jam baru MB membalas email. Sebab sebelum itu, dia ingin memastikan keberadaan Luna lewat pelacakan IMEI nya. Tentu saja dia terkejut karena Luna sedang berada di markas organisasi tempat Jack bekerja. Dan insting intelijennya langsung bekerja, sehingga MB menduga bahwa email berisi ajakan bertemu itu adalah jebakan!
Maka, MB tidak membalas email itu sama sekali. Hanya membukanya lantaran itu adalah notifikasi khusus yang dia sepakati dengan Luna.
Di pihak MB, merasa dirinya di atas angin, karena dia tidak membalas email dan memberikan lokasi pertemuan, tetapi memiliki lokasi keberadaan Luna. Ini tidak diketahui markas.
Tetapi di pihak markas, justru dengan dibukanya email, otomatis sudah terlacak IP addressnya. Ini tidak disadari MB.
Kedua pihak merasa di atas angin!
Untunglah Jack punya plan B, rencana cadangan. Hal mana merupakan kebiasaannya sejak lama. Bahkan setelah bergabung di dunia spionase, multiplan–banyak rencana–adalah keharusan yang diterapkannya. Oleh sebab itu, tiga kali menelpon tadi adalah untuk multiplan yang sistematis.
Orang pertama yang dia telpon adalah temannya di polisi perairan untuk menahan kapal phinisi dengan dalih apapun, atas nama negara! “Amankan,” begitu tadi Jack menelpon.
Dan saat dia melihat sekeliling, waktu baru datang di pulau itu, dia melihat kilatan cahaya dari jauh. Itu isyarat bahwa tugas pengamanan sudah selesai. Makanya Jack mengangguk-angguk.
Sedangkan orang kedua adalah tukang pantau, yang juga sudah diketahui keberadaannya melalui titik sinyal yang bergerak.
Kini Jack masih mengapung. Bahkan telentang di atas air. Dia memusatkan kosentrasi untuk merasakan energi alam. Tiba-tiba Jack merogoh saku dan mengeluarkan smartphone yang tahan air itu. Biasalah, para agen tentu dibekali dengan peralatan khusus untuk menghadapi berbagai kemungkinan di lapangan!
Jack terkejut, karena dua sinyal itu seolah berdempetan. Dan jaraknya tak terlalu jauh dari tempat dia mengapung. Karena hari sudah kelam, keberadaan Jack yang mengapung nyaris tak terlihat. Bahkan oleh MB yang saat ini masih memeluk Luna yang mulai menggeliat!
Jack dan MB sama-sama tak melihat satu sama lain. Padahal jarak mereka hanya beberapa meter. Yang satu sedang menunggu kondisi aman di bawah Jembatan Cinta, yang seorang lagi mengapung telentang di atas laut!
Sambil tetap mengapung, dengan hati-hati Jack bergerak mendekati sinyal yang berdempet itu. Ke kiri dia berkayuh. Dia berusaha sepelan mungkin. Tak boleh ada air yang berkecipak. Sebab dalam pikirannya, karena sinyal itu berdempet, maka kemungkinannya adalah; 1) orang suruhannya sudah menemukan Luna. Tetapi kenapa dempet, apa dia memeluk gadis itu? Kalau sedang memeluk, hanya dua kemungkina, Luna pingsan, atau ma… “Ahhh… jangan lah yaa Tuhan,” gumam Jack. Atau, 2) orang suruhannya ditangkap musuh (mungkin MB, atau orang suruhannya). Tapi bagaimana bisa? Bagaimana MB tahu bahwa dia menelpon seseorang untuk memantau dari jarak tertentu? Pak Mahmud saja tidak tahu siapa yang dia telpon. “Bagaimana MB tahu,” gumam Jack lagi sambil mengayuh pelan untuk menjaga keterterapungannya. Bila diasumsikan orang suruhan Jack ditangkap MB, atau orang suruhan MB, lalu kenapa sinyal itu masih ada?
Dalam berpikir itu, tiba-tiba Jack melihat sinyal itu bergerak. Perlahan, lalu semakin cepat. Dia memperhatikan smartphone nya dengan seksama. Tak salah lagi, dua sinyal itu bergerak cepat.
Jack menengadah. Dia lihat ada seseorang berlari. Arahnya ke Pulau Tidung Kecil. Dengan cekatan Jack berenang ke arah Pulau Tidung Kecil. Karena jaraknya lebih dekat, maka Jack lebih dahulu tiba di pulau itu. Dia memilih mendarat di tempat yang rimbun semak. Lalu kembali dia perhatikan smartphone, sinyal itu mendekat ke arahnya. Tapi hanya satu sinyal yang bergerak cepat. Yang satu lagi berhenti.
Jack mengamati dengan seksama. Di balik kelam itu, dalam remang-remang dia melihat seseorang berlari ke arahnya. Segera Jack merayap di pasir basah, menuju mulut jembatan. Sedangkan orang yang berlari itu tinggal beberapa meter lagi untuk tiba di ujung jembatan, tempat Jack sudah menunggu dengan hati berdebar.
Tentu Jack tidak lupa dengan ukuran badan Luna, dan dia yakini orang yang makin dekat ke arahnya itu berbadan lebih besar dan lebih tinggi. Atau memang Jack lupa menganalisa ukuran tubuh? Bukankah posisi Jack yang sedang tengkurap melihat objek yang berlari di atas jembata–posisinya lebih tinggi daripada tempat Jack tengkurap–berpengaruh terhadap sudut pandang? Apalagi dalam kelam! “Apakah Luna, atau bukan? Lalu, yang seorang lagi kemana,” pikirnya sambil menyiapkan penyergapan yang efektif untuk membuat lawan lumpuh, tanpa membunuh. Dia harus hati-hati, jangan sampai salah orang!
Dan dengan berguling di pasir basah, tepat di tengah mulut jembatan, Jack melayangkan tendangan sapuan, lalu dengan efektif dia menyambut tubuh yang rebah itu dengan totokan di pangkal telinga kiri. Orang itu terkulai. Jack membiarkannya sesaat, dan memperhatikan smartphone, ternyata satu sinyal yang tadi diam, masih diam. Tak bergerak sama sekali.
Tetapi pada saat itu Jack mencium aroma bunga cempaka. Dia terkejut, dan menghidupkan senter di smartphone. “Ooh… Luna…Jadi aku salah analisa ya…,” gumamnya heran.
Keheranan identik dengan kehilangan kewaspadaan. Begitu pula keterkejutan, ketakjuban dan ekspresi kejiwaan sejenisnya sangat rentan menghilangkan kewaspadaan seseorang. Karena itu, setiap kita diminta waspada setiap saat. Pada kondisi apapun. Dalam ajaran Jawa disebut eling.
Saat tidak eling itulah sesuatu mengenai tengkuk Jack. Dan membuat pandangannya kelam. Sama kelamnya dengan Pulau Tidung Kecil yang diyakini tempat berkuburnya seorang pelaut sakti, Laksmana Hitam!
[CTA-DPK-Kanbup-Bappeda (Solsel), 27/11/2924; pukul 13.37]
Bagaimana kelanjutan kisah ini? Akankah Jack selamat, dan terus hidup untuk mengejar Ksatria Dunia? Bagaimana kisahnya dengan Luna? Bagaimana pula dengan Persatuan Kerajaan Gaib? Tunggu saja pada buku ke-3 dari trilogi; Hati-Hati Jack & Luna.
