Hati-Hati Jack & Luna
Novel TE

Prolog:
Dan dengan berguling di pasir basah, tepat di tengah mulut jembatan, Jack melayangkan tendangan sapuan, lalu dengan efektif dia menyambut tubuh yang rebah itu dengan totokan di pangkal telinga kiri. Orang itu terkulai. Jack membiarkannya sesaat, dan memperhatikan smartphone, ternyata satu sinyal yang tadi diam, masih diam. Tak bergerak sama sekali.
Tetapi pada saat itu Jack mencium aroma bunga cempaka. Dia terkejut, dan menghidupkan senter di smartphone. “Ooh… Luna…Jadi aku salah analisa ya…,” gumamnya heran.
Keheranan identik dengan kehilangan kewaspadaan. Begitu pula keterkejutan, ketakjuban dan ekspresi kejiwaan sejenisnya sangat rentan menghilangkan kewaspadaan seseorang. Karena itu, setiap kita diminta waspada setiap saat. Pada kondisi apapun. Dalam ajaran Jawa disebut eling.
Saat tidak eling itulah sesuatu mengenai tengkuk Jack. Dan membuat pandangannya kelam. Sama kelamnya dengan Pulau Tidung Kecil yang diyakini tempat berkuburnya seorang pelaut sakti, Laksmana Hitam!

Kesatu:
Jembatan Cinta
Luna masih pingsan. Tergeletak di atas pasir yang basah. Sedangkan Jembatan Cinta tak tampak jelas, dibungkus gelapnya malam. Lampu jembatan yang samar-samar tak cukup kuat melawan gelap. Mungkin karena saat itu ada mendung tebal yang bergayut di angkasa.
Begitupun di Pulau Tidung Kecil yang tanpa kehidupan tatkala malam, semakin kelam dibalut gelap malam. Di langit pun tak terlihat bintang. Gelap sekeliling, dan tak banyak bebunyian yang meningkah sepi.
Tak lama berselang, petir menggelegar mengiringi kilatan cahaya memanjang yang membelah langit. Hujan pun turun seolah dicurahkan. Alangkah lebatnya. Bunyi hujan yang jatuh serupa simfoni yang magis, menambah seram Pulau Tudung Kecil.
Dalam gelap disertai hujan lebat itu sesosok tubuh yang tergeletak di pasir yang makin basah mulai bergerak. Luna mengucek-ucek matanya seraya melihat gelap sekeliling.
Gadis itu mencoba berdiri dengan tertatih-tatih. Kakinya ngilu. Pasti karena sepakan Jack saat dia hampir mencapai mulut jembatan.
Seperti ironi, sang gadis yang berupaya menyeberangi Jembatan Cinta ditunggu di ujungnya oleh seorang lelaki yang mungkin mendamba! Bukannya disambut dengan pelukan. Justru dijatuhkan dengan sepakan. Tepatnya jurus sapuan kaki sambil bergolek.
Dan Jack, lelaki yang mungkin mendamba cinta gadis itu, terkejut setengah mati. Keterkejutan setengah matinya itu pula yang menghantarkannya separo mati. Pingsan dan dibiarkan tergeletak di bawah jembatan.
Apa sebetulnya yang terjadi? Jack sendiri merasa yakin bahwa yang dia jatuhkan itu adalah seseorang yang sinyalnya berdempet dengan Luna. Karena tidak pasti apakah itu orang suruhannya, atau MB, atau orang suruhan MB, maka Jack hanya berniat menjatuhkan. Bukan membunuh.
Tetapi tak terpikir olehnya akan menjatuhkan Luna. Kenapa dia tidak sempat melihat ke atas? Hanya melihat bayangan yang berlari dalam kelam, lalu menjatuhkan sosok tersebut. “Kenapa aku terlalu gegabah,” keluh Jack dalam hati saat sudah beberapa menit siuman.
Jack masih tergolek di pangkal jembatan. Memang dia sengaja tak segera berdiri, untuk melihat situasi. Sekaligus memikirkan kembali rangkaian peristiwa yang terjadi.
Namun perhatiannya teralihkan. Sesosok tubuh tampak terseok-seok menjauhi jembatan. Agaknya menuju ke tengah pulau.
“Luna… tunggu… kamu mau kemana?”
Sosok itu berhenti. Cahaya kilat yang kadang-kadang mengukir langit menerangi Luna yang menoleh ke arah suara. Dengan berlari, Jack bergegas menghampiri gadis itu.
“Ka… kamu Jack. Dari tadi kemana saja? Apa yang terjadi?”
“Begitu kamu memekik, aku mendengar bunyi sesuatu yang jatuh ke air. Aku pikir kamu terpeleset. Tanpa pikir panjang, aku langsung terjun,” jawab Jack sambil mencari tangan gadis itu dengan meraba dalam gelap.
Memang di Pulau Tidung Kecil tidak ada lampu. Sedangkan Jembatan Cinta, lampu-lampunya tak terlalu terang. Agaknya sengaja dibuat agak remang-remang untuk memunculkan kesan romantis.
Tangan bertemu tangan. Luna terkesiap, seperti ada aliran listrik mengalir ke lengannya, dan berhenti sengatannya itu di jantung. Berdebar-debar seperti gendang tasa yang dipukul anak randai (sebutan untuk pemain sejenis kesenian Minangkabau).
Sementara Jack tak kalah gemetar. Bibimya mendadak kering, padahal curah hujan alangkah lebatnya sehingga lelaki ini seperti membasuh muka dengan air pincuran. Tetapi bibir dan mulutnya kering kerontang diterpa badai psikologis yang luar biasa.
Entah hujan yang sengaja membuat mereka saling merapat, atau kelam yang memberi peluang para setan bersorak-sorai, yang pasti hanya dua pasang anak manusia ini yang tahu betapa kehangatan dari jiwa yang haus menuntun mereka berdua pada naluri biologis!
Maka pasir basah adalah kasur yang lembut. Hujan adalah kelambu. Dan gelap adalah sorga yang memabukkan. Adakah seseorang harus belajar untuk sampai pada puncak mahligai cinta? Ataukah itu buatan situasi dengan musik romantis yang dimainkan para iblis laknatullah?
Begitulah, serupa umang-umang yang berupaya menyuruk di pasir basah. Seharusnya bisa lekas amblas. Rupanya kebasahan pasir bukanlah sesuatu yang mudah ditembus. Sehingga umang-umang bersitungkin (susah payah) menumbuk dengan kepalanya yang lonjong. Sementara pasir justru semakin basah saja.
Aduhai cinta. Adalah badai yang berulang-ulang datang menggoda para anak adam. Sebanyak apapun ajaran, di hadapan cinta bisa tumpul tak berbekas. Itulah ujian yang tak terperi. Apakah mencebur ke dalam lunau (lumpur) yang busuk, atau berhenti?
Pada batas yang kritis, umang-umang tertegun. Padahal pasir yang kian lembab sudah mulai membentuk lobang kecil. Kenapa umang-umang ragu? Sementara pasir sudah gemetaran seluruh rongga. Apalagi umang-umang, tak terhingga hasratnya akan kehangatan. Nun di lobang pasir basah. Dan makin basah!
Apakah karena belum ditakdirkan buat umang-umang khilaf, ataukah di saat-saat terakhir ada standar moral yang tak mau dilanggarnya? Sungguh sesuatu yang sulit dijelaskan. Bahkan cenderung menimbulkan perdebatan yang panjang. Tak berkesudahan. Serupa perdebatan klasik; mana yang dahulu telur dari ayam?
Bagaimana mempertentangkan takdir dengan batas ikhtiar dalam konteks mana yang lebih dahulu? Padahal segala sesuatu yang terjadi hanyalah karena kehendak-Nya semata! Tentu sesuatu tersebut tidak terbatas pada hal-hal baik belaka. Hal-hal yang mendekatkan orang ke neraka pun terjadi karena kehendak-Nya jua.
Pertentangan seperti ini kerap sekali membuat para pendosa ibarat jerami kering disiram minyak. Sedikit saja terpercik api, menyalalah dosa demi dosa. Lalu mereka berdalih, itu sudah takdir. Karena bukankah hanya Tuhan yang berkehendak? Berarti takdir serupa itu sudah direstui Yang Maha Berkehendak!
Apabila prinsip yang naif ini yang dijadikan alasan, kenapa anda tidak berdiri saja di tengah jalan bebas hambatan. Toh nanti perkara hidup mati adalah takdir yang telah diatur-Nya juga sejak semula jadi! Kenapa anda harus repot-repot berikhtiar mencari nafkah, padahal rezeki sudah diatur oleh Yang Maha Mengatur!
Jika anda dihadapkan pada kasus seperti ini, tanyakan saja pada yang bersangkutan; apakah dia sudah mengantongi bocoran takdir? Pasti jawabannya adalah tidak tahu. Nah, bila anda tak tahu apakah akan miskin atau kaya, berikhtiarlah sekuat tenaga buat mengumpulkan rezeki.
Bila anda tak tahu siapa yang akan menjadi jodoh, maka berikhtiarlah menemukannya. Namun, dalam kasus umang-umang yang tertegun dan alarm batinnya yang bersih berdentang-dentang melebihi deru nafasnya sendiri, lalu berhenti melobangi pasir basah itu. Dan memasukkan kepalanya ke dalam cangkang. Lalu berdiam diri. Dan tak mau keluar lagi. Itulah takdir. Yakni tatkala ikhtiar yang ditunggangi para setan laknatullah itu gagal terwujud, itulah takdir.
Jadi, takdir adalah segala sesuatu yang sudah terjadi, di ujung ikhtiar yang dilakukan. Alarm moral adalah rambu-rambu yang dibentuk sejak dari kecil, dan menjadi pakaian dalam menjalani kehidupan. Beruntung Jack sudah punya alarm moral itu. Sehingga setan-setan laknatullah berlarian pontang-panting begitu Jack menyebut astagfirullahal ‘adzim.
Luna menangis sesunggukan, sambil mengumpulkan pakaiannya yang basah berserakan. Dan mengenakannya diiringi tangis yang masygul. Sementara Jack terkapar menatap langit yang mulai terkuak ditinggalkan hujan. Berulang-ulang dia beristigfar.
Sekira limapuluh meter dari situ ada kuburan. Mungkin itulah kuburan Laksamana Hitam yang dianggap bertuah oleh masyarakat setempat. Sehingga kuburan yang berkeramik bewarna merah di bibir kuburan dan warna biru di selasarnya itu dianggap keramat oleh penduduk setempat.
Di samping kuburan berpagar besi itu, sebuah pertarungan sengit sedang terjadi. Jika ada orang di lokasi pertempuran, tentu akan heran, karena kadang-kadang ada dua sosok terlihat beradu kesaktian, seringkali hanya bau kemenyan dan aroma bunga cempaka saja yang semarak dan mendominasi. Jangan-jangan itu perkelahian hantu!!!
Dan bila ada yang menduga demikian, tak salah pula. Sebab yang berkelahi memang Angku Pincuran Gadang dengan Nenek Sirici. (baca buku pertama Simpang Hati Luna Sangir dan buku kedua Ruang Hati Jack Sangir sebagai bagian dari trilogi ini).
Kenapa mereka berkelahi? Sejak kapan mereka berkelahi?
Mungkin karena hujan lebat dengan petir sambar menyambar, tak tertandingi energinya oleh kekuatan spritual Angku Pincuran Gadang dan Nenek Sirici. Sehingga meskipun mereka berdua memantau murid masing-masing, tetapi luput tatkala kilat dan petir disertai hujan lebat mendominasi.
Petir, kilat dan hujan itulah energi illahi, Sang Pemilik Energi, yang luar biasa menurut pengamatan manusia, tetapi alangkah sangat sedikitnya dibanding yang Beliau miliki! Bahkan galaksi yang miliaran jumlahnya itu–dimana salah satu galaksi adalah Bima Sakti, dan bumi yang kita tempati adalah bagian dari salah satu tatasurya dari jutaan tatasurya yang berada dalam galaksi kita–masih sebagian kecil dari kekuasaan Sang Penguasa Alam. Sudah barang tentu, energi petir dan kilat saja bisa merontokkan energi yang dipunyai oleh makhluk, termasuk Angku Pincuran Gadang dan Nenek Sirici.
Saat luput dalam pantauan itulah sang umang-umang mengorek-ngorek pasir basah. Begitu petir dan kilat sirna, hujanpun tinggal sisa-sisa, kedua tokoh spritual itu terkejut akan hal murid masing-masing. Dan, alih-alih melerai kejadian, justru mereka saling bertengkar. Adu mulut. Kontradiktif sekali dengan yang sedang dilakukan Jack dan Luna!
“Kurang ajar, muridmu memang cabul,” ujar Nenek Sirici sambil menuding ke arah depan, di mana di situ berdiri Angku Pincuran Gadang yang tersenyum cengengesan sambil petantang-petenteng.
Direspon serupa itu, Nenek Sirici makin kalap, sehingga tanpa bicara lagi dia segera menghujamkan dua tinju ke depan. Dua larik sinar bewarna ungu, berpadu dengan bebauan bunga cempaka melesat lurus ke depan. Itulah jurus maut yang bila tiba di karang, karang pun bederai-derai! Bahkan karena aromanya saja, siapapun yang ada di situ tentu akan diterpa kantuk berat, dan bila mencoba melawan aroma tersebut, bisa menimbulkan kematian saat asapnya memenuhi paru-paru!
Tetapi Angku Pincuran Gadang justru tak bergerak, malah sambil terus cengengesan dia berkata,”Muridmu yang jongkek (genit), kenapa mau saja,” ucapnya sambil tiba-tiba menghilang, sehingga pukulan itu terus melayang menghantam udara. Sedangkan aroma bunga cempaka berpalun-palun dengan aroma kemenyan yang khas. Entah mana yang dominan, kadang-kadang bau kemenyan yang khas menguasai, adakalanya aroma bunga cempaka. Bebauan tersebut bertanding dengan seru.
Demikian pula pada kenyataannya. Kadangkala Angku Pincuran Gadang yang mendesak, adakalanya Nenek Sirici. Agaknya dua tokoh spritual ini seimbang kesaktiannya. Bedanya, jika Nenek Sirici mengomel panjang pendek sambil mengeluarkan jurus-jurus simpanannya, Angku Pincuran Gadang justru cengengesan sambil mengolok-olok lawannya yang tangguh itu.
“Kita sudah peot, kenapa ikut campur urusan mereka yang muda-muda. Dasar nenek-nenek… tak boleh melihat orang senang…!”
“Kau tentu enak…. Muridku perempuan….”
“Karena muridmu perempuan lah… maka muridku mau…,” ejek Angku Pincuran Gadang sambil berkelit dari jurus pisau sirawik Nenek Sirici dan tertawa terbahak-bahak.
“Laki-laki mau enaknya saja… Kami perempuan yang menanggung malu!”
“Wooo… sama-sama enak kok… Atau kamu tak tahu yang enak?”
“Huhhh… tua bangka cabul. Murid dan guru sama saja!”
“Ya iyalaaah… sama-sama lelaki gitu…!”
“Itu… lihat sana… muridku… waddduhhh… nyaris….,” ujar Nenek Sirici usai menoleh ke arah Jack yang sedang menjadi umang-umang!
“Naaah… kau suka juga kan….”
“Sialaaan… kamu kira aku perempuan apa?”
“Yaaa… perempuan tua lah… emang kamu merasa masih muda…?”
Nenek Sirici makin gemas. Hatinya panas bukan main. Sudahlah jurus-jurusnya tak ada yang mangkus. Lelaki gaek itu malah enak-enak saja menggodanya sambil mengelak dan berkelit sekenanya saja. Serupa kucing mempermainkan mencit, begitu kiranya yang terjadi.
Dengan hati makin panas, Nenek Sirici meningkatkan level serangannya. Seluruh kepandaiannya dikerahkan. Dia pun tak lagi melayani godaan Angku Pincuran Gadang. Bau bunga cempaka makin menggebubu. Mengatasi aroma kemenyan khas.
Tak mempan dengan godaan, membuat Angku Pincuran Gadang terdesak hebat. Tak mau mati konyol, raja alam gaib dari Minangkabau kuno ini kian berhati-hati. Dia pun mulai mengeluarkan jurus-jurus andalannya. Pertandingan itu semakin meningkat tensinya. Sudah mengarah pada level paling tinggi, hidup mati.
“Mati kau, nenek peot…!”
“Ooo… engkau yang akan kukirim ke neraka gaek pikun…,” tutur Nenek Sirici sambil duduk bersila dan mengumpulkan seluruh kekuatan batinnya. Ditantang adu tenaga sakti, Angku Pincuran Gadang pun duduk bersila, merangkap tangan di depan dada.
Keduanya duduk bersila. Berhadapan. Masing-masing merangkapkan tangan di depan dada. Lalu, seperti serentak, keduanya pun meninju udara! Tampak dua cahaya dari arah Angku Pincuran Gadang yang bewarna kecoklatan. Warna getah kemenyan. Dan dari arah Nenek Sirici pun memancar dua larik cahaya bewarna ungu.
Aroma bunga cempaka bertanding kencang bau dengan bebauan kemenyan. Saling himpit menghimpit. Begitu pula dengan cahaya kecoklatan dengan sinar ungu, saling tunda menunda. Seperti orang main tarik tambang, kadang bergerak ke kiri, sesaat kemudian ke kanan. Dua orang tokoh spritual itu makin menggandakan kekuatannya. Kelihatannya sudah sampai ke energi paling besar yang mereka punya. Terlihat dari dua cahaya tersebut tidak lagi tolak menolak. Tapi sudah menyembur ke atas, di tengah jarak keduanya.
“Inilah kesudahanmu Sirici. Rasakan…,” ujar Angku Pincuran Gadang dengan suara keras dan parau sambil menghembuskan nafasnya dengan mengayunkan kepala kuat-kuat. Terlihat asap merah pekat seperti ditiupkan dengan kompresor besar langsung mengerubungi Nenek Sirici yang masih asyik dengan kedua tangannya mendorong cahaya ungu.
Maka, ketika asap merah itu melimbubu datangnya, Nenek Sirici tidak waspada. Asap itu sesaat lagi akan terhirup olehnya. Jika sampai masuk ke paru-paru, tentu akan menghanguskan.
Persis sedetik sebelum sampai, nenek perkasa itu langsung menutup hidung dan menelungkup ke pasir sambil menyambar pasir kemudian melemparkan kuat-kuat ke arah Angku Pincuran Gadang.
Akibatnya gaek itu terpaksa menutup mulut dan rebah ke belakang. Kemudian melenting. Salto. Dan mendarat semeter di belakangnya. Begitu mendarat dengan dua kaki terpentang, Angku Pincuran Gadang mencabut pedang pusaka dari belakang kuduknya. Itulah pedang spritual yang disebut “pedang sebatang badan”.
Pedang tersebut adalah sebentuk energi yang berkumpul memanjang dari tulang sulbi terus ke sepanjang tulang belakang, dan berakhir pada ruas terakhir di kuduk. Ini adalah inti energi yang amat besar lantaran terkumpul dari latihan puluhan tahun. Dan itu adalah senjata pamungkas. Senjata paling terakhir digunakan saat pilihannya antara hidup dengan mati! Sebab begitu dipakai, pertahanan diri akan rentan. Tetapi kekuatannya super dahsyat.
Dari kuduk itulah “pedang sebatang badan” diambil. Lalu dengan melentikkan badan, Angku Pincuran Gadang berguling tiga kali ke depan, dan tepat setengah meter dari Nenek Sirici, diayunkan pedang itu kuat-kuat, mengarah ke leher.
Padahal pada saat bersamaan, wanita tua itu baru berdiri dari posisi telungkup tadi. Dan begitu tegak, pedang itu tiba!
Tringgg…
Terlihat percikan api serupa kembang api yang sedang terbakar. Di antara kedua tokoh spritual itu sudah tegak seorang lelaki muda dengan wajah kusut dan mata merah. Jack menggunakan tangan untuk menangkis pedang gurunya.
“Heiii… waang melawan angku?”
“Tidak angku… Tidak boleh…,” ujar Jack dengan nada tegas sambil membentangkan kaki membentuk kuda-kuda.
Guru mana yang sudi dan membiarkan muridnya engkar? Apalagi di depan orang lain. Bikin malu saja. Maka, hanya satu hukumannya. Bunuh.
Oleh sebab itu, tanpa pikir panjang Angku Pincuran Gadang menebaskan pedang ke arah leher muridnya, sambil memaki dengan suara penuh amarah,”Murid durhaka…Kubunuh kau!”
Bersamaan dengan itu, begitu melihat Jack di depannya, Nenek Sirici langsung mengambil tusuk konde yang menancap di rambutnya. Tusuk konde emas itu dihunjamkan kuat-kuat ke arah kuduk lelaki muda yang membuatnya jijik lantaran ulah yang ibarat umang-umang dengan muridnya!
Agaknya Jack tak tertolong lagi. Tusuk konde tersebut tentu akan menembus tulang kuduk, dan ke luar di jakun-jakun. Dan di depan, “pedang sebatang badan” Angku Pincuran Gadang tentu akan memenggal leher Jack!
Pada kondisi yang amat genting itu, tiba-tiba Luna memeluk neneknya dari belakang, dan membawanya jatuh. Kuduk Jack selamat. Luna dan Nenek Sirici tergolek berdempetan ke belakang. Sedangkan pedang yang siap menebas leher itu terpelanting ke samping, bersamaan dengan rebahnya Angku Pincuran Gadang.
Di situ sudah berdiri lelaki tua berkopiah yang tersenyum ramah ke arah Jack. Dan tanpa menghiraukan yang lain, dia berkata,”Alhamdulillah… kau selamat dari ujian, Mir… Syukurlah…”
Jack langsung bersimpuh, sambil minta ampun dengan suara pilu,”Ampun Angku Syekh… Aku telah berdosa besar… Ampun… Hukum saja aku…!”
Pada saat itu, Luna dan Nenek Sirici sudah tegak, dan memandang dengan heran. Sedangkan Angku Pincuran Gadang begitu melihat siapa yang datang, segera pula berlutut. Tanpa bicara sepatahpun.
“Sudahlah Mir… Hidup di dunia adalah rangkaian ujian. Kau telah lulus dari ujian tadi. Harusnya bersyukur. Bukan malah minta dihukum!”
Perkataan Angku Syekh itu membuat Jack serasa ditebas dengan punggung lading (parang). Namun yang dikatakan lelaki tua berkopiah itu, benar adanya. Bukankah dia telah lulus dari satu ujian besar? Dari standar moral yang telah tepateri di hatinya, tentu saja berkat hasil praktik spritualitas yang dia terapkan–mulai dari pengalaman spritual dengan Angku Pincuran Gadang, belajar agama di bawah bimbingan Ustad Ismail, sampai pengalaman batin yang dia peroleh dari Angku Syekh, serta melewati rangkaian ujian demi ujian–membuat Jack makin matang. Dan beberapa menit yang lalu dia telah berhasil melewati salah satu godaan terbesar manusia di dunia. Jack berhasil membunuh birahi di lahan yang haram!

Kedua:
Energi Latif
Pulau Tidung Kecil itu memang sepi. Apalagi lewat tengah malam. Dinihari. Siapa yang berani berada di sekitar kuburan keramat–tepatnya kuburan Laksmana Hitam yang dikeramatkan–pada dinihari yang lembab?
Tapi tidak dengan lima orang itu. Angku Syekh duduk di tembok rendah di samping kuburan. Lelaki tua berbadan kecil dan berkopiah itu duduk bersila. Lucu juga, soalnya dua lutut seolah-olah tergantung, hanya sedikit pantatnya yang menyentuh tembok. Selebihnya menggantung tanpa penyangga. Maka secara keseluruhan, dilihat dari depan, lelaki berkopiah itu sedang duduk mengapung di awang-awang.
Bebauan jafaron putih mendominasi. Membuat suasana pekuburuan itu makin magis. Tetapi buat empat orang lainnya, wewangian yang mereka cium itu justru membuat suasana khidmat. Sehingga keempatnya serupa murid di hadapan guru, duduk di atas pasir basah.
Dilihat dari kiri Angku Syekh, berturut-turut Angku Pincuran Gadang duduk paling kiri, lalu Jack, Luna, dan Nenek Sirici paling kanan. Mereka duduk berjejer dengan formasi melengkung setengah lingkaran. Keempatnya melihat takzim pada Angku Syekh. Seolah-olah anak buah sedang menunggu perintah dari komandan.
Lelaki tua berkopiah yang sedang diperhatikan dengan takzim itu tersenyum ramah sambil mengangguk-anggukkan kepala, dan sesekali memperbaiki letak kopiahnya supaya lurus. Mungkin kopiahnya sedikit kebesaran, maka tatkala kepala bergerak, posisi kopiahnya bergeser. Sehingga teleng (miring) letaknya. Kadang miring ke kiri, tapi acapkali miring ke kanan.
Tentu saja mereka memandang dengan takzim, sebab beberapa menit yang lalu, dengan kesaktiannya yang susah diukur, Angku Syekh berhasil menyelematkan Jack dari tebasan pedang gurunya sendiri–Angku Pincuran Gadang–yang kesal lantaran membela Nenek Sirici. Padahal itu adalah “pedang sebatang badan” yang diambil dari kuduk, berujung di tulang sulbi. Gagang pedang di kuduk, ujung pedang di tulang sulbi. Itulah energi yang diyakini para ahli tenaga dalam berkumpul di sejumlah cakra yang tersebar di beberapa titik tubuh.
Cakra adalah titik fokus energi atau pusat kekuatan spiritual yang diyakini ada di dalam tubuh manusia. Ada tujuh titik cakra. Salah satu disebut cakra akar (muladhara), terletak di dasar tulang belakang–itulah tulang sulbi. Muladhara adalah energi fundamental substansial yang dipunyai manusia. Apabila ditumbuhkembangkan–dengan cara meditasi, yoga dan umat Islam melakukannya dengan zikir–maka semakin kuatlah “pondasi diri” seseorang. Inilah yang kerap disebut sebagai pamor, marwah ataupun aura.
Berbeda dengan keyakinan sebagian orang yang menganggap pamor, marwah atau aura itu lebih kepada dominasi atas sekeliling (lingkungan), Angku Syekh–dan begitu pula diyakini dalam banyak aliran tarekat–justru memprioritaskan marwah sebagai sesuatu yang lembut (latif). Hanya yang lembutlah yang berpeluang mengalahkan keangkara-murkaan!
Tetapi bukan kelembutan dalam pengertian lemah. Bukan. Melainkan kelembutan yang diperoleh setelah level kuat perkasa dipunyai. Kelembutan adalah sikap. Keperkasaan adalah tindak. Perkasa dalam tindak, lembut dalam sikap.
Dengan kelembutan itulah, beberapa saat yang lalu Angku Syekh menggagalkan serangan Angku Pincuran Gadang. Tangannya yang keriput itu menyentuh “pedang sebatang badan” yang sedang terayun menyasar leher Jack. Bukan, bukan tangan Angku Syekh yang putus, namun Angku Pincuran Gadang merasa sedang menebas ruang kosong, dan tiba-tiba pedang dan dirinya terpental!
“Angku, dalam fisika itu namanya materi kelima. Hanya ada dalam pikiran Bose dan Einstein,” ujar Luna setelah melihat sambil menjerit pada detik-detik leher Jack akan ditebas pedang gurunya, namun digagalkan dengan kekuatan Energi Latif oleh Angku Syekh.
Angku Syekh tersenyum ramah, dan mengangguk. Lalu dia menoleh ke arah Jack. Memandang lekat-lekat, langsung ke bola mata Jack. Mengkoneksi. Hanya Jack yang tahu, bahwa lelaki tua berkopiah itu sedang menurunkan sebuah ilmu melalui telepati, dan Jack serupa menonton film. Tak lama, tak sampai semenit, Angku Syekh pun tersenyum. Jack mengangguk dan memandang dengan tatapan terima kasih.
Karena, hanya Jack yang tahu, betapa dalam waktu kurang semenit, dia sudah mendapat ilmu baru, yang diberi nama Energi Latif. Tapi, apakah Energi Latif itu adalah materi kelima? Jack ingat pernah membaca artikel Einstein soal materi kelima itu beberapa tahun yang lalu. Saat dia masih SMA di Medan, dan keranjingan fisika hingga hampir setiap hari dia mengunjungi perpustakaan USU guna membaca semua hal yang terkait dengan fisika. Termasuk artikel Einstein tentang partikel kelima yang sangat aneh itu!
Jika tak ada orang, pasti Jack akan bertanya banyak pada Angku Syekh. Namun pertanyaannya itu ditelannya sendiri. “Bisa didiskusikan dengan Luna, nanti,” gumamnya dalam hati.
Seusai transfer ilmu yang hanya mereka berdua yang tahu, tiba-tiba Jack mendengar suara Angku Syekh di ruang hatinya,”Bagus. Diskusi kalian berdua akan membuat kemajuan untuk dunia,” ujarnya sambil berjalan ke dekat kuburan. Duduk di situ dengan tenang sambil melihat tiga orang lainnya, satu persatu. Mereka yang dilihat, serupa kerbau dicucuk hidung, mencari tempat duduk mengitari Angku Syekh. Keempatnya memandang dengan takzim.
Sementara Angku Syekh memandang jauh ke ujung kelam. Entah apa yang dilihatnya. Kemudian lelaki tua itu memperbaiki letak kopiah, dan menatap Luna. “Kau gadis yang baik. Terlalu baik malah. Tanpa purbasangka. Polos. Namun dunia tak bisa dihadapi seperti itu,” ujarnya lembut sambil melihat Jack yang menekur malu.
Akan halnya Luna yang semakin malu mendengar perkataan Angku Syekh, tiba-tiba melihat peluang untuk bicara,”Aku yang salah, angku. Mengapa aku terbawa nafsu?” “Bukan. Bukan dia, tetapi aku yang salah, angku,” sela Jack sambil tetap menekur, segan dia menatap Angku Syekh.
Kembali Angku Syekh tersenyum, dan menggeleng-gelengkan kepala. “Kalian berdua salah! Tak ada akibat tanpa sebab. Keduanya bertali temali. Dan itu hukum alam. Sudah semestinya demikian,” ujarnya.
“Lalu bagaimana menyikapinya,” ucap Nenek Sirici sambil melihat Luna dan Jack bergantian. Agaknya wanita tua ini masih tak terima muridnya dikorek-korek umang-umang!
Masih sambil tersenyum ramah, dengan penuh kearif-bijaksanaan, Angku Syekh melihat Jack dan Luna, dan berkata dengan nada dalam,”Apakah kalian sudah yakin dengan hati kalian?”
Ditanya seperti itu, Jack dan Luna tak berkutik. Keduanya diam. Menekur. Mungkin sedang menanya hati masing-masing.
Sedangkan Angku Pincuran Gadang dan Nenek Sirici juga saling pandang, sama-sama ingin menunggu jawaban kongkrit dari murid-murid mereka. Tetapi jawaban itu tak kunjung terdengar. Justru suara Angku Syekh yang terdengar pelan, tapi jelas,”Pernikahan adalah hal yang suci. Sakral. Naikilah jenjang pernikahan itu, bila kalian sudah yakin dengan hati kalian bahwa perikatan itu mengandung tanggungjawab terhadap berdua.”
Jack dan Luna mengangguk-angguk sambil tetap menekur. “Ketika kalian sudah menikah, secara batin kalian satu. Badan dua, batin satu! Maka, tanya hati yang paling dalam. Bila kalian sudah dapat jawabannya, angku in Sya Allah akan tiba saat hari pernikahan itu,” lanjut Angku Syekh.
“Dan engkau, Pincuran, jaga dirimu, jaga muridmu. Perbanyak istigfar,” kata Angku Syekh sambil menoleh pada Angku Pincuran Gadang yang menjawab dengan suara penuh hormat,”Baik guru. Doakan ambo (saya/aku) guru.”
Lalu tanpa diketahui oleh mereka, Angku Syekh sudah tak tampak lagi di situ, tetapi suaranya terdengar dari jauh, hanya oleh Jack seorang. Dalam ruang hati Jack lelaki tua berkopiah itu pamit,”Baiklah Amir, angku berangkat. Jaga dirimu dan gadis yang baik itu. Kepintarannya akan sangat bermanfaat kelak. Teruslah kalian berpikir dalam ruang hati. Jangan ada lagi simpang hati. Kalian harus hati-hati!”
Jack mengangguk dan makin menekur untuk menyatakan penghormatan dan ketakziman atas pituah Angku Syekh.
Kata-kata Angku Syekh itu diinap-inapkannya, sambil menoleh ke arah Luna. Jack menyimak dan mencatat dalam pikirannya bahwa berpikirlah di “ruang hati”, jangan sampai ada “simpang hati”. Dan berlakulah “hati-hati”.
Beberapa saat setelahnya, Jack pun berdiri. “Angku, terima kasih atas budi baikmu. Dan… dan… saatnya kita pun harus berpisah… supaya tak ada lagi simpang hati…,” ujarnya sambil menatap Angku Pincuran Gadang dengan hormat.
“Angku paham, Mir. Apa yang dikatakan guru tadi, itulah kata sebenarnya. Bila angku selalu menyertaimu, kau tetap akan ada di simpang hati. Itu harus dihentikan…,” jawab Angku Pincuran Gadang, tersenyum lebar ke arah Nenek Sirici, dan melanjutkan ucapannya,”Dan kau Sirici, kita adalah masa lalu. Mengapa mesti egois untuk menentukan masa sekarang dan masa datang? Kita tak perlu memaksakan kehendak pada mereka berdua!”
Semua orang di situ membenarkan ucapan Angku Pincuran Gadang. Acapkali orang dari masa lalu–misalnya kakek, nenek atau kerabat lainnya yang dua generasi di atas–mempengaruhi masa kini. Baik secara tindak tanduk, intervensi terhadap hubungan-hubungan, maupun pengambilan keputusan. Padahal bila jaraknya sudah dua generasi atau lebih, segala aspek kehidupan yang melatarbelakangi konteks sudah tak lagi sama. Karena itu di beberapa suku bangsa ada kearif-bijaksanaan yang secara tradisi jawa disebut lengser keprabon. Memberikan kesempatan kepada generasi pertama dan kedua di bawah kita. Biarlah anak dan cucu yang berkiprah mengepakkan sayap-sayap kehidupan mereka. Kakek dan nenek saatnya di pinggir arena!
Nenek Sirici mengangguk-angguk mendengar perkataan Angku Pincuran Gadang,”Kau benar, uda… Aku pun berpikir begitu. Petuah angku tadi sungguh membuatku malu. Kita yang tua ini biarlah berdiam di masa lalu… Melalui kekuatan Kerajaan Gaib yang kita bangun bersama, bila sangat-sangat diperlukan nanti, di situlah kita turun…,” ujar Nenek Sirici.
Dipanggil dengan sebutan sayang di depan muridnya, tak pelak, Angku Pincuran Gadang malu juga. Dia menghindar dari tatapan mata Jack yang penuh tanda tanya. Angku Pincuran Gadang pun mengirap dari situ. Lambat-lambat bau kemenyan pun pupus.
Sambil berdiri, Nenek Sirici melepas kepergian Angku Pincuran Gadang yang dipanggilnya dengan sebutan kesayangan buat lelaki di Minangkabau, “uda”.
Kenapa Nenek Sirici memanggil Angku Pincuran Gadang dengan sebutan kesayangan itu? Ada hubungan apakah mereka berdua? Bagaimana pula mereka mendirikan Kerajaan Gaib? (Bila pas waktu dan sumberdaya, in Sya Allah ini akan aku ceritakan dengan bahasa Minangkabau, sebagai kisah lanjutan dari novel pertama dari pentalogi; Samanang Minang. Judulnya; Samalang Minang. Tetapi terlebih dahulu anda harus membaca buku pertamanya–Samanang Minang yang sudah diterbitkan sejak tahun 2022 yang lalu).
Setelah tak ada lagi bau kemenyan sama sekali, Nenek Sirici memandang Jack dan Luna secara bergantian. “Luna, apa yang disampaikan angku tadi, itulah petuah yang sebenarnya. Itu yang harus kalian pedomani. Hati-hati, Jack, Luna… setelah dewasa seperti sekarang, bahkan telah memiliki ilmu lahir batin, maka masa depan kalian, hanya kalian yang menentukan. Bukan kami dari masalalu. Aku pun pergi, dan tak akan turun lagi bila tidak sangat-sangat mendesak. Hati-hati ya Luna, Jack. Aku pergi,” ujar Nenek Sirici, sambil menepuk kuduk Luna tiga kali. Setelah beberapa saat, kemudian Nenek Sirici langsung lenyap, diiringi bebauan bunga cempaka yang kian lama kian lenyap aromanya.
Sementara itu, begitu ditepuk kuduknya, Luna merasa kena setrum tegangan tinggi. Tetapi dia segera maklum bahwa wanita tua itu sedang memberi hadiah perpisahan berupa energi spritual yang sudah disimpannya bertahun-tahun. Maka Luna menahan rasa kena setrum itu dengan menunduk dalam keadaan masih bersila.
Dalam keadaan seperti kena setrum itu Luna mendengar Nenek Sirici bicara, secara batin,”Orang asing tadi, ehhh… itu yang bernama Mitchael Bonn kan? Tadi dia kutinggalkan dalam keadaan pingsan. Habis aku tak suka melihat kalian berpeluk-peluk tadi. Makanya kutinggalkan saja laki-laki bule itu. Untung aku cepat datang, meskipun harus berkelahi dengannya. Dan untung kau belum ternoda. Kesucianmu masih terjaga. Tetapi yang tadi itu sudah ternoda juga namanya! Kalian mesti menikah. Harus, tak boleh tidak…!”
Luna terkejut, kenapa perkataan Nenek Sirici kontradiktif. Di satu sisi membenarkan perkataan Angku Pincuran Gadang yang menasehati nenek itu untuk tidak mencampuri urusan Jack dan Luna. Tetapi kenapa Nenek Sirici berbisik bahwa hanya pernikahanlah jalan keluar sebagai penutup malu!
Walau heran akan kontradiksi itu, Luna mengangguk jua, sambil melirik Jack. Ada sisi di hatinya yang membenarkan perkataan nenek itu. Wanita mana yang takkan merasa hina bila lelaki yang sudah menyentuh tubuhnya namun tidak menikahi! Kalaupun bersuami dengan lelaki lain, apakah noda itu akan pupus dari ingatan? “Kau benar nek. Tak ada jalan lain, dia harus aku paksa menikahiku,” jawab Luna secara telepati pula.
Nenek Sirici pun tak tampak lagi. Tinggallah Jack dan Luna yang terpaku bersila di atas pasir, terdiam. Dinihari makin mendekati subuh. Kokok ayam mulai terdengar. Tanda-tanda akan tiba pagi mulai terlihat.
Jack yang pertama memulai memecah keheningan. “Luna… maafkan aku…!”
Luna tak menjawab. Hatinya bimbang. Akan memaafkan, atau menuntut agar Jack menikahinya?
Jack kembali berkata,” Marilah kita meneliti hati masing-masing, lebih dalam lagi….”
Luna masih diam. Dia menunduk. Malu, benar-benar malu atas peristiwa tadi. Untunglah Jack segera sadar. Bila alarm moral Jack tak melerai, Luna tentu sudah ternoda. Sungguhpun secara biologis diapun tak menampiknya! Karena tak ada upaya menampik itulah yang membuat gadis berjilbab ini teramat malu. Seolah-olah diapun menginginkannya. Dia serupa kena hipnotis mengikuti birahi yang menggedor-gedor hati!
“Kau… kau mau memaafkan aku kan? Anggap saja tak ada terjadi apa-apa. Kita tetap berkawan sebagaimana sebelumnya saja”
Luna masih bergeming. Kata-kata Jack tak masuk dalam pikirannya. Begitu pula nasehat Nenek Sirici. Hatinya nelangsa. Bukan bimbang, tetapi nelangsa. Juga marah kepada diri sendiri. Campur aduk perasaan gadis ini. Apalagi diapun tak pasti, apakah dirinya menginginkan Jack sebagai suami?
Nelangsa lebih dari sedih, sengsara, tidak bahagia, atau menderita. Nelangsa berkaitan dengan peristiwa ekstrim yang telah dilalui. Rasa nelangsa dapat ditandai dengan perasaan tidak beruntung, kehilangan, dan ketidakberdayaan. Sehingga seseorang sering menjadi lebih diam, kurang bersemangat, dan menarik diri.
Jack teringat buku psikologi yang pernah dibacanya. Bahwa kesedihan yang dalam tak bisa buru-buru diperbaiki. Perlu proses dan mesti melibatkan yang bersangkutan. Misalnya dengan menghadirkan kesempatan baru, atau memori lama yang berkesan.
“Luna…kamu boleh menjewer telinga aku lagi. Ini… jewerlah…,” ujar Jack dengan mimik muka polos, serupa murid yang minta dihukum guru lantaran tertangkap basah mencontek. Lelaki itu memicingkan mata untuk menambah dramatisasi.
Tiba-tiba, Jack benar-benar merasakan telinganya kena jewer. Dan bukan dibuat-buat, lelaki itu memang terkejut. Sehingga dia memekik,”Wadddaowww…!” Diiringi tertawa riang dari arah belakang.
“Heiii… kamu sudah berpakaian atau belummmm…,” canda Jack.
Luna mendadak hilang tertawanya,”Jika belum, memang kamu mau?”
“Mau dong!”
“Enak saja… Kamu harus usaha! Tak ada yang mudah. Apalagi murah… pahaaam…?”
Lagi-lagi Jack terpekik, karena dia memang tak menyangka kemampuan Luna untuk menghilang dan muncul kembali semakin sempurna. Gadis itu tak perlu menyentuh kening dan menunjuk-udara buat menghilangkan diri dari pandangan. Cukup dia niatkan, maki jadilah!
“Pahaaam… hamba pahaaam tuan putri,” ujar Jack yang mencium aroma bunga cempaka memenuhi ruang sekitar. Wewangian itu kian marak. Jack bingung, kenapa ada aroma itu lagi, padahal wanita tua itu sudah pergi? Apakah Luna sudah diberikan semua?
Dalam berpikir demikian, tiba-tiba Luna sudah ada di depannya. Mengangkat muka, dan tersenyum riang. “Amiiir… Amiiir… kapan kamu bisa tobat? Jangan bisanya cuma mengintip…,” gurau Luna tersenyum riang sambil memegang kedua daun telinga Jack. “Kamu… kamu… benar-benar mau,” tantang Luna dalam jarak yang amat dekat.
Aduhai… Apa yang hendak disebut lagi? Dada Jack bergemuruh lantaran mabuk oleh aroma bunga cempaka yang kian merasuk. Sementara wajah gadis itu hampir menyentuh wajahnya. Terasa sekali hembusan nafas yang panas keluar dari hidung Luna yang bangir. Dia makin melayang, serupa orang yang hampir mabuk. Seluruh tubuh Jack menggeletar. Percik-percik birahi membakar jiwa. Dan aroma bunga cempaka semakin membuatnya di ambang tidak sadar. Pukau! Luna mencoba memukaunya dengan bebauan bunga cempaka.
Begitu sadar akan bahaya, dibantu alarm standar moralnya, Jack pun memusatkan kosentrasi. Dia bisa maklum kenapa Luna mencoba menggodanya kembali dengan bantuan ilmu pukau dan aroma bunga cempaka. Namun dia sendiripun masih gamang, apakah benar-benar menginginkan Luna sebagai istri? Begitulah, Jack dalam kosentrasi penuh segera mencermati situasi di ruang hatinya sendiri.
Setelah yakin tak ada bahaya lain, selain gadis cantik berjilbab yang kembali memberinya ujian itu, semua aman. Lalu dengan mata terpejam, Jack mengkoneksi ke Luna.
“Apalagi?”
“Kau harus menikahiku!”
“Kan itu belum terjadi. Kamu masih suci.”
“Belum ada laki-laki yang melakukannya. Hanya kamu. Karena itu, nikahi aku!”
“Apa kamu yakin dengan hatimu?”
“Tidak perlu hati. Badanku sudah kau cemari!”
“Tidak. Untuk menikah, itu keputusan hati!”
“Tidak. Kamu harus menikahiku. Atau kamu aku bunuh!”
“Baiklah… Tapi jawab dulu pertanyaanku!”
“Apa?”
“Kamu mencintaiku?”
“Tidak… ehhh… belum…!”
Jack mengangguk-angguk, dan masih di ruang hati–dalam pikirannya–lelaki itu berkata,”Kita tunggu sampai hati kita benar-benar membutuhkan satu sama lain. Sebelum sampai ke situ, kita harus hati-hati…!”
Begitu selesai bicara secara koneksi pikiran, Jack pun mencoba menggunakan jurus energi lembut–jurus Energi Latif–yang tadi diajarkan secara sembunyi oleh Angku Syekh. Dia memegang tangan Luna. Gadis itu merasa ada sesuatu yang amat lembut menjalari lengan. Namun dia biarkan saja, mungkin gadis itu menganggap energi yang menjalar itu adalah percik-percik birahinya sendiri yang terbakar, tapi tak tuntas!
Sebagai gadis dewasa yang normal, apalagi di umur yang sedang matang-matangnya, hasrat kewanitaan itu adalah bahaya laten. Sedikit saja terpicu, menggelegaklah dia. Makanya di kampung-kampung, seorang gadis yang sudah dewasa mesti dicarikan jodoh.
Bahkan, di Minangkabau, dibolehkan menjual harta pusaka tinggi apabila ada gadih gadang alun balaki–gadis dewasa belum bersuami.
Jack masih memegang tangan Luna. Akibatnya, aroma cempaka mulai sirna, dan Luna perlahan-lahan mendapatkan kembali keceriannya. Tentu ilmu Energi Latif yang disalurkan oleh Jack telah menyembuhkan batinnya yang tadi sempat ditambah rusaknya oleh nasehat Nenek Sirici–menuntut lelaki yang telah menjamah tubuhnya yang paling intim itu agar menikahi!
“Heiii… Amir… kenapa kamu pegang-pegang tangan aku terus,” ujar Luna dengan riang.
“Habis tanganmu mulus dan lembut sih,” jawab Jack tak kalah konyol.
“Mana yang lembut dari salju?”
“Husss… memangnya lagu, ini serius lho,” sambung Jack seraya tertawa gembira.
Sekarang Luna duduk di hadapan Jack. Di atas pasir yang basah. Sekarang gadis ini benar-benar telah kembali seperti semula; riang, dan tanpa purbasangka. Melihat keadaan Luna sudah normal kembali, Jack bertanya,”Apa yang telah terjadi kemaren? Aku hanya mendengar bunyi sesuatu jatuh ke air. Akupun segera melompat, sebab aku kira kamu yang terpeleset dan jatuh ke laut,” tutur Jack sambil memandang Luna.
“Heiii… Mitchael Bonn… Yaa… lelaki itu yang memeluk aku…”
“Kamu pasti itu Mitchael Bonn?”
“Iya… pasti… Dia memelukku dan menyandera di bawah jembatan.”
“Ooo… berarti kamu tidak terpeleset. Tetapi mungkin kakimu sengaja diraih oleh MB, sehingga kamu menjerit.”
“Ya… iya… agaknya begitu.”
“Lalu bagaimana caranya kamu bisa lolos?”
“Nenek yang membantu. MB itu dibuatnya pingsan. Lalu dia tinggalkan karena melihat kita…”
Jack mengangguk mengerti tanpa menunggu kelanjutan kalimat Luna. Gadis itu pun tak melanjutkan kalimatnya, namun dia berkata,”Ayo kita cari… di jembatan itu. Mungkin masih pingsan!”
Jack tidak merespon. Karena tiba-tiba dia teringat smartphone nya yang ada di dalam saku celana. Dirogohnya. Rupanya masih hidup, walaupun baterainya tinggal dua pagar.
Jack melihat pemantau sinyal. Luna mendekat, ikut melihat. Rupanya masih aktif. Satu sinyal ada di dekatnya, itulah Luna. Dan satu lagi sedang bergerak. Tak jauh dari mereka.
Luna cepat mengerti. “Kita kejar?” Namun Jack menggeleng, melainkan dia menyetel smartphone tersebut. Rupanya salah satu fitur smartphone milik Jack adalah teropong. Ada tele mikro yang membuat daya jangkau lebih jauh dan jelas.
“Itu dia, sedang turun ke laut. Heiii… itu ada apa di bawah laut? Kamu lihat ini,” ujar Jack seraya menyerahkan smartphone nya pada Luna.
“Itu kapal selam…,” ujar Luna terkejut.
“Hmmm… mudah-mudahan mereka tak punya teknologi untuk menemukan…!”
“Terus bagaimana lagi,” tanya Luna.
Jack tak menjawab, melainkan menarik tangan Luna untuk berdiri. “Ayo kita pacu lari,” ucap Jack sambil mendahului berlari kencang menelusuri Jembatan Cinta. Luna heran, kenapa harus berlari? Tetapi dia tak punya pilihan, dan menyusul Jack yang sudah agak jauh di depan.
Tiba di dermaga, Jack langsung menghidupkan speed boat dan segera tancap gas! Luna berpegangan erat-erat, sambil melihat ke sekeliling.
Tiba-tiba terdengar bunyi bom diikuti dengan semburat cahaya yang merah tembaga. Luna tergagap. Jack tetap tenang di kemudi speed boat. “Pulau Tidung Kecil,” ujarnya sambil memandang ke arah Luna, tanpa menoleh ke arah ledakan.
“Kamu sudah tahu?”
Jack mengangguk tanpa ekspresi. “Logika dan firasat. Logikaku mengatakan tak mungkin MB pergi begitu saja bila tak memastikan buruannya tak diambil orang. Firasatku mengatakan ada bahaya. Makanya kita berlari!”
Luna mengangguk-angguk maklum dan menoleh ke arah Jack. Namun Jack sedang melihat smartphone nya. Dia membaca pesan Buyung: kami slmt. Chef tak ada di rm!
“Ada yang tak beres. Mungkin ada pengkhianat,” ujar Jack sambil memandang sekilas pada kilauan cahaya akibat ledakan itu.
“Pengkhianat? Siapa? Kenapa,” tanya Luna sambil tetap melihat ke belakang. Sisa-sisa cahaya masih terlihat. Tetapi sebentar lagi subuh tiba.
“Entahlah. Ledakan itu bukan kebetulan,” jawab Jack. Tetapi dia tidak menceritakan bagaimana hingga dia pingsan tadi malam.
“Kalau begitu, markas tak aman kan?”
Jack mengangguk. “Sebaiknya kita ke tempat aman saja,” ucapnya.
“Di mana?”
“Aku punya tempat,” jawab Jack sambil menambah kecepatan. Mereka berlayar kembali ke Jakarta. Luna termenung, duduk di samping Jack yang berdiri di kemudi. Gadis itu tak tahu kalau Jack sedang berpikir keras,”Siapa yang memukul kepalanya di pangkal jembatan?”

Ketiga:
Loyalitas Para Koki
Buyung dan dua koki lainnya tiba di rumah makan. Diantar oleh dua petugas dari Polisi Air. “Sampaikan salam kami pada Jack,” ujar komandan Polisi Air yang mengantar mereka.
“Tentu pak. Terima kasih banyak atas bantuan bapak,” ujar Buyung mewakili dua temannya yang sudah duluan turun.
“Ahhh… sesama kita tak usah sungkan-sungkan. Lagipula kami hanya menjalankan perintah Jack,” jawab polisi itu ramah. Lalu mereka bersalaman.
Tiba di ruang bawah tanah rumah makan itu, Buyung heran karena tak menemukan siapapun di sana. Pintu ruang Pak Mahmud terkunci. Tetapi peralatan mereka semua dalam keadaan hidup.
Karena sudah menjadi kebiasaan, para koki itu langsung duduk di depan layar monitor masing-masing. Ketiganya langsung sibuk dengan superkomputer itu.
Buyung yang teringat Jack, segera mengirim pesan: kami slmt. Chef tak ada di rm!
Beberapa saat setelah pesan terkirim, tiba-tiba datang Pak Mahmud. Lelaki setengah baya itu terlihat terkejut melihat para koki sudah di depan monitor masing-masing.
“Heiii… kapan kalian datang? Syukurlah kalian selamat,” ujar Pak Mahmud sambil memasuki ruangannya dengan tergesa-gesa!
Vivien dan Gatot tak menyahut. Karena mereka heran melihat Pak Mahmud mengenakan pakaian lapangan lengkap bewarna hitam. Buyung yang mau menjawab pertanyaan Pak Mahmud, menjadi urung. Karena lelaki tersebut buru-buru masuk ruangannya.
Ketiganya saling pandang. Dan mata Vivien yang jeli melihat ada pasir yang berserakan di lantai. Lalu dia berbisik pada Gatot,”Heiii… lihat itu, kenapa sepatu Pak Mahmud penuh pasir?”
Gatot mengamati, dan mengangguk-angguk karena melihat ada butiran pasir halus bertebaran di sepanjang langkah Pak Mahmud. “Dalam rangka apa dia ke pantai,” ujar Vivien pada Gatot dan juga Buyung yang secara spontan memasukkan pasir-pasir itu ke dalam plastik dengan menggunakan sarung tangan.
Tak lama Pak Mahmud memanggil para koki. “Lawan kita adalah Ksatria Dunia. MB hanyalah orang level tiga. Dan sekarang kita hanya berempat,” ujarnya dengan mimik sedih sembari memperhatikan para koki itu dengan seksama.
“Bagaimana dengan Jack,” tanya Buyung, karena Pak Mahmud hanya menghitung empat orang. Berarti tanpa Jack!
“Mungkin tewas oleh MB,”
“Haaa… tewas? Bagaimana ceritanya,” tukas Vivien dan Gatot berbarengan. Sedangkan Buyung persis sedang melihat hp. Dia menerima pesan dari Jack: aku slmt, km ttp wspada.
Tentu saja Buyung makin heran. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Pak Mahmud mengatakan bahwa Jack tewas? Padahal dia baru saja menerima pesan dari Jack! Dan kenapa pula Jack memintanya untuk waspada?
Tetapi keheranan itu dia telan sendiri. Buyung mendengarkan pengarahan Pak Mahmud dengan seksama. Semakin dia heran, semakin serius dan takzim mimiknya mengikuti brifing tersebut. Namun di dalam hati, Buyung mulai menduga-duga apa yang terjadi. Sebagai staf pendukung organisasi intelijen, lelaki klimis berkulit hitam dengan badan agak kecil ini sudah kenyang dengan intrik-intrik dunia spionase. Karena itu secara perlahan, sejak lima tahun bergabung, sudah terasah insting dan kewaspadaannya.
Dalam dunia intelijen, kewaspadaan–terutama untuk diri & tim, kemudian misi dan organisasi–harus diberlakukan untuk semua orang. Termasuk kolega dan pimpinan sekalipun. Karena itu, Buyung diam-diam mulai mengamati Pak Mahmud. Jangan-jangan chef itu akan membahayakan organisasi.
Ada apa dengan Pak Mahmud? Kenapa sang chef tadi menyebut Jack mungkin tewas, bertepatan dengan kembalinya dia dalam pakaian taktikal plus sepatu yang berpasir! “Bukankah pasir itu adalah sejenis pasir yang ada di pantai-pantai? Apakah dia ada misi ke pantai? Pantai dimana? Berarti misi itu sangat khusus, sebab selama lima tahun ini, belum pernah dia bertugas di lapangan,” gumam Buyung di dalam hati.
“Berarti masih dugaan, bahwa Pak Jack tewas,” tanya Gatot.
“Iya. Tadi ada laporan. Ada ledakan di Kepulauan Seribu. Bukan kebetulan. Karena kapal phinisi kan berlayar di perairan itu,” ujar Pak Mahmud sambil beberapa kali menghubungi seseorang.
“Yung. Telpon Jack. Aku sudah coba, tapi hp nya off,” perintah Pak Mahmud menjeda Buyung yang sedang sibuk dengan dugaan-dugaan.
“Siap pak,” jawab Buyung sambil berharap hp Jack memang mati. Tapi mengingat massage Jack tadi, Buyung yakin lelaki itu sudah menonaktifkan hpnya!
Dan benar saja. Sudah lima kali Buyung mencoba–secara loss speaker supaya tidak dicurigai–namun hanya dijawab oleh operator: Nomor yang anda tuju sedang di luar jangkauan!
Semua orang mendengarkan jawaban operator itu. “Memang beliau kemana pak? Ada penugasan apa?”
“Apalagi jika bukan mencari MB sekalian menyelamatkan kalian,” jawab Pak Mahmud pada Buyung.
Gatot terlihat mau bicara, tetapi dipotong oleh Vivien,”Wahhh…lalu kami siapa yang menyelamatkan? Bukannya Pak Jack,” ujarnya sambil mencolek pinggang Gatot.
Pak Mahmud terdiam. Tampaknya dia tidak tahu apa yang telah terjadi. Karena itu, sekenanya saja dia menjawab,”Mestinya begitu. Tapi kenapa polisi air itu yang menolong? Jack kemana? Apa memang dia mengejar MB? Oya, apakah kalian melihat MB di atas kapal?” Ketiga orang itu menggelengkan kepala.
“Sepertinya itu operasi rutin perairan. Nah, kebetulan ada kalian di atas kapala phinisi itu.”
Buyung makin heran. Kenapa Pak Mahmud tak tahu yang dilakukan Jack? Apakah Jack tidak melaporkan operasi yang dia lakukan? Ada apa dengan Jack? Mungkinkah dua orang ini sedang berseteru? Apakah karena perseteruan itu, maka Jack mengirim pesan seperti itu? “Ahhh… harus bagaimana bersikap nih,” gumam Buyung dalam hati.
“Bagaimana selanjutnya, pak?”
“Kalian kerja saja seperti biasa. Dan kamu Yung, tinggal di sini sebentar,” ujar Pak Mahmud. Gatot dan Vivien saling berpandangan, lalu melihat ke Buyung. Lelaki hitam klimis itu hanya tersenyum. Dia memang selalu tersenyum, apapun keadaan!
“Yung, bapak tahu, kamu dekat dengan Jack. Tapi, apa yang bapak katakan tadi, itu baru dugaan. Kita berharap Jack selamat.”
“Iya pak. Tapi, bukankah kita tidak membahas perorangan? Dalam setiap operasi, kita membahas tujuan kan pak?”
Pak Mahmud mengangguk. “Kamu memang penjaga mekanisme. Bapak tahu, itu yang membuatmu disegani di organisasi. Mungkin tak berapa lama lagi kamu bisa promosi. Kamu mau?”
Buyung diam saja. Dia semakin waspada. Instingnya serupa alarm, mulai berdenting. Bagaimana mungkin bicara promosi jabatan saat operasi belum jelas ujung pangkalnya?
“Untuk selanjutnya, terkait operasi ini, apa yang harus kami lakukan, pak?”
“Coba kamu cari info tentang ledakan di pulau itu. Kumpulkan semua informasi. Siapa saja yang ada di situ? Dalam rangka apa? Pokoknya semua hal, sekecil apapun, bapak perlu tahu. Kamu siapkan link ke bapak untuk semua info yang kalian dapatkan.”
Buyung mengangguk. Lalu diapun pamit ke sebelah. Di situ sudah menunggu Gatot dan Vivien yang sedang melihat video. “Yung, kamu lihat ini. Seseorang memposting video di IG, dan menautkan pada IG rumah makan kita!”
Gatot menyela,”Kenapa ditautkan pada link rumah makan ini? Apakah mereka sengaja?”
“Wahhh….markas kita sudah ketahuan! Tentu mereka sengaja mengirim video ini,” tukas Buyung gusar.
“Iya Yung, lagipula ini bukan video amatiran. Resolusinya cukup tinggi. Kameranya pun khusus. Tak mungkin merekamnya dengan hp,” imbuh Vivien.
Buyung mengangguk-angguk sambil dengan seksama menonton video itu. Tiba-tiba dia minta untuk menstop video,”Coba lihat yang itu, ada garis hitam. Apa itu?”
Vivien dan Gatot mengulang tayangan, lalu memperhatikan garis hitam yang disebut Buyung. Tapi mereka tak bisa mengenali sesuatu. Garis apakah itu?
“Coba skrensut. Lalu zoom,” pinta Buyung. Bergegas Vivien melakukannya. “Lihat, sekarang ada beberapa garis horizontal. Tidak satu garis saja. Dan ada garis yang melengkung. Nah… ini… ini… samar-samar ada beberapa garis yang vertikal…,” ujar Buyung.
Gatot dan Vivien mengakui kecermatan penglihatan Buyung. “Lalu, apa yang kita dapatkan,” tanya Vivien sambil tetap mengamati skrensut tersebut.
“Bayangkan jika kamu yang mengambil gambar. Kira-kira, dimana posisimu?”
“Haaa… kau benar Yung. Posisi kameramennya di tengah laut. Gambar ini diambil dari tengah laut. Itu pasti,” teriak Gatot sambil menepuk-nepuk bahu Buyung.
“Yakin? Apa yang harus kita lakukan untuk membuktikannya?”
“Hmmm… kalau sudah begini, pasti aku yang akan disuruh nih… Oke… ini salah satu satelit yang ada di atas area. Kamu mau aku melihat apakah ada kapal, atau apapun di tengah laut pada saat bersamaan kan, Yung?”
“Sudah tahu, nanyaaa…,” canda Gatot. Para koki itu memang suka bercanda satu sama lain. Mungkin itu cara mereka mengurangi stres akibat beban kerja.
Vivien terus mengutak-atik layar monitor. Dengan program rahasia, organisasi intelijen tak bernama ini memang bisa mengakses apapun di muka bumi. Asal ada IP address, itu berarti sudah bisa dimasuki! Kalau perlu diretas.
“Tak ada satu kapal pun. Ini sudah pada waktu yang sama. Lihat itu, ada cahaya ledakan di ujung, tapi kenapa tak ada kapal ataupun perahu satupun ya,” ujar Vivien.
Buyung diam, sambil mengusap-usap hidungnya yang besar. “Andaikan ada kapal atau perahu, apakah videonya sesuai,” tanya Buyung?
“Maksudmu,” tanya Gatot sambil mengamati Vivien yang sedang mengira-ngira ketinggian gambar dibandingkan dengan ketinggian kamera.
“Ooo… betul Yung. Ini lebih rendah. Kameranya lebih rendah. Apakah kameramennya perlu tiarap? Tapi… untuk apa tiarap dalam kelam?”
Habis bicara itu, Vivien melihat Buyung yang tiba-tiba tersenyum. “Kata Pak Mahmud tadi, ledakan itu di pulau kan? Kira-kira apa yang ada di pulau sehingga membentuk garis-garis yang di tengah ada lengkung itu,” ujar Buyung.
“Ahhh… kamu main teka-teki terus nih,” kata Vivien. “Apa yang kamu pikirkan tentang garis-garis itu Tot,” tanya Vivien.
“Hmmm… tak mungkin itu kawat listrik. Apalagi benang layangan… hehe…hehehe…!”
“Terus apa dong, Tot.”
“Tanya Buyung,” kata Gatot asal jawab. “Vien, coba kamu cari foto-foto pulau itu. Fokus pada sesuatu yang panjang. Apapun. Pasti itulah jawaban yang kita cari,’ ujar Buyung.
Vivien melakukan searching di jendela google. Lalu sejumlah foto muncul. Di layar. Dan,”Aku tahu sekarang… Ini foto Jembatan Cinta. Menghubungkan dua pulau… tentu ini… ya… pasti ini…Ada lengkung di tengahnya… Apabila difoto saat gelap, maka akan terlihat seperti garis… Nah…. sekarang bagaimana lagi Yung,” tanya Vivien bersemangat.
“Artinya kita punya alasan bahwa foto ledakan itu diambil dari tengah laut. Dan garis-garis itu menunjukkan jembatan. Satu lagi yang harus kita selidiki, di mana posisi kamera? Kamu punya pendapat, Tot,” tanya Buyung.
“Yang jelas tak mungkin ada kameramen yang tiarap di dalam gelap kan? Duduk atau berdiripun dia takkan tampak. Dan video jelas diambil dari bawah. Buktinya garis-garis itu lebih tinggi dari cahaya ledakan,” ujar Gatot.
“Tapi tak ada kapal, tak ada perahu. Mmm… Vien, coba kamu selidiki foto satelit di area itu sebelum terjadi ledakan,” perintah Buyung.
Vivien langsung mengakses satelit tadi. Secara diam-diam, dia masuk ke server satelit. Ada folder rekaman di situ. “Ini Yung. Dari seluruh gambar ini, hanya tiga foto yang mencurigakan. Ini aku kirim ke hp mu,” ujar Vivien. Setelah terkirim, gadis itu langsung keluar dari server, dan menghapus histori pencarian.
Untunglah sudah terhapus, sebab Pak Mahmud tiba-tiba sudah berada di ruang itu. “Yung, video yang kamu kirim itu sudah bapak konfirmasi. Itu adalah ledakan di Pulau Tidung Kecil. Tetapi, kenapa hanya video? Kan bapak memintamu mengirimkan informasi sekecil apapun!”
“Iya pak. Ini sedang kami diskusikan. Untuk sementara hanya video itu. Sepertinya ada seseorang yang sengaja merekam, dan mengirimkan pada kita,” tukas Buyung sembari melihat pada Pak Mahmud yang sedari tadi sudah membuatnya curiga!
Pak Mahmud mengangguk, dan dia mengamati Vivien dan Gatot yang terlihat serius memperhatikan monitor masing-masing. “Apa yang kalian dapatkan,” tanya Pak Mahmud.
Vivien dan Gatot mengangkat bahu, tanda belum dapat petunjuk apapun. “Foto-foto satelit pun tak ada petunjuk, pak. Ini beberapa foto,” ujar Vivien.
Pak Mahmud mengamati. Kemudian dia menelpon seseorang. “Yes sir… yes… ok… wait a minute… no signal…,” ujar Pak Mahmud yang tergopoh-gopoh kembali memasuki ruangannya.
Buyung, Gatot dan Vivien saling pandang melihatnya. Kemudian Vivien berbisik,”No signal? Memang hilang sinyal ya?” Mereka melihat hp masing-masing. Ternyata sinyal full kok!
“Yung, coba kamu lihat foto-foto tadi. Aku kira ada sesuatu yang bisa jadi petunjuk,” ujar Vivien. Buyung mengangguk, dan membatalkan niatnya untuk melihat di layar monitor. Sebab Pak Mahmud sudah bergabung lagi dengan mereka di dapur (sebutan untuk ruang kerja para koki/para agen organisasi intelijen itu).
“Sinyalnya sudah bagus kembali. Sudah sampai dimana kita tadi,” tanya Pak Mahmud seraya mengamati tiga koki itu satu persatu. Mungkin ingin melihat dan memastikan apakah ada tanda-tanda kecurigaan mereka.
“Sampai video itu pak. Dan belum ada petunjuk lainnya. Hasil analisa kami pada beberapa skrensut video, kami menyimpulkan gambar itu direkam dari tengah laut,” ujar Buyung yang diamini Vivien dan Gatot dengan mengangguk-angguk sebagai penguatan.
“Hanya itu?”
“Ada garis hitam pada skrensut tersebut. Setelah kami zoom, ternyata ada garis-garis horizontal yang lurus dan melengkung di tengah. Ada pula beberapa garis vertikal,” tukuk Buyung.
“Lalu, apa lagi?”
“Setelah kami bandingkan dengan foto yang ada, ternyata itu adalah jembatan. Mereka menamainya Jembatan Cinta,” imbuh Buyung sambil memandang Vivien, dan melanjutkan,”Hanya itu petunjuk yang kita punya, sir,” ujar Buyung mencoba bercanda dengan menyebut sir untuk mengganti bapak atau pak.
Dipanggil dengan sebutan sir, Pak Mahmud agak kaget. Tetapi cepat-cepat dia tersenyum ramah,”Okay, kalian cari terus. Apapun yang bisa jadi petunjuk. Bapak ada keperluan ke luar,” ujar Pak Mahmud seraya berlalu ke lantai atas.
Begitu tangga otomatis ke lantai atas rumah makan itu melipat, dan pintu terusannya menutup secara otomatis, Buyung lekas-lekas kembali ke meja kerja seraya memberi isyarat agar Gatot dan Vivien pun melakukan hal yang sama.
“Kita fokus pada tiga foto tadi. Untung kamu tadi menghapus Vien… Oya, Tot, kamu bisa setting ulang pintu ke atas itu kan? Coba ganti password-nya.”
Lalu tiga koki ini pun tenggelam di depan monitor masing-masing.
[Untuk yang belum tahu, ada beberapa istilah rahasia organisasi intelijen ini. Pertama, meskipun organisasi spionase, tetapi ini grup intelijen tanpa nama. Kedua, mereka menamai posko atau markas dengan rumah makan. Karena memang posko tersebut berada di salah satu rumah makan spesifik masakan Padang yang berada di Jalan Sriwijaya, Jakarta. Ketiga, penamaan untuk kepala organisasi adalah chef. Wakilnya disebut wakil chef. Dan tiga kru supporting disebut para koki. Keempat, ruangan kepala disebut ruang chef, dan tempat tiga koki bekerja disebut dapur. (Anda bisa baca novel Simpang Hati Luna Sangir dan Ruang Hati Jack Sangir yang menjadi bagian dari novel trilogi).]
“Yung, Tot, lihat link yang aku share. Salah satu foto itu, foto yang ketiga, coba zoom, ada sesuatu yang samar-samar.”
Buyung dan Gatot melihat foto itu. Lalu memperbesarnya. “Heiii… itu ada orang yang turun dari jembatan. Bukan terjun, karena kepalanya ke atas. Kalau terjun, tentu kakinya di atas,” ujar Gatot.
“Ya, tak mungkin dia turun tanpa alat bantu. Kalau turun dengan tali, mungkinkah,” kata Buyung.
“Bisa, tetapi dua kakinya pasti saling menjepit. Ini kakinya membuka,” kata Gatot.
“Ya, itu tentu tangga tali. Itu biasa dipakai di helikopter kan? Hmmm… tapi yang paling penting, dia turun untuk apa? Apa yang ada di bawah? Vien, coba kamu cari lagi foto-foto rekaman satelit itu, tiga menit sebelum dan tiga menit setelah foto ini. Fokus pada permukaan laut. Mungkin di situ ada petunjuk. Tiap beda satu menit, kamu ambil dua foto yang berbeda. Yang satu foto dekat dan satu lagi foto jauh.”
“Okay. Berarti ada duabelas foto. Siap… tunggu sebentar… Aku paham jalan pikiranmu Yung. Kita mencari sesuatu yang di permukaan laut kan,” kata Vivien sambil menggunakan ketrampilannya meretas dan menjebol server satelit!
Buyung mengangguk. Gatot tersenyum,”Sudah paham atau salah pahaaaaammmmm…,” canda Gatot.
Mereka bertiga tertawa. Para koki ini memang direkrut bersamaan, lima tahun lalu. Pak Mahmud yang merekrutnya. Waktu itu belum ada grup khusus ini. Karena satu angkatan dan dilatih bersamaan, mereka cepat akrab. Dan sekarang ketiganya adalah teman akrab.
Lebih dari itu, ketiganya ibarat spare part mesin. Masing-masing punya peran yang spesifik. Dan bila ketiganya bergabung, maka superkomputer yang mereka operasikan di rumah makan itu adalah jendela ajaib untuk mencari apapun. Adalah pintu yang menakjubkan untuk membuka apapun. Dengan dukungan para koki inilah, “pesanan nasi bungkus”–istilah untuk penugasan–segera diproses, dengan Jack sebagai agen lapangan.
“Yung, Tot, itu sudah kukirim,” seru Vivien. Sebenarnya gadis ini tak perlu memberitahu karena apapun yang di share antar superkomputer yang ada di dapur itu, langsung ada notifikasinya. Itu sudah disetting sedemikian rupa, sehingga tiga superkomputer tersebut terhubung secara intranet.
Sekarang di layar monitor masing-masing sudah ada 12 foto. “Gatot, kamu ambil yang menit pertama, aku kedua, kamu ambil pada menit yang ketiga Vien,” kata Buyung.
Buyung mencermati dua foto itu. Pada foto dekat dia melihat ada sesuatu yang lebih pekat di banding sekitarnya. Pada foto jauh, tidak terlalu tampak. “Coba lihat foto dekat Tot, Vien…,” ujar Buyung sambil kembali mencermati foto dekat menit kedua tersebut, sambil terus berpikir apa sesuatu yang di atas air?
“Yaaa… Vien, kamu deretkan tiga foto dekat itu. Itu pasti petunjuk kita,” seru Buyung.
“Dapat… ini gabungannya. Samar-samar ada tali. Jenjang tali… Yappp… yappp…tentu ini adalah kapal selam,” teriak Vivien.
“Okay…sekarang kamu cari IP address Instagram yang ditautkan ke rumah makan. Itulah petunjuk kita,” ujar Buyung.
“Sudah aku kerjakan, ini alamatnya,” kata Gatot.
“Mantappp… bisa kamu searching dengan satelit, Vien? Perkiraanku, itu adalah kapal selam kita. Tapi jangan yang waktu sekarang. Kamu lihat waktu postingan video di Instagram itu, sekira sepuluh menit menit setelah foto-foto tadi,” kata Buyung.
“Kenapa tidak di waktu sekarang,” ujar Vivien membantah sambil mengupayakan masuk ke server satelit.
“Emang bisa satelitmu menyelam,” bantah Gatot.
“Kamu yang tak bisa berenang,” balas Vivien sambil terus mengutak-atik mouse. “Ahaaa…sambaladooo…kau benar Yung, dari kapal selam itu video itu diposting…!”
“Husss…pedas tuch…,” ujar Gatot sambil mengamati IP adress yang baru saja dikirim Vivien.
“Sekarang kamu buka kunci pintu itu, Tot. Dan bersihkan jejak digital tadi,” perintah Buyung.
“Ehhh… kok malah kau yang jadi kumendan sekarang nih,” gurau Gatot. Tetapi dia langsung mengerjakan perintah lelaki berbadan kecil, berkulit hitam dengan hidung agak besar itu.
Buyung diam saja. Karena dia sedang mengirim pesan pada Jack: IP address kpl selam. Chef mngkn trlbat!
Jack membaca pesan itu, persis saat pintu rumahnya di Pantai Indah Kapuk (PIK) didobrak!

Keempat:
Ruang Hati
Rumah aman Jack itu memang di PIK. Rumah itu dipinjamkan oleh Ling–temannya yang saat ini bermukim di Korea Utara–Korut. Saudara kembar Ling dan Lung adalah orang yang pertama mengajak Jack berkolaborasi. Dan setelah Lung tewas tertimbun longsor di Bukit Sapek, Solok Selatan, Ling merekomendasikan Jack bergabung ke organisasi. (Baca novel Ruang Hati Jack Sangir).
Saat rumah itu didobrak, Luna sedang keluar membeli keperluan mereka. Sejak tadi malam, Jack dan Luna menghabiskan waktu beristirahat. Ada tiga kamar di rumah itu, sehingga Luna tak sungkan-sungkan merebahkan tubuhnya yang lelah. Sehingga gadis itu melewatkan shalat subuh, walaupun pintu kamarnya sudah diketuk-ketuk oleh Jack.
Sedangkan Jack, usai shalat subuh, dan berdzikir, lalu minum segelas air hangat, dan duduk di sofa sambil menunggu kabar dari Buyung. Tetapi sampai dia tertidur di sofa itu, tak ada satupun pesan masuk. Hp dan pistolnya diletakkan di atas meja porselen. Antik meja itu, mungkin porselennya yang tebal dibawa langsung dari Tiongkok.
Dan pesan yang ditunggu-tunggu itulah yang menyelamatkan Jack. Getaran notifikasi hp membangunkannya. Baru saja selesai membaca pesan itu, pintu didobrak!
Jack masih sempat meraih pistol dan berguling, sehingga peluru-peluru itu luput. Dan secara refleks, Jack meraih kaki meja, dan meringkuk di baliknya.
Tiga orang pria memakai topeng memberondong sofa dengan pistol berperedam! Tetapi Jack masih selamat oleh meja porselen tebal.
Mereka makin merangsek. Jack balas menembak. Seorang yang paling kiri terjungkal roboh. Terdengar bunyi jatuhnya. Tetapi dua orang lainnya terus memberondongkan peluru. Jack terjepit. Dia sudah pasrah, sehingga dengan tafakur lelaki itu melafazkan lailahaillallah…muhammadarrasulullah…!
Dengan ikhlas dia berserah diri pada Yang Maha Kuasa, sambil memejamkan mata, menunggu peluru itu mencabik-cabik tubuhnya! Tiba-tiba Jack mendengar suara letusan beberapa kali. Lalu bunyi ada sesuatu yang jatuh. Kemudian hening.
Jack masih meringkuk di balik meja porselen. Menunggu. Namun peluru yang ditunggu-tunggu tak kunjung tiba. Sedetik, dua detik, lima detik. Tak jua ada satupun peluru. Jack tak mau mengangkat kepala dari balik meja porselen itu. Takut bila para tamu tak diundang itu menunggu kepalanya nongol.
Lebih semenit, tak ada juga peluru. Yang ada bau bunga cempaka. Lalu tertawa cekikian,”Kau berhutang nyawa padaku Mir,” suara Luna yang riang berbisik di telinganya.
Segera saja Jack meraih secara asal dengan gerakan memeluk. “Auwww… kamu memang laki-laki otak kotor. Bawaanmu mau memeluk melulu,” kata Luna sambil menampakkan badannya yang sudah dalam pelukan Jack.
Jack tertawa tanpa mau melepaskan pelukan. Hangat dan lembut tubuh gadis itu. Wangi lagi. Aroma bunga cempaka itu merasuki ruang hati Jack. Namun lelaki ini langsung berkosentrasi dan mengkoneksi. “Kamu sengaja ingin dipeluk kan? Kenapa kamu selalu saja terobsesi untuk menguji keimananku…?”
Luna terlihat malu. Mukanya memerah. Di dalam ruang hatinya Luna menjawab,”Kamu saja yang selalu salah tafsir!”
Jack sekarang yang merah mukanya dan melepaskan pelukan. Kemudian berdiri ke arah tiga tubuh yang bergelimpangan itu. “Ketiganya tewas. Tak ada tanda pengenal. Dan tak satupun yang aku kenali,” ujar Jack, dan menambahkan,”Berarti yang dua ini tewas karenamu. Tapi bukan oleh peluru. Bagaimana caramu membunuh dua orang ini?”
“Tadi aku sudah jalan ke sini saat kulihat tiga orang ini memakai topeng di depan pintu. Lalu diam-diam aku ikuti. Tentu saja mereka tak melihat aku,” jawab Luna.
“Iya…itu aku sudah duga. Tapi bagaimana kamu membunuhnya? Menggunakan apa?”
Luna tersenyum manis. “Aroma bunga cempaka juga bisa berubah jadi racun bila dihembuskan langsung ke paru-paru. Karena mereka tak bisa melihatku, tentu dengan gampang aku meniupkan asap cempaka!’
“Jadi kamu mencium lelaki itu?”
“Husss… lagi-lagi otak kotormu salah tafsir. Bukan di mulut. Tapi ke hidungnya aku tiupkan kuat-kuat,” jawab Luna.
Jack tersenyum kecut karena dituduh berotak kotor. “Sesukamulah… tetapi tetap saja aku harus berterima kasih. Aku berhutang nyawa padamu!”
Luna tersenyum riang. “Hutang nyawa, bayar nyawa! Kamu mau membayarnya?”
Jack makin kecut senyumnya. Ibarat main catur, dia sudah mati langkah. Karena itu dia tak lagi menggubris gadis itu. Melainkan pergi ke pintu untuk melihat kerusakan. “Ayo siap-siap, kita tak bisa lama-lama di sini. Mereka sudah menemukan kita!”
Tak lama, mereka sudah di atas mobil. Sekarang sudah mendekati pintu tol Kapuk. “Kita kemana,” tanya Luna.
Jack tak menjawab, karena dia tiba-tiba membelokkan mobil ke kanan, melawan arah exit tol. Saat berbelok itu, Jack menekan gas dalam, sehingga mobil yang dikendarainya berputar 360 derajat. Luna terkejut, untung dia menggunakan seatbelt, dan tangannya berhasil bertumpu di dashboard, sehingga terhindar dari benturan.
Sementara itu, beberapa mobil yang berpapasan dan yang mengikuti di belakang, terpaksa me-rem mendadak. Lalu lintas jadi semraut.
Sedangkan Jack dengan senyum kemenangan meluncur ke kanan dengan kecepatan tinggi. Mereka sekarang memasuki jalan menuju Kelapa Gading. Adapun Luna kesal setengah mati. “Apa-apaan kau Mir?”
Luna memang sering bolak-balik memanggil nama Jack. Jika dia sedang senang atau kesal, maka di memanggil lelaki itu dengan panggilan Amir. Di luar dua kondisi tersebut, Luna memanggil Jack.
“Kamu tak lihat. Itu tadi ada mobil hitam yang membuntuti kita. Sekarang, sementara aman,” ujar Jack alias Amir.
“Harusnya kamu beritahu aku. Untung kepalaku tak terbentur,” ujar Luna sengit. “Dan, kenapa kamu seolah-olah meletakkan aku di luar. Padahal sejak dari kemaren-kemaren, masalahnya karena aku!”
Jack masih tetap diam tanpa menoleh sedikitpun ke arah gadis yang makin sewot. “Heiii… kenapa kamu diam saja? Baik, aku turun di sini saja. Berhenti,” teriak Luna dengan suara keras dan melengking.
Jack terkejut, baru kali ini dia melihat gadis ini marah besar. Suara lengkingannya adalah wujud emosi yang sangat tinggi. Tetapi dia malah makin menekan pedal gas!
Sekarang mereka memasuki komplek kondominium di Kelapa Gading. Jack bicara pada hpnya yang terhubung ke panel di tengah-tengah dashboard,”Buka pintu!” Lalu secara mendadak Jack membanting stir ke kiri, memasuki sebuah gang. Belok kiri lagi, dan masuk ke sebuah gerbang yang sudah terbuka.
“Sekarang kita aman. Buat sementara,” ujar Jack sambil membukakan pintu buat Luna. Tetapi gadis itu tetap memandang sengit. Namun dia keluar juga.
Jack mendahului masuk ke ruang tengah, yang pintunya sudah terbuka secara otomatis, setelah menekan sesuatu di smartphone nya. Saat ini memang sudah cukup banyak rumah cerdas. Hanya dengan smartphone, fungsi-fungsi rumah bisa dihidupkan atau dimatikan. Hidup mati fungsi-fungsi cukup dengan satu sentuhan di touchscreen smartphone.
“Silakan tuan putri, hamba siap melayani,” ujar Jack mencoba bergurau buat mencairkan suasana, begitu mereka masuk ke ruang tengah itu.
Luna tetap memasang muka sangar. Tetapi dia ikut juga ke dalam. Dan sekarang mereka duduk berhadapan di sofa besar. Jack memandang Luna langsung ke bola matanya. Tak mau kalah, Luna juga memandang Jack tepat di bola matanya.
Bedanya, Jack langsung terkoneksi, sedangkan Luna justru makin emosi. Karena gadis itu masih kheki. Kenapa dicuekin dari tadi? Padahal dia sudah bertanya berkali-kali. Namun Jack seolah tak peduli. Dicuekin begitu, perempuan mana yang tak kheki?
Dalam koneksinya, dalam ruang hatinya, Jack menjenguk ruang hati Luna, dan bertanya: “Kamu lagi mens?” “Iya…! Sejak pagi ini.” “Baik, itu normal. Biasa saja. Yang penting sekarang, kamu harus ikuti perintahku! Paham?”
Tiba-tiba Luna mengangguk. Jauh di lubuk hatinya, gadis ini kaget karena menganggukkan kepala. Padahal dia masih menatap Jack dengan berang. Dan Jack menatapnya langsung ke bola mata.
Ruang hati, sebenarnya adalah ruang pikir. Tempat jiwa bersemayam. Dalam filsafat Islam, pikir adalah harkatun nafsi ilal ma’kulat: bergeraknya jiwa pada sesuatu yg diakali (dipikirkan). Bila yang diakali sesuai dengan kejadian, itulah ilmu. Dan apabila tak sesuai dengan kejadian disebut jahil!
Dalam kajian filsafat Islam, jiwa merupakan substansi non-fisik yang memiliki fungsi untuk mempersepsi segala sesuatu yang dapat dimengerti dengan esensinya. Jiwa memiliki daya-daya yang terhubung dengan fisik, tetapi di sisi lain independen dari fisik.
Maka dengan mengkoneksi melalui bola mata, itulah pintu batin. Maka terkoneksilah dengan hati, dengan jiwa. Sebab kalbu (qalb) atau hati adalah pusat dari perasaan, kecintaan, dan keimanan seseorang. Hati berpikir secara emosional dan mengungkapkan perasaan yang tidak bisa digambarkan secara logis. Sedangkan jiwa (nafs) adalah dimensi psikologis, emosional, dan moral dari individu. Jiwa terbentuk karena “perkawinan” antara ruh dan jasad. Menurut Imam Al-Ghazali hati, jiwa, akal, dan ruh adalah entitas yang sama, namun dalam konteks pembahasan yang berbeda-beda.
Dengan demikian, tatkala masuk ke pintu batin seseorang, melalui matanya, maka sebenarnya sudah ada koneksi antarakal, antarhati, antarjiwa, dan antarruh! Itulah yang didalami Jack, bermula dari pengalam spritual sejak kecil, dan pendalaman terus menerus dengan metode zikir, termasuk zikir ruh. (Baca dua novel sebelumnya; Simpang Hati Luna Sangir dan Ruang Hati Jack Sangir).
Begitulah, setelah tahu bahwa gadis ini memang sedang terganggu hormonnya lantaran lagi menstruasi, Jack maklum. Lalu, tanpa membujuk lagi, lelaki ini membuka smartphone. Membaca ulang pesan Buyung: IP address kpl selam. Chef mngkn trlbat!
Jack mencoba memahami pesan tersebut. “Hei, Luna, bagaimana caranya untuk memantau keberadaan sebuah kapal selam?”
Luna yang ruang hatinya sudah dikuasai Jack, segera merespon,”Kalau ada IP address, bisa dilacak.”
“Ada, tetapi bagaimana melacak kapal selam yang ribuan meter di bawah laut?”
“Setiap kapal selam pasti terhubung ke satelit kan? Dengan bantuan satelit mereka berkomunikasi. Dan itu dilakukan dengan peralatan elektronik yang punya IP address. Nah, tinggal menunggu saja di satelit yang ada, bila ada komunikasinya terpantau, saat itu juga kita bisa mengetahui lokasi,” tutur Luna.
Jack tersenyum senang karena koneksinya untuk mempengaruhi pikiran Luna berhasil. Buktinya, gadis itu bicara panjang lebar perihal yang ditanyakan. Padahal sesaat sebelumnya, gadis itu sengit hatinya.
“Apakah kamu bisa bantu dengan smartphone ini?”
Luna mengangguk seraya menerima smartphone,”Tapi tergantung apakah spesifikasi hp mu mendukung,” ujar Luna seraya mulai menelusuri smartphone itu setelah kunci dibuka Jack.
“Sepertinya aku perlu mendownload beberapa aplikasi nih. Boleh ya,” katanya. Jack mengangguk,”Asal jangan mengintip dokumen-dokumen aku saja,” gurau Jack sambil tertawa.
Luna juga tertawa. Renyah tawanya. Riang senyumnya. Sesaat saja, gadis itu berobah 180 derajat. Wanita memang unik. Bisa berubah-ubah mood-nya seketika. Antara lain dipicu ketidakstabilan hormon saat wanita menstruasi atau hamil muda yang berpengaruh pada mood–suasana kebatinan yang bersangkutan.
“Mana IP address-nya,” tanya Luna. Jack mendekat, mereka sekarang duduk berdekatan. Luna bukannya menyerahkannya, tetapi masih memegang smartphone itu saat Jack menyentuh touchscreen untuk menunjukkan alamat internet protokol yang tadi dikirim Buyung. Jemari mereka bersentuhan. Keduanya tersengat listrik syahwat. Pipi Luna memerah. Bibir Jack mendadak kering. Para setan pun berjingkrak-jingkrak.
Lalu setan-setan itupun kocar-kacir karena Jack segera melafazkan astagfirullahal adzim keras-keras. “Maafkan aku,” ujar Jack seraya membenahi jantungnya yang berdentum-dentum. Sementara Luna hanya mengangguk dan tertawa lirih. Dia mengedikkan badan untuk membereskan jilbab. Atau itu adalah naluri wanita serupa binatang betina menarik pasangan saat musim kawin tiba?
Bukan. Bukan persis serupa itu. Bukankah Luna sedang haid, mana ada pikirannya buat kawin?
Lalu untuk apa mengedikkan badan di hadapan lawan jenis? Padahal saat wanita mengedikkan badan, itu adalah pemandangan yang sensual. Entah karena ingin menonjolkan sensualitasnya, atau gerakan sedikit meng-honyok-kan badan ke depan itu adalah sesuatu yang wajar, itu perlu diteliti lebih mendalam. Sebab gerakan serupa itu jarang ditampilkan para perempuan di muka umum. Karena itu menonjolkan dada, tetapi tak kentara.
Sekali lagi, itu adalah sensualitas yang patut diteliti para ahli seksologi; apakah memang bertujuan mengundang pasangan untuk berbuat lebih intim?
Yang jelas, itu adalah gerakan yang privasi yang dijaga betul. Tetapi Luna sekarang tidak privasi. Dia sedang berdua saja di rumah itu dengan Jack. Apakah gadis itu mengundang? Atau setidaknya menonjolkan sisi kewanitaannya. Entahlah. Tetapi Jack yang berdua saja dengan Luna, harus hati-hati. Sebab selain mereka, selebihnya tentu para setan yang senantiasa berupaya menyiramkan bensin pada syahwat!
“Ahhh… ngaco aku. Mana mungkin ini musim kawinnya. Kan dia lagi mens. Wanita mens umumnya lupa hasrat,” gumam Jack di dalam hati.
“Okay… sudah nich. Kamu tinggal tunggu. Bila alamat itu terkoneksi, nanti ada notifikasi,” ucap Luna sembari menyerahkan handphone pintar itu pada Jack.
Lalu Jack mengubah notifikasi, dari getar ke suara. Dan kembali ke tempat duduk semula. Sekarang mereka kembali duduk berhadap-hadapan. Sama-sama tersenyum, tetapi sama-sama tak tahu harus mengatakan apa?
Jack lah yang memecahkan keheningan. “Waktu Angku Syekh menyelamatkan aku, kamu katakan itu teori Bose-Einstein, apa maksudnya?”
Digiring ke fisika, tentu saja Luna serupa ikan dapat air. Tumbuh semangatnya daripada sesaat tadi; saling bisu dan canggung.
“Itu adalah teori materi kelima. Kau tahu kan, selama ini kita sudah mengenal empat jenis materi. Yakni padat, cair dan gas serta plasma. Oleh Bose dan Einstein, diteorikan ada materi kelima yang kemudian diberi nama Bose-Einstein Condensate atau BEC. Dia tidak gas, tidak cair, tidak padat dan tidak pula plasma. Dia adalah kondensat,” jawab Luna.
Jack mengangguk-angguk. Tentu saja dia paham. Tidak hanya Luna, Jack sebenarnya boleh disebut fisikawan karena dia adalah sarjana fisika di UNP dan meraih master Astrofisika di sebuah perguruan tinggi di Maroko. “Lalu apa kaitannya dengan yang dilakukan Angku Syekh,” tanya Jack lagi.
“Kamu ingat saat pedang Angku Pincuran Gadang hampir menebas lehermu kan? Apa yang kau rasakan saat itu? Apakah mendadak ada rasa dingin, atau biasa saja,” ujar Luna.
“Aku tak ingat. Itu kejadian yang luar biasa. Aku tak percaya, dan terkejut setengah mati. Tetapi itu terjadi! Memang kenapa?”
“BEC itu bisa terjadi pada suhu nol derajat Kelvin, atau minus 273,15 derajat Celsius. Itu adalah materi kuantum tunggal dengan gelombang yang panjang.”
“Terus? Bagaimana bisa Angku Syekh menangkis pedang dan Angku Pincuran Gadang terpental jatuh?”
“Nah… BEC ini adalah materi yang bisa melewati benda padat. Secara teori fisika, bisa jadi Angku Syekh mampu mengubah diri mendekati suhu 0° Kelvin, sehingga jasadnya bisa menerobos benda padat.”
“Terus?”
“Kok terus-terus sih Mir. Seperti tukang parkir saja,” canda Luna.
Mereka berdua tertawa. “Apabila BEC melewati zat padat, maka energi zat padat akan terserap atau pindah ke BEC, sehingga secara otomatis terjadi kenaikan suhu. BEC pun berubah wujud, sehingga tidak lagi bebas hambatan pergerakannya. Itulah yang membuat pedang dan Angku Pincuran Gadang terpental!”
“Ahhh… itu kan teorimu saja yang mencocok-cocokkan dengan dunia kuantum,” kejar Jack memancing respon Luna.
“Apa kau bilang? Cocoklogi? Kau kira percuma saja aku belajar fisika sampai dapat gelar doktor? Amir… Amir… ini tentang kuantum. Itu dunia partikel-partikel kecil yang punya aturan sendiri. Berbeda dengan dunia makro. Termasuk caramu mempengaruhi pikiranku, itu adalah fisika kuantum, Mir!”
Jack terkejut saat dirinya ditebak bulat-bulat dengan kalimat “termasuk caramu mempengaruhi pikiranku”. “Maksudmu? Aku mempengaruhi pikiranmu?”
Luna tertawa renyah dan riang. Dia bukannya tak tahu bahwa Jack berkali-kali dengan mudah merasuk ke pikirannya. Masuk ke ruang hatinya. Dan mempengaruhi pikirannya dari dalam! “Amir, kamu jujur saja padaku. Aku tahu apa yang kamu lakukan, dan jujur saja, aku tak sanggup, atau belum sanggup buat menghalangimu mengkoneksi padaku!”
Jack terkejut. “Dan jujur saja, akupun belum sanggup untuk menemukanmu saat kau menghilang dengan ilmu orang kate itu. Bukankah itu juga fisika kuantum? So… fisikawan yang cantik sedunia, apakah kita akan berdebat dan mencari hasil akhir tentang siapa yang hebat fisika di antara kita? Atau kita berkolaborasi mengeksplorasi fisika kuantum ini berdua?”
“Hmmm… maksudmu, aku mengajarkanmu cara menghilang, dan kamu mengajarkan ku merasuki pikiran?”
Jack tertawa terbahak-bahak. “Wanita memang sama saja. Selalu melihat dari sisi keuntungan saja,” gumamnya dalam hati. “Dan, bila ilmu mempengaruhi pikiran ini kuajarkan padanya, jangan-jangan dia bisa tahu apa yang kupikirkan tentangnya. Ahhh… gawat itu…,” bisik Jack pada dirinya sendiri.
Begitupun Luna. “Bila diapun bisa menghilang, bagaimana lagi aku bisa menang darinya. Sebaiknya aku tak berikan semuanya. Tapi aku akan minta semuanya…,” gumam Luna pada dirinya sendiri.
Alhasil, keduanya hampir berbarengan berkata,”Kita kaji ilmu-ilmu itu berdua dengan pendekatan fisika kuantum. Hasilnya, lihat nanti,” ujar Jack. “Itu pula pikiranku,” sambut Luna.
“Hei…pikiranmu sama dengan pikiranku, apakah kamu mulai mencoba masuk ke ruang hatiku?”
“Huhhh…enak saja. Untuk apa aku memasuki ruang hatimu? Gelappp tau!!!” Luna tertawa ngakak. Lepas benar ketawanya. Berderai-derai, sehingga beberapa kali dia menyeka matanya yang berair lantaran kebanyakan tertawa!
“Jadi dengan fenomena BEC tadi, apa yang bisa kita pikirkan untuk membantu mengalahkan Ksatria Dunia,” tanya Jack mencoba mengalihkan pembicaraan. Karena dia tersudut juga oleh serangan-serangan mendadak dari kata-kata spontan yang meluncur mulus dari bibir basah gadis itu!
“Ahhh… itu hanya partikel yang ditemukan secara eksperimen sejak tahun 2012. Padahal teorinya sudah sejak lama. Jauh sebelum kita lahir,” jawab Luna seolah-olah menghindar untuk dieksplorasi pikirannya tentang fisika. Apalagi fisika kuantum.
Mungkin gadis ini beranggapan bahwa kajian fisika kuantum itu adalah sesuatu yang futuristik. Dan dia mau menjadi orang pertama di zaman yang akan datang. Karena itu, diam-diam Luna merancang eksperimen pribadi yang membuatnya jadi incaran Ksatria Dunia, melalui macam-macam upaya yang dilakukan Mitchael Bonn–MB.
Luna tak mau bila proyek pribadinya untuk berkelana melampaui ruang dan waktu dicuri orang lain. Kalau Mesin Pencitra Alam Gaib–MPAG–tak apa-apa. Sebab itu adalah alat untuk mainan saja. Memang apa keuntungannya bila kita bisa mencitra atau mengetahui keberadaan alam gaib? Hanya menambah daftar pertanyaan berikutnya saja!
Bayangkan, misalnya, kita sudah tahu akan adanya hantu, setan, iblis dan jin–semua hal yang gaib-gaib itu. Setelah diketahui, lantas apalagi? Siapa yang mau berteman dengan setan dan iblis? Bahkan dengan jin pun tak usah berteman. Sebab sebaik-baik jin adalah sejelek-jeleknya manusia!
“Bagaimana pula tentang partikel tunneling? Kamu mau menghindar juga membahasnya bu guru yang cantik,” ujar Jack memancing.
Sebenarnya kajian fisika kuantum bukanlah hal yang baru bagi Jack. Beberapa tahun yang lalu dia sudah menimba semua ilmu tentang fisika kuantum dari Pak Asrul di UNP. Di Maroko justru diperdalam dengan sejumlah ulama yang juga ilmuan. Klop sudah. Tetapi, sebagaimana dunia kuantum yang unpredictable–hanya bisa diperkirakan keberadaan serta pilihan dari dualisme (sebagai gelombang atau sebagai partikel?)–maka kajian kuantum akan selalu hidup karena ada kemungkinan-kemungkinan baru yang sebelumnya tak terpikirkan!
Jack tersentak dari pikirannya. Ada bunyi notifikasi. “Luna, tolong kamu lihat. Bisakah kita tahu keberadaan kapal selam itu?”
Luna berdiri, dan mendekat ke samping Jack. Mereka kembali duduk berdampingan. Berdekatan. Tapi tak berdempetan. Kendati begitu, tak urung membuat keduanya kalimpasingan (geregetan). Seperti kena setrum, meskipun hanya karena jari jemari yang bersentuhan secara tak sengaja.
Ahhh… hati-hati Jack & Luna!

Kelima:
Luna Dipeluk Orang!
“Dapat, Mir… ini sudah di perairan internasional. Lepas dari Laut Cina Selatan,” ujar Luna. Jack ikut melihat smartphone, dia takjub akan kepintaran Luna menggunakan hp pintar itu. Tidak hanya mengetahui keberadaan kapal selam tersebut, Luna bahkan bisa menambatkan posisi kapal selam itu ke hp. Sehingga secara realtime, terlihat pergerakan kapal tersebut. Nun jauh di bawah laut.
Jack mengangguk puas. Dia berniat hendak memberi tahu Buyung via massage (pesan), tetapi urung lantaran ada telpon masuk. “Pak Mahmud,” gumamnya dalam hati sambil menimbang-nimbang apakah akan menjawab, atau tidak?
Akhirnya dia menjawab juga,”Ya… pak… ya… alhamdulillah saya baik-baik saja… baik pak… iya… saya segera ke rumah makan.”
“Siapa?”
“Markas,” jawab Jack.
“Pak Mahmud?”
“Iya… kita harus ke sana sekarang,” tutur Jack.
Baru saja mereka bersiap-siap, tiba-tiba kaca jendela pecah, bersamaan dengan masuknya lima orang bertopeng! Mereka langsung menghujani Jack dan Luna dengan berondongan peluru dengan pistol berperedam.
Secara refleks, Jack meraih Luna, dan membawanya tiarap di lantai. Tak ada kesempatan buat Jack meraih pistol. Maklum dari tadi dia merasa aman-aman saja. “Harusnya pistol itu selalu ada padaku,” gumam Jack dalam hati.
Sekarang apa akal? Jack mencoba menganalisa. Ada pesan Buyung yang menduga Pak Mahmud terlibat. Dan, baru saja, tak lama setelah tadi Pak Mahmud menelpon, rumah persembunyian itu diserbu lima orang bertopeng bersenjata. Yakin bahwa ada kaitannya, Jack segera memejamkan mata, mengkoneksi langsung ke ruang hati Pak Mahmud. “Suruh pasukanmu pulang! Aku sekarang pimpinanmu!!! Ini perintah…!!! Ini perintah!!! Ini perintah!!!”
Saat Jack mengkoneksi itu, Luna memperhatikan dengan seksama. Tanpa setahu Jack, Luna sudah menghilang dari pandangan para penyerbu bertopeng itu. Tapi dia sengaja tidak menutup pandangan Jack terhadapnya. Tetapi Jack memang tak menampak Luna yang tadi memperhatikannya, sebab dia mengkoneksi dengan mata terpejam!
Dengan segenap keyakinan akan kekuatan Yang Maha Kuat, dengan izin-Nya, Jack mencoba ilmu mempengaruhi pikiran dari jarak jauh. Karena dia dan Pak Mahmud sudah saling kenal, maka mestinya koneksi berhasil. Hal yang sama sudah pernah dilakukan Jack pada si kurus, anggota Geng Sisimangaraja di Medan, beberapa tahun lalu!
Dan, Tuhan berkehendak. La fi’ila ilallah… tiada sesuatu yang berbuat kecuali Allah semata. Maka, kuasa-Nya jua lah yang berlaku. Tiba-tiba terdengar bunyi hp berdering. Mungkin perintah untuk berhenti menembak. Dan tak lama setelahnya, Jack dan Luna tak mendengar apa-apa lagi!
“Alhamdulillah… kamu hebat Mir. Hanya dengan pikiran, kamu bisa menyelamatkan kita,” puji Luna dengan tulus.
“Alhamdulillah… menurutmu sekarang apa yang harus kita lakukan?”
“Bukankah tadi kau berencana akan ke markas?”
Jack mengangguk. “Tapi kemungkinan Pak Mahmud terlibat. Mungkin dia berkhianat,” tutur Jack.
“Jadi tadi tu, pikiran Pak Mahmud yang kau kuasai?”
“Iya… dan berhasil. Berarti memang dia terlibat dengan semua ini,” jawab Jack.
“Hmmm… kepalang basah Mir. Bagaimana kalau dengan kekuatan pikiran, kamu perintahkan Pak Mahmud kemari. Sekalian nanti bisa kita interogasi,” usul Luna.
Jack ragu. Dia memikirkan keselamatan Luna. “Keselamatanku tak perlu kau pikirkan Mir. Bukankah aku bisa ngumpet. Menghilang,” ujar Luna seolah tahu apa yang dikuatiri Jack.
“Ide yang bagus, tapi kamu jangan menghilang dari pandanganku ya.”
“Emang kamu takut kehilanganku ya, Mir?”
“Iya lah… kan hanya ada satu yang seperti kamu,” gurau Jack. Mereka tertawa gembira.
Lalu Jack memejamkan mata. Mengkoneksi. Dan tersambung,”Aku tunggu di sini. Segera. Kau tahu posisi aku!”
Beberapa kali Jack mengulang-ulang. Setelah yakin pikiran Pak Mahmud terkuasai, Jack pun meraih hp. Dia mengirim pesan pada Buyung: dtggu, ini shareloc! Chef jg dtg…
Sementara itu, di hp, Jack melihat pergerakan kapal selam kian jauh. Barangkali menuju Hongkong. Atau ke Taiwan.
“Makin jauh saja kapal itu.”
“Oya, coba kita analisa ulang. Apakah ada yang sengaja membawa kita menjauh dari pokok masalah,” ujar Luna.
“Hmmm… bisa juga. Coba kita rangkai satu persatu. Mana tahu ada rangkaian yang luput.”
Luna mengangguk. “Dimulai dari MB yang berusaha menguasai rumus-rumusku. Kemudian organisasimu muncul di pabrik oksigen cair. Begitu kan, Mir?”
“Iya…Kamu kubawa ke markas. Kemudian kita berusaha mencari keberadaan MB lewat email yang kamu kirim.”
“Betul Mir. Saat email itu diterima, aku bisa mengetahui IP address nya. Rupanya itu menunjuk ke kapal phinisi yang sedang berlayar di perairan Pulau Seribu. Dan kau mengajak aku ke sana,” ucap Luna.
“Lalu kita tiba di Jembatan Cinta. Kamu terpesona melihat matahari tenggelam, saat aku lengah, terdengar suaramu menjerit dan bunyi sesuatu yang jatuh ke laut. Aku kira kamu terpeleset. Maka aku terjun ke laut.”
“Tunggu…tunggu…kenapa bisa kamu lengah Mir? Sehingga kamu tak tahu ada sesuatu yang meraih kakiku dari bawah jembatan!”
“Mmm…diam-diam aku memotretmu, saat melihat hasil jepretan di hp itulah terdengar kamu menjerit.”
“Ooo…bagus fotonya? Mana…mana…aku mau lihat,” kata Luna antusias.
Tapi Jack tidak merespon. Mana mau dia memperlihatkan foto yang seakan sudah menjadi “harta” baginya. Malu lah. Soalnya foto tersebut mengekspos kecantikan wajah gadis secara artistik, tetapi juga menonjolkan tubuh semampainya yang sempurna.
“Nah, aku kan langsung terjun ke laut. Lalu apa yang terjadi padamu?”
“Setelah menjerit, aku tak tahu apa-apa lagi. Karena agaknya aku dibius.”
“Terus….”
“Saat mulai sadar, aku sedang dipeluk oleh seseorang.”
“Dipeluk? Kok pake….” Panas hati Jack mendengar gadis itu dipeluk. Luna dipeluk orang! Dalam hatinya lelaki itu mengumpat,”Huhhh… enak saja orang itu…!
Belum selesai gerutuan dan umpatan dalam hatinya, Jack dikejutkan oleh cubitan jari lentik gadis itu di lengannya. Lalu dengan riang Luna berkata,”Husss…jangan dipotong dulu, Mir. Aku mulai sadar, tapi dalam keadaan dipeluk. Tentu aku terkejut, dan mengamati diri sendiri. Alhamdulillah… aman… diriku tak cedera dan tak kurang suatu apapun. Dan, masih dengan memelukku, orang itu membawaku ke atas jembatan. Mungkin dia memelukku demi keamanan. Karena selama itu kami berada di bawah jembatan, di tempat sempit. Begitu tiba di atas jembatan, dia melepaskan pelukan. Tetapi tetap menjaga supaya aku tak lari.”
“Ya, kini aku mulai paham. Rupanya kamu dibius, sengaja untuk diculik. Dan orang itu menunggu hari benar-benar gelap untuk naik ke jembatan. Lalu apa yang terjadi? Kenapa kamu lari ke ujung jembatan?”
“Hmmm… Nenek Sirici yang menyelamatkanku. Dia tiba, saat orang yang menculikku sedang melihat ke bawah jembatan. Tentu nenek datang tanpa diketahui orang itu. Dan dengan gampang nenek membuatnya pingsan dengan bius bunga cempaka.”
Jack masih akan membahas detail-detail kejadian di Jembatan Cinta itu, namun di hp dia melihat Pak Mahmud sudah berdiri di depan pagar. Tak lama terdengar bunyi bel.
Sebelum membukakan pintu, Jack mengaktifkan mode pesawat di hp nya. Lalu menghidupkan perekam, seraya meletakkan hp nya di atas meja.
Setelah itu, baru Jack membuka pintu pagar otomatis dengan menekan tombol di dekat pintu. Dan Pak Mahmud pun tiba di serambi. Mengetuk pintu.
Jack membukakannya. Sesaat sebelumnya, Luna sudah menghilang, tetapi tidak di mata Jack.
Begitu Pak Mahmud memasuki ruang tengah, Jack langsung mempersilakan lelaki tersebut duduk di sofa.
“Alhamdulillah kamu selamat Jack,” ujar Pak Mahmud sambil menatap anak buahnya tersebut.
“Aku aman-aman saja kok pak. Dari markas, kami langsung ke Kepulauan Seribu,” jawab Jack.
“Oya, Luna mana?”
Melihat dampak penguasaan pikiran terhadap Pak Mahmud belum sempurna, seketika Jack kembali mengkoneksi. “Jangan bicara jika tak aku tanya… jangan bicara… jika tak aku tanya… ini perintah!!! Jika kau paham, mengangguk tiga kali!!!”
Pak Mahmud kelihatan masih akan bicara, tetapi kemudian dia sedikit tergagap, lalu mengangguk. Dia mengangguk sebanyak tiga kali!
Sudah yakin dengan penguasaan penuh terhadap pikiran Pak Mahmud, Jack pun mulai menginterogasi sang chef–komandannya sendiri.
“Kenapa bapak mengikuti aku ke Kepulauan Seribu?” Dia sengaja menyebut lelaki itu dengan “bapak”, bukan “kau” seperti yang dipakai saat mempengaruhi pikiran sang chef itu tadi!
“Anu…anu… bapak ragu akan keselamatanmu.”
Jack mengangguk, dan diam-diam berkesimpulan; bahwa saat mempengaruhi pikiran dan mempertahankan pengaruh tersebut selama mungkin, tak boleh “memakai perasaan”. Panggilan “bapak” itu adalah penghormatan yang dilandasi oleh etika sesuai adab yang berlaku. Dan itu semua kendalinya adalah perasaan.
Maka, bila membawa perasaan untuk urusan apapun, niscaya level objektifitas akan turun. Semakin mengurangi perasaan, bahkan jika perlu “nol perasaan”, maka level objektifitas meningkat. Bukankah dalam melaksanakan sesuatu pekerjaan, aspek objektifitas adalah kunci? Semakin objektif, semakin kongkrit. Semakin turun level objektif, semakin tak kongkrit.
Kini Jack memahami hal baru dalam mempraktikkan “ilmu menguasai pikiran” yang diturunkan oleh Angku Pincuran Gadang itu. Yakni “jangan memakai perasaan”!!! Namun, diam-diam Jack tersenyum di dalam hati, dan bergumam pada diri sendiri,”Bisakah aku tak pakai perasaan dengan Luna?”
Jack malu sendiri. Dia melihat Luna duduk agak jauh dari Pak Mahmud. Tentu saja sang chef tak melihat Luna. Tapi gadis itu bisa dilihat oleh Jack. Itu kesepakatan mereka tadi.
Luna tersenyum. Jack tersenyum, kecut. Malu lantaran pikirannya tadi. Karena jikapun dia punya perasaan pada gadis itu, belum tentu ada perasaan yang sama dari ahli fisika cantik ini. Jack malu, pada dirinya sendiri.
Karena itu, cepat-cepat dia kembali ke Pak Mahmud. “Kau mengikutiku, kenapa?” Jack sengaja memberi penekanan pada suaranya.
“Aku… aku… terpaksa,” jawabnya terbata-bata. Mungkin jauh di ruang hatinya masih ada perlawanan untuk menutupi hal yang telah dilakukan.
“Siapa yang memaksa?”
“MB. Micthael Bonn.”
“Kenapa kau mau? Kau bagian dari Ksatria Dunia?”
“Iya… tapi… tapi…”
“Tapi apa? Kau telah mengkhianati kami!”
“Aku…aku terpaksa… istri dan anakku mereka ancam,” ujar Pak Mahmud dengan suara pelan yang mengandung rasa ketakutan yang besar.
Jack melihat ke arah Luna. Gadis itu mendekat, dan berbisik. “Kamu tanya, sejak kapan dia mulai berkhianat? Apa yang diminta MB padanya?”
Jack mengangguk, meskipun kosentrasinya sempat pecah lantaran merasakan hangat nafas gadis itu di telinganya. Bulu kuduk Jack meremang. Tentu saja Pak Mahmud tak tahu keberadaan Luna yang membisiki Jack.
Cepat-cepat dia kembali ke Pak Mahmud,”Sejak kapan kau berkhianat?”
“Sebelum kau kembali ke markas, setelah kejadian di pabrik itu.”
“Bagaimana ceritanya?”
“Aku ditelpon seseorang yang mengaku MB. Dia kemudian video call, ada anak dan istriku yang sedang di cafe dengan beberapa orang. Mungkin itu orang-orang suruhan MB.”
“Lalu?”
“MB menutup telpon, tetapi kemudian dia minta aku menemuinya di pabrik itu.”
“Kau kesana sendiri? Terus apa yang terjadi di pabrik?”
“Ya… aku sendiri. Di situ MB mengancam akan membunuh anak dan istriku. Dia minta supaya aku membantunya menangkap Luna!”
“Oke… lalu bertepatan dengan Luna aku bawa ke markas. Kau pura-pura keberatan menerimanya, kenapa?”
“Ahhh… aku tentu harus bersandiwara. Karena kau tak gampang dikibuli.”
“Tapi buktinya aku terkecoh. Hmmm… saat Luna menyarankan untuk mengirim email, kau diam-diam mengabari MB kan? Terus apa yang dia rencanakan?”
“Ya… aku mengirim pesan supaya jangan membaca, apalagi membalas email. Tetapi aku terkejut, ternyata Luna punya cara buat mencari IP address itu, asal emailnya sudah masuk ke sistem yang dituju.”
“Karena itu rencana MB buat menjebak kami, tak jadi terlaksana?”
“Ya…”
“Saat aku berangkat dengan Luna, aku menelpon tiga kali. Bagaimana caramu mengetahuinya?”
“Aku…aku… kan sejak semula kau bergabung sudah menyadap hp mu, Jack,” ujar Pak Mahmud dengan wajah yang makin tegang, tetapi kuyu!
“Berarti kau yang memberi tahu MB supaya membunuh tukang pantau itu? Dan membiarkan polisi perairan meringkus kapal phinisi?”
“MB ingin supaya kau merasa rencanamu berhasil!”
“Pintar dan licik! Lalu, kau sendiri diam-diam mengikuti aku? Kapan kau tiba di sana?”
“Aku tiba sudah hampir magrib. Aku tak melihat apapun di jembatan itu. Lalu aku terus ke seberang. Dan sembunyi di situ, menunggu perintah MB.”
“Berarti kau melihat aku tiba di pulau, dan kau diam-diam menunggu?”
“Ya…ya… tetapi aku heran, kenapa kau memukul Luna?”
Dengan muka memerah Jack menghardik,”Apa kau bilang? Apakah kau anggap aku punya pilihan lain? Kau guruku dalam hal taktik spionase, sekarang kau jawab dengan jujur dan ringkas; apakah memukul Luna itu pilihan satu-satunya bagi seorang agen dalam situasi seperti itu?”
Pak Mahmud tergagap. “Iya… kita harus melumpuhkan, siapapun orang itu.”
“Kenapa harus melumpuhkan. Kenapa tidak membunuh?”
“Dalam situasi tak bisa mengidentifikasi lawan atau kawan, pilihan satu-satunya adalah melumpuhkan.”
“Berarti tindakanku melumpuhkan Luna secara taktik spionase sudah betul?”
“Ya… kau berbuat sesuai prosedur standar, Jack.”
Jack tersenyum sambil melihat ke arah Luna yang juga tersenyum sambil memberi isyarat jempol. Hal mana membuat hidung Jack mengembang. Bangga. Siapa yang tak bangga dipuji gadis secantik Luna?
“Maaf… maafkan aku Jack. Aku terpaksa memukulmu. Aku tidak punya pilihan!”
“Diam… yang aku tanya saja yang kau jawab,” kata Jack seraya melihat Luna yang terkejut. Sedangkan Jack malu. Karena rasa malu itulah dia tidak menceritakan perihal dia pingsan akibat pukulan Pak Mahmud kepada Luna. Dan setelah terkejut, sekarang gadis itu tersenyum. Itu adalah senyum yang mengolok-olok! Mungkin Luna menganggap lucu membayangkan Jack pingsan kena langkang (pukul) dari belakang.
Sedangkan Jack bisa maklum. Dalam posisi Pak Mahmud saat itu, dia tentu akan berbuat hal yang sama. Lumpuhkan, tapi jangan bunuh. Tetapi mendapat senyum Luna yang mengolok-olok, Jack keki juga!
Daripada terus gusar, Jack kembali ke Pak Mahmud,”Setelah aku pingsan, apa yang kau kerjakan?”
“Aku lihat MB pingsan. Aku biarkan saja. Aku langsung pulang ke markas!”
“Kenapa tak kau bunuh dia?”
“Karena… karena…keluargaku terancam. Bila aku bunuh MB, bisa saja orang suruhannya membunuh istri dan anakku…!”
“Terus, apa maksud kalian meledakkan pulau?”
“Itu aku tak tahu, mungkin orang di kapal selam ingin memastikan kalian mati!”
“Tapi kau tahu ada ledakan kan?”
“Ya, saat itu aku baru menaiki speed boat yang aku sembunyikan jauh dari dermaga. Aku juga mengira kamu tewas karena ledakan itu,” jawab Pak Mahmud.
Jack masih ingin bicara. Tetapi, tiba-tiba Buyung datang. Lelaki hitam berhidung lebar itu terkejut, begitu melihat Pak Mahmud.
Daripada menjelaskan kepada Buyung, lebih baik melanjutkan interogasi. “Lalu kau kembali ke markas. Apa yang kau lakukan. Jawab dengan jujur!!!”
Buyung terkejut melihat situasi itu. Sang chef diinterogasi oleh wakil chef! Tetapi seperti biasa, Buyung selalu cermat dan hemat bertindak. Dia tidak bersikap apa-apa atas hal yang sedang terjadi. Tetapi dia menyimak dengan seksama. Sambil membenarkan dugaannya bahwa chef dan wakil chef berseteru!
Pak Mahmud tak sempat terkejut karena kedatangan salah satu koki rumah makan–Buyung–sebab intonasi Jack yang menaik tinggi tadi semakin membetot pikirannya. Ruang hati sang chef sudah dikuasai sepenuhmya oleh Jack!
“Aku pulang ke markas. Rupanya di sana Buyung, Gatot dan Vivien sudah duluan datang.”
“Lalu apa yang kau lakukan, atau apa yang kau katakan untuk menghilangkan kecurigaan?”
“Aku segera masuk ruang kerja. Setelah ganti baju dan membersihkan badan, mereka aku panggil ke ruangan,” jawab Pak Mahmud.
Jack melihat ke arah Buyung. Dan lelaki klimis itu mengangguk membenarkan cerita Pak Mahmud.
“Apa yang kau katakan pada mereka?”
“Aku katakan bahwa lawan kita adalah Ksatria Dunia, dan MB hanya orang level tiga.”
“Apakah betul MB level tiga?”
“Aku tak tahu, aku karang-karang saja.”
“Terus apalagi yang kau katakan?”
“Aku katakan bahwa kau mungkin tewas. Maka aku suruh Buyung menghubungimu. Tapi kata Buyung, hp mu tidak aktif.”
“Kenapa kau katakan aku tewas pada mereka?”
“Supaya bila itu benar-benar terjadi, mereka siap mental. Mereka semua segan padamu, Jack.” Jack memandang Buyung, mungkin minta klarifikasi. “Beliau benar. Kami semua segan padamu, pak,” tutur Buyung.
Jack tersenyum, dan mengulang kosentrasi, mengkoneksi tepat ke bola mata Pak Mahmud. “Baik…baik… sekarang kau diam. Jangan bicara bila aku tak menanya. Paham… kamu paham. Mengangguk tiga kali!!”
Spontan Pak Mahmud mengangguk. Dia mengangguk tiga kali. Buyung heran. Takjub. Dan melihat pada Jack seperti meminta penjelasan.
“Yung, apakah ceritanya tadi benar?”
“Iya pak. Memang itu yang terjadi,” jawab Buyung mulai memahami strategi interogasi yang dilakukan Jack. Namun dia heran, bagaimana cara Jack membuat Pak Mahmud manut, patuh.
“Lalu kau mengirim pesan itu, kapan? Dan apa alasannya?”
Buyung gelagapan. Dia melihat Pak Mahmud. Namun yang dilihat adem saja, sambil menekur. Serupa orang kena hipnotis. “Ya pak. Aku mengirim pesan setelah yakin beliau terlibat.”
“Apa yang membuatmu yakin?”
“Pertama, ada bekas-bekas pasir di sepatu. Itu buktinya aku simpan. Kemudian beliau pakai baju taktikal, yang selama ini belum pernah kami lihat. Dan melihat beliau agak kelelahan, kemudian masuk ruangan tergesa-gesa, dan sepatu berpasir, kami menduga beliau dari pantai.”
“Itu saja?”
“Ada lagi, saat baru tiba di markas, beliau langsung mengatakan bahwa pak Jack kemungkinan tewas. Lalu, saat sedang bersama dengan kami, beliau ditelpon seseorang dalam bahasa Inggris. Lalu beliau berbohong mengatakan tak ada sinyal. Tapi kami yakin, beliau ingin menghentikan pembicaraan lantaran takut kami curi dengar. Itu pak.”
Jack mengangguk-angguk dan menoleh ke arah Luna. Gadis itu mengacungkan jempol, dan mengangguk sambil tersenyum manis.
“Nah… kau dengar semua perkataan Buyung? Apakah kau mengakuinya, atau akan membantah?”
“Semuanya benar. Tak ada yang mesti dibantah. Tetapi semua ini aku lakukan, karena keluargaku diancam!”
“Oya, ada satu lagi. Apa alasanmu tak suka Luna aku ajak bergabung?”
“Karena dia yang akan diringkus. Makanya aku tak ingin dia bergabung.”
“Setelah ini, apa rencanamu?”
“Aku tak tahu, mungkin aku harus mengundurkan diri!”
“Kepada siapa kau mengajukan pengunduran diri?”
“Kantor pusat.”
“Dimana kantor pusat?”
“Jakarta.”
“Berarti kita orang pemerintah?”
“Tidak. Kita bukan bagian dari pemerintah.”
“Lalu siapa di balik organisasi kita ini?”
“Aku tak tahu. Tapi tujuan organisasi kita sangat mulia. Ingin menjaga dunia dari ketidakseimbangan.”
“Siapa nama pemimpin?”
“Aku tak tahu.”
“Alamatnya?”
“Tak ada alamat. Kita berhubungan secara daring saja.”
“Lalu darimana kau tahu bahwa di Jakarta ini kantor pusat?”
“Mereka yang bilang.”
“Apakah Ling masih bergabung?”
“Ya… tapi aku tak tahu dimana dia bertugas.”
“Bagaimana cara memastikan bahwa yang berkoordinasi adalah orang sendiri?”
“Kami diberi kartu digital. Dengan menggunakan kartu digital itu, semua komunikasi dianggap dari orang sendiri.”
“Mana kartu kau. Keluarkan!!!”
Lalu Pak Mahmud mengeluarkan sebilah kartu dari dompetnya. Jack mengambilnya. Dilihatnya kartu itu serupa kartu kredit atau kartu ATM biasa saja. Tak ada yang istimewa.
“Apakah semua yang memegang dan menggunakan kartu melalui tahapan verifikasi saat memakainya?”
“Iya. Verifikasi lima langkah.”
“Ceritakan.”
Lalu Pak Mahmud menceritakan bahwa pemegang kartu adalah anggota tinggi organisasi. Tiap anggota tinggi punya kewenangan mengeksekusi sumberdaya dan kebijakan dalam menjalankan misi. Setiap misi diinformasikan secara tradisionil, melalui surat yang dikirim kurir. Dan kartu itu adalah pintu masuk untuk menggunakan sumberdaya. Uang, order peralatan, order tenaga, senjata dan lain-lain.
Pak Mahmud juga menceritakan bagaimana tahapan verifikasi langkah. Yakni menggunakan satu akun email, satu password kombinasi angka, dua password kombinasi huruf dan satu nomor seluler. Tiap tahapan dibuat ekstrim. Apabila salah, maka kartu langsung hangus. Dan penggunanya langsung non aktif serta menjadi buronan organisasi tanpa nama–ortana!
Jack takjub dengan tata kerja organisasi itu. Dan dia lebih takjub lagi mendengar kenyataan bahwa mereka bukan orang pemerintah. Melainkan NGO–Non Governmental Organization.
Buyung pun heran. Karena dia pikir, mereka adalah orang pemerintah.
“Lalu bagaimana caramu mendapatkan atribut dan akses pemerintah. Seperti kartu identitas khusus yang membuat kita bebas memasuki area manapun?”
“Aku tak tahu. Itu pusat yang mengurus.”
“Dimana posisi MB saat ini? Apakah dia pulang ke Inggris, atau ke Cina? Atau ke Taiwan?”
“Katanya ke Hongkong. Di situ ada perwakilan Ksatria Dunia.”
“Kenapa MB mau membagi informasi rahasia itu padamu?”
“Karena dia yakin aku sudah tak berdaya. Pasti menurut untuk keselamatan keluargaku.”
“Kapan dia terakhir menelpon?”
“Saat yang dikatakan Buyung itu. Aku terpaksa berbohong tak ada sinyal,” ujar Pak Mahmud dengan suara serak. Lalu, Jack melihat Pak Mahmud terengah-engah. Nafasnya berbunyi. Tubuhnya gemetaran. Dan lelaki itu terkapar!

file 00000000cc947208a6805f06ec1deee9

Keenam:
Bukan Hipnotis
Buyung segera menghampiri Pak Mahmud. Dia memeriksa nadi lelaki itu. Tetapi Jack tertahan lantaran Luna sudah berbisik di ke telinganya,”Mir, sebentar lagi, kau telpon aku,” kata gadis itu seraya beranjak keluar. Untunglah pintu masih terbuka. Tadi karena terkejut, Buyung lupa menutupnya, sehingga tanpa harus membuka pintu itu, Luna bisa keluar.
Bayangkan bila pintu tertutup, tentu terpaksa dibuka. Apa yang akan terjadi pada Buyung bila melihat pintu terbuka sendiri, padahal tak ada orang. Karena dalam pandangan Buyung, di ruang itu hanya mereka bertiga. Tak ada Luna.
Setelah mengikuti Luna keluar dengan matanya, Jack mendekati Pak Mahmud. “Nadinya normal,” ujar Buyung setelah membaringkan tubuh sang chef secara memanjang di sofa itu.
Kenapa lelaki ini pingsan? Apakah karena pengaruh pikirannya dikuasai? Bila dianalogikan dengan penguasaan fisik, seseorang yang dikuasai tentu berkeinginan untuk bebas dari penindasan. Apalagi penindasan pikiran?
Jack mengernyitkan dahi. Lalu dia duduk di sofa, di dekat kepala Pak Mahmud yang dibaringkan memanjang di kursi. Buyung pindah duduk ke kursi lainnya. Dia menahan diri untuk bertanya. Termasuk saat Jack menekur diam, Buyung membiarkan saja. Apalagi dia lihat Pak Mahmud serupa orang sedang tidur saja. Nafasnya teratur, dan mukanya tidak pucat. Malah mukanya agak merah.
Dalam kosentrasinya Jack berupaya mengkoneksi ke Pak Mahmud. Tapi gagal. Bahkan sampai lima kali. Selalu gagal. Jangankan menguasai ruang hati, tali batin saja tak kunjung tersambung. “Kenapa begini,” gumam Jack pada diri sendiri.
Sehabis-habis akal, tanyalah kepada Yang Maha Alim! Jack pun minta Buyung menjaga Pak Mahmud. Dia meraih hp, dan beranjak ke kamar. Sebelum berwudhuk, dia mengirim pesan pada Luna: 45 mnt lg…
Di salah satu kamar, Jack shalat sunat. Masing-masing sunat taubat dua rakaat, dan sunat hajat dua rakaat. Usai sunat hajat, Jack memohon pertolongan-Nya atas apa yang terjadi. Sesudahnya, Jack berzikir dengan khusyuk. Usai berzikir, lelaki itu kembali mengkoneksi alam semesta. Melanglangbuana di alam khusyuk guna mencari solusi.
Dalam kekhusyukannya, Jack bertemu Angku Syekh yang tersenyum ramah, tetapi tidak berkata sepatah pun. Hanya saja, setelah melihat Angku Syekh, ingatannya terbang ke masa kecil, saat dia diobati ustad Ismail di depan mi’raj mesjid. Dengan detail dia menyaksikan ustad muda itu mengobati. Detail itulah yang kemudian termaktub di dalam ruang hati Jack.
Merasa sudah dapat petunjuk, Jack pun ke ruang tengah. Dia masih mengenakan kain sarung dan peci. Pak Mahmud masih tergolek pingsan. Tetapi seperti orang tidur nyenyak dengan muka agak memerah. Sedangkan Buyung sedang asyik melihat hp.
“Bagaimana Yung, ada info,” tanya Jack. “Tidak pak, aku hanya memastikan Gatot dan Vivien aman di markas.”
“Oya Yung, mungkin sebentar lagi Luna datang. Kamu sambut dia, dan suruh menunggu di luar, sampai aku panggil.”
“Luna? Jadi dia selamat pak? Bukankah dia hilang saat di apartemen Oliver Weiss itu?”
“Tidak. Dia baik-baik saja. Setelah Pak Mahmud siuman, nanti aku ceritakan semua.”
Buyung mengangguk. “Tetapi, sebelum dia datang, apakah aku boleh tetap di sini pak? Aku ingin melihat bapak menghipnotis.”
Jack tersenyum dan mengangguk. “Nanti aku jelaskan. Yang jelas apa yang tadi kamu lihat, dan yang akan kulakukan, itu bukan hipnotis. Bukan pula jampi-jampi atau mantra-mantra seperti yang mungkin kamu sangka. Ini adalah spritualitas Islam, dan bisa dijelaskan secara ilmiah!”
Usai meluruskan sangkaan Buyung, lalu Jack mengambil kursi, dan membawanya ke dekat Pak Mahmud terbaring. Dia duduk menghadap ke badan Pak Mahmud.
Jack mengingat cara ustad Ismail, serupa itu dia mencoba membantu Pak Mahmud. Dalam pikiran Jack, yang terjadi pada sang chef itu adalah tekanan perasaan disebabkan intervensi yang dilakukan Jack. Bahasa lainnya adalah tekanan batin. Maka mengobatinya secara batin pula.
Setelah berkosentrasi, Jack mengkoneksi. Memang sulit mengkoneksi orang tidur, sedang mabuk dan yang tak sadar, tetapi Jack sudah punya cara. Dengan telunjuk tangan kanan, disalurkannya energi lembut (latif) langsung ke tali jantung. Itulah ilmu Energi Latif yang diarahkan ke tiga tali jantung.
Secara medis tiga tali jantung yang dimaksud adalah katup trikuspid, yang terdiri dari tiga flaps (cusp): anterior, septal, posterior. Tiga tali jantung terletak di antara atrium kanan dan ventrikel kanan, yaitu pada lubang atrioventrikular kanan. Fungsinya adalah mengatur aliran darah antara atrium kanan dan ventrikel kanan–aliran darah dari tubuh (atrium kanan) dan aliran darah ke paru-paru (ventrikel kanan).
Secara spritual, tekanan batin adalah hal yang terjadi di hati (identik dengan jantung secara medis) disebabkan ketidakseimbangan anasir angin dan api. Energi Latif diyakini bisa menyeimbangkannya. Maka ke tiga tali jantung itu telunjuk Jack mengalirkan energi lembut itu.
Jack melakukannya secara hati-hati dan selalu dalam la fiila ilallah–tak ada yang berbuat kecuali Allah. Itulah ikhtiar hakiki karena tiada yang Maha Penyembuh, kecuali Dia!
Sekitar tiga menit, terlihat tanda-tanda Pak Mahmud mulai siuman. Bersamaan dengan pintu diketuk. Jack terus melanjutkan upayanya, sedangkan Buyung–yang sejak tadi memperhatikan pengobatan itu dengan seksama–segera berlari ke serambi. Membuka pintu dan menahan Luna untuk tidak masuk ke ruang tengah.
Alhamdulillah… Pak Mahmud pun mulai sadar sepenuhnya. Serupa orang kembali dari mimpi, lelaki itu sedang loading. Tapi agak lola–loading lambat. Siapa juga yang begitu siuman dari pingsan bisa langsung normal? Orang yang baru bangun tidur pun perlu waktu untuk loading.
Begitu siuman, lelaki itu duduk, dan segera mencengkram krah baju Jack. Luar biasa cepatnya tangan lelaki itu, sehingga Jack tak dapat mengelak. Sekarang serupa sapik binguang (kakak tua/catut) dua jari Pak Mahmud sudah mencengkram kerongkongan Jack. “Apa yang kau lakukan? Mana Luna?”
Jack tersenyum lembut, dan menatap Pak Mahmud langsung ke bola matanya, bersamaan dengan penyaluran Energi Latif. Hal mana membuat Pak Mahmud pun seketika menjadi lembut. Buktinya, sambil tersenyum sang chef berkata,”Kamu tolonglah Jack, keluarga bapak diancam MB.” Ada nada memelas mengharap belas kasihan dalam perkataan lelaki separoh baya itu.
“Aku sudah tahu semuanya pak. Maaf, aku terpaksa memakai cara tak biasa,” ujar Jack dengan ramah dan senang lantaran Pak Mahmud sudah kembali seperti sedia kala.
“Maafkan bapak, karena telah memukulmu, Jack,” tukuk Pak Mahmud sambil berdiri dan memeluk agen kesayangannya itu. Mereka pun berpelukan dengan hati haru biru.
Akan halnya Luna, karena terlalu lama ditahan Buyung di serambi, muncul sifat usilnya. Tanpa setahu Buyung, beberapa saat lalu gadis itu sudah menghilang. Dan sekarang dia ikut terharu melihat sang chef dan wakil chef berpelukan pertanda sudah ada kesepahaman. Alhamdulillah.
Adapun Buyung, begitu kehilangan Luna, dia kaget setengah mati. Padahal gadis berjilbab itu tadi duduk manis di kursi tamu. Sekarang, tanpa sepengetahuannya, gadis cantik itu tak tampak lagi batang hidungnya. Bahkan sesudah mengucek-ucek matanya, Buyung tetap tak menemukan Luna.
Tak ada lain, Buyung pun menghambur ke ruang tengah. Hendak mengadukan perihal itu pada Jack. Kendati wakil chef itu belum memanggil, tapi kehilangan Luna adalah gawat darurat. Berlaku pula Standar Operasional Prosedur (SOP) gawat darurat; langgar perintah semula untuk tujuan yang lebih prioritas!
Dan lelaki hitam klimis itu pun ternganga saja manakala dilihatnya Luna, Jack dan Pak Mahmud sedang asyik bicara sambil diselingi tawa dan canda. “Gila… apa aku sudah gila? Atau ini semacam sulap? Ooo… pak Jack bisa sulap? Bukan, bukan… pak Jack tukang hipnotis,” gumam Buyung sambil bergabung dengan mereka.
“Heiii…kamu dari mana saja,” tanya Luna dengan senyum jahilnya. Buyung cengengesan untuk menutupi keterkejutannya,”Aku dikibuli oleh hipnotis!”
“Siapa yang menghipnotis kau, Yung,” tanya Pak Mahmud. Buyung tersenyum kecut, dan tak menjawab. Dia hanya memandang Jack seakan berharap penjelasan.
“Hmmm… itu bukan hipnotis, Yung. Sesuai janjiku tadi, aku akan jelaskan semuanya. Tetapi sebelumnya, aku perlu menjelaskan bahwa atas persetujuan Pak Mahmud, Luna sekarang bagian dari kita. Tak soal apakah nanti permanen, atau sementara. Alasannya adalah supaya kita bisa lebih fokus menjaga Luna dari bahaya diculik oleh kelompok MB. Apakah kita sepakat?”
Mereka bersepakat, sambil menyalami Luna. Tetapi Buyung menyempatkan melampiaskan keheranannya,”Untuk apa mengawal orang yang bisa menghilang?”
“Hahaha… itu juga ada penjelasannya, tetapi ada baiknya kita membahas di rumah makan. Sekaligus dalam keluarga besar Ortana–organisasi tanpa nama, tempat kita semua berkiprah. Bagaimana, pak? Bagaimana Yung, apakah sebaiknya kita ke markas?”
“Bagus, bapak setuju. Mari kita ke rumah makan,” jawab Pak Mahmud seraya berdiri. Buyung dan Luna pun berdiri. Jack mengunci pintu, dan dia mengemudi, membawa orang-orang rumah makan pulang kandang.
Bagitu tiba di ruang bawah rumah makan itu, Vivien dan Gatot sudah mempersiapkan jamuan. Ruang kerja yang mereka sebut dapur itu disulap menjadi tempat makan lesehan. Selembar karpet besar dibentangkan, dan aneka masakan Padang yang mereka order dari atas, sudah tersedia. Lengkap.
“Wahhh…kita makan besar,” seru Jack sambil menyalami Vivien dan Gatot secara bergantian. “Ini Luna, kalian berdua sudah tahu, ini orangnya, sekarang mereka bagian dari kita,” ujar Jack memperkenalkan Luna. Luna pun menyalami dua koki itu. Lalu mereka makan diselingi canda tawa.
Usai acara makan besar itu, Gatot dan Vivien segera membersihkan ruangan. Karena semua makanan tersebut menggunakan packaging berbahan styrofoam dan karton, sehingga mudah dimampatkan dan dibakar ke perapian.
Memang perapian itu adalah metafora yang mereka sukai. Itulah sebabnya, tatkala Jack membuat perapian di situ–beberapa tahun lalu–semua setuju, sebab aneh bila dapur tak punya perapian. Maklum, ruang kerja mereka disebut dapur.
Alhasil, dapur itu kembali seperti sediakala. Tak ada jejak dan bekas-bekas makan besar. Kecuali perapian yang berkobar.
Selama Gatot dan Vivien berbenah, Luna duduk di depan monitor yang berderet itu. Demikian pula Buyung. Jack dan Pak Mahmud masuk ke ruang kerja sang chef.
Sesudah dapur (sebutan untuk ruang kerja para koki) bersih–Buyung, dkk–Pak Mahmud dan Jack bergabung dengan mereka.
Sang chef mengambil salah satu kursi. Dia duduk di situ. Yang lain juga mengikuti, masing-masing mengambil kursi untuk diduduki. Tak ada meja, mereka hanya duduk secara acak di dapur itu.
Pak Mahmud yang duduk di ujung, berkata,”Jack dan kalian semua, bapak ingin mengucapkan terima kasih atas dedikasi kalian. Kita di Ortana–aku suka dengan nama yang diberi Jack tadi–adalah para agen yang bekerja untuk kelompok elit dunia yang tidak ingin kekuasaan dan kesewenang-wenangan Ksatria Dunia merajalela tanpa hambatan, tanpa tandingan. Tetapi kita tidak bertanding dengan Ksatria Dunia, melainkan meminimalisir pengaruh mereka, mengantisipasi gerakan mereka supaya dunia yang kita diami ini seimbang,” tutur Pak Mahmud.
“Namun, dengan apa yang sudah terjadi, dan apa yang akan terjadi, bapak akan mengajukan usul baru kepada pusat, seharusnya kita memerangi Ksatria Dunia. Bagaimana menurut kalian?”
Vivien dan Gatot mau angkat bicara, tetapi dipotong oleh Jack. “Ortana bukan pemerintah, tetapi punya akses ke pemerintah manapun di dunia ini. Karena itu, Tot, Vien, menurutku ini jauh lebih baik. Terutama kamu Vivien, sebagai mantan tentara, aku ingin kamu mengerti bahwa apa yang kita lakukan, lebih dari sebuah nasionalisme. Ini adalah upaya global untuk kemanfaatan masyarakat dunia. Apakah kalian paham?”
Gatot mengangguk. Sedangkan Vivien tampak berpikir, lalu berkata,”Apabila suatu saat nanti ada misi kita untuk melawan pemerintah sendiri, saat itu juga aku keluar!”
Pak Mahmud dan Jack mengangguk. Sekaligus mereka kagum akan jiwa patriotik dan nasionalisme Vivien. Memang serupa itulah mental korp yang dibangun pada kalangan militer. Right or wrong it is my country, my nation! Namun apakah kelak akan ada misi yang mengharuskan Ortana menghadapi oknum pemerintah, tentu adalah hal yang lain pula. “Yang penting kamu pahami, Vien, melawan pemerintah dalam pengertian kolektif, itu baru disebut melawan negara. Namun melawan oknum pemerintah, itu hal yang berbeda,” ujar Pak Mahmud.
“Sekarang, tugasmu Jack, memberi penjelasan pada kita semua. Terutama tentang kesaktianmu yang mencengangkan itu,” ujar Pak Mahmud.
Jack tersenyum tipis, dia malu dikatakan sakti. Apalagi istilah sakti itu tak tepat untuk kelebihan ilmu yang dia peroleh. “Ini bukan kesaktian. Ini adalah spritualitas Islam, dan bisa dijelaskan secara ilmiah,” tutur Jack yang duduk berhadapan dengan Luna. Jack duduk di bawah pintu rahasia, sedangkan Luna di samping kipas angin besar di dekat pintu ruang Pak Mahmud.
Pak Mahmud dan yang lain merasa heran, apa beda kesaktian dengan spritualitas Islam. “Tak masalah, apapun namanya. Dan kami mau tahu pula penjelasan ilmiah itu,” tukas Pak Mahmud.
Jack tersenyum. “Luna, bisakah kamu menjelaskan tentang energi, medan energi dan bagaimana alam semesta ini terhubung satu dengan yang lain? Fisikawan dari MIT lebih kompeten dari aku,” ujar Jack seraya menoleh pada Luna. Gadis itu mengangguk.
“Alam semesta ini, secara fisika, berada dalam satu medan energi. Tak peduli di dalamnya ada perbedaan ruang dan waktu, kita dari dahulunya, hingga kiamat nanti, berada dalam medan energi yang sama, dan tunggal. Dan, menurut hukum kekekalan energi, sejak alam semesta terbentuk, hingga sekarang, jumlah totalnya tetap. Tak bertambah, tidak berkurang. Yang terjadi hanya perubahan bentuknya saja. Misalnya dari energi gerak menjadi listrik seperti yang terjadi pada turbin yang digerakkan oleh air pada PLTA,” ujar Luna. Gadis itu merapikan jilbabnya sambil tersenyum manis. Memang jika disuruh bicara fisika, Luna serupa bayi dapat puting susu ibunya. Antusias dan lahap.
“Energi terbentuk dari getaran yang menjalar. Getaran yang menjalar itulah yang dinamakan gelombang. Setiap getaran punya frekuensi. Dua benda dengan frekuensi yang sama, akan beresonansi. Selanjutnya, biar Jack lagi,” kata Luna mengakhiri penjelasannya.
“Nah, itu adalah teori-teori yang mendasari praktik spritualitas Islam. Apa yang aku lakukan saat mengobati Pak Mahmud adalah dengan memanfaatkan Energi Latif–energi lembut, sehingga bisa memperbaiki sumbatan di tali jantung. Itu bukan hipnotis,” urai Jack.
“Tetapi, ketika pak Jack menginterogasi pak Mahmud, apakah itu bukan hipnotis,” tanya Buyung.
“Tentu bukan Yung. Itu adalah memanfaatkan Energi Latif untuk masuk ke ruang hati Pak Mahmud. Penelitian menunjukkan bahwa medan elektromagnet otak dapat mempengaruhi pikiran. Dan menurut konsep entanglement kuantum, memungkinkan hubungan energi dan pikiran. Nah, Energi Latif adalah salah satu bentuk praktik spritualitas. Boleh disebut telepati spritual. Hal ini mirip juga dengan doa, meditasi, atau metode reiki,” tutur Jack sambil melihat pada Buyung yang masih manggut-manggut.
“Adapun hipnoterapi adalah terapi yang menggunakan hipnosis untuk membantu seseorang mengubah kesadarannya dan melakukan perubahan positif. Hipnosis terjadi atas kolaborasi dengan yang bersangkutan,” imbuh Jack. Dan meneruskan,”Poinnya adalah ada kolaborasi dan tentu saja yang bersangkutan setuju dihipnotis. Kamu paham maksudku, Yung?”
Begitu disebut kolaborasi, berarti ada persetujuam, Buyung pun mengangguk-angguk. Karena yang dilakukan Jack tadi bukan kolaborasi. Tentu saja apa yang tadi dilakukan Jack adalah tanpa persetujuan dari Pak Mahmud sama sekali.
“Aku paham. Lalu bagaimana menjelaskan bahwa seseorang bisa menghilang? Apakah itu spritualitas Islam juga,” tanya Buyung.
“Kalau itu biar Luna yang menjawab. Tetapi secara garis besar, apa yang saat ini kau lihat, itu ada pada rentang normal frekuensi untuk objek yang bisa dilihat, yakni 20 sampai 20 ribu hertz. Jika seseorang bisa mengupayakan dirinya ada di frekuensi di luar rentang itu, maka dipastikan dia takkan tampak. Tentu Luna yang lebih tahu, silakan,” ujar Jack.
Luna menggeleng. Katanya,”Ini masih sangat spekulatif. Sebagai ahli fisika aku hanya bisa katakan bahwa sebelum aku dapat membuktikan sesuatu itu salah secara fisika, maka aku akan tetap menganggap sesuatu itu benar secara fisika. Dan sejumlah eksperimen memang memastikan bahwa kita hanya bisa melihat objek yang punya frekuensi pada rentang 20 sampai 20 ribu hertz.”
Karena Gatot dan Vivien sejak tadi terlihat melongo saja, maka Jack melanjutkan penjelasan Luna. “Tot, Vien, tadi Buyung melihat aku menginterogasi Pak Mahmud untuk kepentingan penyelidikan, terutama membuktikan kecurigaan kalian terhadap beliau yang tiba-tiba pakai baju lapangan, sepatu berpasir, dan beberapa hal yang tidak biasa. Bahkan, aku dan Luna sudah dua kali hampir terbunuh orang suruhan MB lantaran pengkhianatan Pak Mahmud. Jadi, tadi aku menggunakan spritualitas Islam yang aku yakini untuk mengorek keterangan beliau. Kalian paham?” Vivien dan Gatot mengangguk.
“Baiklah, sekarang giliran Pak Mahmud menjelaskan pada kita,” kata Jack seraya memandang sang chef.
Pak Mahmud tersenyum kecut. Dia tampak muram. “Ini dimulai seusai kalian dikalahkan MB di pabrik itu. Rupanya, diam-diam dia telah menyelidiki kehidupan pribadiku. Dia tahu anak dan istriku. Bahkan dia berhasil masuk ke kehidupan mereka, melalui orang-orang suruhannya. Saat ini, orang-orang suruhan tersebut hampir setiap saat bersama mereka. Dan MB mengancam akan membunuh mereka, bila aku tak bersedia bekerjasama dengannya.”
Pak Mahmud menarik napas dalam-dalam, “Aku terjebak. Aku harus memilih antara keselamatan keluarga atau kehormatan. Aku memilih keselamatan keluarga.”
Gatot dan Vivien saling menatap, terkejut. Jack menatap Pak Mahmud dengan simpati. “Bapak sudah mengakui bahwa bapak diminta untuk membantu menangkap Luna, lalu, secara spesifik apa yang MB minta dari Anda?” tanya Jack.
“MB meminta aku untuk menemukan rumus-rumus fisika yang dimiliki Luna. Tentu saja aku menolak, tapi dia mengancam akan membunuh keluargaku,” jawab Pak Mahmud dengan suara terputus.
“Rumus-rumus itu sudah kumusnahkan. Lagipula itu hanya sebagian kecil saja dari hal besar yang menjadi obsesiku saat di MIT. Jika mereka masih mau, maka mereka tentu harus menangkap aku hidup-hidup. Begitu kan pak?”
“Iya. MB memang menyebut begitu. Maafkan aku Luna,” tukuk Pak Mahmud.
Luna tersenyum dan mengangguk. Demikian pula Jack. “Baiklah pak, yang penting adalah kita harus menyelamatkan keluarga bapak, dan menghentikan MB.”
Gatot dan Vivien mengangguk setuju. “Kita harus bekerja sama untuk menghentikan MB, dan melawan Ksatria Dunia,” kata Gatot.
Jack menambahkan, “Dan kita harus menggunakan semua sumberdaya Ortana untuk mengalahkannya. Apalagi kita masih minim informasi tentang Ksatria Dunia ini. Semuanya misterius, seperti halnya Ortana.”
Pak Mahmud menatap mereka dengan harapan. “Terima kasih. Aku percaya kita bisa melakukannya. Dan aku akan minta pusat membantu semua sumberdaya. Kita juga perlu tahu lebih banyak tentang Ortana. Bahkan, aku yang jadi pimpinan unit di sini, juga tak banyak tahu tentang organisasi tempat kita bekerja ini.”
“Yang paling penting, jika bapak menganggap pantas, aku ingin masuk lebih dalam. Bapak bisa bawa aku ke orang-orang pusat. Bukankah pusat ada di Jakarta ini?”
“Tentu Jack. Kita akan segera menemui mereka,” kata Pak Mahmud memastikan.
Mereka semua berjabat tangan, memulai perjuangan melawan Ksatria Dunia, dan terlebih dahulu menyelamatkan keluarga Pak Mahmud.
Namun, tiba-tiba dari arah pintu rahasia ke atas, muncul asap. Jack yang duduk persis di bawah pintu tersebut, secara naluriah mengibaskan tangannya, sekaligus menahan nafas supaya asap itu tak terhirup olehnya. Lalu, Jack bergegas mengajak semua orang ke ruang Pak Mahmud,”Asap berbahaya… Tutup hidung kalian… Ayo, semuanya masuk ke sini,” katanya seraya menuju ke arah meja kerja sang chef, dengan menahan nafas sebisa mungkin.
Di belakang meja kerja, di samping kursi, ada tombol rahasia, Jack masih bisa menekan tombol rahasia, sehingga lantai di dekat meja, membuka otomatis. Ada jenjang di situ. Dia masuk dengan melompati jenjang. Rupanya lelaki itu tak sempat menuruni tangga, karena lelaki itu keburu pingsan!

Ketujuh:
Ortana v Ksatria Dunia
Merespon tindakan Jack, Luna yang posisi duduk menghadap lelaki itu, segera meraih kipas angin besar yang sedang hidup di dekat pintu ruang kerja Pak Mahmud. Kipas itu diarahkan ke asap. “Ayo, ikuti Jack. Tahan napas kalian. Tutup hidung…,” ujar gadis itu mendahului mengikuti Jack.
Pak Mahmud, Buyung, Gatot, dan Vivien segera mengikuti, sambil menutup hidung dan menahan nafas. Secara bergantian, mereka menuruni jenjang. Di bawah mereka dapati Jack yang pingsan dipeluk Luna. Dari mulut Jack terlihat keluar busa bewarna putih, beruap-ruap!
Sedangkan Pak Mahmud masih sempat menekan tombol, sehingga lantai menutup. Untunglah kipas angin itu cukup membantu, sehingga tak ada asap yang masuk. Aman. Tetapi mereka kini terkurung di ruang rahasia, di bawah kamar kerja sang chef.
Luna panik. Dia melihat nafas Jack tersengal-sengal. Agaknya lelaki itu terhirup asap beracun. “Ini ada air mineral, coba minumkan,” ujar Vivien yang menemukan lemari persediaan di bungker itu.
Rupanya keberadaan bungker tersebut hanya diketahui oleh Jack dan Pak Mahmud. Sedangkan yang lain hanya tahu ruang bawah rumah makan. Tempat mereka bekerja, dan mereka sebut itu dapur, dengan perapian yang terus menyala.
Adapun di atas, beberapa orang berpakaian polisi terlihat sibuk mencari-cari di ruang sang chef dan di dapur. Namun tak ada satupun yang mereka dapati dan patut jadi petunjuk. Kecuali perapian yang masih hidup.
Para lelaki berpakaian polisi itu hanya bisa memotret setiap sudut. Tetapi tidak berani mengganggu superkomputer yang berderet tersebut. Mungkin mereka takut mesin supercanggih itu meledak.
“Apa yang harus kita lakukan,” ujar Luna gelisah karena Jack tak ada tanda-tanda akan sadar, walaupun sudah dituangkan air ke mulutnya. Luna pun telah membersihkan mulut lelaki itu, sehingga tak lagi ada busa yang beruap-ruap. Namun nafas Jack masih tersengal-sengal dan satu-satu. Tampaknya nyaris berhenti nafas lelaki itu.
Karena tak tahu apa yang harus dilakukan supaya Jack sadar, maka tidak ada yang merespon perkataan Luna. Kecuali Vivien yang ikut mendekat. Berbekal pengalamannya di militer, gadis itu mengerti cara-cara pertolongan pertama.
Dirabanya nadi, lalu dada. Kemudian dia berkata,”Mungkin asap itu menimbulkan sumbatan di pernafasannya. Harus dibantu dengan oksigen.”
“Darimana kita dapat oksigen,” jawab Luna sambil melihat Vivien yang tersenyum penuh arti sambil memberi isyarat. Luna malu, tetapi dia mendekatkan bibirnya ke mulut Jack yang terbuka.
“Stop…stop…kita bersihkan sisa-sisa asap itu dulu,” kata Vivien sambil memompa dada Jack secara periodik per sepuluh detik. Ada lima kali dia memompa.
Kemudian Vivien meluruskan badan Jack, dan meninggikan kepalanya dengan cara meletakkan di pahanya. Lalu dibukanya rahang Jack, dan memberi isyarat pada Luna untuk memulai pemberian bantuan oksigen secara dari mulut ke mulut.
Luna meletakkan mulutnya, menutup mulut Jack. Satu tangannya menutup lobang hidung laki-laki itu. Dan dengan menarik napas dalam-dalam, lalu Luna meniupkannya kuat-kuat ke dalam mulut Jack. Itu dilakukannya selama dua detik. Dan berulang-ulang, sampai 12 kali dalam semenit.
Memasuki menit kedua, terlihat nafas Jack mulai teratur. Pada saat yang sama Luna masih menempelkan bibirnya yang hangat dan basah itu di atas bibir Jack yang mulai hangat!
Entah Luna terlalu serius karena sangat kuatir akan keselamatan Jack, atau oleh sebab lain, dia tak sadar tatkala ada lidah yang menggeliat di dalam mulutnya!
Tentu saja gadis berjilbab itu terkejut, dan seketika teringat peristiwa di Pulau Tidung Kecil, namun dia malu untuk memekik, atau mengangkat muka tiba-tiba. Luna malu pada Vivien yang menjadi saksi sejarah pada momen-momen dia mencium bibir Jack itu! Maka, karena kesal, Luna menggigit lidah yang nakal tersebut, lalu mengangkat mukanya. Berbarengan dengan terkejutnya Jack.
“Alhamdulillah…kamu sudah sadar Jack,” ujar Pak Mahmud mendekat, melihat Jack yang terlonjak dan segera duduk. “Tetapi, kenapa bibirmu berdarah,” lanjut Pak Mahmud.
Sedangkan Vivien dan Luna tertawa lucu. Kedua gadis itu sama-sama maklum untuk hal yang tak perlu dibahas. Yang penting Jack selamat.
Jack merasakan asin darahnya sendiri. Dia hanya tersenyum kecut. Tak mungkin dia mengakui kejahilannya yang spontan tadi. Dia sendiri juga tak mengerti, kenapa tiba-tiba berbuat itu. Justru saat nyawanya ditolong Luna. “Ahhh…kau memang cabul. Kurang ajar…,” gerutu Jack pada diri sendiri seraya melihat Luna yang tampak malu-malu.
“Terima kasih Luna,” ujar Jack yang telah duduk bersila.
Luna mengangguk, masih malu-malu. Mungkin karena lidah jahil itu masih terasa menggerayang di mulutnya!
Tak mau larut dengan kondisi, Jack mulai memikirkan langkah selanjutnya. “Kita harus pindah. Mendirikan markas baru, pak,” ujar Jack pada Pak Mahmud.
Pak Mahmud mengangguk. “Tapi kemana? Dan tak mudah juga mendirikan markas baru,” ujar sang chef.
“Bagaimana kalau ini tetap kita pertahankan, tetapi dengan memperbarui sistem keamanannya,” ujar Buyung.
“Coba lihat ini,” kata Buyung sambil memperlihatkan hp nya yang terhubung ke CCTV di ruang kerja mereka.
Tampak ruang kerja yang mereka tinggalkan tadi masih utuh. Sama sekali tidak diobrak-abrik. Mereka melihat para lelaki berpakaian polisi itu hanya memotret setiap jengkal ruangan. Mungkin mereka ditugaskan bukan untuk memgobrak-abrik.
Menyaksikan itu, Jack dan Pak Mahmud mengangguk-angguk. Seakan sudah bersepakat. “Tak mungkin. Kita harus pindah,” ujar Jack. “Ada rumah makan di Jalan Veteran. Itu juga sudah ada ruang bawahnya. Mirip dengan markas kita sekarang,” kata Jack.
Buyung melihat ke arah Gatot dan Vivien. “Berapa lama kita bisa memindahkan peralatan ke markas baru?”
“Butuh sepekan sampai semua peralatan beroperasi,” jawab Vivien.
Jack dan Pak Mahmud saling menatap. “Kalian tetap di markas, dengan memperbarui sistem keamanan. Peralatan di markas baru kita upayakan dari pusat, semua baru. Biar aku dan Jack yang mengurusnya,” ucap Pak Mahmud.
Buyung melihat Vivien dan Gatot. “Apakah kalian keberatan,” ujar lelaki hitam klimis itu. “Tidak masalah, Yung. Tetapi akses masuk sebaiknya kita ganti,” kata Gatot dan Vivien bersamaan.
“Oya…kalian mungkin belum tahu, bungker ini terhubung ke sebuah gedung yang menghadap ke sebuah gang yang terhubung ke Jalan Sriwijaya,” kata Jack seraya mencari tombol rahasia.
Pintu terbuka. Di sebalik pintu itu ada lorong. “Di ujung lorong, di samping kirinya, itulah gedung yang kumaksud. Kita bisa menggunakan gedung tersebut sebagai akses masuk. Atau membuat kamuflase dengan membuat kios kecil di mulut lorong itu,” kata Jack.
“Biar aku jualan rokok dan air mineral di ujung lorong itu. Kan tinggal membeli gerobak saja,” kata Buyung.
Semua setuju dengan ide Buyung. Untuk sementara, mereka tetap menggunakan markas itu, tetapi dengan mengubah akses masuk. Yakni melalui lorong yang pintunya adalah gerobak yang berfungsi sebagai kios.
Demikianlah. Buyung, Gatot dan Vivien ditugasi menyulap akses masuk markas. Sedangkan Jack dibawa Pak Mahmud ke kantor pusat. Mereka menuju daerah Mangga Besar. Melewati gerbang pusat pertokoan, lalu belok kiri. Beberapa blok setelahnya, mobil yang dikendarai Jack disuruh menepi. Mereka parkir di depan tempat cukur rambut–barbershop.
Bukan, bukan gedung tinggi pencakar langit yang disebut kantor pusat itu! Hanya sebuah barbershop–tempat gunting rambut–dengan lima tukang cukur rambut yang sudah berumur. Tua-tua tukang cukur itu, rata-rata di atas 60 tahun usianya. Ada seorang mirip Cina, mungkin keturunan Tionghoa. Selebihnya melayu.
Walau sudah tua-tua, terlihat mereka masih cekatan menggunakan gunting dan pisau cukur. Dan tak seorangpun yang berkacamata.
Maka kedatangan Pak Mahmud ke sana hanya serupa orang yang mau menggunting rambut saja. “Ayo pak, duduk sini,” kata Pak Tua yang paling gagah di antara empat kawannya sesama tukang cukur.
Rupanya memang seperti itu prosedurnya, maka Pak Mahmud langsung duduk di satu kursi barber yang kosong. Pak Tua itu mengenakan kain penutup badan bewarna biru tua. Dengan cekatan, lelaki tua yang tampan itu memulai gentlemen grooming; dimulai dengan membersihkan wajah dengan handuk dingin kemudian potong rambut lalu keramas, selanjutnya membersihkan wajah dengan handuk hangat, mendapatkan pijat kepala, leher dan bahu lalu diakhiri dengan pengaplikasian tonic dan pomade untuk styling.
“Ada apa dengan kalian,” ujar lelaki tua tampan itu sambil melirik Jack yang duduk sambil membaca majalah bekas. Pak Mahmud ikut melirik ke arah Jack.
“Kami harus pindah markas, ketua.” Rupanya lelaki tua yang tampan itu yang jadi ketua. “Ksatria Dunia sudah mengetahui sarang kami.”
Sambil melap muka Pak Mahmud dengan handuk dingin, lalu bersiap-siap untuk mulai menggunting, sang ketua berkata,”Lalu ada apa dengan anak muda itu? Kau sudah mengambil resiko besar dengan membawanya ke sini!”
“Siap salah ketua. Tetapi saya tak ada pilihan. Dia harus diperkenalkan. Karena potensinya, menurut saya melebihi yang diperlukan, bahkan untuk memimpin unit,” jawab Pak Mahmud.
Jack sengaja pura-pura membaca majalah, padahal dia sedang mengkoneksi semesta, sehingga pembicaraan Pak Mahmud dengan sang ketua didengarnya dengan jelas. Dan dia bisa maklum jika sang ketua mempertanyakan dirinya. Justru bila Pak Tua tukang gunting rambut tersebut tak bertanya, itu baru aneh untuk seorang yang memimpin organisasi intelijen global!
“Apa yang dia bisa?”
“Semuanya. Standar kita sudah dikuasai. Dan bahkan lebih. Dia punya kemampuan spritual, melebihi yang dikira-kira!”
“Apa maksudmu melebihi yang dikira-kira?”
“Nanti ketua akan tahu juga. Yang penting sekarang, dia sengaja aku bawa menghadap ketua…”
“Maksudmu, kau mau mundur?”
“Siap ketua… jika aku harus mundur, dia lah yang pas menggantikan…!”
Pak Tua melihat pada Jack. Seketika Jack memandang Pak Tua, langsung pada bola matanya. Pak Tua agak gelagapan, dan Jack sudah ada di dalam ruang hati sang ketua.
“Aku datang ingin bergabung. Karena tujuan kita sama. Jika kau mau menerima, anggukkan kepala tiga kali!”
Pak Tua mengangguk tiga kali, tapi dia masih memegang gunting. Sehingga Pak Mahmud melongo melihat sang ketua itu mengangguk tiga kali. Dan makin melongo tatkala sang ketua mendekati Jack.
“Kau ikut denganku,” ujarnya seraya menggamit Jack masuk ke ruang dalam. “Tolong kau teruskan,” kata Pak Tua pada salah seorang temannya yang baru selesai menggunting seseorang.
Alhasil, Pak Mahmud digunting oleh salah seorang anggota Pak Tua yang juga tua. Sedangkan Jack dibawa ke ruang dalam.
Mulai dari masuk saja, Jack sudah dibikin kagum. Betapa tidak, setelah pintu itu membuka sendiri–mungkin sistem sensor gerak–di dalamnya berderet belasan monitor yang dilayani belasan petugas. Ruangan itu sendiri terang benderang, sedangkan monitornya yang melengkung terlihat redup. Barangkali itu adalah teknologi plasma elektron terbaru yang ramah mata. Radiasinya yang tidak terlalu tinggi sudah terfilterisasi pula oleh lensa penyerap. Sehingga saat melihat monitor itu, mata serupa melihat objek alamiah.
Jack juga melihat pada tiap-tiap monitor lengkung itu, juga dilengkapi kamera, dan tak ada keyboard! Lalu dengan apa para petugas itu mengetik?
“Itu komputer yang digerakkan oleh pikiran,” ujar Pak Tua yang sejak tadi diam saja, dan tidak pula memperkenalkan diri. Lelaki tua itu seakan menganggap Jack bawahannya saja, tak perlu kenal yang penting laksanakan perintah.
Jack manggut-manggut saja sambil berpikir apakah koneksinya tadi tak berpengaruh, atau pengaruhnya sudah habis? Maka begitu duduk di sebuah ruangan–mungkin itu ruangan Pak Tua–Jack mencoba mengkoneksi kembali. Dia memandang Pak Tua itu langsung ke bola matanya!
Langsung klop. Tetapi Jack serasa masuk labirin. Meskipun dia berhasil masuk ke ruang hati Pak Tua, namun tiba di dalamnya, justru pikiran Jack yang dibetot oleh lika-liku ruang hati lelaki tua tampan itu. Semakin dipaksakan, semakin terbetot pikirannya.
Sementara Pak Tua memandang Jack dengan tajam. Pandangannya menguasai. Mendominasi. Bahkan bisa membunuh pikiran. “Ohhh…dengan mata juga bisa membunuh pikiran,” gumam Jack sambil mengganti strategi dengan mengkoneksi alam. Mengeluarkan Energi Latif, dan menyalurkan lewat mata. Baru kali ini dicobanya, tapi Jack yakin pengaruhnya bisa menguasai Pak Tua, melewati pintu batin–mata–lelaki tua tampan itu.
Tidak seperti mengkoneksi langsung ke ruang hati–meskipun diawali melalui mata jua–penghubungan lewat mata agak berproses. Ini ibarat lewat jalan biasa, sedangkan mengkoneksi langsung ke ruang hati adalah jalan tol.
Ke jalan biasa itu Jack kini berupaya. Dan Energi Latif ibarat angin sepoi-sepoi, tidak merobohkan, namun menidurkan. Itulah yang terjadi pada Pak Tua, perlahan namun pasti, ruang hatinya yang ibarat labirin menjadi terang benderang, dan kini Jack mulai menaklukkannya.
“Tak ada guna kau menolak. Karena aku lebih kuat untuk menjadi sekutumu. Kau mengerti…kau mengerti… Jika kau paham…perkenalkan dirimu…perkenalkan dirimu…!!!”
Tanpa tergagap sama sekali, seolah berada di alam mimpi, Pak Tua tersenyum ramah dan menyorongkan tangan,”Aku Subagja, chief of no name organization,” katanya.
Jack menyambut tangan kekar dan putih itu dengan hangat, seraya mematrikan pengaruhnya dengan Energi Latif yang menjalar dan merasuk ke seantero jasad Pak Tua,”Aku Jack, sekutu bapak yang khusus datang untuk memerangi Ksatria Dunia,” jawab Jack tenang dengan suara yang dalam.
Subagja–Pak Tua–itu mengangguk ramah,”Tentu…tentu…kami sangat terhormat jika anda bergabung,” ujarnya.
“Terima kasih. Dan jika bapak setuju, aku namakan organisasi kita ini dengan Ortana! Itu lebih keren… Bapak setuju?”
“Bagus…bagus…meskipun itu tak berarti apa-apa, karena tak ada satupun administrasi yang dibuat untuk kerja-kerja kita ini, namun nama Ortana pantas kita pakai… Saya yang memimpin semua ini, maka saat ini juga, kita resmikan Ortana sebagai nama. Apakah kau senang?”
Jack mengangguk dan tersenyum. Bukan, bukan lantaran nama itu yang membuatnya senang. Melainkan idenya langsung disetujui, di situ poinnya!
Lalu Jack menanyakan semua hal. Mulai dari tatakelola, jejaring, prosedur standar, pembiayaan dan personalia. Semuanya dijawab secara terbuka oleh Subagja. Bahkan Jack pun didaulat menjadi anggota Dewan Tinggi.
“Kebetulan seorang anggota dewan kita meninggal karena sakit tiga bulan lalu. Kau kuangkat menjadi anggota Dewan Tinggi, atau yang disebut dewan. Jumlahnya tiga orang. Tugasnya ibarat komisaris di perusahaan. Dan rapat-rapatnya tak pernah offline. Semua dilakukan secara daring. Uniknya, masing-masing tak saling mengenal. Tetapi mereka adalah penyandang dana utama, selain aku.”
“Tetapi aku orang miskin. Aku tak punya uang untuk disumbangkan,” ujar Jack.
“Tak masalah. Dengan uang aku dan dua lainnya, itu sudah lebih dari cukup buat membiayai misi,” jawab Subagja.
Lalu Pak Tua itu memencet bel. Tak lama datang seorang petugas. “Kamu siapkan kartu digital bapak ini, full access,” ujarnya. Tak lama, Jack sudah disodori kartu, mirip dengan yang dipunyai Pak Mahmud. Sekilas seperti kartu ATM biasa saja. Hanya saja, ini kartu platinum. Full access.
“Ehhh, cepat sekali,” ujar Jack pada Subagja.
“Begitu kita masuk, semua alat pemindai langsung bekerja. Bahkan sidik jarimu saat memegang pintu langsung terbaca. Mereka tinggal cocokkan dengan data kependudukan, maka inilah hasilnya,” ujar Subagja menyodorkan kartu itu pada Jack.
Pak Tua itu juga menjelaskan tata cara penggunaan kartu. Termasuk verifikasi lima langkah seperti yang pernah diceritakan Pak Mahmud. “Kamu boleh mengganti akun email dan password yang kamu suka,” tutur Subagja.
“Baik pak… Dan bagaimana tentang posisiku sebagai agen? Aku ingin terus di lapangan… Sebagai dewan, boleh juga merangkap agen?”
“Ohhh… tentu saja… tentu saja… Ksatria Dunia itu bukan lawan ringan.”
“Siapa yang punya kewenangan merekrut agen?”
“Hanya aku. Tapi bila kau ada usul, pasti aku prioritaskan,” jawab Subagja.
“Ceritakan tentang Ksatria Dunia,” ujar Jack.
“Itu adalah organisasi paling rahasia di dunia. Tak seorangpun yang tahu dimana pusatnya. Tetapi Mitchael Bonn adalah pintu. Sampai dimana pengejaran kalian?”
“Ehhh… terakhir dia lari dengan kapal selam… mungkin ke Hongkong, hanya itu yang kami tahu.”
“Hmmm… terus apa rencana kalian berikutnya?”
“Kami belum putuskan. Sepekan ini kami harus pindah kantor. Jika diberikan sumber daya.”
“Oh… ya… itu sudah oke. Sudah kusetujui. Biar Mahmud yang tindaklanjut.”
Jack mengangguk-angguk, dan tersenyum. Dia suka dengan lelaki tua tampan ini karena berpikir sistematis dan cepat. Karena sistematis, jelas lelaki tua tampan itu efektif dalam bertindak.
“Tentang dewan, apakah Pak Mahmud perlu tahu?”
“Menurutmu bagaimana?”
“Sebaiknya Pak Mahmud cukup tahu bahwa aku agen di bawahnya saja. Yang lain tak usah. Termasuk kartu!”
“Okay… aku sependapat. Kau cukup efektif juga kukira. Bagus… prospekmu bagus. Aku sudah baca rekam jejakmu,” imbuh Subagja.
Jack tersenyum tipis. Dia sudah terbiasa menanggapi pujian dengan senyum tipis yang datar. Respon paling rendah yang bisa dia berikan. Sebab, buat Jack, dirinya bukan apa-apa. Semua adalah Kuasa Allah semata–la fiela ilallah…!
“Ngomong-ngomong tentang Ksatria Dunia, selain Mitchael Bonn, apakah kita punya petunjuk? Sekecil apapun itu,” tanya Jack.
Pak Tua alias Subagja menatap jauh. Seperti menembus dinding ruangan yang terang benderang itu. Jauh, melanglangbuana, mungkinkah ke masa lalunya? Atau sesuatu yang besar pernah dialami lelaki tua tampan ini?
“Tak banyak. Tapi kami yakin, di Jakarta ini adalah Pengendali Timur. Mereka punya empat cabang yang disebut pengendali. Dinamai sesuai arah mata angin.”
“Jakarta? Pengendali Timur? Ohhh…ini menarik…apakah bapak punya hal yang lebih khusus tentang semua itu,” tanya Jack dengan nada agak tinggi sembari memandang langsung ke bola mata Pak Tua, sehingga lelaki tua tampan itu tak sempat untuk menggeleng.
“Kau katakan yang sebenarnya!!! Apakah kau pernah jadi bagian Ksatria Dunia? Jika iya, kau mengangguk, lima kali!!!… mengangguk lima kali!!!”
Pak Tua mengangguk-angguk. Lima kali. Pada anggukan kelima terdengar dering telpon di mejanya. Dia mau mengambil. Tetapi,”Biarkan saja. Kau jawab yang jujur. Kenapa kau keluar?”
“Aku adalah Anggota Utama Ksatria Dunia. Hanya ada satu anggota utama untuk satu negara. Lalu, sepuluh tahun yang lalu, tempatku digantikan wanita itu! Bentari namanya!”
“…Bentari, dimana aku bisa menemuinya?”
“…Dia ada di mana-mana! Namanya diabadikan pada nama grup usahanya…”
Telpon berdering kembali. Jack merasa cukup dengan informasi awal yang sangat berguna itu: Ksatria Dunia ada di Jakarta. Bentari adalah anggota utama. Wanita kaya!
Maka dia biarkan Pak Tua mengangkat telpon. Sedang dia sendiri pamit, dan berjalan ke barbershop.
Begitulah, sejak keluar dari barbershop itu, Jack sudah membuat lompatan dalam karirnya. Tiba-tiba dia jadi Dewan Tinggi di Ortana. Dan dia tersenyum saja ketika Pak Mahmud menyebut bahwa sekarang nama organisasi mereka adalah Ortana. “Kenapa idemu sama dengan ketua?”
“Mungkin ketua itu bisa membaca pikiranku,” jawab Jack sekenanya.
Pak Mahmud tertawa. Tetapi jauh di lubuk hatinya, lelaki separoh baya itu yakin bahwa ada sesuatu yang sudah disepakati antara ketua dengan Jack. Namun Pak Mahmud tak mau bertanya lebih lanjut. Memang di dalam komunitas intelijen, bertanya hal yang privasi adalah tabu. Kalau mau tahu, selidiki!
“Bagaimana usulan pindah markas, pak,” tanya Jack mengalihkan topik pembicaraan.
“Ooo… surprise sekali… ketua menyokong penuh…!”
“Termasuk semua sumberdaya?”
“Iya…iya… tadi saat kau di dalam, aku sudah diberitahu. Maka aku segera membuat daftar kebutuhan. Semuanya. Lengkap. Tinggal memasangnya. Sepekan ini, clear,” ujar Pak Mahmud bersemangat. Serupa bercerita pada atasannya. Padahal Jack adalah anak buahnya!
Jack merespon dengan tersenyum saja. Alih-alih berkomentar untuk hal yang sudah diketahuinya, lelaki ini memilih diam sambil berpikir akan seseru apakah pertarungan Ortana melawan Ksatria Dunia? Dan Bentari, wanita kaya, diakah Pengendali Timur?

Kedelapan:
Sekte Rahasia
Bukan, bukan ke markas Jack pergi. Dia berpisah dengan Pak Mahmud,”Ada yang mau aku urus pak…,” ujarnya yang diiyakan sang chef, seraya memarkir mobil di tepi jalan, di depan rumah makan di Jalan Sriwijaya.
“Bapak juga mau menyelamatkan anak dan istri yang terancam itu,” kata Pak Mahmud.
“Caranya?”
“Mereka sebenarnya tidak tahu bahwa sedang disandera. Sebab orang-orang itu adalah teman-teman istriku. Jadi, nanti malam secara diam-diam mereka kubawa ke tempat lain,” jawab Pak Mahmud.
“Bapak sudah punya tempat?”
Pak Mahmud diam. “Ini, ada kunci, bawa mereka ke rumahku tadi,” kata Jack seraya menyerahkan kunci rumah di Kelapa Gading itu pada Pak Mahmud.
Lalu sang chef itu membuka pintu mobil. Keluar. Dan Jack tidak langsung berangkat. Dia membuka hp, dan lelaki itu melakukan googling untuk mencari petunjuk tentang Bentari.
Dan selain arti nama bentari yang bermakna “orang yang melayani titah raja”, Jack menemukan beberapa alamat. Dipilihnya salah satu alamat yang diyakininya adalah perusahaan. Ke situlah mobilnya kini berjalan.
Tiba-tiba hp nya berdering,”Yaaa… ehhh… kan kamu ada kerjaan… aku lagi di mobil….” Jack gelagapan dan kecewa karena hp dimatikan begitu saja. “Luna…Luna…,” gumamnya sambil tersenyum penuh arti.
“Hei…kenapa kamu senyam-senyum sendiri? Lagi tasapo (mirip kesambet, tetapi tidak pingsan) yaaa…,” ujar Luna yang tahu-tahu sudah duduk saja di samping Jack. Aroma di dalam mobil pun mewangi bunga cempaka.
Tentu saja Jack makin kaget. “Aduhhh…bidadari…kenapa dikau baru kemari? Harusnya dari tadi…,” gurau lelaki itu melupakan keterkejutannya.
Luna cemberut. Mulutnya dimonyongkan seraya memasang muka masam. “Habisss kamu sih, kenapa juga aku ditinggal lama-lama? Bete tau…!”
Bila sudah begini, Jack pasti akan mengkoneksi, supaya jeda sengit sang bidadari. Tetapi tidak kali ini. Dia hendak mencoba cara alami. Jadi laki-laki sejati menghadapi bidadari.
“Hee…ehhh… hmmm… aku sebenarnya niat mau nelpon juga. Tapi ilmu lenyapmu jauh lebih cepat dari telepati aku. Maka… lagi-lagi aku harus mengaku kalah darimu… Kau maafkanlah diriku ini yaaa tuan putri…,” ujar Jack sambil membungkuk ke arah Luna yang duduk di sampingnya. Melepaskan pegangannya ke roda kemudi, dan tak mengacuhkan sama sekali lalulintas yang ramai!
Tentu saja Luna terkejut karena mobil itu berbeong-beong (berkelok-kelok) jalannya. “Sudah…sudah…aku maafkan… tetapi kau pegang setir itu. Mau mati apa?”
Jack tak peduli. Dia tetap membungkuk hormat ke arah Luna. Membiarkan mobil melaju sesukanya! Luna semakin cemas. “Iya…iya… kamu aku maafkan. Percaya deh… aku maafkan… Tapi pegang kemudi itu,” ujar gadis itu seraya mencoba meraih kemudi. Namun, malang baginya, kemudi tak dapat, justru badannya merapat. Menyentuh bahu Jack. Beruntung benar bahu itu, dapat durian runtuh… ehhh…bukan…dapat dada runtuh…! Ehhh salah lagi…maksudnya bahu Jack terhimpit itu!
Sekarang Jack yang gelagapan. Di luar klakson berdentam-dentam. Terdengar teriak orang-orang. “Sialan… siang-siang pacaran di jalan!”
Padahal Jack bukan tak tahu bahaya. Namun, kerapkali jika terbawa perasaan, orang lupa segala. Seharusnya Luna mengerti bahwa Jack sudah menyetel kemudi otomatis. Otopilot. Sehingga kendati terbeong-beong, namun mobil itu takkan menabrak. Karena di setiap sisi mobil dilengkapi sensor buat menjaga jarak.
Sekarang, dalam keadaan terhimpit, apa mau dikata? Diterimanya rezeki sesaat itu dengan sukarela, ehhh…sukacita. Tentu saja tak boleh lama-lama. Keduanya duduk kembali seperti seharusnya.
“Tuch…kan…kamu sih…kenapa pakai menjangkau setir segala…,” ujar Jack sambil menguasai kemudi. Tetapi Luna sempat melihat, Jack menekan tombol “auto”. Maka gadis itu pun nyengir seraya mencubit pinggang lelaki itu. “Dasar tukang kibul!”
“Hehehe… okay dear…sekarang kita impas…,” kata Jack dengan mimik serius. Dan Luna pun maklum, waktu bercanda selesai. “Kemana kita,” tanya gadis itu sambil membenahi jilbabnya yang tergerai.
Jack menyebut sebuah alamat. Luna melihat hp. “Ehhh…bukannya itu bioskop?” “Iya…mungkin ada sesuatu di sana,” tutur Jack seraya memberikan sedikit informasi bahwa dia sedang mencari markas Ksatria Dunia di Jakarta. “Jakarta adalah Pengendali Timur, berarti ini pusat untuk beberapa negara,” imbuh Jack.
Luna mengangguk-angguk. “Oya, bagaimana kerja kalian? Apakah kios Buyung sudah siap?” “Sudah. Mereka benar-benar profesional. Sistematis dan efektif. Apakah memang itu pakem organisasi kalian,” tanya Luna.
“Organisasi kita. Kau lupa bahwa sudah menjadi bagian dari Ortana!”
Luna tertawa riang. “Ya, Ortana, bagus nama itu,” katanya. “Mirip merek roti. Apalagi kalau dipendekknya menjadi O. Itu benar-benar roti,” gurau Luna.
“Jadi tadi kau menghilang dari mereka?” Jack bertanya sambil melihat ke arah jalanan.
“Tidak. Begitu Pak Mahmud bilang kau di tepi jalan, aku pamit untuk ikut.” Luna menjawab sambil mengamati Jack yang serius mengemudi.
Mendadak Jack bertanya lagi. “Kamu rindu padaku ya?”
“Huuu…rindu dari Hongkong,” jawab Luna sambil tersenyum manis. “Ahhh…betapa manisnya dikau,” gumam Jack dalam hati seraya mengerling dan menikmati wewangian bunga cempaka itu.
Diselingi canda dan tawa, tak terasa mereka sudah tiba di bioskop. Bioskop itu adalah bangunan lama yang seakan enggan mengikuti perkembangan dunia. Sejak film seluloid hingga saat ini film digital 3D, bioskop itu jadi saksi bisu perjalanan perfilman tanah air. Namun gedungnya tak kunjung direnovasi. Dan melihat kondisi sekarang, obatnya adalah robohkan saja. Ganti dengan bangunan baru yang dilengkapi dengan teknologi terkini.
Di gedung bioskop usang ini, tengah diputar film barat. Jack mau membeli karcis, tapi ditolak oleh petugas lantaran sepuluh menit lagi film berakhir. “Tapi kami perlu masuk,” ujar Jack sambil memperlihatkan kartu pengenal khusus. Demi melihat kartu sakti itu, petugas mengantar Jack dan Luna ke pintu masuk.
Di dalam bioskop, rupanya film sudah mendekati puncak. Penonton yang tak sampai setengah itu, duduk berkelompok. Paling banyak di tengah, ini yang benar-benar serius mengikuti film. Ada beberapa pasangan yang duduk di pojok-pojok, mereka serius pula untuk urusannya.
Jack membimbing Luna menuju barisan paling belakang. Dia melewati sepasang remaja yang sedang berbisik-bisik. Cuek dan tak terganggu tatkala dilewati Jack dan Luna.
Tepat di tengah, deretan paling belakang, Jack mengajak Luna duduk. “Kamu mau nonton apa mau nonton,” canda Luna.
“Sssttt… tenang saja. Aku menduga ada sesuatu di sini yang bisa dijadikan petunjuk,” jawab Jack sambil mencari-cari dengan matanya. Entah apa?
Diamati seantero ruangan, meskipun dalam temaram cahaya. Hingga dilihatnya sebuah pintu, di pojok kiri paling bawah, di dekat dinding yang berfungsi sebagai layar. Tampak dari jauh, di atas pintu ada jeruji. Di sela-sela jeruji, terlihat cahaya redup.
Sejak mulai mengamati, Jack menghitung sudah ada sembilan orang yang bergegas masuk. Tetapi bukan dari kursi penonton. Tiap yang datang tak ada yang membukakan pintu. Berarti pintu itu tak terkunci, atau yang datang punya kunci sendiri?
Cahaya yang samar-samar tak membantu Jack itu mengamati lebih jelas. Namun dari cara orang-orang itu masuk, pintu itu seperti terbuka dari dari dalam. Memang tak tampak ada handle pintu di luar.
Keberadaan orang-orang yang masuk bergantian itu, jika tak dilihat dari atas–tempat Jack dan Luna duduk–sama sekali tak diketahui oleh penonton yang duduk di depan atau deretan tengah. Sebab ada dinding koridor yang menutupi pandangan. Namun, dari deretan paling atas, pintu terlihat lebih separohnya. Tentu saja orang-orang yang masuk juga tampak. Sekedar tampak, tetapi tidak sangat jelas lantaran cahaya yang temaram.
“Luna, kamu lihat pintu di pojok kiri, dekat dinding layar itu,” ujar Jack sambil menunjuk ke arah itu.
“Iya, ada apa?”
“Dari mulai aku lihat, sudah ada sembilan orang yang masuk. Tetapi tak keluar lagi. Apakah tidak terlalu banyak untuk ruangan kecil itu?”
“Dari mana kamu tahu ruangan itu kecil? Siapa tahu ada ruangan besar di sebelahnya.”
“Hmmm…benar juga. Tetapi sembilan orang itu? Apakah di situ kantor pengelola bioskop?”
Luna menatap Jack yang masih mengamati pojok kiri itu. “Tak mungkin kantor pengelola di dalam bioskop. Tak masuk akal,” ujar gadis itu.
“Bagaimana kalau kamu lihat ke situ. Tapi kamu menghilang dulu ya. Aku tak mau mereka menangkapmu,” ujar Jack.
Luna tersenyum manis. Dia sedang dikuatiri lelaki ini. “Tapi kamu cuma mengamati saja ya. Dan mesti cepat, karena sebentar lagi film habis,” ujar Jack kepada Luna yang sudah menghilang.
Dengan enteng Luna berjalan ke arah pojok, tanpa membuka pintu dia masuk. Rupanya di belakang pintu kecil yang dari luar bercahaya redup itu ada tangga ke bawah. Ada ruang bawah tanah di bioskop itu!
Dituruninya anak tangga, hingga sampai di pintu besar. Ada tiga penjaga di situ. Tegap-tegap, dan semuanya bertopeng, dengan stelan pakaian hitam-hitam.
Dari apa yang dilihatnya itu, Luna sudah mulai curiga. Ada apa di balik pintu besar itu? Maka, gadis itu langsung melesat ke dalam. Tiga penjaga yang siaga itu heran lantaran tiba-tiba mereka mencium aroma bunga cempaka. Mereka celingak-celinguk dan saling pandang. Lalu terlihat ketakutan di wajah masing-masing. Mungkin mereka berpikir ada hantu lewat!
Astagfirullahal ‘adzim…
Mungkin malu untuk bercerita jika nanti ditanya Jack, Luna menggunakan hp nya untuk merekam. Gadis itu memilih salah satu sisi dengan ruang pandang bebas ke arah altar, sehingga hp nya bisa merekam dengan leluasa. Kendati kadang-kadang terganggu cahaya yang kadang terang, kadang temaram.
Cahaya itu disetel mengikuti musik. Serupa cahaya penanda grafik suara pada amplifier, demikian naik turun sinar di ruangan tersebut.
Di ruang besar itu ada altar bulat, di tengah. Di ujung altar ada kursi yang diduduki seorang pemuda yang telanjang bulat. Luna malu melihatnya, seumur hidup belum pernah dia melihat ketelanjangan lelaki. Bahkan tidak pula di dalam mimpi.
Di sisi lainnya, sembilan orang lelaki berjubah merah membuat formasi sedikit melengkung, menghadap pada seorang perempuan berjubah merah dengan banyak manik-manik bercahaya warna-warni di ujung jubahnya yang tergerai di lantai. Di kepala wanita yang sangat cantik itu–agaknya dialah pemimpin di situ–ada mahkota dengan cahaya lembut, tetapi tiap beberapa saat memercik bunga api, sebagaimana tongkat logam ringan yang juga memercikkan bunga api.
Wanita itu mulai bergerak gemulai, mengitari pemuda telanjang bulat. Musik berdentam-dentam liar. Ibarat sedang terjadi penampilan musik cadas, ingar bingar!
Sang wanita mulai mendekati pria muda yang telanjang yang tampak tersenyum pasrah. Tampak mata wanita itu berkilat-kilat penuh birahi. Lalu dengan suara merdu melengking, wanita itu berkata,”Apakah kau ingin disucikan?” Pria muda mengangguk dengan dada tegak. Agaknya dia tidak punya rasa malu. Bahkan saat sang wanita melihat nanar pada area di antara dua paha berotot itu, si pemuda malah tengadah. Seolah menunggu.
“Kau bersedia menjadi anggota?” Pemuda itu mengangguk lagi. “Menyerahkan hidup dan matimu pada sains?” Lagi-lagi dia mengangguk.
Lalu wanita tersebut meletakkan tongkat di tengah kening si pemuda. “Kau masih perjaka?” Pemuda itu mengangguk. Bukan anggukan pemuda itu yang dilihat sang wanita, tetapi alat elektronik yang ada di dekat kursi. Saat si pemuda mengangguk, jarum bergerak ke kanan. Wanita itu mengangguk puas.
Musik tiba-tiba berhenti. Semua lampu padam. Luna tak tahu apa yang terjadi. Alih-alih menunggu, gadis itu menghentikan rekaman, mengantongi hp, dan mendekati altar. Begitu tiba di ujung altar, dia mendengar desahan-desahan halus. Tiap ada nada desahan, selarik cahaya memercik di seantero ruangan.
Namun, karena sudah demikian dekatnya, Luna jadi malu karena paham apa yang sedang terjadi. Dia melengah, dan melenggang pergi. Menjelang tiba di dekat pintu besar, dia melihat percikan cahaya makin sering. Sesering nada yang keluar dari mulut wanita cantik itu.
Dengan napas ngos-ngosan, Luna sudah duduk di dekat Jack yang menunggu. Para penonton bioskop sudah mulai bergerombol ke pintu keluar. Rupanya film sudah selesai.
“Apa yang terjadi?”
Luna malu memandang Jack. Mana mungkin dia mampu menceritakan apa yang terjadi di ruang bawah sana. “Ada ruang bawah tanah. Agaknya itu ruang rahasia sebuah sekte. Ada ritual tengah terjadi,” jawab Luna sambil berusaha mengatur irama nafasnya. Tak jelas apakah gadis itu tersengal-sengal lantaran menyaksikan dari dekat ritual tadi, atau karena dia bergegas mendaki undakan tangga dan jejeran kursi bioskop? Atau keduanya?
“Itu, sudah kukirim videonya. Sekarang kita pulang yuk. Panas di sini,” ujar Luna seraya berdiri dan memegang lengan Jack untuk mengikutinya.
Ditarik begitu, tentu Jack tak ada pilihan lain. Serupa pasangan yang sedang kasmaran, mereka ke luar bergandengan tangan. Jack heran, kenapa telapak tangan Luna berpeluh?
Seingatnya, bila telapak tangan berpeluh kendati lingkungan tidak hangat, itu ada masalah pada jantung. Walaupun orang kampung sering meyakini bahwa telapak tangan berpeluh tanda murah rezeki, namun Jack lebih meyakini yang pertama. “Apakah Luna punya penyakit jantung,” gumamnya pada diri sendiri.
Mereka sudah berada di seberang jalan dari bioskop. Dia sengaja mengajak gadis itu berjalan kaki, menaiki jembatan penyeberangan. Karena dari jauh dia tahu bahwa di seberang ada kafe. Ke kafe itulah mereka menuju. “Kita ngopi dulu. Mau?” Luna mengangguk, dan tersenyum sendu. Dalam hati Jack bergumam,”Aneh, kok sendu senyumnya…?”
Setelah duduk berhadapan, dengan leluasa Jack memandang gadis itu. Memandang langsung ke bola matanya yang masih terlihat sendu. Redup. “Ada apa di dalam?” “Ada ritual.” “Ritual apa? Ceritakan!!!” “Ada wanita cantik, menduduki pria muda telanjang bulat!” “Terus?” “Wanita itu mengangkat gaunnya!”
Jack sekarang yang berdebar-debar jantungnya. Tentu telapak tangannya sekarang berair pula. “Katanya mau ngopi. Kok malah diam,” tanya Luna yang mulai kembali ke level normal.
Ditanya begitu, Jack lekas-lekas menggamit pelayan. “Americano… dan kamu, hot lemon tea kan,” ujar Jack pada Luna. Gadis itu mengangguk, seraya memperbaiki jilbabnya dengan mengedikkan badan. Jack melongo sejenak, tetapi segera melihat hp. Siapa yang kuat melihat wanita yang mengedikkan badan, membuatnya membusung? Jika kebetulan, bolehlah dikategorikan rezeki, tapi memelototinya lama-lama itu sudah nazari (menilik), dan berdosa!
Soal melihat perempuan, memang ada kilafiah (perbedaan paham) di antara ulama. Sebagian menganggap melihat saja sudah dosa. Tetapi ada aliran yang meyakini bahwa dosa melihat perempuan yang bukan muhrim itu bersebab musabab. Bila melihat kemudian muncul hasrat, itu dosa. Bila melihat tak muncul syahwat, itu bukan dosa.
Maka sebagian ulama membedakan antara melihat tanpa menilik (apa yang dilihat kemudian dianalisa/ditilik dengan akal) dan melihat dengan menilik. Bila melihat sosok perempuan mengedikkan badan, itu hal yang biasa. Tetapi manakala apa yang dilihat lalu dicerna, dianalisa sehingga muncul syahwat, itulah yang dilarang.
Nah, Jack sering melihat dan menilik. Itu yang membuatnya harus sering-sering istigfar! Bila tidak, tentu akan makin bertumpuk dosanya karena gadis berjilbab yang cantik berkulit kuning langsat ini. Padahal Luna sendiri tak ada niat untuk menggiring Jack menilik. Lelaki memang kelemahannya di mata. Payah mengekang dosa mata, zina mata.
“Heiii…kok bengong kamu Mir? Ada masalah apa?”
Jack tergagap, sebab dia sedang menonton video rekaman Luna tadi. “Ini, aku lagi nonton video. Memang ini semacam ritual. Ada banyak sekte di dunia ini dengan ritual yang aneh-aneh,” kata Jack seraya mengirim video itu ke Pak Tua disertai caption; inikah Bentari?
Tak lama berselang, hp Jack berdering. Rupanya Pak Tua. “Iya pak… ooo… pasti itu orangnya pak?… baik pak… ya… ditunggu pak…!”
Lalu Jack memandang Luna. Kita menunggu tamu di sini. Ada orang yang akan datang,” ujar Jack.
“Siapa?”
Jack ragu apakah akan jujur menjawab bahwa Pak Tua yang bernama Subagja itu adalah pemimpin mereka, atau mencari jawaban lain untuk menyembunyikan kerahasiaan pemimpin sekaligus penyandang dana Ortana itu? “Orang penting. Terkait dengan misi kita mencari MB dan Ksatria Dunia,” jawabnya.
“Ooo… bukan orang yang ingin menangkapku karena rumus-rumus itu kan?”
Jack tersenyum menanggapi candaan Luna. Tetapi, meskipun bercanda sedikit banyaknya pasti ada kaitan dengan bahan candaan, bukan?
Berpikir begitu, cepat-cepat Jack menggaransi,”Luna… kamu aman kok. Bersama saya… bersama Ortana. Bahkan kami pun tak mau mengorek-ngorek proyekmu itu. Bukan karena tak ingin tahu. Tetapi kami menghormati privasimu. Bahkan bila kau mau melanjutkan eksperimen itu, Ortana pasti mendukung. Karena aku percaya, apa yang kamu ingin wujudkan, tentu ada kemaslahatannya untuk dunia,” ujar Jack mencoba meyakinkan gadis itu.
Berhasil? Jack kecele. Karena alih-alih menanggapi perkataan Jack, Luna justru manggut-manggut. Gadis ini agaknya tak begitu tertarik pada dunia spionase. Atau Ortana itu. Bukan itu minatnya. Tentu saja, karena di dalam pikiran Luna adalah bagaimana mewujudkan obsesinya membuktikan teori-teori fisika yang sudah ditemukannya secara matematika. Bila sudah teruji secara praktek, baru boleh disebut sebagai temuan. Bila masih rumus-rumus, itu akan jadi perdebatan panjang saja.
Serupa hal yang dialami Einstein, kerapkali kena cibir lantaran teori-teorinya hanya di atas kertas belaka. Misalnya Teori Lubang Cacing (wormhole) yang memungkinkan–bila telah terbukti secara praktik–orang berkelana melintasi ruang dan waktu.
Dan teori yang dikembangkan Luna, sebagian besar memang mengakomodasi pemikiran Einstein, bahwa ruang dan waktu dapat dijelajahi. Luna tidak menggunakan lubang cacing, melainkan panel-panel elektronik yang disambungkan ke otak. Otaklah yang memerintah untuk hadir pada ruang dan waktu yang dikehendaki. Lalu panel-panel tersebut menerjemahkan dengan men-searching frekuensi energi yang sesuai pada ruang dan waktu yang dikehendaki. Begitu sesuai, maka melanglangbuanalah seseorang–secara pikiran ke ruang dan waktu yang lain.
Dan sebelum PI dibom, sehingga membuka kedok proyek penelitiannya, Luna sudah hampir berhasil. Tinggal beberapa penyempurnaan. Hal mana belum sempat dilakukannya disebabkan petualangan yang harus dilaluinya lantaran ulah Mitchael Bonn yang ingin menguasai rumus-rumus ciptaannya!
“Ehhh… kok malah sekarang kamu yang melamun? Lagi mikirin MB ya? Mau minta peluk lagi?”
Plakkk… Luna menampar muka Jack. Lalu gadis itu dengan sewot pergi meninggalkan Jack yang ternganga. Maksud Jack ingin segera mengejar dan membujuk gadis berjilbab itu, namun mendadak Pak Tua tiba.
Alhasil, Jack terpaksa duduk kembali sambil menyentuh pipinya yang kena tampar. Keras sekali tamparan itu!

file 00000000cc947208a6805f06ec1deee9

Kesembilan:
Cinta Bentari
Pak Tua duduk di bekas tempat duduk Luna tadi. Jack dengan ramah memandang lelaki tua yang tampan itu dengan tenang. Seraya mengkoneksi ke Luna, yang sekarang entah kemana?
Jack tidak tahu bahwa Luna sedang menuju bencana besar buat dirinya. Karena, sekira satu setengah jam sebelumnya Mitchael Bonn menangkap keberadaan Luna. Saat gadis itu mengakses google map untuk mencari alamat yang diberikan Jack.
“Ini dia… bingo…!” Lelaki itu berteriak kegirangan sehingga membuat heran pramugari di pesawat jet pribadi itu. “Apa kau lihat…! Panggil pilot ke sini,” hardik Mutchael Bonn pada pramugari cantik itu.
Dengan ketakutan lantaran dimarahi bigboss, pramugari itu tergopoh-gopoh menuju kokpit. Tak lama dia datang mengiringi pilot yang berjalan bergegas di depan.
“Tukar arah. Kita ke Indonesia.”
Pilot itu mengangguk. Dan hendak beranjak pergi. Namun mendadak dia berhenti,”Tunggu. Kamu main cepat saja. Belum diperintah pergi, kamu sudah ngacir!” Sang pilot menunduk, diam. Dia bukannya takut, namun sangat rugi bila berhenti jadi pilot pesawat ini. Soalnya dia digaji dua kali lipat dibandingkan gaji pilot lain. Gaji tinggi, resiko juga sepadan. Resikonya sering kena hardik itu saja. Hal mana membuat pilot yang sudah tiga tahun dipekerjakan itu heran luar biasa. Karena bigboss–Mitchael Bonn–baru belakangan ini saja meledak-ledak. Dan pilot itu bisa maklum; mungkin bigboss kurang stabil kejiwaannya karena putera satu-satunya tewas dibunuh orang di Jakarta. Dan sekarang bigboss memintanya terbang ke Indonesia. Padahal ini baru mulai jalan, terbang dari Hongkong ke Inggris.
Masih dengan kepala menunduk, sang pilot mendengar suara bigboss,”Berapa jam?”
“Ke Indonesia boss?”
“Iya…kemana lagi? Berapa jam?”
“Sepuluh jam lah.”
“Baik. Jika perlu bikin satu jam,” gerutu Mitchael Bonn seraya kembali melihat laptopnya.
Menggunakan IP address Luna, sekarang Mitchael Bonn–MB–mengikuti pergerakan gadis yang jadi buruan penting untuknya, juga Ksatria Dunia.
Dan dari pergerakan itu MB tahu bahwa gadis itu sedang berjalan kaki, menuju alamat yang tadi diaksesnya melalui google map. Luna memang menuju bioskop dengan melewati jembatan penyeberangan. Tentu saja tak ada yang tahu, karena gadis itu menghilang. Lucunya, MB yang jauh di atas awang-awang tahu keberadaan Luna–tentu saja dari IP address hp gadis itu. Sedangkan orang-orang yang berpapasan tak menampak gadis itu sama sekali, kecuali sedikit wewangian bunga cempaka.
Merasa pasti bahwa Luna menuju ke bioskop, MB mengangkat telpon,”Bentari, ada seorang gadis, ini IP address-nya kukirim. Kebetulan dia menuju ke arahmu. Tangkap hidup-hidup!” Lalu MB tersenyum-senyum sendiri. Entah memikirkan Bentari yang telah menjadi bagian dari kehidupannya selama di Jakarta beberapa bulan ini, atau membayangkan tubuh sintal Luna yang pernah dipeluknya di bawah jembatan!
Sementara itu, Jack benar-benar tak tahu dimana Luna sekarang. Alarm instingnya pun tak menunjukkan tanda-tanda bahaya. Mungkin karena perhatian Jack sedang tercurah pada Pak Tua, pemimpin Ortana.
“Wanita di video itulah Bentari. Dialah Pengendali Timur. Kita harus menangkapnya,” ucap Subagja.
Namun Jack merasakan ada hal yang sifatnya pribadi dalam nada bicara lelaki tua tampan itu. Penasaran ingin mengorek lebih dalam, Jack mengkoneksi ke Pak Tua. Rupanya bila seseorang sudah bisa dikoneksi, kemudian diduduki ruang hatinya, maka koneksi-koneksi berikutnya terlalu mudah. Tak butuh energi yang banyak, langsung mecebur ke ruang hati yang bersangkutan.
Demikian halnya dengan Pak Tua. “Ada hubungan apa kau dengan Bentari?” “Dia istriku… ehhh… mantan istriku…!” “Kenapa dia meninggalkanmu?” “Kami beda umur cukup jauh. Dia gadis yang pintar. Tamat fisika ITB. Lalu dia bekerja di salah satu perusahaanku. Singkat cerita, dia mau kujadikan istri dengan mahar, sebagian hartaku!” “Lalu, dia selingkuh?” “Tidak. Dia terpengaruh sekte sesat. Itulah sekte sains yang anggotanya tersebar di seluruh dunia.” “Kenapa kalian bercerai?” “Karena aku tak mau masuk sekte.” “Kenapa tak mau?” “Karena mereka mengaku Tuhan. Tiap kita adalah Tuhan, itu ajarannya!”
Jack mendehem. Pak Tua terkejut. “Kita tangkap Bentari,” ujarnya meyakinkan Jack.
Dengan mengangguk, Jack memastikan persetujuannya atas rencana Pak Tua. “Bila sukar, boleh dibunuh?”
Pak Tua menggeleng. “Dia banyak gunanya buat Ortana. Dia hanya sedang tersesat saja,” jawab Pak Tua dengan nada nelangsa.
Namun Jack terkesima karenanya. Rupanya begitulah cinta. Bisa menjadi obat mujarab buat membenarkan yang salah. Apakah memang seperti itu harusnya?
Sekarang, Pak Tua ini jelas-jelas sudah disakiti dan dikhianati wanita yang bernama Bentari itu. Tetapi dia masih ingin memaafkan dengan berbagai dalih. Apakah itu salah?
Jack mengernyitkan dahi. Pelik memang urusan cinta ini. Apalagi dia sendiripun belum merasakan jatuh cinta. Apa iya?
Memang Jack suka dengan Luna. Tetapi hingga saat ini dia tak yakin, apakah dia mencintai gadis itu serupa Pak Tua mencintai Bentari. Karena dia membayangkan sekiranya Luna melakukan hal yang sama seperti Bentari pada Pak Tua, Jack tak yakin akan memaafkan.
Sekarang Pak Tua yang berdehem. “Kau memikirkan seorang gadis?”
Jack menggeleng. “Aku memikirkan makna cinta. Hakikat cinta,” ujar Jack polos.
Pak Tua tertawa saja. “Nanti kau akan tahu. Setelah bertemu seseorang yang membuatmu lupa segalanya,” ucap Pak Tua itu seolah-olah menelanjangi hatinya sendiri. Karena dialah yang lupa segalanya saat mencintai Bentari. Dan makin lupa segalanya ketika cinta itu tak bertepuk sebelah tangan.
“Ahhh… semoga aku dilindungi Allah dari jatuh cinta yang membuat lupa segala-galanya itu,” ujar Jack.
“Aamiin….” Mereka berdua kompak menyebut aamiin. Lalu sama-sama tersenyum.
“Oya, tadi kau sudah ke sana. Coba jelaskan situasinya,” kata Pak Tua yang membuat Jack teringat Luna. Karena gadis itu yang menyusup diam-diam dengan ilmu menghilang.
“Kenapa diam?”
“Anu…ehhh… sebenarnya video ini dikirim seorang teman yang kebetulan berada di sana,” ujar Jack menghindari membawa-bawa Luna. Barabe nanti, sebab mengirim video ini ke Pak Tua juga dilakukannya diam-diam di hadapan Luna, tanpa ingin melibatkan gadis itu.
Bukan lantaran ingin berdusta, tetapi Jack meyakini lebih baik bagi Luna bila dia tak tahu banyak tentang Ortana. Dan sekarang, bagaimana mungkin menyebut nama gadis itu di hadapan pemilik Ortana itu sendiri.
Belum lagi bila Pak Tua bertanya, bagaimana cara gadis itu masuk? Tak mungkin Jack akan menjawab bahwa Luna bisa menghilang. Selain susah diterima akal, jangan-jangan Pak Tua ini memecatnya lantaran percaya pada hal-hal gaib serupa itu.
Ya, kepercayaan pada hal-hal gaib memang jadi perdebatan panjang tatkala logika di atas segalanya. Semakin tinggi pengetahuan seseorang, semakin terasah logikanya, semakin tak percaya mereka pada kegaiban. Sebagian malah membangun stigma bahwa hal-hal yang berkait dengan kegaiban itu adalah pemikiran usang. Itu adalah klenik. Perdukunan tak boleh bersanding dengan logika.
Padahal, sepanjang yang sudah dilaluinya, Jack yakin bahwa logika itu sebenarnya barang separoh matang! Sebab logika adalah produk otak lantaran menerima respon dari saraf-saraf yang ada di sekujur tubuh. Setelah dicerna dengan fikir barulah dia matang. Sedangkan fikir adalah produk hati. Fikir terjadi di ruang hati. Makanya di Minangkabau adalah istilah raso (fikir, produk hati) dibao naiek (di bawa ke atas/otak), pareso (logika, produk otak) dibao turun (dibawa turun ke hati untuk difikir).
Ruwet memang. Maka, Jack menjawab,”Sebaiknya kita selidiki ulang. Kerahkan sumberdaya ke situ, lalu lihat, apa petunjuk yang diperoleh.”
Pak Tua mengangguk-angguk. Lalu dia mengangkat telpon, namun dijeda oleh Jack. “Jangan Pak Mahmud. Dia sedang memindahkan markas, dan mengumpulkan petunjuk tentang keberadaan MB.”
“Katanya MB sudah lari. Terakhir terlihat di Hongkong,” kata Pak Tua.
“Benar. Namun Pak Mahmud juga sedang berupaya merebut keluarganya dari ancaman MB.”
“Ancaman? Kok aku tak diberitahu?”
“Mungkin dia menganggap itu persoalan pribadi yang harus diselesaikan sendiri,” jawab Jack.
“Kalau begitu biar kusuruh yang lain,” kata Pak Tua. Terdengar lelaki tua yang tampan itu menelpon dan mengarahkan agen lain. Ada tiga kali dia menelpon orang yang berbeda.
“Bagini Jack, orang-orang sudah aku suruh ke posisi. Perkiraanku, dalam sepuluh menit mereka sudah siap di tempat masing-masing. Tiap-tiap mereka live ke hp ku secara audio visual. Jadi kita bisa sambil ngobrol-ngobrol memantaunya,” ujar Pak Tua.
Jack mengangguk. “Begitu lebih baik pak. Jika tujuannya untuk menangkap hidup-hidup, memang butuh kerja ekstra. Harus diintai dengan seksama, sebelum bergerak menangkapnya,” kata Jack.
Pak Tua tersenyum. Rawan dan nelangsa senyumnya. Begitulah senyum orang patah hati. Semakin dipikirkan, semakin perih hati. Tak dipikirkan, terus saja mengganjal, serupa orang sakit gigi. Pak Tua menderita karena cinta Bentari!
Rupanya Jack memperhatikan perubahan-perubahan mimik Pak Tua. Dan mempedomani itu, Jack semakin ciut hatinya untuk memulai cinta. Karena yang ada nestapa belaka. “Lebih baik mencintai Dia saja. Dia yang mengadakan segala sesuatu yang ada. Dia lah yang dahulu dari alam. Kepada Dia jua akan kembali,” gumam Jack dalam hati.
Tak mau berlama-lama berjawab kata di dalam hatinya, Jack berujar,”Oya pak, apa yang bapak tahu tentang sekte?”
“Hmmm… itu semacam kelompok rahasia. Umumnya bermotif kepercayaan. Hal-hal yang sifatnya keyakinan,” jawab Pak Tua sembari tersenyum karena ketahuan sedang mematut-matut Jack tadi.
“Kenapa harus membentuk sekte?”
“Ini sebuah kekhususan. Mungkin ingin merahasiakan, atau tak berani terang-terangan karena bertentangan dengan yang berlaku umum,” jawab Pak Tua.
“Kalau begitu, pendirinya punya tujuan-tujuan tersembunyi?”
“Iya, karena dari pengetahuan yang ada mereka membentuk keyakinan baru, demi kepentingan mereka. Seperti sekte Isis pada zaman Mesir Kuno, ini adalah kelompok yang mengagung-agungkan dewi kesuburan yang bernama Isis.”
“Terus pak…”
“Ada sejumlah sekte di abad pertengahan. Misalnya sekte Templar, sekte Ksatria Teutonik dan sekte Cathar. Itu adalah kelompok-kelompok yang ada di Eropa. Dapat diduga, sekte itu muncul bersamaan dengan berkembangnya ilmu pengetahuan.”
“Ooo… dan dari penalaran yang terbatas, lalu buntu, di situlah mereka berimajinasi. Lahirlah sekte. Apakah demikian pak?”
Pak Tua mengangguk. “Memang agaknya demikian. Aku tak tahu. Tapi kesimpulanmu tadi, itu boleh jadi sebagai penyebabnya. Saat manusia tertumbuk dan buntu, di situ mereka mengangkat dewa! Membuat sekte.”
Lalu dengan panjang lebar Subagja menceritakan tentang sekte Aum Shinrikyo di Jepang yang populer pada tahun 1984 hingga 1995. Ada pula sekte Branch Davidian di Amerika Serikat yang cukup lama bertahan, yakni dari tahun 1955 hingga tahun 1993. Dan dua sekte di Amerika Serikat yang masih punya pengikut hingga sekarang, yakni sekte Scientology dan sekte Thelema.
“Nah yang diyakini Bentari adalah sekte sains itu. Mereka beranggapan manusia punya jiwa yang abadi, disebut thetan. Dan untuk mencapai keabadian ada beberapa tingkatan ritual yang setiap tingkatnya dinilai atau diaudit oleh pemimpin sekte. Karena Bentari adalah fisikawan, ajaran ini merasuk dalam padanya. Itulah awal mula kami berselisih paham,” ujar Pak Tua yang kembali nelangsa suaranya.
Tiba-tiba Jack ingat Luna. Gadis itu kan fisikawan. Bahkan dia telah melahirkan teori-teori spektakuler. Apakah bisa terpeleset pula masuk sekte? Atau mendirikan sekte? “Duhhh… jangan ya Allah… Berikan gadis itu pencerahan bilamana batinnya ditutupi fakta-fakta keilmuan yang tak secuilpun dibanding ilmu-Mu ya Rabb,” gumam Jack berdoa dalam hati.
“Ehhh…ini sudah hampir 20 menit, kenapa tidak ada laporan mereka?”
Jack terkejut. Tak sadar sudah lama juga mereka membahas persektean itu. “Bagaimana baiknya pak?”
“Itulah…” Lalu Pak Tua menelpon seseorang. Ternyata hp nya di luar jangkauan. Tiga kali dia menelpon, ketiganya tak aktif!
Jack memicing sesaat, lalu dia mulai mengkoneksi alam. Langsung saja pikirannya melayang ke bioskop itu. Dia melihat Luna!
Begitu terkilas wajah gadis itu dipikirannya, Jack langsung mengkoneksi. Namun terbentur. Dicobanya lagi. Masih mandeg, seolah-olah ada tameng yang memagari. Sampai lima kali Jack mencoba, sehingga tak sadar dia memegang kepala dan menekur untuk memperkuat energi supaya bisa menembus objek yang akan dikoneksi. Tapi tetap tumpul. Serupa air laut membentur karang, energi Jack berserakan dan bercipratan!
Pak Tua yang sudah diberi tahu tentang kelebihan Jack oleh Pak Mahmud, sejak tadi mengamati saja dengan seksama. Seraya bertanya di dalam hatinya,”Apa hebatnya?”
Jack mulai berpeluh. Lalu dia berhenti. Dan menatap Pak Tua yang tak mengalihkan pandangannya padanya. “Ada apa Jack,” tanya Pak Tua.
“Ada sesuatu yang tidak beres di bioskop itu. Aku…aku tak tahu… sebaiknya kita ke sana,” ujar Jack sambil berdiri dan meninggalkan duit di meja dan memberi isyarat pada pelayan. Pak Tua mengikuti. Setengah berlari mereka melewati jembatan penyeberangan.
Bukan ke lobi Jack melangkah. Melainkan ke arah belakang bioskop itu. Pak Tua mengikuti saja dari belakang, tanpa terdengar deru nafasnya. Padahal mereka sudah setengah berlari tadi.
Jack memasuki gang sempit di belakang bioskop itu. Terlihat rumah-rumah kardus bertebaran di sepanjang tanah lembab dan berbau busuk.
Lalu Jack berhenti. Tepat di sebuah rumah kardus yang kosong. Memang rumah-rumah kardus itu baru ditempati menjelang subuh. Tatkala tak ada lagi geliat ekonomi, saat itulah para gelandangan hilang mata air. Barulah mereka pergi tidur, untuk bangun saat matahari sudah sepenggalahan.
Jack memasuki salah satu rumah kardus. Lalu duduk bersila. Dia tak peduli lagi apa kata Pak Tua. Firasatnya berdentang-dentang. Luna dalam bahaya besar!
Dengan bersila, dan berzikir, Jack mulai merasa batinnya serupa hp yang lagi di cas cepat–Fast charging. Setelah merasa ruang hatinya kembali kukuh, Jack pun mengkoneksi alam. Dia teliti apa-apa saja energi jahat di seantero tempatnya saat itu.
Setelah yakin, Jack pun mengkoneksi Luna. Masih ada hambatan, tetapi perlahan-lahan dia bisa memasuki ruang hati gadis itu. “Kau ditahan?” “Iya…” “Berapa banyak?” “Sebanyak yang tadi, ditambah tiga orang pawang!” “Kau dipukul?” “Iya, aku sempat pingsan.” “Oke…aku hitung tiga kali, di hitungan ketiga kamu menghilang. Dan langsung ke depan, aku menunggumu di sebelah dinding itu… Kamu paham…” “Ya… aku paham.” “Satu… dua… tiga…”
Luna pun menghilang. Namun tidak membuat kaget sembilan lelaki berjubah merah. Dan dengan tersenyum, Bentari berkata,”Kita mulai skenario. Siapkan hologram.” Semua lelaki berjubah merah itu mengangguk, dan bergegas pergi.
Akan halnya Luna, sekarang sudah berada di samping Jack yang masih memicingkan mata dan bersila. Tentu saja Pak Tua kaget karena tiba-tiba ada gadis cantik berjilbab sudah duduk di dekat Jack. Tak pelak, hidungnya pun dipenuhi aroma bunga cempaka.
“Kamu kenapa lama sekali?”
Jack terjaga karena bahunya digoncang-goncang Luna. “Kamu sih, pergi tidak ngomong-ngomong. Untung kamu selamat,” ujar Jack sambil tersenyum senang melihat Luna yang tak kurang satu apapun.
Beberapa detik setelahnya, tiga orang pawang yang diceritakan Luna sudah berdiri di hadapan Jack. Melihat rupanya, bukan pawang dalam negeri. Lelaki tinggi kurus, berambut hitam panjang, dengan kalung dan cincin yang memenuhi semua jemarinya, itulah Raja Janak dari Nepal. Dan yang berkorset serta gaun panjang ala zaman Victoria, ini mirip hantu wanita pada dongeng Rumah Berhantu Borley di Essex, Inggris. Seorang lagi pria tampan berambut emas dengan mata biru, mengenakan baju emas dan perisai berlambang naga.
Jack berusaha tetap tenang, dan mulai mengkoneksi alam. Sementara tiga raja gaib dari puncak-puncak kegaiban dunia sudah mengitarinya. Bahkan yang perempuan mulai menari erotis dengan pelan, meliuk-liuk. Dan si tampan berambut emas mencari-cari celah buat menghunjamkan tombak berujung emas itu!
Sedangkan Pak Tua gemetaran, sambil memperbaiki tegaknya yang labil. Adapun Luna mulai didekati Raja Janak. Rambut hitam panjang raja gaib dari Nepal itu tertarik dengan bau bunga cempaka.
Seolah dikomando, pria tampan berambut emas dengan wanita genit itu membuka serangan dari kiri dan kanan ke arah Jack. Si tampan melemparkan tombaknya, sedangkan si wanita genit menjentikkan jari sehingga beterbangan ratusan tawon. Hanya sesaat, dua serangan itu akan mengenai tubuh Jack yang masih khusyuk. Lalu, tawon-tawon itu runtuh, sedangkan tombak seolah tertumbuk pada tembok tak terlihat.
“Kalian orang baik. Datang dari alam gaib yang baik. Untuk apa merusak dunia karena bujukan sekte sesat itu,” ujar Jack dengan suara berat dan dalam.
“Tak perlu kalian hiraukan ocehan bocah ini. Jika kalian mundur, kerajaan kalian akan kami musnahkan,” ujar seorang wanita berjubah merah yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat Pak Tua.
Subagja terkejut. Tapi sesaat, setelahnya dia tersenyum ramah. “Bentari…Bentari…Hentikanlah…,” kata Pak Tua sambil berusaha meraih tangan wanita cantik itu.
“Engkau Subagja… percuma kau menggalang kekuatan. Sia-sia kau habiskan kekayaan. Ksatria Dunia tak mungkin kalian kalahkan,” kata Bentari mengibaskan tangan Subagja.
Bersamaan dengan itu, Raja Janak terlempar dan membentur dinding bioskop. Di samping Luna sudah berdiri Nenek Sirici yang tertawa manis. “Kau Janak, jangan membuat malu leluhurmu. Kesaktian kita berasal dari satu asal. Percuma saja, hingga kiamat pun kau takkan menang, sebab bersamaku ada para leluhur Kerajaan Gaib Dunia!”
Adapun wanita genit, begitu gagal serangan tawon-tawonnya, bersiap untuk menyerang kembali. Demikian pula dengan si tampan bermata biru. Masing-masing mulai mengangkat tangan. Namun, tiba-tiba serangan hawa dingin luar biasa menggigilkan persendian mereka.
Lalu, Jack yang sudah berdiri dengan gagah, usai menebarkan Energi Latif, kini memandang semua orang yang ada di situ, langsung ke bola mata mereka.
Kemudian,”Aku adalah tuan kalian. Aku tuan kalian. Taati kata-kataku… Berlutut… berlutut…berlutut!!!”
Orang-orang di situ pun berlutut. Termasuk Nenek Sirici dan Luna.
Namun Bentari sudah meringkus Pak Tua, dan mencecahkan tongkatnya ke tengkuk lelaki tua yang tampan itu. “Hentikan. Nyawa lelaki ini tergantung pada kepatuhanmu!”
Rupanya saat Jack mengkoneksi tadi, Bentari sedang membekuk Pak Tua, sehingga matanya luput dari pengaruh Jack. Dan sekarang wanita yang rupawan itu mengancam sambil berlindung di balik badan Pak Tua, serta mengarahkan ujung runcing tongkat ke kuduk mantan suaminya itu.
“Apa maumu,” ujar Jack yang kuatir Pak Tua dibunuh mantan istrinya.
“Kita bertemu lagi kelak. Aku hanya mau lelaki tua ini,” kata Bentari sambil berjalan mundur dan menarik Pak Tua.
Jack bingung untuk bertindak. Dia yakin mantan istri Pak Tua itu tidak main-main dengan ancamannya. Sejenak setelah itu, tiba-tiba Bentari dan Subagja hilang dari pandangan. Entah bagaimana caranya, keduanya seperti amblas ditelan bumi! Bersamaan dengan itu, Raja Janak, si tampan dan wanita genit juga lenyap dari pandangan Jack.
Tentu saja Jack makin kebingungan lantaran semuanya raib! Hanya Luna dan Nenek Sirici yang masih terlihat sedang berlutut.
Melihat dua wanita itu masih berlutut, Jack pun membebaskan pengaruh pikirannya pada mereka.
Bukan, bukan ucapan terima kasih yang diperoleh Jack, justru dia kena tampar oleh dua wanita tersebut!
Perih pipi kena tampar belum apa-apa. Tetapi ditampar oleh dua wanita yang baru saja ditolong, itu jauh lebih perih lagi. Namun Jack berusaha tetap sabar. Mungkin itu tamparan kesal, bukan karena benci.
Jack membiarkan dua wanita itu saling melepas kangen dan berangkulan.
Sedangkan dia sedang memikirkan mengapa begitu mudah dia dikalahkan Bentari. Apa sebenarnya yang terjadi? Dan bagaimana caranya menyelamatkan Pak Tua?
Saat menimbang-nimbang langkah berikutnya, Jack tertegun melihat sebuah benda terbang melayang dan hinggap di dekat Nenek Sirici. “Ayo naik,” kata wanita tua itu.
Begitu mereka duduk di kokpit, drone canggih tersebut melesat pergi.

Kesepuluh:
Mesin Waktu Luna
Ke arah laut drone itu terbang. Mengantarkan tiga orang yang duduk diam dalam kokpit yang sempit. Kendati tanpa pilot, drone sudah disetting melaju, dan menuju satu titik, nun jauh di tengah laut.
Benar, ke bangunan serupa tabung itulah drone menuju. Dari jauh, tak begitu kelihatan gedung tersebut, karena berada di pulau kecil yang terpencil, dan tak terjamah pemerintah. Itu adalah gedung milik Kerajaan Gaib Dunia. Tempat dimana Luna pertama kali bertemu dengan Nenek Sirici.
Secara otomatis, bilah dinding pada level tiga dari atas bangunan itu membuka. Pintu drone pun terbuka otomatis. “Ayo, ikuti aku,” ujar Nenek Sirici dengan senyum ramah. Senyum nenek itu makin ramah saat melihat Jack yang masih penasaran kena tampar!
Tanpa sengaja, Jack mengusap pipinya. Persis di tempat yang ditampar Luna,”Eittt… kalau yang itu, bukan aku yang menampar, tapi Luna,” kata Nenek Sirici dengan tertawa lepas. Luna pun ikut tertawa riang. Hanya Jack saja yang senyum kecut, sedikit masam.
Mereka menaiki tangga, ke level dua. Sebenarnya bukan naik, tetapi berdiri. Karena lantai tempat berdiri itu yang naik. Hal mana tak pula membuat mereka gamang, sebab lantai yang naik itu rupanya bisa menyelaraskan dengan psikologi, sehingga tanpa sadar, mereka sudah di level dua.
“Ini namanya teknologi hologram. Ada bagian-bagian yang tak tampak. Padahal, lantai yang naik tadi, sebenarnya adalah lift biasa, lengkao dengan dinding dan pintu,” ujar Nenek Sirici merespon kebingungan Jack dan Luna.
“Dulu tak begini kan, nek,” sela Luna. Nenek itu menggeleng,”Kita selalu memperbarui teknologi. Dulu, gedung ini bila dilihat dari jarak pandang mata telanjang masih terlihat samar-samar. Sekarang, dengan teknologi hologram, bahkan pada jarak 1 cm pun orang tak menyangka ada gedung berbentuk tabung di tengah laut.
“Hologram…secanggih ini…,” ujar Jack bergumam sendiri.
Seakan tahu jalan pikiran Jack, Nenek Sirici meminta Luna untuk menjelaskan teknologi hologram tersebut. Dan dengan bersemangat, gadis berjilbab itu menguraikan betapa teknologi hologram sudah sangat pesat. Tidak hanya sebatas membikin gambar rahasia pada lembaran duit, tapi hologram Pepper’s Ghost malah bisa menciptakan ilusi objek. Demikian pula hologram laser, bisa membuat objek “terlihat” menghilang.
“Jadi ini hologram laser?”
“Ya,” jawab Nenek Sirici.
“Ehhh…ngomong-mgomong soal ilusi. Sesuatu yang ada bisa dibuat seolah tak ada. Apakah berlaku sebaliknya?”
“Menurutmu bagaimana,” kata Nenek Sirici balik bertanya. “Bagaimana Luna?”
Segera Luna menjawab,”Ya, bisa berlaku sebaliknya. Objek yang tak ada dibuat seolah-olah ada… Ehhh… apa… apa…yang kau maksud kejadian tadi?”
Jack mengangguk. Nenek Sirici tersentak. “Iya…yaaa…kok aku tak sadar ya… huhhh…,” ujarnya kesal.
“Pantaslah… kita ditipu mentah-mentah… Astagfirullahal ‘adzim…,” gumam Jack lebih pada dirinya sendiri.
“Maksudmu, wanita cantik dan para pawang itu adalah ilusi?”
Jack mengangguk. “Dan agaknya skenario itu sudah mereka buat sejak kamu mereka tahan. Coba cerita dari awal,” kata Jack pada Luna.
“Karena kesal padamu, karena… karena… ka…”
“Karena aku menyebut kamu dipeluk MB, lalu kamu kesal. Lalu kamu pergi. Menggunakan ilmu menghilang. Dan pergi ke bioskop. Begitukah,” kata Jack dengan nada agak tinggi.
Luna mengangguk sedih, dan merasa bersalah. “Habis… kamu sih…,” ujarnya manja.
Nenek Sirici tersenyum arif. Memang hanya perempuan yang tahu persis hati perempuan. Laki-laki sering salah menafsir kata dan kurenah (tingkah laku) perempuan. Sebaliknya, perempuan pun tak cakap menafsir kurenah lelaki. Sama halnya dengan menafsir cinta. Kerapkali salah. Sebab cinta adalah soal rasa. Untuk dirasakan. Bukan untuk dikatakan. Atau ditingkahlakukan sekalipun.
“Sudahlah… sekarang saatnya untuk memikirkan langkah selanjutnya,” tuturnya sambil meraih kepala gadis itu kepangkuannya.
Jack mengangguk. Tiba-tiba dia sadar, kenapa harus marah pada Luna? Dia lupa kaji tasawuf yang diajarkan ustad Ismail. Bahwa marah adalah perwujudan dari tidak terlampiaskannya keinginan hati. Sementara keinginan hati, pada umumnya adalah kotoran-kotoran yang membuat cermin buram.
Ibarat cermin, hati adalah cermin diri. Semakin banyak hal-hal negatif–seperti iri, dengki, sombong, tamak, takabur dan ujub–bersarang di hati, semakin buram cermin itu. Berkerak hati. Orang yang hatinya berkerak, berpotensi menjadi pemarah!
Lalu dengan senyum tulus, Jack meminta maaf. “Maafkan aku Luna. Aku lah yang salah. Karena membebankan kegagalan itu padamu. Maafkan aku yaaa…,”
Luna menerima uluran tangan lelaki itu. Mereka berjabat tangan. Dan saling tersenyum. Saling memaklumi.
“Baik anak-anak… sekarang kalian lihat ke sini…,” ujar Nenek Sirici, sambil berujar,”Tampilkan, semua…!”
Sesaat setelah wanita tua itu bicara, di depan mereka sudah terhampar aneka peralatan, lengkap dengan monitor, dan semuanya dikendalikan otomatis. “AI yang menjadi operator,” ungkap wanita tua itu seraya mendekati sebuah monitor yang paling besar.
Jack dan Luna juga berdiri di situ. Rupanya di layar sudah terlihat gedung bioskop beserta detail bangunannya. Termasuk ruang bawah tanah, bahkan bioskop itu juga dilengkapi laboratorium modern.
Nenek Sirici menyentuh layar, lalu terlihat Luna yang setengah berlari menuju bioskop. “Ehhh…jadi aku diikuti terus?”
“Tak selalu. Tergantung firasatku, atau saat kau mengingatku, seperti tadi,” jawab wanita tua.
“Lalu bagaimana caranya merekam? Kan tak ada CCTV,” tanya Jack polos.
Nenek Sirici tersenyum. “Teknologi kami adalah gabungan spritualitas dan teknologi canggih. Dahulu orang bisa melihat apa yang terjadi di tempat lain hanya dengan melihatnya pada air di atas piring. Bahkan ada yang di telapak tangan,” jawab Nenek Sirici.
“Iya… tapi kan mesti ada penjelasan ilmiahnya. Iya kan Luna,” lanjut Jack.
“Mungkin aroma bunga cempaka,” ujar Luna menebak secara asal-asalan.
“Ehhh…kok kamu tahu?”
“Jadi…jadi memang dengan aroma itu nenek mendeteksi aku?”
Nenek Sirici tersenyum. “Kamu ingat saat aku berikan energi di pulau itu? Itulah energi bunga cempaka yang punya frekuensi spesifik. Kan tinggal mendeteksi frekuensi itu.”
Jack terkagum-kagum dengan kesederhanaan dasar berpikir, namun menghasilkan sesuatu yang menakjubkan. Bukankah setiap materi punya frekuensi? Termasuk aroma bunga cempaka. Dan bukankah tak banyak orang menggunakan bebauan bunga cempaka?
Sambil mengangguk-angguk, Jack kembali melihat monitor. Pada rekaman tampak Luna dibekuk saat akan memasuki ruang bioskop. “Artinya mereka tak mempan oleh ilmu menghilang?”
“Benar Jack, mungkin dengan teknologi hologram itu,” jawab Nenek Sirici.
“Kemudian aku tak tahu apa-apa. Ya…itu ada saputangan. Berarti aku dibius,” ujar Luna saat melihat video.
Lalu video itu berhenti. Tak ada lagi gambar. “Kenapa?”
“Mungkin mereka mengaktifkan medan elektromagnetik lemah, semacam pengacau sinyal, sehingga tak satupun komunikasi bisa dilakukan. Itu perisai elektromagnetik,” kata Luna.
“Ooo… itu pula sebabnya aku tak bisa menembus!”
“Apa, menembus apa?”
Jack gelagapan. Tetapi kemudian dia tersenyum ramah. “Luna, kamu bisa menghilang dengan cara yang diajarkan orang kate di Gunung Tujuh. Aku bisa menembus pikiran, dengan memusatkan energi alam,” kata Jack jujur.
“Dan kamu tak bisa menembus pikiran orang yang dilindungi perisai energi?”
Jack mengangguk,”Tetapi… kok setelah beberapa saat… aku bisa?”
“Prinsip perisai ada dua, mengalihkan atau membelokkan dan memblokir. Pada fase tertentu, mungkin energimu saat itu tak terpantau. Atau tak terbelokkan,” kata Luna.
Saat sepasang muda-mudi itu saling berdiskusi, Nenek Sirici menyaksikan dengan seksama. Lalu dia mengangguk-angguk sendiri. Juga menggeleng-geleng sendiri. Sebab, adakalanya mereka saling mengisi, tetapi ada pula saling meniadakan.
“Jack… kau tentu ingat bahwa tiap energi punya frekuensi. Bayangkan bila energi yang menahan punya frekuensi sama dengan energi yang datang, apa yang terjadi?”
“Bisa konstruktif, dapat pula destruktif. Itu disebut interferensi,” jawab Jack. “Dan bila frekuensinya setara microwave, perisai bisa tembus,” ujar Jack menambahkan.
Luna bertepuk tangan dan memandang Jack dengan kagum. Sedangkan Jack baru menyadari, bahwa saat mengkoneksi Luna di gang sempit di belakang bioskop dia menggunakan Energi Latif. “Alhamdulillah… begini cara Allah memberikan ilmu-Nya,” gumam Jack dalam hati.
“Okay, sekarang coba kamu ingat, apakah ada pintu atau sesuatu di ruang itu yang mengarah ke ruang lain? Atau hal-hal yang menunjukkan atau terkait dengan laboratorium?”
Luna mengingat-ingat. “Tak ada. Tetapi yang menarik, mahkota wanita itu. Itu serupa alat pemadu energi.”
“Maksudmu?”
“Itu kemungkinan semacam alat pemadu energi kuantum berbahan nanokristal!”
Lalu Luna menjelaskan bahwa Pemadu Energi Kuantum (PEK) adalah teknologi futuristik. Umumnya masih dalam skala eksperimen. Tetapi secara teori fisika kuantum sangat memungkinkan untuk terwujud.
Dikatakan PEK adalah teknologi yang menggabungkan prinsip kuantum untuk menghasilkan, mengubah, atau memperkuat energi. PEK adalah aplikasi prinsip kuantum seperti superposisi, entanglement, dan kuantum tunneling.
Manfaatnya antara lain bisa menggabungkan energi dari berbagai sumber. Dapat meningkatkan efisiensi energi dengan mengurangi kehilangan energi. Serta berpotensi untuk menghasilkan energi tak terbatas.
“Selain sebagai pembangkit listrik kuantum, PEK bahkan bisa sebagai kendaraan energi kuantum dan alat komunikasi kuantum,” kata Luna yang membuat Jack terperangah!
“Rupanya Bentari memang maniak. Apakah fisikawan MIT punya solusi,” ucap Jack memancing minat akademik Luna, lulusan fisika, Massachusetts Institute of Technology–MIT, Boston.
Luna tertawa riang. “Tentu saja. Proyek aku sebenarnya mirip dengan PEK. Bedanya aku merancang mesin waktu dengan sistem antarmuka otak dengan komputer.”
“Itukah yang diketahui oleh Mitchael Bonn, sehingga dia berusaha merebut teknologi mesin waktu darimu?”
Luna mengangguk. “Dan di sinilah rancangan mesin waktu berupa rumus-rumus dan bagan aku simpan,” ujar gadis berjilbab itu sambil mengerling ke arah Nenek Sirici.
Sang nenek terkejut. “Kapan? Dimana?”
“Dahulu, saat aku mandi, di level dua ini,” ujar Luna seraya meminta Nenek Sirici agar “memberi pintah” untuk menghadirkan kamar mandi. Sebagaimana diketahui, bangunan serupa tabung itu memang dibuat serba otomatis dengan perintah berupa suara, ucapan bahkan ada juga dengan tepuk tangan.
Tak menunggu lama, wanita tua itu menghadirkan kamar mandi. Dan Luna segera mengambil gulungan kertas yang disembunyikannya pada keramik di sudut kamar mandi itu.
“Ini… kau boleh membacanya,” kata gadis berjilbab itu pada Jack. Dan dengan antusias, Jack mulai mempreteli rumus-rumus, bagan dan hasil perhitungan matematika yang dibuat Luna.
“Wowww… memang spektakuler. Pantas Ksatria Dunia mengejarnya. Kamu memang fisikawan yang brilian, Luna,” ujar Jack mengapresiasi temuan gadis berjilbab itu.
“Aku sudah hampir selesai membuat prototipe nya. Namun terjadi peristiwa di Plaza Indonesia itu,” tutur Luna.
“Oya nek, bukankah di sini ada banyak teknisi? Bolehkah kita coba merakit mesin waktu itu di sini?”
Nenek Sirici mengangguk. Namun sambil melihat monitor yang merekam aktivitas di bioskop, dia berkata,”Apakah masih ada waktu?”
“Jika di sini ada bahan fiber optik, aku rasa tak butuh waktu lama.”
“Tentu saja. Kita bahkan memproduksi fiber optik di sini,” jawab Nenek Sirici seraya bertepuk tiga kali. Tak lama berselang, datang seorang teknisi. Lalu wanita tua itu meminta teknisi menyediakan beberapa jenis fiber optik selekasnya.
Dan memang lekas. Tak cukup semenit fiber optik itu sudah diantarkan. “Ini, kamu boleh mulai segera. Dan di ruangan ini ada peralatan standar lab fisika. Boleh kamu pakai,” ucap Nenek Sirici.
Ibarat anak-anak dapat mainan baru, Luna tertawa riang dan melonjak-lonjak senang. “Kamu mau bantu,” katanya pada Jack.
“Jangan. Kamu kerjakan sendiri. Aku harus berjaga-jaga. Mana tahu ada yang mengikuti jejak digitalmu,” ujar Jack sambil memilih monitor yang ada untuk dia gunakan. “Ini boleh aku gunakan, nek,” tanya Jack di depan sebuah superkomputer yang terletak paling tengah dari belasan yang ada mengitari ruangan itu.
Tentu saja Nenek Sirici mengangguk. Dan Jack sudah tenggelam dalam selancarnya guna menganalisa linimasa Luna. Dia yakin keberadaan Luna terpantau secara digital.
Dan Jack tidak salah. Di atas jet pribadinya, Mitchael Bonn termangu-mangu karena sekitar satu jam yang lalu sinyal keberadaan Luna hilang di tengah laut! “Kenapa di tengah laut? Ada apa di tengah laut,” gumam MB.
Lelaki bule itu mengangkat telpon. “Kamu paksa Subagja agar memberi informasi keberadaan gadis itu. Iya…apapun caranya… Boleh… Ini terjadi karena salahmu. Kenapa kau lepaskan gadis itu?….. Sudah…iya… tapi tiba-tiba sinyalnya hilang… ya… di tengah laut… ya… nanti kukirim koordinatnya… okay… ya… kira-kira tiga jam lagi…”
Usai menelpon Bentari, MB mengirim koordinat lokasi di mana sinyal keberadaan Luna tiba-tiba hilang. “Tak mungkin gadis itu tiba-tiba tenggelam. Atau hp nya dibuang ke laut,” gumam MB dalam hatinya.
Sementara Jack sedang mengamati lokasi-lokasi linimasa kapal selam. Terakhir berlabuh di Hongkong. Setelah itu tak ada pergerakan lagi. “Apakah MB menetap di Hongkong? Atau dia sengaja mengelabui, dan menggunakan pesawat untuk bepergian? Kira-kira, andaikan MB dimanapun berada sekarang, tentu dia akan kembali ke Indonesia. Itu pasti. Dan… ahaaa… tentu dia berkomunikasi dengan Bentari, Pengendali Timur… hmmm… coba aku cari lagi…” gumam Jack sembari mencoba mencari celah masuk buat menambatkan pencarian ke bioskop, atau langsung ke Bentari.
Adapun Luna dengan cekatan sudah mulai merakit mesin waktu. Dia bekerja sambil bernyanyi-nyanyi dengan suara setengah berbisik. Sayup-sayup lagu itu terdengar oleh Jack.
Jika ada yang bilang ku lupa kau/Jangan kau dengar/Jika ada yang bilang ku tak setia/Jangan kau dengar/Banyak cinta yang datang mendekat/Ku menolak/Semua itu kar’na ku cinta kau/Jika ada yang bilang ku tak baik/Jangan kau dengar/Jika ada yang bilang ku berubah/Jangan kau dengar/Banyak cinta yang datang mendekat/Ku menolak/Semua itu kar’na ku cinta kau/Kau…
Jack suka lagu BCL itu, maka secara spontan, dia bernyanyi pula, tapi tidak berbisik; Saat kau ingat aku, ku ingat kau/Saat kau rindu, aku juga rasa/Ku tahu, kau s’lalu ingin denganku/Kulakukan yang terbaik, yang bisa kulakukan/Tuhan yang tahu ku cinta kau…
Luna mendengar refrein itu dengan pas dinyanyikan oleh Jack. Sesaat mereka saling tatap, dan saling tersenyum. Lalu tenggelam kembali pada pekerjaan masing-masing. Sedangkan Nenek Sirici entah tidur atau pura-pura tidur di depan salah satu monitor. Yang jelas, wanita tua itu tidak mau membiarkan sepasang muda-mudi itu ditinggalkan berdua saja. Sebab yang ketiga adalah setan!
Usai mendendangkan refrein lagu BCL itu, tiba-tiba Jack punya cara buat menambatkan koneksi ke bioskop. Bukankah Pak Tua ditahan Bentari di situ?
Teringat hal itu, Jack melihat ke arah Nenek Sirici. “Nek, bisa bantu mencari keberadaan Pak Tua yang ditahan wanita cantik tadi?”
Nenek Sirici tersentak. Rupanya dia memang tertidur. “Apa?”
“Tolong bantu melihat rekaman saat-saat wanita cantik tadi membawa tawanannya,” ulang Jack.
Wanita tua itupun menyentuh layar monitor, dan,”Ini, aku kirim ke layarmu. Segera lihat ya… karena aroma bunga cempaka yang tertinggal di situ semakin menipis,” katanya seraya menekur kembali. Mungkin melanjutkan tidur.
Jack mengangguk, dan langsung mengamati rekaman. Memang tampak Subagja diseret ke dalam sebuah ruangan di bioskop. “Hmmm… mudah-mudahan dia masih di situ,” gumam Jack sambil menyandarkan tubuhnya di kursi, dan mulai berkosentrasi, mengkoneksi Pak Tua dengan Energi Latif.
Untunglah Pak Tua itu sudah pernah dikoneksinya, sehingga tak butuh waktu lama, Jack pun sudah masuk ke ruang hati lelaki tua yang tampan itu.
“Di bioskop?” “Iya.” “Bersama Bentari?” “Iya.” “Apa yang dimintanya?” “Ortana…” “Kau berikan?” “Belum.” “Apalagi?” “Luna.” “Ada yang menelponnya.” “Ada.” “Kapan?” “Sekitar 10 menit tadi.” “Bentari dimana?” “Depan komputer.” “Tampak?” “Iya.” “Apa?” “Google map.” “Lokasi?” “Laut.” “Laut apa?” “Tak tahu!”
Jack tersenyum gembira. Dapat! “Tapi apa yang dicari Bentari di laut? Laut apa,” tanya Jack berbisik sendiri.
“Nek, sekitar sebelas menit yang lalu wanita cantik itu ditelpon seseorang. Mungkin Mitchel Bonn. Bisa bantu cari jejaknya?”
Kembali Nenek Sirici terbangun. “Kamu kan bisa. Pada link tadi ada frekuensi tautan,” jawab sang nenek seraya kembali menangkup mukanya di meja.
Seketika Jack membuka link. Memang ada frekuensi tautan. Dan segera di-searching lokasi sesuai frekuensi. Namun tak terlalu jelas. Mungkin aroma itu kian pupus. Tapi masih bisa menangkap percakapan yang putus-putus:
…..paksa Subagja…….keberadaan gadis itu/Siap/……salahmu…..kau lepaskan gadis itu/Maaf…maaf/…….. tapi tiba-tiba sinyalnya hilang…..di tengah laut……kukirim koordinatnya/Baik……… kira-kira tiga jam lagi…..
Serupa menghadapi teka-teki saja. Jack bergumam dalam hati. “Tapi… tentang koordinat di tengah laut…? Pak Tua juga mengatakan hal yang sama!”
Mendadak Jack kembali melihat ke arah Nenek Sirici yang masih menelungkupkan mukanya di atas meja. “Nek…nenek… apakah bangunan ini bisa terlihat orang luar?”
Sambil mengucek-ucek matanya, wanita tua itu menjawab,”Mana bisa? Kita juga menggunakan teknologi hologram!”
“Misalnya ada yang membawa alat elektronik yang punya IP address ke sini, kan bisa terpantau nek?”
“Bisa, tapi setelah masuk perisai, sinyalnya mati…!”
“Ahaaa… itu rupanya…hmmm… kita tunggu…!”
“Apa maksudmu?”
Jack mendekati Nenek Sirici sambil memastikan Luna masih asyik merakit mesin waktu. “Sssttt… begini nek… aku yakin tiga jam lagi, atau setelahnya, akan ada orang yang mendekati pulau ini… atau mungkin langsung melakukan serangan ke sini…”
“Kenapa?”
“Mereka rupanya memiliki IP address hp Luna. Mungkin Mitchael Bonn diam-diam mencuri info privasi hp Luna,” kata Jack.
Sambil mengangguk-anggguk, Nenek Sirici bertepuk tangan tiga kali. Tak lama datang seorang teknisi. “Umumkan siaga perang!” Dan teknisi itu mengangguk, lalu bergegas turun menggunakan lantai yang otomatis turun.
Merasa yakin dengan teknologi pertahanan bangunan serupa tabung di tengah laut itu, Jack pun melangkah ke arah Luna yang masih tekun di mejanya. Lelaki itu mengamati saja dengan seksama. Tanpa bicara.
Rupanya Luna sudah mulai merakit mesin waktu itu. Hanya berupa jalinan fiber optik, mirip kumparan, dan ada dua ujung yang direkatkan pada sehelai pita. Ehhh…bukan pita, melainkan sobekan jilbabnya sendiri. Lalu dua ujung lainnya berupa tongkat sebesar lidi.
“Selesai…,” sorak Luna sambil berdiri mengamati mesin waktu yang tampak sangat sederhana sekali. Hanya fiber optik yang digulung-gulung serupa kumparan, dengan dua ujung berupa tongkat sebesar lidi, dan dua ujung lainnya direkatkan pada sobekan jilbab!
“Ehhh… ini… mesin waktu?”
“Betul! Kamu tak percaya?”
Jack diam saja. Mana mungkin dia bisa percaya ada mesin waktu sesimpel itu? Kok film-film, mesin waktu itu sangat besar dan rumit peralatannya?
“Hmmm… kamu pasti terpengaruh film. Tak apa-apa. Mau coba?”
Jack tak sempat mengangguk karena Luna sudah memasang sobekan jilbab tersebut di keningnya. Memastikan dua ujung bersinggungan dengan pelipis. Sekira dua jari di atas mata, mengarah ke telinga.
“Sekarang, coba kamu perintahkan pikiranmu untuk masuk ke ruang dan waktu yang kamu mau,” ujar Luna memerintah, seraya memegang dua tongkat sebesar lidi yang didekatkan ke cablebox bulat yang ada di atas meja.
Jack patuh. Dia pun memusatkan pikirannya, sementara Luna mencolokkan dua batang lidi ke lobang cablebox yang terhubung ke listrik.
Beberapa saat setelah itu, Luna mengamati Jack yang serupa orang kesurupan. Ehhh… serupa orang mabuk. Atau serupa apa kira-kira? Soalnya nafasnya memburu, dan mendengus-dengus serupa sapi yang kelaparan.
Sekira semenit setelahnya, Luna membuka ikatan sobekan jilbab. Dan Jack kembali ke ruang dan waktu saat ini.
“Bagaimana? Kamu mau mencemeeh bahwa ini terlalu simpel?”
Jack ternganga. Takjub. “Kau…kau berhasil Luna…”
“Ke ruang dan waktu mana tadi kamu pergi?”
Jack tak mau menjawab. Mukanya merah. Justru Nenek Sirici yang menjawab. “Dia tadi kembali ke pulau itu. Saat hujan akan berhenti… di pasir yang basah itu!!!”
Jack makin malu. Juga heran. “Darimana nenek tahu,” tanyanya tanpa sadar bahwa belangnya terbongkar!
Luna tertawa riang. Begitu pula Nenek Sirici. “Dasar cabul,” ujar Luna yang tiba-tiba mencubit pinggang lelaki itu.
Jack tersenyum kecut. Namun hatinya senang bukan main. Sebab Luna sudah menyelesaikan bengkalainya dengan gemilang.
Dasar fisikawan, Luna tak mau berhenti begitu saja. Dia pun memberikan kuliah singkat tentang mesin waktu bikinannya.
Disebutkan bahwa prinsip dasarnya adalah fisika kuantum yang menyangkut pada partikel-partikel yang membentuk otak. Dua ujung fiber optik terhubung ke thalamus. Yakni bagian dari otak depan yang merupakan pusat relai untuk melakukan penerusan sinyal motorik dan sensorik ke otak. Thalamus berperan sebagai memori dan kesadaran. Atas perintah otak untuk pergi ke ruang dan waktu lain, maka terjadilah peristiwa kuantum yang ditangkap oleh kedua ujung fiber optik. Lalu pada kumparan terjadi proses pemadanan frekuensi dengan ruang dan waktu yang dituju. Kemudian dua ujung lain yang terhubung ke jaringan listrik akan meneruskan frekuensi yang sudah dipadankan itu secara berantai ke alam semesta. Hingga sampailah ke ruang dan waktu yang dituju, secara pikiran!
“Hebat…hebat…hebat… tetapi apa hebatnya untuk menghadapi PEK Bentari,” pancing Jack.
“Hebat lah… gampang itu. Kau tahu, PEK itu hanya senjata pada ruang dan waktu saat ini, bila kita bisa mengacaukan sinyalnya apakah alat itu masih berfungsi? Atau kita pergi ke waktu sesaat sebelum dia menyerang, apakah kita tidak bisa menghentikannya, sebelum serangan terjadi?”
Sekarang Jack betul-betul ternganga. Mesin waktu dengan “memperjalankan pikiran”, akan menjadi senjata paling hebat dalam perang sains. Dan tak akan menimbulkan paradoks apapun sebagaimana halnya mesin waktu yang memperjalankan badan seutuhnya!
Dalam ketakjuban mereka atas pencapaian Luna, tiba-tiba alarm gedung itu berbunyi disertai suara; semuanya siaga, ada potensi serangan!!!

Kesebelas
Perang Sains
Dengan bergegas Jack menuju layar monitor yang ada di meja Nenek Sirici. Agaknya itu adalah monitor komando.
Tampak peta lokasi gedung serupa tabung itu ditampilkan di layar. Rupanya di area batas perisai keamanan, ada garis putus-putus bewarna merah. Peta lokasi tersebut di tempelkan di atas foto satelit lokasi dan area sekitar secara realtime. Sehingga bila ada kapal, atau pesawat terbang memasuki area, langsung tampak di monitor.
“Sejauh ini masih aman. Tetapi kenapa alarm berbunyi?”
“Itu hasil kajian intelijen kami, Jack,” jawab Nenek Sirici.
“Intelijen? Maksudnya, nenek juga punya unit spionase?”
“Iya… tapi spionase berbasis data yang dianalisa AI,” kata Nenek Sirici. “Dan kami yakin, ada sesuatu yang membahayakan gedung ini datang dari luar sana,” imbuhnya seraya menyentuh layar untuk mencari petunjuk berupa hasil analisa AI–Artificial Intelligence. Itu adalah teknologi yang dirancang untuk membuat sistem komputer mampu meniru kemampuan intelektual manusia. Bahkan melebihi!
Beberapa saat wanita itu mengamati data-data yang mendasari berbunyinya tanda bahaya otomatis. Ada data cuaca, kecepatan angin, level radiasi, suhu, dan data-data fisika kuantum. Memang perisai yang melindungi bangunan serupa tabung ini dibikin dengan memanfaatkan teknologi kuantum.
Sudah umum diketahui bahwa mekanika kuantum juga digunakan dalam teknologi sensor kuantum. Yakni menggunakan sifat-sifat mekanika kuantum untuk mengukur parameter fisika dengan akurasi tinggi. Sensor kuantum sering menggunakan partikel subatomik, seperti atom atau foton, untuk mencapai tingkat ketelitian yang tinggi.
Nenek Sirici menyentuh layar, dan membuka parameter kuantum. Tampak diagram parameter dengan garis lingkaran bewarna hijau. Itu adalah akumulasi sejumlah parameter dalam kondisi normal. “Bila ada yang tak normal, akan tampil garis warna kuning atau merah.”
“Ini masih kuning, artinya bahaya masih berstatus waspada, begitukah, nek?”
Sambil terus mengamati dan membaca deskripsi parameter yang dibuat AI, Nenek Sirici menjawab,”Benar Jack. Tetapi tingkat waspada sesaat bisa berubah menjadi bahaya!”
Luna yang dari tadi diam saja, mendadak menahan tangan Nenek Sirici saat membuka deskripsi dan diagram-diagram yang ditampilkan pada layar. “Lihat ini, nek. Interferometri mengukur kenaikan gelombang gravitasi bersamaan dengan bunyi alarm!”
“Benar. Itu artinya terjadi gangguan pada gravitasi. Ada energi yang besar sedang menuju ke sini,” sela Jack.
Luna menatap Jack, dan mengangguk. “Kau benar Jack, dan warna kuning itu bisa mengecoh kita. Mungkin AI tak mempertimbangkan perubahan gelombang gravitasi sebagai ancaman besar!”
“Tunggu…tunggu… bukankah PEK bisa mempengaruhi gelombang gravitasi? Jika PEK diarahkan untuk meningkatkan energi gelombang gravitasi, apa yang akan terjadi?”
Luna terkejut. “Ohhhh… kau benar Jack. Kita sedang dikunci pada ruang dan waktu tertentu. Jika berhasil, maka kita akan terkurung selamanya di sini!!!” Bergegas gadis itu mengambil mesin waktu bikinannya. Lalu memasangkan ke kepala Jack. Luna tak peduli badannya berdempetan dengan tubuh Jack saat menjangkau kepala lelaki itu. Hanya Jack yang kalimpasingan (ketar-ketir) seolah mau copot jantungnya. Lelaki mana yang bisa tahan manakala badannya tergencet wanita bertubuh sintal beraroma bunga cempaka yang memabukkan? “Huhhh…cabul! Otakku makin kotor saja,” gerutu Jack memarahi diri sendiri dan segera berkosentrasi buat mengusir hawa purba yang sesaat tadi mulai bergejolak.
Jack berjuang menahan. Sementara Luna justru berkejaran dengan waktu buat memakaikan peralatan tersebut pada Jack. Setelah terpasang sebagaimana seharusnya, gadis berjilbab itu memerintah,”Jack… kau pilih waktu sekira 10 menit sebelum sekarang dan ruang bioskop sebagai tujuan. Kau cari saja, apa yang harus kau lakukan untuk menggagalkan PEK si Bentari…Mulai…sekarang!”
Serupa robot, Jack patuh. Diapun memerintahkan pikirannya ke ruang bioskop, sepuluh menit sebelum sekarang. Berhasil!
Tampak Pak Tua terikat di kursi. Sekira semeter dari Pak Tua, Bentari sedang bekerja di depan monitor. Dia melihat titik koordinat. Lalu melakukan pengukuran dan perhitungan. Kemudian wanita cantik itu menampilkan diagram mahkotanya. Dan memasukkan angka-angka waktu yang berderet mulai dari nanodetik, hingga tanggal. Terlihat deret angka, sebagai berikut: 0000000000001; 000000000003; 00000000005; 0000000001; 000000003;0000005; 000001; 00003; 0005; 001; 03; 5; 10; 300; 11122024-11123024.
Itulah jam kuantum! Dan Jack paham bahwa waktu yang direncanakan itu adalah menyangkut penguncian gedung serupa tabung pada ruang dan waktu seribu tahun mendatang. Dia pun memikirkan cara buat mengubah angka 11122024 menjadi angka pada 10 ribu tahun lagi! Atau seribu satu tahun lagi. Jika memilih 10 ribu tahun lagi, maka angka 11122024 diubah menjadi 111212024. Artinya hanya menambah angka satu sebelum 2024. Tetapi itu gampang terlihat karena pertambahan jumlah deret angka, dari enam digit menjadi tujuh digit. Untuk lebih aman, tetap enam digit, sehingga alternatifnya adalah mengubah salah satu angka. Misalnya menjadi 11123024.
“Tapi, bagaimana caranya mengubah angka, sementara wanita cantik itu berada di depan komputer,” gumam Jack sambil mematut-matut upaya apa yang bisa dilakukan.
Sementara itu, Jack melihat Pak Tua terbatuk-batuk. Mungkin karena AC terlalu dingin. Jack melihat peluang, diapun langsung mengkoneksi Pak Tua dengan Energi Latif.
“Kau harus pura-pura jatuh!!! Jika mengerti, mengangguk tiga kali!!! Tampak sesaat setelahnya, Pak Tua mengangguk tiga kali. Lalu Pak Tua itupun jatuh ke depan. Itu menimbulkan suara berisik, sehingga menarik perhatian Bentari. Untungnya wanita ahli fisika yang ambisius itu tak jalan nalar sehatnya; kenapa Subagja jatuh ke depan?
Yang jelas, entah kuatir atas keselamatan mantan suaminya, atau karena sebab lain, dengan tergesa-gesa wanita cantik itu beranjak dari depan monitor untuk membantu Pak Tua duduk kembali. Pada saat yang sedikit itulah Jack “memerintahkan pikirannya” sembari memompa Energi Latif sekuat kehendaknya, untuk mengganti angka 2 dengan angka 3. Dan, entah bagaimana caranya, “pikirannya berhasil bertindak”. Sehingga kelompok huruf terakhir–kelompok paling kiri dari deretan huruf–menjadi 11123024.
Artinya, pemencilan gedung tabung itu dijadwalkan pada 11 Desember tahun 3024. Tepat pada 315,3153153153153 detik setelah pukul 00.00, bertepatan dengan tanggal 11 Desember 3024. Atau seabad lagi dari sekarang!!!
Sesuai dugaan, Bentari kembali ke depan monitor. Melihat sebentar, lalu mengeklik tanda enter! Kemudian wanita cantik itu menutup tampilan monitor, dan kembali ke Pak Tua yang tadi sudah dibantunya untuk duduk seperti semula.
Jack mengangguk, dan membiarkan kelanjutannya. Mungkin Bentari ingin mengorek informasi lainnya yang dia butuhkan? Atau mengajak rujuk kembali? Siapa peduli?
Dengan tersenyum, Jack memerintahkan pikirannya untuk kembali ke ruang semula. Dan dia membuka mata disambut senyum manis Luna. “Alhamdulillah, agaknya kamu berhasil, Jack.”
“Kenapa pakai kata agaknya? Apa kamu ragu?”
“Tentu tidak, Aku yakin kamu menemukan cara. Namun aku kan tak tahu apa yang terjadi,” jawab Luna agak merajuk.
Jack tersenyum manis. “Tuan puteri yang cantik jelita… hamba telah mengubah penjadwalan menjadi satu abad dari sekarang,” ujar Jack dengan gaya pemain opera yang pernah dia tonton di film-film barat.
Luna tertawa riang melihat gaya itu. Nenek Sirici tersenyum simpul. “Bagaimana caranya kau mengubah jadwal?”
“Cukup dengan sekali sentuhan saja, dengan kekuatan pikiran, selesai lah tugas hamba…,” ucap Jack masih dengan gaya pelakon opera.
Kembali mereka berdua tertawa riang. Apalagi alarm otomatis juga sudah berhenti berbunyi bersamaan dengan “kembali” nya Jack sesaat tadi, maka tak ada lagi yang perlu dikuatiri.
Sebenarnya Luna dan Nenek Sirici juga sudah maklum betapa bahaya pengucilan tersebut sudah berlalu, bersamaan dengan Jack kembali. Namun, kebiasaan budaya timur, acapkali mempertanyakan hal-hal yang sudah jelas. Itu latah namanya. Bahkan untuk sekelas Luna yang menamatkan program doktoral bidang fisika di MIT pun kerapkali terbawa-bawa budaya latah itu! Seperti pertanyaannya tadi yang memakai kata “agaknya”. Padahal kejadiannya sudah pasti, karena sudah terjadi.
Budaya menunjukkan bangsa. Begitu yang diyakini pakar sosial budaya di manapun di jagad raya. Bila Indonesia lekat dengan “budaya latah”, bisakah kita sebut bahwa bangsa kita memang latah?
Atas dasar nasionalisme, mungkin kita tak mau, atau bahkan malu mengiyakannya. Namun fenomena latah itu memang lekat benar kok. Hanya dalam bahasa kita ada kalimat “naik ke atas” dan “turun ke bawah” kan? Memang adakah naik itu tidak ke atas? Adakah turun itu tidak ke bawah? Jadi, bangsa kita memang seperti itu kan. Kita akui saja diam-diam. Supaya tidak malu!
Setelah merayakan kemenangan perang sains tadi–dengan tertawa dan bercanda, bahkan ada pula aksi pura-pura dalam pementasan opera–sekarang mereka bertiga saling pandang. Mungkin untuk mengambil langkah-langkah selanjutnya.
Luna memandang Nenek Sirici, lalu menatap Jack. Rupanya, mereka berdua berharap Jack yang berinisiatif lebih dahulu. Maka lelaki itu berpikir sejenak, lalu berkata,”Baiklah… ancaman pertama sudah lewat. Tapi kita belum tentu aman. Sebab Mitchael Bonn dan Bentari tentu tak akan tinggal diam.”
Luna dan Nenek Sirici mengangguk. Jack menunggu respon mereka. Karena keduanya masih diam, Jack pun melanjutkan,”Sekarang kita petakan kondisi terkini. Coba kita urai…. pertama…kondisi kita relatif aman, program keamanan dan keselamatan berfungsi… apalagi…?”
Setelah memahami jalan pikiran Jack, Nenek Sirici menambahkan,”Stok pangan cukup untuk sebulan. Kesimpulannya, secara internal kita aman.”
“Okay. Itu analisa internal. Bagaimana eksternalitas?”
Seperti tadi, Jack kembali menunggu respon. “Analisa eksternal… antara lain…kita punya Ortana…tapi kita punya dua lawan, Mitchael Bonn dan Bentari…lengkap dengan teknologi mutakhir yang belum bisa kita prediksi…,” ujar Luna.
“Ya… Ortana dan semua sumberdaya bisa kita kerahkan sebagai kekuatan. Namun di dalamnya ada Pak Tua dan Pak Mahmud yang menjadi faktor kelemahan… karena Pak Tua sedang disandera Bentari, dan Pak Mahmud yang terancam keluarganya…,” sambung Jack.
“Tetapi kita punya Kerajaan Gaib Dunia yang bisa membantu. Antara lain dengan dukungan penuh markas ini,” ujar Nenek Sirici.
Jack mengernyitkan kening. “Kerajaan Gaib Dunia?”
“Ya… itu adalah gabungan para tokoh spritual, para leluhur yang hingga saat ini masih belum hilang energinya…Dan…aku bisa berkomunikasi dengan mereka,” terang Nenek Sirici.
“Baik…berarti itu kekuatan dari eksternal. Apalagi…?”
Luna berpikir dan kemudian tersenyum. “Secara internal, kita punya tiga kekuatan lagi, ehhh…empat, bahkan… Kau Jack, dengan kemampuan spritual yang luar biasa bisa mempengaruhi pikiran orang lain… lalu ada nenek, itu juga kekuatan yang luar biasa, apalagi bila nenek mau minta bantuan pada uda beliau, Angku Pincuran Gadang… dan, tentu saja aku sendiri…hmmm… dengan kemampuan menghilang, misalnya, aku bisa membantu membebaskan keluarga Pak Mahmud… itu menurutku adalah kekuatan internal yang patut kita catat.”
“Bukankah tadi empat. Itu baru tiga,” kejar Jack. Luna tersenyum riang,”Rupanya kau memang leader sejati, sistematis, efektif dan akomodatif terhadap ide. Juga responsif,” kata Luna memuji seraya melihat respon Jack atas pujiannya.
Yang dilihat hanya mengangguk-angguk saja. Tak tampak mengembang hidungnya karena bangga. “So, yang keempat adalah…?”
Luna sekarang yang tersudut, dan mesti menjawab,”Mesin Waktu Luna… apakah berlebihan bila itu kukatakan sebagai kekuatan internal?”
Jack dan Nenek Sirici menggeleng. Dan hampir berbarengan mereka mendukung pernyataan Luna. “Justru itu merupakan kekuatan penentu yang mungkin tak disangka-sangka oleh lawan kita,” ujar Jack.
“Tidak juga. MB pasti berpikiran bahwa aku sudah mewujudkan rumus-rumus itu,” balas Luna.
“Dan kenyataannya demikian. Walaupun baru saja terjadi. Namun, yang aku maksud adalah keseluruhan dari teori-teorimu, bukankah itu suatu yang kait berkait,” tanya Jack.
“Hmmm… diam-diam kamu menyimak aku juga ya Jack? Mau rumus-rumus itu pula?”
“Kalau aku mau, kenapa? Apalagi aku punya jalan pintas.”
“Jalan pintas, maksudmu?”
Jack tertawa cengengesan. “Memilikimu bukankah sama dengan memiliki semua teori-teorimu?” Luna terdiam dengan kalimat itu. Jack justru yang terkejut lantaran gadis itu termenung dengan mata menerawang.
Maka, segera Jack menambahkan,”Dalam konteks memiliki, apakah relevan perumpamaan aku tadi,” elak Jack.
Luna tertawa masam. “Hmmm…kau tidak boleh main-main dengan hubungan Jack. Hubungan; korelasi, konektivitas dan bahkan entanglement, itu punya hukum masing-masing!” Usai berkata demikian, Luna kembali termenung, pandangan matanya menerawang jauh.
Melihat itu, Jack jadi salah tingkah. Dia mengutuk dirinya sendiri yang sering bermain di ranah antara. Antara mau, dan tidak. Antara mencintai, dan tidak. Antara berkehendak, dan tidak. Pokoknya ruang sempit transisi itu kerapkali jadi ajang eksplorasi lelaki ini. Entah sengaja, atau tidak. Atau barangkali bawaan? Karakter? Tapi bukan hobi, sebab munculnya lebih sering secara spontan daripada terencana.
Sementara Jack sedang larut dalam penyesalan, menduga bahwa dirinya telah membuat Luna berduka, tiba-tiba Luna berjingkrak girang. “Horeee… itu rupanya… aku temukan juga akhirnya…,” katanya sambil menari-nari, dan bahkan memagut Jack. Mencium pipi lelaki itu.
Tentu saja Jack terperanjat. Apalagi Nenek Sirici. “Heiii… ada apa? Ada ruh yang memasukimu agaknya,” kata Nenek Sirici seraya berdiri dan meraih Luna ke dalam pelukannya. Sedangkan Luna tak berkurang tertawanya. Bahkan makin nyaring. Nenek Sirici ingat kejadian yang menimpa Luna sebelum ini. Gara-gara Oliver Weiss, gadis berjilbab ini hampir gila. Dan memilih bersemedi di kawah Gunung Kerinci. Untung waktu itu Jack bisa membujuknya. Dan sekarang?
Usai tertawa panjang karena terlalu gembira, akhirnya Luna tenang. Bukan karena dipeluk oleh sang nenek. Melainkan Luna menemukan sesuatu yang tiba-tiba. “Jack… entanglement itu lebih dari korelasi dan konektivitas. Kau tahu, apa terjemahan entanglement,” tanya Luna dengan wajah serius.
Nenek Sirici melepaskan pelukannya pada gadis yang amat disayanginya itu. Namun wanita tua itu makin kuatir. Siapa yang tidak kuatir bila melihat seseorang tiba-tiba gembira, lalu mendadak serius? Wanita tua itu hanya bisa berdoa di dalam hati, semoga Luna mendapatkan lelaki yang tepat.
Jack menggeleng. Dengan tersenyum manis, Luna menjelaskan bahwa entanglement diterjemahkan sebagai keterkaitan, keterikatan. Bahkan ada yang menyebut hubungan antarpartikel kuantum itu dengan “terentang”. Hingga saat ini belum sepakat ahli bahasa menerjemahkannya, kendati semua ahli sudah memahami fenomena entanglement pada partikel.
“Terus, apa hubungannya dengan tertawamu tadi?”
“Keterkaitan jarak jauh! Itu yang membuatku gembira.”
Jack makin tak mengerti. Jika sudah begitu, Luna makin senang. Salah satu sifat usil gadis ini adalah kesukaannya membuat orang tergantung tak sampai. Tagantuang dak batali (tergantung tanpa tali). Dan dia memperoleh kesenangan kecil melihat orang tergantung tak sampai. Serupa Jack saat ini.
Tapi tak lama Luna menikmati situasi itu. Karena sebagai ilmuwan, adalah kewajibannya memberikan pencerahan.
“Hmmm… bagaimana halnya jika mesin waktu bisa diatur pula dengan mengkoneksi objek tujuan yang berjarak? Kalau yang ada sekarang, dengan kemampuan pikiran, kita dapat menuju ruang dan waktu yang lain. Dengan entanglement, kita bisa berada pada ruang waktu yang lain berkat bantuan partikel pasangan.”
Luna terdiam untuk menyusun kalimat yang tepat. “Jika mesin waktu yang tadi kau pakai, itu perjalanan pikiran ke ruang dan waktu yang lain. Dengan konsep entanglement, partikel pasangan akan membantu melakukan sesuatu. Karena pikiran adalah abstrak, materilah yang berbuat.”
Sesak nafas Luna menjelaskannya. Mungkin karena ide yang tiba-tiba itu menyita energinya, plus kegembiraan yang luar biasa tadi.
“Wahhh… apakah itu yang terjadi padaku tadi? Artinya… kamu masih menyisakan satu hipotesa, dan menjadikan aku kelinci percobaan?”
Luna kembali tertawa. Tetapi nadanya membujuk, sedikit merajuk. “Dear Jack… tidak persis seperti dugaanmu kok. Aku benar dalam satu hal, bahwa kekuatan pikiranmu tidak bisa diragukan lagi. Dan kamu pun benar dalam satu hal, bahwa dengan energimu bisa mewujudkan terjadinya entanglement,” kata Luna.
“Kesimpulannya, mesin waktumu bisa disempurnakan dengan memasukkan prinsip entanglement ke dalamnya. Betul begitu?”
Luna mengangguk. “Kamulah penemunya Jack. Aku tadi tu heran saja, bagaimana caramu menukar angka di komputer Bentari. Meskipun senang karena kita berhasil, dan selamat dari pengucilan, namun aku tak habis pikir tentang bagaimana kamu melakukannya.”
“Lalu, kenapa tiba-tiba menemukan ide?”
“Karena kata-katamu tadi: Memilikimu bukankah sama dengan memiliki semua teori-teorimu? Lalu kata-kata aku: tidak boleh main-main dengan hubungan. Hubungan; korelasi, konektivitas dan bahkan entanglement, itu mempunyai hukumnya masing-masing. Dua kalimat itu yang membawa aku menemukan kenapa kamu bisa mengubah angka pada komputer Bentari!”
“Maksudmu?”
“Pikiran bisa mengelana, tapi tak bisa bertindak. Dengan energimu pikiran bisa menimbulkan aspek entanglement, karena energimu–apa namanya itu…” “Energi Latif,” jawab Jack.
“Ya… Energi Latif yang kusebut mirip BEC itu, atau boleh jadi sama dengan energi zero-poin, mampu menimbulkan peristiwa kuantum. Mempengaruhi partikel. Dan terjadilah entanglement.”
Kemudian Luna menjelaskan istilah teleportasi kuantum. Yakni proses pengiriman informasi kuantum tentang keadaan partikel kuantum dari satu lokasi ke lokasi lain tanpa perlu memindahkan partikel itu sendiri. Proses tersebut menggunakan fenomena entanglement (keterkaitan kuantum) untuk mencapai hal ini.
“Singkatnya, dengan entanglement, perintah dari pikiran terkirim ke partikel pasangan di ruang dan waktu yang lain. Dan partikel pasangan itulah yang mengeksekusi,” imbuh Luna.
Jack mengangguk-angguk, masih belum sepenuhnya mengerti. Tetapi dia yakin bahwa Energi Latif berperan dalam peristiwa tadi. “Apakah Energi Latif bisa memerintah partikel untuk berbuat? Dia tak mengerti, karena tadi dia tak menyentuh monitor Bentari. Tetapi memaksa pikiran untuk bisa mengubahnya!”
Maka Jack hanya berani menyimpulkannya sendiri di dalam hati: dengan Energi Latif, pikiran dapat berbuat!!!
Sedangkan Luna asyik dengan teori entanglement itu.
Entah mana yang benar. Yang pasti, Jack sudah melakukannya.

Keduabelas:
Fenomena Nenek Sirici
Tentang keberpasangan partikel yang mendasari teori entanglement adalah fenomena alam. Hal mana sempat membuat Einstein takjub lantaran dua partikel yang berada pada ruang dan waktu yang berbeda, bisa saling terkait dan terikat. Seolah ada benang gaib yang terentang antara keduanya!
Dua partikel yang terentang itu, kendati berada pada ruang dan waktu yang berbeda, ternyata bisa saling terkait. Subhanallah. Maha Suci Allah. Sekaligus fenomena ini membuat Einstein bertekuk lutut tak berdaya lantaran tak punya hipotesa buat menjelaskannya.
Hanya kalimat “spooky action at a distance”–“aksi seram dari jarak jauh”–yang terlontar dari pikiran fisikawan jenius ini untuk menjelaskan entanglement.
Sejumlah fisikawan saat ini pun menerangkan bahwa kalimat yang menggambarkan ketakjuban sekaligus keputusasaan Einstein tersebut memiliki pengertian bahwa jika kita memiliki dua buah sistem yang di-entangle-kan maka kedua sistem ini memiliki korelasi yang sangat kuat. Apapun yang memengaruhi sistem satu, akan memengaruhi sistem yang lainnya, bahkan jika terpisah dengan jarak yang sangat jauh, walaupun dalam kasus ketiadaan pembawa informasi.
Lantas, apakah fenomena di alam kuantum yang mikroskopis ini linier dengan alam kasat mata? Misalnya dalam hal hubungan cinta dan kasih sayang antara lelaki dan perempuan, mungkinkah ada faktor entanglement yang ikut bermain? Sehingga kerap terjadi dua sejoli yang berjauhan terikat dan terkait hatinya oleh benang cinta yang terentang.
Ahai… Apakah cinta itu manifestasi fenomena entanglement?
Begitulah Nenek Sirici manggut-manggut mencerna entanglement dalam konteks hubungan Jack dan Luna yang senantiasa jadi perhatiannya. Wanita tua itu tak habis pikir; padahal antara Jack dan Luna tak lagi “terentang” atau berjarak, mereka kerap berinteraksi tanpa jarak. Bahkan lebih intim dari itu. Kenapa saling keterkaitan tak kunjung terlihat dan kuat?
Karena itulah Nenek Sirici melihat fenomena Luna dan Jack dengan perspektif yang berbeda. Luna yang tiba-tiba gembira, lalu sedih, sudah pasti bukan semata-mata karena rumus-rumus fisika kuantum yang rumit. Melainkan adalah faktor psikologis: gadih gadang alun balaki (gadis yang sudah dewasa belum bersuami).
Adalah sunnatullah bila lelaki dan perempuan yang sudah dewasa hendaknya segera dinikahkan. Pada banyak budaya di nusantara, bahkan ada semacam stigma yang melabeli seseorang dewasa namun belum menikah sebagai hal memalukan. Karena itu, di Minangkabau misalnya, boleh menjual harta pusaka untuk membiayai pernikahan gadih gadang alun balaki itu.
Di tempat asalnya, Nenek Sirici ingat betapa pernikahan adalah hal yang sakral dan patut dirayakan secara komunal. Di Tana Niha (Nias) yang patrilineal, seorang calon suami mesti mampu membiayai pesta besar untuk menjamu semua keluarga calon istri, sebelum sang istri diboyong ke rumah orang tuanya. Namun, betapapun pernikahan lantaran sudah mencapai batas umur mutlak mesti dilakukan, walaupun sang pemuda tak punya cukup harta buat pesta perjamuan.
Artinya, kebudayaan nusantara belum familiar dengan konsep membujang atau melajang, menunggu matang secara ekonomi.
Maka Nenek Sirici rusuh dengan kondisi Luna. Terutama pada aspek kejiwaan yang menurut wanita tua itu terjadi kompensasi berlebihan pada diri Luna.
Kini, dengan keragu-raguan Jack, membuat Nenek Sirici geram. Apalagi dia tahu, pernah ada peristiwa, yang secara adat Tana Niha hanya dua solusinya: menikah atau mati!
Namun karena bagi Luna tidaklah jadi masalah lantaran Jack tak mau menikahinya dengan alasan untuk memastikan ketetapan pilihan hati masing-masing, maka Nenek Sirici tak punya daya buat memaksa. Walaupun pada peristiwa di pulau itu dia sudah memprovokasi Luna agar mendesak untuk menikah, namun tak mangkus.
Sekarang Nenek Sirici melihat perkembangan yang tak boleh dibiarkan berlarut-larut. “Aku harus bertindak,” gumamnya sambil menyaksikan Jack dan Luna berdiskusi dan bersenda gurau seolah tanpa beban saja.
Wanita tua itupun membuat rencana. Dia ingat ramuan bebauan bunga cempaka yang dipelajarinya dari bangsa Arab, itu diyakininya bisa menjadi perangsang birahi. Dan dengan senyum dikulum, wanita tua itu merancang agenda buat Jack dan Luna.
Akan halnya Luna, usai berdiskusi dan berdebat dengan Jack, sekarang justru asyik menekuni layar monitor. Mungkin dia sedang menyempurnakan mesin waktu dengan prinsip entanglement. Maka dia tidak tahu bahwa sejak tadi Jack sudah tertidur di atas karpet. Gadis berjilbab itupun tidak sadar, ruangan tersebut sudah berbeda. Bebauan bunga cempaka mulai mendominasi. Ada nuansa erotik dari aroma itu. Bukan nuansa magis seperti biasa dipakai Luna.
Dinding otomatis bangunan berbentuk tabung itu pun sudah diturunkan, sehingga tak ada lagi cahaya matahari yang masuk. Rupanya Nenek Sirici mulai menjalankan skenarionya.
Tak lama setelahnya, Luna merasa gerah dan aneh. Ada bagian tubuhnya yang menggelenyar tak karuan. Kondisi itu membuat kosentrasinya buyar, dan gadis berjilbab itu menggeliat seraya beranjak dari depan layar monitor.
Luna memilih berselonjor di atas karpet. Lalu merebahkan badannya. Entah sadar atau tidak, Luna sudah berbaring di samping Jack. Dia menguap, bukan tanda mengantuk. Namun oksigen di kepalanya sudah sebagian besar tersedot pada gelenyar-gelenyar aneh itu. Dan semakin dia menggeliat, gelenyar itu kian nikmat. Semakin penuh otaknya oleh bebauan bunga cempaka yang erotik!
Akan halnya Jack, dalam kelelahan dan lelapnya, pemuda itu mimpi serasa berada di negeri antah barantah. Berdua bersama Luna. Bukan di pulau, tetapi tentang umang-umang yang mengorek-ngorek pasir basah!
Kini pasir basah memberi jalan pada umang-umang buat mengorek-ngorek. Sehingga umang-umang semakin leluasa. Tak berapa lama lagi, umang-umang itu tentu amblas.
“Nenek-nenek sialan! Kau menjebak muridku,” ujar seorang laki-laki tua dengan suara parau dan jumawa. Rupanya di ruang itu telah berdiri Angku Pincuran Gadang disertai bau kemenyan yang menggebubu.
Namun suara garang Angku Pincuran Gadang seperti membentur tembok. Tak ada yang bereaksi, termasuk umang-umang yang tak tahu malu, dan pasir basah yang jongkek (gatal).
Geram dengan apa yang terlihat, dengan sengit Angku Pincuran Gadang mendorong pasir dan umang-umang yang sudah berpalun-palun.
Blarrr… Jack terhempas ke kaki meja tempat superkomputer berderet-deret. Sedangkan Luna tergeletak tak jauh dari Jack. Untung dia pingsan, sehingga tak perlu malu lantaran pakaiannya sudah tersimbah tak karuan.
“Astagfirullahal ‘adzim… Lunaaa… Ohhh… apa yang telah aku lakukan??? Ooohhh… ampunkan kami ya Allah…,” ujar Jack seraya bergegas menutupi tubuh Luna. Dan lelaki itu bersimpuh,”Ampun angku, aku khilaf… ampun angku…,” ujarnya seperti meratap.
“Sudah! Diam waang. Jangan cengeng!!! Ini terjadi karena sesuatu yang tidak wajar…. Heiii… nenek peot, kau keluarlah… Kau harus bertanggungjawan dan menjelaskan kepada mereka, kenapa kau merangsang mereka dengam asap syahwat itu! Hayooo… keluarrr… daripada aku obrak-abrik sarangmu ini,” teriak lelaki tua itu dengan suara yang makin parau.
Karena tak tampak juga batang hidungnya”Bedebah… kurang ajar… kau memang benar-benar menantangku!” Maka Angku Pincuran Gadang mulai mengepalkan dua tinjunya seraya mengumpulkan energi yang dia miliki. Lalu didorongnya ke depan kuat-kuat. “Kau kira aku tak tahu tempat kau sembunyi!”
Blarrr… Dinding kaca berderak, tetapi tidak pecah. Ooo… rupanya bukan dinding kaca yang berderak, melainkan di situ telah berdiri Nenek Sirici yang mencoba menghadang pukulan Angku Pincuran Gadang dengan dua telapak tangannya. Bunyi berderak mungkin karena sambungan bahu wanita tua itu yang lepas. Atau dua energi yang tak tampak saling beradu, menimbulkan bunyi mirip pohon kayu rebah. Entah mana yang benar.
Jack diam saja, tak mau mengganggu mereka. Dia sedang menunggu Luna siuman. Dengan harap-harap cemas. Takut akan didesak untuk menikah. Dan lebih takut lagi bila dimusuhi gadis itu.
Yang pasti, dia mulai mengerti apa yang terjadi. Rupayanya Nenek Sirici sengaja menggunakan asap pembangkit birahi, sehingga dia hampir saja tergelincir ke jurang dosa. Untung angku itu lekas tiba.
Sekarang dengan rasa malu dan was-was, Jack memperhatikan dua orang sesepuh sudah saling berhadapan. “Kau memang aneh. Orang tak mengapa-ngapa, kau adu-adu!”
“Itu urusanku!”
“Enak saja kau. Aku tak mau muridku korban kegilaanmu!”
“Apa kau bilang, aku gila?”
“Iya. Kau memang gila! Makanya kau seperti ini terus. Sudah tua, tak laku-laku.”
“Kurang ajar kau, kakek pikun. Siapa yang tak laku? Kau saja sampai membungkuk-bungkuk mengharap cintaku!”
Angku Pincuran Gadang menoleh ke arah Jack. Untunglah Jack pura-pura tak memperhatikan, sehingga angku selamat dari rasa malu pada muridnya.
Selain malu pada Jack jikalau nenek cerewet itu bernyanyi lagi, Angku Pincuran Gadang mengeluarkan jurus Patuih Tungga (Petir Tunggal), itu adalah energi yang disalurkan pada telunjuk, dan memancar serupa kilat, didahului suara petir yang menyebabkan ruang itu berderak-derak serupa akan runtuh.
Tak mau mati konyol, Nenek Sirici membalas dengan jurus Kipas Pengantin–yakni energi ekektromagnetik yang membentuk benteng energi, menghalau kilat dan petir!
Gagal dengan jurus Patuih Tungga, Angku Pincuran Gadang tidak gentar. Ia membalas dengan jurus Mengikat Zarah–yakni praktik nyata dari kuantum entanglement dengan menciptakan ikatan energi antara partikel-partikel di sekitarnya, membuat Nenek Sirici terjebak dalam jaringan energi. Wanita tua itu terkurung.
Namun hanya sebentar saja wanita tua itu tergagap. Tiba-tiba Nenek Sirici membuat dirinya berada di dua tempat secara bersamaan. Ini adalah jurus Ganda Raga yang mengaplikasikan superposisi gelombang sehingga membuat dirinya berada di dua tempat secara bersamaan, mengelabui serangan Angku Pincuran Gadang.
Karena tahu bahwa Ganda Raga itu hanya urusan memadukan gelombang yang ada dengan diri sang nenek, sehingga muncul gelombang baru–kelihatan dengan adanya kembaran Nenek Sirici, serupa– Angku Pincuran Gadang mengeluarkan jurus Pengacau Laut sehingga pemaduan gelombang yang dilakukan wanita tua itu hancur. Memaksa sang nenek kembali jadi satu. Bila ada dua gelombang yang bersuperposisi (berpadu), maka dengan membuat gelombang kebalikannya, perpaduan atau superposisi tersebut menjadi kolaps. Buyar!
Sama-sama kepayahan lantaran sudah mengeluarkan jurus-jurus andalan, kedua orang tua tersebut rehat. Mengambil napas.
Akan halnya Jack, dengan sekuat tenaga melindungi Luna supaya tidak terpapar oleh gelombang yang berubah-ubah itu. Jack terpaksa bersila, memusatkan pikiran dan berkosentrasi untuk mengkoneksi alam. Lelaki ini pun membuat benteng untuk mereka berdua dengan Energi Latif yang lembut itu.
Saat itulah Luna mulai sadar. Dia tercengang melihat ruangan itu sudah porak poranda. Peralatan-peralatan canggih yang berderet di atas meja itu, sekarang sudah lintang pungkang berserakan.
“Jangan nek. Hentikan,” ujar Luna yang terkejut tatkala menyadari pakaiannya tak karuan. Sambil membetulkan pakaiannya, dan diam-diam melirik ke arah Jack yang sedang menekur sambil bersila, gadis berjilbab itu berharap sang nenek tak lagi bertarung.
Bukannya berhenti, Nenek Sirici malah membentak Luna,”Kau perempuan murahan!” teriaknya. “Bukan aku yang kau suruh berhenti, tetapi lelaki buaya itu yang harus kau bunuh! Dia hampir saja menodaimu!”
Luna merasa terhina, dan panas hatinya. Tanpa pikir panjang, gadis itu menyerang Jack dengan melempar mesin waktu yang ada di dekatnya. Jack yang masih menekur, tak sadar dirinya diserang, sehingga alat yang terbuat dari fiber optik yang dirangkai-rangkai serta batangan logam itu tepat di pangkal telinganya. Lemparan yang dilakukan dengan energi penuh dan kemarahan yang memuncak itu membuat Jack terjatuh.
Namun Jack tak melawan. Dibiarkan darah menetes dari telinganya yang robek. Dia hanya memandang Luna dengan kesedihan yang amat dalam.
Sementara itu, Angku Pincuran Gadang tak percaya Jack dengan mudah bisa dijatuhkan Luna. Tadi angku itu sudah mengerahkan energinya buat membantu Jack yang tak waspada. Namun bantuan itu kandas oleh benteng energi yang diciptakan Jack. Alhasil, telinga muridnya pun berdarah. Tetapi bagi Jack itu belum seberapa dibandingkan apa yang tadi diperbuatnya pada gadis itu. Sehingga meskipun tadi dia tahu dirinya diserang, Jack membiarkan saja.
Melihat Angku Pincuran Gadang yang terkejut melihat Jack berdarah, Nenek Sirici memanfaatkan kesempatan. Dia menyerang Angku Pincuran Gadang dengan jurus Pemusnah Alam. Itu adalah jurus pamungkas. Yakni jurus yang menggunakan energi terukur untuk menimbulkan semacam proses bigbang dalam skala kecil.
Tak ada jalan lain, Angku Pincuran Gadang membalas dengan jurus pamungkasnya pula, Pengacau Laut, yakni energi yang bisa menghancurkan dimensi. Jurus ini menciptakan lubang hitam (black hole) yang menghisap serangan Nenek Sirici.
Dua jurus pamungkas itu saling meniadakan. Akibatnya, kedua orang tua itu kehabisan tenaga. Tapi mereka masih saling memandang dengan dendam dan sakit hati.
Jack bangun. Dia memandang Luna yang duduk serupa patung. Sedangkan Angku Pincuran Gadang dan Nenek Sirici mulai mengambil ancang-ancang untuk mengulang jurus pamungkas masing-masing.
Angku Pincuran Gadang mengira Nenek Sirici akan menyerangnya kembali dengan jurus bigbang itu, sehingga lelaki tua itu sudah bersiap-siap dengan jurus Pengacau Laut untuk membuat black hole. Namun dia kecele, karena wanita tua itu justru mengerahkan superposisi gelombang, sehingga tubuhnya menjadi dua. Saat Angku Pincuran Gadang sedang menimbang untuk menghentikan jurus Ganda Raga dari wanita tua itu, tiba-tiba Nenek Sirici mengerahkan jurus bigbang dari dua arah. Itu artinya, akan terjadi ledakan besar yang bisa menghancurkan gedung tersebut.
“Tak bisa kalian bersatu, biarlah kita semua musnah di sini!” Wanita tua itu benar-benar sudah kalap. Tak peduli dengan keselamatan dirinya sendiri, Jack, Luna dan Angku Pincuran Gadang, beserta para teknisi di bangunan berbentuk tabung itu.
Luna berupaya mencegahnya. Namun gadis itu terbentur perisai energi yang dibuat Jack. Sehingga gadis itu terjatuh.
Jack yang tahu akibat fatal dari jurus Nenek Sirici itu, tak mau mengambil resiko. Alih-alih membantu Luna yang nanar lantaran serupa membentur tembok, dia mengambil keputusan heroik.
“Diamlah, nenek!” teriak Jack, melompat ke arah Nenek Sirici. “Aku tidak akan membiarkan nenek membunuh kita semua!”
Jack menyerap jurus Nenek Sirici, mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan kedua orang tua tersebut. Juga menyelamatkan Luna serta gedung tempat mereka berada.
Akibatnya Jack seperti ditelan badai. Badai elektromagnetik. Pakaiannya hangus. Mukanya menghitam serupa dicorengi arang. Dia tergeletak dengan nafas tersengal-sengal.
Adapun Nenek Sirici terjungkal, dan terdengar bunyi berderak. Sedangkan Angku Pincuran Gadang terlempar karena mau mencegah Jack menyerap energi sang nenek. Keadaan kedua orang tua itu benar-benar kritis.
Keduanya sudah kehabisan tenaga. Mereka saling memandang dengan sedih. Mungkin menyadari kesalahan mereka.
“Maafkan kami, Jack,” kata Nenek Sirici, menangis. Angku Pincuran Gadang mengangguk, mengiyakan perkataan Nenek Sirici. “Kita telah salah mengerti,” ujar Angku Pincuran Gadang dengan tatapan sedih, tanpa menghiraukan darah yang keluar dari telinga, mata dan hidungnya.
Dengan bersusah payah, Angku Pincuran Gadang mendekati Nenek Sirici yang sudah terkapar, mengkerut. Sedotan dengan Energi Latif yang dilakukan Jack tadi benar-benar hampir menamatkan riwayat nenek yang sebenarnya baik hati itu.
Memang tak disangkal lagi, Nenek Sirici adalah orang yang baik. Dia lah yang mendidik Luna dengan penuh kasih sayang (Baca Simpang Hati Luna Sangir). Namun, mungkin lantaran masa lalunya kurang beruntung, sehingga hingga setua ini Nenek Sirici tidak pernah menikah. Akibatnya secara psikologi wanita tua tak bisa membiarkan cerita Jack dan Luna yang tak kunjung saling menyatakan cinta. Padahal menurut pandangannya, sepasang muda-mudi itu saling tertarik. Bahkan sudah pernah melalui hal-hal yang nyaris membuat mereka terjatuh ke lembah hina. Karena tak juga ada kepastian tersebut lah maka Nenek Sirici mencoba memerangkap pasangan muda-mudi itu dengan asap syahwat–ramuan dari bunga cempaka, ciptaannya.
Dengan nafas hampir putus, akhirnya Angku Pincuran Gadang berhasil menggapai tangan Nenek Sirici. Keduanya saling memeluk erat. Mereka mengeluarkan senyum. “Aku masih mencintaimu, Sirici,” kata Angku Pincuran Gadang. Nenek Sirici mengangguk dan tersenyum sambil meremas tangan Angku Pincuran Gadang. Lalu keduanya menghembuskan napas terakhir bersamaan.
“Innalillahi wainna ilaihi rojiun… Semoga kalian abadi di alam sana,” ujar Angku Syekh yang tiba-tiba sudah berada di ruang itu, disertai wewangian jafaron putih.
“Begitulah takdir mempermainkan manusia. Sirici adalah wanita perkasa. Dia bangkit dari noda yang membelit saat di kampungnya, Tana Niha. Menghapuskan dendam terhadap apa yang terjadi padanya. Dan memilih berbakti untuk sesama, daripada menambatkan hidup dengan seorang pria. Hanya satu pria yang diinginkannya, dan pria itu menolaknya karena dia sudah beristri di kampung halamannya–Tanah Arab.”
Angku Syekh terdiam sambil menatap jasad Nenek Sirici dan Angku Pincuran Gadang dengan nelangsa. Kemudian dia menatap Jack dan Luna dengan pandangan prihatin.
“Kami bertemu di Kerajaan Gaib. Aku, Nenek Sirici dan Angku Pincuran Gadang berteman, tetapi tidak sealiran. Dan aku yang menjadi saksinya, ketika mereka mengikat janji. Namun ikatan itu mulai retak tatkala kalian tak kunjung bersatu. Bahkan berubah menjadi perlombaan untuk menjadi yang terbaik. Masing-masing tak mau kalah oleh yang lain. Ilmu dan kesaktian telah mengubah mereka.”
Luna dan Jack tak menyangka rupanya guru mereka masing-masing malah saling berlomba. Padahal mereka sebenarnya saling cinta.
“Pantas nenek selalu mengingatkanku agar tak boleh kalah dari lelaki, terutama Jack,” tutur Luna.
Jack memandang Luna, dan tersenyum,”Itu sebabnya kamu selalu bersemangat untuk pamer ilmu padaku.”
Luna mengangguk,”Tapi itu aku lakukan bukan karena benci. Aku juga ingin kamu menjadi lelaki hebat kok,” jawab Luna dengan senyum riang.
“Sudahlah. Angku minta kalian bisa belajar dari mereka. Karena itu, sebelum kalian mengikat janji, tanya hati masing-masing. Jangan gegabah. Namun bila sudah mengikat janji, rawatlah rasa itu.”
Jack dan Luna saling menatap, merenungkan cinta yang kelihatannya ruwet tersebut. Mereka menyadari bahwa cinta sejati tidak mengenal waktu dan kematian. Namun, dalam saat masih hidup saja, mereka belum juga yakin dengan perasaan masing-masing.
Angku Syekh maklum akan keraguan mereka. “Jika kalian masih ragu dengan hati kalian, jangan melangkah.”
Jack mengangguk-angguk, Luna menunduk. Keduanya tak tahu harus bicara apa? Dan bahkan tak tahu lagi akan mengapa?
Maka, Jack memberanikan bertanya,”Apa yang harus kami lakukan, angku?”
Dengan tersenyum ramah, lelaki tua berkopiah itu menjawab,”Sekarang kalian lanjutkan perjuangan mereka. Berbuat baik pada sesama, misalnya dengan mengalahkan Ksatria Dunia itu. Mereka sudah semakin merajalela, menindas kaum yang lemah. Kalian harus menghentikannya,” ujar Angku Syekh seraya mengirap dari tempat itu setelah menepuk-nepuk bahu Jack dan Luna.
Ruangan menjadi sunyi. Luna mendekati Jack, memegang jemari lelaki itu. Jack meraih kepala Luna dan menyandarkan ke bahunya penuh kasih sayang. Tak ada suara yang keluar. Keduanya diam sembari menanyai hati masing-masing.
Dari jauh, sayup-sayup terdengar suara Angku Syekh,”Hati-hati kalian merawat rasa tersebut. Jangan kotori air yang akan kalian minum!”

Ketigabelas:
Siasat Jack
Usai menguburkan jenazah Nenek Sirici dan Angku Pincuran Gadang di samping bangunan serupa tabung itu, Jack dan Luna bahu membahu membenahi tempat tersebut. Ruangan yang rusak di level dua itu mereka perbaiki. Sejumlah peralatan didatangkan oleh Jack dengan menggunakan sumberdaya yang dimiliki Ortana.
Para teknisi yang merupakan kaum dari dunia gaib tetap dipekerjakan. Mereka adalah pasukan yang dapat diandalkan dan setia. Luna dan Jack menyayangi kaum lelembut itu bagaikan saudara sendiri.
Alhasil, gedung serupa tabung di tengah laut itu seolah sorga bagi para lelembut. Betapa tidak, mereka dihargai dan diangkat derajat dari hanya sekedar pekerja belaka. Sehingga selama 24 jam sehari semalam, dan tujuh hari seminggu, bukanlah beban, mereka riang gembira di pulau di tengah laut itu.
Setelah sebulan, Jack mulai memikirkan rencana penyerangan Ksatria Dunia. “Kita harus super hati-hati. Harus dihitung dengan cermat, supaya tak ada celah bagi Bentari untuk lari,” ujar Luna.
Jack mengangguk setuju sambil memperhatikan gadis itu merakit ulang mesin waktunya. “Menurutmu, mesin waktu dengan energi lembut lah solusi untuk melawan teknologi Bentari?”
Luna tersenyum manis. “Hanya di frekuensi rendah kita bisa menangkal teknologi kuantum mereka,” jawab Luna seraya memegang tang lelaki itu. “Dan satu-satunya sumber energi lembut itu hanya dirimu saja. Kita tak cukup waktu membuat pembangkit energi lembut tersebut,” sambungnya.
Begitulah, Jack dan Luna mempersiapkan diri buat mengalahkan Ksatria Dunia, dimulai dengan menaklukkan Pengendali Timur.
“Coba kita ulang lagi menghitung peluang dan kekuatan kita. Supaya sumberdaya yang terbatas ini bisa optimal,” ujar Jack pagi itu.
“Yup. Kita punya mesin waktu yang bisa mengacaukan perangkat mereka. Dan aku sedang mengusahakan agar mesin waktu ini dalam bentuk kacamata saja, untuk kamuflase,” ujar Luna seraya menyerahkan kacamata itu kepada Jack.
Lalu Jack memakainya. “Wowww…kereeen… Pas untukmu. Makin macho,” tutur Luna.
Jack hanya tersenyum. “Macho so pasti. Cara pakainya dulu nona…”
Luna mendekat ke arah Jack. Lalu mengambil kacamata, dan memperagakan cara pakainya. Pada gagang kacamata pada posisi di atas telinga di bagian dalamnya, ada fiber optik yang terhubung ke bagian bawah lensa, dekat ke gagang. Pada kedua gagang kiri dan kanan, ada lobang halus tiga buah yang terkesan sebagai tambahan gaya. Padahal itu adalah lobang yang di dalamnya ada fiber optik halus yang berfungsi sebagai antena. Dari situlah proses memancarkan frekuensi untuk mencari objek pada ruang dan waktu berbeda.
“Saat kamu memerintahkan pikiran untuk menuju ruang dan waktu tertentu, maka perintah tersebut akan diterjemahkan oleh superkomputer mikro yang dicangkok pada pangkal gagang. Selanjutnya diteruskan ke antena untuk menyebar ke alam semesta.”
“Bagaimana dengan daya superkomputer mikro itu?”
“Dari gabungan baterai dan tenaga surya. Bisa tahan 24 jam,” jawab Luna.
Jack menimang-nimang kacamata yang kembali diserahkan padanya. Lalu memakainya. “Ehhh…lensanya tembus pandang,” kata Jack setelah melihat Luna seperti menyaksikan foto rontgen.
Luna tertawa. “Untung yang kamu lihat seperti itu. Bukan seperti kacamata tembus pandang yang kau inginkan.”
“Ehhh… enak saja. Emang kamu tahu apa yang aku inginkan?”
Luna menatap Jack. Dan Jack balik menatap Luna, tepat di bola matanya. Jack mengkoneksi,”Apa yang kamu tahu, apa yang aku inginkan?”
“Kamu mau segera berkumpul dengan teman-teman Ortana.”
“Sebagai fisikawan, kamu bisa mengalahkan Bentari?”
“Bisa. Aku punya banyak ide.”
“Apa alat yang paling mungkin kamu buat untuk mewujudkan ide itu?”
“Wormhole!”
“Berapa lama?”
“Sebulan.”
Jack mengangguk-angguk dan menyudahi koneksinya. “Apalagi alat yang bisa kamu buat untuk mengalahkan Bentari?”
Luna tak segera menjawab. Namun dia menyentuh layar monitor. “Ini prototipe wormhole yang aku buat. Ibarat kita menjadi titik pada selembar kertas, maka untuk mencapai ujung, biarkan saja kertas yang menggulung.”
Jack ternganga menyaksikan animasi prototipe wormhole itu. “Wawww… Jika kita bisa bepergian secara cepat dan sesaat, maka Bentari bukan apa-apa,” kata Jack tanpa menyembunyikan ketakjubannya.
“Aku yakin, kamu bisa menyelesaikan ini dalam sebulan. Dan dengan ini, kamu ingin membantu aku melaksanakan tugas-tugas Ortana,” kata Jack.
Tentu saja Luna terkejut dengan kata-kata Jack yang seolah-olah tahu apa yang ada dalam pikirannya. “Kok kamu bisa tahu pikiranku?”
“Bagaimana bisa tahu pikiran orang lain, itu pun fisika kuantum nona. Itu pe-er kamu berikutnya, untuk merumuskan bagaimana bisa mengetahui pikiran orang lain?”
“Ini belum, sudah tambah lagi pe-er ku,” balas Luna.
Mereka berdua tertawa.
“Oya Luna, aku pikir lebih baik kita berbagi tugas. Kamu selesaikan teknologi Kaki Seribu itu dalam sepekan ini.”
“Ehhh… kok Kaki Seribu?”
“Iya… itu sejenis ulat… Luwing nama lainnya. Jika ada sesuatu, ulat itu menggulung. Sama dengan penjelasanmu tentang kertas yang menggulung,” jawab Jack.
“Hmmm…benar-benar…wormhole bisa disempurkan dengan teknologi luwing. Tinggal menambah sensor, sehingga reaktif terhadap ancaman yang tiba-tiba,” ujar Luna senang lantaran dapat ide baru dari cerita Jack.
“Maksudmu, mesin Kaki Seribu itu bisa jadi semacam perisai otomatis saat ada serangan. Yakni dengan pindah ke ruang dan waktu yang lain secara otomatis?”
“Betul Jack. Dan cocok dengan namamya, kaki seribu. Saat kita terdesak, bolehlah pakai jurus langkah seribu. Begitu juga ini, saat tak ada jalan lain, kita pindah ke ruang dan waktu yang lain. Hmmm… nama yang bagus. Mesin Kaki Seribu,” ujar Luna.
Dengan riang, Jack kemudian menyela,”Berapa lama bisa kau siapkan? Bisa sepekan seperti yang kukatakan tadi,”
“Mudah-mudahan bisa. Karena prinsip dasarnya sama saja dengan Mesin Waktu,” ujar Luna.
“Ehhh… bila sesuatu itu sudah kita siapkan secara sistematis dan terstruktur, hanya tinggal merakit dan memasangnya saja, dan itu perlu waktu kan? Nah, bisakah dengan Mesin Waktu, kita selesaikan,” tanya Jack.
“Bisa, tapi kita tak bisa pulang?”
“Kenapa?’
“Jika pulang, mesin itu kembali seperti semula, belum selesai. Artinya, bila sesuatu itu selesai dalam jumlah waktu tertentu, maka jumlah waktunya tak bisa dikurangi dan tak bisa dipercepat dengan Mesin Waktu!”
Jack tersenyum dan mengiyakan sambil mengangguk-angguk. Dia sebenarnya mengerti perihal ruang waktu sebagai tempat berlangsungnya peristiwa dengan waktu sebagai akumulasi lama atau saat yang diperlukan untuk melakukan suatu hal. Hanya saja, Jack sengaja memancing tanggapan Luna, apakah tidak lupa dengan dua konteks waktu yang dimaksud.
“Okay… Dengan mengoptimalkan semua yang ada, mungkin dalam tiga hari sudah ada prototipe Mesin Kaki Seribu. Jika bisa, tiga hari lagi kita ujicoba untuk melumpuhkan Pengendali Timur,” ujar Jack memotivasi Luna.
“Maksudmu, kita mulai perang dengan teknologi ujicoba?”
Jack mengangguk memastikan tekadnya. “Sebab sesuai jejak digital yang terpantau, MB sejak tiga hari kemaren sudah bergabung dengan Bentari,” imbuh Jack.
Luna mengangguk. “Tentu mereka sudah menyiapkan siasat untuk menghadapi kita. Dan dengan analisa saat ini, apa menurutmu yang harus kita lakukan, Jack” tanya Luna.
Jack berpikir sejenak. “Pertahanan yang baik adalah menyerang. Itu filosofi sepakbola,” jawab Jack.
“Kita menyerang mereka?”
“Ya… kita dahului!”
“Caranya?”
“Mesin Kaki Seribu.”
“Maksudmu?”
“Luna… Bukankah target MB adalah menangkapmu? Nah, kenapa tidak dicoba Mesin Kaki Seribu itu. Kamu datangi markas mereka, ubah Bentari jadi Luna, kamu jadi Bentari.”
“Jack… Mesin Kaki Seribu itu hanya bisa menjelajah ruang dan waktu, bukan menukar objek,” tukas Luna.
“Iya, tapi kamu kan ada ilmu menghilang?”
“Apa hubungannya?”
“Aku punya ilmu mempengaruhi pikiran. Dengan Mesin Kaki Seribu, kita berdua bisa menukarmu dengan Bentari,” kata Jack.
“Aku belum paham. Coba lebih detail.”
Lalu Jack menjelaskan secara detail. Pertama, mereka berdua akan mendatangi markas Pengendali Timur di bioskop. Setiba di sana, Luna mengelabui pandangan Bentari dan MB, sehingga dirinya tak tampak. Secara bersamaan, Jack mempengaruhi pikiran MB, sehingga lelaki bule itu yakin bahwa Bentari adalah Luna. Setelah itu Jack juga mempengaruhi pikiran Bentari bahwa dirinya adalah Luna. Jika semua berjalan lancar, MB akan meringkus Bentari yang dia yakini sebagai Luna.
“Selanjutnya, tergantung situasinya nanti. Kalau aku berharap, MB langsung melarikan Bentari. Nah, saat dua orang itu pergi, kita kuasai markas mereka,” kata Jack dengan mata berbinar-binar.
Begitupun Luna. Dia melihat skenario Jack cukup cerdas dan cerdik. Cerdas dalam arti memanfaatkan tekonologi. Cerdik memanfaatkan harapan musuh, dan memberikan harapan itu padanya. Meskipun hanya kamuflase dan tipuan penglihatan serta intervensi pikiran.
“Cerdas, sekaligus cerdik,” komentar Luna. Namun, gadis itu masih belum terlalu sreg. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang kurang dalam rencana itu. Tapi entah apa?
“Kamu ragu? Atau ada yang kurang dengan skenario itu?”
Luna tak menjawab. Diapun tak mengangguk dan tidak pula menggeleng. Gadis itu termenung. Dia ingat Nenek Sirici. Jika ada problem serupa ini, biasanya sang nenek lah yang dimintai pendapat. Namun sekarang, sang nenek sudah tiada. Terkenang hal demikian, Luna sedih. Jack bingung melihat “perobahan cuaca” yang mendadak tersebut. Tak biasanya Luna demikian.
“Ayolah darling… jika kamu tak yakin, tak masalah. Kita bisa cari cara lain kok,” ujar Jack.
“Bukan… bukan begitu. Aku hanya sedih. Teringat nenek,” jawab Luna. Memang Luna tak berdusta. Dia baru saja teringat sang nenek. Namun dia juga ragu, oleh firasat yang tak bisa dijelaskan. Ada perasaan halus yang mengganjal di hati dan membuatnya ragu.
Tapi perasaan atau firasat itu ditelannya saja. Sebagai fisikawan, Luna malu bila menggunakan perasaan atau firasat untuk mengambil keputusan. Bukankah orang ilmiah mengandalkan logika?
Anggapan bahwa logika lebih objektif, sadangkan perasaan lebih subjektif memang sebuah keniscayaan dalam budaya ilmiah. Namun agak bertentangan dengan paham kebudayaan.
Misalnya di Minangkabau ada filosofi yang diturun-temurunkan dalam bentuk petuah; raso dibaok naiek, pareso dibao turun. Tafsirnya adalah bahwa rasa–lebih substansi dari perasaan–dibawa naik ke otak untuk diolah, dianalisa. Dan pareso (periksa)–logika, atau hasil analisa otak–dibawa turun ke hati.
Di dalam hatilah dipikirkan dan diputuskan tindakan apa yang mesti diambil. Inilah kearifan leluhur dalam bertindak. Tidak serta merta saja. Melainkan ditimbang-timbang baik buruknya.
Paham serupa itu juga diperkuat dengan kajian tasawuf. Bahwa pikir di dalam ilmu tasawuf terjadi di hati, bukan di kepala (otak). Karena di dalam hati ada jiwa dan ruh.
Pikir adalah harkatun nafsi ilal ma’kulat: bergeraknya jiwa pada sesuatu yang diakali. Dengan demikian, pikir itu adalah pekerjaan jiwa yang berada di dalan hati (qolbu). Pikir bukan di otak, melainkan di jiwa.
Senada dengan ini, WR Supratman, sang komponis yang menciptakan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya sudah benar dengan syairnya; “bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”. Jika mesti memilih, maka membangun jiwa lebih prioritas daripada membangun raga.
Selanjutnya, walaupun sudah berpikir dengan jiwa, belum tentu juga hasilnya bermanfaat. Dalam ilmu tasawuf dijelaskan apabila hasil pikir sesuai dengan kejadian itulah yang disebut dengan ilmu. Namun manakala hasil pikir tidak sesuai dengan kejadian, disebut jahil.
Oleh sebab itu, dalam perspektif tasawuf, kita harus berpikir (dengan jiwa) secara jernih. Artinya jiwa yang suci bersihlah yang akan menghasilkan pikir yang bernilai sebagai ilmu. Tetapi jiwa bisa diliputi hati yang kotor lantaran segala macam hal keduniawian. Jiwa yang suci akan terhambat oleh kotornya hati lantaran sifat-sifat buruk. Di antara sifat buruk yang mengotori hati–disebut penyakit hati–adalah iri, dengki, dendam, sombong, takabur, tamak, ujub, dll. Sifat-sifat tersebut mengotori hati, sehingga kesucian jiwa terhalang cahayanya ke luar.
Dianalogikan hati itu ibarat cermin. Bayi yang masih polos tanpa dosa, hatinya bersih–cerminnya cemerlang. Dalam perjalanan hidup, cermin tersebut mulai buram sedikit demi sedikit oleh penyakit hati. Bilamana tak dibersihkan, maka semakin buramlah cermin itu. Semakin kelamlah hati. Kian terkurunglah kejernihan jiwa!
Dari penjelasan di atas, masihkah kita memandang logika sebagai keniscayaan ilmiah? Bukankah fisika kuantum adalah koreksi terhadap logika yang tak berlaku general. Malah bertolak belakang.
Nah, dalam kapasitas sebagai ilmuwan kelas dunia. Sebagai fisikawan alumni MIT, Luna pun tak mampu menjelaskan fenomena yang terjadi padanya. Semua skenario yang dipaparkan Jack sangat masuk akal. Namun firasatnya yang tak terkatakan justru belum menerima skenario itu.
“Jack, kau tahu dimana kita berpikir? Di otak atau di hati?”
Jack tertawa. “Tentu saja di hati. Otak hanyalah alat. Hatilah yang memutuskan.”
Luna mengangguk-angguk. “Apakah skenario tadi kamu pikirkan dengan otak, atau hati?”
Mendengar itu, Jack tersentak. Dipandangnya Luna lama-lama. “Astagfirullahal’adziim… Kamu benar Luna. Terima kasih banyak. Kenapa aku lupa? Apakah aku sudah menjadi orang yang takabur? Atau ujub? Atau ria karena ingin dapat apresiasi? Astagfirullahal’adziiim…”
Luna sekarang yang terkejut. Karena dia tidak menyangka Jack masih berpikir dengan otak. Harusnya berpikir dengan hati!
Di Minangkabau ada istilah latak-an utak di ampu kaki. Tafsirnya adalah jangan gunakan otak. Karena otak hanyalah alat. Boleh diabaikan–letakkan otak di ibu jari kaki!
Demi mendapat koreksi demikian, Jack pun tertunduk malu. “Baiklah Luna, kamu teruskan saja menyiapkan Mesin Kaki Seribu itu. Aku mau menyendiri sebentar,” ujar Jack seraya berlalu dari hadapan Luna.
Dia bergegas ke kamar mandi. Berwudhuk. Lalu naik ke level satu gedung itu. Di puncak gedung serupa tabung itulah Jack menunaikan shalat taubat. Lalu duduk bersila, mengenang segala dosa, dan meminta ampun pada Yang Maha Pengampun. Sesudah itu dia berzikir dengan khusyuk. Sambil melepaskan segala beban duniawi. Hanya berserah diri pada kekuasan Yang Maha Kuasa.
Jack meresapi keyakinan akan ketiadaan dirinya. Yang ada hanya Allah semata. Dirinya adalah fana. Allah lah yang baqa (kekal). Jack beserta makhluk lainnya adalah ciptaan-Nya. Tak ada yang berbuat kecuali Dia–la fiiela ilallah. Tak ada yang abadi kecuali Allah Yang Maha Kekal. Lalu Jack merasakan dirinya tiada. Yang tampak hanya Allah–bukan zat, tetapi kekuasaan, perbuatan dan sifat-sifat Allah yang tak terbilang itu!
Saat merasa diri tiada, hanya Allah semata, itulah level fanabillah. Bila sudah masak di level ini, bisa naik kelas menjadi baqabillah–kekal bersama-Nya dalam konteks bertuhan.
Namun praktik untuk sampai ke fanabillah saja demikian sulitnya. Apalagi baqabillah. Karena itu, serendah-rendah level, jadilah hamba Allah. Hamba sahaya yang hina dina di sisi Allah. Bukan seseorang yang besar kepala atas secuil ilmu atau keberhasilan. Padahal semua itu hanya kehendak Allah semata.
Dirinya bisa menguasai ilmu kesaktian pemberian Angku Pincuran Gadang dan Angku Syekh, itu hanya perbuatan Allah semata. Bukan Jack yang hebat, tetapi Allah Yang Maha Alim. Maka, tak boleh sombong dan takabur, apalagi ujub, sehingga meniadakan peran Allah dan menonjolkan peran diri sendiri.
Berkali-kali. Ribuan kali. Puluhan ribu kali Jack meminta ampun. “Astagfirullahhal’adziiim…Astagfirullahhal’adziiim…Astagfirullahhal’adziiim… Ya Allah, ampuni hamba….”
Tanpa sadar, dalam kekhusyukan zikirnya, Jack menangis terisak-isak. Dia hanya melihat dosa-dosanya yang teramat banyak. Dia malu karena merasa sombong dengan ilmu yang secuil kecil. Dan, Jack larut, hatinya mengharu biru dalam meyakini ketiadaan dirinya dan kemaha-kuasaan Illahi!
Bila disimak perjalanan orang-orang di muka bumi, kesombongan adalah sebuah sifat yang menjadi cikal bakal untuk berkembang menjadi ujub–menuhankan diri. Lihatlah betapa seorang raja Mesir Kuno harus tenggelam di laut merah lantaran menyombongkan diri pada Nabi Musa dengan menyatakan bahwa dirinyalah Tuhan.
Kisah kejatuhan kaisar, raja ataupun pemimpin dalam sejarah dunia, salah satu sebabnya adalah karena sombong! Hitler pun jatuh karena sombong. Muammar Khadafi juga karena kesombongan. Sebutlah sederet contoh lain, pasti yang bersangkutan jatuh karena sombong.
Yakni kesombongan karena punya harta yang berlimpah, itulah Qarun. Begitu pula ada manusia yang sombong lantaran menguasai dunia, ataupun memiliki banyak wanita. Padahal orang-orang yang mendapatkan rahmat Allah berupa kekuasaan, harta dan wanita, pada saat bersamaan dia sedang diuji apakah akan berpaling dari-Nya, atau semakin taat? Orang yang paling alim sekalipun mudah sekali dihinggapi rasa sombong.
Tak pelak, memang dunia adalah tempat Allah memberikan ujian pada manusia. Bila keduniawianlah yang menjadi tujuan, maka gagal ujian. Tidak naik kelas. Berbahagialah manusia yang menerima dirinya apa adanya, menjalani apa adanya, dengan tetap berserah diri pada-Nya selaku hamba.
Ibarat bayi yang menangis mengharap kasih sayang ibunda, begitulah derajat iman yang paling rendah. Namun, bahkan untuk derajat paling rendah itu saja, sangat sedikit manusia yang bisa mencapainya. Konon kah pula akan sampai ke level fanabillah dan baqabillah.
Kesadaran itulah yang membuat Jack menangis. Dia teringat betapa di penghujung usianya, Stephen Hawkings mengakui keberadaan Yang Maha Alim, jauh melampaui ilmunya yang dalam pandangan manusia awam adalah seorang ilmuwan fisika yang sangat jenius. Apalagi dirinya yang belum seujung kuku Stepehen Hawkings, mengapa mesti sombong?
Maka Jack pun menyadari kekeliruannya. Sehingga tangisnya semakin pilu. Dan, dalam menangis dengan air mata mengalir tak henti-henti, Jack melihat Luna terpenjara. Sedangkan dirinya tak kuasa buat menolong, selain meratapi kebodohannya sendiri.
Lalu, alih-alih mengupayakan pembebasan Luna dengan ilmu-ilmu yang dia miliki, Jack kian menghamba pada-Nya: Ya Allah, hamba memang tak layak untuk mendapat cinta-Mu. Namun, tolonglah ya Rabb, bebaskan Luna dari cengkeraman manusia-manusia yang berniat jahat!
Saat yang bersamaan, di level dua, entah bagaimana caranya, Bentari dan Mitchael Bonn sudah berdiri di depan Luna yang sedang tertidur dengan manangkupkan kepala berbantalkan tangan di atas meja kerja.
“Akhirnya kutemukan juga,” ujar Mitchael Bonn seraya menyemprotkan asap berbau bunga cempaka ke arah Luna yang tak sadar dirinya dalam bahaya besar.
“Cepat boss. Nanti dia keburu sadar” kata Bentari, wanita cantik berjubah merah.
MB mengangguk. Dalam keadaan lelap, Luna kena bius dengan asap beraroma bunga cempaka. Lelaki bule itu langsung membopong gadis berjilbab itu, dan berjalan ke arah Bentari.
Ehhh… bukan. Bukan ke arah Bentari dia berjalan. Melainkan menjauhi wanita cantik berjubah merah itu, seraya membopong Luna.
“Heiii… boss… mau kemana? Boss… tunggu…”
Belum habis perkataan Bentari, MB hilang dari pandangan. Juga Luna. Yang tinggal hanya Bentari dengan bebauan bunga cempaka.
Bentari menghempas-hempaskan kaki sambil meraih sesuatu di pinggangnya. Sebuah pistol rupanya.
Wanita itu menembak ke arah tempat MB terakhir, sebelum menghilang tadi. Berkali-kali dia menembakkan pistolnya. Hingga habis peluru. Tak ada darah, yang ada hanya peralatan yang berpijaran karena konslet.
Dan suara tembakan itu pula yang menyentakkan Jack dari kekhusyukannya. Lelaki itu mengusap muka dengan dua telapak tangan, dan mengakhiri pertaubatan dan zikirnya.
Bergegas Jack ke level dua. Begitu tiba di bawah, dia tak menampak Luna. Yang ada hanya seorang wanita berjubah merah, dengan mahkota di kepala. Bentari.
Untunglah wanita berjubah merah itu tak melihat kedatangan Jack. Maka, Jack berkosentrasi, dan mengkoneksi bersamaan dengan ucapannya yang jumawa,”Aku Mitchael Bonn, Luna kemana?”
Bentari menoleh, begitu matanya tertuju pada Jack, wanita berjilbab tersebut langsung terkoneksi!

Keempatbelas:
Penjara MB
Bentari tergagap, tapi sejenak. Setelah itu dia menunduk. Sebab Jack sudah menguasai pikirannya,”Kau harus patuh padaku. Menunduk… menunduk…menunduk!”
Bentari pun menunduk.
Belum puas sampai di situ, Jack kembali menegaskan,”Kau patuh padaku. Akulah Mitchael Bonn, panggil aku seperti biasa… panggil aku seperti biasa…panggil aku seperti biasa…!!!”
“Siap boss?
Jack tersenyum dan puas karena dirinya sudah berhasil menguasai Bentari. Untuk sementara aman.
“Mana Luna,” tanya Jack.
“Bukankah tadi dia bersama boss?”
“Lalu kenapa ada tembakan?”
“Aku yang menembak. Aku kira boss melarikan diri bersama gadis itu!”
Jack terkejut. Rupanya Mitchael Bonn sudah melarikan Luna.
“Memang tadi apa yang kau lihat?”
Bentari diam sesaat. Jack makin memperkuat pengaruhnya dengan memandang bolamata wanita berjubah merah tersebut.
“Tadi aku melihat boss sudah membopong gadis itu. Setelah itu kalian berdua menghilang. Karena merasa ditipu, aku menembak ke arah kalian berdiri tadi!”
Jack mengangguk-angguk dan berusaha tersenyum. Tetapi hatinya sungguh kuatir. “Kamu itu terlalu gegabah. Sekarang dia sudah lari bersama lelaki itu,” kata Jack menguatkan cerita Bentari.
Bentari mengangguk dan menunduk tanda bersalah. “Sekarang kita kembali ke markas,” ujar Jack yang sedang memerankan dirinya sebagai Mitchael Bonn.
“Oohhh…baik boss. Silakan…” Bentari memegang mahkota dengan tangan kirinya, dan tangan yang kanan menunggu tangan Jack. Begitu jemari tangan mereka bertautan, tubuh dua orang itu pun lenyap dari situ.
Hanya sekejap, sekarang Jack yang memerankan Mitchael Bonn sudah berada di bioskop. Di ruang bawah tanah, tempat laboratorium pribadi Bentari berada.
“Boss, sekarang apa lagi?”
“Hmmm… kamu bisa cari jejak digital Luna?”
Bentari mengangguk. Dan melihat ke layar monitor. Wanita berjubah merah itu mengutak-atik layar sentuh. “Lho…kok tak ada? Terakhir dia ada di tempat tadi, boss.”
Jack terkejut. Kemana MB membawa Luna? Dan dia bingung, bagaimana caranya untuk mengorek informasi dari Bentari tentang teknologi yang dikuasai MB?
“Lucu juga. Teknologi kita masih kalah dari mereka.”
“Seharusnya tidak boss. Aku yakin sekali. Mahkota Kristal aku ini takkan mempan, kecuali oleh Kuantum Annihilator yang boss punya!”
“Hmmm…tapi nyatanya mereka lenyap. Bahkan kau sendiri tak bisa melacak jejak digitalnya,” kata Jack dengan nada yang diketus-ketuskan! Sementara di dalam hatinya, Jack sudah mengerti sekarang bahwa MB punya teknologi yang melampaui apa yang dipunyai Luna. Tetapi, kenapa MB begitu bersemangat buat menangkap Luna? Apa yang dia inginkan? Apakah dia menginginkan Luna?
“Bagaimana boss? Apakah kita akan terus mencari rumus-rumus itu?”
Jack tergagap. Ini pertanyaan yang bisa membuka kedoknya yang berpura-pura menjadi MB. “Subagja mana,” ujar Jack yang sengaja mengalihkan pembicaraan.
“Dia di ruang tahanan,” ujar Bentari.
Jack mengangguk, dan dia memandang Bentari langsung ke bola matanya.
“Kau ceritakan, apa yang diinginkan MB terhadap Luna. Ceritakan…ceritakan…ceritakan…!!!”
“Luna punya rumus rahasia untuk mengantisipasi Kuantum Annihilator!”
“Apa lagi yang kamu tahu?”
“Ksatria Dunia ingin menguasai rumus-rumus itu.”
“Untuk apa?”
“Supaya Kuantum Annihilator tak tertandingi.”
“Itu saja?”
“Mereka ingin menggabungkan keduanya?”
“Keduanya, apa?”
“Kuantum Annihilator akan berlipat-lipat hebatnya bila digabung dengan rumus gadis itu!”
“Mana data rahasia Ksatria Dunia?”
Bentari menunjuk monitor. Menyentuh salah satu dokumen.
“Kirim ke nomorku!”
Bentari patuh. Jack memperhatikan dengan seksama dan mencoba mengingat nomor yang dituju. Dia juga mengingat nama folder dan file yang dibuka Bentari. Setelah itu, tanpa diketahui Bentari, Jack membuat gerakan cepat. Telunjuknya sudah menyentuh pangkal telinga Bentari yang menghantarkan wanita berjubah merah itu ke alam tak sadar. Pingsan.
Setelah itu Jack mengirim semua folder yang dia perkirakan dibutuhkan ke nomornya sendiri. Dia pun mencatat nomor MB di hpnya. Setelah itu dia melucuti superkomputer itu dengan virus. Tak selang berapa lama, superkomputer itu hank. Seluruh data hilang. Tak ada yang bisa melacak apa yang terjadi. Kecuali jika ada koneksi superkomputer itu ke server lain.
Lalu Jack menuju ruang tahanan yang ada di samping lab itu. “Pak, apakah cukup kuat untuk berjalan,” tanya Jack yang melihat Pak Tua itu dalam kondisi menyedihkan.
Rupanya lelaki tua tampan itu cukup kuat kondisinya. “Ya, aku bisa,” katanya seraya mengurut-ngurut tangannya yang baru saja dilepaskan borgolnya oleh Jack. Lalu Subagja melihat kemejanya yang tersampir di kursi. Dia memakai kemeja itu, sehingga menutupi baju dalamnya yang ada bercak-bercak darah karena disiksa. Jack mengangguk, dan mengajak Pak Tua itu keluar.
Kemudian Jack menelpon Buyung. “Yung, gunakan jalur kita di kepolisian. Amankan tempat ini. Lokasinya sudah aku share. Jangan lupa, gadis itu masukkan ke penjara khusus. Minta Vivien memastikan. Kamu dan Gatot, tunggu di rumah makan baru!”
Sebelum pergi, Jack masih sempat melucuti Mahkota Kristal di kepala Bentari. Subagja hanya memperhatikan dengan diam. Jika sebelumnya lelaki ini masih punya harapan untuk kembali pada wanita cantik berjubah merah itu, sekarang harapannya sudah dikubur. Bersamaan dengan tindakan Bentari padanya selama menjadi tahanan Pengendali Timur.
Beriringan mereka keluar bioskop. Menuju tempat parkir dengan setengah berlari. Kemudian meluncur laju ke Jalan Veteran, tanpa bicara.
Tiba di rumah makan di Jalan Veteran, Jack memarkir mobil. Lalu sebagaimana umumnya orang mau makan, Jack menggandeng Pak Tua memasuki ruangan. Dan terus ke lantai dua. Di ujung tangga ada lemari. Ke balik lemari itu Jack pergi. Ke markas Ortana yang baru, sebagai pengganti markas Jalan Sriwijaya yang sudah diketahui MB dan Ksatria Dunia.
Di situ sudah ada Buyung dan Gatot yang masih sibuk membenahi peralatan. “Ini semua baru pak. Yang lama, tetap beroperasi. Di situ sudah kami tempatkan tiga petugas. Jika bapak setuju, itu khusus melayani operasi umum saja,” ujar Buyung melapor kepada Jack yang baru datang.
“Ehhh…Pak Jack makin ganteng saja dengan kacamata gaul itu,” kata Gatot berkelakar sambil menyalami Jack.
Jack memandang Buyung dan mengangguk setuju. Lalu dia menepuk bahu Gatot,”Ini kacamata keramat Tot, bukan kacamata gaul,” balasnya bercanda pula.
Padahal itu bukanlah bercanda. Karena kacamata tersebut lebih dari keramat. Itu adalah Mesin Waktu!
“Oya, Pak Mahmud dimana?”
Gatot menjawab. “Beliau tadi pagi ada. Sekarang sedang keluar. Baru sepuluh menit yang lalu.”
“Coba telpon, Yung. Dan tracking lokasinya, Tot. Kirim link nya ke saya,” ujar Jack memerintah Buyung dan Gatot.
Dua petugas yang disebut koki itu mengangguk dan menoleh ke arah Pak Tua. “Beliau boss besar,” ujar Jack menjelaskan, dan kemudian mengajak Subagja memasuki ruangan khusus. Satu-satunya ruangan yang ada di markas itu. Selebihnya adalah ruang lepas, dan sebuah kamar mandi dan toilet serta musala.
Memang Jack sengaja mendisain markas itu sama dengan yang di Jalan Sriwijaya. Waktu itu dia mendisainnya untuk alternatif lokasi saja. Ketika Pak Mahmud memilih yang di Jalan Sriwijaya, Jack tidak mengoperasikan markas veteran. Sekarang rumah makan di Jalan Veteran itulah yang jadi markas utama Ortana.
Berbekal data-data dari bioskop, Jack meneliti Ksatria Dunia. Lengkap juga dokumen itu. Ada jejaring di seluruh dunia, para agen, serta Sistem Operasional Prosedur (SOP) nya. Tetapi anehnya, tidak ada nama Mitchael Bonn di situ. Nama Bentari ada, dan memang wanita berjubah merah itu adalah Pengendali Timur yang membawahi wilayah Asia.
Kenapa tak ada nama Mitchael Bonn? Memang lelaki yang kini menyandera Luna itu adalah sosok yang amat misterius.
“Mitchael Bonn tak akan kau temukan data-datanya. Dia bersama beberapa orang lainnya adalah pemilik Ksatria Dunia. Organisasi itu dibuat untuk mengamankan kepentingan mereka,” kata Pak Tua yang sejak tadi memperhatikan Jack bekerja.
“Namun mengapa dahulu Pak Mahmud pernah menyebut bahwa MB adalah agen level tiga?’
“Itu cara MB meyakinkan Pak Mahmud untuk mengaburkan jejaknya.”
“Memangnya MB kenal dengan Pak Mahmud?”
Pak Tua menggeleng. “Melalui orang-orang yang menyandera anak dan istrinya itulah MB membuat opini. Sehingga Pak Mahmud yakin, bahwa MB bukanlah orang yang paling menentukan!”
Jack mengangguk-angguk. “Oya, pak… Waktu saya ceritakan bahwa Pak Mahmud diancam MB, kenapa bapak bilang tidak tahu?”
Pak Tua tersenyum. “Dunia spionase adalah dunia yang rumit dan kompleks. Jika ingin bertahan, harus pelit memberi informasi, dan serakah untuk memperolehnya,” jawab lelaki tua yang tampan itu.
“Hmmm…Terima kasih, bapak sudah membagi ilmu dan pengalaman,” ujar Jack. Dan melanjutkan,”Jadi MB sengaja mengelabui Pak Mahmud supaya dianggap sebagai agen level tiga saja. Padahal dialah otak semua ini!”
“Mungkin, tapi apa alasannya,” tanya Pak Tua.
“Karena MB punya latar belakang dan ketertarikan dengan fisika. Dia tahu perkembangan fisika, apalagi fisika kuantum. Karena itu dia mengejar Luna,” jawab Jack.
Pak Tua mengangguk-angguk. “Kalau begitu, bisa jadi MB lah nanti penguasa tunggal Ksatria Dunia.”
“Aku juga berpikir begitu. Langkah terakhirnya ada pada Luna. Jika rumus-rumus itu diperolehnya, tentu MB akan memiliki kekuasaan yang luar biasa.”
“Kenapa,” tanya Pak Tua.
“Karena saat ini dia sudah mempunyai Kuantum Annihilator. Dan Luna rupanya punya pemikiran membuat tandingannya. Kami menyebutnya Mesin Kaki Seribu,” ujar Jack.
“Jadi memang ada rumus itu?”
“Ada dan tidak. Sampai terakhir saya bersama Luna, rumus itu baru sebatas membuat Mesin Waktu. Justru dari diskusi-diskusi kami, Luna mendapat ide membuat Mesin Kaki Seribu. Agaknya MB mempelajari kemungkinan-kemungkinan pengembangan, sehingga merasa perlu menangkap Luna,” urai Jack sambil membuka kacamata itu, dan memasukkannya ke dalam laci meja.
Pak Tua mengangguk-angguk. “Sekarang, apa rencanamu, Jack?”
Jack terdiam sambil berpikir. Sesaat berikutnya, dia bicara,”Kita harus memperkuat Ortana pak. Hanya dengan membuat tandingan yang sepadanlah, Ksatria Dunia bisa dilawan,” jawab Jack.
“Tetapi sumberdaya kita terbatas,” ujar Pak Tua.
Jack mengangguk-angguk. “Bagaimana jika bapak menyadarkan Bentari yang sekarang ditahan di tempat khusus.”
Subagja tersentak. Dan hendak membantah. Tapi Jack buru-buru memotongnya,”Aku tahu bapak sudah tak lagi mengharapkan wanita itu sebagai istri. Tetapi bapak pasti tahu cara membujuknya, atas dasar nasionalisme, mungkin dia mau berbalik mendukung kita,” urai Jack.
Subagja mengangguk-angguk tanda mengerti. “Baiklah. Bapak paham, jika Bentari bergabung, maka Pengendali Timur hancur. Kekuatan Ksatria Dunia di Asia akan lemah. Sehingga kita punya waktu untuk melawan mereka secara global,’ kata Pak Tua.
“Tidak itu saja. Bentari adalah fisikawan yang brilian. Mungkin kecerdasan dan bakatnya menyamai Luna. Ini adalah aset yang bisa dimanfaatkan buat mengembangkan teknologi buat melawan Ksatria Dunia. Dan yang pertama, Bentari kita minta untuk mencari cara menyelamatkan Luna,” urai Jack.
Subagja manggut-manggut. Dia merasa dirinya sudah tua dan tak lagi punya energi yang memadai buat memimpin Ortana. Apalagi untuk melawan Ksatria Dunia. Dia berpikir, sudah saatnya regenerasi. “Baiklah Jack. Bapak setuju. Tapi ada syaratnya,” kata Pak Tua.
“Syarat? Syarat apa?”
“Kau harus mau menjadi Direktur Ortana, saya dan yang lain sudah saatnya mendukung dari belakang. Lengser keprabon.”
“Ohhh… bukan itu maksud saya…bukan…bu…”
“Stop… bapak tak ingin kau membantah… Bila kau tak mau, maka semua rencana selesai. Ortana kita tutup!”
Tentu saja Jack terkejut dengan ancaman itu. Bila Ortana ditutup, bagaimana menyelamatkan Luna? Bagaimana melawan Ksatria Dunia?
Memikirkan itu, dengan tersenyum, Jack berkata,”Baiklah pak. Aku bersedia. Setidaknya sampai misi berakhir. Setelah itu, kita lihat nanti,” jawab Jack.
Subagja tersenyum. “Baiklah, sekarang kuserahkan padamu semuanya. Ini kartu utama, semua yang kau butuhkan, data-data, bahkan uang, ada di kartu ini. Tinggal membukanya di komputer. Dan bapak segera pergi untuk membujuk Bentari. Kau boleh sampaikan perubahan kepemimpinan di Ortana pada Mahmud. Terserah saja. Semua kebijakan ada padamu,” ujar Subagja seraya menyalami Jack, memberikan kartu, dan berlalu dari ruangan itu.
“Baiklah pak… tolong beri kabar bila Bentari sudah mau bergabung,” ujar Jack sambil melepas kepergian pendiri dan pemilik Ortana itu.
Seusai kepergian Subagja, sang pemilik dan pendiri Ortana itu, Jack berjalan ke ruang sebelah. Ke dapur tempat para koki. Dia melihat Buyung dan Gatot sudah selesai menyetel dan melakukan instalasi terhadap jejeran superkomputer yang ada.
“Ini pak, tablet ini adalah tongkat komando,” ujar Buyung seraya menyerahkan minitablet pada Jack yang besarnya tak lebih dari hp layar kembar yang ada di pasaran.
“Dan bisa dilipat pula, persis seperti hp biasa,” ujar Buyung menjelaskan.
Jack memeriksa fitur-fitur yang ada, dan dia mengangguk-angguk karena dengan “tongkat komando” digital itu dirinya dapat memerintah, mengendalikan bahkan melakukan serangan rahasia dengan memanfaatkan persenjataan digital yang ada di seluruh dunia.
“Untuk serangan ini, apakah kita punya izin,” ujarnya sambil tersenyum nakal. Buyung dan Gatot pun tersenyum. “Namanya serangan rahasia, tak ada izinnya. Tergantung kemampuan kita membuka password yang diganti-ganti secara acak itu,” ujar Buyung.
“Dan kita sudah menemukan seribu pola yang dipakai oleh militer di seluruh dunia. Tinggal ketekunan dan keberuntungan, maka kita bisa gunakan senjata militer dimanapun, bahkan untuk menyerang mereka sendiri,” tukuk Gatot dengan bangga.
“Hebat kalian. Terima kasih. Tapi, itu pilihan paling akhir buat kita,” tukas Jack. Buyung dan Gatot mengangguk mengiyakan.
Kemudian Jack mengeluarkan sesuatu di balik saku jaketnya. “Tot, Yung, kalian teliti ini. Kalau aku tak salah duga, ini adalah Mahkota Kristal yang dioperasikan berdasarkan fisika kuantum. Coba teliti dengan seksama,” katanya seraya menyerahkan mahkota itu pada Buyung.
Setelah itu, Jack memasukkan nomor MB yang tadi dicatatnya di bioskop ke tablet mini. “Tot, coba kau lacak nomor ini,” ujarnya.
Gatot segera ke depan monitor. Lalu mulai melakukan pelacakan. Tak lama setelahnya,”Aneh pak. Terakhir terlihat di Laut Cina Selatan. Lalu hilang selama 41 menit. Dan muncul di Birmingham,” ujar Gatot seraya mengirim link nya ke minitablet yang dipegang Jack.
“Aneh. Di Birmingham sinyal itu hilang, sejak satu jam yang lalu. Apa analisa kalian,” tanya Jack pada Buyung dan Gatot yang sedang berada di depan layar monitor masing-masing.
“Sinyal hilang bila berada di tempat yang dilindungi perisai digital. Atau perisai sejenisnya,” ucap Buyung.
“Kemungkinan di situ adalah markas, atau sesuatu yang dirahasiakan sehingga perlu dilindungi perisai,” imbuh Gatot.
“Coba tracking mundur, di mana awalnya sinya itu terlihat di Inggris, dan kapan hilangnya,” perintah Jack.
Kurang dari semenit, Buyung sudah menyela,”Benar pak, sinyal itu terlihat di bandara Birmingham, sejam setelahnya hilang. Ini aku coba melacak CCTV bandara. Dan kau Tot, coba ikuti sinyal itu hingga hilang,” ujar Buyung sambil terus menyentuh layar monitor.
“Wawww… dapattt… itu MB dengan Luna pak. Pelacak wajah yang dibuat Vivien, V-face ini memang canggih. Bisa melacak wajah meskipun yang bersangkutan menyamar. Karena V-face menggunakan pemindai retina dan perilaku,” seru Buyung.
Sambil berdiri, Jack memastikan bahwa video itu memang Mitchael Bonn yang berjanggut dan bertopi dengan Luna yang diberi wig warna pink! “Bagaimana Tot,” ujar Jack.
“Ya pak… ini berakhir di sebuah komplek pemakaman di Birmingham. Aneh!”
“Iya ya. Mengapa di kuburan sinyal hilang? Ehhh… itu jelas kamuflase. Kita di rumah makan, mereka di kuburan,” tukas Jack. Buyung dan Gatot mengangguk,”Bisa jadi pak,” ujar Buyung.
“Apa yang bisa kalian lakukan untuk memastikan,” tanya Jack.
“Menunggu sinyal. Dan memindai daerah sekitar. Perlu waktu pak,” jawab Gatot.
“Lakukan yang terbaik,” ujar Jack seraya mengambil hp di saku, dan menelpon seseorang.
“Halo… Ling, saya dengar kamu sedang di Inggris… Ooo…. yaaa… sebentar lagi aku kirim detail… itu misi spesial… ya…ya… baik…”
Jack senang karena Ling bisa membantu memata-matai kuburan itu. Untunglah tadi Jack sempat teringat Ling. Agen Ortana asal Tionghoa itu kebetulan sedang di Inggris. Biasanya wanita itu bertugas di Korea Utara.
“Ini, ada sinyal lagi,” ujar Gatot dengan suara keras sehingga mengusik Buyung yang sedang asyik di depan monitornya.
Begitu terdengar suara Gatot, dengan sigap Buyung melacak CCTV terdekat yang bisa diakses. Dan dia menemukannya. Rupanya lokasi itu adalah Birmingham General Cemetery, terletak di Hockley.
Tak kalah sigap, Gatot pun memperluas referensi dengan meng-googling, sehingga dia tahu bahwa Hockley adalah kota kecil arah ke selatan dari pusat kota Birmingham. Bisa ditempuh sekira tiga setengah jam berkendara.
Dan pemakaman ini dibuka pada tahun 1836. Sehingga Key Hill Cemetery–sebelumnya bernama Birmingham General Cemetery–merupakan pemakaman tertua, yang tidak berada di halaman gereja.
Dari google juga diketahui bahwa sebelum Key Hill Cemetery dibuka, pemakaman umum di Birmingham berada di halaman gereja yang tersebar di beberapa tempat di kota itu.
“Ini pemakaman tua. Biasanya ada ruang-ruang bawah tanahnya, siapa tahu…,” ujar Gatot.
Sementara itu, melalui minitabletnya, Jack mengikuti proses yang terjadi. Begitu ada info, segera dia kirim ke hp Ling. Sejak tadi sudah ada tiga kali dia mengirim informasi. Yakni foto dan data-data Luna, foto Mitchael Bonn, dan peta lokasi kuburan–Birmingham General Cemetery.
Entah iseng, atau sungguh-sungguh, tiba-tiba dia menerima pesan dari Ling: ini gdsmu? Sgt cntk… (lalu ada emoji orang menjulurkan lidah dan orang mengedipkan mata).
Jack membiarkan saja. Dia tak punya waktu untuk balas bercanda. Tak lama tiba lagi pesan dari Ling: otw, 45mnt. Ini dibalas langsung oleh Jack: bwa dy hdp2! Dibalas pula: jk mati? Spontan Jack membalas: kau dpcat!
Setelah terkirim, baru Jack sadar dirinya sudah membuat kekeliruan kecil. Maka diapun menelpon Ling. Usai minta maaf atas kesalahannya mengirim pesan yang berlebihan itu, lalu Jack menjelaskan semua hal tentang operasi khusus itu, terutama dari sisi ancaman besar dari Mitchael Bonn. Juga Ksatria Dunia. Dan Jack juga menyinggung tentang dirinya yang diberi beban memimpin operasi. Itulah sebabnya dia sangat mengandalkan Ling.
“Wawww…sudah naik pangkat rupanya. Selamat Jack,” ujar Ling di ujung telpon.
“Ahhh…kebetulan saja. Mungkin karena Luna itu teman aku,” jawab Jack sekenanya.
“Teman apa temaaan,” canda Ling.
“Ya teman dong. Tolong ya Ling,” tutup Jack sambil mematikan hp. Dari respon Ling, Jack yakin gadis itu akan berusaha sekuat tenaga buat menyelamatkan Luna.
Jack kemudian kembali ke ruang kecil. Menyandarkan badannya di kursi besar itu. Juga meluruskan kaki. Sambil mengistirahatkan pikiran.
Ada sekitar 30 menit Jack rehat, dan hampir terlelap. Namun mendadak tersentak karena suara Buyung.
“Heiii…ini MB tiba-tiba muncul. Darimana dia,” ujar Buyung seraya menyentuh layar monitor untuk mencari saat awal kemunculan MB di kuburan itu.
Memang Buyung tadi melacak sejumlah CCTV di kawasan pemakaman itu, dan ada tiga yang potensial sesuai jejak digital sinyal hp. Dari rekaman tiga CCTV itulah Buyung menemukan Mitchael Bonn.
Sedangkan Jack, begitu menampak MB di pemakaman tersebut, segera melihat tracking GPS Ling yang tadi diam-diam disambungkannya saat berbicara dengan gadis itu via hp. Rupanya Ling masih 11 menit lagi menjelang tiba. Maka, Jack langsung menelpon Ling. “Kamu parkir di pintu utara. Jalan kaki ke arah barat. Tiba di tengah, sembunyi. Tunggu sampai terlihat Mitchael Bonn,” katanya.
Setelah itu Jack berteriak dari dalam ruangan kecil itu,”Kalian cari cara buat melihat semua sudut kuburan itu. Saya harus tahu kemana MB menuju.”
Buyung dan Gatot saling memandang dan mengangkat bahu. Tapi Buyung kemudian mengetik di superkomputer: bpk kan bs perintah di minitablet…
Lalu dijawab Jack: jika gagal, kalian dipecat!!! Buyung terkejut. Tak biasanya Pak Jack seperti ini. Ada apa dengan Pak Jack? Tapi hal itu disimpannya sendiri.
Tak berapa lama, Jack menerima pesan Ling: sdh dipossi… Dibalas Jack: wait n see!
Bersamaan dengan itu, Jack mendapatkan link delapan CCTV. Dan Gatot dengan lihai sudah memadupadankan letaknya di layar. Sehingga terlihat serupa gambar utuh pemakaman jika dilihat dari tempat yang lebih tinggi.
Maka Jack yang sudah menautkan link nya pada Ling, segera mengirim pesan pada gadis itu: lht jg hpmu! Jgn brtndak, smpai kt tau dia hndak kmana? Dibalas Ling: smpai dia msk pntu bwh tanah? Balas Jack: y dan emoji ibu jari.
Lalu ada notifikasi dari Gatot: acra dmulai, prhatikan sltn! Maka semua yang terkoneksi segera melihat ke arah selatan, tempat munculnya MB. Agaknya lelaki bule itu tergesa-gesa, sehingga berkurang kewaspadaannya. Bahkan hingga dia memasuki sebuah pintu kecil yang ada di sisi kiri sebuah makam yang terlihat menonjol itu, MB tak menyadari bahwa ada empat orang dalam waktu bersamaan yang sedang mengamati gerak-geriknya. Tiga orang daring, dan Ling yang luring.
Setelah merasa aman, Jack mengirim pesan pada Ling: dkati pntu, tmpilkn visualisasi!
Maka, tiga orang yang daring sekarang bisa melihat seorang yang sedang merayap dengan lincah, menuju pintu kecil. Sekira dua menit, tiga orang itu sudah mendapat visualisasi.
Jack terkejut. Karena di balik pintu kecil itu ada lagi pintu. Melihat ukuran pintu yang di dalam, Jack yakin ruangan tersebut standar tingginya. Tak perlu menunduk jika masuk.
Lalu Jack mengirim pesan lagi: msk, visualisasi!
Terlihat dengan hati-hati Ling mengamati setiap inci pintu untuk memastikan apakah terhubung dengan alarm, atau tidak? Setelah yakin, Ling bersiap membuka pintu. Namun tak jadi, karena ada pesan: smbunyi!
Dengan patuh Ling segera lari. Menyelinap dan sembunyi di balik batu nisan sambil tiarap. Sedangkan melalui CCTV Jack melihat ada gerakan di pintu. Rupanya MB yang keluar.
Meskipun sedang tiarap, Ling masih sempat mengirim pesan: knp kau tahu? Dijawab Jack: idontknow! Ling diam saja. Sejak kenal dengan Jack dia memang sudah tahu bahwa lelaki itu “berisi”. Ling teringat peristiwa di Bukik Sapek. Maka diapun mengirim pesan: jd ingat Lung. Dibalas Jack: visual. Jk mngkin slmtkan…
Dari video yang dikirim live itu, kembali Jack ternganga karena pintu dalam itu hilang!
Segera Jack mengirim pesan: ambl visual infrared. Setelah itu, di video yang direkam Ling terlihat ada indikasi manusia yang bergerak. Setidaknya ada tiga. Dan yang keempat, kemungkinan juga manusia, tapi sedang duduk.
Lalu Jack mengirim pesan pada Ling: misi selesai, slmtkan dirimu. Sedangkan untuk semuanya Jack membuat pemberitahuan dengan huruf kapital: PENJARA MB!

Kelimabelas:
Luna Comeback
Ling tak beranjak jauh-jauh. Dia justru mencari tempat sembunyi yang lebih dekat dari pintu bawah tanah itu.
Sedangkan Jack, Buyung dan Gatot masih berfokus pada layar monitor masing-masing. Buyung dan Gatot di dapur, dan Jack di ruang chef. Mereka sedang mengupayakan strategi untuk menembus penjara. Karena terpantau penjara itu dilindungi perisai digital.
“Untung Ling tidak masuk. Tetapi sistem pertahanan mereka sudah bereaksi atas kedatangan Ling,” seru Gatot cemas via speaker di samping layar monitor. Tentu suara Gatot didengar oleh Buyung dan Jack, juga Ling, yang terhubung secara realtime.
“Kalau begitu, pasti MB sengaja keluar untuk menangkap kamu, Ling,” kata Jack.
“Itu sudah aku perkirakan. Tenang saja,” jawab Ling santai. Jack melihat posisi Ling saat ini cukup aman. Berada di balik tembok, tak jauh dari pintu. Dan hanya satu aksesnya, dari depan. Rupanya Ling berada pada posisi tupang suduik. Yaitu posisi belakang, kiri dan kanan terlindungi dinding, hanya depan akses satu-satunya. Itulah tupang suduik dalam istilah Minangkabau.
“Bagaimana caranya,” tanya Jack.
“Tunggu saja. Pokoknya kamu percayakan saja padaku,” kata Ling.
Jack terdiam dan tak habis pikir. Apa yang ada dalam pikiran Ling sehingga wanita itu optimis bisa menghadapi MB?
Dan itu terjawab sudah, tatkala MB menuju ke arah pintu, Ling menghadang dan tersenyum. Sehingga walaupun MB terkejut, tetapi hanya sesaat. Tak terdengar apa yang dibicarakan, karena Ling sengaja mematikan speaker. Tetapi dia tetap mengaktifkan video.
Lalu MB membawa Ling memasuki pintu kecil. Kemudian pintu besar di dalamnya. “Cerdas… dia sengaja menyodorkan diri. Entah apa yang ditawarkannya? Dan kita dapat video di dalam,” ujar Jack.
“Tetapi tetap juga beresiko ketahuan,” kata Buyung.
“Tidak, dia merekam video dari kamera mikro yang dipasang tersembunyi. Entah dimana? Coba lihat rekaman CCTV sebelum dia masuk tadi,” tutur Gatot.
“Benar, itu bros berbentuk bunga mawar di dadanya. Coba zoom untuk memastikan,” kata Jack.
“Nah, benar. Dia menggunakan kamera mikro yang disembunyikan di bros, lalu mengirim secara real time menggunakan link kita. Tetapi speakernya off. Sungguh keputusan tepat,” imbuh Jack.
“Itu jalannya pak… Perisai ini bisa kita tembus melalui sorotan langsung kamera mikro,” ujar Gatot dengan suara girang.
“Tunggu dulu. Kita harus hati-hati, dan sebaiknya ada orang dari dalam yang bisa membawa Luna,” ujar Jack.
“Mungkinkah Ling,” tanya Buyung.
Jack terdiam. Ling bisa. Tapi bagaimana caranya memerintahnya?
Tiba-tiba Jack teringat bahwa Ling sudah pernah dikoneksinya. “Kalian perhatikan keadaan di sana. Aku mau ke ruangan,” ujar Jack seraya bergegas ke ruang chef.
Sambil mengamati video di penjara itu, Jack mulai mengkoneksi Ling. Dia memulainya dengan berzikir. Sekira 10 menit setelah berzikir, Jack mulai mengkoneksi. Plong, Jack pun masuk ke ruang hati Ling.
“Kau taati aku… Kerjakan apa yang kuperintahkan… kerjakan…kerjakan… Jika kau mengerti, goyangkan badanmu tiga kali… goyangkan… goyangkan…!!!”
Usai memerintah, Jack melihat video itu bergoyang. Ada tiga kali goyang. Sampai-sampai Gatot terkejut dan berkata,”Yung…kenapa goyang videonya? Apa yang terjadi pada Ling?”
Jack juga melihat, tetapi dia tidak merespon. Namun terus memerintahkan pikiran Ling.
“Kau cari Luna. Cari akal, jangan membuat curiga!”
Lalu video itu bergerak, tanda Ling mulai berjalan. Dan tak lama Jack melihat ada Luna yang duduk dan terikat di kursi. Sekarang bagaimana cara membebaskan Luna?
Sesaat Jack berpikir. Lalu melalui mikropon Jack memerintah. “Tot, kirim pengacau sinyal! Dengan energi penuh!”
Bersamaan dengan itu, secara pikiran Jack memerintah Ling. “Pura-pura jatuh, usahakan menimpa Luna. Usahakan melepaskan ikatannya…kerjakan…kerjakan…kerjakan…!!!”
Kepada Gatot dia memerintah,”Serang dengan frekuensi mikro untuk menimbulkan respon pertahanan mereka. Secara bergelombang!”
Gatot pun dengan sigap menyalurkan frekuensi mikro melalui link yang tersambung ke kamera mikro di dada Ling. Sirine berbunyi. Dan terlihat beberapa orang terkejut. Termasuk MB yang segera berlari ke arah pintu sambil menutup telinganya.
Beda detik saja, saat itu pula Jack memerintah Ling. “Buka ikatan Luna. Tutup telingamu dan Luna dengan apapun untuk menahan frekuensi mikro! Kerjakan…kerjakan…kerjakan…!!!”
Dan di video, terlihat Ling membuka ikatan tangan Luna. Dan sekarang dua wanita tersebut sudah berdiri, dan menyumpalkan tisu ke telinga masing-masing.
“Ling, cari akal untuk lari!”
“Luna, ikuti Ling untuk lari!”
Saat kedua wanita itu sudah di dekat pintu. Tiba-tiba seorang petugas menghadang. Dan Jack memerintah,”Luna, segera menghilang!” Dan petugas hanya melongo sambil mengusap-usap mata sambil berpikir kemana wanita yang seorang lagi? Tetapi tidak lama, karena dia segera menutup telinga dan berlari ke arah pintu.
Ling pun celingak-celinguk mencari Luna. Karena itu Jack kembali memerintah,”Jangan hiraukan Luna. Lari ke pintu!”
Maka Ling pun ikut lari ke arah pintu. Sedangkan Luna diam-diam mengikuti Ling yang menuju ke luar tempat mobil diparkir. Kemudia gadis yang masih pakai wig itu ikut duduk di kursi, di dalam mobil Ling.
“Tot, siapkan perisai. Ikuti perjalanan mereka secara realtime,” perintah Jack. “Siap pak,” jawab Gatot seraya dengan cekatan melakukan sejumlah hal di keyboard superkomputer tersebut. Termasuk mengkoneksi semua CCTV dalam lingkup radius 250 meter di sepanjang perjalanan mereka.
Ling mengendarai mobil dengan cekatan. Dia mematikan auto pilot karena belum tahu kemana arah tujuan. Oleh sebab itu, Ling berkendara ke jalanan yang terlihat. Mengikuti jalan besar. Tanpa berbelok. Ling sempat melihat, sekarang dia berada di jalan raya A4540.
Segera dia aktifkan koneksi hp dengan layar di dashboard. Kemudian menghidupkan aplikasi google map. Sekaligus mengaktifkan speaker. “Halo Jack… sekarang apa lagi? Aku tak bisa menyelamatkan gadismu!”
Jack tersenyum manis, nun jauh di rumah makan di Jalan Veteran, di Jakarta. “Dia sudah bebas kok. Mungkin didekatmu sekarang,” kata Jack menerka.
Ling melihat kiri-kanan. Tak ada orang. Tetapi dia mencium aroma bunga cempaka. “Ya, aroma bunga cempaka itulah pertanda dia ada di dekatmu,” ujar Jack merespon jalan pikiran Ling.
“Ehhh…kamu kok tahu apa yang aku pikirkan? Ini ilmu Minangkabau ya,” tanya Ling.
“Itu ilmu mempengaruhi pikiran. Menggabungkan prinsip spritualitas dengan fisika kuantum,” jawab Luna yang tiba-tiba sudah memperlihatkan dirinya di dekat Ling.
Tentu saja Ling terkejut. Tetapi ditutupinya dengan tersenyum,”Kalian orang-orang Sangir memang aneh dan mengejutkan,” katanya.
Luna tersenyum ramah. “Kami memang orang Sangir. Tetapi kami tidak mengejutkan kok,” canda Luna.
Ling mengangguk-angguk. “Kami memang orang Sangir, tetapi bukan maksud kami buat mengejutkan kok,” respon Jack berkelakar.
Gatot dan Buyung ikut tertawa mendengar kelakar itu di link. “Sekarang apa lagi pak? Sepertinya mereka diikuti,” sela Buyung seraya menampilkan grafis perisai digital yang dibuat Gatot dengan memanfaatkan koneksi daring tersebut.
“Tuju bandara. Yung, siapkan rute terbaik,” kata Jack. Dan,”Tot, cek penerbangan pribadi menuju Jakarta,” tukuk Jack.
Lalu Jack berkata lagi pada Ling dan Luna,”Kalian boleh menikmati penerbangan panjang ini. Tapi upayakan tetap terhubung dengan markas.”
“Siap komandan…!” Para gadis menjawab serentak, sambil tertawa renyah di atas mobil yang melaju menuju Birmingham International Airport.
Dan,”Tot, kamu beli tiket untuk Ling dan Luna dengan pesawat pertama menuju Jakarta. Untuk kamuflase. Siapkan orang kita yang bisa menyamar menyerupai Ling dan Luna. Sehingga terlihat oleh MB nanti. Jika skenarionya pas, agen yang menyamar itu bisa menjadi mata dan telinga kita untuk membekuk MB,” urai Jack panjang lebar.
“Jika kalian ragu, putar rekaman arahan aku tadi ya. Jangan sampai ada kesalahan,” tukas Jack.
Dalam pada itu, Buyung memberikan rute tercepat buat Ling dan Luna. Melalui link, Buyung mengarahkan agar mereka mengambil jalan keluar menuju A45. Kemudian lanjutkan di A45 selama sekitar 4 mil. Lalu, belok kiri ke jalan A45, menuju M42. Dan, ambil jalan keluar M42 di Jalan 6, menuju A45, Bandara Internasional Birmingham. Ke rute itulah Ling menuju.
“Heiii… mereka tetap mengikuti. Bagaimana cara mengelabui,” ujar Gatot. “Waduh… jadi bagaimana lagi,” balas Ling.
“Ini rute alternatif. Di depan ada perhentian, masuk ke situ. Parkir di depan minimarket. Berdiam di minimarket selama mungkin, untuk memberi waktu mengelabui orang-orang suruhan MB,” jawab Buyung.
Ling menurut. Setelah tiba di perhentian, mereka parkir di depan minimarket yang ada di situ. “Jangan lupa kalian bawa hp dan barang-barang penting, masing-masing,” tukas Jack.
Tiba di dalam minimarket, Ling mempelajari rute alternatif yang dikirimkan Buyung. Spontan saja, Ling membuka aplikasi taksi online.
“Coba kamu lihat, bukankah mobil hitam itu yang mengikuti kita,” ujar Ling pada Luna. Luna mengintip dari balik rak-rak minimarket. “Kenapa mereka diam saja. Bukankah seharusnya mereka mencari kita,” kata Luna.
“Mungkin mereka melapor ke atasan. Atau sedang membuat strategi,” jawab Ling.
“Ling, bagus kamu sudah pesan taksi online. Bisakah kamu membujuk sopir taksi untuk pura-pura menabrak mobil hitam itu. Upayakan sesudah tabrakan mobil hitam itu tak bisa jalan lagi,” kata Jack.
“Heeiii…benar. Brilian. Aku kerjakan,” kata Ling seraya meminta Luna untuk menunggu dan melangkah ke pintu samping minimarket untuk menemui taksi online yang sudah menuju lokasinya.
Sekira 7 menit setelahnya, Luna melihat mobil hitam yang sedang parkir itu ringsek. Sebuah taksi membentur bagian kanan belakang mobil hitam itu dengan keras. Sehingga mobil itu terpepet ke sisi dinding area parkir, berdempet dengan taksi! Jelas mobil hitam itu takkan bisa segera berjalan.
Tanpa diminta, Luna segera berlari ke mobil Ling. Dan Ling mengangguk senang, sebab gadis dengan wig itu rupanya cukup responsif.
Setelah menghidupkan mesin, Ling langsung menghidupkan auto pilot dengan menyebut rute perjalanan. Maka melajulah mobil itu di jalan A4540, kemudian mengambil jalan keluar menuju A38. Kemudian melanjutkan di A38 selama sekitar 2 mil. Terus belok kiri ke jalan A38, menuju M5. Selanjutnya diambil jalan keluar M5 di Jalan 4, menuju M42. Dilanjutkan di M42 selama sekitar 10 mil, kemudian mengambil jalan keluar M42 di Jalan 6, menuju A45, Bandara Internasional Birmingham.
Tanpa kesulitan, Ling dan Luna saat ini sudah berada di atas pesawat jet. Langsung menuju Jakarta, dari Bandara Internasional Birmingham. Kedua wanita itu terlihat pulas di kursinya.
Sementara itu, di ruang tunggu keberangkatan Bandara Internasional Birmingham–BHX, dua agen yang sedang menyamar sebagai Ling dan Luna sedang santai sambil menunggu disuruh naik ke Qatar Airways, rute BHX-CGK. Mereka memilih menunggu di No1Lounge yang nyaman. Sofa-sofa besar dan tebal bewarna coklat mememuhi sepajang dinding kaca. Sedangkan di depannya, sofa-sofa bewarna coklat terang yang lebih langsing berderet, menghadap ke apron dan landasan pacu. Di tengahnya ada meja-meja bulat. Dan dua agen yang menyamar itu mengambil posisi di pojok, dan membelakang arah landasan. Sehingga keduanya dengan santai bisa mengamati orang-orang yang memasuki lounge eksekutif itu.
Sesuai arahan, kedua agen yang menyamar itu pun naik ke pesawat tatkala ada pemberitahuan untuk disuruh naik. Hingga sesaat sebelum naik, tak satupun orang yang mereka curigai. Begitupun setelah di atas pesawat, hingga saat-saat keberangkatan, semua berjalan lancar.
Maka, tatkala detik-detik keberangkatan hampir tiba, seorang lelaki paroh baya tergegas memasuki pesawat, tentu saja dua agen yang menyamar itu segera tahu. “MB baru naik,” ujar salah seorang agen melapor.
“Kalian tenang saja. Dia takkan mengganggu selama penerbangan. Sebaiknya hindari interaksi, sebab orang ini adalah legenda spionase. Dia pasti banyak siasat,” ujar Jack memerintah.
“Baik pak. Bagaimana komunikasi selanjutnya?”
“Setelah take off, matikan semua. Jika ada hal yang darurat, kalian gunakan morse digital standar kita. Paham,” ujar Jack.
“Paham,” kata salah seorang agen seraya mematikan komunikasi.
Dan pesawat Qatar Airways itu pun segera menggelinding menuju landasan pacu.
Sesaat setelahnya, di markas veteran, ketika Jack masih mengamati monitor di tablet mini itu, tiba-tiba masuk Vivien bersama Pak Tua dan Bentari!
Jack terkejut, dan kemudian tersenyum ramah. “Halo Bentari. Anda adalah legenda fisika kuantum negara ini. Kami senang anda datang,” kata Jack seraya menyodorkan tangan dan melihat langsung ke bola mata wanita yang masih berjubah merah itu. Tapi tanpa mahkota kristal. Sebab mahkota itu diambil Jack dan sekarang sedang diteliti oleh Gatot dan Buyung.
Bentari diam. Tanpa senyum. Sedangkan Vivien bergabung dengan Buyung dan Gatot di dapur.
Pak Tua meraih kursi, lalu duduk seraya mempersilakan Bentari duduk di dekatnya. Sedangkan Jack duduk di kursi di seberangnya. Mereka saling bertukar senyum.
“Sementara aman pak. Luna sudah diperjalanan ke Jakarta. Bagaimana perkembangan pak,” tanya Jack pada Pak Tua sambil melirik Bentari yang masih diam.
“Agak sendat juga. Tapi, alhamdulillah. Biar Bentari saja yang menyampaikan. Silakan…” ujar Pak Tua yang bernama Subagja itu.
Bentari mengangguk ke arah Jack, lalu menatap pula, langsung ke bola mata Jack! “Aku tahu, entah ini hipnotis atau perdukunan, yang pasti aku tahu kamu menguasai pikiranku!”
Jack terperangah. Maklum selama ini tak ada orang yang sadar bila pikirannya sudah diintervensi Jack. Bahkan Luna pun hanya menerka-nerka. Namun Bentari ini ternyata tahu kalau pikirannya sudah disandera.
“Maksud anda?”
“Tak perlu berbasa-basi. Aku tahu. Walaupun aku tak mengerti bagaimana itu bisa terjadi,” kata wanita itu.
Jack tertawa ramah. Apa boleh buat. Dia harus jujur untuk mendapatkan kepercayaan wanita itu. “Saya menyebutnya penguasaan pikiran. Tetapi ini bukan hopnotis, apalagi perdukunan. Ini fisika kuantum,” ujar Jack sambil mengamati respon Bentari atas pernyataannya itu.
“Bagaimana bisa?”
“Itu adalah energi lembut, atau energi halus. Saya menyebutnya Energi Latif. Seterusnya, tentu anda tahu.”
“Hmmm…secara praktik, saya belum bisa menghasilkan energi lembut di lab. Bagaimana anda bisa?”
“Itulah sisi spritualnya. Bila anda mau, kita bisa sama-sama belajar,” kata Jack dengan ramah.
“Oya…anda mau mengajar saya?”
“Tentu saja. Islam adalah agama untuk semua orang. Bila sudah bersyahadat, in Sya Allah kita bisa belajar bersama.”
“Yaaa… saya Islam. Tapi saya ingin masuk Islam,” jawab Bentari dengan suara serak.
Pak Tua tertegun, dan terharu mendengarnya. “Kau juga. Kita sama-sama masuk Islam ya,” kata Bentari pada Subagja–mantan suaminya itu.
Pak Tua yang tampan itu menatap Bentari dengan penuh sayang. Bentari juga menatapnya. Mantan suami-istri itu saling tersenyum. Seperti sudah ada kesepahaman baru untuk hari-hari mereka ke depan. Entahlah.
“Sekarang tentang Mitchael Bonn dan Ksatria Dunia. Apa yang akan kita lakukan pak,” tanya Jack
“Bukankah Luna sudah selamat?”
“Iya pak. Tapi MB masih belum selesai. Saat ini dia di pesawat komersial, menuju Jakarta,” jawab Jack.
“Dia pasti menghubungi markas kami. Apa yang harus aku lakukan,” tanya Bentari.
Jack berpikir, dan memasuki pikiran wanita berjubah merah itu. “Apa yang kau rencanakan?” “Membunuh MB. Menghancurkan Ksatria Dunia!” “Kau yakin? Jika yakin, menggeleng tiga kali. Menggeleng… menggeleng…menggeleng!!!”
Bentari pun menggeleng tiga kali. Jack tersenyum dan berkata,”Sebaiknya anda tetap pura-pura sebagai Pengendali Timur. Coba telpon sekarang,” ujar Jack.
Bentari mengangguk dan mengeluarkan hp, lalu menelpon MB yang sedang di atas Qatar Airways. Dengan speaker yang dikeraskan, Jack mendengar suara MB yang hendak menuju Jakarta. Dan Bentari juga menjelaskan bahwa markas sudah diserbu polisi. “Saya selamat, sekarang sedang sembunyi, boss,” kata Bentari.
Jack dan Pak Tua juga mendengar perintah MB supaya Bentari mengerahkan sumber daya di Jakarta buat mendukung operasi Ksatria Dunia. “Saya tak ingin gagal lagi. Di Jakarta, kita akan berperang sampai titik darah penghabisan,” ujar MB.
“Kenapa tidak di Inggris? Bagaimana kita bisa kalah di Birmingham, boss,” tanya Bentari untuk memancing respon MB.
“Aku tertipu oleh alarm. Lalu ada frekuensi rendah menyerang telinga. Petugas-petugas panik, sehingga mereka lolos.”
“Kenapa mudah sekali, boss? Memalukan Ksatria Dunia saja,” tukas Bentari.
“Di Birmingham itu adalah fasilitas pribadi. Ksatria Dunia tak tahu tempat itu. But… forget it…Oke ya… kamu tunggu saya…,” ucap MB untuk memutus pembicaraan lantaran dia takut memberi informasi lebih banyak pada Bentari.
Dalam dunia spionase memang kerahasiaan adalah hal yang utama. Tak boleh membeberkan informasi apapun, bahkan pada istri atau anak sendiri. Karena kebocoran informasi betapapun kecilnya adalah celah masuk bagi lawan. Itu sama dengan membuka pintu buat orang maling.
Dan, sebentar ini, tanpa sengaja MB telah membocorkan informasi tersebut, langsung pada Jack–Direktur Ortana!
Rupanya ruang bawah tanah di pemakaman umum di Birmingham–Key Hill Cemetery–adalah sarang Mitchael Bonn. Mungkin saja di situ terdapat rahasia-rahasia kekuatan MB. Tetapi bukan kekuatan Ksatria Dunia. Ini jelas informasi berharga buat Ortana.
“Sekarang apalagi Jack,” tanya Pak Tua. Sementara Bentari serupa ada yang mau dikatakan, tetapi dia memilih diam.
Namun Jack cukup arif. Maka,”Mahkota Kristal bawa ke sini, Tot,” seru Jack kepada Gatot yang masih terhubung di link.
Tak lama, Gatot membawa mahkota kristal itu. Memberikannya pada Jack. “Bentari, aku tahu ini adalah kekuatan inti Pengendali Timur. Aku percaya kita sudah berada dalam pihak yang sama. Ini kukembalikan,” ujar Jack seraya melangkah ke dekat Bentari. Dan memasangkannya.
“Wahhh…anda benar-benar anggun dengan mahkota ini. Serasi dengan jubah yang bewarna merah. Saatnya anda, dan Pak Tua membuktikan bahwa spionase dunia bukanlah milik negara adidaya semata. Kita pun bisa. Anda bisa memulainya, dengan mengalahkan MB,” tutur Jack dengan senyum ramah.
Sesudah itu, Bentari mengajak Pak Tua beranjak dari ruang chef. “Ayo mas. Kamu masih ingin mendampingiku kan,” tutur Bentari sambil menggandeng tangan lelaki tua yang tampan itu.
Jack mengantarkan pasangan yang terlihat mulai akur itu ke tangga, menuju lantai atas. Kemudian dia bergabung dengan para koki.
“Bagaimana kabarmu Vien,” sapa Jack seraya menepuk pundak gadis tomboy itu.
Vivien hanya tersenyum dan mengacungkan jempol untuk mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.
Gatot lah yang bicara. “Dia sedang terkesan oleh cinta, pak,” sebut Gatot.
“Hmmm… cinta… Kamu mendengar pembicaraan Pak Tua dengan Bentari,” tanya Jack.
Vivien mengangguk. “Pak Tua itu memang lelaki sejati. Mau bersimpuh untuk meluluhkan hati Bentari,” kata Vivien.
“Apakah kamu mau Gatot bersimpuh pula,” canda Jack. Mendengar itu, Vivien malu. Gatot tersipu-sipu.
“Bagaimana bu Luna, pak,” tanya Buyung dengan senyum penuh arti.
“Hmmm… dia wanita yang kuat. Beberapa jam lagi dia kembali bersama kita. In Sya Allah,” jawab Jack yang berusaha mengatakannya dengan nada sedatar mungkin. Sebab Jack tahu arah pertanyaan Buyung. Agaknya para koki tahu perihal kedekatannya dengan Luna.
“Asyikkk… bu Luna comeback…!!! Saatnya untuk kisah asmara agaknya,” canda Vivien.
“Husss…kamu itu Vien. Bercanda jangan keterlaluan. Apalagi dengan boss,” tukas Gatot.
“Upppsss…maaf boss… ehhh… maaf pak.”
“Enak saja minta maaf. Mau dipecat oleh Direktur,” sambung Gatot dengan tertawa.
Jack ikut tertawa. “Buyung, Gatot dan Vivien, aku memang sudah dipercaya jadi direktur Ortana oleh Pak Tua. Tetapi aku tetap ingin hubungan kita seperti biasa. Kita adalah keluarga. Tak perlu formalitas. Kalian janji?”
Para koki mengangguk. Tentu saja mereka senang. Apalagi selama ini memang Jack yang lebih banyak memimpin misi. Pak Mahmud lebih sebagai simbol saja.
“Oya, bagaimana kabar Pak Mahmud,” tanya Jack.
“Ini baru mengirim pesan. Beliau sedang mengatur staf-staf baru di markas lama, Jalan Sriwijaya,” jawab Buyung.
“Oya… menurut kalian, apa yang harus aku katakan pada beliau nanti?”
“Tak perlu, pak. Pak Mahmud sudah diberi tahu. Kabar bahwa bapak yang jadi direktur, justru kami peroleh dari beliau,” tutur Buyung.
“Iya pak. Dan Pak Mahmud mendukung sepenuhnya. Beliau mengatakan akan pindah ke bagian administrasi saja. Mungkin kapok lantaran ancaman-ancaman itu,” kata Gatot.
“Pusat telah membantu sepenuhnya, sehingga sekarang keluarga Pak Mahmud sudah aman. Mereka dipindahkan ke kota lain. Karena itulah, Pak Mahmud minta pindah ke administrasi. Tidak lagi jadi agen lapangan. Tetapi sekarang Pak Mahmud diminta memimpin di markas sriwijaya,” sambung Buyung.
Jack mengangguk-angguk. Rupanya sejumlah urusan sudah selesai. Sekarang tinggal menunggu Luna comeback!

Keenambelas:
Hati Jack & Luna
Tidak, Jack tidak ikut menjemput Luna ke Bandara Halim Perdana Kusuma. Hanya Vivien yang disuruh menjemput dengan beberapa agen lapangan.
Bukan, bukan Jack tak mau atau meninggikan derajatnya sendiri lantaran sudah menjadi direktur. Bukan itu. Melainkan karena dia baru saja diberi tahu bahwa sebuah mobil carteran meledak di area Bandara Soetta. Pak Tua yang ada di dalam mobil itu luka parah. Seorang sopir dan dua orang lainnya tewas di tempat kejadian.
“Tetapi tak ada Bentari. Juga tak ada MB. Mereka juga tak terlihat di ruang kedatangan. Dua agen kita mungkin sedang menunggu perintah di ruang kedatangan,” ujar Gatot sambil memelototi CVTV di ruang kedatangan luar negeri itu.
“Coba putar rekaman di apron,” seru Jack sambil melihat tablet mini dan melangkah ke ruang dapur menemui para koki yang sibuk memelototi layar monitor masing-masing.
Para koki dengan sigap mengumpulkan rekaman pada sejumlah CCTV yang mengarah ke lokasi pesawat itu diparkir. Lalu semua rekaman mereka teliti satu persatu.
“Hanya sebuah mobil saja. Tak ada yang lain,” seru Gatot.
“Dan mobil itu punya izin khusus untuk menjemput diplomat,” sambung Buyung.
Jack termenung, dan berpikir. “Yung, coba kamu cari rekaman di garbarata. Saya menduga, MB pun tak ada terlihat,” seru Jack.
Sambil menunggu Buyung mengakses CCTV di garbarata, Jack memerintah Gatot,”Kamu perhatikan rekaman di bagasi. Ikuti sampai bagasi tersebut dibongkar.”
Setelah itu Jack mengangkat telpon. “Segera ke tempat bagasi. Pasti MB di situ. Di antara tumpukan barang,” kata Jack memerintahkan dua agen yang menyamar.
Kemudian Jack pergi ke ruang chef. Dia duduk di kursi. Mulai memusatkan kosentrasi, dan mengkoneksi Bentari!
“Kau berkhianat!”
“Tidak. Kami dijebak.”
“Oleh siapa?”
“Pak Mahmud!”
“Sekarang kau dimana?”
“Sembunyi. Di bandara.”
“Tetap sembunyi, tunggu perintahku!!!”
Lalu Jack mengakses CCTV di ruang kedatangan. Dia menggunakan V-face buat mencari keberadaan Bentari dan Pak Tua serta Pak Mahmud beberapa menit sebelum pesawat tiba.
Berselang tujuh menit, Jack sudah mendapatkannya. Ada tiga rekaman dari CCTV yang berbeda. Satu rekaman memperlihatkan Bentari dan Pak Tua yang memasuki ruang tunggu kedatangan. Satu rekaman lagi, ada Pak Tua dengan Pak Mahmud bertemu di ruang tunggu kedatangan, tetapi tidak ada Bentari. Dan satu rekaman lagi terlihat Bentari sedang tergesa-gesa menuju toilet.
Jack mengamati gambar-gambar yang dicurigai dari tiga CCTV itu. Kemudian dia gandengkan ketiganya setelah terlebih dahulu menyamakan waktunya.
Hasilnya; saat Bentari dan Pak Tua datang, Pak Mahmud sudah lebih dahulu berada di ruang tunggu. Saat Bentari ke toilet, Pak Mahmud mendekati Pak Tua, mereka terlihat sedang berbicara. Dan ketika Bentari kembali dari toilet, dia melihat Pak Tua dan Pak Mahmud setengah berlari ke arah pintu menuju apron.
Jack belum bisa menarik kesimpulan. Sejumlah fakta masih samar-samar untuk dirajut menjadi kongklusi: Apa bukti Pak Mahmud berkhianat? Apa yang dibicarakannya dengan Pak Tua? Kenapa mereka bergegas keluar? Dan puncak dari semua itu, kemana perginya Mitchael Bonn?
Sementara itu, Vivien menyambut Luna dan Ling di bandara Halim Perdanakusuma. Dia sengaja menunggu di salah satu kafe yang berjejer di seberang jalan pintu keluar. Vivien memilih kafe yang terletak menghadap pintu keluar. Dia memesan minuman dingin.
Dan, tak terlalu lama Vivien menunggu, dari kafe dia melihat dua wanita cantik berjalan beriringan. Salah satu wanita itu memakai jilbab. Vivien meninggalkan minuman yang tadi sudah dibayar, lalu bergegas menghampiri mereka.
“Apa kabar, Luna? Selamat datang di tanah air,” ucap Vivien sambil menyodorkan tangan. Dan menyalami Luna dan Ling. Lalu mengarahkan mereka menaiki mobil yang sudah disiapkan.
“Kita ke rumah makan veteran,” kata Vivien kepada sopir. Dan mobil itu pun melaju ke Jalan Veteran.
“Kita sudah kenyang, kenapa tidak langsung saja bertemu Jack,” tanya Ling.
Luna tertawa. “Rupanya kamu belum diberitahu bahwa mereka menyebut markas dengan rumah makan. Karena memang markas tersebut di dalam ruang tersembunyi di rumah makan. Itu ide Jack,” tutur Luna dengan mata berbinar-binar.
Vivien yang menyaksikan Luna bicara jadi terheran-heran. Apakah sebegitu cintanya gadis berjilbab itu pada Jack, sehingga saat membicarakannya saja sudah tampak matanya berbinar cemerlang. Namun sesaat setelahnya Vivien pun mengangguk,”Luna benar, itu ide Pak Jack. Dan Pak Jack sekarang yang memimpin kita semua. Beliau sekarang direktur kita,” imbuh Vivien.
“Wowww… kereeen. Semuda itu Jack sudah jadi direktur. Hebat. Tapi dia memang layak kok,” seru Ling.
“Oh ya… Jack kemana? Kenapa tidak datang langsung? Atau karena sudah jadi direktur, sehingga lupa menjemput pacar sendiri,” lanjut Ling seraya melirik Luna yang tersipu-sipu.
Vivien tersenyum mendengar gurauan gadis asal Tionghoa itu. “Pak Jack sedang sibuk memecahkan kasus ledakan mobil di Soetta. Ada Pak Tua di dalam mobil. Beliau luka parah,” tukas Vivien.
Luna terkejut. “Apa? Kecelakaan mobil di Soetta? Ada kaitan apa dengan Mitchael Bonn? Siapa Pak Tua itu?”
Vivien terkejut atas pertanyaan itu. Dia sudah kelepasan omong. Sebagai agen, seharusnya dia hemat bicara! “Hmmm…biar nanti Pak Jack saja yang menceritakan. Kita tentu bertemu beliau nanti,” ujar Vivien kembali ke standar bicara seorang agen. Hemat bicara, banyak melihat dan mendengar.
Luna mengangguk. Ling sedang sibuk melihat jalanan yang macet. Dalam hati dia bergumam betapa kota-kota metropolitan dimanapun kian sumpek saja. Di Birmingham sama saja. Dimanapun sama. Sebab jumlah dan panjang jalan tak bertambah seiring pertambahan orang dan kendaraan. Hanya saja, banyak kota di dunia menyiasatinya dengan angkutan masal dan subway. Tampaknya Jakarta baru mulai ke arah itu. Yakni memadu moda transportasi seefisien dan semasal mungkin. Supaya tidak macet lagi. Atau setidaknya mengurangi kemacetan.
Sementara itu, di rumah makan, di Jalan Sriwijaya, terlihat Pak Mahmud memerintahkan tiga orang operator untuk menayangkan semua kejadian di bandara. Serupa dengan di rumah makan di Jalan Veteran, Pak Mahmud memimpin penganalisaan kejadian.
Dia memang baru tahu ada kejadian mobil meledak di Soetta. Sejak tadi dia sedang berkemas-kemas di ruang chef. Sebelumnya dia menulis surat pengunduran diri. Lelaki itu memilih bersama anak dan istrinya daripada menjadi agen dengan waktu kerja yang tak teratur itu!
Dan ketika di layar monitor di atas mejanya dikirim video kejadian ledakan itu oleh operator, barulah Pak Mahmud terkejut. Lelaki itu meninggalkan barang-barang kecil yang bertumpuk di atas meja, dan bergegas ke dapur.
“Coba lihat semua rekaman CCTV yang mengarah ke apron. Juga di ruang tunggu kedatangan. Semuanya,” ujar Pak Mahmud.
Para operator tersebut bergegas menampilkan di layar monitor masing-masing. “Hei… kok ada bapak di situ,” tanya salah seorang operator.
Pak Mahmud terkejut. “Bagaimana mungkin? Tapi orang itu benar-benar mirip saya. Bajunya saja yang berbeda,” kata Pak Mahmud.
“Iya pak. Jalannya pun sama. Gayanya sama. Padahal sejak tadi kan bapak bersama kami di sini,” kata operator yang lain.
Pak Mahmud kaget setengah mati. Lalu diapun merogoh hp di kantong celana. “Jack… ini bapak… kenapa bisa begitu? Ya… yaa… bapak sejak tadi di markas sriwijaya. Baik… baik…!”
Tentu saja Jack terkejut. Apa mungkin dalam waktu yang sama seseorang bisa berada di dua tempat? Apa teknologinya?
Iseng-iseng, Jack menanyakan perihal itu pada Meta AI yang ada di aplikasi WhatsApp. Rupanya gabungan teknologi hologram dengan Augmented Reality (AR) telah memungkinkan dibuatnya adegan virtual. Sehingga seseorang yang disodori objek virtual itu tak sadar bahwa yang dilihat dan dialaminya hanya virtual belaka!
Gabungan Augmented Reality (AR) dengan hologram disebut Holographic Augmented Reality (HAR). Teknologi ini menggabungkan objek holografik dengan lingkungan nyata, menciptakan pengalaman yang lebih imersif dan interaktif.
Rupanya kata Meta AI, bisa. Apakah Mitchael Bonn sudah sejauh itu menguasai teknologi itu? Jack menarik nafas, dan menyadari betapa ilmu pengetahuan serupa cakrawal tak terbatas.
Dalam berpikir demikian, tiba-tiba Vivien diiringi Luna dan Ling memasuki ruang chef. Jack terkejut, juga terpana, mungkin melihat Luna yang makin cantik saja. Sedang Luna tersenyum tersipu-sipu. Lupa bahwa dirinya sempat menjadi tahanan Mitchael Bonn.
“Assalamualaikum… adakah perjalanan kalian lancar-lancar saja?”
“Waalaikum salam…,” jawab Luna.
“Huuu…kok jadi formal begini sih? Kalau perjalanan tak lancar, belum kami akan tiba di sini pak Direktur,” canda Ling.
Jack tertawa dan salah tingkah. Luna ikut tertawa, riang. “Iya nih. Kok formal begitu bapak,” sambung Vivien.
“Aduhhh…sudahlah ketemu jalan buntu di sini, eee…tiba-tiba dikeroyok para bidadari… mati aku!”
“Yang mana bidadarimu, Jack,” desak Ling. Sedangkan Luna menyikut badan Ling dan seolah-olah kesal. Seolah-olah sih!
“Mau tahu…apa mau tahu…,” ujar Jack mengikuti kucindan (kelakar) para wanita itu.
Mereka kembali tertawa. Senang benar Jack tampaknya. Beban yang tadi membuatnya sesak, seolah terlupakan.
Namun hanya sebentar. Sebab tiba-tiba masuk Buyung dengan nafas tersengal-sengal. “Pak… maaf…saya mengganggu… Dua agen kita ditemukan tewas di ruang pembongkaran bagasi!”
“Apa? Apakah kalian punya petunjuk?”
“Belum pak… Gatot sedang mencari.”
“Baiklah… sekarang kalian semua ke posisi. Vien, kamu pakai V-face untuk mengidentifikasi keberadaan Mitchael Bonn. Cari dari sepuluh menit sebelum ledakan, hingga sepuluh menit setelah agen kita ditemukan tewas.”
Vivien mengangguk. Dia dan Buyung segera ke depan monitor masing-masing. “Dan kau Yung, coba telpon Pak Mahmud, tadi dia menelpon aku, katanya dia di markas sriwijaya sejak pagi. Cari petunjuk tentang keberadaan Pak Mahmud, bahwa beliau memang di sana, terutama perhatikan rentang waktu sama dengan Vivien.”
Luna dan Ling diam saja. Mereka mengamati yang terjadi, terutama respon Jack yang sistematis dan terukur itu. “Memang pantas. Kau cocok jadi direktur, Jack,” ujar Ling tulus.
Jack hanya tersenyum datar. Dan dia memandang Luna. “Oya Luna. Bisa kamu ceritakan bagaimana sampai bisa diringkus MB?”
Setelah mengangguk, dan merapikan jilbabnya, Luna bercerita bahwa dirinya tertidur sambil duduk ketika mengerjakan prototipe Mesin Kaki Seribu, di level dua di gedung serupa tabung di tengah laut itu. Lalu ada yang memeluk dan membopong tubuhnya. Saat dia bingung untuk mencari tahu siapa yang membopong, tiba-tiba dia merasa tersungkup sesuatu yang tak tampak. Lalu saat sadar, dirinya sudah dalam tahanan Mitchael Bonn.
“Hmmm… apakah rasa tersungkup sesuatu yang tak tampak itu merupakan gambaran kondisi transisi untuk menuju ruang dan waktu yang lain?”
“Aku tak tahu. Agaknya demikian?”
“Lalu, bagaimana dengan Mesin Kaki Seribu. Apakah kamu sudah menyelesaikannya. Dan tentu tinggal di gedung itu!”
Luna mengangguk. “Sudah selesai. Dan aman,” jawabnya tanpa mau memberikan keterangan secara panjang lebar.
“Oya, sepeninggalmu, aku menemukan layar monitor mati, tetapi listrik tak mati. Apakah itu dampak kuantum ulah MB?”
“Aku tak tahu. Mungkin MB punya teknologi yang lebih maju. Tetapi tentang monitor mati, itu bisa juga ada badai kuantum. Sehingga partikel-partikel plasma elektron di layar monitor berpendar dan berubah fase,” kata Luna.
Jack mengangguk-angguk. “Mungkin itu yang terjadi. Sebab sepeninggal kamu, ada Bentari–fisikawan itu–yang juga berada di level dua. Tentu dia datang bersama MB.”
Luna kaget. “Ada Bentari? Berarti mereka sudah lebih maju selangkah dari kita,” ujar Luna.
“Maksudmu?”
“Apalagi jika bukan dengan keajaiban kuantum itu?”
“Oya… Bentari itu memiliki Mahkota Kristal. Sebentar… Gatot, coba kamu kirim hasil penelitianmu pada mahkota itu.”
Tak lama, Jack melihat hasil penelitian Gatot: Mahkota Kristal itu adalah materi sejenis ktistal kuantum. Yakni material yang memiliki sifat-sifat unik karena efek kuantum pada susunan kristalnya. “Ini penelitian Gatot pada mahkota itu,” ujar Jack seraya menyerahkan tablet mini pada Luna.
“Cerdas! Ini teknologi yang tak kalah maju. Dengan mahkota ini, kita bisa menembus ruang dan waktu,” ujar Luna tanpa menyembunyikan ketakjubannya pada kecerdasan perempuan bernama Bentari itu.
“Kau benar Luna. Aku sudah mencobanya.” Tentu saja Luna heran, dan curiga. Gadis berjilbab itu memandang Jack lekat-lekat, seolah-olah ingin menelanjangi hati lelaki itu.
“Jangan curiga dulu. Dia adalah istri pendiri dan pemilik organisasi tempat kita bekerja ini,” kata Jack. Luna tersenyum, hilang curiganya seketika. Lalu Jack pun menceritakan peristiwa setelah Luna dibawa Mitchael Bonn.
Luna mengangguk-angguk. “Itu termasuk lubang cacing juga. Tetapi efek kristal itu membuat wormhole-nya lebih stabil,” kata gadis berjilbab itu.
“Hmmm… bagaimana dengan Mesin Kaki Seribu itu? Mana yang keren,” tanya Jack sambil melihat Ling yang sejak tadi terdiam saja mendengar pembicaraan Jack dan Luna. Tentu saja, karena dia tak mengerti fisika.
“Jack… ilmu pengetahuan itu bukan tentang menang dan kalah. Tetapi kemanfaatannya yang utama. Dulu bom atom paling hebat, tetapi membuat petaka di Nagasaki dan Hiroshima,” kata Luna berfilsafat.
“Ahhh…kau benar tuan puteri… kok aku malah bicara kalah menang? Seharusnya kemanfaatannya bukan?”
Luna mengangguk. “Oya Ling, selamat datang di dunia kuantum. Tapi tak perlu cemas, ada Mr Jack yang ahli,” canda Luna.
“Husss… Ling… untuk kamu tahu, Luna ini fisikawan yang dikejar-kejar Mitchael Bonn itu. Karena cantiknya… ehhh… terutama karena kepalanya… Luna menciptakan sejumlah teori fisika kuantum yang sangat berharga,” ujar Jack tak mau kalah.
“Sudah…sudah… di hadapan kalian, aku seolah berhadapan dengan orang di masa depan. Mumet kepalaku,” sergah Ling sambil tersenyum.
Mereka tertawa. Lalu Ling melanjutkan,”Dan Luna ini, selama di pesawat, tak pernah berhenti menceritakan tentangmu Jack. Kau beruntung dapat gadis super seperti dia,” sambung Ling. Dan Ling memang tak mengada-ada. Selama di pesawat Luna selalu bercerita tentang pengalamannya bersama Jack.
“Tetapi kamu tidak menceritakan bahwa aku pernah memelukmu kan,” ujar Jack berani.
Luna yang tercengang. Mukanya merah, mungkin cemburu. “Huuu… kamu bisa saja membakar api. Ehhh… Luna… memang dia pernah memelukku, tapi saat menyelamatkanku ketika hampir tertimbun longsoran di Bukik Sapek, di perbatasan wilayah Solok Selatan dan Solok,” ujar Ling.
“Kamu tak bohong kan?”
“Siapa yang bohong. Kamu tahu kan, aku sudah punya suami!”
Jack tersenyum manis. Lalu dia mendekati Luna. “Sayang… kamu dengarkanlah baik-baik cerita Ling tadi. Percayalah, sejauh yang sudah kita lalui, apakah aku punya pilihan lain? Ini seperti konsep partikel berpasangan. Akulah pasanganmu,” kata Jack sambil bersimpuh di hadapan Luna.
“Horeee…akhirnya…,” teriak Gatot, Buyung dan Vivien yang mendadak memasuki ruangan itu. Rupanya Jack lupa mematikan speaker tablet mini, sehingga semua pembicaraan di ruang itu didengarkan oleh para koki!
Tanggung basah, maka masih dalam bersimpuh, Jack berkata,”Luna…disaksikan Ling dan para koki yang handal ini, izinkan aku melamarmu, buat menjadi istriku!”
Tentu saja Luna tersipu-sipu malu. Namun dia menggenggam tangan Jack yang terulur. Dua tangan mereka bertautan. Serupa hati mereka yang makin bertaut.
Dalam haru biru yang mengubah ruangan itu ikut berlimpah bahagia, tiba-tiba terdengar suara di pintu,”Apa yang aku lewatkan?”
“Heiii…Pak Mahmud… silakan duduk… Ini ada acara sungkeman,” canda Ling.
“Iya pak… ini ada anak yang sungkem pada ibunya,” celutuk Vivien.
Rupanya Jack masih bersimpuh. Dan kepalang basah, dia pun melanjutkan,”Dan…sekarang… di hadapan Pak Mahmud yang bijaksana, aku melamarmu buat menjadi istriku, Luna… tolong kamu jawab, sayang…”
Luna makin kikuk. Tentu saja dia malu menjawabnya dengan kata-kata. Begitulah perempuan. Luna menjawabnya dengan meremas jemari tangan Jack, selembut dan semesra yang dia tahu. Tak cukup? Luna pun menghambur ke pelukan Jack yang sudah berdiri di depannya.
Entah siapa yang menyetel, tiba-tiba di ruang itu mengalun lagu Naff:
Akhirnya ku menemukanmu/Saat hati ini mulai merapuh/Akhirnya ku menemukanmu/Saat raga ini ingin berlabuh/Ku berharap engkau lah/Jawaban sgala risau hatiku/Dan biarkan diriku/Mencintaimu hingga ujung usiaku/Jika nanti ku sanding dirimu/Miliki aku dengan segala kelemahanku/Dan bila nanti engkau di sampingku/Jangan pernah letih tuk mencintaiku…

Ketujuhbelas:
Pengorbanan Bentari
Selepas bahagia mengharubiru di ruang chef itu, Jack meminta Pak Mahmud menjelaskan perihalnya. “Bukankah di rekaman CCTV itu ada bapak,” tanya Jack dengan tatapan mata tajam langsung ke bola mata lelaki bekas komandannya itu. Dia mengkoneksi dengan disertai Energi Latif yang semakin mangkus dan menurut kaji itu pada Jack.
Pak Mahmud gelagapan sejenak. Lalu dari pikirannya, Jack menghardik,”Kau jujur saja. Apakah kau membantu Mitchael Bonn? Jika iya, katakan iya… jika tidak katakan tidak. Katakan kuat-kuat…!!!”
Kembali sejenak Pak Mahmud tergagap. Lalu,”Tidaaak…!!!
Semua yang ada di ruang chef terkejut. Tapi segera Jack memandang Luna, dan berkata,”Coba kamu jelaskan tentang hologram dan Augmented Reality,” ujar Jack.
Luna mengangguk, lalu diam sejenak untuk memilih kata-kata. “Augmented Reality (AR) dengan hologram disebut Holographic Augmented Reality (HAR). Teknologi ini menggabungkan objek holografik dengan lingkungan nyata.”
“Hmmm…apakah dengan teknologi HAR tersebut bisa dikondisikan Pak Mahmud berada dan berbicara dengan Pak Tua, meskipun pada saat yang sama Pak Mahmud berada di markas sriwijaya?”
“Bisa. Memang itulah tujuannya. Menghadirkan hal yang tidak nyata kepada objek yang nyata, sehingga bagi yang nyata itu, yang tidak nyata terlihat benar-benar nyata!”
“Caranya?”
“Itu tidak serumit lubang cacing. Butuh proyektor 3D untuk memproduksi hologram, dalam hal ini sesuatu yang mirip Pak Mahmud.”
“Bukankah untuk itu melihatnya perlu kacamata khusus pula?”
“Dengan sedikit sentuhan teknologi kuantum, itu bisa seperti benar-benar nyata. Itu disebut teknologi volumetrik. Bisa dilihat oleh semua orang,” jawab Luna. Gadis itu kemudian berpikir, dan tiba-tiba melanjutkan,”Coba lihat rekaman kamera CCTV itu.”
Jack pun melihat tablet mini setelah dia cari rekaman yang tersimpan di link. Dan Luna mengamatinya dengan seksama. Lalu dia berseru,”Pak Mahmud tak bersalah. Coba kamu perhatikan. Ini saat Pak Mahmud bicara dengan Pak Tua di ruang tunggu kan?” Jack melihat, lalu mengangguk,”Terus?”
Luna tersenyum riang. Memang gadis berjilbab ini selalu bersemangat bila bicara keilmuan. Matanya berbinar-binar dan tersenyum riang. Keilmuan, terutama fisika memang hobinya sih. “Perhatikan lantai yang mengkilap itu. Apakah ada dua bayangan?”
“Maksudmu bayangan Pak Mahmud dan Pak Tua?”
“Iya… yang ada hanya satu bayangan saja. Padahal mereka duduk sejajar. Seharusnya sama-sama terkena cahaya dari lantai dan menghasilkan bayangan, bukan?”
Jack tersenyum puas. “Wahhh…ini sama sekali tak terpikir oleh kita tadi. Kamu memang hebat,” kata Jack dengan pandangan mesra.
“Heiii…sudah…sudah… dari tadi merayu terus… Jadi singkat kata, Pak Mahmud tak bersalah kan,” tanya Ling.
Luna menggeleng. Dan Jack kembali mengamati. “Di kursi tunggu yang mengkilap ini, juga hanya ada satu bayangan. Artinya Pak Mahmud tak ada di tempat itu,” kata Jack.
Dan Pak Mahmud yang ternganga mendengarkan uraian itu, ikut senang. “Aku punya saksi kok. Mereka bersedia bersumpah bahwa dari pagi aku bersama mereka di markas,” imbuh Pak Mahmud.
Semua orang mengangguk-angguk dan yakin dengan perkataan Pak Mahmud. “Tunggu dulu. Bagaimana halnya dengan Pak Tua? Kenapa dia bisa terpengaruh? Malah bersedia mengikuti Pak Mahmud ke luar menuju apron,” tanya Buyung.
“Itu teknologi penyempurnaannya. Dahulu orang hanya bisa membuat film bisu. Tak lama setelahnya, sudah ada film yang mempunyai audio. Itu gabungan audio dan video saja yang diproyeksikan dari proyektor khusus. Saat ini, kecerdasan buatan atau AI sudah bisa meniru suara dari narasi yang diketik di laptop atau smartphone,” urai Luna dengan senyumnya yang makin riang.
“Baiklah… sekarang kita cari proyektor itu. Tetapi sebelumnya, tentu MB tidak bekerja sendiri. Pasti ada komplotannya yang membantu,” kata Jack sambil terus berpikir.
Lalu, dia memerintah,”Yung, coba teliti lagi rekaman di sisi yang lebih jauh. Mungkin akan terlihat ada orang yang memasang proyektor itu. Dan kau Tot, coba teliti rekaman yang lebih luas dari arah apron ke ruang tunggu. Terutama perhatikan kalau ada seseorang, walaupun dia berpakaian petugas, namun menyeberang ke blok kiri atau kanan dari terminal yang seharusnya,” perintah Jack.
Kemudian dia meminta Vivien dan Ling untuk segera ke bandara Soetta. “Aku yakin, Bentari pura-pura berpihak pada kita,” tutur Jack.
Vivien dan Ling segera bergegas ke atas. Lalu melaju kencang ke Cengkareng.
“Dan bapak bisa ke markas sriwijaya. Tolong maksimalkan potensi di situ untuk dukungan operasi. Oya pak… ke depan, aku mau bapak tetap bergabung, khusus untuk urusan dalam negeri. Bapak tenang saja, begitu MB kita kalahkan, anak dan instri bapak tak perlu lagi bersembunyi. Lagipula, mereka menjadikan bapak sebagai target lantaran bapak pemimpin operasi. Sekarang, tentu aku yang jadi target,” ujar Jack panjang lebar mengarahkan Pak Mahmud.
Lelaki setengah baya itu manut saja. “Begitu pun lebih baik. Terima kasih Jack. Bapak siap membantumu,” ujar Pak Mahmud seraya berdiri menyalami Jack dan pamit untuk ke rumah makan di Jalan Sriwijaya.
Setelah tinggal berdua saja dengan Luna, Jack mengakui bahwa dirinya telah terpedaya oleh keramahan dan rasa menyesal Bentari. “Aku tak menyangka bisa terkecoh olehnya,” ujar Jack.
Lalu Jack menceritakan bagaimana dia, Vivien dan Pak Tua berhasil dikecoh oleh wanita cantik berjubah merah itu. Karena terkecoh itu, mereka bahkan melepaskan Bentari dan Pak Tua untuk menyambut MB di Soetta. Hanya berdua mereka pergi. Dan sebagai mantan suami yang masih mencintai wanita cantik itu, Pak Tua atau Subagja jelas akan mudah dimanipulasi oleh mantan istrinya yang cerdas dan licik itu.
“Lihai dan licik sekali. Dia benar-benar pintar bersandiwara,” ujar Jack mengakhiri ceritanya.
“Belum tentu juga. Bisa saja MB dibantu para agennya yang lain. Bukankah Ksatria Dunia punya agen dimana-mana?”
“Hmmm…sejauh ini, hanya Bentari tersangka kita. Dia adalah Pengendali Timur,” ujar Jack.
“Iya sih. Tetapi kita belum melihat petunjuk yang benar-benar mengarah,” imbuh Luna.
“Iya. Aku setuju. Kita tak boleh gegabah. Tetapi…tetapi…”
“Tetapi apa Jack,” sela Luna.
Jack teringat bahwa tadi dirinya sempat mengkoneksi Bentari. Itu yang mau diceritakannya pada Luna. Namun Jack malu. Maka, dia menatap gadis yang dicintainya itu dengan penuh kasih, dan kemudian dia punya kalimat yang lebih pas,”Apakah kristal kuantum bisa melindungi orang dari serangan pikiran?”
Luna sekarang yang menatap Jack. Dan gadis berjilbab itu tersenyum riang. “Olala…dear…rupanya ilmu mempengaruhi pikiranmu dimanfaatkan oleh wanita itu?”
Jack mengangguk malu. “Rupanya kristal kuantum bisa menjadi perisai pikiran. Benteng hati. Begitu kan?”
Luna mengangguk. “Semestinya begitu. Karena Energi Latif mu tak mempan menembus perisai. Bahkan bisa membuat berbalik padamu!”
“Apa? Berbalik?”
Luna mengangguk. Lalu Jack kembali mengingat pertemuannya dengan Bentari saat dibawa Vivien dan Pak Tua. “Hmmm… kau benar. Karena waktu bertemu itu dia memujiku karena pandai membaca pikirannya. Nah, saat dia memuji itu dia memandangku. Persis sama dengan cara aku memulai mempengaruhi pikiran orang. Aduhhh… betapa bodohnya aku,” sesal Jack.
Luna mendekat, dan memegang tangan Jack. “Its okay darling. Forget it… Kita perlu salah untuk dapat hal yang benar. Pelajarannya adalah bahwa sekarang aku akan selalu menyimpan kristal kuantum,” gurau Luna.
Tentu saja muka Jack makin memerah karena malu. Sebab sekarang Luna tahu bahwa ilmu mempengaruhi pikirannya tak mangkus menembus perisai kristal kuantum.
Tetapi cara gadis itu merespon kesalahannya sungguh sangatlah bijaksana. “Silakan saja tuan putri… kamu boleh bawa kristal hatiku sekalian… karena ruang hatiku adalah milikmu… sehingga pikiranku adalah pikiranmu jua,” ujar Jack sambil meremas jemari Luna yang lembut.
Jack makin merapat. Hendak memeluk gadis berjilbab itu. Luna pun kian wangi. Aroma bunga cempaka menyeruak memenuhi seantero ruangan chef.
Namun, tatkala tangan Jack sudah melingkar pinggang ramping itu, tiba-tiba ada aroma wewangian jafaron putih. Jack tersadar. Lalu dia melonggarkan pelukan, dan mencium pipi gadis itu dengan sepenuh rasa sayang. Murni rasa sayang. Tanpa nafsu syahwat seperti sebelum ada bebauan jafaron putih itu.
Dan Jack berbisik di telinga yang tertutup jilbab itu,”Kita akan segera menikah. Angku Syekh in sya Allah akan menjadi saksi.”
“Aku tahu kok. Baru saja beliau datang. Menegurmu yang mulai on,” canda Luna.
Jack tertawa terbahak-bahak. “Tetapi kamu juga mau tuch.”
“Ya mau lah… untukmu apa yang tidak… namun, kita tak boleh melanggar pesan beliau,” kata Luna dengan malu-malu.
Sepasang kekasih yang dimabuk cinta itu pun sepakat untuk saling menjaga supaya tidak mengotori air yang akan mereka minum juga pada saatnya.
Tak lama sesudahnya, terdengar suara Buyung,”Pak… Dari rekaman ruang tunggu, memang ada Bentari yang tiba di ruang tunggu bersama Pak Tua. Setelah itu Bentari ke toilet. Hanya itu rekaman yang ada.”
“Yang di apron bagaimana?”
Gatot yang menjawab,”Ada indikasi… ini aku kirim di link.”
Kemudian Jack dan Luna mengamati rekaman CCTV yang mengarah ke terminal kedatangan. Tampak ada tiga rekaman dari CCTV yang berbeda, yakni rekaman pada terminal 3 pada gate 10, 11, dan 12. “Yung, penumpang pesawat itu harusnya turun di gate berapa?”
“Sebelas pak.”
Lalu Jack mencari denah terminal 3 Soetta itu di google. Juga bertanya ke Meta AI. Google memberikan beberapa denah. Meta AI memberikan satu denah, itu pun berbahasa Polandia, atau mirip-mirip itu. Maka Jack melihat alternatif dengan yang disajikan google.
“Gate 10 domestik. Sebelas sampai 18 kedatangan internasional. Hmmm… Tot, Yung, kalian amati secara detail rekaman di gate 10. Gunakan V-face!”
Luna tersenyum melihat cara kerja Jack yang sistematis itu. Kendati adakalanya lelaki itu membuat kekeliruan, namun secara umum cara berpikirnya sudah benar.
Memang orang acapkali bermasalah dengan cara berpikir. Jika cara berpikir salah, bertindak pun salah. Maka di Minangkabau diajarkan untuk berpikir dengan hati. Bukan dengan otak. Ibarat menggunakan Meta AI dan google yang bisa menjawab apapun sesuai logika mesin, padahal ada logika hati yang lebih menentukan.
Petuah yang diwariskan turun temurun di Minangkabau adalah raso dibao naiek, pusako dibao turun. Raso (rasa, substansi dari logika hati) dianalisa dengan alat yang bernama otak, letaknya di atas–di kepala. Sesudah dianalisa, hasilnya di bawa kembali ke hati–dibao turun (dibawa turun). Keputusan ada pada logika hati.
Luna terus saja mematut-matut Jack. Di dalam hati gadis itu bergumam,”Semoga inilah jalanku ya Allah.”
Sedangkan Jack yang sedang diamati, tak sadar lantaran sibuk melihat rekaman CCTV yang dikirim Buyung dan Gatot. Pada penampakan yang dicurigai, Jack mengambil tangkapan layar–skrinsut. Lalu dia perbesar.
Tiba-tiba terdengar bunyi sirine. Jack tergagap. Luna terperanjat. Buyung dan Gatot mencari tahu, apa yang terjadi?
“Yung, segera siapkan sistem lockdown untuk berjaga-jaga. Dan kau Tot, coba periksa sistem sekuriti!”
Kemudian Jack menelpon Vivien. “Lihat monitor di dashboard, gunakan V-face. Aku curiga dengan rekaman di gate 10 itu,” ujar Jack.
“Siap pak… kami barusaja memasuki area parkir terminal 3. Biar Ling dan kru aku minta turun duluan,” jawab Vivien.
Jack mengangguk. Dia lupa bahwa sedang berbicara di telpon, sehingga mengangguk pun dia, lawan bicara takkan melihat. Kecuali bila berkomunikasi via videocall, bukan? Namun, tak tua tidak juga untuk yang muda, kelatahan-kelatahan kecil itu sering terjadi. Begitulah manusia. Bahkan orang cerdas dan sistematis serupa Jack pun adakalanya latah jua.
“Heiii… kau mengangguk pada siapa? Aku di sini kok,” canda Luna yang duduk tak jauh dari Jack. Tetapi bukan di depan lelaki itu.
Jack tersenyum tersipu-sipu. “Kok aku seperti orang tua latah ya? Apakah karena beban kerja?”
Luna menggeleng. “Itu mestinya tak terjadi, bila kita gunakan cara mesin bekerja. Nir-perasaan, nir-emosi,” ucap Luna.
Jack mengangguk. “Kau benar Luna. Perasaan tak boleh dibawa dalam pekerjaan. Supaya lebih objektif dan jernih bertindak. Terima kasih sudah mengingatkan apa yang sebenarnya sudah merupakan prinsip aku dalam bekerja. Tetapi sekarang justru itu pula yang terlupa.”
“Gak apa-apa, darling. Tetapi dengan aku, jangan sampai tanpa perasaan ya,” ujar Luna dengan senyum dikulum dan mata berbinar. Aroma wewangian bunga cempaka pun menyeruak. Sedangkan sirine itu masih berbunyi secara periodik.
“Hmmm… aku tahu sekarang. Bila wewangian bunga cempaka itu menyengat, pertanda kamu sedang ingin kan???” Jack tertawa riang, seolah-olah mengabaikan alarm bahaya yang masih berbunyi.
Luna tersipu-sipu, lalu berdiri mendekati Jack, dan… menc*** lelaki itu. Jack mengaduh kesakitan.
Bukan, bukan mencium Jack yang Luna lakukan. Tetapi mencubitnya! Apalagi tak ada orang yang kesakitan karena dicium bukan? Hehe…
Mereka berdua tertawa. Saling berpandangan. Ketika itulah terdengar suara Buyung, bersamaan dengan sirine yang mati secara otomatis. “Tadi ada gangguan frekuensi pak. Entah apa? Sekarang sudah kita tangani!”
“Hmmm… ini tak boleh dianggap enteng. Kalian tetap waspada. Teruskan siaga lockdown.”
Kemudian Jack memandang Luna. “Luna… Mesin Kaki Seribu itu masih ada? Kalau Mesin Waktu, ini ada dalam laci,” kata Jack.
Luna mengangguk. Kemudian dia mengeluarkan sebuah alat kecil dari tasnya. Alat itu serupa sisir. Dan memang sebuah sisir.
“Sisir ini?”
“Iya, aku sudah memodifikasi menjadi sebuah sisir. Takkan ada orang yang curiga. Saat aku dilarikan MB, sisir ini sedang ada dalam kantong celanaku.”
“Coba jelaskan,” pinta Jack.
“Ini adalah kristal kuantum, kubalut pada bagian tertentu dengan polimer konduktif, bagian ujung-ujung sisir adalah polimer semikonduktor. Bukankah saat ini banyak sisir yang mewah, dibuat dari kristal dan campuran polimer.”
Jack mengangguk-angguk takjub. “Kamu memang keajaiban sains sayang. Kapan kamu buat?”
“Ketika kamu minta waktu ke level satu itu. Aku baru selesai mengerjakannya. Aku kantongi. Lalu tanpa sadar aku tertidur, dan MB menangkapku,” urai Luna.
“Hmmm… jikapun kamu digeledah, tentu MB takkan curiga. Lelaki mana yang curiga melihat wanita membawa sisir.”
“Oya, mana Mesin Waktu itu. Coba kamu pakai. Aku suka melihatmu memakai kacamata hitam itu. Lebih macho,” pinta Luna.
Jack patuh. Diambilnya Mesin Waktu yang sudah dimodifikasi dalam bentuk kacamata itu. Lalu dikenakannya.
“Ini hamba tuan putri. Terimalah hormat hamba,” canda Jack meniru gaya aktor film India.
Luna tertawa riang. Jack tersenyum senang. Luna tersenyum manis. Mereka kembali saling pandang. Saling membelai hati masing-masing. Saling mengerti isi hati, itulah sensasi orang yang dimabuk cinta.
Bayangkan bila rasa dimabuk cinta itu ditujukan pada Allah Yang Maha Tunggal? Betapa akan asyiknya menjadi kekasih-Nya. Bila itu terlalu jauh dari jangkauan, karena kehinaan manusia yang penuh dosa, kenapa tidak berupaya menjadi hamba. Hamba Allah. Serupa bayi yang menyusu pada ibunya, itulah level keimanan paling rendah. Namun betapa susahnya buat dicapai!
Seharusnya rasa ber-Allah ini bisa diupayakan dengan menganalogikan rasa berkekasih. Dimana berada, hanya wajah sang kekasih yang tampak. Melihat pohon kelapa, yang tampak kekasih jua. Melihat gunung, yang tampak kekasih juga. Biasakan bila melihat apapun, yang tampak adalah kekuasaan Allah semata. Bisakah?
“Astagfirullahal ‘adziim… ampunkan hamba ya Allah. Semua keindahan hanya milik-Mu belaka. Izinkan hamba melihat keindahan-Mu dari yang Engkau ciptakan ya Jamal,” gumam Jack di dalam hati.
Dalam bergumam itu, tiba-tiba ruangan bawah tanah itu ribut karena bunyi alarm. Diikuti matinya semua monitor.
Buyung dan Gatot bergegas mendatangi Jack di ruang chef. Sedangkan Luna siaga dengan sisir yang masih dipegangnya. Adapun Jack yang masih mengenakan kacamata segera memerintah Luna, Buyung dan Gatot. “Kalian ke sini, berdiri di belakangku. Sayang, kamu di samping kiri aku,” katanya.
Maka, di ruang chef yang tak terlalu lebar itu, di depan meja kerja tersebut, sudah berdiri Jack, di samping kirinya Luna, dan di belakangnya ada Buyung di kanan, dan Gatot di kiri. Mereka serupa membentuk formasi bertahan, menghadap ke pintu.
“Jangan ada yang lengah. Mungkin ada serangan. Kita belum tahu apa? Tetapi, ini adalah teknologi kuantum,” ujar Jack sambil melirik Luna yang memegang sisirnya erat-erat.
“Nanti, bila aku perintah merapat, kalian pegang tangan atau badan aku. Dan kamu Luna, bersiap dengan Mesin Kaki Seribu. Nanti kita pulang ke Padang Aro. Solok Selatan,” tukuk Jack sembari berkosentrasi dan mengkoneksi alam.
Tak lama berselang, di pintu itu sudah berdiri Mitchael Bonn dan Bentari dalam keadaan berpegangan tangan. Tampak mahkota berkilauan di kepala wanita berjubah merah itu.
“Assalamualaikum… Ada apa kalian mengganggu kami? Dan kau Bentari, ternyata sudah berkhianat pada janji kita. Kau bersekongkol dengan orang asing,” ujar Jack dengan jumawa disertai pengerahan Energi Latif, sambil memegang gagang kacamatanya. Menyentuh tombol halus untuk mengaktifkan teknologi kuantum.
Bentari tak mampu menatap mata Jack. Bukan lantaran dia takut pikirannya terpengaruh. Namun, wanita itu tampak tak punya pilihan. Maka, dengan lesu dia berkata,”Kau lihat di dalamnya. Bukan permukaannya,” ujarnya seraya memegang mahkota yang berkilauan itu. Jack tak mengerti maksud wanita itu. Tetapi Luna menangkap isyarat itu sebagai kode sesuatu. Tapi entah apa?
Maka, gadis berjilbab itu berbisik pada Jack,”Kamu tenang saja, aku sudah siapkan perisai untuk kita berempat. Namun, Bentari itu seperti terpaksa. Aku merasa dia merencanakan sesuatu buat membantu kita. Entah apa. Namun aku juga punya rencana. Begitu aku pegang tanganmu nanti, segera perintahkan para koki memegang tanganmu,” bisik gadis berjilbab itu dengan bahasa Minangkabau. Takut bila ucapannya dimengerti lawan Mitchael Bonn.
Jack mengangguk. Dan diam dengan pandangan waspada. Menatap Mitchael Bonn langsung ke bola matanya!
MB yang ditatap, tak bereaksi sedikitpun. Dengan tenang lelaki bule itu balas menatap Jack. “Selamat, anda telah jadi direktur. Apalagi Subagja takkan sempat lagi melanjutkan.”
“Kau bunuh ketua kami. Apa maumu?”
MB tertawa lantang. “Aku hanya ingin mengatakan bahwa organisasi kalian, Ortana itu, sudah aku lumpuhkan! Lihatlah ini,” katanya seraya melambaikan tangan dan menoleh pada Bentari.
Begitu diberi kode, Bentari langsung mendekat ke arah MB, meraih mahkotanya, dan berseru,”Kalian pergi. Kami mundur seabad ke belakang!”
Seketika itu juga Luna meraih tangan Jack. Sadar akan maksud kekasihnya itu, Jack segera memerintah melalui pikiran,”Yung, Tot, pegang tanganku!”
Dalam waktu nyaris bersamaan, MB dan Bentari lenyap, dan Jack beserta Luna, Buyung dan Gatot juga lenyap. Akibat intervensi terhadap ruang dan waktu secara bersamaan, terjadilah kekacauan energi di ruang itu. Untunglah perisai baja cukup tebal, sehingga kekacauan energi akibat intervensi terhadap ruang dan waktu hanya berdampak pada hangusnya semua peralatan elektronik di ruangan. Dan memadamkan lampu. Markas bawah tanah di rumah makan di Jalan Veteran itu pun gelap gulita. Asap mengepul akibat hangusnya semua peralatan elektronik. Disertai semprotan air dari loteng.
Di atas, di rumah makan, orang-orang berlarian keluar karena menduga terjadi kebakaran. Asap tersebut memenuhi ruang rumah makan. Tetapi tidak ada api. Mungkin karena sistem kelistrikan markas sudah dirancang untuk tak menimbulkan konslet dan terbakar. Hanya hangus, dan setelah itu seluruh sistem kelistrikan mati. Disertai guyuran air ke seantero ruangan.
Oleh pemilik rumah makan dikatakan bahwa itu ada kompor yang meledak. Tetapi sudah diatasi. Itu prosedur yang sudah dihafalnya tatkala Jack membayarnya buat menjadikan ruang bawah tanah itu sebagai markas.
Kemudian, begitu asap sirna, para pelanggan rumah makan pun kembali ke meja masing-masing.
Sementara Pak Mahmud yang berada di markas di Jalan Sriwijaya, sekira lima menit setelah kejadian, menerima pesan dari Jack: kami pulkam k solsel. Bpk atur semuax. Tggu kbar brikut!
Jack membuat pesan itu saat berada di Taman Kota Padang Aro. Saat taman itu sedang dipadati pengunjung. Maklum, saat itu adalah hari Selasa, menjelang sore. Banyak orang berdatangan ke Padang Aro, tiap Selasa sore. Mereka adalah para pedagang yang besok, Rabu, akan bertransaksi di pasar tersebut.
Tak lupa, Jack pun menulis pesan untuk Ling dan Vivien: caseclose…tlp p mhmd…km tggu d solsel!
Di Taman Kota yang berair mancur itu, Jack mengajak Luna, Buyung dan Gatot ke salah satu gerai kuliner yang ada. Dia mengajak Luna dan para koki menaiki lantai dua, supaya bisa bebas memandang.
Memang di taman kota itu ada belasan gerai kuliner yang ditempati oleh para penggalas yang menyajikan aneka makanan dan minuman. Setiap hari taman itu selalu ramai. Terutama di sore hingga malam hari. Apalagi pada Selasa sore hingga malam, taman itu makin ramai.
Pada malam-malam tertentu, ada hiburan yang disediakan pemerintah setempat. Umumnya adalah kesenian tradisionil. Ada pentas yang cukup besar disediakan buat memanjakan kreatifitas berkesenian masyarakat.
Jika malam, suasana makin meriah karena air mancur itu dilengkapi tata cahaya. Sehingga terlihat air yang menari-nari. Begitu gemerlapnya taman kota yang baru dibukan untuk umum sejak tahun 2022 yang lalu. Sehingga tempat itu menjadi pusat aktifitas masyarakat. Tidak hanya warga Solok Selatan, bahkan warga Kerinci dan Sungai Penuh hampir tiap hari melepaskan penat dan refreshing di taman ini.
Jack duduk di samping Luna sambil melihat sekeliling. Dia ingat saat kecil dahulu, dibawa ke Padang Aro oleh Pak Bangun–ayah angkatnya. Tempat dia duduk sekarang, dahulu adalah pasar.
Jack tersenyum sendiri, teringat pengalamannya saat malam-malam melihat orang berkoa. Dan kisah orang galie (curang) yang dipecundanginya.
Sambil tetap tersenyum teringat kisah lucu itu, Jack menggamit tukang warung. Lalu, dia memesan sate. Luna juga. Sedangkan Buyung dan Gatot hanya memesan lemon tea hangat.
“Ayie asam angek nah ni, apak ko dak ngarati bahaso awak,” kata Jack menerjemahkan pesanan Buyung dan Gatot.
Buyung dan Gatot tersenyum saja. Memang dia tak bisa bahasa Minangkabau. Sedikit-sedikit ada juga yang mereka mengerti, maklum bahasa Minangkabau masih rumpun yang sama dengan bahasa Melayu.
“Sekarang apa lagi pak,” tanya Buyung, setelah sebelumnya diberi kode oleh Gatot supaya membicarakan perihal mereka yang tiba-tiba sudah berada di negeri yang tak mereka kenal.
Jack tersenyum. “Alhamdulillah…semua sudah selesai. Kita bersyukur karena Bentari mau berkorban,” ujar Jack.
“Iya… wanita itu melarikan MB jauh ke belakang, mereka mundur ke seabad yang lalu. Berarti mereka saat ini berada di tahun 1924,” sambung Luna.
Buyung dan Gatot mengangguk-angguk. “Ooo…berarti wanita itu punya mesin waktu?”
“Iya Yung, itu mahkota yang sempat aku periksa. Itu kristal kuantum,” ujar Gatot. Dan Buyung manggut-manggut.
“Dan kita, kenapa bisa tiba di sini? Dimana ini pak?”
“Ini namanya Padang Aro. Ibukota Kabupaten Solok Selatan. Kita bisa ke sini berkat sisir Luna,” jawab Jack sambil tertawa.
Luna juga tertawa. “Tentu kalian tahu tentang teknologi kuantum. Itu yang aku dalami di MIT. Dan karena beberapa teori yang aku ciptakan, terutama berkenaan dengan ruang dan waktu dengan pendekatan fisika kuantum itulah aku dikejar-kejar Mitchael Bonn. Sekarang, teknologi itu yang membawa MB ke masa lalu. Juga menyelamatkan kita ke ruang yang lain. Di sinilah kita saat ini,” kata Luna menjelaskan.
Buyung makin takjub. Tentu saja dia memahami penjelasan Luna. Hanya saja, dia setengah percaya bahwa teknologi kuantum itu memang telah ada.
Seperti memahami jalan pikiran Buyung, Jack pun menerangkan bahwa teknologi kuantum banyak dikembangkan secara diam-diam. Maklum implikasi dari teknologi tersebut bisa memorakporandakan tatanan ruang dan waktu. “Kebanyakan teknologi kuantum dikembangkan untuk kepentingan militer,” urai Jack.
“Benar Yung. Selain itu, apapun teknologi, pasti ada sisi baik dan buruknya. Aku memilih memanfaatkannya untuk sisi baik. Bagaimana ini bisa menyelamatkan orang. Bermanfaat untuk orang banyak. Bukan sebaliknya, seperti yang dikejar-kejar MB,” ucap Luna.
“Jadi sekarang kita berada di kampung bapak,” tanya Gatot. Jack mengangguk. “Kampung kami berdua. Ini adalah Kecamatan Sangir, aku Jack Sangir, dan ini–calon istriku, Luna Sangir,” jawab Jack.
Luna tersenyum pada Gatot dan Buyung yang takjub. “Selamat datang di kampung kami, Solok Selatan,” ujar gadis berjilbab itu sambil melihat ke arah Gunung Kerinci yang menjulang gagah!

Epilog:
Padang Aro Lautan Asmara
Setelah menikah di Surau Syekh Sampu di Sungai Lande, disaksikan para kerabat; Pak Mahmud yang ditemani Vivien dan tentu saja Ling dan suaminya, Jack dan Luna mengirap dari kerumunan orang, tanpa diketahui oleh mereka.
Dalam pandangan mereka, Jack dan Luna masih tersenyum-senyum di kursi pelaminan yang didatangkan ke surau.
Hanya Angku Syekh yang tahu. Dan lelaki tua berkopiah itu tersenyum riang melihat Jack dan Luna berkejaran ke arah Gunung Kerinci.
Ooo bukan. Bukan. Mereka tanpa sepengetahuan orang awam menjalani kehidupan suami istri buat pertama kali justru di Padang Aro. Sepasang suami istri itu menginap di Hotel PAS–Pesona Alam Sangir, hotel terbaik yang berlokasi di Timbulun Ateh, Padang Aro.
Rencananya tadi, Luna ingin melalui hari pertamanya di Danau Gunung Tujuh. Danau yang indah, udaranya sejuk dan alami. Dan paling penting, di situ pasti sedang sepi, karena bukan akhir pekan yang biasanya banyak orang mendaki.
Namun dilarang oleh Jack,”Nanti kita diintip orang kate. Memang kamu mau dikerubungi orang pandak itu,” ujar Jack dengan maksud berkelakar. Tetapi Luna menanggapinya serius.
Bukan, bukan lantaran takut diintip orang kate, Luna tak ngotot ke Danau Gunung Tujuh. Tetapi dia justru mengikuti Jack check in di Hotel PAS, karena Jack berbisik,”Aroma bunga cempaka di tubuhmu semakin kentara. Kenapakah!”
Luna tersenyum malu. Tetapi matanya berbinar. Tubuhnya menggelenyar. Sehingga Angku Syekh yang sempat membayang-bayangi dari jauh, jadi malu sendiri. Dan lelaki tua berkopiah itu cepat-cepat mengirap. Membiarkan Jack dan Luna mengarungi lautan asmara di Timbulun Ateh, Padang Aro.

[Pembaca yang budiman, demikianlah trilogi ini berakhir, meskipun ada beberapa yang belum clear dikisahkan–terutama terkait Ortana dan Ksatria Dunia.
Niatnya, kelak ada novel serial yang mengisahkan kompleksitas, hiruk pikuk dan kontestasi iptek dalam ranah dunia spionase global.
Mohon doa serta dukungan, supaya aku bisa mewujudkannya.
(Kotobaru, Kab Solok, 25/12/2024; 13.37) ]