Kebangkitan Nasional; Selaras Batin Pemimpin

Hari Kebangkitan Nasional adalah penanda transformasi perjuangan bangsa Indonesia; dari perlawanan yang sporadis menjadi perjuangan yang lebih sistematis, terorganisir, dan guyub.

Adalah Boedi Oetomo yang menjadi salah satu pemantik kesadaran itu. Setelahnya, lahir berbagai organisasi kaum bumi putera dengan latar pemikiran, ideologi, dan karakter perjuangan yang berbeda-beda.

Ada yang bergerak di bidang pendidikan.
Ada yang berbasis keagamaan.
Ada yang menekankan ekonomi rakyat.
Ada pula yang membawa semangat politik perlawanan.

Para pemimpinnya pun berasal dari suku bangsa yang majemuk.

Tentu tidak mudah menyatukan itikad dari berbagai organisasi yang berbeda arah pemikiran tersebut. Apalagi dalam suasana penjajahan yang penuh tekanan dan keterbatasan.

Namun di tengah perbedaan itu, terdapat satu titik temu:
kesadaran batin bahwa bangsa ini harus bangkit bersama.

Dalam Nalareka, kondisi seperti itu disebut sebagai:
selaras batin.

Selaras batin bukan berarti semua orang harus memiliki cara pikir yang sama. Bukan pula menghilangkan perbedaan.

Selaras batin adalah keadaan ketika arah terdalam perjuangan manusia bertemu pada tujuan yang lebih besar daripada kepentingan dirinya sendiri.

Ketika batin para pemimpin masih dikuasai ego,
maka organisasi akan mudah pecah.

Ketika batin dipenuhi ambisi pribadi,
maka perjuangan berubah menjadi perebutan pengaruh.

Namun ketika batin mulai selaras,
manusia lebih mudah menemukan titik temu,
meski berasal dari jalan pikiran yang berbeda.

Karena itu,
kebangkitan nasional sejatinya bukan hanya kebangkitan organisasi,
tetapi juga kebangkitan kesadaran batin para pemimpin bangsa.

Nalareka membaca bahwa bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh kecerdasan,
tetapi juga oleh kejernihan batin dalam melihat tujuan bersama.

Baca juga:
– https://nalareka.id/teism-nalareka/
– https://nalareka.id/pintu-nalareka/
– https://nalareka.id/dapur-nalareka/