Aura Yogya; Selaras Batin Kota
Tidak semua kota terasa nyaman, kendati secara ukuran metropolitan atau kosmopolitan sekalipun telah terpenuhi.
Coba saja rasakan aura kota Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Makassar, atau Manado. Apakah semuanya menghadirkan rasa yang sama?
Mana yang paling terasa nyaman?
Terserah kamu saja.
Namun sekarang aku sedang berada di Yogyakarta. Lepas tengah hari menelusuri jalan-jalan di jantung kota dengan mobil rental. Ada satu hal yang tak lepas dari pandanganku:
wajah-wajah orang yang bersahabat.
Umumnya, warga kota ini terlihat tanpa tekanan.
Padahal hidup tentu tidak mudah.
Aku melihat seorang lelaki tua mengayuh becak dengan sisa tenaga di bawah terik siang. Tubuhnya tampak lelah. Tetapi anehnya, aku tidak melihat wajah yang sedang “ditindih hidup”.
Lelah? Tentu saja.
Namun itu lelah yang wajar.
Bukan wajah batin yang pecah.
Kenapa bisa begitu?
Bukankah setiap manusia punya masalah?
Bukankah hidup selalu membawa tekanan?
Dalam Nalareka, kenyamanan sebuah kota tidak hanya dibentuk oleh infrastruktur, kemewahan, atau kecepatan ekonomi. Ada unsur lain yang lebih halus:
aura batin kolektif manusia-manusia di dalamnya.
Ketika manusia hidup terlalu dikejar ambisi, batin menjadi tegang.
Ketika hidup dipenuhi perbandingan sosial, wajah kehilangan ketenangan.
Namun ketika manusia mulai menerima hidup dengan lebih selaras, maka batin menjadi lebih lapang.
Nalareka menyebut keadaan itu sebagai:
selaras batin.
Selaras batin bukan berarti menyerah pada keadaan. Bukan pula menolak ikhtiar.
Selaras batin adalah kemampuan menerima kenyataan hidup tanpa membiarkan batin hancur oleh keinginan yang tidak selesai.
Dalam konteks Nalareka,
ikhlas bukan berarti berhenti berharap.
Ikhlas adalah keadaan ketika manusia tetap berjalan, tetap berusaha, tetapi tidak memaksa hidup tunduk pada seluruh keinginannya.
Karena itu, orang yang selaras batinnya masih bisa tersenyum di tengah kesulitan.
Masalah tetap ada.
Lelah tetap ada.
Tetapi batin tidak lagi bertarung dengan hidup secara berlebihan.
Mungkin karena itu, beberapa kota terasa lebih teduh daripada kota lain.
Bukan semata karena bangunannya,
tetapi karena manusia-manusia di dalamnya masih menyimpan ruang tenang di dalam batin mereka.
Baca juga:
– https://nalareka.id/teism-nalareka/
– https://nalareka.id/pintu-nalareka/
– https://nalareka.id/dapur-nalareka/
